Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Tuesday, 13 May 2014

Berkelana Sampai Ende

Bermesraan dengan Air Terjun Tonggopapa!
Maumere punya air terjun kembar setinggi seratus meter di Murusobe, tapi Ende juga tak kalah menarik. Air terjun paling keren yang pernah kami lihat! Nah, kali ini saya dan rekan Ferli Irwanto ditantang menjelajah pedalaman Ende dan memperkenalkan salah satu pesona alam yang begitu cantik. Seperti foto diatas, pesona ini dalam bentuk air terjun dengan curah air berlimpah yang tak putus. Yuk kita kesana pemirsa!

Sungguh! Tantangan ini datang ketika salah satu teman menelpon dari Ende. Ia menantang kami menuju pedalaman di Kabupaten Ende. Katanya dengan antusias, di tempat kelahirannya itu bermukim ar terjun yang sangat cantik! Kota Ende, ibukota Kabupaten Ende berjarak kurang lebih 135 Km dari Kota Maumere, Kabupaten Sikka, tempat kami menghirup napas.

Dengan berbekal lisan penjelasan dari rekan tersebut, maka kami berkemas dan bergegas menuju Kota Pancasila, Ende!

Rekan Ferly Irwanto, petualang yang bermukim di Waioti Maumere sudah memperkirakan kami akan tiba di Ende sekitar pukul 18.00 Wita. Perjalanan sangat santai dari Maumere ke Kota Ende dimulai sejak pukul 14.00 Wita, hari Sabtu, 8 Mei 2014.

Suasana sejuk dan asri ketika memasuki wilayah Kabupaten Ende. Maklum saja karena melewati pegunungan dingin. Dari Maumere kita akan melintasi wilayah Nita, Paga di Kabupaten Sikka dan Wolowaru, Moni, Detusoko sebelum memasuki Kota Ende, Dipegunungan Ende kita selalu menemui kabut tipis. Ada juga pasar tradisional khusus menjual sayuran dan buah hasil olahan para petani Nduaria.

Sekedar info, di wilayah Kabupaten Ende saat ini badan jalan negara trans Maumere- Ende sedang dalam pengerjaan dan pengerukan akibat longsoran dari tebing. Terutama di Kilometer 17 dari Kora Ende. Jalur ini sangat sempit sehingga butuh kewaspadaan.

Tiba di Ende saat matahari bersembunyi. Masakan Padang di Jalan Kelimutu jadi tempat persinggahan. Malam itu dua porsi nasi ayam yang rasanya tak segar plus satu kepala ikan menghabiskan kantong Rp 100 ribu. Catatan saja, masih banyak rumah makan dan warung lain di Kota Ende yang bervariasi dari menunya sampai rasanya yang enak dengan harga yang pasti lebih terjangkau. Kita hanya perlu berkeliling kota Ende. Dijamin perut kita siap dilayani :)

Setelah puas, kami memilih sebuah hotel untuk merebahkan diri. Perjalanan masih panjang. Butuh perjuangan ekstra. Butuh tenaga baru yang leibh fresh.

Matahari segar mencubit kulit. Kami membuka tirai disambut Gunung Meja yang menjulang indah. Selamat pagi Kota Ende. Kami datang untuk mereguk indahmu.

Kami berkemas. Seanjutnya deru mobil membelah pagi. Kesibukan nyata terlihat di kota yang pernah menjadi tempat buangan Bung Karno ini. Dengan bekal empat nasi bungkus berlauk ayam dan satu dos air mineral kami berangkat. Ini penting demi kesehatan tubuh yang akan terkuras tenaganya sebentar lagi.

Ferli Irwanto, dengan santainya membawa diriku dan angin pagi keluar dari Kota Ende. Kami bertemu kesibukan di sepanjang bibir pantai menuju arah barat. Kami akan segera ke Nanga Ba, Kecamatan Ende. Di tempat inilah tiik utama menuju air terjun.

Lama tak menyapa pagi di Ende, sekian waktu yang bergulir diantara remah-remah kenangan. Namun yang pasti keramahan tetap menjadi ratu disini. Saya begitu juga Ferly merasa menikmati suasana kepolosan orang-orang kampung di pelosok. Modal utama pariwisata kita yang tanpa dibuat-buat. Tak bermuka dua.

Kami mesti melewati jalan raya berlobang dengan bebatuan berserakan di badan jalan disertai tanjakan dengan rabat yang compang-camping. Mobil terus merengsek menembus ketinggian. Orang-orang kampung menatap tanda tanya. Kami melihat mereka memberi senyum termanis. Senyum yang kami tangkap sebaga sebuah sapaan selamat datang paling ramah di muka bumi.

