Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Wednesday, 7 March 2012

Inilah 34 Korban Trafficking Warga Maumere

Sejumlah warga Desa Done, Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka Maumere, yang diduga jadi korban trafficking, diperiksa sebagai penumpang Kapal Dharma Kencana yang sandar di Dermaga Ro-Ro, Pelabuhan Jamrud Tanjung Perak pukul 10.00 WIB, Senin (5/3/2012) pagi tadi.
Mereka diperiksa petugas mulai dari kartu identitas, KTP hingga tujuan kepergian. Tak hanya mereka saja yang diperiksa, tapi juga total 227 penumpang kapal lainnya.
Setelah melalui pemeriksaan identitas, polisi menemukan puluhan penumpang tanpa identitas dan tujuan. Bahkan, 34 penumpang yang diamankan merupakan warga Maumere yang dibawa oleh tersangka 'Boumans' menuju Kalimantan Tengah untuk dijadikan sebagai pekerja rumah tangga.


Kini, 34 penumpang Kapal Dharma Kencana sudah dibawa menuju Mapolda Jatim untuk pemeriksaan lebih lanjut. Termasuk juga tersangka 'Boumans' yang mengaku akan memberikan pekerjaan di Kalimantan Tengah.

34 Warga Maumere yang berhasil diamankan di Polres Pelabuhan Tanjung Perak adalah sebagai berikut :
1. Hendrikus Rinu (48)
2. Fritanus Maku (18)
3. Bernadeta Deo (18)
4. Yohanes Don Bosco Satu (25)
5. Sinte (18)
6. Elisebet Lisa (38)
7. Nie, bersama Ibu (38)
8. Mbele (25)
9. Yuvonta (29)
10. Nggi (21)
11. Vin, bersama Ibu (19)
12. Ndaro (19)
13. Fransiskus Tonda (16)
14. Nong Kanis (18)
15. Santi (20)
16. Yohanes Laki Wara (25)
17. Arnoldus Ruma (32)
18. Yohanes Bota (27)
19. Anastasia (38)
20. Sebastianus Mori (35)
21. Anastasia Durnai (38)
22. Paulina Pare
23. Yanti
24. Thomas (anak-anak)
25. Marselina Bone
26. Martine (anak-anak)
27. Yosep Yon Yonen (anak-anak)
28. Margareta (anak-anak)
29. Andriana (anak-anak)
30. Robertus
31. Dorce Ansa
32. Michael Rola
33. Yenianan Lere
34. Ini Petu

(surabaya.detik.com/nrm/fat)

Selengkapnya...

Monday, 27 February 2012

"MAUMERE"

Karya Iwan Fals, dibawakan di Konser Kemanusiaan Flores 1993..

Om Iwan, epang gawan, trima kasih, matur nuwun atas lagumu berjudul "MAUMERE"yang luar biasa. Merinding benar mendengarnya, sungguh.
Lagu yang Anda ciptakan secara spontan dan dinyanyikan pada "Konser Kemanusiaan Untuk Flores" di awal tahun 1993 akhirnya bisa didengarkan terkhusus warga Maumere dan Flores.
Dari tanah seberang nun jauh dari tempatmu, lagu ini kembali menggugah ingatan akan bencana besar yang menewaskan ribuan saudara-saudara kami.

Yeah teman-teman, lengkingan khas Iwan Fals bisa kita dengarkan , ketika ia meneriakan "Maumere". Lewat lagu ini Om Iwan bercerita tentang kepedihan hatinya, tentang tangisan dan kegelisahaannya menyaksikan bencana gempa disusul tsunami mengamuk di Pulau Bunga, Cabo da Flores..
lagunya bisa di donlod disini..

cuplikan syair
"....Maumere ... Maumere ...
Sika ngada ende Flores Timur bersedih dan menangis
Pikiran - pikiran kotor menyingkirlah
Hati yang kotor menyingkirlah
Maumere ... Maumere ..."


