Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 7 June 2008

Download Lagu Asli Maumere/Flores(3)..

Download lagi-download lagi.Mari semua,masuk disini karena disini tempatnya kita bisa dapatkan lagu-lagu niang tana.Kali ini kita juga bisa dapatkan lagu-lagu flores lain,tidak apa-apa to?Saudara-saudara kita dari flores lainnya juga pasti ingin sekali mendapatkan lagu daerah mereka dan kita juga akrab dengan lagu-lagu Flores lainnya,apa salahnya kita sediakan disini(mumpung ada)hehehe..



Setelah muncul tampilan berikutnya,silakan klik di 'Download Now' tunggu beberapa saat jika keluar tampilan berikutnya lagi,klik lagi di 'Click here to download this file' untuk mendapatkan lagunya.Kapasitas lagu telah kami perkecil untuk mempermudah proses download.

Sikka:

Florasta - Lori Lolo.mp3

Amang bano.mp3

MAUMERE MANISE.mp3

Nuan Flores.mp3

Ole O Ina Nona.mp3

Wateng Ha'u Rindu.mp3

Tinawe.mp3


Lagu-lagu Flores:

Download lagu Daerah Bajawa:

Bei Benga.mp3

BESI BEROE.mp3


JAI.mp3


MAI WADO.mp3

O ME NIKU.mp3


Download lagu Daerah Ende:

Gawi. ( Lio )mp3

IMU RUA.mp3

INE BABA.mp3


INE MORA ATE.mp3


Kadija.mp3


Weta.mp3




www.inimaumere.blogspot.com
Selengkapnya...

Thursday, 5 June 2008

Ratu Rosari Kini Melayari Maluku Utara..


KM.Ratu Rosari tingal kenangan. Pernah berlayar di perairan NTT. Di Flores ia disapa Kapal Ratu. Kapal yang begitu banyak menyimpan kenangan akan cerita cerita masa lampau.Orang-orang tua kita dulu kalau bepergian dari Maumere ke Jawa atau ke Timor biasa menggunakan jasa kapal ini. Ratu Rosari sering menyinggahi pelabuhan Sadang Bui (sekarang Pelabuhan L. Say) dan menjadi sarana angkutan penumpang dan barang yang paling berjasa saat itu. Bolehlah kapal ini disebut kapal legendaris.


Berikut jejak sejarah sang legenda yang kami kutip dari Majalah Katolik Hati.Baru
***

K M.RATU ROSARI, kapal paling legendaris dan paling berjasa dalam karya misi gereja Katolik di NTT milik Tarekat SVD,itu kini sudah dua kali berpindah tangan dari satu pengusaha ke pengusaha yang lain.Kapal buatan Jerman berbobot mati 429 GT dan sejak tahun 1964 sudah melayari rute tetap pergi pulang Surabaya-Flores-Timor itu sudah terlihat tua tetapi masih perkasa melayari lautan. Usianya yang tua ini (sejak 1964) membuat kapal ini dikenal oleh banyak pelaut senior.Ketika pertama kali memasuki pelabuhan Kota Ternate Maluku Utara (2007), sejumlah kapten dan ABK kapal-kapal yang sedang berlabuh sempat keluar dari kabin dan memandang kagum ke arah sang legenda lautan ini. "Bukan main, Ratu Rosari dari Surabaya sudah berlayar ke Maluku Utara", ujar Dullah, seorang pelaut yang sudah pensiun dan kini tinggal di Ternate.

Ketika memasuki kota Tobelo di Halmahera Utara, orang-orang NTT yang merantau di daerah ini sempat berdatangan ke pelahuhan untuk melihat kapal ini dari dekat. Sebahagian sempat naik ke kapal dan mengenang kembali berbagai pelayaran Surabaya-Flores pergi pulang yang pernah mereka ikuti sebagai penumpang.Terhitung sejak tahun 1964 sampai menjelang tahun 2000,banyak orang NTT yang berhasil dalam pendidikannya di Pulau Jawa antara lain karena jasa kapal ini sebagai satu-satunya sarana transportasi terbaik masyarakat NTT ke Surabaya.

Walaupun sudah berpindah pemilik dari Tarekat SVD, namun nuansa kekatolikan masih sangat kental terasa di kapal ini.Lebih dari separuh ABK (Anak Buah Kapal) adalah anak-anak Flores dan Timor dan mereka masih menjaga dan merawat dengan baik berbagai foto kenangan karya misi di NTT,gambar-gambar kudus lainnya, bahkan ruangan kapel dengan sakristi serta perlengkapan misa.Di ruang mesin yang dulunya dipimpin Br.Marianus SVD, tampak sebuah foto kenangan di atas pelabuhan "Kota Renya" Larantuka,terlihat Br.Marianus tersenyum lebar sambil menjabat tangan Uskup Larantuka ketika itu Mgr.Antonius Tiijsen SVD. Bruder asal Jerman itulah yang membawa Km.Ratu Rosari ke Indonesia, dan mengabdikan dirinya merawat mesin kapal ini hingga Tuhan memanggilnya (1990) dalam pelayaran dari Surabaya ke NTT.Kapten Joseph Pandai Bataona lalu memutuskan singgah di Denpasar Bali dan Br.Marianus kemudian dimakamkan di Denpasar. Dari Bruder asal Jerman ini para ABK belajar untuk selalu merawat kapal dengan bersih. Bruder ini juga dikenal punya telinga yang tajam. Bunyi mesin yang agak "fals" saja langsung membuatnya tahu, bagian mesin mana yang perlu diperbaiki. Ketika akan dikuburkan di Denpasar sempat terjadi peristiwa aneh."Dua kali peti mati diganti karena panjang mayat ternyata beberapa senti melebihi peti mati, padahal sudah diukur oleh petugas pembuat peti mati", tutur Thobias seorang ABK lama.Thohias masih bercerita: Ketika berarak ke kuburan angin bertiup kencang sekali.Seikat kembang yang terpasang pada krans bunga di depan truk terbang jauh ke belakang truk, tiba-tiba kembang itu terbang berbalik dan masuk lagi ke truk sehingga dipasang lagi pada krans semula.

