Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Monday, 10 January 2011

Lodong Balik: Ritual Nelayan Sikka Melepas Sope Ke Laut

Oleh: Hersumpana
Trala-lala trala
Hela-hela golo mai tarai
Hai ho hela hela o geso-geso
(tariklah dengan benar, ayo beranjak maju-maju)
Sambil bernyanyi syair pembangkit semangat, sekitar dua puluh orang bapak- bapak, pemuda dan ibu-ibu bersama-sama menarik sope (kapal nelayan kecil) ke laut, hela-hela geso-geso, sorong terus hingga ke laut. Orang-orang kemudian bersorak. Itulah bagian puncak ritual lodong balik yang dilakukan oleh para nelayan laut selatan Sikka, yang terletak di Pulau Flores bagian tengah, sekitar 25 kilometer dari Kota Maumere.
Ritual adat menarik Sope ke laut ini dilakukan saat pagi hari ketika matahari beranjak naik di balik Bukit Kelelawar yang ada di sebelah timur pantai berbatasan langsung dengan Laut Sawu, Samudra Hindia. Ritual adat ini dipimpin oleh tetua dari famili Keluarga Parera, Bapa Omi, begitu orang memanggilnya. Bahan-bahan yang digunakan sirih pinang, bako, kapur, kelapa, benang putih, daun huler, kain putih dan ayam.

Kain putih ini berfungsi untuk membungkus welo gois (tai-tai kayu kapal dan peralatan lain, ditambah kepala ayam) diikat dengan tali lalu dibuang ke laut. Welo gois adalah simbolisasi dari halangan atau hal buruk, perlu dibuang ke laut agar terbebas dari bahaya.

Ritual adat ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan hala (halangan) bagi para awak kapal. Maka, dipilih orang yang bisa dipercaya dan masih ada hubungan famili dari pemilik kapal. Semua nelayan yang akan mengawaki sope duduk dekat-dekat dengan pemimpin ritual. Ritual ini diawali dengan mengambil sedikit goresan kayu, cat, atau peralatan apa saja yang ada di kapal yang kemudian ditambah kepala ayam dan dibungkus dengan kain putih. Kain ini selanjutnya dilarung ke laut oleh salah seorang sanak keluarga pemilik kapal.

Selanjutnya, pemimpin ritus membagikan sirih pinang dan rokok, semua anggota keluarga harus ikut makan dan merokok. Ketika memberikan sirih pinang tersebut tetua adat menyebut nama setiap arwah dari orang tua pemilik kapal sambil mengucapkan doa-doa.

Ina nian tana wawa ama moang blupur gete Blupur gete reta nirang tion Himo tion tear belang

(Allah Yang Maha Besar yang tinggal di tempat tinggi
Terimalah dan pertimbangkanlah persembahan kami)

Diat mi nawang bui dokang menik bano bele Blewar hure bano gele Lau watu hewar bura Lerong ena war bura

(Berilah yang manis untuk menunggu di tempat
Tebar pergilah mencari
Di tengah laut ada batu memutih
Hari ini seruan bahagia)

Kemudian semua awak kapal diperciki air kelapa dengan daun huler dengan mengucapkan doa-doa penyejuk dan penolak bala berikut:

Aha le’u waang tawa tati le’u tali dagir waing Heing plepang le’u karang kaet ‘alang Blatang ganu wair sina reta napung Blirang ganu kabor bali wali wolong

(Cabut rumput yang menghalang
Potong tali yang tersangkut di kaki
Sibak duri-duri yang menyangkut di kepala
Dingin seperti air Cina di sungai
Angin berhembus sepoi-spoi seperti nyiur kelapa Bali yang ada di bukit)
Bura nora miu (bahagia beserta anda sekalian).

Setelah itu acara menarik kapal dilakukan bersama-sama sambil menyanyi lagu pembangkit semangat. Dahulu orang-orang yang menarik kapal ke laut ini minum moke, minuman beralkohol terbuat dari sulingan buah enau atau lontar. Tanpa moke, dirasakan kurang semangat, tidak lengkap.

Pagi itu tidak ada moke, mereka bernyanyi saja. Banyak orang yang ikut menarik termasuk ibu-ibu, aku juga ikut mendorong kapal itu. Kapal memang berat, semua orang sampai keringatan sambil berteriak mendorong sekuat tenaga kapal itu masuk ke air laut. Moke baru disuguhkan setelah pekerjaan selesai. Para nelayan diundang oleh pemilik kapal untuk syukuran dengan makan bersama sambil minum moke dan merokok (musung bako).

Mematri Ingatan
Ritual lodong balik sudah lama tidak dilakukan di Sikka, orang-orang muda mulai melupakannya. Ini menjadi memori bagi para nelayan tua Sikka akan masa kejayaan mereka 20 tahun lalu ketika mereka masih melaut, sekaligus momentum untuk para nelayan muda masa kini. Kekayaan laut selatan sangat besar, merupakan sumber kehidupan hampir seluruh penduduk Sikka. Beberapa orang muda Sikka yang kembali dari merantau sekarang ini memilih jadi nelayan. Hasil dari menangkap ikan cukup menjanjikan dibanding bekerja di ladang atau menenun.
“Sekarang ini kehidupan sulit, daratan tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, lautan merupakan kekayaan terpendam yang maha luas”, demikian kata Kepala Desa Sikka, Hipotalis Kerwayu yang ikut dalam prosesi ritus lodong balik.

Teknik menangkap ikan nelayan Sikka, nelayan asli Flores, masih tradisional. Sebagian besar masih menggunakan sampan-sampan kecil (gepung) yang dikayuh dengan dayung, untuk melepas long line atau teknik pancing dengan menggunakan senar yang panjangnya mencapai dua ratus meter dengan ratusan mata kail.

