Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Thursday, 17 February 2011

Rumor Itu Tak Benar

Perampokan Ala Ninja Hebohkan Warga Pemana
Beberapa hari terakhir ini kehidupan warga Kota Maumere tak tenang. Ketidaktenangan warga terkait berbagai isu atau rumor yang tak enak didengar telinga. Ada rumor yang mengatakan ada sekawanan orang tak dikenal melakukan penculikan untuk mengambil organ tubuh tertentu dari sang korban. Lain lagi menyebutkan ada penculikan terhadap bayi-bayi entah berkaitan dengan apa. Dan juga rumor yang mengatakan ada perampokan yang dilakukan dengan mengenakan pakaian mirip ninja. Isu ini sebenarnya bermula dari Pulau Pemana dan entah kenapa merebak cepat ke penjuru Kota Maumere dengan ditambahi berbagai bumbu cerita seperti yang disebut diatas. Rumor-rumor tersebut kian hari meresahkan warga. Diberbagai sudut kota semua mebicarakan hal tersebut. Bahkan gosip tersebut menyebar cepat lewat SMS. Informasi Ninja merampok di Pamana sampai juga ke Polres Sikka. Mereka menelusuri kebenarannya itu.

Untuk membuktikan rumor tersebut, seperti di lansir Harian Flores Star, Kamis (17/02/2011), Kapolres Sikka, AKBP Ghiri Frawijaya, memimpin anggotanya menuju ke Pulau Pemana mengecek kebenaran rumor yang sempat menghebohkan itu. Polisi bersenjata lengkap menggunakan kapal Polairud berangkat dari Wuring pada Minggu (13/2/2011) malam.

Pengecekan yang dilakukan disana, ternyata hanya rumor yag tak bisa dipercaya kebenarannya. “Tidak ada ninja disana,” kata Ghiri, ketika di konfirmasi Flores Star, selasa (15/2/2011) malam.

Yang terjadi disana, demikian kata Ghiri, hanya salah paham warga setempat ketika menyaksikan seseorang yang berpakaian hitam-hitam mirip ninja. Kejadiannya ketika sekelompok wanita di kelompok itu kembalidari pesta bertemu dengan seorang pria mengenakan pakaian hitam.

Menyaksikan pria ini, kaum wanita lari tunggang langgang ketakutan. Mereka memberitahukan kejadian yang dilihatnya kepada warga di kampung.

“Ternyata bukan ninja, tetapi ibu-ibu yang ketakutan ketika bertemu dengan pria yang berpakaian hitam-hitam itu tadi. “tidak ada ninja”, tegas Ghiri lagi seperti di kutip dari Flores Star.
www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tuesday, 15 February 2011

Perlu Dinas Kebersihan di Kabupaten Sikka

Masalah Klasik yang Tak pernah Berakhir..
Hingga kini Kabupaten Sikka belum ada dinas yang mengurus masalah kebersihan. Masalah kebersihan di Kabupaten Sikka khususnya Kota Maumere, diurus oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sikka. Bagian yang menangani masalah persampahan pada Dina PU Kabupaten Sikka dipercayakan pada Bidang Pertamanan dan Sampah. Tapi persoalan samaph di Kota Maumere belum ditangani dengan baik. Untuk menangani masalah sampah seorang warga Kota Maumere, Kornelis Sogen menyarakan agar Pemerintah Kabupaten Sikka (Pemkab) Sikka dan DPRD perlu membentuk dinas kebersihan.
Kornelis mengatakan, fakta selama ini kebersihan di Kota Maumere belum tertangani secara baik. Seharusnya pemerintah dan Dewan memikirkan pembentukan dinas baru di Kabupaten Sikka, yakni Dinas Kebersihan.

Apalagi Kota Maumere, kata Sogen telah berkembang disegala bidang. Pemukiman penduduk di kota ini, kian hari kian bertambah sehingga perlu ada dinas yang mengurus masalah sampah dan jangan digabung dengan dinas lain.

“Memang ada penanganan sampah, tapi belum maksimal. Kedepan ini perlu ada dinas kebersihan di Sikka. Masalah persampahan di Sikka masih jadi pengeluhan dari tahun ketahun dan masyarakat masih berharap kepada pemerintah guna mengatasi masalah sampah di Kota Maumere dan sekitarnya,” kata Sogen.

