Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Friday, 17 September 2010

Antara Kelimutu dan Nilo..


Turun dari Danau Kelimutu sekitar pukul 8 pagi, mobil berlari kencang melewati puluhan kelokan kanan kiri keluar dari wilayah Kabupaten Ende. Dan akhirnya menyentuh Desa Wolowiro, Paga, Kabupaten Sikka. Diwilayah ini terdapat Pantai Koka yang legendaris. “Emang apa keindahan Pantai Koka? Jadi penasaran nih..” ujar Grace yang paling semangat kalo diajak ke pantai. Pantai Koka masih jauh dari bayangan mereka. Mereka cuma tau Kelimutu. Jadi apa salahnya pulang dari Danau Kelimutu lalu bermain-main di Koka? Sekalian biar mereka tahu keindahan pantai ini. Bisa cerita-cerita keluar. "Kayak pantai-pantai di Bali ya? banyak kafe di pinggiran pantai gitu kan?" tanya Tisye dengan yakin.

Wah, ternyata Pak Sopir Wempy tak berani ambil resiko. Terpaksa jalan buruk sepanjang 2, 5 km menuju Pantai Koka kami lewati dengan berjalan kaki. "Kok jadi gini jalannya? Tapi janji pantai Koka indah kan?" rungut keduanya.

Cewek-cewek ini rupanya kuat pula hehehe...diantara nyanyian burung hutan mereka masih bercanda satu sama lain. Tak tahu kalau jalanan buruk ini masih panjang. Sedikit gambaran, akses menuju Pantai Koka ini memiliki jalan tanah berbatu antara batu besar dan kecil yang berserakan tak rapi ditengah jalan. Terang saja, Wempy yang nyetir mobil tak mau ambil resiko. Takut saja kalau mobilnya ada apa-apa.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya terdengarlah bunyi deburan ombak yang cukup kencang. Tapi laut Koka belum terlihat karena tertutup rimbunan pepohonan. Dan akhirnya perlahan-lahan mulai terkuak tuh pantai. Dan Tisye bersama Grace langsung berdecak kagum. Secara spontan, tas-tas dan sandal di buang begitu saja. Mereka berlari mendekati pantai. Berteriak kegirangan. Suara mereka terdengar memuja muji keindahan Koka. Dan gelombang ombak Koka begitu tinggi saling berlomba volume dengan suara para manusia ini.

Lebih seru lagi, ketika mereka menelpon teman-temannya di Jakarta dan berteriak memberitahu kalau mereka sedang berada sendirian disebuah tempat yang sangat indah. “Rugi kalian, ntar aja baru liat di poto-poto kami ya,” teriak mereka lewat ponsel.

Di Koka saat itu, kami hanya sendirian. Tak ada manusia lain. Baik penduduk setempat, nelayan atau siapa saja. Jadi bisa dibayangkan. Di sebuah pantai yang indah hanya ada 3 manusia. Buset dah. Artinya bahwa meski dengan susah payah berjalan kaki, mereka berdua mendapat sebuah hadiah istimewa. Menjadi pemilik sah Koka sepenuhnya meski hanya berberapa jam.

Aneh ya, kok ga ada orang? Kok ga ada penjual apa kek, atau orang-orang yang spontan berjualan jika ada tamu kesini? Kok ga ada yang berdayakan pantai indah ini ya..? begitulah pertanyaan bertubi-tubi dari mereka yang harus dijawab.

Sekitar tiga jam lamanya kami berada di Koka. Mereka sebenarnya tak mau pulang, Maunya hingga sore hari baru beranjak. Tapi apa daya, perut sudah lapar, lidah haus berkepanjangan dan masih ada jadwal perjalanan lainnya. Yakni ke Pantai Paga, Nuabari (akhirnya dibatalkan karena waktu terbatas), Kampung Sikka dan berakhir di Nilo.

Setelah bermanja dengan keindahan Pantai Koka, kami beranjak pulang. Grace dan Tisye kelimpungan gara-gara jalan buruk dan menanjak. Apa bole buat. Jarak 2,5 km tetap harus dilalui. “Kenapa pemerintah daerah sini tak memberdayakan pantai ini? Salah satunya kan bisa memperbaiki akses jalan, biar pengunjung kesini tak usah buang-buang tenaga,” rungut Grace.

“Coba kalau ada yang jualan minum-minuman ringan yang dingin, cindera mata, kain pantai, kepang rambut kan asik tuh..ini kok di pantai seluas ini cuma bertiga doang..mangnya ga ada dinas pariwisatanya ya? Kok dibiarkan sepi kayak gini?” sungut Tisye yang sempoyongan berjalan dibelakang.

“Mungkin dengan naturalnya yang tanpa apa-apa inilah yang menarik dan membuat unik Pantai Koka,” jawab saya sekenanya.

“Bangun Pak sopir...” teriak Grace dan Tisye ketika sampai di tempat parkirnya mobil. Napasnya terdengar besar kecil gara-gara berjalan jauh. Setelah menghabiskan banyak air kami meneruskan perjalanan ke Pantai Paga. Disini kami berencana ‘isi kampung tengah’ alias makan siang.......

Di Paga Beach yang berdekatan dengan Pantai Koka, gelombang air cukup besar. Pantainya juga indah. Pasirnya juga putih meski tak seputih di Pantai Koka. Kalau disini, jarak jalan utama (jalan raya) menuju pantainya sangat berdekatan. Ada pula beberapa bungalow yang disediakan bagi tamu yang ingin beristirahat. Ada pula beberapa resto kecil atau warung makan. Jadi di Paga Beach sudah lebih moderen dibandingkan dengan Koka yang tersembunyi dari keadaan luar.

