Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Thursday, 12 March 2009

Pentolan Black Sweet Bikin Penasaran....

Vokalis Band legendaris asal Papua Black Sweet akhirnya hadir untuk yang pertama kalinya di Kabupaten Sikka.Ian Ulukyanan sang vokalis tersebut hadir dalam rangka kampanye politik berkaitan dengan Pemilu Legislatif 9 April mendatang.Ian termasuk dalam salah satu Caleg (Calon Legislatif) untuk daerah pemilihan Papua Barat yang di usung Partai Kasih Demokrasi(PKD) Indonesia.Hadir dalam kesempatan tersebut beberapa petinggi partai antara lain Teka da Lopez,Roy Rening,Robert Tibo (putra Fabianus Tibo,sang martir) dan para kader partai.Konser sang pentolan band legendaris Black Sweet berlangsung di Gedung Alan KM 2 DARI Maumere tanggal 7 maret lalu (sorry baru di naikan hehehe tinju) dan memakan waktu sekitar satu jam lebih.Para simpatisan partai dan masyarakat Kota Maumere yang merupakan fans berat Black Sweet hadir untuk mendengarkan suara indah sang vokalis yang aslinya lahir di Desa Hollat,Kei Besar,Maluku Tenggara.

Dalam konser malam itu,Ian mendendangkan beberapa lagu yang sangat akrab ditelinga para pecinta musik pop Indonesia.Tembang-tembang terkenal dari album Black Sweet seperti Rintihan sebuah Hati,Kenangan masa remaja,Nostalgia,Hati Yang Sedih dan lain-lain dibawakan dengan meyakinkan dan so pasti merdu di telinga.Semua lagu yang dibawakannya tersebut juga mengundang penonton untuk 'mengeroyok' lagu-lagu Black Sweet tersebut tanpa basa-basi.Ian cuma bisa pasrah melihat antusias penonton yang tentu saja termasuk dalam kelompok penggila Black Sweet sepanjang masa.

Ian yang ditemui 'inimaumere' di belakang panggung mengakui bahwa ia sangat menikmati konser malam itu.Maumere katanya,sangat luar biasa dan menjanjikan untuk konser full band Black Sweet.Meski cuma semalam menginap di Maumere Ian berjanji akan merencanakan hadir di Kota ini mendatang dalam konser yang lebih besar yang melibatkan semua personil Black Sweet.

Bagi masyarakat Kabupaten Sikka,Black Sweet bukanlah kelompok musik yang asing.Semua tembang-tembang populernya sangat dikenal dan akrab diberbagai kalangan.Tak salah jika Black Sweet berani merencanakan tampil full band di Kota Maumere.

Selain menyanyikan beberapa lagu terkenal dari albumnya Black Sweet,Ian juga menembangkan beberapa lagu barat lainnya.Diantaranya tembang Ticket To Ride (The Beatles),Cotton Fields dan lain-lain.Ian juga mengajak beberapa penonton untuk bernyanyi bersama.Konser malam itu di tutup dengan sebuah tembang yang mengisahkan tentang sebuah pengorbanan oleh seorang pahlawan namun tak mendapat tempat yang layak saat ia wafat,Pusara Tak Bernama.

Ian Ulukyanan lahir di Desa Hollat,Key Besar Maluku Tenggara.Naik Kelas 2 SMA Katolik Sanata Karya Langgur,Tual,ia pindah ke Fak-Fak mengikuti ayahnya nyang bekerja sebagai tukang kayu.Sebagai anak sulung Ian telah dibekali ayahnya hidup mandiri dan ikut bertanggung jawab memperhatikan adik-adiknya.Jiwa kemandirian itulah yang mendorong Ian mencoba bakatnya di bidang tarik suara saat ia mengikuti lomba pop singer di Fakfak.Beberapa kali ia menjuarai lomba itu.Saat kuliah di Universitas Cendrawasih bakat musiknya tercuat.Bersama teman-temanya di kampus itu Ian,Steven Letsoin,Hary Letsoin,Jhon Kefkadtabal dan Gerad F tehool membentuk Band Cendrawasih.

Penampilan mereka sangat menghipnotis masyarakat Jayapura yang baru 'kehilangan' Black Brothers yang sudah pindah ke Jakarta.Mereka juga bergabung di bawah Bnad Angkatan Drata Cendrawasih.Di situ Ian mulai mendapat penghasilan sendiri.Sejak itu pula ia tak menerima kiriman uang dari orang tuanya di Fakfak.

