Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Monday, 23 July 2012

Lebih Dekat dengan Experanza Dominne Choir

Menikmati alunan merdu dari lagu-lagu yang dibawakan dengan ritme yang enak diengar bisa mengikis gundah gulana. Apalagi lagu-lagu tersebut dinyanyikan secara kompak oleh sekelompok orang muda dalam satu paduan suara. Inilah yang terangkum dari kelompok koor yang diberi nama anggun "Experanza Dominne Choir" yang selama dua tahun sering tampil di berbagai kesempatan, terkhusus di Kabupaten Sikka. Experanza Dominne Choir telah menjadi sarana bergabungnya berbagai orang muda dengan latar belakang berbeda tapi terdengar rancak dan memukau saat berbagi suara. Keompok paduan suara yang terdiri dari pria dan wanita ini dibentuk bulan november tahun 2010 lalu. Saat ini, Experanza Dominne Choir dipimpin oleh Gerry da Gama, salah satu anak muda yang kini berkarya dilingkungan Pemkab Sikka.

Menurut Gerry, anggota Experanza Dominne Choir saat ini beranggota 27 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang pekerjaan berbeda. Ada yang mengabdi sebagai guru swasta, PNS, pegawai BUMN, pegawai swasta dan mahasiswa, jelas Gery.

"Kami berasal dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Maumere diantaranya Paroki Thomas Morus, Paroki Katedral St. Yoseph, Paroki St. Franciscus Xaverius Koting, Paroki Maulo'o, Paroki Misir, Paroki St Yoseph Freinademz Bolawolon dan Paroki Nelle," tambah anak muda yang ramah senyum ini.

Meski dari berbagai jenis pekerjaan dan wilayah, kelompok yang sering mengenakan kostum dengan motif tradional tenun ikat Sikka ini selalu tampil profesinal dan harmonis diberbagai kesempatan. Dari wadah ini mereka menimbah banyak pengelaman.

Penampilan paduan suara Experanza Dominne Choir ini sering menarik perhatian. Selain kualitas vokal yang merdu, sajian lagu-lagu yang dibawakan tidak asing ditelinga. Dari lagu pop, rohani hingga tembang tradisional, dari bahasa lokal, inggris hingga latin semuanya diolah dengan gaya dan teknik vokal memukau.

Sebagai anak Tuhan yang besar dilingkungan gereja, Experanza Dominne Choir memilih nama yang memiliki arti dalam nuansa religius, Pengharapan Akan Tuhan. Dan saat masih berumur belia, mereka telah melengkapi kelompok paduan dengan dua pemain musik pada instrumen gendang dan okulele serta satu keyboard player.

"Bagi saudara sekalian yang bermukim di Kabupaten Sikka, kami selalu membuka kesempatan untuk menjadi bagian dari kegembiraan. Bisa hubungi Experanza Dominne Choir, kami selalu siap untuk memberikan yang terbaik, ujar Gerry. 

 WWW.INIMAUMERE.COM
Selengkapnya...

Bupati Lantik 26 Pejabat Eselon II dan III

Bupati Sikka,Sosimus Mitang, mengambil sumpah dan melantik 8 pejabat eselon II B dan 18 pejabat eselon III lingkup Pemkab Sikka di Aula Setda Sikka, Kamis (19/7). Bupati Sikka meminta para pejabat terlantik bersatu membangun masyarakat dengan hati nurani. Delapan pejabat eselon II yang dilantik antara lain:Z.Heriando Siku dilantik menjadi Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika, sebelumnya menjabat asisten II. Asisten II dijabat Gerinus Kia Uba, sebelumnya menjadi Kadis Perindag. Kadis Perindag dijabat Rita Diah Harsasi, yang sebelumnya menjabat Kadis Pariwisata. Gregorius Rehi, yang sebelumnya menjabat menjabat Kadis Sosnakertrans Sikka. Kadis Sosnakertrans dijabat Stef Nama Keda, yang sebelumnya menjabat menjadi Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika.


