Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Sunday, 11 November 2012

50 Ibu Rumah Tangga Penderita HIV/Aids di Sikka

Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kabupaten Sikka yang terdeteksi menderita penyakit HIV/AIDS cukup tinggi. Data yang ada dari 263 orang penderita HIV/Aids di Kabupaten Sikka, terdapat 50 orang IRT tertular penyakit maut ini, dibandingkan dengan kelompok Pekerja Seks Komersial (PSK) yang kasusnya berjumlah 15 orang. Jumlah IRT penderita penyakit ini, dibawah satu tingkat dari kategori swasta yang teridentifikasi paling tinggi sebanyak 63 orang pengidap. Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kabupaten Sikka, Yan Siga kepada Pos Kupang di Maumere, Rabu (7/11/2012) menjelaskan, data perkembangan penyakit HIV/Aids di Kabupaten Sikka sampai bulan September 2012 berjumlah 263 penderita. Jumlah ini terdiri dari HIV sebanyak 75 penderita, dan Aids sebanyak 188 kasus. Siga melanjutkan, dari total penderita -kasus tersebut sebanyak 105 orang telah meninggal, sedangkan yang masih hidup sebanyak 158 orang.

Menurut Siga, total penderita HIV/Aids itu tersebar hampir disemua wilayah di Kabupaten Sikka. Siga merincikan, kecamatan Alok lah memiliki jumlah kasus tertinggi atau ada 30 kasus, kemudian disusul Kecamatan Nita sebanyak 28 kasus, selanjutnya Kecamatan Alok Barat dan Kewapante yang masing-masing. Ada 25 kasus dan diikuti Kecamatan Alok Timur sebanyak 23 kasus. Kecamatan lainnya, berkisar belasan hingga 1 kasus. Sementara yang belum ada laporan dari Mapitara.
"Itu di lihat dari wilayah, sedangkan jenis kelamin, yaitu penderita laki-laki lebih banyak. Laki-laki ada 174 orang dan perempuan 89 orang. Kalau dari segi usia dibawah 1 tahun ada 5 orang, umur 1-14 tahun ada 7 orang, umur 15-19 tahun ada 3 orang, umur 20-24 tahun ada 27 orang, umur 25-49 tahun ada 211 orang, dan usia di atas 50 tahun ada 10 orang,"tambah Siga.
Untuk kategori pekerjaan, Siga menyebutkan, selain swasta dan IRT yang paling tinggi, juga ada petani sebanyak 30 orang, buruh 26 orang, sopir 19 orang, Pekerja Seks Komersial (PSK) ada 15 orang, kategori PNS/TNI/Polri ada 3 orang, Ojek 6 orang, Waria 6 orang.
Menurut Siga, untuk kasus yang dialami IRT ini, biasanya terkenah dari pasangan seksnya.
Siga menjelaskan, Penanggulangan selama ini yang dilakukan oleh pihaknya, lebih banyak menggunakan pendekatan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi). Hal ini untuk membuka cakrawala masyarakat mengenai penyakit tersebut.
Siga menandaskan, pihaknya gencar melakukan penyuluhan kepada kelompok populasi kunci, seperti waria, psk. Sementara bagi penderita, kata Siga, dilakukan pengobatan gratis di Clinic Visity RSUD TC Hillers. Di Clinic itu disiapkan obat ARV (anti Retroviral). Obat ini untuk mengendalikan virus dalam tubuh supaya jangan berkembang.
"Penderita harus memanfaatkan pengobatan yang ada, karena obatnya harga mahal. Obat ini biasanya dibantu Pemerintah Pusat,"jelas Siga.(pos kupang)
Selengkapnya...

Thursday, 8 November 2012

10 Meja Judi Bola Guling Disita Polisi di Maumere

Sebanyak 10 meja judi bola guling (BG) yang sering dipakai oknum warga bermain judi sudah disita polisi Polsek Alok di tempat duka alias orang meninggal dunia sejak satu bulan lalu. Penyitaan meja BG ini dilakukan guna memberantas perjudian di Kota Maumere yang sudah sering membuat warga resah. "Sejak ada surat perintah dari Kapolres Sikka,kami sudah sita 10 meja BG. Kami setiap hari akan operasi terus menerus biar perjudian di Kota Mamere," kata Kapolres Sikka, AKBP.Drs.Ghiri Prawijaya melalui Kapolsek Alok, Ipda Hendrik Aritonang, Senin (5/11/2012) siang di Mapolsek Alok.

