Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Thursday, 28 February 2013

Cinta dari Tanah Maumere

maumere/rulli said
Bunyi klakson tanpa jeda, diiringi teriakan dua sopir yang saling berbalasan, menyambut saya di bandara yang dulunya bernama Wai Oti itu. Keduanya sedang memperebutkan seorang penumpang, yang akhirnya menolak menumpang di kendaraan mana pun. Sesaat saya menghela napas, sambil membiarkan tubuh ini terbiasa dengan sergapan udara panas Maumere. Sebuah tepukan di bahu, yang segera bersambut menjadi pelukan erat, seketika mengubah penat jadi tawa. Beberapa menit kemudian, saya sudah duduk di dalam mobil Daihatsu renta yang berderit-derit setiap melintasi jalan yang tak mulus. Sang pengendara mobil, Karel Siga Siprianus, warga Maumere yang menjemput saya, berujar bahwa saya datang di saat yang tepat. “Ini musim hujan. Di musim kemarau, tanaman mengering, dan tanah jadi tandus,” katanya, sambil menunjuk gugusan bukit hijau di kejauhan, yang mengingatkan saya pada pemandangan negeri para hobbit dalam film The Lord of The Rings.

Dentuman suara musik kencang yang berasal dari kendaraan umum yang lewat, mengagetkan saya. Tak disangka, ternyata hampir semua angkutan umum berlomba-lomba memasang musik dan pengeras suara dengan volume pada posisi paling kencang!
Memasuki Desa Nita, tempat kediaman Karel, kendaraan makin sepi. Jalan menyempit, dan rumah makin jarang. Mata saya terpaku pada satu dua makam yang berdiri di halaman rumah. Menurut Karel, mereka sengaja menempatkan makam anggota keluarga di halaman rumah agar merasa selalu dekat dengan kerabat yang sudah wafat.
Perjalanan 4 jam dalam pesawat dari Jakarta, dan sekitar 45 menit perjalanan darat, membuat perut saya langsung berbunyi begitu mencium aroma sedap makanan. Mata saya terbelalak takjub memandangi hamparan sajian sehat di atas balai bambu di halaman rumah Karel. Kepulan hangat sepiring nasi merah yang dicampur dengan kacang hijau, berpadu sedapnya aroma ikan kerapu bakar dan tuna kuah asam yang disebut mage wair. Uniknya, ikan disajikan bersama dengan potongan avokad Maumere yang terkenal lezat itu. Rasanya ternyata klop, lho!
“Ini hasil dari ladang sendiri. Di sini, beras merah lebih murah daripada beras putih karena kami tanam sendiri,” ujar Karel, bangga. Ryan, seorang warga Maumere lain yang ikut bersantap, menambahkan, “Kami hanya makan buah-buahan segar. Yang jatuh ke tanah, sudah jadi jatah hewan ternak,” katanya berkelakar. Epang gawan! Begitu ia mengajari saya berucap terima kasih dalam bahasa Maumere, setelah selesai bersantap.
Megahnya Kesederhanaan Lapangan itu tidak terlampau luas. Di ujungnya, berdiri sebuah panggung yang juga tidak begitu besar. Tenda-tenda dari bambu dibangun di sekeliling lapangan. Warga dari berbagai kabupaten di Flores sudah berdatangan di halaman Gereja Katedral St. Yoseph, Maumere, yang tepat berdiri di seberang lapangan. Pandangan saya terhenti pada sekelompok warga yang datang dari Kabupaten Nagekeo, sekitar 300 km dari Maumere. Seorang ibu paruh baya yang mengenakan kain tenun ikat tampak kesulitan turun dari truk yang ia tumpangi bersama sekitar 20 penumpang lain. Mereka akan menari sebelum misa akbar yang mengawali festival budaya bertajuk Maumere in Love yang akan berlangsung seminggu.
Di tempat yang sama, 23 tahun lalu, sekitar 300.000 umat dari seluruh penjuru Flores berbondong-bondong datang untuk mengikuti misa akbar yang dibawakan pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Yohanes Paulus II. Mendiang Sri Paus bersikeras bermalam di Maumere, meski saat itu ibu kota Nusa Tenggara Timur ini belum memiliki hotel yang bisa dianggap layak untuk menyambut tamu negara. Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret kemudian terpilih menjadi tempat bermalam. Bersama dengan Seminari Ledalero, kedua sekolah tinggi ini dikenal sebagai ‘matahari intelektual dari Timur’ yang telah menghasilkan banyak imam yang tersebar di berbagai negara.
Agama yang tumbuh berdampingan dengan sentuhan budaya lokal membuat misa di Maumere terasa lebih anggun dan sakral. Aplikasi tenun pada jubah imam, alat-alat musik tradisional, menjadi ciri khas tersendiri. Seorang pria yang memutar tubuhnya, berporos pada sebatang bambu, menjadikan tarian Tuaiteleu dari Desa Watublapi, Kabupaten Sikka, paling menyita perhatian.
Saya meninggalkan keriuhan setelah matahari beranjak turun. Niat hati ingin mengintip pemandangan bawah laut dengan snorkeling. Sayang, hujan turun begitu saya menyusuri Pantai Kajuwulu, di pesisir utara Kabupaten Sikka, tak sampai sejam dari Kota Maumere. Jadilah saya harus puas hanya memandangi hamparan pantai berpasir putih yang ramai dikunjungi keluarga dan anak-anak muda tiap sore itu.
Pesona bawah laut Maumere telah pulih pascatsunami tahun 1992. Setelah Alor, Maumere adalah lokasi diving favorit di NTT. Di sekitar Maumere, terdapat tiga lokasi favorit untuk snorkeling dan diving: Sea World Club Resort, Ankermi Happy Dive Resort, dan Sao Wisata Diving Center.
Sea World dan Sao Wisata berlokasi di Pantai Waiara, 10 – 14 kilometer dari Bandara Frans Seda dan pusat Kota Maumere. Sementara Ankermi, yang paling direkomendasikan, terletak di Watumita, 29 kilometer dari pusat kota. Dengan 20 dolar AS (±Rp200.000), Anda bisa snorkeling dari Sea World ke Pulau Babi dengan satu kapal berisi minimal empat orang. Sedangkan untuk diving, dengan biaya 80 dolar AS (±Rp800.000), tiap penyelam mendapat perlengkapan dan makan siang. Sementara di Ankermi, satu kapal dengan minimal tiga orang, bertarif 35 euro (±Rp394.000) per orang untuk diving.