Di Ruang Kapten, tampak tergantung di dinding foto kenangan Uskup Antonius Tiijsen SVD sedang mencoba kemudi kapal didampingi kapten Pontoh dan stirman I kctika itu Joseph Pandai Bataona. Di Ruang Kapel tampak foto Uskup Antonius Tiijsen SVD yang sudah tua tampak duduk di kursi didampingi suster-suster. Carlo, ABK asal Flores itu sempat membuka sebuah lemari yang juga bcrfungsi sebagai sakristi. Terlihat perlengkapan misa yang tersusun rapi;pakaian imam dan buku-buku.Tampak pula hosti yang belum dikonsekrir."Semua lengkap, kecuali piala kami serahkan kepada seorang pater (pastor) di Atambua karena kapal ini sudah berganti pemilik dan mau berlayar ke Maluku. Kami bilang, pater, ini kenangan dari Ratu Rosari", tutur Carlo.

Ketika kapten Joseph Pandai Bataona pensiun beberapa tahun silam,kapal yang kemudian dibeli seorang pengusaha Cina asal Atambua bernama Fu On ini sempat dipimpin seorang kapten non katolik. Suatu ketika entah kenapa sang kapten menurunkan semua gambar kudus termasuk foto-foto kenangan Br.Marianus,Uskup dan para suster,tetapi keesokan harinya sang kapten sendiri yang memasang kembali semua gambar kudus dan foto-foto itu. Konon karena malam itu sang kapten mendapat "teguran".

Kapten Buyung, seorang kapten non Katolik lainnya, bahkan suatu ketika pernah berujar bangga,"Kapal ini tidak akan tenggelam, kecuali kalau Salib yang terpahat di anjungan kapal ini sudah jatuh". Kapten Buyung benar,karena para ABK bercerita,ketika laut bergelombang dan kapal-kapal lain memilih menunda pelayaran,Ratu Rosari selalu tetap berlayar menjalankan misinya sebagai kapal misi di NTT. Selain disiplin waktu sesuai jadwal pelayaran, keyakinan akan perlindungan "Sang Ratu Rosari" juga yang masih menjiwai anak-anak Flores dan Timor yang masih bekerja di kapal itu. Para ABK pun sudah paham akan nuansa kekatolikan kapal ini.Anak-anak Flores dan Timor ini taat untuk tidak bekerja pada hari Minggu. "Kalau kita nekat kerja pasti ada kecelakaan, paling umum adalah terluka di tangan atau kaki" tutur Garlo.Tiap kali sebelum kapal berangkat para ABK yang berada di ruang mesin selalu membuat tanda salib dan berdoa dulu baru menghidupkan mesin. ABK yang bertugas di anjungan juga selalu berdoa sebelum kapal meninggalkan pelabuhan. Pada saat-saat tertentu mereka berkumpul dan berdoa di kapel kapal. "Kami pakai buku Madah Bhakti dan Ibadat Lingkungan", tutur Tobias.

Di kamar mesin, tempat yang selama bertahun-tahun menjadi kantor Br.Marianus, para ABK yang bertugas sering mendapat pengalaman unik. "Tengah malam kalau sedang tugas dan kami mengantuk atau tertidur, selalu saja ada seekor kupu-kupu putih yang menyambar-nyambar dekat telinga kami dan membuat kami terjaga.Aneh di tengah laut ada kupu-kupu. Kadang-kadang kami mendengar hunyi langkah kaki tetapi tidak melihat orang berjalan. Kadang-kadang ketika sedang tugas jaga tetapi tertidur, seperti ada orang yang menepuk bahu atau menampar pelan seolah membangunkan, tetapi ketika terjaga tidak tampak siapa-siapa" tutur Paulus Muda, petugas di ruang mesin.

Di kalangan masyarakat NTT yang berada di Maluku Utara sempat terungkap penyesalan mengapa kapal yang demikian tinggi nilai sejarahnya bagi karya misi di NTT ini harus dijual.Sangat dikhawatirkan ketika kapal ini nanti beralih pemilik ke orang non Kristen, maka sudah pasti bukan saja berbagai ornament bernuansa kekatolikan yang akan hilang,tetapi juga nama "Ratu Rosari" yang sangat identik dengan Sang Bunda Tersuci akan dihapus dan diganti. Dan sejarah karya missi NTT yang penuh kenangan di atas kapal legendaris ini pun redup dan mati.Adakah pengusaha katolik yang tertarik membeli kapal ini,menyerahkannya kembali kepada "habitatnya" yaitu Tarekat SVD dan karya missi di NTT? Kalaupun tidak bisa berlayar karena ongkos operasionalnya yang mahal, setidak-tidaknya dapat dilabuhkan di depan "Kota Renya Rosari" Larantuka sebagai museum karya missi di NTT.

Sumber;Majalah Katolik Hati.Baru
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 4 June 2008

Paket FREN Siap Menang Pemilihan Gubernur NTT..

Massa pendukung paket FREN(Frans Lebu Raya-Esthon Foenay) tanggal 3 juni sore kemarin memenuhi lapangan Kota Baru yang menjadi tempat diadakannya rapat akbar dalam rangka kampanye Pemilihan Gubernur NTT.Sejak siang hari massa mulai berdatangan kelokasi kampanye meski sang calon gubernur yang diusung oleh PDIP,Frans Lebu Raya beserta rombongan hadir dikota baru sekitar pukul 16.30 setelah menempuh perjalanan dari Flores Timur.
Frans Lebu Raya hadir di kota Maumere tanpa sang calon wakil gubernur Esthon Foenay yang sedang berkampanye di daerah Sumba.



Dalam kampanye sore itu Frans L.B menegaskan kepada massa pendukungnya bahwa paket FREN siap menegakkan hukum dan pemberantasan korupsi di NTT jika dipercaya oleh rakyat NTT untuk memimpin propinsi ini.Dalam bidang pendidikan,lanjut Pak Frans FREN akan melaksanakan program pendidikan murah bermutu yang mudah dijangkau oleh semua rakyat,akses untuk mendapatkan pendidikan juga akan dibuka seluas-luasnya dan menyiapkan program beasiswa bagi siswa dan mahasiswa yang cerdas secara akademis tapi tidak mampu secara ekonomi.FREN juga akan memberikan perhatian lebih terhadap tenaga pengajar(guru)untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraannya agar melahirkan anak didik yang benar-benar bermutu.
Pak Frans melanjutkan akan memberdayakan ekonomi kerakyatan salah satunya dengan mendorong pelaksanaan program pemberdayaan koperasi disetiap kabupaten.FREN juga mendukung pembentukan propinsi Flores yang berdiri sendiri karena hal ini sudah menjadi kebijakan partai PDIP sebelumnya jadi bukan karena saat kampanye baru didengungkan.