Pejabat eselon II lainnya yang di lantik adalah Simon Subsidi yang di lantik menjadi Kepala BKD, sebelumnya menjabat Kepala BPM. Kepada BPM dijabat Wilhelmus Sirilus, yang sebelumnya menjabat Kepala BKD. Kepala Dinas Kehutanan dijabat Yunida Polo. Sementara pejabat eselon III yang dilantik antara lain : Silvester Saka dilantik menjadi Camat Alok Timur, menggantikan Hilarius Heling, Peter Ambrosius di lantik menjadi salah satu kepala bidang Penelitian dan Pengembangan pada Bappeda. Sebelumnya ia menjabat sebagai Kasubag Publikasi dan Dokumentasi pada Humas setda Sikka.

Dalam sambutannya Bupati Sosimus Mitang mengatakan pejabat yang di percayakan untuk menduduki suatu jabatan harus memenuhi empat syarat penting, yakni mempunyai pengetahuan, mempunyai ketrampilan, mempunyai sikap dan perilaku yang baik, dan jual kemapanan bukannya ketampanan.

Bupati juga meminta para pejabat terlantik bekerjasama dengan pejabat lama dan semua staf agar kesuksesan program dapat berjalan dengan baik.

"Saya juga minta semua pejabat melaksanakan tugas dengan tulus hati. Jangan bekerja sendiri-sendiri. Istri juga harus membantu tugas suami," kata Bupati.

Kadis Perhubungan Komunikasi dan Informatika Z. Heriando Siku dan Kadis Sosnakertrans, Stef Nama Keda, menyatakan siap menjalankan tugas yang dipercayakan.
 "Saya siap menjalankan tugas yang dipercayakan ini," kata Heriando Siku.

Hadir dalam acara pelantikan ini, Wakil Bupati Sikka, Wera Damianus, Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga, Plt Sekda Sikka, Robertus da Silva, Pendamping rohaniawan Kristen dan Imam Mesjid, pimpinan SKPD dan para camat.(flores pos/humas sikka)
Selengkapnya...

Wednesday, 18 July 2012

The Boombox Crew, Sang Kampiun Ende Sare

Shuffle Dance Competition Kota Ende
Ende bertabur ceria. Ribuan orang berkumpul di Lapangan Perse Kota Ende, Senin (16/7/2012) menyaksikan sembilan grup shuffle yang mengadu kepiwaian dalam Shuffle Dance Competition. Tarian yang sedang digandrungi kaum muda di Indonesia menobatkan Kota Ende, Ibu Kota Kabupaten Ende di Flores menjadi kota kedua kompetisi yang diselenggarakan Neibers Event Organizer (EO). Sebelumnya EO pimpinan Audy ini mengadakan kompetisi yang sama di Kota Maumere, 7 Juli lalu. Kompetisi yang dipersembahkan Nuu Mild melahirkan The Boombox Crew sebagai pemenang. Grup shuffle yang beranggota empat penari mengkandaskan pesaing mereka IRS  dalam babak final yang berlangsung ketat. The Boombox bersama IRS sebelum melaju ke partai final menyingkirkan dua grup shuffle lainnya yakni Arjuna dan Berontak dibabak semifinal Battle Shuffle.

Kompetisi dibuka pukul 20.00 wita. MC Lucky Reyner dan Ain langsung memberi kesempatan bagi para penonton yang ingin menunjukkan kebolehan menari shuffle di panggung. Dengan hadiah dari Nuu Mild, kesempatan ini menjadi awal gempitanya panggung shuffle yang dikelilingi penonton yang begitu padat. 



Tampil sebagai peserta pertama, Arjuna langsung meletupkan semangat penonton dengan penampilan tarian shuffle yang memukau. Sambutan meriah terus mengalir saat grup Galaxi LB ST, Public P. Clan, Astro Three tampil dengan aksi-aksi menawan. Penonton Ende yang malam itu begitu antusias tak mampu menahan decak histeris, ketika The Boombox menampilkan tarian shuffle dikombinasi salto, breakdance dan beberapa gerakan lainnya. 

 Semakin larut panggung shuffle semakin panas. Penonton tak beranjak. Saling dukung mendukung terus mengalir ketika peserta berikutnya QSC Star, Berontak RFS, Right Left dan IRS memeragakan aksi-aksi terbaik untuk meraih point terbanyak. Aplaus yang tak berhenti dan segala dukungan lainnya bergema di Lapangan Perse yang terletak berdekatan dengan Taman Soekarno. Penonton padat hingga memacetkan arus lalu lintas jalan raya disekitar lokasi arena. 