Selama melintas dusun dan kampung, sesekali oto mesti melewati kali yang berair deras. Dan diantara derunya, kemesraan nyanyian burung hutan serta lambaian nyiur dan hutan perkebunan mendekap kami erat.Selamat datang, bisiknya mesra.

Singkat cerita, sampailah kami di Dusun Woloora, Tonggopapa di wilayah Kecamatan Ende, Kabupaten Ende. Tepat didepan Polindes kami turun. Sebelah timur dari Woloora berbatasan dengan kampung Worhosambi,Sogoroga, sebelah barat berbatasan dengan kampung Worombera dan sebagainya.

Dua anak muda memperkenalkan diri sebagai Alam dan Sil. Dari mulutnya mereka berinisiatip membawa kami menuju air terjun. Melewati samping Polindes, treking pertama dimulai. Inilah salah satu perjalanan penuh sensasional. Capek? Yups! Sangat malah...

Perlu diketahui bersama, perjalanan menuju air terjun ini cukup menyita waktu dan tenaga. Pasalnya, jalur treking cukup ekstrim karena licin serta terjal. Selalu hati-hati kalau tidak mau terguling percuma. Jadi hal utama adalah membawa perlengkapan treking yang memadai seperti sepatu yang kuat mendekap tanah baik licin maupun terjal. Bawa juga tongkat penahan tubuh. Penting bagi sebagaian orang untuk menjaga keseimbanagn di medan licin dan menurun tajam, saran saja :)

Sebelum mencapai air terjun, kita akan melewati perkebunan warga seperti singkong, jagung, kacang ijo, kelapa dan lain-lain. Selesai itu, kaki kita segera dihadiahi medan ekstrim dengan kemiringan yang cukup terjal.Saya dan Ferly, dengan berat badan lumayan, jarang olah raga menerima ini sebagai sebuah tantangan yang perlu untuk ditaklukan. Masa sudah sampai depan pintu lantas balik badan dan pulang? Bayangkan!! Kami dengan gagah bak pahlawan kesiangan heheehe lantas menyingsingkan lengan siap beradu fisik. Dan hasilnya, anak kampung bernama Alam dan Sil mesti bersabar menunggu kami. Pasalnya perjalanan sering ngadat akibat mesin mengalami gangguan hehehe....

Akhirnya, setelah bersusah-susah dahulu kamipun bersenang-senang kemudian! Air terjun yag ingin kami jumpai tersebut dengan gagah dan ramah memberi ucapan selamat datang. Lewat gemuruhnya yang terdengar menggetarkan jantung, ia seolah memanggil kami untuk segera memeluknya. Tak perlu berlama-lama. Sepersekian detik, tubuhnya yang besar dan putih itu telah merangkul penuh kerinduan. Inilah aset bergarga tanah Ende yang menjanikan. Tak hanya Kelimutu yang terkenal di seantero dunia, Ende juga punya keindahan lain. Dan Flores bukan hanya Komodo dan Kelimut, masih ada yang lain bro, masih ada!!

Bila di Maumere punya air terjun kembar Murusobe, Ende punya Tonggopapa. Dua-duanya menjadi aset berharga wisata Flores! Sayangnya, keduanya masih menyimpan kegalauan amat sangat. Meski sama-sama cantik, otoritas wisata dikedua kabupaten bertetetangga ini belum memberi sentuhan berarti. Keduanya bak anak tiri yang selalu tidak diperhatikan. Yang paling penting bagi kedua air terjun ini adalah memperbaiki sarana jalan dan akses masuk ke lokasinya. Setidaknya secara ekonomi ada keuntungan besar bagi daerah dan masyarakat setempat!

Kembali ke laptop! Air terjun Tonggopapa telah menjadi ikon Desa Tonggopapa, Kecamatan Ende. Ia berada di tengah hutan dan mengaliri air hingga ke sungai Nangaba. Air terjun ini sungguh eksotik. Lebar dan tingginya mempesona. Debit air yang tercurah sangat deras. Meski musim kemarau air terjun ini tetap tercurah dengan limpahan yang penuh.

Ketika berada didekatnya, kami merasakan sensasi yang menggemaskan. Setidaknya kami berada di tengah lokasi ini sekitar empat jam! Bayangkan bro! Saking lembut dan eksotiknya kamipun lupa untuk kembali dan pulang. Luar biasa.

Selain tercurah dengan gagah dan eksotismenya sangat terasa, air terjun ini juga memiliki kolam air yang jernih dan segar. Kolam ini dikelilingi batu cadas menyerupai tembok. Alamiah bro! Dan ini menjadi tempat pemandian yang luar biasa. Siapapun yang kesini tak akan pernah bisa melupakan sensasinya. Dia sangat mempesona!

