Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Friday, 11 December 2009

Dalam Kenangan, Gempa Tsunami Flores 12 Desember 1992..

Flores, 12 Desember 1992.. Cuaca di Kota Maumere dan Kabupaten Sikka pada umumnya terasa sangat panas dan menyengat tak seperti hari-hari biasanya. Warga kota lebih terlihat memilih berada di luar rumah mencari udara yang sejuk, bersantai-santai dibawah pepohonan rindang didepan rumah mereka. Beberapa warga malah mencoba mengguyur tubuh mereka dengan air untuk menghilangkan rasa panas karena cuaca yang tak bersahabat itu. Waktu terus berjalan mendekati pukul setengah dua siang WITA. Anak-anak sekolah telah berada di rumah masing-masing. Para nelayan tetap seperti biasanya sibuk mencari ikan di laut yang menghidupi mereka.
Namun tiba-tiba tanpa peringatan terlebih dahulu guncangan hebat terasa melanda bumi yang dipijak. Bumi seakan-akan dipermainkan oleh tangan-tangan raksasa. Gemuruh bunyi seperti bunyi gedung-gedung yang sedang diruntuhkan terdengar menakutkan telinga. Semua berlari tak tentu arah, berhamburan dengan rasa takut yang luar biasa. ”Gempa..gempa..gempa..”teriak mereka.

Ibu-ibu sibuk mencari anak-anak mereka, anak – anak kecil menangisi diri mereka sebab tak tahu harus berbuat apa. Para lelaki dewasa kesana-kemari mencari dan menyelamatkan semua keluarganya. Semua Panik!! Kota kecil nan tenang dilanda malapetaka hebat, menghancurkan semua yang telah dibangun, menghancurkan kehidupan dan semua cita-cita, melenyapkan semua harapan para warga kabupaten yang sedang ditata.

Tiba-tiba dari arah pantai berhamburan warga masyarakat yang tinggal dikawasan itu sambil berteriak, ”Air laut naik..air laut naik..air laut naik...”
Mereka terus menjauhi laut yang selama ini menghidupi mereka dengan suara yang tak henti-hentinya berteriak ketakutan.
Warga kota semakin panik. Gelombang air laut terus mendekati jalan raya dikawasan bagian utara kota yang berdekatan dengan pantai. Tsunami (populer setelah gempa Aceh nan dahsyat) tak ketinggalan ikut serta ambil bagian dalam peristiwa itu. Beberapa tubuh terlihat jatuh terkulai bersama reruntuhan gedung yang menimpa mereka.

Pelabuhan Sadang Bui (pelabuhan kapal laut di Kota Maumere) yang selama itu aktif dengan jadwal bongkar muat barang yang mulai padat hancur disepak sang jendral yang bernama Tsunami. Sebuah kapal besi dikawasan perairan pelabuhan yang selama bertahun-tahun hanya menjadi hiasan laut dan menjadi tempat bermain bocah-bocah kecil karena telah karam, dilempar buang oleh si tsunami langsung mengangkangi jalan raya pelabuhan. Beberapa kapal kecil terlihat pasrah menerima keadaan antara laut dan darat dan membingkai peristiwa itu menjadi sebuah kenangan pahit yang sulit untuk dilupakan. Banyak warga yang berada di pelabuhan hilang ditelan laut.

Tsunami terus bergerak, menghancurkan semua yang berada didepannya. Pulau Babi, sebuah pulau kecil yang berada didepan Maumere hancur lebur diterjang gelombang. Banyak media memberitakan ratusan penghuni pulau itu tewas disapuh tsunami. Pulau kecil nan elok menghiasi lembaran peristiwa pahit dan tragis, menjadi saksi bisu betapa angkuhnya alam jika kita mulai mencampakan kebesaranNya.

PT.Bali Raya, sebuah perusahaan pendinginan ikan satu-satunya di kawasan pulau Flores sat itu hancur di terjang gelombang tsunami. Gelombang air laut tersebut naik dan dengan sombongnya merembes melewati gedung Bali Raya menuju rumah warga sekitarnya dan jalan raya dikawasan pertokoan.

Tak sampai disitu, kampung nelayan tradisional Wuring dan wilayah sekitarnya yang berada tak jauh dari Kota Maumere tak luput dari amukan ‘air laut naik’ (baca;tsunami). Sebagian warga Wuring yang mendirikan rumah mereka diatas laut cuma bisa pasrahkan diri ketika amukan gelombang maut datang menyapa mereka. Semuanya hancur.
Yang pasti, semua kawasan pesisir pantai bagian utara kabupaten Sikka dan Flores pada umumnya hancur lebur dihantam sang tsunami.

Ditengah kota terlihat kepanikan luar biasa. Gedung-gedung pertokoan, perkantoran dan rumah warga banyak yang hancur. Banyak pula warga yang tewas. Pasar Baru Maumere yang berada ditengah kota dalam kawasan pertokoan pun cuma bisa tertunduk lesu ketika guncangan gempa yang menakutkan mulai menggerogoti bagunannya.

Semuanya berlari membawa keluarganya. Ada yang berusaha mengungsi keperbukitan atau ke kampung-kampung yang jauh dari kota dengan maksud menghindari gelombang tsunami. Sekolah-sekolah, gedung-gedung perkantoran, sarana-sarana umum dan sebagain besar rumah warga banyak yang rusak parah (hancur). Terlihat ibu-ibu dan keluarganya meneteskan air mata mereka dengan sikecil yang terdiam penuh ketakutan dalam dekapan sang ibu.
Semua menangisi harapan-harapan mereka yang amblas dirampas dengan paksa dari hidup oleh si penghancur bernama gempa tsunami.