Setelah berisitirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Sikka atau Natar Sikka. Disini para gadis ini ingin melihat Gereja Sikka, Lepo Gete dan membeli kain tenun ikat khas Sikka.

Lantas persinggahan berikutnya yang paling terakhir adalah berziarah ke Bukit Nilo. Di tempat ini, berdiri Patung Bunda Maria yang sangat besar dan menatap Kota Maumere dibawahnya . Mirip seperti Patung Jesus di Rio Dejenario Brazil. Sedikit berlama-lama di Nilo, saat malam kami beranjak pulang. Kembali ke Kota Maumere. Kembali ke rutinitas biasanya. Dan para gadis ini kembali ke Jakarta dengan sebungkus cerita tentang dahsyatnya alam Maumere. “Kami akan datang lagi bersama teman-teman lain dan ingin menjelajahi Flores dari Komodo sampai Lembata,” janji Grace n Tisye.

Perjalanan sehari penuh sudah usai. Berangkat dari Maumere sekitar pukul 04.00 Wita menuju Kelimutu dan kembali ke Maumere sekitar pukul 19.00 Wita. Dan cerita lengkap dua gadis yang tenggelam di keindahan Kabupaten Sikka dan Kelimutu akan ditulis oleh mereka sendiri sebagai oleh-oleh perjalanan pertama mereka di Kabupaten Sikka..Tunggu saja..


Di rumah Raja Sikka, Lepo Gete
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Maumere

Maumere merupakan kota pelabuhan utama di Kabupaten Sikka yang berada di antara wilayah Flores Tengah dengan Kota Larantuka yang berada di Flores Timur dan Kabupaten Ende disebelah barat Kabupaten Sikka.
Nama Sikka berasal dari nama sebuah desa yang berada di pantai Selatan Flores yang dulu pernah dikuasai penguasa Portugis dan keturunan pada abad ke-17 dan abad ke-20. Sikka telah menjadi pusat kegiatan kaum misionaris asal Portugis dalam menyebarkan agama Kristen (Khatolik) sejak Raja Sikka (Don Alessu) di baptis menjadi Katolik di Malaka.
Pada bulan Desember 1992, Maumere diguncang gempa hebat yang menghancurkan sebagian kota ini disusul gelombang pasang setinggi 20 meter yang menewaskan ribuan orang. Maumere terletak hanya 30 km dari pusat gempa dan saat ini Maumere sudah dibangun kembali dari kehancuran total akibat gempa bumi.

Bagi wisatawan yang berminat dengan kain tenun ikat maka Maumere merupakan salah satu pusat produksi tenun ikat. Wisatawan yang datang ke Maumere umumnya hanya untuk transit dan beristirahat sejenak sebelum melalui melanjutkan perjalanan menuju ke beberapa tempat yang menarik yang terdapat di sekitar Maumere dan Flores umumnya.

Pada jarak 13 km di Timur Maumere terdapat Waiara yang merupakan titik pangkal untuk menuju ke taman laut Maumere yang dulu pernah menjadi salah satu lokasi penyelaman yang paling indah di Indonesia sebelum hancur akibar gempa bumi tahun 1992.

Namun demikian lokasi terumbu karang di sekitar Pulau Pemana di Pulau Besar di dekat Waira masih dalam kondisi yang cukup baik dan cukup menarik minat penyelam.

Sekitar 28 km di Timur Maumere, di dekat desa Wodong terdapat pantai Waiterang yang cukup menarik serta cukup menyenangkan untuk bersantai beberapa saat di tempat ini.

Atraksi pantai di tempat ini antara lain beberapa lokasi penyelaman khususnya di dekat Pulau Besar serta lokasi penyelaman dan snorkeling di pulau Pangabatang. Di kawasan di sekitar Wodong dan Waiterang tersedia fasilitas akomodasi yang cukup lengkap.

Di Barat Laut Waiterang terdapat Gunung Egon (1.703 m) yang merupakan gunung vulkanis yang mengeluarkan asap. Gunung ini dapat didaki dari Blidit dalam waktu kurang dari tiga jam. Blidit terletak 6 km dari Waiterang dengan menumpang angkutan umum.

Sekitar 6 km dari Maumere, di jalan raya yang menuju ke Ende, terdapat museum yang memiliki koleksi benda-benda bersejarah asal Flores dan juga koleksi kain tenunan ikat langka. Museum ini bernama Blikon Blewut.

Museum ini terletak di Ledalero. Di Ladalero, terdapat sebuah sekolah calom imam katolik (seminari) yang murid-muridnya berasal dari daerah ini (Flores dan Nusatenggara). Koleksi tenun ikat di museum ini memiliki desain atau motif yang sudah jarang ditemukan lagi saat ini begitu pula dengan bahan pencelup warnanya.

Sekitar 45 menit perjalanan dengan menumpang angkutan umum dari Maumere (27 km) terdapat sentra produksi tenun ikat lainnya yaitu di Sikka. Kota ini dulunya, pada abad ke-17, merupakan pusat pemukiman orang Portugis di Flores. Sebuah gereja tua yang dibangun pada tahun 1899 terdapat di Sikka. Di tempat ini pula terdapat Lepo Gete atau Rumah Raja yang berdiri sejak tahun 1600-an. Di Sikka juga terdapat sebuah tradisi Katolik peninggalan Portugis setiap menjelang Paskah, Logu Senhor. Ada juga tradisi penangkapan cacing laut yang dalam bahasa setempat disebut Ule Nale.

