Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Monday, 4 October 2010

SMS GRATIS Online ke Semua Operator

Disaat-saat sedang asyik online tiba-tiba ada sms masuk dan harus dibalas dengan segera, padahal kita pu pulsa sudah habis....huaaaaa, mau keluar malas...Mhhhhhh..Untung saja ada SMS Online Gratis ini...
Silahkan nikmati Fasilitas SMS GRATIS ke semua Operator di Seluruh Indonesia. Mantap kan?!! Seeep kan?? Mhhh hare gene pulsa habis?? Padahal pengen SMS ke temen atau (mungkin) pacar atau selingkuhan hehehe....uppss..sory eee..
nah caranya gimana?? gampang...lanjutkan bacanya ya..
Pertama Ketik Nomor Tujuan Anda, misalnya 085234969xx atau 0812394441xx. Kemudian ketik pesan Anda paling banyak 160 karakter.

Jika lebih maka pesan Anda akan terputus.

Oya PENTING.

Jangan lupa ketik "dari... (nama anda), ini nomor hape temen, balas di nomerku aja". Karena nomor yang keluar di hape tujuan akan bernomor normal seperti biasa (bukan nomor kita/nomor asing). :-)

Oya, disini kita tidak akan bisa untuk menerima balasan SMS. Selamat Mencoba ya, epang gawan alias makasih su mau berkunjung hehee..


Langsung ke TKP..


selamat menikmati :-)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Friday, 1 October 2010

Putri Indonesia NTT 2010, Freska Gousario Siap Harumkan NTT

Dukung Freska Gousario Melalui Polling SMS

Saat berita ini dinaikan, Freska Gousario Putri Indonesia NTT 2010 telah berada di Jakarta untuk memulai masa karantina. Freska akan dikarantina sampai memasuki Grand Final 8 Oktober 2010 pukul 20.00 WIB yang disiarkan live oleh televisi swasta, Indosiar. Bersama 38 Putri Indonesia lainnya (dari 33 propinsi), Freska akan memperebutkan predikat Putri Indonesia 2010 di Assembly Hall, Jakarta Convention Centre, yang juga akan dihadiri Miss Universe 2010, Ximena Navarette dari Meksiko. Lewat inimaumere.com, Freska mengharapkan doa dan dukungan dari semua masyarakat NTT dimana saja berada agar perjuangannya di Jakarta meraih hasil maksimal.
Dua bulan lalu, setelah terpilih sebagai Putri Indonesia NTT 2010 dengan menyingkirkan 11 finalis lainnya, Freska Gousario melakukan kunjungan ke Kota Maumere. Di kota ini Sang Putri melakukan beberapa kegiatan. Diantaranya mengunjungi Toko Buku Gramedia dan bereuni di almamaternya SMUN I Maumere.


Kepada inimaumere.com Freska menceritakan kenangan saat menjalani studi selama selama 3 tahun di ibu kota Kabupaten Sikka. Di kota ini, ia mengumpulkan beberapa prestasi juga sejuta kebanggaan.

“Sungguh sangat berharga memiliki kesempatan untuk mencintai Maumere seperti kota kelahiran sendiri. Disini saya mendapati guru-guru pendidik yang banyak membantu dan mendukung serta mendorong saya di semua kegiatan sekolah baik di teori maupun praktis. Saya tak dapat melupakan itu semua,” tutur Freska di emailnya kepada inimaumere.com.

Gadis kelahiran Kupang 19 Februari 1988 ini setelah menamatkan sekolah di SLTPK St. Theresia Kupang melanjutkan sekolah menengahnya di SMUN I Maumere di tahun 2003. Tamat 2006 ia meninggalkan Maumere dan melanjutkan kuliahnya di Kupang.

Mahasiswi semester sembilan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang sedang menyelesaikan skripsinya ini mengalahkan Yunilia Edon yang menjadi runner-up dan Triyanti Ladju yang berada di peringkat ketiga.

“Tidak pernah menyangka bisa menang. Saya sangat bersyukur, ini merupakan anugerah Tuhan terindah buatku," ujar Freska bahagia.

Freska Gousario adalah anak kedua dari dua bersaudara (kakak laki-lakinya, almarhum Krisye Gousario). Terlahir dari pasangan ayah (almarhum ) Kenche Gousario asal Timor Tengah Selatan (TTS) & Mama Tris Amalo asal Rote. Sekarang Freska hanya hidup berdua dengan ibunya yang selalu menjadi teladan, panutan dan kekuatannya menjalani hidup. Ibu Tris Amalo, Mama yang sangat dicintai Freska bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah toko bangunan di Kota Kupang.

“Dengan segala bantuan dan pertolongan Tuhan, sehingga melalui orang-orang terdekat, saya pun bisa dikuliahkan hingga saat ini. Berbagai hal saya coba untuk bisa lebih maju dari 'hari ini',“ ujar dara manis yang pernah bekerja sebagai operator warnet, sales, dan beberapa pekerjaan lainnya.

Setelah terpilih, ia menegaskan, siap mempromosikan NTT ke ajang nasional dan internasional. Ada banyak tempat pariwisata, keanekaragaman budaya, dan sumber daya alam NTT yang harus diketahui masyarakat banyak.

Dia juga bertekad akan mengubah citra (image) NTT yang hanya dikenal sebagai provinsi miskin dan memiliki banyak masyarakat yang menderita busung lapar. NTT menurutnya, tidak seburuk citra tersebut. NTT adalah provinsi yang kaya dengan berbagai aneka ragam kerajinan, memiliki banyak tempat wisata nan indah, dan memiliki sumber daya alam yang luar biasa.

