Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Friday, 5 November 2010

Gunung Egon Alami 125 Kali Gempa

Situasi Aman Hingga Saat ini
Semakin banyak saja, gunung api yang aktif. Di perbatasan Kecamatan Mapitara dan Waigete, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) Gunung Api Egon, meningkat sejak dua hari terakhir.
Dikemukakan petugas pemantau Gunung Egon Hendra S Supratman, pada Jumat (05/11) gunung tersebut mengalami 125 kali gempa, tiga kali di antaranya gempa tektonik jauh dan 122 kali gempa hembusan.
Selain itu terjadi pula delapan kali gempa swarm dan satu kali getaran banjir. "Aktivitas Egon memang meningkat tetapi belum ada sinar api," kata dia.
Dari pemantauan visual, Hendra mengatakan Gunung Egon juga mengeluarkan asap putih tipis berjarak 10 hingga 25 meter dari bibir kawah. "Itu asap solfatara yang biasa keluar dari gunung api dan tidak berbahaya," tambahnya.

Peningkatan aktivitas itu membuat tiga petugas di Pos Pengamatan Gunung Egon di Kecamatan Waigete terus memantau aktivitas gunung selama 24 jam.

Hendra menegaskan peningkatkan aktivitas gempa permukaan dan asap tipis tersebut bukan menandakan aktivitas gunung Egon mulai meningkat dan berbahaya. Saat ini, status Egon yang meletus terakhir pada 2008 itu masih waspada. "Belum ada peningkatan status," jelasnya.

Meski gempa 125 kali, di Maumere tak ada kepanikan karena memang getarannya sangat kecil yang sama sekali tak terasa.(zel/yk)

Baca juga : Status Waspada Untuk Gunung Egon

Gunung Egon tertutup awan, terlihat dari Pelabuhan L.Say di Maumere.
foto by Sandra da Silva, Jum'ad 05/11/2010 jam 17.00 wita

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Status Waspada untuk Gunung Egon

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Timur Bria Yohanes mengatakan ancaman bahaya dari gunung berapi di wilayah ini sebaiknya jangan diremehkan atau disepelekan meski aktivitas erupsi sudah menurun atau dalam status waspada (level II).
"Apapun aktivitas dan status dari gunung berapi seperti Egon di Maumere, Lewotobi di Flores Timur dan Rokatenda di Palue Kabupaten Sikka tidak boleh disepelekan oleh masyarakat, karena sangat berbahaya bagi nyawa dan lingkungan sekitar," katanya di Kupang, Jumat (5/10).
Kadistamben Bria menyatakan hal ini menanggapi aktivitas kegempaan tiga dari 17 gunung merapi di Nusa Tenggara Timur, terutama gunung berapi Egon yang hingga saat ini dalam status waspada setelah pada April 2010.

Laporan rutin bulanan dari pihak pos pengamatan gunung api Egon, Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebutkan secara visual angin bertiup dari arah barat laut/tenggara kecepatan melemah hingga sedang dan terjadi hujan disekitar, serta hembusan asap kawah putih dengan ketinggian berkisar antara 10-25 meter dari puncak.

Sementara secara seismik, katanya, vulkanik A berdasarkan hasil pengamatan, vulkanis B 16 kejadian, hembusan lahar atau lainnya sebanyak 300 kejadian, tektonik lokal tiga kejadian, tektonik jauh 77 kejadian, swarm 719 kejadian dan Amaks Tremor antara 05-S.

"Gempa-gempa lainnya mengalami peningkatan/penurunan yang begitu signifikan. Dan dengan kondisi aktivitas seperti itu, maka status kegiatan gunung egon masih tetap "waspada".

Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur terus mengepulkan asap dan memancarkan sinar api dari kawahnya sebagai tanda bahwa aktivitas gunung merapi itu terus meningkat dengan intensitas kegempaan tinggi.

