Menjelang Natal.Suasana diliputi kerinduan kepada semua orang yang kita sayang.Kerinduan kepada kampung halaman dimana kita pernah tumbuh dan besar disana dalam keceriaan natal yang indah.Di link New Mp3 NTT telah kami sediakan sementara beberapa lagu Natal,jika ingin mendapatkannya silakan saja,semuanya free alias gratis tis tis.
Selengkapnya...
Friday, 12 December 2008
Lagu Natal..
Diposkan oleh Megu Nora Au di 00:00 0 comments
Thursday, 11 December 2008
Mengenang Gempa Tsunami Desember 1992..
Flores,12 Desember 1992. Cuaca di kota Maumere dan Kabupaten Sikka pada umumnya terasa sangat panas dan menyengat tidak seperti hari-hari biasanya. Warga kota lebih memilih berada di luar rumah mencari udara yang sejuk dengan bersantai-santai dibawah pepohonan rindang. Beberapa warga malah mencoba mengguyur tubuh mereka dengan air dikamar mandi untuk menghilangkan rasa panas karena cuaca yang tak bersahabat itu. Waktu terus berjalan mendekati pukul setengah dua siang WITA. Anak-anak sekolah telah berada di rumah masing-masing. Para nelayan tetap seperti biasanya sibuk mencari ikan di laut yang menghidupi mereka. Namun tiba-tiba tanpa peringatan terlebih dahulu guncangan hebat terasa melanda bumi yang dipijak. Bumi seakan-akan dipermainkan oleh tangan-tangan raksasa. Gemuruh bunyi seperti bunyi gedung-gedung yang sedang diruntuhkan terdengar menakutkan telinga. Semua berlari tak tentu arah, berhamburan dengan rasa takut yang luar biasa.”Gempa..gempa..gempa..” teriak mereka.
Ibu-ibu sibuk mencari anak-anak mereka, anak – anak kecil menangisi diri mereka karena tak tahu harus berbuat apa. Para lelaki dewasa kesana kemari mencari dan menyelamatkan semua keluarganya. Semua Panik!! Kota kecil nan tenang dilanda malapetaka hebat, menghancurkan semua yang telah dibangun, menghancurkan kehidupan dan semua cita-cita, melenyapkan semua harapan warga kabupaten yang sedang ditata.
Tiba-tiba dari arah pantai berhamburan warga masyarakat yang tinggal dikawasan itu sambil berteriak,”Air laut naik..air laut naik..air laut naik...”
Mereka terus menjauhi laut yang selama ini menghidupi mereka dengan suara yang tak henti-hentinya berteriak ketakutan. Warga kota semakin panik. Gelombang air laut terus mendekati jalan raya dikawasan bagian utara kota yang berdekatan dengan pantai. Tsunami (populer setelah gempa Aceh nan dahsyat) tak ketinggalan ikut serta ambil bagian dalam peristiwa itu. Beberapa tubuh terlihat jatuh terkulai bersama reruntuhan gedung yang menimpa mereka.
Pelabuhan Sadang Bui (pelabuhan kapal laut di kota Maumere) yang selama itu aktif dengan jadwal bongkar muat barang yang mulai padat hancur disepak sang jendral yang bernama Tsunami.
Sebuah kapal besi dikawasan perairan pelabuhan yang selama bertahun-tahun hanya menjadi hiasan laut dan menjadi tempat bermain bocah-bocah kecil karena telah karam, dilempar buang oleh si tsunami langsung mengangkangi jalan raya pelabuhan.
Beberapa kapal kecil terlihat pasrah menerima keadaan antara laut dan darat dan membingkai peristiwa itu menjadi sebuah kenangan pahit yang sulit untuk dilupakan. Banyak warga yang berada di pelabuhan hilang ditelan laut.
Tsunami terus bergerak, menghancurkan semua yang berada didepannya. Pulau Babi, sebuah pulau kecil yang berada didepan Maumere hancur lebur diterjang gelombang. Banyak media memberitakan ratusan penghuni pulau itu tewas disapuh tsunami. Pulau kecil nan elok menghiasi lembaran peristiwa pahit dan tragis, menjadi saksi bisu betapa angkuhnya alam jika kita mulai mencampakan kebesaranNya.
PT.Bali Raya,sebuah perusahaan pendinginan ikan satu-satunya di kawasan pulau Flores sat itu hancur di terjang gelombang tsunami. Gelombang air laut tersebut naik dan dengan sombongnya merembes melewati gedung Bali Raya menuju rumah warga sekitarnya dan jalan raya dikawasan pertokoan.
Tak sampai disitu, kampung nelayan tradisional Wuring dan wilayah sekitarnya yang berada tak jauh dari kota Maumere tak luput dari amukan ‘air laut naik’ (baca;tsunami). Sebagian warga Wuring yang mendirikan rumah mereka diatas laut cuma bisa pasrahkan diri ketika amukan gelombang maut datang menyapa mereka.Semuanya hancur. Yang pasti, semua kawasan pesisir pantai bagian utara kabupaten Sikka dan Flores pada umumnya hancur lebur dihantam sang tsunami.
Ditengah kota terlihat kepanikan luar biasa. Gedung-gedung pertokoan, perkantoran dan rumah warga banyak yang hancur. Banyak pula warga yang tewas. Pasar Baru Maumere yang berada ditengah kota dalam kawasan pertokoan pun cuma bisa tertunduk lesu ketika guncangan gempa yang menakutkan mulai menggerogoti bagunannya.
Semuanya berlari membawa keluarganya. Ada yang berusaha mengungsi keperbukitan atau ke kampung-kampung yang jauh dari kota dengan maksud menghindari gelombang tsunami. Sekolah-sekolah, gedung-gedung perkantoran, sarana-sarana umum dan sebagain besar rumah warga banyak yang rusak parah (hancur). Terlihat ibu-ibu dan keluarganya meneteskan air mata mereka dengan sikecil yang terdiam penuh ketakutan dalam dekapan sang ibu. Semua menangisi harapan-harapan mereka yang amblas dirampas dengan paksa dari hidup mereka oleh si penghancur bernama gempa tsunami.
Kawasan lapangan umum Kota Baru Maumere dan Gelora Samador da Cunha akhirnya menjadi salah satu alternatif tempat pengungsian sementara sebagain warga kota untuk menghindari amukan berikutnya. Namun ada juga sebagian masyarakat yang tetap bertahan dirumah-rumah mereka dengan mendirikan tenda-tenda darurat disekitar rumahnya untuk menghindari gempa susulan.
Dihalaman Rumah Sakit TC Hillers Maumere terlihat seorang ibu yang melahirkan bayi mungil nan lucu disela kepanikan warga dan guncangan gempa. Ibu tersebut ditolong oleh para perawat wanita yang siaga merawati pasien yang memenuhi halaman rumah sakit.
Malam hari lebih mencekam.Listrik padam. Trauma masih ada. Guncangan gempa susulan meski tak sebesar guncangan pertama sering membuat warga panik apalagi isu mengenai air laut naik masih sering terdengar dan membuat warga tak cukup nyenyak menutup mata mereka sekedar beristirahat sejenak. Semua tetap waspada.Hujan gerimis pun ikut prihatin dengan memperlihatkan kesedihannya menetesi bumi Flores yang sedang berduka dengan tetes-tetes airnya yang semakin membuat warga menderita. Gelap karena lisrtrik padam,hujan pun turun.Lengkap sudah semuanya.
Disela kepedihan dan menderitanya warga,ada pula kisah-kisah ajaib beberapa warga yang selamat dari reruntuhan gedung maupun gelombang tsunami. Semuanya merupakan kisah nyata dari bagian peristiwa memilukan yang pernah terjadi di bumi Nusa Bunga, Flores tercinta.
Pemerintah pusat langsung menyatakan bencana gempa tsunami Flores sebagai bencana nasional. Uluran bantuan pemerintah pusat dan warga Indonesia pada umumnya serta bantuan dari luar negeri banyak membantu warga Flores untuk bertahan hidup ditengah derita mereka. Selain Kabupaten Sikka yang paling banyak memakan korban manusia dan parah dalam sapuhan tsunami dan gempanya, beberapa kabupaten lain di Flores seperti Ende, Flores Timur, Ngada juga menderita dalam malapetaka yang sering disebut dengan sebutan Gempa Flores ’92.
Gempa Flores berkekuatan 6.8 skala Richter (SR). Gempa bumi ini menyebabkan tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir pantai Flores, membunuh setidaknya 2.100 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan lebih dari 5.000 orang mengungsi.
Gempa ini sedikitnya menghancurkan 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya. Kabupaten yang terkena gempa ini ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores Timur.Kota yang paling parah ialah Maumere. Lebih dari 1.000 bangunan hancur dan rusak berat.
Hati kita sedih saaat terjadi gempa Flores 1992 yang merenggut lebih dari 2000 orang meninggal. Mereka meningal bukan akibat gempa itu sendiri tapi akibat reruntuhan kontruksi rumah yang menimpa, dikombinasi energi tsunami yang menghancurkan. Gempa Flores pernah menjadi ikon bencana besar Indonesia, namun perlahan-lahan terlupakan.
Pemerintahan Bupati Alexander Idong saat itu harus bekerja ekstra keras untuk memulihkan kehidupan masyarakatnya yang lumpuh total. Trauma dan kenangan buruk menjadi tantangan bagi pemerintahan Alex Idong. Dengan segenap kemampuannya dan didukung oleh rakyatnya, perlahan-lahan Kabupaten Sikka bangkit kembali dan menjadi kabupaten yang kemudian berdiri tegar menata kembali semua sudut kehidupannya, sejajar kembali dengan kabupaten-kabupaten lain di NTT dan Maumere kini menjadi kota nomor satu di bumi Flores.
Sumber; para saksi yang mengalami peristiwa tersebut..
Donlod..:
Mof Tetap Manis.mp3
Foto-foto by Ricky Mane Parera :
Pelabuhan Sadang Bui

