Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Friday, 29 April 2011

Blata Tatin Desa Listrik Prabayar

Jadi Desa Pertama di Indonesia
Kabar gembira bagi warga masyarakat di Desa Blata Tatin, Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka. Desa ini menjadi desa listrik prabayar pertama di Indonesia. Listrik prabayar pertama itu diresmikan Direktur Opreasional Indonesia Timur (OPIT) Perusahaan Listrik Negara (PLN) Pusat, Viktor Sinaga di Dusun Bei, Desa Blata Tatin, Selasa (26/4/2011). Peresmian ditandai penekanan tombol oleh Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang. Selain meresmikan listrik parabayar di Desa Blata Tatin, PLN juga meresmikan listrik super extra hemat energi (Sehen) di dua pulau di Sikka yakni Pulau Sukun dan Pulau Besar, serta listrik 24 jam di Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende.

Peresmian listrik prabayar dan sehen itu dihadiri Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang, Ketua Badan Anggaran RI, Melkias Markus Mekeng dan Direktur OPIT PLN Pusat, Viktor Sinaga, General Manager PLN Wilayah NTT, Santoso Janurwarsono dan Kepala Cabang PLN Maumere, Andik Novijanto, Sekretaris Kabupaten Sikka, Cypri da Costa dan beberapa pimpinan SKPD Kabupaten Sikka.

Acara dimulai dengan ibadat sabda dipimpin oleh Romo Martin G Kira, Pr. Dilanjutkan pemberkatan meteran listrik prabayar.

Sekitar Pukul 15.00 Wita, Bupati Sikka Sosimus Mitang menekan tombol menandai peresmian listrik prabayar pertama di Indonesia itu. Serentak semua lampu listrik yang menggunakan meteran prabayar menerangi seluruh tenda yang gelap oleh mendung saat itu. Semua undangan yang hadir menyambut dengan tepuk tangan meriah, meski sedang hujan.

Bupati Sosimus menyampaikan terima kasih kepada anggota DPR RI asal Sikka Melkias Markus Mekeng yang telah memperhatikan daerah asalnya. Sebab masuknya listrik ke desa-desa akan membantu kemajuan daerah Sikka ke depan, terutama mutu pendidikan.

"Listrik berdampak banyak bagi kemajuan, terutama pendidikan. Karena itu kita perlu jaga fasilitas ini dengan baik. Jika kalian tidak jaga fasilitas ini, lebih baik kita pindahkan saja ke desa lain," tegas Sosimus mengingatkan warga desa Blata Tatin.

Selain dari sisi pendidikan, jelas Sosimus, listrik prabayar ini juga relatif murah sehingga terjangkau oleh masyarakat.

Data dari PLN Cabang Maumere menyebutkan, desa-desa di Kabupaten Sikka yang mendapat pelayanan listrik PLN, yaituhDesa Blata Tatin sebanyak 155 kepala keluarga (KK), Desa Meken Detun 142 KK, Desa Kojadoi di Pulau Besar 100 KK, Desa Semparong di Pulau Sukun 100 KK dan Desa Tana Duen 92 KK. (kk/ris/Flores Star)


wwww.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 23 April 2011

Prosesi Jalan Salib OMK Katedral, Umat Terharu

Ibadah Jumad Agung berlangsung khusyuk

Salah satu adegan Prosesi Jalan Salib di depan Katefral St. Yoseph
Umat Katolik Paroki St Yosep selama empat jam lebih setia mengikuti prosesi Jalan Salib dengan khusyuk dan terus bersemangat hingga kisah penyaliban di Gereja Katedral St. Yoseph. Prosesi Jalan Salib (via dolorosa) untuk mengenang kisah sengsara Tuhan Yesus di prakarsai Orang Muda Katolik (OMK) Katedral St. Yoseph bekerja sama dengan Dewan Paroki Katedral dan umat setempat. Dalam cuaca cerah, pementasan fragmen selama 14 Perhentian (stasi) berpuncak saat kisah haru penyaliban di Bukit Gogota yang dipentaskan di halaman Gereja Katedral Maumere. Ribuan umat Katolik khidmat mengikuti prosesi yang dimulai dari stasi pertama di Gereja Perumnas yang kemudian melewati 13 stasi berikutnya yang berada di Jalan Anggrek Perumnas, Nong Meak di Kampung Kabor dan stasi terakhir (stasi 14) di Gereja Katedral. Pementasan fragmen yang dimulai dari jam 08.00 hingga 12.00 wita diperankan dengan baik oleh pelakon dari Orang Muda Katolik Katedral St Yosep.

