Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Sunday, 15 May 2011

Tak Perlu Jauhi Orang Dengan HIV/AIDS

Malam Peduli HIV/AIDS, "Mereka Ada Diantara Kita"

Teresa Archer dlm sambutan serta layar video dari JOTHI (jaringan orang terinfeksi HIV)

Malam Peduli HIV/AIDS yang mengangkat tema “Mereka Ada Diantara Kita” berlangsung sesuai harapan. Ratusan remaja, orang tua dan anak-anak yang berkumpul di Halaman Parkir Barata Dept. Store Maumere selain menikmati suguhan hiburan juga mendapat pesan informatif dari tayangan video JOTHI (Jaringan Orang Terinfeksi HIV), Yakestra dan KPA. Acara yang dimulai pukul 20.00 Wita, sabtu malam 14 Mei 2011 tersebut berlangsung sederhana namun kaya dalam informasi. Selain video informatif, penampilan band-band lokal junior hingga senior yang membawa pesan-pesan peduli terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) juga menjadi salah satu daya tarik.
“Mereka Ada Diantara Kita” digagas oleh Teresa Archer, relawan asal Inggris yang melihat kenyataan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di Kabupaten Sikka masih begitu tinggi. Dalam catatan, ODHA di Kabupaten Sikka merupakan yang tertinggi di daratan Flores dan Lembata. Bayangkan, jumlahnya sudah mencapai 257 orang sampai desember 2010. Dengan adanya acara ini, Teresa yang bekerja di Yakestra berharap agar pandangan negatif terhadap ODHA bisa berkurang dan remaja yang berpotensi keluar daerah memiliki bekal informasi yang baik.

Layar video saat itu menjadi pusat perhatian pengunjung. Dalam salah satu cerita di video tersebut dikisahkan kehidupan Yanti, salah seorang ODHA. Diwarnai isak tangis, mantan karyawati disalah satu perusahaan swasta di Jakarta ini harus menerima kenyataan ketika suaminya dinyatakan menderita HIV/AIDS.
Ketika suaminya meninggal, anak hasil buah perkawinan pun mengidap HIV begitu pula dirinya. Roda kehidupannya selalu mendapat perlakuan diskriminatif. Di-PHK dari tempat dia bekerja dan teman-temannya menjauhi ia dari pergaulan. Ditengah cerita dalam kesedihan, Yanti berharap agar perlakuan diskriminatip lingkungan terhadap ODHA bisa dikurangi.

Tenda Informasi dari Yakestra dan pengunjung di Halaman Parkir Barata

Selain layar yang berisi cerita-cerita miris dari ODHA yang dijauhi lingkungan, suguhan musik dan souvenir dari Apotik K-24 dan tenda informasi HIV/AIDS dari YAKESTRA menjadi bagian yang mewarnai pegelaran malam peduli HIV /Aids, "Mereka Ada Diantara Kita".

Teresa Archer yang disapa akrab Kaka Tres mengakui tujuan digelarnya “Mereka Ada Diantara Kita” adalah agar kaum remaja dan masyarakat umum bisa menerima informasi yang selua-luasnya tentang HIV dan AIDS. Pegelaran juga dimaksud agar informasi dan pesan yang didapat bisa mengurangi stigma dan perlakuan diskriminatif ditengah masyarakat terhadap ODHA.

“Kita boleh waspada dan takut dengan penularan HIV/AIDS namun kita tak perlu menjauhi orang yang sudah terinfeksi HIV/AIDS jika kita memiliki bekal informasi yang cukup,” ujar wanita Inggris yang juga bekerja sebagai penyiar di Radio Sonia FM Maumere pada segmen English Make Over dalam sambutan malam itu.

Sesuai dengan tema acara “Mereka Ada Diantara Kita”, Kaka Tres mengingatkan bahwa Orang Dengan HIV/AIDS sebenarnya ada dan berada ditengah masyarakat. Namun keberadaan mereka selama ini menjadi sesuatu yang harus dihindari. Sikap itu yang menimbulkan diskriminasi di tengah lingkungan. “Kasih sayang dan perlakuan normal, sangat dibutuhkan oleh Orang Dengan HIV/AIDS,” ujar Kaka Tres.

Dengan MC Lucky Reyner, hiburan band malam itu menjadi salah satu yang paling ditunggu-tunggu pengunjung. Dibuka dengan penampilan kelompok band asuhan Robby Idong The Take Off dengan dua buah lagu pop rock. Usai penampilan panas band berumur belia yang berasal dari Nara tersebut, berlanjut dengan band-band berikutnya seperti Rileks Band, Total Alarm, Wanawiri Band dan sebuah band reggae dari Kampung Kabor, Jam Mof. Masing-masing membawakan dua buah lagu.

Acara dikemas menarik dengan selang seling antara penampilan band dan video. Banyak pengunjung yang merasa terhibur sekaligus mendapat bekal informasi yang baik dan benar. Ibu-ibu dan anak-anak remaja masih terlihat menikmati acara hingga usai.

“Kami cukup terhibur. Dengan begini akhirnya kami bisa tahu sebenarnya tentang HIV/AIDS, apalagi tadi dengar cerita mereka divideo rasanya mau menangis. Kalau itu sampai terjadi pada keluarga saya,” kata Mama Sisil, yang bersama suami dan anak-anak balitanya menonton dari trotoar Barata.
“Lumayan, sudah dapat banyak informasi,” kata Nona Elsye mahasiswa Unipa yang berdiri dekat panggung band. Bersama teman-temannya ia menunjukkan beberapa brosur informasi HIV/AIDS.

“Mereka Ada Diantara Kita” berakhir pukul 10.30. Acara yang berlangsung malam itu mendapat dukungan sponsor dari beberapa pihak seperti: KPA (Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Sikka), Kopdit Tuke Jung, Choin Entertainment, Sonia FM Maumere, Apotik K 24, Bank NTT Kewapante, YAKESTRA, Hotel NARA, Hotel Gading Beach, UD. Indah Meubeler dan didukung sepenuhnya oleh www.inimaumere.com dan Dealer Sepeda Motor Yamaha Yes Maumere.