Sekitar 4 km dari Sikka terdapat Lela yang merupakan tempat di mana banyak ditemui bangunan tua peninggalan kolonial dan juga sentra kerajinan tenun ikat. Ada juga sebuah tempat ziarah katolik bernama Wisung Fatima Lela. Lela memiliki kawasan pantai dengan pasirnya berwarna hitam.

Dari Lela menuju Paga (42 Km dari Maumere) terdapat Paga Beach. Dekatnya ada Pantai Koka yang eksotik. Ada pula Desa Nuabari dimana di desa ini terdapat tradisi pemakaman jenazah didalam batu.

Pada jarak 8 km di Timur Maumere wisatawan akan tiba di Geliting yang mana pada setiap hari ]um'at digelar pasar tradisional yang dikunjungi ribuan orang yang datang dari berbagai desa di wilayah ini. Di pasar ini banyak dijual aneka kain tenun ikat.

Sekitar 10 km di Timur Laut Wodong terdapar Nangahale yang merupakan desa yang cukup menarik karena masyarakat disini pembuat kapal tradisional. Jalan yang menuju ke Nangahale akan melalui Patiahu, 33 km dari Maumete, yang merupakan kawasan pantai yang indah dengan pasirnya yang putih.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 4 September 2010

Sensasi Petualangan ke Watu Wa..



Sayang sekali, kami akhirnya membatalkan adventure menuju Air Terjun Kembar (twin waterfalls).  Hanya karena waktu tak mencukupi. Tapi beberapa warga Dusun Watu Wa memberikan solusi. Kami diminta  merubah peta perjalanan. Mereka menawarkan sebuah tempat langkah dan menantang yang katanya tak pernah didatangi manusia lain selain warga Watu Wa. Mhhh..menarik juga ya. Tawaran kami terima. Dua mobil yang di kendarai Lucky dan Refly dari MOFF (Maumere Offroad), langsung bergerak turun ke sungai. Matahari hilang ditutupi rimbunan pepohonan. Suara burung dipadu desiran angin pegunungan seakan orkestra alam. Penduduk dusun semakin banyak berkumpul. “Sudah dekat Mo’at...” kata Hanis.  Dia adalah anak muda yang selalu cekatan menerobos hutan semak. Lantas kedua oto bergerak kedepan mengiringi mentari yang turun perlahan. Akhirnya, hutan sungai Watu Wa membiarkan kami menikmati penat diatas batu-batu raksasa.   Pancuran air segar nan bening lembut menyentuh kulit. Betapa nikmatnya ...

Lanjuttt...

Baru menjelang pukul 13.30 wita hari Minggu (28/08/2010) kami bergerak keluar Kota Maumere. Rileks saya menikmati perjalanan disamping Lucky. Pemuda gimbal ini sungguh lincah mengendalikan hartop FJ40-nya. Didepan kami, Ferly bersama seorang rekannya bergerak liar dengan Taft Kebo. Lucky dan Ferly adalah bagian dari Maumere Off Road (MOFF).  Komunitas pecinta mobil off road di Maumere hampir medekati 30 orang. Setiap minggu memiliki jadwal rutin mencari titik-titik ekstrem. Disini berbagai gaya diperagakan dalam arena offroad alami.

Kali ini bersama saya akan mencoba arena offroad alami sekaligus berburu air terjun.  Tapi hunting air terjun akhirnya batal karena waktu tak memungkinkan. Kecewa. Begitulah perasaan kami saat itu.

Dan sebagai gantinya kami merubah jalur. Ada sensasi lain yang tak kalah menarik! Yakni menapaki batu-batu raksasa.  Dan salah satu lokasinya mengeluarkan pancuran air alamiah nan bening. Wow, segar sekali.

Seperti yang ditulis tadi, selain penduduk setempat, kami adalah orang pertama yang memasuki gua batu tersebut. Bangga. Ini diakui penduduk setempat. Dan klimaksnya ada!
Itu terjadi saat kami menikmati detik-detik bersatunya jiwa kami dengan alam Nian Sikka. Sekali lagi kami merasa beruntung hehee..



***
Watu Wa adalah sebuah dusun kecil yang terletak di Desa Done dan berada diwilayah Kecamatan Magepanda. Penduduk dusun ini berjumlah hampir 200 orang. Dan mereka sebagian besar beretnis Lio sehingga bahasa yang digunakan adalah Bahasa Lio. Lio adalah salah satu etnis dari enam etnis besar yang ada di Kabupaten Sikka, Flores.

Menurut penduduk setempat, dalam hidup mereka baru pertama kali inilah oto (sebutan lain untuk mobil bagi orang NTT) melintasi dusunnya, maklum jalan lebar khusus mobil tak ada. Mereka sangat gembira. Dan kegembiraan itu diwujudkan dengan membantu kami secara spontan. Hampir semua penduduk dusun mengikuti kemana saja mobil bergerak.

Dan yang lebih sensasional lagi, FJ40 dan Taft Kebo akhirnya memerawani daerah alamiah ini. Bukan hanya melintasi dusun tapi malah bergerak dan terus bergerak menembus hutan semak, menapaki bebatuan dan melewati perbukitan. Apa saja yang mereka punya, mereka kerahkan agar mobil yang sedang berjalan pelan bisa mulus mendekati lokasi “air terjun”.

"Baru pertama kali ini ada oto sampai masuk kedalam sini sampai menuju kali Watu Wa," ujar Hanis.