Menceritakan kembali kenangan indahnya selama menjadi siswa di SMUN I Maumere, Freska mengakui bahwa kenangan akan kota ini sungguh sulit untuk dilupakan.

“Keramahan penduduknya, keindahan alam, obyek wisata serta adat dan budaya yang sangat kaya dan menarik di Kabupaten Sikka dan Maumere telah meninggalkan sejuta teladan dan kenangan sepanjang hidupku, terima kasih Maumere, epang gawang,” tulis Freska.

Tahun 2008 Dona Kanena da Silva, yang berdarah asli Maumere pernah mewakili Propinsi NTT di ajang Pemilihan Putri Indonesia 2008. Saat itu Puteri Indonesia 2008 dimenangkan oleh Zivanna Letisha Siregar (DKI Jakarta 6). Ia mewakili Indonesia di ajang Miss Universe 2009. Dukungan pada Dona waktu itu sangat minim.

Kita semua tentunya berharap melalui Freska Gousario, ajang Pemilihan Putri Indonesia 2010 semakin mengharumkan nama NTT. Dukungan untuk Freska Gousario salah satunya bisa melalui polling SMS. Dukungan SMS untuk Freska ini karena panitia Putri Indonesia 2010 akan memilih Putri Kepulauan dan Putri Favorit dengan kriteria polling SMS terbanyak yang akan meraihnya.

***
Para wanita cantik dari bebagai daerah tersebut akan memperebutkan beberapa gelar yaitu, Puteri Indonesia 2010, Puteri Indonesia Lingkungan 2010 (Runner Up I), Puteri Indonesia Pariwisata (Runner Up II), Puteri Indonesia Persahabatan, Puteri Indonesia Berbakat, Puteri Indonesia Favorit dan Puteri Indonesia Kepulauan Favorit (Sumatera, Jawa , Bali NTT NTB, Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur).

Khusus untuk Puteri Favorit dan Putri Kepulauan diperebutkan melalui poling sms yang sudah bisa dipilih MULAI SEKARANG, dan yang menjadi Putri Indonesia nantinya akan dapat mewakili Indonesia di ajang Miss Universe 2011 nanti.

Dukungan untuk Freska Gousario Putri NTT 2010:

*Putri Favorit 2010, Ketik:

PPI [spasi] NTT


*Puteri Favorite Kepulauan, Ketik:

PPI [spasi] KEP [spasi] NTT

** Kirim ke: 9788

So, Grand Final 8 Oktober 2010 pukul 20.00 WIB, disiarkan live oleh televisi Indosiar

Ayo Dukung Freska..!!

Bergabung di Facebook dukungan

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Hujan Mulai Mengguyur Maumere

Kabupaten Sikka khususnya Kota Maumere dalam satu bulan ini terus diguyur hujan. Hujan yang turun dan membasahi keringnya alam Maumere disyukuri banyak orang tapi juga menghambat kegiatan dan aktifitas masyakat. Turunnya hujan terjadi dalam rentang waktu antara sore dan malam hari. Dengan intensitas waktu 2-3 kali dalam seminggu. Hujan yang turun terjadi tak merata antara gerimis dan lebat. Seperti yang terjadi tadi malam, Kamis, (30/09/2010), hujan yang turun cukup lebat dan disertai dengan angin yang cukup kencang. Hujan yang turun deras tersebut terjadi sekitar 30 menit yang disusul dengan padamnya aliran listrik selama hampir sejam. Usai hujan deras, gerimis tak ketinggalan terus membasahi Maumere. Meski begitu, angin yang cukup kencang tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.

Musim kemarau yang berkepanjangan dalam setahun ini menjadi berkah ketika hujan mulai turun dan menyirami tanah dan padang tandus. Seperti diketahui Kabupaten Sikka memiliki musim kemarau lebih panjang dari musim hujan. Dengan turunnya hujan dengan intensitas tinggi saat ini menghadirkan secerah harapaan. Debu dan panasnya udara sejenak bisa disingkirkan. Petani dan penggarap perkebunan bisa sedikit tertolong.

Tapi sampah pun berserakan dimana-mana. Selokan yang tersumbat akibat sampah yang menghadang arus air terjadi dimana-mana. Maumere memang indentik dengan sampah dan ketika hujan turun, terjadi banjir dibeberapa titik daerah. Sampah pun berserakan dijalan. Pemandangan yang sudah biasa terjadi kala musim hujan hadir.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 28 September 2010

Hokor Watu Apar, Berperang dalam Tarian

Kampung Hokor terletak di wilayah selatan Kabupaten Sikka, berjarak 39 Km dari Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Pualu Flores. Kampung Hokor berbatasan dengan Kampung Sikka dan Pomat. Sedikit berbeda dengan topografi kampung lain di Sikka, Hokor adalah kampung berbatu, diapit oleh dua buah bukit, Bukit Ilin Lhorat dan Ilin Pigang. Karena itulah Hokor sering mendapat julukan Kampung Watu Apar, kampung berbatu. Daerah berbukit dan berbatu ini memang semula (dahulu kala) merupakan wilayah ‘pengungsian’ orang-orang Hokor, yang lari dan mencari keamanan dari perang antar kampung, tetapi selanjutnya dipilih sebagai tempat menetap (kampung) dengan nama Hokor.
Nama kampung ini (Hokor), bila dicermati secara harfiah maka tidak akan ditemukan arti dan padanannya dalam bahasa Sikka. Diduga nama ini berasal dari kata bahasa Sikka, yakni “hogor” yang berarti bangun. Dugaan lain menyebutkan nama ini berasal dari nama sejenis burung yang bernama “Hokok”, yang pada awal kedatangan awal orang Hokor ketempat itu, burung itu ditemukan dan ditangkap tepat ditengah-tengah kampung itu.