Penampilan kelompok band kiri-kanan: Wanawiri, Total Alarm, Jam Mof, The Take Off (usai manggung)

Benar, sudah saatnya kita mengubah paradigma salah kaprah yang telah lama berkembang di tengah masyarakat bahwa ODHA adalah "orang kotor", berbahaya, hingga harus dijauhi. Betul, kita harus selalu waspada dan memiliki ketakutan akan tertular HIV/AIDS. Namun, bukan berarti kita lalu membenarkan adanya perlakuan diskriminasi dan stigmatisasi yang berlebihan terhadap ODHA. Stop Stigma dan Diskriminasi.(Oss)


Kerja keras menyukseskan acara informatif "Mereka Ada Diantara Kita"

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Saturday, 14 May 2011

NTT Kembali Jadi Juru Kunci

Hasil UN SMA/MA NTT Nasional
Menjelang pengumuman kelulusan siswa SMA dan MA tahun ajaran 2010/2011, Kemendiknas merilis data kelulusan Ujian Nasional (UN) para siswa di seluruh Indonesia. Tercatat sebanyak 1.450.498 siswa atau sekitar 99,22 persen setingkat SMA dan MA dinyatakan lulus UN dari total 1.461.941 siswa. Sementara jumlah siswa yang dinyatakan gagal dalam UN sebanyak 11.443 siswa.
Menurut Mendiknas Mohammad Nuh, tingkat kelulusan tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. "Tahun 2010 jumlah siswa SMA/MA yang lulus sebanyak 1.368.938 anak atau sekitar 89,93 persen.
Jumlah siswa yang tidak lulus juga mengalami penurunan, tahun kemarin yang tidak lulus mencapai 153.257 siswa atau sekitar 10,07 persen," papar Nuh, dalam konferensi pers di ruang sidang, gedung Kemendiknas, Jumat (13/5).

Nuh melanjutkan, terkait peringkat kelulusan UN, provinsi Bali meraih ranking tertinggi dengan rerata nilai UN 8,31. Sementara posisi paling buncit diduduki Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan nilai rerata UN hanya 6,13.

Sementara Provinsi Jawa Timur berada di posisi lima dengan rerata nilai UN 7,86, sedangkan Provinsi Sumatra Utara berada di peringkat dua. Provinsi DKI berada di posisi ketiga belas berada di bawah Provinsi Maluku. Meski tingkat kelulusan mengalami peningkatan, mantan Rektor ITS tersebut menyatakan masih ada sekolah yang keseluruhan siswanya tidak lulus.

Total ada lima SMA yang seratus persen siswanya dinyatakan gagal dalam UN. Kelima sekolah tersebut tersebar di DKI Jakarta dengan jumlah siswa tidak lulus sebanyak tujuh orang, Simeulue, Aceh (26 siswa), Jambi (2 siswa), Kian Darat, Maluku (48 siswa), Urei Fasei, Papua (64).

"Ini satu sekolah solider semua siswanya. Jadi satu tidak lulus, yang lain juga ikutan," canda Nuh tanpa mau menyebutkan nama-nama sekolah tersebut. Nuh memaparkan, saat ini, nilai UN para siswa tersebut dalam proses pengiriman ke sekolah masing-masing.

Hasil nilai UN tersebut akan dibahas dalam rapat bersama di setiap satuan pendidikan. Karena itu, hasil UN belum menjamin kelulusan seseorang. "Lulus UN belum tentu lulus sekolah. Tiap satuan pendidikan masih akan melihat beberapa hal.


Misalnya semua program sudah diikuti, apakah berkepribadian baik dan berakhlak mulia serta ujian nyanyi atau muatan lokal lainnya lulus atau tidak," jelasnya. Sementara itu, untuk hasil kelulusan UN para siswa SMK, sebanyak 938.043 siswa dari total 942.698 siswa.

Sementara jumlah siswa yang tidak lulus mencapai 4.655 siswa. Tingkat kelulusan siswa SMK paling tinggi berada di Provinsi Sumatra Utara, sedangkan tingkat kelulusan terendah berada di provinsi Sulawesi Tenggara. Menurut rencana pengumuman kelulusan akan dilakukan di masing-masing sekolah, pekan depan.

Nuh menjanjikan usai pengumuman kelulusan, pihaknya akan segera menganalisis hasil kelulusan, terkait tingkat kelulusan, hingga tingkat kesulitan soal. "Minggu depan kita lakukan depth analysis. Kita lihat semua, tujuan dari UN kan sebagai peta untuk lakukan perbaikan. Jadi nanti dievaluasi apakah bertambah baik, kalau berubah dimananya," imbuhnya.


NTT Kembali Jadi Juru Kunci
Komentar Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) NTT, Thobias Uly bahwa pihaknya optimistis kalau persentase Ujian Nasional (UN) SMA/MA dan SMK tahun ini meningkat dibanding tahun 2010 lalu memang terwujud.


Hanya sayang, peningkatan itu tak mampu mengangkat prestasi NTT dari posisi juru kunci dalam pelaksanaan UN tahun ini. Provinsi NTT yang dipimpin duet Frans Lebu Raya dan Esthon L. Foenay kembali menempati peringkat ke-33 dari 33 provinsi di Indonesia untuk jumlah peserta UN SMA/MA terbanyak tidak lulus.

Ini merupakan ulangan prestasi yang diraih NTT pada UN tahun 2010 lalu, dimana NTT menjadi juru kunci karena setengah lebih dari jumlah peserta UN-nya tidak lulus. Sekadar mengingatkan, tahun 2010 lalu, peserta UN SMA/MA NTT berjumlah 35.201.

Dari jumlah itu, hanya 16.868 siswa (47,59 persen) yang lulus, sedangkan sisanya 18.333 siswa (52,08 persen) tidak lulus. Meski demikian, presetasi kelulusan tahun jauh lebih baik dibanding tahun lalu.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), sebagaimana disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Muhammad Nuh dalam jumpa pers di Gedung Kemendiknas, Jumat (13/5) petang, jumlah peserta UN SMA NTT tahun ini adalah 32.532 siswa.


Dari jumlah ini, hanya 1.813 siswa (5,57 persen) yang tidak lulus. Artinya 30.719 siswa (94,43 persen) dinyatakan lulus UN tahun ini. Peringkat pertama dengan kelulusan UN terbaik diraih provinsi Bali (tidak lulus 0,04 persen), diikuti Jabar (tidak lulus 0,08 persen), dan Provinsi Sulut (tidak lulus 0,09 persen) diurutan tiga.

