Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Tuesday, 16 February 2010

Beautiful Beach




Kabupaten Sikka yang berdiri sejak tahun 1958 selain memiliki kekayaan budaya juga memiliki kekayaan pariwisata yang masih belum digali secara optimal. Kekayaan ini bisa menjadi peluang investasi yang dapat diandalkan. Pantai-pantai yang indah adalah salah satu aset wisata yang perlu diperhatikan sebetulnya. Kabupaten dengan ibukota bernama MAUMERE ini merupakan salah satu kota terbesar dipulau Flores, Nusa Tenggara Timur selain sebagai pintu gerbang untuk masuk ke Flores daratan.
Selain beragamnya foto-foto yang telah kami tampilkan di blog ini, lagi kali ini beberapa foto alamiah dari berbagai pantai di Kabupaten Sikka dapat diintip lewat hasil jepretan teman-teman.


Pelabuhan Sadang Bui Maumere

Sunrise di pesisir Pantai Maumere


Pantai Paga

Pantai Bola

Turap di pesisir pantai maumere

Pantai Doreng

Menuju Palue





www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Asep Purnama : Anggap Saja Ada Tsunami

"Saya sudah sampaikan kepada staf kalau RSUD Maumere sedang menghadapi bencana. Anggap saja ada tsunami di Maumere. RSUD Maumere harus terima pasien berapa pun jumlahnya. Itu tugas RSU. Mau tidak mau, suka tidak suka. Kami harus layani."
Direktur RSUD TC Hillers-Maumere, dr. Asep Purnama, Kamis (11/2/2010), menyatakan, prinsip untuk tetap melayani ini harus dipegang oleh semua karyawan di RSUD TC Hillers-Maumere.
"Kalau ada perawat dan dokter yang mengeluh sebaiknya pindah kerja di tempat lain. Kalau kerja di tempat lain, jika ada bencana kantornya tutup dan pegawainya istirahat di rumah," kata Asep, ketika dihubungi Pos Kupang di Maumere tentang pelayan pasien dan kewalahan petugas menangani pasien demam berdarah dengue (DBD) di rumah sakit itu.

Dia mengatakan, pasien DBD di Sikka yang mendatangi RSUD TC Hillers-Maumere tetap dilayani sesuai ketentuan pelayanan kesehatan. Walaupun pasien membludak, demikian Asep, manajemen RSUD TC Hillers-Maumere tetap memberikan pelayanan karena tugas dan tanggung jawab tersebut harus dilaksanakan oleh perawat dan dokter yang berkarya di rumah sakit ini.

Penyakit DBD yang menyerang warga Sikka, kata Asep, anggap saja sebagai 'bencana' atau 'tsunami' yang sedang melanda RSUD TC Hillers - Maumere. "Berapa pun jumlah pasien yang masuk akan tetap dilayani," tegasnya.

Asep menyatakan, manajemen RSU Maumere harus tetap memberikan pelayanan karena itu adalah bagian dari tugas seorang perawat dan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Sikka.

Mengenai kesehatan staf kalau dipaksa kerja akan ada risiko, Asep mengatakan, pihaknya akan memperhatikan kesehatan perawat dan dokter dengan memberikan makanan tambahan. Sebagai pemimpin di RSUD Maumere, lanjutnya, ia selalu memberikan motivasi kepada perawat dan dokter.

"Dulu saat mau jadi perawat dan dokter kan tujuannya mau tolong sesama. Saat ini kita dituntut membuktikan itu. Tuhan telah memberikan lahan untuk membantu sesama," ujar Asep, yang menjawab pertanyaan Pos Kupang melalui SMS atau layanan pesanan singkat di HP.

Mengenai jumlah pasien DBD posisi Kamis kemarin, Asep mengatakan, belum ada perkembangan. Tetapi, ia belum memastikan karena jumlah sering mengalami naik-turun sehingga sulit diprediksi. "Kalau pagi ini (Kamis kemarin) jumlah pasien DBD 56 orang dari total pasien 212 orang, kata Asep.

Tentang penambahan tenaga perawat dan dokter, Asep menjelaskan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere khusus mahasiswa keperawatan untuk membantu di RSUD Maumere, Dinkes Sikka dan mencari relawan membantu pelayanan kepada masyarakat Sikka.

Kepala Desa Geliting, Kecamatan Kewapante, Regina Paulina Nino, kepada Pos Kupang di Kewapante, Kamis kemarin menjelaskan, di Desa Geliting ada 13 orang pasien DBD.

Dari jumlah itu, kata Regina, ada pasien yang menjalani perawatan di RSUD Maumere dan ada yang dirawat di rumah keluarganya. Semua pasien ada yang mengurus surat keterangan miskin di Kantor Desa Geliting.

Berdasar pantauan di RSUD TC Hillers - Maumere, Rabu (10/2/2010) malam, para pasien yang mendatangi rumah sakit itu umumnya anak-anak. Mereka mengaku badan panas dan khawatir terkena penyakit DBD.

Para pasien harus berdiri karena selama 15 menit baru mendapat pelayanan. Pasien yang mendatangi rumah sakit itu semua dilayani. Bahkan, di lorong rumah sakit disediakan tempat tidur untuk pasien. (pos kupang/ris)


www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Friday, 12 February 2010

Apalah Arti Sebuah Nama

Refleksi Jelang Hari Raya Imlek; Perjalanan Panjang Etnis Tionghoa Dalam Mencari Indentitas Diri

Oleh : Theodorus Widodo
Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Nusa Tenggara Timur (NTT)

SEBAGAI komunitas yang nyaris kehilangan jati diri karena berbagai upaya sistematis rezim otoriter masa lalu, tulisan ini mencoba menampilkan salah satu bagian dari apa yg disebut Erving Goffman sebagai "back region" atau "wilayah belakang" etnis Tionghoa di Indonesia. Back region atau wilayah belakang nampak jelas ketika kita menyaksikan dua politisi yang berkelahi hebat di depan orang banyak, tetapi mereka akan berpelukan sebagaimana layaknya dua sahabat ketika berada berdua sendiri . Back region bagi suatu etnis adalah bagian belakang panggung etnis tersebut yg terjadi atau mereka rasakan tetapi tidak terlihat oleh orang orang diluar mereka. Dan salah satu back region bagi etnis Tionghoa yg dimaksudkan disini adalah kegalauan etnis ini mengenali siapa dirinya.
Istilah yg dipakai disini "Tionghoa", bukan "Cina" utk membedakannya dari org Cina yg ada di daratan Cina. Alasan lain¬nya adalah disamping kosa kata Cina sebenarnya berasal dari bahasa Belanda China yang mengacu pada Cina kunciran,Istilah Cina juga mengandung arti yang merendahkan dan dianggap oleh orang yang bersangkutan sebagai sebutan yang bersifat menghina dan meremehkan ( Copple dan Suryadinata,1970; Tan,1990; Copple,2005).

