Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Monday, 12 December 2011

Dua Minggu setelah Gempa Tsunami 1992 Goyang Flores

Catatan Majalah Tempo - Maumere - 26 Desember 1992

FLORES, dalam bahasa Portugal, berarti bunga. Tapi pelaut Vacso da Gama, yang menemukan daratan itu empat abad yang lalu, menjuluki Flores sebagai bunga yang indah. Setelah gempa dahsyat disusul badai tsunami menerjang pulau itu -- Sabtu dua pekan lalu -- Flores barangkali lebih tepat disebut pulau yang sedang menderita. Empat kabupaten di sana -- Sikka, Ngada, Ende, dan Flores Timur -- seakan berhenti berdetak. Menurut catatan posko penanggulangan bencana di daerah itu, sampai akhir pekan lalu, korban yang tewas sudah lebih dari 2.400 orang. Gempa dan gelombang tsunami itu mengakibatkan sekitar 18 ribu rumah hancur, 113 sekolah porak-poranda, 211 kantor rusak berat, 120 tempat ibadah -- sebagian besar di antaranya gereja -- tak lagi bisa dipakai, dan lima jalan utama lumpuh. Ini bukan lagi kepalang tanggung. Menurut taksiran sementara, kerugian mencapai Rp 200 milyar. Karena itu, ada yang bilang, kondisi kabupaten ini sekarang mundur ke Pelita pertama. Inilah gempa bumi dengan korban terbesar sepanjang sejarah republik ini. Maumere, jantung dan ibukota Kabupaten Sikka, menderita paling parah. Lebih dari 10.000 rumah penduduk hancur.

Kota ini berpenduduk sekitar 20.000 jiwa. Denyut kegiatan ekonomi di sana sementara ini boleh dibilang mengalami koma, kendati bukan berarti mati. Lihat saja, bagaimana pasar lama di dekat pelabuhan hancur. Daerah pertokoan tinggal puing dan bangunan rontok. Kantor BRI, rumah sakit, dan semua bangunan pemerintah lainnya rusak berat.

Jalan utama pecah-pecah, dan di beberapa bagian merekah. Pelabuhan pun harus direhabilitasi berat. Dermaga sebelah timur amblas. Kegiatan pengiriman hasil laut Flores, terutama ikan tuna dan cakalang, jelas terancam. Dua gudang pendingin berkapasitas 100 ton di pelabuhan porak-poranda, menerbangkan 30 ton ikan tuna beku yang siap dikirim.

Untung, listrik yang padam di seluruh kota, sejak kota ini disergap bencana itu, Rabu lalu sudah mulai menyala. Namun, jangan coba-coba mencari hotel di Maumere. Hampir seluruhnya penuh. Isinya: wartawan atau pejabat dari Pusat.

Namun, seperti dilaporkan wartawan TEMPO Zed Abidien dari Maumere, "Saya terpaksa bangun tiga kali di hotel karena gempa masih terasa menggetarkan. Sepertinya lebih aman tidur di luar, di tenda-tenda penduduk."

Menurut catatan Stasiun Meteorologi dan Geofisika setempat, gempa susulan masih datang, sekalipun goyangnya tak lagi kuat. Sementara gempa yang meremukkan itu berkekuatan 6,8 skala Richter, susulannya paling berkekuatan 3 skala Richter. Maka, Maumere memang menjelma menjadi kota tenda. Penduduk masih takut bermalam di dalam rumah atau bangunan permanen lainnya. Empat tempat penampungan korban bencana didirikan di Kabupaten Sikka. Satu di antaranya di Nangahale, Taliburo, yang saat ini menampung sekitar 900 pengungsi, 300 di antaranya berasal dari Pulau Babi, di lepas Pantai Maumere. Bahkan penduduk yang bermobil pun, bila malam, tampak menggelar tenda di luar pekarangan rumahnya yang roboh.

Musibah yang tak kurang parahnya diderita penduduk di pulau-pulau yang terpencil, dan biasanya terpencil pula dari perhatian orang. Misalnya, lihatlah penduduk Pulau Babi. Pulau yang terletak di sebelah timur lepas pantai Maumere itu -- dua jam perjalanan dengan kapal motor -- adalah tempat yang sangat menyesakkan napas. Wartawan TEMPO, yang bergabung dengan dua peleton zeni tempur Kodam Udayana yang dikirim ke lokasi tiga hari setelah kejadian, disambut bau anyir mayat manusia ketika menjejakkan kaki di pulau gundul itu.

