Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Thursday, 13 January 2011

Pesona Tanarawa, Pesona Tana Ai..

Sebuah Kisah di Tanarawa..

Pesona Air Terjun di Tanarawa dan Toke (mantel hujan tradisional) Suku Ipir-Tana Ai

Tak pernah terpikirkan kalau suatu saat berada ditengah kehidupan alam Tana Ai.  Sebuah suku asli di ujung timur Kabupaten Sikka.  Di wilayah ini, masyarakat setempat masih memegang tradisi dan budaya lokal yang berkaitan dengan alam, leluhur dan wujud Tertinggi. Bagi kami,  pengelaman ini  adalah tantangan yang mengasikan. Meski kami (Oss n Boim) sendiri lahir dari perut buana Kabupaten Sikka, tapi menjelajah hingga kepedalaman Tana Ai adalah sebuah kisah unik. Bagimana tidak, di daerah ini kami mengenal berbagai hal. Sedikit banyak lebih paham tentang kebiasaan dimasing-masing suku mengenai berbagai pantangan, kepercayaan dan segala sesuatu yang bersentuhan dengan alam. Disana kami bertemu Mo'at Pius Ipir, seorang Kepala Suku Ipir yang mengepalai 15 suku lain di Tana Ai. Ia berusia 52 tahun. Hidup sangat sederhana dengan anak-anaknya dan membesarkan mereka lewat hasil kebun dan ladang. Dari dia banyak hal kami ketahui. Termasuk melihat air terjun yang menjulang indah ditengah rimbunan pohon hutan. Ada sapaan adat. Ada perasaan mistis sekaligus mendebarkan. Yuuukk...

Anak muda bernama San, asli dari Tana Ai kami ‘culik’ sebagai pemandu perjalanan. Maklum, inilah pertama kali menuju Tana Ai. Dan tujuan utama adalah kehidupan Suku Ipir. Suku ini berada di Dusun Lewak, Desa Tanarawa, Kecamatan Waiblama. Kebetulan San adalah putera asli dari Waibalama dan berasal dari Suku Ipir. San mengenal betul daerahnya. Dia selalu bersemangat jika bercerita tentang Tana Ai.

***
Hujan deras baru saja membersihkan debu Kota Maumere. Kami bertiga meninggalkan kota dengan dua sepeda motor bebek. Jalanan aspal begitu basah dan terasa licin. Sepanjang jalan gerimis bagai kekasih setia. Dan ketika hujan membesar kami sejenak berpisah. Saat meredah, motor kembali berlari kencang karena mengejar waktu yang tinggal sepotong. Maklum jarum jam telah memberi isyarat hampir pukul 15.00 Wita. Artinya kami harus bergegas sebelum rembulan menjemput. Padahal baru setengah perjalanan. 

Tana Ai adalah salah satu etnis besar yang ada di Kabupaten Sikka. Selain Tana Ai, 5 etnis lainnya yang mendiami wilayah Kabupaten Sikka adalah Sikka, Krowe, Lio, Palu’e dan Tidung Bajao. Di Tana Ai sendiri ada kira-kira 26 suku. Ritual dan pertalian hubungan dengan leluhur selalu diungkapkan suku-suku tersebut dengan berbagai upacara yang unik dan melibatkan banyak orang. Ritual-ritual dilakukan dengan tujuan untuk kesejahteraan masyarakat dan keutuhan hubungan dengan Tuhan, leluhur serta alam.

Meninggalkan Maumere menuju Tana Ai, arah perjalanan menuju timur Kabupaten Sikka. Menyusuri lintasan jalan raya beraspal mulus  di jalur utara Pulau Flores. Tentunya, perjalanan  akan menyenangkan.  Sebabnya sebagian besar pemandangannya adalah pantai indah dan tenang. Dari Maumere, Geliting, Waiara, Waigete, Wodong, Wairterang, Talibura, semuanya menebarkan ketentraman.

Butuh waktu sekitar sejam perjalanan hingga Kecamatan Talibura yang notabene didiami sebagian besar suku-suku Tana Ai. Talibura berada dalam lintasan jalur menuju Kabupaten Flores Timur (Larantuka).

San memberi isyarat mengambil arah belokan ke kanan ketika kami tepat dipersimpangan Desa Nangahale  Talibura. Katanya, ini adalah akses menuju ke Desa Tanarawa, Dusun Lewak Kecamatan Waiblama. Wilayah yang berada di pegunungan beriklim sejuk ini adalah tempat kelahiran San. Jarak dari jalan utama sekitar 20 Km.  Kelokan kanan dan kiri sungguh rapat. Pengendara harus berhati-hati meski aspal jalan sangat mulus.
"Jalan ini juga baru saja dibangun, sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan," kata San.

Menjelang sore sekitar pukul 16.30 akhirnya kami tiba di Dusun Lewak. Tak berapa lama kami telah berada di rumah Philipus Pius Ipir, sang kepala suku. Rumahnya sangat sederhana, seperti pula rumah penduduk suku umumnya. Dari duduk-duduk cerita, kami memberitahu perihal kedatangan. Kami diperbolekan memotret, diperbolehkan bertanya dan disuguhi teh panas. Udara dingin segera berlalu sejenak.


Boim n Oss, apit Moat Pius Ipir & istirahat sejenak di perjalanan, dibelakang G,Egon tertutup kabut..

Dari sekian banyak upacara dan ritual, ada dua yang cukup terkenal dan menjadi bagian dari budaya suku Tana Ai, yakni Garen Lameng dan Gren Mahe. Keduanya masih dijalankan hingga sekarang. Gareng Lameng adalah upacara penyunatan terhadap laki-laki sebagai tanda ia telah dewasa dan menjadi laki-laki dalam suku tersebut. Upacara Garen Lameng sendiri terkesan mistis dan berlangsung tengah malam. Setiap pengikuti upacara sebelumnya diwajibkan mengaku dosa lewat tua-tua adat sebelum penyunatan berlangsung. Gareng Lameng dilakukan pada saat yang mau disunat telah siap. Dan dilakukan tak tentu waktu.

Sedangkan Gren Mahe sendiri adalah sebuah ritus tradisional masyarakat Tana Ai. Upacara ini merupakan simbol persaudaraan, perdamaian sekaligus keberanian masyarakat Tana Ai. Upacara ini merupakan pemujaan kepada Tuhan dan kepada leluhur mereka yang dilaksanakan 3, 5 sampai 7 tahun sekali tergantung kesiapan ekonomi masyarakat, karena acara ini membutuhkan biaya yang cukup besar.

Saat upacara berlangsung, puluhan ekor hewan disembelih dan tentu saja atraksi saling bacok diantara pemuda. Luka akibat bacok segera hilang sekali usap.

Selain kedua upacara diatas, masih banyak budaya dan adat setempat yang selalu dilakukan masyarakat misalnya saat kelahiran, perkawinan dan kematian. Juga tentu upacara-upacara adat yang berkaitan dengan cocok tanam dan hal-hal lain.

Bapak Ipir sebagai Kepala Suklu Ipir bercerita banyak tentang kehidupan suku-suku di Tana Ai dan budayanya. Sebagai kepala suku, ia sering kali dijadikan narasumber oleh berbagai penulis dan pencari catatan tentang kehidupan suku-suku di Tana Ai meski sama sekali tak dibiayai. Padahal banyak yang telah menggali informasi darinya. Termasuk Profesor Dr. Lewis Douglas, peneliti dari Australia yamg hidup sekitar 6 tahun besama suku-suku di Tana Ai. Dari Profesor Douglas, ia dibawa menuju Australia. Disana ia dipertemukan dengan sebuah suku dalam budaya Aborigin dimana ada sebuah Batu Mahe (batu persembahan) yang mirip dengan Mahe di Suku Ipir. Bahkan ritual upacarapun mirip, begitu San menjelaskan.