Menurut dia, jika dinas kebersihan sudah ada di Sikka, maka penanganan sampah bisa diatasi dengan baik. Pasanya kehadiran dinas tersebut akan lebih fokus pada penanganan sampah dengan mengatur semua armada-armada pengangkutan sampah kedaerah-daerah yang sampahnya sering menumpuk.

“Sampah yang ada di Kota Maumere sudah menjadi masalah klasik. Ada warga yang sampah tidak diangkut malah kesal lalu membakar tumpukan sampa. Ada sampah yang dibuang diparit atau drainase dan masalah dibiarkan menumpuk lalu membusuk. Dibantaran kali warga buang sampah ke kali. Warga dipesisir buang sampah di pantai. Saya sarankan pemerintah dan dewan perlu memikirkan dinas baru yakni dinas kebersihan,” saran Sogen.

Pria asal Kota Uneng Maumere ini mengatakan di Kabupaten dan kota lain di NTT ada dinas kebersihan yang mengurusi masalah sampah. “ Kenapa Sikka tidak ada? Tenaga kita banyak, kenapa tidak dibentuk dinas kebersihan,” kata Sogen. (Flores Star)


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Friday, 11 February 2011

Cinta Segitiga Dibalik Tawuran Pelajar

Aksi tawuran antara siswa SMKN 2 dengan siswa SMAN 2 Maumere yang terjadi kemarin, Kamis (10/01/2011) saat jam istirahat pertama, berawal dari SMS bernada ancaman. Kisah cinta segittiga berada dibalik aksi tersebut. Seperti diberitakan Harian Flores Star, Alkisah cinta segitiga itu melibatkan Obed siswa SMKN 2 dan Frits siswa SMAN 2 (Smandu) yang sama-sama menyanyangi Ayu, siswa kelas satu salah satu SMA swasta di Maumere. Jalinan kasih itu kemungkinan telah terajut sejak beberapa waktu lalu. Obed mengaku menjalin kasih dengan Ayu sejak dari bangku SMP. Ia juga menyampaikan curahan hati Ayu yang diancam akan dipukul Frits bila masih terus menjalin cinta dengan Obed. Cerita itu disampaikan Obed kepada rekannya di SMKN 2. Frits memberikan pilihan yang sungguh berat kepada Obed atau Ayu, akan menjadi sasaran.

Curahan hati itu, tutur Obed, bukan untuk mengajak rekannya melakukan perhitungan dengan Frits. Tetapi rekan-rekannya memaknai lain. Mereka beramai-ramai mendatangi SMAN 2 yang berjarak sekitar 500 meter dari SMKN 2 Maumere, tanpa diikuti Obed.
Para siswa yang masih berseragam sekolah jumlahnya puluhan orang menghujani atap seng dan kaca sekolah dengan batu bertubi-tubi. Kaca jendela ruang laboratorium bahasa pecah berantakan.

Lain lagi Frits, yang mengaku sebagai pacar Ayu. Dia membantah melontarkan kata-kata ancaman untuk memukul Obed bila masih menjalin hubungan dengan Ayu. Frits juga tidak pernah mengirim pesan singkat atau pernyataan ancaman kepada kekasihnya supaya tak lagi sama-sama dengan Obed.

Frits mengaku pacaran enam bulan terakhir dengan Ayu. Frits juga tidak tahu kalau Ayu juga masih pacaran dengan Obed. Hanya saja Ayu pernah menyampaikan bahwa Obed pernah menjalin kasih dengannya beberapa waktu lalu.

Ayu kepada anggota Polres Sikka membantah tuding rekan-rekannya yang menyebutnya sebagai pemicu tawuran dua sekolah tersebut. Ayu juga membantah meneruskan pesan Frits bernada ancaman kepada Obed.

Ayu menutur, ia hanya mengingatkan Obed jangan sampai pacarnya Frits memukulnya bila melihat dirinya berjalan berdua dengan dirinya.

“Saya tidak sengaja bertemu dia. Saya bertemu Obed di depan tempat foto kopi. Dia kelihatan salah paham dengan apa yang saya katakana,” ujar Ayu.

Ayu menyatakan cintanya saat ini hanya diberikan pada Frits sejak ia memutuskan jalianan kasih dengan Obed, pecan lalu. Baginya tak ada lagi cinta dengan Obed. Namun Ayu tak menyangkal punya hubungan special dengan obed.(Flores Star)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 9 February 2011

Gara-Gara SMS, Siswa SMKN 2 Serbu Smandu

Tawuran pelajar di Maumere..

