Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 13 September 2008

Gading, Primadona Sikka...

Sikka dalam soal budaya begitu identik dengan gading. Dan gading itu sendiri tak dapat dipisahkan dengan masalah harkat dan martabat kaum wanita. Gading untuk Sikka ternyata mempunyai dua versi kisah sebagai "yang datang dari seberang" dan sebagai "yang muncul dari perut buana".
Hal yang unik tentang gading ialah bahwa kisah tentang gading telah begitu memitos di Sikka khususnya di Nita jauh sebelum Mo'ang Alessu membawa 70 batang gading dari Tana Bara, Malaka. Menurut "pengaman" Regalia Nita, Don Hubertus Emanuel Nong Baba da Silva dan Peter Piet Petu SVD dari Museum Blikon Bwewut dalam suatu wawancara khusus, gading bagi Nita adalah kisah warisan lebuhurnya sebagai yang asli dan bukan yang datang dari luar/dari seberang.

Sejarah Nita mencatatkan, gading adalah bagian kekayaan dari Moang Sisa dan Moang Hilla. Dicatatkan, Mo'ang Sisa dan Mo'ang Hilla adalah dua putera Desa Gaur -yang biasa disebut secara terpadu sebagai Sisa-Hilla- yang ternama karena kaya gading dan kaya harta karun lain sebab rajin menggarap bahan, menyadap nira, menyuling tuak.
Tentang penimbunan gading Sisa-Hila sekian besar, demikian juga harta karun lain yang sekian hebat, mereka cenderung menganggapnya barang sepele seperti penggambaran tentang tindak-tanduk mereka sebagai berikut:

Gading dijadikan kayu pagar pekarangan -niha bala; Gading dijadikan tempat makanan babi -denak bala; Gading dijadikan tempat menampung nira -tereng tua/prekong bala; Gelang tangan pun dan gading -mone bala; Malah rantai emas dijadikan tali gantungan prekong bala penutupnya menggunakan kain tola heet yaitu kain sutera kuning yang halus dan berharga mahal menggantikan ijuk atau dedaunan.
Di antara gading-gading pusaka mesti ada yang digunakan sebagai kayu penahan tanah di anglo yaitu perapian atau dapur kebesaran yang disebut Bala langat. Pasangan bala langat ialah puang toa atau moko perunggu. Dua benda antik ini dibaitkan sebagai Li'at Toa Langat Bala yaitu dapur kebesaran.
Di tempat ini ibu rumah memenuhi tugas kewajiban dalam urusan rumah tangga yaitu mempersiapkan makanan pada waktunya. Jadi periuk masak harus tetap terjerang di batu tungku atau puang toa. Di sana periuk masak harus tetap terjerang karena keamanan hidup rumah tangga, kedamaian ataupun yang sebaliknya bergantung dari ketelitian mengurus atau mengabaikan hat toa bala langat itu.

Dilukiskan, puang toa atau toa saja di zaman Sisa-Hilla dijadikan tempat ayam bertelur dan mengeram - toa Lena bera man u. Gading utama yang paling besar, paling panjang, berat dan mahal disebut Bala Ngeng, yang di Nita di¬sebut Bala Bara, masih tetap ada di Lepo Ratu sebagai warisan yang mem¬banggakan anak cucu. Tetapi dewasa ini, demikian Don Hubertus Ema¬nuel Nong Baba da Silva, gading yang dahulu berkelimpahan itu sekarang tinggal hanya beberapa batang. Bala Ngeng sendiri hanya lima batang:

1. Bala Ngeng ke-1
Diameter lubang mulut 11 Cm.
Panjang 233 Cm, berat 33 Kg.

2. Bala Ngeng ke-2
Diameter lubang mulut 11 Cm.
Panjang 197 Cm, berat 29 Kg.

3. Bala Ngeng ke-3
Diameter lubang mulut 13,5 Cm.
Penjang 194 Cm, berat 28,5 Kg.

4. Bela Ngeng ke-4
Diameter lubang mulut 11,5 Cm.
Panjang 193 Cm, berat 28,5 Kg.

5. Bala Ngang ke-5
Diameter lubang mulut 14 Cm.
Panjang 172 Cm, berat 31,5 Kg.

Don Hubertus Emanuel Nong Baba da Silva dan Pater Piet Petu SVD menegaskan, betapa gading-gading itu, sejak dahulu, adalah warisan leluhurnya dan bukan dibawa dari seberang. Bahwa gading-gading dan harta karun semuanya sudah dinubuatkan sejak leluhur Moang Desa dan Moang Raga sekitar abad 12, sebagai kekayaan yang dihasilkan buminya dan bukan yang datang dari luar.

Gading dalam sejarahnya di Sikka selain di Nita juga dikenal di Sikka di zaman Raja Don Alessu Ximenes da Silva ketika balik dari Tana Bara, Malaka, yang membawa 70 batang gading yang dibagikan kepada para tua adat dengan gelar Mo'ang Mangung Lajar.