FREN menegaskan lewat slogannya bahwa bersama dengan FREN akan diwujudkan:
-ratusan ribu lapangan pekerjaan
-modal kerja tanpa agunan
-pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat tidak mampu.

Diakhir kampanye Pak Frans mengajak masyarakat untuk mencoblos nomor 1 pada tanggal 14 juni mendatang agar apa yang diharapkan masyarakat bersama FREN bisa terwujud.
Kampanye ditutup dengan sebuah lagu yang berjudul 'Anggur Merah' dari Nola Draker yang dibawakan denagn manis oleh istri Pak Frans Ny.Lucia A. Dua Nurak Lebu Raya yang merupakan asli kelahiran tanah Sikka ini.
Pak Frans beserta rombongan akan melakukan kampanye selanjutnya di daerah Manggarai,Bajawa,Nagakeo dan berakhir di Ende.

www.inimaumere.blogspot.com
Selengkapnya...

Monday, 2 June 2008

Selamat Datang Bapak Sosi dan Bapak Dami di Pemerintahan Kabupaten Sikka 2008-2013

Setelah di lantik di Kupang oleh Gubernur Piet Tallo sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sikka untuk masa bakti 2008-2013 kedua putra Sikka yang didambakan oleh masyarakatnya untuk membawa perubahan ke arah sejahtera yang lebih baik akhirnya pulang kembali ke tanah kelahiran Minggu (01/06/2008). Sambutan meriah di bandara Waioti Maumere sampai di kediaman Pak Sosi di daerah Lokaria merupakan bentuk ekspresi warga masyarakat untuk kedua pucuk pimpinan tertinggi di tanah Sikka tercinta ini.
Bupati Sosimus Mitang bersama istrinya, Ny.Firmina Mitang, Wakil Bupati dr.Damianus Wera dan istrinya, Ny.Reneldis Paji Wera beserta rombongan yang tiba di Bandara Waioti Maumere disambut meriah dan gempita.


Saat keluar dari bandara, Bupati dan Wakil Bupati Sikka disambut tarian selamat datang dan kemudian diarak dengan ratusan pengendara roda dua yang berseragam biru-biru dan pengendara roda empat menuju kediaman Bapak Sosimus Mitang di Nairoa-Lokaria. Warga masyarakat di sepanjang jalan yang dilewati terlihat mengelu-elukan pemimpin baru Kabupaten Sikka itu.

Tepat di jembatan Lokaria, kedua pemimpin baru masyarakat Kabupaten Sikka bersama rombongan berjalan kaki menuju kediaman pribadi Bupati Sosi dengan diiringi tarian-tarian . Dipertigaan Terminal Lokaria, rombongan juga disambut dengan tarian Potat Ohe dari Rubit dan Tarian Hegong dari Habi.

Setelah berisitirahat sebentar, akhirnya bersama Bapak Uskup Kherubim rombongan menuju Kapela Lokaria untuk upacara misa syukur.

Misa syukur dipimpin Uskup Kherubim yang didampingi puluhan imam konseleberan. Dalam khotbahnya, Uskup Kherubim mengatakan, misa itu dilaksanakan untuk mensyukuri rahmat Tuhan atas peristiwa yang telah dilalui sejak hari pencalonan, kampanye dan pemilihan sampai pada acara palantikan Bupati dan Wabup Sikka.

Dalam syukur itu, kata Uskup Kherubim, hendaknya dihayati kata-kata Yesus lakukan menjelang kematian-Nya di kayu salib dimana Yesus memaafkan mereka yang berdosa. "Sebagai orang beriman,tidak boleh menaruh dendam terhadap orang yang tidak sejalan atau punya rencana lain yang tidak sesuai dengan rencana kita. Hari ini kita bersyukur dengan menyatakan kegembiraan. Tapi janganlah dalam kegembiraan kita berdosa karena itu akan menyakit hati Tuhan dan sesama," demikian kata Bapak Uskup Kherubim.

Setelah misa syukur yang dikuti kurang lebih 3000 umat khatolik berakhir, rombongan kembali menuju rumah kediaman Bupati Sosimus Mitang untuk beristirahat dan makan siang sejenak. Warga sepanjang jalan menuju rumah pak Sosi terlihat telah berkumpul menyambut rombongan tersebut. Sangat meriah sekali penyambutan kali ini. Music tradisional gong waning yang tak henti-hentinya berbunyi dan tarian-tarian adat yang meriah membuat merinding, sungguh semua merasa sangat menikmati acara ini.

Foto-foto dari Kapela menuju Kediaman Pak Bupati



















Bpk.Anton Pati dan Bpk Oscar Mandalangi beserta Istri










Bapak Ansar Rera berada ditengah undangan











www.inimaumere.com(oss,boim,depar)
Selengkapnya...

Sunday, 1 June 2008

DON THOMAS Dan "Sikkanisasi"

Laurensius Say(1967-1977).

Kepemimpinan Raja Don Thomas



Sistem Pemerintahan
Saya melihat bahwa Raja Don Thomas juga ternyata kurang mampu mewujudkan obsesinya dan apa yang kita harapkan dari dirinya karena tidak terciptanya suatu kondisi yang cukup aman.Padahal kondisi tersebut sangat dibutuhkan untuk membangun wilayah Sikka ke arah kesejahteraan rakyat yang sangat didambakan oleh banyak pihak. Yang saya lihat ialah bahwa mungkin karena kurang berpendidikan dan kurang berpengalaman, beliau malahan menciptakan suatu sistem pemerintahan yang akhirnya menimbulkan beda pendapat dan pertentangan-pertentangan, seperti pertentangan Sikka-Non Sikka justru berawal dari Raja DonThomas.