Kawasan lapangan umum Kota Baru Maumere dan Gelora Samador da Cunha akhirnya menjadi salah satu alternatif tempat pengungsian sementara sebagain warga kota untuk menghindari amukan berikutnya. Namun ada juga sebagian masyarakat yang tetap bertahan dirumah-rumah mereka dengan mendirikan tenda-tenda darurat untuk menghindari gempa susulan.

Dihalaman Rumah Sakit TC Hillers Maumere terlihat seorang ibu yang melahirkan bayi mungil nan lucu disela kepanikan warga dan guncangan gempa. Ibu tersebut ditolong oleh para perawat wanita yang siaga merawati pasien yang memenuhi halaman rumah sakit.

Malam hari lebih mencekam. Listrik padam. Trauma masih ada. Guncangan gempa susulan meski tak sebesar guncangan pertama sering membuat warga panik apalagi isu mengenai air laut naik masih sering terdengar dan membuat warga tak cukup nyenyak menutup mata mereka sekedar beristirahat sejenak. Semua tetap waspada.
Hujan gerimis pun ikut prihatin dengan memperlihatkan kesedihannya menetesi bumi Flores yang sedang berduka dengan tetes-tetes airnya yang semakin membuat warga menderita.
Gelap karena lisrtrik padam, hujan pun turun. Lengkap sudah semuanya.

Disela kepedihan dan menderitanya warga, ada pula kisah-kisah ajaib beberapa warga yang selamat dari reruntuhan gedung maupun gelombang tsunami. Semuanya merupakan kisah nyata dari bagian peristiwa memilukan yang pernah terjadi di bumi Nusa Bunga,Flores tercinta.

Pemerintah pusat langsung menyatakan bencana gempa tsunami Flores sebagai bencana nasional. Uluran bantuan pemerintah pusat dan warga Indonesia pada umumnya serta bantuan dari luar negeri sangat berarti membantu warga Flores untuk bertahan hidup ditengah derita mereka.
Selain Kabupaten Sikka yang paling banyak memakan korban manusia dan parah dalam sapuhan tsunami dan gempanya, beberapa kabupaten lain di Flores seperti Ende, Flores Timur, Ngada juga menderita dalam malapetaka yang sering disebut dengan Gempa Flores ’92.

Gempa Flores berkekuatan 6.8 skala Richter (SR). Gempa bumi ini menyebabkan tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir pantai Flores, membunuh setidaknya 2.100 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan lebih dari 5.000 orang mengungsi.

Gempa ini juga sedikitnya menghancurkan 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya. Kabupaten yang terkena gempa ini ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores Timur. Kota yang paling parah ialah Maumere. Lebih dari 1.000 bangunan hancur dan rusak berat.

Hati kita sedih saaat terjadi gempa Flores 1992 yang merenggut lebih dari 2000 orang meninggal. Mereka meningal bukan akibat gempa itu sendiri tapi akibat reruntuhan kontruksi rumah yang menimpa, dikombinasi energi tsunami yang menghancurkan. Gempa Flores pernah menjadi ikon bencana besar Indonesia, namun perlahan-lahan terlupakan.

Bupati Alexander Idong saat itu yang menerima tongkat estafet pemerintahan dari tangan Bupati A.M Conterius sebelumnya harus bekerja ekstra keras untuk memulihkan kehidupan masyarakatnya yang lumpuh total. Trauma dan kenangan buruk menjadi tantangan bagi pemerintahan Alex Idong.
Dengan segenap kemampuannya dan didukung oleh rakyatnya,perlahan-lahan Kabupaten Sikka bangkit kembali dan menjadi kabupaten yang kemudian berdiri tegar menata kembali semua sudut kehidupannya, sejajar kembali dengan kabupaten-kabupaten lain di NTT dan Maumere kini menjadi kota nomor satu di bumi Flores.

Sumber; para saksi yang mengalami peristiwa tersebut..

Foto- foto Kerusakan akibat Gempa - Tsunami yang menghancurkan Maumere bisa dilihat disini.

www.inimaumere.com




Selengkapnya...

Monday, 7 December 2009

Merayapi Egon, Menggapai Langit...





Sebuah Catatan Pendakian Menuju Puncak Gunung Egon

Oleh : Lucky Reyner
Editor : Oss

Hari masih pagi, mentari di ufuk timur masih malu-malu menampakan cahaya keemasannya. Kesibukan masyarakat kota mulai nampak berjalan. Jam ditangan menunjukan Pukul 05.00 WITA. Mobil yang kami tumpangi perlahan melaju mulus meninggalkan Kota Maumere menuju ke arah timur Kabupaten Sikka, tepatnya menuju Kecamatan Waigete. Di kecamatan inilah menjadi lokasi target operasi perjalanan kami, target yang tak bisa dibilang biasa karena harus menapaki puncak gunung berapi yang masih aktif dan dalam pengawasan BMG (Badan Metereologi dan Geofisika) NTT. Gunung berapi tersebut tekenal dalam bahasa masyarakat Sikka sebagai Gunung Egon dengan 1001 kisah mistik yang melatari sejarah keberadaanya.

Kali ini saya kebagian jatah sebagai pemandu bagi rekan dari Jakarta yang akan merayapi Egon. Rekan dari Jakarta ini adalah Mbak Tyty Chandra yang bagi saya merupakan salah satu senior dalam urusan pendakian gunung. Tak terbilang telah beberapa gunung di Indonesia yang pernah ditelusurinya. Hal inilah yang membangkitkan saya untuk terus bersemangat merayapi sisi Egon menuju puncaknya yang terkenal dan menakutkan.
Oya, keberadaan Mbak Tyty di Maumere tak lepas dari www.inimaumere.com. Dari web yang dimiliki oleh Oss & Boim inilah Mbak Tyty menghubungi mereka dan meminta tolong menyediakan salah satu pemandu menuju Egon. Akhirnya sayalah yang kemudian dijadikan target untuk ‘peta’ pendakian oleh mereka berdua... hehehe dasar..!

