Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Wednesday, 20 May 2009

Sejenak Berada Di Pantai Sikka..

Kampung Sikka yang terletak di wilayah pesisir pantai selatan Flores selain memiliki keterikatan sejarah yang kental dengan bangsa Potugis,1001 kisah tentang sejarah kerajaan dan para rajanya serta sebagai sumbu penyiaran agama khatolik ternyata juga menyimpan pesona pantai yang cukup indah.Gelombang pantai selatan yang cukup terkenal dengan buih-buih ombaknya yang setiap detik datang mencium pasir pantai seakan-akan menambah kenyamanan ketika kita berada di sekitarnya.Alamnya masih sangat perawan.


Klik Fotonya :









www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 16 May 2009

Menjelajah Masa Silam Lewat Museum Blikon Blewut..


Ketika memasuki gedung museum Blikon Blewut yang terletak dalam area Sekolah Tinggi Filsafat Khatolik Ledalero saat itu juga perasaan kita seakan terbawa menuju masa silam. Kita akan mengenang jaman prasejarah dan sejarah umat manusia dan kehidupan di bumi ini yang dilukiskan dalam berbagai artefak dan peninggalan kuno. Kata Blikon Blewut itu sendiri maksudnya adalah sisa-sisa dari yang punah. Artinya lebih dari purba.

Museum Blikon Blewut terletak dalam komplek area Sekolah Tinggi Filsafat Khatolik (STFK) Ledalero. Dari Kota Maumere berjarak 6 Km menuju selatan Kabupaten Sikka atau berada dalam lintasan jalan raya menuju ke Kabupaten Ende.
Secara Administrasi, Museum Blikon Blewut terletak dalam Wilayah Pemerintahan Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka.
 Ketenangan suasana yang dibaluti hawa dingin menjadikan kita tak bosan-bosan berkelana ke masa lampau. Kita bisa melihat segala macam peninggalann untuk dipelajari.
Dalam buku tamu museum, terlihat jelas indentitas pengunjung yang telah mampir di museum ini. Mulai dari kalangan peneliti, ilmuwan, mahasiswa dan wisatawan berbagai negara di dunia dan tentu saja sejumlah daerah di Indonesia.

Sudah siap berwisata atau berada di dalam hidup dan kehidupan masa silam lewat Museum Blikon Blewut? Berangkat....!!

Membicarakan Sikka purba -juga Flores, NTT, Indonesia dan dunia tak bisa dipisahkan begitu saja dengan "Museum Blikon Blewut". Inilah museum terbesar dan terlengkap di Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur) yang menghimpun berbagai fosil dan artefak dari zaman batu, megalitikum, dan artefak kesenian lainnya dari berbagai kultur.

Penataan dan pengelolaan museum ini dari hari ke hari semakin memenuhi tuntutan dan bobot ilmiah, kadar kultural dan nilai estetika. Inventarisasi kategoris koleksi museum ini memiliki macam-macam benda, alat, photo dokumentasi, patung, kain tenun, parang, emas, perunggu, batu mulia, batu-batuan lain, berbagai jenis mata uang logam dan kertas dari mancanegara dan lain sebagainya. Inilah peninggalan budaya di Flores dan berbagai daerah lain di Nusantara dan dunia yang memiliki nilai yang sangat tinggi sehingga perlu di amankan dan terus di gali nilai tersebut.

Dalam Pelangi Sikka, 2000,  dijelaskan pengumpulan benda-benda purba dimulai oleh Pater Verhoeven SVD pada tahun 1965, kemudian dilanjutkan Pater Piet Petu SVD pada tahun 1980-an, “Saya senang rnenyimpan barang-barang seperti itu..Bakat itu dari rumah dimana saya selalu mempunyai barang-barang koleksi yang baik."

Blikon Blewut memuat benda-benda yang paling purba seperti tulang-belulang Protonegrito, binatang buruan seperti stegedon dan batu-batuan yang jadi perkakas karya manusia purba. Stegedon sekitar 200- 300 tahun SM, di mana di jaman itu manusia dari awalnya memakan binatang, binatang makan manusia. Pater Verhoeven dari awalnya hanya mengumpulkan benda-benda purba itu antara lain sebuah kapal dolok perunggu terkenal yang diambil dari So'a-Bajawa dan fosil-fosil Stegedon tlorinensis Hooijer, dari kaki Gunung Ebulobo - Olabula - Boawae. Sedangkan Pater Piet Petu SVD sebagai penerus mulai dengan verifikasi yaitu mencari hubungan kausalnya.