The Boombox Crew, Sang Juara

Dari atas panggung dengan barikade membatasi penonton, Lucky membacakan empat grup shuffle yang berhasil masuk babak semifinal Battle Shuffle. Seperti yang ditulis diatas, The Boombox Crew akhirnya berhadapan dengan IRS pada Battle Shuffle Final. Stanley selaku juri kompetisi mengaku persaingan di Ende sangat ketat dibanding kompetisi serupa di Maumere. Bersama Mei, juri kompetisi lainnya, keduanya harus bekerja keras untuk menentukan pemenang. Hasilnya, The Bombox Crew keluar sebagai juara dengan meraih point 165 menyingkirkan pesaing terbaik lainnya IRS yang kalah tipis dengan meraih nilai 160. Sedang juara ketiga, Arjuna puas dengan nilai 135. 

Sebagai kampiun, The Bombox Crew berhak atas hadiah uang sebesar Rp 1,5 juta. Diikuti juara kedua IRS dengan hadiah Rp 1.25 juta dan juara ketiga Arjuna meraih Rp 1 juta dari total hadiah uang sebesar Rp 3,75 juta. Masing-masing pemenang mendapat piala tetap dari pantia penyelenggara. 

ki-ka: Penonton padati arena, MC Ain dan pemenang kuis persembahan Nuu Mild, Audy wakili Transnusa menyerahkan tiket gratis ke pemenang, Ain dan Lucky dampingi pemenang kuis dr Transnusa..

Kompetisi padat penonton semakin semarak dengan bagi-bagi hadiah dari pendukung acara Transnusa Airlines. Perusahaan penerbangan ini memberikan hadiah istimewa  yakni voucher tiket pesawat gratis rute Ende - Kupang untuk penonton yang bisa menjawab kuis.

Hiburan menarik lainnya seperti pertunjukan musik dari Rapper Family dan Drive One Band serta berbagai kuis menjadi selingan kompetisi ditengah cuaca nan cerah. Kedua grup musik asal Kota Ende ini tampil dengan beberapa lagu hip hop, pop serta reggae. 

Akhir acara ditutup oleh penampilan DJ Vicky feat Live PA Ain yang menyemarakan akhir pesta shuffle kawula muda Kota Ende. 

ki-ka: DJ Vicky feat Live PA Ain, penonton antusias, juri penilai Stanley dan Mei, DJ Vicky feat Rapper Family

Audy mengatakan, kompetisi yang diadakan didua kota terbesar di Flores yakni Maumere dan Ende merupakan jawaban akan kerinduan kaum muda yang ingin menyalurkan bakat dan kemampuan secara positip dibidang seni tari shuffle.

Seperti yang disaksikan inimaumere.com, kompetisi shuffle di dua kota sangat meriah dengan begitu banyak penonton yang memadati arena. Satu hal yang pasti, kemampuan para muda  dikedua kota juga tak kalah dengan teman-teman mereka diluar Flores. Salute!

ki-ka:Para Juara: The Bombox.bersama perwkilan dari Nuu Mild, IRS with Transnusa yang diwakili Audy, Juara ketiga,Arjuna bersama Eman Petu yang mewakili Neiber EO.
=======================================================================
@Shuffle Dance Maumere

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Warga Selalu Ditipu Kontraktor

Warga transmigrasi di lokasi Odang, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, merasa nyaman tinggal di rumah yang sudah dibangun sekalipun beberapa rumah sedang diperbaiki kontraktor. Persoalan menjadi kontroversi karena dipicu masalah utang-piutang dengan warga yang belum diselesaikan oleh kontraktor/pemborong. Warga kecewa karena selalu ditipu kontraktor. Untuk itu, pihak Dinas Nakertrans Propinsi NTT harus mendesak pemborong agar secepatnya menyelesaikan utang-piutang dan diberi batas waktu paling lambat tanggal 1 Agustus 2012. Apabila dalam batas waktu tersebut belum juga diselesaikan, maka pihak Nakertrans Propinsi NTT diharapkan memfasilitasi proses hukum dengan melapor kontraktor kepada pihak berwajib.
Demikian kesimpulan hasil dialog tim Komisi C DPRD Sikka bersama mitra kerja dengan warga saat meninjau UPT Lewomada di Odang Desa Ojang, Jumat (13/7/2012). 