Tana Ai memang unik. Etnis ini mendiami sebelah timur Kabupaten Sikka hingga perbatasan dengan Kabupaten Flores Timur. Wilayah ini mencakup 3 kecamatan, yaituh Keacamatan Talibura, Waiblama dan dua desa yang berada di Kecamatan Waigete yakni Desa Runut dan Desa Watudiran. Tana Ai terletak diantara dua gunung yaituh Gunung Mapitara (Egon) dibagian barat dan Gunung Wuko dibagian timur. Bagian selatan Tana Ai berbatasan dengan Laut Sawu dan bagian utara berbatasan dengan Laut Flores. Masyarakat Tana Ai umumnya berbahasa Sikka dengan dialek yang berbeda dengan orang Sikka-Krowe, etnis lain di Kabupaten Sikka. Namun ada sebagian orang Tana Ai yang berbahasa Muhang dimana bahasa ini merupakan campuran bahasa Sikka dan Flores Timur.

Salah seorang sahabat kami bernama Wempi Wisang, yang dibesarkan di sana menceritakan di Desa Tanarawa ada beberapa cerita legenda yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Cerita-cerita legenda itu antara lain legenda Mangolian (kepiting raksasa keramat), Ular Gokok (Ular mirip naga siluman penjaga Kampung Tana Ai ) dan legenda Rawin Dai. San membenarkan cerita diatas. Menurutnya, kepiting raksasa tersebut ada disebuah danau (telaga) yang terletak tak jauh dari sebuah sekolah.

“Kisah-kisah itu dulu pernah dibukukan oleh budayawan Australia Mr Douglas, kalau saya tidak salah bukunya ada di Museum Blikon Blewut,” jelas Wempi. Museum Blikon Blewut terletak 6 Km diluar Kota Maumere. Di museum ini terdapat segala macam barang-barang peninggalan masa lampau dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur dan Indonesia umumnya.

“Satu lagi tempat yang dikeramatkan adalah 'Liang Firdaus' yang diyakini sebagai surga. Hal itu sudah dibuktikan oleh Pater Piet Petu SVD (alm) dengan masuk ke dalamnya dan menemukan sebuah taman yang sangat indah penuh anak-anak kecil yang bahagia. Tapi tidak mudah bagi orang awam untuk masuk ke dalamnya. Masyarakat setempat biasa mengadakan ritual di tempat itu saat musim tanam padi tiba, saya nyaris diajak Pater Piet Petu untuk ikut masuk ke liang tersebut sekitar tahun 80-an tapi dilarang ibu saya, karena resiko terburuk adalah kematian,”jelas Wempi.

San dan Moat Pius Ipir pun membenarkan tempat tersebut meski ceritanya sedikit berbeda. Duduk cerita tanpa kenal waktu ternyata hari menjelang magrib. Kami meminta untuk melihat Air Terjun yang sangat dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat. Maklum lewat sungai itu, masyarakat bisa berladang dan berkehidupan. Bahkan ada syair dan nyanyian yang dihususkan untuk air terjun tersebut.

Dari rumah kepala suku Moat Pius Ipir, jarak ke lokasi air terjun tersebut sekitar 2 Km. Kondisi jalan sangat buruk. Aspal berlubang dihampir sepanjang jalan. Kalau tak hati-hati, bisa-bisa terpeleset. Motor diparkir dijalan. Dan beberapa menit kemudian kami telah berada ditengah semak dan hutan.

Dari jalan raya menuju air terjun tersebut jaraknya sekitar 70 meter. Kondisi tanahnya licin dan agak terjal jadi harus hati-hati kalau tak mau terpeleset. Sebelum memasuki lokasi air terjun, Moat Ipir harus ‘membuka pagar’ dengan upacara khusus agar kami diperbolekan masuk. Katanya, ritual ini mesti dilakukan sebelum ketengah belantara pohin.


SAN dengan bangga perlihatkan keindahan Tanarawa yang masih asli..

Dan dengan kagum kami memandang air terjun yang tumpah ruah dengan deras. Perasaan begitu bahagia karena keaslian lokasi air terjun yang hampir tak pernah didatangi oleh siapapun. Setelah bersusah payah melewati hadangan batu besar berlumut dan licin, akhirnya kami bisa menikmati segarnya air pegunungan. Hati ini terasa tentram sekaligus bahagia, karena bersama inimaumere.com kami kembali menjelajahi tubuh molek nian sikka yang seakan-akan terlupakan keindahannya.

Dan yang paling berkesan ketika akan beranjak pulang, Moat Pius menyapa lokasi air terjun dengan bahasa Sikka yang artinya kira-kira begini,” Anak-anak ini datang dengan niat baik, dengan niat tulus, tolong dijaga perjalanan pulang,” begitu kira-kira. Dan anehya tiba-tiba Moat Ipir seakan-akan hilang dari sekeliling kami saat kami masih berkutat dengan tanah yang licin dan terjalnya perjalanan pulang.

Dirumah Moat Ipir kami melepaskan penat. Jarum jam sudah menunjuk pukul 8 malam. Dengan lampu pelita, kami bercengkerama sebentar sebelum akhirnya pulang ke Maumere. Sebuah doa dalam bahasa Sikka setempat kembali keluar dari Moat Ipir agar perjalanan pulang kami tak terjadi apa-apa.


Oss n Boim, segarnya air pegunungan...

Sungguh perkenalan pertama dengan alam Tanarawa, Tana Ai begitu mempesona. Yang patut disayangkan adalah ketiadaan sarana listrik bagi masyarakat setempat. Padahal rumah-rumah penduduk sudah cukup banyak. Ada beberapa sekolah, ada pula sebuah puskesma yang sedang dibangun. Sebuah gereja katolik dan rumah pastoran pun berdiri dengan meganya. Sayang memang, mungkinkah pemerintah memberikan fasilitas tersebut? Ah, jangan tanya pula, disini Hp atau ponsel sebagus dan secanggih apapun tak ada manfaatnya sama sekali untuk berkomunikasi. Maklum sinyal Hp pun tak ada. Hp dimanfaatkan menjadi senter. Hanya untuk penerangan, untuk dengar musik, kata San.

Turun dari Tanarawa menuju Maumere, perjalanan kami hanya ditemani burung-burung malam yang sesekali menghalangi pandangan kami. Suasana begitu gelap gulita. Hanya cahaya lampu motor dan temaram lampu pelita dari balik halar (bambu) rumah penduduk. Sepanjang perjalanan tak pernah sekalipun kami berpapasan dengan kendaraan lain. Dan kami membawa pesona Tanarawa, tak pernah terlupakan..

Dengan perjalanan yang kami lakukan beberapa hari lalu tersebut, Stasiun TransTv akan memasukan Tanarawa kedalam agenda program acara mereka Ethnic Runaway. Tunggu saja, karena krunya baru hari ini (13 januari 2011) tiba dan akan melakukan pemantapan lokasi bersama kami. Kisah berikutnya di Tana Ai segera bersama inimaumere.com

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 12 January 2011

Cuaca Buruk, Nelayan Tak Melaut

Harga Ikan Melambung


Angin kencang dan gelombang tinggi diperairan Teluk Maumere sejak beberapa hari terakhir, menyebabkan sejumlah nelayan tak melaut. Perahu-perahu dan kapal motor diparkir di pingir pantai. Para nelayan cuma bisa pasrah sambil memperbaiki perahu dan jaring yang digunakan untuk menangkap ikan. Seperti yang terlihat di pantai Beru dan Wairbubuk, Selasa (11/01/2011) Di kedua kawasan yang berdekatan tersebut, beberapa nelayan melakukan kegiatan memperbaiki perahu. Tinus, salah seorang nelayan di Wairbubuk bersama beberapa rekannya dengan cekatan meminggirkan perahu mereka. “Kalaupun melaut, kami hanya mencari dilokasi yang berdekatan dengan pantai. Kalau lebih ketengah sangat susah karena gelombang dan angin yang besar,” jelasnya. Akibat cuaca buruk Pelabuhan L.Say terlihat lebih lenggang. Dan sejak beberapa hari lalu harga ikan di Maumere naik tak menentu.

