Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Wednesday, 25 May 2011

Mengaku Terima Uang dan Tugas

Kasus Dugaan Korupsi Dana Bansos 2009
Bendahara Pembantu Bagian Kesra Setda Sikka, Maria Goreti dalam beberapa kali pemeriksaan pansus tak mengakui mengurus uang bansos, mulai kooperatif. Hari Selasa (24/5/2011), dihadapan Pansus Bansos DPRD Sikka, Maria mengaku beberapa kali menerima tugas dan diserahi uang oleh Bendahara Kesra Setda Sikka, Yosep Otu. Maria mengaku, sekali menerima uang dan kuitansi sebesar Rp 400 juta bantuan kepada Keuskupan Maumere. Dia juga menerima uang sebanyak empat kali dengan jumlah bervariasi antara Rp 15 juta sampai Rp 50 juta.
Bahkan sekali waktu, Yosep sebelum berangkat dari Maumere menelepon kabag kesra akan menitipkan uang Rp 60 juta kepada Maria. Namun keeseokan harinya dikomfirmasi dengan kabag kesra, uang itu tak diberikan Yosep.

“Saya terima ini uang karena sudah ada posnya, juga kuitansinya. Waktu itu (pemeriksaan kali lalu, Maria tidak mengaku terima uang), pikiran saya hanya 29 kuitansi, saya todak pernah tahu. Waktu itu saya bingung,”tutur Maria, kepada pansus bansos yang dipandu Ketua Pansus Bansos DPRD Sikka, Landoaldus Mekeng, di ruang rapat Komisi A DPRD Sikka, Selasa (24/5/2011).

Maria mengaku pernah ditugasi bendahara membuat registrasi penutupan kas. Datanya diserahkan kepada pansus, namun data uang diserahkan jadi bahan diskusi alot pansus. Pemeriksaan kepada Mria ditunda karena kondisi psikologis yang kurang nyaman karena anaknya sakit.

Pengakuan Maria menerima uang dan tugas membuka ruang pansus mendalami dugaan penyimpangan penggunaan dana bansos tahun 2009 sebesar Rp 10,7 miliar. Sebab Yosep terus terang pernah menyerahkan tugas dan uang sekitar tujuh kali dengan jumlah bervariasi antara Rp 200 juta sampai Rp 300 juta.

Periksa Pegawai Kesra
Rapat pansus kemarin, memeriksa seluruh pegawai di Bagian Kesra Setda Sikka. Satu persatu, para pegawai yang diminta keterangannya membeberkan keterangan baru dan penting bagi pansus mengenai pengelolaan dana yang terindikasi penyimpangan Rp 10,7 miliar berdasarkan temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI Perwakilan NTT.

Informasi yang digali tim pansus menjadi referensi untuk dikomfirmasikan kepada mantan Kabag Kesra Setda Sikka, Servasius Kabu, Bendahara Bagian Kesra Yoseph Otu dan Bendahara Pembantu Bagian Kesra, Maria Goreti serta pejabat daerah yang mempunyai kewenangan mengelolah dana bansos itu.

Dari staf Sius Ngaji, pansus mendapat tambahan informasi bahwa Maria Goreti pernah menerima tugas dan uang yang diserahkan Yosep Otu, ketika Yosep tugas keluar. Pada saat itu Maria bertindak mengeluarkan uang.

“ Kami satu ruangan, saya lihat Maria terima uang Rp 50 juta, karena tertulis dibloknya. Saya tidak tahu digunakan untuk apa uang itu. Uang itu disimpannya didalam tas, karena dibagian kami tidak ada brankas,” ungkap Sius.

Selama tahun 2009, tutur Sius, ia mengantar sound system ke Gereja Wair pelit, Kecamatan Nita. Demikian juga november 2009, dia mengikuti kunjungan kerja Wakil Bupati, Wera Damianus ke Kecamatan Palue. Saat itu Wabup menyerahkan bantuan uang tunai ke Gereja Lei sebesar Rp 50 mjuta dan Kapela Nitung sebesar Rp 50 juta.

Sius, yang sebelumnya mengelak tak ditugaskan bendahara mentransfer uang akhirnya mengakui pernah melakukan transfer ke beberapa rekening bank.

Pansus menanyakan kepada Sius apakah mempunyai dokumen yang menyatakan pernah mentransfer ke rekening pejabat pensiunan. Sius mengaku tak ingat, ketika Wakil Ketua Pansus, Welly Pega menanyakannya.

Ketua Pansus Landoaldus Mekeng mengingatkan Sius supaya mengaku jujur aktivitas yang pernah dilakukannya. Sebab pansus sudah memiliki dokumen. “Jawab dengan jujur, kalau tidak ingat dan kami buktikan, Anda repot sendiri,” tegas Lando.

Anggota pansus, Darius Evansius mengkonfirmasikan kebenaran pertemuan tanggal 15 Januari 2011 dengan bupati dihadiri Servas Kabu, Yosep Otu, Sius Ngaji dan Maria Goreti setelah malam sebelumnya bupati didatangi Marianus Moa dan Suitbertus Manadus kerumah jabatan menagih utang. Bupati mengingatkan utang-utang kepada pemerintah pihak lain harus persetujuan DPRD. Utang yang terjadi itu merupakan utang pribadi.