Keindahan Laut Flores dengan bunga karangnya praktis pupus ketika terlihat pemandangan ini: rumah penduduk yang terseret sampai ke bibir pantai, kubah mesjid yang terpangkas roboh, dan mayat-mayat yang membusuk. Sebagian mayat itu bergeletakan di bawah pohon kelapa. Sebagian lagi dikumpulkan dari bawah reruntuhan rumah-rumah. Kabar terakhir, penduduk pulau yang tercatat sebanyak 1017 jiwa itu kini tinggal sekitar 700 orang. Empat ratus yang lain diperkirakan habis disapu tsunami.

Menurut keterangan saksi mata, seluruh pulau ini sempat ditenggelamkan gelombang air tsunami selama beberapa detik. Gelombang itu kemudian menyeret apa saja yang ada di pulau itu ke laut. Sampai Kamis pekan lalu baru sekitar 100 mayat yang ditemukan. Penduduk yang selamat memilih membangun tenda darurat di sebuah bukit yang merupakan puncak tertinggi di pulau itu.

Dan tampaknya penduduk Pulau Babi dicekam trauma. Karena belum ada seorang pun yang datang untuk mencari maupun mengenali sanak keluarga mereka yang tewas. Akhirnya, keputusan diambil petugas: semua mayat yang ditemukan langsung dikubur. Ada yang dikubur satu orang dalam satu lubang, ada pula yang satu lubang untuk dua atau tiga orang. Repotnya, galian lubang tak bisa terlalu dalam, karena baru setengah meter digali, air asin sudah memenuhi lubang.

Pulau Babi terdiri dari dua dusun, Batter dan Pagaraman. Uniknya, Dusun Batter ini penduduknya Islam, sedangkan Dusun Pagaraman dihuni penduduk yang beragama Katolik. Kalau penduduk Batter membangun masjid, rakyat Pagaraman ikut turun tangan. Begitu sebaliknya. Maka, nama pulau pun ikut berbeda. Penduduk yang mayoritas Islam tak mau menyebut kata babi, lalu memilih kata Batter untuk nama pulau kecil itu. Sedangkan yang di Dusun Pagaraman memakai sebutan babi.

Konon, penduduk yang beragama Islam itu datang dari Sulawesi, dari suku Bajo. Penduduk Pagaraman adalah orang Flores asli. Mata pencaharian kedua dusun itu sama, nelayan. Ada yang melaut. Ada yang memilih mencari nener (bibit bandeng) di pantai. Ketika mencari nener itulah Safei, 50 tahun, penduduk Batter, menyaksikan datangnya gelombang pasang luar biasa yang diakibatkan gempa itu.

"Suara itu bergemuruh seperti bunyi pesawat terbang. Saya berada di Pantai Tanjungdarat, di Flores, dan saat itu ada 21 penduduk yang sedang mencari ikan. Tiba-tiba air laut susut. Lalu datanglah badai. Ombak setinggi kira-kira 20 meter menghantam pantai," cerita Safei.

Antara Pantai Tanjungdarat Flores dan Pulau Babi ada selat selebar 15 kilometer. Jadi dia melihat jelas Pulau Babi seperti ditelan ombak. Safei mengajak istrinya lari ke daratan Flores, tapi sang istri yang ingat tiga anak mereka ditinggal di Pulau Babi, malah lari ke laut seperti hendak berenang untuk menyelamatkan anaknya di pulau itu. Sang istri pun terseret arus deras.

Safei pulang dengan sampannya ke Pulau Babi. Apa yang didapatinya? "Tiga anak saya hilang, istri saya juga hilang," katanya pilu.

Yang juga dilanda nestapa adalah penduduk Pulau Pemana, yang bisa dicapai dari Pantai Maumere dengan perahu selama dua jam perjalanan. Pulau yang berpenghuni 4.500 jiwa ini (700 kepala keluarga) mayoritas penduduknya beragama Islam. Dan sangat taat. Di pulau ini sudah ditemukan 29 mayat yang tewas kejatuhan bangunan. Derita ini masih ditambah dengan keruhnya air minum akibat badai tsunami.

