Monday, 6 April 2015
Ayo ke Maulo'o
Nusa Kura dan Beta Beach Janjikan Wisata Alternatif
Satu lagi tempat indah di persada Kabupaten Sikka yang patut dijelajahi adalah Nusa Kura dan Beta Beach. Dua tempat yang saling berdekatan ini menjanjikan potensi pariwisata alternatip. Menikmati pantai yang landai berpasir memanjang dan datar umumnya sudah biasa . Sesekali perlu berkunjung di pantai dengan karakter berbeda. Nah, Pantai Nusa Kura dan Pantai Beta Beach menjadi salah satu alternatip menikmati pesona pinggiran pantai yang tidak biasa.
Berdiam dalam kesunyian yang menggoda, Nusa Kura dan Beta Beach berada dalam wilayah pesisir Desa Maulo'o, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka. Deburan ombak pesisir selatan Laut Sawu sudah biasa bagi mereka yang sering berada di wilayah selatan. Eksotirme batu-batu cadas dan hamparan karang sepanjang pantai menjadi salah satu daya tarik. Begitu pula tebing-tebing yang memanjang dengan ketinggian sekitar 20 meter menjadi eksotisme Maulo'o yang pautut dijajal.
Salah satu kekhasan dari pesisir ini adalah keberadaan Nusa Kura. Nusa Kura adalah pulau karang berbentuk Kura-kura atau penyu. Beruntung saat kami berada disana, air laut dalam keadaan surut.
Menikmati pesisir Maulo'o bukan hanya tawaran Nusa Kura, Beta Beach serta karang dan tebingnya. Masih ada hal lain menarik. Ya betul. Saat surut, sejumlah warga kampung berduyun menuju pantai untuk memanen hasil laut berupa ikan, teripang, duri laut, belut dan sebagainya.
Hasil laut ini sebagian besar untuk dikosumsi sendiri.
Mungkin kebiasaan warga pesisir ini bisa anda jajal, seperti ketika kami menikmati isi duri laut yang baru dipanen para ibu.
Hamparan karang yang begitu luas menjadi daya tarik menakjubkan. Ketika air surut, karang-karang tersebut menghadirkan berkah bagi warga desa. Puluhan orang nampak berburu makanan laut dengan peralatan sederhana. Hal ini nampak ketika kami berkunjung di pantai ini.
Nusa Kura merupakan salah satu daya tarik pesisir Maulo'o. Pulau karang ini memang berbentuk kura-kura dengan karang besar mirip cakang atau rumha kura tersebut. Menurut cerita, di pesisir ini pernah bersembunyi sejumlah bala tentara Jepang tahun 1946- 1947. Salah satu bukti sejarah adalah sumur Jepang yang masih ada dan tak jauh dari pesisir.
Eksotisme Nusa Kura makin mempesona dengan hadirnya pantai berpasir putih yang tak kalah menarik. Plus keelokan hamparan laut dan karang yang menakjubkan. Di sebelah timurnya nampak Bukit Kristus Sang Raja. Dinamakan demikian karena diatas bukit tersebut berdiri patung Jesus yang menghadap ke laut lepas.Daya tarik lainnya adalah pulau pasir yang saban timbul ketika air laut dalam kondisi surut.
Pesona pantai ini masih natural. Anda beruntung, karena tak tidak akan berjumpa wisatawan manapun kecuali orang-orang desa yang selalu ramah. Ya, seperti tamu istimewa tanpa hiruk pikuk wisatawan lain.
Di kawasan ini tak ada rumah makan, gazebo, penginapan dan lainnya. Sepi. Cuma rumah-rumah penduduk nampak berdesakan. Maklum tempat ini belum tersentuh industri pariwisata. Tak nampak nadi wisata berdenyut disini. Persis seperti obyek-obyek wisata di kabupaten ini yang nampak terbelengkai.Pantai ini pun belum banyak dikenal warga Kabupaten Sikka. Padahal eksotismenya berpotensi menjadi salah satu daya tarik wisata unggulan.
Tak percuma kami menjelajahi tempat ini. Meski saat Paskah seharusnya kami mengunjungi sahabat dan kerabat. Namun nyatanya keelokan Nusa Kura, pun Beta Beach berhasil mencuri perhatian kami.