Hendrik Jhon dan Julian dari OMK Katedral mengatakan pementasan kisah sengsara Tuhan Yesus yang dilakukan kali ini adalah yang pertama kali oleh OMK Katedral. Untuk itu OMK Katedral yang bergandengan dengan umat paroki memiliki beberapa rencana kedepan berkaitan dengan perayaan Tri Hari Suci Paskah.

“Rencana pementasan ini tidak selamanya berpusat di Katedral. Tahun depan kami berencana untuk melakukan prosesi dengan mengambil latar akhir pementasan di lingkungan lain dalam Paroki Katedral,” jelas Jhon.

Sedangkan Julian berterima kasih kepada semua yang terlibat dalam pementasan hingga akhir prosesi. Ia dan teman-temannya bersyukur bahwa prosesi bisa berjalan dengan baik dan mendapat sambutan positip dari umat paroki.

Pada prosesi itu, para pelakon melakukan refleksi dimana seseorang berperan sebagai Yesus, sedang memikul kayu salib , diikuti oleh tentara-tentara Romawi dengan pakaian khasnya. Sepanjang jalan, masyarakat menyaksikan dengan penuh khidmat. Iringan prosesi terlihat panjang mengikuti kisah pementasan.

Pada prosesi itu juga dipentaskan bentuk penyiksaan yang dilakukan tentara Romawi kepada Yesus, serta diikuti oleh imam-imam besar yang selalu menolak kehadiran Yesus.


Kisah Penyaliban yang mengundang rasa haru, stasi 14 berakhir di dalam gereja

Kemudian ada juga murid-murid Tuhan Yesus, Maria ibu Yesus, perempuan-perempuan Yerusalem serta seluruh warga Israel yang menyaksikan penderitaan Yesus hingga mati dan bangkit pada hari ketiga ketika goa kuburan terbuka.

Prosesi Jalan salib yang dilakukan umat Paroki Katedral St Yosep ini, dilakukan untuk mengenang kisah sengsara dan pengorbanan Yesus untuk menebus dosa manusia. Dari pentas ini diharapkan pula umat mampu mengimplementasikan ajaran kasih kepada sesama manusia.

Cium Salib
Usai pementasan jalan salib, sore harinya ribuan umat katolik memenuhi gereja-gereja di Kota Maumere. Ibadah Jumad Agung yang digelar serentak mulai pukul 15.00 Wita diikuti dengan khusyuk oleh seluruh umat. Hampir semua gereja katolik tak mampu menampung umatnya. Akibatnya umat meluber hingga keluar gereja.

Dalam ibadah kali ini dilakukan pula prosesi cium salib sebagai tanda hormat akan penderitaan Kristus yang wafat di salib hina demi keselamatan umat manusia. Penciuman salib yang diikuti dengan tertib dihayati sebagai suatu ekspresi syukur yang keluar dari hati dan kasih kepada Yesus yang terlebih dahulu mengasihi umatnya.

Ibadah berlangsung selama 3 jam. Kota Maumere terlihat langgeng dan sepi. Toko-toko dan beberapa tempat usaha lain meliburkan diri. Sehingga kota terlihat seperti kota mati.

Selain gereja Katolik, sejumlah gereja lain dari umat kristen di Kota Maumere seperti Gereja Protestan, Bethel, Pantekosta dan beberapa lainnya juga dibanjiri jemaatnya. Ibadah Jumad Agung di Maumere berjalan aman, tertib dan khusyuk.

Tradisi Cium Salib di Ibadah Jumad Agung dan umat yang membanjiri Gereja Katedral

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Bom Di Serpong Diperkirakan untuk Paskah

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan bahwa bom yang ditemukan di pipa gas milik Perusahaan Gas Negara (PGN) di Serpong, Tangerang, Banten, diperkirakan dipersiapkan untuk mengganggu peringatan Paskah.
Lokasi penemuan bom juga berada 100 meter dari Gereja Christ Cathedral, katanya di Jakarta, Kamis.
Bom tersebut sudah ada remotenya dan telah diatur oleh tersangka. Bom yang ditemukan berkekuatan besar, oleh petugas sudah dilakukan penjinakan, katanya.
Sebelumnya Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo dalam keterangan resmi di Kantor Kepresidenan mengatakan, Polri telah menetapkan 19 tersangka kasus peledakan bom buku dan kasus penemuan benda yang diduga bom di kawasan Serpong, Kabupaten Tangerang.

