Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Wednesday, 6 October 2010

Turnamen Tingkat Pelajar SLTA Se-Kabupaten Sikka Resmi di Mulai

Berlangsung dari 6 Oktober 2010 hingga 20 Oktober 2010
Dalam rangka memeriahkan Hari Sumpah Pemuda ke-82, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sikka mengadakan Turnamen Sepak Bola dan Voli Antar Pelajar SLTA se-Kabupaten Sikka. Turnamen yang dibuka oleh Kepala Dinas PPO Kabupaten Sikka Yohanes Rana, 15.00, Rabu (06-10-2010) di Gelora Samador da Cunha ini diikuti 21 sekolah dari tingkat SMA dan SMK. Dihari pembuka, turnamen tersebut dijubeli ratusan pelajar dari berbagai sekolah didua lapangan yang berada ditengah kota yakni Lapangan Samador dan Lapangan Kota Baru Maumere. Pada hari tersebut juga dipertandingkan cabang sepak bola dan voli. Dicabang sepak bola, SMKN (STM) Maumere secara gemilang mengkandaskan SMAK Frater Maumere dengan skor 2 : 0 lewat gol Rivandi 19, 35. Di bola voli putra, SMAN Bola kalah 2:1 atas SMA Rubit,

Sedangkan pertandingan antar SMAK St Mathilda melawan SMA Rolindalu Paga dihentikan sementara karena kericuhan dan protes dari kedua belah pihak terhadap wasit pertandingan.

Dijelaskan oleh Ketua Panitia turnamen Stef Edison bahwa tujuan turnamen adalah untuk mendapatkan bibit-bibit atlet dikalangan pelajar sekaligus persiapan tim pelajar Kabupaten Sikka menghadapi Liga Pelajar SLTA tingkat Propinsi NTT. Kepala Bidang Dinas PPO Sikka tersebut juga mengatakan Liga Pelajar Tingkat SLTA tersebut akan dilaksanakan di Kupang tanggal 29 Novemeber 2010 mendatang.

“Turnamen ini juga bertujuan untuk memupuk “Fair Play” serta menjalin kerja sama dan persahabatan antar pelajar SLTA se-Kabupaten Sikka,” jelas lulusan IKIP PGRI Malang ini.

Turnamen yang menyedot ratusan pelajar di hari pertama pembukaan ini akan berlangsung dari tanggal 6 Oktober 2010 sampai 20 Oktober 2010. Setiap pertandingan berlangsung setiap hari dimulai pukul 15-00 hingga 18.00 dan berlangsung di dua lapangan yakni Lapangan Samador da Cunha dan Lapangan Kota Baru Maumere.

Turnamen terbagi dalam dua cabang olah raga yakni sepak bola dan bola voli. Sebanyak 17 tim sepak bola putra akan turut ambil bagian dan sebanyak 12 tim sepak bola putri ikut bersaing.
Di Bola Voli, 20 tim putra dan 16 tim putri akan turut berpartisipasi memeriahkan turnamen.

Meski bertujuan untuk memupuk fair play diantara para siswa namun di pertandingan antara SMAK Mathilda melawan SMA Rolindalu terhenti sementara akibat protes atas keputusan wasit. Akibatnya kedua kubu saling adu argumen yang akhirnya panitia memutuskan menunda pertandingan tersebut.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 4 October 2010

SMS GRATIS Online ke Semua Operator

Disaat-saat sedang asyik online tiba-tiba ada sms masuk dan harus dibalas dengan segera, padahal kita pu pulsa sudah habis....huaaaaa, mau keluar malas...Mhhhhhh..Untung saja ada SMS Online Gratis ini...
Silahkan nikmati Fasilitas SMS GRATIS ke semua Operator di Seluruh Indonesia. Mantap kan?!! Seeep kan?? Mhhh hare gene pulsa habis?? Padahal pengen SMS ke temen atau (mungkin) pacar atau selingkuhan hehehe....uppss..sory eee..
nah caranya gimana?? gampang...lanjutkan bacanya ya..
Pertama Ketik Nomor Tujuan Anda, misalnya 085234969xx atau 0812394441xx. Kemudian ketik pesan Anda paling banyak 160 karakter.

Jika lebih maka pesan Anda akan terputus.

Oya PENTING.