Staf lainnya, Anselmia Priska mengaku sering diperintah Yosep Otu mengambil makanan, air minum kemasan dirumah makan Sumber Indah. Dia bahkan pernah membeli rokok dua slop dibawa ke Bagian Kesra Setda Sikka. (Harian Flores Star/ius)


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

GMNI Cabang Sikka: Uang Rakyat Sudah Dicuri

GMNI nyatakan Mosi Tidak Percaya Terhadap Pemerintahan SODA

GMNI dalam aksi Long march

Selasa (24/05/2011) aksi unjuk rasa kembali terjadi. Lakon kali ini tetap dimainkan oleh para mahasiswa dari elemen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sikka. Aksi tetap mengusung isu korupsi dana bansos senilai Rp 10,7 miliar dan berbagai indikasi penyelewengan lain yang terjadi di Kabupaten Sikka. Seperti aksi hari sebelumnya, GMNI Cabang Sikka tetap tak mengagendakan bertemu wakil rakyat di DPRD Sikka. Mereka memilih melakukan long march mengelilingi Kota Maumere dan berorasi didepan warga. Para mahasiswa GMNI juga membagikan selebaran foto copy dari sebuah judul berita “ Bupati Sikka Terlibat” yang dimuat di harian Kompas 19 Mei 2011. Aksi long march berlangsung dari sekitar pukul 10.00 hingga menjelang sore yang dilanjutkan dengan mimbar bebas di lokasi Jalan Eltari. Orasi yang berapi-api dari atas mobil pick up yang berjalan pelan, menarik perhatian warga dipinggir jalan. Para mahasiswa tetap menuntut agar semua yang terindikasi diperiksa dan yang terbukti terlibat divonis seberat-beratnya sesuai rasa keadilan masyarakat.

“Saudaraku rakyat Kabupaten Sikka, kami berteriak disini karena ada rasa keprihatinan mendalam sebagai putera-putera Nian Tana. Kita semua yang hidup miskin di tanah ini, masih juga ditipu mentah-mentah oleh para oknum pemerintahan dengan mencaplok duit kita, mencuri uang Rp 10,7 Miliar hanya untuk perut mereka. Dengar saudara-saudara, uang rakyat sudah di curi, uang untuk bantuan sosial sudah dicuri....” teriak dicky antara lain, orator GMNI dari atas pick up. “Masih banyak kasus lain yang melawan rasa keadilan rakyat. Pemerintahan ini telah gagal karena melakukan pengingkaran mandat yang diberikan rakyat Kabupaten Sikka,” teriaknya lagi.

Selain kasus bansos, GMNI juga menyoroti beberapa persoalan yang menunai ritik, antara lain Pemotongan Dana Hibah Bagi Hasil Pajak Tahun 2010 oleh Bupati Sikka sebesar Rp 10 jta perdesa yang menurut GMNI menyalahi aturankarena dialokasikan kedesa-desa tanpa landasan kontrusif, Dana intensif kader posyandu dan operasional posyandu Rp 1,5 miliar tahun 2010 tetapi hanya dibayar Rp 750 juta, Dana perjalanan dinas Bagian Humas Setda Sikka Rp 1,2 miliar tahun 2009 hasil pemeriksaan BPK Perwakilan NTT, masalah tidak terselesaikannya proyek Puskesmas Tuanggeo di Palue dan Puskesmas Boganatar tahun 2007, Masalah pekerjaan hasil rehab puskesmas Waiblama 2010 yang lebih buruk dibandingkan dengan bangunan lama, masalah pembuatan kontrak pembangunan kantor Bupati Sikka yang baru yang menurut GMNI sangat amburadul dan tidak sesuai ketentuan Keppres No 80 tahun 2003 dan ketentuan lain serta nasib kelanjutan pembangunannya, reformasi birokrasi yang kebablasan, masalah para pegawai negeri yang diberi janji untuk menduduki jabatan namun tidak ditepati, masalah pembangunan jalan lingkar luar yang terus dibiarkan tanpa kelanjutan, masalah janal Nanghahale ke Pruda, pekerjaan perpipiaan air minum dalam kota tahun 2010, masalah pembangunan jalan Bola – Hale, dan senjumlah masalah lainnya.

Sekali lagi, GMNI Cabang Sikka dalam aksi demo kali ini tetap menyatakan sikap tegas yakni Mosi tidak percaya lagi dengan pemerintahan SODA (Sosi – Dami) karena dinilai tidak mampu dan gagal mengemban amanat rakyat Kabupaten Sikka.

Mereka juga mengharapkan keterlibatan masyarakat dalam mengawal kasus bansos hingga tuntas.

Mahasiswa GMNI melakukan long march dari Jalan Eltari, pusat mimbar bebas, melewati Jalan Wairklau, Nong Meak, Ahmad Yani, belok kiri ke pertokoan, Hasanudin Beru, Barata, Kota Baru, Unipa, dan kembali ke Eltari.

Aksi GMNI sepanjang jalan: tuding SODA gagal

***
SODA atau Sosi – Dami adalah istilah politik dalam masa kampanye di tahun 2008. Gabungan kata Sosimus Mitang dan Wera Damianus tersebut akhirnya memenangkan Pemilihan Kepala Daerah tahun 2008 untuk masa lima tahun kedepan. Sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sikka, keduanya mencatatkan sejarah sebagai pemimpin daerah pertama di Kabupaten Sikka yang dipilih langsung oleh rakyat.