Istilah "Overseas Chinese" atau "Cina Perantauan " atau "huaqiao' sebagaimana yg digunakan Lea Williams dlm bukunya " Overseas Chinese Nationalism " pun tidak digunakan disini karena "Overseas Chinese" akan bermakna Warga Negara Republik Rakyat Cina yg berada diluar negri yang tetap berada dalam perlindungan pemerintah RRC ( ps 50,UUD 1982 RRC) ;
Tambahan adjective "Indonesia" menjadi "Cina Indonesia"juga tidak dipakai karena etnis ini sudah merupakan bagian integral bangsa Indonesia.Toh tidak ada Jawa Indonesia, Minang Indonesia, Dayak 'Indonesia dsb

Istilah "Tionghoa" paling tepat digunakan walaupun masih ada kesulitan besar mengganti sebutan "Cina" menjadi "Tionghoa". Beberapa kata "Cina "sudah akrab ditelinga masyarakat. Ada "petai cina", ada "kampung cina" ,bahkan di Kupang ada "lemun cina", "air cina" , "menangis cina (menangis sampai keluar ingusnya)" dsb. Apa mungkin mengganti "lemun cina" dan "Air Cina" menjadi "Lemun Tionghoa" dan "Air Tionghoa"?. .

Disamping banyak juga bahasa daerah yang menggunakan istilah yang mirip “China’. Di Ende "Ata Sina ",d1 Jawa "Wong Cino dst".

Kesulitan menggganti "Cina" dengan "Tionghoa" ini bertambah lagi akibat pendapat sebagian kalangan Tionghoa sendiri yg mengatakan,dari pada alergi dengan istilah ini karena berkonotasi penghinaan sebagaimana istilah "Arab "bagi orang "Saudi" atau ''Yankee" bagi "American", Iebih baik "Cina" ini dibiasakan saja ditelinga etnis Tionghoa sendiri agar ia tidak bisa dipakai lagi sebagai sebuah kosakata berkonotasi penghinaan sebagaimana yg dimaksudkan oleh regim otoriter masa lalu yg sampai sampai perlu mengeluarkan peraturan mengganti sebutan etnis ini dari Tionghoa menjadi Cina dengan tujuan untuk menciptakan rsa inferior dikalangan warga Tionghoa. Aneh bin ajaib, Negara kurang kerjaan sampai sampai harus mengatur sebutan untuk sebuah etnis. Untung saja ketika itu kita masih memiliki beberapa tokoh yg benar benar benar benar radar akan kesetaraan etnis, antara lain Ro¬sihan Anwar dan Adam malik yg tetap konsisten menyebut "Tionghoa" pada berbagai kesempatan.

Wacana tentang "Cina dan "Tionghoa" ini akan menjadi debat panjang dan rumit kalau diteruskan. Untuk itu sebaiknya soal ini tidak perlu dibahas lebih jauh lagi karena bagaimanapun "Cina atau Tionghoa" tidak akan merubah seseorang yg Tionghoa (baca: salah satu suku yg ada di bumi Nusantara) menjadi Cina ( Yg sama dengan Cina yang ada didaratan Cina) atau sebaliknya karena kosakata ini adalah kosakata "descriptive", bukan "performative".( meminjam tulisan filsuf inggris terkenal John L Austin).

Contoh bahasa descriptif , kata " itu meja"tidak akan merubah seketika sebuah "kursi" menjadi "meja" tapi bahasa performative yg diucapkan oleh seorang menteri dalam negri yg mengucapkan kalimat kalimat " Dengan ini saudara dinyatakan menjadi Gubernur" maka seketika itu jugs seseorang akan menjadi Gubernur dengan segala konsekuensinya. Bagaimanapun etnis Tionghoa sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan dalam catatan sejarah, nenek moyang penduduk nusantara berasal dari Cina selatan. Mengingkari keberadaannya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia berarti mengingkari sejarah. Ia sudah ada dan sudah menjadi bagian integral Bangsa Indonesia.Singkat kata, menggantinya dengan "Cina" tidak akan menjadikan Tionghoa menjadi "Cina Daratan" atau bukan Tionghoa ,atau bukan bagian dari Bangsa Indonesia'

Berbeda dengan sebutan untuk etnis secara keseluruhan, nama pribadi seseorang adalah sesuatu yg amat penting karena nama menunjukkan identitas pribadi termasuk etnisitas orang tersebut.

"What is a name" , begitu kata sastrawan besar William Shakespiere.


Banyak yg tidak setuju atas pernyataan ini. Anda mungkin akan memutuskan batal kepesta kerabat anda kalau yg empunya pesta salah menulis nama atau bahkan jika lama anda.ditulis kurang satu huruf saja . Walaupun seringkali dihalaman depan bawah undangan sudah tertulis :"mohon 'maaf jika terjadi kesalahan penulisan nama dan gelar”. Anda nungkin akan kecewa jika seorang teman salah menyebut nama anda didepan umum. Konon, suara yg paling merdu ditelinga adalah ketika nama kita disrebut orang .