Pada Rabu (3/11), katanya, kawah gunung Egon tertutup kabut sehingga cukup mengkhawatirkan penduduk sekitar.

"Mereka yang bermukim di lereng gunung api aktif itu diminta untuk tidak mendekati kawah," tambahnya.

Ia mengatakan dalam sehari intensitas kegempaan Gunung Egon meningkat antara 5-10 kali dalam sehari.

"Dalam kondisi aktif normal intensitas gempa di gunung dengan tinggi sekitar 1.703 di atas permukaan laut itu hanya berkisar antara 1-4 kali, tetapi sekarang intensitas kegempaannya terus meningkat, sehingga harus diwaspadai," katanya.(ant/yan)

Baca juga : Gunung Egon Alami 125 Kali Gempa

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 31 October 2010

Keluarga Minta Keadilan..

Romo Arnold : Saya hanya bisa menangis
Sampai dengan hari ini, upaya pencarian 9 korban tenggelamanya KM Tersanjung belum menemukan hasil maksimal. Upaya pencarian terus dilakukan meski telah memasuki hari ke-9. Dilain pihak, musibah ini sesungguhnya menjadi catatan penting bagi dunia transportasi laut, yakni kelayakan operasional kapal dan kewajiban kapal memenuhi standart angkutan. Sedangkan cerita tentang tenggelamnya KM Tersanjung, masih menjadi topik utama dengan bumbu penyedap lainnya seperti, nahkoda tembak dalam kapal tersebut. Diantara cerita-cerita tersebut, satu musibah lain juga terjadi di Pantai Mapitara, Kabupaten Sikka. Yakni tenggelamnya sebuah kapal bermuatan kayu bernama KM Taueri Gading. Kapal yang sedang melintas dari Pulau Buton menuju Pulau Sabu, NTT tiba-tiba dihantam gelombang. Ke-7 penumpang terlempar, 4 selamat dan 3 hilang hingga kini. Kini ke-4 korban selamat masih berada di Maumere. Ketika bertemu di Posko Bencana KM Tersanjung di Badan Penanggulangan Bencana, ke-4 nya terlihat lusuh. Mereka tak mau pulang sebelum kabar pencarian dihentikan. Untuk sementara mereka ditampung di Gedung Transito.

Kejadian itu terjadi dua hari sebelum musibah KM Tersanjung, yakni hari Rabu (20/10/2010). Ke-4 awak yang selamat tersebut terapung-apung dari Rabu hingga mencapai daratan, Sabtu (23/10/2010) saat semua kosentrasi sedang tertuju pada persitiwa KM Tersanjung.

Sedangkan dari Polres Sikka diberitakan utusan keluarga korban tenggelamnya KM Tersanjung mendatangi Polres Sikka. Kedatangan utusan keluarga korban ini masih terkait dengan musibah tersebut. Keluarga korban ingin mengetahui proses hukum terhadap FC, seorang anggota DPRD Sikka yang menahkodai KM Tersanjung. Mereka mendesak Polres Sikka menangkap dan menahan FC secepatnya. Kapolres Sikka, Drs. Ghiri Prawijaya mengatakan bahwa proses kearah itu sedang dilalkukan dan oknum yang membawa kapal berinisial FC akan dirpsoses. Polres Sikka juga sudah mengirim surat ijin pemeriksaan kepada Gbubernur NTT agar ada ijin pemeriksaan segera diterbitkan.

Romo Arnold Ladjar, Pastor Paroki Kolangrotat dalam perjalanan kami ke Pantai Ndondo menceritakan keperihanhatinya atas peristiwa na’as tersebut.
“Mengapa saya tak bisa menolong mereka yang tenggelam? Mengapa saya membiarkan didepan mata, saya menyaksikan mereka hilang tertelan ombak,” ujarnya perih. Romo Arnold saat ini lebih banyak diam. Dia bersama Romo Sil Ola, selamat dari peristiwa tersebut.

