Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Friday, 24 February 2012

Hakim Ancam Penjarakan Alex Longginus

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang mengacam memenjarakan mantan Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus, karena diduga kuat memberikan keterangan palsu dalam perkara dugaan korupsi pengadaan pakaian Linmas Sikka tahun 2008.
Wajahnya terlihat berkeringat dan melapnya dengan sapu tangan sebanyak 8 kali. Longginus terlihat tegang ketika dia tidak dapat memastikan keberadaan Ucup alias Stefanus Tanto di rumah jabatan Bupati Sikka, tanggal 4 April 2008, untuk membicarakan soal swakelola proyek pakaian linmas Sikka bernilai Rp 2,3 miliar.
Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Rerung Patongloan, S.H, didampingi hakim anggota Feri Haryanta, S.H, dan Anshory Syarifuddin, S.H, Senin (20/2/2012), Longginus diperiksa sebagai saksi.


Sidang dihadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU) Henderina Malo, S.H, Agung Raka, S.H, dan Hersen Suryo, S.H. Juga hadir lima terdakwa, Dominikus Dion, Petrus Pau, Kanisius Togo, Yeremias Dhewa dan Agustinus Akar. Mereka didampingi tim penasihat hukum, Petrus Salestinus, S.H, Luis Balun, S.H, dkk.

Longginus diperiksa selama satu jam, pukul 19.30-20.30 Wita. Selama pemeriksaan, Longginus terlihat melap keringat di wajahnya dengan sapu tangan sebanyak 8 kali. Wajahnya tampak tegang saat majelis hakim menanyakan soal keberadaan Ucup di rumah jabatan Bupati Sikka, tanggal 4 April 2008.

Selain majelis hakim, jaksa dan pengacara pun terkesan mendesak Longginus untuk mengakui keberadaan Ucup di rumah jabatan Bupati Sikka saat itu. Pasalnya, dua saksi yang diperiksa sebelumnya, antara lain mantan Kasatpol PP Sikka, Emanuel Hurint, mengaku pada malam itu, Ucup juga ada di rumah jabatan bupati.

Dan bupati kemudian memerintahkan agar Ucup ikut bersama Emanuel dan panitia untuk mengambil dan membayar pakaian Linmas pada Adi Junata di Jakarta.

Sementara dalam kesaksian sebelumnya, Ucup mengaku hadir di rumah jabatan bupati karena diminta datang oleh Bupati Alex Longginus melalui telepon dari bagian protokoler, Buang.

Namun ketika hal itu dikonfrontir oleh majelis hakim, Longginus terlihat bingung menjawab dan tidak bisa memastikannya. Semula Longginus menjawab tidak ingat, kemudian tidak memastikan apakah Ucup ada atau tidak.

Ditanya berkali-kali dan diperingatkan agar tidak berbohong, Longginus tidak menjawab, diam.

Namun ketika diancam tindakannya itu bisa membuatnya ditahan, Longginus lalu memastikan bahwa malam itu dia hanya bicara dengan Emanuel Hurint.

"Saya tidak perintahkan dia (Ucup) hadir. Saya tidak pernah perintahkan orang itu (Ucup) untuk pergi ke sana (rujab) bersama-sama dengan dia (Emanuel). Saya tidak pernah panggil dia (Ucup). Baik Saya bersumpah," kata Longginus setelah didesak hakim untuk bersumpah.

Longginus mengaku mengenal Ucup karena dia adalah warga Kabupaten Sikka. Namun Longginus memastikan bahwa Ucup tidak terlibat dalam proyek pengadaan pakaian linmas Sikka itu.

"Bapak, saya minta kehadiran Ucup dikonfrontir, saya tidak ingat," kata Logginus.

Terhadap jawaban Longginus tersebut, majelis hakim menduga Longginus telah memberikan keterangan palsu sehingga hakim mengancam akan menahannya berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

"Apabila majelis sudah peringatkan tetap tidak memberikan keterangan, maka atas permintaan jaksa dan terdakwa, ketua majelis akan perintahkan saudara ditahan. Saya bisa perintahkan jaksa untuk menahan saudara karena memberikan keterangan palsu," ancam hakim.