***
Lucky dan Refly kebut-kebutan, saling kejar diatas jalanan mulus berkelok. Pemandangan pantai disisi kanan kami adalah bonus spesial ditengah ganasnya sinar matahari.
Lagu lawas dari Tesla, Stryper dan Stone Temple Pilot bergantian menemani jalur Pantura. Sesekali ekor mata ini mengintip orang-orang yang rebah dipasir putih Kajuwulu, sebuah pantai tujuan piknik warga Maumere.
Tiba-tiba sebuah mobil pick up nyelonong dan menyalib kami dengan kecepatan tinggi. Hampir seluruh bak pick up penuh manusia. Anak-anak kecil berdesak-desakan dengan orang-orang dewasa. Kelihatan mereka sedang bergegas menuju tempat piknik. Maklum hari minggu adalah hari spesial buat sebagian warga Maumere. Tiba-tiba kenangan masa kecil melintas dibenak ini..cieee.

Ketika mobil bergerak, perbukitan tandus cokelat kekuningan seakan-akan mendampingi kami. Pemandangan yang sama bisa dilihat di daerah-daerah pantai utara yang hampir semua pepohonan seolah terbakar. Sangat kontras jika dibandingkan saat musim hujan.



***
Setelah seru kebut-kebutan, akhirnya wilayah Magepanda menyambut kedatangan kami. Kami langsung berbelok arah kekiri dengan tujuan lokasi air terjun. Arah ini sama atau searah menuju waduk (bendungan) Magepanda yang terkenal itu.

Dari arah pertigaan tadi, sekitar 3 km kami dihadiahi jalan beraspal mulus sebelum akhirnya kembali memasuki jalan buruk. Ferly dan Lucky kembali beradu kecepatan. Debu-debu berterbangan dibelakang. Jalanan buruk tak beraspal yang cukup panjang akhirnya terputus di sungai Watu Wa. Sungai dengan batu-batu besarnya membentang menghalangi jalan. Dan dengan jeli, pengendara mobil Refly dan Lucky akhirnya menancapkan nama mereka sebagai orang pertama yanng memasuki wilayah Dusun Watu bersama mobil off road-nya.

Mobil terus bergerak. Dusun Watu Wa menyambut kami. Saya harus menahan napas, ketika mobil yang dikendarai Lucky mulai riang menerobos medan nan buruk. Batu-batu yang menghalangi niat kami di lewati. Kadang saya berharap ada batu besar yang mengangkang sehingga mobil berhenti (dan saya bisa bernapas lega) hehehe ... Namun harapan saya hanyalah harapan semu hehehe.. mobil terus melaju. Tapi bukan melewati jalan lebar. Bukan. Tapi melewati jalan setapak. Melintasi parit tanah, membuka semak-semak dan mulai merambah hutan semak. Para penduduk desa mengiringii mobil baik dari depan, samping dan belakang. Ada yang hanya menikmati tapi banyak pula yang berjaga-jaga kalo tiba-tiba kami meminta bantuan. Gila, benar-benar keren.

Batang-batang dan ranting besar pepohonan yang seolah menghadang laju mobil dengan cepat ditebas oleh penduduk. Beberapa anak muda penuh semangat berlari cepat kedepan, membuka semak dengan parang ditangan dan berteriak, “lewat sini...awas disitu ada batu besar... ambil kanan...”. Antusias sekali.

Matahari terus turun dan bergerak perlahan kebawah. Sudah sangat sore ketika dua mobil itu berdiri dibawah tanjakan tebing. Sebenarnya bisa melintas tapi sebuah batu yang sangat besar menghadang kami. Diantara letih, kami bisa menyaksikan anak-anak desa yang cekatan menyingkirkan batu sekuat tenaga.


Oss n Lucky vs Refly n Lucky, menyaksikan kegigihan anak-anak Watu Wa memberi bantuan

Karena hari sudah semakin sore. Saya dan Lucky memutuskan berjalan kaki, sedangkan Refly masih menunggu anak-anak muda menyingkirkan batu. “Tempatnya dekat, tidak jauh,” jelas Hanis. Melewati jalan setapak yang cukup jauh dengan napas dan keringat bercucuran adalah sebuah kisah yang paling unik sekaligus meletihkan. Lucky dan beberapa orang kampung sudah melesat cepat kedepan.

Diantara bunyi suara napas ini yang tersengal-sengal, teriakan ayam hutan dan koor burung-burung rimba simpatik menyambut kami. Batu-batu hitam bertebaran didalam sungai. Sungai Watu Wa mulai kami tapak. Hanis melangkah mendampingi saya. Kaki-kaki kami menari-nari dari satu batu ke batu yang lain. Kami terus bergerak keatas melewati jalur sungai. Terkadang batu-batu sebesar rumah menghadang. Terpaksa kami harus memanjatnya. Benar-benar keren sekaligus melelahkan. Jika dikreatif sedikit Pemda bisa menjadikan Watu Wa sebagai sebuah tempat eksotik bagi para petualang backpaker yang suka tantangan.

Huhhh..dengan napas ngos-ngosan kayak kuda pacuan hehehe...akhirnya kami memijakkan tapak kaki kami disebuah tempat yang asli keren abis. Body yang penat, mata yang redup, keringat yang menetes disulap menjadi segar menyegarkan. Lunas sudah semuanya. Tak sia-sia kami sampai disini. Suasana yang alamiah, eksotik dan natural menjadi sesuatu yang mahal untuk didapat. Dan kami selaksa orang yang beruntung, setiap kali menjelajahi tubuk molek Nian Sikka.

Dari sebuah ‘atap batu’ meluncurlah sekumpulan air bening yang rasanya segar dan dingin. Seperti air pancuran, seperti air terjun mini. Tempat itu dikelilingi batu-batu cadas raksasa sebesar rumah tingkat yang mengelilingi kami. Dan kami berada dibawahnya.