Toko Kalimas

Kawasan Pertokoan

Pasar Baru

Rumah Warga

Gudang Kopra

Pengungsian di lapangan Kota Baru

Sadang Bui Maumere

www.inimaumere.com/Oss
Selengkapnya...
Ibu-ibu sibuk mencari anak-anak mereka, anak – anak kecil menangisi diri mereka karena tak tahu harus berbuat apa. Para lelaki dewasa kesana kemari mencari dan menyelamatkan semua keluarganya. Semua Panik!! Kota kecil nan tenang dilanda malapetaka hebat, menghancurkan semua yang telah dibangun, menghancurkan kehidupan dan semua cita-cita, melenyapkan semua harapan warga kabupaten yang sedang ditata.
Tiba-tiba dari arah pantai berhamburan warga masyarakat yang tinggal dikawasan itu sambil berteriak,”Air laut naik..air laut naik..air laut naik...”
Mereka terus menjauhi laut yang selama ini menghidupi mereka dengan suara yang tak henti-hentinya berteriak ketakutan. Warga kota semakin panik. Gelombang air laut terus mendekati jalan raya dikawasan bagian utara kota yang berdekatan dengan pantai. Tsunami (populer setelah gempa Aceh nan dahsyat) tak ketinggalan ikut serta ambil bagian dalam peristiwa itu. Beberapa tubuh terlihat jatuh terkulai bersama reruntuhan gedung yang menimpa mereka.
Pelabuhan Sadang Bui (pelabuhan kapal laut di kota Maumere) yang selama itu aktif dengan jadwal bongkar muat barang yang mulai padat hancur disepak sang jendral yang bernama Tsunami.
Sebuah kapal besi dikawasan perairan pelabuhan yang selama bertahun-tahun hanya menjadi hiasan laut dan menjadi tempat bermain bocah-bocah kecil karena telah karam, dilempar buang oleh si tsunami langsung mengangkangi jalan raya pelabuhan.
Beberapa kapal kecil terlihat pasrah menerima keadaan antara laut dan darat dan membingkai peristiwa itu menjadi sebuah kenangan pahit yang sulit untuk dilupakan. Banyak warga yang berada di pelabuhan hilang ditelan laut.
Tsunami terus bergerak, menghancurkan semua yang berada didepannya. Pulau Babi, sebuah pulau kecil yang berada didepan Maumere hancur lebur diterjang gelombang. Banyak media memberitakan ratusan penghuni pulau itu tewas disapuh tsunami. Pulau kecil nan elok menghiasi lembaran peristiwa pahit dan tragis, menjadi saksi bisu betapa angkuhnya alam jika kita mulai mencampakan kebesaranNya.
PT.Bali Raya,sebuah perusahaan pendinginan ikan satu-satunya di kawasan pulau Flores sat itu hancur di terjang gelombang tsunami. Gelombang air laut tersebut naik dan dengan sombongnya merembes melewati gedung Bali Raya menuju rumah warga sekitarnya dan jalan raya dikawasan pertokoan.
Tak sampai disitu, kampung nelayan tradisional Wuring dan wilayah sekitarnya yang berada tak jauh dari kota Maumere tak luput dari amukan ‘air laut naik’ (baca;tsunami). Sebagian warga Wuring yang mendirikan rumah mereka diatas laut cuma bisa pasrahkan diri ketika amukan gelombang maut datang menyapa mereka.Semuanya hancur. Yang pasti, semua kawasan pesisir pantai bagian utara kabupaten Sikka dan Flores pada umumnya hancur lebur dihantam sang tsunami.
Ditengah kota terlihat kepanikan luar biasa. Gedung-gedung pertokoan, perkantoran dan rumah warga banyak yang hancur. Banyak pula warga yang tewas. Pasar Baru Maumere yang berada ditengah kota dalam kawasan pertokoan pun cuma bisa tertunduk lesu ketika guncangan gempa yang menakutkan mulai menggerogoti bagunannya.
Semuanya berlari membawa keluarganya. Ada yang berusaha mengungsi keperbukitan atau ke kampung-kampung yang jauh dari kota dengan maksud menghindari gelombang tsunami. Sekolah-sekolah, gedung-gedung perkantoran, sarana-sarana umum dan sebagain besar rumah warga banyak yang rusak parah (hancur). Terlihat ibu-ibu dan keluarganya meneteskan air mata mereka dengan sikecil yang terdiam penuh ketakutan dalam dekapan sang ibu. Semua menangisi harapan-harapan mereka yang amblas dirampas dengan paksa dari hidup mereka oleh si penghancur bernama gempa tsunami.
Kawasan lapangan umum Kota Baru Maumere dan Gelora Samador da Cunha akhirnya menjadi salah satu alternatif tempat pengungsian sementara sebagain warga kota untuk menghindari amukan berikutnya. Namun ada juga sebagian masyarakat yang tetap bertahan dirumah-rumah mereka dengan mendirikan tenda-tenda darurat disekitar rumahnya untuk menghindari gempa susulan.
Dihalaman Rumah Sakit TC Hillers Maumere terlihat seorang ibu yang melahirkan bayi mungil nan lucu disela kepanikan warga dan guncangan gempa. Ibu tersebut ditolong oleh para perawat wanita yang siaga merawati pasien yang memenuhi halaman rumah sakit.
Malam hari lebih mencekam.Listrik padam. Trauma masih ada. Guncangan gempa susulan meski tak sebesar guncangan pertama sering membuat warga panik apalagi isu mengenai air laut naik masih sering terdengar dan membuat warga tak cukup nyenyak menutup mata mereka sekedar beristirahat sejenak. Semua tetap waspada.Hujan gerimis pun ikut prihatin dengan memperlihatkan kesedihannya menetesi bumi Flores yang sedang berduka dengan tetes-tetes airnya yang semakin membuat warga menderita. Gelap karena lisrtrik padam,hujan pun turun.Lengkap sudah semuanya.
Disela kepedihan dan menderitanya warga,ada pula kisah-kisah ajaib beberapa warga yang selamat dari reruntuhan gedung maupun gelombang tsunami. Semuanya merupakan kisah nyata dari bagian peristiwa memilukan yang pernah terjadi di bumi Nusa Bunga, Flores tercinta.
Pemerintah pusat langsung menyatakan bencana gempa tsunami Flores sebagai bencana nasional. Uluran bantuan pemerintah pusat dan warga Indonesia pada umumnya serta bantuan dari luar negeri banyak membantu warga Flores untuk bertahan hidup ditengah derita mereka. Selain Kabupaten Sikka yang paling banyak memakan korban manusia dan parah dalam sapuhan tsunami dan gempanya, beberapa kabupaten lain di Flores seperti Ende, Flores Timur, Ngada juga menderita dalam malapetaka yang sering disebut dengan sebutan Gempa Flores ’92.
Gempa Flores berkekuatan 6.8 skala Richter (SR). Gempa bumi ini menyebabkan tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir pantai Flores, membunuh setidaknya 2.100 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan lebih dari 5.000 orang mengungsi.
Gempa ini sedikitnya menghancurkan 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya. Kabupaten yang terkena gempa ini ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores Timur.Kota yang paling parah ialah Maumere. Lebih dari 1.000 bangunan hancur dan rusak berat.
Hati kita sedih saaat terjadi gempa Flores 1992 yang merenggut lebih dari 2000 orang meninggal. Mereka meningal bukan akibat gempa itu sendiri tapi akibat reruntuhan kontruksi rumah yang menimpa, dikombinasi energi tsunami yang menghancurkan. Gempa Flores pernah menjadi ikon bencana besar Indonesia, namun perlahan-lahan terlupakan.
Pemerintahan Bupati Alexander Idong saat itu harus bekerja ekstra keras untuk memulihkan kehidupan masyarakatnya yang lumpuh total. Trauma dan kenangan buruk menjadi tantangan bagi pemerintahan Alex Idong. Dengan segenap kemampuannya dan didukung oleh rakyatnya, perlahan-lahan Kabupaten Sikka bangkit kembali dan menjadi kabupaten yang kemudian berdiri tegar menata kembali semua sudut kehidupannya, sejajar kembali dengan kabupaten-kabupaten lain di NTT dan Maumere kini menjadi kota nomor satu di bumi Flores.
Sumber; para saksi yang mengalami peristiwa tersebut..
Donlod..:
Mof Tetap Manis.mp3
Foto-foto by Ricky Mane Parera :
Pelabuhan Sadang Bui

