Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Friday, 28 January 2011

Di Meja Makan Fitnah Itu Berakhir...

Dua dari tiga wartawan korban pemfitnahan: Slamet Kurniawan (Wartawan Sun Tv) dan Wentho Agustinus Eliando (Wartawan Flores File) oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bernadus Nita, sabtu pekan lalu sepakat menyelenggarakan masalah yang ada melalui jalan damai. Pada kesempatan ini, Kadis DKP menyampaikan permohonan maaf. Usai sepakat damai, dua wartawan korban yang didampingi Kuasa Hukum Merdian Dado dan beberapa wartawan yang bertugas dijamu makan siang oleh Kadis DKP.
Sementara satu korban pemfitnahan wartawan Suara Flores Aoysius Yanlali alias Yanes tidak hadir saat mediasi damai dengan alasan ia tetap komitmen membawa kasus itu ke jalur hukum. Yanes tetap mendesak agar penyidik tidak menghentikan pengusutan kasus ini sebelum ada kepastian hukum di sidang pengadilan.

Merdian Dewanta Dado selaku Kuasa Hukum wartawan korban pemfitnahan yang dikonfirmasi terkait kesepakatan damai dan penarikan laporan di polisi, selasa (25/1) menjelaskan upaya damai dilakukan setelah melalui proses pertemuan beberapa kali antara kadis DKP dengan wartawan yang kesemuannya dilakukan atas inisiatif DKP.

Dalam pertemuan itu, Kuasa Hukum serta Wentho Eliando, cs langsung mendengarkan pengakuan telah berbuat salah dari Kadis DKP serta permohonan maafnya.

“Selanjutnya Wentho cs dengan jiwa besar tanpa pamrih apa pun memaafkan kadis DKP tersebut. Intinya itikad baik dan niat tulus dari kedua belah pihak untuk saling mengakui dan menerima kekurangan masing-masing telah menjadi poin penting untuk menuntaskan kasus dugaan penghinaan oleh Kadis DKP terhadap Wentho cs,” kata Merdian.

Patokan kami bawasannya perdamaian adalah langkah mujarab untuk melanggengkan tali silaturahmi para pihak. Kemudian pada tanggal 22 Januari terlaksanalah proses perdamaian yang berlangsung di Kantor Dinas DKP dengan dihadiri oleh Kadis DKP beserta seluruh staf bersama kuasa hukum serta Wentho cs dan rekan wartawan lainnya. Bahkan Kadis DKP kembali mengakui kekhilafannya serta mohon maaf berulang-ulang kali dalam pertemuan damai tersebut.

“Jadi kami selaku Kuasa Hukum harus mengikuti apa yang klien kami inginkan, faktanya Wentho cs, sudah dengan jiwa besar memaafkan memaafkan kadis DKP, begitupun Kadis DKP sudah mengakui kesalahannya secara terbuka. Dengan demikian kasus menjadi selesai dan tuntas tidak ada proses hukum apa pun baik pidana maupun perdata.”
Rata Penuh Proses Hukum Jalan Terus
Satu korban pemfitnahan Aloysius Yanlali alias Yanes (Wartawan Mingguan Suara Flores) yang dikonfirmasi terkait kesepakatan damai tanpa kehadirannya selasa (25/1) menegaskan tidak benar kalau ada pihak lain yang mengklaim kasus itu telah dicabut dan telah berdamai.

“Kesepakatan kami pada pertemuan solidaritas wartawan di Kantor WALHI NTT beberapa waktu lalu bahwa kasus pelecehan terhadap tiga wartawan di Sikka tetap mengikuti proses hukum yang telah dibuat laporan polisi hingga Bernadus Nita ditetapkan jadi tersangka. Kami berkomitmen bahwa proses hukum dijunjung tinggi jadi tidak benar kalau ada pihak-pihak lain yang mengatakan kasus tersebut dicabut dan telah berdamai,” kata Yanes.

Menurut Yanes jika itu benar maka kuat dugaan bahwa pihak-pihak tersebut mau mencari keuntungan dari masalah yang ada.
“Mengapa saya katakan demikian, karena sampai saat ini, setahu saya masalah tersebut sedang dalam proses hukum di pihak kepolisian. Apalagi saya melihat ada pertemuan sana-sini di rumah warga, di warung makan dengan pihak Bernadus Nita yang difasilitasi orang luar, dan tidak ada kesepakatan bertiga bertemu dengan keluarga tersangka. Pertanyaannya mengapa itu terjadi, ada apa di balik itu semua? Yang jelas saya punya komitmen bahwa ending dari masalah ini adalah penyadaran dan pemahaman terhadap publik. Kuasa hukum jangan bertindak seolah-olah dia yang punya masalah. Mengapa tiba-tiba dia cabut tanpa ada kesepakatan dari yang bermasalah?” kata Yanes heran.

Menanggapi pernyataan Yanes, Merdian Dewanto Dado menggarisbawahi bahwa upaya damai kasus itu dilakukan secara terbuka di rumah makan dengan dihadiri oleh seluruh rekan-rekan kecuali Yanes yang memang tidak hadir dengan alasan ada urusan keluarga.

“Itu pernyataan tidak benar serta bersifat fitnah dari Yanes terhadap kami semua. Sebab pertemuan dilakukan secara terbuka di rumah makan dengan dihadiri oleh rekan-rekan kecuali Yanes yang memang tidak hadir saat itu. Namun sebelum pertemuan Yanes sudah kita kontak dan penyelesaian kepada kita yang hadir,” kata Merdian.