Sementara urutan tiga terbawah berturut-turut adalah NTT (5,57 persen tidak lulus), Babel (4,14 persen tidak lulus) dan Kalteng (4 persen tidak lulus). Nuh mengatakan, jika dilihat berdasarkan komposisi jumlah sekolah peserta UN SMA/MA yang jumlahnya 16.835 sekolah, maka sekolah yang persentase kelulusannya 100 persen sebanyak 14.131 sekolah (83,94 persen.

"Ini mengalami peningkatan, karena jumlah sekolah yang nol persen kelulusannya hanya lima sekolah, lulus dibawah 25 persen 15 sekolah, antara 25 persen sampai 50 persen 46 sekolah, diatas 50 persen sampai 75 persen 155 sekolah, diatas 75 persen sampai 90 persen 396 sekolah, dan antara 90 persen sampai 100 persen 2.084 sekolah," ungkap M. Nuh.

Untuk perhitungan Rerata Nilai Akhir (hasil penggabungan antara Nilai UN dan Nilai Sekolah), provinsi Bali menempati peringkat pertama, sedangkan NTT diposisi juru kunci. Untuk Rerata Akhir Provinsi Bali nilainya siswanya 8,40 (Rerata Nilai UN = 8,31; Rerata NS = 8,51), sedangkan NTT Rerata Akhir adalah 6,87 (Rerata Nilai UN = 6,13; Rerata NS = 7,97).

Sementara untuk Rerata Akhir Nasional adalah 7,81; Rerata Nilai UN Nasional 7,60, dan Rerata Nasional Nilai Sekolah (NS) adalah 8,11. Mendiknas menyebutkan, secara nasional, jumlah peserta UN tahun ini sebanyak 1.461.941 siswa.

Siswa yang dinyatakan lulus berjumlah 1.450.498 orang (99,22 persen). Sedangkan jumlah siswa yang tidak lulus 11.443 orang (0,78). "Jika dibanding tahun 2010 lalu, kelulusan tahun ini mengalami peningkatan.

Tahun lalu persentase kelulusan 99,04 persen, tahun ini naik menjadi 99,22 persen," ungkap Mendiknas. M. Nuh menyebutkan, peserta UN SMA/MA yang mendaftar tahun ini berjumlah 1.476.575, yang memasukkan Nilai Sekolah 1.467.058 (99,36 persen); tidak memasukkan 9.517 (0,64 persen).

Yang mengikuti UN 1.461.941 (99,65 persen), tidak ikut UN 5.117 (0,35 persen). Yang mengikuti UN dan lulus 1.450.498 (99,22 persen); tidak lulus 11.443 (0,78 persen). Sedangkan kelulusan SMK, secara nasional, total peserta 942.698 siswa (sekolah peserta 8.074).

Jumlah peserta yang lulus 938.043 (99,51 persen), tidak lulus 4.655 (0,49 persen). Untuk NTT, kelulusannya sedikit lebih baik dibanding kelulusan SMA/MA. Dari 33 provinsi di Indonesia, NTT berada diurutan 30 di atas NAD, Kalbar dan Sulteng yang menempati peringkat tiga terakhir dengan jumlah ketidaklulusan siswa tertinggi.


Jumlah peserta UN SMK NTT 12.624, jumlah tidak lulus 450 siswa (3,56 persen). Urutan terakhir ditempati Sulteng (4,83 persen), sedangkan peringkat teratas dengan jumlah kelulusan tertinggi ditempati provinsi Sumsel dimana hanya lima siswa yang tak lulus (0,03 persen) dari total peserta 18.553 siswa.

Sementara provinsi Bali diurutan kedua dengan jumlah siswa tak lulus 10 orang (0,05 persen) dari total siswa 18.282 siswa. Untuk Kabupaten di NTT, terdapat tujuh kabupaten yang siswa SMK-nya lulus 100 persen.

Tujuh kabupaten itu adalah Manggarai Timur (64 siswa), Sumba Barat Daya (748), Sumba Tengah (107), Rote Ndao (231), Sumba Barat (416), Manggarai (872), dan TTU (405). Sementara persentase ketidaklulusan tertinggi SMK di NTT ditempati Sabu Raijua dimana 72 dari 114 peserta UN tidak lulus (63,16 persen).


Terhadap keseluruhan hasil kelulusan ini, Mendiknas M. Nuh berjanji segera menyampaikan hasil analisis mendalam atas penyebab ketidaklulusan siswa ditiap daerah. "Insya Allah minggu depan kami akan menyampaikan analisis mendalam penyebab ketidaklulusan siswa di tiap-tiap daerah," kata Mendiknas, M. Nuh.

Terkait banyaknya daerah yang ditemukan siswanya tidak lulus, Mendiknas rupanya memahami berbagai persoalan yang dialami daerah. Karena itu, dalam penjelasannya kemarin (13/5), Mendiknas mengatakan bahwa, daerah-daerah yang banyak ditemukan siswa tidak lulus tidak akan diberikan 'shock theraphy' seperti penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Semata-mata (Ketidaklulusan siswa, Red) bukan kesalahan di sekolah saja. Persoalannya kompleks, makanya tidak bisa melakukan shock theraphy. Beda dengan BOS yang betul-betul merupakan kesalahan input," jelasnya.

Dikatakan, hasil kelulusan ini akan menjadi peta kondisi pendidikan di Indonesia. Tujuannya untuk melakukan perbaikan-perbaikan ke depan. Sebagai contoh, di Kabupaten Ende, NTT, misalnya akan dianalisis lebih jauh lagi mengapa tingkat ketidaklulusannya tinggi, dimana mencapai 21 persen.

Tahun lalu NTT merupakan daerah yang paling banyak ditemukan siswa tidak lulus. Meski demikian, Nuh mengungkapkan, hal ini tidak mencerminkan bahwa pendidikan di daerah tersebut menurun. "Sebenarnya sudah berkurang dibanding tahun lalu," pungkas Nuh. (ken/jpnn/aln/fmc)
Selengkapnya...