Karena yakin dengan dengan kemapuan bermusik mereka berlima ini,ke-5 personil cikal bakal Club Bnad Black Sweet itu berani hengkang ke jakarta walau harus melalui jalur laut yang memakan waktu hampir sebulan.Demi masa depan mereka pun harus meninggalkan kuliah mereka yang hampir selesai di Uncen.

Di Jakarta mereka memproklamirkan nama Black Sweet dengan menerima kehadiran Amri M.Kahar,Karim Assor,Iskandar Assor,ketiganya merupakan mantan personil Black Brothers.Tapi jalan untuk masuk dapur rekaman tidaklah mulus.Beberapa produser justru tak berani menerima mereka karena masih trauma dengan kasus suaka politik Black Brothers.Black Brothers minta pindah warga negara Belanda setelah lagu mereka 'Hari Kiamat' dinilai melecehkan pemerintahan rezim Soeharto.Akhirnya album perdana Black Sweet dirilis juga tahun 1982.Album mereka 'Lembaran Masa Lalu' sempat menduduki anak tangga lagu pop Indonesia.

Bagi Ian,talenta vokal yang ia miliki semata karena rakmat Tuhan."Saya tidak bisa jadi apa-apa kalau Tuhan tidak disamping saya,"tandas pria bersuara emas yang kini aktif sebagai Pemazmur di Paroki Keluarga Kudus Pasar Minggu bersama Presenter SCTV Rosiana Silalahi.

Selain sebagai vokalis Ian juga ikut mencipta lagu,termasuk yang dinyanyikan oleh U Brothers dan penyanyi lain.Tapi sebuah lagu pop daerah Kei ciptaanya kini jadi lagu kebangsaan masyarakat Maluku Tenggara adalah "Sosoi Adat".

Ian menikahi Herawati 15 Juni 1986 di Gereja Paroki Keluarga Kudus Pasar Minggu Jakarta Selatan dan di karunia 4 anak.

kribofoto bareng fans berat..





www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 11 March 2009

Menelusuri Sejarah Peradaban Islam di Kabupaten Sikka

Kabupaten Sikka memang identik dengan peradaban Katolik. Namun, kehadiran Agama Islam di Sikka memiliki catatan sejarah tersendiri. Berawal dari perang di Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan dan meletusnya Gunung Tambora di Bima NTB, Agama Islam pun lahir di Maumere dan berkembang hingga saat ini.
Sesuai catatan sejarah, Agama Islam di Kabupaten Sikka resmi lahir abad ke-17 atau pada tahun 1775. Yang membawa ajaran Agama Islam adalah pelaut dari Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan. "Awalnya pelaut dari Gowa itu hanya singgah untuk memperbaiki kapal dan mengisi air bersih mulai tahun 1775," kata tokoh Islam di Kabupaten Sikka yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Sikka Abdul Rasyid Wahab di Maumere. Abdul Rasyid Wahab adalah salah satu pelaku sejarah perkembangan peradaban Islam pertama di Kabupaten Sikka.

Pelaut dari Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan ini baru menetap pada tahun 1800-an ketika terjadi perang di kerajaan yang berpengaruh di Sulawesi tersebut. Saat itu, pelaut dari Gowa berlayar ke selatan dan berlabuh di teluk Maumere, sekarang Pelabuhan Sadang Bui Maumere. "Tempat itu awalnya diberi nama Kampung Makassar," kata Abdul Rasyid.

Perkembangan Agama Islam saat itu terbantu dengan kerjasama yang dibangun pelaut dari Gowa dengan raja Sikka saat itu Ratu Mbako. "Kerjasama saat itu terutama di bidang ekonomi," katanya.

Saat itu pelaut dari Gowa memberikan berbagai macam barang perdagangan. Sementara raja Sikka memberi lahan untuk para pelaut dari Gowa. "Kerjasama itu berlangsung sangat lama bahkan hingga saat ini," katanya.

Kerjasama itu tidak hanya di bidang ekonomi tetapi berlanjut hingga kawin-mawin. Abdul Rasyid mengatakan raja Sikka saat itu Raja Thomas kawin dengan Mariam da Silva yang adalah keturunan dari Gowa. Hubungan antara penduduk asli Sikka dengan pendatang dari Gowa ini kemudian semakin akrab.