Di Indonesia, nama sangat berarti bahkan cenderung sakral karena nama dapat menunjukkan asal daerah, keluarga, agama, bahkan status sosial. Bagi suku suku tertentu, nama seseorang dipilih dengan berbagai perhitungan agar dikemudian hari nama itu dapat membawa kebaikan bagi yg bersangkutan, bahkan tak jarang nama itu diganti apabila dianggap menimbulkan malapetaka bagi yg menyandangnya. Ada berbagai suku yg memiliki kebiasaan yg berbeda dalam memberi nama.Bagi suku Batak yang sistem kekeluragaanya patrilineal nama seseorang bisanya terdiri dari nama kecil dan nama marga, berbeda dengan suku Sunda dan Jawa yg sistem kekeluargaannya parental , pada umumnya tidak mengenal nama marga atau keluarga yg diturunkan, sehingga nama seseorang biasanya hanya terdiri dari satu kata .Kalaupun terdiri dari dua kata atau lebih, tambahan dari nama nama yg diambil itu biasanya berasal dari tokoh agama yg bersangkutan atau nama nama khas yg menunjukkan status sosialnya. Konon, sebagian orang Manggarai memberi nama anaknya untuk mengenang apa yg terjadi pada saat kelahiran.Suku suku di Bali memberikan nama sesuai kasta dan urutan kelahiran.

Nama,penting bagi siapa saja.begitu pula bagi etnis Tionghoa.Nama Tionghoa selalu terdiri dari tiga kata. Kata pertama menunjukkan marga, kata kedua generasi, dan kata ketiga adalah nama kecil atau nama panggilan seseorang. Dengan sistem kekeluargaan etnis Tionghoa yg patrilineal, nama ditentukan menurut hukum kebapakan, sehingga nama marga diturunkan dari garis laki laki. Setiap nama bagi etnis Tionghoa dipilih dan diperhitungkan dengan sangat hati hati agar memiliki arti yg baik pula dikemudian hari.Oleh karena semua etnis Tionghoa menyandang nama marga dan generasi, nama menjadi sesuatu yg sangat berharga untuk dijaga sebaik baiknya karena kelakuan buruk seseorang dapat menodai nama marga dan keluarganya. Hubungan kekerabatanpun biasanya bisa langsung di¬ketahui dari nama pertama dan kedua yg disandang.
Marga Oey pada generasi tertentu semua prianya harus menggunakan nama kedua Tek, sehingga semua yg namanya Oey Tek, besar kemungkinan berasal dari satu kakek.Nama ketiga merupakan nama kecil atau nama panggilan seseorang dan hanya menjadi milik pribadi orang itu. Dengan menyebut Oey Tek Leang , orang akan dengan mudah mengetahui identitas pribadi yaitu marga, generasi ,bahkan siapa kakek nya. Sama halnya pada Aria, wanita Tionghoa pun demikian. Wanita marga Oey pada generasi tertentu harus menggunakan nama kedua yg sama. Dengan demikian orang akan dengan mudah mengetahui hubungan kekerabatan antar sesama Tionghoa yg menggunakan tiga kata dan perkawinan antar kerabat dekatpun dapat dihindari.
Nama, bagi sukuTionghoa seperti halnya agama (baca:Kong Fu Chu) dan budaya telah dijadikan symbol politik regim otoriter masa lalu. Keputusan Presidium Kabinet No 127/U/Kep/12/1966 tentang ganti nama warga Tionghoa adalah kesalahan paling fatal yg sudah terjadi. . Akibat utama kebijakan ini, etnis Tionghoa memiliki double identity. Disatu saat ia Tionghoa , disaat lain ia bukan Thionghoa.

Banyak Tionghoa yang galau bertanya siapa sebenarnya dirinya.. Kegalauan mencari identitas diri ini dengan bagus sekali di lukiskan oleh “Effendi. Wardhana” dalam cerita bersambung di harian kompas thn 1999. Ia mengalami kebingungan karena memiliki 3 nama . "Peng Hwa" , "Ping An" dan "Effendi Wardhana". Kalau berada diantara kawan dekat sesama etnis, Effendi lebih suka dipanggil Peng Hwa atau Ping An tapi kalau sedang berurusan dengan instansi resmi ia ingin dipanggil Effendi. Memiliki 3 nama ini menyebabkan ia kadang kadang mengalami kesulitan merespon panggilan yg ditujukan kepada dirinya. Dalam kehidupan sehari hari, ia merasa tertekan karena dipaksa bertindak layaknya hewan yg pandai mengganti wama kulit. " Sejarah telah menyeretku menjadi bunglon : cepat berganti nama begitu berpindah tempat ".

Suatu ketika, ia berada di Paris,sebuah kota kosmopolitan yg dihuni oleh berbagai bangsa. Disana ia tidak perlu lagi ngumpet seperti yg sering dilakukannya di Jakarta karena takut mengalami perlakuan diskriminatif yg menyebabkan ia merasa. etnisitas yg dimilikinya adalah sebuah kutukan. Di Paris ia tidak perlu lagi kuatir dikenal siapa dia sebenarnya. Dipauggil apapun ia tidak peduli. Ditempat yg bukan bagian dari Indonesia ia merasa "plong".Hal yg tidak dirasakannya ketika ia berada di Jakarta.

Double identity yg dimiliki etnis ini seringkali menjadi sasaran empuk hagi kelompok tertentu yg rasist yg tidak menghendaki etnis Tionghoa menjadi bagian integral bangsa Indonesia. Ketika seorang warga Tionghoa jadi bajingan , media massa tertentu akan memblow-upnya dengan menyebut pelaku lengkap keturunan, lengkap etnis,lengkap pula nama aslinya. Contoh ,kasus Eddie Tansil. Pasti banyak dari kita yg masih ingat nama asli Eddie Tansil karena oleh media massa tertentu, Eddie Tansil selalu ditulis , "Eddie Tansil, WNI Keturunan Cina alias Tan Tju Hong".

Tapi ketika seorang Rudy Hartono menjuarai All England delapan kali, tidak sekalipun ditulis lengkap identitas pribadi Rudy Hartono. Pasti juga tidak banyak pembaca yg tahu nama asli Susi Susanti dan Allan Budi Kusuma,sepasang sejoli pelaku sejarah olahraga dunia yg berhasil mengibarkan bendera merah putih pertama kali di Olympiade. Ada pula nama nama seperti Wongso Suseno sang juara IBF pertama sebelum Elias Pical, Putu Wijaya, Marga T,Basuki Abdullah,Mira W,Abdu I hadi WM, Arief Budiman.,atau bahkan petinju kebanggan kita saat ini Chris John. Kita tak pernah tahu etnisitas para tokoh ini karena mereka tidak menggunakan nama Tionghoa.