Wednesday, 11 May 2011

Mereka Ada Diantara Kita

Halaman Parkir Barata Maumere
Sebuah acara bertajuk “Mereka Ada Diantara Kita” tentang kepeduliaan kepada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) akan di gelar di Halaman Parkir Barata Dept. Store Maumere hari sabtu mendatang (14/05/2011). “Mereka Ada Diantara Kita”akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti penayangan video dari anggota JOTHI (jaringan orang terinfeksi HIV), penayangan video tentang pengalaman diskriminasi masyarakat terhadap penderita dan keluarganya, pesan-pesan kepedulian dari beberapa band dan musisi. Halaman Parkir Barata juga diisi dengan berbagai stand khusus informasi mengenai HIV/AIDS. Acara ini bertujuan untuk memberikan informasi yang baik dan benar tentang HIV/Aids kepada pelajar (remaja) dan mahasiswa yang berpotensi keluar daerah. Pesan lainnya adalah menyampaikan kepada masyarakat umum tentang cara-cara penularan HIV dan AIDS dan memerangi sikap diskriminasi, stigma dan ketakutan terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). “Kami ingin pesan-pesan mengenai HIV/AIDS dapat dikemas menarik salah satunya dengan hiburan band dan pemutaran klip video dan acara lainnya. Jika tempat dan waktunya pas akan lebih sampai pesan-pesannya kepada masyarakat, “ kata Teresa Archer, pencetus gagasan , Selasa(10/5/2011).

Informasi yang diperoleh menyebutkan Jumlah penderita HIV dan AIDS di Kabupaten Sikka mencapai 257 orang pada Desember 2010, dan kabupaten ini merupakan kabupaten dengan Penderita HIV dan AIDS tertinggi di antara kabupaten lain di daratan Flores – Lembata.

Sebagian besar ODHA Kabupaten Sikka adalah eks perantau, yang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi HIV dan AIDS. Dari ODHA yang pulang kampung ada yang bahkan tidak menyadari/mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi HIV dan AIDS. Kurangnya pengetahuan masyarakat perantau tentang bahaya HIV dan AIDS merupakan salah satu faktor tingginya jumlah penderita HIV dan AIDS.

Sementara pola pikir masyarakat masih menganggap HIV dan AIDS sebagai penyakit “kutukan”, akibatnya penderita HIV dan AIDS dijauhi bahkan dikucilkan lingkungan.

Relawan asal Inggris yang telah tiga tahun mengabdi di Maumere mengatakan, berdasarkan pengelamannya selama berinteraksi dengan ODHA, ketika tahu terinfeksi, banyak ODHA di Kabupaten Sikka merasa takut dan minder terhadap lingkungan sekitarnya. Sehingga mereka memilih untuk menyendiri. Apalagi stigma negatif bagi ODHA disini masih melekat. Karena ketika tahu dilingkungan tempat tinggal ada ODHA, masyarakat memutuskan untuk menjauhi mereka. Hal inilah yang bisa melahirkan sikap diskriminatif yang ditujukan kepada ODHA.

Wanita yang betah tinggal di Flores ini berharap, idealnya lingkungan tidak perlu mengisolasi ODHA, tetapi harus menyayangi mereka seperti halnya menyayangi orang lain pada umumnya. Namun kebanyakan masyarakat kita masih memiliki stigma negatif terhadap ODHA.

Teresa menambahkan, dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat bisa menerima informasi yang seluas-luasnya mengenai HIV/Aids. Dengan bekal informasi yang benar dan terarah,pandangan terhadap ODHA bisa berubah. Stigma dan diskrimansi bisa dikurangi.


Sparky Band, Relax Band, Total Alarm, Wiriwana, The Take Off adalah beberapa band yang bersedia tampil dan membawa pesan moral bagi ODHA. Acara akan berlangsung Hari Sabtu, (14/05/2011) mendatang di Halaman Parkir Barata. Menurut rencana acara akan digelar mulai pukul tujuh malam.

Teresa, wanita kelahiran Bury St. Edwards, Inggris berterimakasih bagi semua pendukung kegiatan “Mereka Ada Diantara Kita”. Ia juga megatakan banyak terima kasih bagi kepanitiaan acara ini antara lain Ari ‘Kolak’ Labina, Oshy Lelo, Lucky Reyner, Nyonk Franko dan semua lainnya atas suport dan dukungan hingga acara ini bisa digelar sesuai rencana.
“Buat inimaumere.com, epang gawang ya, “ kata Kaka Tres, sapaan akrab Maumere bagi Teresa Archer.

Benar, sudah saatnya kita mengubah paradigma salah kaprah yang telah lama berkembang di tengah masyarakat bahwa ODHA adalah "orang kotor", berbahaya, hingga harus dijauhi. Betul, kita harus selalu waspada dan memiliki ketakutan akan tertular HIV/AIDS. Namun, bukan berarti kita lalu membenarkan adanya perlakuan diskriminasi dan stigmatisasi yang berlebihan terhadap ODHA.

Jadi, bagi kita yang ada di Maumere, mari berkunjung di Halaman Parkir Barata. (Oss)

Teresa Archer

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 10 May 2011

Piala Bupati Ende Direbut Pembalap Maumere

CMRS , 7 Piala

Kisah sukses kembali ditorehkan anak-anak muda asal Maumere. Kali ini dunia balap motor yang membuat semerbak harum Kabupaten Sikka. Para pembalap muda Maumere ini sukses membawa pulang 11 piala. Tak tanggung-tanggung, Piala Bergilir Bupati Ende 2011 pun direbut dan dibawa pulang ke Maumere atas nama Eko Pareira dari tim balap Cahaya Racing Motor. Central Motor Racing Sport membawa pulang tujuh piala dengan 4 piala direbut pembalapnya L. Alexande alias Abul, Cahaya Racing Motor tiga piala dan Sikka Racing Team satu piala. Hasil membanggakan di Kejuaraan Daerah Ende Grasstrack Open Tournament NTT 2011 sekaligus mempertahankan tradisi piala para crosser Maumere disetiap ajang balap motor yang diikuti. Kejuaraan Daerah Ende Grasstrack Open Tournament NTT 2011 berlangsung di Sirkuit Maramba, Kelurahan Mautapaga, Kota Ende. Turnament yang berlangsung dari tanggal 4 Mei hingga final 8 Mei 2011 adalah kedua diadakan dan diikuti sejumlah pembalap tangguh dari sejumlah daerah di NTT .

Pawai sore hari Senin (9/5/2011) yang melewati sepanjang jalan di Kota Maumere, para pembalap muda ini disambut senyum dan lambaian tangan warga dipinggir jalan. Pawai diadakan secara spontan oleh para pembalap dari Central Motor Racing Sport dan pendukungnya. Sedang klub motor lainnya saat pawai sore harinya belum tiba dari Kota Ende.