Ayo, ikuti kisah seru pendakian kami....

Dalam perjalanan, Tyty terus berkomat kamit kayak dukun yg lagi baca mantra, menceritakan segudang pengalamannya. Kata Tyty, sebelum berkunjung ke Flores dia berusaha browsing di dunia maya 'tuk mencari tahu sepenggal informasi tentang Gunung Egon, tapi hasil pencarian tersebut tak memuaskan. Namun ini tak menyurutkan semangatnya untuk berkelana menuju Maumere. Ia lalu melakukan kontak dengan Oss, admin www.inimaumere.com. Dari sinilah benang merah itu mulai terlihat. Oss memastikan Tyty untuk berkunjung ke Maumere dan bersedia membantunya untuk mendapatkan info tentang ‘peta’ Egon semampunya.

Lanjjuuuttt...

Tak terasa lima belas menit perjalanan telah kami tempuh, sampailah kami di Desa Waigete yg jauhnya kira-kira 30 Km dari Kota Maumere. Waigete adalah Ibu Kota Kecamatan Waigete merupakan salah satu desa pensuplai berbagai macam sayuran untuk kota Maumere. Tidak heran jika memasuki Desa Waigete terhampar pemandangan kebun-kebun sayur nan hijau yang terhampar luas menyejukan mata.

Kalau diingat-ingat, setahun yg lalu saya pernah menuju Puncak Egon sendirian. Dari situlah saya melaporkan aktivitas Egon secara langsung via Stasiun Radio Sonia FM Maumere. Kejadian ini berlangsung dua hari setelah Egon memuntahkan lahar dinginnya. Inilah hal ternekat dan paling konyol yang dilakukan oleh seorang pendaki (maklum masih amatiran), yang melakukan pendakian tanpa terlebih dahulu menggali informasi tentang gunung tersebut, upppsss..untung tidak terjadi apa-apa. (hehehe tanks God n don’t try it ).

Kendaraan kami terus melaju menuju Posko Balai Pengamatan Gunung Berapi Egon yg terletak di ujung Desa Waigete. “Kita harus singgah di sana dulu untuk mencari tahu informasi terakir tentang situasi Egon” kata Tyty mengagetkan saya dari ngantuk.
Sopir pun mengarahkan mobil kearah kanan jalan cabang menuju posko. Tak lama sampailah kami di Posko Balai Pengamatan Gunung Berapi Egon yang berjarak kurang lebih 200 m. Setelah menggali informasi yang cukup dan mendapatkan masker untuk menjaga pernafasan dari debu kawah Egon, kami pun bergerak untuk bersiap-siap melakukan pendakian.

Bergerak Ke Egon

Ada dua rute menuju Puncak Egon. Rute pertama bermula dari Kampung Blidit dan rute kedua dari Posko Balai Pengamatan Gunung Berapi Egon tadi. Untuk ke Egon, kami memilih rute pertama karena merupakan jalur pendakian yang berjarak pendek, ya kurang lebih 3 km dari titik start. Sedangkan rute kedua memiliki jarak tempuh sejauh kira-kira 10 km. Nah, pilih mana Lu hehehe..
Kamipun bergegas memacu kendaraan menuju Desa Blidit karena matahari sudah mulai menanggalkan sinar orangenya.

Menuju Desa Blidit dari Waigete berjarak kira-kira 8 Km. Kondisi jalan menuju Desa Blidit dari Waigete bisa dikatakan cukup bagus. Ada sih beberapa ruas jalan yang rusak tapi tak seberapa parah. Tak berapa lama sampailah kami di titik start pendakian. Suasananya sungguh berbeda ketika setahun yang lalu saya melakukan pendakian. Jalan setapak menuju puncak Egon pun tak kelihatan lagi. Semak dan rerumputan kecil telah menutupi keberadaanya. Kelihatan sekali kalau puncak Egon jarang dikunjungi.

Saya sempat mencari-cari akses jalan tersebut untuk pendakian. Tak juga ketemu. Beruntung kami berpapasan dengan seorang anak muda asal Desa Blidit . Tanpa malu-malu saya pun menanyakan akses jalan tersebut. Dengan ramah n full senyum, si Egi (nama anak muda tersebut) bersedia menunjukan dan sekaligus mengantarkan kami menuju puncak Egon. Sikap ramah dan suka menolong yang ditunjukan Egi adalah gambaran sikap asli masyarakat yang tinggal di dusun-dusun Kabupaten Sikka. Mereka akan bersedia membantu meski baru bertemu dengan orang baru. (epan gawan golo nong Egi atau terima kasih banyak Bro Egi…..)

Tanpa menunggu waktu lagi kami langsung kencangkan tali sepatu, pikul ransel, tenteng kamera dan melangkah dengan pasti, menelusuri jalan setapak yangg kelihatan abstrak. Egi langsung mengambil posisi leader berperan sebagai guidenya kami. Tyty tidak henti-hentinya mengabadikan pemandangan yang berpapasan dengan kami mulai dari rumput, pohon, semak, batu, tanah, kayu kering dan lain-lain (terkecuali tugu monas hehehe) sementara Pak Theodorus (salah satu rombongan Tyty yang berasal dari PolHut (Sporc) BTN Kelimutu Ende) sibuk menjelaskan secara detail setiap jenis tumbuhan yang kami temui. Maklum beliau kan pegawai kehutanan hehehe..