Untuk tahap sekarang, lanjutnya, polisi masih melakukan penertiban dengan meminta para Bandar BG yang sering beroperasi di tempat duka jangan bermain judi. "Yang bermain BG di tempat duka kami bubar dan mejanya kami disita," kata Aritonang.
Polisi, paparnya, akan terus membangun koordinasi dengan para tokoh di Sikka guna mendukung langkah kepolisian memberantas perjudian.
"Kami minta dukungan masyarakat. Masyarakat yang mengetahui adanya perjudian bisa melapor ke Polsek Alok," ujar Aritonang.
Sebagai warga negara baik, paparnya, polisi mengharapkan ada kesadaran warga sehingga polisi tidak bekerja sia-sia.
"Kalau masyarakat dukung silahkan lapor saja kepada kami dan akan diselidik. Siapa pun pelakunya pasti kita akan beri pengertian," tegas Aritonang.
"Lapor saja ke Polsel Alok.Informasi anda benar polisi akan tertibkan," papar Aritonang.
Ia menambahkan, pelaku perjudian yang ditangkap polisi akan tetap diproses secara ketentuan hukum yang berlaku.(pos-kupang.com)
Selengkapnya...

Jejak Setapak di Gua Alam Patiahu

Merana Ditengah Rimbun Pepohonan

Entah sejak kapan akses menuju gua alam ini tak terbekas. Maka sejak itu, lokasi gua ini bagai hilang. Akses jalan mulai ditutupi semak dan dedaunan kering. Tak terdengar lagi cerita destinasi wisata yang terkenal dengan berbagai kelelawar dan eloknya matahari terbenam. Ia bagai lenyap seperti redup Pantai Wairterang. Keberadaanya tak jauh dari jalan raya. Ia tersembunyi ditengah rimbunan pepohonan. Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Seperempat dari tinggi gua kini bahkan tertimbun tanah tebal. Sehingga terlihat tak layak dimasuki. Sayang sekali, destinasi wisata alam ini kurang mendapat perhatian.

Seperti destinasi lainnya, Kecamatan Waigete maupun Talibura, dimana diperbatasan keduanya lokasi gua ini berada, banyak keelokan wisata lain yang tak kalah menarik. Sebut saja wisata bahari Teluk Maumere, penyelaman kapal karam milik serdadu Jepang diperairan Wairterang, Pasir Putih Tanjung Darat, Air Terjun Waiblama, Air Panas Blidit, Hutan Lindung, bahkan Puncak Gunung Berapi Egon. Namun keleokannya tak diurus dengan maksimal.

Warisan budaya setempat yang bernilai tinggi hanya dinikmati segelintir orang. Pesona yang terlupakan kah?Padahal tubuh ini menggiurkan. Jika  pengelolahan ini dilakukan serius akan banyak hal postip yang diperoleh. Baik bagi masyarakat setempat juga pendapatan daerah.
Pintu gua hampir tertutup tanah

Untuk mencapai lokasi Gua Alam Patiahu, Anda mesti berjalan kaki sejauh kurang lebih 150 meter.  Dari jalan raya Patiahu jalur Maumere-Larantuka treking ini dimulai.
Patiahu berada diwilayah bagian timur Kabupaten Sikka. Dari Kota Maumere menuju Patiahu menempuh waktu sekitar 40 menit perjalanan dengan kendaraan.

Tanggal 28 Oktober 2012, inimaumere.com melakukan perjalanan ke Gua Patiahu. Sekitar pukul 16.00, kami memasuki hutan kering ini. Semak dan kotoran sapi memenuhi lintasan treking. Banyak batu karang yang berserakan di tanah. Sunyi dan sangat sepi. Hanya sesekali terdengar kicauan burung-burung hutan.

Pir yang menjadi penuntun saya, menceritakan kalau Gua Alam Patiahu kini sudah sepi dari kunjungan wisatawan. Ia membandingkan dengan beberapa tahun yang lalu ketika destinasi alam ini masih dicari-cari pelancong.

Karena telah lama sepi dan ia tak mengantar wisatawan, Lamber sedikit bingung mencari jalan. Ia mengaku hanya menandai satu pohon rimba disekitar gua. Katanya, pohon rimba tersebut menjadi tanda keberadaan gua tersebut.

