Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Wednesday, 7 March 2012

Maumere dalam Foto

Wajah Kabupatn Sikka menympan sejumlah pesona baik alam, bahari maupun kecantikan budayanya. Sejumlah foto dari berbagai fotografer telah berkali-kali mengabadikan panorama cantik dan rekaman berbagai ritual budaya. Namun nampaknya belum banyak yang mengenal Kabupaten Sikka. Maklum saja promosi pariwisata disini belum berjalan efektif. Untuk menikmati keindahan wisata disini disini dukungan sarana dan infrastruktur masih minim. Salah satunya akses jalan yang menjadi kendala terutama menuju daerah-daerah wisata di wilayah pedesaan. Dan, informasi letak daerah wisata yang susah diperoleh wisatawan. Daerah-daerah wisata yang menyimpan berbagai objek natural baik alam maupun budaya bisa dijumpai dari wilayah Tanah Ai di ujung timur Kabupaten Sikka sampai Magepanda, dari wilayah Lio dan pesisir Lela-Sikka-Bola hingga beberapa pulau kecil didepan Maumere. Meski tanah Sikka sebagian besar merupakan wilayah kering namun kecantikan dibalik itu tetap bisa dinikmati. Maka jika punya waktu sempatlah berkunjung ke Maumere.


Antara Lain:

Ujung Pulau Pangabatang dalam gugusan Teluk Maumere, kecantikan pasir putih dan wisata bahari
Patikarapau, Budaya di Pulau Palue
Mengenakan pakaian khas daerah Palue
Bolu Pagar, kue lambang cinta yang hanya ada saat acara pernikahan
Mencari cacing laut, Ule Nale di Pantai Sikka
Panorama Pantai Koka di Kecamatan Wolowiro, 43 km dr Maumere
Panorama Pantai Waiara
Patung setinggi 16 meter, Maria Bunda Segala Bangsa di Bukit Nilo, Nita

Panorama Bawah Laut Teluk Maumere
Gereja Sikka, dirancang arsitek asal Belanda lebih dari 100 tahun silam
Fajar di Pantai Maumere

dari berbagai sumber..

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Pulau Flores Suatu Waktu

Catatan Seorang Backpacker: Fajar di Maumere

“Kalau lambat pun sampai, kenapa pula harus cepat-cepat?”
Kalimat itu saya dengar dari tukang ojek yang mengantar saya menuju tujuan di sebuah sudut kota Maumere. Memang sebenarnya pada saat itu di sana tak ada ketergesaan seperti di Jakarta. Sepeda motor melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Jalanan lengang, rambu lalu lintas dipatuhi dan lampu merah tak pernah diterabas. Soal helm pembonceng yang tak ada, disayangkan juga sebenarnya, tapi bolehlah diri ini sedikit lega karena dengan laju motor yang lambat itu, maka diharapkan kecelakaan bisa dihindari.

Soal lambat-lambat itu, sebenarnya cukup berbeda dengan keseharian warga Maumere sendiri yang serba cepat dan trengginas. Gerak-gerik mereka bukan menunjukkan pribadi-pribadi yang malas. Alam yang keras menuntut mereka untuk selalu siap menghadapi segala kemungkinan.

Maumere punya pelabuhan terbesar di Pulau Flores. Kota ini memang tampaknya yang paling maju dibandingkan kota-kota lain di pulau itu. Empat universitas terdapat di sana, bandara perintis pun ada, yaitu Bandara Frans Seda.

Sebuah Pagi di Tepi Laut Flores

Di Maumere bisa dilihat bagaimana geliat mentari menyapa permukaan laut dan memulas langit dengan warna jingga yang lembut. Beranjak siang, terik mentari akan mengguyur siapa saja. Lengas pun meraja dan angin berhembus kencang menerbangkan debu.

Kering dan gersang barangkali adalah kesan pertama saat tiba di kota ini. Biar begitu, tak usah khawatir karena air tetap tersedia dan tak sampai kekeringan. Apabila haus, air kelapa yang menyegarkan pun bisa diteguk dan menyegarkan tenggorokan.