Menelusuri Jejak Sejarah Keesokan paginya, saya memilih memisahkan diri dari keramaian, menuju ke Desa Sikka, sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Maumere. Para mama (panggilan untuk ibu) yang menenun di halaman rumah, anak-anak yang bersenda gurau saat berjalan kaki ke sekolah, menjadi pemandangan yang membuat senyum terkembang.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Ryan, yang saat itu mendampingi saya, mengajak berkunjung ke sebuah rumah. Di halaman belakang, kepulan asap menyeruak dari periuk tanah liat di atas tungku berbahan bakar batok kelapa. Seorang lelaki paruh baya dengan sigap memanjat pohon lontar untuk menyadap nira. Sadapan itu kemudian dijerang di atas api dan disuling dengan pipa bambu. Hasil penyulingan itu lalu dikemas dalam botol untuk dikonsumsi sendiri dan dijual. Masyarakat setempat menyebut arak tradisional ini dengan nama moke atau sopi.
Sebotol moke dalam kemasan botol 600 ml dijual Rp20.000 – Rp25.000. Para petani, terutama pria, biasa membawa moke sebagai bekal minum saat berladang, begitu juga dengan para pedagang di pasar. Namun, moke dengan kualitas terbaik biasanya hanya disajikan pada akhir pekan dan acara-acara adat seperti pesta pernikahan. Sebagai pendamping hidangan utama, disajikan juga sirih dan pinang yang biasa dikonsumsi para mama.
Tak heran, sirih dan pinang menjadi komoditas yang paling banyak diperdagangkan di pasar. Pedagangnya pun mengunyah sirih sambil berjualan. Pemandangan itulah yang saya lihat di Pasar Geliting, yang terletak di Kecamatan Kewapante, saat meneruskan perjalanan ke Sikka. Di pasar yang konon berusia lebih dari 100 tahun ini, para wanita paruh baya berjual beli sambil mengenakan kain tenun ikat mereka. Di sudut lain, anak-anak muda yang juga membuka lapak tampak asyik mendengarkan musik dari headset, menunggu pembeli.
Kebanyakan hasil bumi dijual masih dalam bentuk asli, seperti umbi keladi berukuran raksasa, dan biji kenari yang masih terbungkus dalam kulitnya yang keras. Perpaduan hiruk pikuk pasar, dengan latar laut dan gunung, menghasilkan pemandangan langka yang menakjubkan.
Menjelang tengah hari, kami sampai di Gereja Santo Ignatius Loyola, Sikka. Gereja ini menjadi saksi sejarah masuknya agama Katolik di tanah Flores. Gereja yang mulai dibangun tahun 1893 itu diresmikan oleh Pastor J. Engbers S.J. pada 24 Desember 1899. Namun, sejarah gereja di tepi pantai Laut Sawu ini bermula jauh sebelum itu.
Pada abad ke-15, Raja Sikka, Moang Lesu Liardira Wa Ngang, bertualang ke Selat Malaka. Di sana, ia bertemu para misionaris Portugis, dan kembali ke Sikka dengan nama baptis Don Alexu Ximenes da Silva. Sejak itu, Sikka kerap dikunjungi misionaris Portugis yang menjelajah hingga ke Maumere. Tahun 1617, pastor pertama ditempatkan di desa ini.
Meski bangunan gereja ini bukanlah gereja yang didirikan da Silva, berbagai tradisi yang dimulai sejak abad ke-14 itu masih berjalan hingga sekarang. Seperti tradisi Logu Senhor, prosesi menunduk di bawah salib, yang selalu dilakukan menjelang hari raya Paskah. Misa tiap Minggu di Gereja Sikka juga masih dilangsungkan dalam bahasa Latin. Makam dan juga kediaman Raja da Silva yang berupa rumah panggung pun masih bisa dilihat di bagian belakang gereja.
Selain Natal dan Paskah, bulan Mei dan Oktober menjadi masa datangnya banyak wisatawan ke Maumere. Tak hanya wisatawan Nusantara, tapi juga mancanegara. Dalam tradisi Katolik, dua bulan ini adalah masa untuk mendekatkan diri kepada Bunda Maria. Saat itulah, patung Bunda Maria Segala Bangsa ini ramai dikunjungi. Patung ini dapat dikunjungi dalam perjalanan dari Sikka ke Maumere.
Patung yang diresmikan pada bulan Mei 2005 itu dibangun di Bukit Nilo, Keling, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, sekitar 10 kilometer dari Maumere. Patung setinggi 28 meter tersebut disangga empat tiang yang berhiaskan motif tenun ikat Sikka. Di sekelilingnya terhampar tempat yang cukup luas untuk berdoa, lengkap dengan lilin.
Di malam hari, cahaya lilin dan lampu dari dasar patung menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Saat siang, dari atas bukit ini, pengunjung dapat melihat indahnya Kota Maumere dari ketinggian 1.600 meter. Perjalanan untuk sampai di patung ini butuh perjuangan menaiki lereng dengan kemiringan 45 derajat.
Keriaan kian memuncak saat saya kembali ke lapangan Gereja St. Yoseph, Maumere,. Malam itu, tak ada batas antara penonton dengan penyaji atraksi. Karena tahu bahwa itu adalah hari terakhir saya di Maumere, beberapa anak muda memaksa saya ikut menari di lapangan. Sekitar 50 orang membentuk lingkaran besar, bergandengan tangan, menari sambil menyanyi diiringi musik berirama cepat. Aliran listrik yang sempat padam beberapa kali tak menyurutkan kegembiraan.
Lagu tradisional Maumere, Gemu Fa Mi Re masih terngiang di kepala saat deru turbin pesawat mulai berputar cepat. Setelah menyimpan kain kenang-kenangan dengan mata sembap, penumpang di sebelah saya, Pauline, berkata, “Mereka bilang, Indonesia meninggalkan mereka jauh di belakang.” Saya tersentak. Saat melongok ke jendela, Flores tampak tinggal sebuah pulau kecil tertutup kabut di tengah hamparan samudra. (f/http://www.femina.co.id)
Selengkapnya...