Harga ikan disejumlah pasar tradisional di Kota Maumere beberapa hari terakhir ini melonjak. Untuk mencari ikan yang berharga sesuai standar sungguh susah. Beberapa warga mengeluhkan hal tersebut. Ikan Selar yang menjadi santapan sehari-hari di Maumere tetap berharga Rp 10 ribu namun dengan jumlah ikan yang lebih sedikit. Jenis lain pun naik. Sedangkan ikan lempeng (irisan) yang biasanya dijual dengan harga Rp 10 ribu naik menjadi Rp 15 ribu sampai Rp.20 ribu.
Melonjanknya harga ikan segar berpengaruh juga terhadap kenaikan ikan-ikan bakar yang dijajakan di pinggiran jalan. Ikan bakar ukuran kecil yang biasanya dijual seharga Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu naik menjadi Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Meski mengeluh, para konsumen ikan menerima keadaan ini. Menurut mereka setiap akhir tahun dan awal tahun adalah musim barat dan harga ikan pasti tak menentu.
“ini kan su menjadi tradisi, kalau su musim begini pasti te harga ikan pasti naik. Nanti juga kembali normal kalau keadaan su baik,” kata Minggus, konsumen ikan bakar yang kebetulan antri menunggu ikan bakar di Kabor.

Cuaca buruk di perairan Teluk Maumere yang berada di kawasan pantai utara Flores hingga kini belum diketahui kapan berakhir. “Kami sudah tida melaut sekitar satu minggu. Semoga cuaca bisa kembali normal dan kehidupan kami mencari ikan bisa segera berjalan. Pemasukan macet kalau cuaca terus begini,” kata nelayan di Wairbubuk.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Kasus Bansos Rp 10,7 M Dilaporkan ke KPK

Dikutip dari Pos Kupang; Tim Pembela Demokrasi Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Timur (TPDI-NTT) melaporkan kasus dugaan penyimpangan bantuan sosial (bansos) senilai Rp 10,7 miliar di Sikka kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (10/1/2011).
Langkah itu ditempuh TPDI NTT lantaran belum ada respons dari Polres Sikka dan Kejaksaan Negeri Maumere terhadap kasus tersebut. "Laporan ini wujud peran serta kami ikut memonitor upaya-upaya pemberantasan korupsi di Kabupaten Sikka. Agar tidak berlarut-larut serta tertunda penanganannya, kami mohon agar KPK RI segera menjalankan kewenangannya dalam mengkoordinasikan, mensupervisi dan memonitoring proses hukum dugaan penyimpangan dana tersebut," ujar Koordinator TPDI-NTT, Meridian Dewanta Dado, S.H kepada wartawan di Maumere, Senin (10/1/2011).

Menurut Dado, kewenangan KPK dapat mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan dugaan tindak pidana korupsi dalam penyimpangan Dana Bansos di Kabupaten Sikka senilai Rp 10.752.959.500 melalui Kejaksaan Negeri Maumere. Bila instansi Kejaksaan Negeri Maumere melempem, tebang pilih serta terstagnasi dalam menjalankan tugas dan fungsi hukumnya dimaksud. maka KPK diharapkan segera mengambil alih proses penyelidikan, penyidikan dan penuntutan.

Menurut Dado, beraneka ragam pernyataan para petinggi Pemkab Sikka terkait persoalan dana itu telah membingungkan publik. Namun, belum satupun sanksi yang diberikan Bupati Sikka kepada pejabat-pejabat yang bertanggungjawab terkait dugaan penyimpangan penyaluran dana tersebut sesuai temuan Badan Pemeriksa Keuangan RI .

"Sanksi yang belum diberikan itu kepada kuasa pengguna anggaran pengelola dana bantuan bagian kesra. Pasalnya ia merealisasikan belanja tidak berdasarkan anggaran serta tidak melakukan pengawasan secara optimal atas pelaksanaan belanja dan mengesahkan kwitansi belanja bantuan sosial Bagian Kesra tanpa meyakini kebenarannya," ujar Dado.

Selain itu, Bupati Sikka juga sama sekali belum memberikan sanksi sesuai kepada Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra yang membuat bukti pertanggungjawaban yang tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. Tak hanya itu, sanksi juga belum dijatuhkan kepada Bendahara Bantuan Kabupaten Sikka dan Atasan Langsungnya yang tidak melakukan pengawasan secara optimal atas pelaksanaan belanja bantuan sosial oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan.

Menurut Dado, Inspektorat Kabupaten Sikka serta Bagian Kesra Sekda Sikka sama sekali belum bisa mempertanggungjawabkan penyaluran Dana Bantuan Sosial sebesar Rp. 10.752.959.500. Apakah dana bansos itu benar tersalurkan kepada penerima yang berhak ataukah hanya mengalir kepada orang yang tidak berhak.

"Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang bahkan sama sekali belum merekomendasikan laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan RI Perwakilan NTT kepada aparat penegak hukum setempat," kata Dado.

Dado menambahkan fakta-fakta penyimpangan dana bansos di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan adanya modus operandi yang sama serta sebangun. Fakta itu di antaranya mengajukan dana bansos namun obyeknya tidak ada alias nihil. "Bahkan dana bansos justru diberikan kepada instansi vertikal, tim sukses pemenangan pemilu, dan untuk dana lobi aparat hukum," ujarnya. Tak hanya itu, lanjut Dado, modus lainnya dengan memalsukan data-data atau menggelapkan data dengan lembaga penerima fiktif, stempel fiktif dan program fiktif. Selain itu mengurangi jumlah dana yang harusnya diterima atau digunakan dalam pekerjaan tertentu.

"Ada juga modus penggunaan dana bansos di luar dana APBD serta pemberian dana tersebut tanpa prosedur pengajuan proposal atau melalui cara-cara yang tidak memenuhi syarat hukum. Bahkan penyimpangan atau tindak pidana korupsi dana bansos biasa saja terjadi di daerah yang kepala daerahnya hendak mencalonkan diri kembali untuk menjadi kepala daerah pada periode berikutnya," demikian Dado.
(aly/poskupang)

foto: Meridian Dado
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 10 January 2011

Terima Kasih Maumere.........

Lewat RCTI Peduli, Dana yang Terkumpul


Pegelaran mulia yang dicetuskan para seniman muda Sikka sabtu malam berlangsung sukses. Dari sebuah tempat terpencil bernama Kabupaten Sikka, salah satu kabupaten miskin di Indonesia, penggalangan dana untuk korban bencana berjalan baik. Sejumlah musisi dan seniman ikut melibatkan diri dan menyemarakkan Malam Konser Amal yeng bertajuk “Harmoni Peduli Bagi Korban Bencana Nasional: Persembahan Dariku Untukmu Saudaraku”. Acara ini digelar di Halaman Parkir Barata Dept Store Maumere, Sabtu (08/01/2011) dan mendapat sambutan hangat dari pengunjung. Disela-sela gerimis yang datang dan pergi, pegelaran ini terasa istimewa karena semua diingatkan kembali akan tragedi tenggelamnya KM Karya Pinang/Tersanjung yang memakan korban 23 orang hilang lewat lelang lagu Tena Bitak (Kapal Pecah) yang dinyanyikan Babo dan sebuah karya terakhir musisi Tommy berjudul Au Le Ia. Selain para musisi, Novi sang penari ular ikut pula meramaikan acara. Penampilan Novi yang memasukkan kepala ular hidup kedalam mulutnya menjadi aksi yang memukau penonton. Konser Amal ini berhasil mengumpulkan dana yang selanjutnya akan diserahkan lewat RCTI Peduli.