Gading kemudian jadi begitu penting sebagai simbol harkat dan martabat wanita yang dijadikan sebagai belis di zaman pemerintahan Ratu Dona Inez da Silva dan Ratu Dona Maria da Silva. Kiranya di zaman inilah gading jadi begitu penting di setiap urusan kawin-mawin .

Referensi Buku : Pelangi Sikka; B.Michael Beding - Indah Lestari Beding
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 9 September 2008

Menyusuri Desa Sikka....

Desa Sikka dalam kenangan perjalanan seorang pelancong dari Jombang,mas Junaedi..

RASANYA terlalu manis untuk melewatkan begitu saja tanpa menancapkan “prasasti aksara”, untuk sedikit mengabadikan jejak langkah di kawasan ini. Semoga ini akan menjadi landasan utama prasasti itu. Saya mulai saja dari Desa Sikka. Ini adalah salah satu desa di antara puluhan desa yang telah saya telusuri. Namanya persis dengan nama kabupaten yang menjadi homebase saya, yaitu Kabupaten Sikka. Konon, desa inilah yang menjadi cikal-bakal lahirnya Kabupaten Sikka di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ini.

Desa ini berada cukup jauh dari ibukota Kabupaten Sikka, Maumere. Perjalanan dengan mobil menempuh waktu sekitar 1 jam 30 menit dari Maumere dengan kondisi jalan beraspal menanjak-menurun-menukik dan berliku-liku. Kalau tidak biasa, bisa membuat kepala pusing, perut mual dan mabuk perjalanan. Kondisi aspal banyak yang terkelupas dan menimbulkan lubang menganga yang sangat berbahaya.

Jalan yang berlubang menganga ini mengingatkan saya pada salah satu aktor yang politisi, yang bulan lalu tewas terhempas akibat jalan berlubang di daerah Ngawi, Jawa Timur. Salah siapakah ini? Adakah para pemimpin kita yang bertanggungjawab tentang hal ini? Adakah para pemimpin kita yang seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menangis dan bersujud mohon ampun kepada Allah SWT gara-gara seekor unta yang terpeleset di jalan di wilayah pemerintahannya?

Kembali ke Sikka, meskipun banyak jalan berlubang, sepanjang perjalanan akan nampak dengan jelas keindahan alam Flores yang panas ini. Padang ilalang yang mulai menguning keemasan, puncak gunung Egon yang beberapa waktu lalu memuntahkan isinya, dan tentu saja rimbunnya kebun coklat, jambu mete, dan ribuan kelapa yang menancap di lereng-lereng gunung hingga tepian pantai, adalah pesona yang dianugerahkan Tuhan. Semua menawarkan keindahan dan tentu saja seharusnya memberikan kesejahteraan rakyat di kawasan ini.

Desa Sikka sendiri persis berada di wilayah selatan Kabupaten Sikka. Posisinya langsung menghadap Laut Sawu, laut yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Ombak di perairan ini sangat besar dan mengerikan, apalagi di kala musim barat. Namun demikian, dikala tenang kondisinya sangat bagus dan menakjubkan, hijau kebiru-biruan dan kemilau warnanya ketika diterpa matahari.

Dari perjalanan saya, saya mendapat sedikit informasi dari mulut ke mulut dan beberapa referensi tertulis tetapi terpisah-pisah tentang sejarah desa ini. Jadi, bagi yang lebih memahami kawasan ini, mohon kiranya memberi koreksi jika ada yang “tidak pas” dengan tulisan ini.

Sikka berasal dari bahasa Portugis, sicha yang artinya kering. Sejak abad ke-12, kampung Sikka masih berupa hutan belantara dan di daerah pantainya masih banyak dihuni oleh binatang liar. Kampung pertahanan orang Sikka yang pertama adalah Natar Gahar yang artinya Kampung Tinggi, atau oleh Moang Bata Jawa disebut dalam bahasa Sikka dengan Ina Gete Ama Gahar. Disebut Bata Jawa karena masih ada pengaruh dari Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Bata Jawa adalah seorang ksatria pemberani yang sangat ditakuti musuh-musuhnya dari luar.

Setelah Bata Jawa meninggal, muncullah Moang Baga atau disebut juga dengan Baga Ngang atau Baga Igor. Setelah Moang Baga meninggal, muncul Moang Don Alesu yang kemudian menjadi Raja Sikka I, yaitu pada tahun 1511 dan pada saat itulah masuk agama Katholik yang dibawa oleh bangsa Portugis dengan membangun Gereja Sikka, sehingga setiap tahun, yang istilahnya pada masa sengsara Yesus, diadakan acara keagamaan Jumat Agung. Pada tahun 1859 terjadi penyerahan kekuasaan dari Portugis ke Belanda. Pada masa kolonialisasi Belanda, hanya ada 3 kerajaan di Flores, yaitu Kerajaan Ende, Kerajaan Sikka, dan Kerajaan Larantuka.

Asal-usul keturunan orang Sikka adalah dari Gunung Iligai, yaitu dari keturunan Moang Ria yang mempunyai 5 orang anak perempuan, yaitu Dua Sikka, Dua Krowe, Dua Pau Wai Laju, Dua Lii Wai Bara, dan Dua Lii. Dari kelima anak ini, Dua Sikka dan Dua Krowe yang paling menonjol, sehingga muncullah daerah Sikka dengan dialek atau logat yang lemah lembut dan daerah Krowe dengan dialek atau logat gelombang atau disebut koung kange.