Bersama saya, juga ada Ferly Adi Irwanto seorang offroader yang berdomisili di Wai Oti, ada Frietz Baim si fotografer serta Zemut, pemuda gimbal yang suka berkelana. Maka, ketia rekan Santi Sima mengundang kami mengunjungi kampungnya Maulo'o, kami tak mampu menampik. Menurutku, ini adalah kesempatan berharga dari sekian kesempatan di hari libur. Menikmati segarnya udara pantai selatan dibumbui pemandangan yang elok adalah terapi alam yang senantiasa menjadi jadwal tetap.
Untuk mencapai tempat ini dibutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Kota Maumere. Jika Anda mengenal Pantai Koka maka Nusa Kura berada tidak jauh dari pantai tersebut. Sayangnya Nusa Kura tak seberuntung Koka yang mendapat perhatian lebih, bahkan dibuat festival segala. Nusa Kura dan wisata di kecamatan ini seperti dibiarkan bertahan hidup sendiri.
Anda bisa menggunakan kendaraan angkutan umum ataupun mobil pribadi atau sepeda motor. Pantai ini tidak jauh dari pinggir jalan. Kira-kira 150 meter keelokannya sudah bisa dinikmati.(ossrebong)
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 13:16 0 comments
Label: Jalan-Jalan
Sunday, 5 April 2015
Logu Senhor Diikuti 400 Peserta
Prosesi Jumat Agung di Kampung Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, NTT berjalan dengan sukses. Prosesi yang lebih dikenal dengan sebutan Logu Senhor diikuti 400 peserta logu. Para peserta sebelumnya telah mendaftarkan diri kepada panitia sehari sebelum prosesi. Logu Senhor merupakan sebuah budaya tradisi religi Sikka-Portugis yang telah hadis seiring masuknya ajaran Katolik di desa ini 5 abad yang lampau.
Selama kurun waktu seminggu desa ini mulai berbenah menyongsong Jumat Agung. Diantaranya dengan membersihkan kampung secara gotong royong, gereja, persiapan tablo dan patung hidup serta pagar-pagar lilin.
Logu Senhor berarti menunduk dibawah salib. Prosesi ini dipusatkan di Gereja Sikka yang bernama asli Gereja St. Ignatius Loyola.
Para peserta yang mengikuti logu senhor memiliki permohonan atau ujud tertentu.
Tradisi religi ini juga diselingi dengan drama kisah sengasara Jesus hingga penyaliban yang dimainkan dengan cemerlang oleh OMK (Orang Muda Katolik) Paroki Sikka.
Sekitar 35 putra dan putri terbaik dari paroki ini turut serta ambil bagian. Juga para bocah pemeran patung penyiksaan yang dipajang di halaman rumah.
Prosesi logu dimula dengan ibadat sabda sejak pukul 15.00 Wita dan berakhir hingga tengah malam.(ossrebong)
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 01:36 0 comments
Label: Berita , SerBa sErBi..
Saturday, 4 April 2015
Logu Senhor, Suara Iman dari Bumi Sikka
Gereja Ignatius Loyola nampak anggun sore itu. Ratusan umat yang tidak mendapat tempat mengikuti ibadat dari luar gereja. Di pintu masuk pelataran, beberapa petugas kepolisian terlihat berjaga.
Untuk kesekian kali saya mendatangi kampung mungil ini. Kisah sejarah mamatri, sejak 5 abad yang lalu ditempat ini penyebaran katolik di Sikka bermula. Berawal dari kepergian Mo'ang Alesu ke Malaka untuk mencari "Hidup yang Kekal".
Saya tiba di Kampung Sikka sekitar pukul 16.00 Wita ketika ibadat telah dimulai. Sebagian besar umat mengenakan pakaian hitam. Pada Juamt Agung mengenakan pakaian hitam merupakan tanda berkabung mendalam mengenang penyaliban Kristus.
Sejak beratus tahun yang lampau di tempat ini telah menorehkan sebuah tradisi religi yang berkaitan erat dengan kekatolikan portugis. Mengenang kisah sengsara dan kematian Jesus, umat di Kampung Sikka selama seminggu berdiam diri dalam keheningan menyambut tadisi klasik bernama Logu Senhor. Nama perpaduan Sikka-Portugis yang menjadi simbol tradisi setempat memiliki arti mendalam.