Untuk Wasior
Ketua Panitia Konser Amal, Titi da Silva, mengatakan dana yang dikumpulkan akan disumbangkan lewat Aksi Peduli RCTI, termasuk dari lelang lagu yang dinyanyikan oleh artis daerah yang sedang menanjak, Babo. “Tak ada satu rupiahpun yang kami ambil dari penggalangan dana ini. Semua akan diserahkan bagi mereka yang membutuhkan,” ujar seniman lukis ini.

Acara yang dicetus seniman Kabupaten Sikka ini merupakan pegelaran pertama kali Maumere dan difokuskan untuk para korban di Wasior, Papua, namun sebagian juga akan disumbangkan ke Pantai Jompo Waipare dan korban tenggelamnya KM Karya Pinang di Kabupaten Sikka.

Hal tersebut dikatakan Paulina Yeni Kabupuung, Koordinator Umum Acara.
“Kami tak akan melupakan saudara-saudara kita disini yang mengalami cobaan kemarin. Tentunya sebagian akan disumbangkan dan lewat media inimaumere.com kami mengucapkan banyak dan limpah terima kasih bagi para penyumbang dana dan seluruh pihak yang telah mendukung dan ikut menyukseskan penggalangan dana di Maumere, dari sebelum acara berlangsung hingga puncaknya malam ini, Tuhan pasti membalas,” ucapnya.

Panggung berukuran kecil dan berdiri dihalaman parkir Barata, menjadi saksi peduli warga Maumere. Apalagi sebuah lampu follow light dan lighting menawan dari Nara Sound System yang terasa sekali menghidupkan suasana diatas panggung. Disela-sela nyanyian, kotak-kotak amal diedarkan secara terbuka kesemua pengunjung lewat kelompok King’s Moferz Club, sebuah komunitas pecinta motor king di Maumere. Dari atas panggung MC kawakan Lucky Reyner terus membakar suasana. Pengunjung dengan antusias ikut menyumbang, sungguh luar biasa.

Kotak sumbangan yang mendapat sambutan penyumbang & MC Lucky yang terus membakar pengunjung

Karya Tommy Terakhir
Penampilan perdana acara dibuka oleh band Take Off. Band ini berisikan musisi yang masih berusia belia dari usia SD hingga SMP. Semua personil merupakan cucu dari mantan Bupati Sikka, Aleksander Idong. Dilanjutkan dengan penampilan berkesan band senior beraliran reggae, Canabis Band.

Tak mau ketinggalan dengan yang lain, Yeni Kabupung yang dibeking Marissa, Marlin dan Kevin dari Games Pro memberi suasasana segar lewat lagu Halleuyah dan Nurlela. Pengunjung tak beranjak meski gerimis terus turun ke bumi.

Yeni Kabupung bersama Games Pro & penampilan gagah golo dari Sikka Akustik

Konser Amal turut melibatkan Babo, penyanyi daerah yang sedang menanjak dengan lagu berjudul Tena Bitak. Lagu ini dilelang ke pengunjung dan mendapat sumbangan yang lumayan. Diteruskan dengan kelompok akustik ternama Sikka Akustik yang berlanjut dengan kembali hadirnya anak-anak Games Pro.

Puncak pegelaran terlihat saat penampilan penyanyi senior Kons Lamak bersama Yeni Kabupung dan Games Pro yang menjadi kejutan istimewa. Selain jarang tampil dipanggung terbuka, penyanyi Kons Lamak merupakan salah satu macan panggung di berbagai festival musik Jawa Timur saat masih kuliah. Koloborasi dengan penyanyi R n B Yeni Kabupung sekaligus merupakan duet langkah yang jarang terjadi di Maumere.

Membawakan lagu berjudul Au Le Ia (Kamu Disana), koloborasi ini membuat semua terpukau. Selain lirik yang menyentuh lagu tersebut juga merupakan karya terakhir musisi Tommy, yang dipersembahkan bagi sang dede-nya (paman) Kons Lamak. Tommy merupakan salah satu korban tenggelamnnya KM Karya Pinang/Tersanjung di perairan Palu’e, Flores beberapa bulan lalu.

Adalah Novi, waria yang berdomisili di Kota Uneng ini mampu menghipnotis pengunjung dengan aksi dan gaya yang mendebarkan. Ia menari-nari dipanggung bak artis India. Diiringi musik bercorak India, seekor ular keluar dari kotak dan perlahan melilit tubuhnya. Tak itu saja, aksi yang paling mendebarkan adalah ketika ia memasukan kepala ular tersebut kedalam mulutnya. Atraksi dari sang penari ular ini tentu saja mengundang teriakan kagum sekaligus histeria dari pengunjung.

“Saya sudah 6 tahun menjadi penari ular di Kalimantan Selatan, dari satu cafe ke cafe lain dari satu panggung ke panggung lain. Tak ada masalah meski ular yang bersama saya malam ini baru dikenalkan tadi sore. Ular ini milik Om Nong di jalan Brai Maumere dan baru ganti kulit” jelasnya dengan tersenyum.

Penampilan Novi bersama ular dan Babo dalam lelang lagu Tena Bitak

Aksi dan Talenta
Ketua Panitia, Titi da Silva mengaku sangat terkesan dengan semangat para seniman. “Aksi yang digalang malam ini merupakan puncak dari semua sumbangsih yang telah dilakukan sebelumnya, yakni ngamen keliling dibeberapa tempat dan dari pintu ke pintu, sungguh luar biasa semangat seniman disini untuk membantu sesama. ” jelasnya.

Titi menambahkan kegiatan penggalangan dana merupakan inspirasi dari seniman Maumere yang kemudian diakomodimir oleh Yeni Kabupung bersama Games Pro-nya. ”Sebagai seniman dan musisi kami hanya bisa melakukan dengan talenta yang kami miliki dan dengan satu tujuan hanya untuk membantu dan meringankan penderitaan sesama,” katanya lagi.

Koser Amal Bertajuk “Harmoni Peduli Bagi Korban Bencana Nasional: Persembahan Dariku Untukmu Saudaraku” tersebut didukung antusias oleh sejumlah pihak. Selain warga Kota Maumere, dukungan untuk kesuksesan Konser Amal juga mengalir lewat www.inimaumere.com, Sonia Fm, Barata Dept.Store, Nara Sound System, FIF, Gramedia Maumere, Dialer Motor Yamaha Yes, Dialer Motor Raja Jaya, Komunitas Motor “Kings Mofer Club”, Taryono Studio.

Hasil pengumpulan dana di Maumere ini akan diserahkan kepada RCTI Peduli lewat perwakilannya di Maumere hari Rabu (12/01/2011) ini. “Semoga bisa meringakan beban saudara-saudara kita yang sedang menderita meski nilainya tak seberapa,” ujar Titi.

Konser Amal tersebut berakhir sekitar pukul 11 malam. Pengunjung tak beranjak hingga pegelaran usai. Banyak sumbangan yang telah diberikan dari warga Maumere yang dihasilkan dari ngamen keliling, undangan, saat konser amal dan pelelangan lagu. Semuanya akan diberikan kepada yang membutuhkan.

“Mungkin mereka tidak kenal Maumere dimana, Flores dimana, mungkin mereka tidak mengenal penyumbang dan sumbangsih dari semua di sini, mungkin mereka tak pernah tahu bahwa ada kegiatan penggalangan dana disini, mungkin saja mereka tak pernah tahu tapi bagi kita semua di Kabupaten Sikka itu tak penting, hanya kepedulian dan seberapa besar kita membantu sesama yang sedang menderita itulah yang membawa kita bersatu dalam kebersamaan,” tambah Titi.