Longginus juga memastikan bahwa rekomendasinya soal swakelola itu lantaran ada telaahan staf dari bagian pembangunan dan hukum. Dan, rencana swakelola itu telah diajukan oleh Emanuel sejak tanggal 25 Maret.

Padahal dalam keterangannya, Emanuel menyampaikan bahwa pengajuan swakelola itu diajukan tanggal 27 Maret atas permintaan bagian hukum dan bupati.

Longginus mengakui menerima empat sanggahan banding dan akhirnya diputuskan pemenang lelang harus dibatalkan karena ada syarat yang tidak dipenuhi oleh kontraktor pemenang yakni tidak ada referensi bank.

"Hal ini pun merupakan hasil telaahan dari staf bagian hukum. Mereka katakan referensi bank adalah syarat prinsip," kata Longginus.

Atas dasar telaahan staf itu juga, Longginus kemudian mengeluarkan kebijakan untuk swakelola dan hal itu juga dilakukan agar pilkada bisa berjalan dengan baik.

"Keuntungan secara pribadi tidak ada," kata Longginus. Ketika ditanya apakah hanya karena kepentingan umum walaupun bertentangan dengan Keppres 80 maka sistem swakelola harus dijalankan, Longginus mengatakan, "Saya tidak bisa jawab."

Di akhir persidangan, hakim meminta jaksa untuk bisa menghadirkan kembali saksi Emanuel Hurint, Ucup dan Longginus agar keterangan ketiganya bisa dikonfrontir dalam pemeriksaan tersendiri perkara itu.(pos-kupang.com)
Selengkapnya...

Wednesday, 22 February 2012

Dua Batu Melayang di "Maumere In Love"

Hari Penutupan yang Tak Berkesan
Maumere In Love, tema dari Pekan Pesona Flores dengan tujuan mulia, ternoda dihari terakhir pegelaran, Selasa (21/2). Gara-garanya dua batu sekepalan tangan orang dewasa mampir di panggung. Entah siapa pelakunya, apa motifnya hingga kini tak diketahui pasti. Akibat insiden yang cukup mengejutkan tersebut, parade band yang berlangsung meriah dengan menghadirkan sejumlah band papan atas yang ada Kota Maumere tidak bisa dilanjutkan. MC panggung Anton, secara sepihak memberhentikan acara. Sejumlah enam band yang sedianya tampil akhirnya gigit jari. Band-band tersebut antara lain, Canabis Band, Sang Brader, Wiriwara, Jammof dan beberapa lainnya. Tak ayal nada kecewa selama lima hari pekan Pesona Flores dengan tema Maumere In Love yang berlangsung di Lapangan Katedral bertambah. Selain insiden lemparan batu, yang terlihat dan dirasakan antara lain tenda bocor, kurangnya informasi acara, tak adanya toilet, mahalnya penyewaan stan, tak terlihat adanya pihak keamanan saat insiden lemparan batu dan beberapa lainnya.


Usai diberhentikannya Parade Band, beberapa peserta yang gagal tampil menumpahkan kekesalan. Pada intinya mereka kecewa dengan panitia acara yang sepihak mengambil keputusan secara cepat tanpa kompromi. Bukan hanya kecewa, malah ada anak band yang mengaku hatinya hancur. Jelo, basis band Sang Brader menumpahkan rasa kecewanya. "Hati kami bukan hanya kecewa, tapi hancur..sangat sakit.." ucapnya usai acara. Dia mengaku kecewa karena usai lemparan, parade langsung diberhentikan dan tidak memberi kesempatan berkompromi dengan band-band lainnya. Ia juga menyayangkan tidak adanya pihak kepolisian selama parade berlangsung. "Kami sudah berlatih keras selama ini. Waktu tenaga dan biaya sudah kami korbankan, tapi endingnya sangat menyakitkan," ujarnya.