Dengan motto “Mulai Dari Desa”, keduanya mengarungi masa pemerintahan yang dipercaya oleh rakyat. Dalam perjalanan pemerintahan, berbagai kritikan mulai berdatangan yang akhirnya bermuara pada kasus bansos senilai Rp 10,7 miliar yang diduga melibatkan sejumlah oknum pemerintahan.

Saat ini kasus bansos ditangani Pansus DPRD Sikka, dan penyelidikan sedang berjalan. Terkait kasus bansos, pansus bansos DPRD Sikka sudah mengagendakan pemanggilan Bupati Sikka Sosimus Mitang hari Jumat (27/5/2011). Hampir semua masyarakat Sikka berharap kasus korupsi didaerah miskin ini bisa ditangani KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 24 May 2011

Dua Aksi Ditengah Sorotan Dugaan Korupsi

Seruan Moral dan Mosi Tidak Percaya

PMKRI & GMNI, didua lokasi berbeda

Ditengah sorotan masyarakat Kabupaten Sikka akhir-akhir ini terkait dugaan kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang oleh oknum pemerintahan dan pejabat Sikka, belasan pemuda dari dua organisasi mahasiswa yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sikka dan Persatuan Mahasiswa Katolik (PMKRI) Cabang Sikka menggelar aksi demonstrasi menuntut agar semua indikasi penyalahgunaan yang melibatkan sejumlah oknum pemerintahan dan kasus korupsi dibongkar tuntas. Dua kelompok ini melakukan orasi didua lokasi berbeda. PMKRI Cabang Sikka melakukan orasi dan pertemuan dengan anggota dewan di gedung DPRD Sikka, sedang GMNI melakukan mimbar bebas dengan orasi berapi-api diperempatan Jalan Eltari, berseberang jalan dengan bekas Pasar Perumnas. Kedua aksi ini dilakukan sejak pagi hari. PMKRI diterima dan bertatap muka dengan pimpinan DPRD Sikka Rafael Raga, Wakil Ketua Alex Longginus dan Felix Wodon dan beberapa anggota dewan di Ruang Kulababong. Sedang GMNI sama sekali tak mengagendakan pertemuan dengan dewan.

PMKRI
Dalam pertemuan itu PMKRI Sikka menyoroti sejumlah data faktual yang sedang terjadi di Kabupaten Sikka yang menurut mereka melawan rasa keadilan masyarakat. Dalam catatannya, PMKRI membeberkan beberapa kasus yang terindikasi penyelewengan yakni kasus penyimpangan dana bantuan sosial (Bansos) di Bagian Kesra Setda Sikka 2009, masalah honor kader dan operasional posyandu untuk 1500 orang di tahun 2010, masalah pekerjaan pembangunan puskesmas baru rawat inap di Tanarawa 2010 yang lebih buruk dari bangunan lama, pembangunan Kantor Bupati Sikka yang baru yang menurut PMKRI sangat amburadul dan menyalahi ketentuan (Kepres No.80 Tahun 2003 dan ketentuan lain), pembangunan Puskesmas Tuanggao Palue yang belum terselesaikan, kasus SPPD fiktif yang melibatkan Ketua DPRD Sikka dan soal realisasi studi banding anggota DPRD Sikka ke Manado terkait pembuatan Perda Moke dan beberapa studi banding dan BIMTEK lainnya.

Dari temuan tersebut, PMKRI Sikka didepan anggota dewan terhormat menyerukan seruan moral dalam pernyataan sikapnya, antara lain menyerukan desakan agar anggota DPRD Sikka bekerja dengan hati nurani dan mampu mengawal proses hukum penyelesaian kasus Bansos yang terindikasi korup Rp 10,7 Miliar. PMKRI juga menyerukan agar kaum alim ulama dari berbagai agama untuk berani mengambil sikap ditengah maraknya korupsi dan rendahnya integritas moral dikalangan penyelengara negara dan menyatakan bahwa pihak eksekutif dibawah pemerintahan Bupati Sikka Sosimus Mitang dan Wakil Bupati Sikka Wera Damianus kredibilitasnya sangat meragukan terkait maraknya kasus korupsi yang meilbatkan aparatur pemerintah dilingkup Pemkab Sikka.

Seruan moral ini dibacakan diruang Kulababong yang disaksikan para wartawan yang meliput dan anggota masyarakat umum lainnya. PMKRI sendiri datang dengan pakaian kebesarannya dan berorasi didepan gerbang sebelum akhirnya diterima dewan.

Terkait pernyataan seruan moral tersebut, anggota dewan menjelaskan bahwa selama ini tugas untuk membongkar kasus Bansos sudah dan sedang berjalan dan diketahui publik lewat media massa yang intens meliput. Pernyataan sikap PMKRI juga menjadi suport bagi dewan dan merupakan bagian dari pengawasan masyarakat. Beberapa kasus yang disebutkan juga sedang ditindaklanjuti.

GMNI
Aksi lebih berapi-api dalam sebuah mimbar bebas ditunjukan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Mimbar bebas yang berada tepat dipojok perempatan Jalan Eltari, berseberangan dengan Kantor BPN Sikka berdiri sederhana namun menjadi sentral perlawanan terhadap ketidakadilan. Hanya sampah bekas menjadi lantainya, pecahan botol dan bau got yang menyengat , juga sebuah pohon kecil penahan terik. Ada pula sisa-sisa arang bekas membakar pisang. Pisang itu hanya sebagai alas perut. Maklum, mimbar bebas ini berlangsung pagi hingga sore hari.