"Disaring pun air putih ini belum bagus diminum," kata Abbas Tambo, penduduk Pemana. Hampir semua bangunan di pulau kecil itu runtuh, termasuk SD Inpres, SMP PGRI, dan sekolah taman kanak-kanak. Tiang-tiang listrik pun tumbang kena longsoran batu-batu raksasa.

Dalam kondisi mayat bergeletakan membusuk, wabah kolera, tifus, serta disentri diduga akan segera berkecamuk. Dan wabah ini bisa merepotkan karena ia seakan berpacu dengan masuknya bantuan obat-obatan. Padahal transportasi ke daerah terpencil bukan main sulitnya. Hari Kamis pekan lalu, dalam sehari sampai ada 32 sorti (penerbangan bolak-balik) pesawat yang mengangkut bantuan dari Jakarta, Denpasar, maupun Kupang, ibu kota provinsi, yang mendarat di Bandara Wai Oti Maumere.

Syukurlah, tampaknya tragedi ini mendapat perhatian paling luas dari dalam dan luar negeri. Bantuan datang dari negeri tetangga Australia, Bank Pembangunan Asia, dan beberapa negeri lainnya. Bantuan dari Australia sampai dikirim dengan pesawat khusus. Pernyataan prihatin atas bencana yang memilukan hati ini berdatangan dari mana-mana, termasuk dari Paus Yohanes Paulus II. Pernyataan yang sama juga datang dari Putra Mahkota Kerajaan Yordania El Hasan Ibnu Talal. Raja Arab Saudi Fahd Bin Abdul Azis menyampaikan doa agar para korban yang meninggal dunia mendapat rahmat dari Allah. MUI mengimbau umat Islam Indonesia agar mengumpukan dana kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang terkena musibah di Flores. Pengurus Pusat Muhammadiyah malah segera mengirim tim bantuan kemanusiaan yang terdiri dari tiga dokter dan enam perawat -- dengan peralatan dan obat-obatan -- ke daerah gempa itu. Organisasi itu juga membuka dompet bantuan kemanusiaan. MUI Aceh pun turut mengimbau masyarakatnya agar prihatin dan membantu korban bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

Semua cerita di atas membesarkan hati, karena menggambarkan kegotong-royongan masyarakat, tanpa melihat suku atau agama. Mayoritas masyarakat Flores berama Katolik dan Kristen. Bantuan masyarakat mengalir pula melalui dompet terbuka di koran-koran seperti Kompas, Suara Pembaruan, dan Jawa Pos. Untuk pengumpulan dana model ini, jumlah terbesar dikumpulkan Jawa Pos. Sampai Sabtu pekan lalu, koran Surabaya itu telah mengumpulkan uang lebih Rp 164 juta.

Secara keseluruhan, bantuan terbesar, sekitar Rp 3 milyar, datang dari pemerintah Jepang. Total bantuan sampai pekan lalu mendekati Rp 5 milyar. Pemerintah telah menetapkan kejadian tragis di Flores itu sebagai bencana nasional. Konon, inilah pertama kalinya sebuah bencana gempa bumi dinyatakan sebagai bencana nasional.

Tadinya, seluruh bantuan ini ditangani oleh tim Satkorlak (Satuan Koordinasi Pelaksana), penanggulangan gempa yang dibentuk Pemda NTT. Kemudian, barangkali agar lebih memudahkan, tim ini dipimpin langsung oleh Pangdam Udayana Mayor Jenderal Soewardi.

Maka, sejak Kamis pekan lalu, di pundak jenderal berbintang dua itulah tanggung jawab penyaluran bantuan ke daerah bencana ini. Jenderal ini mengharuskan stafnya melaporkan kegiatan harian operasi mereka setiap pukul delapan malam. Dan soal penyaluran bantuan, tim yang dipimpin Soewardi ini pula yang menentukan. Sudah diatur: 40% bantuan untuk Kabupaten Sikka, 40% untuk daerah di luar Sikka, dan sisanya untuk petugas.