Romo Arnold menceritakan, usai jenazah diterima semua anggota keluarganya, ia mendatangi dan melayat ke Desa Pogon, Kloangrotat dan Desa Aibura. Di dua desa bertetangga ini ia dari satu rumah duka ke rumah duka lainnya duduk berdoa di makam mereka masing-masing. “Saya tak bisa menahan tangis ini, sungguh tak bisa,” katanya.

***
Harian Flores Star memberitakan, Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mendesak Kapolres Sikka segera menempuh upaya paksa menangkap dan menahan Frans Cinde. Upaya paksa ini harus ditempuh karena dikhawatirkan Frans Cinde akan melarikan diri dari tanggungjawab pidana maupun perdata terhadap keluarga korban. Penahan Cinde juga menghindari amukan dari keluarga korban terhadap pelaku. Desakan itu disampaikan Koordinator TPDI Jakarta Petrus Selestinus, SH. Petrus mengakui menerima telepon dari keluarga korban di Kloangrotat dan Aibura yang berharap proses hukum segera dilakukan. Pengacara senior itu menilai Polres Sikka kurang profesional dalam penanganan hukum dan kurang memahami dampak psikologis keluarga korban.

Romo Arnold dengan KM Tersanjung di Pantai Ndondowww.inimaumere.com

Selengkapnya...

Thursday, 28 October 2010

Pencarian Tak Membuahkan Hasil

Foto KM Tersanjung

Pencarian 8 korban tenggelamnya KM Tersanjung hari ini, Rabu (27/10/2010) tak membuahkan hasil. Tim SAR dan nelayan Palue yang melakukan upaya penyisiran yang dimulai dari pagi hingga malam lagi-lagi pulang dengan tangan hampa. Di Pantai Ndondo, keluarga korban dan sejumlah masyarakat setempat, Sekda Kabupaten Ende Yoseph Ansar Rera, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Sikka Hery Siku, Kepala Dinas Sosial Sikka Gregorius Rehi, Camat Waigete, Camat Palue, Camat Alok Timur dan sejumlah unsur masyrakat lain menanti dengan sabar. Sebelum melakuakan pencarian, keluarga korban, khususnya dari Aibura melakukan ritual adat ditepi pantai dan melaksanakan penaburan bunga. Romo Yan, sebelumnya memimpin upacara ekaristi sebelum melakukan pencarian.

Namun hingga Tim SAR kembali, tak ada korban yang ditemukan. Keluarga pasrah. Tapi pencarian akan dilakukan lagi hari kamis besok.

Ditepi Pantai Ndondo yang indah, terlihat sebuah kapal yang kemudian diketahui bernama KM Tersanjung. Kapal inilah yang membawa penumpang berjumlah 66 orang, hingga akhirnya tenggelam dalam perjalanan dari Palu’e ke Maumere.

KM Tersanjung bobotnya 3 GT, daya angkutan 24 orang,demikian keterangan dari Moses Muhu, Kepala Adpel Lorens Say Maumere seperti dikutip koran Pos Kupang.

Ketika pertama kali melihat bangkai kapal tersebut, yang ada dalam pikiran adalah membayangkan penumpang berdesak-desakan dikapal kecil tersebut. Tak masuk akal jika KM Tersanjung erbadan kecil ini bisa mengangkut 66 orang. Membayangkan demikian hati kita hanya bisa trenyuh dan menerima kejadian ini sebagai takdir dari Sang Kuasa. Tentu saja selanjutnya kita berharap, pemerintah lebih memperhatian kelayakan kapal angkutan dan memperketat ijin operasinya.