Diskusi Terbuka Tidak Dihadiri 9 Pasangan Kandidat

GMNI Kecewa

Melompong. (foto: Oshy Lelo)
Herimanto Ciko, Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional (GMNI) Cabang Sikka mengatakan sangat kecewa atas gagalnya diskusi terbuka yang sedianya menghadirkan sembilan paket asangan calon bupati dan wakil bupati Sikka periode 2013-2018. Panel Diskusi yang bertema "Menuju Sikka Satu Yang Pro Rakyat" menurut Ciko tidak dihadiri 9 paket pasangan calon. Ciko mengaku tidak ada komfirmasi atas ketidakhadiran 9 paket kepada panitia diskusi. Menurut alumni Universitas Nusa Nipa Maumere tersebut, sebelum digelar diskusi terbuka, panitia telah melayangkan undangan ke 9 paket dan dikomfirmasi akan hadir. 

Namun mendekati waktu yang diharapkan, tak satupun paket yang menampakan dirinya pada diskusi yang menghadirkan beberapa panelis senior. Akhirnya tenda sepi. Delapan belas kursi yang sedianya disiapkan untuk tempat duduk para kandidat terlihat kosong melompong.
Dalam pesan singkat lewat ponsel, diberitahukan bahwa panel diskusi para kandidat tersebut akan berlangsung Rabu (27/2/2013) pukul 18.30 wita. Namun sejak waktu tersebut, belum ada tanda-tanda akan dimulai. Waktu kian berjalan. Panitia penyelenggara mulai kelihatan gelisah. Sejumlah masyarakat umum mulai merapat keruang diskusi. Namun hingga pukul 22.00 wita tenda nampak tetap sepi. Ke-9 paket pasangan calon tidak menampakan kehadiran mereka ditengah-tengah penyelenggara.
Untuk menghidupka suasana, waktu diisi dengan berbagai hiburan. Namun tetap saja tak mampu menghapus rasa kecewa yang nampak dari raut wajah panitia.
Akhirnya perlahan-lahan tenda mulai sepi. Sejumlah orang yang hadir dan ingin menykasikan para calon yang akan memimpin daerah ini memaparkan secara gambalang dengan argumentasi rasional perlahan beranjak pulang. Tinggalah Ketua GMNI Sikka beserta beberapa  rekannya. "Kami tetap disini sampai pagi," demikian ungkap Ciko.
Ketidakhadiran 9 paket pasangan calon tersebut kemungkinan bisa jadi karena terbentur waktu dengan sosialisasi para paket yang saat ini sedang gencar-gencarnya menarik massa pemilih diberbagai wilayah dengan menjual berbagai program, visi dan misi.
Panel Diskusi yang menghadirkan 9 pasangan kandidat ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Perhimpunan Mahasiswa Maumere Makasar mengadakan debat kandidat di Hotel Silvya Maumere. Kemudian Keuskupan Maumere, Puspas yang disiarkan Sonia FM Maumere juga menyelenggarakan Debat Kandidat di Aula Bunda Hati Kudus Frateran Maumere, 18 Februari.
Info berikutnya, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sikka yang merencanakan gelar Debat Kandidat Calon Kepala Daerah Periode 2013-2018, pada 14 Maret 2013 di Hotel Sylvia Maumere.
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Bliran Sina, Warna Budaya Sikka

