Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Tuesday, 11 September 2012

Catatan Perjalanan Maumere

Tim Produksi Dokumenter Survivor Perempuan Flores
Hari itu panas, ketika pesawat kami mendarat di Maumere, pusat kota Kabupaten Sikka, Flores, di Nusa Tenggara Timur. Saya tiba bersama Kiki Febriyanti (sutradara) dan Sesarina Puspita (kameraperson). Sementara manajer produksi kami Nina Masjhur sudah di Maumere dua hari sebelumnya. Dalam pesawat kami lebih dari setengah penumpang adalah orang luar negeri yang berlibur di NTT. 
Maumere, kota tepi pantai, masih sama seperti ketika saya pertama mendarat di sana 10 tahun lalu untuk sebuah penelitian sosial. Ketika itu, saya merasakan penelitian lebih dari 1 tahun yang cukup intensif untuk mengetahui analisis dampak bantuan di Flores dan riset bagaimana masyarakat melakukan penyelesaian masalah.
Sekarang Maumere, bagian dari Kabupaten Sikka terlihat lebih ramai, dengan berbagai gedung baru bermunculan, seperti toko swalayan besar (belum sebesar Matahari di Jakarta), sebuah pasar baru, Pasar Alok, sebagai perluasan dari pasar tingkat di pusat kota yang sudah kurang layak. Di luar itu, hotel baru juga bermunculan dengan meningkatnya pariwisata. Penerbangan juga semakin banyak pilihan, walaupun belum sebanyak Kupang, ibukota propinsi NTT (di pulau Timor)
Tim PWAG Indonesia, melakukan shooting dokumenter perempuan survivor/penyintas bekerjasama dengan sebuah lembaga Tim Relawan Kemanusiaan Flores (TRUK-F) Divisi Perempuan, yang dikoordinatori oleh Sr.Eustochia, SsPS. TRUK-F sendiri adalah satu-satunya lembaga yang mendampingi korban kekerasan, baik itu survivor KDRT, kekerasan seksual maupun kekerasan lainnya. Didirikan pada 1995, TRUK-F memang diinisiatif berbagai tokoh, terutama tokoh agama, didukung oleh gereja Katolik di Flores.
Dalam produksi terbaru ini, kami meminta bantuan TRUK-F memilih dua survivor perempuan yang kasusnya sudah terjadi 3 tahun lalu, yang kemudian kami dokumentasikan kegiatan kesehariannya. Tujuan pembuatan dokumenter survivor perempuan ini adalah melihat bagaimana dampak kasus kekerasan terhadap survivor, keluarganya dan kegiatan seharinya. PWAG Indonesia juga tertarik untuk melihat cara penyelesaian kasus kekerasan, apakah ditangani secara hukum atau tidak, lalu bagaimana dampaknya bagi korban.
Kedua subyek yang akhirnya kami pilih adalah survivor kasus kekerasan seksual atau kasus perkosaan. Ada kontras dari kedua survivor yang kami pilih, masing-masing berbeda agama, berbeda penyelesaian kasus dan berbeda dalam menghadapi hidupnya. Kedua perbedaannya itu diharapkan menjadi inspirasi dan menggugah penonton untuk melihat dampak kekerasan terhadap perempuan dan kemudian apa saja kegiatan survivor paska-proses pemulihan.
Menurut TRUK-F, sampai saat ini mereka sudah mendampingi lebih dari 1000 kasus kekerasan terhadap perempuan, baik yang tercatat ataupun tidak. Menurut TRUK-F pada berbagai kasus kekerasan, banyak yang diselesaikan secara adat atau musyawarah. Banyak juga tidak terselesaikan sampai sekarang.
Pada saat tim PWAG Indonesia berkunjung kesana, kami disambut oleh tim dari TRUK-F, selain Suster Eustochia, ada staff TRUK-F, Henny Hungan, Osa atau lengkapnya Jozefina Dafroza Keytimu, Frater Eko Sylvester Manek-frater yang sedang magang dari Seminari Ledalero dan Pak Sesko atau Fransesko Bero sebagai pengacara yang mendampingi kasus-kasus kekerasan. Kami mendapatkan banyak penjelasan dari Henny dan Osa sebagai staf yang paling lama bekerja di TRUK-F untuk berbagai kasus, termasuk 2 subyek survivor dalam dokumenter yang kami buat.
Pada hari pertama shooting, kami melakukan perkenalan dengan kedua subyek dan meminta ijin pengambilan gambar di rumah atau sekitar tempat kegiatan dari subyek. Satu subyek kami mengajar di TK atau PAUD. Dan satu subyek kami bekerja di kios pamannya dan mengamen di warung-warung. Sangat menarik mengetahui bahwa kedua subyek kami yang masih sangat muda, memiliki impian dan cita-cita untuk masa depannya. Pada awalnya masih agak ragu-ragu dan malu, tetapi sesudah hari kedua dan ketiga, kedua subyek lebih relax dalam menghadapi tim kami, sebagai orang baru yang masuk dalam kehidupan mereka.