Konser amal malam tersebut tak lepas dari kerja keras panitia yang beranggotakan anak-anak muda pekerja keras dan tentu saja dukungan penuh dari semua pihak. Tak lupa para personil band yang memukau lewat racikan aransemen musik mereka, yakni Valen Vardam (Bass), Andris (Gitar), Jupe (Gitar), Elfit (Organ), Lodi (Drum), Nollie (Bongo) dan sejumlah musisi dan penyanyi yang terlibat.

Pengunjung bertahan ditengah gerimis & aksi Games Pro membawakan lagu 'Syukuri Apa Adanya"


Titi da Silva & Yeni Kabupung

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Lodong Balik: Ritual Nelayan Sikka Melepas Sope Ke Laut

Oleh: Hersumpana
Trala-lala trala
Hela-hela golo mai tarai
Hai ho hela hela o geso-geso
(tariklah dengan benar, ayo beranjak maju-maju)
Sambil bernyanyi syair pembangkit semangat, sekitar dua puluh orang bapak- bapak, pemuda dan ibu-ibu bersama-sama menarik sope (kapal nelayan kecil) ke laut, hela-hela geso-geso, sorong terus hingga ke laut. Orang-orang kemudian bersorak. Itulah bagian puncak ritual lodong balik yang dilakukan oleh para nelayan laut selatan Sikka, yang terletak di Pulau Flores bagian tengah, sekitar 25 kilometer dari Kota Maumere.
Ritual adat menarik Sope ke laut ini dilakukan saat pagi hari ketika matahari beranjak naik di balik Bukit Kelelawar yang ada di sebelah timur pantai berbatasan langsung dengan Laut Sawu, Samudra Hindia. Ritual adat ini dipimpin oleh tetua dari famili Keluarga Parera, Bapa Omi, begitu orang memanggilnya. Bahan-bahan yang digunakan sirih pinang, bako, kapur, kelapa, benang putih, daun huler, kain putih dan ayam.

Kain putih ini berfungsi untuk membungkus welo gois (tai-tai kayu kapal dan peralatan lain, ditambah kepala ayam) diikat dengan tali lalu dibuang ke laut. Welo gois adalah simbolisasi dari halangan atau hal buruk, perlu dibuang ke laut agar terbebas dari bahaya.

Ritual adat ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan hala (halangan) bagi para awak kapal. Maka, dipilih orang yang bisa dipercaya dan masih ada hubungan famili dari pemilik kapal. Semua nelayan yang akan mengawaki sope duduk dekat-dekat dengan pemimpin ritual. Ritual ini diawali dengan mengambil sedikit goresan kayu, cat, atau peralatan apa saja yang ada di kapal yang kemudian ditambah kepala ayam dan dibungkus dengan kain putih. Kain ini selanjutnya dilarung ke laut oleh salah seorang sanak keluarga pemilik kapal.

Selanjutnya, pemimpin ritus membagikan sirih pinang dan rokok, semua anggota keluarga harus ikut makan dan merokok. Ketika memberikan sirih pinang tersebut tetua adat menyebut nama setiap arwah dari orang tua pemilik kapal sambil mengucapkan doa-doa.

Ina nian tana wawa ama moang blupur gete Blupur gete reta nirang tion Himo tion tear belang

(Allah Yang Maha Besar yang tinggal di tempat tinggi
Terimalah dan pertimbangkanlah persembahan kami)

Diat mi nawang bui dokang menik bano bele Blewar hure bano gele Lau watu hewar bura Lerong ena war bura

(Berilah yang manis untuk menunggu di tempat
Tebar pergilah mencari
Di tengah laut ada batu memutih
Hari ini seruan bahagia)

Kemudian semua awak kapal diperciki air kelapa dengan daun huler dengan mengucapkan doa-doa penyejuk dan penolak bala berikut:

Aha le’u waang tawa tati le’u tali dagir waing Heing plepang le’u karang kaet ‘alang Blatang ganu wair sina reta napung Blirang ganu kabor bali wali wolong

(Cabut rumput yang menghalang
Potong tali yang tersangkut di kaki
Sibak duri-duri yang menyangkut di kepala
Dingin seperti air Cina di sungai
Angin berhembus sepoi-spoi seperti nyiur kelapa Bali yang ada di bukit)
Bura nora miu (bahagia beserta anda sekalian).

Setelah itu acara menarik kapal dilakukan bersama-sama sambil menyanyi lagu pembangkit semangat. Dahulu orang-orang yang menarik kapal ke laut ini minum moke, minuman beralkohol terbuat dari sulingan buah enau atau lontar. Tanpa moke, dirasakan kurang semangat, tidak lengkap.

Pagi itu tidak ada moke, mereka bernyanyi saja. Banyak orang yang ikut menarik termasuk ibu-ibu, aku juga ikut mendorong kapal itu. Kapal memang berat, semua orang sampai keringatan sambil berteriak mendorong sekuat tenaga kapal itu masuk ke air laut. Moke baru disuguhkan setelah pekerjaan selesai. Para nelayan diundang oleh pemilik kapal untuk syukuran dengan makan bersama sambil minum moke dan merokok (musung bako).

Mematri Ingatan
Ritual lodong balik sudah lama tidak dilakukan di Sikka, orang-orang muda mulai melupakannya. Ini menjadi memori bagi para nelayan tua Sikka akan masa kejayaan mereka 20 tahun lalu ketika mereka masih melaut, sekaligus momentum untuk para nelayan muda masa kini. Kekayaan laut selatan sangat besar, merupakan sumber kehidupan hampir seluruh penduduk Sikka. Beberapa orang muda Sikka yang kembali dari merantau sekarang ini memilih jadi nelayan. Hasil dari menangkap ikan cukup menjanjikan dibanding bekerja di ladang atau menenun.
“Sekarang ini kehidupan sulit, daratan tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, lautan merupakan kekayaan terpendam yang maha luas”, demikian kata Kepala Desa Sikka, Hipotalis Kerwayu yang ikut dalam prosesi ritus lodong balik.

Teknik menangkap ikan nelayan Sikka, nelayan asli Flores, masih tradisional. Sebagian besar masih menggunakan sampan-sampan kecil (gepung) yang dikayuh dengan dayung, untuk melepas long line atau teknik pancing dengan menggunakan senar yang panjangnya mencapai dua ratus meter dengan ratusan mata kail.

Mereka kalah bersaing dengan nelayan-nelayan dari Bugis, Wajo, dan Buton yang menguasai sebagian besar wilayah pantai Flores. Mereka sudah menggunakan kapal-kapal besar yang berbobot sekitar 10 – 30 ton dan mengunakan pukat harimau. Hasil tangkapan nelayan Sikka tergolong kecil. Dalam satu malam, jika beruntung, mereka mendapat ikan sekitar 50-100 kg berbagai jenis. Mereka mendapat hasil cukup besar jika berhasil menangkap ikan merah. Satu ekor ikan merah besar dengan bobot 30 kg bisa mencapai harga 200 ribu rupiah. Jika mereka mendapatkan ikan babi (i‘ang wawi) meski besar dan panjangnya mencapai 2 meter tetapi harganya murah. Ikan yang paling laku keras adalah ikan tembang. Jika mereka menjual ikan tembang di pasar Maumere dengan menyebut tembang lela, dalam sekejap ikan habis diserbu pembeli. Ikan jenis ini kecil-kecil tetapi lezat rasanya. Ikan tembang ini menjadi semacam “identitas” atau trend mark jaminan kelezatan, ikan- ikan segar dari pantai selatan Sikka.