Sekitar setengah jam akhirnya kami tiba dibawah gundukan. Sedikit keatas. Lamber menunjukan keberadaan gua. Kami merangkak pelan keatas. Nampak Pohon rimba berdiri tegar disamping gua. Ia seakan menceritakan kesetiaannya menjaga Gua Patiahu dalam sekian waktu.

Lamber lantas mengeluarkan moke (minuman tradisional Sikka) yang tersimpan dalam botol plastik. Ia sengaja menyiapkannya. Diatas batu kecil yang dijadikan mahe, Lamber lantas menyiraminya. Ia juga mengeluarkan dua batang rokok. Dibakarnya dan diletakan sedemikian rupa diatas bekas cairan moke. Lantas sedikit dia terdiam. Lalu berdiri dan mengajak saya mendekati gua.

Saya mempercayai apa yang dilakukan Lamber. Sapaan secara adat ini mengandung arti penting dalam kehidupan masyarakat Flores khususnya di Kabupaten Sikka.

Ada benang merah hubungan antar manusia dan roh yang dipercayai menjaga suatu tempat. Dengan melakukan ritual tersebut, artinya kita memberitahu kepada Alam agar dibukakan jalan.  Harapan agar aktivitas kita dapat berjalan mulus hingga selesai. Ritual seperti nini sudah biasa dilakukan diwilayah Kabupaten Sikka, Flores.

Lantas kami menuju gua tersebut. Pir terdiam. Begitu pula saya. Ia memandang sekeliling. Matanya seakan bercerita kemasa lalu dimana tempat tersebut biasa dikunjungi.

Disekeliling dari gua tersebut banyak pohon. Nampak pula pohon rimba disisi sebelah kanan dari gua.

Yang memilukan adalah ketika kami yang telah lelah berjalan akhirnya hanya bisa bertenger di depan gua. Timbunan tanah memenuhi hampir seperempat pintu masuk. Dan niat kami memasuki gua tersebut akhirnya terhadang.

Didalam gua, timbunan tanah sekali lagi telah menyentuh langit gua. Alhasil kami pun hanya bisa menatapnya sambil menikmati angin senja dan samudera laut diutaranya.

Menurut cerita, gua alam ini memiliki tiga pintu didalamnya. Akses Pintu pertama kita akan dibawa menuju Egon, pintu kedua menuju selatan dan pintu ketiga menuju utara, yakni pantai utara yang tak jauh dari lokasi gua alam tersebut. Cerita ini telah mengalir diatara masyarakat yang mendiami wilayah ini. Mereka mmpercayainya. Dan kita perlu membuktikannya.

Ada lagi yang menyebutkan gua ini pernah menjadi tempat berlindung para serdadu Jepang ketika pasukan Nipon  terlibat bentrok melamawan pasukan Sekutu dijaman kemerdekaan.

Didalam gua, timbunan tanah menyentuh langit gua
Om Rofinus, Pendidik pada salah satu sekolah di Waigete, kepada inimaumere.com yang menemuinya di Waigete usai menjelajah gua alam menceritakan tentang keadaan didalam gua. Ia pernah masuk kedalam gua hingga beberapa ratus meter. Katanya didalam gua tersebut banyak dijumpai sarang walet dan tentu saja ribuan kelelawar. Ia juga menceritakan pernah bertemu ular besar didalam gua. Ular tersebut hanya terdiam tanpa melakukan gerakan apapun katanya.

Beberapa pengunjung lain juga pernah menceritakan suasana didalamnya. Mereka mengungkapkan kekagumannya. Tentang ribuan kelelawar yang berterbangan keluar gua. Juga pemandangan luar biasa ketika sunset senja turun dibatas samudera. Kita bisa menyaksikan bola mentari yang sangat indah dengan leluasa.

Keberadaan gua alam ini nyatanya belum dikelolah, dirawat, dan dijual untuk kepentingan industri wisata Waigete. Entah kenapa. Sejauh ini, Waigete atau Talibura hanya dikenal sebagai daerah pertanian dan perkebunan. Sebagai wilayah eksotik dengan bentangan pariwisatanya, Waigete menunggu campur tangan berbagai pihak baik pemerintah dan swasta sebagai investor.

Dari perairan lautnya hingga puncak Egon, jika dikelolah dengan baik, dibangun infrastruktur pendukung, Waigete plus Talibura akan menjadi salah satu aset pendapatan PAD sektor pariwisata. Peluang yang manggiurkan ini patut dibuka. Masyarakat setempat diajari bagaimana merawat dan belajar mengolah alam indah ini menjadi nilai yang menguntungkan.