Pemilik Central Motor Racing Sport (CMRS), Yanto Wijaya mengungkapkan rasa bangganya atas prestasi yang ditorehkan anak didiknya. Tiga pembalap yang dikirim CMRS menorehkan tujuh piala. Namun Yanto Wijaya mengaku perlu usaha yang lebih keras lagi untuk menorehkan prestasi yang lebih membanggakan.

Begitu pula Abul alias L. Alexander, Tandi Baco dan Kristo yang cemerlang mempersembahkan tujuh piala bagi CMRS. Tak habis-habisnya para pembalap muda harapan Maumere ini menceritakan saat-saat menegangkan kala bertarung melawan pembalap dari daerah lain. Kisah seru mempertaruhkan nama Maumere mendapat dukungan semangat dari warga Ende asal Maumere dan para pendukung yang datang langsung dari Maumere.

Abul yang mulai membalap tahun 2007 bersama Eko Pareira dan sejumlah pembalap muda lainnya saat ini adalah harapan Maumere diajang grasstrack. Mereka menggantikan pembalap-pembalap senior seperti Dedy Philip, Andri Sadipun, Karno dan lain-lain yang pernah berjaya mengangkat nama Maumere.

Meski nama Maumere harum diajang balap motor, perhatian dari pemerintah daerah Kabupaten Sikka terhadap ajang ini sangat minim. Hal ini diakui sendiri oleh para pelaku balap motor di Maumere. Selain itu sebuah wadah nasional untuk daerah seperti IMI (Ikatan Motor Indonesia) daerah Sikka belum terbentuk. Padahal prestasi para pembalap membawa harum nama Kabupaten Sikka sudah sering ditorehkan. Balap Motor dan Pencak Silat adalah cabang olah raga yang sering membikin bangga nama Maumere. Balap Motor yang lahir dari sekedar hobi para anak muda Maumere sekiranya perlu diperhatikan secara serius. Jika dipoles dengan campur tangan dukungan pemerintah, niscaya prestasi harum terus ditorehkan. Dunia balap pun bangga karena didukung sepenuhnya. Biarkan mereka berkreasi dengan kemampuan mereka tapi jangan biarkan para pembalap ini seperti anak ayam tak punya induk. Maju terus...!


Hasil dari Pembalap Maumere:

Cahaya Racing Team:
Piala Bergilir Bupati Ende 2011: direbut Eko Pareira
Juara II Kelas Special Engine s/d 250 cc : Eko Pareira
Juara IV Bebek Dua Tak Modifikasi OPEN s/d 125 cc: Eko Pareira



Central Motor Racing Sport:
Alexander (Abul) :
- Juara I Kelas Bebek 2 Tak Modifikasi OPEN s/d 125 cc
- Juara II Kelas Bebek Campuran Modifikasi Lokal NTT s/d 150 cc
- Juara II Kelas FFA Open s/d 200 cc
- Juara III Kelas Special Engine s/d 250 cc

Kristo Sumba:
- Juara III Kelas Bebek 4 Tak Modifikasi OPEN s/d 150 cc
- Juara IV Kelas FFA Open s/d 200 cc


Tandi Baco:
Juara II Kelas Bebek 4 Tak Modifikasi OPEN s/d 150 cc

Sikka Racing Team : Satu Piala.

Kelas-kelas yang diperlombakan antara lain :
1. Bebek 4 tak modifikasi OPEN s/d 150 cc
2. Bebek 2 tak modifikasi OPEN s/d 125 cc
3. Bebek Campuran modifikasi lokal NTT s/d 150 cc
4. Sport/Trail modifikasi lokal NTT s/d 155 cc
5. Bebek 4 tak standard nasional Pemula Lokal NTT s/d 130 cc
6. Bebek 4 tak standard nasional s/d 125 cc ( PW KIDS s/d 15 Tahun )
7. FFA OPEN s/d 200 cc
8. Spesial Engine s/d 250 cc



Alexander (topi) bersama pembalap se-tim dan pemilik CMRS (paling kanan)

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Saturday, 7 May 2011

Desa Wukur dan Hokor tak lagi Terisolasi

TNI Buka Isolasi Selatan Flores
Ratusan Anggota Tentara Nasional Angkatan Darat (TNI AD) dan Komando Distrik Militer (Kodim) 1603 Maumere, bersama masyarakat Kecamatan Lela membuka isolasi perhubungan darat. Pembukaan jalan yang menghubungkan Wukur di Kecamatan Lela dan Desa Hokor di Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka berlangsung 3 minggu sejak 11 April hingga 3 Mei 2011. Karya Manunggal TMD tahun 2011 itu berhasil membuka jalan lintas selatan Flores sepanjang dua kilometer. Daerah yang tidak terjangkau pembangunan di Kabupaten Sikka selama bertahun-tahun. Pembukaan jalan itu kerja sama TNI dan Polri dan masyarakat di Kecamatan Lela. Selasa (4/5/2011) pagi, di Desa Wukur, karya bakti dan TNI bekerja sama dengan masyarakat setempat itu ditutup dengan upacara militer oleh Kapten Darmaji. Penutupan karya bakti TNI dan polri itu ditutup oleh Wakil Bupati Sikka Wera Damianus.


Rombongan wakil bupati berjalan kaki menadki lereng dan bukit, naik turun sekitar satu setengah kilometer. Setibanya di Wukur, rombongan diterima masyarakat Wukur dipintu masuk kampung dengan tarian adat.

Rombongan kemudian menuju halaman Sekolah Dasar Katolik (sdk) Wukur. Mengenakan kain kuning dipadu kain adat, kain hijau dipinggang, ibu-ibu meliuk ria menari didepan rombiongan wakil bupati. Anak-anak kampung berlari mengejar dari belakang. Suasana kampung itu seperti kota kecil saja.

Dihalaman SDK Wukur telah menanti barisan TNI dan Polriberseragam lengkap dan bersenjata.

Hadir saat itu Kasdim 1603, Mayor ARM Drs. Syafei. Selama tiga minggu Mayor syafei berbaur dengan masyarakat setempat dan anggotanya di Wukur, Desa Sikka. Mereka merasakan suka duka hidup bermasyarakat selama bertugas mengerjakan jalan raya sepanjang dua kilometer itu.

Hadir juga Sekretaris Kabupaten Sikka, Drs. Cypri da Costa, Asisten I Ekbang, Blasius Pedor, Asisten III Petrus da Silva, Kesbangpol, Linmas, Simeon, Kepala Bidang Pembangunan Yakobus Regang dan beberapa pimpinan SKPD Sikka.