Jangan lupa ketik "dari... (nama anda), ini nomor hape temen, balas di nomerku aja". Karena nomor yang keluar di hape tujuan akan bernomor normal seperti biasa (bukan nomor kita/nomor asing). :-)

Oya, disini kita tidak akan bisa untuk menerima balasan SMS. Selamat Mencoba ya, epang gawan alias makasih su mau berkunjung hehee..


Langsung ke TKP..


selamat menikmati :-)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Friday, 1 October 2010

Putri Indonesia NTT 2010, Freska Gousario Siap Harumkan NTT

Dukung Freska Gousario Melalui Polling SMS

Saat berita ini dinaikan, Freska Gousario Putri Indonesia NTT 2010 telah berada di Jakarta untuk memulai masa karantina. Freska akan dikarantina sampai memasuki Grand Final 8 Oktober 2010 pukul 20.00 WIB yang disiarkan live oleh televisi swasta, Indosiar. Bersama 38 Putri Indonesia lainnya (dari 33 propinsi), Freska akan memperebutkan predikat Putri Indonesia 2010 di Assembly Hall, Jakarta Convention Centre, yang juga akan dihadiri Miss Universe 2010, Ximena Navarette dari Meksiko. Lewat inimaumere.com, Freska mengharapkan doa dan dukungan dari semua masyarakat NTT dimana saja berada agar perjuangannya di Jakarta meraih hasil maksimal.
Dua bulan lalu, setelah terpilih sebagai Putri Indonesia NTT 2010 dengan menyingkirkan 11 finalis lainnya, Freska Gousario melakukan kunjungan ke Kota Maumere. Di kota ini Sang Putri melakukan beberapa kegiatan. Diantaranya mengunjungi Toko Buku Gramedia dan bereuni di almamaternya SMUN I Maumere.


Kepada inimaumere.com Freska menceritakan kenangan saat menjalani studi selama selama 3 tahun di ibu kota Kabupaten Sikka. Di kota ini, ia mengumpulkan beberapa prestasi juga sejuta kebanggaan.

“Sungguh sangat berharga memiliki kesempatan untuk mencintai Maumere seperti kota kelahiran sendiri. Disini saya mendapati guru-guru pendidik yang banyak membantu dan mendukung serta mendorong saya di semua kegiatan sekolah baik di teori maupun praktis. Saya tak dapat melupakan itu semua,” tutur Freska di emailnya kepada inimaumere.com.

Gadis kelahiran Kupang 19 Februari 1988 ini setelah menamatkan sekolah di SLTPK St. Theresia Kupang melanjutkan sekolah menengahnya di SMUN I Maumere di tahun 2003. Tamat 2006 ia meninggalkan Maumere dan melanjutkan kuliahnya di Kupang.

Mahasiswi semester sembilan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang sedang menyelesaikan skripsinya ini mengalahkan Yunilia Edon yang menjadi runner-up dan Triyanti Ladju yang berada di peringkat ketiga.

“Tidak pernah menyangka bisa menang. Saya sangat bersyukur, ini merupakan anugerah Tuhan terindah buatku," ujar Freska bahagia.

Freska Gousario adalah anak kedua dari dua bersaudara (kakak laki-lakinya, almarhum Krisye Gousario). Terlahir dari pasangan ayah (almarhum ) Kenche Gousario asal Timor Tengah Selatan (TTS) & Mama Tris Amalo asal Rote. Sekarang Freska hanya hidup berdua dengan ibunya yang selalu menjadi teladan, panutan dan kekuatannya menjalani hidup. Ibu Tris Amalo, Mama yang sangat dicintai Freska bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah toko bangunan di Kota Kupang.

“Dengan segala bantuan dan pertolongan Tuhan, sehingga melalui orang-orang terdekat, saya pun bisa dikuliahkan hingga saat ini. Berbagai hal saya coba untuk bisa lebih maju dari 'hari ini',“ ujar dara manis yang pernah bekerja sebagai operator warnet, sales, dan beberapa pekerjaan lainnya.

Setelah terpilih, ia menegaskan, siap mempromosikan NTT ke ajang nasional dan internasional. Ada banyak tempat pariwisata, keanekaragaman budaya, dan sumber daya alam NTT yang harus diketahui masyarakat banyak.