Nenek moyang orang Hokor sebelumnya mendiami wilayah yang sekarang didiami orang-orang Sikka, Kampung Sikka. Diceritakan bahwa karena ulang Mong Baga Giluk bersama orang-orang sekampungnya (mereka yang mendiami Kampung Sikka sekarang) yang menggulingkan tempayan berisi kotoran manusia, orang-orang Hokor terpaksa melarikan diri dan berdiam didaerah yang sekarang dikenal dengan nama Hokor.

Meskipun sudah berada ditempat (Hokor) yang dianggap aman dari haluan musuh, orang-orang Hokor tak pernah luput dari gangguan luar seperti pencurian hasil panen ataupun serangan musuh. Orang-orang Hokor, karena itu, tidak bisa tinggal diam tetapi harus berperang melawan musuh.

Orang-orang Hokor yakin bahwa perang melawan musuh tidak lepas dari restu dan keterlibatan para leluhur. Oleh karena itu, sebelum berperang ritual adat harus dibuat. Selain sebagai tanda hormat kepada leluhur, ritual adat itu dimaksudkan agar para leluhur dilibatkan dalam peperangan. Menurut informasi, perang yang terjadi dahulu antara Hokor dan kampung-kampung sekitarnya selalu dimenangkan oleh orang-orang Hokor. Dengan perang, keberadaan dan indentitas sebagai satu kampung tetap eksis.

Syair berikut menjadi semboyan dan kahe orang-orang Hokor ketika berperang sekaligus menunjukkan bahwa orang-orang Hokor berkampung batu dan selalu menang dalam perang.

Hokor Watu Apar, guman gogo leron tolor, tubu nane rebu, kota nane korak, ponun puan helang ilin, ga ata maten gateng ata moret “

Hokor kampung berbatu, malam runtuh siang terguling, berpagar besi, bertatakan tempurung, asal mula jin dari gunung, melahap yang mati, menantang yang hidup”

Memang sudah lama Hokor sudah tidak terancam lagi oleh gangguan luar, namun kisah tentang perang dan kemenangan orang-orang Hokor ketika melawan musuh luar tidak pernah terlupakan. Selain dikisahkan turun temurun, perang dan kemenangan pun dibentukkan secara artistik menjadi tarian perang khas orang-orang Hokor yang dikenal dengan nama Tarian Bebing.

Ada banyak tarian yang dimiliki oleh orang-orang Hokor seperti Ro’a Mu’u (tarian potong pisang pada saat pernikahan), Tarian Sandang, Togo Pare (tandak untuk luruh padi). Sedangkan yang mengisahkan tentang perang antara orang Hokor dan kampung lain adalah Tarian Bebing. Tarian Bebing menjadi simbol heroisme orang Hokor.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 26 September 2010

Pesta Sambut Baru di Maumere

Pagi hari tinggallah tenda itu berdiri diam. Kursi-kursi ada yang tersusun rapi tapi ada pula yang dibiarkan tak beraturan. Banyak sampah yang berserakan. Musik yang berdentum dari sound sistem belum berhenti dari malam. Bahkan ada saja yang masih tertidur pulas keenakan diatas meja panjang. Pemandangan yang nampak biasa dihari ini seusai hari dan malam panjang yang melelahkan. Anak-anak yang berbahagia masih tertidur pulas dengan sejuta rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Baru saja mereka menjadi pusat perhatian penuh semua orang. Ciuman dan ucapan selamat, melebihi pengantin pernikahan. Orang tua juga demikian. Meski harus mengeluarkan biaya begitu banyak mereka tak peduli. Tak jarang demi memenuhi kebutuhan gengsi, orang-orang Maumere (Flores) rela hutang sana sini agar dapat mengadakan pesta Sambut Baru. Bukan rahasia lagi kok.

Hari Jumad, 25 September Kota Maumere, terutama di wilayah Paroki Thomas Morus Keuskupan Maumere sejumlah 397 anak-anak berusia kelas 5 SD mendapatkan Komuni Suci Pertama. Bisa dibayangkan. Ada 397 anak. Artinya kalo diasumsikan semua merayakan dengan membuat pesta berarti ada 397 tenda. Lebih dari 397 hewan yang disembelih. Terjadi perputaran duit yang tak sedikit dalam hari-hari tersebut. Tinggal hitung-hitung sendirilah.

Semua orang Maumere di Flores yang Katolik pernah mengalami kebahagiaan ini. Dimana ketika itu, sang anak mendapat anugerah istimewa oleh gereja untuk menerima Tubuh dan Darah Sang Kristus. Ketika itu umur mereka sekitar 10-11 tahun. Seperti sunatan, acara syukuran Sambut Baru bagi orang Flores juga diindentikan dengan pesta.

Untuk saat ini, Sambut Baru di Keuskupan Maumere tak dilakukan serentak se-keuskupan tapi telah dibuat bertahap. Misalnya kali kemarin bulan agustus untuk wilayah Paroki St. Yoseph dan lainnya, kali ini wilayah Paroki Thomas Morus dan lainnya.

Pesta Sambut Baru juga dibuat sedemikian meriah. Tamu undangan akan datang bergilir dari siang hingga malam. Bukan hanya satu dan dua rumah. Bisa saja sampai belasan rumah digilir. Tentu saja disetiap rumah disuguhkan makanan yang enak-enak, musik yang asik punya dan sebotol moke sebagai penghangat tubuh. Kalau kita mengunjungi sebuah tempat pesta dan menegguk moke 4 kali perpesta, bisa dibayangkan berapa kali kita menegguk moke. Tampaknya ini bukan halangan kok. Bagi sebagian besar orang Flores, pesta ya pesta. Tak mempedulikan apapun. Yang penting hepi dan asik. Nah kalau kita mendapatkan 10 undangan pesta, itung kan berapa biaya kado yang dikeluarkan.