Menanggapi pernyataan Yanes untuk tetap tetap menempuh kasus itu melalui jalur hukum, Merdian menjelaskan hal itu merupakan hak yang bersangkutan. “Namun yang berhak mencabut atau meneruskan laporan adalah Wentho Aliando karena orang inilah yang melaporkan secara resmi kasus ini.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya (FP, 4 dan 7 Januari 2011) wartawan San Tv Slamet Kurniawan, Wartawan Suara Flores Aloysius Yanlali dan wartawan Flores File Wentho Agustinus Eliando melaporkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bernadus Nita ke Polres Sikka, Rabu pekan lalu. Bernadus Nita dilaporkan terkait dugaan pelecehan terhadap tiga wartawan itu saat melakukan tugas jurnalistik di instansi tersebut yang menyebutkan wartawan sebagai pihak yang biasanya meminta uang dan dibayar.

Ketua Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) NTT Merdian Dewantara Dadao selaku kuasa hukum tiga wartawan mengajukan gugatan pidana dan perdata dengan tuntutan ganti rugi Rp.1, 650 milyar.(FloresPos).

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 25 January 2011

Hujan Angin, Pohon Tumbang

Hujan deras yang disertai angin yang terjadi Senin (24/01/11) menyebabkan beberapa pohon di Jalan Eltari di Kota Maumere tumbang. Selain beberapa pohon, sebuah papan reklame yang berdiri gagah di pintu masuk Jalan Eltari juga rubuh. Kejadian tumbangnya beberapa pohon dan rubuhnya papan reklame tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 Wita saat hujan dan angin kencang menerjang. Seperti disaksikan inimaumere.com, berdekatan dengan rumah dinas bupati yang berada di Jalan Eltari, beberapa warga terlihat sibuk menebang pohon yang tumbang menghalangi trotoar. Selain itu, didepan Kantor Bupati Sikka sebuah pohon juga tumbang persis didepan pagar besi. Beberapa pohon lainnya yang berada didalam lokasi tersebut juga rubuh tertiup angin.

Pohon yang tumbang dan robohnya papan reklame di Jalan Eltari tidak menimbukan kemacatan karena tak melintang dibadan jalan. Nampak beberapa warga yang dengan antusias menebang pohon tersebut. Sedangkan papan reklame masih dibiarkan.

Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur sebagian besar Kabupaten Sikka menjelang sore ini juga menyebabkan genangan air yang terjadi di sejumlah jalan. Sampah-sampah bertebaran dan menghiasi badan jalan. Nampaknya hal ini telah menjadi sebuah masalah yang biasa bagi warga kota.

Kabupaten Sikka sebelumnya dalam minggu-minggu terakhir ini dilanda angin kencang dan gelombang tinggi. Sebagian besar daerah dipesisir pantai utara Kabupaten Sikka disapuh gelombang. Sebagian warga mengungsi. Terjangan gelombang dan angin kencang ini menyebabkan bencana yang terjadi di desa Wailamung, Lewomada, Nangahale, Waioti dan Paga juga gelombang laut di Pantai Utara (Pantura) Sikka yang menghantam Pulau Sukun, Desa Samparong, Kecamatan Alok sehingga merusak 24 rumah warga.



www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Komodo Hanya Meraih 60,62 Persen Pemilih Internasional

Binatang biawak raksasa Komodo (varanus comodoensis), penghuni Taman Nasional Komodo (TNK), hanya mampu meraih 60,62 persen pemilih internasional selama empat pekan terakhir atau berada diperingkat ke-26 dari 28 finalis.
"Untuk pemilih internasional, selama empat minggu terakhir, Komodo hanya mendapat dukungan 60,62 persen atau peringkat ke-26 dari 28 finalis," kata Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Nusa Tenggara Timur, Ubaldus Gogi di Kupang, Minggu (23/1), terkait dukungan pemilih internasional.
Finalis New7Wonders yang meraih pemilih terbanyak internasional adalah Kalimanjoro meraih suara internasional 99,96 persen, Mud Volcanoes 99,82 persen, Galapagos 99,76 persen, Cliffs of Moher 99,65 persen, Miford Sound 99,62 persen.

Berikut, Black Forest 99,59 persen, Vesuvius 99,50 persen, El Yuque 99,45 persen, Maldives 99,40 persen, Great Barrier Reef 99,16 persen, Uluru 99,15 persen, Dead Sea 99,06 persen. Selanjutnya Jelita Groto 98,54 persen table Mountain 97,20 persen, Bay of Funday 97,14 persen, Masurian Lake District 95,82 persen, Grand Canyon 95,51 persen, Angel Falls 95,27 persen, Amazon 93,38 persen dan Yushan 92,92 persen.

Sementara hanya tiga finalis yang meraih suara pada kisaran 80-an persen masing-masing Puerto Princesa Underground River meraih 86,42 persen, Halong Bay 86,38 persen dan Iguazu Falls 86,30 persen. Sedangkan tiga finalis terkahir lainnya adalah Komodo hanya meraih suara di luar negara asalnya Indonesia sebesar 60,62 persen dan finalis Jeju Islands hanya meraih 57,74 persen dan finalis Sundersbands sebagai juru kunci (28) mengoleksi suara internasional hanya 50,54 persen.

Menurut Ubaldus Gogi peringkat peroleh suara nasional dan internasional selalu berubah-ubah, sehingga hasil yang diperoleh saat ini masih berpeluang untuk bertambah atau bahkan menurun, tergantung pada kriteria dan berapa banyak pemilih yang melakukan pemilihan hingga November 2011. Artinya, masih terbuka peluang bagi pemilih di seluruh dunia terutama dari Indonesia untuk memberikan dukungan kepada Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Dia juga berharap, semua pihak di Indonesia terus melakukan kampanye agar masyarakat Indonesia dapat memberikan suara untuk mendongkrak popularitas binatang langkah Komodo. "Panitia penyelenggara menargetkan ada satu miliar voter untuk ajang ini. Jadi kita harus mendapatkan minimal 200 juta voter untuk komodo," kata Ulbadus Gogi.(ant)
Selengkapnya...

Wednesday, 19 January 2011

Ethnic Runaway Trans TV di Tanarawa, Segera..