Download "Maumere":

disini



Gempa Tsunami 1992: disini

lirik: disini

foto: penampilan iwan fals cs saat konser kemanusiaan untuk gempa Flores, 24 januari 1993 di Jakarta

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Jejak Sejarah Pasar Geliting

Pasar Geliting adalah salah satu pasar tua di kabupaten Sikka yang terletak di Geliting ,kecamatan Kewapante,kabupaten sikka.Karena usianya yang sudah tua ini, maka beredarlah wacana bahwa di Tahun 2010 ini pasar Geliting mencapai usianya yang ke-100. Kebenaran wacana ini perlu di telusuri, karena sepanjang pengetahuan saya usia pasar Geliting, sudah lebih dari 100 tahun bahkan dapat di perkirakan sudah mencapai 150 tahun. Bersumber dari tuturan lisan yang saya timba dari kakek moan Mitan Nago, Om-om saya Moan Bapa, Moan Gain dan Moan Jeng dan dari sumber sejarah lokal NTT antara lain Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT, maka saya akan tulis topik ” MENELUSURI JEJAK SEJARAH PASAR GELITING “.
Bahwa pada Zaman dahulu kala, wilayah yang sekarang ini bernama Geliting, oleh para leluhur di sebut” BAN BIHAN “. BAN BIHAN merupakan gabungan kata BAN yang artinya ALIRAN AIR dan BIHAN artinya MEROBEK. Karena itu BAN BIHAN berarti Aliran Air yang Merobek-robek.

BAN BIHAN ini merupakan sebuah mata air di tepi pantai yang keluar dari batu wadas yang terpecah-belah.Oleh karena itu,BAN BIHAN lalu menjadi tempat singgahan para pelaut untuk mengambil air minum. BAN BIHAN adalah Nuba Nanga dari masyarakat Wolon Dobo,wilayah Hoak Hewer Hewokloang,Kerajaan Tradisional KangaE AradaE…

Pada seputar Abad XVI-XVII mulai berkembang kekuasaan islam di wilayah Indonesia Timur,terutamakerajaan Ternate,Gowa dan Bima. Daerah sepanjang pantai pulau Flores,mendapat pengaruh kerajaan Gowa. ( Bdk. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT Hal.7 alinea 4 ).

Orang Gowa menyinggahi BAN BIHAN dan berinteraksi dengan Ata Dobo khususnya dan Ata Krowe pada umumnya. Lalu Orang Gowa di sebutlah ATA GOAN. Pada waktu itu datang juga orang dari Tidore ( Maluku) lalu tersebutlah juga ATA TIDUNG. Ata Goan dan Ata Tidung belum tinggal tetap di BAN BIHAN.

Kemudian pada tahun 1860, Amir Bahren dan Hamzah Bahren menyebarkan Agama Islam di pulau Timor dan Pulau Flores. Dalam penyebarannya agama Islam ini,peranan orang Bugis,Makasar,Wajo dan Buton sangat besar. Di daerah tersebut terdapat kampung-kampung Bugis,Wajo,Makasar dan Buton. Agama mereka sama yaitu Islam, maka semua orang Goa, Tidung,Wajo,Bugis,Makasar dan Buton di sebut ATA GOAN (Bdk.Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT Hal.21 alinea 5 ).

Orang wajo lalu menyinggahi dan menetap di BAN BIHAN. Ban Bihan lalu menjadi tempat pertemuan jula beli antara Ata Krowe dan Ata Wajo,maka tempat pertemuan jual beli itu di sebut REGANG BAJO dan orang Wajo di sebut ATA BAJO. Makin banyak Orang Bajo membangun rumah di seputar Regang Bajo maka tersebutlah NATAR BAJO.

Regang Bajo itu terselenggara pada setiap hari Jumad.sehari sebelumnya yaitu hari Kamis,mulai dari pagi Buta,Ata Krowe sudah datang menunggui Ata Tidore ( Ata Tidung ) untuk saling tukar-menukar.Ata Tidung membawa ikan,garam,kapur sirih,sedang Ata Krowe membawa jagung,kacang,ubi,buah-buahan dan lain-lain.Demikian Regang Bajo itu sudah mulai berlangsung sejak tahun 1860.

Pada tahun 1902, kerajaan tradisional KangaE AradaE jatuh ke tangan penjajah Belanda.
Ratu Keu Nago Raja KangaE yang ke-38 di lengserkan dan di gantikan oleh saudara sepupunya Moan Nai Juje,yang menjadi satu-satunya Raja Koloni Belanda ( 1902 – 1925 ). Disamping menjadi perpanjangan tangan Belanda,beliau juga melakukan terobosan pembanguan,antara lain meningkatkan pembangunan Pasar atau Regang Bajo. Seputar tahun 1905, beliau membangun toko-toko untuk di kontrakan kepada Ata Goan dan Ata Sina ( orang Cina ).