Di sisi lain, Gereja tidak diam. Sudah sering gereja mengimbau umatnya agar pesta Sambut Baru dirayakan dengan tak berlebihan. Pihak gereja juga mengimbau kepada para keluarga agar uangnya ditabung untuk biaya sekolah anak, atau masa depan anak mereka.

Pernah terbersit untuk mengundang MURI (Museum Rekor Indonesia) agar mengabadikan acara tahuan ini kedalam rekor MURI. Selain di Flores belum ada tempat manapun yang dalam sebuah Kabupaten ada banyak tenda pesta dengan musik yang tak henti-hentinya berbunyi. Dan itu sampai ratusan tenda pesta.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 24 September 2010

GEREJA yang Diam?

Oleh: Justin L. Wejak, Dosen Kajian Indonesia di Universitas Melbourne, Viktoria, Australia

“Mengapa KWI (Konperensi Wali Gereja Indonesia) hanya diam menghadapi eksekusi Tibo Cs?” Demikian bunyi pertanyaan seorang imam dan misionaris Katolik dalam salah satu acara ceramah dan diskusi di Kota Melbourne (Australia) belum lama ini. “Paus Benediktus XVI mengeluarkan pernyataan sekaligus meminta pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali keputusan hukuman mati kepada Tibo Cs, tetapi KWI tidak pernah mengeluuarkan pernyataan apapun. Sang Pastor menambahkan, “Saya sebetulnya sangat kecewa dan ingin sekali menulis surat ke KWI untuk menyatakan sikap penyesalan saya atas sikap KWI itu”, cetusnya lagi.

Pada 11 agustus 2006, Paus Benediktus menyurati Presiden RI Susilo bambang Yudhoyono yang meminta pemerintah RI mempertimbangkan kembali keputusan dan pelaksanaan hukuman mati kepada Fabianus Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus da Silva terkait kasus Poso.

Surat Paus itu ditanggapi SBY dengan positip. Eksekusi Tibo Cs yang seharusnya dilaksanakan pada 12 Agustus 2006 di tunda. Namun, tidak ada spesifikasi durasi penundaan dan kalau hukuman mati Tibo Cs dibatalkan.

Namun akhirnya, dini hari 22 Sepetember 2006, Tibo Riwu dan da Silva dieksekusi oleh negara di Palu, Sulawesi Tengah. Mereka dinyatakan terlibat dalam kekerasan berdarah yang diwacanakan secara dominan sebagai kekerasan antar agama Islam dan Kristen di Poso.

Tibo Cs dinyatakan terlibat sebagai pelaku dilapangan dan (lebih) sebagai otak serangan kelompok nasrani terhadap kaum muslim, khususnya selama Kerusuhan Poso III, Mei- Juli 2000. Mereka adalah transmigran asal Flores beragama Katolik Roma.

Tuduhan keterlibatan Tibo Cs mati-matian disangkal oleh mereka dan tim hukum dengan bukti-bukti, namun tidak di gubris. Pilihan untuk tidak menguji bukti-bukti baru atau novum akhirnya menggiring Tibo Cs dalam ketidakberdayaan untuk ditembak.

Akademisi Dr. Paul Budi Kleden SVD, alumnus Universutas Freiburgh (Jerman) dan dosen STFK Ledalero Flores dalam ceramah dibawah tajuk "Gerakan Perlawanan Eksekusi Tibo Cs dan Pengaruhnya Bagi Masyarakat Akar Rumput di Flores”, di Universitas Melbourne tertanggal 14 Agustus 2010 menyebutkan bahwa surat Paus ini dianggap sebagai sesuatu yang berhasil. Ditambahkan bahwa surat ini kemudian dijadikan rujukan dalam doa-doa bersama agar pelaksanaan eksekusi Tibo Cs tidak hanya ditunda tapi dibatalkan. Hak hidup adalah hak paling hakiki dari manusia yang harus dihormati dan dilindungi.

Dr Kleden juga menyebutkan Surat Gembala oleh Uskup Maumere, Mgr. Vincent Sensi Pr, kepada para pastor, biarawan/biarawati, umat khatolik dan semua orang yang berkehendak baik di Keuskupan Maumere tertanggal 19 Agustus 2006. Demikian penggalan surat Gembala itu: ‘kita menolak eksekusi mati kepada tiga saudara kita diatas, karena menurut keyakinan kita sebagai umat beriman, anugerah kehidupan merupakan anugerah tertingi yang diberikan Tuhan kepada ciptaan-Nya. Sebab itu kami menolak segala bentuk pengambilan hak hidup atas alasan apapun.

Sila pertama dari Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa secara intrinsik menyokong isi iman ini. Pancasila menghormati iman agama bahwa membunuh itu tidak boleh karena tidak baik. Akan tetapi negara dengan Pancasila sebagai filsafat negara ternyata masih membunuh orang dengan pemberlakuan hukuman mati. Maka jelas negara telah melanggar Pancasila itu sendiri yang menghormati isi iman agama yang melihat kehidupan sebagai anugerah tertinggi dari Tuhan kepada ciptaan-Nya.

Dalam terang sila pertama dari Pancasila saja, hukuman mati bertentangan dengan Pancasila dan oleh karena itu haru dihapus kalau Pancasila tetap menjadi filsafat negara. Negara harus memilih Pancasila atau hukuman mati? Tidak bisa dan tidak boleh kedua-duanya sekaligus!