Dan ini menunjukkan bahwa ternyata Don Thomas yang dikatakan banyak pihak sebagai tokoh yang hebat,perlu dikaji lebih jauh.Justru sebaliknya, beliau jugalah yang menaburkan benih pertentangan antara Sikka-Non Sikka, yang akhirnya bermuara pada gerakan KANILIMA.Ini suatu perkembangan konkrit sebagai akibat dari sistem pemerintahan yang diterapkan oleh Raja Thomas.Hasil akhirnya: kontradiksi atau konflik terbuka antara Sikka-Non Sikka.


Seperti ditulis oleh P. Cornelissen, SVD, pastor paroki dan Direktur Pertama Seminari Sikka bahwa atas kerelaan Raja Sikka pelbagai fungsi pemerintah telah diserahkan kepada banyak orang Sikka yang semuanya atau salah satu cara berhubungan keluarga dengan Raja (Nepotisme).Kemudian ketika wilayah-wilayah lain telah berkembang maju, hal itu tentu saja membangkitkan rasa iri terhadap kekuasaan Raja Sikka (50 Tahun Pendidikan Imam di Flores, Timor dan Bali, hal.13).Suhu politik tersebut kemudian meletup di seluruh wilayah Maumere yang bermuara pada gerakan KANILIMA antara tahun 1948-1950 yang inti¬nya menuntut persamaan, keadilan dan pemerataan. Irama nepotisme itu dikondisikan oleh pemerintah Portugis dan Belanda karena jaringan kekuasaan demikian dapat menjamin keamanan dan ketertiban wilayah-wilayah kolonialisme.

Pemerintah kolonial memang menghendaki ter¬ciptanya suatu kondisi politis yang relatif aman agar relasi politis dengan Raja-raja dan pars,pemimpin lokal dapat terpelihara dengan baik. Dengau perspektif itu maka pola pemencaran kekuasaan dilegitimasi pemerintah kolonial sebagai sistem pemerintahan yang paling kondusif. Sistem politik seperti itu berjalan efektif dan efisien sampai dengan masa pemerintahan Raja Mbako, ayahanda Raja Don Thomas.

Setelah dinobatkan sebagai Raja Sikka ke-15 pada tahun 1923, Don Thomas mulai merombak pola pemencaran kekuasaan dengan pola pengendalian yang sentralistik dalam jaringan nepotisme dan mengganti hampir semua pejabat lokal non Sikka. Tokoh¬tokoh non Sikka yang semakin berpandangan maju dan mengerti ikhwal demokrasi memunculkan reaksi secara merata dad Paga hingga ujung timur Talibura. Sejarah pergerakan itu mencatat nama-nama seperti Centis da Costa dan Juang da Costa (Paga), Guru Pedor dan F.M. Hekopung (Nita),Moan(g) Bapa dan Jan Djong (Kewapante),Step Leong Liwu (Talibura).Boleh dikatakan ada rasa tidak puas hampir di semua wilayah akibat nepotisme jabatan yang diperankan oleh Raja Don Thomas. Praktek itu menjadi marak ketika para Kapitan yang diangkat Raja melimpahkan jabatan-jabatan di tingkat wilayah kepada kaum keluarga
nya.

Saya boleh menyebut proses ini sebagai "Sikkanisasi".Dalam pada itu mereka juga mengembangkankehidupan perekonomian seperti usaha pertanian denganmengambil atau memanfaatkan tanah pertanian masyarakat setempat. Kini hak milik atas tanah pertanian itu mulai dipersoalkan dan bahkan ada yang telah dikembalikan kepada alih warisnya.

Ada argumentasi lain yang menyebutkan bahwa pemilihan dan penempatan para Kapitan diambil dengan mempertimbangkan faktor kemampuan dan pendidikan. Tetapi secara umum kebijakan seperti itu menimbulkan rasa tidak puas. Saya pernah menulis dan mengirim satu artikel singkat untuk dimuat di salah satu surat kabar lokal. Mungkin oleh pertimbangan tertentu tulisan tersebut tidak dapat dipublikasi. Benih ketidakpuasan itu walaupun kecil tetapi tetap membias. Ada dugaan kuat bahwa kebiasaan "sating lapor" pada masa penumpasan PKI sedikitnya berlatar belakang pada ketidakpuasan tersebut. Apalagi para Camat kala itu tidak dapat memberikan pembelaan sedikitpun kepada rakyat yang tidak berdosa. Meski gerakan KANILIMA sudah reda,katakan¬lah sudah berakhir pada tahun 1950, namun arus pertentangan itu tetap bergerak. Naluri nepotisme tidak pernah mati bahkan selama beberapa periode pemerintahan setelah berakhirnya masa kekuasaan Raja Don Thomas.

Pemilihan nama "Kerajaan Silkka", menurut mantan Bupati Sikka dua periode ini, juga dapat memperpanjang gelombang ketidakpuasan tersebut. Mengapa tidak tidak diberi nama "Kerajaan Maumere" yang merupakan perubahan dan "Onderafdeling Maumere" seperti halnya Onderafdeling Ende yang kemudian menjadi Kabupaten Ende.Seharusnya dapat menggunakan proses penamaan Indonesia sebagai referensi sejarah dalam penamaan kerajaan baru itu sebagaimana yang dilakukan oleh para mahasiswa Indonesia di Belanda pada awal masa kebangkitan nasional. Etnolog J.R. Logan menggunakan nama Incionesos" untuk gugus pulau-pulau nusantara atau wilayah kepulauan Hindia Belanda. Nama itu kemudian dipopulerkan oleh Bastian menjadi "Indonesia" untuk wilayah kepulauan sama dari Sumatera sampai Papua. Ketika benih nasionalisme tumbuh bersamaan dengan lahirnya Sumpah Pemuda, para mahasiswa Indonesia di Belanda yang berasal dad Jawa, Sumatera dan Maluku mulai menggalang persatuan. Maka lahirlah Perhimpunan Mahasiswa Indonesia. Penggalangan persatuan dan kesatuan wilayah nusantara sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan bersama saat itu.