Terima Kasih Untuk TNI
Wakil Bupati Sikka Wera Damianus, mengatakan, pemerintah dan masyarakat Sikka berterima kasih kepada TNI yang telah bersama masyarakat Wukur membangun jalan dan jembatan.

Damianus mengatakan apa yang dilakukan TNI dan masyarakat setempat yang membuka isolasi wilayah merupakan bukti kepedulian TNI dalam mendukung pelaksanaan pembangunan. Dimana daerah yang belum ada jalan dibuka jalan sehingga masyarakat di desa tidak terisolasi.

"Saya memulai tugas baru saya sebagai Kodim 1603 Maumere di tengah masyarakat Wukur. Saya telah berbaur bersama, merasakan kehidupan mereka setiap hari. Saya menikmati kebersamaan itu," Kata Mayor Syafei, Kasdim 1603 Maumere.

Syafei mengatakan karya bakti TNI dilakukan besama masyarakat membangun jembatan, cross way, perawatan jalan dan pengobatan gratis bagi masyarakat miskin.

"Jumlah jembatan yang kami bangun satu, ruas jalan yang kami buka dua kilometer, cross way ada tiga dan pengobatan bagi orang miskin," kata syafei. (kk/flores star)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Yohanes Paulus II Jadi "Beato"

Paus Benediktus XVI, Minggu (1/5/2011), membeatifikasi Paus Yohanes Paulus II di hadapan lebih dari sejuta umat di Lapangan Santo Petrus di Vatican City, yang membuat almarhum Paus itu selangkah lebih dekat untuk mendapat status orang suci bagi orang Katolik.

Umat di Roma dan kota-kota di seluruh dunia bersorak gembira, meneteskan air mata, dan bertepuk tangan saat Paus Benediktus XVI selesai menyatakan, ”Mulai sekarang Paus Yohanes Paulus II disebut beato, ’yang terberkati’,” dan sebuah banner dengan gambar wajah Paus asal Polandia itu dibuka di bagian muka Basilika Santo Petrus. ”Dia memberikan kembali pada Kristianitas wajah aslinya sebagai sebuah agama harapan,” kata Benediktus XVI dalam khotbahnya, merujuk pada peran menentukan Yohanes Paulus II dalam membantu meruntuhkan komunisme.

Beatifikasi adalah langkah pertama di jalur menuju kemungkinan menjadi santo/santa (orang suci), salah satu penghargaan tertinggi Gereja Katolik.

Sebanyak 86 delegasi resmi juga hadir dalam upacara itu dan para peziarah melambai-lambaikan bendera dari seluruh dunia di lapangan yang bermandikan sinar matahari itu.

Paus menyatakan tanggal 22 Oktober sebagai hari peringatan Yohanes Paulus II.

Marie Simon-Pierre Normand, biarawati Perancis berusia 50 tahun yang menyatakan kesembuhannya dari penyakit parkinson sebagai mukjizat melalui perantaraan almarhum Paus itu, terlihat tersenyum dan bertepuk tangan pada upacara yang emosional itu.

Kesembuhan Normand telah diakui sebagai mukjizat yang memberikan alasan beatifikasi Yohanes Paulus II setelah bertahun-tahun penyelidikan oleh Vatikan. Sebuah mukjizat kedua yang terbukti kini diperlukan agar Yohanes Paulus II diangkat menjadi santo dan Vatikan telah memeriksa ratusan mukjizat yang dilaporkan.

Lapangan Santo Petrus penuh sesak dan umat memadati sampai sejauh Sungai Tiber, lebih dari setengah kilometer dari lapangan itu. Ini adalah kumpulan massa terbesar di Roma sejak pemakamannya enam tahun lalu, yang dihadiri 4 juta orang. Para peziarah bergerak menuju kawasan Vatikan dari segala penjuru mulai sebelum fajar untuk mendapatkan tempat yang baik.

Polisi memperkirakan, massa di kawasan Vatikan sekitar 1,5 juta orang. Banyak dari mereka bermalam di lapangan itu, yang berhiaskan poster-poster almarhum Paus itu dan salah satu perkataannya yang paling terkenal, ”Janganlah takut!”

Banyak dari umat adalah peziarah dari Polandia, negara asal Yohanes Paulus II. Puluhan bendera putih-merah Polandia tampak di atas massa.

Sejumlah 86 delegasi resmi seluruh dunia, termasuk anggota lima keluarga kerajaan Eropa dan 16 kepala negara, menghadiri beatifikasi itu. Delegasi resmi itu termasuk Presiden Zimbabwe Robert Mugabe, yang gencar dikritik atas pelanggaran HAM di negaranya. Mugabe dilarang bepergian ke Uni Eropa, tetapi Vatikan bukan anggota Uni Eropa.

Para ahli mengatakan, beatifikasi itu bisa membantu Vatikan membersihkan citra yang ternoda oleh berbagai skandal rohaniwan paedofil. Namun, ada juga yang mengkritik dipercepatnya prosedur yang biasanya makan waktu puluhan hingga ratusan tahun itu.

Masa kepausannya dari tahun 1978 sampai 2005 membantu menginspirasi gerakan religius awam dan kelompok muda.

Peti jenazah Paus Yohanes Paulus II digali kembali dari makam di bawah Basilika Santo Petrus dan ditempatkan di depan altar utama. Peti jenazah itu akan berada di sana dan basilika itu akan tetap dibuka sampai semua pengunjung, yang ingin melihatnya, telah melihatnya. Peti itu kemudian akan dipindahkan ke tempat baru di bawah sebuah altar di kapel sisi dekat patung Pieta. (Reuters/AP/AFP/DI)

Foto kiri: Paus Jhon Paul saat menyalami Ali Agcha, yang menembakinya 1981. Bapa Paus memberi maaf baginya
Foto kanan: Ribuan orang berkumpul dan berdoa bagi sang beato dlm cahaya lilin 30 april 2011