"Ke-19 tersangka itu terkait bom buku sekaligus ditemukannya benda diduga bom yang ada di sekitar Gading Serpong," kata Timur Pradopo.

Kapolri tidak bersedia menyebut secara rinci identitas ke-19 tersangka tersebut. Dia juga tidak menjelaskan peran masing-masing tersangka.

Timur hanya menegaskan, pihaknya terus melakukan proses penyidikan untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya, termasuk dugaan keterkaitan para tersangka dengan jaringan teroris yang sudah ada.

"Untuk melihat secara utuh butuh penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut," katanya.(antara)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 18 April 2011

Listrik Padam Lagi

Lagi listrik padam. Kebiasaan buruk ini telah berlangsung kurang lebih satu bulan menyapa warga Kota Maumere. Tidak siang atau malam, pagi atau sore, kebiasaan PLN Cabang Flores Bagian Timur memadamkan listriknya ini sudah menjadi-jadi. Kali ini terjadi saat umat kristiani di Kota Maumere sedang menjalani misa/kebaktian. Di Gereja Paroki Santo Thomas Morus, Keuskupan Maumere, Minggu (17/04/2011), ibadat Minggu Palma yang berlangsung khusyuk sempat terganggu ketika listrik tiba-tiba padam. Peristiwa ini terjadi tepat pukul 18.00 wita saat misa memasuki bagian Persembahan. Tak ayal, umat kelimpungan karena tak bisa mendengarkan suara sang pastor. Bukan itu saja, penerangan di dalam gereja pun akhirnya hanya mengandalkan lima buah lilin redup. Meski terganggu, upacara sabda tetap berlangsung. Ajaibnya, sebuah bulan purnama yang cukup besar tiba-tiba muncul. Cahayanya terangnya menerobos lewat celah besar yang berada didekat atap gereja hingga menerangi seisi gedung. Keluhan tentang pelayanan kelistrikan terdengar saat misa usai.

Seperti yang dikatakan Fredy. Ia yang kegereja bareng anaknya yang berumur 6 tahun dengan tegas mengatakan bahwa PLN Cabang Flores Bagian Timur benar-benar telah menyengsarakan pelanggannya. “Benar-benar keterlaluan, masa listrik mati hidup sampai berhari-hari? Kami ini pelanggan yang hanya bisa menerima, kalau bayar telat kami terima disegel, kalau listrik mati hidup kami terima tanpa jaminan apapun, benar-benar sengsara” keluh Fredy.

Ia juga menambahkan bahwa sebaiknya yang menangani urusan listrik bekerja lebih profesional lagi. “Tolong lebih profesional lagi kerja. Kalau mau kasih padam, kasih pengumuman biar kita siap-siap untuk menerima pemadaman. Jangan kasih mati hidup tanpa kenal waktu. Barang elektronik kami bisa rusak semua, apa PLN mau kasih ganti?” katanya sambil bertanya.

Fredy tidak sendiri. Sebagian umat mengeluhkan hal yang sama saat inimaumere menanyakan kepada mereka perihal pemadaman. Mereka mengatakan pemadaman listrik yang sering dilakukan akhir-akhir ini sangat mengganggu dan merugikan. Karena aktifitas kerja terutama yang menggunakan listrik tidak bisa berlangsung secara maksimal. Mereka mengharapkan kepada PLN Cabang Flores Bagian Timur untuk tidak mematikan listrik sering-sering. Sebab sampai dengan saat ini, warga kota tak nyaman dalam melakukan kegiatan apapun. Pasalnya, menurut mereka, listrik padam tak mengenal waktu dan jadwal yang pasti. Ada kesan bahwa pelanggan dibiarkan menerima apapun yang terjadi.

Beberapa hari lalu, seorang warga yang berdiam di Jalan Hasanudin Maumere mengeluhkan bahwa barang elektroniknya berbentuk TV mengalami kerusakan setelah PLN memadamkan listrik. Tapi ia tak tahu harus mengadukan pada siapa. Ia hanya pasrah. Dan setelah TV-nya rusak, ia sekarang tak bisa lagi menonton acara-acara favoritnya. “Saat ini saya selalu menumpang nonton tivi di rumah tetangga. Mau bagaimana lagi?,” katanya.