Panas matahari sesekali terasa membakar kulit, saat sinarnya nyelonong menembus dedaunan pohon Eucalyptus yang masih kokoh berdiri meski umurnya sudah sangat tua.
Kurang lebih satu setengah jam kami melewati hutan Eucalyptus yang tumbuh secara homogen di bawah punggung puncak Egon. Keringat kami mulai bercucuran dan stamina pun mulai sedikit terganggu.
“Kita istirahat makan dulu” kata Pa' Theo sambil mengambil posisi istirahat di sebuah batu besar. Hmmmm…Tanpa ba bi bu, bekal nasi kuning disikat dengan lahapnya. (hehehe..ketahuan belum sarapan nih). Setelah berisitirahat sejenak, kami pun kembali melanjutkan pendakian. Tak berapa lama sampailah kami di ujung hutan.


Tyty, Lucky, Egy




Di depan kami terlihat Puncak Egon yang anggun dan sombong, berdiri tegar menantang kami yang kerdil, menantang setiap niat yang ingin menghancurkannya.
Jarak antara ujung hutan dan puncak Egon kurang lebih 1 km. Tak ada lagi satu pohon pun yang terlihat tumbuh disini. Yang ada hanyalah tumbuhan khas puncak pegunungan seperti, edelweiss (anaphalis sp), santinggi gunung (istilah orang sini sih atau nama latinnya Vaccinium Varingiaefolium ) dan lain-lain. Juga bongkahan batu-batu besar yang rapuh membentuk puncak-puncak kecil dan siap jatuh jika terjadi longsor sewaktu-waktu.

Medan yang akan kami tempuh semakin terjal dengan kemiringan 60 derajad, cukup menantang adrenalin. Jalan setapak semakin tidak ada bekasnya lagi. Kami hanya mengandalkan tumpukan batu kecil yang disusun ala kadarnya. Tumpukan batu ini disusun oleh masyarakat sekitar dan digunakan sebagai tanda untuk jalur yang pernah dilewati sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan pengambilan belerang di sekitar kawah. Mmmhhhh...

Lanjuttt....

Kabut tebal mulai menutupi padangan. Aroma belerang mulai terasa menyengat. Persediaan air mineral di botol semakin menipis. Kurang lebih 300 m dari puncak kami mulai mendaki dengan merangkak penuh hati-hati karena medannya semakin terjal. Lagi pula karakter tanahnya agak rapuh, bebatuan kecil pun mudah terlepas dan terperosot. Egi sang guide yang sangat menguasai medan tiba-tiba melesat dalam kabut tebal hingga meninggalkan kami. Aahhhhhh maunya berteriak agar ia jangan pergi, takut juga jangan sampai kami salah arah dalam pendakian hehehe..

Akhirnya sampailah kami di punggung Gunung Egon. Kami langsung beristirahat tuk memulihkan kembali stamina yang terkuras selama pendakian tadi, semua ini berhubungan dengan rencana pendakian menuju bibir kawah yang tinggal 100 m lagi. Kabut tebal sesekali ditiup angin membuka cakrawala di depan mata kami.
“Buseeet… ternyata kita lagi terkurung jurang yang dalam bangeeet…..” teriak Tyty dengan dialek Jakarta-nya tanpa menunjukan ekspresi takut sedikitpun diwajahnya. (koq ga mecing ya… dasar pendaki senior).

Sementara dari tadi Egi sibuk mondar mandir mengamati jalur yang akan kami tempuh ke bibir kawah. Dengan muka melas tanpa dosa Egi menyampaikan kalau jalur ke bibir kawah sudah putus akibat longsor. Semangat petualang kami tidak kendor dengan pernyataan Egi. Saya pun merangkak perlahan menuju tempatnya Egi bertengger. Ternyata benar jalannya sudah putus.

“Tapi masih ada sedikit pijakan untuk kesana kalau mau nekat,” teriak saya mengajak 'tuk menantang medan ekstrim tersebut. Tapi tak satupun yang menjawab ajakan saya. Tyty yg berpengelaman dalam dunia pendakian langsung meredam semangat saya.
“Kita ga bawa peralatan lucky….jangan ambil resiko ya” teriak Tyty sambil terus mengabadikan moment-moment di tempat tesebut. Yap, jangan ambil resiko, dengan demikian kecelakaan bisa diminimalisir hehehe.

Kabut tebal terus menghalangi pengambilan gambar. Jarak pandang hanya 5-7 m sehingga menanti moment puncak Egon dihiasi langit biru sangatlah langka. Sesekali kami langsung berebutan tuk mengabadikanya jika langit biru menampakan wajahnya pada kami.
“Asyiiik akhirnya dapat juga langit biru…” teriak Tyty kegirangan.
Sudah sejam kami menikmati panorama dipunggung Gunung Egon dan akhirnya kami segera memutuskan untuk turun.
Hari telah beranjak sore.

Egon memang terlihat gagah. Tidak ada bunyi gemuruh. Nampak tenang agung dengan keindahan sekilas di puncaknya. Pemandangannya sangat indah dan mempesona setiap pengunjungnya

Kalau punya kesempatan merangsek ke dalam, pada isi perut di kaki pegunungan itu, akan ditemukan aneka kekayaan dan keindahannya. Beberapa jenis burung Kakatua, Nuri, Beo dengan pernah pernik warnanya, sekawanan rusa bertanduk empat, babi hutan, ayam hutan, kera, bahkan kelinci dan hewan-hewan lainnya.