Pada tahun 1871 sudah berdiri Sekolah Yesuit dengan merekrut para muda-mudi menjadi guru umum dan guru agama. Tahun 1904 mulai dibentuk harmente atau distrik atau kecamatan, dan setiap harmente dipimpin oleh seorang Kapitan. Kapitan pertama di Harmente Sikka yang beribukota di Lela adalah Kapitan Nes Fernandez. Kemudian pada tahun 1917 Kapitan Nes Fernandez meninggal dan digantikan oleh Kapitan Sidolo Fernandes. Pada tahun 1920-1943 dipimpin oleh kapitan Kinyu da Silva. Pada tahun 1943-1950 digantikan oleh Kapitan Kristianus da Silva. Selanjutnya sampai tahun 1960 dipimpin oleh Kapitan David Pareira. Tahun 1960-1968 dipimpin oleh Kapitan Dergius, dan pada masa ini terjadi pemekaran wilayah menjadi Harmente Lela dan Desa Sikka, dengan Kepala Desa Sikka adalah Michael da Chunha. Tahun 1968-1973 dipimpin oleh Vincensius da Gomes dan 1973-1978 oleh Dinyo Conterius. Tahun 1978-1982 dipimpin oleh Gervasius Domi. 1982-1983 dipimpin oleh PJS. Rodolfus Pareira kemudian diganti oleh Stefanus Diaken. Tahun 2003-2004 dipimpin oleh Donjela da Lopez. Pada tahun 2004 sampai sekarang dipimpin oleh Hipolitus Agustalis.

Komposisi mata pencaharian masyarakat Desa Sikka adalah 20 % sebagai nelayan, 70% petani daratan atau ladang, 10 % tersebar sebagai pegawai pemerintah, tukang kayu, tukang batu, pedagang ternak atau blantik, dan sebagainya. Kegiatan pertanian merupakan kegiatan utama dari kaum perempuan dan anak. Sementara itu, kaum laki-laki dan anak laki-laki dewasa pekerjaan utamanya adalah melaut dan hanya pergi ke ladang pertanian jika tidak melaut karena sesuatu hal, misal musim, atau ketika panen hasil pertanian.

Hambatan utama dalam sektor pertaniannya adalah curah hujan yang tidak teratur dan hama tikus, yang terkadang menggagalkan panen dan mengakibatkan bencana kelaparan. Kegiatan pertanian dilakukan ketika musim penghujan antara bulan November sampai April atau Juni dengan kegiatan utamanya adalah membersihkan ladang, menanam, membersihkan rerumputan dan memanen. Diantara bulan-bulan tersebut juga seringkali diadakan acara-acara atau upacara-upacara adat. Nah, acara-acara inilah yang ingin saya nikmati selama kaki saya menjejak di bumi Flores ini. Semoga saja!

Tanpa diedit dari : www.pencangkul.com

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Thursday, 4 September 2008

bLOG mP3,khUsUs PeCaNdU mUsIK TaNaH NTT


silakan di download sepuas-puasnya.Kami akan tetap menambahkan lagu-lagu di blog ini secara berkala.Jika punya 'hati' sampaikan juga pada teman,saudara,atau siapa saja orang-orang yang ingin mendapatkan lagu-lagu daerahnya.
Mau?Klik saja link New Mp3 NTT di sebelah Buku Tamu,Ada-ada lagu-lagu baru...Kami akan menambahkan lagu-lagu NTT secara berkala N datang terus di 'Inimaumere',jangan malu-malu..

Selengkapnya...

Thursday, 28 August 2008

Mengunjungi Pentas Hiburan dan Pameran Pembangunan

Sejak tanggal 14 agustus sampai dengan 28 agustus di kota Maumere tepatnya di halaman eks kantor DPRD Kabupaten Sikka atau disamping studio Radio Suara Sikka (RPD) di jalan Ahmad Yani dilangsungkan pameran pembangunan dalam rangka perayaan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke 63.Dilokasi pameran juga berlangsung berbagai kegiatan hiburan rakyat sepeti perlombaan pemilihan bintang cilik Radio Suara Sikka,lomba dancer tingkat SLTP dan SLTA,perlombaan band tingkat SLTP dan SLTA,perlombaan membaca naskah berita tingkat anak-anak SLTA di studio Suara Sikka,perlombaan drum band tingkat Taman Kanak-Kanak,SLTP dan SLTA lain-lain yang disponsori sepenuhnya oleh Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) untuk merayakan hari ulang tahun (HUT ) Radio Suara Sikka yang ke 19 yang jatuh pada tanggal 28 agustus 2008.