Uskup Atambua Mgr. Anton Painratu SVD, adalah sosok lain yang peka terhadap persoalan kemanusiaan dan keadilan. Beliau ikut turun kejalan untuk menyatakan protes tehadap keputusan pengadilan mengeksekusi Tibo Cs. Beliau mengungkapkan penyesalan yang mendalam setelah Tibo Cs ditembak pada 22 september 2006 di Palu.

Para pastor dan biarawan/biarawati se-NTT, dalam cara dan kapasitasnya masing-masing ikut mendesak agar hukuman mati tersebut dibatalkan. Bahkan pemuka agama-agama lain di NTT ikut memperkuat front penolakan eksekusi Tibo Cs.

Sikap mereka jelas namun mengapa KWI yang berkantor dipusat kekuasaan negara tidak bisa menyatakan sikapnya untuk menolak? Membiarkan para Uskup bergerak dengan inisiatif sendiri di wilayah keuskupannya dapat mempertanyakan keutuhan Gereja Katolik Indonesia dibawah komando KWI.

Gereja-gereja Katolik Roma sangat dihargai oleh karena ajaran-ajaran sosialnya. Namun kegagalan KWI menyatakan penolakan terhadap eksekusi Tibo Cs merupakan sesuatu yang patut disayangkan. Pertanyaannya, mengapa KWI tidak menyatakan penolakan? Sejauh mana kegagalan KWI ini merupakan cermin ketakutan politis terhadap kekuasaan pusat?
Memang KWI yang diam telah lama menjadi semacam pattern atau pola. Pola ini telah lama terbentuk sehingga untuk mengubahnya diperlukan keberanian untuk mulai dan kesabaran.

KWI yang pada tahun 1960-an masih disebut MAWI terkesan diam ketika ratusan ribu orang-orang kecil dibantai oleh negara atas tuduhan memiliki afiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tuduhan komunis ini tetap tanpa bukti hingga saat ini karena tidak ada proses hukum Namun, afilasi dengan PKI tidak pernah boleh dipandang sebagai kejahatan dalam sebuah negara dengan hukum yang melindungi hak berafiliasi. Saat itu PKI merupakan partai resmi.

Pembunuhan massal atau genocide sebagai konsekuensi logis dari G.30.S dibiarkan terjadi olejhMAWI tanpa ada suatu pernyataan tegas yang menolak. Elit Partai Katolik dan elit MAWI (KWI) tidak pernah menyatakan penyesalan apalagi meminta maaf atas tragedi kemanusiaan itu. Gereja sebagai institusi bahkan memiliki hubungan khusus dengan pemerintah Orde Baru (1966-1998), yang justru dibangun atas darah korban kekerasan negara.

Mendiang Gus Dur, atas nama NU, justru telah dengan rendah hati meminta maaf kepada para korban pembantaian 1965-1966 atas keterlibatan anggota NU. Tetapi mengapa elit Partai Katolik tidak? Demikian pertanyaan menyindir yang pernah disampaikan oleh Ahli Indonesia Benedikt Anderson.

Sikap diam KWI terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan seperti yang terjadi dalam kasus Tibo Cs mencerminkan sikap yang bertentangan dengan ajaran sosial gereja. Gereja sebagai institusi yang diharapkan memihak kaum kecil dan tertindas ternyata telah membiarkan kaum ini menjadi korban rekayasa kepentingan kekuasaan. Menyuarakan suara kaum tertindas adalah tugas Gereja sebagai institusi.

Memang diam bisa berarti melawan, namun bisa pula berarti PATUH.

Penulis, meneliti “Peranan Gereja Katolik dalam Peritiwa-Peristiwa Politik 1960-an di Indonesia”, dan Dosen Kajian Indonesia di Universitas Melbourne, Viktoria, Australia.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 22 September 2010

Empat Tahun Perginya 3 Martir dari Flores

Bupati Sikka Alexander Longginus saat itu memutuskan mengirim utusan bersama dengan utusan keluarga ke Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, 23 September 2006, guna mengurus membawa pulang jenazah Dominggus da Silva dimakamkan di kampung halamannya, di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bupati mengambil keputusan ini setelah diperoleh kesepakatan dengan keluarga Dominggus da Silva, di kediaman bapak angkat Dominggus, Ansel da Silva, di Jalan Nong Meak, Kampung Kabor, Kecamatan Alok. Sebelum kesepakatan, warga Maumere berunjuk rasa di Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Sikka. Mereka menuntut jenazah Dominggus yang telah dieksekusi dimakamkan di kampung halamannya.

Kehadiran jasad Dominggus da Silva, dari Palu ke tanah leluhurnya Maumere disambut ribuan massa. Sejak dari pagi hingga kedatangan jenazah, ribuan warga tumpah ruah disepanjang jalan protokol yang dilewati hingga rumah kediaman bapak Ansel da Silva di Jalan Nong Meak. Dalam pesan terakhirnya, Dominggus meminta agar jenazahnya dimakamkan di tanah kelahirannya Maumere. Ekseskusi Tibo Cs di Palu 4 tahun lalu masih menyimpan tanda tanya hingga saat ini, benarkah mereka memang bersalah? Padahal dari sejumlah bukti dan saksi, Tibo Cs diketahui tidak bersalah. Dan setelah dieksekusi, Kota Atambua di Timor dan Maumere di Flores rusuh. Sejumlah kantor-kantor pemerintah dibakar massa yang kecewa.

Sidang
Tibo, Dominggus, dan Marinus sejak awal persidangan di Pengadilan Negeri Palu awal tahun 2001 selalu membantah terlibat kerusuhan Poso III. Kedatangan mereka ke Poso pada 22 April 2000 dari kampung mereka di Beteleme, Kabupaten Morowali, sekitar 250 km dari Poso, hanya untuk menolong puluhan anak-anak sekolah St Theresia Poso beserta para guru, suster, dan pastor yang tengah berada dalam kepungan massa. Aksi penyelamatan anak-anak itu mereka lakukan tanpa berkonfrontasi dengan massa.