Kapal Motor Tersanjung di Pantai Ndondo Ende


Tenda Posko & Pantai Ndondo, Ende


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

"Sopir Tembak" di KM Tersanjung

Ribut-ribut di masyarakat soal siapa yang mengemudi KM Tersanjung ternyata bukan isapan jempol. "Waktu saya naik ke kapal, Pak Frans Cinde sudah duduk di kursi kemudi. Saya tidak bisa buat apa-apa, karena dia sudah duduk di situ. Saya perasaan minta dia pindah dari kursi nakhoda, dia pejabat. Orang terhormat, anggota DPRD Sikka, dia yang bawa kapal," kata Adeodatus Rangga (25). Adeodatus, yang disapa Ora, menuturkan, sejak Senin malam (25/10/2010), dia menginap di tahanan Polres Sikka untuk mengamankan diri setelah tiba dari Pulau Palue. Da memilih tidur di ruang tahanan daripada berada di luar bisa menjadi sasaran kemarahan keluarga korban.Kalau di darat kita mengenal istilah sopir tembak (bukan sopir permanen pada mobil itu), maka di laut juga dikenal nakhoda "tembak". Nakhoda tembak inilah yang diperkirakan sebagai penyebab tenggelamnya Kapal Motor (KM) Karya Pinang, Jumat siang (22/10/2010) pukul 13.00 Wita.

Kapal itu berangkat dari Palue menuju Pelabuhan Lorens Say Maumere. Kapal itu tidak dikemudikan oleh nakhodanya sendiri, Adeodatus Rangga alias Ora, melainkan oleh Frans Cinde, anggota DPRD Sikka, yang sebenarnya termasuk salah satu dari 66 penumpang kapal itu.


Adeodatus, yang disapa Ora, menuturkan, sejak Senin malam (25/10/2010), dia menginap di tahanan Polres Sikka untuk mengamankan diri setelah tiba dari Pulau Palue. Da memilih tidur di ruang tahanan daripada berada di luar bisa menjadi sasaran kemarahan keluarga korban.

Ora yang sudah dua tahun menakhodai kapal milik ayahnya Petrus Pio menuturkan semua kejadian mulai dari kapal lepas jangkar di Pelabuhan Palue sampai mengalami musibah. Ketika dia naik ke kapal itu, Frans Cinde yang dikenalnya sebagai anggota DPRD Sikka asal Palue sudah duduk di kursi kemudi yang semestinya ditempatinya.

Dia mengaku sangat beban bila menyuruh Frans pindah dari kursi kemudi itu. Mesinis Vinsensius Dhoka menghidupkan mesin kapal dan kemudian dikendalikan oleh Frans. Ora tetap berada di ruang kemudi mendampingi Frans mengikuti pelayaran ini.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya untukmemberi saran kepada Frans kalau kapal agak oleng diterpa gelombang atau kurang nyaman dalam pelayaran itu. Dia mengaku sangat segan bicara kepada Frans, yang dikenalnya telah menjadi pejabat di Maumere.

"Saya tidak minta (ambil alih kemudi), saya perasaan sekali dengan dia. Dia pejabat anggota DPRD Sikka. Saya pernah dengar, dulu dia pernah bawa kapal cari ikan. Dalam hati saya pikir dia pasti mengerti membawa kapal," tutur Ora.

Keluar dari Pelabuhan Palue, tutur Ora, cuaca cerah. Kapal yang dibeli ayahnya dari warga Nangahale, Kecamatan Talibura tahun 2003, itu melaju membelah ombak menuju pelabuhan Lorens Say di Kota Maumere. Para penumpang menikmati pelayaran.

Setibanya di depan perairan Ndondo, beberapa mil dari Tanjung Sada Watu Manuk, mendadak cuaca berubah dan gelombang tinggi. Dalam benak Ora, gelombang dan cuaca yang mendadak buruk itu sudah biasa. Pengalaman pada September lalu mengantar alat-alat kesehatan di Pulau Sukun, kapal diterpa gelombang besar dan angin, namun dia bisa mengendalikan kapal dan tiba dengan selamat di Pulau Sukun.