Menurut Hanis, sebenarnya kalau kami mau kami bisa terus naik keatas karena diatas sana ada segumpalan air yang meluncur deras dan lebih banyak dibandingkan ditempat kami berdiri. Sayang karena capek, kami tak bisa menyetujui tantangan Hanis.

Suasana ditempat ini sangat sejuk dan nyaman. Karena dikelilingin batu-batu raksasa dan pepohonan rimbun disekitarnya. Tentram banget.
“Andai tadi datang lebih awal pasti kita bisa bakar ayam hutan disini, pisang juga banyak, tinggal bakar saja..” ujar Hanis disela-sela bunyi air yang mengalir. Mmhh..selain ayam hutan dan burung hutan yang banyak berseliweran, monyet-monyet yang berakrobat dipepohonan juga menjadi atraksi lain pengiring perjalanan. ;-) Keren ya..

Detik demi detik kami terus menikmati bersatunya jiwa kami dengan alam Watu Wa. Air nan segar kami biarkan mengoles penat dan mengelupas rasa capek. Sudah semakin sore. Matahari sudah pulang. Angin dingin pegunungan sudah memberi isyarat. Tapi air terus meluncur menerjang tubuh kami yang sedang bercumbu dengan alam sekeliling. Ah, hati ini tak mau pulang sebenarnya. Tapi apa bole buat.

“Yuuuk pulangggggg.......” teriak Ferly dari atas batu cadas raksasa.

Dan kami bergegas. Beberapa orang kampung turut bersama kami. Mereka siap memberi petunjuk jalan pulang. Lantas kaki-kaki ini melangkah turun dengan darah segar dan tenaga baru. Dusun Watu Wa menyambut kepulangan kami. Roda-roda mobil bergerak. Puluhan warga Dusun Watu memberi senyum dan sapaan akrab selamat tinggal. Anak-anak kecil mengejar mobil dari belakang. Orang-orang dewasa melambai-lambaikan tangan. “Jangan lupa kembali lagi yaaa.....” teriak mereka.

Sensasi di Watu Wa





Video Watu Wa.......


****
(By: Oss).
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Kabupaten Sikka

Maumere adalah ibukota Kabupaten Sikka. Maumere terletak di pesisir utara Flores yang langsung menghadap ke Laut Flores. Kabupaten Sikka adalah salah satu kabupaten dari 9 kabupaten yang ada di Flores. Flores termasuk dalam wilayah propinsi NTT. Saat ini Kabupaten Sikka dipimpin oleh Bupati Sosimus Mitang dan Wakil Bupati Wera Damianus (2008-2013). Maumere pernah dihajar gempa tsunami tahun 1992 dalam petaka Gempa Tsunami Flores 92. Hampir 2000 orang tewas. Kota Maumere bisa didatangi baik lewat udara (Bandara Frans Seda) maupun lewat laut (Pelabuhan L.Say). Bisa juga melalui darat, dengan melakukan perjalanan dari Jawa terus ke Bali lanjut ke Lombok terus ke Bima dan sampai di Flores.

Kabupaten Sikka memiliki potensi wisata yang banyak dan dapat diandalkan. Dari wisata alam sampai dengan wisata budaya dan rohani. Banyak pantai-pantai yang menarik di Kabupaten Sikka seperti Pantai Doreng, Pantai Koka, Pantai Kajuwulu dan Tanjung, Pantai Paga, Pantai Wairterang dan beberapa lagi lainnya. Juga wisata alam yang sebenarnya elok dan mengundang kita untuk menikmatinya. Kalau dimaksimalkan, dengan beberapa wilayah lain di Flores, kabupaten ini bisa menjadi pilihan alternatif selain Bali dan Lombok. Tapi, keberadaan tempat-tempat elok ini tak didukung secara maksimal oleh dinas terkait. Buktinya Maumere sampai dengan saat ini tetap dijadikan kota transit oleh wisatawan. Fasilitas pendukung sangat minim sekali. Banyak lokasi objek wisata yang harus ditempuh dengan jalan rusak dan medan yang berat.

Beberapa potensi wisata yang ada di daerah ini antara lain Koka Beach, Paga Beach, Doreng Beach, Wisata ke Gunung Egon, Air Terjun Kembar, Watu Cruz, Pantai Pemana, Danau Semparong, Nuabari , Museum Blikon Blewut, Patung Kristus Raja, Logu Senhor, Gua Maria Fatima Lela, Waiara, Patung Maria di Nilo dan masih sangat banyak lagi. Belum lagi kain tenun ikat yang menawan dan sejumlah tarian daerah.

Pantai Maumere terkenal bersih dan jernih. Pantai-pantai didalam kota saja bisa dijadikan sarana untuk menikmati waktu. Bahkan jika ada niat, bisa melakukan aktifitas mancing di pesisir pantainya. Banyak pemancing yang setiap sore hingga malam memancing disekitar pantai kota. Mereka hanyalah nelayan paruh waktu hehehe bukanlah nelayan sesungguhnya.

Di Maumere terdapat sejumlah hotel dan penginapan yang memadai. Ada yang ditepi pantai seperti Hotel Wailiti, ada juga di tengah kota. Ada pula pub dan bar yang bertebaran di tengah dan pinggiran kota. Juga warung-warung makan dari kelas warteg hingga restoran dengan pilihan menu beragam.