Logu Senhor artinya Menunduk di bawah Salib. Logu berasal dari bahasa Sikka yang berarti Menunduk sedang Senhor berarti SALIB merupakan nama portugis.
Siapapun boleh mengikuti prosesi ini. Syarat utama adalah dia mesti katolik Tapi sebelumnya diharuskan mendaftar pada panitia. Setiap yang mengikuti Logu Senhor biasanya telah memiliki ujud atau permohonan tertentu.
Prosesi diawali misa pada pukul 15.00 wita. Kemudian mengitari kampung mungil. tersebut disertai drama tablo dan nyanyain ratapan (ovos). Ovos dinyanyikan disetiap irmida yang menjadi tempat penyiksaam dan adegan lainnya. Prosesi akan berakhir mendekati tengah malam.
Beberapa kesaksian mujizat menjadi bagian yg tak terpisahkan dari prosesi logu.
Memang sangat sakral. Kampung itu senyap seketika. Tidak ada aktivitas warga selain pusat perhatian ditujukan pada prosesi.
Di sepanjang jalan dinyalakan lilin-lilin yang dipajang diatas bambu. Pada semua rumah, khususnya diteras diletakan gambar-gambar kudus dan lilin.
Prosesi diawali dari dalam gereja kemudian menuju Irmida Pertama atau Perhentian Pertama hingga menuju irmida terakhir dan berakhir kembali di gereja.
Salib Senhor yang dusung merupakan bukti sejarah kekatolikan Sikka ketika dibawa pertama kali oleh sang Raja Don Alesu Ximenes da Silva, lima abad lampau. Beliau juga membawa Meninho dan jenazah Jesus. Patung jenazah tersebut dikeluarkan saat awal prosesi.
Disetiap Irimida peserta logu menyalakan lilin. Sejumlah Orang Muda Katolik (OMK) St. Ignatius Loyola Sikka kembali menjadi pusat perhatian. Selama prosesi kehadiran drama penyiksaan Jesus dibawakan mereka dengan cemerlang mengaduk-ngaduk perasaan.
Begitu pula nyanyian ratapan (ovos) yang menyayat hati, dimana ovos dinyanyikan dengan diterangi obor yang dipegang perempuan berpakaian adat sikka.
Ditengah ratusan umat saya merasakan begitu dalamnya sentuhan prosesi ini. Hingga tengah malam, sekitar pukul 00.30, Sabtu, prosesi yang menyita perhatian berakhir.
Tradisi budaya religi ini perlu dileastarikan. Meski beberapa kali pernah vakum, namun prosesi yang tidak bisa dilepaskan dari budaya lokal setempat berjalan kembali dan semakin luas dikenal orang.
Sikka dalam sejarah merupakan sebuah desa kecil, pusat pemerintahan Kerajaan Sikka. Saat itu warga Sikka belum mengenal ajaran Jesus. Ketika bertubi-tubi diserang penyakit hingga banyak yang mati, Raja Moang Alesu berpikir menyelamatkan warganya agar bisa hidup lama alias kekal. Berangkatlah beliau ke Maumere, sebuah wilayah di pesisir utara, jauh dari Kampung Sikka.
Di Maumere bertemulah dia dengan seorang pemuda asal Portugis. Oleh pemuda tersebut dikenalkanlah ajaran Katolik yang mewartakan hidup yang kekal. Beliau tertarik hingga berangkatkatlah Moang Alesu ke Malaka dimana wilayah pusat kerajaan Portugis di Asia berada.
Usai mendalami ajaran katolik dan kemudian dibaptis, Alesu berganti nama menjadi Don Alesu Ximenes da Silva.
Bersama pasukan pengawal dan beberapa tokoh agama, mereka kembali ke Kampung Sikka. Dari Malaka, beliau dihadiahi pakaian kebesaran Raja, pun patung kanak-kanak Jesus (meninho), Salib Senhor dan patung jenazah Jesus. Ketiganya dikeluarkan saat prosesi Logu Senhor berlangsung.(ossrebong)
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 11:58 0 comments
Label: Berita , BuDaYa.. , SerBa sErBi..