Kaca ruang kelas Smandu yang pecah & Guru Smandu berkumpul di luar kelas

Memprihatinkan! Pelajar yang semestinya berada didalam ruang kelas dan belajar malah melakukan tindakan tak terpuji saat jam pelajaran berlangsung. Hal ini terjadi di Kota Maumere. Puluhan siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Maumere menyerbu Sekolah Menengan Umum Negeri 2 (Smandu) yang terletak di Jalan Balitbang, Kelurahan Kota Uneng dan melakukan perusakan. Tiga lembar kaca kelas Smandu pecah terhantam lemparan batu. Kejadian ini terjadi pagi tadi, Rabu (09/01/2011) pukul 10.30 saat siswa-siswa yang melakukan penyerbuan tersebut seharusnya berada didalam sekolah. Terkait tindakan anarkis tersebut, pihak keamanan dari Polres Sikka mengamankan sejumlah siswa yang ditenggarai menjadi pemantik kejadian dan perusakan. Sejumlah guru dan anak didik di Smandu sampai dengan pukul 11.00 masih berada diluar kelas dan proses belajar mengajar dihentikan sementara.

Sejumlah informasi yang dikumpulkan mengatakan kejadi penyerbuan tersebut terjadi saat istirahat pertama. Tiba-tiba tanpa diduga, sejumlah siswa dari SMKN 2 datang dan langsung menyerbu masuk halaman sekolah Smandu. Beberapa guru yang melihat kedatangan murid-murid SMKN 2 tersebut berupaya untuk berbicara baik-baik dan meminta beberapa perwakilan untuk masuk namun dijawab dengan yel-yel dan peikikan. Siswa-siswa Smandu yang sedang berisitiraha terkejut dan melakukan aksi penghadangan. Merasa terdesak, siswa-siswa SMKN 2 mundur dan dan kemudian lewat jalan raya melakukan pelemparan dengan menggunakan batu. Akibatnya sejumlah kaca kelas pecah. Sejumlah siswa Smandu terus mendesak hingga terjadi aksi tawuran. Untungnya pihak kepolisian cepat tiba kelokasi sebelum jatuh korban.

Beberapa guru dan siswa di Smandu mengatakan tak mengetahui persis masalah yang menjadi pemicu kejadian tersebut. Namun ada yang mengatakan bahwa perisitiwa yang memalukan dunia pendidikan ini terjadi akibat adanya SMS yang bernada ancaman yang dikirimkan ke Ketua OSIS SMKN 2 oleh salah seorang murid Smandu.

Silvester Gudu, Humas SMKN 2 perikanan membenarkan kejadian tersebut. Silvester mengatakan perisitiwa penyerbuan tersebut diluar sepengtahuan guru-guru. “Perisitiwa ini terjadi saat istirahat pertama sedang berlangsung jadi kami sama sekali tak mengetahui. Jika saja ada bocoran tentunya pihak sekolah telah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi,” ujarnya.

Silvester juga memebenarkan bahwa perisitiwa tersebut terjadi akibat SMS ancaman yang diterima oleh Ketua Osis SMKN 2 dari salah seorang murid Smandu. Akibatnya, rekan-rekannya yang tak menerima kemudian mendatangi Smandu.

“Siswa-siswa yang mendatangi Smandu berasal dari Kelas 3 dan 2 yang berjumlah 33 orang,” kata Silvester. Pihak sekolah juga menyesal atas tindakan yang dilakukan anak didiknya dan kedepannya akan melakukan langkah-langkah koordinasi untuk meredam kejadian-kejadian serupa diwaktu mendatang, tambahnya.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Rawat Di Rumah Sakit, Beli Obat di Luar

Pelayanan kesehatan di Sikka kembali mendapat sorotan dari masyarakat Sikka. Kali ini bukan keluhan dari masyarakat melainkan dari wakil rakyat di DPRD Sikka. Tidak tangggung-tanggung, Ketua DPRD Kabupaten Sikka, Rafael Raga mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan tentang pelayanan kesehatan di Sikka, khususnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere. Ketika menerima masyarakat Desa Watudiran, Kecamatan Waigete yang mendatangi gedung DPRD Sikka Rafael mengatakan orang sakit yang masuk rumah sakit RSUD TC Hillers mengeluh pelayananan.
“Orang sakit kalau masuk rumah sakit beli obatnya diluar. Kami sudah dapat laporannya. Menyikapi itu kami sudah minta pemerintan membangun apotik pemerintah dilingkup rumah sakit. Masak orang sakit beli obatnya diluar? Kenapa tidak ada apotek di rumah sakit. Kami desak pemerintah melalui Dinas Kesehatan Sikka dan RSUD TC Hillers membangun apotek dilingkungan rumah sakit. Biar orang sakit tak susah cari obat. Kasihan orang kecil,” tegas Rafael didepan sejumlah anggota DPRD dan warga Watudiran.


