Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Monday, 9 September 2013

KRI dr. Soeharso Kunjungi Maumere Tiga Hari

Pelabuhan L. Say berubah. Dalam tiga hari yakni dari tanggal 5-sampai 8 september 2013, KRI dr. Soeharso menggelar berbagai kegiatan amal seperti pengobatan gratis dan perbaikan sarana prasarana. Kegiatan tersebut merupakan baian dari rangkaian menyukseskan Sail Komodo 2013. Untuk pengobatan gratis tersebut, dipergunakan ruang tunggu Pelabuhan L. Say dan Kapal KRI dr. Soeharso sebagai rumah sakit terapung. Dibukanya kegiatan amal tersebut membuat lokasi pelabuhan dibanjiri ribuan warga Kabupaten Sikka dengan berbagai keluhan penyakit. Ruang operasi ditempatkan di rumah sakit terapung. Operasi yang diadakan terdiri dari operasi bibir sumbing, katarak dan lainnya.

Kunjungan kapal perang rumah sakit ini disambut Bupati Sikka Ansar Rera dan sejumlah pejabat lainnya. Kolonel Laut Taat Siswo Sunarto yang menjabat sebagai Komandan Satuan Kapal Bantu (Dansatban) Koartim dikalungi selendang khas Sikka, sebelunya tarian hegong dan Huler Ware menyambut rombongan.
Selama tiga hari operasi dan pengobatan berlangsung, sejumlah pasien mengaku bersyukur. Sebab dengan adanya pengobatan gratus tersebut mereka tidak dikenakan biaya apapun. Bahkan dalam kunjungan TNI Angkatan Laut tersebut, khitanan massal menjadi salah satu target pelayanan. Jadi jangan heran, dilokasi pengobatan banyak warga pesisisr dan anak-anak.
Kegiatan Satgas Bakti Surya Bhaskara Jaya LXII/2013 (SBJ) di wilayah Maumere berupa pelayanan kesehatan, pelayanan masyarakat dan renovasi sarana dan prasarana umum. Sedangkan pelayanan kesehatan berada di dua tempat yakni darat dan di kapal. Untuk Posko pelayan kesehatan didarat meliputi kesehatan umum, gigi dan khitan. Untuk bedah mayor, operasi katarak dan bibir sumbing bertempat di kapal perang rumah sakit.
Kunjungan kapal perang rumah sakit KRI dr. Soeharso-990 Jumat (6/9/2013) adalah dalam rangka kegiatan Operasi Bakti Surya Bhaskara Jaya LXII/2013 diwilayah Propinsi NTT yang meliputi pelayanan kesehatan, renovasi sarana dan prasarana umum, penyuluhan ketahanan nasional dan penyerahan bahan kontak meliputi wilayah Lembata, Maumere, Labuhan Bajo dan Waingapu.
Di Maumere, 1038 orang tenaga medis, dokter, pilot, kru heli, prajurit pengawak kapal perang akan bertugas bagi warga Kabupaten Sikka. Dua ruang kesehatan diberlakukan didarat yakni di ruang tunggu pelabuhan dan di KRI Soeharso yang dijadikan rumah sakit terapung. PUNDI SCTV dan Peduli Indosiar ikut bersama kapal tersebut melayani warga Kab. Sikka.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 3 September 2013