Orang Cina yang pertama datang ke Natar Bajo,oleh Ata Krowe di sapa SINA LOGU LEWU yang artinya Orang Cina yang merunduk di bawah kolong rumah. SINA LOGU LEWU mengontrak sebuah rumah panggung yang bertiang tinggi.Lokasinya di Gudang KUD sekarang ini. Setiap harinya ia menyepuh emas di bawah kolong rumah itu, sehingga di juluki SINA LOGU LEWU.

Anaknya bernama Baba Ting, di samping rumah baba Ting ada toko GO APANG, dan di sebelahnya selatannya ada toko GO TITI. Toko GO APANG di wariskan kepada anaknya GO TJUI sedangkan Toko GO TITI di jual kepada ENCE GEMUK dan diwariskan kepada BABA ILONG karena GO TITI pindah ke Maumere.

Ata Bajo kemudian berpindah ke Wuring,akhirnya Nama Natar Bajo dan Regang Bajo mulai sirna dan muncul nama Kampung Geliting dan Pasar Geliting. Dari mana dan bagaimana asal muasal nama Geliting tidak di ketahui secara persis, karena kata Geliting itu tidak di temukan dalam kosa kata bahasa Krowe. Kata Geliting dalam bahasa Krowe tidak mengandung makna apapun.

Berdasarkan paparan tersebut diatas kita sudah mengetahui bahwa nama BAJO ( Regang Bajo dan Natar Bajo ), berasal dari WAJO YANG ADALAH NAMA DARI SEBUAH KERAJAAN islam di Sulawesi Selatan. Nama Geliting yang menggantikan nama Bajo, belom secara pasti di ketahui asal muasalnya baik dari kata-kata budaya setempat ataupun nama serapan daerah luarnya, namun dari uraian mengenai kedatangan dan keberadaan orang Cina di Natar Bajo, maka dapat di di duga kuat, bahwa nama / kata Geliting berasal dari nama orang Cina pertama yang datang pertama ke Natar Bajo, yaitu GO LIE TING, yang di juluki SINA LOGU LEWU.

Kata GO ( Nama Marga Keluarga Besar GO ) telah bergeser bunyi menjadi GE. Kata LIE terdapat dalam nama orang CINA dan TING nama yang di teruskan kepada anaknya. Nama GO LIE TING, dalam alur sungai sejarah telah bergeser bunyi menjadi Geliting Regang Bajo yang berdiri pada tahun 1860 – an telah berubah menjadi Pasar Geliting sejak tahun 1905 sampai dengan sekarang.

Natar Bajo yang berdiri di tahun 1860 telah berubah menjadi Kampung Geliting, yang kini menjelma menjadi Desa Geliting. Sedangkan Nama Bajo masih diabadikan dengan dusun Bajo.
Dengan demikian REGANG BAJO dan atau PASAR GELITING pada tahun 2010 telah mencapai usia 150 tahun…
KEWAPANTE, 19-MEI-2010(LONGGINUS DIOGO).

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

WISATA NTT: Menteri Pariwisata terpesona alam Maumere

Wilayah Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur berpotensi dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata alternatif.
Menteri Pariwista dan Ekonomi Kreatif Mari E Pangestu mengatakan provinsi ini kaya akan nilai sejarah dan tempat wisata yang dapat dikembangkan. Sekaligus bisa menjadi sentra ekonomi kreatif dari produk tenun.
“Potensi Maumere tidak hanya wisata rohani atau ziarah seperti yang saat ini banyak dilakukan wisatawan. Wisata alam dan kerajinan rumahtangga berupa tenun ikat perlu ditingkatkan promosinya,” ujarnya hari ini. Mari bercerita, akhir pekan lalu dia membuka acara Pekan Pesona Flores Maumere In Love di Maumere yang dimeriahkan dengan parade budaya, misa akbar untuk perdamaian, expo produk unggulan flores, festival ikan bakar, dan pesta rakyat, panggung pertunjukan etnik flores, workshop fotografi bersama komunitas jurnalis foto nasional dan lomba mewarnai motif tenun.

Menurut dia, pengembangan pariwisata berkelanjutan melestarikan warisan budaya seperti yang diwujudkan dalam Pekan Pesona Flores itu, selain kegiatannya juga ramah lingkungan. Salah satunya pembuatan tenunan khas Flores.