Toko Kalimas

Kawasan Pertokoan

Pasar Baru

Rumah Warga

Gudang Kopra

Pengungsian di lapangan Kota Baru

Sadang Bui Maumere

www.inimaumere.com/Oss
Diposkan oleh Megu Nora Au di 21:41 0 comments
Label: SeJaRaH..
Tuesday, 9 December 2008
Gong Waning,Alat Musik Tradisional Sikka...
Seni musik juga senyawa dengan seni suara.Bunyi dan suara adalah dua kepingan yang menjadi satu didalam seni musik.Selanjutnya seni suara atau nyanyian adalah lanjutan perkembangan dari doa-doa bernada deklamasi.Dan doa-doa bernada primitif yang berdeklamasi bertekanan keras dan lembut adalah doa yang pantas bagi Tuhan.Dan bila doa-doa bertekanan itu diberi alat bantu perkusi/pukul,tiup/argofon maka lahirlah sebuah seni suara/nyanyian bernada,bertonasi teratur dengan ritmis yang melodis.Ini sebuah seni musik.
Mahillon,seorang pakar dari Barat memberi Indonesia dalam dua kawasan yang mengutamakan gong-music with a gong culture dan kawasan musik sinetik.Dan Kurt Pahlen menegaskan bahwa manusia primitf itu tidak memiliki kata-kata setiap hari dalam pengungkapan perasaan melainkan melalui bunyi dan suara.
Merujuk rumusan para ahli demikian,musik Sikka-Krowe (salah satu suku di Kab.Sikka) dikuasai alat pukul/perkusi yang disebut gong-waning.Gong adalah perkusi,waning adalah alat pukul kulit atai membrafon.Kawasan berbudaya gong-music with a gong culture.
Dalam gelar musik dan peralatannya,orang Sikka-Krowe mengenal alat musik tradisional: alat pukul/perkusi/diofon;alat pukul kulit/membrafon;alat tiup/agrofon;alat petik/dawai/kordofon dan alat gesek.
1. Alat pukul/perkusi/diofon
- Gong =
8 buah gong dari seng/gengseng(inan 2,anak 2,depon 1,udon 1,beit 1,lepeng 1)
- Gong tana/Sina ratu gong =
Semacam Gong purba terdiri dari bledonan,halengan dan tetolon.
- Lago Ukar = Letor =
Semacam xylophone kayu,bambu
- Tereng =
Potongasn bambu ruas
- Saun/peli wikir =
Alat belahan bambu
- Korak =
Alat pukul tempurung
2. Alat pukul kulit/membrafon
-Waning/Gedang =
Gendang kulit(waning inan dan waning anak)
-Gedang Sora =
Gendang pendek untuk sora/nyanyi
-Gedang Leke =
Gendang sedang untuk tandak leke
-Genda =
Gendang bulat/tambur
3. Alat Tiup/agrofon =
-Klekor =
Suling bambu (Klekor hawuan,klekor riwun)
-Klekor Lero =
Klarinet Bambu
-Feko =
Suling Bambu
-Hego/Ego =
Semacam senar bambu yang dibunyikan melalui mulut
4. Alat Petik/Dawai/kordofon =
-Hitek/Werit =
Semacam gitar bambu
-Sato =
Semacam Okulele bambu
5. Alat Gesek =
-Rorembeka =
Semacam biola..
Demikian,ternyata di Kabupaten Sikka setiap suku memiliki budaya dan keragaman alat seni musik tradisional yang luar biasa.Setiap generasi di berbagai suku di Sikka tetap melestarikan seni budaya mereka sampai dengan sekarang ini.
Buku ; Pelangi Sikka
www.inimaumere.com
Selengkapnya...
Mahillon,seorang pakar dari Barat memberi Indonesia dalam dua kawasan yang mengutamakan gong-music with a gong culture dan kawasan musik sinetik.Dan Kurt Pahlen menegaskan bahwa manusia primitf itu tidak memiliki kata-kata setiap hari dalam pengungkapan perasaan melainkan melalui bunyi dan suara.
Merujuk rumusan para ahli demikian,musik Sikka-Krowe (salah satu suku di Kab.Sikka) dikuasai alat pukul/perkusi yang disebut gong-waning.Gong adalah perkusi,waning adalah alat pukul kulit atai membrafon.Kawasan berbudaya gong-music with a gong culture.
Dalam gelar musik dan peralatannya,orang Sikka-Krowe mengenal alat musik tradisional: alat pukul/perkusi/diofon;alat pukul kulit/membrafon;alat tiup/agrofon;alat petik/dawai/kordofon dan alat gesek.
1. Alat pukul/perkusi/diofon
- Gong =
8 buah gong dari seng/gengseng(inan 2,anak 2,depon 1,udon 1,beit 1,lepeng 1)
- Gong tana/Sina ratu gong =
Semacam Gong purba terdiri dari bledonan,halengan dan tetolon.
- Lago Ukar = Letor =
Semacam xylophone kayu,bambu
- Tereng =
Potongasn bambu ruas
- Saun/peli wikir =
Alat belahan bambu
- Korak =
Alat pukul tempurung
2. Alat pukul kulit/membrafon
-Waning/Gedang =
Gendang kulit(waning inan dan waning anak)
-Gedang Sora =
Gendang pendek untuk sora/nyanyi
-Gedang Leke =
Gendang sedang untuk tandak leke
-Genda =
Gendang bulat/tambur
3. Alat Tiup/agrofon =
-Klekor =
Suling bambu (Klekor hawuan,klekor riwun)
-Klekor Lero =
Klarinet Bambu
-Feko =
Suling Bambu
-Hego/Ego =
Semacam senar bambu yang dibunyikan melalui mulut
4. Alat Petik/Dawai/kordofon =
-Hitek/Werit =
Semacam gitar bambu
-Sato =
Semacam Okulele bambu
5. Alat Gesek =
-Rorembeka =
Semacam biola..
Demikian,ternyata di Kabupaten Sikka setiap suku memiliki budaya dan keragaman alat seni musik tradisional yang luar biasa.Setiap generasi di berbagai suku di Sikka tetap melestarikan seni budaya mereka sampai dengan sekarang ini.
Buku ; Pelangi Sikka
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 21:20 0 comments
Label: BuDaYa..
Monday, 8 December 2008
Maumere, Kota Nelayan Penuh Potensi
Apabila Anda mengadakan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur, alangkah baiknya jika Anda mampir kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, yang adalah sebuah kota nelayan berpenduduk lebih dari 50.000 jiwa. Dahulu gelombang tsunami pernah menerpa kota ini pada tahun 1992 dan memakan korban lebih dari 900 orang. Namun kota ini sekarang nampak sedang berusaha bangkit dan membangkitkan potensi yang dimilikinya.
Kota Maumere dapat diakses lewat udara dari Denpasar (transit dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar), Ende, Kupang dan Labuanbajo. Bandaranya bernama Wai Oti dengan panjang landasan aspal hanya 1850m sehingga hanya dapat didarati oleh pesawat maksimal sejenis Fokker 28 atau Fokker 100.
Potensi utama daerah ini dan daerah-daerah lain di Kabupaten Sikka adalah ikan laut, mete, kakao, rumput laut, kemiri dan buah asam,cengkeh,dll. Peluang besar bagi industri dan perdagangan adalah pengembangan pertanian/perkebunan organik, khususnya untuk mete dan kakao,cengkeh. Potensi yang tak kalah penting adalah pariwisata alam atau eko-wisata dan wisata budaya,wisata rohani,dll. Eko-wisata meliputi wisata kelautan dan juga lansekap (saujana).
Daerah ini memiliki banyak pantai yang cantik sehingga pemerintah daerah dapat menyiapkan tujuan wisata potensialnya yang berupa wisata selam dan pantai di Kojogete-Pulau Pemanaa, Pulau Babi, Pantai Magepanda, Pantai Paga,Pantai pulau Sukun Selain itu dapat juga ditemukan indahnya wisata lansekap Gunung Api Egon, Gunung Kimangbuleng atau wisata budaya dengan mengunjungi Gereja antik peninggalan Portugis di kecamatan Lela, Kathedral St.Yosef di Maumere dan regalia peninggalan raja-raja Sikka,museum Bikon Blewut,wisata Rohani di Nilo,dll.
Indonesia memang sangat kaya, Maumere adalah salah satu kekayaan negeri ini. Kita berharap kekayaannya dapat digali dan membawa kemakmuran bagi masyarakat dikabupaten ini.
Oleh: Dyah M Nugrahani
(Foto-foto oleh Vibiznews/Thomas Tonny Soehartono)
From : www.vibizlife.com
Foto:
Suasana di Tempat Pelelangan Ikan Maumere

www.inimaumere.blogspot.com
Selengkapnya...
Kota Maumere dapat diakses lewat udara dari Denpasar (transit dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar), Ende, Kupang dan Labuanbajo. Bandaranya bernama Wai Oti dengan panjang landasan aspal hanya 1850m sehingga hanya dapat didarati oleh pesawat maksimal sejenis Fokker 28 atau Fokker 100.
Potensi utama daerah ini dan daerah-daerah lain di Kabupaten Sikka adalah ikan laut, mete, kakao, rumput laut, kemiri dan buah asam,cengkeh,dll. Peluang besar bagi industri dan perdagangan adalah pengembangan pertanian/perkebunan organik, khususnya untuk mete dan kakao,cengkeh. Potensi yang tak kalah penting adalah pariwisata alam atau eko-wisata dan wisata budaya,wisata rohani,dll. Eko-wisata meliputi wisata kelautan dan juga lansekap (saujana).
Daerah ini memiliki banyak pantai yang cantik sehingga pemerintah daerah dapat menyiapkan tujuan wisata potensialnya yang berupa wisata selam dan pantai di Kojogete-Pulau Pemanaa, Pulau Babi, Pantai Magepanda, Pantai Paga,Pantai pulau Sukun Selain itu dapat juga ditemukan indahnya wisata lansekap Gunung Api Egon, Gunung Kimangbuleng atau wisata budaya dengan mengunjungi Gereja antik peninggalan Portugis di kecamatan Lela, Kathedral St.Yosef di Maumere dan regalia peninggalan raja-raja Sikka,museum Bikon Blewut,wisata Rohani di Nilo,dll.
Indonesia memang sangat kaya, Maumere adalah salah satu kekayaan negeri ini. Kita berharap kekayaannya dapat digali dan membawa kemakmuran bagi masyarakat dikabupaten ini.
Oleh: Dyah M Nugrahani
(Foto-foto oleh Vibiznews/Thomas Tonny Soehartono)
From : www.vibizlife.com
Foto:
Suasana di Tempat Pelelangan Ikan Maumere