Tersirat ketidakpuasan di masing-masing wajah kami karena tidak berhasil mancapai bibir kawah. Tapi setidaknya, kami sudah mengantongi sedikit informasi tetang Gunung Egon, yang selama ini berdiri megah menghiasi Kabupaten Sikka dengan minimnya informasi akan kemegahannya itu sendiri. ..


Lucky



Tyty
Santigi gunung


Info:
Bersama Gunung Rokatenda, Gunung Egon adalah gunung berapi yang terdapat di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki tinggi 1.703 meter dari permukaan laut. Egon kembali aktif pada 2006 setelah vakum selama 75 tahun. Egon tercatat meletus dahsyat pada 1925.


Cerita rakyat atau artikel mengenai Gunung Egon bisa dibaca secara bersambung disini...(1) atau disini...(2)

ATAU

Cerita Rakyat tentang Sejarah Gunung Egon bisa di baca disini.

Oss
www.inimaumere.com



Selengkapnya...

Listrik Padam, Cerita Menjelang Malam..

Disebuah sudut Kota Maumere menjelang malam....

Dede Piter dengan Dede Domi terpaku pada layar kaca. Tivi menjadi satu-satunya hiburan bagi mereka. Apalagi ada siaran pertandingan sepakbola, olah raga yang menjadi kesayangan mereka dua. Jangan tanya ribut gaduh dirumah kecil itu. Pertandingan antara Persija melawan Persebaya untuk sementara dimenangkan Persebaya dengan skor 2 : 1. Dede Piter pegang Persija sedang Dede Domi pegang Persebaya.

“Mama, tambah kopi dua lagi, jangan lupa pisang gorengnya eeeee...” teriak Piter keras-keras. Matanya masih melotot ke layar kaca.
Tanta Mia balas dari arah dapur dengan dongkol,“Nonton terus...lama-lama saya banting itu tivi..orang mo nonton sinetron juga tida bisa...”
“Kaka..mending pi nonton di sa pu rumah saja, satu rumah ada kasih keluar air mata gara-gara sinetron...”usul Domi ke Tanta Mia yang lagi sibuk di dapur.

Brar..Tiba tiba listrik padam.
Terdengar nyanyian sedih para nyamuk kecil..’gelap...terasa gelap dunia ini..bila sinar terang terhalang gedung PLN..”

Gaduhlah seisi rumah kecil itu..

”Bapa..cepat kasih nyala lampu gass..

“Minyak abis...”

“Pi beli kaaa...”

“Suruh Ricky tuh..”

Tanta Mia sambung..”Domi mana?”

“Sudah pulang kasih nyala lampu di dia pu rumah..’

“Lilin mana?”

“Diatas bufet”

Rumah kecil itu mulai benderang dengan sebatang lilin kecil.

“Masih ada beberapa lilin nih cukup buat sampe malam.. kasih tau Ricky biar dirumah saja.."

“Bapa mau kemana?”

“Dengan Domi mau ke rumah Darius..sebentar saja..”

Bersama Domi, melajulah mereka dua menembus pekatnya jalanan Kota Maumere. Hingga akhirnya sampailah mereka dihalaman rumah Darius, beruntung disini listrik tak padam.

“Waaahhhh..tumbennnn kamu dua adik kaka ipar kompak begini....pasti kesini mo cari moke tuh....hehehe..mari masu,” nyletuk Darius menyambut mereka dua.

“Yaa..baguslah kalo ada moke...tapi kami kesini sebenarnya mo nonton bola di tivi, soalnya di kompleks kami listrik mati..”jelas Domi sambil melangkah ke teras rumah.

“Keterlaluan sekali mereka. Mentang-mentang yang punya listrik, kita rakyat kecil menjadi korban”,ujar Darius.

”Bukan kali ini saja listrik padam tapi sudah berlangsung berbulan-bulan rakyat Kabupaten Sikka hidup seperti dijaman purba. Lebih memalukan lagi pada Podafta bulan oktober kemarin saat pertandingan Voli berlangsung ehh tiba-tiba listrik padam berjam-jam. Tau tidak sebagai tuan rumah, wajah orang Maumere ini seperti dipukul berkali-kali oleh yang punya listrik. Benar-benar merendahkan martabat orang Maumere sebagai tuan rumah Pordafta,”sambung Darius. Bagi Domi dan Piter, Darius adalah salah seorang penggemar bola voli yang fanatik.

“Di kompleks kami, listrik padam su menjadi tradisi baba, beruntung kami masih sabar. Asal jangan bertahun-tahun listrik padam begini, kasihan anak-anak kami yang masih sekolah. Mereka belajar cuma pake lilin, bagaimana bisa pintar kalo PLN saja tidak mendukung?”keluh Domi sambil menyeka keringat tipis didahinya. Cuaca Maumere memang lagi panas-panasnya.

Guaaabraaaaakkkkkkkk...!!
Darius memukul meja dengan emosi.Dahinya berkerut.
“Sebagai pengusaha Warnet saya merasa di rugikan secara materi. Sekarang pemasukan dari warnet menipis gara-gara listrik padam. Sekarang cuma bisa menghasilkan setengah dari biasanya, lagian tak ada sama sekali ganti rugi buat kami..benar-benar keterlalauann...”

Tiba-tiba Piter menyahut...”Sabar..sabarrrr....saya dengar ada kerusakan disalah satu mesin listrik mereka, lagian kepala PLN Cabang Flores Wilayah Timur juga sudah bertatap muka dengan DPRD Sikka tapi hasil pembicaraan apa saya juga tida tau.."

“Kau mau tau hasilnya? Hasilnya te begini..listrik padam terussssss...kau nih bela siapa??”hardik Darius dengan darah tinggi ke Piter.

