Thursday, 13 June 2013
TAUFIQ KIEMAS dan KUALITAS LAYANAN KESEHATAN KITA
Diposkan oleh Megu Nora Au di 09:13 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..
Sunday, 21 April 2013
SEGURAT OPINI TENTANG SOSOK KARTINI.
Oleh: Santi Sima
Diposkan oleh Megu Nora Au di 11:07 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..
Wednesday, 26 October 2011
Mbolaso, Palue
Ternyata masih ada satu masyarakat yang juga memiliki kata khusus untuk mengungkapkan rasa terima kasih, yakni bahasa masyarakat pulau Palue. Kata untuk itu adalah mbolaso. Tentu saja, ketiadaan kata terima kasih dalam bahasa-bahasa lain tidak berarti bahwa masyarakat tersebut tidak tahu berterima kasih. Mereka mengungkapkan rasa syukur mereka tidak dalam kata tetapi dalam sikap tubuh atau dalam bentuk pemberian balik.
Orang Palue menyatakan terima kasihnya baik dalam sikap maupun dalam kata mbolaso. Mereka berterima kasih untuk berbagai macam hal, juga untuk kesediaan orang bertamu di rumah mereka. Kedermawanan menerima tamu tampaknya merupakan sebuah keutamaan warga pulau Palue.
Sebagaimana dikatakan seorang warga pada kesempatan perpisahan dengan sekelompok mahasiswa/i Universitas Indonesia (UI) yang ber-K2N di Kampung Rokirole, orang Palue memang mudah menerima tamu, tetapi mereka merasa sangat berat melepaskan tamu. Menerima tamu merupakan sebuah penghargaan, dan melepaskan tamu sering disertai rasa sedih.
Boleh jadi, pulau yang didiami para pelaut tangguh ini memang tidak selalu merupakan tempat yang sering mendapat kunjungan para pejabat. Palue sering dikonotasikan dengan kekeringan dan ketandusan, tanpa sumber air minum. Orang mencemaskan akan minum apa dan bisa mandi berapa kali. Perjalanan ke sana berbahaya. Dan bayangan tentang ini diperkuat dengan tenggelamnya kapal motor Karya Pinang pada Oktober 2010. Orang semakin enggan bepergian ke Palue. Tidak terkecuali para pejabat dan petugas negara yang pekerjaannya adalah membangun masyarakat Indonesia.
Namun, sebenarnya Palue tidak seperti yang ditakuti dalam bayangan. Sudah sejak zaman dulu orang Palue memiliki kecerdasan untuk mendapat air, entah dari batang pisang dan pohon ara, maupun dengan menampung air hujan serta menggali beberapa sumur di wilayah pantai.
Air memang sesuatu yang sangat berharga, tetapi orang tidak perlu mati kekeringan di pulau ini. Pelayaran ke Palue, sebagaimana pelayaran ke pulau-pulau kecil lainnya, memang selalu mengandung risiko. Memang kapal-kapal motor yang melayari rute Maumere-Palue perlu terus dibenahi dan dilengkapi dengan peralatan keselamatan, namun perjalanan ke dan dari Palue bukanlah pelayaran menyongsong maut.
Karena berbagai gambaran yang keliru, Palue, meski tidak perlu disebut tertinggal, namun agaknya gampang dilupakan dan mudah diabaikan. Hal ini tampak dalam beberapa hal. Pertama, soal nama pada peta. Ternyata, paling kurang terdapat tiga nama pada tiga peta berbeda. Ketika berlayar bersama rombongan mahasiswa/i UI ke Palue, pada peta pelaut yang ditunjukkan kepada saya di ruang kapten kapal TNI AL Teluk Mandar, nama yang tertera adalah Pulau Raja (Palue).
Kemudian saya mendapat penjelasan, bahwa nama ini digunakan pemerintah kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Pada pulau itu, hanya dituliskan dua nama tempat, yaitu Labuhan Boko dan Mage. Kedua nama tempat ini ternyata tidak lazim malah tidak dikenal oleh beberapa orang muda Palue dan orang-orang yang berkarya di pulau ini. Peta ini menggunakan nama tempat yang tidak populer di kalangan warga.
Nama lain untuk pulau ini ditemukan pada peta seluruh Indonesia yang cukup baru yang memaparkan 33 propinsi Indonesia. Pada peta yang digantung pada kantor desa Ladolaka, di Palue, nama yang digunakan adalah Paloe. Varian ketiga adalah Palue, yang dapat dibaca pada peta khusus Propinsi NTT. Inilah nama yang digunakan warga secara populer.
Boleh jadi, nasib yang sama dialami juga oleh pulau-pulau kecil lainnya di wilayah ini. Mestinya menjadi tugas pemerintah kabupaten atau propinsi agar secara resmi pulau ini ditulis pada peta dengan nama baku yang digunakan oleh warga setempat.
Kedua, proyek yang mudah diterlantarkan.
Di pantai Uwa yang merupakan pelabuhan utama dan pintu masuk Palue, terdapat sebuah proyek yang belum selesai. Anehnya, tidak ada papan nama proyek tersebut. Warga tidak pernah dapat mengetahui secara terbuka data-data penting terkait proyek tersebut. Namun, berdasarkan informasi lepas yang dihimpun warga, proyek tersebut adalah pembangunan tambatan perahu yang ditangani seorang kontraktor dari Maumere dan sudah harus selesai. Kontraktor tersebut menangani beberapa proyek pembangunan lain di Palue.
Anehnya, demikian keterangan warga, pada kesempatan kunjungan anggota DPRD Sikka beberapa waktu lalu, saat ditanya warga mengenai proyek yang terkesan tidak selesai tersebut, seorang anggota DPRD menjawab dengan mengatakan bahwa kekurangan pada proyek yang satu ini tidak perlu dibesar-besarkan karena proyek lain yang ditangani kontraktor bersangkutan telah dilaksanakan dengan baik.
Argumentasi ini menunjukkan bahwa si wakil rakyat merendahkan dan menganggap remeh warga yang dikiranya mudah dibodohi. Mestinya, instansi yang bertanggungjawab atas pelaksanaan proyek tersebut bertindak agar uang negara tidak disia-siakan di pulau yang dikira berada di luar jangkauan perhatian umum, dan agar warga tidak dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian.
Ketiga, bantuan bencana yang tak kunjung tiba. Pada hari Kamis, 26 Mei 2011 yang lalu terjadi gempa bumi yang meninggalkan bekas kerusakan di Palue. Berdasarkan catatan yang dibuat dan dilaporkan Camat Palue, lebih dari 50 rumah mengalami kerusakan berat, yang rusak ringan sebanyak sekitar 150 rumah.
Lebih dari 60 bak penampung air hujan warga mengalami kerusakan berat. Selain itu, masih ada sejumlah kerugian lain seperti kerusakan fasilitas umum. Beberapa hari setelah gempa pemerintah kecamatan telah menyampaikan laporan kepada pemerintah kabupaten Sikka mengenai kerusakan tersebut. Namun, sampai sekarang belum ada bantuan yang diberikan kepada warga Palue.
Warga yang hidup dalam kerukunan kampung tentu memiliki kepedulian saling membantu dalam situasi darurat. Orang Palue hidup dalam solidaritas yang kuat satu dengan yang lain. Namun, tangan mereka sangat terbatas. Bantuan yang dapat berikan kepada sesamanya yang menderita pun tentu saja serba terbatas. Sebab itu, penyaluran dana bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumah atau membangun kembali bak penampung air hujan dirasakan sebagai sebuah kebutuhan mendesak. Bak penampung air hujan sangat vital bagi orang-orang yang hidup di Pulau tanpa mata air ini.
![]() | ![]() |
| Upacara Pati Karapau di Palue Foto by: Hiller Ratu |
Tetapi, Palue memang terlampau mudah dilupakan, apalagi di tengah hiruk pikuk permasalahan dana bantuan sosial yang sedang menjadi berita utama di kabupaten Sikka. Sangat boleh jadi, dana bantuan sosial telah habis terkuras untuk segala sesuatu yang tidak sosial, sehingga warga Palue yang tertimpa bencana ditinggal sendirian.
Mestinya, ketika sebuah kabupaten tidak sanggup membantu warga yang tertimpa bencana karena kesulitan keuangan, pemerintah pada tingkat di atas harus turun tangan. Tentu saja, apabila pemerintah kabupaten melaporkan bencana tersebut kepada pihak yang di atasnya. Kalau hingga kini warga tetap tinggal dalam penantian akan bantuan, apakah ini berarti mereka menjadi korban macetnya komunikasi pemerintah kabupaten dengan pihak-pihak yang di atasnya?
Orang Palue punya kata untuk terima kasih. Mbolaso, tidak hanya kata, itu juga sikap. Mereka pasti menunjukkan sikap dan menyampaikan mbolaso kepada pemerintah yang memiliki kepedulian terhadap mereka dan tidak terlampau mudah melupakan mereka. *(PosKupang)
Oleh: Paul Kleden, SVD
Dosen STFK Ledalero
foto utama: Paul Budi Kleden, SVD (Pos Kupang)
Diposkan oleh Megu Nora Au di 04:56 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..
Tuesday, 8 March 2011
Maumere, Mutiara Yang Terabaikan…
![]() | ![]() |
Kabupaten Sikka yang terletak di Bagian Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur, adalah gambaran dari tidak becusnya pemangku kebijakan dalam mengimplementasikan ide-idenya, dimana rakyat dikebiri atas hak hidupnya, jaminan sebagai warga Negara yang dinaungi dan dijamin kemerdekaanya dalam undang undang dasar 1945 jelas tidak terbukti.
Sementara itu, keberadan Pemerintah Daerah Kabupaten sebagai pemegang kedaulatan secara otonom tidak menunjukan konsep jelas tentang pembangunan kota ini, dengan pelbagai potensi yang ada, sementara sejak kali pertama saya datang Potensi Kabupaten Sikka yang saya kunjungi adalah empat desa yang berada di wilayah kecamatan Mapitara, satunya adalah Desa Hebing, masyarakatnya yang masih natural justru memiliki daya tarik tersendiri di tunjang dengan alamnya yang masih elok, serta tidak tercemar polusi, ini justru daya pikat tersendiri apabila Dinas Pariwisata setempat mampu membaca potensi untuk dikembangkan demi pembangunan Sikka.