Nama, sekali lagi menunjukkan identitas etnis seseorang. Stigma Tionghoa pelit, tidak memiliki rasa solidaritas, tidak peduli pada sesama dsb tidak akan pernah pupus sepanjang nama bunglon nya yg dipakai ketika mereka menyumbang. Perhatikan text kaki/ running text pd televisi atau daftar penyumbang ketika terjadi suatu bencana. Bisakah kita tahu bahwa nama2 seperti Adhi Sanjaya, Lukas Wijaya, Ingrid Luanjaya, Chandra Elim, Piter Gonzales, Christine Sulaiman dsb adalah etnis Tionghoa ? Bayangkan kalau yg menyumbang adalah Frans Silitonga, Deddy Panjaitan, Ketut Suasta, Putu Wardhana atau Yohanes Wara, Adhi Lema, Jemmy saudale, Anton Serail dsb, sudah pasti kita akan tahu etnisitas mereka.

Ketua Forum Pembauran Kebangsaan NTT, Pius Rengka selalu mengemukakan dalam berbagai kesempatan, manusia memiliki dua identitas yaitu Given Identity (Identitas terberi) dan Culture Identity( Identitas budaya). Given Identity sampai kapanpun tidak akan bisa diganti karena ia telah ada sejak lahir. Jika anda seorang pria, anda tidak pernah akan bisa berubah men¬jadi wanita. Ganti penis menjadi vagina sekalipun, anda tetap seorang pria , cuma peluru kendali anda saja yg hilang.

Jika anda terlahir sebagai anak Manggarai, seumur hidup anda tetap akan menjadi orang Manggarai. Beda dengan given identity, culture identity bisa diganti. Setiap saat anda bisa berganti Agama, Bahasa dsb. Sayangnya pemerintah dulu tidak bisa membedakan kedua jenis identitas ini. Dengan merubah culture identity etnis Tionghoa ,dikiranya given identity mereka juga bisa berubah. Ketika itu pembauran asimilatif diupayakan dengan cara orang diminta mengingkari identitas dirinya. Suatu hal yg mustahil karena sampai kapanpun given identity tidak akan bisa berubah dan pembauran dengan mengingkari identitas diri yg berarti juga mengingkari adanya pluraritas adalah upaya yg sia sia . Sekali terlahir dengan kulit kuning mata sipit, sampai kapanpun kulitnya akan tetap kuning dan matanya akan tetap sipit sekalipun ia ganti nama, ia dilarang berbahasa mandarin, ia dilarang melakukan atraksi budaya,ditutup sekolahnya,dilarang memperluas/mendirikan kelenteng dsb.

Tentang nama ini ,mungkin suatu saat nanti Pius Rengka perlu pula menjelaskan apakah ia termasuk given identity atau bukan karena kalau given identity adalah sesuatu yg tidak bisa dirubah karena ia sudah ada sejak kelahiran ( warna kulit, raut wajah, jenis kelamin dsb),nama marga bagi etnis apapun bahkan sudah ada sebelum kelahiran dan mestinya tidak bisa dirubah.
Ganti nama telah semakin mengaburkan identitas etnis Tionghoa. " Who am I ? " , itulah pertanyaan yg selalu muncul ketika nama tidak menunjukkan identitas diri.

Mengakhiri tulisan ini, tiba tiba terbayang,andaikan saja suatu saat ganti nama marga yg sudah terjadi pada etnis Tionghoa ini terjadi pula pada etnis lainnya . Nama nama marga seperti Abineno,Manafe, Manek, Riwu Rohi, Riwu Kore, Silitonga, Panjaitan, Da Santo dll nya suatu saat nanti diminta untuk diganti . Wallahualam..Entah apa yg akan terjadi!!!.


Oleh : Theodorus Widodo
Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Nusa Tenggara Timur (NTT)

www.inimaumere.com



Selengkapnya...

Thursday, 11 February 2010

Hari Valentine dan Kisah Sejarahnya


Hari cinta kasih, bahasa inggrisnya Valentine's Day. Biasanya indentik dengan coklat valentine, mawar valentine, pesta valentine dan kemeriahannya. Pasti, semua yang berkaitan dengan valentine selalu dihubungkan dengan cinta dan kasih sayang. Sejak kecil mungkin sebagian besar tahu apa itu hari valentine.

Sebagaimana ada hari kemerdekaan, hari pahlawan dan lainnya yang memiliki sejarah atau sebab ditentukannya sebuah tanggal menjadi hari istimewa, maka hari valentine juga seharusnya memiliki sejarah. Tapi kenyataannya hari valentine menjadi hari kasih sayang memiliki sejarah yang rancu, karena tidak bisa dipastikan secara tepat apa latar belakang ditentukannya hari kasih sayang tersebut. Dugaan yang beredar memiliki beberapa versi dibawah ini:

Sejarah hari valentine 1

Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Tahu gak dewa Zeus? itu bokap-nye hercules.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.
Sejarah hari valentine 2

Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini:

* pastur di Roma
* uskup Interamna (modern Terni)
* martir di provinsi Romawi Afrika.

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Sejarah hari valentine 3

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa:

For this was sent on Seynt Valentyne's day (Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus)
Whan every foul cometh ther to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya)

Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

* Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
* Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Sejarah hari valentine 4
Kisah St. Valentine

Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.
Istilah dalam artikel

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar alias benul eh betul.

Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Kesimpulan:

Dari sejarah diatas bisa disimpulkan bahwa hari valentine memiliki latar belakang yang tidak jelas sama-sekali, baik dari ceritanya maupun waktu terjadinya (perhatikan abad terjadinya sejarah diatas walaupun ada nama tokoh yang sama).

Anehnya hari valentine seperti hari agung bagi para pasangan bercinta, mungkin bagi anda juga. Kalau saya sendiri terus terang lebih memilih bahwa hari cinta kasih adalah setiap hari. Postingan ini hanya mencoba menembak keyword aja, tapi dengan artikel yang cukup lumayan untuk pengetahuan. (dari berbagai sumber.)