Di kampung Makassar, lanjut Abdul Rasyid belum dibangun masjid. "Waktu itu sholad masih dilakukan di rumah-rumah penduduk," katanya. Masjid pertama yang dibangun adalah Mesjid Al-Taqwa di Kampung Beru tahun 1926.

Mesjid ini dibangun setelah Kampung Makassar dipindahkan ke Kampung Beru karena Pemkab Sikka akan membangun dermaga di Kampung Makassar yakni Dermaga Sadang Bui saat ini. Nama Kampung Beru sebenarnya berasal dari kata bahasa Makassar Berua yang berarti baru (Kampung Baru).

Setelah dibangun Masjid Al-Taqwa tersebut, peradaban Islam kemudian berkembang pesat di Kampung Beru dan Maumere umumnya. Hal ini ditunjang dengan semakin ramainya perdagangan di Maumere yang sebagian besar dikuasai pedagang Islam dari Makassar.

Menurut Imam Masjid Al-Taqwa H. Zainudin Qodri, jumlah jemaah di Masjid tersebut lebih 1000 orang. "Jumlah KK-nya sekitar 300," kata Zainudin.
Ia juga membenarkan Masjid Al-Taqwa dibangun pada tahun 1926. "Awalnya ukurannya kecil, tetapi seiring dengan berkembangnya jumlah jemaah maka ukurannya sebesar ini," kata Zainudin yang saat itu bersama koran ini di teras masjid. Saat terjadi gempa tektonik 12 Desember 1992 Masjid Al-Taqwa juga hancur total. Masjid Al-Taqwa kemudian dibangun kembali pada tahun 1993.

Masjid Al-Taqwa merupakan salah satu bukti sejarah perkembangan Islam di Kabupaten Sikka yang dibawa pelaut dari Gowa Sulawesi Selatan. Selain dari Gowa, yang membawa peradaban Islam di Sikka adalah warga dari Bima NTB pada tahun 1885.

"Saat itu terjadi letusan Gunung Tambora yang menyebabkan sebagian warganya mengungsi hingga ke Maumere," kata Abdul Rasyid Wahab. Pusatnya adalah di pesisir Desa Watumilok Kecamatan Kewapante.***

Sumber : Harian Timor Expres

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 10 March 2009

Kotak Komentar Terbaru,Silakan Coba...!!

Kali ini di kotak komentar www.inimaumere.com ada sedikit perubahan.Semuanya demi kenyamanan bagi semua pengunjung www.inimaumere.com untuk memberikan komentarnya, cukup terbilang mudah dan praktis.Dilengkapi dengan foto avatar seperti dari facebook, yahoo, dan masih banyak lagi, jika Anda punya foto avatar dari facebook, Anda bisa menampilkan nya pada saat Anda berkomentar di blog ini! penasaran? Silakan Anda mencobanya.Untuk memasang foto Anda silakan klik di ADD PICTURES (Bagian bawah kotak komentar) sedangkan untuk memberikan komentarnya Anda tinggal mengklik di LEAVE A COMMENT.


Tinggalkan komentar Anda dengan Bijak,kritis namun berisi..!!
Nah Selamat Berkomentar dengan gemibira..!!
Sikat Kopi dulu ah....

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 9 March 2009

Maumere & Video

Maumere Dalam Beberapa Rekaman Video


Sebagian Sudut Kota Maumere


Video bY : Petpoling

Lihat Juga Video lainnya,Sanggar Tari dan Konser Roy Boomerang di Gelora Samador

Klik play di salah satu videonya

Tarian Sikka


Video By: Jo Marie (Filipina),Tinggal di Maumere



Penonton Saat Konser Roy Boomerang di Samador,24 September 2008



Video By; lennosense

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Friday, 6 March 2009

Enam Kelompok Bahasa Dan Bangsa Di Kabupaten Sikka

Bahasa menunjukkan Bangsa. Di Kabupaten Sikka terdapat berbagai macam bahasa.Sara Krowe adalah Bahasa Sikka-Krowe.Ata Sikka-Krowe adalah bangsa/etnis Sikka-Krowe. Di Kabupaten Sikka ada enam kelompok bahasa bangsa/etnis.
Ke-6 kelompok atau lingkungan budaya itu adalah :