Tahun lalu perayaan HUT kemerdekaan dan HUT Suara Sikka berlangsung di lokasi pasar Alok sebelum pasar Alok diresmikan dan dikuti hampir semua instansi pemerintah beserta para usahawan swasta.Menurut pengamatan kami kegiatan pameran pembangunan tahun ini tidak sebegitu meriah dibandingkan dengan acara serupa tahun lalu.Peserta pameran juga tidak banyak dan ironisnya tenda-tenda pameran dibuat seadanya yang terkesan asal jadi meski ada beberapa tenda yang lumayan bagus untuk menarik pengunjung.Andaikata Radio Suara Sikka tidak terlibat dengan mengisi berbagai kegiatan perlombaan di lokasi pameran dipastikan pameran pembangunan kali ini terasa 'garing' alias kurang greget atau sepi pengunjung.

Ada beberapa tenda atau stand pameran malah sudah tidak dipakai lagi sejak bupati meresmikan pameran pembangunan dimalam pembuka,entah kenapa.Maumere yang pernah dijuluki kota debu terlihat jelas saat pameran.Meski lokasi pameran sudah diguyur air yang dilakukan oleh armada mobil tangki dari kantor dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sikka untuk menghindarkan debu namun tetap saja debu masih berterbangan apalagi kota Maumere masih berada dalam kondisi musim panas yang panjang dan disertai sedikit angin kencang.

Setiap malam sejak hari pembuka,lokasi kegiatan pameran selalu dikunjungi warga masyarakat yang didominasi anak-anak muda.Selain untuk mengunjungi pameran para warga kota Maumere umumnya terpusat ingin menikmati berbagai perlombaan yang dipentaskan di panggung hiburan.Jika acara hiburan dipanggung telah selesai maka lokasi pameran pun segera di tinggalkan.Tak ada namanya desak-desakan di tenda pameran untuk melihat-melihat isi pameran(monoton 'kali).Segera setelah pentas usai lokasi pun terlihat sepi padahal pentas biasanya selesai pukul 9 malan. Namun di tenda TNI Angkatan Laut,Kodim 1603 Sikka atau di stand Unipa masih terlihat warga berkumpul untuk sekedar menghabiskan waktu menonton filem bersama yang di putar dengan menggunakan layar besar.


Hampir semua sekolah dari tingkat Tk sampai Slta ambil bagian dalam kegiatan perlombaan yang di maksud untuk merayakan HUT RI dan HUT RSPD(Radio Suara Pemerintah Daerah) Sikka.Lokasi pameran dipastikan ramai jika pentas panggung diisi dengan perlombaan antar anak Sltp dan Slta.Mereka datang untuk mendukung teman-temannya diatas pentas yang membawa nama almamater sekolah mereka.

Kualitas permainan musik anak-anak muda seusia Sltp maupun Slta di Maumere sekarang ini sangat memukau dan tidak kalah dengan anak-anak seusia mereka di lain tempat. Mereka bisa memperlihatkan keahlian mereka bermain musik dengan kualitas yang tinggi bahkan beberapa lagu-lagu daerah Maumere diarasemen ulang dengan penyajian musikal yang mengejutkan.(Jadi ingat kalau dulu dipanggung pentas untuk kemerdekaan biasanya diisi dengan vokal grup atau tarian Limbo-limbo Lala hehehehe).

Tanggal 28 juni malam ini pameran pembangunan ditutup secara resmi oleh Bapak Wera Damianus yang juga merupakan wakil bupati Sikka dan juga akan diumumkan para pemenang yang telah mengikuti babak final di setiap acara perlombaan di pentas lokasi pameran atau kegiatan-kegiatan lain diluar pentas seperti lomba baris berbaris dan lain-lain.

Semoga tahun-tahun kedepan pameran pembangunan bisa di buat lebih baik lagi dan tentu saja bisa menarik warga masyarakat untuk mengunjungi stand pameran yang didirikan.Juga tenda -tenda yang menjadi tempat peserta memamerkan produk-produk mereka tidak dibuat asal jadi dan terkesan tidak maksimal untuk standar sebuah kota yang akan menjadi kota otonom.Semoga..!!

Pentas Hiburan Perlombaan












Beberapa stand Pameran yang terbilang lumayan..









Arnold Juara I Bintang Cilik RSPD Sikka


SMPK Frater,Juara I lomba Band antar SLTP dan SLTA



Warga kota Maumere menghadiri lokasi Pameran dan Hiburan Rakyat
Kenalkah anda dengan salah satu pengunjung dibawah ini?















www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 27 August 2008

Kabupaten Sikka Selayang Pandang


Kabupaten Sikka adalah salah satu kabupaten dari 16 kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Secara administrasi,Kabupaten Sikka terdiri dari 22 kecamatan,147 desa dan 13 kelurahan,dengan batas wilayah sebelah utara dengan laut Flores dan sebelah barat dengan Kabupaten Ende.Kabupaten Sikka berada pada posisi strategis untuk masuk kewilayah NTT dan Flores pada khususnya sebagai gerbang utama yang didukung oleh tersedianya prasarana dan sarana transportasi yang memadai baik darat,laut maupun udara.

Sejarah perjalanan Kabupaten Sikka berawal dari pemerintahan lokal Kerajaan Sikka yang mulai berkiprah sejak abad ke 16.Penduduk lokal Sikka Krowe yang mendiami wilayah ini pada masa lampau menyebut daerah ini dengan nama "Nuhang Ular Tana Lorang",karena letaknya berada dibagian tengah Pulau Flores.