Promotor Blikon Blewut terbesar adalah Dr. P. Th. Verhoeven SVD yang mulai mengadakan penelitian dan ekspedisi-ekspedisi penggalian sejak tahun 1950. Tokoh-tokoh lain yang ikut menggali barang-barang prasejarah dan sejarah ialah Mgr. van Bekkum SVD, Pater Mommersteeg SVD, van Heekeren (Kepala Dinas Purbakala Jakarta di saat itu), Pater Darius Nggawa SVD, Fr. Nurak dan sebagainya. Sedangkan khusus di Timor, sebelum Pater Verhoeven dkk. sudah pernah diteliti oleh Fritz Serasin pada tahun 1934 dan YA. Willems pada tahun 1938.

Dari hasil penelitian dan penggalian di Flores, Sumba, dan Timor Pater Verhoeven mengadakan hubungan dengan para ahli di Eropa. Mereka mempelajarinya dan menganalisia benda-benda penemuan yang diserahkan Peter Verhoeven. Kemudian mempublikasinya dalam beberapa majalah ilmu pengetahuan seperti Antropos (Internasional) dan juga beberapa kali termuat dalam Majalah Berita MIPI.

Penyelidikan prasejarah ini sejak awal diketahui dan disahkan oleh pemerintah, dan Peter Verhoeven SVD tetap memberikan laporan-laporannya kepada Kepala Dinas Purbakala di Jakarta dan kepada Seksi Pengajaran dan Kebudayaan Propinsi. Juga ada hubungan kerja sama dengan beberapa ahli di Bogor dan Bandung. Sampai sekarang kegiatan itu masih merupakan usaha partikuler. Sedangkan para ahli di Eropa yang memiliki perhatian terhadap obyek-obyek itu adalah seperti Prof. Dr. Huizinga dan Prof. Dr. von Kooningswald di Univeraitas Utrech, Belanda, dan Dr. 0.A. Hooijer.

Di belakang Pater Verhoevera, Pater Piet Petu SVD melanjutkan karya besar itu dengan mengumpulkan barang-barang purbakala lainnya dari Flores, Sumba, Timor, dan Alor. Pater Piet Petu SVD pulalah yang selanjutnya memverifikasinya yaitu mencari hubungan kausa1nya.

Adapun isi Museum Blikon Blewut secara garis besar dapat dipaparkan:

I . Alat-alat Kebudayaan Pra-Sejarah

1. Zaman Batu Flores: Zaman Paleoliticum atas; ZamanPakoliticum tengah; Zaman Paleoliticum bawah.
Barang-barang berupa chop¬per, chopper tool, hand adze.Semuanya berjumlah 70 buah; Zaman Mesoliticum, berupa ujung panah berkait, kapak, ujung tombak boor besar, yang semuanya berumlah 15 buah. Berikut alat-alat dan kulit siput berupa pijpunten, blades, dan perhiasan yang berjumlah 20 buah, Selajn itu juga tembikar dari Liang Toge.

2. Zaman Perunggu, berupa dolok perunggu (satu-satunya yang terdapat di Indonesia), gong, moko, gelang, pattung anjing, tempat sirih, dan manik-manik berjumlah 10 buah.

3. Fosil-fosil atau alat-alat dari Kebudayaan Sangiran dan Pacitan berjumlah 128 buah.

4. Zaman Batu Eropa berjumlah 80 buah (Abbevillen-Auriguneian
Clactonien-SoIutrean-AehenIeen-Magdalenien-Monsterien-Mi-,
crolith). Jugs alat-alat Neolithis dan perhiasan dari Afrika berjumlah 24 buah.

5. Batu-batu mulia, yang besar berjumlah 71 buah dengan perincian bahwa ada beberapa berasal dari batang kayu yang membatu. Permata berjumlah 45 buah yang diambil dari Lehrmittel-Anstalt Janger Eisenblute-Erzberg; Erzbergit-Erzberg; Edelopal-Mexico; Turmalin dan Achat Gefarbt (Brasilien)

6. Manik-manik.
Ada yang berbentuk bulat dan ada yang bulat
panjang. Diperkirakan berasal dari Roma, Mesir, dan India.

II. Benda-benda Porselen.
Benda-benda porselen berupa piring-piring, patung ayam dan sebagainya berjumlah 80 buah. Dikirakan berasal dari Zaman Ming dan Zaman Jung (dari kubur Berloka-Werloka).