Seluruh proses peradilan Tibo cs (sebanyak 17 kali) penuh dengan tekanan massa, bahkan Fabianus Tibo pernah dipukul oleh salah seorang saksi dalam proses persidangan di ruang sidang Pengadilan Negeri Palu. Tuduhan jaksa yang mengatakan mereka telah memimpin pembunuhan terhadap warga Kelurahan Moengko Baru, Kelurahan Kayamanya, dan Desa Sintuwulemba, Poso, tidak pernah terbukti di persidangan.

Pada sidang PK kedua di PN Palu, penasihat hukum Tibo cs menghadirkan sembilan saksi baru yang menyatakan Tibo cs tidak terlibat sejumlah penyerangan dan pembunuhan warga Poso pada 23 Mei-1 Juni 2000 sebagaimana dituduhkan jaksa penuntut umum. Sembilan saksi melihat Tibo cs menyelamatkan puluhan anak-anak sekolah St Theresia Poso, suster, pastor, dan sejumlah guru dari kepungan massa.

Permintaan terakhir ditolak
Sebelum di eksekusi, Kejari Palu menolak semua permintaan terakhir Tibo Cs. Empat permintaan terakhir Tibo Cs adalah:

* Pertama, mereka meminta agar saat pelaksanaan eksekusi didampingi Roy, Pastor Jimmy, Direktur Padma Indonesia Pastor Nobert Bethan, dan Ketua Komisi Ombudsman Nasional Antonius Sujata.
* Kedua, mereka meminta agar jenazah mereka disemayamkan di Gereja Katolik Santa Maria Palu, dan mengharapkan Uskup Manado Mgr Yosephus Suwatan bersedia memimpin Misa Requiem (misa mendoakan arwah).
* Ketiga, Tibo dan Marinus minta dikebumikan di Beteleme, Kabupaten Morowali, Sulteng, sedangkan Dominggus minta dikebumikan di Flores, Nusa Tenggara Timur.
* Keempat, Tibo dkk menolak semua fasilitas yang disediakan kejaksaan seusai eksekusi, seperti jas, sepatu, dan peti jenazah, serta transportasi mengantar jenazah ke persemayaman dan pemakaman.

Kejari Palu tidak memberi kesempatan jenazah Tibo dkk disemayamkan di Gereja Santa Maria Palu untuk Misa Requiem. Menurut pihak kejaksaan, setelah dieksekusi, jenazah Tibo dan Marinus langsung diterbangkan ke Morowali, sedangkan jenazah Dominggus dikebumikan di Palu.

Tibo dkk telah meminta semua keperluan setelah eksekusi hingga ke pemakaman itu disiapkan oleh pihak keluarga dan orang-orang yang peduli terhadap mereka. Berdasarkan Pasal 15 Penetapan Presiden RI Nomor 2 Tahun 1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati, penguburan diserahkan kepada keluarga atau sahabat terpidana.

Kontroversi

Tuntutan untuk penangguhan, bahkan, pembatalan eksekusi terhadap ketiga terpidana mati itu terutama dipelopori oleh masyarakat Kristiani yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Mereka berdemonstrasi di Jakarta, Makassar, Palu, dan Manado, Kupang, Maumere, Larantuka, Ende dan beberapa daerah lain. Sementara itu, tuntutan agar eksekusi segera dijalankan datang dari ratusan pemuda dan mahasiswa Muslim yang mendatangi Mapolda dan Kejati Sulteng di Palu, hari Rabu, 5 April 2006. Mereka berasal dari PMII, IPNU, IPPNU, DDI, dan Badan Eksekutif Mahasiswa STAIN Datokarama, Palu.

Pihak yang menuntut penundaan atau pembatalan eksekusi Tibo, Riwu, dan da Silva beralasan bahwa ada bukti ketiga terpidana mati itu tidak melakukan serangkaian pembunuhan seperti yang dituduhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Palu. Sembilan saksi baru dalam sidang PK II perkara Tibo, dkk yang berlangsung di PN Palu, 9 Maret lalu, membantah tuduhan jaksa, bahwa trio itu memimpin sekitar 130 orang untuk membunuh penduduk Kelurahan Moengko Baru dan Kayamanya, pada tanggal 23 Mei 2000, pukul 03:30 WITA. Mereka sebaliknya menyaksikan Tibo, dkk berada di kompleks gereja dan sekolah St. Theresia di Poso, antara tanggal 22-23 Mei 2000, untuk melindungi dan mengevakuasi puluhan anak sekolah di malam hari ke Desa Temabaru.

Sebaliknya, pihak yang menuntut supaya eksekusi segera dijalankan, berdalih sebagai wujud ketaatan kepada hukum, maka eksekusi Tibo dan kawan-kawan harus dipercepat, seperti kata M. Subhan, Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Tengah, dikutip oleh Koran Tempo, 6 April 2006. Kepada koran yang sama ia mengulangi keterangan polisi tentang “pengakuan-pengakuan” Tibo dan Dominggus, tentang banyaknya orang Muslim Poso yang mereka bunuh.

Ada juga tuntutan penangguhan eksekusi yang datang dari kalangan lintas agama. Lima pemuka agama, yakni KH Abdurrahman Wahid, Julius Kardinal Darmaatmadja, Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe, Bhikku Dharmawimala, dan Ws. Budi S. Tanuwibowo memohon kepada Presiden SBY untuk menunda eksekusi terhadap Tibo, Riwu dan da Silva, dengan pertimbangan sebagai berikut.