Penyelaman Kapal Karam Nipon Maru, pemandangan sunset tepi pantai, air panas, Gua ALam Pati ahu, Hutan Lindung, dan treking ke puncak Egon, Pogon, dan masih banyak lagi bisa menjadi paket wisata menarik. Selain itu tentu saja, kekayaan ritual budaya setempat dan berbagai tenun ikat khas daerah yang dipelihara ditengah kearifan lokal.

Lantas bagaimana dengan keberadaan gua alam ini yang kini tertimbun tanah? Apa perlu dibiarkan merana ditengah kicauan burung-burung? Prihatin, jika dibiarkan saja tanpa urus, mungkin tidak lama lagi keberadaannya tinggal cerita kenangan. Ia akan hilang ditutup gundukan tanah akibat proses alam karena tidak adanya perhatian.

Akankah kita membiarkannya? Jika demikian adanya, sungguh memperihatinkan. Hal ini menambah catatan panjang tentang lemahnya pengelolahan destinasi wisata di Kabupaten Sikka.






www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 6 November 2012

Secuil Waigete

Wisata Alam masih Terbenam

Ini dia salah satu tempat favorit untuk menyakasikan matahari terbenam. Kilauan cahaya kuning keemasannya mampu membuat mata terpana. Hahahaha lebay. Selain dikenal sebagai daerah perkebunan, wilayah Waigete menawarkan sejumlah lokasi wisata alam eksotik namun terbenam dalam promosi. Misalnya Gua Alam Patiahu, Air Panas Blidit, Puncak Gunung Egon, Hutan Lindung, Wilayah penyelaman Teluk Maumere, Kapal Karam Nipon Maru dan Bola Mentari yang tenggelam serta masih banyak lagi. Ada pula ritual-ritual adat yang biasa dilaksanakan ketika kita akan memasuki sebuah wilayah wisata tertentu. Ritual ini berhubungan dengan alam dan leluhur. Tempat-tempat wisata di wilayah ini masih sangat alamiah. Bahkan untuk mencapainya membutuhkan tenaga ekstra. Satu hal lagi bahwa disebagian besar wilayah ini masih dipercaya memiliki para "penghuni". Sehingga ritual 'permisi' tersebut kadang dilakukan sebagai bentuk sapaan antara kita dan para 'penguasa wilayah'.

Dimusim kemarau ini berdampak pada sebagian besar wilayah Waigete. Kekeringan yang melanda berpengaruh pada kehidupan. Misalnya kekurangan air akibat sungai-sungai kering. Dan standart kehidupan yang masih dibawah rata-rata.
Pengelolahan wisata di wilayah ini mesti terus digiatkan. Tak perlu hanya mengandalkan wisata penyelaman saja. Karena jujur saja, wisata alam lain masih menunggu sentuhan dan promosi. 
Satu paket wisata alam Waigete bisa anda nikmati mulai dari penyelaman kapal karam Jepang, Gua Patiahu, Air panas Blidit, Air terjun, Pundak Egon. Anda juga bisa menyaksikan berbagai ritual budaya dibawah kaki Egon. Memacu Adrenalin? MunGkin!!
Ada lagi! Berlibur kepulau berpasir putih Pangabatang yang berada tak jauh dari pesisir ini. Oya, pulau mungil ini juga masih belum dikelolah baik. Jadi kalo kesana mesti siapkan bekal. Mesti sewa perahu motor yang bikin jantung berdetak cepat. Dinas Pariwisata didaerah ini masih belum mengembangkan tempat-tempat wisata alam secara baik. Promosinya lemah. Bahkan infrastruktur dan sarana masih minim. Lantas apa tawaranya? Jelas eksotiksme alam wisatanya. Bukan saja bawah laut Teluk Maumere, Pasir putih dan beningnya air laut. Bahkan pemandangan lainnya  yang mampu menciptakan lirik hati nan damai.(Oss)


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 5 November 2012

Keindahan Teluk Maumere yang Terabaikan

FRANS Seda (alm), ekonom dan mantan menteri tiga periode, memiliki visi luar biasa tentang industri pariwisata di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Keindahan Taman Laut Teluk Maumere menjadi andalan, selain obyek wisata lain. Ia pun membangun obyek wisata di pesisir itu, yakni Sao Wisata, untuk mempromosikan Teluk Maumere. Namun sayang, keindahan teluk itu sampai hari ini tidak dikelola baik oleh pemkab setempat. Seda saat masih hidup (1927-2011) tidak hanya berbicara tentang pariwisata Maumere. Putra Sikka ini membuktikan langsung di lapangan dengan mendirikan pusat wisata bahari di pesisir Teluk Maumere, diberi nama Sao Wisata, dalam bahasa Sikka-Lio artinya rumah wisata. Kawasan ini memiliki luas 7,5 hektar, di antaranya 2,5 hektar untuk bangunan dan sisanya menjadi daya dukung lingkungan agar tetap sejuk dan hijau.