Keunggulan menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan adalah melibatkan elemen masyarakat setempat sehingga mereka bisa menjadi ujung tombak pengembangan pariwisata di daerahnya sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari interaksi dengan wisatawan.

Selain membuka Maumere In Love, Mari yang didampingi Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim serta unsur Muspida Kabupaten Sikka juga mengunjungi Museum Bikon – Blewut, museum budaya dan misi Katolik di Maumere dan melihat koleksi utama museum tersebut yaitu Fosil Fauna, Flora Gua Flores serta fosil-fosil manusia purba dan Fosil Gajah Jenis Stegodon Trigonocephalus yang berusia kira-kira 300.000 tahun.

Tempat lainnya yang dikunjungi adalah Wisung Fatima Lela yang bertempat di Desa Lela, Kabupaten Sikka. Di Kabupaten yang menjadi penerima PNPM Mandiri Pariwisata sudah memiliki peningkatan dengan sejumlah fasilitas.

“Perlu segera dibangun gedung untuk display barang atau sejenis showroom untuk memamerkan sekaligus memasarkan hasil kerajinan masyarakat sehingga dapat meningkatkan daya tarik dan nilai barang di mata wisatawan.,” kata Mari.(bisnis.com/msb)

Selengkapnya...

Friday, 24 February 2012

Hakim Ancam Penjarakan Alex Longginus

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang mengacam memenjarakan mantan Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus, karena diduga kuat memberikan keterangan palsu dalam perkara dugaan korupsi pengadaan pakaian Linmas Sikka tahun 2008.
Wajahnya terlihat berkeringat dan melapnya dengan sapu tangan sebanyak 8 kali. Longginus terlihat tegang ketika dia tidak dapat memastikan keberadaan Ucup alias Stefanus Tanto di rumah jabatan Bupati Sikka, tanggal 4 April 2008, untuk membicarakan soal swakelola proyek pakaian linmas Sikka bernilai Rp 2,3 miliar.
Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Rerung Patongloan, S.H, didampingi hakim anggota Feri Haryanta, S.H, dan Anshory Syarifuddin, S.H, Senin (20/2/2012), Longginus diperiksa sebagai saksi.


Sidang dihadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU) Henderina Malo, S.H, Agung Raka, S.H, dan Hersen Suryo, S.H. Juga hadir lima terdakwa, Dominikus Dion, Petrus Pau, Kanisius Togo, Yeremias Dhewa dan Agustinus Akar. Mereka didampingi tim penasihat hukum, Petrus Salestinus, S.H, Luis Balun, S.H, dkk.

Longginus diperiksa selama satu jam, pukul 19.30-20.30 Wita. Selama pemeriksaan, Longginus terlihat melap keringat di wajahnya dengan sapu tangan sebanyak 8 kali. Wajahnya tampak tegang saat majelis hakim menanyakan soal keberadaan Ucup di rumah jabatan Bupati Sikka, tanggal 4 April 2008.

Selain majelis hakim, jaksa dan pengacara pun terkesan mendesak Longginus untuk mengakui keberadaan Ucup di rumah jabatan Bupati Sikka saat itu. Pasalnya, dua saksi yang diperiksa sebelumnya, antara lain mantan Kasatpol PP Sikka, Emanuel Hurint, mengaku pada malam itu, Ucup juga ada di rumah jabatan bupati.

Dan bupati kemudian memerintahkan agar Ucup ikut bersama Emanuel dan panitia untuk mengambil dan membayar pakaian Linmas pada Adi Junata di Jakarta.

Sementara dalam kesaksian sebelumnya, Ucup mengaku hadir di rumah jabatan bupati karena diminta datang oleh Bupati Alex Longginus melalui telepon dari bagian protokoler, Buang.

Namun ketika hal itu dikonfrontir oleh majelis hakim, Longginus terlihat bingung menjawab dan tidak bisa memastikannya. Semula Longginus menjawab tidak ingat, kemudian tidak memastikan apakah Ucup ada atau tidak.

Ditanya berkali-kali dan diperingatkan agar tidak berbohong, Longginus tidak menjawab, diam.

Namun ketika diancam tindakannya itu bisa membuatnya ditahan, Longginus lalu memastikan bahwa malam itu dia hanya bicara dengan Emanuel Hurint.