Salah satu adegan di Ethnic Runaway - Tanarawa - Sikka
Intan Ayu, artis berparas manis, blasteran Padang – Jawa dan Ki Daus, pemeran satpam dalam Suami-suami Takut Istri, dalam kegelapan malam puncak Waiblama berjalan perlahan, melewati sungai kecil lalu mendaki bukit terjal dengan penerangan dari beberapa kru. Diatasnya, para tetua adat dan warganya menyambut kedatangan mereka. Sebuah nyanyian berbahasa lokal terdengar memecah kesunyian malam nan gelap. Obor ditangan dan koor lagu adat, menyatu bersama desau suara pepohonan. Kami menyaksikan penerimaan adat yang terasa manis.
Percikan air, sapaan adat dan pengalungan selendang tenun ikat menandai awal perjumpaan dua artis tenar itu. Dari kejauhan kejauhan kami menyaksikan pengambilan gambar tersebut hingga mereka diterima dan duduk bersama didalam rumah adat. Disana ada tawa, ada senyum nan tulus menyatu dengan keluguan warga setempat. Kenangan tak terlupakan bahwa disitu kedua artis pernah bersama mereka selama beberapa hari. Makan dan minum dan berkehidupan bersama.

***
Kami memasuki Dusun Lewak, Waiblama sekitar pukul 12 siang. Tiga kendaraan yang melaju kencang dari Maumere, membawa para kru Trans Tv yang hendak melakukan pengambilan gambar di Tanarawa. Sebelumnya admin inimaumere.com (Oss n Boim) telah melakukan survey lokasi di beberapa daerah di Tana Ai, tapi di Tanarawa yang akhirnya terpilih. Saat survey itu kami telah bertemu dengan Kepala Suku Ipir, Moat Pius Ipir yang antusias menerima kami, tentu saja.

Bersama Lucky Reyner dari Radio Sonia FM, dua mobil kami pandu membawa 5 orang kru Trans beserta perlengkapan lapangan. Yang kami tahu bahwa pengambilan gambar ini sebagai bagian dari episode acara Ethnic Runaway, salah satu acara out door yang bercerita tentang kehidupan berbagai etnis pedalaman di berbagai daerah di Nusantara. Setelah menjemput mereka di Bandara Frans Seda, tanpa mencari penginapan kami segera menuju lokasi. Disana segala dimantapkan, sambil menunggu kedatangan artis, bintang dari Ethnic Runaway ini.

Rumah beratap jerami, berlantai tanah, berdinding halar (bambu) sebagai bagian dari bangunan rumah adat suku Mau, salah satu suku dari 15 suku yang dikepalai Pius Ipir berada sebuah ketinggian. Untuk mencapai kesana, kami harus melintasi sebuah sungai dan berjalan menapaki jalan setapak yang diteruskan mendaki ketinggian. Tak terlalu sulit sebenarnya.

Kru Trans TV, melewati sungai menuju rumah adat & Intan n Ki Daus dalam satu adegan

Hari pertama tersebut, para kru melakukan persiapan dan menggali segala macam informasi. Semua yang telah dipersiapkan diberitahukan kepada kepala suku agar keesokan harinya bisa berjalan lancar. Sore hari, kami turun dari puncak Waiblama menuju penginapan di Wairterang.

Selama 3 hari, kru Ethnic Runaway Trans TV melakukan pengambilan adegan. Yakni dari tanggal 13, 14 hingga 15 Januari 2011. Tak ada kendala berarti. Para pelakon mampu melakoni adegan dengan baik meski sebenarnya cukup nervous. Semua terbantukan dengan kerja tim dan suasana segar dari Ki Daus yang selalu berceloteh riang. Meski hujan kadang mengganggu namun pengambilan adegan berjalan dengan baik.

Menurut rencana, awal-awal februari ini Ethnic Runaway di Tanarawa akan ditayangkan. Detil tanggalnya akan kami beritahukan segera.(Oss)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 17 January 2011

Wow, Utang Bagian Kesra Miliaran Rupiah!

Investigasi Mingguan Suara Sikka
Satu lagi kebobrokan yang sedang terjadi di Bagian Kesra Setda Sikka. Terungkap selama tahun anggaran 2009-2010 Bagian Kesra melakukan pinjaman berupa utang kepada Suitbertus Amandus, pemilik CV Surya Putra 2000. Kini masalah hutang Bagian Kesra itu menjadi diskusi seru ditengah elite birokrat. Perdebatan sengit juga merebak hingga ke ruang politik. Pertanyaan kita adalah: Ada apa dengan Bagian Kesra?
Data yang dihimpun Suara Sikka bahwa hutang Bagian Kesra itu terdiri dari 2 bentuk. Ada hutang dalam bentuk barang sebesar Rp. 585.011.860 dan ada juga hutang dalam bentuk uang tunai sebesar Rp. 3.924.000.000. Artinya total pinjaman atau hutang Bagian Kesra kepada Suitbertus Amandus mantan Anggota DPRD Sikka masa bakti 2004-2009 yang pernah di-recall oleh Partai Golkar itu adalah sebanyak Rp. 4.509.011.860.

Hutang dalam bentuk barang yang terjadi pada bulan September hingga Desember 2009 serta Februari, Maret dan Oktober di tahun 2010. Dalam rentang waktu itu terjadi 31 kali Bagian Kesra berhutang dalam bentuk barang.

Transaksi hutang barang berlangsung dari tanggal 5 September 2009 hingga 25 Oktober 2010. Besarnya hutang dalam bentuk barang bervariasi, dari yang paling kecil Rp. 840.000 pada tanggal 23 Febuari 2010 hingga yang paling besar Rp 90 juta pada tanggal 13 Oktober 2009. Sementara hutang dalam bentuk uang yang terjadi pada bulan Mei, Juni, Juli, November, Desember 2009 serta Januari, Febuari, Maret, April, Mei, September, November 2010. Dalam rentang waktu itu terjadi 14 kali Bagian Kesra berhutang, dalam bentuk uang tunai. Hutang uang tunai ini juga bervariasi dari yang paling kecil Rp 10 juta pada tanggal 31 Maret 2010 hingga yang paling besar Rp 1.374.000.000 pada tanggal 16 Juni 2009.