“Tenang baba..jangan marah-marah dulu kaaaa...”bujuk Domi.

“Ahhh sudahlahhh...kita semua ini sudah dirugikan oleh PLN, sekarang apa yang bisa kita lakukan? Tidak ada. Keluhan kita ini siapa yang mau dengar? Kalo dengar juga pasti masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Kita ini cuma rakyat kecil yang tak ada kekuasaan apa-apa. Kita cuma bisa terima apa kata mereka. Mau teriak? Silakan saja, karena listik tak akan menyala. Sabar saja sambil berdoa semoga 2012 cepat datang hehehe..”ujar Piter sambil tertawa sinis.

“Betulllll...dari pada ribut tak ada guna, mending nonton bola lagi ah...Darius buka Tivi dulu..”kata Domi dengan senyum tipis.

Darius baru melangkah tapi tiba-tiba..Brar..listrik padammm..gelap gulita. Cuma terlihat gigi putih milik mereka. Suasana mencekam. Ada teriak kekecewaan dari para tetangga Darius.

“Anjrittttttt....dasar nasib siallll....,”maki Darius.

“Wah PLN..apa dosa kami?”nyeletuk Domi dalam keremangan malam. Beruntung bulan masih menampakan cahaya genitnya.

“Darius kami dua pulang saja eee...sory su buat kau darah tinggi hehehe”pamit Piter dengan senyum bungkus.

“Iya Piter, jangan marah tadi eeee..ini semua gara-gara saya emosi dengan keadaan ini.”

Pulanglah Piter dan Domi kembali kepangkuan rumah tangga mereka. Di jalanan nampak gelap. Cahaya lampu petromak atau lilin remang-remang di sejumlah rumah dipinggir jalan. Keadaan yang membuat kehidupan kota seperti mati suri. Dibeberapa lokasi terlihat anak-anak remaja berkumpul sambil mendendangkan lagu cinta ditemani nyala api unggun. Disudut lain, beberapa remaja ABG bergerombol dengan sepeda motor sambil meraung-raungkan gasnya. Nampak seperti para pembalap liar yang sedang bertaruh.

Kehidupan terus berjalan, entah sampai kapan kegelapan ini berakhir.

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Thursday, 3 December 2009

Tsunami Menerpa Sikka..

Maumere_ Gelombang Tsunami setinggi puluhan meter, Sabtu (21/11/2009) sekitar pukul 09.15 WITA menerpa Desa Nangahale, Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka. Tsunami terjadi akibat Gempa Tektonik berkekuatan 7.5 schalarichter. Gelombang Tsunami di Sikka ini mengakibatkan 12 warga Desa Nangahale, mengalami patah tulang dan luka berat.

Korban patah tulang dan luka berat ini pada umumnya dialami para pelajar sekolah dasar yang ada di Nangahale ini, akibat tertimpah runtuhan bangunan dan terinjak saat berupaya menyelamatkan diri.

Menurut Staf Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jakarta, Daryono,M.Si saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa pusat gempa berada di Laut Flores sebelah Utara Kepulauan Teluk Maumere Flores NTT, dikedalaman 20 kilometer. Gempa dan Tsunami ini terjadi akibat pergeseran salah satu lempeng bumi yang ada di Pulau Flores.

“ Sikka dan daratan Pulau Flores masih berpotensi Gempa dan Tsunami, karena Flores berada di antara dua lempengan yakni Lempeng Indo-Australia di Selatan Flores dan Lempengan Euroasia sebelah utara Pulau Flores. Pergeseran dua lempengan ini sangat berpotensi menimbulkan gempa dan tsunami dengan kategori VIII MMI yang artinya berpotensi gempa berkekuatan besar dan menimbulkan tsunami dengan model gelombang yang dapat menimbulkan kerusakan yang sangat parah ” jelas Daryono.

Ketika ditanya jumlah korban yang meninggal dan hilang akibat gempa dan tsunami di Nangahale, Daryono yang juga Staf Peneliti pada Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Univeritas Gajah Mada Yogyakarta ini, mengakui tidak ada korban meninggal maupun hilang karena gempa berkekuatan 7.5 schalarichter dan Tsunami ini hanya merupakan bagian dari rangkaian simulasi penanggulangan dan pengurangan resiko akibat bencana alam gempa bumi dan tsunami.

Simulasi ini melibatkan unsur Pemerintah Kabupaten, Kecamatan aparat Desa Nangahale, Unsur Masyarakat, Organisasi Pemuda dan Para Pelajar di Kecamatan Talibura.

Pengurus Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Univeritas Gajah Mada Yogyakarta, Ir. Lie Rahayu WF,M.P. dalam penjelasannya menghimbau pemerintah dan masyarakat yang ada di Kabupaten Sikka dan Daratan Flores supaya giat melakukan sosialisasi, simulasi dan persiapan lain dalam menangani dan mengurangi resiko kerusakan dan korban meninggal akibat gempa dan tsunami. karena Pulau Flores dan Kepulauan lain di NTT berada di antara dua lempengan bumi yakni Lempeng Indo-Australia di Selatan Flores dan Lempengan Euroasia sebelah utara Pulau Flores yang sangat berpotensi gempa dan tsunami apabila terjadi pergeseran atau patahan pada salah satu lempengan tersebut.

“ Sosialisasi dan simulasi penting dilakukan mengingat Kabupaten Sikka dan Wilayah Kepulauan di NTT kedepannya masih berpotensi mengalami gempa dan tsunami. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi dan simulasi penanganan bencana alam gempa dan tsunami secara gencar diselenggarakan pemerintah melalui dinas instansi terkait. Bila perlu diselenggarakan perlombaan simulasi dalam kaitannya dengan bencana alam gempa dan tsunami “ jelas Rahayu.