Dia juga bertekad akan mengubah citra (image) NTT yang hanya dikenal sebagai provinsi miskin dan memiliki banyak masyarakat yang menderita busung lapar. NTT menurutnya, tidak seburuk citra tersebut. NTT adalah provinsi yang kaya dengan berbagai aneka ragam kerajinan, memiliki banyak tempat wisata nan indah, dan memiliki sumber daya alam yang luar biasa.

Menceritakan kembali kenangan indahnya selama menjadi siswa di SMUN I Maumere, Freska mengakui bahwa kenangan akan kota ini sungguh sulit untuk dilupakan.

“Keramahan penduduknya, keindahan alam, obyek wisata serta adat dan budaya yang sangat kaya dan menarik di Kabupaten Sikka dan Maumere telah meninggalkan sejuta teladan dan kenangan sepanjang hidupku, terima kasih Maumere, epang gawang,” tulis Freska.

Tahun 2008 Dona Kanena da Silva, yang berdarah asli Maumere pernah mewakili Propinsi NTT di ajang Pemilihan Putri Indonesia 2008. Saat itu Puteri Indonesia 2008 dimenangkan oleh Zivanna Letisha Siregar (DKI Jakarta 6). Ia mewakili Indonesia di ajang Miss Universe 2009. Dukungan pada Dona waktu itu sangat minim.

Kita semua tentunya berharap melalui Freska Gousario, ajang Pemilihan Putri Indonesia 2010 semakin mengharumkan nama NTT. Dukungan untuk Freska Gousario salah satunya bisa melalui polling SMS. Dukungan SMS untuk Freska ini karena panitia Putri Indonesia 2010 akan memilih Putri Kepulauan dan Putri Favorit dengan kriteria polling SMS terbanyak yang akan meraihnya.

***
Para wanita cantik dari bebagai daerah tersebut akan memperebutkan beberapa gelar yaitu, Puteri Indonesia 2010, Puteri Indonesia Lingkungan 2010 (Runner Up I), Puteri Indonesia Pariwisata (Runner Up II), Puteri Indonesia Persahabatan, Puteri Indonesia Berbakat, Puteri Indonesia Favorit dan Puteri Indonesia Kepulauan Favorit (Sumatera, Jawa , Bali NTT NTB, Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur).

Khusus untuk Puteri Favorit dan Putri Kepulauan diperebutkan melalui poling sms yang sudah bisa dipilih MULAI SEKARANG, dan yang menjadi Putri Indonesia nantinya akan dapat mewakili Indonesia di ajang Miss Universe 2011 nanti.

Dukungan untuk Freska Gousario Putri NTT 2010:

*Putri Favorit 2010, Ketik:

PPI [spasi] NTT


*Puteri Favorite Kepulauan, Ketik:

PPI [spasi] KEP [spasi] NTT

** Kirim ke: 9788

So, Grand Final 8 Oktober 2010 pukul 20.00 WIB, disiarkan live oleh televisi Indosiar

Ayo Dukung Freska..!!

Bergabung di Facebook dukungan

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Hujan Mulai Mengguyur Maumere

Kabupaten Sikka khususnya Kota Maumere dalam satu bulan ini terus diguyur hujan. Hujan yang turun dan membasahi keringnya alam Maumere disyukuri banyak orang tapi juga menghambat kegiatan dan aktifitas masyakat. Turunnya hujan terjadi dalam rentang waktu antara sore dan malam hari. Dengan intensitas waktu 2-3 kali dalam seminggu. Hujan yang turun terjadi tak merata antara gerimis dan lebat. Seperti yang terjadi tadi malam, Kamis, (30/09/2010), hujan yang turun cukup lebat dan disertai dengan angin yang cukup kencang. Hujan yang turun deras tersebut terjadi sekitar 30 menit yang disusul dengan padamnya aliran listrik selama hampir sejam. Usai hujan deras, gerimis tak ketinggalan terus membasahi Maumere. Meski begitu, angin yang cukup kencang tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.

Musim kemarau yang berkepanjangan dalam setahun ini menjadi berkah ketika hujan mulai turun dan menyirami tanah dan padang tandus. Seperti diketahui Kabupaten Sikka memiliki musim kemarau lebih panjang dari musim hujan. Dengan turunnya hujan dengan intensitas tinggi saat ini menghadirkan secerah harapaan. Debu dan panasnya udara sejenak bisa disingkirkan. Petani dan penggarap perkebunan bisa sedikit tertolong.