Pekerjaan melaut di tengah derasnya ombak laut selatan dengan menggunakan sampan-sampan kecil ini, memang berat. Konon, menurut tuturan Bapa Omi ada masa di mana banyak perempuan Sikka menjadi janda karena para lelaki yang pergi melaut tidak berumur panjang.

Banyak dari mereka menderita penyakit dan mati muda akibat hantaman ombak laut selatan yang keras. Penggunaan kapal bermesin menjadi satu cara untuk mengatasi kerasnya ombak dan meningkatkan hasil tangkapan. Ritual lodong balik ini menandai dimulainya penggunaan kapal-kapal bermesin diesel untuk meningkatkan hasil tangkapan dan meringankan beban kerja para nelayan. Kapal nelayan bermesin dengan 3-4 awak ini bisa mendapatkan hasil yang lebih besar. Penghasilan mereka semalam mencapai 1- 2 juta rupiah. Jika menggunakan sampan- sampan kecil (gepung) semalam pendapatan mereka rata- rata hanya bisa untuk makan sehari atau sekitar 50 ribu – 100 ribu.

Pekerjaan nelayan di Sikka ini kurun waktu terakhir kurang menarik minat karena banyak nelayan besar dari daerah lain menggunakan bom ikan di lingkungan perairan mereka. Mereka berasal dari Paga dan Ende, bahkan ada yang dari Jawa Timur.

Bom-bom ikan itu banyak menghancurkan terumbu-terumbu karang tempat tinggal ikan, sehingga ikan-ikan menjadi tidak berkembang dan berkurang populasinya. Dahulu orang Sikka setiap hari bisa melihat ikan-ikan lumba-lumba bermain-main di laut lepas, sekarang ini tidak ada lagi. Ritual lodong balik mencoba mematrikan kembali kesadaran para nelayan untuk bijak dalam menangkap ikan. Kembali meniupkan semangat kebersamaan di antara para nelayan sekarang. Tampaknya ini akan menghadapi tantangan besar perkembangan zaman yang lebih menekankan pencarian keuntungan sebagai motif utama dalam pencarian ikan.
Ironi (kegetiran)
Seringkali terjadi olok-olokan di antara para nelayan dengan para pemborong ikan. Ketika mereka berkumpul sambil minum moke dan membakar pisang, percakapan menjadi menarik.

Mereka menceritakan pengalaman-pengalaman mereka, baik sebagai nelayan maupun pengalaman-pengalaman lain ketika mereka merantau ke luar daerah. Bagi mereka menjadi nelayan merupakan satu pekerjaan yang cepat mendapatkan uang dibanding bekerja di kebun, yang memang terlihat gersang dan tidak banyak memiliki harapan.

Sementara jika mereka melaut, jika nasib baik, dalam semalam mereka bisa mendapatkan uang antara 300-500 ribu, bahkan jika musim ikan mereka bisa mendapatkan hasil mencapai 1 juta rupiah semalam. Di Sikka kebanyakan hasil-hasil ikan tangkapan nelayan itu sudah ditunggu para pemborong yang berasal dari kampung mereka sendiri. Jadi setiap kali habis melaut hasil mereka langsung menjadi uang. Salah satu tanda jika mereka mendapat uang banyak adalah keramaian para nelayan yang mabuk moke. Jika keadaan tenang itu berarti hasil mereka jelek.

Saat minum bersama para pemborong ikan ini berkelakar, nelayan-nelayan ini bodoh benar, mereka tidak tahu menyimpan uang. Dapat hari ini habis juga hari ini, tidak pernah berpikir hari esok. Lain kami, para pemborong tahu bagaimana harus menyimpan. Jika musim ikan jelek kita masih punya simpanan ikan kering. Para nelayan sendiri juga tidak kalah garang, mereka menyebut para pemborong itu suka berbohong, istilahnya pemblorong.

Pemblorong artinya suka omong besar tetapi tidak ada isinya. Menarik sekali melihat hubungan di antara nelayan dan pemborong ini. Ada semacam hubungan khusus, simbiose mutualitis di antara mereka, kerjasama saling menguntungkan. Sangat jarang para nelayan menjual tangkapannya sampai ke Maumere. Mereka lebih suka menjual ikan ke tetangga-tetangganya. Memang benar, ikan di Sikka jauh lebih mahal di banding di kota Maumere. Tingkat konsumsi ikan di Sikka sangat tinggi. Ikan merupakan menu utama. Pagi, siang, sore pasti lauknya ikan. Berkat protein yang tinggi itu konon kabarnya, orang-orang Sikka pintar-pintar. Hingga sekarang, orang-orang luar Sikka menyebut orang-orang Sikka sebagai orang yang pandai. Kepintaran orang Sikka itu terbukti bagaimana dari kampung kecil yang tandus itu mampu mendominasi suku-suku sekitarnya.

Suatu ketika dalam sebuah acara mete-mete atau kumpul-kumpul di rumah orang yang meninggal di Sikka selama empat hari setelah mayat dikubur, para nelayan ini dan para pemborong ikan terlibat dalam adu mulut setelah mabuk karena minum moke. Dalam adat Sikka, setiap acara pesta kematian atau nikah pasti disuguhi dengan moke. Akibatnya, ada seorang anak muda yang mabuk berat sampai baku hantam dengan orang tua, karena olok-olokan tentang pemblorong dan pembohong.

Si orang tua ini menanggapi serius lalu memukuli si anak muda. Orang tua ini marah besar karena anak muda ini sudah tidak hormat lagi pada orang tua. Kebanggaan orang Sikka dulu adalah apapun yang dilakukan orang tua, orang muda tidak akan berani. Seiring berjalan waktu, kebanggaan orang-orang Sikka tentang sukunya yang diekpresikan dalam ungkapan Sikka di (hanya Sikka), Sikka paling hebat, tampaknya perlu dikoreksi. Sebagaimana ritual lodong balik ini membuktikan betapa ritus penting ini sudah mulai dilupakan oleh para nelayan muda Sikka, sejak dua puluh tahun lalu. Saya merasakan bahwa identitas itu terus berubah seiring dengan semangat jaman.(Hersumpama).

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Friday, 7 January 2011

Bantuan Sosial Rp 10 Miliar Diduga Fiktif

Investigasi Mingguan Suara Sikka
Ada dugaan bahwa Kantor Bupati Sikka dibakar, kalau saja berkaca kepada banyaknya temuan BPK atas Laporan Keuangan Pemkab Sikka TA 2009. Salah satu temuan adalah bantuan sosial yang dikelolah Bagian Kesra Setda Sikka sebesar Rp 10.752.959.500. BPK menilai pertanggungjawaban belanja bantuan sosial pada Bagian Kesra tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. Sebaliknya Bagian Kesra beralibi kantor telah terbakar dan semua arsip ikut terbakar. Adakah benang merah dari argumentasi ini?
Kepala Bagian Kesra Setda Sikka Servasius Kabu yang dihubungi diruang kerjanya beberapa waktu lalu menolak memberikan keterangan. Dia beralasan belum mendapatkan hasil pemeriksaan BPK. Servasius mempersilakan komfirmasi Kepala Bagian Humas Markus Welung.
Markus yang dihubungi juga enggan memberikan keterangan. Dia mengarahkan bertemu Setda Sikka Cipri da Costa. Da Costa yang ditemui menegaskan tidak ada masalah dengan belanja bantuan sosial. Benarkah demikian?