Wednesday, 18 March 2015
Azizah Lolos Menuju Gerbang KDI
Dukungan SMS warga keturunan Kabupaten Sikka di seluruh Indonesia berbuah manis ketika salah satu putrinya meraih tiket menuju Gerbang KDI (Kontes Dangdut Indonesia). Kontes Seleksi KDI yang disiarkan langsung MNC TV tadi malam, Selasa (17 Maret 2015) meloloskan dara asal Kampung Beru, Kelurahan Beru Maumere setelah mendapat poling SMS tertinggi. Azizah secara mutlak mengalahkan Nurma dan Ryanti. Sebelumnya Azizah lolos secara menyakinkan setelah para juri memberikan tiga bintang yang membawanya menuju babak selanjutnya.
Grup facebook www.inimaumere.com sekejap menjadi ramai. Postingan dan komentar para members mengalir menghiasi dinding grup. Sejak pukul 17.00 Wita dukungan sudah mulai terlihat. Ditandai dengan postingan mengajak memberi dukungan dan pemberiatahuan jadwal Azizah bersaing. Hingga pukul 02.00 Wita, dinding grup yang beranggota sementara 23 ribu orang lebih masih mengalir dengan ucapan selamat.
Tiga juri yang memenangkan Azizah dengan tiga bintang adalah Iyet Bustami, Kriwil dan Denada. Padahal sebelumnya lima peserta secara dramatis disingkirkan para juri yang terkenal sadis dan tanpa basa basi memberi penilaian.
Pada Konser Seleksi KDI tersebut, Azizah bersaing dengan 10 peserta yang memiliki suara bagus. Namun demikian mesti ada dua peserta yang dipilih. Azizah bersama Nurma akhirnya mendapat tiket emas dan berpeluang menjadi bintang KDI. Menurut Juri, vokal Azizah meiiliki suara berkarakter dan pantas untuk menempati panggung KDI. Ya, selamat datang di kerajaan dangdut Indonesia. Sukses buat Azizah di babak selanjutnya!
Video Azizah yang membungkan para juri:
![]() |
| Azizah di MNCTv, foto: Emonk |
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 02:41 0 comments
Label: Berita
Berbagi Kasih Bersama Komunitas Interisti Maumere
Anak-anak Panti Asuhan Stella Maris Nangahure, Kabupaten Sikka Minggu (15 Maret 2015) larut bahagia. Sekelompok pemuda yang tergabung dalam kelompok Interisti Maumere berbagi kasih dan kegembiraan bersama mereka. Kelompok Ultras Inter tersebut adalah fans klub Seri A Inter Milan Maka siang itu Deddy Ado, Rio Lameng, Cherry Newar, Fritz Baim, Boni da Silva, Herry Eji , Gustavo Romero dan lainnya selain datang dan menghibur juga memberikan bantuan berupa buku-buku tulis dan pelajaran, peralatan belajar, beras, pakaian, bahan-bahan sembako dan lainnya.
Sebelum kegiatan ini, Komunitas Interisti Maumere yang telah berumur setahun telah melakukan kegiatan sosial lainnya. Seperti Turnamen Forza Inter Cup di Wai Oti beberapa bulan lalu..
Chery Newar, Salah satu Interisti mengatakan dalam tahun ini akan ada sejumlah kegiatan sosial yang akan dilakukan para Inter Lovers di seputaran Kab. Sikka!
Selengkapnya...
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 02:36 0 comments
Label: Berita
Monday, 16 March 2015
Selamat Jalan Papache
Tembang Amang Bano ciptaan Papache dari album Mirchella 2 bikin merinding. Saat melepas kepergian sang seniman menuju tempat terakhir, lengkingan vokal Frenchis Bura membuat mata berkaca-kaca. Begitu pula ketika hymne Suryadikara yang dibawakan siswa/i SMAK Suryadikara Ende meratap ditengah ratusan pelayat. Isak tangis ditengah doa yang mengalir mewarnai pemakaman yang dibasahi rintik hujan.
Akhirnya Jhon Edwin Papache meninggalkan kita semua. Seniman, kamerawan, penulis naskah, fotografer, penyiar dan pembuat filem dokumenter, pencipta, arranger dan penyanyi lagu daerah yang dekat di hati masyarakat Sikka, hari ini, Minggu 15 Maret 2015 benar-benar pergi.
Balutan bendera Kuning putih pada peti yang diusung Alumni Syuriadikara Maumere menjadi saksi terakhir.