Manajer Sao Wisata, Heribertus Ajo, di lokasi Sao Wisata, 9 kilometer dari pusat Kota Maumere, Kamis (30/8/2012), mengatakan, Sao Wisata didirikan Seda tahun 1985 dan beroperasi pada 1987. Kompleks wisata yang dibangun hanya 2,5 hektar untuk kamar penginapan, restoran, aula, mes karyawan, tempat peristirahatan, kolam renang, dan tempat rekreasi.
”Pada awalnya Sao Wisata dibangun tanpa perhitungan profit, terpenting mempromosikan keindahan Teluk Maumere pada khususnya dan Sikka pada umumnya kepada turis mancanegara. Waktu itu Bapak Frans Seda menginvestasi cukup besar di bidang pembangunan listrik dan jaringan telepon sepanjang 9 kilometer dari pusat kota menuju Sao Wisata. Kami tanam tiang-tiang listrik dan telepon dan menyediakan sarana dan prasarana lain dengan biaya sendiri,” kata Ajo.
Tidak hanya itu, Seda mencarter pesawat khusus Merpati tiga kali dalam satu pekan selama dua tahun berturut-turut, membawa sejumlah turis asing ke Teluk Maumere. Manajemen Sao Wisata sejak saat itu terus mempromosikan keindahan Teluk Maumere melalui internet, sejumlah majalah pariwisata, dan flight magazine.
Kerang mutiara Taman Laut Teluk Maumere mengandung sejumlah keindahan, antara lain terumbu karang, beraneka ragam tumbuhan laut, berbagai jenis kerang seperti kerang mutiara (Pinctada margaritifera), udang jarak (Panulirus polyphagus), kima raksasa/kima raja (Tridacna gigas), tiram batu (Spondylus ducalis), dan berbagai jenis ikan.
Tiga tahun berturut-turut (1994-1997) Seda mengadakan lomba foto bawah laut Teluk Maumere yang diikuti 50 fotografer dan turis asing dari 24 negara. Ia menyediakan hadiah 50.000 dollar AS bagi juara 1 hingga 3. Sao Wisata juga mengundang travel writer dari Japan Airlines, Malaysia Airlines, Garuda Indonesia, dan Merpati Nusantara Airline. Mereka tinggal di Sao Wisata hampir tiga bulan untuk menulis tentang Teluk Maumere.
”Kami ini pioneer operator pariwisata di Sikka. Awalnya kami tidak mengejar keuntungan, yang penting Maumere dan Sikka dikenal di berbagai mancanegara melalui keindahan taman lautnya,” kata Ajo. Namun, sejumlah promosi Sao Wisata tidak ditopang kebijakan Pemkab Sikka yang tepat. Keindahan Teluk Maumere juga tidak terjual karena tidak didukung promosi dan kerja sama dari pemda setempat. Padahal, Teluk Maumere begitu strategis dan menyimpan keanekaragaman hayati laut yang sangat unik dan khas.
Akibatnya, promosi wisata yang disponsori Sao Wisata tidak membawa dampak besar. Sejumlah turis asing tiba di Bandara Maumere justru langsung melanjutkan perjalanan ke Moni, kemudian menuju Danau Kelimutu, sekitar 85 kilometer arah barat Kota Maumere.
Direktur Yayasan Aksi Cinta Kehidupan Lamber Dore Purek mengatakan, jika taman laut Teluk Maumere ditata lebih baik, turis asing akan lebih lama berada di Sao Wisata. Penataan itu menyangkut pengadaan kapal pesiar, pelestarian terumbu karang, dan perlindungan sejumlah biota laut. Di sini banyak turis asing melakukan kegiatan diving, tetapi promosi masih sangat terbatas. Jika taman laut ditata, kapal-kapal milik operator pariwisata bisa difungsikan. Para turis pun lebih lama menetap untuk diving.
Destinasi pendukung selain taman laut antara lain Seminari Tinggi Ledalero, tradisi Jumat Agung peninggalan Portugis di Desa Sikka, Museum Bikon Blewut, dan tradisi membuat gerabah tradisional di Wolokoli. (KORNELIS KEWA AMA/travel.kompas)
Selengkapnya...