Jelo tak sendiri, beberapa awak band yang dibatalkan tampil karena insiden tersebut juga mengaku kecewa. Padahal untuk Parade Band di Maumere In Love mereka telah mempersiapkan diri berhari hari dengan berlatih keras.

Sebelum insiden pelemparan batu, pengunjung di suguhkan penampilan luwes para model remaja Maumere yang memeragakan desain tenun ikat nusantara. Peragaan busana yang diselipi parade band nyatanya sangat menghibur pengunjung. Arena cat walk dipenuhi penonton.

Insiden bermula saat Jet COaster tampil sekitar mendekati pukul 23.00 wita. Kelompok musik cadas death metal asal Mof tersebut menjadi peserta kesekian dari beberapa band yang telah tampil. Tampilan dengan musik garang di padu pakaian hitam-hitam rupanya tak berlangsung lama. Sebuah batu tiba-tiba nongol. Batu kedua malah hampir mengenai tubuh Mc Anton. Selanjutnya dengan nada serius, Anton yang selama ini dikenal humoris membatalkan parade. "Saya pu kepala nih sipit sedikit saja, kalo tida su pecah kena kalian pu batu..karena itu parade band ini dibatalkan" teriaknya dengan nada kesal.

Ah, kenapa ada batu? Padahal penonton musik di Maumere dari dulu dikenal tertib dan sopan. Tak pernah ada insiden pelemparan ke panggung dalam sejarah pertunjukan musik. Baru kali ini dalam catatan inimaumere, ada insiden memalukan. Entah, pihak panitia tak berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Yang jelas disekitar arena musik tak ada pihak keamanan.

Selain anak band, penonton dan pengunjung pameran pun tak bisa memendam rasa kecewa. Akhir kegiatan yang tidak elegan diterima warga Maumere. Hebatnya tak ada insiden lanjutan dari penonton atau anak band ke panitia. Semua menerima dengan lapang dada seperti jati diri orang Maumere sebenarnya, terutama peta dan komunitas musik. Penonton musik Maumere sejauh ini berkesan damai, kesan brutal sangat jauh dari jati diri mereka. Dengan kesan ramah, terbukti Maumere selalu menjadi pilihan penyanyi dan artis-artis ibukota.

Pekan Pesona Flores sudah selesai. Tema indah tentang cinta "Maumere In Love" spertinya hanya sesaat. Berlalu sudah hari-hari melelahkan dan berbagi tawa serta canda.


Prosesi penutupan Pekan Pesona Flores secara sederhana oleh Bapa Uskup Maumere, Mgr Kherubim Pareira, SVD. Tak ada kesan bahwa pekan pesona Flores diikuti 9 kabupaten seperti didengungkan sebelumnya. Di kursi pengunjung, tak terlihat utusan kabupaten lain. Tak terlihat pejabat resmi pemerintah, paling tidak pihak dinas pariwisata, tak ada kelompok pelaku wisata dari pihak swasta, tak ada pelaku perhotelan, wira usaha dan lain-lain. Sementara arena "Maumere In Love" dibanjiri pengunjung. Jalanan macet, tempat parkir kendaraan sesak.


Kuskupan Maumere dari info yang beredar, mengetahui dan menyetujui kegiatan ini dilangsungkan di Lapangan Keuskupan Maumere. Meski ldiselenggarakan oleh Keuskupan Maumere, panitia kegiatan ini diisi oleh komunitas Arek Lintang asal Surabaya dengan menggandeng para muda di Kota Maumere. Dengan dukungan sponsor utama BNI Cabang Maumere serta sponsor lainnya, acara ini berlangsung selama lima hari.