Mereka kalah bersaing dengan nelayan-nelayan dari Bugis, Wajo, dan Buton yang menguasai sebagian besar wilayah pantai Flores. Mereka sudah menggunakan kapal-kapal besar yang berbobot sekitar 10 – 30 ton dan mengunakan pukat harimau. Hasil tangkapan nelayan Sikka tergolong kecil. Dalam satu malam, jika beruntung, mereka mendapat ikan sekitar 50-100 kg berbagai jenis. Mereka mendapat hasil cukup besar jika berhasil menangkap ikan merah. Satu ekor ikan merah besar dengan bobot 30 kg bisa mencapai harga 200 ribu rupiah. Jika mereka mendapatkan ikan babi (i‘ang wawi) meski besar dan panjangnya mencapai 2 meter tetapi harganya murah. Ikan yang paling laku keras adalah ikan tembang. Jika mereka menjual ikan tembang di pasar Maumere dengan menyebut tembang lela, dalam sekejap ikan habis diserbu pembeli. Ikan jenis ini kecil-kecil tetapi lezat rasanya. Ikan tembang ini menjadi semacam “identitas” atau trend mark jaminan kelezatan, ikan- ikan segar dari pantai selatan Sikka.

Pekerjaan melaut di tengah derasnya ombak laut selatan dengan menggunakan sampan-sampan kecil ini, memang berat. Konon, menurut tuturan Bapa Omi ada masa di mana banyak perempuan Sikka menjadi janda karena para lelaki yang pergi melaut tidak berumur panjang.

Banyak dari mereka menderita penyakit dan mati muda akibat hantaman ombak laut selatan yang keras. Penggunaan kapal bermesin menjadi satu cara untuk mengatasi kerasnya ombak dan meningkatkan hasil tangkapan. Ritual lodong balik ini menandai dimulainya penggunaan kapal-kapal bermesin diesel untuk meningkatkan hasil tangkapan dan meringankan beban kerja para nelayan. Kapal nelayan bermesin dengan 3-4 awak ini bisa mendapatkan hasil yang lebih besar. Penghasilan mereka semalam mencapai 1- 2 juta rupiah. Jika menggunakan sampan- sampan kecil (gepung) semalam pendapatan mereka rata- rata hanya bisa untuk makan sehari atau sekitar 50 ribu – 100 ribu.

Pekerjaan nelayan di Sikka ini kurun waktu terakhir kurang menarik minat karena banyak nelayan besar dari daerah lain menggunakan bom ikan di lingkungan perairan mereka. Mereka berasal dari Paga dan Ende, bahkan ada yang dari Jawa Timur.

Bom-bom ikan itu banyak menghancurkan terumbu-terumbu karang tempat tinggal ikan, sehingga ikan-ikan menjadi tidak berkembang dan berkurang populasinya. Dahulu orang Sikka setiap hari bisa melihat ikan-ikan lumba-lumba bermain-main di laut lepas, sekarang ini tidak ada lagi. Ritual lodong balik mencoba mematrikan kembali kesadaran para nelayan untuk bijak dalam menangkap ikan. Kembali meniupkan semangat kebersamaan di antara para nelayan sekarang. Tampaknya ini akan menghadapi tantangan besar perkembangan zaman yang lebih menekankan pencarian keuntungan sebagai motif utama dalam pencarian ikan.
Ironi (kegetiran)
Seringkali terjadi olok-olokan di antara para nelayan dengan para pemborong ikan. Ketika mereka berkumpul sambil minum moke dan membakar pisang, percakapan menjadi menarik.

Mereka menceritakan pengalaman-pengalaman mereka, baik sebagai nelayan maupun pengalaman-pengalaman lain ketika mereka merantau ke luar daerah. Bagi mereka menjadi nelayan merupakan satu pekerjaan yang cepat mendapatkan uang dibanding bekerja di kebun, yang memang terlihat gersang dan tidak banyak memiliki harapan.

Sementara jika mereka melaut, jika nasib baik, dalam semalam mereka bisa mendapatkan uang antara 300-500 ribu, bahkan jika musim ikan mereka bisa mendapatkan hasil mencapai 1 juta rupiah semalam. Di Sikka kebanyakan hasil-hasil ikan tangkapan nelayan itu sudah ditunggu para pemborong yang berasal dari kampung mereka sendiri. Jadi setiap kali habis melaut hasil mereka langsung menjadi uang. Salah satu tanda jika mereka mendapat uang banyak adalah keramaian para nelayan yang mabuk moke. Jika keadaan tenang itu berarti hasil mereka jelek.

Saat minum bersama para pemborong ikan ini berkelakar, nelayan-nelayan ini bodoh benar, mereka tidak tahu menyimpan uang. Dapat hari ini habis juga hari ini, tidak pernah berpikir hari esok. Lain kami, para pemborong tahu bagaimana harus menyimpan. Jika musim ikan jelek kita masih punya simpanan ikan kering. Para nelayan sendiri juga tidak kalah garang, mereka menyebut para pemborong itu suka berbohong, istilahnya pemblorong.

Pemblorong artinya suka omong besar tetapi tidak ada isinya. Menarik sekali melihat hubungan di antara nelayan dan pemborong ini. Ada semacam hubungan khusus, simbiose mutualitis di antara mereka, kerjasama saling menguntungkan. Sangat jarang para nelayan menjual tangkapannya sampai ke Maumere. Mereka lebih suka menjual ikan ke tetangga-tetangganya. Memang benar, ikan di Sikka jauh lebih mahal di banding di kota Maumere. Tingkat konsumsi ikan di Sikka sangat tinggi. Ikan merupakan menu utama. Pagi, siang, sore pasti lauknya ikan. Berkat protein yang tinggi itu konon kabarnya, orang-orang Sikka pintar-pintar. Hingga sekarang, orang-orang luar Sikka menyebut orang-orang Sikka sebagai orang yang pandai. Kepintaran orang Sikka itu terbukti bagaimana dari kampung kecil yang tandus itu mampu mendominasi suku-suku sekitarnya.

Suatu ketika dalam sebuah acara mete-mete atau kumpul-kumpul di rumah orang yang meninggal di Sikka selama empat hari setelah mayat dikubur, para nelayan ini dan para pemborong ikan terlibat dalam adu mulut setelah mabuk karena minum moke. Dalam adat Sikka, setiap acara pesta kematian atau nikah pasti disuguhi dengan moke. Akibatnya, ada seorang anak muda yang mabuk berat sampai baku hantam dengan orang tua, karena olok-olokan tentang pemblorong dan pembohong.