Tapi sampah pun berserakan dimana-mana. Selokan yang tersumbat akibat sampah yang menghadang arus air terjadi dimana-mana. Maumere memang indentik dengan sampah dan ketika hujan turun, terjadi banjir dibeberapa titik daerah. Sampah pun berserakan dijalan. Pemandangan yang sudah biasa terjadi kala musim hujan hadir.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 28 September 2010

Hokor Watu Apar, Berperang dalam Tarian

Kampung Hokor terletak di wilayah selatan Kabupaten Sikka, berjarak 39 Km dari Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Pualu Flores. Kampung Hokor berbatasan dengan Kampung Sikka dan Pomat. Sedikit berbeda dengan topografi kampung lain di Sikka, Hokor adalah kampung berbatu, diapit oleh dua buah bukit, Bukit Ilin Lhorat dan Ilin Pigang. Karena itulah Hokor sering mendapat julukan Kampung Watu Apar, kampung berbatu. Daerah berbukit dan berbatu ini memang semula (dahulu kala) merupakan wilayah ‘pengungsian’ orang-orang Hokor, yang lari dan mencari keamanan dari perang antar kampung, tetapi selanjutnya dipilih sebagai tempat menetap (kampung) dengan nama Hokor.
Nama kampung ini (Hokor), bila dicermati secara harfiah maka tidak akan ditemukan arti dan padanannya dalam bahasa Sikka. Diduga nama ini berasal dari kata bahasa Sikka, yakni “hogor” yang berarti bangun. Dugaan lain menyebutkan nama ini berasal dari nama sejenis burung yang bernama “Hokok”, yang pada awal kedatangan awal orang Hokor ketempat itu, burung itu ditemukan dan ditangkap tepat ditengah-tengah kampung itu.

Nenek moyang orang Hokor sebelumnya mendiami wilayah yang sekarang didiami orang-orang Sikka, Kampung Sikka. Diceritakan bahwa karena ulang Mong Baga Giluk bersama orang-orang sekampungnya (mereka yang mendiami Kampung Sikka sekarang) yang menggulingkan tempayan berisi kotoran manusia, orang-orang Hokor terpaksa melarikan diri dan berdiam didaerah yang sekarang dikenal dengan nama Hokor.

Meskipun sudah berada ditempat (Hokor) yang dianggap aman dari haluan musuh, orang-orang Hokor tak pernah luput dari gangguan luar seperti pencurian hasil panen ataupun serangan musuh. Orang-orang Hokor, karena itu, tidak bisa tinggal diam tetapi harus berperang melawan musuh.

Orang-orang Hokor yakin bahwa perang melawan musuh tidak lepas dari restu dan keterlibatan para leluhur. Oleh karena itu, sebelum berperang ritual adat harus dibuat. Selain sebagai tanda hormat kepada leluhur, ritual adat itu dimaksudkan agar para leluhur dilibatkan dalam peperangan. Menurut informasi, perang yang terjadi dahulu antara Hokor dan kampung-kampung sekitarnya selalu dimenangkan oleh orang-orang Hokor. Dengan perang, keberadaan dan indentitas sebagai satu kampung tetap eksis.

Syair berikut menjadi semboyan dan kahe orang-orang Hokor ketika berperang sekaligus menunjukkan bahwa orang-orang Hokor berkampung batu dan selalu menang dalam perang.

Hokor Watu Apar, guman gogo leron tolor, tubu nane rebu, kota nane korak, ponun puan helang ilin, ga ata maten gateng ata moret “

Hokor kampung berbatu, malam runtuh siang terguling, berpagar besi, bertatakan tempurung, asal mula jin dari gunung, melahap yang mati, menantang yang hidup”

Memang sudah lama Hokor sudah tidak terancam lagi oleh gangguan luar, namun kisah tentang perang dan kemenangan orang-orang Hokor ketika melawan musuh luar tidak pernah terlupakan. Selain dikisahkan turun temurun, perang dan kemenangan pun dibentukkan secara artistik menjadi tarian perang khas orang-orang Hokor yang dikenal dengan nama Tarian Bebing.