Kegiatan yang dibuka Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu memiliki semangat tapi sepertinya setengah hati diikuti kabupaten-kabupaten yang diundang. Nagakeo, Ende, Manggarai, Flores Timur hanya menjejakkan sementara kaki mereka di Maumere, setelah ibu Menteri pulang, maka pulanglah pula rombongan itu ke daerah asal mereka. Jadila Maumere In Love beraroma khas Maumere dengan sesekali dibumbui kekhasan kabupaten-kabupaten dari Pulau Sumba seperti Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Barat.


Maumere In Love, tema dari pekan Pesona Flores yang berlangsung lima hari sejak tanggal 17 Februari lalu meninggalkan sejumlah catatan. Termasuk rasa kecewa terhadap harga sewa stan Rp 2 juta keatas yang dinilai mahal. Padahal judulnya bagus, Expo Produk Unggulan Flores.
Sementara Pemkab Sikka tak nampak dalam kegiatan ini. Tak dijumpai stan dari Pemkab Sikka. Banyak yang mnyayangkan acara yang sebenarnya begitu penting namun terkesan loyo . Salah satunya lagi mengenai jadwal kegiatan yang berubah.

Ah, semoga suatu saat jika dilangsungkan lagi kegiatan besar seperti ini, sudah dipersiapkan matang, dan jangan sungkan melibatkan sejumlah anak muda Kota Maumere. Anak-anak muda yang telah memiliki pengelaman sesuai bidang dan porsi dalam berbagai kegiatan dan iven di Maumere.

Rangkaian kegiatan Pekan Pesona Flores telah berakhir. Usai sudah lomba mewarnai motif tenun, fstival ikan bakar, parade budaya, workshop bersama Ibu Menteri, workshop bersama jurnalis foto nasional, ethnic fashion dan berbagai kegiatan lainnya. Daerah Flores masih butuh dukungan dari semua pihak agar keistimewaan yang dibanggakan daerah ini bisa terekspos dan dan perekonomian rakyat terangkat. Tetaplah bergandengtangan.....

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

'Maumere, Lahan Subur Untuk Pariwisata dan Ekonomi Kreatif'

Maumere merupakan daerah yang kaya akan nilai sejarah dan tempat wisata yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata. Selain itu, kekayaan alam dan kerajinan rumah tangga masyarakat Maumere juga dapat dikembangkan untuk sektor ekonomi kreatif. Dengan demikian masyarakat dapat merasakan langsung manfaat dari kekayaan alam di daerahnya.
Demikian diungkapkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, pada pembukaan acara Pekan Pesona Flores ";Maumere In Love"; di Maumere pada Sabtu 18 Februari lalu. Mari menambahkan bahwa pariwisata di Maumere dapat dikembangkan menjadi wisata alam, tidak hanya wisata rohani atau ziarah seperti yang saat ini banyak dilakukan wisatawan.
Acara “Maumere In Love” ini dimeriahkan dengan parade budaya, misa akbar untuk perdamaian, expo produk unggulan flores, festival ikan bakar, dan pesta rakyat, panggung pertunjukan etnik flores, workshop fotografi bersama komunitas jurnalis foto nasional, lomba mewarnai motif tenun.


Selain membuka ";Maumere In Love";, Mari yang didampingi Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim serta unsur MUSPIDA Kabupaten Sikka juga mengunjungi Museum ";Bikon - Blewut"; di Maumere yang merupakan museum budaya dan misi Katolik di Maumere dan melihat koleksi utama museum tersebut yaitu Fosil Fauna, Flora Gua Flores serta fosil-fosil manusia purba dan Fosil Gajah Jenis Stegodon Trigonocephalus yang berusia kira-kira 300.000 tahun.

Setelah mengunjungi museum ";Bikon-Blewut";, rombongan melakukan kunjungan ke tempat wisata religi Wisung Fatima Lela yang bertempat di Desa Lela, Kabupaten Sikka.