Petikan dialog dan kesimpulan hasil dialog serta hasil pengamatan saat peninjauan lapangan itu kopiannya diterima Pos Kupang dari Kasi Penyediaan Sarana dan Prasarana Transmigrasi Dinas Nakertrans NTT, Fransiskus Gabi Tola, di Kupang, Senin (16/7/2012) Tim Komisi C yang meninjau ke lokasi masing-masing Darius Evensius (Wakil Ketua Komisi C), Suaib, Yohanis Artikus Sem, Petrus Gande Ware, Siflan Angi (anggota Komisi C), Gregorius Rehi, S.H (Kadis Sosnakertrans Sikka), Drs. David Darong (Kabid Pembinaan Transmigrasi dan Pemberdayaan Kawasan), Fransiskus Gabi Tola (Kasi Penyediaan Sarana dan Prasarana Transmigrasi Dinas Nakertrans NTT), Poa Gaspar (Kasi Bina Penyediaan Areal dan Pembangunan Sarana Transmigrasi) dan Paulus Sani (Kepala UPT Lewomada). Daud, salah seorang warga transmigrasi mengatakan, tidak ada masalah dengan bangunan rumah. 

"Kami merasa bersyukur dapat rumah dan lahan serta fasilitas umum lainnya. Hanya kami kecewa karena selalu ditipu kontraktor soal upah dan biaya material kami yang belum dibayar," kata Daud seraya meminta anggota Dewan memfasilitasi dengan kontraktor agar segera membayar upah dan material mereka. 

Keluhan soal belum dibayarnya upah dan material juga disampaikan warga lainnya, Emanuel dan Beni (sopir). "Upah sopir proyek selama satu tahun tujuh bulan belum dibayar sampai saat ini. Tolong Bapak DPRD bantu fasilitasi kontraktor supaya bayar upah kami," kata Beni. 

Warga translok lainnya, Yoseph Tupong mengakui, ada sambungan kayu pada rangka atap yang tidak sesuai dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Menanggapi keluhan ini, ketua tim, Darius Evensius mengatakan, kondisi tersebut harus menjadi pelajaran agar dalam pelaksanaan pekerjaan diawasi juga oleh warga setempat agar tidak terlanjur. 

Karena untuk membongkar dan memperbaiki kembali butuh biaya yang lebih besar. (kas) Akibat Miskomunikasi ANGGOTA Komisi C DPRD Sikka, Siflan Angi mengatakan, dalam perjalanan menuju lokasi transmigrasi ia sempat mewawancarai warga transmigrasi di beberapa rumah tentang kondisi mereka. Jawaban yang diperoleh, demikian Siflan, mereka nyaman tinggal di rumah yang ada. 

Apalagi dekat dengan kebun. "Polemik ini sebenarnya terjadi karena miskomunikasi antara warga transmigrasi, dinas nakertrans dan pemborong, dan ada yang memanfaatkan situasi ini. Masalah ini menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kita selanjutnya. Dan, perlu diingat bahwa untuk mendapatkan program ini tidaklah gampang, butuh perjuangan dan pengorbanan," kata Siflan. 

 Anggota Komisi C lainnya, Suaib mengatakan, kedatangan mereka ke lokasi untuk melihat dari dekat apa sebenarnya yang terjadi dan dialami oleh warga transmigrasi di lokasi. Ini penting agar apa yang dibicarakan sesuai dengan yang dilihat dan ditemukan, bukan berbicara hanya karena mendengar. 

 "Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan program ini karena masyarakat di sini dibantu membangunkan rumah dan fasilitas umum lainnya. Sebab tidak semua desa dan kecamatan bahkan kabupaten mendapatkan program ini," katanya. 

 Dikatakannya, pembangunan bisa berjalan secara baik manakala ada sinergitas antara pemerintah, rekanan/pemborong dan masyarakat. Karena itu bila ada masalah itu menjadi masalah bersama dan perlu dicarikan jalan keluar secara bersama pula. 

 Sementara anggota Komisi C lainnya, Yanto meminta Dinas Nakertrans NTT segera menyampaikan kepada kontraktor agar hutang piutang warga segera dibayar. Sebab, salah satu masalah yang terjadi karena upah tukang yang belum dibayar. (kas)pos-kupang.com)
Selengkapnya...