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 30 April 2011

Tulang Belulang Mo'ang Ratu Dipindahkan

Raja yang suka bermain suling
Hari Jum’ad (29/4/2010) menorehkan catatan penting bagi keluarga besar da Silva Lepo Gete. Almarhum Don Paulus Ximenes Centis da Silva, raja terakhir (1954-1958) dalam struktur pemerintahan Kerajaan Sikka dan Pejabat Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Sikka (cikal bakal Kabupaten Sikka) bersama kerangka jenazah istri pertamanya, Maria Kornelia Du’a Reja Karwayu, dipindahkan untuk dikebumikan bersama di Taman Makam Pahlawan Bukit Bahagia Iligetang. Pemindahan kerangka merupakan inisiatip pihak keluarga dengan pertimbangan untuk menyatukan keduanya dalam satu makam. Sebelumnya Don PX Centis da Silva dimakamkan di Pekuburan St. Yoseph Kota Uneng, Maumere dan Du’a Reja Karwayu dimakamkan di Lekeba’i (35 Km dari Maumere) dalam kompleks Puskesmas setempat. Ratusan masyarakat Maumere turut hadir dan mengikuti misa syukuran di Katedral St Yoseph hingga pemakaman di Iligetang. Misa dipimpin oleh Uskup Keuskupan Maumere Mgr. Kherubim Pareira, SVD dan Vikaris Jenderal Keuskupan Maumere, Pater Wilhem Djulel Conterius, SVD.

Usai misa, kedua peti dipindahkan di halaman gereja dan dilakukan penyerahan dari pihak keluarga ke Dandim 1603 selaku Inspektur Upacara untuk dimakamkan secara semi militer di TMP Bukit Iligetang Maumere.

Ratusan masyarakat dengan payung warna warni menahan terik berdiri di sisi kiri dan kanan halaman gereja katedral, mengiringi kepergian kerangka Moang Ratu bersama istrinya. Dalam kawalan barisan TNI dan Polri kedua peti kemudian diletakan dalam mobil pick up terbuka. Kemudian dilakukan arakan menuju TMP Bukit Bahagia Iligetang.

Di Iligetang, warga masyarakat, puluhan anggota TNI dan Polri, Siswa SMK Pelayaran dan Drum Band dari SLTP Yapenthom I Maumere telah menunggu. Dekat makam, ratusan masyarakat berkumpul dibawah tenda yang disedikan di kedua sisi. Upacara pemakaman kembali berlangsung lancar dalam cuaca terik hingga selesai sekitar pukul 14.00.

Hadir dalam kesempatan itu antara lain, Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka Cypri da Costa, Wakil DPRD Sikka Alex Longginus, Kapolres Sikka, Dandim Sikka 1603, sesepuh masyarakat Sikka Daniel Woda Pale, E.P da Gomez, Oscar Mandalnagi Pareira dan cucu Almarhum Raja Centis dan Du’a Reja Karwayu yang juga adalah Ketua Badan Anggaran DPR RI, Melkias Markus Mekeng.

****
Hari sebelumnya, tepatnya Kamis (28/4/2011) dilakukan penggalian dan pengambilan kerangka jenazah Moang Ratu dan istrinya Dua Reja. Ditengah cuaca mendung tebal dan udara yang begitu dingin menusuk kulit, kerangka jenazah Du’a Reja Karwayu di ambil dari lobang kubur yang berada dalam komplek Puskesmas Lekeba’i. Sapaan adat Lio Mego menandai awal pengambilan kerangka hingga dimasukan didalam peti. Tak ketinggalan musik tradisionlal Lio Mego, yang turut memeriahkan upacara tersebut. Seruling, pukulan gong dan rebana menyatu dengan alam setempat, mengawal pengambilan kerangka hingga usai.

Pengambilan kerangka Du’a Reja dilakukan cucu kandungnya Minkolas da Silva. Hampir seluruh kerangkanya telah menjadi tanah. Bahkan petinya pun telah hancur. Dengan hati-hati, proses pemindahan ke dalam peti dilakukan. Usai peti ditutup, kemudian peti yang baru diisi kerangka Du’a Reja disemayamkan sementara di Gereja St. Imaculata Lekeba’i dan dilakukan ibadat sabda. Sekitar pukul 5 sore, dengan kawalan dari kepolisian Resort Sikka, menggunakan mobil ambulans dan puluhan pengusung peti, di bawa menuju Maumere untuk disemayamkan di rumah puteranya, almarhum Michael da Silva bersanding dengan kerangka peti Moang Ratu Centis yang baru saja di gali dan dipindahkan dari makamnya di TP St Yosep Maumere.

Peti Jenazah yang menyimpan kerangka D';a Reja kemudian disemayamkan sementara di Gereja Imaculata Lekeba'i
Foto: Oss



Foto Kiri: Peti yang berisi kerangka di halaman Gereja Katedral Maumere
Foto Kanan: Memasuki TMP Bukit Bahagia Iligetang


******

Don Paulus Ximenes da Silva adalah raja terakhir Kerajaan Sikka, Flores. Dalam sejarahnya, beliau merupakan raja ke XVI dalam silsilah raja keturunan da Silva. Ia berkuasa pada tahun 1954 hingg 1958. Putra dari Moang Mbako Ximenez da Silva, Raja Sikka XIII dan Du’a Fransisca Rodriques ini lahir 26 Juni 1902, ditengah wabah kolera yang melanda Kerajaan Sikka diawal abad 20.

Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar di Kampung Sikka (24 km dari Maumere). Don Centis kemudian melajutkan sekolah di Standaardscool, Lela. Tahun 1918 ia berlayar menuju Sulawesi Utara untuk melanjutkan pendidikan Menengah Atas-nya di Woloan Manado. Sekembalinya dari Manado, Don Paulus Centis berkarya sebagai guru di Sekolah Dasar Sikka dan Standaardscool, Lela.

Baik di Lela maupun Sikka, Don Paulus dikenal sebagai seorang pemuda yang aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan dan seni, khususnya musik suling kegemarannya. Hampir setiap akhir pekan, ia memimpin para remaja dan putra putri untuk latihan baris berbaris, menyanyikan lagu mars dan lagu-lagu daerah diiringi alat musik suling. Ia juga dikenal sebagai penari handal untuk sendra tari Toja Bobu (peninggalan Portugis).

Tahun 1922, menjelang usianya yang ke 20, Don PX Centis da Silva diangkat menjadi guru di Normal Cursus, di Perguruan Standaarshool Lela bersama dengan teman gurunya yang asal Manado, Maxi Makalew. Kedua orang sahabat lama, lulusan Minahasa ini kemudian membentuk orkes-orfeus suling bambu yang menjadi andalan untuk Standaarshool dalam berbagai pentas dan musik.