Ternyata Perkedel Ikan Pemicu Keracunan di Maumere

Hasil pendataan dan identifikasi Tim Polres dan Dinas Kesehatan Sikka menyebutkan warga Pemana yang keracunan pada pesta nikah Rizal dan Ani Mawarni karena diduga mengonsumsi perkedel ikan. Sementara jumlah korban keracunan bertambah dari 61 orang menjadi 84 orang. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Sikka, AKBP Drs. Ghiri Prawijaya, melalui Kasat Reskrim, Iptu Ahmad, S.H, menyampaikan hal itu saat dihubungi Pos Kupang dari Maumere ke Pemana, Kamis (1/11/2012) siang. Ahmad menjelaskan, menjelang pagi hari sekitar pukul 01.00 Wita, Kamis (1/11/2012) dini hari, para korban keracunan memenuhi ruangan Puskesmas Gunung Sari. Pasien yang menjalani perawatan di Puskesmas Gunung Sari 76 orang, Pustu Pemana dua orang, enam orang lainnya di rumah warga. Para pasien yang dirawat di puskesmas, pustu dan rumah warga sudah mulai membaik setelah mendapat perawatan Tim Dinkes Sikka yang terjun ke lokasi.
Hingga pukul 12.00 Wita, Kamis (1/11/2012), masih ada empat pasien yang belum membaik dan masih menjalani perawatan di Puskesmas Gunung Sari.
Ahmad menjelaskan, warga Pemana yang keracunan setelah makan makanan di tempat pesta pengantin pria, Rizal. Pagi itu, tutur Ahmad, usai acara pernikahan di masjid, keluarga dan tamu berkumpul di rumah pengantin pria. Mereka memberikan selamat dan ingin mengantar pengantin pria ke rumah pengantin wanita agar menetap di sana.
"Di rumah pengantin pria ada acara makan bersama sekitar pukul 10.00 Wita. Habis makan para korban muntah-muntah dan badan mereka lemas. Itu terjadi sekitar pukul 14.00-15.00 Wita dan korban dibawa ke Puskesmas Gunung Sari," jelas Ahmad.

Ambil Sampel
Menu apa saja yang disajikan di rumah pengantin pria, Ahmad menyebut mie dan perkedel ikan. "Sampelnya sudah kami ambil. Para korban mengaku banyak mengonsumsi perkedel ikan. Untuk memastikan apakah karena perkedel ikan, tim Dinkes Sikka akan memeriksanya di laboratorium," kata Ahmad.
Ahmad dan Tim Dinkes Sikka juga menelusuri bagaimana cara pengelohan perkedel ikan itu. Bumbu-bumbu apa yang digunakan, jangan sampai sudah kadaluwarsa. "Dari informasi itu baru kami cari tahu siapa yang memasak dan membeli bumbu-bumbu tersebut, serta di kios mana dibeli. Polisi kerja pakai bukti dan fakta agar jelas," tegas Ahmad.
Sebelumnya diberitakan, 61 warga Desa Pemana, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, yang menghadiri pesta pernikahan Rizal dan Ani Mawarni di desa itu keracunan makanan di tempat pesta. Para korban yang keracunan muntah-muntah dan lemah usai makanan di tempat pesta, Rabu (31/10/2012) pagi. Mereka yang muntah dan lemas kini sedang menjalani perawatan di Puskesmas Gunung Sari. (ris/pos-kupang))
Selengkapnya...

Sunday, 21 October 2012

Nyala Terang dari Bumi Watu Cruz Bola

Jumpa Orang Muda Katolik Se-Keuskupan Maumere
Minggu, 14 Oktober 2012 menjadi momen berharga bagi  Orang Muda Katolik se-Keuskupan Maumere. Utusan dari tiap paroki se Keuskupan Maumere berarak dari parokinya masing-masing menuju Ili untuk memulai perjalanan ke Paroki St. Martinus Bola. Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat mereka. Keringat yang menitik tetes demi tetes menandakan hasrat yang membara untuk berpadu bersama rekan-rekan orang muda se-Keuskupan Maumere. Sekitar pukul 13.00 wita, rombongan Orang Muda Katolik menggunakan kendaraan masing-masing berarak perlahan menuju Tadat, tempat penjemputan pertama. Barisan kendaraan motor roda dua dan empat seakan membentuk barisan semut yang tak pernah putus. Sepanjang perjalanan, semua orang disapa dengan sapaan yang khas untuk menunjukkan identitas masing-masing. Seru!