Friday, 13 July 2012

Umpan Terobos Gemu Fa Mi Re untuk Pesta Rakyat Flores

oleh: Alexander Yopi

Gemu Fa Mi Re tampil bak kuda hitam. Bukan terutama digandrungi mulanya oleh nona dan nong itam manis dari wilayah nyiur melambai, Maumere, Sikka. Gemu Fa Mi Re seperti sebuah umpan terobos yang diselesaikan dengan baik oleh para penyerangnya di tengah gempuran Ja’i dan Ikimea dari Ngada, Gawi dari Lio, dan Chacha dari Manggarai.
  Fenomena Tarian Daerah
 Ja’i mengambil posisi dominan hampir di semua pesta rakyat di daratan Flores. Juga untuk Flores diaspora di mana pun berada. Ja’i menjadi jawaban dari substansi pesta rakyat orang Flores, yaitu bersapa sua dalam persaudaraan dan kebersamaan melalui tarian dan kegembiraan.
download mp3 gemu fa mi re 
Sebelum Ja’i, pilihannya jatuh pada Rokatenda dan Gawi. Sesekali Tandak ala Larantuka menghiasi pesta rakyat Flores. Tetapi, dua tarian ini terasa monoton, tanpa ada eksplorasi gerakan yang lebih variatif. Faktor kebosanan menjenuhkan ragam tarian itu hingga pesta rakyat Flores beralih pada ragam tarian bebas dan imporan.

 Chacha yang dihidupi masyarakat Manggarai bertahan dengan grafik yang konstan. Tidak ada kemajuan lebih, kecuali untuk memberikan pilihan lain ketika Gawi dan Rokatenda sudah mengistirahatkan para penari pada pesta rakyat.

 Sampai ketika ragam Ja,i dipopulerkan sebagai alternatif tarian kebersamaan dalam sebuah pesta, kerinduan pesta rakyat Flores pun terpenuhi oleh sebuah tarian bersama yang dinamis, variatif, dan energik. Ja’i bukan lagi monopoli pesta adat orang Ngada, melainkan pesta rakyat orang Flores di mana pun berada.

 Provokasi Ja,i melahirkan Ikimea. Kedua-duanya memang berasal dari Ngada. Tetapi, Ja’i cenderung mewakili tarian adat orang Bajawa, sedangkan Ikimea adalah tarian adat orang Soa. Kedua-dunya adalah saudara kandung dalam satu teritori kabupaten, yang berhasil dimetamorforsis menjadi tarian pesta rakyat. Ikimea juga sama dinamis, variatif, dan energik. Lalu silih berganti, Ja’i dan Ikimea mengisi ruang pesta rakyat orang Flores dengan tepuk kegembiraan, kebersamaan, dan persaudaraan.

 Dengan dua tarian ini, pesta rakyat Flores pun bisa diprediksi. Dimulai dengan Gawi atau Rokatenda, lalu diletupkan oleh Ja’i dan Ikimea. Untuk sekedar ‘turun mesin,’ Chacha akan melantai diselingi dengan dansa, lalu Ja’i dan Ikimea kembali susul menyusul demi meletup-letupkan kebersamaan dan persaudaraan.

 Dominasi Musik Populer
 Maumere memang punya Rokatenda yang lahir dari kaki-kaki penari di Pulau Palue. Ini tarian muda-mudi yang kemudian diangkat menjadi tarian di pesta rakyat. Biasanya menjadi pembuka pada pesta-pesta rakyat di Flores. 

 Tetapi Rokatenda sudah sangat lama dan tidak mendapat varian baru yang bisa membuat tarian ini kembali bertengger di puncak pesta rakyat Flores. Lantas, Rokatenda digiring pada pilihan terakhir, sebelum mungkin dilupakan sama sekali kecuali untuk orang Maumere, Sikka. 

 Ketika daerah-daerah lain ditumpahi lagu-lagu bernuansa kedaerahan, menyatu padu dalam kebersamaan pesta rakyat Orang Flores, lagu musikalitas daerah Maumere, Sikka tenggelam oleh aliran musik populer berbau pop, rock, rap, ska, metal, dan reggae. Musisi dan pemusik Sikka benar-benar melahap reggae seperti musik daerahnya. Demikian juga pop, rock, rap, ska, dan metal berkembang sama cepatnya.