Dari Kampung Menuju Dunia

Pukulan etnik musik tradisional gong waning perlahan menaikan emosi. "Mari ita Soka," ajak seorang Moat. Soka dalam bahasa Sikka artinya menari. Yap, lelaki gagah yang mengenakan kostum tradsional Sikka ini mengajak saya bergembira. Tapi saya enggan menari, bukannya tak mau. Sebabnya, kesempatan emas mengabadikan moment spesial inilah yang menghadang keinginan saya. Dan menarilah semua orang. riang gembira dan penuhsuka cita. Secuil kisah ini terasa hangat ditengah mendung tebal di Lokasi Hotel Sao Wisata Waiara, 10 Km dari Kota Maumere, Kabupaten Sikka. Kisah ini terjadi hari Sabtu (23/2/13) lalu, dimana saat itu, salah satu sanggar budaya terbesar di Kabupaten Sikka menjadi biang dari keharmonisan. Bliran Sina. Yap, Sanggar Bliran Sina nama yang telah menndunia lewat berbagai event diberbagai negara. Perhelatan budaya di Sao Wisata dikhususkna bagi para pelancong domestik maupu maupun mancanegara sekaligus menyisipkan sebagian sumbangan bagi para korban letusan Gunung Rpkatenda di Palue.

Moment spesial diisi dengan berbagai atraksi menarik. Selain anak-anak kecil yang terampil menggebuk alat musim gong waning, hal menarik lainnya ditunjukan para mama yang mempertontonkan rahasia pembuatan tenun ikat dengan menggunakan bahan dan zat pewarna alam.
Bukan hanya disitu. Pada kesempatan yang berbahagia tersebut juga dipertontonkan pula tarian-tarian khas daerah, serta perlombaan pengelolahan makanan bergizi dari bahan lokal. Uniknya, makanan lokal dari bahan pangan tersebut tanpa camur tangan dari material kimia. Keunikan ini telah dikembangkan sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat setempat. "Bukan hanya beras yag bisa menjadi bahan utama, sekeliling kita masih banyak tanaman yang siap menggantikan beras, yang lebih bergizi," bisik salah seorang mama.
Ditengah kegembiraan tersebut, Bliran Sina seperti biasa memamerkan tenun ikat hasil kreasi ibu-ibu dengan harga bervariasi. Selain tenun ikat, berbagai pernak pernik unik lainnya digelar. Siapapun bisa memperolehnya dengan harga variatip.
Bliran Sina merupakan sanggar budaya yang intens melakukan kegiatan seni budaya Sikka diberbagai tempat. Sanggar ini sangat terkenal dikalangan wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang pernah ke Kabupaten Sikka.
Sanggar Bliran Sina menyimpan potensi budaya lokal yang dikelolah dengan baik. Lewat sanggar yang mempertunjukan kesenian dalam bentuk tarian, nyanyian dan tenun ikat menyumbangkan kontribusi dalam meningkatkan sumber daya manusia dan perekonomian masyarakat setempat.
Sanggar yang saat ini dipimpin Daniel David ini didirikan tahun 1983. Tujuan sanggar itu adalah menjaga warisan seni budaya Watublapi, khususnya kain tenun ikat.
Sanggar tersebut berlokasi di Watublapi, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT.



 
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Uskup: Calon Korupsi, Jangan Pilih

Pilkada Sikka dan Pilgub NTT

Jelang Pilkada Sikka dan Pilgub NTT, Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD, mengeluarkan surat gembala bagi umat katolik di Sikka. Umat diminta memahami rekam jejak politik masing-masing calon. Tidak boleh memilih calon-calon (Bupati Sikka dan Gubernur NTT) yang secara publik diketahui berdasarkan rekam jejak politiknya berseberangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh gereja seperti korupsi. "Surat gembala ini agar menjadi tuntunan bagi umat guna memilih pemimpin di Sikka dan NTT tanggal 18 Maret 2013 nanti. Apalagi Sikka mayoritas katolik dan calon pemimpinnya banyak katolik. Tujuan politik itu kan baik untuk mensejahterakan orang. Oleh karena itu, calon pemimpin jangan mementingkan jabatan. Jangan mengutamakan dirinya dan keluarganya. Tetapi untuk kesejahteraan orang banyak, terutama orang kecil," kata Uskup Kherubim di Istana Keuskupan Maumere, Selasa (19/2/2013) siang.