Saling Lempar
Cukup sulit mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di Bagian Kesra sehingga harus terpaksa melakukan hutang kepada Suitbertus Amandus. Yoseph Otu, bendahara pengeluaran Bagian Kesra yang sebenarnya paling bertanggung jawab terhadap hutang ini tidak mau memberikan keterangan. Dia menyarankan Suara Sikka langsung bertemu dengan Kepala Bagian Kesra, Servasius Kabu. Yoseph Otu beralasan tidak memiliki kewenangan untuk memberikan keterangan.

Suara Sikka terpaksa bergeser ke Servasius Kabu, yang ruang kerjanya hanya beberapa meter saja dari ruangan kerja Yoseph Otu. Meski mengakui bahwa ada hutang sebesar itu sesuai data yang dimiliki Suara Sikka, sayangnya Servasius Kabu juga menolak memberikan keterangan. Menurutnya, yang paling bertanggung jawab adalah Yoseph Otu. Nampak jelas sekali kedua pejabat ini saling lempar tanggung jawab, bahkan untuk meluruskan persoalan yang sedang terjadi sekalipun keduanya tidak bergeming.

Perintah Bupati
Dengan segala upaya dan cara akhirnya Servasius Kabu pun buka mulut. Dia mengatakan, bahwa hutang Bagian Kesra pada Suitbertus Amandus semuanya dilakukan oleh Yoseph Otu. Dia sendiri tidak mengetahui peruntukan dari hutang tersebut. “Kalo saya tanya sama dia ( Yoseph Otu, Red ), jawabanya adalah ini perintah Bupati,” ungkap Servasius Kabu.

Dengan jawaban seperti itu, Servasius Kabu mengaku tidak bisa berbuat banyak meskipun sesungguhnya dia menyadari memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap seluruh program di Bagian Kesra termasuk aliran bantuan kepada masyarakat. Karena itu, katanya semua nota pinjaman ditandatangani oleh Yoseph Otu. Dia sendiri mengaku hanya menandatangani 4 nota pinjaman.

Empat nota pinjaman yang ditandatangani oleh Servasius Kabu, yaitu utang dalam bentuk barang pada tanggal 21 Desember 2009, 24 Desember 2009, 16 Februari 2010, dan 25 Oktober 2010. Pada tanggal 21 Desember 2009 sebagai bantuan untuk kebakaran 8 rumahtinggal di Pruda berupa 400kg beras , 42 sarimi, 8 terpal, 40 tikar, 96 buah piring, 96 buah sendok dan 96 buah gelas plastik dengan total bantuan Rp.10.855.360.

Sedangkan pada tanggal 24 Desember 2009 sebagai bantuan untuk masyarakat Kringa berupa 1 unit mesin Genset, 1 set sound system dan 1 casio dengan total bantuan Rp. 37.500.000. hanya saja bantuan ini tanpa melalui disposisi Bupati Sosimus, tetapi melainkan permintaan lisan ketua DPRD Sikka, Rafael Raga langsung kepada Servasius Kabu.
“Waktu itu Pak Raffael bilang sudah bicarakan dengan Bapak Bupati. Jadi kami pinjam barang-barang itu dari Amandus, apalagi menjelang hari natal. Saya sempat tanya lagi pak Reafael bagaimana cara mengirimkan barang ini, tetapi karena waktu itu beliau hendak ke Kringa sehingga beliau minta dititipkan saja lewat mobilnya, “ jelas Servasius Kabu.

Untuk tanggal 16 Febuari 2010, Servasius Kabu menandatangani untuk b antuan sebesar Rp.1.695.000 berupa 15 sak semen dan 8 batang besi berukuran 6 mili. Anehnya ketika menunjukkan nota pinjaman kepada Suara Sikka, terdapat semacam perubahan jumlah pada sak semen, dimana ditulis dengan angka 25 tapi keterangan dalam kurung adalah 15 sak.

Nota yang terakhir ditandatangani oleh Servasius Kabu yaitu pada tanggal 25 Oktober 2010 dengan total bantuan sebesar Rp. 19.971.500. Bantuan ini diperuntukkan bagi korban tenggelamnya KM Karya Pinang yakni berupa 161 sak semen, 92 lembar seng, 115 batang besi ukuran 12 mili dan 12 kg kawat ikat.

Harus persetujuan DPRD
Masalah hutang ini menjadi perdebatan menarik di ruang politik. Sebagian anggota Badan Anggaran DPRD Sikka mendesak agar masalah ini dibawa ke ranah hukum. Namun sebagian anggota Badan anggaran lainnya menginginkan perlu diklarifikasi untuk mengetahui mana yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan mana yang menjadi tangggung jawab pribadi.

Paolus Nong Susar, Ketua Fraksi Gerindra yang adalah anggota badan anggaran lebih memilih untuk terlebih dahulu mengklarifikasi kepada pihak-pihak terkait. Dengan itu, hematnya, bisa didentifikasi siapa-siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap hutang Bagian Kesra ini. Menurut pegiat dan aktivis LSM ini, klarifikasi adalah langkah-langkah bijak sebelum semua persoalan diserahkan kepada yang berwajib.

Seementara itu Ketua Fraksi PDIP, Darius Evensius yang juga adalah anggota badan anggaran menuding masalah ini nterjadi karena tidak adanya kepatuhan SKPD dalam pengelolaan keuangan. Dia menilai persoalan ini menujukan kinerja pemerintahan masih berjalan pincang.