Sampai hari shooting terakhir, semua shooting kegiatan dua subyek dari pagi sampai malam, berjalan lancar. Hanya ada hambatan kecil seperti masalah kesehatan yang kadang mengganggu, imsonia, sambal yang lumayan dasyat, jadwal subyek yang harus disesuaikan atau mengikuti mood dan gerak kehidupan Maumere yang sangat pelan. Di Maumere, pada jam 14.00 – 16.00 WITA, seluruh kota biasanya tidur siang, yang biasa disebut siesta dalam kebudayaan orang Portugis. Kebanyakan toko atau kantor tutup pada jam ini atau orang pulang ke rumah untuk istirahat. Seluruh tim PWAG Indonesia juga harus mengikuti jadwal ini, agar narasumber/subyek yang diikuti juga bisa beristirahat. Sangat jarang kami mengambil gambar diantara jam ini,untuk menghormati jadwal siesta ini.
Kenapa ada jadwal siesta? Flores yang pernah dijajah oleh Portugis, memang menyisakan kultur atau kebiasaan Portugis baik dalam ritual keseharian, nama-nama, maupun Bahasa yang sudah bercampur dengan Melayu Kupang atau Melayu Flores. Di Kabupaten Sikka, bahasa asli mereka adalah bahasa Sikka atau Krowe, yang juga memiliki banyak pengaruh dari berbagai bahasa, bahkan Bahasa Jawa, yang mungkin datang dari pedagang Jawa yang berlayar ke Flores. Karena portugis juga, maka nama-nama jalan atau tempat di Flores juga bernuansa Portugis, seperti Don Thomas dan lainnya. Beberapa raja di Sikka bernamakan nama POrtugis seperti Raja Don Andreas Jati Ximenes Da Silva (tahun 1871an) atau Raja Don Thomas (tahun 1940-an).
Kembali kepada soal kekerasan terhadap perempuan, di shelter TRUK-F, sebuah bangunan untuk para survivor berlindung, ada sekitar 5 orang survivor disana. 4 di antaranya adalah remaja berusia antara 13 -15 tahun. Mereka adalah survivor kasus perkosaan oleh ayah kandung dan memiliki bayi. Satu diantaranya masih dalam keadaan hamil. Tim PWAG Indonesia sempat berbicara dengan koordinator shelter Agnes, yang menjadi koordinator/disebut mama shelter, disana dan membantu mengkoordinasi shelter.
Kondisi para remaja ini cukup baik, walaupun agak sulit membimbing mereka, selain counseling, juga bagaimana merawat bayi di usia sangat muda. Tentu saja memandang mereka, terutama satu anak perempuan, berumur 13 tahun, saya jadi terbayang anak saya Amartya Kejora yang berusia 12 tahun, cuma beda satu tahun dengannya. Bagaimana nasib dan masa depan mereka? Kerja keras TRUK-F memang sangat diperlukan terus menerus, tapi dengan derasnya kasus dan minimnya infrastruktur, seberapa banyak kah lembaga seperti TRUK-F bisa terus mensupport pendampingan bahkan menampung survivor dengan biaya yang tidak sedikit.
Tim PWAG Indonesia, terutama Nina Masjhur, mengajak anak-anak di shelter untuk belajar membuat origami, atau aktifitas melipat kertas yang bisa dijadikan hiasan dinding atau hiasan jendela. Kemudian juga kegiatan merangkai manik-manik sebagai modal awal pemberdayaan remaja perempuan di shelter TRUK-F, sekaligus menstimulasi survivior untuk beraktifitas positif , seni dan disain, dalam penantian kasus mereka, pendampingan, pemulihan dan penyelesaian masalahnya.
Di luar itu semua, kami sangat menghargai semua bantuan dan dukungan penuh dari crew TRUK-F yang selalu membantu kami, Henny, Osa, Fr Eko, Fr Ence, Agnes di shelter, para anak-anak remaja di shelter yang begitu hangat menyambut kami. Semua kerja keras kami tidak sebanding dengan kerja keras teman-teman di TRUK-F dan shelter yang lebih dari 15 tahun mendampingi korban dengan konsisten dalam segala keterbatasannya. Salut dari kami terus menerus. Kami belajar dari perjalanan kami disana yang mungkin singkat saja, tapi membekas sampai sekarang kemanapun kami akan pergi.
Film dokumenter produksi PWAG Indonesia ini akan memasuki tahap editing dan post-production lengkap pada September –Oktober 2012. Diharapkan akhir tahun bisa selesai. Kami juga berharap bisa launching ke Maumere atau Kupang bersama para pajabat publik untuk meningkatkan dukungan pemerintah bagi support terhadap institusi seperti TRUK-F maupun awareness raising bagi kampanye penghapusan kekerasan terhadap permepuan.
Bagi yang berminat memberikan bantuan apapun untuk kegiatan pendampingan konseling dan pemulihan survivor perempuan di Maumere, Flores, bisa bergabung di Facebook Group Tim Relawan Kemanusiaan Flores, atau kontak kepada kami tim PWAGIndonesia, untuk berkoordinasi. Bantuan apapun tentunya akan berguna dan bermanfaat buat teman-teman di TRUK-F.(http://pwagindonesia.tumblr.com)