 Membersit juga kerinduan, kapan musikalitas kedaerahan orang Maumere, Sikka bisa mempengaruhi ragam tarian pesta rakyat di Flores seperti masa keemasan Rokatenda? 

 Banyak proyek percobaan yang sudah dilakukan musisi asal Maumere, Sikka. Karena telinga orang Maumere, Sikka sudah terbiasa dengan musik populer, musisi asal Maumere, Sikka menyusupkan syair dan lagu berbahasa daerah ke dalam genre musik populer tersebut. Begitu pun dengan lagu-lagu rakyat Maumere, Sikka. Diaransemen ulang sesuai genre musik populer, seperti pop rock, reggae. Selebihnya, lagu berbahasa daerah Maumere, Sikka didominasi oleh genre musik dangdut melayu, musik gambus, dan slow rock. 

 Dengan citarasa seperti ini, tidak ada ragam tarian bersama yang lahir dari dan untuk pesta rakyat di Maumere, Sikka. Pesta rakyat itu lebih banyak diisi dengan lagu daerah dengan sentuhan musik populer, lalu dangdut melayu dan gambus. Ragam tarian yang diperagakan kebanyakan berekspresi bebas. Tidak ada pola khusus, ragam khusus, apalagi yang dihasilkan dari aliterasi gerakan tarian adat menjadi tarian pesta rakyat. 

 Apakah gong waning dan hegong, soka bobu, toja bobu, gareng lameng, misalnya tidak mampu memberikan inspirasi bagi musisi dan pencipta kreasi tarian modern di Maumere, Sikka untuk menelurkan ragam tarian pesta rakyat? Sementara itu, gong waning sendiri mampu mengiringi berbagai jenis irama seperti Todu, Badu Blabat, Glebak, dan Leke. Mengapa tidak lahir irama musik rakyat dari varian gong waning ini?

 Gemu Fa Mi Re 
 Saya suka lagu ini sejak pertama berkenalan. Pertama, karena musik gong waning dan ketukan khas musikalitas orang Maumere, Sikka. Kedua, NF Mof dan Alfred Gare mengangkat syair dari warisan penulis anonim berdasarkan pelajaran membaca not (solmisasi) guru agama untuk murid-murid SD hingga SMA, juga mudika pada era 1970-an. 

 Di Ohe, Maumere pada era 1970-an itu, setiap siang atau saat pulang sekolah, murid-murid sekolah menyanyikan syair dari notasi angka tersebut. 

Demikian pun muda-mudi yang pulang latihan koor. Tidak lupa membungkus langkahnya dengan syair tersebut. Begini syair asli dari penggalan lagu Gemu Fa Mi Re itu dilafalkan: LA LELE LUK SI LA SOL/MI FA MI FA SOL, LELE TIDING FA FA, LELE KLEPIN MI MI/ MI DO MI DO PEMUK FA MI RE

. Tidak jelas memang, apakah syair itu adalah penggalan refrein atau justru keseluruhan lagu itu. Karena yang dinyanyikan saat itu dan kebanyakan diingat hingga kini adalah penggalan syair tersebut. 

 Tetapi itu tidaklah amat penting. Karena Ketiga, saya menjadi kagum karena gong waning dan Gemu Fa Mi Re ini justru digandrungi oleh hampir seluruh daratan Flores pada pesta rakyat orang Flores. Ketika gong waning itu dibunyikan sebagai intro dari lagu tersebut, kursi-kursi mulai ditinggalkan dan pesta rakyat Flores itu pun riuh rendah.

 Yang mengasyikkan adalah ragam tarian seperti nona-nona Maumere, Sikka lagi menari hegong, berputar ke kiri dan ke kanan. Betapa kuatnya pengaruh dari musikalitas Gemu Fa Mi Re tersebut hingga pesta rakyat Flores pun dibius dengan lenggak-lenggok putar ke kiri e…nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri, dan ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri manis e.. sekarang ke kanan e…nona manis putarlah ke kanan, ke kanan, ke kanan, ke kanan, dan ke kanan, ke kanan, ke kanan manis e… Mencatut ragam tari video klip lagu tersebut. Seperti Hegong. 

 Hegemoni Ja’i dan Ikimea pun sejenak terhenti. Kejadian ini mirip turnamen Seminari St Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko Cup, dalam rangka pesta intan 75 tahun pada 2005 lalu. 