www.inimaumere.blogspot.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 20:50 0 comments
Label: SerBa sErBi..
Thursday, 4 December 2008
Sepenggal Sore di Teluk Maumere..
WAKTU hampir menunjukkan angka 17.00 WITA. Sinar matahari berwarna kuning memerah keemasan mulai terlihat di ufuk barat menampilkan kilauan gilang cemerlang di atas bukit yang kubelakangi. Angin pun mulai berbelok arah dari darat untuk bersiap mengantarkan para nelayan yang sebentar lagi siap melepas tali dan mengarungi laut yang penuh harapan.
Di sebelah timur, tampak gundukan Pulau Besar dan tampak pula samar-samar Pulau Babi yang ketika gempa dan tsunami tahun 1992 lalu luluh lantak, dan saat ini tak menyisakan penghuni. Pun demikian, puncak Egon yang akhir-akhir ini menunjukkan aktivitasnya, bahkan beberapa waktu lalu memuntahkan isinya, tampak berkilau keperak-perakan dengan kepulan asap yang tak henti-hentinya, seperti loko kereta api ekonomi jurusan Jombang-Jakarta yang sering kutumpangi dulu.
Hanya saja, menit-menit tenggelamnya matahari ini tak bisa kunikmati secara langsung sebab terhalang gundukan perbukitan di sebelah barat. Hanya pesona pancaran yang semburat memerah dan siluet yang tercipta saja yang dapat kunikmati, terutama di bagian utara, cakrawala laut dan langit mulai semburat memerah jingga.
Laut dan langit! Aku jadi teringat sebuah cerita yang entah dari mana sumbernya. Sebuah cerita tentang langit dan laut yang saling jatuh cinta dan sama-sama menyintai. Saking cintanya laut terhadap langit, warna laut hampir selalu sama dengan warna langit, dan kebalikannya saking cintanya langit terhadap laut, warna langit hampir sama dengan laut.
Setiap fajar datang atau senja menjelang, laut dengan lembut sekali membisikkan kata-kata cinta kepada langit. Setiap langit mendengar bisikan cinta dari laut, langit selalu membisu dan tersipu-sipu malu hingga rona wajahnya semburat kemerahan. Hingga sekarang, kisah kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan. Ya, hanya sesekali saja datang awan menggangu kemesraan laut dan langit, tapi itu tak lama karena angin juga tak terima dan kemudian membela laut dan langit dengan menghempaskan awan. Langit pun kembali berwajah cerah sumringah, laut teduh, tak bergelombang dan tentu saja tak lagi gundah.
Benar-benar mencerminkan perjuangan cinta yang tak pernah lelah menghadapi rintangan. Kesetiaan tanpa kedustaan dan perekayasaan. Tidak seperti seseorang yang saat ini sekilas melintas di benakku, yang setiap saat mengucapkan kata itu, bahkan sering dibalut dengan atas nama Tuhan. Tetapi apa daya, kata-kata tinggal kata-kata, dan Tuhan begitu mudah ditanggalkan dan ditinggalkan. Mungkinkah ini yang sering disebut dengan kedustaan yang sempurna? Entahlah, aku tak tahu. Padahal berkali-kali sudah kukatakan padanya untuk berusaha tidak berdusta, sebab sekali berdusta maka akan membutuhkan ribuan kedustaan lagi untuk menutupi satu kedustaan itu. Dan maaf, kalau aku tak bisa lagi merindu pada yang berdusta. Sekarang kalau mau berdusta, dusta saja sendiri. Kalau mau berbohong, bohong saja sendiri. Jangan mengajak-ngajak, sebab aku tak bisa dan tak biasa.
Aku terus menyusuri tepian teluk ini. Di kejauhan, tampak hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan Maumere dan sepertinya ada kapal besar yang baru saja berlayar menuju Surabaya. Biasanya dua kali kapal besar rute Maumere-Surabaya bersandar di pelabuhan itu. Dua hari lagi mungkin kapal itu akan sampai di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Aku tak tahu sebab belum pernah sekalipun melakukan perjalanan laut yang jauh.
Menyaksikan kapal itu, semakin mengingatkanku pada kampung halaman. Menonjok-nonjok rasa rinduku pada kabut pagi yang senantiasa menghiasi kampungku, pada kicau kutilang yang setiap pagi berjumpalitan di pucuk-pucuk pohon cengkeh, rinduku pada hijaunya dedaunan dan aroma khas bunga-bunga cengkeh, pada Bapak yang meskipun tak muda lagi tetapi masih tekun mencangkul di ladang. Katanya, badannya akan terasa sakit kalau sehari tak ke kebun, meskipun ke kebun sekadar babat-babat rumput. Tanpa kusadari dendang Ebiet G. Ade muncrat dari kedalaman memoriku:
di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
benturan dan hempasan terpahat di keningmu
kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah
meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang semakin sarat
kau tetap bertahan
........................
”Kau tetap tabah dan bertahan!” Ya, Bapak memang tetap tabah dan bertahan dengan profesinya. Profesi yang telah digeluti selama puluhan tahun. Profesi yang aku yakin karena awalnya sebuah keterpaksaan, terpaksa menjadi petani dengan cap gurem yang seringkali tersia-siakan, meskipun seringkali menjadi bahan diskusi dan pedebatan panjang kaum akademis maupun pengelana politik. Dulu di kelas akupun sering berdiskusi tentang profesi ini dengan kawan-kawan dan pengajar, dan seringkali aku hampir mbrebes mili di tengah-tengah diskusi bila teringat Bapak di kampung. Begitu juga, aku sangat gundah dan kepala terasa mau pecah bila harus mengunyah berbagai literatur tentang the economics of agricultural development. Dalam literatur-literatur seperti ini, orang-orang semacam Bapak yang jumlahnya jutaan di negeri agraris ini, tetap saja terposisikan dan terkondisikan be subsistence farmer with risk aversion, uncertainty, and survival. Tetapi sekali lagi, karena kesetiaannya itu Bapak masih bertahan di ladang.
Kembali ke kapal besar itu, sepertinya akan menjadi perjalanan yang sangat mengesankan (an exciting trip) jika berlayar bersamanya. Selama ini dalam perjalanan antar pulau, aku belum pernah menikmati siang-malam, fajar-senja di tengah lautan, hanya sebatas menikmati kapal-kapal penyebarangan Jawa-Madura, Jawa-Sumatera ataupun Jawa-Bali yang hanya beberapa menit atau jam saja. Sedangkan dengan kapal besar dan yang bisa menghabiskan siang-malam di tengah lautan baru sebatas keinginan dan angan-angan. Tetapi aku dan dua kawanku, Mas WH dan Mas MB yang orang dari pelataran Sunda dan Sumbawa, tetapi istrinya urang Cianjur, telah membuat rencana kecil, yaitu nanti kalau mudik lebaran kami akan memakai jasa angkutan kapal laut itu, kami ingin menikmati fajar dan senja bulan puasa di tengah lautan. Tetapi aku sendiri masih bimbang dengan rencana bersama ini, sebab aku mempunyai rencana sendiri dengan menumpang kapal laut Maumere–Makasar. Singgah beberapa malam di Makasar untuk sekadar menikmati kembali coto makasar-nya, atau cangkru’an di Pantai Losari sambil menikmati senja sebelum melanjutkan perjalanan udara ke Surabaya dan dilanjutkan ke Jombang.