Si orang tua ini menanggapi serius lalu memukuli si anak muda. Orang tua ini marah besar karena anak muda ini sudah tidak hormat lagi pada orang tua. Kebanggaan orang Sikka dulu adalah apapun yang dilakukan orang tua, orang muda tidak akan berani. Seiring berjalan waktu, kebanggaan orang-orang Sikka tentang sukunya yang diekpresikan dalam ungkapan Sikka di (hanya Sikka), Sikka paling hebat, tampaknya perlu dikoreksi. Sebagaimana ritual lodong balik ini membuktikan betapa ritus penting ini sudah mulai dilupakan oleh para nelayan muda Sikka, sejak dua puluh tahun lalu. Saya merasakan bahwa identitas itu terus berubah seiring dengan semangat jaman.(Hersumpama).

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Friday, 7 January 2011

Bantuan Sosial Rp 10 Miliar Diduga Fiktif

Investigasi Mingguan Suara Sikka
Ada dugaan bahwa Kantor Bupati Sikka dibakar, kalau saja berkaca kepada banyaknya temuan BPK atas Laporan Keuangan Pemkab Sikka TA 2009. Salah satu temuan adalah bantuan sosial yang dikelolah Bagian Kesra Setda Sikka sebesar Rp 10.752.959.500. BPK menilai pertanggungjawaban belanja bantuan sosial pada Bagian Kesra tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. Sebaliknya Bagian Kesra beralibi kantor telah terbakar dan semua arsip ikut terbakar. Adakah benang merah dari argumentasi ini?
Kepala Bagian Kesra Setda Sikka Servasius Kabu yang dihubungi diruang kerjanya beberapa waktu lalu menolak memberikan keterangan. Dia beralasan belum mendapatkan hasil pemeriksaan BPK. Servasius mempersilakan komfirmasi Kepala Bagian Humas Markus Welung.
Markus yang dihubungi juga enggan memberikan keterangan. Dia mengarahkan bertemu Setda Sikka Cipri da Costa. Da Costa yang ditemui menegaskan tidak ada masalah dengan belanja bantuan sosial. Benarkah demikian?

Data yang dihimpun, bantuan sosial bagi organisasi sosial kemasyarakatan dan parpol untuk TA 2009 dianggarkan Rp. 26.661.770.000 dengan realisasi Rp. 24.833.282.490 atau 93,49%. Kesra mengelolah Rp. 13.585.000.000 dengan realisasi Rp. 12.486.789.500 atau 91,94%. Dari yang dikelolah Kesra terdapat anggaran Bantuan Sarana Prasarana Ibadah Rp. 1,5 Miliar dan Bantuan Sosial lainnya Rp 10,5 Miliar yang baru ditetapkan dalam APDB Perubahan TA 2009 tanggal 22 agustus 2009 Sebelumnya dalam APBD TA 2009 tanggal 28 januari 2009 hanya ditetapkan masing-masing hanya Rp 1,5 Miliar dan Rp 4 Miliar.

Ternyata pengujian atas bukti pertanggungjawaban bahwa sebelum tanggal 22 agustus 2009 realisasi masing-masing telah mencapai Rp. 2.456.656.000 (163,78%) dan Rp. 8.296304.500 (207,41%). BPK menilai realisasi anggaran ini mendahuluii APBD Perubahan masing-masing Rp.956.656.000 dan Rp.4.296.303.500.

Tidak Ada Rencana
Dalam penelusuran lebih lanjut BPK menemukan belanja bantuan sosial lainnya tidak dijabarkan secara rinci dalam laporan keuangan Pemkab Sikka. Setelah dikonfrontir dengan pihak-pihak yang bertanggungjawab ditemukan Rp 10.752.959.500 yang realisasinya tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya yaituh pengadaan Sarana dan Prasarana Ibadah Rp 2.456.656.000, Bantuan Emergency Bencana Gunung Berapi Egon Rp 656.431.500, Bantuan Emergency Kebakaran Rumah Tinggal Rp 6.129.697.000, Bantaun Emergency Bencana Angin Topan Rp 681.500.000, Bantuan Emeregency Bencana Abrasi, Banjir, Tanah Longsor Rp 828.675.000.

Anggaran ini terutama bantuan-bantuan emergency bisa saja diduga fiktif. Dalam pendapatnya yang tertuang dalam LHP atas Kepatutan terhadap Peraturan Perundang-Undangan dalam kerangka pemeriksaan Laporan Keuangan Pemkab Sikka TA 2009 BPK dengan jelas menyebutkan bahwa selama tahun 2009 tidak pernah ada keputusan Bupati Sikka atas kejadian bencana dan tidak pernah ada kejadian bencana besar. Bupati Sikka juga tidak pernah membentuk tim pelaksana untuk menangani bencana.

Menurut pemeriksaan BPK, seluruh proses pengadaan dan penyaluran bantuan dilakukan Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra, namun tidak adapat menunjukkan berita acara penyerahan barang-barang kepada masyarakat dan laporan kegiatan pemberian bantuan sosial selama tahun 2009. Bendahara Bantuan tidak pernah mengirimkan SPJ Fungsional kepada Bendahara Umum Daerah untuk dipertanggungjawabkan dan diverifikasi oleh Bidang Akuntasi Dinas PPKAD. Demikian bukti SSP PPN sebesar Rp 146.631.265,91 (1,5%) atas pembauaran sebesar Rp 10.752.959.500 sampai dengan tanggal 3 Agustus 2010 belum diperoleh.

BPK juga menemukan bahwa keseluruhan pembayaran hanya dilengkapi dengan bukti pendukung berupa kuitansi internal Kesra. Uniknya terdapat 29 kali pembayaran dengan kuitansi untuk belanja bahan baku bangunan dan belanja bahan makanan yang seluruhnya kepada CV. GL yang beralamat di Jalan Diponegoro, Waidoko Maumere. Kuitansi tersebut tidak didukung informasi yang jelas nama pemilik, alamat dan keterangan spesifikasi barang, serta tanpa lampiran kuitansi eksternal, faktur pajak, SSP, kontrak kerja dan berita serah terima barang dari rekanan kepada Kesra ataupun dari Kesra kepada masyarakat penerima bantuan. Pembelanjaan tersebut dilakukan secara bertahap selama tahun 2009 dengan nilai transaksi Rp 84,5 juta sampai denghan Rp 880 juta.