Gema Rokatenda Ajak Warga Keluar dari Zona Merah

Dua awak Radio Gerok FM atau Gema Rokatenda FM, Charles dan Nelis mengajak warga Palue yang masih bertahan di Zona Merah agar segera meninggalkan wilayah tersebut. Keduanya merupakan relawan pada Posko Gabungan untuk Bencana Rokatenda. Dalam kegiatannya, Posko Bencana Rokatenda dikoordiniR oleh Romo Yan dan Camat Palue L. Reggi. Saat letusan dahsyat tanggal 10 2013 Agustus lalu, Nelis bersama tim relawan lainnya membantu warga yang mengalami kesulitan. Anak muda yang masih menyandang status mahasiswa ini pun ikut dalam gerakan mengevakuasi warga Palue yang dipimpin Bupati Ansar kala itu. Sedangkan Charles mengumpulkan fakta dan melaporkan kembali lewat siaran udara Gerok FM.
Keduanya bekerja bahu membahu mengajak warga keluar dari zona merah. Dimana tetes-tetes kesedihan itu masih membekas ditanah mereka. Keduanya membantu memberitahu kepada masyarakat Palue bahwa ada tempat-tempat aman jika terjadi situasi darurat.
Minggu (2/9/2013) malam, Charles dan Nelis secara sederhana mengudara lewat Radio Suara Sikka FM. Muncul dari Palue, didepan corong stasiun radio yg beralamat di Jalan Don Thomas Maumere ini, mereka menceritakan situasi terakhir serta suka duka Gerok FM merambah belantara Palue. Lewat corong Suara Sikka FM, mereka juga menyapa warga Palue yang berada di Maumere dengan bahasa daerah mereka, Palue.
Keduanya mengatakan hingga saat ini (2/9/2013) jumlah pengungsi yang bertahan di zona merah berjumlah 1.020 orang. Kata Charles, mereka berada di tiga desa yang dikatakan berbahaya. Sudah berkali mengajak agar mengungsi ke zona aman. Namun nampaknya tidak mudah. Mulai dari keterikatan adat, menjaga rumah dan lain-lain.

Kerja keras relawan dan pemerintahan kecamatan dalam sosialisasi persuasif terhadap warga yang masih bertahan di zona merah masih berlangsung.
Tiga desa masih dihuni warga dan masuk dalam zona merah. Ketiga desa tersebut adalah Tuanggeo, Ladolaka dan Desa Kesokoja. Sedangkan desa-desa lainnya yang terkena dampak seperti Lidi, Rokirole, Nitung Lea dan lainnya sudah ditinggalkan meski belum total 100%.
Keduanya hari ini berharap agar warga Palue bisa kembali ceria menyongsong hari esok. Hari esok penuh harapan entah dimana saja mereka berada. Kepada saudara-saudata mereka yang berada di zona merah, keduanya menghimbau agar bisa meninggalkan wilayah tersebut.
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

GEMA ROKATENDA SAHABAT DI TENGAH BAU BELERANG!

Sebuah perjuangan dalam sisi berbeda dilakoni sebuah radio komunitas di Palue. Radio dengan peralatan terbatas ini menyemat nama GEMA ROKATENDA FM atau disingkat GEROK FM. Ditengah belantara Palue, Gerok FM hadir sebagai sarana informasi dan hiburan satu-satunya. Ketika Status Siaga 3 ditetapkan bercampur cerita pilu kepanikan dan ancaman letusan Rokatenda, Gerok FM setia berjuang di garda depan. Radio ini gencar mensosialisasikan ajakan evakuasi kepada masyarakat. Juga memberikan layanan informasi seputar Rokatenda. Dibantu peralatan siaran yang sangat sederhana seperti laptop dan wairles (pengganti mixer radio), Gerok FM yang didirikan 8 September 2011 melewati waktu dengan berbagai kisah mengharukan, bahkan disaat Rokatenda mulai menghardik Pulau Nua. Hebatnya, sejak Juni awak radio bertambah satu. Putra Palue, Nelis Pasha, anak muda yang bekerja tanpa upah.sebagai penyiar dan reporter, menjadi penghuni garda Gerok FM.

Bersama pendiri Gerok FM, Charles Senda, kedua putra Rokatenda ini berjibaku memberikan informasi bagi warga Palue. Bahkan ketika saat ini Rokatenda masih menebar ancaman.
Gerok juga mengandeng pihak gereja setempat dan pemerintah kecamatan mengsosialisasikan pada warga agar meninggalkan 3 desa zona merah.
Meski memiliki studio sangat sederhana, mereka tak patah arang. Semangat memberikan informasi kepada warga yang membutuhkan membuat keduanya terus hadir disegala situasi. Gerok menggunakan sebuah ruangan seadanya di kantor Desa Reruwairere. Dari sini celoteh penyiar merasuki belantara Palue, melewati hujan, badai, panas bahkan asap belerang Rokatenda. Diawal berdirinya hingga kini Gerok FM menjadi hiburan satu-satunya warga Palue.