"Saya tidak perintahkan dia (Ucup) hadir. Saya tidak pernah perintahkan orang itu (Ucup) untuk pergi ke sana (rujab) bersama-sama dengan dia (Emanuel). Saya tidak pernah panggil dia (Ucup). Baik Saya bersumpah," kata Longginus setelah didesak hakim untuk bersumpah.

Longginus mengaku mengenal Ucup karena dia adalah warga Kabupaten Sikka. Namun Longginus memastikan bahwa Ucup tidak terlibat dalam proyek pengadaan pakaian linmas Sikka itu.

"Bapak, saya minta kehadiran Ucup dikonfrontir, saya tidak ingat," kata Logginus.

Terhadap jawaban Longginus tersebut, majelis hakim menduga Longginus telah memberikan keterangan palsu sehingga hakim mengancam akan menahannya berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

"Apabila majelis sudah peringatkan tetap tidak memberikan keterangan, maka atas permintaan jaksa dan terdakwa, ketua majelis akan perintahkan saudara ditahan. Saya bisa perintahkan jaksa untuk menahan saudara karena memberikan keterangan palsu," ancam hakim.

Longginus juga memastikan bahwa rekomendasinya soal swakelola itu lantaran ada telaahan staf dari bagian pembangunan dan hukum. Dan, rencana swakelola itu telah diajukan oleh Emanuel sejak tanggal 25 Maret.

Padahal dalam keterangannya, Emanuel menyampaikan bahwa pengajuan swakelola itu diajukan tanggal 27 Maret atas permintaan bagian hukum dan bupati.

Longginus mengakui menerima empat sanggahan banding dan akhirnya diputuskan pemenang lelang harus dibatalkan karena ada syarat yang tidak dipenuhi oleh kontraktor pemenang yakni tidak ada referensi bank.

"Hal ini pun merupakan hasil telaahan dari staf bagian hukum. Mereka katakan referensi bank adalah syarat prinsip," kata Longginus.

Atas dasar telaahan staf itu juga, Longginus kemudian mengeluarkan kebijakan untuk swakelola dan hal itu juga dilakukan agar pilkada bisa berjalan dengan baik.

"Keuntungan secara pribadi tidak ada," kata Longginus. Ketika ditanya apakah hanya karena kepentingan umum walaupun bertentangan dengan Keppres 80 maka sistem swakelola harus dijalankan, Longginus mengatakan, "Saya tidak bisa jawab."

Di akhir persidangan, hakim meminta jaksa untuk bisa menghadirkan kembali saksi Emanuel Hurint, Ucup dan Longginus agar keterangan ketiganya bisa dikonfrontir dalam pemeriksaan tersendiri perkara itu.(pos-kupang.com)
Selengkapnya...

Wednesday, 22 February 2012

Dua Batu Melayang di "Maumere In Love"

Hari Penutupan yang Tak Berkesan
Maumere In Love, tema dari Pekan Pesona Flores dengan tujuan mulia, ternoda dihari terakhir pegelaran, Selasa (21/2). Gara-garanya dua batu sekepalan tangan orang dewasa mampir di panggung. Entah siapa pelakunya, apa motifnya hingga kini tak diketahui pasti. Akibat insiden yang cukup mengejutkan tersebut, parade band yang berlangsung meriah dengan menghadirkan sejumlah band papan atas yang ada Kota Maumere tidak bisa dilanjutkan. MC panggung Anton, secara sepihak memberhentikan acara. Sejumlah enam band yang sedianya tampil akhirnya gigit jari. Band-band tersebut antara lain, Canabis Band, Sang Brader, Wiriwara, Jammof dan beberapa lainnya. Tak ayal nada kecewa selama lima hari pekan Pesona Flores dengan tema Maumere In Love yang berlangsung di Lapangan Katedral bertambah. Selain insiden lemparan batu, yang terlihat dan dirasakan antara lain tenda bocor, kurangnya informasi acara, tak adanya toilet, mahalnya penyewaan stan, tak terlihat adanya pihak keamanan saat insiden lemparan batu dan beberapa lainnya.