Masalah ini semakin terkuak ketika BPK mengkomfirmasi pemilik CV GL. Dimana diketahui bahwa CV GL tidak pernah bekerja sama secara langsung dengan Kesra ataupun menerima pembayaran uang dari Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra. CV GL hanya meminjamkan nama peruasahaan kepada UD SP untuk memasok barang-barang ke Kesra. Apalagi sejak berdiri tahun 2002 CV GL tidak pernah menyediakan barang-barang.

Dan pemeriksaan lanjutan BPK, ditemukan bahwa pemilik UD SP menunjukan bahwa terjadi pembayaran dari Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra kepada pemilik UD SP melalui transfer sebesar RP 3,720 Miliar dimana Rp 2,150 Miliar pada tanggal 4 september 209 dan Rp 1,6 miliar pada tanggal 2 Oktober 2009. Pemilik UD SP mengakui bahwa pembayaran tersebut diterima atas pasokan barang-barang kepada Bagian Kesra, namun dia tidak memiliki catatan tentang jumlah barang yang telah diserahkan kepada Bagian Kesra maupun masyarakat.

BPK juga mendapatkan keterangan dari Kuasa Pengguna Anggaran Kesra yang mengetahui UD SP sebagai pemasok barang-barang kepada Bagian Kesra. CV GL yang tidak pernah memasok barang tetap menandatangani kuitansi pembayaran sebesar Rp 10. 752.959.500.

Dalam catatannya BPK mengungkapkan bahwa sampai dengan pemeriksaan tanggal 27 Juli 2010, tidak diperoleh penjelasan atau bukti pembayaran atas sisa pembayaran sebesar Rp. 7.002.959.500.

Lapor Penegak Hukum
Terhadap temuan ini, BPK menyarankan Bupati Sikka agar memerintahkan Inspektorat Daerah untuk meneliti pertanggungjawaban dengan mencocokan kepada penerima bantuan sebesar Rp 10.752.959.500 dan melaporkan permasalahan ini kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan yang berlaku. BPK juga menyarankan kepada Bupati Sikka memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kuasa Pengguna Anggaran pengelolah Dana Bantuan Bagian Kesra, Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra dan Bendahara Bantuan Kabupaten Sikka.

Ironinya dalam catatan BPK pada LHP yang sama terdapat juga temuan Belanja Tidak Langsung TA 2009 sebesar Rp 3.425.625.000 yang belum dipertanggungjawabkan, diantaranya adalah Belanja Tidak Terduga sebesar Rp 1. 025.000.000 yang juga dikelolah Kesra dengan nomenklatur Bantuan Penanggulangan Bencana Alam (Kerusakan Rumah Tinggal dan Tanaman Pangan). Transaksi Belanja Tidak Terduga ini tidak dilengkapi dengan Keputusan Kepala Daerah tentang penggunaan Pos Belanja Tidak Terduga. Selain itu pemberitahuan kepada DPRD Sikka atas penggunaan pos belanja tidak terduga sebesar Rp 1. 025.000.000 terlambat disampaikan. Realisasi bantuan penanggulangan bencana alam disampaikan kepada DPRD Sikka pada tanggal 1 Juni 2009.

BPK menemukan bahwa Bendahara Bantuan DPPKAD menyatakan belum menerima dan belum pernah meminta bukti pertanggungjawaban penggunaan dana Belanja Tidak Terduga dari Kesra. Sementara Bendahara Pengeluaran Pembantu Pengelolah dan Kuasa Pengguna Anggaran Dana Bantuan Bantuan Kesra tidak dapat menunjukan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana tersebut dengan alasan kantor telah terbakar pada 26 Desember 2009 dan semua arsip ikut terbakar.

Nah lo...
************************************************************************************
Belanja Bantuan Sosial Lainnya yang Tidak Menggambarkan Kondisi Sebenarnya:
Pengadaan Sarana dan Prasarana Ibadah Rp 2.456.656.000
Bantuan Emergency Bencana Gunung Api Egon Rp 656,431.500
Bantuan Emergency Kebakaran Rumah Tinggal Rp 6.129.697.000
Bantuan Emergency Bencana Angin Topan Rp 681.500.000
Bantuan Emergency Bencana Abrasi, Banjir, Tanah Longsor Rp 828. 675.000
Total : Rp10.752.959.500
*************************************************************************************
Sumber: LPH BPK atas Keptahuan terhadap Peraturan Perundang-undangan dalam kerangka Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemkab Sikka TA 2009
(Mingguan Suara Sikka)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Surga yang Terpenggal di Teluk Maumere

Oleh: Junedi Jun
JARUM jam baru menunjukkan angka 07.30 WITA, di awal bulan Desember lalu, ketika kami meninggalkan homestay di Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Agenda kami hari itu adalah menuju kawasan pesisir pantai Kampung Wuring, titik untuk memulai penyelaman di beberapa titik di Teluk Maumere ini.

Kampung Wuring adalah sebuah perkampungan nelayan di pinggiran Kota Maumere, kurang lebih 5 Km dari pusat kota. Kampung yang mayoritas penghuninya adalah suku Bajo, suku yang lebih dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung. Bahkan rumah yang dibangun pun persis di atas laut, dengan struktur yang sangat kuat. Apabila petang menjelang, air pasang datang yang ketinggiannya nyaris menyentuh lantai rumah. Sementara untuk menghubungkan rumah ke rumah, warga hanya memakai bambu 2-3 batang saja sebagai jembatannya. Apabila tak hati-hati, bisa-bisa tercebur masuk ke air laut.

Pagi itu ketika melintasi pemukiman ini, kami bertemu dengan beberapa peneliti dari Jepang dan Amerika yang kata orang-orang sekitar, mereka sedang menganalisis struktur bangunan rumah orang-orang Bajo ini. Demikian juga, kami bertemu dengan beberapa pasang turis bule yang menginap di rumah orang Bajo ini.