Data yang dihimpun, bantuan sosial bagi organisasi sosial kemasyarakatan dan parpol untuk TA 2009 dianggarkan Rp. 26.661.770.000 dengan realisasi Rp. 24.833.282.490 atau 93,49%. Kesra mengelolah Rp. 13.585.000.000 dengan realisasi Rp. 12.486.789.500 atau 91,94%. Dari yang dikelolah Kesra terdapat anggaran Bantuan Sarana Prasarana Ibadah Rp. 1,5 Miliar dan Bantuan Sosial lainnya Rp 10,5 Miliar yang baru ditetapkan dalam APDB Perubahan TA 2009 tanggal 22 agustus 2009 Sebelumnya dalam APBD TA 2009 tanggal 28 januari 2009 hanya ditetapkan masing-masing hanya Rp 1,5 Miliar dan Rp 4 Miliar.

Ternyata pengujian atas bukti pertanggungjawaban bahwa sebelum tanggal 22 agustus 2009 realisasi masing-masing telah mencapai Rp. 2.456.656.000 (163,78%) dan Rp. 8.296304.500 (207,41%). BPK menilai realisasi anggaran ini mendahuluii APBD Perubahan masing-masing Rp.956.656.000 dan Rp.4.296.303.500.

Tidak Ada Rencana
Dalam penelusuran lebih lanjut BPK menemukan belanja bantuan sosial lainnya tidak dijabarkan secara rinci dalam laporan keuangan Pemkab Sikka. Setelah dikonfrontir dengan pihak-pihak yang bertanggungjawab ditemukan Rp 10.752.959.500 yang realisasinya tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya yaituh pengadaan Sarana dan Prasarana Ibadah Rp 2.456.656.000, Bantuan Emergency Bencana Gunung Berapi Egon Rp 656.431.500, Bantuan Emergency Kebakaran Rumah Tinggal Rp 6.129.697.000, Bantaun Emergency Bencana Angin Topan Rp 681.500.000, Bantuan Emeregency Bencana Abrasi, Banjir, Tanah Longsor Rp 828.675.000.

Anggaran ini terutama bantuan-bantuan emergency bisa saja diduga fiktif. Dalam pendapatnya yang tertuang dalam LHP atas Kepatutan terhadap Peraturan Perundang-Undangan dalam kerangka pemeriksaan Laporan Keuangan Pemkab Sikka TA 2009 BPK dengan jelas menyebutkan bahwa selama tahun 2009 tidak pernah ada keputusan Bupati Sikka atas kejadian bencana dan tidak pernah ada kejadian bencana besar. Bupati Sikka juga tidak pernah membentuk tim pelaksana untuk menangani bencana.

Menurut pemeriksaan BPK, seluruh proses pengadaan dan penyaluran bantuan dilakukan Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra, namun tidak adapat menunjukkan berita acara penyerahan barang-barang kepada masyarakat dan laporan kegiatan pemberian bantuan sosial selama tahun 2009. Bendahara Bantuan tidak pernah mengirimkan SPJ Fungsional kepada Bendahara Umum Daerah untuk dipertanggungjawabkan dan diverifikasi oleh Bidang Akuntasi Dinas PPKAD. Demikian bukti SSP PPN sebesar Rp 146.631.265,91 (1,5%) atas pembauaran sebesar Rp 10.752.959.500 sampai dengan tanggal 3 Agustus 2010 belum diperoleh.

BPK juga menemukan bahwa keseluruhan pembayaran hanya dilengkapi dengan bukti pendukung berupa kuitansi internal Kesra. Uniknya terdapat 29 kali pembayaran dengan kuitansi untuk belanja bahan baku bangunan dan belanja bahan makanan yang seluruhnya kepada CV. GL yang beralamat di Jalan Diponegoro, Waidoko Maumere. Kuitansi tersebut tidak didukung informasi yang jelas nama pemilik, alamat dan keterangan spesifikasi barang, serta tanpa lampiran kuitansi eksternal, faktur pajak, SSP, kontrak kerja dan berita serah terima barang dari rekanan kepada Kesra ataupun dari Kesra kepada masyarakat penerima bantuan. Pembelanjaan tersebut dilakukan secara bertahap selama tahun 2009 dengan nilai transaksi Rp 84,5 juta sampai denghan Rp 880 juta.

Masalah ini semakin terkuak ketika BPK mengkomfirmasi pemilik CV GL. Dimana diketahui bahwa CV GL tidak pernah bekerja sama secara langsung dengan Kesra ataupun menerima pembayaran uang dari Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra. CV GL hanya meminjamkan nama peruasahaan kepada UD SP untuk memasok barang-barang ke Kesra. Apalagi sejak berdiri tahun 2002 CV GL tidak pernah menyediakan barang-barang.

Dan pemeriksaan lanjutan BPK, ditemukan bahwa pemilik UD SP menunjukan bahwa terjadi pembayaran dari Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra kepada pemilik UD SP melalui transfer sebesar RP 3,720 Miliar dimana Rp 2,150 Miliar pada tanggal 4 september 209 dan Rp 1,6 miliar pada tanggal 2 Oktober 2009. Pemilik UD SP mengakui bahwa pembayaran tersebut diterima atas pasokan barang-barang kepada Bagian Kesra, namun dia tidak memiliki catatan tentang jumlah barang yang telah diserahkan kepada Bagian Kesra maupun masyarakat.

BPK juga mendapatkan keterangan dari Kuasa Pengguna Anggaran Kesra yang mengetahui UD SP sebagai pemasok barang-barang kepada Bagian Kesra. CV GL yang tidak pernah memasok barang tetap menandatangani kuitansi pembayaran sebesar Rp 10. 752.959.500.

Dalam catatannya BPK mengungkapkan bahwa sampai dengan pemeriksaan tanggal 27 Juli 2010, tidak diperoleh penjelasan atau bukti pembayaran atas sisa pembayaran sebesar Rp. 7.002.959.500.

Lapor Penegak Hukum
Terhadap temuan ini, BPK menyarankan Bupati Sikka agar memerintahkan Inspektorat Daerah untuk meneliti pertanggungjawaban dengan mencocokan kepada penerima bantuan sebesar Rp 10.752.959.500 dan melaporkan permasalahan ini kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan yang berlaku. BPK juga menyarankan kepada Bupati Sikka memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kuasa Pengguna Anggaran pengelolah Dana Bantuan Bagian Kesra, Bendahara Pengeluaran Pembantu Dana Bantuan Bagian Kesra dan Bendahara Bantuan Kabupaten Sikka.

Ironinya dalam catatan BPK pada LHP yang sama terdapat juga temuan Belanja Tidak Langsung TA 2009 sebesar Rp 3.425.625.000 yang belum dipertanggungjawabkan, diantaranya adalah Belanja Tidak Terduga sebesar Rp 1. 025.000.000 yang juga dikelolah Kesra dengan nomenklatur Bantuan Penanggulangan Bencana Alam (Kerusakan Rumah Tinggal dan Tanaman Pangan). Transaksi Belanja Tidak Terduga ini tidak dilengkapi dengan Keputusan Kepala Daerah tentang penggunaan Pos Belanja Tidak Terduga. Selain itu pemberitahuan kepada DPRD Sikka atas penggunaan pos belanja tidak terduga sebesar Rp 1. 025.000.000 terlambat disampaikan. Realisasi bantuan penanggulangan bencana alam disampaikan kepada DPRD Sikka pada tanggal 1 Juni 2009.

BPK menemukan bahwa Bendahara Bantuan DPPKAD menyatakan belum menerima dan belum pernah meminta bukti pertanggungjawaban penggunaan dana Belanja Tidak Terduga dari Kesra. Sementara Bendahara Pengeluaran Pembantu Pengelolah dan Kuasa Pengguna Anggaran Dana Bantuan Bantuan Kesra tidak dapat menunjukan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana tersebut dengan alasan kantor telah terbakar pada 26 Desember 2009 dan semua arsip ikut terbakar.