Olin Monteiro
Produser Film Dokumenter Survivor Perempuan Flores
Koordinator Nasional PWAG Indonesia
Selengkapnya...

Monday, 10 September 2012

Dititip di 'Rumah Tinggi' (2)

75 Tahun Seminari Tinggi Ledalero

PADA tahun 1932, angkatan pertama seminari telah menyelesaikan pendidikan menengahnya. Bagaimana selanjutnya? Gedung khusus belum ada. Maka mereka pun dititipkan di rumah yang baru selesai dibangun untuk para misionaris SVD di Mataloko, sebuah rumah bertingkat yang karena itu disebut "Rumah Tinggi" Namun, pertanyaan paling mendasar adalah: apakah para lulusan itu menjadi calon imam praja/diosesan atau SVD? P. Cornelissen mengajukan gagasan: sebaiknya orang-orang pertama dari Nusa Tenggara ini diterima sebagai calon imam SVD. Alasannya, waktu itu semua imam yang bekerja di wilayah ini adalah anggota SVD. Agar lebih tampak persamaan antara imam-imam pribumi dan SVD, maka orang-orang pertama ini diterima sebagai calon imam SVD. Perbedaan pribumi dan Barat tidak diperbesar lagi dengan perbedaan imam praja dan religius. Maka, setelah setahun menanti, tujuh orang angkatan pertama novis SVD diterima secara resmi dan memulai masa novisiatnya pada tanggal 16 Oktober 1933.


Enam orang dari angkatan ini kemudian mengikrarkan kaul pertama pada tanggal 17 Januari 1936. Saat itu mereka sudah cukup maju dalam studi, yang telah dimulainya pada tahun 1932. P. Cornelissen, yang mendampingi para calon ini sejak seminari menengah, mempunyai rasa bahagia dan bangga tersendiri.
Karena para frater hanya dititipkan di "Rumah Tinggi" di Mataloko, maka sejak tahun 1935 mulai dicari tempat baru untuk sebagai seminari tinggi. PJ Bouma yang saat itu menjadi pemimpin tertinggi SVD di wilayah ini, dibantu oleh PH Hermens dan PA Visser mempertimbangkan beberapa kemungkinan. Lembah Hokeng menjadi salah satu alternatif yang cukup kuat. Namun, kecemasan akan malaria menjadi alasan utama untuk mundur dari kemungkinan itu.

Akhirnya, dengan persetujuan Raja Don Thomas Ximenes da Silva, ditetapkanlah Ledalero sebagai tempat bagi seminari tinggi SVD. Ledalero, tempat sandar matahari ini memang tempat ideal untuk sebuah  seminari tinggi, karna letaknya tidak jauh dari beberapa paroki besar seperti Nita dan Koting, lagi pula cukup dekat dengan kota pelabuhan Maumere. Maka, pada tahun 1936 pembangunan beberapa gedung penting pun dimulai. 

Setelah mengeluarkan keputusan pendirian Seminari Tinggi Ledalero pada tanggal 20 Mei 1937, pada tanggal 3 Juni, pemimpin tertinggi SVD memindahkan novisiat dari Todabelu-Mataloko ke Ledalero, setelah mendapat persetujuan dari Vatikan dua hari sebelumnya. Dengan ini, seminari tinggi Ledalero sudah dapat dihuni secara resmi.
Rombongan pertama yang tiba di Ledalero adalah dua novis, yakni Lukas Lusi dan Niko Meak, didampingi pemimpin novisiat P. Jac. Koemeester. Lukas Lusi kemudian menarik diri dari SVD dan menjadi imam praja Keuskupan Agung Ende. Niko Meak kemudian meninggal dunia pada tanggal 30 November 1938 sebagai frater.
Tidak lama berselang, rombongan para frater yang telah studi pun tiba. Di antaranya Gabriel Manek dan Karolus Kale Bale, yang kemudian ditahbiskan sebagai dua imam pribumi pertama SVD Indonesia pada tanggal  28 Januari 1941.
Saat rombongan para novis dan frater tiba untuk pertama kalinya di Ledalero, mereka disambut umat Nita dengan ucapan dalam bahasa Sikka: "He miu ata novisen mole ata frater, mai baa deri ei Ledalero" yang artinya: hai para novis dan frater, datanglah dan tinggallah di Ledalero. Pada saat awal itu, jumlah calon imam sebanyak 16 orang: 5 orang frater mahasiswa teologi, 5 orang frater mahasiswa filsafat, dan 6 orang novis. 
Ungkapan orang Nita di atas menunjukkan bahwa pendidikan calon imam dan biarawan didukung sepenuhnya oleh umat. Umat menerima mereka dengan tangan terbuka untuk mengambil bagian dalam hidup mereka, mengalami jatuh bangun perjuangan hidup dan kegembiraan serta kebahagiaan. 