Nonton Tinju, Listrik Padam
Setelah memadamkan listrik saat misa berlangsung, malam harinya pertarungan tinju memperebutkan gelar WBA antara dua petinju Indonesia Chris Jhon dan Daud Jordan yang disiarkan Stasiun RCTI juga dihadiahi padamnya lampu listrik sekitar pukul 23.42 wita. Listrik mati ketika pecinta tinju di Kota Maumere sedang menikmati pertarungan di ronde ke-6. Keadaan yang gelap gulita ditambah hujan gerimis yang jatuh kebumi Maumere membuat warga kota hanya bisa meratapi nasibnya yang malang. Pertemuan antara Chris Jhon dan Daud Jordan yang ditunggu-tunggu pecintanya akhirnya hanya bisa dinikmati setengah laga tanpa tahu siapa pemenangnya. Pasalnya, listrik yang dipadamkan baru menyala sekitar jam 2 pagi.

***
Beberapa hari terakhir ini masalah padamnya listrik yang tak tentu waktu sering terjadi. Hal ini mengakibatkan terhambatnya proses kegiatan masyarakat umum yang mengandalkan listrik. Usaha perekonomian dan usaha-usaha lain terkena efek yang berakibat pada kerugian. Sayangnya, padamnya lampu juga akan menghambat proses persiapan anak-anak sekolah menghadapi Ujian Akhir Nasional dan proses belajar lainnya. Kerugian pada beberapa sektor juga tentu terjadi.


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 17 April 2011

Jangan Hanya Kami yang Digusur

PKL Pelabuhan minta keadilan
Kalau mau gusur kami, semua harus digusur. Jangan hanya kami orang kecil yang digusur. Orang besar yang punya warung tidak digusur. Gusur duluan mereka baru kami. Pernyataan itu disampiakan oleh Ketua Pedagang Kaki Lima (PKL) Pelabuhan Lorens Say, Maumere, Maria Goretti Koten, Jumad (15/4/2011). “Kami tidak akan melawan, kami setuju dengan pengusuran tapi jangan kami yang digusur lalu yang lain tidak. Semua harus sama,” tandasnya.
Maria mengatakan, para PKL di Pelabuhan Lorens Say akan protes ke pemerintah daerah jika rencana penggusuran PKL dipelabuhan ini dilaksanakan pada Mei 2011. Kami minta pemerintah daerah bersikap adil dan tegas. Kalau mau gusur ya gusur semua, jangan PKL,” tegas Maria.
Ia menyebutkan saat ini PKL yang berjualan di Pelabuhan Lorens Say sebanyak 21 orang. Para PKL ini, lanjut Maria semua menyatakan keberatan kalau penggusuran yang dilakukan pemerintah pada Mei 2011 hanya berlaku untuk PKL.

Maria menegaskan, semua yang berjualan di Pelabuhan Lorens Say Maumere, mulai dari usaha warung, rumah makan dan kios serta usaha lainnya harus digusur jangan ada yang tidak digusur.

"Kami dukung penataan kawasan pelabuhan yang dilakukan pemerintah. Tetapi kami keberatan kami yang kecil yang digusur. Tahun 2010 kami digusur, orang lain tidak. Mau gusur dan tata ya semua harus pindah," tandas Maria.

Sementara itu Mama Oa, Mama Ani dan Mama Saver, pedagang di Pelabuhan Lorens Say mengatakan, perlu pemberatan. Ketiga OKL ini menyatakan, jangan hanya PKL yang digusur, semua yang berjualan di Perlabuhan L. Say Maumere harus pindah ketempat yang telah disepakati dengan pemerintah.

"Kami ini hanya orang kecil, jual pakai lapak bambu buat cari makan dan kasih anak sekolah. Pemerintah ingak kami juga. Anak saya sudah kuliah dari usaha makanan dan minuman ringan di Pelabuhan Maumere. Jadi kalau pindah, semua haurs pindah," tandas Mama Ani.

Ia mengatakan, penertiban dan penataan yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka menata Pelabuhan L. Say didukung PKL. Yang penting pemerintah harus bertindak adil dan merata.