* Pertama, alasan kemanusiaan, mengingat ketiga terpidana mati itu masih mempunyai hak menunggu untuk mengajukan grasi kembali selama dua tahun, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
* Kedua, untuk menjaga kerukunan di wilayah Poso dan sekitarnya.
* Ketiga, keputusan pemerintah yang terkesan tergesa-gesa akan menimbulkan pertanyaan besar, dan
* Keempat, demi terciptanya suasana adil dan damai di Poso dan Palu, ketiga terpidana mati itu sebaiknya dipindahkan ke tempat lain.

Sikap yang juga tidak diwarnai keberpihakan kepada salah satu komunitas agama, ditunjukkan oleh Poso Center, aliansi 30 ornop di Palu, Poso, dan Tentena, yang lahir dari kampanye bersama untuk menyeret para pelaku korupsi dana bantuan kemanusiaan pengungsi Poso ke meja hijau. Mereka pun menuntut supaya eksekusi mati terhadap Tibo, Riwu dan da Silva ditunda dulu

Saat eksekusi belum dilakukan, Keuskupan Manado dan kalangan Katolik akan terus berusaha agar pelaksanaan eksekusi tidak dilakukan. Hal ini ditegaskan langsung Uskup Manado Mgr Josephus Suwatan MSC. Menurut Suwatan hingga kini mereka tetap belum yakin bahwa Tibo cs memang bersalah dan layak dihukum mati. Karena sejumlah bukti justru meringankan mereka.

Senada dengan Suwatan, Ketua Umum Pucuk Pimpinan KGPM Gembala Tedius Batasina, Ketua SAG Sulutteng Pdt J. Sumakul, Ketua Umum Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Pdt Dr. Lefrant Lapian, Ketua Dewan Sangha Budha Sulut dan Indonesia Bhikku Dharma Surya Maha Sthavhira sama-sama berpendapat bahwa penghukuman mati adalah hak Tuhan karena Ia yang menciptakan manusia.

Tiga pemimpin agama di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah juga menyampaikan seruan kemanusiaan, minta pihak berwenang dan khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mempertimbangkan kembali rencana pelaksanaan eksekusi mati terhadap Tibo, Marinus dan Dominggus. Alasannya karena novum (bukti baru) yang ditemukan melalui sidang Pengadilan Negeri Palu tertanggal 9 Maret 2006 lalu sampai hari ini belum dipakai oleh penegak hukum guna mencari kebenaran materiil atas kasus tersebut. Dalam surat seruan kemanusiaan tertanggal 10 Agustus 2006, ketiga tokoh agama Sulawesi Utara, masing-masing Uskup Manado yang sekaligus membawahi wilayah pelayanan Sulawesi Utara dan Tengah Mgr Joseph Suwatan, Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Utara KH Arifin Asegaf dan President of Asia Fellowship of Mission 21 Partner Churches Dr Nico Gara menyampaikan seruan yang menyatakan menolak pelaksanaan hukuman mati Tibo cs yang diyakini belum berkeadilan dan belum didapati kebenaran materiil. Menurut mereka, pelaksanaan hukuman mati kepada ketiga Tibo cs belum berkeadilan karena belum didapati kebenaran materiil, antara lain tidak dipertimbangkannya novum dalam sidang Peninjauan Kembali yang dilaksanakan oleh Tim Lima Hakim Agung pada tanggal 9 Mei 2006, dan lebih sungguh tidak masuk akal menuduh Tibo cs menyerang kompleks Moengko, yang notabene adalah kompleks peribadatannya sendiri. Demikian juga tempat sekolah dan asrama anak-anak mereka sendiri. Dengan demikian sekurang-kurangnya materi tuduhan tentang peristiwa di kompleks Moengko pada tanggal 23 Mei 2000, pasti tidak benar. [3]

Menurut Undang-undang Grasi Nomor 22 Tahun 2002, Tibo dkk masih mempunyai hak untuk mengajukan grasi kedua. Dan, pada pasal 3 UU itu disebutkan bahwa permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan pemidanaan bagi terpidana, kecuali dalam hal putusan pidana mati.

Eksekusi mati
22 September 2006, dini hari, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu menjalani eksekusi mati di Poso, Provinsi Sulawesi Tengah di hadapan regu tembak dari kesatuan Brimob Polda setempat. Mereka menjalani eksekusi mati secara serentak selama kurang dari lima menit mulai pukul 01:10 WITA di sebuah tempat yang masih dirahasiakan di pinggiran selatan Kota Palu. Berselang beberapa menit kemudian, jazad ketiga terpidana yang benar-benar telah dinyatakan meninggal dunia segera dimandikan oleh puluhan petugas yang sudah bersiaga di tempat kejadian perkara (TKP). Lalu, masing-masing mereka dipakaikan setelan jas yang sudah dipersiapkan. Selanjutnya, jenazah para terpidana dimasukkan ke dalam tiga peti mati yang tiga bulan lalu sudah dipersiapkan pihak Kejaksaan Negeri Palu selaku pelaksana eksekutor.

Sementara itu, kawasan Bandara Mutiara di pinggiran Selatan Kota Palu yang sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari telah disterilkan serta mendapatkan pengamanan ekstra ketat oleh ratusan aparat keamanan bersenjata lengkap, hingga pukul 05:30 WITA belum dibuka untuk umum. Kuat dugaan sebuah bangunan di salah satu bagian bandara terbesar di provinsi Sulteng ini dijadikan tempat menyemayamkan jenazah Tibo dkk, sebelum dibawa ke tempat penguburannya.