Di Wisata Alam Laut Gugus Teluk Maumere disediakan snorkling dan diving. Keindahan bawah laut Maumere pernah menjadi pembicaraan dunia saat Sao Wisata menggelar Lomba Menyelam Tingkat Dunia di Gugus Teluk Maumere. Sayang, tsunami memporakporandakan semua habitat dan keindahan terumbu karangnya. Padahal taman laut disini tak kalah jauh dengan keindahan taman laut di Bunaken dan daerah lain.

Maumere memang hanya kota kecil. Jika Anda kesini jangan berharap lebih seperti di kota besar lainnya. Seperti pusat-pusat perbelanjaan yang serba mewah. Di Maumere hanya ada satu mall bernama Barata, Toko Buku Gramedia dan ikan bakar gurih nan nikmat plus se-sloki moke yang siap dipesan karena dijajakan setiap malam dipinggiran jalan.:-)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 2 September 2010

Gempa Guncang Maumere dan Ende

Saat berita ini ditulis, gempa baru saja mengguncang Maumere. Gempa yang membuat panik penduduk ini terjadi Kamis (02/09/2010) dengan guncangan yang lumayan besar. Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Sikka menyatakan gempa berkekuatan 5.0 Skala Richter terjadi pukul 11.38 Wita, berada pada titik pusat 8.43 lintang selatan (LS) - 121.83 bujur timur (BT) dengan kedalaman 10 kilometer. Posisi gempa berada 51 km arah timur laut Kabuten Ende, NTT. Gempa dengan guncangan yang cukup keras terasa hingga Kabupaten Sikka. Akibatnya aktifitas masyarakat Maumere sedikit terhenti. Ada yang mengatakan mereka merasakan gempa terjadi hingga dua kali. Gempa tersebut terasa beberapa detik dan mengakibatkan masyarakat berhamburan keluar rumah.

Kota Maumere yang berada ditepi bagian utara Pulau Flores dan Ende di bagian selatan pernah dihajar gempa berkekuatan 6,9 SR di tahun 1992 yang disusul dengan tsunami hebat di bagian utara. Gempa tsunami saat itu memakan korban tewas lebih dari 2000 orang.

Akibat trauma yang masih menghantui warga Maumere dan Flores umumnya tersebut, saat terjadinya gempa tadi, masyarakat spontan berhamburan dan lari keluar rumah. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga dari kemungkinan gempa susulan yang lebih besar ataupun tsunami. Di Beru, ada warga yang sampai memukul tiang listrik tanda terjadinya gempa. Juga ada teriakan dari ibu-ibu yang ketakutan. Maklum diwilayah ini, tsunami 1992 pernah memporak-porandakan Beru.

Beberapa sekolah seperti SMPK Yapenthom I, SMPN Tampil I dan beberapa sekolah lain terpaksa memulangkan murid-muridnya sebelum waktu pelajaran berakhir. Nona, seorang siswa SMPK Yapenthom dengan antusias menceritakan bagaimana pelajaran kelas harus berhenti karena semua siswa berhamburan keluar.

“Sampai dengan sekarang disekolah kami tak pernah ada pelatihan simulasi gempa tsunami, jadi kami saling tabrak sana sini karena panik dan takut,”ujarnya.

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Tapi belum diperoleh informasi resmi soal adanya korban jiwa maupun kerusakan fisik akibat gempa.

Gempa ini adalah yang terbesar setelah gempa tsunami 1992 yang meluluhlantakan hampir seluruh Pulau Flores dan melumpuhkan semua aktifitas masyarakat dalam beberapa bulan. Jika ingin mengetahui kejadian gempa 1992, bisa klik disini...

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 25 August 2010

Ketika V.D da Costa Versus P.Samador da Cunha

Sedikit menoleh e to’e mai (ke belakang), pernah ada pertarungan seru diawal berdirinya kabupaten ini. Saat itu VD da Costa bertarung dengan Paul Samador da Cunha. Ini merupakan sejarah karena pertama kali sebagai daerah otonom, rakyat Sikka melalui wakil-wakilnya dalam lembaga DPRD Peralihan Kabupaten Daswati II Sikka memilih seorang pemimpin puncak untuk wilayah ini berdasarkan UU No I tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah.
Tanggal 19 November 1959 dalam situasi dan kondisi yang sangat tenang dan demokratis, Partai Katolik yang merupakan kekuatan tunggal dalam pertarungan politik jaman itu, sebagai pemenang mutlak Pemilu 1955 dan menguasai mayoritas kursi keanggotaan pada Lembaga DPRD Sikka, memegang peran penting dalam kerja politik ini. Berdasarkan keputusan Konferensu Nele 1959 yang bersejarah, Partai Katoliki mengajukan dua nama calon untuk dipilih dalam persidangan DPRD, yaituh V.B da Costa dan P.S da Cunha.

Kedua tokoh politik dari Partai Katolik ini, sama-sama mantan anggota Konstituante (1956-1959). P.S da Cunha sebelumnya adalah anggota DPD Flores dan sementara memegang jabatan sebagai Pejabat Sementara Sekretaris Daswati II Sikka. Sedangkan V.B da Costa masih seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogya.

Pada sidang pleno terbuka DPRD Sikka 19 November 1959, hadir 17 anggota DPRD untuk memberikan suaranya secara bebas dan rahasia, tanpa pengaruh dan tekanan dari siapapun. “Pimpinan Partai Katolik Subkomda Sikka menyerahkan sepenuhnya keputusan terakhir pada hati nurani para anggota DPRD sendiri,” kisah F.M Hekopung, salah seorang anggota DPRD yang jadi pelaku sejarah dalamm perisitiwa penting ini.