"Katanya Mei 2011 semua harus pindah. Kami tunggu saja dan kami akan pindah. Setiap hari kami tidak jual di Pelabuhan Maumere. Kami jual akalau ada kapal masuk dan bayar Rp. 2000 perhari kepada pengelolah pelabuhan," kata Mama Oa.(Flores Star)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 11 April 2011

Hari Peresmian Perkawinan (Lerong Kawit)

Indahnya Pesta Adat di Kabupaten Sikka
Artikel ini merupakan sambungan dari artikel-artikel sebelumnya yang mengulas tentang tahapan perkawinan dalam adat Sikka-Krowe. Etnis Sikka – Krowe merupakan etnis terbesar dari 6 etnis yang mendiami wilayah Kabupaten Sikka. Dalam struktur budaya orang Sikka sendiri, perkawinan dipandang sebagai sesuatu yang mutlak bagi kehidupan yang memiliki sifat tak terceraikan. Tercermin dalam ungkapan adat Lemer Watu Miu Ruang, Wawak Papang Miu Ruang, Naha Mate Ko Belung, Naha Bleut Ko Loar. Artinya Susah senang sama-sama, mati dulu baru dilepas, tapi bukan mati saja melainkan hancur. Sebelum melangkah pada jenjang perkawinan, akan melewati beberapa proses adat dari permulaan sampai pemberian belis. Proses ini akan sampai pada puncak acara yakni hari peresmian perkawinan. Puncak dari kemeriahaan hari perkawinan tercermin saat malakoni sebuah ritual perkawinan yang disebut dalam bahasa Sikka Tama Ola Uneng atau artinya Masuk Kamar Pengantin. Disinilah berbagai kemeriahan hadir, ketika dua insan merona bahagia menuju pintu kamar, tetapi diluar pintu para keluarga, sahabat dan undangan berpesta hingga pagi buta..

Sebelum melangkah ke Hari Peresmian Perkawinan telah dibahas tentang Tahapan Persiapan Perkawinan, sebuah tahapan yang penting dalam proses menyunting sang calon mempelai wanita. Dimulai dari Pano Ahu sampai Tung Urut Linong. Sudah baca? Kalau belum, silakan membacanya disini ya..

Setelah tahapan persiapan diatas, dilanjutkan dengan Persiapan Pembelisan, Penghantaran Belis dan Persiapan Perkawinan. Tahapan yang indah dengan mempertemukan dua delegasi dari keluarga masing-masing. Disini belis dibicarakan. Jika ada kesepakatan, akan berjenjang ke proses berikutnya. Sudah baca? Kalau belum, silakan membacanya disini ya.. :)

Oke, langsung saja. Pasti kalian telah membacanya tahapan-tahapan sebelumnya kan? Karena artikel ini akan sangat berkaitan dengan kedua artikel sebelumnya. Istilahnya satu kesatuan. Jika tak membacanya secara keseluruhan sepertinya kurang lengkap, ada yang kurang.

Lanjuuttt..


Hari Peresmian Perkawinan (Lerong Kawit)
Pernikahan adat (lerong kawit) biasa terjadi di rumah keluarga perempuan.
Bahan-bahan yang digunakan untuk meresmikan perkawinan adat adalah:

nasi (ara), Hati daging babi (wawi wateng) dan tuak (moke). Biasanya yang meresmikan upacara ialah paman pengantin perempuan (tiu) atau tua adat.

Pada hari peresmian perkawinan pengantin didandani dengan pakaian adat. Pakaian perempuan disebut kimang yang terdiri dari rok dan baju adat. Perhiasannya antara lain kalar gelang, kalung leher, anting yang terbuat dari emas, "ala gadeja" (perhiasan penutup wajah) yang terdiri dari kain dan benang¬benang yang dihiasi dengan emas.

Rambut disanggul ke atas, diikat dengan gelang emas, dan pada rambut terdapat tiga tusuk konde emas (soking telu). Tiga tusuk konde ini melambangkan tiga tahap perkawinan: persiapan, penentuan belis dan upacara perkawinan itu sendiri. Sedangkan pakaian laki-laki terdiri dari lipalensu, destar, baju dan selempang. Perhiasannya adalah lodang bahar (kalung emas) dan mone (gelang gading besar).