Uskup Kherubim menjelaskan, dalam pemilihan kepala daerah Kabupaten Sikka dan Gubernur NTT nanti, akan berurusan dengan dua hal penting.
Pertama, pengembangan sistem politik yang lebih baik yang menjamin kehormatan terhadap harkat pribadi manusia dan kesejahteraan bersama, khususnya peningkatan kesejahteraan sebagian besar warga yang sebagian besar miskin.
Kedua, pemilihan kepala daerah diharapkan dapat menghasilkan pemimpin yang memiliki kemampuan dan kepedulian untuk menyelenggarakan satu pemerintahan yang bersih dan mendukung nilai-nilai yang dianut.
"Acuan yang diajarkan oleh gereja ini menjadi penting pada saat ini ketika rakyat kebanyakan hanya dimobilisasi oleh kepentingan politik segelintir orang, politik uang yang merasuk sampai ke desa-desa. Sangat lemahnya, lembaga-lembaga pengawas, suku dan agama sering ditunggangi oleh segelintir elit untuk kepentingan politik sesaat. Berkembangnya apatisme politik di kalangan warga, kesejahteraan rakyat belum sungguh diperhatikan dalam penyelenggaraan negara dan korupsi yang terus merajalela di tengah penegakan hukum yang sangat lemah," kata uskup.
Dalam surat gembalanya, Uskup Kherubim menekankan sembilan hal penting.
Pertama, terlibat secara aktif dalam kegiatan pemilihan kepala daerah Kabupaten Sikka dan Gubernur NTT. Pastikan bahwa Anda terdaftar sebagai pemilih, terlibat dalam kegiatan pemilihan dan ikut mengawal prosesnya.
Kedua, tidak terlibat dalam praktek politik uang.
Ketiga, tidak menyebarkan isu-isu dan bersikap kritis terhadap isu-isu yang disebarkan. Berdiskusilah secara dewasa di dalam KUB, stasi, paroki dan dipelbagai kelompok kategorial serta secara bebas menentukan pilihan tanpa tekanan dari pihak manapun.
Keempat, tidak tergoda oleh kepentingan jangka pendek memilih orang tertentu demi uang atau karena calon berasal dari suku atau agama yang sama. Berpikirlah dan bekerjalah untuk perubahan yang lebih berkelanjutan dan jangka panjang.
Kelima, semua pastor paroki untuk bekerjasama dengan rekan-rekan fungsionaris pastoral lainnya, lembaga-lembaga gereja dan organisasi lain serta orang-orang yang berkehendak baik merancang dan melakukan kegiatan pemberdayaan ekonomi di KUB-KUB agar umat katolik dan siapa saja yang bersimpati secara sadar dan bertanggung jawab mengembangkan komunitas politik di wilayah ini sesuai dengan nilai-nilai kristiani.
Keenam, pilihlah pemimpin yang sungguh-sungguh mampu dan mempunyai komitmen untuk memperjuangkan prinsip-prinsip politik yang kita dukung. Saudara-saudari perlu memahami rekam jejak politik masing-masing calon.
Ketujuh, hendaknya saudara-saudari tidak boleh memilih calon-calon yang secara publik diketahui berdasarkan rekam jejak politiknya berseberangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh gereja seperti korupsi.
"Saya meminta perhatian kalian secara khusus pada kasus-kasus korupsi yang terjadi di wilayah kita. Korupsi merupakan salah satu sebab pokok keterbelakangan wilayah ini dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia," ujar Uskup Kherubim.
Kedelapan, untuk semua pastor paroki, biarawan-biarawati tidak boleh menjadi anggota tim sukses dan mengiring umat untuk memilih pasangan calon tertentu.
Kesembilan, bagi yang bekerja di media massa supaya kembali ke misi dasar dari media massa yakni memperjuangkan kepentingan publik dan secara kritis mengontrol pelbagai kekuatan yang bisa merugikan kepentingan masyarakat banyak termasuk negara.
"Saya mengajak kalian semua untuk melakukan investigasi secara mendalam dan membuat pemberitaan secara kritis, tidak hanya sekadar mengikuti para pihak yang memberi keuntungan sesaat," papar Uskup Kherubim.(pos-kupang.com)
Selengkapnya...

Friday, 15 February 2013

Riby Keisha Ratu Waria Flores - Lembata 2013

Piala Ibu Gubernur NTT Lusia Dua Nurak Lebu Raya
Lapangan Kota Baru Maumere, Kamis (14/2/13) mencatat sejarah baru bagi waria Nian Sikka. Pasalnya pegelaran heboh bertema "Pemilihan Ratu Waria Sedaratan Flores-Lembata 2013" menorehkan Miss Riby Keisha sebagai pemenang. Mahkota kebanggaan ratu para waria tersebut akhirnya terbang ke Longser, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kota Maumere. Ribby Keisha menyingkirkan 39 finalis lainnya. Di babak akhir, Riby mendepak tiga finalis dan mencatatkan dirinya sebagai yang 'tercantik', smart dan bertalenta. Riby mematrikan namanya sebagai Ratu Waria pertama yang berasal dari Kabupaten Sikka. Mahkota kebanggaan para waria sedaratan Flores dan Lembata pada ajang pemilihan tersebut disematkan Natasha, Ratu Waria Flores Lembata 2012.


Ajang Pemilihan Ratu Waria memperebutkan Piala Ibu Gubernur NTT Lusia Dua Nurak Lebu Raya bertujuan memberikan kesempatan kreasi sekaligus menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap para waria ditengah masyarakat.
Pemilihan Ratu Waria Sedaratan Flores dan Lembata 2013 nyatanya mengundang banyak penonton. Setengah dari Lapangan Umum terisi bahkan dijalanan  arus lalulintas melambat.

Kehebohan di panggung, ditengah perayaan hari kasih sayang Valentine's Day membuat penonton bertahan hingga malam. Para waria Flores ini menampilkan berbagai kreasi diatas panggung dan berbagai gaya menjawab pertanyaan dewan juri. Ditambah pemandu acara Lyucky Reyner dengan gaya khasnya yang gokil, acara semakin semarak dan berbeda.

Selama kompetsi, para konstentan mengundang gelak tawa. Tingkah yang kadang lucu dan dandanan aduhai, sebagian bak boneka Barbei membuat penonton terus bersemangat. Tak ketinggalan Ketua Penggerak PKK Kabupaten Sikka sekaligus istri dari Bupati Sikka yakni Ny Firmina Sedo Mitang  dan Ibu Gubernur NTT Lusia Lebu Raya serta undangan lainnya terlihat begitu gembira.