Setelah pemungutan suara (voting) secara tertutup selesai dilaksanakan, Ketua DPRD Jan Djongmenunjukan bahwa V.B da Costa mendapat dukungan 9 suara dan P.S da Cunha memperoleh 8 suara. Adapau 17 anggota DPRD itu terdiri dari 16 anggota Partai Katolik dan i orang Partai Masyumi. Kemanakah 17 suara itu terbagi untuk kedua calon itu menurut peta perpolitikan Kabupaten Sikka saat itu? Itu rahasia. Namun dari situasi, kondisi dan perkembangan politik menurut sentimen kewilayahaan saat itu, menurut F.M Hekopung, perolehan suara untuk masing-masing calon, diperkirakan sebagi berikut :

>>Calon V.B da Costa mendapat dukungan 9 suara dari Jan Djong, Stephanus Leong Liwu, Donatus Daga, A.B Kondi Pareira, Th. M. Sogo Chinde, Sebastianus Seso, Piet Pedo, J.Djuang Da Costa dan Umar Salia. Bearti 8 suara dari Partai Katolik dan 1 suara Masyumi.
>>Calon P.S da Cunha mendapat dukungan 8 suara (seluruhnya Partai Katolik): Fredrick Djati, Pieter Pedor, F.M Hekopung, Martinus Timu, Remigius Esy, H. Tinus, Philipus Dorus dan D.Z Wodong.

Hasil pemilihan itu segera diteruskan kepada Menteri Dalam Negeri di Jakarta, yang kemudian menetapkan P.S da Cunha terpilih sebagai Bupati Kepala Daerah Swantantra Tingkat II Sikka. Beliau dilantik tanggal 1 Maret 1960 oleh Gubernur NTT W.J Lalamentik.

Menurut UU Nomor 1 Tahun 1957, masa jabatan Bupati Kepala Daerah ditetapkan selama 4 tahun. Akan tetapi berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden Nomor 5 Tahun 1960, bagi yang dedang memegang jabatan Bupati Kepala Daerah diperkenankan melanjutkan tugasnya sampai terbentuknya DPRD hasil pemilu yang akan menggantikan DPRD Gotong Royong (Konsep Demokrasi Terpimpin Presiden Soeharto).

Disadur dari: E.P da Gomez dalam Buku "Sepanjang Jalan Kenangan"

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 23 August 2010

Berdoa Dengan Bahasa Sikka (Ngaji Sara Sikka)

Ngaji sara Sikka wi ‘ami kela ne’i e’i olang e’i, tepo e’i naruk “Kantate” (Perc. Arnoldus Ende, 1998) wi mo’ang: M. Mandalangi Parera, Orestis Parera, Edmundus Parera, nora Tuang Bosco Terwinju Pr, beler godong ne’ing.
Kamang naruk ‘epang-wohong mole santo, ‘odi beli ita ‘ihing-wair gawang. Newang dadi nang ganu ‘ai tukeng ha, ‘lewe tena ngaji-kantar, plewo-plewang, ‘Amapu, wi du’e reta Nirang-tiong, gera reta seu lape pitu, reta kota lape walu. Kamang ‘apa wi ami kela ne’ing ‘ei dadi nang golo ganu wair matang ha, wi blanar beli rahmet mole benjer ei Deos Lero-Wulang mai, beli kunung serani sawe.

Ganu norang naruk ngaji-kantar wi laeng norang ei baung, ‘ami bui mora meteng gete, pina mora paok mosang, newang ‘ami toma ‘ei wue-wari, dena weru wenger kesa naruk hormat-plewang ‘itang weli Deos. ‘Kesa walong tena ngaji Sara Sikka ‘ene potat lemer nang e’i niang itang, me blutuk itang. Epang Gawang. ‘Amapu Benjer ita mogat sawet.


1. TADANG KRUS (Tanda Salib)

Nora ‘Ama nora Me Lai nora Spiritu Santo narang Rimung. Amen

2. HORMAT ‘EUNG (Kemuliaan)

Hormat ‘eung tora ‘Ama, tora Me La’i, tora Spiritu Santo,

Ganu saing ‘enahung, sape te’i, sape dudeng-dading. Amen.

3. ‘AMA ‘AMING (Bapa Kami)

‘Ama ‘aming reta seu,

Beli ‘eung ‘ata bi’ang sawe tena santo le’u narang ‘Aung,

Beli ‘eung ‘ukung parenta ‘Aung bo’u ‘ei ‘ami,

Beli ‘eung ga’i ‘Aung dadi ‘ei tana sawe ganu reta seu ‘uneng.

Ngawung ‘ami gea lerong-lerong, beli ‘eung ‘ami ‘ena te’i.

Mole ‘ampon leu hala ‘aming ganu ‘ami di ‘ampon beli ‘ata hala ba’a lora ‘ami.

Mole lopa mora ‘ami ma ‘ei ‘olang ‘ane humang,

Ko ‘e’i naruk gois mai, dena beli ‘eung ‘ami lose mang. Amen.

4. AVE MARIA (Salam Maria)

‘Ave Maria, ‘au ngawung seu benu, ‘Amapu nora ‘au, ‘Amapu benjer nei ‘au to’i le’u du’a henei sawe, mole benjer ne’i me ‘aung Yesus.

Santa Maria, ‘Amapu ‘ina nimung, neni beli ‘eung ‘ami ‘ata mora dosa, neni toma te’i, mole nora ‘ami gro’o mate. Amen.

5. ANGELUS

‘Amapu anjo nimung dewa beli ba’a santa Maria,

Mole nimu oma ta’ing ‘lorang nora Spiritu Santo mai

Ave Maria…..

‘Au ‘Amapu bi’ang nimung,

Dadi ‘eung nora ‘A’u, ganu ‘au herong.