Kini, paling tidak ada seribu personel ABRI yang sudah diterjunkan ke Flores. Kodam Udayana saja mengedrop satu batalyon (sekitar 700 pasukan) ditambah lima satuan setingkat kompi yang beranggota 150 orang. Masih ada satu kompi Pasukan Khas (Paskhas) AURI, dan tentu saja ditambah satuan militer setempat. Semua ini dalam komando Mayjen. Soewardi.

Pangdam Udayana menolak anggapan kalau pihaknya mengambil alih tugas Pemda NTT dalam hal penyaluran bantuan. "Tak ada pengambilalihan. Nggak ada. Satkorlak itu kan kecil, sedangkan kejadian ini meliputi daerah yang luas," kata Soewardi.

Menurutnya, perintah untuk terjun ke Flores ini langsung diberikan oleh Panglima ABRI pada malam gempa bumi terjadi. Dan, kata Soewardi," Keesokan harinya langsung saya bertolak ke lapangan". Turun tangannya Kodam dalam bantuan ini mungkin karena soal ini memang rawan. Penduduk di daerah yang sulit dijangkau seperti Pulau Pemana, misalnya, akan mudah curiga bahwa daerahnya luput dari droping jatah.

"Praktis kini kami hanya makan singkong. Itu pun hanya untuk seminggu karena persediaan tanaman menipis," kata seorang penduduk Pulau Pemana.

Sebelumnya, setiap hari, penduduk pulau itu rata-rata berpenghasilan seribu sampai Rp 5 ribu, dari hasil memancing ikan. Banyak di antara mereka yang punya televisi ukuran kecil. Pesawat itulah satu-satunya hiburan bagi mereka di tempat terpencil itu.

Selasa pekan lalu, datang droping 4 ton beras. Jumlah ini dianggap penduduk jauh dari memadai untuk 4.500 jiwa yang ada. Tiap kepala keluarga dijatah lima kilogram, tapi konon ada 90 kepala keluarga yang belum kebagian jatah.

"Kami jadi repot mengaturnya. Buat kami, ini seperti musibah di Somalia saja," ujar Suma'ali, 56 tahun, pamong Desa Pemana yang mengaku kerap mengikuti berita Somalia di TVRI.

Urusan yang tak jelas begitu agaknya bisa berakibat macam-macam. Maklumlah, perut lagi lapar. Sabtu pagi yang lalu, sekitar 200 orang warga Kelurahan Baru Maumere mendatangi rumah dinas Bupati Sikka A.M. Konterius. Mereka membawa spanduk yang isinya bermacam-macam tulisan. Antara lain, "Lapar Haus Minta Makan", "Hujan Panas Rumah Tidak Ada Terpal". Jelas ini sebuah demonstrasi. Kapten Jojo Sutarja dari Kodim Sikka yang segera membubarkan arak-arakan itu.

Ada apa? Ferdinandez, 22 tahun, pegawai RSU Hillers yang ikut unjuk rasa, mejelaskan bahwa dia sehari-hari bekerja di rumah sakit umum, dan sibuk menolong korban gempa, tapi dia tak mendapat jatah makanan di rumah. Ada lagi Romanus Radja, buruh pelabuhan yang mengaku ikut membantu posko tapi juga tak kebagian jatah makanan. Ignas da Cunha, Direktur Yayasan Karya Sosial di Maumere yang ikut juga menyalurkan bantuan 60 ton beras, mengimbau pemerintah membuat jelas soal pembagian bantuan.

"Butuh data yang akurat, jumlah penderita dan di mana lokasinya. Saya lihat belum ada data yang jelas," ujar Cunha.

Pangdam Udayana, Mayjen. Soewardi, yang sejak Kamis lalu langsung menangani penyaluran bantuan, rupanya maklum dengan keadaan ini. "Semua menganggap dirinya menderita kerusakan paling besar. Mereka tak mengerti bahwa kerusakan ada di pulau-pulau dan daerah pantai. Masalahnya, bagaimana membagi yang seadil-adilnya," kata Soewardi tegas. Soewardi membantah keras bahwa pemberian bantuan ini disangkutpautkan dengan faktor kesukuan, apalagi agama. Panglima itu benar, yang menderita di Flores adalah sesama saudara. Wahyu Muryadi, Zed Abidien (Maumere), Toriq Hadad (Jakarta)/Majalah Tempo - 26 Desember 1992

baca juga:
Gempa Tsunami Flores 92 dalam Kenangan (galeri foto) disini



www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Saturday, 10 December 2011