Dalam perspektif penggalangan kesatuan itu, sebetulnya wajah barn peleburan Kerajaan Kangae, Sikka dan Nita menjadi satu Kerajaan, akan lebih representatif bila menggunakan nama Kerajaan Maumere,peralihan dari nama Onderafdeling Maumere. Apalagi proses penyatuan itu bukan hanya atas prakarsa Raja Don Thomas saja, melainkan oleh pertimbangan pemerintah Belanda dan pihak Gereja. Dalam hal ini Pemerintah Belanda tentu secara cermat telah mempertimbangkan faktor karakteristik wilayah seperti budaya, bahasa, adat kebiasaan setempat yang secara politis sangat penting demi efisiensi pelak sanaan roda pemerintahan dan keamanan serta ketenteraman. Di saat itu, masyarakat juga sering menggunakan sebutan "Raja Maumere". Namun dalam perkembangan selanjutnya penyebutan itu lalu masuk dalam wacana politik. Padahal kalau digunakan Kerajaan dan Raja Maumere, secara politis mempunyai dampak yang lebih luas dan positif. Ada otorita untuk suatu totalitas wilayah dan bisa lebih mempersatukan. Tetapi harus diakui bahwa upaya penyatuan ini juga merupakan salah satu produk kepemimpinan Raja Don Thomas yang secara politis sangat positif. Terpilihnya Don Thomas pasca peleburan itu karena memang dan keempat raja yang ada hanya Don Thomas yang dianggap paling cakap. Seandainya Raja Nita dianggap paling layak, lalu apakah seluruh wilayah kerajaan yang dilebur itu harus disebut dengan Kerajaan Nita? Jawabannya harus dipulangkan kepada proses dan dinamika sejarah waktu itu tentu dengan berbagai pertimbangan di atas.

Don Thomas: Penggagas Pembangunan Sikka

Bila Raja Don Thomas disebut sebagai penggagas pembangunan di Sikka maka hal itu sangat dimungkinkan oleh kehadiran dan pengaruh Missi Katolik yang membutuhkan kondisi masyarakat yang kondusif untuk penyebaran agama. Pemerintah Belanda sebetulnya tidak memiliki andil bagi realisasi setiap prakarsa yang dicetuskan Raja, karena di tangan Belanda,Raja hanyalah alat kekuasaan pemerintah kolonial.Artinya para raja waktu itu belum mampu melahirkan konsep-konsep baru tentang pem¬bangunan, kecuali Don Thomas yang lebih progresif.

Pendidikan Don Thomas lebih baik jika dibandingkan dengan raja-raja lain. Beliau adalah seorang tokoh yang sangat menonjol, otodidak, pandai bergaul dan bisa berbahasa Belanda.
Saya menilai bahwa pada waktu itu hampir semua orang menginginkan adanya suatu perubahan. Aksi penumpasan PKI dirasakan sebagai suatu tragedi yang luar biasa kejamnya. Katakanlah sebuah "Genoside" yang perlu dinetralisir dengan berbagai perubahan.Apalagi terkuak penilaian banyak kalangan bahwa Pemerintah Daerah saat itu sangat lemah dan tidak dapat memberikan pembelaan sama sekali kepada masyarakat. Kondisi itu menjadi semacam luka batin yang harus disembuhkan. Pada awal suksesi saat itu terasa ada konflik kecil namun tidak terlalu nampak karena adanya harapan bersama untuk terciptanya suatu perubahan.

Beberapa tokoh seperti Djuang da Costa, Piet Pedor,Moang Bapa melihat bahwa sosok perubahan itu bisa lahir dad potensi dan karya tangan saya. Karena kegiatan saya waktu itu, di samping berkebun, saya juga memprakarsai berdirinya Koperasi,Yayasan, P.T dan C.V. Selanjutnya menjadi tempat bertanya dad teman-teman yang berminat mengembangkan usaha-usaha itu. Selama berada di Pulau Jawa saya telah menanamkan dalam diri saya yaitu bahwa hams belajar banyak hal sehingga sekembali ke Flores bisa menjadi tempat bertanya dan dapat membantu banyak orang. Saya terpilih karena saya mempunyai kompetensi untuk melakukan perubahan itu. Tetapi tidak sedikit saya mendapat kritik dari banyak kalangan dan bahkan para sahabat saya sendiri.Sikap dasar saya ialah bahwa semua kritikan itu adalah potensi yang harus dihimpun dan dikembangkan untuk dapat menghasilkan perubahan-perubahan.Saya tidak melakukan suatu mekanisme defensif tetapi mengakomodasi setiap kritikan dan konflik menjadi kondusif guna menumbuhkan potensi per¬ubahan.

Langkah awal yang dilakukan untuk mulai mewujudkan perubahan itu adalah melakukan kunjungan untuk dapat bertemu dan berdialog denganmasyarakat di pelosok-pelosok pedesaan."Dan kunjungan tersebut saya tahu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan bersama mereka menentukan priontas kebutuhan. Mengingat potensi keuangan daerah masih sangat minim maka satu-satunya jalan adalah menumbuhkan prakarsa dan swadaya masyarakat dalam pembangunan sarana transportasi. perubahan dan pemanfaatan lahan tidur dengan lamtoronisasi dan tanaman perdagangan. Di luar sektor itu tak kurang pentingnya adalah kaderisasi untuk pengembangan swadaya masyarakat dan pendidilcan ketrampilan dengan berdirinya STM Daerah."

Kursi jabatan Bupati untuk periode kedua berhasil diraih oleh L.Say secara aklamasi. Kemenangan Partai Katolik terhadap Golkar pada Pemilu 1971 sebetulnya menjadi alasan kuat baginya untuk tidak dipilih lagi.
"Gubernur NTT El Tani dan Ketua DPRD NTT Yan Kiapolli telah mengambil sikap tegas bahwa saya tidak boleh dicalonkan kembali karena tidak mendukung Golkar",katanya mengenang. Justru itulah yang dilakukannya karena tidak mau membungkam keinginan dan hak pilih mayoritas masyarakat Katolik. Dengan pertimbangan tertentu termasuk dikenal balk oleh Ali Murtopo, salah satu tokoh penentu kebijakan di pemerintah pusat Jakarta waktu itu, memutuskan agar L. Say terpilih kembali sebagai Bupati Sikka untuk masa jabatan kedua (1973-1978).

Sebagai seorang orientalis yang bertumbuh dart masyarakat, L. Say mengidam-idamkan lahirnya para pemimpin masa depan di Sikka yang harus memenuhi kriteria tertentu dan sesuai keinginan masyarakat.