Simulasi ini merupakan hasil kerjasama Departemen Sosial Republik Indonesia dan Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Univeritas Gajah Mada Yogyakarta serta Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Sikka.

Menurut Michael Mane, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Sikka, sebelum digelarnya simulasi penanganan korban gempa dan tsunami, penyelenggara terlebih dahulu melakukan sosialisasi penanggulangan dan pemutaran film documenter terkait bencana alam gempa dan tsunami, di Aula Kantor Desa Nangahale Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka, Kamis (19/11/2009).

Acara Pembukaan Sosialisasi ini dibuka Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang yang diwakili Asisten I Bidang Tata Praja, Melky Gedho,S.H. dalam sambutannya Gedho menjelaskan bahwa bencana tidak dapat dicegah namun hanya dapat dikurangi resiko kerusakan dan korban meninggal.

“ Saya berharap agar melalui simulasi ini, wawasan dan pengetahuan masyarakat akan bahaya dan tindakan pengurangan resiko kerusakan kematian dapat bertambah, sehingga masyarakat menjadi lebih siap menghadapi dan mengatasi bencana alam gempa dan tsunami “ kata Gedho. (***)










www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 26 November 2009

TIGA PIMPINAN DEWAN SIKKA DILANTIK

Ketua Pengadilan Negeri (PN) Maumere PM Silalahi, di Aula Lepo Kulababong DPRD Sikka Senin (23/11/2009) pagi mengambil sumpah dan melantik tiga pimpinan DPRD Sikka, yakni Rafael Raga, S.Pi dari Partai Golongan Karya, sebagai Ketua, Drs. Alexander Longginus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Drs. Felix Wodon dari Partai Demokrad, masing – masing sebagai Wakil Ketua DPRD Sikka.
Usai pelantikan Ketua DPRD Sikka Rafael Raga dalam sambutannya mengajak DPRD Sikka supaya meneladani dan mencontohi kepemimpinan Yesus Sang Raja.
Kata Raga Dewan kedepan akan menerapkan pola kepemimpinan 3A: yakni saling awas, saling asah, dan saling asuh dalam upaya memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Sementara Gubernur Nusa Tenggara Timur Drs. Frans Lebu Raya dalam sambutan tertulis yang dibacakan Bupati Sikka Sosimus Mitang meminta DPRD dan Pemerintah Kabupaten Sikka supaya membangun hubungan kemitraan dan relasi yang baik menjalankan roda pemerintahan dan mewujudkan pembangunan yang pro pada kepentingan masyarakat.

Hadir saat pelantikan ini, Bupati Sikka Sosimus Mitang, Wakil Bupati Sikka Wera Damianus, Danlanal Maumere Kolonel Laut (P) Wisnu BW, Kajari Maumere Sanadji, utusan unsur Muspida Kabupaten Sikka, Sekda Sabinus Nabu, Rohaniwan Pendamping Romo Frans Fao, Pr, para asisten dan pimpinan SKPD Sikka, dan ratusan undangan lainnya.

NOCE FERNANDEZ DILANTIK GANTIKAN MARSEL ISAK

Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga usai dilantik menjadi Ketua DPRD Sikka Defenitif, Senin (23/11/2009) di Aula Kulababong DPRD Sikka, langsung memimpin upacara pelantikan Yunus Noce Fernandez dari Partai Demokrat sebagai anggota DPRD Sikka periode 2009-2014.
Noce Fernandez dilantik Raga menggantikan posisi Marsel Isak anggota DPRD Sikka terpilih yang tidak dapat dilantik karena masalah ijasah.

Dalam sambutannya, Raga meminta Noce Fernandes yang baru dilantik untuk menjalankan tugas Dewan sesuai kewenangan dan amanat yang diberikan masyarakat

Diinformasikan Raga, bahwa berdasarkan ketentuan yang berlaku DPRD Kabupaten Sikka Masa Bhakti 2009 - 2014, terdiri atas 6 fraksi yaitu:
Fraksi Partai Golongan Karya (beranggotakan 9 orang dengan Ketua Gorgonius Nago Bapa, SE); Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (beranggotakan 4 orang dengan ketua Darius Evensius, S.Sos);
Fraksi Partai Demokrat (beranggotakan 5 orang dengan Ketua Drs. Jelalu Petrus);
Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (beranggotakan 4 orang dengan Ketua Drs. Paolus Nong Susar);
Fraksi Gabungan Nasionalis (beranggotakan 4 orang dengan Ketua Silverius Florentinus Angi); dan Fraksi Gabungan Pembaharuan (beranggotakan 4 orang dengan Ketua Ambrosius Dan) (djo)
www.inimaumere.com





www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Monday, 23 November 2009

Formasi CPNSD Sikka Tahun 2009: Tenaga Guru dan Kesehatan Masih Prioritas

Demikian disampaikan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sikka, Drs. J. A. Nong Baba, saat ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Senin (12/10/2009).
Nong Baba menjelaskan, jumlah formasi sebanyak 532 orang untuk Kabupaten Sikka tahun 2009 merupakan hasil penetapan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), yang tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Nomor 113F/M.PAN/7/2009, tanggal 10 Juli 2009 tentang persetujuan prinsip tambahan formasi CPNSD tahun 2009 untuk Kabupaten Sikka.
Berdasarkan SK tersebut, jelas diuraikan mengenai jumlah CPNSD yang akan diterima di Kabupaten sikka, berdasarkan tingkat dan kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan. Diantaranya, 422 pelamar umum, yang terdiri dari 163 tenaga guru, 173 tenaga kesehatan, dan 86 tenaga teknik.