Usai diberhentikannya Parade Band, beberapa peserta yang gagal tampil menumpahkan kekesalan. Pada intinya mereka kecewa dengan panitia acara yang sepihak mengambil keputusan secara cepat tanpa kompromi. Bukan hanya kecewa, malah ada anak band yang mengaku hatinya hancur. Jelo, basis band Sang Brader menumpahkan rasa kecewanya. "Hati kami bukan hanya kecewa, tapi hancur..sangat sakit.." ucapnya usai acara. Dia mengaku kecewa karena usai lemparan, parade langsung diberhentikan dan tidak memberi kesempatan berkompromi dengan band-band lainnya. Ia juga menyayangkan tidak adanya pihak kepolisian selama parade berlangsung. "Kami sudah berlatih keras selama ini. Waktu tenaga dan biaya sudah kami korbankan, tapi endingnya sangat menyakitkan," ujarnya.

Jelo tak sendiri, beberapa awak band yang dibatalkan tampil karena insiden tersebut juga mengaku kecewa. Padahal untuk Parade Band di Maumere In Love mereka telah mempersiapkan diri berhari hari dengan berlatih keras.

Sebelum insiden pelemparan batu, pengunjung di suguhkan penampilan luwes para model remaja Maumere yang memeragakan desain tenun ikat nusantara. Peragaan busana yang diselipi parade band nyatanya sangat menghibur pengunjung. Arena cat walk dipenuhi penonton.

Insiden bermula saat Jet COaster tampil sekitar mendekati pukul 23.00 wita. Kelompok musik cadas death metal asal Mof tersebut menjadi peserta kesekian dari beberapa band yang telah tampil. Tampilan dengan musik garang di padu pakaian hitam-hitam rupanya tak berlangsung lama. Sebuah batu tiba-tiba nongol. Batu kedua malah hampir mengenai tubuh Mc Anton. Selanjutnya dengan nada serius, Anton yang selama ini dikenal humoris membatalkan parade. "Saya pu kepala nih sipit sedikit saja, kalo tida su pecah kena kalian pu batu..karena itu parade band ini dibatalkan" teriaknya dengan nada kesal.

Ah, kenapa ada batu? Padahal penonton musik di Maumere dari dulu dikenal tertib dan sopan. Tak pernah ada insiden pelemparan ke panggung dalam sejarah pertunjukan musik. Baru kali ini dalam catatan inimaumere, ada insiden memalukan. Entah, pihak panitia tak berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Yang jelas disekitar arena musik tak ada pihak keamanan.

Selain anak band, penonton dan pengunjung pameran pun tak bisa memendam rasa kecewa. Akhir kegiatan yang tidak elegan diterima warga Maumere. Hebatnya tak ada insiden lanjutan dari penonton atau anak band ke panitia. Semua menerima dengan lapang dada seperti jati diri orang Maumere sebenarnya, terutama peta dan komunitas musik. Penonton musik Maumere sejauh ini berkesan damai, kesan brutal sangat jauh dari jati diri mereka. Dengan kesan ramah, terbukti Maumere selalu menjadi pilihan penyanyi dan artis-artis ibukota.

Pekan Pesona Flores sudah selesai. Tema indah tentang cinta "Maumere In Love" spertinya hanya sesaat. Berlalu sudah hari-hari melelahkan dan berbagi tawa serta canda.


Prosesi penutupan Pekan Pesona Flores secara sederhana oleh Bapa Uskup Maumere, Mgr Kherubim Pareira, SVD. Tak ada kesan bahwa pekan pesona Flores diikuti 9 kabupaten seperti didengungkan sebelumnya. Di kursi pengunjung, tak terlihat utusan kabupaten lain. Tak terlihat pejabat resmi pemerintah, paling tidak pihak dinas pariwisata, tak ada kelompok pelaku wisata dari pihak swasta, tak ada pelaku perhotelan, wira usaha dan lain-lain. Sementara arena "Maumere In Love" dibanjiri pengunjung. Jalanan macet, tempat parkir kendaraan sesak.


Kuskupan Maumere dari info yang beredar, mengetahui dan menyetujui kegiatan ini dilangsungkan di Lapangan Keuskupan Maumere. Meski ldiselenggarakan oleh Keuskupan Maumere, panitia kegiatan ini diisi oleh komunitas Arek Lintang asal Surabaya dengan menggandeng para muda di Kota Maumere. Dengan dukungan sponsor utama BNI Cabang Maumere serta sponsor lainnya, acara ini berlangsung selama lima hari.