Mari bersama rombongan juga melakukan kunjungan ke Desa Sikka, Kabupaten Sikka yang merupakan desa Penerima PNPM Mandiri Pariwisata. Sejauh ini, PNPM Mandiri Sikka sudah mengalami peningkatan. Kedepan diharapkan bisa dibangun gedung untuk display barang atau sejenis showroom. ";Hal ini dapat meningkatkan daya tarik dan nilai barang di mata wisatawan. Dengan demikian harga barang tersebut akan ikut meningkat,"; lanjut Mari. [Puskompublik]

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 19 February 2012

Parade Budaya di "Maumere In Love"

Baru hari kedua ini, Pekan Pesona Flores dengan tema Maumere In Love (MIL) boleh dibilang lebih meriah. Salah satunya adalah parade budaya yang dimulai sejak pukul 15.00 Wita, Sabtu (18/2). Dari halaman Polres Sikka, puluhan peserta usia anak-anak hingga orang tua mengayunkan kaki menuju Lapangan Katedral St. Yoseph Maumere di Jalan Mgr. Soegiyo Pranoto, tempat kegiatan MIL. Masyarakat antusias melihat berbagai atraksi seperti tarian daerah yang dipadu dengan gong waning, parade busana tradisional yang memeragakan kreasi tenun ikat bak model yang berjalan ringan dipanggung profesional dan atraksi lain-lain. Meski rencananya parade Pesona Flores diikuti 9 etnik dari seluruh Flores kenyataannya hanya beberapa kabupaten yang turut serta. Bahkan, dua kabupaten dari Sumba ikut memeriahkan parade ini dan festival seni budaya yang digelar malam hari. Pekan Pesona Flores ataukah Pekan Pesona Flores plus Sumba?

Aspal jalan yang baru saja disiram hujan, bagai panggung raksasa yang kerap menyuguhkan hiburan menarik. Dan mata-mata penonton tak berkedip. Ada rasa kagum berbinar dibalik ratusan pasang mata. Ada rasa bangga tersirat dibalik karya seni budaya daerah yang nyatanya masih digandrungi kaum muda. Semua larut dalam pesona budaya Flores. Para juru foto tak henti-hentinya mengabadikan perisitiwa ini. Berbagai gaya pelakon, baik model-model muda nan cantik juga atraksi tarian tradisional yang memukau, menarik perhatian dan tak luput dari jepretan kamera.

Parade budaya tiba dilokasi MIL sekitar pukul 17.00 wita. Dua jam perjalanan untuk jarak yang cukup dekat menjadi sangat membosankan. Keterlambatan defile budaya Flores tiba dilokasi MIL akibat atraksi sepanjang jalan yang mereka suguhkan. Saat telah tiba, dengan kondisi lelah para peserta masih menanti sang Ibu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu yang akan membuka secara resmi Pekan Pesona Flores dalam tema "Maumere In Love".

Dibalik cerita indah dan cinta dalam Maumere In Love, beberapa komunitas usaha rakyat yang ingin menawarkan dan memamerkan usaha mereka mesti gigit jari dan akhirnya memilih batal ikut serta pada expo sepekan ini. Harga tenda yang disewakan dinilai mahal. Pertenda disewakan Rp 2 juta. Sungguh berat di ongkos, aku beberapa komunitas di Maumere yang ingin ikut andil.

Dari tenda expo yang berdiri, ada satu dua tenda kosong dan tak terpakai. Kabupaten Sikka, tuan rumah kegiatan akbar ini tidak terlihat ambil bagian. Flores Timur adalah kabupaten yang tak malu-malu mempertontokan daerah mereka pada expo tersebut. Foto bupati Flotim beserta ibu terpampang jelas di pintu masuk tenda. Bahkan tulisan dengan huruf besar Kabupaten Flores Timur terpampang menarik perhatian. Yang lain?

MIL juga menyisakan tanda tanya. Misalnya informasi kegiatan atau jadwal acara spertinya tak mudah untuk diketahui. Banyak yang mengeluh akibat informasi kegiatan berikutnya yang susah diperoleh.