Pemandangan ditengah kompetisi ini dikemas sedemikian rupa bak ajang pemilihan Putri Indonesia sehingga benar-benar menghibur. Tiga Juri bahkan menguji masing-masing waria dengan berbagai pertanyaan. Dari jawaban yang diberikan dewan juri menilainya. Sesekali penonton tertawa dan memberikan aplaus meriah atas jawaban yang dirasa tepat ataupun yang konyol.  Luar Biasa.

Riby tak menyangka akan menerima penghargaan luar biasa tersebut. Meski berusaha untuk tenang namun rautnya nampak nervous. Bahkan tak ada kehebohan bak ratu-ratu lainnya. Begitulah.
Pemberian piala dan penyematan salendang kebanggaan diberikan secara khusus oleh Ibu Gubernur Lusia Lebu Raya.
Ajang Pemilihan Ratu Waria ini diikuti hampir semua peserta sedaratan Flores Lembata. Dari Kota Lewoleba hingga Labuhan Bajao. Dari Kabupaten Lembata hingga Manggarai Barat. Kabupaten Sikka merupakan kontingen yang paling banyak mengirim pesertanya. Dari catatan inimaumere ada 17 konstentan asal Sikka yang terbagi dalam dua kontingen, yakni Sikka I dan Sikka II.

Gara-gara waria yang mengundang heboh, acara tersebut berlangsung hingga pukul 00.30 Wita atau setengah satu malam. Anak-anak usia sekolah dasar sebagian bertahan ditengah para penonton dewasa.

Sungguh ajang yang benar-benar menarik perhatian, sedikit nyeleneh namun membuktikan bahwa orang Maumere, ata Nian Sikka tak mempersoalkan kehadiran para waria. Mereka menerima kenyataan ini sebagai sebuah ragam aneka khidupan. Toh semua manusia sama didepan Tuhan. Dan para waria ini tak meminta menjadi waria. Maka diskrimasi terhadap mereka mesti dihilangkan. Dan angin segar itu telah berhembus dari Maumere, kota kecil di bumi Flores, NTT.

Sebagai Ratu Waria 2013, misi yang akan diembannya setidaknya mampu memberikan pencerahan terhadap masyarakat akan kehadiran para waria, menghilangkan perlakuan diskriminatip terhadap kaum waria bahkan kampanye hidup sehat dari HIV.ADIS.

  • Juara: Riby Keisha (Sikka) 
  • Juara II: Nania (Flotim) 
  • Juara III: Yudith (Ende) 
  • Juara IV: Nefri (Lembata)


bersama Ibu Gubernur Lusia Lebu raya

wwww.inimaumere.com
Selengkapnya...

Pulau Pangabatang, Serasa Pulau Pribadi di Maumere

Oleh: harry jonathan
Pulau Pangabatang adalah sebuah pulau kecil nan cantik yang belum terjamah di Teluk Maumere, Flores. Datang ke sana, traveler serasa berada di pulau pribadi, hanya ada Anda, pantai dan langit sebagai atap. Pagi itu saya dan teman-teman bergegas meninggalkan rumah sewaan kami menuju Pulau Pangabatang. Banyak cerita yang sudah kami dengar tentang keindahan pulau di Teluk Maumere ini, dan semuanya menarik. Kami pun memulai perjalanan dengan menggunakan mobil sewaan dari Maumere ke Watubaing. Watubaing adalah tempat kapal kecil menunggu untuk membawa kami ke Pulau Pangabatang.

Perjalanan memakan waktu selama 45 menit. Sepanjang perjalanan kami akan melewati beberapa perkampungan warga khas Flores. Uniknya, di depan rumah mereka terdapat kuburan dari keluarga yang meninggal. Sebagai informasi, Maumere adalah Ibukota Kabupaten Sikka dan dapat dicapai dengan pesawat dari Jakarta. Ada 2 pilihan transit, yaitu di Kupang dan Denpasar.
Begitu tiba di pelabuhan, tempat ini terlihat lebih mirip tempat bersandar kapal nelayan, bukan sebuah pelabuhan seperti yang sering kita lihat di film. Kapal kecil yang disewa berisi penuh dengan anggota grup kami. Anak buah kapal (ABK) hanya 2 orang. Di dalam kapal tidak ada jaket pelampung, dan makanan pun harus disediakan sendiri.
Setelah 45 menit perjalanan, Pulau Pangabatang pun mulai menampakan dirinya. Pasir putih terbujur memanjang, pantai putih yang landai semakin menggoda untuk segera ditapaki. Lokasi pulau ini berdekatan dengan Pulau Babi, yang pada tahun 1992 menjadi korban tsunami yang melanda Maumere.
Begitu tiba, kami membawa perbekalan ke sebuah pondok dan beristirahat sejenak untuk makan siang. Kabarnya penduduk di pulau ini hanya 60-80 jiwa dan mereka sedang dibimbing untuk menekuni usaha rumput laut, selain pekerjaan utama mereka sebagai nelayan. Mudah-mudahan industri rumput laut ini tidak merusak kemurnian alam di Pulau Pangabatang.
Bermain di pantai landai nan putih milik Pulau Pangabatang menjadi agenda kami selanjutnya. Ada sebatang pohon yang tumbuh unik di pasir yang landai, sehingga tampak seperti tumbuh ditengah laut.
Tatanan pantai yang landai ini sungguh menarik karena traveler dapat berjalan ketengah laut. Ikan-ikan cantik berseliweran di kaki, sementara kami berjalan menyusuri pantai. Belum lagi keindahannnya, bagai mutiara di Teluk Maumere.
Tidak ada pengunjung lain selain kami, benar-benar serasa ini pantai milik pribadi. Memang pantai ini hanya terkenal di kalangan penduduk lokal dan beberapa turis asing.
Berlibur di pulau Pangabatang menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Pantai landai nan luas serasa menjadi milik pribadi, hanya ada Anda, pantai dan langit tanpa batas.
Ikan-ikan kecil tanpa malu-malu berkeliaran di laut dangkal ini. Suatu objek wisata yang layak anda kunjungi ditengah perjalanan Anda melintasi Flores. Tapi ingat, bagi yang ingin mengunjungi pulau cantik ini disarankan untuk menghindari bulan November sampai Maret karena angin kencang.(harry jonathan/Detik travelL)
Selengkapnya...