Lain lagi dengan Landoaldus Mekeng, mantan Sekda Flotin yang juga adalah anggota Badan anggaran fraksi partai Golkar. Menurut wakil rakyat yang terkenal kritis ini, seharusnya pemerintah tidak perlu meminjam uang tunai. Karena sejak adanya DAU, setiap bulan dananya dicarirkan seperdua belas dari total DAU. Dengan mekanisme baku seperti ini, kas daerah selalu ada uangnya. “Kalo dana tidak ada dan terpaksa pinjam, maka pinjaman daerah harus dengan persetujuan DPRD. Pinjaman luar negeri juga harus dengan persetujuan menteri keuangan, “ Ujarnya.

Panggil Bupati Sikka
Masalah hutang ini kian seru diperdebatkan badan anggaran DPRD Sikka sewaktu pembahasan RAPBD 2011 bersama Bagian Kesra, Jumat (7/1). Anggota badan anggaran seperti Landoaldus Mekeng, Georgonius Nago Bapa, Paolus Nong Susar, Alfridus M. Aeng, dan Ambros Dan, mencercar habis Servasius Kabu yang hari itu hadir tidak didsampingi Yoseph Otu, tetapi hanya didampingi salah satu Kepala Sub Bagian Moses Talan.

Ambros Dan mengungkapkan bahwa dia pernah bertemu dengan Suibertus Amandus untuk mencari tahu ikhwal hutang piutang ini. Dan menurut keterangan Suitbertus Amandus, ada banyak pihak yang datang kepadanya untuk meminjam uang dengan alasan permintaan dari Bupati dan Wakil Bupati. Bahkan Amros tidak segan-segan menyebut para pihak itu seperti Yoseph Otu, Sius Ngaji, dan Maria Gorethi. Untuk itu dia mengharapkan DPRD Sikka menghadirkan Suitbertus Amandus sehingga persoalan ini bisa menjadi terang benderang.

Tidak ketinggalan juga Felix Wodon dan Alex Longginus dari meja pimpinan pun ikut menggelitik dengan nada keras. Alex Longginus, pentolan PDIP Sikka yang pernah 5 tahun menjadi Bupati Sikka (2003-2008) mendesak DPRD Sikka untuk menggelar rapat dengar pendapat dengan pemerintah dan memanggil Bupati Sosimus untuk memberikan keterangan terkait hutang ini. Bak gaung bersambut, pendapat ini direspon badan anggaran. Kemungkinan setelah sidang RAPBD 2011 ini selesai, DPRD Sikka akan mengagendakan dengar pendapat itu.

Adakah ini babak baru untuk melakukan impeachment kepada Bupati Sosimus dan Wakil Bupati Wera Damianus? Ataukah malah DPRD Sikka hanya gertak sambal, hanya merengkuh kepentingan-kepentingan politik kedepan? Masyarakat sangat berharap agar DPRD Sikka sebagai lembaga politik yang memiliki hak budget tidak main-main memberikan keputusan politik atas persoalan ini. Karena kalau benar seperti yang dikatakan Landoaldus Mekeng, dan benar pula yang diungkapkan Servasius Kabu maka tidak ada salahnya DPRD Sikka membuat Pansus untuk menyelidiki persoalan ini sesungguhnya.

Tapi seperti yang dikatakan Servasius Kabu kepada media ini usai mengikuti Sidang RAPBD 2011, yang penting jangan ada dusta diantara kita. (Eny/Mingguan Suara Sikka)
********************************************************************************

Bon Barang Bagian Kesra Setda Sikka


5 September 2009 Rp 4.785.000
5 September 2009 Rp 42.460.000,-
8 September 2009 Rp 2.487.500,-
8 September 2009 Rp12.875.000
9 Sepember 2009 Rp 7. 720.000,-
11 September 2009 Rp 930.000
12 September 2009 Rp 2.250.000,-
14 September 2009 Rp 2.700.000,-
15 September 2009 Rp 2.250.000
17 September 2009 Rp 2.250.000,-
17 September 2009 Rp 912.500,-
6 Oktober 2009 Rp 7.550.000,-
7 Oktober 2009 Rp 1.375.000,-
7 Oktober 2009 Rp 21.320.000,-
12 Oktober 2009 Rp 33.900.000
13 Oktober 2009 Rp 90.100.000,-
13 Oktober 2009 Rp 49.500.000
29 Oktober 2009 Rp 1.165.000
17 November 2009 Rp 2.070.000,-
23 November 2009 Rp1.725.000,-
26 November 2009 Rp 65.000.000,-
26 November 2009 Rp 33.215.000,-
12 Desember 2009 Rp 3.200.000,-
22 Desember 2009 Rp 10.855.360,-
23 Desember 2009 Rp 85.000.000,-
23 Desember 2009 Rp 37.000.000,-
5 Februari 2010 Rp 24.000.000,-
16 Februari 2010 Rp 1.695.000,-
20 Februari 2010 Rp 1.075.000,-
23 Februari 2010 Rp 840.000,-
31 Maret 2010 Rp 15.000.000,-
25 Oktober 2010 Rp 19.971.000,-
Total Rp. 585.011.860,-

Bon Uang Tunai Bagian Kesra Setda Sikka:

5 Mei 2009 Rp 250.000.000,-
16 Juni 2009 Rp 1.374.000.000,-
27 Juli 2009 Rp 600.000.000
28 November 2009 Rp 150.000.000,-
16 Desember 2009 Rp 150.000.000,-
23 Desember 2009 Rp 100.000.000,-
8 Januari 2010 Rp 400.000.000,-
22 Februari 2010 Rp 150.000.000,-
31 Maret 2010 Rp 10.000.000,-
20 April 2010 Rp 250.000.000,-
23 April 2010 Rp 150.000.000,-
7 Mei 2010 Rp 150.000.000,-
21 September 2010 Rp 150.000.000,-
13 November 2010 Rp 40.000.000,-
Total Rp. 3.924.000.000,-
Sumb: Mingguan Suara Sikka

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 13 January 2011

Pesona Tanarawa, Pesona Tana Ai..