III. Alat-alat Musik.
Alat-alat musik dari Flores dan Timor berupa macam-macam staling, robo, bo gena, for dogo, hake, hoi, woi mere (semacam gitar dari Timor), fekodan sebagainya berjumlah 90 buah.

IV. Tenunan, anyaman, dan ukiran.
Tenunan berupa sarung-sarung dari Flores dan Timor. Anyaman berupa tempat sirih, tempat tembakau, keranjang dan tempat kapur sirih. Ukiran berupa empat papan berukir dari Ngada, ukiran patung dari Irian Barat. Semuanya 90 buah.

V. Fauna.
Fauna praehistoris berupa Stegedon florensis dengan banyak geligi dan tulang-belulangnya. Spelaemys floorensis Hooijer, Papagomys arrnanvillei, geligi hayfish, geligi ikan yu (hiu), geligi Boa lezafarit, Papagomys verhoevani Hooijer. Sedangkan fauna belakangan adalah kura-kura, macam-macam siput, dan kupu-kupu. Selain itu terdapat juga dua buah kumbang dari Sikka, dua kumbang sedang, 2 kumbang kecil, pakaian dan gendang Irian Barat.

Menurut Pater Piet Petu SVD, barang-barang yang dikumpulkan itu,selain dicari sendiri, tetapi ada juga yang dibawah sendiri oleh orang-orang untuk menjualnya. Pater Piet Petu membeli dengan kemampuan yang ada. Kalau terlalu mahal tak dibelinya. Semuanya diproyeksikan sebagai medium ilmu pengetahuan.

Selembar Uang Kuno dan Lukisan Jenderal Anumerta Ahmad Yani

Menarik sekali ketika melihat selembar uang kertas kuno yang tertata rapi dalam bingkai kaca  di dinding museum. Uang kertas yang menarik perhatian tersebut adalah uang kertas yang memiliki nilai seharga Rp.2,5. Ada rasa bangga juga bahwa museum ini masih menyimpan uang kertas kuno yang memuat model asli dari Kabupaten Sikka sendiri. Wajah yang berada dalam uang kertas itu adalah wajah seorang tua bernama Moat Noeng asal Kampung Wolohuler, sebuah kampung di Desa Nele.
Mengapa Bapa Noeng bisa menjadi model uang kertas yang berlaku dari tahun 1952-1956 tersebut?

Ceritanya, saat berjualan kelapa muda di pinggiran jalan raya menuju Bandara Wai Oti (2 Km dari pusat Kota Maumere) sosok petani miskin ini rupanya menarik perhatian Sang Proklamator Indonesia yakni Moat Soekarno (Bung Karno). Bung Karno saat itu bersama rombongan transit di Maumere.

Bung Karno lalu menyuruh memberhentikan mobil dan menanyakan harga beberapa butir kelapa muda yang di jual Moat Noeng.  Moat yang lugu kemudian menjawab beberapa butir kelapa Rp.2,5.

Yang menarik Bung Karno merasa terkesima dengan sosok orang kampung yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Melihat sosok miskin yang bersahaja tersebut, Bung Karno memerintahkan untuk segera memotret Moat Noeng. Gambar dalam uang kertas itu adalah hasil dari foto yang diambil di pinggir jalan raya menuju Bandara Wai Oti. Cerita diatas disampaikan oleh penjaga museum Blikon Blewut kepada www.inimaumere.com ketika kami menapaki sejarah masa silam saat mengunjungi Museum Blikon Blewut.


Di dinding museum juga terdapat lukisan Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani yang memiliki cerita sendiri. Lukisan tersebut dibuat oleh Fr. Bosco Beding tanggal 30 September 1965.
Di bawah lukisan itu sebelumnya tertulis Jenderal Ahmad Yani namun setelah terjadi peristiwa G30S/PKI ditambahkan Jenderal Anumerta Ahmad Yani.
Lukisan itu dibuat tanggal 30 September 1965 di Ledalero. Satu hari sebelum ditembak mati, Ahmad Yani baru saja menuju Jakarta. Di Maumere khususnya di Ledalero, beliau memberikan ceramah di depan kalangan akademisi dan rohaniawan.