Kontingen OMK Paroki Lei menuju Tenda Utama

Sesampainya di Tadat, dimana dibangun gapura selamat datang, setiap ketua OMK diturunkan dari kendaraan masing-masing dan bergabung dalam barisan para ketua OMK. Diawali tarian penjemputan, barisan kontingen orang muda berarak bersama menuju Kantor Camat Bola. Disertai dengan bunyi-bunyian yang dibuat secara kreatif oleh masing-masing orang muda seakan menambah keriuhan perjalanan.
Di Kantor Camat Bola, setiap kontingen yang masuk pelataran dijemput dengan seruan khas dan lagu daerah menurut asal paroki masing-masing. Orang muda turun dari kendaraannya  dan berbaris rapi menurut papan nama yang dibawa oleh siswa-siswi SMA Negeri Bola. Di depan barisan, drum band dari sisaw siswi SMPK Yapenthom II mengiringi perjalanan kaum muda menuju gereja St. Martinus Bola.
Di sepanjang kiri dan kanan sisi jalan, umat Bola sudah menunggu seakan menjadi pagar ayu dan pagar bagus bagi barisan orang muda yang sedang berarak. Seruan dan lagu yang dikumandangkan setiap kontingen menjadi pesona yang menyemarakkan dan meriuhrendahkan Bola dan sekitarnya.
Di pertigaan menuju gerbang Gereja St. Martinus Bola, rombongan dijemput dengan tarian papak dan hegong. Di depan Patung St. martinus yang merupakan ikonnya umat Bola, setiap Ketua OMK mendapat kaluungan selendang oleh Orang Muda Katolik TPAPT (Tim Pastoral Antar Paroki Tetangga) WAKHAB (Watublapi, Kloangpopot, Halehebing dan Bola). Dengan berpakaian daerah menurut suku yang ada di wilayah Kabupaten Sikka, pasangan kaum muda OMK WAKHAB menyambut teman-temannya dari paroki-paroki se Keuskupan Maumere.
Setelah semua kontingen masuk dan menempati tenda utama yang dibangun di depan Gereja St. Martinus Bola, salib yang akan dibawa oleh utusan orang muda Katolik Keuskupan Maumere menuju Sanggau, Kalimantan Timur diarak masuk diiringi dengan lagu salib yang dikumandangkan oleh orang muda katolik Paroki Thomas Morus dan Spiritus Sancto Misir. Semua peserta diarahkan untuk menatap Yesus yang tersalib yang telah memberikan keselamatan kepada semua umatNya.
Penyambutan dilanjutkan dengan ucapan selamat datang oleh Pastor Paroki St. Martinus Bola, Rm Arnold Pr. Keterbukaan umat Bola menjadi pijakan awal kaum muda untuk masuk dan tinggal bersama umat Bola selama 4 (empat) hari dan senyuman yang merekah menjadi simbol kesiapan umat Bola menyambut tamunya.
Untuk lebih mempererat persaudaraan di antara sesama orang muda Katolik, Tim Komisi Kepemudaan Keuskupan Maumere mengajak semua orang muda untuk larut dalam suasana yang lebih gembira. Dalam kesempatan penjemputan tersebut, hadir pula Bupati Sikka Sosimus Mitang dan Ketua DPRD Kabupaten Sikka. Hadir pula Bapa Uskup Keuskupan Maumere, Mgr. Kherubim Pareira, SVD. Setelah penjemputan, setiap paroki dibagi menuju penginapannya masing-masing dan dijemput langsung oleh para ketua KUB di lingkungan-lingkungan seputar Gereja St. Martinus Bola.(H.jon)
Penjemputan rombongan OMK di Desa Tadat

Pengalungan selendang kepada Para Ketua OMK se Keuskupan Maumere

Dinamika Kelompok oleh Tim Komkep Keuskupan Maumere

SELAMAT BUAT KEGIATAN JUMPA OMK KEUSKUPAN MAUMERE

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---