Pukul 17.30 WITA angin berhembus tidak terlalu kencang. Matahari pun masih tampak bulat sempurna di barat. Sinarnya tak terlalu menyengat. Anak-anak pun masih asyik bermain-main di tepian teluk ini. Ada yang bermain-main di atas perahu jukung yang ”diparkir” para nelayan, ada yang berenang-renang kesana-kemari dan bermain-main dengan percikan air laut. Aku tak ingin kehilangan momentum ini, dengan kamera ukuran saku yang sudah cukup uzur ini aku mencoba untuk mengabadikannya.
Teluk Maumere, sebuah pesona hamparan perairan yang menyimpan berjuta potensi hayati di dalamnya, salah satunya adalah terumbu karang. Terumbu karang dengan segala kehidupan yang terdapat di dalamnya diidentifikasikan sebagai sumberdaya yang memiliki keanekaragaman biologis yang tinggi, keindahan, dan menyediakan cadangan sumber plasma nutfah. Sayangnya, eksploitasi secara besar-besaran pada kawasan ini tanpa pertimbangan kelestariannya, telah menghancurkannya. Beberapa temuan hasil penyelaman kawan-kawan ahli biologi laut menunjukkan hal itu.
Jarum jam terus merayap mendekati titik 18.00 WITA, gelap perlahan menyergap dan mendekap Teluk Maumere. Matahari baru saja amblas di balik perbukitan, memasuki singgasananya, meninggalkan semburat merah keemasan di langit barat. Kapal-kapal nelayan perlahan mulai meninggalkan pantai. Lampu-lampu dari resto-resto kecil di dekat dermaga, yang hampir 95 persen pemiliknya perantau dari Jawa Timur, mulai dinyalakan. Dari kejauhan seruan adzan berkumandang mengundang. Aku terus berjalan, menenggelamkan segala kelam dalam malam!
From : http://pencangkul.blogspot.com/2008/08/sepenggal-sore-di-teluk-maumere.html
Selengkapnya...
Di sebelah timur, tampak gundukan Pulau Besar dan tampak pula samar-samar Pulau Babi yang ketika gempa dan tsunami tahun 1992 lalu luluh lantak, dan saat ini tak menyisakan penghuni. Pun demikian, puncak Egon yang akhir-akhir ini menunjukkan aktivitasnya, bahkan beberapa waktu lalu memuntahkan isinya, tampak berkilau keperak-perakan dengan kepulan asap yang tak henti-hentinya, seperti loko kereta api ekonomi jurusan Jombang-Jakarta yang sering kutumpangi dulu.
Hanya saja, menit-menit tenggelamnya matahari ini tak bisa kunikmati secara langsung sebab terhalang gundukan perbukitan di sebelah barat. Hanya pesona pancaran yang semburat memerah dan siluet yang tercipta saja yang dapat kunikmati, terutama di bagian utara, cakrawala laut dan langit mulai semburat memerah jingga.
Laut dan langit! Aku jadi teringat sebuah cerita yang entah dari mana sumbernya. Sebuah cerita tentang langit dan laut yang saling jatuh cinta dan sama-sama menyintai. Saking cintanya laut terhadap langit, warna laut hampir selalu sama dengan warna langit, dan kebalikannya saking cintanya langit terhadap laut, warna langit hampir sama dengan laut.
Setiap fajar datang atau senja menjelang, laut dengan lembut sekali membisikkan kata-kata cinta kepada langit. Setiap langit mendengar bisikan cinta dari laut, langit selalu membisu dan tersipu-sipu malu hingga rona wajahnya semburat kemerahan. Hingga sekarang, kisah kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan. Ya, hanya sesekali saja datang awan menggangu kemesraan laut dan langit, tapi itu tak lama karena angin juga tak terima dan kemudian membela laut dan langit dengan menghempaskan awan. Langit pun kembali berwajah cerah sumringah, laut teduh, tak bergelombang dan tentu saja tak lagi gundah.
Benar-benar mencerminkan perjuangan cinta yang tak pernah lelah menghadapi rintangan. Kesetiaan tanpa kedustaan dan perekayasaan. Tidak seperti seseorang yang saat ini sekilas melintas di benakku, yang setiap saat mengucapkan kata itu, bahkan sering dibalut dengan atas nama Tuhan. Tetapi apa daya, kata-kata tinggal kata-kata, dan Tuhan begitu mudah ditanggalkan dan ditinggalkan. Mungkinkah ini yang sering disebut dengan kedustaan yang sempurna? Entahlah, aku tak tahu. Padahal berkali-kali sudah kukatakan padanya untuk berusaha tidak berdusta, sebab sekali berdusta maka akan membutuhkan ribuan kedustaan lagi untuk menutupi satu kedustaan itu. Dan maaf, kalau aku tak bisa lagi merindu pada yang berdusta. Sekarang kalau mau berdusta, dusta saja sendiri. Kalau mau berbohong, bohong saja sendiri. Jangan mengajak-ngajak, sebab aku tak bisa dan tak biasa.Aku terus menyusuri tepian teluk ini. Di kejauhan, tampak hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan Maumere dan sepertinya ada kapal besar yang baru saja berlayar menuju Surabaya. Biasanya dua kali kapal besar rute Maumere-Surabaya bersandar di pelabuhan itu. Dua hari lagi mungkin kapal itu akan sampai di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Aku tak tahu sebab belum pernah sekalipun melakukan perjalanan laut yang jauh.
Menyaksikan kapal itu, semakin mengingatkanku pada kampung halaman. Menonjok-nonjok rasa rinduku pada kabut pagi yang senantiasa menghiasi kampungku, pada kicau kutilang yang setiap pagi berjumpalitan di pucuk-pucuk pohon cengkeh, rinduku pada hijaunya dedaunan dan aroma khas bunga-bunga cengkeh, pada Bapak yang meskipun tak muda lagi tetapi masih tekun mencangkul di ladang. Katanya, badannya akan terasa sakit kalau sehari tak ke kebun, meskipun ke kebun sekadar babat-babat rumput. Tanpa kusadari dendang Ebiet G. Ade muncrat dari kedalaman memoriku:
di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
benturan dan hempasan terpahat di keningmu
kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah
meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang semakin sarat
kau tetap bertahan
........................
”Kau tetap tabah dan bertahan!” Ya, Bapak memang tetap tabah dan bertahan dengan profesinya. Profesi yang telah digeluti selama puluhan tahun. Profesi yang aku yakin karena awalnya sebuah keterpaksaan, terpaksa menjadi petani dengan cap gurem yang seringkali tersia-siakan, meskipun seringkali menjadi bahan diskusi dan pedebatan panjang kaum akademis maupun pengelana politik. Dulu di kelas akupun sering berdiskusi tentang profesi ini dengan kawan-kawan dan pengajar, dan seringkali aku hampir mbrebes mili di tengah-tengah diskusi bila teringat Bapak di kampung. Begitu juga, aku sangat gundah dan kepala terasa mau pecah bila harus mengunyah berbagai literatur tentang the economics of agricultural development. Dalam literatur-literatur seperti ini, orang-orang semacam Bapak yang jumlahnya jutaan di negeri agraris ini, tetap saja terposisikan dan terkondisikan be subsistence farmer with risk aversion, uncertainty, and survival. Tetapi sekali lagi, karena kesetiaannya itu Bapak masih bertahan di ladang.