Bila senja menyapa, duduklah di tepi pelabuhan sembari menikmati aneka ragam ikan dan kepiting, udang sampai lobster yang digoreng. Layangkanlah pandanganmu ke lautan, maka bisa kau lihat kerlip lampu di kapal yang sedang bersandar. Nikmatilah semuanya, perut kenyang dan mata benderang.

Maumere menawarkan jeda bagi warga Jakarta, di sana nafas bisa dihela dengan bebas.

Danau Kalimutu

Sebuah obyek wisata di Pulau Flores, terletak di Kabupaten Ende, sekitar dua setengah jam perjalanan darat dari Maumere. Sebenarnya ini adalah tiga buah kawah gunung berapi. Di sini disebut juga dengan Danau Tiga Warna karena warna airnya yang berbeda di masing-masing danau. Sayang saya lupa mencatat apa nama danau ini dalam bahasa Flores. Namun, syukurlah masih saya ingat nama lainnya, yaitu Danau Orang Jahat, Danau Muda Mudi, dan Danau Orang Tua.

Apa pasalnya, maka danau-danau itu bernama begitu unik?

Bagi masyarakat di sekitar Kalimutu, dataran tinggi tempat danau berada adalah tempat kembalinya arwah-arwah. Di sana, arwah-arwah itu kemudian akan masuk ke suatu danau tertentu berdasarkan usia dan perbuatan di masa hidupnya.

Untuk mencapai danau kawah itu, pengunjung harus mengikuti jalan setapak yang telah disediakan. Jalan berbatu dengan pepohonan di kanan kiri dan bunyi nyanyian burung dari kejauhan di tengah hutan. Datanglah ke sana pagi-pagi agar bisa menyaksikan bagaimana matahari muncul di balik perbukitan. Usahakan tetap di jalur yang telah disediakan, begitu bunyi peringatan yang terdapat di puncak gunung.

Prasasti di Puncak Kalimutu

Ah ya, puncak gunung itu adalah tujuan akhir. Sebelumnya, setelah menyusuri jalan setapak pengunjung pertama kali akan bertemu dengan Danau Orang Jahat. Kemudian menuruni sedikit lembah dan dilanjutkan dengan menaiki tangga berundak yang lumayan berhasil membuat nafas ngos-ngosan. Nah, di puncak nanti bisa dilihat bagaimana tiga buah danau saling bersanding dalam diamnya masing-masing. Di sini, bisa dilihat lagi Danau Orang Jahat, Danau Muda Mudi dan Danau Orang Tua.

Di kejauhan Danau Orang Jahat, tampak dekat Danau Muda Mudi

Dari cerita penduduk sana, baru saja di Danau Muda Mudi seorang remaja putri bunuh diri. Dari catatan mereka, sejauh ini sudah delapan orang yang menceburkan diri di danau. Sebuah tindakan konyol untuk mengakhiri hidup karena dua danau—Danau Orang Jahat dan Muda Mudi—adalah kawah aktif yang masih panas. Kondisi yang berbeda ditemui di Danau Orang Tua, karena di sini airnya bisa digunakan untuk cuci muka dan lain-lain.

Ditilik dari ilmu geologi, maka danau ini menunjukkan aktivitas vulkanik di bawah kulit bumi Pulau Flores. Danau-danau itu akan berubah bentuknya manakala gempa terjadi di sekitar pulau karena terjadi longsor di dinding tebingnya. Perubahan juga terjadi pada warna air di danau. Selain akan berubah seiring perjalanan hari, manakala gempa terjadi konon warna air di danau pun akan berganti.

Di Kalimutu semoga arwah yang bersemayam di sana memperoleh ketenangan, setenang air permukaan danau.

Gunung Kimang Boleng

Maumere di sebuah siang yang terik, saat angin dari Gunung Kimang Buleng menyentuh debu dan menerbangkannya dalam bentuk pusaran seperti topan kecil. Tarian Hegong yang diiringi musik Gong Waning begitu rancak dibawakan oleh warga. Saya berdiri di Pantai Grass Track dengan membelakangi Laut Flores dan menghadap ke gunung, merasa begitu kerdil sekaligus kagum pada keindahan dan keperkasaan alam yang tersaji di sana.