-Sara Sikka Krowe, sebagai bahasa terbesar yang di pakai Ata Sikka- Krowe,dengan beberapa sub-etnis berdasarkan perbedaan atau rang-ko’ung yang terdiri atas : Ko’ung Sikka-Lela, Ko'ung Koting; Ko'ung Nele-Halat-Baluele; Ko'ung Ili Wetak-Arat; Ko'ung Hewokloang Watublapi; Ko'ung Waigete-Mudung-Hoder; Ko'ung Bola-Wolokoli-Wolonwalu dan Ko'ung Doreng Halehebing

-Sara Sikka-Muhan atau Sikka Krowe Muhan yang digunakan penduduk'etnis Tanah Ai dengan wilayah Kringa dan sekitarnya.

-Sara Muhan,bahasa penduduk disebelah timur utara berbataskan wilayah Kabupaten Flores Timur-Larantuka-Muhang Jawa.
-Sara Lu'a Kapa Raja atau Bahasa Palu'e di Pulau Api Rokatenda dengan subetnis Nge Rajawawi dan Nge Lajakarapau,Nge Kimalaja,Nge Kinje,Nge Pima dan Nge Uwi Muri.

-Sara Lio Krowe yang dipakai sub etnis Mbengu,Bu,Mego dan Nua Lolo.

-Sara Tidung Bajo Lau yang di pakai oleh penduduk dari etnis Sulawesi Selatan seperti sub etnis Bajo,Bugis,Bonarate.

Selain bahasa dan bangsa,bertautan pula dengan lingkungan adat dan budaya.Di Kabupaten Sikka terkenal dengan Adat Nora Wolon(g)-Wolon(g). Artinya, adat istiadat berdasarkan wilayah perbukitan masing-masing disesuaikan dengan enam kelompok bangsa dan bahasa di atas.

Bahasa adat memegang peranan utama sebagai bahasa hukum,walau secara lisan ia tetap di akui secara hukum tertulis dan dituruti. Bahasa adat yang adalah bahasa hukum ini berbentuk Naruk Du'a Mo'ang yang tidak dapat berubah bentuk dan artinya karena menggunakan bahasa prosa-liris yang sukar di hilangkan.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Wednesday, 4 March 2009

Mancing, Mengusir Bosan Di Sadang Bui

Tidak ada yang lebih asik di malam hari selain mengisi waktu luang dengan memancing. Demikian komentar salah seorang pemancing mania yang saban malam nongkrong di tepian Pelabuhan Sadang Bui bareng teman-temannya. Ditemani kerlip bintang dan senyum malu-malu sang rembulan, para pemancing ini bisa menghabiskan waktu berjam-jam berada di tepian pelabuhan. Pelabuhan Sadang Bui adalah nama sebuah pelabuhan kapal laut di Kabupaten Sikka yang berada dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Alok, Kota Maumere. Sadang Bui menjadi sentral bongkar muat barang dan penumpang dengan aktifitas kerja yang lumayan tinggi untuk wilayah Flores. Pelabuhan ini pernah rusak diterjang tsunami saat terjadi gempa tsunami ditahun 1992. Sadang Bui dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai tempat berlabuh/bersandar.

Perairan disekitar kawasan pelabuhan ini cukup jernih dan bebas dari limbah minyak yang sering tertumpah dari armada kapal. Dengan kondisi seperti itu tak heran bila perairan laut di sekitar pelabuhan ini kaya akan ikan dan cumi, hewan laut yang menjadi buruan utama para pecandu mancing.

Bahkan bila sedang musim cumi naik, perairan ini bisa berubah menjadi semacam tambak cumi . Di tempat ini pula akan menjadi ajang pesta para pemburu cumi se-Kota Maumere. Cumi yang tumpah ruah itu pun ibarat milik para pemburu cumi tersebut.

Tinggal menggunakan saok (alat penangkap cumi), puluhan cumi seketika berada dalam genggaman para pemancing. Jangan heran jika musim cumi tiba, tepian pelabuhan akan ramai dengan para pemburu cumi.