Para biarawan calon imam tidak melayang di atas angin, tetapi mesti berakar dalam kehidupan umat. Seminari, tempat persemaian panggilan untuk menjadi imam dan biarawan bukan pertama-tama rumah yang dibangun megah dengan aturan yang ketat, tetapi kehidupan umat di gubuk-gubuk sederhana yang mengenal matahari sebagai satu-satunya jaminan ketetapan ritme hidup. Jika rumah yang megah menumpulkan kepekaan para biarawan dan calon imam untuk menangkap kegelisahan umat, dan ketatnya aturan mengeraskan hati mereka untuk menanggapi persoalan masyarakat, maka seminari sebenarnya gagal menjalankan perannya. 
Berkat keramahan dan keterbukaan umat untuk selalu membumikan panggilan para biarawan dan calon imam, maka Ledalero, kendati harus menghadapi banyak tantangan dan masalah, tetap menjadi rahim yang menghasilkan imam, misionaris biarawan SVD yang diutus ke berbagai bangsa dan barisan panjang para awam yang berkiprah pada beragam bidang kehidupan. Pada tahun 1939 Ledalero mencatat 19 calon imam SVD.
Menurut catatan Karel Steenbrink dalam bukunya Orang-Orang Katolik di Indonesia, Jilid II, 1903-1942, dari 176 siswa di seminari menengah yang memulai pendidikannya antara tahun 1926-1936, hanya 29 orang atau 16% menjadi yang ditahbiskan imam. Kini, pada saat merayakan pesta 75 tahun, seminari ini telah menghitung lebih dari 893 imam SVD sebagai alumninya, di antaranya 10 orang uskup. Sebagian yang lainnya ditahbiskan sebagai imam dalam beberapa tarekat religius lain atau imam praja dari sejumlah keuskupan. Lebih dari separuh alumni adalah awam.

Tiga Periode Penting Seminari ini telah melewati tiga periode penting dalam sejarahnya. Periode pertama dapat disebut sebagai periode Seminari Belanda, yakni dari awal berdiri sampai akhir tahun 1950-an.
Kenapa disebut demikian? Karena kebanyakan staf dosennya adalah misionaris berkebangsaan Belanda dan bahasa pengantar di komunitas adalah bahasa Belanda. Dalam perkuliahan digunakan bahasa Latin.  Para frater harus mengenakan jubah pada hampir setiap saat.

Disiplin dan kerja keras menjadi kata kunci. Tetapi juga kedekatan dengan umat sangat diperhatikan baik oleh para dosen pun para frater. Generasi yang dihasilkan dari periode dapat dilukiskan dengan kata-kata yang digunakan P. Anton Pernia dalam suratnya mengenang alm. Mgr. Donatus Djagom, SVD.  "Gerenasi pertama SVD dari Indonesia dan Asia yang cerdas, tangguh, sedikit individualis, memiliki karakter kepemimpinan yang kuat. Cerdas, serta memiliki komitmen religius yang kuat. (Paul Budi Kleden/bersambung)(http://kupang.tribunnews.com/2012/09/07/dititip-di-rumah-tinggi-2)
Selengkapnya...

Ledalero Mulanya Bukit Angker (1)

Tanggal 20 Mei tahun ini Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, seminari tinggi terbesar SVD sejagad dan salah satu seminari tinggi terbesar dalam Gereja Katolik di dunia, merayakan ulang tahunnya yang ke-75. Perayaan syukur untuk peristiwa penting ini dilaksanakan bulan September ini. Inilah nukilan sejarahnya.
LEDALERO, mulanya adalah sebuah bukit yang dianggap angker oleh penduduk, dijauhi karena dipandang menjadi hunian roh-roh yang mudah tersinggung. Kini, bukit ini memiliki daya tarik yang mengundang perhatian banyak pihak, pemerintah dan masyarakat Indonesia, dan para anggota SVD dan sahabat-sahabat mereka di berbagai negara. 
Karena ribuan alumninya yang tersebar di berbagai tempat sebagai imam misionaris dan awam yang berkiprah di berbagai bidang, karena gagasan-gagasan yang disumbangkan dari bukit ini untuk Gereja dan bangsa Indonesia, Ledalero bukan lagi sebuah tempat terpencil dan tertutup. Semuanya ini bermula 75 tahun yang lalu. Apa yang terjadi waktu itu?