Ada yang mau ke sana? Boleh lah saya pun diajak :D

by: unclegoop(http://unclegoop.com/2011/10/05/pulau-flores-suatu-waktu/)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Hati-Hati! Penculik TKI Menyasar Orang Kampung di Wilayah NTT

Ratusan warga dari kampung-kampung di Kecamatan Talibura, Kewapante dan Magepanda-Sikka menjadi sasaran 'penculikan' untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Kalimantan. Mereka kini telah berada di Surabaya tanpa melengkapi diri dengan dokumen perjalanan resmi. Persoalannya, perusahaan yang melakukan perekrutan tidak jelas. Perusahaan itu tidak tercatat pada Dinas Sosial dan Nakertrans Sikka.
Pihak keluarga kini kebingungan mencari alamat keluarganya itu yang kini berada di Surabaya. Bukan itu saja, perusahaan ini merekrut anak di bawah umur, membawa istri dan suami orang tanpa izin pihak keluarga.
Hasil pelacakan Pos-Kupang.Com, Senin (5/3/2012) siang, menyebutkan, para TKI diberangkatkan ke Surabaya melalui Pelabuhan Lorens Say Maumere menggunakan KM Dharma Kencana, Kamis (1/3/2012) pukul 21.00 Wita.

Para TKI ini direktut oleh para tenaga lapangan dan diserahkan kepada seorang warga yang bernama Bomas. Usai direkrut, para TKI dibawa ke Surabaya dengan cara dijemput di jalan dan di ujung kampung.

Usai berkumpul di pelabuhan, mereka dinaikkan ke kapal. Kini, ratusan TKI telah berada di Surabaya. Mereka berada di tempat penampungan untuk persiapan pemberangkatan ke Kalimantan.

Menurut sumber Pos-Kupang.Com, mereka akan digaji Rp 1 juta per bulan. Ada juga yang digaji per hari dan per minggu.

Keberangkatan para TKI ke Surabaya, kini menuai protes karena ada seorang TKI asal Sikka dari Desa Ndone, bernama Anita Tanty Lia Alo (14), telah diamankan di Kantor TruK-F Maumere.

Anita yang masih SD kelas V ini diajari agar keluar dari rumah dan menunggu di ujung kampung lalu dibawa ke pelabuhan. Namun saat mau berangkat, keluarga Anita menemukannya di atas kapal.

Saat di pelabuhan, Anita memakai jaket sambil menutup kepalanya agar mengelabui keluarga. Keluarga kemudian membawa Anita ke Kantor TruK-F Maumere guna mendapat perlindungan. Berdasarkan pengakuan Anita dan keluarga di Desa Ndone, terdapat 23 TKI yang telah "dilarikan."

Semua yang berangkat direkrut Donatus, warga Ndone dan diserahkan ke Bomas alias big bos Donatus.

Menurut sumber itu, diduga aparat desa dan pihak-pihak di Pelabuhan Maumere mengetahui sindikat pengiriman TKI ke Surabaya. Mereka pura-pura tidak tahu.

Bahkan keluarga Anita telah melaporkan kasus Anita kepada aparat tapi sengaja tidak digubris. Karena tak mendapat tanggapan, keluarga mengadu ke TruK-F Maumere.

Truk-F Maumere yang mendapat pengaduan pada Kamis (1/3/2012) malam, langsung bergerak ke Pelabuhan Maumere untuk menjemput Anita. Bersama keluarga Anita, TruK-F Maumere melaporkan kasus ini ke Polres Sikka, Senin (5/3/2012) siang.

Mereka menyebut Donatus dan Bomas sebagai otak yang melakukan prekrutan. Dua orang ini dinilai bertanggung jawab atas perekrutan 23 TKI di Ndonde.