Hari Minggu (19/2) ini memasuki hari ketiga perhelatan yang direncanakan berakhir 21 februari. Informasi yang diperoleh menyebutkan kegiatan hari minggu akan diisi dengan workshop ibu menteri dengan sejunmlah wirausaha kecil menengah di Aula Polres Sikka yang dimulai pukul 08.00 hingga pukul 09.00. Ada pula workshop fotografi oleh komunitas fotografi nasional yang bertempat di Hotel Wailiti. Kegiatan gratis ini direncanakan dimulai pukul 12.00 hingga pukul 15.00 Wita dan terbuka untuk umum.



www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Potensi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Flores Tinggi

Dengan kekayaan alam berbasis bahari, potensi danau, sungai, maupun budaya, wilayah Flores patut diperhitungkan dalam pengembangan destinasi wisata. Oleh sebab itu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan mendukung pengembangan daerah tersebut sebagai salah satu destinasi yang memiliki potensi pariwisata dan ekonomi kreatif yang tinggi. Demikian disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu ketika berkunjung ke Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam kaitan dengan Pekan Pesona Flores bertema Maumere in Love (18/2). “Kementerian akan memfasilitasi pengembangan destinasi bekerjasama dengan SECO melalui Swisscontact untuk pengembangan konsep Destination Management Organization (DMO). Selain itu, pendukungan pembangunan pariwisata diberikan dalam rangka penataan amenitas pariwisata, PNPM Desa Wisata dan Sertifikasi Tenaga Kerja Pariwisata. Kementerian juga akan melakukan evaluasi bagaimana membantu pengembangan industri kreatif seperti yang dipamerkan dalam Pekan Pesona Flores,” jelas Mari Pangestu.


Ia menekankan keberhasilan pembangunan pariwisata sangat didukung oleh manajemen destinasi pariwisata secara profesional, terpadu dan berkelanjutan. Di setiap destinasi dibutuhkan dukungan sistem jasa dan layanan yang handal dan diperkuat oleh strategi pemasaran yang efektif, terfokus dan terpadu.

“Pulau Flores memiliki posisi yang lebih strategis dalam konteks perkembangan pariwisata di NTT, maka pengembangannya sebagai destinasi yang berdaya saing tinggi di sebelah timur Pulau Bali sangatlah memiliki arti strategis,” urai Mari Pangestu.

Namun demikian ia mengakui sarana dan prasarana pariwisata, utamanya aksesibilitas di wilayah ini masih belum memadai dan perbaikannya perlu menjadi prioritas pemerintah. Selain perbaikan tersebut, Mari Pangestu juga berharap stakeholders pariwisata bekerjasama untuk membuat perencanaan pengembangan pariwisata yang terpadu.
“Kementerian akan membentuk 8 Tourism Management Organization (TMO) di tiap Kabupaten Flores. TMO terdiri dari perwakilan asosiasi dan usaha pariwisata, masyarakat dan lembaga pendampingan. Kedelapan TMO akan berkoordinasi untuk mempromosikan Flores ke luar,” tegasnya

Untuk tahun 2012, Kemenparekraf sudah merencanakan PNPM Desa Wisata di 46 desa di wilayah NTT, termasuk 2 desa di Kabupaten Sikka.

Berdasarkan data, dalam kurun waktu 2005-2010 wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Flores berjumlah 150.226 orang. Ditinjau dari distribusi geografi wisman adalah: Belanda 16,30%, Jerman 15,79, Amerika 13,31%, Inggris 12,85%, Perancis 12,61% Australia 11,06% Jepang 4,19%, Kanada 3,40%, Asia, 3,3%, Rusia 2,95%, Italia 2,91%, Swiss 1,67%, Spanyol 1,08% dan negara lainnya masing-masing dibawah 1%.

Dilihat dari rata-rata usia pengunjung untuk wisman sekitar 37,79 tahun dan perbandingan untuk gendernya, 59% laki-laki dan 41% perempuan. Untuk lama tinggal di Flores hingga saat ini telah mencapai 5,96 hari dan kebanyakan wisatawan yang masuk ke Flores secara Free Individual Traveller (FIT). Sebanyak 67% pengaturan perjalanan dilakukan secara mandiri (self organized).