Sebuah Kisah di Tanarawa..

Pesona Air Terjun di Tanarawa dan Toke (mantel hujan tradisional) Suku Ipir-Tana Ai

Tak pernah terpikirkan kalau suatu saat berada ditengah kehidupan alam Tana Ai.  Sebuah suku asli di ujung timur Kabupaten Sikka.  Di wilayah ini, masyarakat setempat masih memegang tradisi dan budaya lokal yang berkaitan dengan alam, leluhur dan wujud Tertinggi. Bagi kami,  pengelaman ini  adalah tantangan yang mengasikan. Meski kami (Oss n Boim) sendiri lahir dari perut buana Kabupaten Sikka, tapi menjelajah hingga kepedalaman Tana Ai adalah sebuah kisah unik. Bagimana tidak, di daerah ini kami mengenal berbagai hal. Sedikit banyak lebih paham tentang kebiasaan dimasing-masing suku mengenai berbagai pantangan, kepercayaan dan segala sesuatu yang bersentuhan dengan alam. Disana kami bertemu Mo'at Pius Ipir, seorang Kepala Suku Ipir yang mengepalai 15 suku lain di Tana Ai. Ia berusia 52 tahun. Hidup sangat sederhana dengan anak-anaknya dan membesarkan mereka lewat hasil kebun dan ladang. Dari dia banyak hal kami ketahui. Termasuk melihat air terjun yang menjulang indah ditengah rimbunan pohon hutan. Ada sapaan adat. Ada perasaan mistis sekaligus mendebarkan. Yuuukk...

Anak muda bernama San, asli dari Tana Ai kami ‘culik’ sebagai pemandu perjalanan. Maklum, inilah pertama kali menuju Tana Ai. Dan tujuan utama adalah kehidupan Suku Ipir. Suku ini berada di Dusun Lewak, Desa Tanarawa, Kecamatan Waiblama. Kebetulan San adalah putera asli dari Waibalama dan berasal dari Suku Ipir. San mengenal betul daerahnya. Dia selalu bersemangat jika bercerita tentang Tana Ai.

***
Hujan deras baru saja membersihkan debu Kota Maumere. Kami bertiga meninggalkan kota dengan dua sepeda motor bebek. Jalanan aspal begitu basah dan terasa licin. Sepanjang jalan gerimis bagai kekasih setia. Dan ketika hujan membesar kami sejenak berpisah. Saat meredah, motor kembali berlari kencang karena mengejar waktu yang tinggal sepotong. Maklum jarum jam telah memberi isyarat hampir pukul 15.00 Wita. Artinya kami harus bergegas sebelum rembulan menjemput. Padahal baru setengah perjalanan. 

Tana Ai adalah salah satu etnis besar yang ada di Kabupaten Sikka. Selain Tana Ai, 5 etnis lainnya yang mendiami wilayah Kabupaten Sikka adalah Sikka, Krowe, Lio, Palu’e dan Tidung Bajao. Di Tana Ai sendiri ada kira-kira 26 suku. Ritual dan pertalian hubungan dengan leluhur selalu diungkapkan suku-suku tersebut dengan berbagai upacara yang unik dan melibatkan banyak orang. Ritual-ritual dilakukan dengan tujuan untuk kesejahteraan masyarakat dan keutuhan hubungan dengan Tuhan, leluhur serta alam.

Meninggalkan Maumere menuju Tana Ai, arah perjalanan menuju timur Kabupaten Sikka. Menyusuri lintasan jalan raya beraspal mulus  di jalur utara Pulau Flores. Tentunya, perjalanan  akan menyenangkan.  Sebabnya sebagian besar pemandangannya adalah pantai indah dan tenang. Dari Maumere, Geliting, Waiara, Waigete, Wodong, Wairterang, Talibura, semuanya menebarkan ketentraman.

Butuh waktu sekitar sejam perjalanan hingga Kecamatan Talibura yang notabene didiami sebagian besar suku-suku Tana Ai. Talibura berada dalam lintasan jalur menuju Kabupaten Flores Timur (Larantuka).

San memberi isyarat mengambil arah belokan ke kanan ketika kami tepat dipersimpangan Desa Nangahale  Talibura. Katanya, ini adalah akses menuju ke Desa Tanarawa, Dusun Lewak Kecamatan Waiblama. Wilayah yang berada di pegunungan beriklim sejuk ini adalah tempat kelahiran San. Jarak dari jalan utama sekitar 20 Km.  Kelokan kanan dan kiri sungguh rapat. Pengendara harus berhati-hati meski aspal jalan sangat mulus.
"Jalan ini juga baru saja dibangun, sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan," kata San.

Menjelang sore sekitar pukul 16.30 akhirnya kami tiba di Dusun Lewak. Tak berapa lama kami telah berada di rumah Philipus Pius Ipir, sang kepala suku. Rumahnya sangat sederhana, seperti pula rumah penduduk suku umumnya. Dari duduk-duduk cerita, kami memberitahu perihal kedatangan. Kami diperbolekan memotret, diperbolehkan bertanya dan disuguhi teh panas. Udara dingin segera berlalu sejenak.


Boim n Oss, apit Moat Pius Ipir & istirahat sejenak di perjalanan, dibelakang G,Egon tertutup kabut..

Dari sekian banyak upacara dan ritual, ada dua yang cukup terkenal dan menjadi bagian dari budaya suku Tana Ai, yakni Garen Lameng dan Gren Mahe. Keduanya masih dijalankan hingga sekarang. Gareng Lameng adalah upacara penyunatan terhadap laki-laki sebagai tanda ia telah dewasa dan menjadi laki-laki dalam suku tersebut. Upacara Garen Lameng sendiri terkesan mistis dan berlangsung tengah malam. Setiap pengikuti upacara sebelumnya diwajibkan mengaku dosa lewat tua-tua adat sebelum penyunatan berlangsung. Gareng Lameng dilakukan pada saat yang mau disunat telah siap. Dan dilakukan tak tentu waktu.