DPRD Sikka dalam setiap pemandangan fraksi akan terus berjuang memberi masukan kepada pemerintah daerah dan pengelolah rumah sakit agar perhatikan serius pelayanan kesehatan di Sikka.
Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang pernah mengkritik manajemen RSUD TC Hillers dan Dinkes Sikka. Kritikan bupati tersebut terkait pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin. Dimana ada obat-obatan yang sering dimusnah dan kadaluarsa karena banyak pesien membeli obat diluar rumah sakit. Padahal setiap tahun ada pengadaan obat bagi setiap orang miskin di Sikka. Obat tersebut diadakan habis, lalu dibiarkan dan pada akhirnya dimusnahkan ditempat pembakaran obat.

Bukan saja ini, sejumlah warga Sikka yang pernah berobat dan menjalanani perawatan di RSUD Maumere sering mengeluh karena banyak obat dibeli diluar rumah sakit dan harganya pun cukup mahal. Selain itu ada petunjuk dari petugas kesehatan guna membeli obat-obat di apotek tertentu. Banyak keluarga sering pusing kalau berobat di RSUD Maumere. Keluarga pusing karena mencari obat diluar rumah sakit. Padahal di RSUD TC Hillers ada apotek.(Flores Star)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 7 February 2011

Tojabobu Bertuxedo Minke Necis

Peniruan tampilan mereka bukan semata mimemis sebagaimana yang terjadi dalam dunia kesenian. Ia kehendak untuk melawan tirani kekuasan dan kebudayaan dominan.
Oleh: Joko S. Gombloh
Penari itu berbalut kostum ala priyagung Eropa: berdasi kupu, tuxedo nan gagah, serta sepatu kulit yang licin. Selembar sapu tangan mengintip dari saku baju dalamnya. Masih ada lagi: sebuah topi ala Uncle Sam menjuntai tinggi di kepala, serta topeng-topeng berwujud sosok pria Eropa menutup wajah mereka.
Dan penari perempuan—yang dipanggil Prinseja—membungkus tubuhnya dengan lilitan korset dan kain putih panjang menjuntai, bergelombang-mengembang. Di Eropa sana dikenal sebagai ball gown. Busana itu ditingkahi hiasan bordir dan quilt untuk kemegahan warna. Mungil sepatunya berhak tinggi, sewarna dengan busana dan stocking tipisnya.
Lengkap sudah dandanan ala Eropa yang ciamik itu. Tapi tunggu dulu, itu hanyalah bungkusnya. Hanya dandanannya, yang bergaya ala pangeran dan puteri bangsawan Eropa. Selebihnya, mereka adalah warga di sebuah desa miskin dan terpencil di ujung selatan Kabupaten Sikka, Flores.

Sebab itu, dandanan menjadi tak seratus persen Eropa: mereka menyilangkan selendang tenun ikat di dadanya. Di bagian tubuh bawahnya juga terlilit kain sarung lipa.

Para penari itu unjuk kebolehan di depan serombongan turis yang mampir di desa tersebut. Melenggang di sebuah naming (tempat menari) depan korke (rumah adat) yang persis menempel di bibir pantai laut Sawu yang bergelombang. Tarian yang disebut Tojabobu ini konon memang berangkat dari cerita kuno bangsa Portugis—tentang kisah asmara sang puteri raja (Prinseja) yang tertambat pada seorang saudagar (Maskador) yang turut memperebutkannya lewat adu kebolehan.

Serupa Tak Sama
Tapi dalam pertunjukan itu yang paling menarik barangkali ya pada kostumnya itu. Sebuah kontes busana yang oleh pesohor teori poskolonial Homi Bhabha disebut sebagai mimikri. Seperti disebutkannya dalam Location of Culture, konsep ini menjelaskan bagaimana wacana kolonial membentuk suatu kelompok dalam bangsa terjajah yang mirip dengan penjajah, tetapi masih terbedakan dari penjajah.