Om Anis, salah seorang pemburu cumi dan pemancing ikan menuturkan pada kami. Menurutnya, cumi yang menjadi buruan mereka biasanya ada dua jenis yakni cumi putih dan cumi merah.
Cumi putih akan naik ke permukaan air secara bergerombol jika bulan muncul dengan sinarnya yang terang sedang cumi merah naik meski bulan tak menampakan cahayanya.
Tapi teori ini kadang tak sepenuhnya benar karena kadang cumi akan lebih senang bermain saat bulan bersinar terang.

Saat berada di pelabuhan malam itu tak nampak para pemburu cumi. Maklum saja karena bukan harinya cumi naik.
Cuma terlihat Om Anis dengan saok (alat penangkap cumi) ditangannya.

Dengan telaten Om Anis mengintai setiap jengkal perairan. Sasarannya jelas cumi. Dan hupsss saok di gooyang lalu seekor cumi merah terlihat menggelapar dalam jaringnya.
Kami yang menyaksikan aksinya terlihat kecewa karena cuma satu cumi yang tertangkap namun lain halnya dengan Om Anis, wajahnya tetap terlihat cerah tak nampak ada kekecewaan.
”Ini akan saya jadikan umpan untuk tangkap ikan atau cumi yang lebih besar,” jelas Om Anis kepada kami.
Dan benar saja, cumi itu lalu di pasang Om Anis sebagai umpan di kailnya. Dilemparkan umpan tersebut ketengah perairan yang gelap gulita, sambil mengepulkan asap rokok ia dengan sabar menunggu umpan tersebut dimakan ikan.

Bersebelahan dengan Om Anis terlihat beberapa pemancing yang juga sedang sibuk menunggu umpan dimakan buruannya.Roy, salah seorang pemancing yang juga bekerja sebagai PNS menuturkan, setiap akhir pekan ia selalu menyempatkan waktunya untuk turun berburu ikan.

Sebagai seorang penggila mancing, Roy tahu bahwa untuk mendapatkan ikan perlu memilki tips-tips jitu agar ikan tertarik pada umpannya.
Ada beberapa umpan yang biasanya dipakai. Bisa menggunakan umpan cumi atau ikan kecil atau bisa pula menggunakan umpan yang biasa disebut umpan benang kaca atau biasa disebut binca.

Umpan benang kaca ini nantinya disertakan dengan batu kecil yang di ikat sedemikian rupa dengan menggunakan pucuk daun kelapa atau pucuk aren yang diiris, untuk kemudian di gunakan sebagai pemberat. Selain itu ada pula pemancing yang menggunakan rintas. Rintas ini menggunakan banyak mata kail dalam satu tali pancing.

Nah ada lagi nih salah satu jenis pancing yang menggunakan 3-4 mata kail yang di ikat menjadi satu dan akrab disebut radok oleh para pemancing tradisional. Uniknya, radok di gunakan tanpa umpan, jadi cuma menggunakan mata kail saja dan di fungsikan saat ikan sedang bergerombol..wahh!!

Untuk saat ini, kondisi cuaca di sekitar laut Flores masih belum stabil. Sekali waktu perairan bisa sangat tenang dilain hari kadang didatangi angin kencang yang mengakibatkan sedikit gelombang. Dengan situasi seperti ini tentu saja banyak pemancing yang memilih untuk libur berburu. Perairan Flores akan kembali stabil saat memasuki bulan April mendatang. Dengan perairan laut yang sangat tenang, para pemancing serasa dimanjakan dengan berkah berlimpah yang diberikan oleh Laut Flores.

Nah, jika Anda termasuk salah seorang penggila mancing dan berada di Kota Maumere atau berniat akan berlibur ke Maumere jangan lupa, kalau ingin berburu ikan atau cumi atau menyalurkan hoby memancing tak usahlah jauh-jauh ketengah laut.
Datang saja di kawasan perairan Pelabuhan Sadang Bui Maumere. Ajak pula pacar, keluarga atau sahabat...Tapi ingat jangan sekali -kali mencoba untuk menggunakan bom ikan, selain merugikan kita semua dan anak cucu kita kelak, Anda pun bisa di berurusan dengan hukum. Akhir Kata,Selamat Memaancing..!!


Foto..





Umpan benang kaca

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 1 March 2009

Dibalik Cerita Kemenangan 'Prahara Tsunami Bertabur Bakau'..