Perjalanan pemerintahan kerajaan Sikka lebih banyak dipengaruhi oleh kehadiran bangsa portugis dengan expedisi terkenal Cabo da Flora yang menyinggahi pulau Flores dan sekitarnya.
Peletak dasar pengaruh portugis di Kabupaten Sikka adalah Raja Sikka Moang Alessu adalah dengan melakukan perjalanan mencari Tana Moret atau Hidup Abadi di Malaka serta membawahi misionaris Portugis Gustinho da Gama untuk menyebarkan agama Khatolik diwilayah ini.
Sejarah perintisan gemilang ini membawa pengaruh yang kuat dan mendalam dari budaya Portugis dalam bidang sosial budaya,agama dan kesenian bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Sikka sampai sekarang.

Penduduk Kabupaten Sikka berdasarkan hasil sensus tahun 2007 berjumlah 275.075 orang dengan mata pencaharian utama bertani dan nelayan disamping mata pencaharian lain seperti berdagang dan sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Secara umum Kabupaten Sikka dihuni oleh 5 kelompok etnis,yaituh :

1. Sikka Krowe; kelompok etnis yang mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Sikka yang terdiri dari sub etnis Sikka-Lela,Nita-Koting,Nele-Balulele,Habi-Ili-Wetakara,Bola-Wolonwalu,Dorang-halehebing.
Kelompok Etnis Sikka Krowe menggunakan bahasa Sikka.

2. Sikka Nuhan; Kelompok etnis Tana Ai yang mendiami wilayah sekitar Kringa dan Werang.Umumnya etnis Tana Ai menganut sistim kekerabatan matrilinear yang mana seluruh hak waris diturunkan pada kaum perempuan.
Etnis Tana Ai menggunakan bahasa Nuhan.

3. Nuhan; Masyarakat etnis Nuhan mendiami bagian timur Kabupaten Sikka sekitar wilayah perbatasan antara Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur.Etnis Nuhan menggunakan bahasa Nuhan.

4. Lio; Masyarakat etnis Lio mendiami bagian barat Kabupaten Sikka dan terdiri dari beberapa sub etnis seperti Mbengu,Mego,Nualolo dan Bu.
Kelompok etnis Lio memiliki budaya tersendiri yaituh budaya Lio.Mereka menggunakan bahasa Lio.

5. Palue; Kelompok masyarakat yang mendiami pulau Palue.Etnis Palue menggunakan bahasa Palue.

6. Tidung-Bajo; Kelompok etnis Tidung Bajo berasal dari Sulawesi Selatan yang mendiami pulau-pulau sekitar Teluk Maumere dan sepanjang Pantai Utara Kabupaten Sikka.Mereka menggunakan bahasa Bajo.

Sementara kelompok etnis Tionghoa mendiami kota Maumere dan menyebar keseluruh kecamatan.

Secara Klimatologis Kabupaten Sikka beriklim tropis dengan dua musim yaituh musim kemarau dan musim hujan.Musim kemarau berkisar dari bulan April sampai Oktober dan musim hujan dari bulan November sampai Maret.Temperatur udara berkisar antara 27-33 derajad Celcius.

Penduduk Kabupaten Sikka dan etnis Tionghoa mayoritas memeluk agama Khatolik Roma sementara orang-orang Bajo memeluk agama Islam.Jumlah penganut Khatolik di Kabupaten Sikka terbesar karena pengaruh Portugis dahulu kala diwilayah ini sekaligus membawa perubahan dan pengaruh pada bidang sosial budaya,kesenian dan agama hingga saat ini.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 26 August 2008

Don Alessu,Mencari Dunia Tanpa Kematian..(1)

Kisah spiritual Moang Alessu mencari hidup yang kekal untuk rakyatnya....

Baga Igor mempunyai turunan Mo'ang Keu, Kurang, dan Lesu ( (Alessu). Keu dan isterinya Du'a Plue asal Wolomotang. Kurang dan Lesu dari Du'a Hengar, Lifao atau Oekusi di Timor Timur. Kurang dalam perkembangannya mengenakan gelar da Cunha menurut pihak ibu, karena takut akan gelar bapak yang sering meningga1.

Dari keturunan Moang Baga Igor, Lesu atau Alessu tampil secara menonjol. Alessu dikenal berani menghadap tantangan. Seorang pemimpin yang senantiasa gelisah, seperti para filsuf yang selalu bertanya-tanya, mencari sesuatu yang baru. Dia juga tergolong progresif, menggandrungi terobosan-terobosan.

Suatu masa sekitar akhir abad 16, bencana besar melanda Sikka dan sekitarnya. Kematian demi kematian sangat meresahkan, menggelisahkan, dan menakutkan. Wabah penyakit mengganas, tetapi tak diketahui wabah apa itu. Obat-obatan yang tepat belum ada. Anak negeri hanya mengenal obat-obatan tradisional atau hanya menggantungkan kepercayaan kepada setan dan suanggi. Hampir setiap hari banyak jiwa melayang diantar kekubur.