Bukan hanya dijagokan secara politis melainkan me¬menuhi kriteria sosial kemasyarakatan. Seiring derap Otonomi Daerah dan kebutuhan laju pembangunan, saat ini di Kabupaten Sikka dibutuhkan pemimpin yang lahir dan berkembang di tengah masyarakat. Ia menjadi menonjol karena karyanya memperjuangkan kesejahteraan umum, muncul secara alamiah dan tak perlu mencari-cari kedudukan. Ia dibutuhkan dan mendapat dukungan secara alamiah. Karena itu is tidak boleh mencalonkan diri melainkan dicalonkan oleh orang lain. Seorang calon pemimpin juga adalah orang yang bersih, tidak melakukan kesalahan yang merugikan rakyat banyak, menjauhi kolusi, punya kesediaan untuk belajar dad sesuatu kejadian yang luar biasa, menempatkan yang benar sebagai yang benar dan yang salah sebagai yang salah demi pem¬binaan watak dan perubahan kesadaran masyarakat. Yang tidak kalah pentingnya adalah bersih dad keterlibatan G 30 S/PKI.

Dicuplik dari dari buku karangan Bapak E.P. da Gomez-Oscar P.Mandalangi yang berjudul 'DON THOMAS PELETAK DASAR SIKKA MEMBANGUN'
www.inimaumere.blogspot.com

Selengkapnya...

Friday, 30 May 2008

Reformasi Administrasi Publik untuk Membangun Daya Saing Daerah: Kajian Perspektif Resource Based

A. Pendahuluan

Reformasi administrasi publik sebagai salah satu bidang kajian administrasi yang selalu menarik untuk dikritisi. Secara teoritis, lahirnya gejala ini sebagai akibat logis dari adanya kecenderungan pergeseran perkembangan ilmu administrasi publik yang beralih dari normative science ke pendekatan behavioral–ekologis. Secara empiris, gejala perkembangan masyarakat sebagai akibat dari adanya globalisasi, memaksa semua pihak, terutama birokrasi pemerintah melakukan revisi,perbaikan,dan mencari alternatif baru tentang sistem administrasi yang lebih cocok dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan zaman. There is not the best, but the better. Begitu juga dengan adanya kebijakan otonomi daerah, yang otomatis masing-masing daerah harus pandai-pandai mencari setiap potensi dan peluang yang terdapat di daerahnya. Meskipun istilah ’daya saing daerah’ seringkali digunakan dalam konteks ekonomi dan diartikan sebagai ‘kemampuan bersaing, sehingga berkonotasi negatif’. Kecenderungan lebih lanjut, pengambil kebijakan yang over protective dan keengganan bekerja sama (Abdullah, 2002).



Namun reformasi administrasi juga secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap para pelaku ekonomi (investor), baik dari daerah itu sendiri maupun investor nasional dalam rencana investasinya di dalam suatu daerah tertentu. Misalnya para pelaku ekonomi mungkin akan berinvestasi di daerah A saja karena administrasi pemerintah daerah tersebut cukup baik, dibandingkan apabila harus berinvestasi di daerah B,C,D, dan seterusnya disebabkan administrasi pemerintah daerahnya yang kurang menguntungkan, bahkan sangat amburadul yang boleh jadi akan menjadikan adanya high cost economic di kemudian hari.

Selain itu, daya saing daerah juga lebih banyak diartikan sebagai suatu potensi yang bersifat tunggal, sehingga dengan demikian tidak ada upaya pemahaman bagaimana kompleksitas faktor-faktor yang membentuk daya saing daerah tersebut. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila didalam pembicaraan mengenai daya saing daerah, opini yang berkembang dapat menjadi sangat beragam dikarenakan masing-masing pihak, baik individu atau pun lembaga melihatnya dari perspektif atau faktor yang berbeda.

Karenanya dalam tulisan ini mencoba untuk memberikan perspektif yang berbeda, yaitu dengan menguraikan daya saing daerah tersebut dengan pendekatan reformasi administrasi dari perspektif resource based yang jarang ada individu atau pun lembaga yang menggunakannya

B. Reformasi Administrasi: Pengertian dan Ruang Lingkup

Akhir-akhir ini tampak adanya pandangan yang mendua terhadap sosok dan cara kerja aparatur pemerintah di beberapa negara dan daerah.

Pandangan pertama, menganggap bahwa birokrasi pemerintah ibarat sebuah perahu besar yang dapat menyelamatkan seluruh warga dari ‘bencana’ banjir ekonomi maupun politik. Dengan dilengkapi militer dan partai politik yang kuat, organisasi pemerintah sebagai dewa penyelamat dan satu-satunya organ yang dikagumi masyarakat. Pandangan ini didasarkan atas asumsi bahwa didalam mengolah sumberdaya yang dimiliki, organisasi ini mengerahkan para intelektual dari beragam latar belakang pendidikan, sehingga keberhasilannya lebih dapat terjamin. Oleh karena itu, mereka berkesimpulan bahwa birokrasi pemerintah memegang peran utama, bahkan peran tunggal, dalam pembangunan suatu negara maupun daerah.

Pandangan kedua, menganggap birokrasi pemerintah sering menunjukkan gejala yang kurang menyenangkan. Sering, bahkan hampir selalu, birokrasi pemerintah bertindak canggung, kurang terorganisir dan jelek koordinasinya, menyeleweng, otokritik, bahkan sering bertindak KORUP. Para aparatnya kurang dapat menyesuaikan diri dengan modernisasi orientasi pembangunan dan perilakunya kurang inovatif, serta tidak dinamis. Keadaan semacam ini akan menyebabkan birokrasi pemerintah mendominasi seluruh organ politik dan menjauhkan diri dari masyarakat.