JANGAN ANGGAP REMEH NTT

Inilah kisah dibalik terciptanya film dokumenter pemenang Eagle Award 2008 “Hijau Indonesia-ku” Metro TV yg berjudul “Prahara Tsunami bertabur Bakau” karya Emanuel Tome Hayon dan Mikhael Yosviranto dari Maumere yang menang 2 kategori, yaitu sebagai Film Terbaik Versi Juri dan Film Favorit Pemirsa.

Kisah dibalik terciptanya film dokumenter ini ditulis secara khusus oleh Emanuel Hayon untuk seluruh pengunjung www.inimaumere.com dengan tujuan menginspirasi para pemuda Flores dan NTT bahwa kita pun bisa !!.
Saat tulisan ini dinaikan di www.inimaumere.com,Emanuel Hayon sedang berada di Jakarta untuk mendampingi Baba Akong menerima penghargaan sebagai Pahlawan Lingkungan Hidup dari Kick Andy Award,Metro TV.

***************************************************************************
Aku ingin NTT menjadi terkenal
Aku ingin semua kesedihan di 12 Desember 1992 berubah menjadi
Kegembiraan, kebanggan, dan refleksi panjang
maka hadirlah
Film Prahara Tsunami Bertabur Bakau
Di benakku

Saya yakin semua yang tinggal di bumi Flores pasti mengingat peristiwa apa yang terjadi pada tanggal 12-12-1992. Sebuah gempa dimana para ahli memberi predikat sebagai gempa tektonik. Saat itu, semua orang kehilangan barang (harta benda) bahkan nyawa. Terhitung ribuan orang. Bangunan rubuh rata dengan tanah. Terlihat trauma tragis bagi semua masyarakat yang mengalaminya. Kesedihan ini seperti bergentayang mengikuti keseharian.

Film ini secara garis besar bercerita tentang Baba Akong dan Istrinya yang berusaha keras untuk menghijaukan lagi daerah pesisir Pantai Ndete, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Selama bertahun-tahun mereka mengerahkan tenaga, pikiran dan juga materi untuk menanam bakau, walaupun awalnya sempat mendapat ‘ejekan’ dari tetangga dan penduduk setempat. Aktivitas baba Akong dan istrinya menanam bakau dianggap suatu tindakan yg ‘gila’ dan sia-sia belaka.
Baba Akong tidak lebih hanya seorang desa pesisir pantai yg lugu, alasan mereka menanam bakau karena mereka tidak mau bencana tsunami menerpa daerah Ndete seperti pada tahun 1992.
Bagi Baba Akong dan istrinya, bencana adalah sebuah kebangkitan bagi kecintaan akan lingkungan. 16 tahun setelah tsunami NTT 1992, mereka berhasil menghijaukan pesisir pantai Ndete Kabupaten Sikka seluas 23 ha. Baba Akong juga meregenerasi kelompok usahanya menjadi 41 kelompok dengan 2000 orang anggota.

Beberapa tahun kemudian, bagi saya yang waktu itu masih terhitung sebagai seorang anak kecil merasa sangat tertarik untuk kembali mencari peristiwa tragis tersebut mengumpulkannya menjadi sebuah cerita kesedihan, perjuangan dan refleksi. Saat terjadi tsunami di Nangroh Aceh Darusalam 26-12-2004 dan semua stasiun televisi menayangkan berita tsunami Aceh hampir setiap hari maka timbul pikiran saya untuk membangkitkan kembali situasi bencana Flores.

Saat itulah saya mulai kesana kemari untuk mengumpulkan foto-foto dan cerita tentang bencana di Flores. Banyak kenangan pahit yang saya temukan dari usaha mencari dan menemukan puing-puing perasaan belasan tahun yang lalu tersebut. Dalam perjalanan usaha ini ada hal menarik yang terus mengganggu pikiranku. Salah satunya adalah rekonsiliasi usai bencana. Saat setelah bencana tsunami 1992, ada banyak perubahan yang mendadak. Artinya bagi saya sendiri perubahan terjadi begitu signifikan pasca gempa tersebut. Dalam pandangan saya, saya menemukan bahwa ada kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat flores.