Jika meminjam Bhabha, mimic man alias “Pak Turut”—yang dalam konteks ini diperlihatkan oleh para penari itu—menjadi orang yang tubuh dan kulitnya Flores, tapi selera dan pikirannya meniru bangsa Eropa—yang dalam hal ini adalah bangsa Portugis. Para penari itu (mimic man) memakai dasi dan jas, tetapi kita tidak tahu apa makna setelan baju itu. “Colonizer menciptakan the colonized,” kata Bhabha.

Bhabha menggunakan istilah para peniru ini sebagai yang "almost the same but not quite, almost the same but not white." Di sini, superioritas kolonial dipertahankan, namun di dalamnya juga terkandung unsur subversifnya. Mereka hadir untuk melawan dominasi kebudayaan bangsa kolonial, tetapi sekaligus berada di dalamnya. Dengan kata lain, mereka melakukan perlawanan budaya dengan cara mengambil tempat dalam budaya dominan tersebut.

Dengan konsep mimikri, peniruan itu sebenarnya dilakukan dengan tidak sepenuhnya, lantaran tersembul maksud untuk mengejek atau melawan. Karena, mimikri sendiri memang selalu bersifat ambivalen. Dan kemenduaan ini selalu ada dalam budaya poskolonial sebagaimana dipertontonkan dalam Tojabobu, juga seni-seni pertunjukan tradisi Nusantara lainnya.

Mimikri Ala Minke
Tapi sungguhkah para penari Tojabobu itu sadar sedang melakukan perlawanan, tentu berpulang pada mereka. Tapi yang penting adalah, kata Bhabha, mimikri hanya sukses melalui jalur pendidikan. Karena itu, coba kita tengok apa yang diperankan Minke, tokoh yang menjadi aras peniruan ala Pramoedya Anantatoer dalam tetralogi Pulau Buru yang cemerlang itu.

Diah Ariani Arimbi dalam penelitiannya Mimikri: Dialektika Identitas Dalam Tetralogi Pulau Buru Ditinjau dari Studi Pascakolonial memperlihatkan bahwa hubungan antara bangsa penjajah dan yang terjajah berlangsung dalam relasi hirarkis. Konstruksi whiteness is rightness produk penjajah membuat bangsa terjajah berjuang untuk mencapai derajat yang sejajar dengan penjajah yang berkulit putih itu. Mereka melakukan perlawanan atas superioritas mereka.

Kesempatan itu diambil secara cerdas oleh “Pak Turut” Minke justru melalui produk kebijakan yang dibuat oleh mereka: kebijakan politik etis bangsa kolonial yang memberi kesempatan pribumi untuk menikmati pendidikan dengan kurikulum Belanda. Kebijakan yang diterapkan pada akhir abad ke-19 itu memberi arah dan warna baru kehidupan pribumi, terutama kalangan priyayi yang berkesempatan mengenyam etikad baik itu. Mereka mempelajari cara berpikir, gaya hidup, dan tentu juga penampilan para bule itu.

Dan Minke, yang seorang putra bupati sehingga memiliki kesempatan bersekolah di HBS dan STOVIA itu, melenggang sebagai “Pak Turut” yang cemerlang. Tak lupa, ia juga mendadani tubuhnya, meski dengan batasan-batasan tertentu, hingga tampak perlente seperti kaum terpelajar Belanda. Ia lantas hidup di antara dua identitas (in between): sebagai priyayi Jawa tapi berpikir cara Barat.

Kemenduaan inilah yang membuat ia bermetamorfosa: dari yang semula memuja Belanda—dan menghilangkan tradisi feodal—berbalik menghantamnya justru dengan pengetahuan yang diperolehnya dari bangsa yang menjajahnya tersebut. Pram meminjam Minke untuk melawan dominasi kekuasaan kaum penjajah.

Meniru Lalu Melawan
Dari Minke dan penari Tojabobu kita kemudian tahu, peniruan mereka bukan semata mimemis sebagaimana kerap diperlihatkan dalam dunia penciptaan seni—yang lebih terjebak pada persoalan material estetis. Sebaliknya, peniruan keduanya lebih merupakan kehendak untuk menggapai nilai dan pemikiran (value) sebagaimana yang dibayangkan sebagai (bangsa) penjajah yang menguasai, dominan dan menentukan, serta modern.

Sungguhpun ekspresi materialnya terkesan mencaplok begitu saja (pada apa yang ditirunya), tentu hal itu dilakukan dengan kesadaran untuk tuntutan estetis mampu menarik perhatian audiensnya.