Kembali ke kapal besar itu, sepertinya akan menjadi perjalanan yang sangat mengesankan (an exciting trip) jika berlayar bersamanya. Selama ini dalam perjalanan antar pulau, aku belum pernah menikmati siang-malam, fajar-senja di tengah lautan, hanya sebatas menikmati kapal-kapal penyebarangan Jawa-Madura, Jawa-Sumatera ataupun Jawa-Bali yang hanya beberapa menit atau jam saja. Sedangkan dengan kapal besar dan yang bisa menghabiskan siang-malam di tengah lautan baru sebatas keinginan dan angan-angan. Tetapi aku dan dua kawanku, Mas WH dan Mas MB yang orang dari pelataran Sunda dan Sumbawa, tetapi istrinya urang Cianjur, telah membuat rencana kecil, yaitu nanti kalau mudik lebaran kami akan memakai jasa angkutan kapal laut itu, kami ingin menikmati fajar dan senja bulan puasa di tengah lautan. Tetapi aku sendiri masih bimbang dengan rencana bersama ini, sebab aku mempunyai rencana sendiri dengan menumpang kapal laut Maumere–Makasar. Singgah beberapa malam di Makasar untuk sekadar menikmati kembali coto makasar-nya, atau cangkru’an di Pantai Losari sambil menikmati senja sebelum melanjutkan perjalanan udara ke Surabaya dan dilanjutkan ke Jombang.Pukul 17.30 WITA angin berhembus tidak terlalu kencang. Matahari pun masih tampak bulat sempurna di barat. Sinarnya tak terlalu menyengat. Anak-anak pun masih asyik bermain-main di tepian teluk ini. Ada yang bermain-main di atas perahu jukung yang ”diparkir” para nelayan, ada yang berenang-renang kesana-kemari dan bermain-main dengan percikan air laut. Aku tak ingin kehilangan momentum ini, dengan kamera ukuran saku yang sudah cukup uzur ini aku mencoba untuk mengabadikannya.
Teluk Maumere, sebuah pesona hamparan perairan yang menyimpan berjuta potensi hayati di dalamnya, salah satunya adalah terumbu karang. Terumbu karang dengan segala kehidupan yang terdapat di dalamnya diidentifikasikan sebagai sumberdaya yang memiliki keanekaragaman biologis yang tinggi, keindahan, dan menyediakan cadangan sumber plasma nutfah. Sayangnya, eksploitasi secara besar-besaran pada kawasan ini tanpa pertimbangan kelestariannya, telah menghancurkannya. Beberapa temuan hasil penyelaman kawan-kawan ahli biologi laut menunjukkan hal itu.
Jarum jam terus merayap mendekati titik 18.00 WITA, gelap perlahan menyergap dan mendekap Teluk Maumere. Matahari baru saja amblas di balik perbukitan, memasuki singgasananya, meninggalkan semburat merah keemasan di langit barat. Kapal-kapal nelayan perlahan mulai meninggalkan pantai. Lampu-lampu dari resto-resto kecil di dekat dermaga, yang hampir 95 persen pemiliknya perantau dari Jawa Timur, mulai dinyalakan. Dari kejauhan seruan adzan berkumandang mengundang. Aku terus berjalan, menenggelamkan segala kelam dalam malam!
From : http://pencangkul.blogspot.com/2008/08/sepenggal-sore-di-teluk-maumere.html
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 21:28 0 comments
Label: Kisah dan Pengelaman..
Wednesday, 3 December 2008
Oba Gete & Lau Tahi Loran Guncang Maumere..
Suatu malam di sebuah tempat pernikahan dirumah mempelai perempuan terdengar dentuman music dengan irama musik lagu daerah.Tua muda laki perempuan memenuhi lantai dansa,menari dan bergoyang dengan riang gembira tanpa kenal lelah.Lagu dengan irama riang terebut memiliki hentakan beat yang memaksa kaki dan tubuh turut bergoyang kini telah menjadi ungkapan para penikmat pesta dan pecinta musik daerah untuk terus saja berada di tengah-tengah tempat pesta.
Oba Gete dan Lau Tahi Loran telah menjadi lagu-lagu yang paling disukai (ngetrend) oleh sebagian besar kalangan orang Sikka.Fenomena kedua lagu tersebut berawal dari 2-3 bulan lalu dan terus mengelinding sampai sekarang ini.Jika ada tangga lagu-lau Flores paling populer di Maumere maka kedua lagu tersebut akan bergantian menduduki puncak lagu-lagu daerah paling populer dan bertahan hampir 2-3 bulan.
Di kajang-kajang (tenda pesta) manapun kedua lagu ini akan menjadi lagu-lagu utama untuk menghibur tuan pesta dan para undangan.Tanpa kedua lagu ini maka pesta terasa kurang menggigit.Kami menyaksikan sendiri ketika mengahdiri pesta pernikahan yang berada di sudut kota Maumere.Benar saja antusias warga dengan lagu Oba Gete terlihat saat itu.Baru saja musik pembuka berjalan,tenda telah diisi penuh para tukang pesta.Penuh.Irama musik lagu tersebut yang sangat akrab dengan warga Sikka membuat orang seakan terhipnotis untuk segera berdiri dan berada di lantai dansa atau cukup saja bergoyang di tempat.
Seperti lagu Oba Gete yang dinyanyikan oleh Babo asal Nita,lagu Lau Tahi Loran juga memperlihatkan kejayaan mereka di kajang-kajang (tenda pesta) diseluruh wilayah Kabupaten Sikka.Siapa seh yang ga kenal lagu ini?Anak seumuran SD sampai dengan orang dewasa mengenal lagu ini dengan baik.Dimana saja baik di tempat-tempat pesta,di taksi(angkutan kota/pedesaan) atau diradio-radio lokal kedua lagu ini selalu menjadi yang terdepan.Hal ini yang membuat kami untuk menulis tentang fenomena kedua lagu tersebut yang cukup menghebohkan blantika musik tanah Sikka (busyeetttt..blantika hihihihi).Lagu Lau Tahi Loran dinyanyikan oleh Fortes yang telah banyak mengeluarkan album-album musik daerah dan selalu diterima pasar musik di Sikka.Fortes adalah sekelompok pemusik yang berasal dari sebuah kota kecamatan di Kewapante,Geliting,Kabupaten Sikka.
Mungkin Anda bertanya,kenapa pesta pernikahan di Flores selalu indentik dengan kemeriahan dan pesta?Sebuah pernikahan bagi orang Sikka dan Flores pada intinya merupakan sesuatu yang sangat sakral(menurut iman Khatolik,agama mayoritas di pulau Flores dan sekitarnya) karena dalam hidupnya pasangan yang telah menikah dilarang untuk bercerai,menikah hanya untuk sekali seumur hidup.Jadi dengan begitu keluarga yang akan melangsungkan pernikahan anaknya akan memberikan yang terbaik untuk anak mereka salah satunya dengan menggelar pesta pernikahan yang meriah dimana semua orang akan ambil bagian dan turut bergembira bersama keluarga mempelai.Kenapa harus meriah?Ya,mungkin pernikahan cuman sekali seumur hidup.