Mo'ang Alessu begitu cemas dan prihatin. Mo'ang Alessu kalut. Dan dalam kekalutan itulah Mo'ang Alesu mencari-cari, bertanya dan terus bertanya: "Adakah suatu tempat di bumi ini yang tak pernah mengalami kematian, di mana manusia hanya hidup,abadi?"
Pertanyaan itu begitu mengguncang diri Mo'ang Alessu terutama bila mendengar ada kematian yang menimpa rakyatnya. Gelisah, resah. Nasi dimakan terasa sekam, air diminum serasa duri. Mo'ang Alessu ingin lari meninggalkan tempat tinggal dan tanah airnya mencari "tanah hidup" yang sangat didambakannya.

Suatu hari berjalanlah Mo'ang Alessu ke pantai utara, Sikka Utara yang dewasa ini dikenal sebagai Maumere. Saat itu di Maumere pelabuhan ada di kawasan Waidoko, ke sanalah Alessu menuju. Banyak perahu dagang berlabuh di Waidoko termasuk yang memuat para musafir dari Malaka.

Mo'ang Alessu begitu tergerak untuk berkenalan dengan para musafir itu. Ternyata Mo'ang Alessu tak menemui kesulitan untuk membangun pergaulan dengan para musafir dari Malaka itu. Salah seorang musafir menyapa dan memperkenalkan dirinya sebagai yang bemama Dzogo Worilla seorang Portugis Malaka.
Mo'ang Alessu juga memperkenalkan dirinya, dan mengungkapkan kegelisahan dalam dirinya. Mo'ang Alessu bertanya,
"Mengapa tuan-tuan hidup mewah begini? Apakah di tanah air tuan-tuan tak ada orang yang dapat mati?Adakah yang hidup selama-lamanya?Apabila demikian, baiklah kami pun tuan bawa untuk hidup bersama-sama, demi mengenyam kebahagiaan itu."

Mendengar pertanyaan Mo'ang Alessu, Dzogo Worilla hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Worilla hanya memberikan pengharapan yang abstrak. "Apabila saudara ingin mencari tempat Jaya, marilah berlayar bersama ke luar daerah ini, dari pulau ke pulau, dari negara ke negara. Di sanalah kita akan melihat, apa artinya hidup. Bila tiba di negara kami, kelak kami akan memperlihatkan kebahagiaan itu".

Mo'ang Alessu menerima tawaran Worilla. Untuk itu dia mohon diri kembali ke Sikka untuk mempersiapkan keperluan dalam pelayaran. Dalam tempo beberapa hari, Mo'ang Alessu sudah mengumpulkan 70 gumpalan emas serta ambar harum (ambar menik yaitu sejenis harum-haruman yang diperoleh dan usus paus penemuan leluhurnya. Ambar itu sangat mahal harganya).

Pada hari yang ditentukan untuk berlayar, Alessu datang ke Waidoko. Singkat cerita, Alessu berlayar bersama Worilla ke Tana Bara, Malaka. Di setiap pulau yang disinggahi, di setiap pelabuhan yang dilabuhi, Alessu senantiasa bertanya tentang kematian dan kehidupan, tentang kesusahan dan kesenangan. Jawaban yang diterima Alessu hanyalah, "Tanah ini adalah tanah mati. Semua orang akan mati".

Dengan berkat Tuhan, Alessu akhirnya tiba di Malaka bersama Worilla. Malaka adalah daerah jajahan Portugis. Dzogo Worilla kemudian melapor perjalanannya kepada Raja Worilla yang adalah ayahnya. Alessu baru sadar bahwa ternyata Dzogo Worilla adalah keluarga kerajaan. Dzogo Worilla secara khusus menceritakan maksud Alessu yang dalam perkenalannya mengaku sebagai raja atas 300 buah kampung.

Mendengar masalah yang mengganggu hati Mo'ang Alessu, Baginda Raja Worilla tertawa, lalu menghiburnya. "Kami di sinipun tak pernah luput dari kematian. Di mana saja ada kematian. Apabila kita ingin hidup selamanya, baiklah pergi ke surga. Di sanalah tempat hidup abadi, dan tak pemah akan mati. Maka untuk mencapai hidup abadi di surga, kita hams mencari jalan ke surga, dengan belajar agama, dan dipermandikan lalu menjadi Kristen, serta hidup baik menurut Hukum Tuhan".

Mendengar petuah Baginda Raja Worilla, Alessu manggut-manggut. Alessu ingin jadi Kristen dengan belajar agama Katolik.

Alessu menerima pembinaan agama Nasrani (Katolik) mungkin setahun. Alessu mempelajari doa serta nyanyian dengan bahasa Portugis. Di samping itu, Alessu juga belajar tentang kepemimpinan dan kebudayaan Portugis. Setelah cukup mendapat pembinaan,Alessu dipermandikan dengan nama Don Alexius Ximenes da Silva. Sebelumnya, Alessu memberikan persembahan kepada baginda raja berupa harta yang dibawanya.