Pandangan pertama mungkin diilhami suatu pengharapan yangberlebihan, yang dewasa ini mungkin sudah sangat jarang ditemukan,sedangkan pandangan kedua mungkin merupakan pandangan yang berlebihan, yang didasarkan pada prasangka buruk. Bisa juga terjadi kedua pandangan yang secara diametral bertentangan satu sama lain itu sama-sama didasarkan pada pengamatan yang mendalam, dan evaluasi terhadap kondisi nyata aparatur pemerintah. Sudah barang tentu kritik dan ketidakpuasan yang berlebih terhadap peran birokrasi dalam pambangunan sangatlah tidak adil. Selalu saja kalau terjadi kegagalan dalam usaha pembangunan, birokrasi dipandang sebagai biang keladinya. Kegagalan pembangunan, memang sebagian merupakan tanggung jawab birokrasi, namun bukanlah semuanya. Bahkan di beberapa negara dan daerah, kekurangefisienan administrasi tidak dianggap sebagai ‘dosa besar’ terhadap ketidakmampuan pemerintah, baik daerah maupun pusat didalam memenuhi harapan pembangunan ataupun realisasi tujuan sebagaimana telah ditetapkan didalam rencana pembangunan. Penting diperhatikan, bagaimana caranya agar ketidaksempurnaan administrasi itu dapat dikurangi, kalau tidak bisa dihilangkan sama sekali. Ketidaksempurnaan administrasi ini tidak akan dipandang sebagai situasi yang suram, jika seandainya kondisi kesemrawutan administrasi ini tidak merebak ke seluruh pelosok negeri, baik pada arah regional maupun arah nasional. Kondisinya dipersuram lagi dengan adanya keinginan dari birokrasi pemerintah untuk mempertahankan status quo dan menerapkan pola otokratik dan otoriter. Peran pemerintah yang amat dominan dalam pembangunan sosial dan ekonomi, membuat semuanya menjadi lebih parah.

Keadaan di negara sedang berkembang sudah demikian tak memungkinkan untuk melakukan reformasi administrasi dengan baik. Daerah bekas jajahan diperintah dengan tangan besi dan kurang fleksibel, meminjam istilah Leemans (1971), yang kebanyakan struktur politiknya diisi dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang pendidikan hukum dengan pendekatan yang sangat legalistik. Negara-negara yang baru memperoleh kemerdekaan di daerah Asia dan Afrika, didalam konteks yang agak berbeda juga di Amerika Latin, sangat menderita dibawah rezim yang otokratik dan yang berorientasi pada hukum dan ketertiban. Di daerah bekas negara jajahan ini, terjadi perubahan yang menggebu atau turbulent, menurut istilah Waldo. Pada masa perubahan yang demikian gencar ini, lahir harapan masyarakat yang muluk-muluk, suatu harapan yang tak dijumpai dalam masyarakat maju. Kemerdekaan yang diperoleh negara-negara bekas jajahan itu, menyebabkan keberadaan administrasi asing sangat mengganggu cara kerja aparatur pemerintah. Hal ini selain disebabkan tak sesuainya administrasi asing dengan sistem administrasi lokal, membengkaknya tugas-tugas menyebabkan sistem administrasi kolonial tak mampu menyelesaikan persoalan yang muncul dalam masyarakat.

Olehkarena itu, yang diperlukan bukan hanya ekspansi, tetapi juga reorientasi yang komplit. Perubahan sosial yang fundamental menyebabkan lahirnya tuntutan dan tekanan baru. Menjalarnya urbanisasi dan sekularisasi yang cepat, serta kebutuhan akan demokratisasi pemerintahan dan administrasi, menyebabkan beban aparatur pemerintah bertambah besar, dan mau tidak mau adpatabilitas menjadi sangat penting dan menjadi kebutuhan. Semua perubahan dan transformasi ini menyebabkan timbulnya pertentangan antara nilai lama dan baru, antara nilai yang tradisional dan yang modern. Tekanan dan pertentangan ini tidak hanya terbatas pada tubuh birokrasi, melainkan juga dikalangan masyarakat. Di kalangan intelektual, yang diharapkan mampu melakukan perbaikan terhadap kebobrokan birokrasi, malah mereka, utamanya yang konservatif, menjadi stigma birokrasi, sehingga sifat birokrasi yang elitis, terlalu menyenangi sikap otoriter dan kurang komunikasi dengan masyarakat semakin hari semakin parah keadaannya.

Dengan latar belakang dan kondisi demikian, maka kebutuhan akan perubahan dan adaptasi aparatur pemerintah sangatlah mendesak, walaupun masalah yang mengitarinya terlalu kompleks dan rumit. Sebagai konsekuensi logisnya, maka reformasi administrasi di negara sedang berkembang menjadi keharusan (condition sine quanon) dan menjadi perhatian utama pemerintah negara sedang berkembang, termasuk pemerintahan daerah di Indonesia. Reformasi administrasi merupakan bagian yang sangat penting dalam pembangunan di negara berkembang,terlepas dari tingkat perkembangan,arah,dan tujuannya. Semata hanya karena kemampuan administratif dipandang semakin penting artinya bagiterlaksananya kebijaksanaan dan rencana pembangunan. Penyempurnaan kemampuan administratif, meliputi usaha-usaha untuk mengatasi masalah lingkungan, perubahan struktural, dan institusi tradisional atau perubahan tingkah laku individu dan atau kelompok, ataupun kombinasi dari keduanya.

Istilah reformasi administrasi mengandung begitu banyak makna, mempunyai fungsi yang beragam, menimbulkan banyak begitu harapan,tetapi juga membawa ‘pertengkaran’ yang tak kunjung usai di kalangan praktisi, pemerhati, masyarakat, dan kaum teoritisi. Apapun makna dan tujuan yang melekat atau yang dilekatkan pada istilah itu,senantiasa ada nilai positif yang diberikan kepadanya. Istilah ini semakin hari semakin ‘ngepop’ laksana mukjizat, dan ia dianggap sebagai mitos yang banyak mendatangkan berkah dan rezeki. Hampir tidak ada yang mengatakan bahwa reformasi administarsi itu jelek. Sebaliknya hampir semua orang mengatakan reformasi administrasi itu baik dan bermanfaat. Padahal jika diperhatikan lebih jauh, maka akan mempunyai makna dan dampak yang positif maupun negatif, tergantung dari apa, siapa dan bagaimana pembaruan itu dilakukan. Hal ini sangat penting karena ada cara, strategi maupun bentuk reformasi administrasi, yang dalam perjalanan sejarah,terbukti tidak membawa berkah akan tetapi justru mendatangkan bencana bagi masyarakat.