 Persami Maumere sudah lama tidak punya nama di kancah turnamen sepak bola di Flores. Terjadi demikian, karena kesebelasan Pati Ahu, di Waigete, Maumere berhenti memproduksi pemain berkelas sejak ditinggal Bruder Otmar. Tetapi, ketika turnamen sepak bola mulai menjamur di kota beling ini, klub-klub sepak bola pun bermunculan. Lalu, pemain-pemain bertalenta, dengan postur pohon moke yang ramping bertumbuh di lapangan hijau. 

 Sangat mengejutkan, ketika Pelangi FC, Klub asal Maumere menohok penonton karena berhasil masuk final. Mereka berhadapan dengan Gladiator FC, Klub Kota Bajawa, yang favorit juara kala itu.

 Jika dibandingkan secara fisik, Pelangi FC kalah kelas. Sudah pasti adu fisik mereka kalah. Daud dan Goliat. Dari sisi historisitas dan skill, Pelangi FC pun berada di bawah rata-rata. Benar-benar underdog di hadapan Gladiator FC.

 Kejutan kembali terjadi. Klub asal Maumere itu pun menggondol piala karena berhasil menekuk Gladiator FC (2-1). Mereka tampil taktis dan efektif. Dua peluang gol berhasil dikonversi Edmon Ngata dan Cantona menjadi kemenangan. 

 Benar bahwa Gemu Fa Mi Re itu sebuah umpan terobos dari permainan efektif dan efisien. NF Mof dan Alfred Gare cerdas mengatur ritme permainan, dengan kombinasi musik populer dan tradisional, antara syair populer dan syair kedaerahan. 

 Inilah kekuatan Gemu Fa Mi Re, yaitu terletak pada kombinasi keinginan pasar dan alternatif musik untuk pesta rakyat Flores. Bahwa gong waning dan hegong telah dikonversi dari tarian adat menjadi tarian rakyat. Persis yang terjadi pada Ja’i dan Ikimea. 

 Namun, tetaplah Maumere, Sikka masih terbilang underdog untuk musikalitas yang mengusung pesta rakyat Flores. Gemu Fa Mi Re adalah fenomena. 

Jika dan hanya jika, spirit dan kesuksesan yang sudah ditularkan Gemu Fa Mi Re bisa memacu karya-karya musikalitas pesta rakyat ala Maumere, Sikka, fenomena itu akan menjadi fakta.

 Setelah Rokatenda adalah gong waning, atau yang lain. Selamat berkarya musisi dan kreator tarian ala Maumere, Sikka. Kami menanti umpan terobosan berikut.(Alexander Yopi)

Download Gemu Fa Mi Re Mp3 


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

WURING

Pernah ke Wuring? Wuring berada dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Alok Barat, Kota Maumere. Untuk mencapai desa nelayan yang berjarak sekitar 3 Km ini tak perlu risau. Aspal mulus membawa kita menikmati perjalanan hingga perkampungannya. Kampung Wuring merupakan daerah rawan tsunami. Masih melekat dalam bayangan tahun 1992, gempa yang disertai gelombang tsunami menghantam kawasan pesisir ini. Pemerintah kemudian merelokasi warganya kedataran yang lebih tinggi di  Nangahure. Namun sebagai keturunan pelaut, warga Wuring kemudian kembali kepemukiman dan tetap menetap didaerah ini seperti sediakala. Masyarakat Wuring merupakan keturunan etnis Tidung Bajao, salah satu etnis dari enam etnis di Kabupaten Sikka, Flores.

 Keturunan mereka berasal dari Sulawesi Selatan. Beratus tahun etnis ini telah menetap di sebagian wilayah pesisir utara Kabupaten Sikka. Mengunjungi desa ini, kesan pertama cukup menggoda ketika kita bercengkerama diantara ikan-ikan laut yang bertebaran di lokasi pasar harian. Berbagai macam jenis ikan bisa kita jumpai.


Mama-mama pedagang ikan dengan dengan telaten melayani pembeli yang sebagian berasal dari Kota Maumere. Keberadaan pasar dan aktivitas masyarakatnya dimulai sejak pagi hari dengan datangnya para nelayan yang mencari ikan di sekitar Laut Flores.