Herman: Suatu Saat kematian Merry Pasti Terungkap

Misteri Kematian Merry Grace
Herman (duduk) mengisi biodata, PK
Pertanyaan masyarakat tentang kesimpangsiuran penyebab meninggalnya Merry Grace membuat aparat Polres Sikka bekerja ekstra keras. Kapolres Sikka, AKBP Budi Hermawan, bersama penyidik kepolisian setempat mengidentifikasi tiga kerangka manusia di Lela. Hasilnya, kerangka manusia dewasa diidentifikasi bernama Merry Grace karena ada saksi yang mengenal ciri fisik Merry semasa hidupnya. Ciri fisik itu berupa gigi palsu Merry yang dipasang saksi tahun 1990. Saksi keluarga juga memastikan cincin di jari manis Merry adalah cincin yang dikenakan Merry semasa hidupnya. Walau polisi baru mengeluarkan pernyataan dan keterangan tentang identifikasi kerangka manusia di Lela, tapi masyarakat sudah ramai berdiskusi dan memastikan itu adalah Merry Grace. Cerita itu sekejab menyebar sehingga polisi mencari tahu siapa yang 'mengeksekusinya.' Yang mana menurut polisi sesuai keterangan saksi, Merry mati karena dibunuh.

Minggu, 3 Februari 2013 sore, polisi menyerahkan tiga kerangka manusia itu kepada keluarga Merry untuk dimakamkan di Adonara. Polisi meminta keluarga menyerahkan semua proses penanganan kematian Merry dan dua bayinya kepada institusi Polri.
"Bagaimana dan siapa yang meletakkan Merry dan dua bayinya di tempat itu diserahkan kepada polisi guna mengusutnya. Yang jelas, polisi akan bekerja dan meminta bantuan keluarga," kata Ahmad, S.H, Kasat Reskrim Polres Sikka, saat menyerahkan kerangka Merry Grace kepada keluarganya.
Tekad Polres Sikka mengusut kematian Merry Grace terbilang cukup cepat. Polisi bekerja sama dengan keluarga berhasil mengetahui keberadaan orang yang diduga membunuh Merry dan dua bayinya. Kerja keras itu membuahkan hasil pada Senin, 4 Februari 2013 sore. Orang yang diduga membunuh Merry bersama dua bayi menyerahkan diri.
Herman alias HJM, disapa Herder, tak berkutik saat menyerahkan diri di Bandar Udara Frans Seda Maumere. Herman yang beberapa tahun terakhir bekerja di Kalimantan menyampaikan kepada keluarga korban bahwa dia sudah melakukan kesalahan. Kini, ia harus mempertangggungjawab perbuatannya secara hukum.
Herman menangis dalam perjalanan ke Polres Sikka. Ia mengaku bertanggung jawab atas kematian Merry Grace. "Saya yang melakukan itu. Saya bertanggung jawab sehingga saya datang ke Sikka agar tidak ada lagi cerita yang simpang siur mengenai keberadaan Merry," kata Herman di Markas Polres Sikka, Selasa (5/2/2013) malam.
Herman memang penuh misteri. Perbuatannya sungguh mengguncang suasana batin keluarga dan menggugah keprihatinan banyak orang. Herman membuat keluarga Merry terpukul. Siapa yang tak sakit hati dan kesal. Herman dengan keberaniannya dan dalam ketidakberdayaan datang dengan polos menghadapi proses hukum.
Kepada Pos Kupang, Senin (11/2/2013) siang di Mapolres Sikka, Herman kembali menuturkan, perbuatannya itu telah membuat seribu tanya menghantuinya selama merantau di Kalimantan.
"Saya sudah siap, tapi selalu ada pertanyaan yang menghantui saya. Oleh karena itu, saya meminta kalau bisa saya didampingi seorang rohaniawan dari Larantuka. Saya butuh kehadirannya. Saya tidak bercerita kepada dia apa yang telah saya buat. Tetapi saya memerlukan kehadirannya karena saya merasa tidak kuat dan perlu ada kekuatan orang lain agar saya bisa menghadapi masalah ini," pinta Herman.
Tidak hanya itu, Herman juga meminta keluarga Merry memaafkannya agar bisa membantunya dalam proses hukum.
"Saya meminta maaf kepada keluarga. Saya sudah siap menerima keluarga korban yang mau datang bertemu dengan saya. Saya siap. Hukuman di akhirat itu adalah tanggung jawab saya dengan Tuhan. Tetapi saya tetap berusaha agar meminta maaf kepada keluarga korban. Saya tidak benci sedikit pun dengan orang yang telah membongkar kasus saya ini. Saya sekarang ini hanya bisa memarahi dan membenci diri saya sendiri. Orang lain saya tidak akan benci, karena saya sudah pikir suatu saat pasti akan terungkap. Dan, saya harus menjalani hukumannya," kata Herman.