Sesuai catatan Maumere merupakan kota pelabuhan utama di Kabupaten Sikka yang berada di antara wilayah Flores Tengah dengan Kabupaten Larantuka yang berada di Timur. Nama Sikka berasal dari nama sebuah desa yang berada di pantai Selatan Flores yang dulu pernah dikuasai penguasa Portugis dan keturunan pada abad ke-17 dan abad ke-20. Maumere telah menjadi pusat kegiatan kaum misionaris asal Portugis dalam menyebarkan agama Kristen sejak mereka tiba di wilayah ini sekitar 400 tahun yang lalu. Pada bulan Desember 1992, Maumere diguncang gempa hebat yang menghancurkan sebagian kota ini disusul gelombang pasang setinggi 20 meter yang menewaskan ribuan orang.
Maumere secara geografis terletak hanya 30 km dari pusat gempa dan saat ini Maumere sudah dibangun kembali dari kehancuran total akibat gempa bumi. Bagi wisatawan yang berminat dengan kain tenun ikat maka Maumere merupakan salah satu pusat produksi tenun ikat. Wisatawan yang datang ke Maumere umumnya hanya untuk transit dan beristirahat sejenak sebelum melalui melanjutkan perjalanan menuju ke beberapa tempat yang menarik yang terdapat di sekitar Maumere.
Sementara itu Maumere yang memiliki potensi sedemikan besar mulai dari gunung, esotika alam lautnya, serta village heritage semestinya dapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Sikka, bila saja pemerintah Kabupaten Sikka tidak bingung dalam menggarap potensi penyerapan PAD tentunya mereka akan mengembangkan potensi wisata, kedatangan turis manca yang sempat berbincang dengan saya tentang Sikka, ternyata tak hanya tertarik pada potensi alamnya namun mereka juga tertarik dengan angkutan tradisional yang melayani rute dari Maumere – Palue.
Pada jarak 13 km di Timur Maumere terdapat Waiara yang merupakan titik pangkal untuk menuju ke taman laut Maumere yang dulu pernah menjadi salah satu lokasi penyelaman yang paling indah di Indonesia sebelum hancur akibat gempa bumi tahun 1992, namun sesuai dengan pernyataan Simon Subandi, saat berbincang dengan Suara Flores, ini masih menjadi kontradiksi dalam pembahasan RAPBD pada 2011.
Namun demikian lokasi terumbu karang di sekitar Pulau Pemana di Pulau Besar di dekat Waiara masih dalam kondisi yang rusak akibat banyaknya pengeboman sehingga tak lagi menarik minat penyelam.
Di Barat Laut Waiterang terdapat Gunung Egon (1.703 m) yang merupakan gunung vulkanis yang mengeluarkan asap. Gunung ini dapat didaki dari Blidit dalam waktu kurang dari tiga jam. Blidit terletak 6 km dari Waiterang dengan menumpang angkutan umum. Namun hanya satu Pos pemantau aktifitas gunung ini masih menggunakan listrik milik warga, selain beberapa battery yang memang digunakan sebagai pembangkit alat pendeteksi gempa, padahal bahaya sudah di depan mata.
Sekitar 19 km dari Maumere, di jalan raya yang menuju ke Ende, terdapat museum yang memiliki koleksi benda-benda bersejarah asal Flores dan juga koleksi kain tenunan ikat langka, sayangnya dari pernyataan Viktor Nekur, warga setempat menyatakan bahwa “ banyaknya gading museum yang saat ini hilang, atau berganti dengan replika, seperti kejadian di Museum Solo,”katanya.
Sekitar 45 menit perjalanan dengan menumpang angkutan umum dari Maumere (27 km) terdapat sentra produksi tenun ikat lainnya yaitu di Sikka. Kota ini dulunya, pada abad ke-17, merupakan pusat pemukiman orang Portugis di Flores. Sebuah gereja tua yang dibangun pada tahun 1899 terdapat di Sikka.
Sekitar 4 km dari Sikka terdapat Lela yang merupakan tempat di mana banyak ditemui bangunan tua peninggalan kolonial dan juga sentra kerajinan tenun ikat. Lela memiliki kawasan pantai dengan pasirnya berwarna hitam.
Pada jarak 10 km di Timur Maumere wisatawan akan tiba di Geliting yang mana pada setiap hari Jum’at digelar pasar tradisional yang dikunjungi ribuan orang yang datang dari berbagai desa di wilayah ini. Di pasar ini banyak dijual aneka kain tenun ikat.
Sekitar 10 km di Timur Laut Wodong terdapat Nangahale yang merupakan desa yang cukup menarik karena masyarakat di sini pembuat kapal tradisional. Jalan yang menuju ke Nangahale akan melalui Patiahu, 33 km dari Maumere, yang merupakan kawasan pantai yang indah dengan pasirnya yang putih. Sayangnya dari pemerintah sendiri tidak memiliki banyak anggaran untuk memoles kecantikan Maumere yang berada di pulau Flores ini.
Bila saja konsep marhaenisme dijalankan pemerintah sebagai soko guru kemandirian, untuk menunjang perekonomian dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah tentunya tidak justru menunggu banyak masyarakat yang sakit untuk menunjang pembangunan, payah.
Bila saja semua komponen pemangku jabatan yang ada mau untuk terbuka dan mengakui kekurangannya atas sumber daya manusia yang dimiliki, mungkin saja saran dan kritik juga masukan demi kemajuan Sikka bisa tergarap dengan apik (Wawan Nike/ Suara Flores).
*Pemerhati Sosial, tinggal di Maumere
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 01:32 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..
Tuesday, 23 November 2010
Contoh Lamaran untuk Peserta Formasi Tenaga Teknis
Diposkan oleh Megu Nora Au di 21:34 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..
Monday, 11 October 2010
Penghijauan: Ini Perkara Cara Hidup!
Anda pernah pergi ke Pomat? Kalau pada hari-hari ini Anda kesana, jalan menuju kampung itu hamparan gersang, ilalang dipinggir jalan merana, tak ada hutan. Cuaca panas. Pohon-pohon yang biasa bertahan tumbuh dipadang seperti kesambi dan reo, banyak yang sudah ditebang. Komunitas Pomat terletak dipesisir utara Pulau Flores, sekitar 6 Km dari pusat Kota Maumere ke arah barat. Ia adalah bagian dari wilayah administrasi Kecamatan Alok Barat. Pemukiman dengan 33 rumah dan kawasan kebun di daerah perbukitan ini adalah penyanggah daerah pantai yang padat penduduk. Tak adanya hutan, terabaikannya konservasi menciptakan erosi dan banjir yang mengancam anggota komunitas itu sendiri dan juga pemukiman padat di dataran rendah.
Selain itu warga butuh kayu api, tak satupun keluarga yang menggunakan kompor minyak. Jangan tanya tentang kompor gas. Itu barang asing. Walaupun di Pomat hanya ada seorang warga yang membakar batu merah untuk dijual, tetapi di wilayah Kecamatan Alok Barat usaha ini jumlahnya puluhan. Ironisnya, usaha ini memerlukan kayu api dalam jumlah yang sangat banyak. Artinya pepohonan akan ditebang, terus ditebang.
Kisah Pomat adalah juga kisah tentang banyak kampung dipesisir utara Sikka. Masalahnya serius. Didaerah yang kering, pohon-pohon perlu waktu lebih lama untuk tumbuh. Ketika lahan baru dibakar, api sering merambat direrumputan kering. Tak terkendali.
“Hutan harus dilindungi, lingkungan alam harus dikonservasi.” Ini suara yang berseru-seru dipadang gurun. Tapi ada sahutan yang sama kerasnya.
“Bukankah ditanah kering dan dipadang tandus itu ada banyak warga yang perlu makan?”
Mana yang harus didahulukan, menyelamatkan lingkungan atau memenuhi kebutuhan dasar warga hari ini? Orang biasa menyebut hari ini sebagai perdebatan ekologi versus ekonomi. Apapun perdebatannya, lingkungan harus dikonservasi, kebutuhan warga harus dipenuhi. Kompromi kreatif diantara keduanya adalah keharusan.
Nyatanya, penghijauan dan konservasi tanah sudah lama dijalankan. Biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit. Apakah ada hasil? “Coba periksa di Kantor Dinas Kehutanan, jangan-jangan akumulasi luas wilayah proyek penghijauan sudah lebih luas dari wilayah kabupaten ini,” kata seorang PPL yang sudah 29 tahun bekerja di Kabupaten Sikka. Ini adalah kata kegaulan dari orang dalam pemerintahan, bukan orang luar.
Tentu omong kosong kalau bilang hasilnya seratus persen nihil. Tetapi yang jelas wiayah Sikka makin tandus. Menagapa? Namanya saja proyek, yang penting dijalankan. Berhasil atau tidak adalah soal nanti. Rakyat dipaksa berpartisipasi pada proyek yang didropkan dari atas. Mereka dianggap sebagai petani-petani bodoh, karenanya orang luar didatangkan sebagai guru. Ini adalah penjungkirbalikan pada prinsip community development (pengembangan masyarakat) bahwa pemerintah atau NGO yang harus berpartisipasi pada proyeknya rakyat, bukan sebaliknya.
Bibit pohon didistribusi. Sampai atau tidak ke petani tidak penting. Yang penting sudah dibagikan. Tak usah ditanya macam-macam entahkah ditanam atau tidak. Kalau ditanam jangan ditanya tentang perawatan pada tahun-tahun berikutnya; yang penting ramai-ramai menanam. Tak mengherankan kalau kita tak penah tahu, misalnya sesudah 5 tahun, berapa dari 1000 anakan pohon yang ditanam itu tumbuh dan berkembang baik. Makin keren kalau proyek tadi diberitakan di koran, plus foto-foto, apalagi dihalaman pertama. Mungkin judul genitnya kira-kira begini, “Yuk, penghijauan!”
Penghijauan dan tanam menanam seumumnya adalah soal cara hidup (way of life). Ini kata Robert A. De J. Hart dalam Forest Gardening, 1991. Ia bukan sekedar urusan proyek-proyek. Karena itu ia tak bisa dijalankan secara asal-asalan. Mengapa tak dicoba ciptakan hutan pekarangan dan hutan desa sebagai bagian dari suatu cara hidup – bukan proyek – yang diilhami oleh rasa hormat dan syukur atas kebaikan alam?(Kabar Charitas)
Diposkan oleh Megu Nora Au di 02:45 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..
Sunday, 15 August 2010
Plus Minus Aktivitas Pelabuhan Laut L.Say Maumere
Bano naha tahi blino gawi naha lalang woer. Dari human social being, ungkapan ini menunjukkan kesetiaan pelayanan pengusaha pelayaran bagi masyarakat Kabupaten Sikka lewat kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Sadang Bui Maumere.