Masuk Blikon Blewut rasanya seperti berwisata ke masa silam. Inilah warisan peninggalam masa lampau yang patut diketahui dan di jaga oleh kita bersama.

Sudah pernah kesana apa belom? Tak lengkap jika hanya membaca artikel ini.



Klik Fotonya :









Komplek STFK Ledalero


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 12 May 2009

Suku Lio Dalam Bingkai Kabupaten Sikka..

Lio merupakan salah satu suku atau etnis dari enam kelompok etnis yang terdapat dalam wilayah Kabupaten Sikka,Flores.Ata Lio (orang Lio atau etnis Lio) biasanya dikenakan bagi orang-orang yang mendiami wilayah tengah Pulau Flores.Mereka menggunakan Sara Lio (Bahasa Lio) sebagai bahasa percakapan sehari-hari.Bahasa yang menjadi indentitas kelompok penyatu dalam kelompok etnis Lio.
Wilayah Lio yang terdapat dalam sebuah sistem administrasi Pemerintahan Kabupaten Sikka (seperti Desa Paga,Maulo’o,Wolowiro,Lekeba’i) memiliki empat tanah suku yakni Lio Tana Mego,Lio Tana Kolo dan Lio Tana Bu.Wilayah Lekeba’i berada dalam struktur pemerintahan adat Tana Mego sedangkan Wolowiro berada dalam wilayah adat Tana Mbengu.Masing-masing tanah suku ini memiliki mosalaki (kepala suku) tersendiri untuk menangani ritual adat entah ditempat penyembahan atau juga di tempat-tempat lain.
Wilayah Lio terbentang mulai dari bagian timur Kota Ende (Wilayah Kabupaten Ende,Flores) sampai bagian barat Kecamatan Nita (Kabupaten Sikka).Kecamatan Paga adalah pagar yang memisahkan Bumi Marilonga di bagian Barat(Kabupaten Ende) dengan Bumi Don Alessu dibagian Timur (Kabupaten Sikka).Kecamatan Paga memang unik diantaranya sebagai bekas jajahan Portugis masa silam di Sikka dengan pelbagai peninggalannya.

Dari struktur sosial kemasyarakatan,orang Lio memiliki tiga pelapisan sosial.Pertama adalah golongan bangsawan sekaligus sebagai pemegang tampuk pemerintahan adat yang disebut dengan nama mosalaki.Golongan ini terdiri dari laki pu’u dan riabewa.Laki pu’u adalah pemangku kekuasaan dalam persekutuan dan menjalankan fungsi ritual.Sedangkan riabewa bertugas dalam urusan-urusan kemasyarakatan yakni sebagai pembicara,pengusut dan pemutus perkara.

Golongan kedua adalah rakyat biasa yang biasa disebut denagn ana halo (kalo) fai walu ( yatim piatu dan para janda),yaituh warga masyarakat kebanyakan yang membutuhkan perlindungan atasan,bekerja dan berladang diatas tanah persekutuan.Golongan ketiga atau tingkatan paling bawah adalah para hamba.Mereka ini disebut ata ha’o yang bertugas melayani mosalaki dan riabewa.

Pada jaman dulu,suku bangsa Lio hidup terkotak-kotak ditanah persekutuan masing-masing.Mereka hidup di lereng-lereng gunung atau lembah-lembah yang sulit di jangkau.Karena itu,kontak antar penduduk tanah persekutuan menjadi kurang dan terbatas.Tiap tanah persekutuan mempunyai pemerintahannya sendiri.Struktur pemerintahan adat tak banyak berbeda dari satu tanah persekutuan ke tanah lainnya.Ada perjanjian persahabatan abadi (tura jaji) antara warga tanah persekutuan yang satu dengan yang lainnya yakni tidak boleh menyerang melainkan saling membantu dalam menghadapi musuh.