Pada tanggal 20 Mei 1937 Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero secara resmi/kanonis didirikan. Pada hari itu, P. Wilhem Gier, pemimpin tertinggi Serikat Sabda Allah (SVD) saat itu, mengeluarkan keputusan untuk mendirikan sebuah rumah pendidikan para calon imam, biarawan misionaris SVD di Ledalero. 

Keputusan itu dibuat berdasarkan izin yang diberikan oleh Vatikan pada tanggal 5 Mei 1937. Keputusan mendirikan seminari tinggi Ledalero dimotivasi terutama oleh ensiklik Maximum Illud dari Paus Benedictus XV pada tahun 1919. Ensiklik ini diterbitkan setahun setelah berakhirnya Perang Dunia I. 

Menurut P. Frans Cornelissen yang sangat berjasa dalam pendidikan para calon imam di Nusa Tenggara, aktor intelektual di balik ensiklik ini adalah pemimpin Kongregasi Propaganda Fide saat itu, Kardinal Willem van Rossum CSSR. 

Gereja Katolik yang waktu itu semata-mata mengandalkan para misionarisnya dari Barat, harus mengalami kenyataan bahwa perubahan situasi politik tiba-tiba dapat mempersulit pengiriman para misionaris ke berbagai tempat di dunia. 

Sebab itu, Paus mendorong secara serius perekrutan tenaga imam dan biarawan dari wilayah-wilayah misi. Di Indonesia, terobosan yang lebih berani ke arah pendidikan para calon imam pribumi dilakukan para Yesuit di Jawa. 

Dua orang dari angkatan pertama sekolah pendidikan guru di Muntilan, Jawa Tengah, menamatkan pendidikan gurunya pada tahun 1911 dan melamar untuk menjadi imam. Hanya seorang yang kemudian meneruskan pendidikannya mulai tahun 1914 di Belanda dan ditahbiskan imam tahun 1926. Pada tanggal 16 Juli 1915 Petrus Darmaseputra dan Fransiscus Satiman diterima menjadi novis Yesuit di Belanda. 

Pada tahun 1923 para Suster Fransiskanes dari Heythuisen membuka novisiat mereka. Itu berarti empat abad setelah terjadinya penyebaran agama Katolik secara sistematis dan berkesinambungan, barulah putera-puteri Indonesia dianggap pantas menjadi imam dan biarawan/ti. 

Dibutuhkan waktu sekian lama, bukan karena tidak ada orang Indonesia berniat menggabungkan diri, tetapi karena orang masih menganut pandangan bahwa orang Indonesia asli tidak memiliki bakat untuk menjalani kehidupan seperti ini. 

Tanggapan atas Maximum Illud di Nusa Tenggara diberikan oleh Mgr. Arnold Verstraelen yang menugaskan P. Frans Cornelissen untuk memulai sebuah seminari menengah. Menurut Mgr. Verstraelen, Vikariat Sunda Kecil yang pada waktu itu telah memiliki lebih dari 100.000 orang Katolik, sudah perlu mempunyai sebuah seminari. 

 Menurut pengakuan P. Cornelissen, Mgr. Verstraelen memberikan penugasan kepadanya untuk mendirikan seminari seminggu setelah dia tiba bersama tiga rekan dan tiga bruder SVD di Ende. Mulanya dia hanya disuruh ke Sikka atau Lela. 

Kemudian Uskup katakan, "Sudah ada begitu banyak orang Katolik di sini. Dan ada juga ensiklik Bapa Suci yang mengajak para uskup misi untuk membuka seminari. Sudah ada juga beberapa orang muda yang telah menyampaikan maksudnya akan menjadi imam. Maka kami berpendapat: Pater bisa mulai dengan seminari itu". 

Frans Cornelissen memang memiliki ijazah sebagai guru, dan sebelum berangkat ke Indonesia sudah diingatkan oleh Pater J. Bouma yang menjadi rektor rumah misi Uden, bahwa sangat mungkin dia akan ditugaskan untuk menjadi penilik sekolah. Namun, dia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya yang baru saja tiba di Flores langsung diberi kepercayaan untuk memulai satu tugas yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya. 

Uskup Verstraelen memang mempunyai visi tentang Gereja Nusa Tenggara yang turut dipimpin oleh tenaga imam pribumi. Namun, dia tidak mempunyai gambaran yang sangat jelas mengenai bagaimana program pembinaan para calon pribumi itu harus dilaksanakan. 