 Salah satu pemandangan unik di kampung ini adalah menyaksikan puluhan rumah khas suku bajao yang berdiri mengangkang pesisir laut Flores. Seolah-olah terlihat seperti rumah terapung. Barisan rumah ini berdiri kokoh dengan tiang-tiang penyangga menancap kuat di dasar pantai yang landai. Dibawah kolong rumah nampak sampah menumpuk, dengan baunya khas tidak seorang pun yang peduli. Kehidupan orang-orang di sekitarnya berjalan sebagaimana adanya. Tak ada perasaan takut dengan ancaman tsunami dgn kondisi pemukiman yang sebagian berada di laut.  

 Didaerah ini, terdapat satu pelabuhan kapal yang berada didalam teluk yang menjorok kedalam. Aktivitas pelabuhan ini cukup sibuk sebagai pelabuhan bongkar muat barang. Kapal-kapal motor berbadan kayu mayoritas menghuni pelabuhan, dengan aktivitas mengangkut hasil bumi dan bahan bangunan dari Maumere ke Makassar, Buton ataupun sebaliknya. 

Selain itu, didaerah pesisir ini pemandangan cukup indah. Pada umumnya suku bajo diwuring kebanyakan berprofesi sebagai Nelayan. Walaupun ada sebagian kecil suku bajo tersebut menjadi pedagang.  Aktivitas melaut  biasa dilakukan pada malam hari, dimulai pada jam 3 sore hingga pagi hari. 

 Selain ikan-ikan segar, Wuring juga terkenal sebagai daerah produksi ikan asin (ikan kering) dari jenis kerapuh hingga teri. Sejumlah warga Maumere, selalu menyempatkan waktu dihari libur untuk berbelanja ikan di daerah pinggiran ini. Sebagian melanjutkan perjalanan ke arah barat, menikmati pemandangan indah Kajuwulu dan Tanjung di pantura Flores. Tentu tak lupa menikmati gurihnya ikan bakar dan secangkir moke di pesisir nan elok.


foto utma: kembarabahari
foto halaman: dari berbagai sumber


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Kebiasaan Pesta Miskinkan Orang NTT

Mental dan perilaku serta kebiasaan pesta di NTT antara lain menyebabkan daerah itu tetap miskin dan terbelakang. Pesta itu berlangsung sepanjang malam dan siang hari dengan menghabiskan dana rata-rata Rp 50 juta per pesta. Direktur Yayasan Peduli Sesama NTT Isidorus Kopong Udak di Kupang, Senin (9/7/2012), mengatakan, meski biaya pesta dipinjam dari berbagai sumber, tetapi penyelenggara pesta tidak pernah merasa malu atau takut menyelenggarakan pesta. "Ada macam-macam pesta, mulai dari ulang tahun, syukuran rumah, cukur rambut, sambut baru (komuni pertama), wisuda, kumpul keluarga, tahbisan pastor, pesta panen, pesta bangun rumah, syukuran rumah baru, dan seterusnya," kata Udak. Setiap penyelenggaraan pesta menghadirkan antara 50-2.000 orang undangan. Masing masing tamu undangan dijamu dengan biaya Rp 40.000-Rp 70.000, tergantung status sosial penyelenggara pesta.

Menurut Udak, NTT masuk kategori provinsi termiskin di Indonesia, tetapi tidak ada upaya pemda setempat menekan kegiatan pesta. Pemda sendiri juga terlibat di dalam perilaku pesta itu.

 "Para pejabat yang anaknya sambut baru (komuni pertama), wisuda, dan lainnya menyelenggarakan pesta yang jauh lebih semarak dari warga biasa. Gengsi sosial sangat tinggi terkait penyelenggaraan pesta ini," kata Udak. 

 Ia mengatakan, sebaiknya ada perda untuk membatasi pesta, termasuk waktu penyelenggaraan, anggaran, jumlah tamu undangan, dan minuman keras pesta. Banyak anak sekolah terlibat di dalam kegiatan pesta itu sehingga melupakan belajar. Mereka berdansa dan menari sepanjang malam sambil mabuk-mabukan, hingga lupa belajar. 

 "Pesta ini masalah sosial yang mesti segera ditangani pemerintah, tokoh agama, dan aparat keamanan," kata Udak.(pos-kupang.com)
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---