Entahlah sejak kapan Suku Bajo ini mendiami kawasan ini. Beberapa orang yang saya kenal hanya bercerita bahwa asal-usul suku Bajo dari Sulawesi yang semuanya adalah pelaut-pelaut ulung yang sulit jika hidup atau tinggal di gunung. Kata “bajo” sendiri berarti mendayung perahu dengan alat yang disebut bajo. Mereka bisa dikatakan telah menjadikan laut sebagai “nyawa” mereka. Mereka seolah menyatu dengan laut. Dan tak perlu heran jika anak-anak kecil usia 4-5 tahun sudah mahir berenang dan menyelam. Barangkali mereka telah “diajarkan” berenang sejak dalam kandungan ibundanya!

Di Maumere, selain di kampung Wuring, suku ini banyak ditemui di Pulau Parumaan, Kojadoi, Pemana, dan dalam komunitas kecil hampir dapat ditemui di seluruh penjuru pesisir Maumere. Ada “hal yang lain” yang saya temui pada suku ini, yaitu tentang sekolah (formal). Sekolah pada sebagian besar suku ini adalah nomor sekian. Kebanyakan orang tua suku Bajo berpikir bahwa sekolah sampai sarjana pun tidak mendapat tempat yang layak di birokrasi karena mereka menganggap diri dan atau dianggap sebagai pendatang. Itulah mungkin yang kami temui pagi itu. Anak-anak kecil di pagi hari pada jam yang seharusnya mereka bisa belajar di sekolah, masih asyik bermain-main (belajar) di pantai.

Surga yang Terpenggal

Teluk Maumere, sesungguhnya adalah sebuah pesona hamparan perairan yang menyimpan berjuta potensi hayati di dalamnya. Pinjam istilah Emha Ainun Nadjib, selaksa surga yang terpecah dan bocor ke bumi nusantara. Betapa tidak, terumbu karang yang terkandung di dalamnya menyimpan keindahan yang luar biasa meskipun pernah porak-poranda diterjang tsunami pada tahun 1992. Terumbu karang dengan segala kehidupan yang terdapat di dalamnya merupakan sumberdaya yang memiliki keanekaragaman biologis yang tinggi, pesona keindahan, dan menyediakan cadangan sumber plasma nutfah. Tak hanya itu, terumbu karang di laut ini juga menjadi “rumah” bagi beragam biota laut, termasuk ikan-ikan hias berwarna-warni yang berenang hilir mudik di antara karang di kedalaman sekitar dua hingga lima meter.

Dengan kata lain, terumbu karang di sini memiliki peranan yang sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, terumbu karang merupakan tempat berbagai organisme yang berasosiasi dengannya untuk berlindung, mencari makan dan berkembang biak. Selain itu terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari gelombang dan abrasi.

Sedangkan fungsi ekonomisnya, terumbu karang yang indah bisa menjadi objek wisata bahari yang dapat menarik banyak wisatawan, sekaligus bisa dijadikan wilayah tangkapan ikan yang potensial bagi para nelayan.

Namun sayangnya, yang kami temui di bawah laut Teluk Maumere ini tidak semua terumbu karang berada dalam kondisi yang baik. Beberapa di antaranya tampak kritis, terpenggal, hancur berkeping-keping. Entah apa penyebab utamanya. Bisa jadi gempa dan gelombang tsunami besar yang terjadi pada tahun 1992 lalu menjadi penyebabnya. Namun dari pengamatan sekilas kami, sepertinya kerusakannya ini lebih disebabkan oleh ulah manusia yang melakukan pengrusakan terumbu karang dengan cara mem-bom dan pemberian racun ketika menangkap ikan. Ini bisa dilihat dari bekas-bekas hancurnya terumbu karang. Tentu saja ini sangat disayangkan karena akan berakibat pada kerusakan ekosistem laut dan dapat menurunkan hasil tangkapan ikan dan merosotnya pendapatan para pencari ikan.

Perkembangan pembangunan dan tuntutan ekonomi secara tak langsung juga turut memberikan tekanan terhadap kehidupan terumbu karang. Selain dengan bom dan racun sianida, yang menjadi ancaman terhadap kehidupan terumbu karang adalah pengambilan karang secara langsung dan sporadis untuk bahan bangunan, pengoperasian kapal dengan pukat harimau, kegiatan penambangan pasir dan penggundulan hutan pantai yang menyebabkan tingginya sedimentasi dan pencemaran akibat pembuangan limbah industri dan rumah tangga secara langsung ke laut.

Di samping itu, pembangunan hotel dan bangunan lainnya di pinggir pantai yang sekarang mulai marak di tepian pantai Maumere akan sangat mengganggu keseimbangan dinamis pola sedimentasi pantai jika tidak diperhitungan dampak ekologisnya. Akibatnya, air menjadi keruh dan tak bagus bagi pertumbuhan karang. Jika terumbu karang rusak, tentu suatu saat nanti akan memaksa nelayan mencari ikan hingga pulau-pulau kecil yang jauh dari daratan Pulau Flores. Begitulah, terkadang tuntutan kehidupan memaksa kita untuk “tak sadarkan diri” terhadap lingkungan. Mungkin kita baru akan menyadari kalau lingkungan kita “murka” dengan caranya.

Teluk Maumere, bagian dari Laut Flores, yang penuh misteri sekaligus menawarkan sejuta pesona, yang menghadirkan ketakjuban, keharuan sekaligus kerinduan, yang menghadirkan surga, sayangnya surga itu kini sedikit demi sedikit mulai terpenggal!
(foto: Junedi Jun)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 1 January 2011

Konser Amal untuk Korban Bencana Siap di Gelar..