 Kepada P. Cornelissen dia katakan, "Sudah pasti harus diberikan Latin, bahasa Belanda dan Agama. Di samping itu bileh putuskan sendiri apa saja yang perlu dan berguna. Engkau seorang guru, maka lebih tahu dari saya mana yang perlu." 

 Berbekalkan kepercataan itu, Frans Cornelissen memulai seminari pertama di Nusa Tenggara. Ide besar dengan dampak sejarah yang panjang ternyata tidak dimulai dengan membangun fasilitas serba lengkap. Orang tidak mulai dengan bangunan dan fasilitas lain. Orang mulai dengan manusia. 

 Sejarah seminari di Nusa Tenggara bermula pada tanggal 2 Februari tahun 1926 dengan menggunakan pendopo pastoran Lela sebagai ruang kelas. P. Cornelissen mendampingi 6 siswa pertama wilayah di Flores dan Timor. Tiga setengah tahun kemudian, pada tanggal 15 September 1929, seminari ini dipindahkan untuk menempati rumah yang dirancang dan dibangun khusus untuk tujuan itu, yakni di Todabelu-Mataloko. 

 Frans Cornelissen adalah tokoh pendidikan, yang mempunyai prestasi besar bagi perkembangan pendidikan pada umumnya di Flores, secara khusus pendidikan para calon imam. Dia harus menghadapi banyak tantangan. Misalnya, pandangan sejumlah misionaris tentang ketaklayakan orang-orang pribumi untuk menjadi imam, dan dengan demikian menjadi pemimpin dalam Gereja Katolik; persoalan pembiayaan untuk lembaga pendidikan; bahasa Melayu yang masih kurang dipahami oleh P. Cornelissen sendiri sebagai syarat untuk dapat mendampingi secara efektif para seminaris. 

Kendati terdapat sejumlah tantangan, pendidikam seminari tetap dijalankan. (Paul Budi Kleden/bersambung)(pos-kupang.com)
Selengkapnya...

Sunday, 26 August 2012

Sikka Bergetar #3

.

Nilai-nilai punk dalam prakteknya berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa survive, menjalin kebersamaan, saling peduli satu sama lain dan tetap mengunggulkan rasa dan kebebasan bertanggung jawab. Sabtu 25 Agustus 2012, Aula SMK Yohanes 23 Maumere diguncang perang. Yeah, perang musik yang menghadirkan belasan band punk sekota debu dengan dandanan serba hitam dipadu berbagai asesoris dan musik keras tanpa akhir. Aula yang biasa nampak tenang kali ini disulap komunitas punks Sikka dalam sebuah performa yang telah memasuki tahun ke-tiga, "Sikka Bergetar #3". Pegelaran berlangsung aman, damai dan penuh rasa persadudaraan
.
Total Alarm, band punk senior tetap hadir meski tanpa personil lengkap. AGus Total Alarm, masih sangar diatas panggung. Bakot dan The Waukers, Delta, scan Perumnas, TM Destroyer, Botol Pecah, Delta, Stay Riot,  The Waukers, Garis Miring, Nirwana, Harbabiruk, Band Bangke, Chemomost, Jet Coaster, Berisik yang tetap kencang dalam satu irama. Musisi-musisi Sikka yang toleran akan kebebasan dan kemanusiaan, yang hadir diantara sayatan kemerdekaan oleh berbagai kasus yang mendera rasa keadilan dinegeri ini.

Komunitas Punk Sikka, berada dalam barisan Forkam Sikka alias Forum Kaum Termarjinal. Hingga sekarang, komunitas punk dan band punk di Maumere lumayan banyak. Eksisntesi kehadiran mereka terlihat dalam panggung musik seperti Sikka Bergetar yang telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Parade band punk biasa didahului pameran dan penjualan merchandise, hasil kreasi mereka sendiri.

 Sikka Bergetar #3, memang telah menggetarkan Sikka. Tiga tahun berturut-turut. Getarannya seperti mencolek, mencubit, memukul genderang hati bahkan mungkin menohok ketidakadilan yang ditemui di kota nyiur melambai. Eksitensinya tak pernah mati.
Sejauh ini para Punker memiliki kebanggaan dan ciri khas penampilan. Mereka tetap bertahan walau orang-orang sekitar selalu berpandangan negatif. Itu adalah suatu bentuk perlawanan terhadap pikiran-pikiran yang sudah dimapankan yang menganggap negatif karena melihat penampilan berbeda, menyimpang dan diluar kelaziman. Selain parade band punk, kemeriahan Sikka Bergetar #3 juga diisi band reggae dan metal dead. Barandalan Kupang, band punk asal Kota Kupang turut hadir dalam kebersamaan di Sikka Bergetar #3.