Berwisata ke ke wilayah Lio Kabupaten Sikka sendiri kita bisa menikmati berbagai macam pesona.Misalnya menikmati alam Pantai Koka yang menawan,Ritual Tarian Bobu peninggalan Portugis,Penguburan jenazah dalam batu di Desa Nuabari yang memiki daya magis dan dan misteri peninggalan masa lampau,tenun ikat yang cantik-cantik.Selain itu secara momental kita bisa menikmati gelar Gawi Sia,Nggowani,Ai Nggaja,Wani Woge dan Feko Genda.Tentu juga masih banyak potensi lainnya.
Ke wilayah Lio misalnya ke Kecamatan Paga bisa dengan berbagai jenis kendaraan yang menempuh jarak sekitar 43 Km (ke Wolowiro 45 Km) dari Kota Maumere,ibukota Kabupaten Sikka,Flores.


foto; Pasangan berpakaian Adat Lio


Dari Berbagai Sumber

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 11 May 2009

Tahapan Persiapan Perkawinan Dalam Adat Etnis Sikka Krowe

Perkawinan bisa dilihat sebagai sesuatu yang mutlak dan penting bagi kehidupan. Karena itu orang Sikka sendiri punya keyakinan bahwa perkawinan bersifat tak terceraikan. Hal ini terungkap dalam kata-kata berikut: Lemer watu miu ruang, wawak papang miu ruang, naha mate ko belung, naha bleut ko boar.
Artinya: susah senang sama--sama, mati dulu baru dilepas, tapi bukan mati saja melainkan sampai hancur.
Perkawinan dipandang sebagai persatuan antara laki-laki dan perempuan memiliki tujuan yang sangat mulia, yakni melestarikan kehidupan manusia melalui keturunan atau kelahiran anak.
Nah,bagaimana tahapan-tahapan dalam mewujudkan dua anak manusia dalam sebuah perkawinan yang sakral dalam adat budaya Sikka-Krowe,salah satu etnis yang ada di Kabupaten Sikka?


Dibawah ini adalah tahapan Persiapan Perkawinan dalam adat Sikka-Krowe sebelum memasuki tahapan selanjutnya seperti Persiapan Pembelisan,Pemberian Pembeliasan,Hari Peresmian Perkawinan.

Apa itu Etnis Sikka Krowe? Sikka-Krowe adalah sebutan khas untuk sebuah suku yang terdapat dalam wilayah Kabupaten Sikka.Sikka adalah nama yang menunjukan sebuah kampung tradisional di pantai selatan Kabupaten Sikka yang di kenal dengan Sikka Natar (Kampung Sikka),Krowe adalah orang pedalaman yang tinggal mulai dari Desa Nele di Kabupaten Sikka menuju arah Timur sampai Tanah Ai (wilayah kecamatan yang ada di timur Kabupaten Sikka,Flores).

Selain Etnis Sikka-Krowe,tahapan-tahapan perkawinan dalam berbagai suku yang ada di Kabupaten Sikka akan kami postingkan berikutnya.

Tahapan Persiapan Perkawinan Dalam Adat Etnis Sikka Krowe

Tahap pertama dalam persiapan perkawinan adalah pano ahu. Pano ahu berarti merintis jalan. Di sini tanta/tente (na'a/a'a dalam bahasa Sikka) memegang peran kunci untuk mencari informasi lebih jauh tentang si gadis. Secara sengaja atapun tidak sengaja tanta akan bertandang ke rumah gadis yang sudah diketahuinya. Dalam ungkapan¬ungkapan tidak resmi (basa-basi) tanta akan menyampaikan bahwa seorang lelaki menaksir anak gadis dalam keluarga yang dikunjungi. Jika pano ahu ini berhasil maka proses pertunanganan dapat dilanjutkan. Perlu diketahui bahwa perempuan yang bisa dilamar adalah perempuan yang sudah melewati upacara dong werung, yakni upacara pemakaian selempang khusus dan legeng alang yaitu rambut di ikat berputar di atas kepala dan memakai heging atau tusuk konde adat.

Tujuan upacara ini adalah memperkenalkan bahwa gadis ini sudah dewasa dan siap menjadi calon isteri. Selempang yang dikenakan pada gadis itu umumnya warna-warni. Selain itu diberikan juga gelang perak yang bentuknya seperti ular (gelang ular) pada pergelangan tangan. Karena itu seorang gadis Sikka yang belum menikah tidak diperbolehkan (atau akan merasa malu kalau) memakai gelang gading sebab gelang gading hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah menikah.

Tahap selanjutnya adalah tung urut linong, yaitu upacara pemberian sisir dan cermin termasuk juga buah-buahan serta kain kepada pihak perempuan. Pemberian ini merupakan ungkapan bahwa gadis tersebut sudah dipinang oleh seorang lelaki. Jika pemberian pihak laki-laki diterima maka pihak perempuan juga akan memberi lipa (sarung laki-laki hasil tenunan sendiri) dan lensu nujing (sapu tangan jahitan sendiri dengan sulaman khusus di bagian pinggirnya).