Keluarga dan TruK-F Maumere meminta semua TKI yang sudah dibawa ke Surabaya untuk dikembalikan ke Sikka.

"Tangkap Donatus karena dia yang mengetahui secara jelas jaringan perekrutan ini. Donatus tinggal di Ndone dan telah membawa 23 TKI tanpa dokumen resmi. Salah satunya adalah Anita yang direkrut tanpa izin orangtua dan masih di bawah umur," kata Koordinator TruK-F Maumere, Sr. Eustochia, SSpS, Senin (5/3/2012) siang.

Data lain yang diperoleh di Kantor TruK-F Maumere, di Kecamatan Kewapante, terdapat tiga TKI yang batal berangkat karena perusahaan perekrut tidak jelas. Kades Namangkewa bahkan melarang para calon tenaga kerja itu.

Di Waiara pun sama. Di Talibura, ada TKI yang batal berangkat. Ada yang berangkat ke Surabaya menggunakan KM Dharma Kencana.


Inilah TKI yang diculik :

Hendrikus Rinu (48), Fritanus Maku (18), Bernadeta Deo (18), Yohanes Don Bosco Satu (25), Sinte (18), Elisabeth Lisa (38), Ni bersama ibunya (38), Bele (25), Yuwanto (29), Nggi (21), Fin bersama ibu (29), Ndora (19), Fransiskus Tonda (16), Nong Kanis (18), Santi (20), Yohanes Laki Bora (25), Arnoldus Ruma (32), Yohanes Bata (27), Anastasia (25), Sebastianus Mori (35), Anastasia Duma (38), In Petu (38), Yanti (Asal Desa Ndone, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka/Sumber: TRuK F Maumere)
(pos-kupang.com)
Selengkapnya...

Inilah 34 Korban Trafficking Warga Maumere

Sejumlah warga Desa Done, Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka Maumere, yang diduga jadi korban trafficking, diperiksa sebagai penumpang Kapal Dharma Kencana yang sandar di Dermaga Ro-Ro, Pelabuhan Jamrud Tanjung Perak pukul 10.00 WIB, Senin (5/3/2012) pagi tadi.
Mereka diperiksa petugas mulai dari kartu identitas, KTP hingga tujuan kepergian. Tak hanya mereka saja yang diperiksa, tapi juga total 227 penumpang kapal lainnya.
Setelah melalui pemeriksaan identitas, polisi menemukan puluhan penumpang tanpa identitas dan tujuan. Bahkan, 34 penumpang yang diamankan merupakan warga Maumere yang dibawa oleh tersangka 'Boumans' menuju Kalimantan Tengah untuk dijadikan sebagai pekerja rumah tangga.


Kini, 34 penumpang Kapal Dharma Kencana sudah dibawa menuju Mapolda Jatim untuk pemeriksaan lebih lanjut. Termasuk juga tersangka 'Boumans' yang mengaku akan memberikan pekerjaan di Kalimantan Tengah.

34 Warga Maumere yang berhasil diamankan di Polres Pelabuhan Tanjung Perak adalah sebagai berikut :
1. Hendrikus Rinu (48)
2. Fritanus Maku (18)
3. Bernadeta Deo (18)
4. Yohanes Don Bosco Satu (25)
5. Sinte (18)
6. Elisebet Lisa (38)
7. Nie, bersama Ibu (38)
8. Mbele (25)
9. Yuvonta (29)
10. Nggi (21)
11. Vin, bersama Ibu (19)
12. Ndaro (19)
13. Fransiskus Tonda (16)
14. Nong Kanis (18)
15. Santi (20)
16. Yohanes Laki Wara (25)
17. Arnoldus Ruma (32)
18. Yohanes Bota (27)
19. Anastasia (38)
20. Sebastianus Mori (35)
21. Anastasia Durnai (38)
22. Paulina Pare
23. Yanti
24. Thomas (anak-anak)
25. Marselina Bone
26. Martine (anak-anak)
27. Yosep Yon Yonen (anak-anak)
28. Margareta (anak-anak)
29. Andriana (anak-anak)
30. Robertus
31. Dorce Ansa
32. Michael Rola
33. Yenianan Lere
34. Ini Petu

(surabaya.detik.com/nrm/fat)

Selengkapnya...