Bocah Pembawa Tali

Pelabuhan L. Say Maumere
Bocah itu memegang tali legam, sambil berdiri dimoncong perahu, ia lantas melemparkan ke dermaga. Disana beberapa pria menerima tali tersebut dan menariknya perlahan-lahan. Ia sedikit memberi komando dan lantas sekedar kode bagi sang juru mudi untuk memutar kembali arah speedboat. Dari tempat tadi mereka lalu berpindah dan berpindah lagi mengikuti arah tali kapal yang akan dikaitkan pada pelabuhan. Pemandangan ini bisa disaksikan ketika kapal-kapal besar mulai merapat ke Pelabuhan L. Say. Dari cara mereka bekerja, terkesan mereka terbiasa melakukan. Dari hasil kerja ini mereka mendapatkan uang. Mereka merasa senang karena bisa melakukan pekerjaan yang menyenangkan. Bocah-bocah laut yang terlihat trampil ini biasa bekerja dengan para pria dewasa yang berdiri didermaga dan siap menerima tali yang diberikan para bocah tersebut.

Berkulit legam, rambut kuning kusut gara-gara terendam air asin. Sambil menunggu kapal besar merapat, bersama teman-teman sebaya riang bermain sepak bola dipinggiran pelabuhan, atau bercanda dengan jernihnya laut pelabuhan.


Dibawah ini adalah galeri foto para bocah di Pelabuhan L. Say.






www.inimaumere.com
Selengkapnya...

GEMAR: Periksa Bupati Sikka!

Kejati NTT: Tidak Ada Tebang Pilih
Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi (Gemar) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT memeriksa Bupati Sikka terkait dugaan korupsi dana bansos tahun 2009 senilai Rp 10,7 miliar. Gemar menduga ada upaya untuk melindungi orang nomor satu di Sikka itu.
Desakan Gemar yang terdiri dari Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang, Kelompok Mahasiswa Maumere Sa'ate (KEMMA), Ikatan Mahasiswa Kota Maumere (IMAKOM), Kerukunan Pelajar Mahasiswa Tunbaba (KERAMAT) Kupang disampaikan ketika berorasi di Kantor Kejati NTT, Jumat (9/12/2011).
Koordinator Lapangan Gemar NTT, Gabriel Langga, saat menyampaikan aspirasi di Kantor Kejati NTT, kemarin, mempertanyakan perkembangan penanganan kasus bansos Sikka yang dinilai sangat lamban.

Menurut Langga, kasus bansos Sikka, sesuai informasi dari media, penanganannya dilakukan KPK, namun ada juga yang berpendapat ditangani Kejati NTT.
"Kami pertanyakan kasus ini. Kami minta jangan orang kecil saja yang diproses. Kami minta agar Kejati NTT periksa Bupati dan Wakil Bupati Sikka," kata Langga.

Menurut Gemar, ada upaya dari penegak hukum untuk melindungi orang nomor satu di Sikka. "Kasus ini sudah ada tersangkanya tetapi kenapa Bupati Sikka tidak diperiksa," tanya Langga.

Ino Naitio, salah satu orator, selain mendesak penuntasan korupsi bansos Sikka, juga mendesak Kejati NTT mengusut pembangunan Rumah Sakit Internasional di TTU.

***

Kajati NTT: Tidak Ada Tebang Pilih

Menanggapi desakan Gemar, Kajati NTT, Sriyono, S.H,MH melalui Plh Kasi Penerangan Hukum dan Humas, Made Sudiatmika, S.H, mengatakan, dalam penegakan hukum oleh Kejati NTT tidak pandang bulu.

"Tentang bansos Sikka, tim penyidik bekerja profesional, tidak ada istilah tebang pilih. Jika ada fakta mengarah ke siapa saja, kita akan selidiki," kata Sudiatmika.

Tentang desakan untuk memeriksa Bupati Sikka, Sudiatmika mengatakan, siapa saja oknum yang terbukti terlibat kasus bansos Sikka, Kejati NTT menyelidikinya.

"Jadi, kalau ada fakta yang mengarah kepada siapa saja, pasti kita selidiki," tegas Sudiatmika.