Para oratornya tak pernah putus dan silih berganti memberikan pencerahan tentang berbagai kasus korupsi kepada masyarakat yang simpang siur berseliweran. Aksi ini mendapat perhatian pengguna jalan, masyrakat kecil dan beberapa orang yang besimpati.

Secara umum dalam orasinya, para pemuda menyatakan bahwa praktik KKN di Kabupaten Sikka sudah mencapai taraf yang mengkwatirkan. Selain kasus penyimpangan dana Bantuan Sosial (Bansos) Tahun Anggaran 2009 senilai Rp. 10.7 Miliar yang menurut mereka diduga kuat melibatkan Bupati Sikka Sosimus Mitang, GMNI juga menyoroti berbagai kasus lain yang mengindikasikan terjadinya penyimpangan penggunaan anggaran.

Atas berbagai permasalahan tersebut, orasi GMNI dengan mimbar bebas yang berlangsung dari pagi hingga sore hari secara tegas menyatakan sikap mereka, yakni Mosi tidak percaya lagi dengan pemerintah SODA (Sosi-Dami) karena dinilai tidak mampu dan gagal mengemban amanat rakyat Kabupaten Sikka.

Mimbar Bebas dari GMNI akan berlangsung lagi hari berikutnya yakni Selasa (24/052011). Akhir dari orasi ini menurut agenda GMNI adalah penyalaan lilin demokrasi di lokasi Patung Kristus Raja saat memasuki malam hari.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Perjalanan Dinas Pakai Dana Bansos

Pansus Dana Bansos
Penyimpangan nomenklatur penggunaan dana bantuan sosial (bansos) yang terindikasi dugaan korupsi merugikan keuangan negara. Indikasi penyimpangan nomenklatur itu, antara lain pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Sikka periode pada Mei 2009 di Kupang, pembelian cinderamata dan perjalanan dinas. Ini semua merupakan bagian dari penyimpangan dana Bansos senilai Rp 10,7 miliar temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan NTT. Fakta itu terungkap dalam penyelidikan tim Pansus Bansos DPRD Sikka, Jumat dan Sabtu (20-21/5/2011) diruangan komisi A DPRD Sikka. Penyelidikan kepada sejumlah pejabat dan staf yang terkait langsung dan tidak langsung makin menarik dengan terungkapnya penggunaan keuangan yang tidak sesuai nomenklatur. Pneyelidikan tim pansus Sabtu (21/5/2011), dihadapan Kabag Humas dan Kabag Umum Setda Sikka, Markus Welung dan Chris Gagi.

Kepada Markus dan Chris, pansus mengkomfirmasikan penggunaan dana bansos untuk pelantikan bupati/wakil bupati sebesar Rp 50 juta, permintaan dana setiap kali perjalanan dinas bupati Rp 10 juta sampai Rp 15 juta dan pembelian cinderamata kepada tamu Rp 75 juta.

Komfirmasi keterangan ini karena sebelumnya Bendahara Pembantu Bagian Kesra Setda Sikka, Yosep Otu dan mantan Kabag Kesra Setda Sikka, Servasius Kabu membeberkan penggunaan uang yang tak sesuai ketentuan. Namun Chris dan Markus kelabakan menjelaskan dengan detail alokasi anggaran pelantikan, perjalanan dinas dan pembelian cinderamata.

Ketua Pansus Bansos DPRD Sikka, Landoaldus Mekeng, menjelaskan, pelantikan bupati.wakil bupati di Kupang dan keberangkatan keluarga pejabat telah disiapkan anggaran dari bagian umum dan humas. Namun diambil juga dari dana bansos, ada pihak lain mita lagi Rp 50 juta, karena diinformasikan hanya disiapkan Rp 1,5 juta. Beli pakaian pelantikan dan cek up kesehatan juga pake dana bansos. Mungkin uangnya tidak cukup.

Chris menjabat Kabag Umum Setda Sikka sejak 2006 mengakui biaya pelantikan di Kupang dialokasikan Rp 100 juta. Garis besar penggunaan meliputi transportasi keluarga bupati/wabup yang masing-masing mendapat jatah 25 orang atau keseluruhan 50 orang.

Dengan perhitungan setiap anggota keluarga membutuhkan biaya transportasi Rp 1 jjuta. Selain itu 25 orang pejabat eselon II, III dan 1V dari mlingkungan Setda Sikka seperti sekda, asisten, staf ahli dan staf lainnya, perjalanannya menggunakan dana dari bagian umum.

Dana tersebut juga digunakan membiayai seluruh kegiatan mulai dari acara, dekorasi, kosumsi dan undangan. “Jumlahnya sekitar Rp 100 juta, sudah kami SPJ-kan. Tadi sebelum kesini saya menanyakan dulu kebendahara tapi nanti saya komfirmasi lagi,” kata Chris.

Menurut Lando, mantan Sekda Sikka, Sabinus Nabu, dihadirkan dalam rapat pansus Kamis (19/5/2011), menjelaskan, pelantikan dialokasikan Rp 25 juta untuk bupati dan 60 juta wakil bupati. “Berarti Sekda tipu kami. Katanya dana itu kurang sehingga diambil dari dana bansos atau bagian umum punya anhka yang benar,” kata Landoaldus Mekeng.