Monday, 27 February 2012

"MAUMERE"

Karya Iwan Fals, dibawakan di Konser Kemanusiaan Flores 1993..

Om Iwan, epang gawan, trima kasih, matur nuwun atas lagumu berjudul "MAUMERE"yang luar biasa. Merinding benar mendengarnya, sungguh.
Lagu yang Anda ciptakan secara spontan dan dinyanyikan pada "Konser Kemanusiaan Untuk Flores" di awal tahun 1993 akhirnya bisa didengarkan terkhusus warga Maumere dan Flores.
Dari tanah seberang nun jauh dari tempatmu, lagu ini kembali menggugah ingatan akan bencana besar yang menewaskan ribuan saudara-saudara kami.

Yeah teman-teman, lengkingan khas Iwan Fals bisa kita dengarkan , ketika ia meneriakan "Maumere". Lewat lagu ini Om Iwan bercerita tentang kepedihan hatinya, tentang tangisan dan kegelisahaannya menyaksikan bencana gempa disusul tsunami mengamuk di Pulau Bunga, Cabo da Flores..
lagunya bisa di donlod disini..

cuplikan syair
"....Maumere ... Maumere ...
Sika ngada ende Flores Timur bersedih dan menangis
Pikiran - pikiran kotor menyingkirlah
Hati yang kotor menyingkirlah
Maumere ... Maumere ..."


Download "Maumere":

disini



Gempa Tsunami 1992: disini

lirik: disini

foto: penampilan iwan fals cs saat konser kemanusiaan untuk gempa Flores, 24 januari 1993 di Jakarta

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Jejak Sejarah Pasar Geliting

Pasar Geliting adalah salah satu pasar tua di kabupaten Sikka yang terletak di Geliting ,kecamatan Kewapante,kabupaten sikka.Karena usianya yang sudah tua ini, maka beredarlah wacana bahwa di Tahun 2010 ini pasar Geliting mencapai usianya yang ke-100. Kebenaran wacana ini perlu di telusuri, karena sepanjang pengetahuan saya usia pasar Geliting, sudah lebih dari 100 tahun bahkan dapat di perkirakan sudah mencapai 150 tahun. Bersumber dari tuturan lisan yang saya timba dari kakek moan Mitan Nago, Om-om saya Moan Bapa, Moan Gain dan Moan Jeng dan dari sumber sejarah lokal NTT antara lain Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT, maka saya akan tulis topik ” MENELUSURI JEJAK SEJARAH PASAR GELITING “.
Bahwa pada Zaman dahulu kala, wilayah yang sekarang ini bernama Geliting, oleh para leluhur di sebut” BAN BIHAN “. BAN BIHAN merupakan gabungan kata BAN yang artinya ALIRAN AIR dan BIHAN artinya MEROBEK. Karena itu BAN BIHAN berarti Aliran Air yang Merobek-robek.

BAN BIHAN ini merupakan sebuah mata air di tepi pantai yang keluar dari batu wadas yang terpecah-belah.Oleh karena itu,BAN BIHAN lalu menjadi tempat singgahan para pelaut untuk mengambil air minum. BAN BIHAN adalah Nuba Nanga dari masyarakat Wolon Dobo,wilayah Hoak Hewer Hewokloang,Kerajaan Tradisional KangaE AradaE…

Pada seputar Abad XVI-XVII mulai berkembang kekuasaan islam di wilayah Indonesia Timur,terutamakerajaan Ternate,Gowa dan Bima. Daerah sepanjang pantai pulau Flores,mendapat pengaruh kerajaan Gowa. ( Bdk. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT Hal.7 alinea 4 ).