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 8 February 2010

Ritus, Magis - Religius di Kabupaten Sikka

Setiap kampung dan suku di Kabupaten Sikka ( dan juga berbagai suku di Pulau Flores-NTT) mempunyai mesbah ( Watu Mahe) atau batu persembahan. Dan mesbah adalah pusat berbagai gelar ritus magis-religius. Di Sikka dikenal dua bagian terbesar ritus tahunan: Upacara Dua Siklus Tahunan; Upacara Tiga Siklus Daur Hidup.
Upacara Dua Siklus Tahunan, yang berhubungan dengan alam, lingkungan dan upaya hidup pertanian dan perkebunan yakni: Pertama, upacara musim penghujan yang disebut Wulang Leleng, Kedua, upacara musim panen yang disebut Wulang Darang.
Upacara wulang leleng seperti doa dan upacara permohonan turunnya hujan berimbang, urang dara ma'a tibang atau agar kemarau itu jangan terlalu panjang.

Berkenaan dengan:

Pertanian/Perkebunan = Opi uma kare tua.
Penanaman bibit = Nona daruk
Penuaian basil = Eta poru
Perlumbungan = Mekot ronang
Perumahan = Laba lepo sorong woga
Peramuan hutan = Ou wua pata ta'a
Perhutanan = Roa tu'ang opiroing
Penolakan bala = Tung goit, eba go'it

Upacara wulang darang seperti Urang Dare Ma'aTibang di atas. Masih ada lagi:

Demu Lero Wulang = Penyilihan dose
Ehe Tahi Ano Lalang = Pelayaran/perdagangan
'Lereng Rabang = Perikanan
Pleur Nge Baler Sawe = Jual beli
Uterlege Ahu Welung = Perburuan

Sedangkan Upacara Tiga Siklus Daur Hidup-Hu'er Horeng Ata Bi’ang, dapat dicatat:

a. Kelahiran - Wua DetA E Doda. lnisiasi/Pengangkatan-HuerHereng Radun Blutuk seperti:

Kela Mitan = Pemberian nama anak
Rawing Ga = Pemberian makan dukun
Lodong Me = Menurunkan anak
Ro’it Alang =Mencukur rambut
Legeng Alang = Menggelung rambut
Eker Niung = Memotong gigi
Dong Pelang = Memberi pakaian kegadisan
Gareng Lameng = Penyunatan.

b.
Peminangan dan perkawinan - Lema Lepo 'Rawit Woga,terdiri:
Wua Ta'a Lema Lepo = Meminang
Tasser/Ling Welin = Penentuan bells
Tung Tatung = Pemberian makan
Tung Lipa Lensu = Penghantaran pakaian bagi si pria
Tung Kila Jarang = penghantaran cincin
Hakeng Kawit = Penentuan perkawinan Wotik Wawi Api, Ara Pranga = Perkawinan adat
Tama Ola Uneng = Masuk kamar pengantin
Hu'i = Mandi empat malam
Ngoro 'Remang = Pembersihan pasta
Dedung Lema Lepo = Menghantar/membawa isteri ke rumah pria

c. Kematian dan Pasca Kematian -Huer Hereng Ata Mateng Potat, terdiri:
Taru 'Luheng Bura = Pembawaan kain, lilin.
Tua Pole Wawi Rekot = Bantuan kematian
Bahar Lige Bala Loni = Belis kematian
Tani Not Tokang Peti = Nyanyian kematian, penutupan peti jenazah
'Lohor Gumang Hutu = Turun tanah kematian.
TaruNopok/Siko Ra'ing =pemberian balasan
Sumana Ha, Sumana Pitu = Minggu pertama dan ketujuh.


Upacara Musim Penghujan -Wulang Leleng, mempunyai rona dan pesona tersendiri di berbagai daerah di Sikka. Terutama karena sebagian besar pencluduk Sikka adalah petani (menggarap daratan dan laut). Khusus di Mbengu-Paga, musim menanam padi biasanya dengan ritus sarat ratap¬tangis hanya karena penghayatan atas padi yang adalah dua bersaudara yang dicincang dan ditanam kemudian tumbuh sebagai padi, yang disebut sebagai Bobi dan Nombi.
Dan juga Ritus Gawi yang unik bermuasalkan mitos Tiwu Sora, senantiasa digelar untuk memohon sesuatu yang menghidupkan sekaligus menolak bala-bencana.

Di sadur dari buku Pelangi Sikka
www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Flores Dalam Kisah Pertama Seorang Gadis..

Pulau Flores dikenal sebagai salah satu pulau miskin dan tertinggal, begitulah. Tapi dibalik ketertinggalannya, Flores ternyata menyimpan sejuta pesona yang belum banyak diketahui orang. Hal ini nampak dari cerita perjalanan Mbak Yeni yang ditulis secara gamblang diblog pribadinya. Kisah perjalanan yang dipaparkan mbak yeni ini meski tak banyak dan sedetail tapi semoga bisa menjadi sedikit panduan untuk mengintip perjalanan ke Flores. Bagi yang ingin berpetualang ke pulau yang sering disebut juga sebagai pulau ular, pulau bunga, pulau bergagang keris, pulau tsunami dan lain-lain kisah mbak yeni ini bisa menjadi salah satu pegangan sebelum menjejakkan kaki di Flores...

===========================================================================
Dulu tak terpikirkan bisa menjejakkan kaki di tanah Flores karena bayanganku tentang pulau itu adalah daerah yang kering dan tidak menarik. Paling-paling yang kukenal dari Flores adalah danau-tiga-warna alias Danau Kelimutu yang tersohor itu. Dan kenalnya dengan Kelimutu juga karena jaman dulu foto danau tsb dipasang di uang seribu perak (hayoo… masih ingat gak?).

Ternyata bayanganku dulu itu sama sekali tidak benar sodara-sodara.

Keinginan untuk jalan-jalan ke Flores bermula dari melihat foto-foto pantai dan pemandangan alam Maumere yang dikirim oleh Oyan, seorang teman yang berasal dari Flores. Dari situ mataku mulai terbuka bahwa Flores menyimpan banyak pesona, tidak hanya Danau Kelimutu saja.

Bersama Enda, sohibku, rencana travelling bareng ke Flores pun mulai digagas. Sibuk deh mengumpulkan informasi, tanya sana-sini, termasuk pinjem buku Lonely Planet Indonesia dari perpus Tembagapura.

Setelah mematangkan rencana, dan beberapa kali nyaris batal, akhirnya yang ikut adalah aku sendiri, Adrian (suamiku), Enda, dan Nonie (kakaknya Enda). Sayangnya Mas Anum (suami Enda) tidak bisa ikut karena gak bisa ambil cuti. Kami sepakat untuk pergi dari tanggal 15 – 20 Mei 2009 untuk aku dan suami, sedangkan Enda & Nonie tambah extra 2 hari karena mau sekalian ke Pulau Komodo & Rinca.