Pada hari itu juga baginda raja melantik Don Alessu sebagai raja resmi Kerajaan Sikka yang takluk pada Portugis dengan gelar Don Alexius Alessu Ximenes da Silva. Alessu dipermandikan dan dilantik sebagai Raja Sikka dan diamanatkan untuk membantu menyebarkan agama Nasrani dalam Kerajaan Sikka.
Untuk itu seorang guru agama ditugaskan untuk mendampingi Alessu. Guru Agama itu bernama Augustinho Rosario da Gama. Alessu sangat berbangga dengan pelantikannya oleh Baginda Raja Worilla yang berbunyi:

"Viva Altissimo Senhor Don Alexius Ximenes da Silva elry, aqual seya boasaudi. Elquam Deos nossa senhor de longa vida permanessa. Elry de regno da Sikka, de blaixo de Lisboa."

Menurut terjemahan D.D. Kondi dan A. BoEr yang kemudian dipetik dan dicatat P. Piet Petu SVD dan Edmundus Pareira kata pelantikan itu bermakna,

"Hiduplah Baginda yang mulia Raja Don Alexius Ximenes da Silva, memerintah kerajaan dengan selamat. Semoga dilanjutkan Tuhan usiamu, tetap memerintah Kerajaan Sikka, takluk ke bawah Baginda dan Ratu di Lisboa".

Setelah pelantikan, Don Alessu dan Augustinho da Gama berkemas untuk kembali ke Sikka. Hatinya lega karena telah mendapat jawaban yang agak jelas mengenai kehidupan kekal.

Referensi Buku : Pelangi Sikka; B.Michael Beding - Indah Lestari Beding
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Don Alessu, Mencari Dunia Tanpa Kematian....(2)

"Agama Raja adalah Agama Rakyat"

Raja Sikka DonAlexius Alessu Ximenes da Silva dan Agustinho da Gama akhirnya tiba di Sikka. Secara kilat anak negeri se-Sikka mengetahui bahwa Raja Alessu telah kembali dari berdagang. Raja Alessu membawa 70 batang gading, tongkat kerajaan (gai bas tang), mahkota emas bertulisan 1607, kalung leher (tua wulir), rantai besar (rantai bahu),keris emas (pendo bahar), juga rantai leher yang disebut odang spiritu sancto. Selain itu juga sebuah patung kanak-kanak Yesus yang disebut Menino (Me Jidzus). Don Alessu secara khusus dilengkapi pakaian kebesaran seorang pangeran.


Dalam tempo satu dua minggu rakyat Sikka dikumpulkan. Sebuah keramaian besar digelar sebagai sebuah perayaan resmi dimana pelantikan Raja Don Alexius Ximenes da Silva di Malaka diperbarui oleh Augustinho da Gama dihadapan seluruh tua adat Sikka dan rakyatnya. Massa rakyat sangat kagum dengan ritus pelantikan apalagi memandang Raja Don Alexius Ximenes da Silva dalam pakaian kebesaran yang diiringi letusan meriam (meriam bambu?) 12 kali. Seluruh rakyat, para tua adat, hanya bisa mengaku takluk kepada Sang Baginda dan menjunjung tinggi titahnya.

Dalam amanatnya, Raja Don Alexius Ximenes da Silva mengatakan, "Apabila kita ingin mencapai hidup kekal, maka kita harus mempelajari Agama Nasrani yang mengantar kita ke surga, di mana kita tak akan mati lag', Karena bumi ins adalah fana adanya. Di mana-mana terdapat kematian".
Mendengar titah Raja Don Alexius Ximenes da Silva, rakyat serentak minta dipermandikan dan belajar agama Nasrani dari Agustinho da Gama. Bukan karena dipaksa tetapi atas kesadaran atas dunia yang fana dan surga yang abadi. Demikian, Raja Don Alexius Ximenes da Silva menjadi peletak dasar agama Katolik di Sikka dengan cara "agama raja adalah agama rakyat".

Menata Kembali Pemerintahan

Raja Sikka Don Alexius Ximenes da Silva tidak hanya menyebarkan Agama Katolik dengan giat tetapi juga membangun kembali pemerin­tahannya. Apa yang dipelajarinya di Malaka sedapatnya is terapkan di Sikka.

Dalam upaya membangun kembali pemerintahannya, Raja Don Alessu bermusyawarah dengan Mo'ang Puluh untuk membentuk Dewan Kapitan sebagai Menteri Kerajaan. Para kapitan sebagai dewan pendamping raja sedangMo'angPuluh tetap sebagai Dewan Pleno dan peng-uasa Hoak-Hewer­nya. Susunan kapitan-kapitan sebagai berikut:

-Kapitan Mor (Mayor), sebagai Kapitan Utama yang bertugas sebagai penasihat utama.

-Kapitan Sala (Sola), Moang Solapung, yang membidangi urusan upeti seperti perbekalan.

-Kapitan Guarda (Pelindung) disebut Moang Guarda yang bertugas sebagai pelindung/pembimbing juga sebagai pendamping dalam perjalanan.