Orang Gowa menyinggahi BAN BIHAN dan berinteraksi dengan Ata Dobo khususnya dan Ata Krowe pada umumnya. Lalu Orang Gowa di sebutlah ATA GOAN. Pada waktu itu datang juga orang dari Tidore ( Maluku) lalu tersebutlah juga ATA TIDUNG. Ata Goan dan Ata Tidung belum tinggal tetap di BAN BIHAN.

Kemudian pada tahun 1860, Amir Bahren dan Hamzah Bahren menyebarkan Agama Islam di pulau Timor dan Pulau Flores. Dalam penyebarannya agama Islam ini,peranan orang Bugis,Makasar,Wajo dan Buton sangat besar. Di daerah tersebut terdapat kampung-kampung Bugis,Wajo,Makasar dan Buton. Agama mereka sama yaitu Islam, maka semua orang Goa, Tidung,Wajo,Bugis,Makasar dan Buton di sebut ATA GOAN (Bdk.Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT Hal.21 alinea 5 ).

Orang wajo lalu menyinggahi dan menetap di BAN BIHAN. Ban Bihan lalu menjadi tempat pertemuan jula beli antara Ata Krowe dan Ata Wajo,maka tempat pertemuan jual beli itu di sebut REGANG BAJO dan orang Wajo di sebut ATA BAJO. Makin banyak Orang Bajo membangun rumah di seputar Regang Bajo maka tersebutlah NATAR BAJO.

Regang Bajo itu terselenggara pada setiap hari Jumad.sehari sebelumnya yaitu hari Kamis,mulai dari pagi Buta,Ata Krowe sudah datang menunggui Ata Tidore ( Ata Tidung ) untuk saling tukar-menukar.Ata Tidung membawa ikan,garam,kapur sirih,sedang Ata Krowe membawa jagung,kacang,ubi,buah-buahan dan lain-lain.Demikian Regang Bajo itu sudah mulai berlangsung sejak tahun 1860.

Pada tahun 1902, kerajaan tradisional KangaE AradaE jatuh ke tangan penjajah Belanda.
Ratu Keu Nago Raja KangaE yang ke-38 di lengserkan dan di gantikan oleh saudara sepupunya Moan Nai Juje,yang menjadi satu-satunya Raja Koloni Belanda ( 1902 – 1925 ). Disamping menjadi perpanjangan tangan Belanda,beliau juga melakukan terobosan pembanguan,antara lain meningkatkan pembangunan Pasar atau Regang Bajo. Seputar tahun 1905, beliau membangun toko-toko untuk di kontrakan kepada Ata Goan dan Ata Sina ( orang Cina ).

Orang Cina yang pertama datang ke Natar Bajo,oleh Ata Krowe di sapa SINA LOGU LEWU yang artinya Orang Cina yang merunduk di bawah kolong rumah. SINA LOGU LEWU mengontrak sebuah rumah panggung yang bertiang tinggi.Lokasinya di Gudang KUD sekarang ini. Setiap harinya ia menyepuh emas di bawah kolong rumah itu, sehingga di juluki SINA LOGU LEWU.

Anaknya bernama Baba Ting, di samping rumah baba Ting ada toko GO APANG, dan di sebelahnya selatannya ada toko GO TITI. Toko GO APANG di wariskan kepada anaknya GO TJUI sedangkan Toko GO TITI di jual kepada ENCE GEMUK dan diwariskan kepada BABA ILONG karena GO TITI pindah ke Maumere.

Ata Bajo kemudian berpindah ke Wuring,akhirnya Nama Natar Bajo dan Regang Bajo mulai sirna dan muncul nama Kampung Geliting dan Pasar Geliting. Dari mana dan bagaimana asal muasal nama Geliting tidak di ketahui secara persis, karena kata Geliting itu tidak di temukan dalam kosa kata bahasa Krowe. Kata Geliting dalam bahasa Krowe tidak mengandung makna apapun.