Kajang tak mampu menampung semua pelayat. Ratusan orang yang hendak memberikan penghormatan terakhir meluber hingga ke jalan raya. Meski tak mendapatkan tempat, semua mengikuti upacara pemakamna hingga usai yang turut disiarkan langsung oleh Radio Rogate FM ke seluruh Kabupaten Sikka.
Pemakaman yang direncanakan pukul 10.00 wita dgn misa requiem di Katedral St. Yoseph Maumere dimajukan lebih awal pukul 08.00 Wita di rumah duka Misir Selatan, Kelurahan Nangalimang karena kondisi jenazah.
Di antara pelayat ada yang menitikan air mata kala putranya yang masih duduk di kelas 6 SD berjanji akan meneruskan karya sang ayah yang tersimpan dalam studio mini yang brdiri dibelakang rumah.
Saya sendiri terakhir bertemu Om Papache beberapa bulan lalu. Ketika itu dia memperlihatkan sejumlah proyek musik dan video yang sedang digarap dan hampir usai. Pada saaat itu pula dia memberikan saya hadiah sebuah album Terminal 6 yang berjudul " SAWE NAN BA'A".
Ya semua telah berkhir abang, ternyata album tersebut memang menjadi album terakhir beliau di jagat musik daerah Nian Sikka...
Selamat Jalan......Selamat Jalan..SENIMAN!!
(ossrebong)
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 00:40 0 comments
Label: Berita , SerBa sErBi..
Papache Memulai Rekaman Bersama Mirchella
Tahun 1995 adalah awal dimana Papache memulai masuk dapur rekaman. Bersama Anto Theysen dan Roy Breckmans ketiganya membentuk Mirchella dan menelurkan album Mirchella I dan Mirchella II. Kebanyakan lagu-lagu tersebut merupakan ciptaan sendiri seperti Heret Inang Lau Seka, Nai One atau lagu-lagu yang didaur ulang dari lagu rakyat misalnya Tina Le (Flotim) dan Jong Bura.
Saat itulah Papache memulai menciptakan lagu tanpa henti. Setiap moment, mantan penyiar Radio Pemerintah Daerah (RPD) Sikka ini mengaktualkannya didalam musik. Tak lupa video clip-nya yg mengandung unsur-unsur jenaka.
Untuk proyek rekaman yang saat itu peralatannya masih minim di Maumere, mereka mesti menyelesaikan di Ende, Untungnya ada rekan yang turut andil ketika itu. Beliau adalah Joe Bogar (Joe Roses) selaku produser yang amat antusias memberikan motivasi dan dukungan.
Proyek rekaman pita kaset tersebut juga menggandeng musisi-musisi muda seperti Jonathan Nathan, Beba, dan Mario Marcello. Tak lupa bintang tamu Frencis Bura.
Cover album yang cukup manis dan bercorak reggae menggunakan model Lucky Reyner menjadi sampul album yang keren. Dan pastinya saat itu mereka telah mencolek pariwisata kita dengan mempromosikan pasir putih Kajuwulu sebagai latar sampul yang indah.
Seetelah Mirchella pudar ketiganya memilih jalan sendiri namun tetap bekerja sama dalam bermusik. Papache kemudian memulai proyek Album Terminal hingga saat terakhirnya. Dari situlah namanya kian dikenal luas selain sifat ramah dan humornya yang tiada habis.
Selamat Jalan Papache, Musik dan karyamu akan selalu dikenang.
Selengkapnya...
Proyek rekaman pita kaset tersebut juga menggandeng musisi-musisi muda seperti Jonathan Nathan, Beba, dan Mario Marcello. Tak lupa bintang tamu Frencis Bura.
Cover album yang cukup manis dan bercorak reggae menggunakan model Lucky Reyner menjadi sampul album yang keren. Dan pastinya saat itu mereka telah mencolek pariwisata kita dengan mempromosikan pasir putih Kajuwulu sebagai latar sampul yang indah.
Seetelah Mirchella pudar ketiganya memilih jalan sendiri namun tetap bekerja sama dalam bermusik. Papache kemudian memulai proyek Album Terminal hingga saat terakhirnya. Dari situlah namanya kian dikenal luas selain sifat ramah dan humornya yang tiada habis.
Selamat Jalan Papache, Musik dan karyamu akan selalu dikenang.
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 00:30 0 comments
Label: SerBa sErBi..





