Pada tahap awal pertunanganan ini ikatan perkawinan belum kuat. Secara adat kedua calon belum terikat secara ketat. Dapat saja terjadi bahwa salah sate plink mau mernbatatkan rencana pertunganan yang mulai terbentuk itu. Pihak yang mengingkari pertunanganan akan dituntut secara adat. Prinsip yang biasa dipakai dalam tuntutan adat seperti ini berbunyi: bahar lopa tena dada, bala lopa tena repang.
Artinya, orang punya emas tidak boleh diuji keasliannya, prang punya gading tidak boleh diukur-ukur/ dipermaikan.
Kalau seandainya laki-laki dituntut karena ia mengingkari pertunanganan itu maka ia dituntut untuk mermberikan sejumlah bayaran berupa uang dan kuda kepada pihak perempuan. Sebaliknya jika pihak perempuan yang memutuskan hubungan pertunanganan maka sebagai sanksi adat pihak laki-laki akan diberikan baju dan lipa oleh pihak perempuan. Pemberian secam ini disebut hok waeng atau pemberian penghapus rasa malu.

Tahap selanjutnya adalah Persiapan Pembelisan,Pemberian Pembelisan dan Hari Peresmian Perkawinan.Tahapan-tahapan selanjutnya akan kami postingkan berikutnya.Ini adalah adat yang menarik dan perlu diketahui bagi kita-kita yang ingin meminang gadis yang berasal dari Etnis Sikka-Krowe,salah satu etnis dari enam kelompok etnis yang ada di Kabupaten Sikka.

Disadur dari tulisan Alex Sila,S.Fil dan Agustinus Joram,S.Fil, Puslitbang STFK (Sekolah Tinggi Filsafat Khatolik) Ledalero, Kabupaten Sikka, 2008.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Thursday, 7 May 2009

40 Tahun STFK Ledalero Bersama Delon Idol..

Maumere, 5 Mey 2009 Ceritanya Delon Idol hadir di Stadion Samador Kota Maumere buat ngerayain 40 tahun STFK (Sekolah Tinggi Filsafat Khatolik) Ledalero Maumere. Sekolah tersebut yang menyiapkan para calon imam atau biarawan kahtolik sebelum melayani umatnya. Nah untuk ngerayain 40 tahun STFK tadi, Delon pun di undang. Kedatangan Delon ini juga sebenarnya diprakasai oleh Ibu Esther Kandow bersama Kelompok Doa Kharismatik Imageo Dei Elisabeth dari Keuskupan Agung Jakarta. Kelompok doa ini selalu memberikan kesaksian tentang Tuhan disetiap tempat dan kesempatan yang mereka datangi. Setelah Maumere, Delon dan rombongan akan menuju Kota Ende untuk kembali memuji Tuhan dan memberikan kesaksian tentang mujizat Tuhan dalam kehidupan mereka. Di Ende acara akan berlangsung dalam ruangan tertutup.


Seperti konser Delon tahun lalu, kali inipun Deloners membludak memenuhi isi stadion. Nama Delon diteriaki berkali-kali. Delon tetap ramah dan selalu memberikan senyum khasnya. Tak canggung. Tetap tampan dan menggetarkan isi stadion yang mayoritas diisi penonton perempuan.

“Saya mulai bernyanyi dari usia 4 tahun namun dijawab Tuhan saat berusia diatas 20 tahun ketika mengikuti Indonseia Idol ,”ujar Delon usai melantunkan lagu pembuka ‘Bapa Engkau Sungguh Baik’.

”Semua ini karena berkat Tuhan,Amien?”

Serempak Deloners menjawab ,“Amien...”

Pada kesempatan lain Delon berujar,” Saya senang kembali hadir di Kota Maumere, kalau ada waku saya ingin bernyanyi lagi di Ulang Tahun Kota Maumere, kapan sih ulang tahun Kota Maumere?”

Semua yang hadir pada diam.Sepi. Yang keluar cuma senyum malu-malu dari fansnya. Abisnya semua tak pernah tahu kapan tepatnya ulang tahun Kota Maumere.Tak pernah dirayain.

Untung anak-anak kecil yang rata-rata masih berusia SD cepet-cepet menjawab "besokkkk..besok....," teriak mereka.

“Wah cepet banget ulang tahunnya,” ujar Delon sambil tersenyum.