Informasi yang diperoleh di Kejati NTT menyebutkan, terkait adanya perssepsi dualisme penanganan kasus Bansos Sikka, Kejati NTT yang sesungguhnya menangani kasus tersebut.

Semenjak kasus bansos ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan, kata Sudiatmika, maka Kejati NTT-lah yang lebih dahulu menaikan status sehingga Kejati NTT yang melakukan penyidikan dan penanganannya.

"Kejati NTT secara profesional dan proporsional enangani kasus ini. Sedangkan KPK selaku supervisi saja. Intinya kita yang menangani kasus bansos Sikka," tegas Sudiatmika.(Pos-Kupang.com)


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Dua Tersangka Korupsi Bansos Sikka bakal Dipanggil Paksa

Kasus Bansos 2009
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memanggil paksa dua tersangka korupsi dana bantuan sosial (bansos) Kabupaten Sikka jika tidak memenuhi panggilan ketiga. Korupsi bansos Sikka terjadi pada 2009 yang merugikan negara Rp10,7 miliar.
Penyidik Kejati sudah dua kali mengirim surat panggilan kepada dua tersangka. Tetapi, mereka menolak hadir untuk dimintai keterangan.
"Kita tunggu perkembangannya karena sudah dua kali mengirim surat panggilan," kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati NTT Made Sudiatmika, di Kupang, Jumat (9/12). Ia pun menambahkan panggilan ketiga akan dilayangkan pekan depan.
Dua tersangka yang mangkir dari pemanggilan tersebut adalah mantan Kepala Bagian Kesra Servasius Kabu dan Mantan Bendahara Bagian Kesra Yoseph.
Sampai Jumat, keduanya masih berada di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Jika mereka tetap tidak memenuhi panggilan ketiga, penyidik mengirim petugas, menjemput mereka untuk diperiksa di Kupang.

Sementara itu, dari Maumere, dilaporkan kedua tersangka hanya bersedia diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasalnya, kasus yang melibatkan keduanya telah ditangani KPK sebelum ditangani jaksa.

Desakan untuk segera menuntaskan karupsi bansos Sikka juga disampaikan mahasiswa yang menggelar unjuk rasa di kantor Kejati NTT. Mahasiswa meminta sejumlah kasus korupsi yang mendapat perhatian publik dituntaskan secepatnya.

Sebelumnya, Yoseph dan Servasius ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut sejak awal Oktober 2011. Tetap, keduanya tidak ditahan.

Kasus korupsi ini muncul setelah Inspektorat Sikka yang melakukan evaluasi terhadap dana bantuan sosial 2009 menemukan puluhan kuitansi pengeluaran uang bernilai miliaran rupiah. Setelah ditelusuri, dana yang seharusnya digelontorkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat desa tersebut ternyata tidak pernah diterima masyarakat. (PO/OL-10/Media Indonesia).

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Saturday, 3 December 2011

PORKAB Sikka Berakhir, Alok Barat Juara Umum

Pekan Olah Raga Kabupaten (PORKAB) Sikka 2011 berakhir hari ini, Sabtu (3/12/2011). Wakil Bupati Sikka Wera Damianus menutup secara resmi Porkab Sikka 2011 yang ditandai dengan penurunan bendera Porkab. Porkab Sikka 2011 antar kecamatan yang baru pertama kali diadakan akhirnya melahirkan Kecamatan Alok Barat sebagai juara umum. Pekan olah raga tersebut digelar sejak tanggal 26 November 2011, mempertandingkan empat cabang olahraga yakni Sepak bola, bola voley, sepak takraw dan atletik, diikuti 21 kecamatan. Dari 21 Kecamatan, 14 kecamatan menyabet medali sedang 7 kecamatan pulang tanpa medali. Sebelum upacara penutupan yang berlangsung di Gelora Samador da Cunha Maumere, dipertandingankan final sepakbola antara Kecamatan Paga melawan Kecamatan Kangae. Kedua tim menerobos partai final setelah menyingkirkan lawan-lawannya. Di semifinal Paga mengkandaskan perlawanan Alok Barat dan Kangae atasi Kewapante.