Coba kalau nikah terus cerai,nikah lagi cerai lagi,lagi-lagi nikah lagi-lagi cerai kayak artis-artis tenar itu kan bisa refotttttt duit akan keluar banyak,kawin kok gonti-ganti?...Seperti kata Jenderal Naga Bonar,”Apa kata dunia?”
Dapatkan lagunya dibawah ini:
lau tahi loran.mp3
oba gethe.mp3
www.inimaumere.blogspot.com
Selengkapnya...
Oba Gete dan Lau Tahi Loran telah menjadi lagu-lagu yang paling disukai (ngetrend) oleh sebagian besar kalangan orang Sikka.Fenomena kedua lagu tersebut berawal dari 2-3 bulan lalu dan terus mengelinding sampai sekarang ini.Jika ada tangga lagu-lau Flores paling populer di Maumere maka kedua lagu tersebut akan bergantian menduduki puncak lagu-lagu daerah paling populer dan bertahan hampir 2-3 bulan.
Di kajang-kajang (tenda pesta) manapun kedua lagu ini akan menjadi lagu-lagu utama untuk menghibur tuan pesta dan para undangan.Tanpa kedua lagu ini maka pesta terasa kurang menggigit.Kami menyaksikan sendiri ketika mengahdiri pesta pernikahan yang berada di sudut kota Maumere.Benar saja antusias warga dengan lagu Oba Gete terlihat saat itu.Baru saja musik pembuka berjalan,tenda telah diisi penuh para tukang pesta.Penuh.Irama musik lagu tersebut yang sangat akrab dengan warga Sikka membuat orang seakan terhipnotis untuk segera berdiri dan berada di lantai dansa atau cukup saja bergoyang di tempat.
Seperti lagu Oba Gete yang dinyanyikan oleh Babo asal Nita,lagu Lau Tahi Loran juga memperlihatkan kejayaan mereka di kajang-kajang (tenda pesta) diseluruh wilayah Kabupaten Sikka.Siapa seh yang ga kenal lagu ini?Anak seumuran SD sampai dengan orang dewasa mengenal lagu ini dengan baik.Dimana saja baik di tempat-tempat pesta,di taksi(angkutan kota/pedesaan) atau diradio-radio lokal kedua lagu ini selalu menjadi yang terdepan.Hal ini yang membuat kami untuk menulis tentang fenomena kedua lagu tersebut yang cukup menghebohkan blantika musik tanah Sikka (busyeetttt..blantika hihihihi).Lagu Lau Tahi Loran dinyanyikan oleh Fortes yang telah banyak mengeluarkan album-album musik daerah dan selalu diterima pasar musik di Sikka.Fortes adalah sekelompok pemusik yang berasal dari sebuah kota kecamatan di Kewapante,Geliting,Kabupaten Sikka.
Mungkin Anda bertanya,kenapa pesta pernikahan di Flores selalu indentik dengan kemeriahan dan pesta?Sebuah pernikahan bagi orang Sikka dan Flores pada intinya merupakan sesuatu yang sangat sakral(menurut iman Khatolik,agama mayoritas di pulau Flores dan sekitarnya) karena dalam hidupnya pasangan yang telah menikah dilarang untuk bercerai,menikah hanya untuk sekali seumur hidup.Jadi dengan begitu keluarga yang akan melangsungkan pernikahan anaknya akan memberikan yang terbaik untuk anak mereka salah satunya dengan menggelar pesta pernikahan yang meriah dimana semua orang akan ambil bagian dan turut bergembira bersama keluarga mempelai.Kenapa harus meriah?Ya,mungkin pernikahan cuman sekali seumur hidup.
Coba kalau nikah terus cerai,nikah lagi cerai lagi,lagi-lagi nikah lagi-lagi cerai kayak artis-artis tenar itu kan bisa refotttttt duit akan keluar banyak,kawin kok gonti-ganti?...Seperti kata Jenderal Naga Bonar,”Apa kata dunia?”
Dapatkan lagunya dibawah ini:
lau tahi loran.mp3
oba gethe.mp3
www.inimaumere.blogspot.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 22:36 0 comments
Label: SerBa sErBi..
Monday, 1 December 2008
Loka Hoban,Upacara Adat Di Desa Aibura
<
Masyarakat Kabupaten Sikka memiliki banyak sekali kegiatan adat yang berhubungan dengan para leluhurnya.Salah satunya adalah upacara adat Loka Hoban.Loka Hoban sendiri adalah merupakan salah satu acara atau ritual upacara adat yang ada di desa Aibura,Kecamatan Waigete.Desa Aibura yang berhawa sejuk(baca;dingin) karena berada di ketinggian ini banyak menyimpan keragaman budaya dan adat yang masih berhubungan dengan para leluhurnya dan dipegang teguh oleh masyarakat setempat sampai dengan sekarang ini.Ritual adat ini dilakukan dalam satu waktu tertentu jika dalam warga masyarakat setempat terdapat kegiatan yang diangap penting.Kegiatan tersebut bisa berupa acara pernikahan atau upacara lain yang cukup besar.Nah,waktu itu kebetulan kami berada disebuah keluarga dimana keluaraga dari pihak lelaki akan bertemu keluarga dari pihak perempuan untuk menggenapkan belis (mas kawin) yang sebelumnya dalam tahap pertama belum digenapi sekaligus berembuk tentang tanggal pernikahan dan segala hal yang berkaitan dengan dana untuk pesta pernikahan nantinya.
Apa seh Loka Hoban itu?Loka Hoban adalah upacara memanggil para leluhur untuk turut serta ikut dalam acara yang sedang dilangsungkan oleh keluaraga.Maksudnya, meminta kepada leluhur agar makanan yang akan disajikan untuk semua keluarga dan undangan yang akan datang besoknya tidak kekurangan.
Waktu itu,untuk memeriahkan pesta kumpul keluarga tersebut keluarga menyediakan seekor babi untuk disembelih.Memang,hewan babi ini selalu tidak lepas dari upacara apa saja di wilayah kabupaten Sikka.Nah,salah seorang yang dianggap dituakan untuk berinteraksi dengan para leluhur tersebut akan menyiapkan beberapa hal yang akan digunakan dalam ritual tersebut.Misalnya menyediakan tempat sesembahan dengan sebuah ornamen batu kecil yang datar.Tempat sesembahan ini biasanya berada dalam sudut sebuah kamar tidur.Selain itu juga disiapkan beberapa materil seperti segenggam beras,ekor ikan,moke (minuman berakohol dari lontar yang ada di wilayah kabupaten Sikka).Kemudian,sang perantara akan berbicara dengan bahasa adat untuk meminta kepada leluhur agar turut menjaga agar upacara besoknya ke keluarga calon mempelai wanita berlangsung dengan sukses dan meminta agar para leluhur menjaga makanan yang akan disajikan besoknya tidak kekurangan.Setelah selesai berbicara,moke dituangkan sedikit diatas batu sesembahan dan kemudian dihabiskan oleh sang perantara tersebut atau bisa juga kita yang hadir disitu ikut mencicipi moke tersebut.Inilah sebuat ritual adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Sikka.Loka Hoban memang kebanyakan dilakukan oleh warga masyarakat bagian timur dari wilayah Kabupaten Sikka.
Nah,besoknya seperti yang kami lihat meski keluarga yang hadir cukup banyak namun makanan yang ada tidak kekurangan malahan berlebihan.Percaya atau tidak percaya semuanya berpulang.Namun disetiap wilayah dan suku di kabupaten Sikka memang mempunyai adat dan kebudayaan beragam dan masih terus dipegang teguh oleh para generasinya.