Ada banyak tarian yang dimiliki oleh orang-orang Hokor seperti Ro’a Mu’u (tarian potong pisang pada saat pernikahan), Tarian Sandang, Togo Pare (tandak untuk luruh padi). Sedangkan yang mengisahkan tentang perang antara orang Hokor dan kampung lain adalah Tarian Bebing. Tarian Bebing menjadi simbol heroisme orang Hokor.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 26 September 2010

Pesta Sambut Baru di Maumere

Pagi hari tinggallah tenda itu berdiri diam. Kursi-kursi ada yang tersusun rapi tapi ada pula yang dibiarkan tak beraturan. Banyak sampah yang berserakan. Musik yang berdentum dari sound sistem belum berhenti dari malam. Bahkan ada saja yang masih tertidur pulas keenakan diatas meja panjang. Pemandangan yang nampak biasa dihari ini seusai hari dan malam panjang yang melelahkan. Anak-anak yang berbahagia masih tertidur pulas dengan sejuta rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Baru saja mereka menjadi pusat perhatian penuh semua orang. Ciuman dan ucapan selamat, melebihi pengantin pernikahan. Orang tua juga demikian. Meski harus mengeluarkan biaya begitu banyak mereka tak peduli. Tak jarang demi memenuhi kebutuhan gengsi, orang-orang Maumere (Flores) rela hutang sana sini agar dapat mengadakan pesta Sambut Baru. Bukan rahasia lagi kok.

Hari Jumad, 25 September Kota Maumere, terutama di wilayah Paroki Thomas Morus Keuskupan Maumere sejumlah 397 anak-anak berusia kelas 5 SD mendapatkan Komuni Suci Pertama. Bisa dibayangkan. Ada 397 anak. Artinya kalo diasumsikan semua merayakan dengan membuat pesta berarti ada 397 tenda. Lebih dari 397 hewan yang disembelih. Terjadi perputaran duit yang tak sedikit dalam hari-hari tersebut. Tinggal hitung-hitung sendirilah.

Semua orang Maumere di Flores yang Katolik pernah mengalami kebahagiaan ini. Dimana ketika itu, sang anak mendapat anugerah istimewa oleh gereja untuk menerima Tubuh dan Darah Sang Kristus. Ketika itu umur mereka sekitar 10-11 tahun. Seperti sunatan, acara syukuran Sambut Baru bagi orang Flores juga diindentikan dengan pesta.

Untuk saat ini, Sambut Baru di Keuskupan Maumere tak dilakukan serentak se-keuskupan tapi telah dibuat bertahap. Misalnya kali kemarin bulan agustus untuk wilayah Paroki St. Yoseph dan lainnya, kali ini wilayah Paroki Thomas Morus dan lainnya.

Pesta Sambut Baru juga dibuat sedemikian meriah. Tamu undangan akan datang bergilir dari siang hingga malam. Bukan hanya satu dan dua rumah. Bisa saja sampai belasan rumah digilir. Tentu saja disetiap rumah disuguhkan makanan yang enak-enak, musik yang asik punya dan sebotol moke sebagai penghangat tubuh. Kalau kita mengunjungi sebuah tempat pesta dan menegguk moke 4 kali perpesta, bisa dibayangkan berapa kali kita menegguk moke. Tampaknya ini bukan halangan kok. Bagi sebagian besar orang Flores, pesta ya pesta. Tak mempedulikan apapun. Yang penting hepi dan asik. Nah kalau kita mendapatkan 10 undangan pesta, itung kan berapa biaya kado yang dikeluarkan.

Di sisi lain, Gereja tidak diam. Sudah sering gereja mengimbau umatnya agar pesta Sambut Baru dirayakan dengan tak berlebihan. Pihak gereja juga mengimbau kepada para keluarga agar uangnya ditabung untuk biaya sekolah anak, atau masa depan anak mereka.

Pernah terbersit untuk mengundang MURI (Museum Rekor Indonesia) agar mengabadikan acara tahuan ini kedalam rekor MURI. Selain di Flores belum ada tempat manapun yang dalam sebuah Kabupaten ada banyak tenda pesta dengan musik yang tak henti-hentinya berbunyi. Dan itu sampai ratusan tenda pesta.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 24 September 2010

GEREJA yang Diam?