Pada penutupan petang hari tadi, KONI Sikka juga mengadakan lomba lari Maumere 10 K yang diikuti 135 atlet lari. Lomba lari dengan peserta umum yang mengambil garis start di Waiara akhirnya dimenangkan pelari Sarman Rajaleu dari Magepanda. Sebagai juara, Sarman mendapat hadiah uang sebesar Rp 5 juta dari total Rp 12 juta yang diperebutkan.

Sarman Rajaleu, atlet harapan Sikka pada lomba lari Maumere 10 K membukukan catatan waktu 39 menit 14,94 detik. Salman menyingkirkan Marselinus Bugu dari SMAN Paga dengan catatan waktu 42 menit 25,81 detik di peringkat kedua dan Eduardus Marinol dari Lela 45.49,09. Selain Maumere 10 K, Sarman pada Porkab Sikka 2011 juga menyapu medali emas pada nomor 5000 meter putra dan 1500 meter putra.

Pada partai final sepakbola secara luar biasa anak-anak dari Kecamatan Paga menggilas kesebelasan Kecamatan Kangae dengan skor telak 6:1 untuk meraih medali emas. Sedangkan di cabang bola voley, atlet-atlet dari Kecamatan Alok Timur merebut medali emas setelah mengkandaskan perlawanan alot Kecamatan Hewokloang. Medali perunggu untuk cabang bola volley diraih atlet-atlet dari Kecamatan Koting.

Porkab Sikka 2001 yang bertujuan menjaring atlet-atlet berbakat untuk persiapan menghadapi Pordafta 2013 di Kabupaten Ende dan kompetisi lainnya diikuti 21 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Sikka dengan total medali yang diperebutkan sebanyak 30 medali, yakni emas 10, perak 10 medali dan perunggu 10 medali.

Upacara penutupan Porkab Sikka 2011yang disemarakan dengan parade marching band dari pelajar SMPK Yapenthom I terlihat tak dikonsep dengan baik. Secara umum upacara penutupan terkesan asal jadi. Semoga ditahun-tahun berikutnya panitia bisa bekerja lebih maksimal.

Salah satu atlet peserta Lomba Lari Maumere 10 K pingsan saat menyentuh garis finish & Partai sepak bola Paga (Putih) VS Kangae..


PERINGKAT JUARA PERCABANG OLAHRAGA:

ATLETIK:
1. Magepanda: 2 Emas
2. Lela: 1 Emas 3 Perak
3. Talibura: 1 Emas 4 Perak 1 Perunggu

SEPAK BOLA:
1. Paga : 1 Emas
2. Kangae: 1 Perak
3. Alok Barat: 1 Perunggu

BOLA VOLEY:
1. Alok Timur : 1 EMAS
2. Hewokloang: 1 Perak
3. Koting: 1 Perunggu


SEPAK TAKRAW:
1. Alok Barat: 1 Emas
2. Talibura: 1 Perak
3. Alok: 1 Perunggu


PERINGKAT PEROLEHAN MEDALI:
1. Alok Barat : 2 emas 1 perunggu (JUARA UMUM)
2. Magepanda: 2 emas
3. Paga : 2 emas
4. Lela: 1 emas 3 perak
5. Talibura: 1 emas 1 perak 4 perunggu
6. Nita : 1 emas 1 perak
7. Alok Timur: 1 emas
8. Palue: 1 perak 2 perunggu
9. Kangae: 1 perak 1 perunggu
10. Kewapante: 1 perak
11. Mego: 1 perak
12. Hewokloan: 1 perak
13. Alok : 1 perunggu
14. Koting: 1 perunggu



www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Maumere Gelar Q! Film Festival

Maumere pada tanggal 6 hingga 11 Desember 2011 akan menjadi tuan rumah pegelaran Q! Film Festival (QFF), Festival film yang bertemakan LGBTIQ, HAM, dan HIV/AIDS yang diusung oleh Q-munity, sebuah lembaga nirlaba yang mengkhususkan di bidang seni. Selama kegiatan di Maumere, QFF bekerjasama dengan Yakkestra (Yayasan Kesehatan & Kesejahteraan Masyarakat Flores-Lembata) dan Toko Buku Gramedia yang menyediakan lokasi pemutaran film. Kegiatan ini didukung weblognya orang Maumere www.inimaumere.com, Toko Buku Gramedia, Sonia FM, Rogate FM, Pos Kupang, Flores Star, serta Raja Jaya Motor. Q! Film Festival adalah ajang tahunan yang memutar film-film alternatif bertema kesetaraan gender dan keragaman identitas seksual dan kini telah memasuki gelaran ke-10.
Di Maumere, film-film Indonesia berkualitas karya para sutradara terkenal di Indonesia telah disiapkan untuk diapreasiasi bersama.