Sekaligus pada saat yang sama tersirat makna ajakan untuk bepergian mencari hidup dengan aman dan damai. Sangatlah tidak mungkin bila sebuah kapal yang hendak berlabuh tanpa pelabuhan, juga tidak mungkin jika seseorang hendak bepergian melalui laut kalau tidak menggunakan kapal sebagai sarana penyeberangan. Kini Sadang Bui tinggalah sebuah nama kenangan.
Terkait Pelabuhan Laurent Say Maumere, perlu ada catatan yang mesti dibanggakan tetapi ada juga yang harus dibenahi. Dari keunggulan, Pelabuhan Laut Laurent Say Maumere, secara investigatif dapat ditarik kesan bahwa Pelabuhan Laurent Say Maumere tengah menjadi pelabuhan yang sangat ramai di daratan Flores dan Lembata. Keramaian ini dapat disaksikan pada saat kedatangan dan keberangkatan kapal dari dan ke Maumere.
![]() | ![]() |
Ada berbagai kapal penyeberangan dengan jenis dan tipe serta angkutan masing-masing, menyinggahi Pelabuhan Laurent Say Maumere dengan bangga. Pelabuhan L.Say juga kini tengah menjadi pelabuhan peti kemas yang kebanyakan didatangkan dari Pulau Jawa.
Ada berbagai etnis manusia yang datang dan pergi dari berbagai arah melalui pelabuhan laut Maumere. Ada para tamu domestik maupun mancanegara yang ingin menikmati keindahan wilayah yang pernah dijajah oleh Belanda dan Portugal ini melalui pintu L. Say Maumere.
Ada yang sekedar datang refresing, tetapi juga ada yang ingin melihat peluang investasi di Nian Tanah Sikka. Selain itu, dari Pelabuhan L. Say Maumere, para tamu dapat menikmati keindahan laut di pagi hari maupun sore hari.
Di depannya tertahta kedahsyatan yang tak ternilai lewat bentangan laut Teluk Maumere yang dipagari oleh berbagai pulau kecil milik wilayah Kabupaten Sikka.
Seirama keindahan permukaan laut teluk Maumere, di dalam rahimnya mengandung berbagai keindahan taman laut yang tak sebanding dengan perairan lain di wilayah indonesia. Karena ada berbagai biota laut yang tidak ditemukan di wilayah lain di Indoneseia.
Terpancang pula berbagai restoran yang sepanjang latar belakang areal Pelabuhan L.Say dengan sajian lezat masakan berselerah tinggi namun harganya mudah dijangkau. Sejenak mengarah ke luar dari Pelabuhan L.Say Maumere, Kabupaten Sikka menyajikan berbagai keunikan wisata antara lain pusat siara religi di Kampung Sikka, kampung Kerajaan Sikka dengan keunikan ritual religi warisan Portugis, Logu Senhor yang dilaksanakan setiap tahun pada Jumad Agung, juga wisata religi ke Bukit Nilo dimana terdapat Patung Bunda Maria setinggi 16 meter.
Mengarah keselatan disajiakan keindahan pantai memeluk Watu Cruz Bola peninggalan Misionaris Dominikan, kubur Batu Nua Ria, Paga Beach, Doreng Beach, Pantai Koka yang penuh keindahan namun tak perna diperhatikan penataannya.
Ritual Pire Tanah di wilayah Kecamatan Mapitara dan Tarian Bebing di Hokor. Ada pesta Gareng Lamen di wilayah Tana Ai, juga kesegaran Pantai Wair Terang di wilayah Tana Ai.
Ada Museum Blikon Blewut di Nita.
Seirama sapuan mata, disajikan potensi pendakian menujuh puncak Gunung Egon dengan sajian kesejukan hutan tropis di sekitarnya sambil menikmati sajian wisata air panas di lereng Gunung Egon yang siap memberi kehangatan bagi para pengunjung.
Jika ingin berhenti dan melepas dahaga sejenak, Maumere kini telah menyajikan berbagai hotel dan restoran yang siap memanjakan para pengunjung. Pelabuhan L.Say Maumere juga dikenal sebagai pelabuhan yang dijaga ketat oleh aparat keamanan sehingga menambah kenyamanan di Pelabuhan L.Say Maumere.
Seiring peluang keindahan dan keamanan yang kita miliki, tidak terpungkiri lagi berbagai kejadian luar biasa yang menjadi tantangan yang perlu kita benahi bersama.
Dari pintu masuk Pelabuhan L.Say Maumere terungkap berbagai pungutan yang dilakoni oleh beberapa orang yang berseragam lengkap. Tapi pemungutan uang tersebut tanpa memberikan karcis masuk kepada pengguna jasa pelabuhan.
Pertanyaannya, uang-uang itu dikemanakan? Apakah ini bukan bagian dari korupsi? Apakah ini cara kita melayani tamu?
Sesampai di dalam, pengawasan keamanan dijaga ketat oleh TNI dan POLRI. Namun sayangnya, para penegak hukum ini sering bertindak di luar jalur hukum.
Pernah terjadi seorang wartawan Televisi atas nama Roby Moy di cekik oleh pihak keamanan ketika hendak meliput berita TKI ilegal yang hendak diberangkatkan dari Maumere.
Hal senada juga terjadi pada beberapa waktu lalu, ketika beberapa warga dan penulis ingin menonton seorang anggota TNI yang sedang memeriksa seorang anak muda yang kedapatan membawa moke dari jarak dekat, oknum TNI itu lalu dengan sikap dan nada yang bringas mengusir para penonton, katanya, “Kamu buat apa di sini? Pergi dari sini! Jangan lihat!”.
Seketika itu juga para penonton mundur tanpa kata. Sesaat kemudian, ada seorang wartawan yang sedang berada di situ memperkenalkan diri sambil bertanya tentang kejadian tersebut, langsung membuat sang tentara itu kecut lalu membiarkan korban pergi setelah menyerahkan dua botol moke kepada seorang tentara lain.
Pertanyaannya, mengapa warga diusir ketika hendak menyaksikan pemeriksaan itu? Bukankah dengan menyaksikan hal tersebut, dapat membawa efek jerah kepada warga lain untuk tidak lagi membawa moke ketika memasuki Pelabuhan Laut L.Say Maumere? Lalu setelah di sita, moke itu nanti dikemanakan?
Pada sisi lain, pemeriksaan barang bawaan itu hanya dilakukan pada masyarakat kecil pejalan kaki yang hendak masuk ke dalam ruang tunggu pelabuhan Pelabuhan L.Say. Sedangkan para pemilik mobil dengan barang angkutan tidak diperiksa, malahan dibiarkan masuk begitu saja.
Pertanyaannya, apakah ada aturan yang memuat tentang pemeriksaan hanya dilakukan kepada masyarakat pejalan kaki? Dimanakah keadilan?
Bagaimana dengan nasib para porter pelabuhan yang mencari nafka dari mengangkat barang bawaan penumpang kalau mobil didijinkan masuk langsung ke dalam?
Kemudian pada kisah lain, selayaknya tamu pasti dijemput. Tetapi yang terjadi di Pelabuhan Laut L.Say Maumere adalah perebutan penumpang. Hal yang tidak ramah ini dilakukan oleh para penjasa angkutan dalam kota maupun luar kota.
Akibatnya, polisi harus ekstra keras mengamankan para tamu. Lebih sadis lagi, para tamu pengguna jasa transportasi darat diminta dengan harga yang sangat tinggi. Tarif angkutan dalam kota saja Rp 25.000/orang di luar barang bawaan. Hal ini perna dialami oleh penulis sendiri dari Pelabuhan Laut L.Say Maumere, menuju kompleks Lembaga Pemasyarakatan Maumer Pelabuhan Laut L.Say.
Selain itu, ada pula bebagai aktivitas tawar menawar harga angkutan di Pelabuhan Laut L.Say Maumere. Pertanyaanya, berapakah tarif yang sebenarnya dari pelabuhan laut Maumere?
Sekedar pinjam kata, tidak bermaksud menggurui, penulis menawarkan beberapa solusi, untuk tidak terjadi pungutan liar di depan pintu masuk pelabuhan sadang bui Maumere, diharapkan sebaiknya ditempatkan para petugas yang profesional dan tahu akan aturan dimaksud juga mesti diberikan gaji yang cukup.
Jangan sampai pungutan itu dilakukan karena SDM-nya kurang prof dan gaji yang dibayar tidak cukup. Selanjutnya di bagian dalam, para petugas keamanan sebelum diterjunkan ke pelabuhan harus dibekali pula penegetahuan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Yah, paling kurang tahu sedikit tentang Hak Asasi Manusia (HAM).
Bisa juga orang bertindak demikian karena kurang paham soal HAM. Sedangkan bagi para penawar jasa angkutan, perlu dibekali dengan berbagai aturan tentang pelayanan di Pelabuhan Laut L.Say Maumere. Sosialisasi seperti ini harus dijalankan secara kontinyu agar bisa membawa kesadaran.
Sementara pada pintu keluar dan pintu masuk Pelabuhan Laut L.Say Maumere, diharapkan agar dipajang daftar tarif angkutan darat dari dan ke Pelabuhan Laut L.Say Maumere, agar para penumpang tidak tertipu.
Diduga kuat, kejadian pemberlakuan tarif liar tersebut karena tidak ada aturan yang pasti soal tarif atau kurang adanya pengawasan yang ketat dari pihak berwajib.
Kepada masyarakat yang mengalami korban kekerasan, pemungutan liar dan atau dikenakan tarif liar sebaiknya menghubungi pihak kepolisian supaya ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku.
Di tengah geliat yang terjadi di Pelabuhan Laut L.Say, Pemda Kabupaten Sikka telah membaptis ulang nama Pelabuhan Sadang Bui Maumere menjadi Pelabuhan Laurensius Say mantan Bupati Sikka dua periode (1967-1977) pada tanggal 09-08-2010 lalu.
Terlepas dari pertimbangan apa soal pergantian nama tersebut. Hanya seberkas tanya tanpa suara, apakah kejadian luar biasa di atas menjadi persembahan istimewa bagi seorang Laurensius Say? Mari kita berdiskusi!
Penulis adalah aktivis pendidikan, peminat masalah sosial; tinggal dan bekerja di MaumereDiposkan oleh Megu Nora Au di 02:33 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..