Ngamen Keliling Penggalangan Dana bersama Games Pro
Generasi Muda Sikka Production atau terkenal dengan nama Games Pro, sebuah komunitas seni dibawah asuhan Paulina Yeni Kabupung dan beberapa organisasi kepemudaan di Kota Maumere berinisiatip mengadakan konser amal bagi korban-korban bencana disejumlah daerah di Indonesia. Puncak acara konser amal ini rencananya akan diadakan tanggal 8 januari 2011 dengan mengambil lokasi di Halaman Parkir Barata Mall Maumere. Hal tersebut dikatakan Titi da Silva, Ketua Panitia Konser Amal disela-sela acara ngamen keliling bersama Games Pro untuk penggalangan dana bagi korban bencana. Sejumlah seniman dari kalangan musisi dan seniman tari, pantomin dan lain-lain akan memeriahkan panggung konser amal. Beberapa kelompok band dan penyanyi lokal daerah juga disebut akan terlibat. Untuk memantapkan puncak acara tanggal 8 januari nanti, panitia telah mengadakan salah satu kegiatan positip berupa ngamen keliling yang mendapat apresiasi luar biasa dari warga Kota Maumere.

Titi da Silva menjelaskan, Konser Amal ini bertujuan untuk menggugah kembali rasa persaudaraan dan solidaritas di kalangan masyarakat terutama warga Kabupaten Sikka sekaligus untuk membangun kembali rasa kemanusiaan dan saling berbagi antar sesama.
“Konser Amal yang diadakan ini sebenarnya merupakan sebuah bentuk kepeduliaan dan kasih serta rasa solidaritas kaum muda yang ada di Kabupaten Sikka terhadap sesama bangsa yang mengalami penderitaan,” ungkap Titi, yang juga merupakan seniman lukis di Maumere.

Koordinator Umum Konser Amal, Yeni Kabupung mengatakan, Konser amal tersebut merupakan inisiatip murni kaum muda Sikka sendiri dan sama sekali tak ada kaitan dengan apapun.
“Konser ini bertujuan mulia dan murni inisiatip dari kami, walau sangat kecil dan tak bernilai namun minimal doa tulus dan rasa turut berduka yang dalam sebagai generasi muda Sikka mampu menemani para korban untuk bisa bangkit dari keterpurukan,” ujar Yeni.

Yeni menambahkan, penyerahan bantuan hasil penggalangan dana akan diserahkan langsung pada malam puncak acara 8 januari kepada perwakilan untuk diteruskan ke pusat bencana nasional. “Batuan tersebut dalam bentuk uang tunai,” tambah Yeni.

Lebih lanjut Yeni mengatakan bahwa persiapan untuk Konser Amal yang mengambil tema Konser Harmoni Peduli Bagi Korban Bencana Nasional, “Persembahan Dariku Untukmu Saudaraku” sudah hampir final. Yeni juga berterima kasih dan menyambut baik dukungan dari berbagai elemen masyarakat yang ikut serta mensuport kegiatan tersebut. Yeni menyebut berbagai media di Kabupaten Sikka dan sejumlah organisasi dan kalangan usaha swasta yang turut mendukung kegiatan amal.

Untuk Konser Amal ini, sebuah lagu ciptaan Thomas Aquino alias Tommy, musisi muda yang hilang akibat tenggelamanya KM. Karya Pinang (Tersanjung) akan dibawakan oleh Kons Lamak.

Ngamen Keliling Penggalangan Dana

Untuk memantapkan malam puncak Konser Amal tanggal 8 januari, panitia konser amal melakukan penggalangan dana dengan kegiatan Ngamen disejumlah pusat keramaian. Menggunakan organ tunggal dan sejumlah penyanyi yang bernaung di bawah bendera Games Pro, penggalangan dana tersebut mendapat apresiasi luar biasa dari warga kota.

Games Pro, Ngamen di Pasar Senja, Kabor

Seperti yang disaksikan oleh inimaumere.com saat panitia melakukan penggalangan dana di Pasar Senja Kabor, Maumere, sejumlah masyarakat tak segan-segan untuk merogoh kocek dan menyumbang demi sesama yang mengalami penderitaan. Selain itu juga beberapa warga turut bernyanyi dan memeriahkan ngamen penggalangan dana.

Ngamen keliling perdana yang menghibur masyarakat ini telah dimulai dari tangal 9 Desember 2010 lalu dengan menghibur warga kota yang sedang berbelanaj di Barata Dept. Store Maumere. Selain Barata, ngamen juga mendatangi dan menghibur di Pasar Senja Kabor, Roxxi Swalayan, Gereja Katedral, Gereja St. Thomas Morus, dan ngamen keliling dari rumah kerumah di kawasan Perumnas Maumere serta seputaran Kota Maumere.

Aksi ngamen keliling dan ngemen ini diisi oleh penyanyi lokal seperti Kevin, Alfred Gare, Rhenol Mandalangi, Yola, Marlin, Lia dan Marissa serta pemain keyboardnya Valen Vardam, Yanto Doreng, Eltif, Jupe, Gomez serta Yolix.

“Kami sangat berterima kasih kepada segenap warga Maumere yang telah merogoh sedikit uangnya untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, semoga semuanya terbalas,” ucap keyboard Valen Vardam.

***
Sampai jumpa di Konser Amal , “Persembahan Dariku Untukmu Saudaraku”,Halaman Parkir Mall Barata Maumere, 8 Januari 2011.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Kota Maumere Rayakan Malam Pergantian Tahun

Berlangsung aman dan Kondusif
Sejumlah masyarakat berkumpul hampir disepanjang jalan, trotoar, halaman rumah dan beberapa tempat lainnya saat mendekati dan melewati malam pergantian tahun. Dari Nairoa, Waioti, Nangameting, Wairotang, Wairbubuk, Penerangan, Kota Baru, Beru, Pertokoan, Kampung Kabor, Madawat, Misir, Kota Uneng, Perumnas, Eltari, Pelabuhan Laut, Waidoko, Wairklau dan daerah lainnya di kota. Mereka melewati malam tersebut dengan penuh kegembiraan dan pesta. Moke, kembang api, pesta dan musik sudah seperti irama lama yang kemudian diputar kembali. Kegembiraan dikota kecil ini seperti tak mati meski tak semeriah di kota-kota lain yang melewati malam tersebut dengan perayaan yang luar biasa. Meski begitu, dikota ini tak ada kemacetan, tak ada bunyi terompet yang saling bersahutan dan ribut. Kegembiraan orang Maumere di tahun baru ini dilewati bersama keluarga, saudara, sahabat, kekasih dan tentu saja musik. Maklum, di Maumere tak ada pusat kosentrasi massa untuk merayakan kegembiraan pergantian tahun seperti di kota-kota lainnya.