Semestinya Frans Cinde menyerahkan kemudi kapal kepadanya. Namun, Frans bergeming. Terpaan gelombang semakin keras menimpa kapal sehingga kapal oleng ke kanan dan langsung tenggelam bersama 66 penumpang. Semua penumpang tecebur ke laut yang sedang diamuk gelombang saat itu.

"Dia tidak mau serahkan kemudi supaya saya bawa kapal. Saya juga perasaan minta dia, takut dia tersinggung. Sampai kapal itu tenggelam, Frans Cinde tetap di kemudi. Saya sama sekali tidak dikasih bawa kapal ini," tuturnya. Tak terpikirkan dalam benaknya memaksanya mengambil alih kemudi kapal itu.

Kejadiannya dilukiskan menegangkan. Dia dan para penumpang terlempar keluar dari kapal dan tercebur ke laut. Mereka panik dan berjuang menyelamatkan diri masing-masing. Gelombang sangat keras di lokasi kejadian dan penumpang mulai tepencar satu sama lain.

Ora berjuang menyelamatkan seorang penumpang yang dikenalinya bernama In, sedangkan Vinsensius menolong Yanto, penumpang asal Bajawa. Dia berenang hampir empat jam menuju pantai. Ketika sebuah kapal ikan melintas dan menemukan dirinya dan penumpang lain menaikkan ke kapal. Mereka melanjutkan pencarian penumpang lain, sedangkan Ora dan penumpang lain diitipkan diangkut kembali ke Palue.

Setibanya di Palue, Ora memberitahukan musibah yang menimpa kapal dan penumpang kepada orangtua dan keluarga lainnya. Hanya beberapa waktu ada di rumahnya, Ora menuju ke Pospol Palue untuk berlindung di sana.

"Saya takut keluarga penumpang yang dari Palue marah dan menyerang saya. Saya pilih pergi ke kantor polisi saja," kata Ora.
Ora mengaku bertanggung jawab atas musibah itu. Apakah dia juga minta Frans Cinde ikut memikul beban hukum yang akan ditimpakan kepadanya, Ora menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum di Polres Sikka. (ius/ris/poskupang).

foto: KM Tersanjung/inimaumere.com

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 27 October 2010

Juma: Mereka Kedinginan dan Ketakutan...

Delapan Korban Masih Belum Ditemukan

Tenggelamnya KM Tersanjung menyisahkan banyak cerita. Dari tenggelamnya kapal tersebut, pencarian, evakuasi, indentifikasi dan pengembalian jenazah. Beberapa keluarga korban berteriak histeris didepan kamar jenazah setelah tahu dan yakin bahwa salah satu korban tersebut adalah keluarga mereka. Dihalaman, perempuan-perempuan menangis menyayat hati. Sampai dengan pukul 20.00 malam ini,Selasa (26/10/2010) pencarian 8 korban tenggelamnya KM Tersanjung tidak menemukan hasil. Dari 22 korban yang hilng 14 korban tak bernyawa telah ditemukan dan telah dibawah oleh anggota keluarganya masing-masing. Tim gabungan pemerintah dan nelayan terus melanjutkan pencarian korban rabu besok.

Sedangkan malam ini di Posko Bencana KM Tersanjung, beberapa petugas posko terlihat sedang duduk-duduk santai tapi selalu dalam keadaan waspada. “ Sampai sekarang belum ada laporan penemuan 8 korban tersebut,” ujar salah satu petugas. Beberapa sopir ambulans juga terlihat santai. Ada yang duduk bercerita ada pula yang yang sibuk dengan HP-nya masing-masing. Ditangan para sopir ini, evakuasi dari Pantai Ndondo berlangsung cepat. “Kami sudah biasa dalam bekerja mengangkut jenazah tapi baru kali, mengangkut jenazah yang sudah tak utuh lagi dan mulai membusuk,” ujar salah satu sopir.