Galeri Foto Sikka Bergetar #3
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 20 August 2012

Karnaval Kemerdekaan 67

Tetap Monoton

Sejak siang hari, Lapangan Umum Kota Baru Maumere berubah.  warna warni dan pernak pernik bertaburan menghiasi segala sudut. Tidak salah lagi, kemerdekaan Indonesia yang kini berusia 67 tahun sedang dirayakan. Dilapangan, para guru dan orang tua setia mendampingi anak-anak. Para remaja asik bercanda satu sama lain. Dan para penonton bersorak menyemangati. Lapangan meluap. Tak sejengkal tersisa oleh kehadiran peserta. Tak ketinggalan berbagai macam bidikan kamera menerpa peserta yang berdandan dengan berbagai kostum dan gaya. Kelelahan menunggu giliran pawai sesuai nomor urut tak menyurutkan semangat putra putri Maumere.

Dengan sabar dan penuh ceria, peserta yang didominasi pelajar SD hingga SLTA meninggalkan lapangan dan beranjak menyusuri rute yang telah disiapkan panitia. Penonton membludak. Petugas lapangan dari Dishubkominfo dan panitia sibuk mengatur agar jalannya karnaval tak terganggu. Semetara itu, lalulintas dibeberapa tempat macet. Pawai karnaval kemerdekaan menjadi pusat kegiatan dan konsentrasi masyarakat di hari Sabtu (18/8) menjadi atraksi hiburan yang paling ditunggu.

Rute yang disiapkan pantia kali ini sedikit berbeda. Biasanya setiap tahun kegiatan ini dimulai dan berakhir ditempat yang sama, yakni Jalan Ahmad Yani Maumere. Namun tahun ini berubah. Start yang biasanya dimulai dari Lapangan Umum Kota Baru, Jalan Ahmad Yani berakhir di Jalan Eltari, tepatnya didepan Rujab Bupati Sikka. Wakil Bupati Sikka Wera Damianus yang didampingi sejumlah pejabat, melepas peserta pawai yang dimulai dengan kirab bendera merah putih oleh murid-murid dari SMKN Bina Maritim. Karnaval yang berakhir di Jalan Eltari diterima Bupati Sosimus Mitang dan pejabat lainnya. 


Semaraknya karnaval semakib bertambah dengan kehadiran barongsasi yang didatangkan dari Makasar. Bernama GX Lioan Dancer, pertunjukan barongsai menjadi salah satu pusat perhatian selain Tarian Tua Reta Lo'u dari murid SD Inpres Nangameting, Perwakas ataupun parade pakian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Para pelajar yang ikut serta tak hanya dari dalam kota, beberapa sekolah dari beberapa kecamatan seperti Paga, Lela, Talibura dan lainnya turut serta memeriahkan karnaval. Salut buat adik-adik. Kalian Hebat!!


Rute Karnaval: Lap. Kota BAru, Perempatan Tatangkan dK.Panti Rini, Jl.R.A Kartini, Pertigaan Wairbubuk, Jalan Hasanudin Beru, Pertokoan, Kabor, Stadion Samador, Pertigaan PLN Maumere, Pertigaan Pariwisata t; Pertigaan Eltari, Jalan Eltari, Finish depan Rujab Bupati Sikka.




Sayangnya, karnaval tahun ini masih sama dengan tahun-tahun terakhir, masih monoton dengan parade drum band, pakaian adat dan barisan profesi, nge-band di mobil dll. Beda dengan karnaval jadul, ketika itu semua terlibat, dari masyarakat umum, kelurahan hingga badan  dan dinas pemerintah,  karnaval yang salah satunya menunjukan keberhasilan dalam pembangunan .! 

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Melchias Mekeng Minta Maaf

Melchias Markus Mekeng mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI dan meminta maaf kepada semua pihak atas kekurangan dan ketidaksempurnaannya selama memangku jabatan itu. Permintaan maaf Mekeng disampaikan dalam siaran persnya kepada Pos Kupang, Kamis (16/8/2012). Mekeng menjelaskan, pengunduran dirinya sebagai ketua dan anggota Banggar DPR RI telah disampaikan lisan kepada pimpinan Fraksi Partai Golkar DPR RI sejak April 2012 atau setelah penetapan APBN-P 2012. DPP Golkar dan Fraksi Golkar di DPR RI, lanjut Mekeng, sudah menanggapi usulan pengunduran dirinya. Mekeng menyebut tiga alasan mengapa mengundurkan diri. Pertama, dengan penuh kesadaran berkeinginan untuk merespons suara publik secara serius mengenai 'konflik interest' jabatan sebagai Ketua Banggar DPR RI dan Wakil Bendahara Umum DPP Partai Golkar.