Budayawan dari Sikka, Johanes Orestis Parera, menyebut drama tari tradisional Tojabobu adalah eksistensi Kerajaan Sikka—yang menjadi kota bandar yang sangat penting saat Portugis jaya di sana. Di sinilah nilai itu terpendar: Tojabobu adalah simbol eksistensi Sikka (the colonized), bukan eksistensi sang colonizer Portugis. Ini sepadan dengan ulah Minke, yang berpenampilan necis ala priyayi indies namun berbalik menghantam Belanda.

Pada keduanya, peniruan itu pantas dilakukan seperti juga diikhtiarkan oleh para jenius di belahan Nusantara lainnya. Tengoklah cara seniman Soreng, Dadung Awuk, Angguk dan seterusnya yang melawan kebudayaan istana dengan meniru cerita, gaya, penampilan, serta teknik pemanggungan ala istana.
Oleh: Joko S Gombloh

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Masyarakat NTT Jangan Terprovokasi Soal Penangguhan Komodo

Masyarakat Nusa Tenggara Timur diminta untuk tidak terprovokasi dengan pernyataan dan ancaman Yayasan New7Wonders terkait penangguhan keikutsertaan Komodo dalam vote tujuh keajaiban dunia, karena akan merugikan diri sendiri dan upaya pengembangan pariwisata di daerah ini.
Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya NTT Abraham Klakik, di Kupang, Minggu, mengatakan nasib keikutsertaan satwa Komodo saat ini dalam proses perundingan pemerintah pusat dan pihak penyelenggara terkait kewajiban Indonesia membayar sejumlah uang untuk kegiatan pengumuman di Jakarta November 2011. Menurut dia, sikap lembaga penyelenggara ini disadari atau tidak telah melukai hati rakyat NTT khususnya dan umumnya Indonesia bahkan internasional, terutama mereka yang telah memberikan suara untuk mendukung Komodo.

"Namun dibalik kekecewaan tersebut, ada banyak hikmah dan manfaat bagi biawak raksasa itu sebagai finalis 7 Keajaiban Dunia atau sebagai icon satwa langkah itu. Apalagi ancaman pencoretan Komodo sebagai finalis 7 keajaiban dunia itu hanya karena persoalan komitmen yang kental dengan bisnis," katanya.

Ia mengatakan saat pemerintah pusat tengah mempersiapkan beberapa langkah untuk menyikapi pihak penyelenggara apabila secara sepihak mencoret Komodo dalam ajang bergengsi itu hanya karena permintaan uang mencapai Rp1 triliun tidak dipenuhi Indonesia.

"Salah satu langkah yang akan kemungkinan besar akan ditempuh adalah membawa masalah itu ke Mahkamah Internasional untuk diselesaikan secara hukum, karena dinilai telah merugikan pihak lain dengan cara-cara melwan hukum," katanya.

Ia mengatakan pemerintah NTT berpendapat sebagai lembaga yang memiliki kapabilitas internasional, semestinya yayasan new7wonders memiliki kredibilitas yang harus dijamin.

"Kalau eliminir secara sepihak, harus ada kejelasannya. Jangan karena alasan teknis, lalu di eliminir. Vote Komodo ini kan dilakukan masyarakat internasional, jangan sampai karena kepentingan lembaga tidak dipenuhi lalu dieliminir sepihak," katanya mengutip Gubernur NTT Frans Lebu Raya, ketika melaporkan sikap Yayasan ini terhadap Komodo.

Gubernur Lebu Raya katanya, pada kesempatan itu mengatakan dirinya mendapat informasi kalau ancaman ini terkait dengan biaya karena itu Frans menengarai ada unsur bisnis dalam penyelenggaran vote ini. Karena itu, Frans mengatakan, jika Komodo benar-benar di coret, bagi NTT tidak menjadi masalah, sebab itu akan membuat Komodo makin terkenal kemana-mana.

"Bagi NTT, dengan cara ini tidak masalah, Komodo akan makin terkenal. Orang akan makin penasaran dan bertanya-tanya mengapa di coret? Disitu orang makin banyak datang ke Komodo," katanya.
Rata Penuh
Karena itu, sebagai pemerintah, tugas yang harus dibuat adalah menyiapkan infrastruktur yang baik, dan mendorong swasta untuk mendukung pengembangan pariwisata dengan menyiapkan akomodasi yang baik," katanya. (ant)
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---