Sedangkan Gren Mahe sendiri adalah sebuah ritus tradisional masyarakat Tana Ai. Upacara ini merupakan simbol persaudaraan, perdamaian sekaligus keberanian masyarakat Tana Ai. Upacara ini merupakan pemujaan kepada Tuhan dan kepada leluhur mereka yang dilaksanakan 3, 5 sampai 7 tahun sekali tergantung kesiapan ekonomi masyarakat, karena acara ini membutuhkan biaya yang cukup besar.

Saat upacara berlangsung, puluhan ekor hewan disembelih dan tentu saja atraksi saling bacok diantara pemuda. Luka akibat bacok segera hilang sekali usap.

Selain kedua upacara diatas, masih banyak budaya dan adat setempat yang selalu dilakukan masyarakat misalnya saat kelahiran, perkawinan dan kematian. Juga tentu upacara-upacara adat yang berkaitan dengan cocok tanam dan hal-hal lain.

Bapak Ipir sebagai Kepala Suklu Ipir bercerita banyak tentang kehidupan suku-suku di Tana Ai dan budayanya. Sebagai kepala suku, ia sering kali dijadikan narasumber oleh berbagai penulis dan pencari catatan tentang kehidupan suku-suku di Tana Ai meski sama sekali tak dibiayai. Padahal banyak yang telah menggali informasi darinya. Termasuk Profesor Dr. Lewis Douglas, peneliti dari Australia yamg hidup sekitar 6 tahun besama suku-suku di Tana Ai. Dari Profesor Douglas, ia dibawa menuju Australia. Disana ia dipertemukan dengan sebuah suku dalam budaya Aborigin dimana ada sebuah Batu Mahe (batu persembahan) yang mirip dengan Mahe di Suku Ipir. Bahkan ritual upacarapun mirip, begitu San menjelaskan.

Tana Ai memang unik. Etnis ini mendiami sebelah timur Kabupaten Sikka hingga perbatasan dengan Kabupaten Flores Timur. Wilayah ini mencakup 3 kecamatan, yaituh Keacamatan Talibura, Waiblama dan dua desa yang berada di Kecamatan Waigete yakni Desa Runut dan Desa Watudiran. Tana Ai terletak diantara dua gunung yaituh Gunung Mapitara (Egon) dibagian barat dan Gunung Wuko dibagian timur. Bagian selatan Tana Ai berbatasan dengan Laut Sawu dan bagian utara berbatasan dengan Laut Flores. Masyarakat Tana Ai umumnya berbahasa Sikka dengan dialek yang berbeda dengan orang Sikka-Krowe, etnis lain di Kabupaten Sikka. Namun ada sebagian orang Tana Ai yang berbahasa Muhang dimana bahasa ini merupakan campuran bahasa Sikka dan Flores Timur.

Salah seorang sahabat kami bernama Wempi Wisang, yang dibesarkan di sana menceritakan di Desa Tanarawa ada beberapa cerita legenda yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Cerita-cerita legenda itu antara lain legenda Mangolian (kepiting raksasa keramat), Ular Gokok (Ular mirip naga siluman penjaga Kampung Tana Ai ) dan legenda Rawin Dai. San membenarkan cerita diatas. Menurutnya, kepiting raksasa tersebut ada disebuah danau (telaga) yang terletak tak jauh dari sebuah sekolah.

“Kisah-kisah itu dulu pernah dibukukan oleh budayawan Australia Mr Douglas, kalau saya tidak salah bukunya ada di Museum Blikon Blewut,” jelas Wempi. Museum Blikon Blewut terletak 6 Km diluar Kota Maumere. Di museum ini terdapat segala macam barang-barang peninggalan masa lampau dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur dan Indonesia umumnya.

“Satu lagi tempat yang dikeramatkan adalah 'Liang Firdaus' yang diyakini sebagai surga. Hal itu sudah dibuktikan oleh Pater Piet Petu SVD (alm) dengan masuk ke dalamnya dan menemukan sebuah taman yang sangat indah penuh anak-anak kecil yang bahagia. Tapi tidak mudah bagi orang awam untuk masuk ke dalamnya. Masyarakat setempat biasa mengadakan ritual di tempat itu saat musim tanam padi tiba, saya nyaris diajak Pater Piet Petu untuk ikut masuk ke liang tersebut sekitar tahun 80-an tapi dilarang ibu saya, karena resiko terburuk adalah kematian,”jelas Wempi.

San dan Moat Pius Ipir pun membenarkan tempat tersebut meski ceritanya sedikit berbeda. Duduk cerita tanpa kenal waktu ternyata hari menjelang magrib. Kami meminta untuk melihat Air Terjun yang sangat dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat. Maklum lewat sungai itu, masyarakat bisa berladang dan berkehidupan. Bahkan ada syair dan nyanyian yang dihususkan untuk air terjun tersebut.

Dari rumah kepala suku Moat Pius Ipir, jarak ke lokasi air terjun tersebut sekitar 2 Km. Kondisi jalan sangat buruk. Aspal berlubang dihampir sepanjang jalan. Kalau tak hati-hati, bisa-bisa terpeleset. Motor diparkir dijalan. Dan beberapa menit kemudian kami telah berada ditengah semak dan hutan.

Dari jalan raya menuju air terjun tersebut jaraknya sekitar 70 meter. Kondisi tanahnya licin dan agak terjal jadi harus hati-hati kalau tak mau terpeleset. Sebelum memasuki lokasi air terjun, Moat Ipir harus ‘membuka pagar’ dengan upacara khusus agar kami diperbolekan masuk. Katanya, ritual ini mesti dilakukan sebelum ketengah belantara pohin.


SAN dengan bangga perlihatkan keindahan Tanarawa yang masih asli..