Perayaan pergantian tahun dari 2010 ke 2011 di Maumere bisa dikatakan berlangsung aman dan kondusif. Dalam pengamatann kami, dibandingkan dengan tahun lalu, malam pergantian tahun kali ini lebih terkendali. Pawai kendaraan yang biasa menimbulkan kesan liar, urakan tanpa mempedulikan keselamatan pengendara lain bisa dinetralisir. Hal ini bisa dilihat dibeberapa ruas jalan di kota yang biasa dijadikan arena pawai liar. Kepolisian Resort Sikka sendiri menurunkan sejumlah personilnya yang dibantu sejumlah personil dari TNI AL. Mereka berjaga-jaga dibeberapa titik strategis seperti di depan Gelora Samador, Nangameting, perempatan Toko Agung, Eltari dan beberapa tempat lainnya. Bahkan di jalur sepanjang jalan Ahmad Yani, aparat yang menggunakan pentungan berjaga disepanjang jalan. Sedangkan bunyi sirene dari mobil kepolisian yang berputar-putar mengelilingi kota terdengar seperti mencekam. Namun, kesan kondusif yang tak seliar malam pergantian tahun lalu disyukuri banyak orang.

Saat pergantian tahun, kembang api berwarna warni langsung menerangi langit yang gelap. Dari Pelabuhan Laut L. Say, sejumlah masyarakat berkumpul menyaksikan pesta kembang api yang tak henti-henti menghiasi langit. Disejumlah tempat di Maumere juga bisa disaksikan dengan permainan kembang api yang tak putus sampai dengan jam 2 dinihari bersaing dengan bunyi meriam bambu.

Sedangkan beberapa kelompok anak-anak remaja masih saja berupaya melakukan pawai meski pihak kepolisian telah melarang. Kelompok pawai remaja yang tak banyak ini akhirnya harus kucing-kucingan dengan aparat. Sisiran pihak kepolisian di berbagai tempat di Kota Maumere membuat ruang gerak remaja yang berkendaraan liar, urakan dengan bunyi resing yang memekakkan telinga ini tak leluasa. Masyarakat pun melewati malam pergantian tahun dengan lebih aman dari hingar bingar kendaraan yang biasanya ugal-ugalan sehingga berkesan seperti dinegeri tak bertuan.

Sedangkan keesokan paginya, 1 Januari 2011, Kota Maumere terlihat sepi dan langgeng. Kendaraan cuma satu dua yang berseliweran. Sebagian besar toko dan kios tutup. Sampah-sampah berserakan dan dibiarkan terbawa angin.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 30 December 2010

Mingguan Suara Sikka Akhirnya Terbit..

Dari, Oleh dan Untuk Masyarakat Sikka..
Masyarakat diberbagai pelosok Kabupaten Sikka awal tahun 2011 memiliki pilihan lain dalam mengkomsumsi berita berbobot. Bukan apa-apa memang, bila sekarang ini berita-berita dalam berbagai surat kabar terasa kurang menggigit dan bertaji. Untuk menjawab kerinduan tersebut, sebuah tabloid mingguan yang dikelola dan diterbitkan sendiri oleh para pemuda Sikka hadir menjawab semuanya. Koran Suara Sikka, demikian nama tabloid mingguan tersebut tampil dalam edisi pertama yang menawan. Mingguan Suara Sikka ini memiliki ruang lingkup pemberitaan seputar Kabupaten Sikka dengan mengambil berbagai topik hangat yang menjadi buah bibir di tengah masyarakat Sikka. Dalam Edisi Minggu Pertama Januari 2011, Suara Sikka mempertanyakan terbakarnya Kantor Bupati Sikka yang terjadi tanggal 26 Desember 2009 lalu dengan headline, “Satu Tahun Kebakaran Kantor Bupati Sikka, Terbakar atau Dibakar.”

Empat halaman pertama koran mingguan yang dipimpin oleh Vicky da Gomez ini, mengulas habis terbakarnya kantor tersebut dengan berbagai data di dilapangan. Sentilan pertama bisa dibaca dalam kolom Tedang Sikka, ditulis sendiri oleh Vicky da Gomez dengan judul,“Si Jago” yang Benar-Benar Jago”, dilanjutkan dengan Liputan Utama: “Satu Tahun Kebakaran Kantor Bupati Sikka, Terbakar atau Dibakar ”, “Penghapusan Aset Hentikan Polemik?” dan investigasi terakhir yang memuat judul “Bantuan Sosial Rp. 10 Miliar Diduga Fiktif”.

Selain Liputan Utama diatas, Mingguan Suara Sikka diedisi pertama penerbitan juga mengulas liputan lain yang dihimpun dari wartawannya Wento Eliando dan Agustinus Nong. Ulasan seputar “Laporan Keuangan Pemkab Sikka TA 2009 Dinyatakan Disclaimer of Opinion, Noktah Merah di Punggung SODA”, yang memuat laporan Auditor BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang tidak memberikan pendapat atau menyatakan discalimer of opinion terhadap Laporan Keuangan Pemkab Sikka TA 2009. Ini merupakan kasus pertama yang terjadi di Kabupaten Sikka diulas secara terbuka oleh Mingguan Suara Sikka.

Juga ulasan lain seperti,” Tiga Tahun Dikirim ke MA, Berkas Kasasi Tidak Sampai Tujuan; Mafia Hukum atau Kejahatan Transportasi?” dimana ditulis ulasan mengenai bersitegangnya Heryanto Go bersama istri dan kedua anaknya dengan Kepala Kantor Pos dan Giro Maumere terhadap berkas Kasasi yang dikirim ke Mahkama Agung pada 5 Juni 2007 tetapi sampai dengan Oktober 2010 belum sampai ketujuan.