Oleh: Justin L. Wejak, Dosen Kajian Indonesia di Universitas Melbourne, Viktoria, Australia

“Mengapa KWI (Konperensi Wali Gereja Indonesia) hanya diam menghadapi eksekusi Tibo Cs?” Demikian bunyi pertanyaan seorang imam dan misionaris Katolik dalam salah satu acara ceramah dan diskusi di Kota Melbourne (Australia) belum lama ini. “Paus Benediktus XVI mengeluarkan pernyataan sekaligus meminta pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali keputusan hukuman mati kepada Tibo Cs, tetapi KWI tidak pernah mengeluuarkan pernyataan apapun. Sang Pastor menambahkan, “Saya sebetulnya sangat kecewa dan ingin sekali menulis surat ke KWI untuk menyatakan sikap penyesalan saya atas sikap KWI itu”, cetusnya lagi.

Pada 11 agustus 2006, Paus Benediktus menyurati Presiden RI Susilo bambang Yudhoyono yang meminta pemerintah RI mempertimbangkan kembali keputusan dan pelaksanaan hukuman mati kepada Fabianus Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus da Silva terkait kasus Poso.

Surat Paus itu ditanggapi SBY dengan positip. Eksekusi Tibo Cs yang seharusnya dilaksanakan pada 12 Agustus 2006 di tunda. Namun, tidak ada spesifikasi durasi penundaan dan kalau hukuman mati Tibo Cs dibatalkan.

Namun akhirnya, dini hari 22 Sepetember 2006, Tibo Riwu dan da Silva dieksekusi oleh negara di Palu, Sulawesi Tengah. Mereka dinyatakan terlibat dalam kekerasan berdarah yang diwacanakan secara dominan sebagai kekerasan antar agama Islam dan Kristen di Poso.

Tibo Cs dinyatakan terlibat sebagai pelaku dilapangan dan (lebih) sebagai otak serangan kelompok nasrani terhadap kaum muslim, khususnya selama Kerusuhan Poso III, Mei- Juli 2000. Mereka adalah transmigran asal Flores beragama Katolik Roma.

Tuduhan keterlibatan Tibo Cs mati-matian disangkal oleh mereka dan tim hukum dengan bukti-bukti, namun tidak di gubris. Pilihan untuk tidak menguji bukti-bukti baru atau novum akhirnya menggiring Tibo Cs dalam ketidakberdayaan untuk ditembak.

Akademisi Dr. Paul Budi Kleden SVD, alumnus Universutas Freiburgh (Jerman) dan dosen STFK Ledalero Flores dalam ceramah dibawah tajuk "Gerakan Perlawanan Eksekusi Tibo Cs dan Pengaruhnya Bagi Masyarakat Akar Rumput di Flores”, di Universitas Melbourne tertanggal 14 Agustus 2010 menyebutkan bahwa surat Paus ini dianggap sebagai sesuatu yang berhasil. Ditambahkan bahwa surat ini kemudian dijadikan rujukan dalam doa-doa bersama agar pelaksanaan eksekusi Tibo Cs tidak hanya ditunda tapi dibatalkan. Hak hidup adalah hak paling hakiki dari manusia yang harus dihormati dan dilindungi.

Dr Kleden juga menyebutkan Surat Gembala oleh Uskup Maumere, Mgr. Vincent Sensi Pr, kepada para pastor, biarawan/biarawati, umat khatolik dan semua orang yang berkehendak baik di Keuskupan Maumere tertanggal 19 Agustus 2006. Demikian penggalan surat Gembala itu: ‘kita menolak eksekusi mati kepada tiga saudara kita diatas, karena menurut keyakinan kita sebagai umat beriman, anugerah kehidupan merupakan anugerah tertingi yang diberikan Tuhan kepada ciptaan-Nya. Sebab itu kami menolak segala bentuk pengambilan hak hidup atas alasan apapun.

Sila pertama dari Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa secara intrinsik menyokong isi iman ini. Pancasila menghormati iman agama bahwa membunuh itu tidak boleh karena tidak baik. Akan tetapi negara dengan Pancasila sebagai filsafat negara ternyata masih membunuh orang dengan pemberlakuan hukuman mati. Maka jelas negara telah melanggar Pancasila itu sendiri yang menghormati isi iman agama yang melihat kehidupan sebagai anugerah tertinggi dari Tuhan kepada ciptaan-Nya.