Ponakan Oss,bagaya mau masuk keluarga..
www.inimaumere.blogspot.com
Apa seh Loka Hoban itu?Loka Hoban adalah upacara memanggil para leluhur untuk turut serta ikut dalam acara yang sedang dilangsungkan oleh keluaraga.Maksudnya, meminta kepada leluhur agar makanan yang akan disajikan untuk semua keluarga dan undangan yang akan datang besoknya tidak kekurangan.
Waktu itu,untuk memeriahkan pesta kumpul keluarga tersebut keluarga menyediakan seekor babi untuk disembelih.Memang,hewan babi ini selalu tidak lepas dari upacara apa saja di wilayah kabupaten Sikka.Nah,salah seorang yang dianggap dituakan untuk berinteraksi dengan para leluhur tersebut akan menyiapkan beberapa hal yang akan digunakan dalam ritual tersebut.Misalnya menyediakan tempat sesembahan dengan sebuah ornamen batu kecil yang datar.Tempat sesembahan ini biasanya berada dalam sudut sebuah kamar tidur.Selain itu juga disiapkan beberapa materil seperti segenggam beras,ekor ikan,moke (minuman berakohol dari lontar yang ada di wilayah kabupaten Sikka).Kemudian,sang perantara akan berbicara dengan bahasa adat untuk meminta kepada leluhur agar turut menjaga agar upacara besoknya ke keluarga calon mempelai wanita berlangsung dengan sukses dan meminta agar para leluhur menjaga makanan yang akan disajikan besoknya tidak kekurangan.Setelah selesai berbicara,moke dituangkan sedikit diatas batu sesembahan dan kemudian dihabiskan oleh sang perantara tersebut atau bisa juga kita yang hadir disitu ikut mencicipi moke tersebut.Inilah sebuat ritual adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Sikka.Loka Hoban memang kebanyakan dilakukan oleh warga masyarakat bagian timur dari wilayah Kabupaten Sikka.
Nah,besoknya seperti yang kami lihat meski keluarga yang hadir cukup banyak namun makanan yang ada tidak kekurangan malahan berlebihan.Percaya atau tidak percaya semuanya berpulang.Namun disetiap wilayah dan suku di kabupaten Sikka memang mempunyai adat dan kebudayaan beragam dan masih terus dipegang teguh oleh para generasinya.
Ponakan Oss,bagaya mau masuk keluarga..
www.inimaumere.blogspot.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 22:11 0 comments
Label: BuDaYa..






