Lewat kesabaran, ketekunan dan dedikasi bagi orang banyak, disegmen siaran tertentu radio ini menjadi jembatan mempertemukan para keluarga yang terpisah sangat lama. Seperti para keluarga perantau di Malaysia atau Batam. Disinilah Gerok FM hadir mempertemukan mereka.

Bisa dibilang, Gerok telah merubah segala harapan dikala komunikasi masih merupakan sesuatu yang sulit bagi Palue. Gerok FM mencoba membantu saudara-saudaranya dengan cara mereka yang sederhana.

Meski demikian, dedikasi tak berujung Gerok FM telah menjelma menjadi harapan. Ketika usai Rokatenda berontak dan melontarkan api menerangi langit gelap Palue, Gerok menjelma menjadi teman yang selalu setia. Tak heran kedua punggawa Gerok FM ini sangat dikenal oleh seluruh warga Palue.

Keduanya berharap agar warga Palue bisa kembali ceria menyongsong hari esok. Hari esok penuh harapan entah dimana saja mereka berada. Kepada saudara-saudata mereka yang berada di zona merah, keduanya menghimbau agar meninggalkan wilayah tersebut.

Tentang Gerok FM, mereka berharap ada donatur yang memberikan bantuan bagi peralatan studio. Sehingga perangkat darurat yang dimiliki Gerok bisa berganti dengan peralata siaran yang memadai.

Tentu saja, saat ini keduanya sedang mengurus izin siaran bagi Radio Gerok FM, agar tetap berjaya di udara. Saat di Maumere, keduanya sedang melakukan pendekatan dan persiapan untuk pengurusan izin radio komunitas.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 30 August 2013

Tiga Lahan Relokasi di Pulau Besar

Untuk Relokasi 372 KK Rokatenda

Warga Dusun Nanga, Desa Kojagete, Pulau Besar, Kec. Alok Timur akan menerima secara terbuka dan kekeluargaan 372 KK warga Palue korban letusan Rokatenda jika direlokasi ke dusun mereka. Warga disini sepakat menyerahkan lahan di tiga tempat di Nanga yakni di Nanga Doi, Bola Pomat dan Urun Detung utk rencana pemukiman. Demikian dialog penuh kekeluargaan antara bupati dan warga dusun tadi siang, Kamis (29/8/2013) di halaman Kapela St Yosep Freinadmetz, Stasi Nanga, Paroki Talibura, Pulau Besar. Tiga lahan tersebut kemumudian di tinjau langsung Bupati Ansar dan Rombongan. Ikut dalam peninjauan lokasi lahan adalah Bapa Uskup Kherubim,SVD, Ketua DPRD Sikka Rafael Raga, Dandim Sikka Letkol Satya, Kapolres Sikka, AKBP Budi Hermawan dan pimpinan SKPD terkait serta LSM.

Bupati dalam dialog tersebut mengucapkan terima kasih kepada warga Dusun Nanga karena bersedia menerima para pengungsi di pemukiman dimana lahan tersebut diberikan oleh warga dusun.
Bupati berjanji akan memperhatikan pembangunan di dusun ini, bukan hanya untuk warga pemukiman baru. Tapi secara menyerluh bagi warga di Dusun Nanga, seperti fasilitas air minum, Rabat jalan,kesehatan, listrik dan sekolah.
Menurut rencana, ada 372 KK yang di relokasi ke pemukiman baru di Nanga. Selama ini mereka masih dalam penanganan Pemkab Sikka dipengungsian di bekas kantor bupati, Kota Baru, Maumere. Para pengungsi ditempat ini merupakan korba letusan Rokatenda yang terjadi tanggal 10 Agustus 2013 lalu.
Sedangkan pengungsi tahap pertama direncanakan dalam waktu dekat ini direlokasi ke lahan pemukiman yang sedang dipersiapkan di Hewulu dan Nangahure.
"Mudah-mudahan dengan sambutan baik warga dusun, kami cepat menambil keputusan. Kalau begitu pemukiman kami tetapkan di dusun Nanga, Desa Kojagete, sehingga dapat mempercepat pembangunan pemukiman, sehingga mereka juga tidak lebih berlama dipengungsian," kata Bupati.
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 26 August 2013