Herman mengakui apa yang ia lakukan telah membuat banyak orang terluka. Herman pun meminta kepada polisi kalau berkenan bertemu dengan Pater Peter Payong, SVD, wakil keluarga Merry.
"Saya tidak akan dendam dengan Pater. Saya pun tidak akan melakukan tindakan apapun kalau bertemu Pater Peter. Kalau tidak percaya, nanti borgol saja tangan saya biar saya tidak melakukan apa-apa kalau ada yang khawatir ketika saya bertemu Pater Peter," ujar Herman.
Sebagai manusia, Herman merasa belum tenang karena permintaan maafnya kepada keluarga Merry belum tersalurkan. Apalagi acara adat di Kampung Adonara belum dikabarkan kepadanya di Maumere.
"Tetapi saya berusaha tenang karena sekarang ini ada seorang pengacara yang mendampingi saya. Hak saya sebagai tersangka telah dijalankan polisi. Tetapi bukan berarti ada pengacara, saya bebas. Bukan begitu. Saya sudah siap menjalani hukuman atas apa yang saya buat," papar Herman.
Bagaimana reaksi atas tindakan Herman, keluarga Merry, Pater Peter Payong, SVD yang dihubungi Pos Kupang ke ponselnya, Jumat (8/2/2013) siang menjelaskan, keluarga telah menguburkan Merry Grace dan dua bayinya di Adonara.
Menurut Pater Peter, saat berada di kampung banyak orang yang minta agar ia menceriterakan detail kasus tersebut. Namun Pater Peter minta agar semua orang dan keluarga saat ini mendoakan arwah Merry Grace dan dua bayinya.
Saat misa pemakaman, jelas Pater Peter, dalam khotbahnya ia meminta keluarga dan semua umat yang ada agar berdoa untuk Merry Grace dan dua bayinya yang akan dimakamkan.
Permintaan keluarga Merry agar memroses Herman secara hukum, Polres Sikka masih mencari waktu yang tepat melakukan reka ulang (rekonstruksi) kasus pembunuhan itu. Selain waktu, juga penentuan lokasi rekonstruksi menjadi pertimbangan, khususnya dari segi keamanan.
Kapolres Sikka, AKBP Budi Hermawan, SIK, melalui Kasat Reskrim Polres Sikka, AKP Ahmad, S.H, saat ditemui Pos Kupang di Maumere, Jumat (8/2/2013) siang, menjelaskan, proses kasus ini sudah pada tahap Surat Perintah Dimulai Penyidikan (SPDP) kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Maumere.
Untuk itu, jelas Ahmad, rencana rekonstruksi akan dikoordinasikan dengan jaksa. Koordinasi dimaksud mengenai teknis pelaksanaan rekontruksi, baik dari segi lokasi maupun waktu. Untuk masalah tempat, Ahmad mengatakan, apakah rekonstruksi di lokasi penggalian di Lela atau di tempat lain, masih perlu didiskusikan lagi.
Perihal pengembangan pemeriksaan terhadap tersangka, Ahmad menjelaskan, rencana polisi semula melakukan test DNA. Namun dalam perkembangannya test DNA ini tidak lagi dilakukan. Pasalnya, dari kegiatan identifikasi yang dilakukan terhadap kerangka yang ada, baik dari keterangan saksi maupun keterangan tersangka, menerangkan bahwa rangka manusia tersebut adalah Merry Grace.
"Saksi dokter gigi sebelumnya menerangkan gigi kerangka itu adalah gigi Merry Grace. Dokter tersebut yang pasang kawat gigi dan menambal gigi tersebut. Sementara keterangan tersangka juga membenarkan gigi itu adalah gigi Merry Grace.
Sejumlah benda yang dipakai Merry Grace yang ditemukan dalam penggalian tersebut, seperti jam tangan, cincin, sepatu dan ikat rambut, oleh tersangka membenarkan bahwa barang-barang itu merupakan barang-barang yang dipakai Merry Grace," jelas Ahmad.
Ia mengungkapkan, barang lain yang ditemukan dalam penggalian tersebut yang dibenarkan tersangka adalah selimut coklat dan sprei yang dipakainya untuk membungkus jasad Mery Grace saat dikubur.
"Keterangan saksi dan tersangka telah menguatkan identifikasi tersebut. Menurut dokter kesehatan Polda NTT, jika ciri-ciri identifikasi sudah kuat, tidak perlu test DNA," tandas Ahmad.
Menyinggung pasal yang dijerat terhadap Herder, Ahmad menyebut pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan pasal 338 tentang pembunuhan biasa. (pos-lupang)
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---