Ulasan-ulasan lain juga cukup menggoda untuk dibaca. “Mengais Rezeki dari Kebiasaan Buruk”, yang menyentil tentang penjualan aset negara di Bandara Frans Seda. Ada lagi, “Narkoba Tembus Jaringan Antar Pulau” mengenai penggagalan peredaran 4,3 gram shabu-shabu di Maumere, “Masyarakat Tanawawo Teriak Transportasi”, “Kursi DPRD Milik Cinde Terancam”. Dan ulasan-ulasan lainnya yang rasanya perlu untuk dibaca.

Pemimpin Redaksi Mingguan Suara Sikka, Vicky da Gomez mengatakan Mingguan Suara Sikka hadir sedikit berbeda dari media-media cetak lain yang beredar di Kabupaten Sikka.

“Kami ingin agar kehadiran Suara Sikka benar-benar dari, oleh dan untuk masyarakat Sikka. Kami akan berupaya memberikan informasi yang seterang-terangnya terhadap semua yang tercecer dan jauh dari perhatian. Aspek apapun yang menjadi kepentingan masyarakat Kabupaten Sikka akan kami sajikan sebagai informasi yang bertanggungjawab demi memberikan kontribusi pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat,” jelas Vicky, yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia.

Vicky juga menjelaskan, dengan terbit sekali seminggu, Mingguan Suara Sikka tentu memiliki waktu yang cukup untuk menyajikan berita dan peliputan yang dalam dan berimbang, sambil mengarahkan solusi terhadap sebuah permasalahan dengan tetap memegang kode etik jurnalistik.

Meski memiliki nama yang mirip dengan nama Radio Suara Sikka (RSPD) milik pemerintah yang kini tak lagi mengudara, Vicky menolak bahwa Mingguan Suara Sikka adalah bentuk lain dari Radio Suara Sikka. “Nama boleh mirip tapi sentilan berbeda,” ungkapnya dengan serius.

Mingguan Suara Sikka merupakan buah karya anak Nian Tana. Dan dengan rasa bangga hadir ditengah masyarakat sebagai suara yang benar-benar suara dari kaum du’a moat ata sikka sendiri, dari mereka yang merasa suaranya selama ini belum terdengar secara terang benderang.

Suara Sikka terbit sekali seminggu dengan 16 halaman berita dijual dengan harga Rp. 5000 dan untuk sementara bisa didapatkan di saudara Vicky da Gomez (081339483571 / vickydagomez@yahoo.co.id).

Untuk kedepannya, inimaumere.com akan mengahadirkan beberapa ulasan Mingguan Suara Sikka secara berkala.

Dan, www.inimaumere.com, mengucapkan selamat dan profisiat atas tebitnya Mingguan Suara Sikka, Sukses..!


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 25 December 2010

Misa Malam Natal di Maumere Berlangsung Khusuk

Kembang api, petasan dan meriam bambu warnai malam natal di Kota Maumere. Perayaan tersebut bahkan semakin meriah usai misa malam natal di seluruh gereja di Kota Maumere. Padahal, pemerintah, gereja dan aparat telah menghimbau agar bunyi-bunyian tersebut dihentikan karena menggangu ketentraman masyarakat. Tapi apa bole buat. Pesta kembang api dan meriam bambu terus dinyalakan hingga tengah malam. Dalam pantauan kami, permainan kembang api dan meriam bambu dilakukan dibeberapa sudut kota. Dihalaman rumah, anak-anak hingga orang dewasa bergembira menyambut hari natal. Sebelumnya, pelaksanan misa dan kebaktian malam natal disejumlah gereja berlangsung khusuk dan khidmat. Umat membanjiri gereja-gereja. Bahkan ada beberapa gereja yang tak bisa menampung umat yang membludak. Seperti di Gereja Katedral St. Yoseph Maumere, umat sampai meluber di halaman gereja.


Uskup Kherubim Pareira, yang memimpin misa malam natal di Gereja Katedral St. Yosep Maumere mengajak umat khatolik di wilayah Keuskupan Maumere untuk mengambil sikap solidaritas terhadap sesama terutama terhadap korban bencana di tanah air yang mengalami penderitaan. “Sikap solidaritas kita merupakan cermin dari solidaritas Jesus dalam kasih, yang telah mengajarkan pada kita untuk selalu memberikan cinta pada sesama,” ucap Uskup Kharubim dalam khotbah misa ke-2 malam natal, pukul 20.00 Wita, 24 Desember 2010. Uskup juga berterima kasih kepada segenap dermawan di Keuskupan Maumere yang telah memberikan bantuan bagi korban-korban bencana. Misa di Katedral St. Yosep Maumere diikuti hampir sebagian besar umat di Paroki Katedral St Yosep.

Misa dan kebaktian malam natal 24 Desember juga berlangsung disejumlah gereja di Kota Maumere dan Kabupaten Sikka. Baik gereja Protestan, Pantekosta, Bethel, Katolik dan gereja kristiani lainnya, umat berkumpul untuk merayakan suka cita kelahiran Sang Juru Selamat dengan khusuk dan khidmat. Kota langgeng dari kendaraan. Sepi saat misa dan kebaktian berlangsung. Meski begitu, bunyi meriam bambu, kembang api dan petasan saling bersahutan ditengah misa.

Kepolisian Resort Sikka sendiri menurunkan sejumlah personilnya untuk menjaga malam natal ini berlangsung aman dan damai. Selain digereja, beberapa tempat strategis didirikan pos pemantauan untuk mengawal perayaan Natal dan Tahun Baru.

Malam Natal kali ini dilewati masyarakat Kota Maumere tanpa hujan dan angin yang hari-hari sebelumnya selalu menerpa kota. Menjelang misa malam natal, hujan telah turun lebih awal yakni di siang hari sehingga pada malam natal, umat bisa menjalankan ibadahnya dengan nyaman tanpa terganggu hujan.

Misa Malam Natal di Maumere seperti pula di sejumlah gereja di Flores, NTT dan Indonesia berlangsung aman dan khidmat. Kita bersyukur atas semua ini.

Selamat Natal..

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---