Kemudian pihak keluarga perempuan keluar dari rumah menuju ke tenda. Biasanya pengantin perempuan yang berjalan menuju ke tenda dituntun oleh seorang anak kecil (laki-laki/perempuan) dengan rantai kecil yang terbuat dari emas. Sementara itu pengantin laki¬ laki menunggu di tempat peresmian nikah.

Kedua pengantin berdiri di depan pemimpin upacara dan upacara peresmian dimulai. Ata pu'an (pemimpin upacara) akan mengambil sedikit nasi, hati babi dan satu luli moke lalu diberikan kepada pengantin sambil berkata:

Gea sai, wawi api ara prangang, dena dadi wai nora la'i, minu sai, tua jajing, dena dadi lihang nora lalang

[Makanlah daging dan nasi janji, minumlah moke sumpah ini agar kalian, menjadi satu ikatan keluarga].

Ketika kata-kata peresmian itu diucapkan pengantin tidak mengatakan apapun. Saat itu juga secara adat keduanya resmi menjadi suami-isteri. Upacara peresmian perkawinan itu dimeriahkan dengan gong waning dan tari-tarian hegong. Setelah peresmian perkawinan acara selanjutnya adalah pemberian nasehat-nasehat dari pihak keluarga.

Pada malam pengantin, tepatnya pada tengah malam, dibuat upacara tama ola uneng plaha oha sorong loni, artinya membentang tikar dan menaruh bantal atau menyiapkan kamar pengantin.

Sang Mempelai Pria, bahagia saat diarak tengah malam menuju rumah mempelai perempuan. Tama Ola Uneng akan segera di mulai hehehe..

Setelah kamar pengantin disiapkan, a'a gete membawa suami-isteri ini ke dalam kamar pengantin. A'a gete (tanta dari pengantin wanita) akan memberi petunjuk-petunjuk praktis tentang kehidupan berkeluarga. Keesokkan harinya (setelah malam pengantin), pagi-pagi buta saat ayam berkokok a'a gete akan membangunkan keluarga baru.

Kepada mereka a'a gete jaga ola wang menaburi dengan beras kuning (pare beret) sambil berkata:

Bua buri ganu wetang,ga'e teto ganu atong [beranaklah seperti jewawut, berkembanglah seperti bayam).


Selama empat hari empat malam setelah malam pengantin, kedua pengantin tidak boleh keluar rumah. Selama itu juga keduanya tidak boleh terkena air dingin.

Alasannya bahwa nanti perkawinan menjadi dingin. Pada hari keempat akan dibuat acara hui popo (mandi cuci).
Setelah empat malam (gumang hutu) kedua pengantin boleh mandi dan pakaian-pakaian dicuci. Hui popo ini biasanya dilakukan di sungai yang airnya mengalir (wair bang). Pengantin mandi agak ke hulu. Sedangkan keluarga lain yang ikut mandi agak ke hilir.

Maksudnya agar pakaian-pakaian yang dicuci para pengantin dijaga agar tidak hanyut oleh air. Jika hanyut hal ini akan membawa dampak yang buruk bahwa keluarga baru itu bakal tidak memperoleh keturunan. Kalau pun mendapat anak, anak itu akan berusia pendek/cepat meninggal.

Setelah pulang mandi keluarga laki-laki membawa makanan ke rumah pihak perempuan untuk makan-makan bersama. Waktu itu sisa belis diselesaikan. Termasuk balasannya kepada pihak keluarga lelaki. Kalau pun belis belum bisa dilunasi belis itu masih bisa dilunasi pada waktu-waktu mendatang.

Penundaaan belis ini mempunyai makna khusus yang biasa diungkapan demikian: ribang nopok koli tokar (harfiah: batu asa sampai aus, pohon lontar setinggi-setingginya). Maksudnya, hubungan kekeluargaan tidak akan putus sampai selama-lamanya.

Berkaitan dengan belis orang Sikka mengenal juga istilah Hama telo (injak telur). Artinya belis diberi habis sesuai permintaan pihak perempuan.

Umumnya hama telo terjadi pada perempuan dengan belis yang sangat mahal. Konsekuensinya, jika terjadi hama telo maka perempuan memutuskan hubungannya sama sekali dengan keluarganya sendiri. Ia tidak akan kembali lagi ke rumah keluarga sekalipun orang tuanya meninggal.

Setelah peresmian perkawinan ada beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki. Kewajiban tersebut dinamakan ngoro remang, yakni pemberian kuda, gading dan uang kepada pihak perempuan menurut kesanggupan.