Kegiatan QFF di Kota Maumere bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai isu-isu teraktual tentang LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex dan Questioning), wanita maupun humanrigts secara keseluruhan.
Untuk mengembangkan jangkauannya, sejak beberapa tahun lalu Q! Film Festival mulai diputar di lebih dari 10 kota di Indonesia. Maumere menjadi kota kedua di wilayah Indonesia Timur setelah Makasar yang menggelar Q!FF.


Selama penyelenggaraannya, Q Film Festival telah memutar lebih dari 800 judul film yang dihadiri oleh sekitar 160.000 pengunjung.
Selain memberi pilihan tontonan, festival film ini juga memiliki misi untuk berbagi dan mengangkat wacana lesbian, gay, bisexual, transvestites (LGBT)—sebagai bentuk dukungan atas kebebasan berekspresi dan keberagaman orientasi seksual.

Tahun 2010 lalu, QFF mendapat reaksi dan ancaman keras dari fundamentalis, ekstrimis, dan kelompok agama, namun Q!FF terus berjalan dan pegelaran QFF 2011 di Jakarta telah menayangkan 86 film dari 25 negara di seluruh dunia. Tahun ini Q!FF mempunyai dua orang direktur festival, yaitu: Meninaputri Wismurti dan Ahmad Hally.


Pada pegelaran Q!FF 2011 di Maumere, menurut rencana Film “Perempuan Punya Cerita” karya gabungan sutradara perempuan Upi Avianto, Nia Dinata, Fatimah Rony, Lasjah F. Susatyo yang bercerita tentang isu-isu perempuan dan perjuangan mereka akan menjadi film pembuka festival.

“3 Doa 3 Cinta” dan “Khalifah” karya sutradara Nurman Hakim juga ikut memarakkan.

Selain itu juga, karya gabungan sutradara Sammaria S., Sally Anom S., Yosep Anggi N., Daud Sumolang, dan Nitta Nazyra C. Noer dalam karyanya “Working Girls” serta Ani Erna Susanti, Iwan Setiawan, Muhammad Ichsan, Lucky Kuswandi, dan Ucu Agustin dalam “Pertaruhan” kembali mengangkat isu perempuan dan permasalahan hidup mereka.

Film “Cin(t)a” karya Sammaria Simanjuntak bercerita tentang perjuangan mendapatkan cinta dari sepasang kekasih yang berbeda latar belakang akan diputar pada akhir kegiatan dan ditutup dengan film “Madame X” dari sutradara Lucky Kuswandi, mengisahkan tentang seorang pahlawan super pembela kaum minoritas.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Bandara Frans Seda-Maumere Diperpanjang

Bandara Frans Seda di Kabupaten Sikka, NTT, diperpanjang menjadi 2.250 meter dari sebelumnya 1.850 meter atau bertambah 400 meter. Sedangkan lebar landasan tetap sama,30 meter.
Demikian dijelaskan Kepala Bandara Frans Seda Maumere, Leonardus Paseli Soba ditemui di Ruang Kerjanya, Selasa (29/11/2011).
Penambahan panjang landasan pacu, kata Leo maka Bandara Frans Seda sudah bisa menjadi bandara Alternatif bagi Bandara Eltari Kupang.
“Jika sudah selesai nanti, ini bisa jadi bandara alternatif untuk Eltari Kupang. Kalau Kupang cuaca buruk dan pesawat tidak bisa mendarat, maka bisa dialihkan ke Frans Seda,” kata Leo.

Selama ini, jelas Leo, jika pesawat tidak bisa mendarat di El Tari Kupang mereka kembali ke Surabaya atau Denpasar-Bali. Sebab belum ada Bandara alternatif untuk pendaratan.

Boeing 737 Seri 300 dengan kapasitas penuh 148 tempat duduk, misalnya, sudah bisa mendarat di Frans Seda.(pos-kupang/tribunnews.com)
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---