Wednesday, 16 June 2010
Senandung Bisu Tanah Maumere 1965
LIPUTAN KHUSUS
Ahmad Yunus
“Lagu ini diiringi dengan tabuh. Saya bisa mainkannya,” Katanya kepada saya. Udara terasa dingin. Nyamuk-nyamuk mulai menyedot darah di betis dan tangan. Leonardo Lidi memakai pakaian adat. Atasannya berwarna biru menyala dan memakai sarung tenun ikat.
Saya tidak mengerti dengan liriknya. Ia seperti merapal hendak menceritakan sesuatu. Saya mendengar lantunan dari suaranya yang tipis. Matanya menerawang menembus gelapnya kebun jambu mete. Lagu ini judulnya, Wohe Hoer atau Ratapan. Ia buat pada tahun 1965. Mengenang tragedi pembantaian orang-orang kampung yang dituduh sebagai anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia atau PKI.
“Tangan mereka diikat dan kemudian dipotong kepalanya,” katanya. Masyarakat ketakutan. Banyak yang melarikan diri ke hutan-hutan. Sembunyi dari kejaran tentara. Masyarakat tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.
“Mereka tidak bersalah. Dan tidak ikut-ikutan politik. Mereka hanya petani biasa,” katanya. Tak jelas mengapa mereka diburu dan dibunuh. Tak ada pengadilan yang membuktikan mereka bersalah dan terlibat dengan PKI. Selain membantai dengan biadab, tentara juga membakar sekolah-sekolah umum.
Kini, Leonardo Lidi tinggal bersama suami dan kedua keponakannya. Rumahnya sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari bilah bambu. Lantai tanah. Tak ada listrik yang menerangi rumahnya.
Mereka tinggal di Kampung Wolon Ratet, sekitar 15 kilometer dari Maumere. Dari jalan utama, saya turun ke sebuah lembah. Banyak pohon jambu mete dan sudah menutupi tanah. Rumah tinggalnya jauh dari tetangga. Dari puncak terlihat laut Maumere. Dan awan gelap menggantung di langit.
Ia mengingat peristiwa pembantaian terjadi pada 14 November 1965. Tiga hari kemudian, ia membuat lirik untuk mengenang peristiwa hitam di tanah Flores. Kejadian pembantaian ini juga menyebar di kampung-kampung lainnya. Ia mendengar langsung dari orang-orang kampung lain yang selamat. Banyak korban yang dibuang ke laut. Termasuk dikumpulkan dalam satu lubang.
“Saya angkat doa. Baunya sudah saya cium. Bau orang mati, memang,” katanya.
Menurutnya, jauh hari sebelum pembantaian, ada yang mendata nama. Mereka menulis nama-nama yang menerima bantuan makanan pokok, seperti beras, jagung dan minyak tanah. Tak jelas siapa, mengapa dan tujuan apa mereka menerima bantuan itu. Termasuk nama yang memberikan bantuan makanan pokok. Daftar nama penerima ini yang kemudian menjadi sasaran pembantaian.
“Algojonya tidak boleh meneteskan air mata. Jika tidak, mereka sendiri menjadi korban pembantaian oleh tentara. Mereka potong kepala harus satu kali. Seperti potong kepala ayam,” kata Daniel David, warga dari Maumere. Di kampungnya sendiri, dari pengakuannya ada sekitar 500 orang yang mati.
David, membantu dan ikut memberdayakan ekonomi masyarakat di Maumere. Dari mulai tenun ikat alami, mendirikan galeri tenun hingga membangun koperasi simpan pinjam. Saya mengenalnya sekitar dua tahun yang lalu. Ketika tinggal di Maumere dan membantu sebuah lembaga swadaya masyarakat.
David membantu menerjemahkan lirik lagu ini secara harfiah. Bait tiap bait dari lirik lagu itu.
[14 November 65. Pater Bolen meninggalkan Flores. Suhu politik lagi tinggi. Ia pergi ke Jerman. Kemudian terjadi musibah. Masyarakat terpecah belah. Tidak tahu kemana. Tidak tahu pegangan hidup. Mereka pergi ke hutan-hutan. Untuk mencari keselamatan diri.
Kami sendiri. Tidak tahu berlindung ke mana. Tidak tahu arah. Hanya kepada pastor dan kepada Tuhan. Ini jalan satu-satunya. Kami tidak tahu berbuat salah apa. Kemana orang-orang dibawa.
Kepada masyarakat yang masih punya telinga untuk mendengar dan mata yang masih melihat. Tidak tahu kenapa orang-orang dimusnahkan. Kepada siapa kami mengadu. Hanya ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan].
“Apa ada yang mencatat dan melakukan penelitian soal peristiwa ini di Flores?,” tanya saya.
“Setahu saya tidak ada. Di Watublapi ada tugu untuk mengenang peristiwa itu. Tapi tidak ada catatan sejarahnya. Saya mendengar langsung cerita dari kakek. Termasuk dari algojonya yang tersisa. Dan masih ada yang hidup,” kata David.
Siapa sebenarnya algojo itu? Apakah ia memang seorang eksekutor? atau orang suruhan yang diperintah oleh tentara untuk melakukan sejumlah pembantaian? Apakah algojo itu seorang pelaku atau korban yang mengalami intimidasi dan teror juga dari tentara?
Saya dan David berjalan ke Watublapi sekitar 18 kilometer dari Maumere. Jalan aspal kecil. Kiri kanan tumbuh pohon cengkeh dan asam. Sepi dan tidak banyak kendaraan yang lewat. Kami naik motor menaiki daerah perbukitan. Gerimis turun dan udara jauh lebih dingin ketimbang di Maumere. Di Watublapi saya hendak bertemu dengan keluarga korban dan salahsatu eksekutornya.
Sebuah rumah kecil dan beberapa bunga hias tampak berjejer rapi di pekarangan. Rumah kecil dengan beberapa kursi kayu berada di beranda. Ini adalah kediaman Yan Jong. Seorang tokoh masyarakat dari Kanilima.
Paska proklamasi Indonesia tahun 1945 muncul istilah Kanilima. Singkatan dari KangaE, Nita dan Lio-Maumere. Mereka adalah warga masyarakat yang mendiami kerajaan Sikka dan kerajaan Nita. Warga masyarakat ini dibawah masa pemerintahan Raja Don Thomas (1925-1945).
Menurut Longginus Diogo, penulis buku "Kisah Kerajaan Tradisional Kangae Arade, Nian Ratu Tawa Tanah" (27/02/2009) mengatakan bahwa Kanilima adalah sebuah gerakan politis arus bawah. Mereka berjuang untuk membebaskan diri dari rezim feodal-otoriter. Membebaskan diri dari tindakan kekerasan, penindasan dan pemerasan. Kanilima hendak mengubah sistem pemerintahan dari dominasi Sikka agar lebih setara.
Gerakan ini muncul pada tahun 1947. Membangun basis dari satu desa ke desa lainnya. Beberapa tokoh masyarakat dari Kanilima ini antara lain barisan KangaE dipimpin Moan P. Y. Bapa dan Yan Jong, Barisan Nita dipimpin Guru Phiter Pedor dan Fr. Jati sedangkan barisan Lio Maumere dipimpin Guru Donatus Pale, G. Gego, P. Pango dan Frans Sari.
Orang-orang dari Sikka mayoritas menduduki posisi pemerintahan Raja Don Thomas. Kanilima menilai bahwa pemerintahan ini sisa bentukan dari Hindia Belanda. Ketegangan politik lokal ini kemudian pecah ketika terjadi peristiwa 1965. Tokoh Kanilima dari KangaE, Yan Jong dituduh sebagai komunis dan akhirnya meninggal dunia. Dan masyarakat di pedesaan yang menjadi basis Kanilima menjadi korban tuduhan komunis oleh pihak tentara.
Saya tidak menulis nama mereka yang menjadi korban dan eksekutornya. Saya mengantongi nama mereka. Namun mereka meminta agar saya tak menuliskannya. Keluarga dari Yan Jong, menilai peristiwa 65 sudah selesai.
“Itu masa gelap. Hukum tidak jalan. Cari jalan terang saja,” katanya kepada saya. Tubuhnya sudah ringkih. Tangannya bergetar dan bicaranya pelan. Tak mudah membangkitkan kembali ingatan pahit yang terjadi pada masa itu.
Keluarga korban memilih diam dan membenamkan ingatan pahit itu. Apalagi ketika masa Orde Baru dibawah Soeharto. Orang tak berani membicarakan tentang PKI. Apalagi mengusut kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh tentara. Dan keterlibatan Soeharto dalam peristiwa itu.
Soeharto menghanguskan setiap bentuk komunisme hingga akar-akarnya. Jutaan buku dan karya ia bakar. Tak berani ngomong. Apalagi menulis dari sudut pandang pribadi hingga era reformasi tiba. Dari 1998 hingga kini, banyak memoar yang kemudian terbit menjadi buku. Menceritakan secara detail mengenai pengalaman, ingatan dan pergulatan selama tirani Soeharto.
SAYA bertemu dengan banyak korban 65 di Bandung, Jakarta, Jogjakarta dan Semarang. Melakukan wawancara dan menulis tentang mereka. Ikut dalam diskusi sejarah dan mendengar banyak cerita. Mulai dari Oey Hay Djoen, elit PKI yang menguasai wacana ekonomi, Samsir Mohammad, sekretaris jenderal Barisan Tani Indonesia hingga anak keluarga dari Aidit.
Oey dan Samsir meninggal dunia ketika saya ikut dalam ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Saya akan mengenang kehangatan, minum kopi dan diskusi soal kebangsaan dan sejarah republik ini.
Banyak diantara mereka, ada yang mau berbicara apa adanya. Banyak juga yang sudah melupakan peristiwa pahit itu. Keluarga korban menuntut hak kepada negara untuk memulihkan nama mereka. Dan menuntut keadilan terhadap para pelaku yang melakukan kekerasan dan kejahatan hak azasi manusia. Namun hingga kini tak ada pengadilan mengenai kekerasan 65. Dan membuktikan pelaku utama yang bertanggung jawab terhadap kekerasan dan intimidasi peristiwa tersebut.
“Yan Jong memperjuangkan kecerdasan bagi orang-orang timur. Mendirikan banyak sekolah. Dia juga bukan orang PKI. Tapi ini politik, saya tidak tahu persisnya,” kata seorang eksekutor yang saya temui tak jauh dari rumah keluarga Yan Jong. Usianya sekitar 70 tahun. Telinganya sudah samar-samar. Ia berbicara keras dan lantang. Beberapa kali menunjukkan posisi korban ketika pembantaian berlangsung.