Pemberian ini bukan kewajiban yang harus dilakukan karena berada di luar belis. Tujuannya hanya sebagai penghapus jerih lelah orang-orang yang terlibat pada acara pernikahan tersebut. Semua pemberian ini biasa dibagikan kepada orang-orang yang mengurus acara pesta.

Berikutnya ada acara pembersihan rumah penginapan laki-laki (jika pihak laki-laki berasal dari kampung lain).
Acara ini dinamakan ha pu halar hok blodong/roni halar, hok blodong (pemberian pihak laki-laki kepada tuan rumah tempat mereka menumpang selama urusan pernikahan).

Upacara Inisiasi di Kab. Sikka, Alex Sila, S.Fil dan Agustinus Joram, S.Fil.
Dinas Pariwisata Kab.Sikka dan Puslitbang STFK Ledalero, 2008

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

28 Warga Terancam Longsor

Curah hujan tinggi selama hampir enam bulan belakang menimbulkan tanah longsor sepanjang 100 meter. Kondisi ini mengancam keselamatan warga Desa Nitakloang dan Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Bahkan tanah longsor bisa terjadi setiap waktu terlebih ketika hujan lebat. Di lokasi sekitar 10 Km arah barat Kota Maumere longsoran ini cukup mengerikan.Kedalaman longsoran mencapai 2o meter dan lebar sekitar belasan meter. Longsoran itu menjangkau lokasi sekitar 100 meter dibibir ir kiri dan kanan jurang.Warga tak berani mendekati lokasi longsoran itu karena sewaktu-waktu tanah akan runtuh ke kalimati yang sangat terjal.Mereka telah membangun pagar yang rapat sepanjang empat meter dari pinngir jurang, mengingatkan mereka tak ke lokasi seberangnya.

Dua unit rumah warga paling riskan berdiri dipinggir jurang. Rumah itu milik Jupin, warga Desa Nitakloang dan satu rumah milik Dominikus Minggu, warga Desa Nita.

Bberepa rumpun bambu dipinngir jurang, pohon kelapa dan kakao sudah tumbang kedalam jurang dan sebagiannya akan tumbuh jika sewaktu-waktu longsor.

Tanah longsor ini bukan hanya mengancam rumah penduduk sekitar lokasi, juga dalam jangka panjang bisa memutuskan ruas ajalan kabupaten dari Nita ke Riit. Pemukiman warga disebelah utara jalan akan diteror tanah longsor jika tak segera ditangani pemerintah daerah.

Kepala Badan Penagggulang Bencana Daerah (BPBD) Sikka, Heriando Ziku, ST, telah memantau tanah longsor pekan lalu. Dia mengaku kondisinya mengerikan dan mengancan pemukiman warga. Luas tanah longsor telah diukur sepanjang 100 meter, kedalaman 19 meter dan lebar 16 meter. "Ngeri, kita tak bisa berdiri dipinggir, tanah bisa runtuh. Lokasinya sangat terjal," ujar Hery di Maumere, Jumat (8/4/2011).

Penanganan segera dalam masa tanggap darurat, ujar Hery, dengan penguatan tebing dan dasar kali pada kelompok ancaman yakni rumah penduduk sekitar 100 meter, lebar 16 meter dan kedalaman 19 meter mengancam sembilan kepala keluarga dan 28 jiwa warga, selain komoditi kelapa dan bambu.

Penanganan jangka pendek ini untuk mengurangi resiko. Kenapa mesti dilakukan tanggap darurat? "Pemicu meningkatnya debit air akibat curah hujan masih tinggi. Bila tidak dilakukan penanganan segera, longsor inimengancam ruas jalan kabupaten Nita-Riit," tandas Hery.

Badan Penanggulang Bencana Daerah, katanya, sudah melakukan evaluasi melibatkan dinas terkait dan rapat persiapan penanggulangan selanjutnya di masa tanggap darurat.

Tanah longsor ini, ujar Hery, juga telah dilaporkan tertulis kepada Bupati Sikka Sosimus Mitang, sekaligus permohonan dukungan dana penanganan kontruksi tebing dan dasar kali. Anggaran yang dibutuhkan sebesar RP. 960.234.000.

"Saya masih tunggu persetujuan bupati, masyarakat kita minta bersabar," kata Hery.(Flores Star, Senin 4 April/'11)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---