-KapitanAlveris (Alvarez) disebutjuga KapitanApi yang membidangi pertahanan dan keamanan yang ditangani Moang Wodong Gerejati (da Gomez).

-Kapitan Pontera (Jentera) yang ditangani Moang Sibakloang yang membidangi bidang pengadilan serta penghukuman.

-Kapitan Kolonel yang ditangani Moang Wololora yang membidangi juga bidang pertahanan dan keamanan bersama Kapitan Api.

-Moang Commandanti sebagai syahbandar pantai utara atau pe­nguasa Pelabuhan Sikka Alok atau Maumere sekarang. Ia mengurus bidang upeti yang disebut bea Tabu watu (bea pelabuhan). Bidang ini diserahkan kepada Moang Kurangpung yang bergelar da Cunha.

Selain itu juga dikenal tua-tua adat yang bergelar Mangung Lajar sebagai pendukung wilayah. Kepada para tua adat ini dibagikan 70 buah gading yang dibawa Don Alessu dari Malaka. Karenanya, para tua adat itu bergelar Moang Mangung Lajar yang dilantik secara resmi dengan bait pelantikan:
Ina lau krus puang, diat beli nora puang, Ama lau gereja wang dokang beli nora kating. Wake nei nora mangung, mangunglepe lau plebeng. Ore nei nora lajar, lajar 'loda wawa dang. Odo au ganu serdadu, gareng ganu marselu, Kiring liar lopa leder, gata wang lopa gawang. Dena niang lopa biko-liong, tanah lopa kiling-kolok. Dadi mangung`wau`wisung,lajardena gong wangang, tali lera lema `wate.

Terjemahan bebas menurut Edmundus Pareira:

Raja yang berada di Sikka (Ina krus puang), melantikmu dengan resmi menjadi penguasa wilayah. Jadilah tiang penopang serta pelindung sebagai layar. Patuh dan taat dalam menjalankan tugas. Hendaknya lemah-lembut dan ramah-tamah.

Para Mangung Lajar menerima "gading kuasa"(Bala Mangling) sebagai tanda resmi jadi pembantu raja yang takluk kepada Raja Sikka. Gading kuasa itu tidak untuk diperjualbelikan tetapi dipelihara sebagai warisan kekuasaan yang biasanya dibaringkan pada pintu masuk rumah (plebeng).
Para Mo'ang Mangling Lajar mempunyai Tujuh Pembesar Desa otonom yang disebut Mo'ang Watu Pitu:
-Kokek (Koko-kek), Koko ganu manu, kek ganu wawi yang adalah penghubung masyarakat atau juru penerang: menyampaikan pengumuman atau perintah,

-Uru Duur Tada Tawang, yang adalah pengatur atau pemegang larangan atau tabu terhadap kebun, kelapa, pisang, kemiri dan sebagainya. Bila ada kecurian, ia dikenai dengan denda termasuk hera tada,

-Neni Thing Plawi Dolo, yang adalah imam adat untuk memohon hujan serta panen berlimpah juga perayaan syukur,

-Gai Goeng Riwung, Enak Legeng Ngasung, yang memegang tongkat kekuasaan sebagai pamong/kepala dusun. Dahulu biasanya para pejabat itu membawa tongkat sebagai penguasa resmi yang diberi gelar Mo'ang Gai. Gai hanya boleh diserahkan sebagai bukti suatu perintah yang harus dilaksanakan segera.

-Buwung Gajong, yang bertugas sebagai pembagi makanan atau hasil. Apabila musim panen maka basil kebun harus disisihkan sedikit untuk Mo'ang Buwung Gajong. Para petani wajib menyerahkannya dengan genap. Setelah terhimpun, akan diantarkan sebagian kepada raja, para mo'ang puluh, serta kapitan termasuk mangung lajar. Bila timbul rawan pangan, Mo'ang Buwung Gajong harus meminta bantuan dari masyarakat untuk menanggulanginya.

-Du'a Kula Moang Kara atau lengkapnya Dua Kula Ganu Wulang, Mo'ang Kara Ganu Lero, yang adalah para hakim adat. Keputusan mereka adalah tertinggi dan wajib dijunjung sebagai matahari dan bulan. Bila ada sengketa dalam masyarakat, Hakim Adat harus segera menyelesaikannya.
Istilah lainnya: Ata Lahi Dagir, Wega Bolet. Artinya penyelesaian yang kusut dan tersangkut-paut. Kleteng Tatar-nya: Dua kula ganu wulang, moang kara ganu lero, naha lahi au dagir, bega beli au bolet. Dena tali lopa dagir waing, karang lopa kaet alan".

Dengan demikian, Raja Sikka Don Alexius Ximenes da Silva sudah sejak tahun 1607-an, membangun sistem pemerintahan lokal yang kokoh. Ina Gate Ama Gahar membangun Kerajaan Sikka, Raja Don Alexius Ximenes da Silva meletakkan dasar-dasar pemerintahan.
Dan, itu justru setelah melakukan perjalanan kontroversial mencari "bumi tanpa kematian" ke Malaka.

Referensi Buku : Pelangi Sikka; B.Michael Beding - Indah Lestari Beding
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---