Ia mengingat peristiwa pembantaian itu terjadi pada Februari 1966. Maumere dilanda musim kering panjang. Banyak tanaman pangan yang gagal panen. Ia bertugas sebagai eksekutor atau algojo nomor dua atas perintah tentara. Tentara mengumpulkan 10 anak muda sebagai algojo.
Tentara itu memberikan perintah bagaimana cara melakukan pembantaian berupa potong kepala dengan parang, cara mengikat dan mengikuti kode-kode penyerbuan. Mereka akan menjadi korban yang sama jika para calon korban berhasil melepaskan diri. Tentara akan mengambil lima orang korban tambahan sebagai penggantinya.
“Satu saya dan empat sisanya adalah keluarga,” begitu ancam tentara. Mereka juga mendapatkan latihan bagaimana mengikuti prosedur penyergapan. Tentara memberikan aba-aba berupa teriakan “ANJING!” dan kemudian para eksekutor menjawab “GILA!”.
Tentara ini menyebutnya sebagai “KOMOP” atau singkatan dari Komando Operasi Pemberantasan. Tentara ini mengikatkan kain berwarna merah di lengan dengan tulisan berwarna putih. Istilah “KOMOP” tak ada dalam pencarian mesin pencari Google. Termasuk sejarah peristiwa pembantaian di Maumere ini. Mesin pencari gagal mendeteksi kata “PKI”, “Komunis”, “Maumere”, “Komap”, “Flores”.
“Saya dapat jatah 10 orang. Saya tidak tahu jelas alasan mengapa mereka dibunuh. Mereka (Tentara) hanya mengatakan bahwa orang-orang itu terlibat PKI,” katanya.
Eksekusi dilakukan pada malam hari. Truk mengangkut 20 orang dengan kondisi diikat dengan tubuh mereka babak belur. Korban dalam kondisi lemah dan mengenaskan. Tentara menggunakan besi panas dan kemudian menyabet korban di bagian punggung.
Wajah korban lebam akibat pukulan. Ia tak mengenal siapa yang menjadi korban itu. Dan lubang dengan panjang dua meter, lebar satu meter dan kedalaman dua meter sudah dipersiapkan sebelumnya.
“Suasananya gelap sekali. Suaranya ngeri. Kita tidak tahu orangnya (Korban). Banyak dari Dobo, Moropiring, Baubatun,” katanya.
“Dari peristiwa itu tak ada kabar sampai sekarang. Tidak ada penjelasan. Saya pernah antar dua orang mahasiswa dari Jakarta. Mereka orang Flores dan menanyakan pada Kodim alasan dan peristiwa pembantaian itu. Jawabannya, ini rahasia negara,” katanya.
Mahasiswa itu tak menemukan jawabannya. Dia juga harus memendam peristiwa paling pahit sepanjang hidupnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Termasuk ketika ia terpaksa harus mengikat kakaknya sendiri. Dan kemudian menyerahkannya pada aparat tentara.
“Saya minta jangan terulang lagi kasus 65 itu di negara tercinta Indonesia. Mungkin sampai akhirat pertanyaan ini selalu ada. Ini rahasia negara atau pelanggaran HAM?,” katanya.
Paska pembantaian di Maumere pada Februari 1966, terjadi kekeringan panjang dan kelaparan. Tidak ada beras, jagung maupun ubi yang bisa ditemukan. Banyak pencurian hewan ternak.
LEONARDO Lidi adalah seniman sejati dan mengenang peristiwa kelam itu melalui lagu. Banyak karya berupa lagu dan tarian. Ia sering diundang untuk acara-acara tradisional di Maumere. Mulai dari perkawinan hingga acara kematian. Baik oleh masyarakat maupun pemerintah Kabupaten Sikka. Namun, kehidupan ekonominya jauh dari sejahtera. Ia dan suaminya hanya mengurusi kebun kecil dan sebagian tanahnya menjadi jaminan pegadaian.
Daniel David membantu untuk merekam semua hasil karyanya. Dan kemudian direkam di dapur rekaman. Ia bersama seniman musik lokal di Maumere menyanyikan kembali lagu-lagu milik Leonardo Lidi. Dan berharap rekaman lagu itu laku keras dan bisa membantu ekonomi keluarga Leonardo Lidi.
Tahun 1965 adalah tahun yang kelam. Dan pelanggaran hak azasi manusia yang sistemik sepanjang sejarah Indonesia. 12 ribu orang tanpa pengadilan dibuang ke kamp Pulau Buru. Dan diperkirakan dua juta orang lebih mati. Berdasarkan hasil penelitian Robert Cribb dalam bukunya The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966. Kejadian pembantaian terbesar terjadi di Jawa dan Bali. Peristiwa ini menjatuhkan Soekarno dan dua tahun kemudian, Soeharto menjadi presiden kedua Republik Indonesia.
Soeharto melalui pemerintahan Orde Baru-nya melarang setiap bentuk yang berkaitan dengan komunisme. Mulai dari buku hingga lagu. Militer membakar buku-buku karya macam Pramoedya Ananta Toer. Dan hingga kini, paska reformasi, pemerintah Indonesia belum mencabut ketetapannya yang melarang komunisme (TAP MPRS NO 25 Tahun 1966). Termasuk melakukan rehabilitasi, pemulihan dan bantuan terhadap keluarga korban.
Satu-satunya presiden Indonesia yang meminta maaf terhadap peristiwa kelam itu adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia berasal dari Nahdhatul Ulama. Salahsatu organisasi Islam di Indonesia.
Spanduk-spanduk anti komunisme juga masih menjalar di kota-kota besar macam Bandung. Saya sendiri menyaksikan sebuah peristiwa sweeping oleh organisasi masyarakat dan menutup diskusi buku di Toko Buku Ultimus. Mereka menganggap diskusi ini hendak menumbuhkan komunisme. Beberapa panitia dan peserta diskusi diperiksa oleh polisi. Sebelumnya di Bandung, saya juga melihat langsung pembubaran diskusi tentang sejarah Gerwani atau Gerakan Wanita Indonesia.
“Banyak yang menangis ketika saya menyanyikan lagu Wohe Hoer,” kata Leonardo Lidi. Keluarga korban mengenang peristiwa pahit dan mencekam itu.
“Pemerintah atau tentara tidak melarang lagu itu,” tanya saya.
“Tidak. Mereka hanya mencatat lirik lagunya,” katanya.
Flores jauh dari Jawa. Namun mengapa pembantaian juga terjadi di Flores? Sejauhmana pengaruh PKI di sini? Bagaimana persisnya peristiwa pahit ini terjadi di Flores? Mengapa tidak banyak penelitian mengenai pembantaian di Flores? Apakah peristiwa kelam di Rohe itu tidak tercatat dalam sejarah mengenai peristiwa 1965? Bagaimana gereja melihat peristiwa pembantaian itu? bagaimana hubungannya dengan PKI? Mengapa gereja tidak bisa menahan pembantaian di Flores?
Benedict Anderson, seorang peneliti tentang nasionalisme dan dikenal sebagai Indonesianis mengatakan kepada Radio Netherland, 28 september 2005. Ia memberikan komentar atas pernyataan maaf dari Gus Dur kepada orang-orang yang dikatakan komunis. Termasuk memberikan analisis tentang pertanyaan saya itu.
Banyak pembunuhan berlangsung di pedesaan. Seperti yang terjadi di Dobo, Moropiring, Baubatun. Daerah ini jauh dari pusat kota, Maumere. Menurut Benedict, di kota jauh lebih aman ketimbang berada di pedesaan.
"Tapi sampai sekarang, umpamanya, tidak pernah ada penelitian terhadap apa yang terjadi di daerah yang jelas Katolik seperti Flores. Apa yang terjadi di sana? Saya belum pernah, melihat laporan tentang ini,” ungkap Benedict Anderson.
Pemerintah Indonesia lebih dari seperempat abad melarang kedatangan Benedict Anderson karena pendapatnya soal G30S. Ia peneliti senior dari Cornell University, Amerika Serikat. Hingga kini, ia mendesak kepada organisasi-organisasi agar lebih terbuka dan jujur mengungkapkan peranan mereka pada pembunuhan massa paska G30S.
Saya mengingat ketika Hindia Belanda mengasingkan Soekarno ke Ende pada tahun 1933. Ende adalah sebuah kota kecil di Flores menghadap laut. Kotanya tenang. Di tanah ini, Soekarno merumuskan Pancasila. Salahsatu silanya berbunyi, Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pancasila menjadi dasar negara Republik Indonesia. Namun mengapa, pembantaian itu justru melukai dasar kemanusiaan yang menjadi ruh bagi republik ini.
Saya dan Farid Gaban melakukan perjalanan. Melihat banyak realitas dari Sabang hingga ke Merauke. Dan republik ini menumbuhkan nasionalismenya dengan jalan banyak kekerasan dan ketidakadilan. Kemiskinan dan kebodohan menjadi akut. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya menjadi sila yang tak bermakna.
R.A.F Webb dan Steven Farram dalam bukunya "Di-PKI-kan: Tragedi 1965 dan Kaum Nasrani di Indonesia Timur" mengatakan bahwa studinya tentang komunisme di Nusa Tenggara Timur atau NTT, harus memahami masalah kemiskinan dan nilai sosial budaya. Pulau Flores dan kebanyakan pulau lain di wilayah Indonesia Timur tergolong terisolasi. Dengan kondisi geografis yang kering. Kondisi ini menyebabkan banyak keluarga di Nusa Tenggara Timur dalam kondisi miskin.
Namun bagaimana potret kemiskinan di Nusa Tenggara Timur? Saya tidak ingin terjebak dalam wacana kemiskinan. Kemiskinan memiliki ukuran tersendiri. Khususnya dalam melihat standar kehidupan dasar manusia. Seperti hak pada kesehatan, pendidikan, air, tempat tinggal yang layak, misalnya.
Dua tahun yang lalu, saya tinggal di Flores. Melihat kondisi masyarakatnya yang tinggal di kepulauan ini. Pendapatan warga mengandalkan pada hasil pertanian, macam jambu mete, kelapa, pohon lontar, kakao, kopi, dan mencari ikan.
Hasil pertanian melimpah namun pengetahuan, penanganan dan pemasaran produk pertaniannya lemah. Banyak warga yang belum mendapatkan akses listrik. Termasuk mengandalkan air hujan untuk minum.