Kekuatan yang dimaksudkan saya adalah bagaimana kesedihan tersebut mengubah inspirasi masyarakat Flores menjadi bangun dari kesedihan menjadi optimis dengan keadaan. Ini adalah tanda awal saya bangga akan masyarakat Flores.
Bagi saya, masyarakat Flores sangat sadar akan kebangkitan dari kehancuran. Cerita yang dulunya adalah sebuah kesedihan mendalam berubah menjadi spirit baru. Sebagai seorang anak muda yang meneliti bencana alam dan kejadian yang berkutat pada bencana 12-12-1992 sangat bangga menjadi bagian dari masyarakat Flores.

Di pertengahan bulan april sampai awal bulan april saya melihat ada iklan di Metro Tv tentang Eagle Award. Bagi saya ini adalah sebuah ajang bagi anak muda untuk mengapresiasikan diri dalam bentuk film documenter. Awalnya saya sendiri sudah tahu akan ajang kompetisi tersebut. Saya kurang yakin jika mau mengikutinya karena bagi saya pasti tidak mampu bersaing dengan tim dari daerah lain. Saya sendiri juga tidak percaya diri karena basic untuk menjadi seorang sineas/sutradara documenter tidak ada. Akan tetapi dorongan yang begitu kuat muncul dari kebanggan saya sebagai seorang anak NTT. SAYA TIDAK MAU KALAH DENGAN DAERAH LAIN.

Hari berganti, bersama tema yang diusung “HIJAU INDONESIASKU” saya mantap untuk membuat penelitian dan membuat proposal. Kekuatan yang saya temukan dalam riset berhubungan dengan kejadian ini adalah KEBANGKITAN. Saya terdecak kagum, setelah dikenalkan oleh seorang teman . Pasalnya saat itu saya berjumpa dengan seorang tokoh pejuang lingkungan. Dialah Baba Akong. Nama aslinya adalah Viktor Emanuel Rayon. Nama pribumi yang mana beliau terlahir juga dalam keluarga Tionghoa. Ada banyak cerita perjuangannya tentang hutan bakau yang ia rintis.

Mendengar cerita perjuangan ini saya mengkolaborasikan dengan riset yang saya buat tentang bencana tsunami 1992. Berhasil saya temukan titik temu bahwa pada prinsipnya bencana telah mengajarkan pengalaman luar biasa bagi Baba Akong. Bencana mnyadarkan dia untuk semakin mencintai alam.

Proposal dan riset aku padukan kemudian ku kirimkan ke panitia. Tak kusangka dalam beberapa minggu kemudian aku baca di website eagle ternyata proposalku tersebut masuk dalam 50 besar. Beberapa hari kemudian aku di telpon oleh seorang anggota panitia bahwa proposalku masuk dalam kategori 20 besar. Betapa senang dan kaget waktu itu. Ternyata proposal ini menjadi keyakinanku untuk semakin optimis. Dengan masuk sebagai kategori 20 besar maka aku berhak untuk diuji agar lolos menjadi semifinalis. Benar, pada hari sabtu itu aku diuji untuk masuk dalam kategori semifinalis. Untuk masuk dalam kategori semifinalis saya harus di wawancarai by phone dari Jakarta. Saya semakin yakin kalau saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Siang itu, di tengah angin kencang bulan juni di tambah sengatan matahari yang panas saya menjawab pertanyaan by phone. Di akhir wawancara tersebut, di ujung telepon saya mendengar kata bahwa hasil wawancara ini baru di ketahui 4 hari mendatang.

Harap cemas saya menunggu jawaban ini. Saat di Maumere jaringan internet macet saya semakin kebingungan harus lewat mana saya harus mengetahui hasil wawancara tersebut. Siang itu, saat saya sedang tidur siang saya dikejutkan dengan deringan handphone disamping kepala saya. Berita di pembicaraan ini membuat saya bangkit dan meloncat. Jawaban yang memuaskan saya. SAYA LOLOS MENJADI SEMIFINALIS EAGLE AWARD DOCUMENTARY COMPETITION 20008.
Horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee..........

Saya mulai mempersiapkan diri saya untuk berangkat ke Jakarta. Dari Maumere saya kemudian terbang ke Kupang dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Di Kupang, malam itu saya bergumul dengan hasil riset dan foto-foto untuk membuat bahan presentasi nanti. Pukul 02.00 dini hari saya tidur karena jam 5 harus bangun dan check-in untuk terbang ke Jakarta. Tepat jam 07.30 saya terbang bersama Batavia Air menuju Jakarta.