Kegiatan yang dibuka Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu memiliki semangat tapi sepertinya setengah hati diikuti kabupaten-kabupaten yang diundang. Nagakeo, Ende, Manggarai, Flores Timur hanya menjejakkan sementara kaki mereka di Maumere, setelah ibu Menteri pulang, maka pulanglah pula rombongan itu ke daerah asal mereka. Jadila Maumere In Love beraroma khas Maumere dengan sesekali dibumbui kekhasan kabupaten-kabupaten dari Pulau Sumba seperti Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Barat.


Maumere In Love, tema dari pekan Pesona Flores yang berlangsung lima hari sejak tanggal 17 Februari lalu meninggalkan sejumlah catatan. Termasuk rasa kecewa terhadap harga sewa stan Rp 2 juta keatas yang dinilai mahal. Padahal judulnya bagus, Expo Produk Unggulan Flores.
Sementara Pemkab Sikka tak nampak dalam kegiatan ini. Tak dijumpai stan dari Pemkab Sikka. Banyak yang mnyayangkan acara yang sebenarnya begitu penting namun terkesan loyo . Salah satunya lagi mengenai jadwal kegiatan yang berubah.

Ah, semoga suatu saat jika dilangsungkan lagi kegiatan besar seperti ini, sudah dipersiapkan matang, dan jangan sungkan melibatkan sejumlah anak muda Kota Maumere. Anak-anak muda yang telah memiliki pengelaman sesuai bidang dan porsi dalam berbagai kegiatan dan iven di Maumere.

Rangkaian kegiatan Pekan Pesona Flores telah berakhir. Usai sudah lomba mewarnai motif tenun, fstival ikan bakar, parade budaya, workshop bersama Ibu Menteri, workshop bersama jurnalis foto nasional, ethnic fashion dan berbagai kegiatan lainnya. Daerah Flores masih butuh dukungan dari semua pihak agar keistimewaan yang dibanggakan daerah ini bisa terekspos dan dan perekonomian rakyat terangkat. Tetaplah bergandengtangan.....

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

'Maumere, Lahan Subur Untuk Pariwisata dan Ekonomi Kreatif'

Maumere merupakan daerah yang kaya akan nilai sejarah dan tempat wisata yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata. Selain itu, kekayaan alam dan kerajinan rumah tangga masyarakat Maumere juga dapat dikembangkan untuk sektor ekonomi kreatif. Dengan demikian masyarakat dapat merasakan langsung manfaat dari kekayaan alam di daerahnya.
Demikian diungkapkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, pada pembukaan acara Pekan Pesona Flores ";Maumere In Love"; di Maumere pada Sabtu 18 Februari lalu. Mari menambahkan bahwa pariwisata di Maumere dapat dikembangkan menjadi wisata alam, tidak hanya wisata rohani atau ziarah seperti yang saat ini banyak dilakukan wisatawan.
Acara “Maumere In Love” ini dimeriahkan dengan parade budaya, misa akbar untuk perdamaian, expo produk unggulan flores, festival ikan bakar, dan pesta rakyat, panggung pertunjukan etnik flores, workshop fotografi bersama komunitas jurnalis foto nasional, lomba mewarnai motif tenun.


Selain membuka ";Maumere In Love";, Mari yang didampingi Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim serta unsur MUSPIDA Kabupaten Sikka juga mengunjungi Museum ";Bikon - Blewut"; di Maumere yang merupakan museum budaya dan misi Katolik di Maumere dan melihat koleksi utama museum tersebut yaitu Fosil Fauna, Flora Gua Flores serta fosil-fosil manusia purba dan Fosil Gajah Jenis Stegodon Trigonocephalus yang berusia kira-kira 300.000 tahun.

Setelah mengunjungi museum ";Bikon-Blewut";, rombongan melakukan kunjungan ke tempat wisata religi Wisung Fatima Lela yang bertempat di Desa Lela, Kabupaten Sikka.

Mari bersama rombongan juga melakukan kunjungan ke Desa Sikka, Kabupaten Sikka yang merupakan desa Penerima PNPM Mandiri Pariwisata. Sejauh ini, PNPM Mandiri Sikka sudah mengalami peningkatan. Kedepan diharapkan bisa dibangun gedung untuk display barang atau sejenis showroom. ";Hal ini dapat meningkatkan daya tarik dan nilai barang di mata wisatawan. Dengan demikian harga barang tersebut akan ikut meningkat,"; lanjut Mari. [Puskompublik]

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---