Lima tahun mengabdi menjadi guru, Don Centis kemudian mendapatkan beasiswa pendidikan khusus pembasmian malaria atau dikenal dengan mantri malaria di Cursus Malaria Bestryding di Carolus Boromeus Ziekenhuis (CBZ) di Batavia. Ia mengabdi selama 7 tahun didunia kesehatan masyarakat sebagai mantri malaria sebelum diangkat menjadi Kapitan Hamente (Gemeente) Lekeba’i, salah satu wilayah desentralistik Kerajaan Sikka diusianya yang ke-33.

Setelah zaman kemerdekaan, terutama setelah pengakuan kedelautan oleh Belanda atas Republik Indonesia, wilayah Flores mengalami restrukturisasi sistem pemerintahan. Raja Don Thomas Ximenes da Silva (Raja Kerajaan Sikka, kakak dari Don Centis) kemudian diangkat menjadi Kepala daerah Flores 1.

Untuk mengisi kekosongan pemerintahan Kerajaan Sikka, pada tanggal 30 Mei 1949, Don Paulus Ximenes Centis da Silva diangkat sebagai Pejabat Pelaksana Tugas Raja Sikka. Jabatan ini setara dengan struktur pemerintahan Belanda sebelum kemerdekaan yang dikenal dengan sebutan Regent Waardemen, atau lebih populer dimasyarakat dengan Mo’ang WD. Jabatan ini secara resmi dipegangnya sampai tahun 1954.

Tahun 1953 Pemerintah RI mengeluarkan kebijakan untuk merestrukturisasi pemerintahan. Maka terbentuklah Dewan Pemerintah Daerah Swapraja Sikka (DPDS) yang merupakan embrio pembentukan pemerintahan Kabupaten Sikka.

Setahun setelah terbentuknya DPDS, pada tanggal 18 Mei 1954, Raja Don Thomas Ximenes da Silva, menghembuskan napas terakhir di Ende, ibu kota daerah Flores. Melalui kesepakatan Dewan Kerajaan Mo’ang Litih Puluh, Don Paulus Centis secara resmi diangkat menjadi Raja Sikka ke XVI dari keturunan da Silva, menggantikan almarhum kakaknya Don Thomas.

Don Paulus Centis bergelar Don Paulus Centis Ximenes da Silva kemudian mengambil alih dan menata kembali seluruh perangkat kerajaan Ngawung Ratu Regalia, yang merupakan simbol kebesaran Kerajaan Sikka. Salah satu program pemerintahan yang selalu dikenang masyarakat adalah upaya pencegahan banjir Kalimati Maumere yang setiap musim hujan tahunan menggenangi Maumere dan menyebabkan korban manusia.

Pada masa kepemimpinannya sebagai Raja Sikka, di Flores secara keseluruhan sedang dilakukan penataan struktur pemerintahan, disesuaikan dengan sistem tata pemerintahan Negara Republik Indonesia (saai itu Republik Indonesia Serikat). Sehingga disamping sebagai raja, Don Centis juga menjabat sebagai anggota DPDS. Tahun 1957 saat dilakukan reorganisasi dan restrukturisasi , Don Centis diangkat menjadi Ketua DPDS menggantikan kakaknya Don Thomas.

Hanya setahun berfungsi, tahun 1958 DPDS dihapus dan dibentuk Daerah Swatantra Tingkat II Sikka atau lebih dikenal dengan Daswati II Sikka, berdasarkan UU No. 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II dalam wilayah Daerah-Daerah Tingkat I Bali, NTT, NTB.

Berdasarkan Keputusan Mendagri, Don Paulus Ximenes da Silva ditetapkan sebagai Pejabat Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Sikka. Sementara itu dengan dihapusnya DPDS Sikka dibentuklah DPRD Daswati II Sikka Peralihan yang beranggotakan 17 orang, diketuai Yan Djong dan Wakil Ketua Thomas Markus Sogo Cynde.

Dengan lahirnya Daswati II Sikka, eksistensi Kerajaan Sikka pun secara bertahap dialihkan kepada pemerintahan republik dalam sitem pemerintahan Negara Republik Indonesia, dibawah koordinasi pemerintahan provinsi yang berkedudukan di Kupang dan pemerintahan pusat yang berkedudukan di Jakarta. Sehingga praktis eksistensi dan riwayat Kerajaan Sikka pun secara formal pun berakhir.

Dan Don Paulus Centis Ximenes da Silva pun dikenang masyarakat sebagai raja terakhir Kerajaan Sikka, sekaligus sebagai salah satu founding father utama Kabupaten Sikka. Kedudukan sebagai Pejabat Bupati Sikka diembannya sampai dengan April 1960. Tanggal 1 Mei 1960, Gubernur NTT atas nama Mendagri melantik Paulus Samador da Cunha sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Sikka.


Don Paulus Ximenes da Silva menikah pada tahun 1926 di usia ke 24 dengan menyunting gadis asal Du Sikka, Cornelia Du’a Reja Karwayu. Dari pernikahan ini lahir 6 orang puteri dan 3 orang putera.

Sang istri tercinta pergi lebih dahulu, Ketika Paulus Centis sedang bertugas di Lekeba’i sebagai Kapitan Mego Nualo’o. Jenazah Almarhumah dimakamkan di pendodpo tinggal keluarga Don Centis yang saat ini sudah berfungsi sebagai Poliklinik Lekeba’i.

Setahun berduka, Don Centis kemudian menikahi Lusia Du’a Ate Karwayu yang dilahirkan 13 Desember 1913, yang kemudian mendampingi Don Centis selama tugasnya di Maumere. Dari pernikahan mereka, tidak dikaruniai keturunan.

Don Paulus Centis Ximenes da Silva meninggal disaat persiapan menjelang hari kemerdekaan RI yang ke-27, pada tanggal 16 Agustus 1972 di usianya yang ke 70. Jenazahnya disemayamkan dirumah duka dilanjutkan dengan misa requiem yang mulia, dihadiri tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, rohaniawan dan masyarakat umum dari berbagai kalangan.

Diiringin keluarga dan masyarakat, jenazah saat itu kemudian dihantar menuju ke tempat peristirahatannya di TP Gereja St, Yosep Kota Uneng Maumere. Dimakamkan berdampingan dengan kakaknya, almarhum Raja Don Thomas Ximenes da Silva.


www.inimaumere.com


Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---