Saya bertemu dengan Maria Goreti, perempuan dari Watublapi. Ia tinggal di sepetak tanah yang baru ia beli tiga tahun yang lalu. Nilai tanah itu sekitar empat juta rupiah. Ia beli dari hasil penjualan tenun alami. Di belakang rumahnya yang terbuat dari bilah bambu, ia menenun. Membuat pewarnaan alami dan mengambil motif-motif tenun tradisional. Setiap tahunnya, ia bisa menghasilkan sekitar 1o lembar kain tenun. Dengan nilai jual sekitar 300 ribu untuk selendang dan dua juta rupiah untuk sarung tenun.
Perekonomian keluarganya terdongkrak dari hasil tenun. Ia menyimpan pendapatannya pada koperasi kelompok tenun. Dan sanggar membantu setiap penenun dalam pemasaran dan pengelolaan keuangan. Maria Goreti dan anggota kelompok penenun lainnya bergerak untuk keluar dari lubang kemiskinan.
“Saya bisa beli motor. Kakak saya jadi ojek,” kata Maria Goreti kepada saya. Perempuan-perempuan di Watublapi bergerak untuk memberdayakan diri agar mandiri. Terlepas dari jerat hutang dan kemiskinan. Watublapi daerah perbukitan dan di daerah sini banyak rumah mengandalkan pasokan air hujan sebagai air minum. Pada tahun 1965, Watublapi hingga Dobo, banyak warga yang menjadi korban pembantaian dan kekerasan.
“Kemelaratan memberi peluang PKI memasuki alam harapan dan aspirasi rakyat ,” tulis R.A.F Webb dan Steven Farram. Program-program PKI menyentuh dan menjalankan dari kondisi-kondisi lokal masyarakat. Mulai dari masalah pertanian hingga tetek bengek masalah kesenian. Partai ini menjadi partai terbesar ketiga dunia setelah Cina dan Uni Soviet.
Di NTT sendiri gerakan komunis tumbuh sejak zaman Belanda. Diperkirakan komunisme tumbuh pada tahun 1924. Pelopornya, Christian Pandy, JW Toepoe, dan Franz Djami, dengan total orang "komunis" sejak 1924-1926 adalah 2.280 orang. Menurut Webb dan Farram diperkirakan jumlah orang yang dibantai pada tahun 1965-1966 di Nusa Tenggara Timur antara 50 ribu hingga 200 ribu orang.
Namun, apakah keluar dari kemiskinan monopoli ideologi? bukankah tujuan kehidupan adalah kesejahteraan, keadilan dan membuatnya agar lebih betah di muka bumi? Setiap manusia memiliki hak untuk keluar dari kemelaratan hidup dan mendapatkan kemerdekaannya.
SAYA tak menemukan banyak referensi sejarah yang lengkap soal peristiwa ini. Kebanyakan penelitian mengenai 1965 banyak dilakukan di Jawa, Sumatra Utara maupun Bali. Tidak mudah untuk melacak kejadian persisnya. Dan menemukan kebenaran mengenai peristiwa pembantaian di Sikka.
Perlu penelitian lebih lanjut. Melakukan wawancara dengan banyak keluarga korban, meminta kesaksian dari para “algojo” yang masih hidup, dan menemukan “daftar nama” yang akhirnya menjadi korban pembantaian itu. Memastikan setiap nama korban, pelaku dan sebagainya. Hingga melihat hubungan agama, ideologi, sosial, budaya hingga ekonomi saat itu.
Penggalian lebih lanjut, juga mengenai kejadian masa sekitar 1950 - 1960. Periode penting ketika pergolakan “politik lokal” muncul. Bagaimana kemunculan istilah “Kanilima”. Apa yang diperjuangkan, ketegangannya seperti apa, siapa saja, dan mengapa kemudian tokoh-tokoh Kanilima akhirnya dituduh sebagai PKI. Siapa saja pemimpin pemerintahan saat itu?
Verifikasi, pelacakan dokumen, kesaksian dan penggalian korban akan membuktikan fakta-fakta yang terjadi pada masa itu. Tak mudah melacak kebenaran yang terjadi pada 45 tahun yang silam. Namun, kejadian pahit dan tragedi kemanusiaan di Maumere dan mungkin di wilayah Flores lainnya, meninggalkan luka mendalam. Dan ingatan peristiwa kelam itu membekas pada keluarga korban. Tak hanya di Flores bahkan di Jawa, Bali dan wilayah lainnya di negeri ini.
Leonardo Lidi, mengenang peristiwa 1965 itu melalui senandung. Bahwa ia dan masyarakat lainnya tak mengerti mengapa peristiwa bengis itu terjadi di Flores. Ia mencatat sejarah hitam melalui sebuah lagu. Dan mereka akan selalu mengenang dan tidak melupakan kejadian pahit itu. Hanya doa, obat penenang kegelisahannya. Seperti liriknya, kepada siapa kami mengadu. Hanya ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan.
Ini bagian yang tersulit sepanjang perjalanan saya dalam ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Sulit membayangkan bagaimana kejadian saat itu. Merasakan luka, menahan amarah, hingga memendam ingatan pahit. Dan akhirnya harus menerima keadaan. Dengan cara melupakan tragedi kemanusiaan sepanjang sejarah republik ini.
Rasanya tak mudah. Dan pasti, siapapun orangnya, yang masih memiliki hati nurani dan kemanusiaan akan mengutuk peristiwa biadab itu. Dan apa artinya kebenaran, jika ia tak berdaya dan lumpuh? Apa artinya kemerdekaan, jika hidup dalam kemelaratan? Kemanusiaan hanya menjadi debu dan puing dalam sejarah.***
Amad Yunus, adalah wartawan lepas dan saat ini bersama wartawan senior Farid Gaban, tengah berkeliling dengan bendera "Zamrud Kathulistiwa."Diposkan oleh Megu Nora Au di 01:44 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..
Tuesday, 9 March 2010
Gong Waning Sikka, Sejarah, Ritual, Pertunjukan dan Dampak Musikalnya
Perubahan Fungsi Musik Gong Waning Terhadap Aspek Musikalnya
oleh : Yohanes Carlos
Instrument ini terdiri dari; 2 buah waning ( semacam kendang Jawa namun, hanya memiliki satu membran ), 5 buah gong (semacam kempul Jawa ) dan satu buah saur ( sepotong bambu yang berukuran ± 1 meter ). Awalnya instrument ini hanya digunakan oleh masyarakat setempat dalam pelaksanaan upacara adat atau ritual seperti, upacara pernikahan, upacara berkebun, dan pembangunan rumah namun, dalam perkembangannya fungsi atau peran musik Gong Waning pun mulai bergeser. Penggunaannya tidak lagi untuk upacara adat semata tapi, sudah mulai memasuki dunia seni pertujukan yang sifatnya untuk hiburan. Dengan adanya perubahan atau pergeseran fungsi musik Gong Waning ini maka, terjadi juga perubahan dalam sisi musikalnya..
Sejarah Gong Waning
Sebelum masuknya instrument Gong ke wilayah Sikka, masyarakat setempat sudah mengenal terlebih dahulu alat musik Lettor. Alat musik ini terbuat dari kayu, yang berbentuk bilahan-bilahan yang disusun yang disusun berjejer (seperti gambang Jawa, namun hanya berjumlah 7 bilah kayu).
Selanjutnya, pada saat instrument Gong masuk ke wilayah Sikka maka, oleh masyarakat setempat instrument Lettor diganti dengan instrument Gong. Alasannya karena, suara yang dihasilkan dari instrument Gong mirip dengan suara yang dihasilkan oleh instrument Lettor, dan instrument Gong dianggap lebih tahan lama atau lebih awet dibanding instrument Lettor. Sejak saat itu, peran instrument Lettor pun mulai diambil alih atau diganti dengan instrument Gong hingga saat ini.
“Gong Waning” untuk Ritual
Dalam budaya masyarakat Sikka, setiap upacara adat yang mereka lakukan merupakan sebuah bentuk doa, harapan, maupun ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas segala yang mereka terima. Oleh karena itu, upacara yang mereka lakukan selalu dilengkapi dengan musik dan tari-tarian, yang merupakan simbol atau wujud ungkapan syukur kepada Tuhan.
Dalam pelaksanaan upacara adat, kehadiran atau peran musik Gong Waning yaitu sebagai pengiring tarian karena, di wilayah Sikka musik Gong Waning tidak pernah berdiri sendiri atau disajikan sendiri tanpa unsur tari-tarian. Ini jelas berbeda dengan musik Gamelan Jawa atau Gamelan Bali yang mampu atau bisa disajikan sendiri tanpa harus mengiringi sebuah tarian. Dengan latar belakang budaya seperti ini, maka penyajian musik Gong Waning dan tari-tarian merupakan suatu kemasan yang tidak dapat dipisahkan.
Sebagai musik pengiring tarian, para pemusik bebas menentukan jenis irama yang akan mereka mainkan, kapan akan berganti irama, tanpa harus mengikuti atau memperhatikan para penari. Hal ini disebabkan karena, sajian musik Gong Waning dan tari-tarian tersebut merupakan seni rakyat, dimana tidak ada batasan-batasan atau aturan-aturan yang sifatnya mengikat untuk menentukan pilihan irama yang akan dimainkan maupun kapan saat pergantian iramanya. Dengan demikian, meskipun musik Gong Waning berperan sebagai pengiring tarian namun, para penari yang cendrung mengikuti alunan musiknya bukan sebaliknya.
“Gong Waning” untuk Pertunjukan
Sama halnya dengan perannya dalam upacara adat atau ritual, dalam seni pertunjukan Gong Waning pun berfungsi sebagai pengiring tarian. Namun, untuk seni pertunjukan tidak ada kebebasan lagi bagi para pemusik untuk memainkan Gong Waning. Disini, para pemusik lebih diarahkan atau diatur untuk mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh para penari. Para penabuh dituntut bisa mengikuti gerakan para penari, kapan harus berganti irama, kapan harus menabuh dengan suara lirih atau keras, semuanya harus mengikuti gerakan yang sudah digarap oleh koreografernya.
Adanya pengaturan pola gerakan dengan pola tabuhan karena, kemasan ini tujuannya bukan untuk ritual tetapi, untuk seni pertunjukan yang sifatnya untuk hiburan. Artinya, yang dinilai adalah aspek keindahan nya, dimana adanya keserasian musik dan gerakan, cara para pemusik maupun penari dalam berkespresi, serta dari sisi kostumnya.