Seperti halnya dengan kebanyakan didalam ilmu sosial, konsep reformasi administrasi diartikan berbeda antara sarjana yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada takrif (definisi) yang dapat diterima secara umum. Caiden (1969: 43) menyatakan bahwa perbedaan pemakaian terhadap istilah ini telah menyebabkan kebingungan dan kesulitan baik didalam menentukan parameter dalam penelitian maupun didalam pengembangan teori.

Dewasa ini istilah reformasi administrasi digunakan untuk mendeskripsikan aktivitas yang sebenarnya jauh melampaui makna yang dikandungnya. Sebagai implikasinya, maka setiap reformasi terhadap aparatur administrasi, baik pada arah lokal maupun arah nasional, dipandang sebagai perubahan terencana. Dror mengatakan bahwa reformasi administrasi adalah perubahan yang terencana terhadap aspek utama administrasi. Sedangkan Caiden (1969: 69) mendefinisikan reformasi administrasi sebagai ‘the artificial inducement of administrative transformation againts resistance’. Definisi Caiden ini mengandung beberapa implikasi:

(1) Reformasi administrasi merupakan kegiatan yang dibuat oleh manusia
(manmade), tidak bersifat eksidental, otomatis maupun alamiah;

(2) Reformasi administrasi merupakan suatu proses;

(3) Resistensi beriringan dengan proses reformasi administrasi.

Caiden juga dengan tegas membedakan antara administrative reform dan administrative change. Perubahan administrasi bermakna sebagai respons keorganisasian yang sifatnya otomatis terhadap fluktuasi atau perubahan kondisi (Caiden, 1969: 57-58). Lebih lanjut dikatakan bahwa munculnya kebutuhan akan reformasi administrasi sebagai akibat dari adanya perubahan administrasi. Tidak berfungsinya perubahan administrasi yang alamiah ini menyebabkan diperlukannya reformasi administrasi (Caiden, 1969:65).(bersambung)

posting by boim
www.inimaumere.blogspot.com

merupakan bagian pertama dari 4 (empat) tulisan yang disadur dari Sasli Rais dan Dance Y. Flassy (yang masing-masing adalah Tenaga Teknis Pengembangan Sektor Swasta/ Penanganan P2DTK NAD-Nias PMU P2DTK-Bappenas dan Kandidat Doktor Administrasi Univeritas Indonesia
Selengkapnya...

Thursday, 29 May 2008

Paket TULUS Akan Bebaskan Biaya Pendidikan dan Kesehatan

Paket TULUS menjelang sore tadi tanggal 28 mei 2008 mengadakan rapat akbar di lapangan milik Keuskupan Maumere.Lapangan yang dulunya merupakan bekas asrama Smpk Frater Maumere menjadi saksi bisu berkumpulnya massa sekabupaten Sikka untuk mendengarkan kampanye dari paket yang menjagokan Drs.Ibrahim Agustinus Medah sebagai calon Gubernus NTT dan Drs.Paulus Moa sebagai calon Wakil Gubernus NTT untuk masa bakti 2008-2013.Kedua pasangan ini memasuki kawasan kampenyae sekitar pukul 15.00 dengan iringan konvoi yang menyertai mobil bak terbuka yang membawa paket Tulus.Pasangan tersebut langsung disambut secara adat oleh tetua adat sikka dan tarian-tarian tradisional rakyat Sikka dikawasan depan Gereja Katedral.Massa yang cukup banyak sempat juga mengelu-ngelukan kedua calon pemimpin rakyat NTT tersebut.



Dalam orasi kampanye tersebut,Drs.Paulus Moa yang menjadi juru kampanye pertama menyatakan bahwa mereka berdua telah teruji dan berpengalaman serta matang dalam dunia pemerintahan birokrasi.Bapak Paulus Moa yang menjadi camat saat berumur 24 tahun juga menyatakan bahwa mereka berdua siap membebaskan biaya pendidikan bagi semua masyarakat NTT yang bersekolah.Paket Tulus,lanjut Bapak Moa juga siap menjadikan provinsi Flores berdiri sendiri lepas dari pemerintahan NTT untuk memberikan kemudahan dan efisiensi pelayanan bagi rakyat Flores dan Lembata karena menurut pak Moa yang asli kelahiran tanah Sikka(Bola)seharusnya Flores sudah menjadi Provinsi sendiri sejak tahun 1958 karena wacana itu sebenarnya sudah mengemuka saat itu.

Bapak Medah yang tampil setelah Pak Paulus Moa kembali menegaskan program-program yang akan dilakukan jika terpilih nanti.Dengan slogan mewujudkan masyarakat cerdas,sehat dan kuat ekomomi di era otonomi mereka berdua akan menjalankan 3 program penting jika berkuasa.Yang pertama adalah di bidang Pendidikan yakni membebaskan biaya pendidikan bagi masyarakat NTT,yang kedua membebaskan biaya kesehatan bagi masyarakat dan ketiga akan memberdayakan ekonomi kerakyatan.Khusus untuk program pertama dan kedua,paket Tulus akan mendorong,memotivasi serta memberiakan intensif bagi para bupati untuk membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat NTT termasuk di kabupaten Sikka ini.Program ini lanjut Medah bukan omong kosong seperti didengung-dengungkan orang karena dikabupaten Kupang program ini dibawah pemerintahannya sebagai Bupati sudah berjalan dan mereka berdua akan menerapkan bagi masyarakat NTT secara keseluruhan jika dipilih oleh masyarakat. Bapak Medah juga menegaskan bahwa mereka berdua telah secara nyata terbukti bertindak bagi rakyat kabupaten dimana mereka memerintah sebagai bupati dan secara hukum mereka berdua bersih dari kasus korupsi.Jadi untuk apa memilih pemimpin yang belum teruji,lanjut Medah.

Kampanye sore itu berlangsung meriah meski massa yang datang tak sebanyak saat kampanye Pilkada kabupaten Sikka lalu.Apakah masyarakat Sikka telah anti klimaks untuk memeriahkan pemilihan pemimpin NTT kali ini?
Sebelum pulang,Paket Tulus sempat berdialog secara akrab denagn massa pendukungnya diringi nyanyian-nyanyian dan musik gambus yang meriah.

www.inimaumere.blogspot.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---