Berdasarkan paparan tersebut diatas kita sudah mengetahui bahwa nama BAJO ( Regang Bajo dan Natar Bajo ), berasal dari WAJO YANG ADALAH NAMA DARI SEBUAH KERAJAAN islam di Sulawesi Selatan. Nama Geliting yang menggantikan nama Bajo, belom secara pasti di ketahui asal muasalnya baik dari kata-kata budaya setempat ataupun nama serapan daerah luarnya, namun dari uraian mengenai kedatangan dan keberadaan orang Cina di Natar Bajo, maka dapat di di duga kuat, bahwa nama / kata Geliting berasal dari nama orang Cina pertama yang datang pertama ke Natar Bajo, yaitu GO LIE TING, yang di juluki SINA LOGU LEWU.

Kata GO ( Nama Marga Keluarga Besar GO ) telah bergeser bunyi menjadi GE. Kata LIE terdapat dalam nama orang CINA dan TING nama yang di teruskan kepada anaknya. Nama GO LIE TING, dalam alur sungai sejarah telah bergeser bunyi menjadi Geliting Regang Bajo yang berdiri pada tahun 1860 – an telah berubah menjadi Pasar Geliting sejak tahun 1905 sampai dengan sekarang.

Natar Bajo yang berdiri di tahun 1860 telah berubah menjadi Kampung Geliting, yang kini menjelma menjadi Desa Geliting. Sedangkan Nama Bajo masih diabadikan dengan dusun Bajo.
Dengan demikian REGANG BAJO dan atau PASAR GELITING pada tahun 2010 telah mencapai usia 150 tahun…
KEWAPANTE, 19-MEI-2010(LONGGINUS DIOGO).

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

WISATA NTT: Menteri Pariwisata terpesona alam Maumere

Wilayah Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur berpotensi dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata alternatif.
Menteri Pariwista dan Ekonomi Kreatif Mari E Pangestu mengatakan provinsi ini kaya akan nilai sejarah dan tempat wisata yang dapat dikembangkan. Sekaligus bisa menjadi sentra ekonomi kreatif dari produk tenun.
“Potensi Maumere tidak hanya wisata rohani atau ziarah seperti yang saat ini banyak dilakukan wisatawan. Wisata alam dan kerajinan rumahtangga berupa tenun ikat perlu ditingkatkan promosinya,” ujarnya hari ini. Mari bercerita, akhir pekan lalu dia membuka acara Pekan Pesona Flores Maumere In Love di Maumere yang dimeriahkan dengan parade budaya, misa akbar untuk perdamaian, expo produk unggulan flores, festival ikan bakar, dan pesta rakyat, panggung pertunjukan etnik flores, workshop fotografi bersama komunitas jurnalis foto nasional dan lomba mewarnai motif tenun.

Menurut dia, pengembangan pariwisata berkelanjutan melestarikan warisan budaya seperti yang diwujudkan dalam Pekan Pesona Flores itu, selain kegiatannya juga ramah lingkungan. Salah satunya pembuatan tenunan khas Flores.

Keunggulan menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan adalah melibatkan elemen masyarakat setempat sehingga mereka bisa menjadi ujung tombak pengembangan pariwisata di daerahnya sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari interaksi dengan wisatawan.

Selain membuka Maumere In Love, Mari yang didampingi Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim serta unsur Muspida Kabupaten Sikka juga mengunjungi Museum Bikon – Blewut, museum budaya dan misi Katolik di Maumere dan melihat koleksi utama museum tersebut yaitu Fosil Fauna, Flora Gua Flores serta fosil-fosil manusia purba dan Fosil Gajah Jenis Stegodon Trigonocephalus yang berusia kira-kira 300.000 tahun.

Tempat lainnya yang dikunjungi adalah Wisung Fatima Lela yang bertempat di Desa Lela, Kabupaten Sikka. Di Kabupaten yang menjadi penerima PNPM Mandiri Pariwisata sudah memiliki peningkatan dengan sejumlah fasilitas.

“Perlu segera dibangun gedung untuk display barang atau sejenis showroom untuk memamerkan sekaligus memasarkan hasil kerajinan masyarakat sehingga dapat meningkatkan daya tarik dan nilai barang di mata wisatawan.,” kata Mari.(bisnis.com/msb)

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---