Dampak Musikalnya
Salah-satu aspek yang terkena dampak dari pergeseran fungsi atau peran Gong Waning adalah aspek musikalnya. Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa untuk upacara
ritual para penabuh bebas untuk menentukan jenis irama yang mereka inginkan, namun untuk pertunjukan semuanya mengikuti pola gerakan para penari. Adanya perubahan musikal dalam musik Gong Waning sesungguhnya hanya salah-satu instrument yang berperan penting yaitu ; Waning Inang. Instrument ini lah yang berfungsi untuk memberikan kode peralihan, melakukan penambahan pola-pola tertentu sehingga sesuai dengan gerak tari. Khusus untuk instrument gong, teknik tabuhannya tetap sama atau tetap pada aturan yang sudah ada. Jika ada instrument lain yang ikut membuat pola-pola baru agar sesuai dengan gerak tari, itu adalah instrument Saur.Perubahan atau perkembangan musikalitasnya, sejauh ini penulis baru dapat mengindentifikasi menjadi tiga bagian yaitu ;
* Pertama, jika dalam seni ritual perubahan dari satu irama ke irama yang lain tanpa mengunakan kode peralihan maka, dalam pertunjukan digunakan kode peralihan. Ini dilakukan agar para penari tidak melakukan kesalahan saat menari.
* Kedua, untuk menyesuaikan pola gerakan-gerakan dalam tarian yang sudah digarap para pemusik biasanya keluar dari aturan atau pakem yang sudah ada, dan menambahkan pola tabuhan baru, sehingga sesuai dengan gerakan penari.
* Ketiga, para pemusik mulai memperhatikan keras-lirihnya tabuhan, sesuai dengan gerakan yang dilakukan para penari. Ini agak berbeda jika musik Gong Waning dalam upacara ritual, mereka tidak terlalu memperhatikan keras-lirihnya suara musik tersebut.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada dasarnya perubahan atau pergeseran fungsi Gong Waning disebabkan oleh terjadinya perubahan pola hidup masyarakat setempat. Jika dahulunya mereka sering melakukan upacara adat atau ritual maka dengan adanya perkembangan jaman, mereka mulai meninggalkan upacara – upacara adat yang sering mereka lakukan. Hal ini menyebabkan penggunaan instrument Gong Waning pun semakin menurun. Oleh sebab itu, untuk tetap menjaga keberadaan atau eksistensi musik Gong Waning maka, penggunaan instrument tersebut mulai dialihkan ke dunia seni pertunjukan.
Setelah terjadi pergeseran fungsi Gong Waning, musikalitasnya pun mulai mengalami perubahan atau perkembangan. Adanya perubahan atau perkembangan tersebut merupakan salah – satu dampak penyesuaian terhadap pola gerak tari yang telah digarap, dan tuntutan penikmat (yohanes carlos).
Diposkan oleh Megu Nora Au di 02:03 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka.. , BuDaYa..
Monday, 25 January 2010
Bandara Wai Oti ; DonThomas, L. Say dan Frans Seda
Oleh karena itu dalam suatu percakapan lepas di rumah kediamannya Jl Don Thomas Maumere, Frans Seda pernah berkata dengan tulus dan polos “adalah tepat kalau Bandara Waioti diberi nama Don Thomas”Kabupaten Sikka juga harus memberi penghargaan dan penghormatan kepada L. Say, pemimpin yang sudah berjasa bagi kabupaten ini. Torehlah namanya di Pelabuhan Laut Maumere dengan nama L. Say. Berilah nama jalan kepada banyak tokoh Kabupaten Sikka yang berjasa secara nasional dan regional seperti: Ben Mangreng Say, Bung Kanis, P.H. Embuiru, P. Piet Petu, P. Osiaz Fernandez, Mgr Abdon Longginus da Cunha, P.J. Bapa Mekeng, Pieter Pedor, Fredrik Djati, Drs A.M. Konterius dan lain-lain.
+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +
*Oleh : E.P da Gomez
DALAM catatan sejarah perjalanan Kabupaten Sikka, bandar udara (bandara) Maumere yang terletak di sebuah “klo’ang” bernama Waioti, mulai dibangun pada masa pemerintahan militerisme Jepang, tahun 1943-1944. Tatkala itu, Don Yosephus Thomas Ximenes da Silva (1895-1954), Raja Sikka ke-15 (1920-1954) bertindak menunjuk lokasinya dan mengerahkan rakyat dari kampung-kampung secara bergilir turun bekerja membangun landasan udara yang hendak digunakan penguasa Jepang untuk kepentingan militer dan perang. Bandara ini dibom sekutu tanggal 28 Juli 1944. Jepang membangun juga sebuah lapangan udara di Tanjung Darat, di pantai utara Kecamatan Talibura, yang kini sudah menjadi kebun rakyat.
Sesudah Perang Dunia II usai, Bandara Waioti dengan kondisinya yang sederhana digunakan untuk kepentingan pemerintahan dan pelayanan publik. Hanya dengan lapangan berumput saja dan fasilitas terminalnya sangat minim, namun menjadi pusat pelayanan udara untuk pemerintah dan masyarakat seluruh Flores, jauh sebelum adanya lapangan udara di Ruteng, Ende, Labuan Bajo, Bajawa, Larantuka dan Lewoleba, yang mulai dibangun secara bertahap sejak awal tahun tujuhpuluhan.
Pada awal tahun 1971, Bupati Sikka L. Say (1967-1977) memprakarsai pembenahan fasilitas bandara Waioti, dengan pekerjaan antara lain memindahkan ruas jalan lama dekat jembatan Waioti ke ruas jalan sekarang, dan membangun berbagai fasilitas terminal. Berbarengan dengan Frans Seda menjadi Menteri Perhubungan (1968-1973), L. Say menggunakan kesempatan yang baik itu, menarik perhatian Frans Seda membangun berbagai fasilitas pelabuhan udara yang lebih representatif. Menhub Frans Seda memenuhi dengan semangat akan tekad L. Say. Departemen Perhubungan segera mengembalikan seluruh biaya yang sudah dikeluarkan pemerintah Kabupaten Sikka untuk pembangunan awal. Selanjutnya Menhub Frans Seda memberikan perhatian untuk pembangunan berbagai fasilitas sesuai standar kebutuhan sebuah bandara tingkat kabupaten.
Dari periode ke periode pemerintahan, sejak Bupati L. Say hingga Bupati Sosimus Mitang, upaya peningkatan fasilitas bandara Waioti selalu mendapat perhatian, baik melalui alokasi dana APBD Kabupaten Sikka, maupun dari hasil perjuangan melalui biaya APBN, sehingga kondisi landasan dan fasilitas bandara Waioti sudah semakin baik, meskipun kualitas dan penampilannya masih di bawah bandara El Tari Kupang.
Semenjak hadirnya di bumi Kabupaten Sikka, bandara ini tidak punya nama. “Waioti” itu hanyalah nama sebuah “klo’ang”, sebuah perkampungan kecil dengan nama pribumi setempat (wai = kali, sungai; oti = biawak). Di situ memang ada sebuah kali kering, yang mungkin saja pada masa yang lalu mengalir air keruh, tempat biawak-biawak berenang dan berkumpul ramai.
Sejak tahun 1984, pada masa pemerintahan Bupati Sikka Drs Daniel Woda Pale, sudah mengudara aspirasi dan semangat untuk memberi nama Don Thomas bagi bandara Waioti. Namun semangat itu tidak berlanjut karena Don Thomas adalah seorang tokoh kontroversial dalam nuansa kepolitikan lokal. Hasrat untuk membaptis nama Don Thomas terhenti, belum bisa diwujudnyatakan, menanti timing yang tepat.
Mengapa Don Thomas? Don Thomas adalah peletak dasar pembangunan Kabupaten Sikka. Kenyataan ini tak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Raja Sikka ke-15 ini (1920-1954), dalam kurun waktu 30 tahun masa pemerintahannya, telah membangun ruas jalan dan jembatan, ”proyek” air minum dalam bentuk sumur/perigi di beberapa kampung, pipa air minum dari Wairpuang ke Kota Maumere, melanjutkan budidaya penanaman kelapa yang sudah dirintis raja terdahulu, mendirikan pasar di lokasi yang strategis, pembangunan di bidang pertanian dan irigasi.
Di bidang pendidikan, Don Thomas bekerja sama dengan Pimpinan Gereja Katolik membangun sekolah-sekolah desa, mendirikan Yayasan Pendidikan Thomas (Yapenthom) yang mengawali sebuah SMP yang terkenal di Flores pada tahun 1949, menunjuk lokasi Ledalero di mana Gereja Katolik mendirikan Seminari Tinggi Ledalero, mendukung pembangunan awal rumahsakit Lela, dan merancang peta pembangunan kota Maumere. Semuanya itu boleh dibaca dalam buku “Don Thomas, Peletak Dasar Sikka Membangun” (E.P. da Gomez & Oscar P. Mandalangi, Yapenthom Maumere, 2003/2005/2006).
Sangatlah tepat kesan Tasuku Sato, Komandan Angkatan Laut Kerajaan Jepang yang bertugas di Flores tahun 1943-1945, mengagumi Don Thomas, antara lain : ”Raja Sikka merupakan tokoh yang amat penting di Flores. Bukan saja karena daerah Sikka yang dibawahinya memang lebih terkemuka dari yang lainnya, tapi karena dia juga adalah tokoh yang berwibawa. Kelihatannya setengah tua, cermat dan bijaksana. Saya sangat berkesan akan sikapnya yang meyakinkan dan wajahnya yang coklat dan keren yang menunjukkan bahwa ia seorang yang berkepribadian dan sungguh-sungguh” (dalam buku “I Remember Flores” karya tulis Kapten Tasuku Sato & P. Mark Tennien, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Thom Wignyanta dengan judul “Aku Terkenang Flores” Penerbit Nusa Indah Ende, 1976/2005).
Apa yang telah dikerjakan selama 30 tahun masa pemerintahan Don Thomas, jika dilihat dengan kacamata masa depan, sesungguhnya merupakan bagian yang mendasar dari tahap-tahap awal bagi terwujudnya berbagai gagasan dan cita-cita pembangunan masa kini dan masa depan. Kita boleh menyimpulkan bahwa sejarah sangat sabar, dan bahwa generasi yang datang silih berganti akan bisa menilai tentang seorang Don Thomas sebagai pemimpin memang bertugas untuk melihat sangat jauh ke depan. Atau barangkali ia memang bukan politikus seperti pemahaman yang dianut James Freeman: “Seorang politikus memikirkan soal pemilu yang akan datang, tapi seorang negarawan memikirkan generasi yang akan datang”.