Setibanya di Jakarta, peserta yang hadir terakhir saat itu adalah tim dari NTT. Saya masuk ruangan dan semuanya melihat saya. Saya tiba terakhir bukan karena kesalahan saya tetapi memang daerah NTT terhambat transpotartasi. Teman-teman lain sudah siap untuk bertarung sedangkan saya harus isi kantong perutku karena dari pagi belum makan. Aku di bilang terlambat kaena kedatanganku paling terakhir. Aku mengerti keadaan daerah NTT. Justru hal inilah yang membuat saya semakin bernapsu untuk memenangkan kompetisi ini. SAYA TIDAK INGIN NTT DI PANDANG SEBELAH MATA.

Besoknya, di ruang Green Studio Metro Tv diadakan Pitching Forum. Acara ini dimaksud untuk mencari finalis yang berhak mendapat beasiswa menjadi sutradara. Bermodalkan kenekatan dan percaya diri saya yakin. Dalam kegiatan ini tim yang tidak ada pendukung adalah dari NTT. Semua di sorak sorai tetapi tim kami tidak sedikitpun. Aku mencoba tenang dan percaya diri. Di ujung pengumuman, diumumkan bahwa tim kami lolos dan masuk menjadi Finalis. Saya kaget dan meloncat kegembiraan. Dalam hati saya semakin percaya diri.

Saat ditanya Reporter Metro Tv, kenapa anda yakin bahwa anda menang? Saya menjawab: “WALAU TIDAK ADA PENDUKUNG DALAM RUANGAN TETAPI SAYA YAKIN BAHWA DI BELAKANG SAYA MASYARAKAT NTT SEDANG MENDUKUNGKU DI TAMBAH LAGI DENGAN 500 KORBAN BENCANA FLORES SEDANG MENDOAKAN PERJUANGAN INI”
Jawaban ini keluar dari lubuk hatiku.

Setelah itu saya menjalani masa pendidikan dan shooting di Ndete. Balik dari shooting kami kembali ke Jakarta untuk editing. Kenangan saat shooting dengan kameramen dan penyelia produksi tidak akan kulupakan. Di editing saya berjumpa denagn seorang editor professional yang juga dosen di Institut Kesenian Jakarta. Luar biasa. Ada persaudaraan dan persahabatan. Usai editing kami mengadakan premier perdana film ku di Erasmus Huis (sebuah gedung milik Kedutaan Belanda). Dalam premier itu, Film saya “Prahara Tsunami Bertabur Bakau” mendapat banyak dukungan. Semua orang Flores (Maumere dan Larantuka) datang mendukung film kami ini. Diantara banyak pendukung dari tim lain yang rata-rata berprofesi baik, tim saya di dukung oleh persatuan Satpam, Sopir Metro Mini, Bus, Taksi. KESEDERHANAAN MEREKA MEMBUAT SAYA BANGGA.

Saat pertama kali di putar di Metro Tv banyak dukungan silih berganti. Semua keluarga besar Indonesia Timur dari Bali-Papua mendukung film ini. Luar biasa. Bulu badan saya merinding menyaksikan persatuan ini. Di Maumere sendiri, Radio Sonia dan www.ini maumere.com membombardir berita ini untuk menggalang dukungan terhadap film documenter ini.
Malam anugerah akhirnya datang juga, di umumkan bahwa FILM PRAHARA TSUNAMI BERTABUR BAKAU menjadi PEMENANG dua kategori sekaligus.

Kemenangan ini membuat saya di undang ke setiap kampus (Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhamadiah-Malang dan beberapa komunitas film lain) untuk menjadi pembicara. Saat itu cita-cita saya untuk memperkenalkan NTT di kancah Nasional terwujud. Banyak orang kaget kalau ternyata di Flores pernah ada tsunami.


UNTUK FLORES AKU BERIKAN TANDA HORMATKU
SEBUAH PULAU KECIL YANG BERKILAU DI SELATAN INDONESIA
AKU BANGGA MENJADI ANAKMU


TUNGGU KEHADIRAN FILM KEDUAKU
PERTENGAHAN TAHUN INI

Ditulis oleh
Emanuel Tome Hayon

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---