Aku mau berbagi cerita tentang perjalanan kami ke Flores. Tapi, berhubung kapasitas wordpress agak terbatas, aku tulis kisahnya per bagian aja ya…

Hari Pertama: Maumere

Tanggal 15 Mei kami terbang dari Denpasar ke Maumere dengan pesawat Merpati (yang of course, pake acara di-delay 2 jam di Ngurah Rai). Sebelum berangkat, Nonie sudah berinisiatif booking hotel di Maumere sekaligus memesan penjemputan dari bandara.

Sampai di airport Maumere ada seorang pria (halah!) yang memegang kertas bertuliskan ‘Miss Nonie’. Yup, dialah orang yang menjemput kami. Namanya Dino Lopez. Dia bilang kalau namanya tercantum di buku Lonely Planet Indonesia sebagai experienced English speaking guide untuk area Flores. Dan ternyata di Lonely Planet bener ada nama dia lho…

Pertama, kami diajak ke ‘kantor’ yang sepertinya merangkap tempat tinggal Dino. Di situ kami diberi penjelasan tentang gambaran wisata Flores, sekaligus ditawari ‘paket’ wisata a la Dino Lopez. Untuk aku dan Adrian yang dari Maumere rutenya ke Moni – Bajawa – Labuhan Bajo (5 hari 4 malam) paket yang ditawarkan adalah Rp 1.750.000,- per orang, sementara Nonie & Enda yang lanjut ke Pulau Komodo & Rinca diberi harga Rp 2.750.000,- per orang (7 hari 6 malam). Harga itu sudah termasuk mobil, bensin, supir merangkap guide, dan akomodasi standar di masing-masing lokasi tujuan. Setelah sedikit nego, Dino memberi discount 250rb perorang. Sungguh harga yang cukup bersahabat.

Acara berikutnya di Maumere adalah berburu sunset. Setelah puas foto-foto sunset baru kemudian check in di hotel kecil pinggir pantai yang dinamai Gading Beach Resort. Harganya? Sembilan-puluh-ribu-rupiah permalam! Beneran. Fasilitasnya standarlah…shower air dingin, queen size bed, serta sebuah TV yang hanya mampu menangkap siaran dari 2 channel. Oia, sarapan udah termasuk di harga kamar lho…

Malam hari sesudah makan malam, kami pergi ke acara pesta pernikahan. Loh, kok bisa?

Iya, berkat kepiawaian Enda & Nonie beramah-tamah di pesawat, seorang bapak mengundang kita untuk hadir di acara pesta pernikahan ponakannya. Karena gak enak udah diundang dan penasaran gimana pesta pernikahan di Flores, kami datang juga ke pesta tsb. Yang pasti pestanya rame dan full menyanyi & dansa. Bahkan kami juga didaulat untuk menyanyi dan menari bersama.

Konon tradisi menyanyi dan berdansa itu diwariskan oleh bangsa Portugal dan Belanda pada jaman penjajahan dulu. Di pesta itu tua-muda-lelaki-perempuan lincah bergoyang.

Kalau tidak memikirkan esok harus berangkat pagi-pagi ke Moni, ingin rasanya kami tinggal lebih lama, ikut berpesta sampai pagi.

Hari ke-2: Maumere – Sikka – Pantai Paga – Moni

Hari kedua di Flores diawali dengan menikmati sunrise persis di pantai Gading Beach Resort. Semburat warna-warni yang mempesona mengiringi datangnya pagi bagaikan lukisan mahakarya seorang seniman. Entah mengapa, sunrise dan sunset dimanapun kita berada selalu punya daya tarik yang luar biasa.

Habis itu, kami mandi dan sarapan. Saat sarapan kami kenalan dengan seorang cewek. Namanya Jenna Thompson. Ni cewek cool gitu deh… asal dari Amrik, kerja jadi language trainer di Thailand, trus jalan2 ke Flores sendirian. Pagi itu kita tahu kalau jeung Jenna bakal tour barengan kita. Kesan pertama tentang Jenna? Pendiam. Beda banget sama rombongan kita yang rame. (Belakangan setelah travelling bareng baru ketauan kalau Jenna juga ternyata bisa rame dan ngocol. We miss you J…)

Dengan dua buah mobil kami memulai petualangan kami. Jenna & Dino di mobil depan, sementara kami berempat di mobil terpisah dengan supir namanya Pak Fransesco. Kami meninggalkan Gading Beach Resort sekitar pkl. 07.30 pagi.

Singgah di perkampungan nelayan yang rumah-rumahnya dibangun di atas air laut, kami disambut oleh anak-anak kecil yang luar biasa banci kamera… Lucunya kami semua dipanggil ‘miss’ oleh mereka. Selama kami di perkampungan itu ramai terdengar celoteh mereka “Miss, foto miss…” sambil langsung bergaya dengan mengacungkan dua jari membentuk symbol victory.

Dari perkampungan nelayan, perjalanan berlanjut ke Desa Sikka, salah satu desa yang masih memelihara tradisi membuat tenun ikat. Sesudah melihat-lihat satu gereja tua peninggalan Portugal, kami beruntung bisa menyaksikan tahap-tahap proses pembuatan tenun ikat oleh sekelompok ibu di desa itu. Dari mulai mengolah kapas menjadi benang, membuat pola tenun dg ikat, proses pewarnaan, sampai menenun benang menjadi sehelai kain. Yang menarik, untuk warna-warna kalem seperti indigo atau merah tua, warna tsb biasanya terbuat dari bahan alami. Sedangkan kalau warnanya cerah seperti biru terang atau pink, sudah pasti menggunakan pewarna buatan.