Kapal Motor Tersanjung berangkat dari Palu’e sekitar pukul 11 pagi, 22 oktober 2010. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 13.05 mendung pekat tiba-tiba menaungi mereka. Hujan sebesar biji jagung yang terasa sakit menyentuh kulit, turun membasahi laut. Ombak sangat besar dan tak beraturan. Kapal tiba-tiba terguncang dan kemudian tenggelam. Semua korban berteriak histeris. Dan berusaha mencari cara untuk bertahan hidup.

Beberapa informasi dilapangan yang coba dikkumpulkan oleh inimaumere.com memberitakan bahwa ada empat dugaan yang membuat KM Tersanjung tenggelam. Pertama, ada dugaan bahwa yang membawa kapal tersebut adalah bukan sang juru mudi, kedua muatan kapal memenuhi kapasitas, ketiga KM Tersanjung diduga sudah tak layak untuk beroperasi, keempat KM Tersanjung melewati jalur tak biasa.

Kini sang nahkoda telah diperiksa secara intensif oleh Polres Sikka.

Ada banyak cerita saat para korban bertarung mempertahankan hidup mereka. Alfon Langga, seorang Polisi asal Palu’e berhasil selamat dengan anak bayinya (1 tahun) dan istrinya. Istrinya dengan ketat memeluknya dan anak bayinya di pegang dengan satu tangannya. “Jika ombak datang, saya akan menaikan tangan saya setinggi mungkin untuk menghindar dari ombak, jika ombak turun, saya kembalikan ke pelukan saya,” cerita Alfons.

Alfons juga melihat dengan mata kepala sendiri saat, Om Linus Senda berpisah dari anaknya Marlin. Om Linus yang bekerja di Bandara Frans Seda belum ditemukan hingg saat ini bersama 8 korban lainnya. “Om Linus mencium anaknya Marlin kemudian tenggelam, Marlin berteriak histeris dan saya bertteriak menenangkan Marlin,” cerita Alfons.

Menurut kesaksian Alfons, Om Linus banyak membantu para penumpang lainnya untuk diselamatkan. “Mungkin setelah menolong kesana kemari, Om Linus lemas dan kecapekan. Makanya dia mendekati Marlin dan memberi ciuman perpisahan,” lanjut Alfons.

Juma, salah satu nelayan Wuruing yang pertama kali menyelamatkan korban bercerita. Ia merasa sangat terkejut ketika melihat lambaian pakaian. Perahu dibalik arahnya kembali dan mendekati korban yang ternyata adalah anggota DPRD Sikka Frans Sinde dan salah satu ABK kapal. “Dari mereka barulah penyelamatan saya lakukan bersama ponakan saya Kurniawan dan saudara saya Aco,” ujar Juma.

“Satu persatu korban kami angkat ke kapal. Bahkan ada yang sudah tak berpakaian lagi, ada yang hanya pakaian alas dan bra. Kasihan sekali, akhirnya saya membuka pakaian saya yg lain dan memberikan pada mereka. Saudara saya juga melakukan demikian. Mereka kedinginan dan sangat ketakutan,” kata Juma.

Semua korban didaratkan di Pantai Ndondo. Dari situlah penyelamatan dan pencarian dilakukan. Bupati Ende tiba di Pantai Ndondo dan segera memberikan pertolongan bersama warga Ndondo. Hingga saat ini 14 jenazah telah dibawah pulang keluarga masing-masing.

Saat pemulangan jenazah dari kamar mayat, Wakil Bupati Wera Damianus mendapat sindiran dan cibiran. Sindiran ini dilakukan karena keluarga merasa kecewa dan kesal dengan tak adanya dukungan serta perhatian bagi keluarga korban saat kejadian na’as tersebut.

“Bupati Ende saja berada didekat kami, memeluk kami dan menguatkan kami, tapi dukungan seperti itu tak ada dari pejabat kita, mereka muncul saat jenazah korban mulai ditemukan, mereka seperti pahlawan kesiangan” ungkap salah satu keluarga korban.