Preferensi wisatawan terutama di Flores adalah melihat komodo, diikuti dengan wisata bahari seperti menyelam dan snorkeling, kemudian masyarakat dan budaya, dan selanjutnya tur lintas Flores dan trekking.

Sementara itu dalam kesempatan dialog dengan masyarakat di Sikka, Mari Pangestu mengemukakan pentingnya meningkatkan sadar wisata terutama terkait kebersihan dan budaya melayani serta mengembangkan industri kreatif dengan basis kekayaan warisan budaya seperti tenun ikat dan yang berbasis tradisi dan sumber daya alam seperti kerajinan bambu dan gerabah.

Pesona Flores dengan pulau-pulau kecil dan kekayaan flora fauna yang masih alami menjadikannya sebagai peraih predikat The Most Unique Destination di ajang Indonesia Tourism Award pada tahun 2010. Sebelumnya, pada tahun 2005 TIME mengakuinya sebagai Destinasi Eksotis Terbaik. Kemudian tahun 2008 Luxury Travel Magazine menganugerahinya sebagai Pulau Wisata Asia Terbaik, dan oleh CEI Asia Magazine (2009) Flores diberi julukan Pulau Tujuan Wisata Terbaik di Asia Pasifik.

Di dalam Peraturan Presiden (PP) No 50/2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional 2010-2025, Kabupaten Manggarai Barat ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Nasional (DPN). Bahkan untuk dua objek utama di Pulau Flores, yakni wilayah Komodo–Ruteng dan sekitarnya sudah diberikan sebutan Komodo, The Real Wonder of the World, dan untuk wilayah Kelimutu-Maumere dan sekitarnya dengan sebutan Amazing 3 (three) Colour Lake.

Popularitas Pulau Komodo sebagian ikon bagi utama bagi Flores sebagai destinasi pariwisata semakin signifikan berkat tren kunjungan wisatawan yang cenderung meningkat, setidaknya dalam 5 tahun terakhir. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Swisscontact, pada tahun 2010, wisman mendominasi kunjungan ke Taman Nasional Komodo, yakni sebesar 92,79%(budpar.go.id).

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 18 February 2012

Maumere In Love, Basah Dimalam Pertama

17-21 Februari
Kota Maumere kembali berseri. Sebuah konsep acara yang menawarkan satu cita rasa budaya yang dikemas menarik sedang berlangsung. Yupz, Pekan Pesona Flores dalam tema Maumere In Love. Dan Lapangan Gereja St. Yoseph Maumere disulap menjadi arena pameran dan panggung festival. Berbagai atraksi pesona seni budaya Flores dan ajang pameran berbagai macam produk kerajinan usaha rakyat digelar. Iven gawean Keuskupan Maumere ini direncanakan berlangsung dari tanggal 17-21 Februari 2012. Acara ini selain menghadirkan festival budaya juga menawarkan berbagai kegiatan menarik, seperti, parade budaya, lomba mewarnai tenun, expo produk unggulan Flores, festival ikan bakar dan moke coctail, workshop fotografi bareng komunitas jurnalis foto nasional dan lain-lain. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu juga dipastikan turut hadir. Kehadiran Maumere In Love ditengah masyarakat Kabupaten Sikka disambut baik. Banyak orang muda Sikka yang turut terlibat. Namun banyak pula yang bahkan tak tahu keberadaan iven nasional tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, ponsel saya menerima beberapa sms dan telepon. Maklum saja, lapangan katedral yang cukup strategis terlihat berbeda dengan penataan sana sini. Pada intinya mereka menanyakan akan ada kegiatan apa disana.

Maumere In Love sepi dari publikasi? Entah. Kenyataannya, tak ada jumpa pers atau pers rilis bagi media lokal.