Kunjungan ke Sikka berbuntut memborong selendang atau syal tenunan yang berwarna-warni yang harganya terbilang murah bila dibandingkan dengan proses pengerjaan yang rumit dan memakan waktu. Satu syal rata-rata dilego dengan harga Rp 50.000,-

Puas memborong syal, kami melanjutkan perjalanan ke Moni. Untuk istirahat makan siang, Dino membawa kami ke Pantai Paga, sebuah pantai yang masih alami dengan sebuah (dan satu-satunya) warung makan yang dikelola oleh sepasang suami-istri separuh baya. Kabarnya dulu pernah akan dibangun hotel resort di pantai tsb, tapi sejak bom Bali yg mengakibatkan jumlah wisatawan ke Flores menurun, yang bertahan tinggal sepasang suami istri pengelola warung itu saja. Di dekat pantai ada beberapa bangunan sederhana yang bisa disewa untuk penginapan.

Sambil menunggu pesanan, Jenna, Enda, Nonie dan Adrian memutuskan untuk mandi di pantai. Aku tidak ikut mandi…cukup duduk-duduk di pantai dan sesekali memotret saja.

Sekitar 45 menit kemudian, makanan pesanan kami dihidangkan…ada ikan tongkol bakar, tumis sayuran segar, nasi putih… dan setiap orang diberi sepiring kecil sambal cabe yang pedasnya benar-benar nendang! Mungkin karena bapak pemilik warung merasa tertantang ketika kami memesan makanan kami bilang, “Sambelnya yang pedes ya Pak…”

Walaupun menu makan siang kami tidak begitu luar biasa tapi rasanya cukup mak nyuss dan sambelnya yang pasti sukses membuat mulut & lidah berdesis kepedasan.

Dari Pantai Paga kami meluncur ke Moni. Perjalanan yang cukup panjang serta duduk di mobil memang cukup melelahkan. Tapi kelelahan kami terbayar dengan melihat keindahan alam di sepanjang jalan yang kami lalui. Panorama laut berpadu dengan gunung yang menghijau serta sawah yang membentang benar-benar memanjakan mata.

Hari sudah sore ketika kami tiba di Moni yang termasuk daerah dataran tinggi. Dino membawa kami ke Losmen Hiddayah, sebuah penginapan dengan sawah dan kebun sayuran di sekelilingnya. Salah satu karyawan losmen dengan rambut a la Bob Marley menghidangkan minuman panas (teh manis & kopi). Cocok diminum untuk udara Moni yang dingin.

Sekitar pkl. 18.30 kami menikmati makan malam di teras losmen. Sambil makan Dino berkisah. Sebagian tentang legenda-legenda dan mistik di Flores yang kami simak dengan penuh perhatian.

Selesai makan Dino menawarkan apakah kami berlima (Enda, Nonie, Jenna, Adrian dan aku sendiri) berminat untuk berendam di sumber air panas alami alias hotspring yang letaknya hanya beberapa kilometer dari penginapan kami. Semua setuju. Siapa yang menolak kenikmatan mandi air panas di daerah dingin seperti Moni? Apalagi air yang tersedia di penginapan hanyalah air dingin yang berasal dari sungai.

Berangkatlah kami ke sumber air panas diantar oleh Dino, berdempet-dempetan di satu mobil. Sambil lalu Dino bilang kalau sumber airpanas-nya di tengah sawah.

Sekitar 20 menit kemudian, Dino memarkir mobil di pinggir areal persawahan yang gelap. Boro-boro lampu penerang jalan, senter saja ternyata cuman ada satu di mobil. Terbengong-bengong kami digiring berjalan melewati pematang sawah yang sempit dan licin. Akhirnya, walaupun dengan terpeleset berkali-kali, sampai juga kami di hotspring yang fenomenal itu. Dari cahaya senter, samar-samar bisa dilihat hotspring tsb menyerupai kolam kecil dengan air jernih setinggi lutut yang bisa menampung sampai 10 orang berendam bersama. Uap hangat terlihat membungkus permukaan kolam, menggoda kami untuk segera menceburkan diri.

Membenamkan tubuh yang penat di hangatnya air kolam, di bawah naungan kerlap-kerlip bintang di langit, membuat kami lupa akan susah-payahnya perjalanan menuju kolam itu. Air kolam yang tidak terlalu panas memberikan sensasi kesegaran yang menyenangkan.

Satu rekomendasi bagi siapa saja yang berminat untuk mencoba spa alam a la Moni itu, berangkatlah kala matahari belum tenggelam… Atau, kalaupun mau pergi malam-malam, jangan lupa berbekal penerangan yang cukup. Membawa satu senter saja untuk 6 orang sungguh tidak disarankan :)

Hari ke-3 : Danau Kelimutu

Pagi-pagi sekitar jam 4, Dino mengetuk kamar-kamar kami dengan penuh semangat. Ya..ya… agenda pertama kami di hari ke-3 adalah melihat Danau Kelimutu yang terkenal itu.

Kata si Dino dan juga rekomendasi beberapa teman, kalau mau pergi ke Kelimutu mendingan pagi-pagi. Selain bisa melihat matahari terbit dari pegunungan dimana ketiga danau multiwarna itu berada, juga untuk menghindari kabut yang suka datang mulai jam 9an pagi.

Dari penginapan kami naik mobil terlebih dahulu dan berhenti di satu area yang cukup luas yang digunakan untuk tempat parkir mobil. Perjalanan menuju danau dilanjutkan dengan berjalan kaki. Ada beberapa rombongan pergi ke Kelimutu pagi itu. Seorang bapak yg merupakan penduduk setempat turut berjalan bersama rombongan. Berjaket biru dan mengenakan sarung tenun warna indigo, sang bapak membawa tas yang didalamnya ada termos berisi kopi panas yang nanti akan dijual ke pengunjung Kelimutu. Dia juga membawa beberapa selendang tenunan khas Flores yang juga dijual sebagai souvenir.

Bau belerang menyergap indra penciuman ketika kami sudah mendekati ketiga danau Kelimutu. Setelah mendaki ratusan anak tangga, kami sampai di tempat yang berbentuk seperti panggung (cenderung mirip monumen sih…), yang khusus dibuat untuk duduk menikmati matahari terbit. Di kedua sisi panggung yang menghadap ke dua danau dibuat masing-masing sekitar 11 undakan tangga untuk duduk-duduk. Untuk pengaman, dipasang pagar pembatas supaya pengunjung tidak berjalan terlalu dekat ke pinggiran danau.

Masing-masing dari kami kemudian siap dengan kamera di tangan, menanti saat-saat matahari muncul di ufuk timur. Samar-samar terlihat warna biru turquoise salah satu danau di depan kami.