Nah lo...
************************************************************************************
Belanja Bantuan Sosial Lainnya yang Tidak Menggambarkan Kondisi Sebenarnya:
Pengadaan Sarana dan Prasarana Ibadah Rp 2.456.656.000
Bantuan Emergency Bencana Gunung Api Egon Rp 656,431.500
Bantuan Emergency Kebakaran Rumah Tinggal Rp 6.129.697.000
Bantuan Emergency Bencana Angin Topan Rp 681.500.000
Bantuan Emergency Bencana Abrasi, Banjir, Tanah Longsor Rp 828. 675.000
Total : Rp10.752.959.500
*************************************************************************************
Sumber: LPH BPK atas Keptahuan terhadap Peraturan Perundang-undangan dalam kerangka Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemkab Sikka TA 2009
(Mingguan Suara Sikka)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Surga yang Terpenggal di Teluk Maumere

Oleh: Junedi Jun
JARUM jam baru menunjukkan angka 07.30 WITA, di awal bulan Desember lalu, ketika kami meninggalkan homestay di Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Agenda kami hari itu adalah menuju kawasan pesisir pantai Kampung Wuring, titik untuk memulai penyelaman di beberapa titik di Teluk Maumere ini.

Kampung Wuring adalah sebuah perkampungan nelayan di pinggiran Kota Maumere, kurang lebih 5 Km dari pusat kota. Kampung yang mayoritas penghuninya adalah suku Bajo, suku yang lebih dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung. Bahkan rumah yang dibangun pun persis di atas laut, dengan struktur yang sangat kuat. Apabila petang menjelang, air pasang datang yang ketinggiannya nyaris menyentuh lantai rumah. Sementara untuk menghubungkan rumah ke rumah, warga hanya memakai bambu 2-3 batang saja sebagai jembatannya. Apabila tak hati-hati, bisa-bisa tercebur masuk ke air laut.

Pagi itu ketika melintasi pemukiman ini, kami bertemu dengan beberapa peneliti dari Jepang dan Amerika yang kata orang-orang sekitar, mereka sedang menganalisis struktur bangunan rumah orang-orang Bajo ini. Demikian juga, kami bertemu dengan beberapa pasang turis bule yang menginap di rumah orang Bajo ini.

Entahlah sejak kapan Suku Bajo ini mendiami kawasan ini. Beberapa orang yang saya kenal hanya bercerita bahwa asal-usul suku Bajo dari Sulawesi yang semuanya adalah pelaut-pelaut ulung yang sulit jika hidup atau tinggal di gunung. Kata “bajo” sendiri berarti mendayung perahu dengan alat yang disebut bajo. Mereka bisa dikatakan telah menjadikan laut sebagai “nyawa” mereka. Mereka seolah menyatu dengan laut. Dan tak perlu heran jika anak-anak kecil usia 4-5 tahun sudah mahir berenang dan menyelam. Barangkali mereka telah “diajarkan” berenang sejak dalam kandungan ibundanya!

Di Maumere, selain di kampung Wuring, suku ini banyak ditemui di Pulau Parumaan, Kojadoi, Pemana, dan dalam komunitas kecil hampir dapat ditemui di seluruh penjuru pesisir Maumere. Ada “hal yang lain” yang saya temui pada suku ini, yaitu tentang sekolah (formal). Sekolah pada sebagian besar suku ini adalah nomor sekian. Kebanyakan orang tua suku Bajo berpikir bahwa sekolah sampai sarjana pun tidak mendapat tempat yang layak di birokrasi karena mereka menganggap diri dan atau dianggap sebagai pendatang. Itulah mungkin yang kami temui pagi itu. Anak-anak kecil di pagi hari pada jam yang seharusnya mereka bisa belajar di sekolah, masih asyik bermain-main (belajar) di pantai.

Surga yang Terpenggal

Teluk Maumere, sesungguhnya adalah sebuah pesona hamparan perairan yang menyimpan berjuta potensi hayati di dalamnya. Pinjam istilah Emha Ainun Nadjib, selaksa surga yang terpecah dan bocor ke bumi nusantara. Betapa tidak, terumbu karang yang terkandung di dalamnya menyimpan keindahan yang luar biasa meskipun pernah porak-poranda diterjang tsunami pada tahun 1992. Terumbu karang dengan segala kehidupan yang terdapat di dalamnya merupakan sumberdaya yang memiliki keanekaragaman biologis yang tinggi, pesona keindahan, dan menyediakan cadangan sumber plasma nutfah. Tak hanya itu, terumbu karang di laut ini juga menjadi “rumah” bagi beragam biota laut, termasuk ikan-ikan hias berwarna-warni yang berenang hilir mudik di antara karang di kedalaman sekitar dua hingga lima meter.

Dengan kata lain, terumbu karang di sini memiliki peranan yang sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, terumbu karang merupakan tempat berbagai organisme yang berasosiasi dengannya untuk berlindung, mencari makan dan berkembang biak. Selain itu terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari gelombang dan abrasi.

Sedangkan fungsi ekonomisnya, terumbu karang yang indah bisa menjadi objek wisata bahari yang dapat menarik banyak wisatawan, sekaligus bisa dijadikan wilayah tangkapan ikan yang potensial bagi para nelayan.

Namun sayangnya, yang kami temui di bawah laut Teluk Maumere ini tidak semua terumbu karang berada dalam kondisi yang baik. Beberapa di antaranya tampak kritis, terpenggal, hancur berkeping-keping. Entah apa penyebab utamanya. Bisa jadi gempa dan gelombang tsunami besar yang terjadi pada tahun 1992 lalu menjadi penyebabnya. Namun dari pengamatan sekilas kami, sepertinya kerusakannya ini lebih disebabkan oleh ulah manusia yang melakukan pengrusakan terumbu karang dengan cara mem-bom dan pemberian racun ketika menangkap ikan. Ini bisa dilihat dari bekas-bekas hancurnya terumbu karang. Tentu saja ini sangat disayangkan karena akan berakibat pada kerusakan ekosistem laut dan dapat menurunkan hasil tangkapan ikan dan merosotnya pendapatan para pencari ikan.

Perkembangan pembangunan dan tuntutan ekonomi secara tak langsung juga turut memberikan tekanan terhadap kehidupan terumbu karang. Selain dengan bom dan racun sianida, yang menjadi ancaman terhadap kehidupan terumbu karang adalah pengambilan karang secara langsung dan sporadis untuk bahan bangunan, pengoperasian kapal dengan pukat harimau, kegiatan penambangan pasir dan penggundulan hutan pantai yang menyebabkan tingginya sedimentasi dan pencemaran akibat pembuangan limbah industri dan rumah tangga secara langsung ke laut.

Di samping itu, pembangunan hotel dan bangunan lainnya di pinggir pantai yang sekarang mulai marak di tepian pantai Maumere akan sangat mengganggu keseimbangan dinamis pola sedimentasi pantai jika tidak diperhitungan dampak ekologisnya. Akibatnya, air menjadi keruh dan tak bagus bagi pertumbuhan karang. Jika terumbu karang rusak, tentu suatu saat nanti akan memaksa nelayan mencari ikan hingga pulau-pulau kecil yang jauh dari daratan Pulau Flores. Begitulah, terkadang tuntutan kehidupan memaksa kita untuk “tak sadarkan diri” terhadap lingkungan. Mungkin kita baru akan menyadari kalau lingkungan kita “murka” dengan caranya.

Teluk Maumere, bagian dari Laut Flores, yang penuh misteri sekaligus menawarkan sejuta pesona, yang menghadirkan ketakjuban, keharuan sekaligus kerinduan, yang menghadirkan surga, sayangnya surga itu kini sedikit demi sedikit mulai terpenggal!
(foto: Junedi Jun)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---