Dibawah ini adalah formasi yang dibuka untuk para pelamar umum dlm bentuk image.

Nong Baba menjelaskan, untuk tahun 2009 penerimaan CPNSD masih prioritas tenaga guru dan tenaga kesehatan, karena berbagai pertimbangan tentang kebutuhan di tingkat kabupaten.

"Untuk tahun ini masih diutamakan untuk mengisi tenaga guru, kesehatan dan tenaga teknis untuk jabatan fungsional tertentu dengan kualifikasi pendidikan minimal D2," jelas Nong Baba.

Nong Baba yang didampingi Kepala Sub Bagian (Kasubag) Pengadaan, Portasius K., S.H, menegaskan, BKD Kabupaten Sikka telah menyampaikan rincian formasi kepada Menpan, dan sedang menunggu penetapan kembali oleh Menpan. Namun hingga saat ini belum ada informasi dari Menpan tentang penetapan rincian formasi tersebut.

Sementara untuk waktu penerimaan masih menunggu keputusan Menpan. Setelah ada Keputusan Menpan, akan dikomunikasikan ke tingkat propinsi tentang waktu pelaksanaannya.

"Kalau sudah ada penetapan dari Menpan, kami akan melakukan koordinasi dengan propinsi. Karena akan dilakukan sekaligus di semua kabupaten/kota, seperti penerimaan-penerimaan tahun sebelumnya," jelas Nong Baba.

Sedangkan untuk tenaga honorer, Nong Baba menegaskan, untuk tahun 2009 tenaga honorer dan sekretaris desa (sekdes) mendapat formasi sebanyak 110 orang, yang terdiri dari 87 orang tenaga honorer dan 23 sekdes.

"Untuk tenaga honorer dan sekdes, mulai minggu depan mereka akan dipanggil untuk melengkapi persyaratan administrasinya. Namun harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk penerimaan CPNSD," pungkasnya.(Pos kupang)













www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Maumere, Bandar Lama Menuju Bumi Sang Raja

Sebelum Belanda menginjakkan kakinya di Maumere, tempat ini dikenal dengan nama Sikka Alok atau Sikka Kesik. Berdasar Sikka natar gete, ialah ibu kota kerajaan yang berada di pantai selatan.
Pada masa Raja Don Alessu, hanya dikenal pelabuhan Waidoko (yang terletak di sebelah Barat dari Maumere sekarang). Perlahan-lahan pelabuhan dibuka agak ke timur, di mana Kota Uneng sekarang yang dikenal sebagai daerah pelabuhan yang ramai. Perahu-perahu Bugis Makasar bersilang pergi datang. Lama-kelamaan tempat ini berkembang jadi sebuah pasar dengan sistem perdagangan barter. Barang-harang ditukar dengan barang-barang pedagang dari Cina, Bugis dan Makasar. Perdagangan begitu berkembang, tidak hanya secara normal tetapi juga secara negatif sebagai tempat huru-hara dan penyelundupan candu dan obat bedil.

Di pinggiran ada gubuk-gubuk orangMakasar, sebelah atasnya berdiam penduduk aseli Sikka. Mereka menyebut diri Sikka Kesik atau Sikka Alok yang lazim disebut `Alok. Raja Sikka menempatkan Noang Kurangpung dengan jabatan Commandanti, sebagai pengawas, atau Penguasa Pelabuhan dan Kepala Wilayah Utara. Sedang raja Sikka sendiri berdiam di Sikka (pantai Selatan).

Perkembangannya, kemudian Poshouder Belanda mulai mendiami Sikka Alok dengan membuka Kantor Pemerintah Belanda.

Dengan demikian, kekuasaan Komandanti perlahan dikurangi dan dibatasi sampai pelabuhan langsung diambil alih posthouder. Kegiatan ditingkatkan dengan mengukur dalamnya laut, dalamnya pelabuhan, nama¬nama teluk, tanjung, sungai serta kampung-kampung dalam wilayah untuk

dimasukkan ke dalam Peta Flores dan peta pelayaran. Banyak teluk diberii nama seperti Maunori, Mautenda, Mauwaru, Maurole, Mauponggo, Mauloo dan terakhir Maumere yang dimaksud pelabuhan Sikka Alok. Para nakhoda kapal putih berasal dari Ende hanya langsung mengenal nama Maumere.
Setelah daftar nama-nama itu dikirim ke Pusat, munculah nama Maumere untuk Sikka Alok.

Nama Maumere itulah yang terus dipakai Pemerintah Belanda misalnya untuk sebutan Onderafdeling Maumere, Controleur van Maumere. Begitu juga para pedagang yang hanya mengenal Maumere sementara orang-orang Sikka sendiri masih menggunakan Sikka Natar, Sikka Alok, Wawa Alok atau Lau Alok (sebutan bagi orang-orang Koting, Nelle, dan Ili).
Juga administrasi raja Sikka masih menggunakan istilah Sikka seperti de Radja van Sikka bukan Raja van Maumere.

Mengenai bahasa masih disebut Bahasa Sikka atau Bahasa Sikka Krowe dan bukan Bahasa Maumere. Maumere kemudian hanya dipakai untuk nama kota, kota Maumere sampai sekarang. Tetapi tahun 2000 muncul suara-suara dan masyarakat Sikka untuk menggantikan nama Maumere dengan nama lain yang lebih berbau Sikka.

Untuk lengkapnya bisa juga dibaca disini ..

Dari Buku Pelangi Sikka

www.inimaumere.com



Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---