Dan dengan kagum kami memandang air terjun yang tumpah ruah dengan deras. Perasaan begitu bahagia karena keaslian lokasi air terjun yang hampir tak pernah didatangi oleh siapapun. Setelah bersusah payah melewati hadangan batu besar berlumut dan licin, akhirnya kami bisa menikmati segarnya air pegunungan. Hati ini terasa tentram sekaligus bahagia, karena bersama inimaumere.com kami kembali menjelajahi tubuh molek nian sikka yang seakan-akan terlupakan keindahannya.

Dan yang paling berkesan ketika akan beranjak pulang, Moat Pius menyapa lokasi air terjun dengan bahasa Sikka yang artinya kira-kira begini,” Anak-anak ini datang dengan niat baik, dengan niat tulus, tolong dijaga perjalanan pulang,” begitu kira-kira. Dan anehya tiba-tiba Moat Ipir seakan-akan hilang dari sekeliling kami saat kami masih berkutat dengan tanah yang licin dan terjalnya perjalanan pulang.

Dirumah Moat Ipir kami melepaskan penat. Jarum jam sudah menunjuk pukul 8 malam. Dengan lampu pelita, kami bercengkerama sebentar sebelum akhirnya pulang ke Maumere. Sebuah doa dalam bahasa Sikka setempat kembali keluar dari Moat Ipir agar perjalanan pulang kami tak terjadi apa-apa.


Oss n Boim, segarnya air pegunungan...

Sungguh perkenalan pertama dengan alam Tanarawa, Tana Ai begitu mempesona. Yang patut disayangkan adalah ketiadaan sarana listrik bagi masyarakat setempat. Padahal rumah-rumah penduduk sudah cukup banyak. Ada beberapa sekolah, ada pula sebuah puskesma yang sedang dibangun. Sebuah gereja katolik dan rumah pastoran pun berdiri dengan meganya. Sayang memang, mungkinkah pemerintah memberikan fasilitas tersebut? Ah, jangan tanya pula, disini Hp atau ponsel sebagus dan secanggih apapun tak ada manfaatnya sama sekali untuk berkomunikasi. Maklum sinyal Hp pun tak ada. Hp dimanfaatkan menjadi senter. Hanya untuk penerangan, untuk dengar musik, kata San.

Turun dari Tanarawa menuju Maumere, perjalanan kami hanya ditemani burung-burung malam yang sesekali menghalangi pandangan kami. Suasana begitu gelap gulita. Hanya cahaya lampu motor dan temaram lampu pelita dari balik halar (bambu) rumah penduduk. Sepanjang perjalanan tak pernah sekalipun kami berpapasan dengan kendaraan lain. Dan kami membawa pesona Tanarawa, tak pernah terlupakan..

Dengan perjalanan yang kami lakukan beberapa hari lalu tersebut, Stasiun TransTv akan memasukan Tanarawa kedalam agenda program acara mereka Ethnic Runaway. Tunggu saja, karena krunya baru hari ini (13 januari 2011) tiba dan akan melakukan pemantapan lokasi bersama kami. Kisah berikutnya di Tana Ai segera bersama inimaumere.com

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 12 January 2011

Cuaca Buruk, Nelayan Tak Melaut

Harga Ikan Melambung


Angin kencang dan gelombang tinggi diperairan Teluk Maumere sejak beberapa hari terakhir, menyebabkan sejumlah nelayan tak melaut. Perahu-perahu dan kapal motor diparkir di pingir pantai. Para nelayan cuma bisa pasrah sambil memperbaiki perahu dan jaring yang digunakan untuk menangkap ikan. Seperti yang terlihat di pantai Beru dan Wairbubuk, Selasa (11/01/2011) Di kedua kawasan yang berdekatan tersebut, beberapa nelayan melakukan kegiatan memperbaiki perahu. Tinus, salah seorang nelayan di Wairbubuk bersama beberapa rekannya dengan cekatan meminggirkan perahu mereka. “Kalaupun melaut, kami hanya mencari dilokasi yang berdekatan dengan pantai. Kalau lebih ketengah sangat susah karena gelombang dan angin yang besar,” jelasnya. Akibat cuaca buruk Pelabuhan L.Say terlihat lebih lenggang. Dan sejak beberapa hari lalu harga ikan di Maumere naik tak menentu.

Harga ikan disejumlah pasar tradisional di Kota Maumere beberapa hari terakhir ini melonjak. Untuk mencari ikan yang berharga sesuai standar sungguh susah. Beberapa warga mengeluhkan hal tersebut. Ikan Selar yang menjadi santapan sehari-hari di Maumere tetap berharga Rp 10 ribu namun dengan jumlah ikan yang lebih sedikit. Jenis lain pun naik. Sedangkan ikan lempeng (irisan) yang biasanya dijual dengan harga Rp 10 ribu naik menjadi Rp 15 ribu sampai Rp.20 ribu.
Melonjanknya harga ikan segar berpengaruh juga terhadap kenaikan ikan-ikan bakar yang dijajakan di pinggiran jalan. Ikan bakar ukuran kecil yang biasanya dijual seharga Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu naik menjadi Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Meski mengeluh, para konsumen ikan menerima keadaan ini. Menurut mereka setiap akhir tahun dan awal tahun adalah musim barat dan harga ikan pasti tak menentu.
“ini kan su menjadi tradisi, kalau su musim begini pasti te harga ikan pasti naik. Nanti juga kembali normal kalau keadaan su baik,” kata Minggus, konsumen ikan bakar yang kebetulan antri menunggu ikan bakar di Kabor.

Cuaca buruk di perairan Teluk Maumere yang berada di kawasan pantai utara Flores hingga kini belum diketahui kapan berakhir. “Kami sudah tida melaut sekitar satu minggu. Semoga cuaca bisa kembali normal dan kehidupan kami mencari ikan bisa segera berjalan. Pemasukan macet kalau cuaca terus begini,” kata nelayan di Wairbubuk.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---