Jenazah Tibo dan Marinus akan diterbangkan ke Soroako, Sulsel, menggunakan pesawat udara. Selanjutnya dari Soroako diseberangkan ke Danau Towuti, untuk kemudian dibawa melalui perjalanan darat ke desa Beteleme, ibukota Kecamatan Lembo di Kabupaten Morowali, guna dikebumikan di tempat domisili keluarganya. Sementara jenazah Dominggus langsung diangkut ke pekuburan Kristen Poboya, Palu Timur. [2] [3] [4]

Kejaksaan Agung menggelar jumpa pers, disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, I Wayan Pasek Suartha menjelaskan pelaksanaan eksekusi dipimpin pelaksana harian Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, Mahmud Manan, dengan pelaksana Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Ketiga terpidana dijemput dari LP Kelas II Petebo. 01.00 Wita, ketiga terpidana tiba di tempat pelaksanaan eksekusi. Selang 15 menit kemudian terpidana mendapat bimbingan doa dari rohaniwan Katolik, Yosep Katilitaba.

Eksekusi dilaksanakan di Desa Poboya, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Jumat 22 September, pukul 01.45 WITA atau pukul 00.45 WIB. Eksekusi dilaksanakan secara serentak di hadapan regu tembak dari Brimob Polda Sulteng yang terdiri dari tiga regu, masing-masing regu 12 personel. Pukul 02.00 WITA, tim dokter yang terdiri dari 6 orang yang dipimpin dokter Haris menyatakan ketiga terpidana benar-benar telah meninggal.

Pukul 04.00 WITA jenazah dikenakan pakaian jas lengkap dan dimasukkan ke dalam peti jenazah. Prosesi pemakaman Dominggus da Silva dilaksanakan atau diselenggarakan negara di pemakaman Poboya, Palu Selatan, Palu, pukul 04.15 WITA. Sementara, jenazah Fabianus Tibo dan Marinus Riwu pada pukul 06.00 diberangkatkan ke Morowali, menggunakan pesawat helikopter milik Polda Sulawesi Tengah. Permintaan Dominggus da Silva untuk dimakamkan di Maumere tidak dipenuhi atas penentuan Kajati setempat, dan pemakaman Dominggus diselenggarakan negara.


Dimakamkan Sepihak
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Sulawesi mengecam keras sikap kepolisian yang langsung memakamkan jasad Dominggus da Silva, setelah eksekusi mati, di daerah Poboya, Palu, dekat Markas Brimob, tanpa memberi tahu pihak keluarga. Tidak lama setelah melakukan eksekusi terhadap ketiga terpidana mati kasus Poso, pihak kepolisian selaku eksekutor langsung memakamkan jasad Dominggus da Silva tanpa memberi tahu pihak keluarga yang sudah menanti di Gereja Santa Maria, Palu. Dengan penguburan sepihak itu, keluarga tidak sempat melihat jasad Dominggus. Dalam amanat terakhirnya Dominggus meminta pihak keluarga memakamkan jazadnya di tempat asalnya di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Polisi pun ingkar janji untuk membawa jazad Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu ke Gereja Santa Maria, rencananya pihak keluarga akan melakukan misa requem.

Akhirnya, misa yang dipimpin oleh Pastor Gereja Santa Maria, Melky Toreh, berlangsung selama 45 menit. Foto tiga terpidana mati dipajang di dalam gereja dengan tiga peti mati kosong. Dini harinya pihak kepolisian yang diwakili oleh Victor Batara sepakat memenuhi permintaan keluarga para terpidana agar menghadirkan jasad mereka pada misa pukul 09.00 WITA.

Namun ternyata polisi langsung menerbangkan jazad Fabianus Tibo dan Marinus Riwu ke Beteleme dengan pesawat kepolisian pada pukul 06.00 WITA. Tidak ada alasan yang jelas dari pihak kepolisian kepada keluarga atas pengingkaran janji itu.

Pesan-pesan terakhir para terdakwa mati seperti yang dilansir harian Suara Pembaruan:

Fabianus Tibo
"Kami tidak takut dengan eksekusi ini. Kami siap dieksekusi meski kami menolak eksekusi ini. Kami tidak bersalah. Dengan keluarga, kami merasa sangat berat. Kami telah menelantarkan mereka selama ini. Kami hanya mampu berdoa untuk mereka agar memaafkan kami. Terima kasih untuk semua pihak yang bantu keluarga selama ini. Terima kasih pula untuk semua orang yang mengusahakan supaya kebenaran dan keadilan diungkap dan ditegakkan. Kami merasa bahwa Tuhan memberikan yang terbaik selama ini."

Marinus Riwu
"Untuk eksekusi ini saya tidak takut. Saya tidak bersalah, tapi saya siap menghadapi kematian ini. Saya yakin di surga akan berjumpa suatu saat dengan istri dan anak.
Saya sungguh merasa kuat. Sudah enam tahun lebih saya berdoa di sini. Saya selalu bertanya apa yang sebenarnya yang dituduhkan kepada kami? Ini hanya upaya melindungi 16 nama. Tangan saya bersih dari darah."

Dominggus da Silva
"Saya cuma numpang lewat di Jamur Jaya (Kabupaten Morowali), tapi akhirnya saya harus ada di sini. Hidup dan mati, Tuhan yang menentukan, maka saya tidak takut menghadapi masalah ini. Keadilan tidak berpihak kepada kami, masyarakat kecil. Kurang lebih tujuh tahun kami ungkapkan kebenaran, tapi selalu dibungkam aparat penegak hukum. Walaupun saya sudah mati, saya tetap tidak terima eksekusi mati itu." (dari berbagai sumber)

Tibo, Marianus, Dominngus bersama Uskup Manado Mgr Yoseph Suwatan MSC saat beliau memberikan salib dari Paus


Selamat Jalan Martir dari Bumi Nusa Nipa..

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---