Kedua, supaya memiliki cukup banyak waktu untuk melakukan kunjungan dan karya nyata bersama rakyat di daerah pemilihan (Dapil NTT-1). Ketiga, bisa lebih berkonsentrasi menyelesaikan studi S2 yang sampai saat ini belum selesai. "Akhirnya saya harus jujur meminta maaf kepada semua pihak atas segala kekurangan, ketidaksempurnaan dan segala tutur kata serta tindakan yang kurang berkenan di hati. Yakinlah semuanya itu semata-mata demi cita-cita besar kita Indonesia Raya," kata Mekeng. 

Mekeng optimistis di tengah 'badai’ yang mengguncang Banggar DPR RI selama ini telah banyak perubahan di lembaga itu. 

"Semoga pembenahan demi pembenahan yang telah dilakukan selama ini dapat ditingkatkan untuk mencapai pembahasan APBN yang lebih bermanfaat bagi rakyat," ujar Mekeng.  

Mekeng menyampaikan terima kasih kepada Partai Golkar yang telah memberi kepercayaan kepadanya untuk memimpin Banggar DPR RI. Kepada seluruh masyarakat di Dapil NTT 1 yang telah mendukung sehingga dirinya sanggup melaksanakan tugas sebagai ketua dan anggota Banggar DPR RI selama ini. (pos-kupang.com/)
Selengkapnya...

Friday, 17 August 2012

Detik-Detik Proklamasi Ke-67 di Maumere

83 Warga Binaan dapat Remisi
Seperti pula dikota-kota lainnya di Indonesia, di Maumere peringatan Detik-detik Proklamasi berjalan khidmat. Apel Peringatan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-67 berlangsung di Lapangan Kota Baru Maumere. Bupati Sikka Sosimus Mitang bertindk sebagai Inspektur Upacara. Apel yang berlangsung sejak pukul 08.00 Wita diikuti sejumlah pelajar, PNS, Polisi dan peserta lainnya serta masyarakat umum. Pasukan pengibar merah putih tampil gagah, rapi dan mengundang decak kagum. Ketekunan mereka berlatih mempersiapkan diri membuahkan hasil yang memuaskan. Para pengibar bendera dari sejumlah murid terpilih di berbagai SLTA di Maumere bersama anggota TNI dan Polisi mengibarkan bendera dalam apel kemerdekaan bertema "Dengan Semangat 17 Agustus 1945, Kita Bekerja Keras Untuk Kemajuan Bersama, Kita Tingkatkan Pemerataan Hasil-Hasil Pembangunan Untuk Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia" .

Naskah Proklamasi dibacakan Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga dilanjutkan dengan mengheningkan cipta yang dipimpin Inspektur Upacara. Bertindak sebagai Komandan Upacara adalah Iptu (Pol) Amirul Hakim.

Sebagai pembawa baki bendera tahun ini dipercayakan pada Rosita Paskalia Dewi Ayu asal SMAN I dalam barisan bersama anggota paskibraka, TNI dan Polisi. Tiga putra paskibraka yang terpilih mengibarkan sang saka adalah Yohanes Viney dari SMAK Bhaktiyarsa, Muhamad Darwin, SMKN Bina Maritim dan Stefanus Koda Adejon dari SMAN 1. 

Bupati Sosimus Mitang dalam pidato yang dibacakan, menegaskan agar semangat pejuang yang gigih, ulet tanpa pamrih dan rela berkorban untuk memperjuangkan kemerdekaan tetap menjadi cermin dimasa sekarang untuk bekerja keras dengan hati nurani guna mencapai kemajuan bersama yang adil dan merata bagi masyarakat. 

Usai pengibaran bendera, kelompok barongsai asal Makasar, GX Lion Dancer yang sengaja didatangkan ke Maumere melakukan atraksi hiburan dihadapan pejabat, peserta apel dan masyarakat umum. Kehadiran pertama kalinya barongsai di Maumere dalam sebuah acara menarik perhatian dan tepuk tangan. Selain barongsai, atraksi drumband dari SMAK St Gabriel dan paduan suara dari SMAK Yohanes 23 Maumere mewarnai jalannya peringatan kemerdekaan. 

Dengan kehadiran barongsai bersama atraksi drumband, perayaan kemerdekaan kali terasa berbeda dan semakin menarik. 

83 Warga Binaan dapat Remisi
Sebanyak 83 Warga Binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Maumere mendapat remisi (pengurangan masa tahanan). Penyerahan remisi secara simbolis dilakukan Wabup Sikka Wera Damianus dalam upacara di Rutan Maumere. Dari 83 warga binaan, 3 orang langsung bebas sedangkan 80 lainnya mendapat remisi anatara 1 sampai 6 bulan. 

 Rutan Maumere saat ini dihuni 151 Warga Binaan dari berbagai macam kasus.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---