Ditanya pansus tentang pembelian cinderamata sebesar Rp 75 juta dari dana bansos, Chris mengaku tidak tahu. Begitu juga alokasinya dari bagian umum, Chris mengaku tidak mengetahuinya lagi.

Markus Welung, menduduki jabatan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) sejak awal tahun 2009, dijelaskan ketua pansus bahwa permintaan keterangan ke humas karena kaitan perjalanan dinas bupati yang diurus humas. Dalam setiap kali kunjungan kedesa, bupati sering memberi bantuan kepada masyarakat dari dana bansos.

“Saya tidak hafal persis berapa banyak. Tugas saya hanya mencatat dan menyampaikan kepada instansi yang terkait. Berapa kali perjalanan selama tahun 2009, saya tidak ingat. Data nanti saya sampaikan,” kata Markus.

Landoaldus mengatakan dana bansos, digunakan selama tahun 2009 dari keterangan bagian kesra sebesar Rp 579 juta. “Frekuensi kunjungan bupati kedesa-desa berapa banyak. Keluar dari daerah Sikka berapa kali selama tahun 2009, soalnya keterangan dari Yosep mengatakan setiap kali jalan keluar daerah bupati minta 10 sampai 15 juta, lagi dari dana bansos,” tegas Lando.

Wakil Ketua Pansus, Welly Pega, menanyakan besaran biaya perjalanan dinas dari bagian umum untuk bupati sekali keluar daerah. Kalau ke Jakarta berapa?

“Keterangan dari bendahara pembantu dana bansos menyatakan, setiap kali perjalanan bupati telepon minta uang Rp 10 juta sampai Rp 15 juta, tambah anggota DPRD Sikka dari Fraksi PDIP.


Namun Chris mengaku tak tahu permintaan dana itu. “Saya tidak tahu bupati minta dana Rp 10 sampai Rp 15 juta ke kesra. “Perjalanan dinas pejabat lain juga kami urus dan dalam kasus-kasus tertentu didisposisikan dari bupati. Kalau Kabag Ekonomi sering gunakan SPPD keluar daerah,” jelas Chris.

Welly kuatir, dana perjalanan dinas yang diberikan dari bagian umum tidak cukup sehingga bupati meminta tambahan dana kebagian kesra. Markus menimpali bahwa selama ini bupati tidak pernah mengeluh uang kurang.

Menurut keterangan Yosep dan Servas kepada pansus, lanjut Welly, ketika bupati ke Jerman, sekitar bulan september 2009, minta diberikan Rp 25 juta diambil dari dana bansos. “Mungkin untuk uang saku?”tanya Welly, Chris menjawab, kemungkinan tak ada SPPD yang diurusnya, sehingga perjalanan dinas keluar negeri itu ditanggung instansi pemerintahan ditingkat propinsi.

Anggota pansus, Agus Pora menanyakan penggunaan uang untuk acara sykuran pelantikan yang diadakan diberbagai tempat di Sikka, apakah juga pakai dana bansos.

Ambros Dan menambahkan, setiap kunjungan ke desa-desa, bupati selalu memberikan minimal Rp 1 juta untuk uang bako wua taa atau uang roko dan siri pinang. (flores star/ius ris)


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 23 May 2011

Rombak Inspektorat Sikka

Kasus Dana Bansos 2009
Oleh: Frans Anggal
Pansus DPRD Sikka mendesak Kepala Inspektorat Thomas Ola Peka dicopot dan seluruh stafnya dirombak. Thomas Ola Peka dan staf dinilai tidak becus dalam membuat laporan hasil pemeriksaan (LHP) dana bantuan sosial (bansos) 2009 senilai Rp10,7 miliar. Desakan ini disampaikan ketua pansus Landoaldus Mekeng ketika memeriksa Sekda Sikka Cypri dan Costa, Kamis 19 Mei 2011 (Flores Pos Jumat 20 Mei 2011).

Inilah salah satu bukti ketidakbecusan itu, kata pansus. LHP yang dibagikan kepada pansus berbeda dengan LHP yang dipegang dan dibacakan sekda di hadapan pansus. Ada perbedaan data dan informasi menyangkut dana bansos. "Saya pertanyakan LHP yang berbeda ini. Ada apa ini?" kata Landoaldus Mekeng.

Sebelumnya, sudah ada kejanggalan yang dilakukan inspektorat. Dalam laporannya beberapa waktu lalu, lembaga ini menyatakan dana bansos 2009 hanya bermasalah pada administrasinya. Tidak ada indikasi kerugian keuangan negara.

Dengan pernyataan seperti ini, kita patut bertanya. Cermat dan jujurkah inspektorat? Lembaga ini menyandang kata "to inspect". Memeriksa. Yang bukan asal periksa. "To inspect" selalu berarti memeriksa dengan hati-hati (carefully) dan teliti (closely). Kehati-hatian diperlukan, agar tidak terjadi kesalahan. Sebab, kesalahan bisa berakibat buruk bagi pihak terperiksa. Demikian pula, ketelitian diperlukan, agar tidak ada yang terlewatkan, terutama menyangkut detail. Sebab, "setan" bersembunyi di balik detail.

Pemeriksaan yang hati-hati dan teliti tidak hanya memerlukan suluh logis. Diperlukan juga suar etis. Dan salah satu yang paling penting adalah kejujuran. Tampaknya, ini yang tidak ada pada Inspektorat Kabupaten Sikka. Tidak adanya kejujuran itulah yang menyebabkan LPH yang dibagikannya kepada pansus berbeda dengan LPH yang dipegang dan dibacakan sekda di hadapan pansus.