Si bapak berjaket biru juga lincah menawarkan kopi. Kubeli segelas kecil. Harganya kalau tidak salah 10 ribu rupiah.

Menyeruput kopi-hitam-kental-manis sambil menikmati pesona mentari yang perlahan bergerak naik dari balik gunung, di antara 3 danau warna-warni, sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Sambil sesekali menjepretkan kamera, mataku berusaha menangkap sebanyak mungkin pesona alam yang tersaji.

Sesudah matahari naik, kami memuaskan ke-narsis-an kami, berfoto dengan latar belakang salah satu danau kelimutu yang berwarna biru turquoise. Danau berikutnya yang letaknya berdampingan dengan si danau turquoise berwarna hijau gelap, sepintas mirip warna coca-cola. Sayangnya danau ketiga yang kabarnya saat itu berwarna putih tertutup kabut tebal.

Nama ketiga danau tsb adalah Tiwu Ata Polo (danau hijau gelap), Tiwu Nua Muri Koo Fai (danau biru turquoise), dan Tiwu Ata Mbupu (danau yang tertutup kabut).

Berdasarkan kepercayaan setempat, ketiga danau Kelimutu itu adalah tempat tujuan roh orang ketika meninggal. Danau mana yang dituju tergantung dari umur dan tingkah laku orang tersebut ketika hidup di dunia.

Keunikan lain dari Danau Kelimutu adalah warnanya yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa tanda-tanda alam sebelumnya. Beberapa tahun lalu warna ketiga danau tsb. adalah biru, coklat kemerahan dan hijau tua kehitaman. Menurut info belum ada ilmuwan yang bisa menjelaskan secara pasti apa yang menyebabkan perubahan warna danau. Yang pasti kandungan asam ketiga danau tsb sangat tinggi sehingga jangan coba-coba iseng mencoba berenang di salah satu danau itu.

Sesudah dari Danau Kelimutu kami sarapan banana pancakes di penginapan, kemudian mandi di sungai yang ada air terjunnya. Rasanya dingin menyegarkan walaupun warna airnya tidak bisa dibilang jernih. Well…kami hanya punya dua pilihan, mandi dengan air sungai tsb. atau tidak mandi seharian sampai tiba di Bajawa.(http://yeniunique.wordpress.com.)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Sunday, 31 January 2010

Canabis Band, Rendah Hati Untuk Sebuah Prestasi


Canabis Band terbentuk tahun 2006. Band beraliran reggae ini tak hanya dicintai kaum remaja namun juga disukai kalangan dewasa di Kabupaten Sikka. Meski harus mengalami reposisi player beberapa kali, band yang berasal dari kawasan Misir Kota Maumere ini mencoba terus eksis dan setia pada jalur yang digelutinya. Dengan para personil terbaru saat ini yakni Elbit (Vokal), Rony (Guitar Melody), Deniz (Guitar Rhytim), Gomez (Bass), Vian (Keyboard), Piter (Vokal Latar) Canabis Band tak berhenti untuk terus mengekspresikan dan menyuarakan cinta dan perdamaian lewat musik reggae sekaligus menghibur fans beratnya. Dalam karier bermusiknya Canabis Band telah mengantongi banyak prestasi. Satu diantaranya adalah ketika terpilih sebagai group band terfavorit pada Parade Band Djarum LA Lights yang di gelar baru-baru ini di Maumere. Berangkat dari beberapa prestasi itulah, mereka berharap bisa memiliki album reggae sendiri.

“Ini bukan sebuah mimpi, karena kami pun sedang mempersiapkan beberapa lagu. Ya sambil berharap ada mau yang mendukung produksinya,” ungkap Elbit sang vokalis.

27 September 2006 adalah awal berdirinya Canabis Band. Pungawa band ini semula ditempati Elbit (Vokal), Iron ( guitar utama), Vian (Bass), Ary (Rhythim), Andre (Drum). Band yang mereka awaki pelan-pelan mulai terdengar gaungnya. Tembang-tembang reggae yang dibawakan diminati oleh anak-anak muda. Kapan saja dan dimana saja tampil Canabis Band selalu menarik perhatian. Apalagi musik beraliran reggae begitu disukai oleh kaum muda Maumere. Namun seiring waktu, Canabis Band juga mengalami keretakan. Beberapa punggawa awal Canabis Band memilih hengkang. Pergantian personil dibeberapa posisi terjadi hingga akhirnya mendapatkan ‘feel’pada para pemain terkini.

Bagi Canabis Band, permainan musik mereka terinspirasi pada dedengkot reggae seperti Bob Marley, Lucky Dube dan Big Mountain. Meski suka pada reggae dan mencoba untuk tetap eksis dijalur ini mereka mengaku tak mengikuti jejak band lain yang kadang melakukan ritual menghisap ganja sebelum tampil.
"Kami sadar banyak yang mengatakan reggae begitu indentik dengan ganja tapi bagi kami ganja hanyalah sebuah tanaman suci, tak lebih. Kami tak akan pernah melakukan ritual seperti band-band lain” ucap Rony sang gitaris yang sebelumnya menyukai musik punk. “Bermusik reggaelah dengan jiwa (soul) tanpa ganja,”tambahnya.

Band reggae yang dimotori oleh Elbit ini memiliki keinginan untuk menjadikan reggae sebagai salah satu musik perdamaian khususnya di Kabupaten Sikka ini.
“Biarkanlah kami bersuara dengan cinta demi kabupaten ini, karena dengan cinta dan reggae kita bisa membangun Sikka bersama-sama tanpa rasa ego dan fanatik kedaerahan,”ujar Elbit yang diamini para personil lainnya.
Saat ini Canabis Band selalu berlatih rutin tiga kali seminggu di studio musik yang disewa secara urunan.

Prestasi
- Juara Pertama (I) Festival Band HUT Katedral
- Juara III Festival Band FLORATA (Flores-Lembata) di Maumere
- Juara III Festival Band FLORATA (Flores-Lembata), Sumba di Ende
- Juara I (Satu) Parade Band Djarum LA Ligth’s di Maumere
- Dan lain-lain


Salah Satu Video saat tampil di sebuah Parade Band



Bergabung di Fansclub Facebook Canabis Band

Canabis Reggae Band on Facebook


www.inimaumere.com



Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---