DPR RI Kunjungi Lokasi Pengungsi Rokatenda

Komisi VIII DPR RI yang menangani bidang sosial Sabtu (24/8) mengunjungi lokasi pengungsian korban letusan Rokatenda yang mendiami bekas kantor bupati, Kelurahan Beru, Maumere. Kedatangan lima anggota dewan tersebut dipimpin Sayed Fuad Zakaria, Wakil Komisi VIII DPR RI. Selain meninjau dan melihat langsung kondisi ril para pengungsi dan fasilitas dilokasi, mereka juga  berdialog dengan para korban ketusan Rokatenda. Ke-lima anggota dewan ini datang sekitar pukul 10.00 wita. Mereka didampingi Sekda Sikka Sili Tupen dan Dandim 1603 Letkol Satya. Usai turun dari mobil, mereka langsung meninjau ruangan-ruangan di gedung berlantai dua tersebut. Kunjungan ini cukup tepat karena ke-limanya langsung berdialog dengan para pengungsi.

Diantaranya, mereka mendengar langsung keluhan dan keinginan warga. Sayed berpesan agar para pengungsi menetap di Maumere dilahan yang disiapkan pemerintah. Dialog berjalan dengan penuh keakraban.
Dari gedung tersebut, kelimanya lantas mengunjungi tenda-tenda pengungsi. Kunjungan juga dirangkai dengan melihat langsung dapur umum, sanitasi serta MCK. Di lokasi ini telah berdiri sekitar 20-an MCK.
Kepada sejumlah media usai peninjauan, beliau mengatakan akan menyampaikan kepada pemerintah pusat agar mengalokasikan anggaran dalam rangka rehab rekon yang lebih cepat. Begitu juga kepada kementerian terkait, dewan akan meminta mempercepat proses relokasi masyarakat erupsi sehingga tidak lama-lama berada dipengungsian. Demikian juga mengenai kondisi tenda pengungsian, MCK, gizi dan lain-lain menurutnya mesti diperhatikan lagi sehingga para penguingsi lebih merasa nyaman beraktivitas.
Kepada warga Palue yang masih tinggal di pulau tersebu Sayed meminta agar mau dievakuasi ke Maumere. Sebab katanya, aktivitas gunung berapi Rokatenda belum menurun sehingga masih rawan bencana.
Anggota DPR RI ketika di Maumere juga sempat bertemu Bupati Ansar Rera dan Wabup Nong Susar. Kepada pengungsi, Komisi VIII memberikan bantuan berupa lima ton beras dan uang Rp. 150 juta.
Hingga berita ini ditulis, status gunung yang menewaskan lima orang di Palue sejak meletus 10 Agustus 2013 masih berstatus Siaga 3.
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sudah 1024 Orang di Evakuasi ke Maumere

Patut diberi apresiai atas perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka sejak letusan dahsyat yang menewaskan lima orang terus memberikan perhatian terhadap pengungsi korban letusan Gunung Rokatenda. Diawali letusan 10 agustus lalu, pemimpin Kabupaten Sikka yang baru, Yos Ansar Rera terjun langsung ditengah lokasi letusan memimpin evakuasi. Beliau rela menginap di Palue ditengah bau belerang akibat erupsi Rokatenda. Beginilah wajah pemerintah yang memang seharusnya memiliki respon postip terhadap saudara-saudara kita di Palue. Masyarakat Sikka mendukung penuh. Hingga tanggal 24 agustus 2013, sesuai data yang dikeluarkan BPBD Sikka jumlah pengungsi yang menetap di lokasi bekas kantor bupati, Kelurahan Beru berjumlah 1024 orang atau 372 KK.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Jumlah Laki-laki, 405 orang 
  • Perempuan: 619 orang 
  • Bayi: 13 orang Balita: 113 orang 
  • Ibu Hamil: 10 orang
  • Lansia: 102 orang. 
  •  Cacat: 3 orang.