Oleh adanya perbedaan data dan informasi itu, pansus menilai LHP inpektorat tidak jelas dan tidak cermat. Ini penilaian objektif, berdasarkan suluh logis. Sedangkan penilaian subjektif, berdasarkan suar etis, tidak diucapkan pansus secara jelas dan tegas. Rumusannya samar-samar saja, berupa pertanyaan retoris. "Ada apa ini?" kata Landoaldus Mekeng.

Ada apa ini? Ada ketidakjujuran! LHP itu hanya salah satu dari rangkaian pembohongan. Tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau. Untuk tutupi pembohongan lama, orang harus buat pembohongan baru. Pada kerja inspektorat, pembohongan lamanya berupa pernyataan bahwa dana bansos 2009 hanya bermasalah pada administrasinya. Tidak ada indikasi kerugian keuangan negara.

Untuk menutupi pembohongan itulah dibuat pembohongan baru. Berupa LHP yang berbeda-beda data dan informasinya. Lain pada pansus, lain pada sekda. Ini menyingkapkan dua hal. Inspektorat Sikka tidak hanya tidak cermat seperti penilaian pansus, tapi juga dan malah terutama tidak jujur.

Hanya ketidakjujuranlah yang bisa menjelaskan pernyataan yang menghina akal sehat itu. Bahwa, kasus dana bansos 2009 cuma persoalan prosedural teknis. Bukan persoalan substansial yuridis-etis. Jadi, di mata inspektorat, dana bansos itu tidak dikorup. Cuma dipinjam. Maka, asalkan uang itu dikembalikan ke kas negara, persoalannya selesai.

Wah. Gawat. Di bawah inspektorat seperti ini, Sikka akan hancur lebur. Karena itu, kita setuju dan mendukung desakan pansus. Kepala inspektorat harus dicopot. Seluruh stafnya harus dirombak.

”Bentara” FLORES POS, Sabtu 21 Mei 2011

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 16 May 2011

Hasil UN 2011 Kabupaten Sikka Mengalami Peningkatan

10 Sekolah Lulus 100 Persen

Ekspresi para siswa yang lulus dan yang tak lulus
Sejumlah sekolah di Kabupaten Sikka hari ini, Senin (16/05/2011), mengumumkan hasil kelulusan Ujian Nasional (UN) tingkat SLTA untuk Tahun Pelajaran 2010/2011. Pengumuman hasil UN oleh masing-masing sekolah khususnya di Kota Maumere berlangsung siang hari sekitar pukul 13.00 Wita. Secara umum Hasil Ujian Nasional (UN) Kabupaten Sikka 2011 mengalami peningkatan dibandingkan hasil UN 2010. Berdasarkan data yang diterima dari Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga Kabupaten Sikka, jumlah siswa yang lulus Ujian Nasional 2011 untuk SMA/MA adalah 1497 siswa dari total 1658 siswa yang mengikuti UN 2011 atau lulus 90,29%. Hasil ini mengalami peningkatan jika dibandingkan hasil UN 2010 yang hanya meraih 18,20% (1456 tidak lulus dari 1780 siswa). Sedangkan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hasil UN 2011 juga mengalami peningkatan signifikan. Dari jumlah total peserta ujian sebanyak 1041 siswa, 69 siswa dinyatakan tidak lulus dan 972 siswa dinyatakan lulus atau prosentase kelulusan sebesar 93,37%.


Hasil mengembirakan ini masih ditambah lagi dengan 10 sekolah SMA/MA/SMK yang sukses meluluskan siswanya 100%. Ke-10 sekolah itu masing-masing adalah : SMA Negeri I Maumere, SMA Negeri Talibura, SMA Katolik Frateran Maumere, MA Muhamadya Maumere, SMK Negeri Talibura, SMK Budi Luhur, SMK Tawa Tanah, SMK Bina Maritim, SMK St. Elisabet Lela, SMK Negeri 2 Maumere.
Sedangkan SMAK Yohanes XXIII menunda pengumuman UN 2011 karena masih bermasalah.

Prosentase UN SMA/MA Kab Sikka 2011 :