Dua jenazah terakir yang ditemukan sekitar pukul 11.00 Wita, di dua lokasi berbeda di antara perairan Langawaju dan Mausambi. Setelah diidentifikasi tim dokter di kamar jenazah RSUD TC Hillers Maumere, keduanya dikenali bernama Selestina Selfina dan Hendrika Heret dan telah dimakamkan oleh keluarganya masing-masing.l

Kedua korban ditemukan dalam posisi terapung di tengah laut. Seorang korban ditemukan kapal Koremap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka dan seorang lagi ditemukan oleh kapal nelayan warga Palue yang ikut dalam pencarian itu. Pencarian 8 korban tersisa akan terus dilanjutkan...

14 Korban yang Teridentifikasi:

1.Agustina Wio
2.Angelina Angela
3.Rudolfus Cory, S.H
4.Theresia Nerti
5.Maria Piada
6.Maria Novianti
7.Paulina Pisen
8.Philipus Api
9.Tekla Bolor
10.Yohanes Bulianto
11.Kristina Surijila
12.Maria Ermalinda
13. Selestina Selfina
14. Hendrika Heret

Sumber: RSUD TC Hillers Maumere

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 26 October 2010

Dua Korban Ditemukan Lagi

Tinggal 8 Korban Lain Belum Ditemukan
Dua jenazah kembali ditemukan oleh Tim SAR Senin, 25/10/2010. Kedua jenazah tersebut terindentifikasi bernama Heret dan Seles asal Aibura dan Pogon, demikian dikatakan salah satu keluarga korban yang ditemui di RS. Hillers Maumere. Dengan demikian telah ada 14 korban yang ditemukan dalam kondisi tak bernyawa dari 22 penumpang yang hilang. Dari ke-14 korban tersebut 12 korban telah dibawa pulang keluarga termasuk Yohanis Bulianto, yang sebelumnya masih berada di kamar jenazah. Masih ada 8 korban yang belum diketahui nasibnya hingga kini. Sampai dengan sekarang, beberapa keluarga korban masih berada di RS. Hillers Maumere. Tim SAR terus melakukan pencarian bersama tim dari TNI-AL dan juga nelayan setempat. Kondisi jenazah kini semakin tak berbentuk saat ditemukan. Keluarga memastikan jenazah dari pakaian korban meskipun tidak utuh lagi.

Seperti diberitakan, KM Tersanjung tenggelam dalam perjalanan Palue ke Maumere 22 Oktober 2010. Sampai dengan kini 44 selamat dan 22 hilang. Empat belas korban telah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

Koran Timor Express memberitakan KM. Tersanjung yang berdaya 7 GT itu mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Seperti dijelaskan Thomas, salah satu penumpang yang selamat. Thomas juga mengatakan, yang mengemudikan kapal tersebut bukan nakoda melainkan anggota DPRD Sikka Frans Ropi Cinde. Saat dikemudikan anggota Dewan asal Palue itu, lanjut Thomas, tiba-tiba angin kencang dan gelombang besar datang dan menyebabkan kapal tenggelam.

"Saat itu situasinya sangat mencekam karena angin kencang dan gelombang tinggi sementara penumpang yang terlempar di laut berusaha menyelamatkan diri," katanya.
Ia sendiri mengaku selamat setelah mendapat sebatang papan yang digunakannya untuk mengapungkan diri dan berenang hingga ke tepi.

Juma, salah seorang nelayan asal Wuring yang pertama kali menemukan para korban mengatakan, ia pertama kali menyelamatkan anggota DPRD Sikka Frans Sinde dan seorang ABK kapal. “Keduanya berpegangan dalam satu papan, kondisinya mengenaskan, bajunya dililit pada papan untuk menyanggah tangan mereka, “ cerita Juma.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---