Ave Maria…..

‘Amapu Me Lai toma ba’a tebong,

Na deri ba’a nora ‘ita.

Ave Maria….

‘Eh ‘Amapu ‘Ina nimung santa, neni beli ‘eung ‘ami, iana ‘ami dadi ‘epang dugar mora Kristus jaji ne’i.

Ngaji ‘eung:

‘Eh Amapu, ‘ami neni, bihi beli ‘eung ngawung ‘Aung seu e’i ‘wate ‘aming, iana ‘ami wi ra’intang ba’a, loning ‘anjo dewa ne’i, Me ‘Aung Lai tia dadi wi’ing ba’a ‘atabi’ang, kenang nora susar Nimung, nora krus Nimung, wi nora ‘ami sape bekor mang mora sareng Nimung. Amen.

6. RATU DU’A SEU (Ratu Surga)

Ratu Du’a Seu ‘wateng grengang ‘eung, Alleluya.

Loning Kristus ‘au bua ne’i, Alleluya.

Bekor nang ba’a e’i kewo, ganu nimu tutur ne’ing ba’a,Alleluya.

Neni beli ‘eung ‘ami ‘e’i Amapu, Alleluya.

Bo’a- ga’i ‘eung na wateng grengang ‘eung ‘waebu’ang Maria, Alleluya.

Loning Tuhan bekor ba’a demeng, Alleluya.

Ngaji ‘eung:

‘Amapu wi beli ne’i ba’a dunia rena grengang rakang, loning Me ‘Aung Tuhan ‘aming Yesus Kristus bekor nimung e’i kewo bawo, ‘ami neni kamang beli ‘eung, nora ‘ina Nimung ‘waebu’ang Maria lakang ‘ami, toma golo moret dading nora grengang nimung.
Kenang nora Kristus Tuhan ‘aming. Amen.

7. NARUK PLOWAR PERSAYA (Aku Percaya)

‘A’u perasaya ‘ora ‘Amapu,

‘Ama kuasa le’u wi sawe,

Kela ba’a seu nora tana sawe.

Mole ‘a’u persaya ‘ora Yesus Kristus,

‘Amapu Meng hawuang, Tuhan ‘itang.

Nora Spiritu Santo kuasa nimung,

Nimu toma ba’a tebong,

‘Waebu’ang Maria bua nei ba’a nimu.

Nimu rasa susar b’aa nora Ponsius Pilatus neti parenta,

‘ata tokang nimu ‘e’i krus,

Mate sawe ‘ata ‘lera le’u ba’a nimu.

Nimu wawa jehen na,

Lerong rabek telu nimu bekor nang ‘e’i kewo.

Nimu reta seu bawo,

Deri ‘e’i Amapu kuasa le’u wi sawe limang wana.

Ia ba’u tia nimu ‘odi bo’u mai,

Tibang le’u bi’ang moret- bi’ang mateng naruk rimung.

‘A’u persaya ‘ora Spiritu Santo

Greja santa katolika

Santo hene’i sawe mogang du hawua ‘lo’a

‘Ampon nete dosa

Nete ‘ata mateng ‘odi bekor ‘e’i kewo

Moret dading ‘lo’a. Amen.

8. NGAJI RUDU WI’IT (Doa Tobat)

‘Amapu ‘a’ung,Tuhan ‘a’ung, ‘a’u ga’i ‘epang ‘ora ‘Au,

‘a’u ga’i dadi ‘walong me ‘Aung ‘epang,

‘a’u ga’i megu ‘walong ora ‘Au,

‘a’u grengang tama seu,

Ko ‘a’u dosa ba’a ‘ora ‘Au ‘Amapu.

‘Wate ‘a’ung susar loning dosa,

‘wate ‘a’ung susar ‘ene poi loning ‘Au ‘ukung gahu,

ko to’i loning dosa ‘a’ung tena ‘lumar ba’a ‘Au, Amapu santo, Au Amapu epang golo.

‘A’u moro ora dosa, suding ora dosa. ‘Ampon beli ‘eung dosa ‘a’ung sawe. Nora lakang ‘Aung a’u ‘le’e dosa walong. Masik naha mate, di ‘le’e dosa walong.Amen.

9. ‘AMAPU PARENTA NIMUNG PULU HA (10 Perintah Allah)

‘A’u Amapu ‘aung:

1. ‘Au lopa depo mole hormat mora kenaha pehang ganu mora ‘Amapu.
2. ‘Au lopa beta Tuhan ‘Amapu ‘aung narang seng poi.
3. ‘Au naha huk pita dena santo ‘Amapu lerong Nimung.
4. ‘Au naha tabe telang mora ‘ina ‘ama ‘aung.
5. ‘Au lopa bati ata.
6. ‘Au lopa dena naruk mi’ak.
7. ‘Au lopa na’o.
8. ‘Au lopa tutur buhe.
9. ‘Au lopa megu mora naruk mi’ak.
10. ‘Au lopa ga’i na’o

10. GREJA KATOLIK PARENTA NIMUNG ‘LELE LIMA
(5 Perintah Gereja)

1. ‘Au naha dena santo nete lerong pesta Greja katolik ‘odo.
2. ‘Au naha misa mora hormat nora Duminggu, mole nora lerong pesta Greja katolik ‘odo.
3. ‘Au naha puasa mole pire meing nora lerong Greja katolik odo.
4. ‘Au naha konfesa ‘liwang ha wa’i ha lopa kurang.
5. ‘Liwang-‘liwang ‘au naha sambot nora tempo Pasku.

by:Elvis Baba Putra

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---