SMA Negeri I Maumere
Jumlah Peserta 302
Tidak Lulus : 0
Lulus 302
100%

SMA Negeri II Maumere
Jumlah Peserta : 247
Tidak Lulus 32
Lulus : 215
87.04%

SMAK St.Gabriel Maumere
Jumlah Peserta : 177
Tidak Lulus: 53
Lulus : 124
70.06%


SMAK PGRI Maumere
Jumlah Peserta: 35
Tidak Lulus : 4
Lulus: 31
88.57%

SMAK Yoh. Paulus II
Jumlah Peserta : 76
Tidak Lulus : 16
Lulus : 60
78.95%

SMAK Bhatyarsa Maumere
Jumlah Peserta :125
Tidak Lulus: 3
Lulus: 122
97.60%

SMAK St Petrus
Jumlah Peserta : 62
Tidak LuLus: 3
Lulus: 59
95.16%

MA AT Taqwa Maumere
Jumlah Peserta: 54
Tidak Lulus: 6
Lulus: 48
88.89%

SMAK ALVARES Paga
Jumlah Peserta: 126
Tidak Lulus: 18
Lulus: 108
85.71%

SMAN Nita
Jumlah Peserta: 57
Tidak Lulus : 7
Lulus: 50
87.72%

SMAN Bola
Jumlah Peserta: 21
Tidak Lulus : 1
Lulus: 20
95.24%

SMAN Talibura
Jumlah Peserta: 73
Tidak Lulus : 0
Lulus: 73
100 %

SMAK St Maria
Jumlah Peserta: 83
Tidak Lulus : 2
Lulus: 81
97.59 %

SMAK Frateran
Jumlah Peserta: 139
Tidak Lulus : 0
Lulus: 139
100%


SMA Muhamadyah
Jumlah Peserta: 21
Tidak Lulus : 4
Lulus: 17
80.95%

SMAK Roledelu
Jumlah Peserta: 35
Tidak Lulus : 12
Lulus: 23
65.71 %

MA Muhadiyah Nanaghure
Jumlah Peserta: 25
Tidak Lulus : 0
Lulus: 25
100 %

TOTAL :
JUMLAH PESERTA : 1658
TIDAK LULUS : 161
LULUS : 1497
Prosentase Kelulusan : 90,29 %



Prosentase UN SMK Kab Sikka 2011 :

SMK St Gabriel
Jumlah Peserta: 232
Tidak Lulus : 33
Lulus: 199
85.78 %

SMK St Elisabeth
Jumlah Peserta: 85
Tidak Lulus : 0
Lulus: 85
100 %

SMK Tawa Tana
Jumlah Peserta: 18
Tidak Lulus : 0
Lulus: 18
100 %

SMK Negeri Talibura
Jumlah Peserta: 38
Tidak Lulus : 0
Lulus: 38
100 %

SMK Yohanes XXIII
DITUNDA PENGUMUMAN

SMK Budi Luhur
Jumlah Peserta: 39
Tidak Lulus : 0
Lulus: 39
100 %

SMK St.Thomas
Jumlah Peserta: 260
Tidak Lulus : 3
Lulus: 257
98.85 %

SMK Bina Maritim
Jumlah Peserta: 54
Tidak Lulus :0
Lulus: 54
100,00%

SMK Negeri I Maumere
Jumlah Peserta: 228
Tidak Lulus : 28
Lulus: 200
87.72 %

SMK Negeri 2 Maumere
Jumlah Peserta: 77
Tidak Lulus : 0
Lulus: 77
100 %

SMK Yapenrais
Jumlah Peserta: 10
Tidak Lulus : 5
Lulus: 5
50.00 %

SMK Mathilda
Jumlah Peserta: 146
Tidak Lulus : 1
Lulus: 145
99.32 %

TOTAL :
JUMLAH PESERTA : 1041
TIDAK LULUS : 69
LULUS : 972
Prosentase Kelulusan: 93.37%




Keseluruhan Kabupaten Sikka : Jumlah Total Peserta : 2699
Tidak Lulus : 260
Lulus : 2469


Untuk membandingkan dengan hasil UN 2010 (Tahun lalu) klik saja di: Jeblok, Tingkat Kelulusan Siswa di Kab Sikka

SMK St Mathilda yang beralamat di Kelurahan Kota Uneng Maumere membuat gebrakan awal yang cukup mengembirakan. Dari total 146 siswanya yang ikut UN 2011, 145 dinyatakan lulus. Bukan itu saja, salah seorang siswanya dari bidang Kompetensi Farmasi atas nama Ernesta Trisnawati Rui meraih nilai 10 untuk mata pelajaran Matematika. Hasil yang cukup membuktikan kualitas sekolah ini, meski baru pertama kali mengikuti Ujian Nasional.

***
Yang lulus merayakan kegembiraanya dengan suka cita. Yang tak lulus mengeluarkan air mata duka. Semua bercampur antara teriakan histeris kegembiraan dan sedu sedan siswa yang tak lulus. So, jangan terlalu bersedih, tetaplah semangat menjalani hidup. Belajar yang lebih giat dan tahun depan harus lulus ya..!


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 15 May 2011

Tak Perlu Jauhi Orang Dengan HIV/AIDS

Malam Peduli HIV/AIDS, "Mereka Ada Diantara Kita"

Teresa Archer dlm sambutan serta layar video dari JOTHI (jaringan orang terinfeksi HIV)

Malam Peduli HIV/AIDS yang mengangkat tema “Mereka Ada Diantara Kita” berlangsung sesuai harapan. Ratusan remaja, orang tua dan anak-anak yang berkumpul di Halaman Parkir Barata Dept. Store Maumere selain menikmati suguhan hiburan juga mendapat pesan informatif dari tayangan video JOTHI (Jaringan Orang Terinfeksi HIV), Yakestra dan KPA. Acara yang dimulai pukul 20.00 Wita, sabtu malam 14 Mei 2011 tersebut berlangsung sederhana namun kaya dalam informasi. Selain video informatif, penampilan band-band lokal junior hingga senior yang membawa pesan-pesan peduli terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) juga menjadi salah satu daya tarik.
“Mereka Ada Diantara Kita” digagas oleh Teresa Archer, relawan asal Inggris yang melihat kenyataan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di Kabupaten Sikka masih begitu tinggi. Dalam catatan, ODHA di Kabupaten Sikka merupakan yang tertinggi di daratan Flores dan Lembata. Bayangkan, jumlahnya sudah mencapai 257 orang sampai desember 2010. Dengan adanya acara ini, Teresa yang bekerja di Yakestra berharap agar pandangan negatif terhadap ODHA bisa berkurang dan remaja yang berpotensi keluar daerah memiliki bekal informasi yang baik.