Jumlah pengungsi diatas merupakan pengungsi akibat letusan Rokatenda yang terjadi 10 agustus 2013 lalu. Situasi di lokasi pengungsian, selain gedung kantor bupati digunakan, membludaknya pengungsi mengakibatkan daya tampung kantor yang terbakar 2009 lalu tidak lagi mampu menampung. Hingga dibangunlah tenda-tenda darurat disekitar gedung kantor tersebut.
Para relawan dari 14 organisasi kemanusiaan dengan jumlah 118 orang menjadi ujung tombak yang patut pula diberi apresiasi. Mereka bekerja 24 jam ditengah pengungsi. Tim kesehatan mendirikan tenda pengobatan disamping pintu masuk. Tim Palang Merah Remaja dari siswsi-siswi SMAN 1 berjibaku usai pulang sekolah hingga malam membantu para relawan lainnya bekerja. Luar biasa.
Untuk mengusir kebosanan, sejumlah masyarakat Maumere menghibur saudara-saudara kita pengungsi dengan sejumlah lagu-lagu pengiring waktu dimalam hari. Anak-anak diajak bermain bola kemanusiaan oleh Baba Ice atau Moat Babong. Bahkan beliau yang dikenal sebagao seorang pecinta kemanusiaan ini membuka layanan potong rambut gratis, membantu ibu-ibu menenun, yang lainnya membantu dengan cara mereka sendiri-sendiri.
Bagaimana dengan kelanjutan nasib anak-anak yang bersekolah? Sesuai janji pemerintah, sejak tanggal 19 agustus lalu, sebanyak 368 siswa pengungsi Gunung Rokatenda yang terdiri dari 259 siswa SD dan 109 siswa SLTP telah mengikuti kegiatan belajar mengajar sementara di gedung sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere dan SMPK Yapenthom. Kegiatan belajar mengajar ini dilakukan siang hari usai kegiatan belajar mengajar bagi siswa siswi SLTP dan SLTA sekolah tersebut.
Pemerintah sedang menyiapkan lahan relokasi bagi para pengungsi di Nangahure dan Hewuli. Harapan pemerintah bahwa masyarakat tidak lagi kembali ke Palue seperti yang diucapkan Gubernur NTT Frans Lebu Raya kala bertemu pengungsi beberapa waktu lalu. Ia mengajak masyarakat menetap di Maumere dan tidak lagi kembali ke Palue. Sesekali boleh saja melihat pekarangan di sana, begitu kata Lebu Raya kala itu.
Bantuan untuk pengungsi terus mengalir. Selain pemerirah, pihak swasta, perorangan, organisasi, gereja dan lainnya terus bergerak dalam satu tujuan agar saudara-saudara kita tidak berjalan sendiri.
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Pangkas Rambut Langsung Ganteng

Moat Babong, Sukarelawan dari Kabor


Begitulah pangkas rambut ini dibuka hanya di lokasi pengungsian, yang terletak di Jalan Ahmad Yani, di gedung dan lahan bekas kantor bupati. Disinilah bermukim saudara-saudara kita yang dievakuasi akibat letusan rokatenda melanjutkan hidup sehari-hari. Karena rasa peduli memberikan waktu luang di tengah pengungsian. Ia bukanlah orang asing ditengah pengungsi Rokatenda. Beliau dikenal sebaga Baba Ice asal Kabor, namun kepada sejumlah pers nasional siang itu beliau memperkenalkan diri sebaga Moat Babong!

Pangkas rambut ini Gratis! Tidak Dipungut biaya sepersepun. "Pangkas rambut "Langsung Ganteng saya buat secara sukarela agar saudara2 kita yg dievakuasi disini boleh memotong rambut tanpa biaya, kasihan kalau mereka ke tukang pangkas mesti keluarkan uang sampe Rp 15 ribu belum ojek pulang pergi," ujar Moat Babong. Atas dasar itu beliau membuka pangkas rambut yg berdiri dibawah pepohonan sejuk.
Hebatnya, tukang cukur bukan hanya dirinya saja. Siapa saja yang bisa cukur dan mau meluangkan waktu memangkas rambut para pengungsi boleh bergabung. Niat tulus Moat Babong dan rekan-rekan ini bisa ditemui setiap hari.
"Tapi kalo sore, jadwal saya bermain bola kemanusiaan bersama anak2 korban letusan",kata Baba Ice alis Mota Babong.!
Baba Ice bukan orang baru ditengah pengungsian. Selama ini beliau beraktivitas di lokasi pengungsian Transito selama 7 bulan. Antara lain juga membantu ibu-ibu menenun sarung tenun ikat.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---