Lima buah lagu malam itu dibawakan Delon yang sebagain besar diisi oleh lagu-lagu rohani. Diantara lagu-lagu yang dibawakannya, Delon berusaha untuk berinteraksi dengan penonton. Pujian terhadap Tuhan selalu keluar dari mulut Delon. Kadang-kadang Delon nampak memberikan suasana segar dengan mencoba menggunakan bahasa Indonesia berdialek Maumere.

Ya itulah Delon, yang selalu membuat fansnya hopang, beler (capek, bete) dengan lama menunggu kehadirannya, hanya untuk melihat wajahnya, hanya untuk mendengarkan suara merdunya.

Dari penampilannya Delon tetap terlihat tak sombong, tetap rendah hati. Senyum dan sapaan akrab kepada semua penonton tak pernah surut.

Bersama kelompok Imageo Dei dan kelompok Doa Kharismatik serta para pengisi acara lainnya, Delon Idol menyudahi konsernya dalam rangka merayakan 40 Tahun STFK Ledalero dengan lagu Terima Kasih Cinta ciptaan Glen Fieldy. STFK Ledalero juga sempat memberikan cindera mata bagi Delon dan rombongan Jakarta di akhir acara.

Acara ini juga diisi oleh beberapa artis lokal seperti Yeni Kabupung, Grup musik akustik ‘All Acoustic Ledalero’, Duo Penyanyi Tenor dari STFK Ledalero dan Virgine Dancer dengan MC panggungnya Bung Anthony Fernandez.


Klik Fotonya :





Siap2 tinggalkan Samador



www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 4 May 2009

Galeri Pakaian Adat dari Berbagai Suku di Kabupaten Sikka..

Foto-foto dibawah ini adalah busana tradisional Kabupaten Sikka yang telah disesuaikan ragam dan gayanya mengikuti perkembangan jaman.Para model adalah peserta lomba Busana Tradisional Sikka yang diambil di belakang panggung oleh salah seorang kru inimaumere.com baru-baru ini..(abisnya mereka juga mau di foto hehehe,epang gawang (terima kasih) untuk para modelnya ya..))









Klik Fotonya :








Klik Fotonya :









Klik Fotonya :









www.inimaumere.com
Selengkapnya...

189 PNS Sikka dimutasi ..

Maumere, Mewakili Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang, Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka Drs. Sabinus Nabu, Jum ad (01/05/2009) lalu mengambil sumpah dan melantik 189 PNS di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka untuk menjabat sebagai pejabat pada tingkat Eselon III dan IV.
Acara pengambilan sumpah dan pelantikan ini berlangsusng di Aula Setda Sikka Jl El Tari Maumere, dan dihadiri para Staf Ahli, Pimpinan Dinas / Instansi Lingkup Pemkab Sikka serta undangan lainnya.
Sabinus Nabu dalam sambutannya antara lain menandaskan bahwa pelantikan dan mutasi PNS, merupakan pendelegasian tugas dan tanggung jawab sesuai dengan bidang tugasnya.



Oleh sebab itu hendaknya seorang PNS menunjukan kinereja yang baik, professional dan memegang teguh etika birokrasi dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan tiingkat kebutuhan dan kepuasan masyarakat.

Nabu juga mengingatkan bahwa untuk menjadi seorang birokrat serta pemimpin yang professional maka kualitas SDM aparatur dituntut memiliki empat karekteristik antara lain kompetensi yang memadai, komitmen pada organisasi, selalu bertindak efektif dan selalu bertindak selaras antara tujuan pribadinya dengan tujuan organisasi.

Pelantikan ini juga merupakan implementasi dari lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah dan Permendagri Nomor 57 Tahun 2007 Sebagai Penjabaran Peraturan Pemerintah tersebut.
PNS Sikka juga diharapkan untuk selalu menghayati makna pemerintahan yang menopang fungsi hakiki yakni pelayanan, pemberdayaan dan pembangunan sebagai etika dasar penyelenggaran tugas dan tanggung jawab kepemerintahan.

Para pejabat eselon IV, ada yang mengalami pergesaran tempat tugas serta promosi jabatan yang akan menemp[ati pos baru di kecamatan serta kelurahan serta kantor / unit / bagian lingkup pemkab sikka. Pelantikan selon III dan IV lingkup pemkab Sikka oleh Sekretaris Daerah berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sikka BKD. 821.23.24 / 36 / 2009 –D.


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---