Layar video saat itu menjadi pusat perhatian pengunjung. Dalam salah satu cerita di video tersebut dikisahkan kehidupan Yanti, salah seorang ODHA. Diwarnai isak tangis, mantan karyawati disalah satu perusahaan swasta di Jakarta ini harus menerima kenyataan ketika suaminya dinyatakan menderita HIV/AIDS.
Ketika suaminya meninggal, anak hasil buah perkawinan pun mengidap HIV begitu pula dirinya. Roda kehidupannya selalu mendapat perlakuan diskriminatif. Di-PHK dari tempat dia bekerja dan teman-temannya menjauhi ia dari pergaulan. Ditengah cerita dalam kesedihan, Yanti berharap agar perlakuan diskriminatip lingkungan terhadap ODHA bisa dikurangi.

Tenda Informasi dari Yakestra dan pengunjung di Halaman Parkir Barata

Selain layar yang berisi cerita-cerita miris dari ODHA yang dijauhi lingkungan, suguhan musik dan souvenir dari Apotik K-24 dan tenda informasi HIV/AIDS dari YAKESTRA menjadi bagian yang mewarnai pegelaran malam peduli HIV /Aids, "Mereka Ada Diantara Kita".

Teresa Archer yang disapa akrab Kaka Tres mengakui tujuan digelarnya “Mereka Ada Diantara Kita” adalah agar kaum remaja dan masyarakat umum bisa menerima informasi yang selua-luasnya tentang HIV dan AIDS. Pegelaran juga dimaksud agar informasi dan pesan yang didapat bisa mengurangi stigma dan perlakuan diskriminatif ditengah masyarakat terhadap ODHA.

“Kita boleh waspada dan takut dengan penularan HIV/AIDS namun kita tak perlu menjauhi orang yang sudah terinfeksi HIV/AIDS jika kita memiliki bekal informasi yang cukup,” ujar wanita Inggris yang juga bekerja sebagai penyiar di Radio Sonia FM Maumere pada segmen English Make Over dalam sambutan malam itu.

Sesuai dengan tema acara “Mereka Ada Diantara Kita”, Kaka Tres mengingatkan bahwa Orang Dengan HIV/AIDS sebenarnya ada dan berada ditengah masyarakat. Namun keberadaan mereka selama ini menjadi sesuatu yang harus dihindari. Sikap itu yang menimbulkan diskriminasi di tengah lingkungan. “Kasih sayang dan perlakuan normal, sangat dibutuhkan oleh Orang Dengan HIV/AIDS,” ujar Kaka Tres.

Dengan MC Lucky Reyner, hiburan band malam itu menjadi salah satu yang paling ditunggu-tunggu pengunjung. Dibuka dengan penampilan kelompok band asuhan Robby Idong The Take Off dengan dua buah lagu pop rock. Usai penampilan panas band berumur belia yang berasal dari Nara tersebut, berlanjut dengan band-band berikutnya seperti Rileks Band, Total Alarm, Wanawiri Band dan sebuah band reggae dari Kampung Kabor, Jam Mof. Masing-masing membawakan dua buah lagu.

Acara dikemas menarik dengan selang seling antara penampilan band dan video. Banyak pengunjung yang merasa terhibur sekaligus mendapat bekal informasi yang baik dan benar. Ibu-ibu dan anak-anak remaja masih terlihat menikmati acara hingga usai.

“Kami cukup terhibur. Dengan begini akhirnya kami bisa tahu sebenarnya tentang HIV/AIDS, apalagi tadi dengar cerita mereka divideo rasanya mau menangis. Kalau itu sampai terjadi pada keluarga saya,” kata Mama Sisil, yang bersama suami dan anak-anak balitanya menonton dari trotoar Barata.
“Lumayan, sudah dapat banyak informasi,” kata Nona Elsye mahasiswa Unipa yang berdiri dekat panggung band. Bersama teman-temannya ia menunjukkan beberapa brosur informasi HIV/AIDS.

“Mereka Ada Diantara Kita” berakhir pukul 10.30. Acara yang berlangsung malam itu mendapat dukungan sponsor dari beberapa pihak seperti: KPA (Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Sikka), Kopdit Tuke Jung, Choin Entertainment, Sonia FM Maumere, Apotik K 24, Bank NTT Kewapante, YAKESTRA, Hotel NARA, Hotel Gading Beach, UD. Indah Meubeler dan didukung sepenuhnya oleh www.inimaumere.com dan Dealer Sepeda Motor Yamaha Yes Maumere.



Penampilan kelompok band kiri-kanan: Wanawiri, Total Alarm, Jam Mof, The Take Off (usai manggung)

Benar, sudah saatnya kita mengubah paradigma salah kaprah yang telah lama berkembang di tengah masyarakat bahwa ODHA adalah "orang kotor", berbahaya, hingga harus dijauhi. Betul, kita harus selalu waspada dan memiliki ketakutan akan tertular HIV/AIDS. Namun, bukan berarti kita lalu membenarkan adanya perlakuan diskriminasi dan stigmatisasi yang berlebihan terhadap ODHA. Stop Stigma dan Diskriminasi.(Oss)


Kerja keras menyukseskan acara informatif "Mereka Ada Diantara Kita"

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---