Hari pertama MIL alias Maumere In Love sepi dari pengunjung. Menampilkan berbagai atraksi etnik budaya lokal diatas panggung yang cukup luas, kehadirannya hanya dinikmati segelintir pengunjung. Hujan yang membasahi Lapangan Katedral St. Yoseph usai magrib menjadi alasan.
Hujan bahkan terus turun hingga malam, meski sempat berhenti beberapa saat sebelumnya.

Kehadiran MIL ditengah galaunya dunia pariwisata dan kewirausahaan masyarakat Flores khususnya Sikka menjadi harapan besar. Peluang ini sebenarnya bisa diambil masyarakat. Namun expo produk unggulan Flores ini hanya diikuti segelintir dunia usaha kecil dan menengah. Bahkan, meski judulnya ada embel-embel Flores, Kabupatn Flores Timur, dengan tenda yang terlihat mencolok diujung arena menjadi kabupaten yang hadir. Lah, kabupaten lain mana? Mungkin di hari kedua?


Di panggung pertunjukan etnik Flores, sejumlah sanggar etnik dari berbagai kabupaten ikut meramaikan malam pertama MIL. Meski judulnya Pekan Pesona Flores, sanggar budaya dari Kabupten Sumba Timur tak ketinggalan unjuk kebolehan. Segelintir penonton terlihat rileks memberi dukungan aplaus ditengah gerimis yang tak berhenti turun.

Sayang juga, sejumlah pengunjung yang datang dan berada dibawah tenda yang disediakan, menonton dengan tak nyaman. Tenda yang cukup besar dan luas untuk menyaksikan festival budaya bocor sana sini. Alhasil, kursi-kursipun basah. Pengunjung lain jadi ekstra waspada meski mndapatkan tempat aman. Yang lain pindah sana sini menghindar tetesan air yang jatuh dari balik atap tenda. Nonton pun jadi tak nyaman.


Bagaimana dengan hari kedua, Sabtu, (18/2/2012)? Nah ini dia. Ibu Menteri Pariwisata dan konomi Kreatif direncanakan akan membuka secara resmi MIL. Dimulai dari depan Polres Sikka, pukul 15.00 Wita, akan diadakan defile menampilkan warna warni tenun khas dari 9 etnik di Flores. Rencananya peserta parade berjumlah 600 orang dan akan berjalan sepanjang 2 Km menuju komplek katedral, ah menarik.. (Oss).

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Lampu Bandara Dirusak

Empat lampu di ujung utara landasan Bandara Frans Seda Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (14/2/2012) dini hari dirusakkan oleh oknum tidak dikenal. Empat lampu itu terdiri dari, tiga lampu pendaratan (Treshold light) dan satu lampu isyarat belok pesawat atau turning light. Treshold light adalah lampu isyarat bagi pilot saat mendaratkan pesawat. Lampu itu dipasang di ujung, pada awal landasan. Memberikan kepastian kepada pilot, batas landasan saat mendaratkan pesawat.
Tiga lampu itu rusak bersama dengan satu turning light di sisinya. Penutup turning light pecah. Seperti diremukkan oleh batu atau benda keras semacamnya.
Serpihan kaca lampu pun berserakan di batas landasan. Sedangkan tujuh treshold light yang lainnya belum sempat dirusakkan oleh oknum itu.

Tidak diketahui pasti apakah itu masyarakat sekitar atau orang lain yang sengaja menginginkan terjadinya kecelakaan pesawat di Frans Seda Maumere.

Kepala Keamanan dan Keselamatan Penerbangan, Wisma Florianus dan Komandan Security, Leonardus Levi di sela-sela pemeriksaan terhadap empat lampu landasan tersebut, Selasa (14/2/2012) siang mengatakan pihak Bandara Frans Seda akan menyerahkan penyelidikan kasus itu kepada polisi di Polres Sikka.

Terkait kerusakan itu, kepala Bandara Frans Seda Maumere, Leonardus Paseli Soba melalui Kepala Keamangan dan Keselamatan Bandara, Wisma Florianus mengatakan akan memproses oknum yang bersangkutan.(Tribunnews).


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---