Jauh dari pretensi untuk membanggakan seorang Don Thomas, atau berusaha untuk menghapus jejak kekurangannya dalam bobot kepemimpinannya pada waktu lampau (ia dicap feodalis dan nepotis yang kental), namun patut diakui dan disadari bahwa gagasan dan pelaksanaan pembangunan yang diletakkan Don Thomas sungguh strategis dan tidak pernah usang sampai kini. Ketokohannya tampak hadir secara meyakinkan karena kemampuannya menempa diri, menerobos pagar besi yang menghadang, dan dengan penuh keteguhan mengusung panji-panji keutamaan atas cita-citanya yang luhur berdimensi masa depan.
Justeru itu, Frans Seda dalam kata pengantar buku “Don Thomas Peletak Dasar Sikka Membangun”, menulis sebagai berikut: “Raja Sikka Don Thomas adalah seorang tokoh kontroversial dan multidimensi. Seorang yang memiliki bakat-bakat dan kemampuan kepemimpinan secara alami. Seorang pandai besi, yang pandai pula menempa suatu pemerintahan daerah secara modern. Seorang raja yang mampu memimpin kerajaannya menjadi solid sebagai kesatuan yang kuat. Beliau adalah pula seorang modernisator yang memiliki wawasan-wawasan dan persepsi-persepsi yang luas dan maju ke depan”.
Oleh karena itu dalam suatu percakapan lepas di rumah kediamannya Jl Don Thomas Maumere, Frans Seda pernah berkata dengan tulus dan polos “adalah tepat kalau Bandara Waioti diberi nama Don Thomas”.
Itulah penilaian Frans Seda, seorang sarjana ekonomi tamatan Katholieke Economische Hogeschool Tilburg, Belanda (1956) terhadap Don Thomas, seorang raja yang hanya menamatkan pendidikan Standaarschool kelas lima di Lela (1910) dan pada usia 15 tahun bekerja keras sebagai tukang kayu dan tukang besi di bengkel Misi di Lela.
Frans Seda, demikian pula V.B. da Costa dan Ben Mang Reng Say, trio Kabupaten Sikka berkaliber nasional pada zamannya, adalah rahmat Tuhan bagi rakyat dan bangsa Indonesia melalui bidang politik sebagai pilihannya dan moralitas Katolik sebagai landasannya. Bagi masyarakat Flores, Seda-Sentis-Say, adalah personifikasi demokrasi dan integrasi etnis Flores dan golongan Katolik ke tengah kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.
Kita semua tahu bahwa Frans Seda adalah seorang tokoh Partai Katolik di tingkat nasional (1956-1973) dan Penasehat PDI dan PDI Perjuangan (1973-20009). Semenjak pulang dari studinya di Belanda (1956), hampir seluruh kegiatan Frans Seda diserap dalam “karya kerasulan” Partai Katolik. Naiknya beliau ke jenjang tertinggi partai kontas itu, banyak sangkut pautnya dengan kemelut politik nasional yang bergejolak sejak akhir tahun 1956, suatu peralihan yang menentukan sejarah Indonesia. Di sinilah berawal karier Frans Seda sebagai pemimpin tertinggi Partai Katolik, dan berbarengan dengan itu Presiden Soekarno mengangkat beliau menjadi Menteri Perkebunan (1964-1966). Ketika terjadi peralihan kekuasaan ke tangan Soeharto, Frans Seda menduduki kursi pemerintahan selama 12 tahun pada masa awal Orde Baru sebagai Menteri Pertanian merangkap Menteri Perkebunan (1966), Menteri Keuangan (1966-1968), Menteri Perhubungan & Pariwisata (1968-1973), Duta Besar RI untuk Belgia, Luxemburg dan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE, 1973-1976), dan terakhir sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1976-1978).
Dalam penugasan sebagai pejabat negara dan kiprahnya sebagai politisi nasional, Frans Seda telah berbuat banyak untuk bangsa dan negara. Selain itu, beliau adalah salah seorang yang mendirikan Unika Atma Jaya Jakarta (1960), menerbitkan harian Kompas (1965), mendirikan Rumahsakit Atma Jaya di Pluit Jakarta (1973), dan berbagai yayasan/lembaga pendidikan dan ekonomi. Frans Seda juga terkenal sebagai kolumnis suratkabar yang cerdas dengan tulisan-tulisannya yang sangat menarik, menyentuh dan menukik.
Antara tahun 1956 sampai 1971 saya mendapat kesempatan dalam berbagai pertemuan dan kegiatan dengan Pak Frans Seda. Mulai dekat dan akrab sejak Pemilu 1971, ketika saya terlibat dalam kampanye “kontas” untuk memenangkan Partai Katolik di Kabupaten Sikka. Sejak itu terjalin keakraban dan persaudaraan sampai dengan wafatnya tanggal 31 Desember 2009. Tiga puluh delapan tahun, bukan waktu yang pendek. Banyak orang mengenal dan dikenal Frans Seda, khususnya di Kabupaten Sikka ini. Kecuali keluarga serumpunnya, mungkin di Sikka tidak ada sepuluh orang yang sangat akrab dengan beliau. Saya termasuk dalam sepuluh orang itu. Sebab itu saya terdorong untuk menulis sebuah buku kecil setebal 135 halaman untuk menginformasikan kepada khalayak tentang siapa itu Frans Seda, dalam judul “Drs Frans Seda 80 Tahun: Catatan Perjalanan Seorang Pejuang” (Yayasan Kasimo Cabang Sikka & Yayasan Dobo Nualolo Maumere, September 2006). Buku itu bukanlah sebuah biografi. Lebih tepat disebut saja sebagai catatan sekilas tentang perjalanan hidup, karya dan perjuangan tokoh tiga zaman itu. Karena isi buku ini saya angkat dari pengalaman bersama beliau, sambil memetik, merangkum, meringkas dan mengintisarikan dari banyak sumber naskah/buku, dengan tekad yang tulus dan niat yang lurus untuk memaknai HUT ke-80 ekonom senior itu, tanggal 4 Oktober 2006.
Di sisi lain, saya bersama Oscar P. Mandalangi menulis sebuah buku biografi Don Thomas setebal hampir 400 halaman. Buku yang terbit tahun 2003, lalu dicetak ulang tahun 2005 dan 2006 itu, didukung dengan komentar dari 16 orang tokoh Kabupaten Sikka yang tahu dan dekat dengan Don Thomas sebagai keluarga, politisi, tokoh masyarakat, bahkan lawan politik Don Thomas.
Banyak suara-suara sumbang terhadap kepribadian, ketokohan dan kepemimpinan Don Thomas. Benturan dan konflik kepentingan dalam konteks riwayat seorang tokoh dan kepemimpinannya dalam sejarah perjalanan Kabupaten Sikka ini, dengan latar belakang dan persepsi yang berbeda, adalah hal yang wajar dan lumrah sebagai bagian dari
sifat manusia, apalagi dalam sebuah negeri yang menganut paham demokrasi. Masalahnya, bagaimana kita berkemauan untuk menempatkan soal secara lebih proporsional. Siapapun mempunyai hak untuk tidak menyukai Don Thomas. Namun, siapapun juga tidak punya wewenang yang sah untuk menggelapkan peran dan prestasi Don Thomas dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pembangunan Kabupaten Sikka ini pada masa pemerintahannya. P. Dr Paul Budi Kleden, SVD, dosen STFK Ledalero dalam orasi ilmiahnya pada tanggal 29 Desember 2003 di Hotel Maiwali Maumere, antara lain menegaskan “Don Thomas adalah peletak dasar Sikka membangun. Dia bukanlah satu-satunya tokoh pembangun Sikka. Dia meletakkan dasar mental membangun. Dengan itu setiap warga masyarakat Sikka dalam berbagai peran, kedudukan dan kemungkinannya, diajak untuk menjadi pembangun Sikka, pelaku sejarah di kabupaten ini”.Untuk membuat sejarah terhadap sejarah perjalanan Kabupaten Sikka, kita dihadapkan dengan tugas sejarah untuk memberi nama Bandara Waioti. Dua tokoh sejarah terkemuka yang menjadi kebanggaan rakyat Kabupaten Sikka, tokoh yang menjadi idola banyak orang, Don Thomas atau Frans Seda menjadi pilihan nama tersebut.
Don Thomas adalah seorang raja yang feodalis, hidup dalam zaman yang memiliki peluang dan fasilitas yang sangat minim, namun telah menjadi pemrakarsa dan perintis pembangunan Bandara Waioti. Ia seorang pionir. Sementara Frans Seda adalah pelanjut, memiliki gagasan yang cemerlang dan modernisator pembangunan. Frans Seda sebagai salah seorang arsitek ekonomi modern Indonesia, seorang politisi Katolik yang beken, piawai dan bermoral, pendekar di bidang pendidikan, pendiri harian Kompas yang ternama, penulis kolom suratkabar yang jempol, dan selaku pengukir rautan wajah Gereja Katolik di Indonesia, sudah dapat dinilai pada takaran nasional yang berdimensi sejarah.
Sebab itu, apabila Pemerintah dan DPRD Kabupaten Sikka hendak membuat keputusan tentang nama Bandara Waioti, hendaknya didahului dengan membuka sebuah forum pembicaraan dan pembahasan yang mendalam dan luas dengan mengikut sertakan banyak komponen masyarakat Kabupaten Sikka. Dengan demikian keputusan yang akan diambil, benar-benar melalui pengamatan dan penilaian yang saksama, cermat, arif dan bijak, aspiratif dan dapat dipertanggungjawabkan kepada sejarah.
Kabupaten Sikka juga harus memberi penghargaan dan penghormatan kepada L. Say, pemimpin yang sudah berjasa bagi kabupaten ini. Torehlah namanya di Pelabuhan Laut Maumere dengan nama L. Say. Berilah nama jalan kepada banyak tokoh Kabupaten Sikka yang berjasa secara nasional dan regional seperti: Ben Mangreng Say, Bung Kanis, P.H. Embuiru, P. Piet Petu, P. Osiaz Fernandez, Mgr Abdon Longginus da Cunha, P.J. Bapa Mekeng, Pieter Pedor, Fredrik Djati, Drs A.M. Konterius dan lain-lain.
Dalam mengambil keputusan politik yang sangat mendasar, hati nurani kita harus bersih dari kepentingan apapun dan jujur terhadap sejarah.
Pemerhati masalah sospol Kabupaten Sikka
tinggal di Maumere
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 22:56 0 comments
Label: ARTIKEL Peduli Sikka..