Dalam terang sila pertama dari Pancasila saja, hukuman mati bertentangan dengan Pancasila dan oleh karena itu haru dihapus kalau Pancasila tetap menjadi filsafat negara. Negara harus memilih Pancasila atau hukuman mati? Tidak bisa dan tidak boleh kedua-duanya sekaligus!

Uskup Atambua Mgr. Anton Painratu SVD, adalah sosok lain yang peka terhadap persoalan kemanusiaan dan keadilan. Beliau ikut turun kejalan untuk menyatakan protes tehadap keputusan pengadilan mengeksekusi Tibo Cs. Beliau mengungkapkan penyesalan yang mendalam setelah Tibo Cs ditembak pada 22 september 2006 di Palu.

Para pastor dan biarawan/biarawati se-NTT, dalam cara dan kapasitasnya masing-masing ikut mendesak agar hukuman mati tersebut dibatalkan. Bahkan pemuka agama-agama lain di NTT ikut memperkuat front penolakan eksekusi Tibo Cs.

Sikap mereka jelas namun mengapa KWI yang berkantor dipusat kekuasaan negara tidak bisa menyatakan sikapnya untuk menolak? Membiarkan para Uskup bergerak dengan inisiatif sendiri di wilayah keuskupannya dapat mempertanyakan keutuhan Gereja Katolik Indonesia dibawah komando KWI.

Gereja-gereja Katolik Roma sangat dihargai oleh karena ajaran-ajaran sosialnya. Namun kegagalan KWI menyatakan penolakan terhadap eksekusi Tibo Cs merupakan sesuatu yang patut disayangkan. Pertanyaannya, mengapa KWI tidak menyatakan penolakan? Sejauh mana kegagalan KWI ini merupakan cermin ketakutan politis terhadap kekuasaan pusat?
Memang KWI yang diam telah lama menjadi semacam pattern atau pola. Pola ini telah lama terbentuk sehingga untuk mengubahnya diperlukan keberanian untuk mulai dan kesabaran.

KWI yang pada tahun 1960-an masih disebut MAWI terkesan diam ketika ratusan ribu orang-orang kecil dibantai oleh negara atas tuduhan memiliki afiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tuduhan komunis ini tetap tanpa bukti hingga saat ini karena tidak ada proses hukum Namun, afilasi dengan PKI tidak pernah boleh dipandang sebagai kejahatan dalam sebuah negara dengan hukum yang melindungi hak berafiliasi. Saat itu PKI merupakan partai resmi.

Pembunuhan massal atau genocide sebagai konsekuensi logis dari G.30.S dibiarkan terjadi olejhMAWI tanpa ada suatu pernyataan tegas yang menolak. Elit Partai Katolik dan elit MAWI (KWI) tidak pernah menyatakan penyesalan apalagi meminta maaf atas tragedi kemanusiaan itu. Gereja sebagai institusi bahkan memiliki hubungan khusus dengan pemerintah Orde Baru (1966-1998), yang justru dibangun atas darah korban kekerasan negara.

Mendiang Gus Dur, atas nama NU, justru telah dengan rendah hati meminta maaf kepada para korban pembantaian 1965-1966 atas keterlibatan anggota NU. Tetapi mengapa elit Partai Katolik tidak? Demikian pertanyaan menyindir yang pernah disampaikan oleh Ahli Indonesia Benedikt Anderson.

Sikap diam KWI terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan seperti yang terjadi dalam kasus Tibo Cs mencerminkan sikap yang bertentangan dengan ajaran sosial gereja. Gereja sebagai institusi yang diharapkan memihak kaum kecil dan tertindas ternyata telah membiarkan kaum ini menjadi korban rekayasa kepentingan kekuasaan. Menyuarakan suara kaum tertindas adalah tugas Gereja sebagai institusi.

Memang diam bisa berarti melawan, namun bisa pula berarti PATUH.

Penulis, meneliti “Peranan Gereja Katolik dalam Peritiwa-Peristiwa Politik 1960-an di Indonesia”, dan Dosen Kajian Indonesia di Universitas Melbourne, Viktoria, Australia.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---