Sayangnya, disekitar lokasi ini ditemukan sampah-sampah plastik. Kemungkinan berasal dari para wisatawan yang pernah kesini.

Untuk menjaga keindahannya, saya dan Ferly berinisiatip membersihkan sampah tersebut. Dan kepada Alam dan Sil, putra Tonggopapa sekaligus pemandu lokal, kami berikan masukan agar selalu membersihkan tempat ini dari sampah bawaan para turis dan mengingatkan para wisatawan yang datang untuk tidak membuang sampah sembarangan, semua demi kelestarian alam sehingga kecantikannya terus mempesona.

Setelah berleha-leha selama hampir empat jam, kaki-kaki kami mulai beranjak. Treking balik ke Polindes bukanlah perkara mudah. Kemiringannhya yang cukup ekstrim ditambah pijakan yang lumayan licin membuat kami kesusahan untuk berjalan. Perlu fisik tubuh yang prima. Beberapa kali kami mesti beristirahat di tengah perjalanan untuk mengatur napas dan fisik. Ini merupakan tantangan kesekian menjelajah tanah Flores bersama rekan petualang Ferly Irwanto.

Kami sampai di Polindes ketika matahari meninggi. Segar meski lelah. Lambaian tangan dan senyuman manis sebagai tanda perpisahan mewarnai desa yang cerah itu. Kami akan kembali lagi sobat! Kami akan selalu merindukanmu, Tonggopapa, Ende Sare!(ossrebong)

@thanks buat sobat petualang Ferly Irwanto, anak Wai Oti!













Selengkapnya...

Sunday, 8 July 2012

Keragaman Corak Tenun Ikat Flores


Tenun ikat Flores dibuat dengan bahan dasar benang dari kapas yang dipilin oleh penenunnya sendiri. Benangnya kasar dan dicelup warna biru indigo. Kain dihiasi dengan ragam hias bentuk geometris aneka warna yang cerah dan menyolok. Kain tenun dari daerah Manggarai banyak menggunakan warna kuning keemasan, merah, dan hijau. Pembuatan desain kain tenun ikat di Flores dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi. Pekerjaan ini dapat berlangsung selama berminggu-¬minggu, bahkan kadang-kadang sampai berbulan-bulan. Seringkali pencelupan dikerjakan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung, meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. Ketika kerajaan-kerajaan kecil di Flores masih ada, sejumlah orang bekerja khusus sebagai pembuat kain-kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana.


Jika dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial (golongan bangsawan atau rakyat jelata), maka masa sekarang tidak lagi. Sekarang kain-kain tenun dibuat untuk dijual ke pasaran lalu dijual lagi kepada mereka yang membutuhkannya. Pesanan dengan kualitas khusus masih dilayani dengan harga khusus pula.

Beberapa daerah yang menghasilkan kain-kain tenun adalah Manggarai, Ngada, Nage Keo, Ende, hingga sekitar Lio, Sikka, dan Lembata di bagian timur Flores. 

Di daerah Manggarai ada teknik lain pembuatan ikat, yaitu menggunakan lidi-lidi pengungkit dalam proses penenunan untuk menghasilkan pakan tenun songket tambahan. 

Di daerah Ngada, Flores Tengah, juga terdapat kain tenun songket warna kuning emas sebagai pengganti songket benang emas. Kain-kain tenun songket Flores di atas latar tenunan benang kapas ini mempunyai banyak persamaan dengan kain-kain songket dari Sumbawa. Menurut sejarah wilayah sebelah barat Flores dulu merupakan daerah kekuasaan kerajaan Bima-Sumbawa yang memiliki kain-kain tenun songket benang emas dan perak untuk kalangan raja-raja Bima. 

Hal ini membawa pengaruh yang cukup kuat di daerah sebelah barat Flores, sehingga mereka pun mempunyai tradisi membuat kain tenun songket walaupun tidak menggunakan benang emas dan benang perak. Selain kain songket, masyarakat Ngada juga membuat kain tenun ikat. Tenun ikat yang mereka buat menggunakan warna-warna gelap, antara lain dengan kombinasi warna biru dan cokelat, dengan garis-garis sederhana. 

Sedangkan suku Nage Keo menghasilkan tenunan yang menampilkan motif bintik-bintik kecil dari teknik ikat pembentuk motif floral. Jalur ikat ini dikombinasikan dengan jalur-jalur kecil lain berwarna putih, merah, dan biru polos. 

 Seperti halnya kain sarung, pada kain songket juga ada pembagian desain kain antara lain adalah yang disebut bagian kepala yang diletakkan di bagian tengah dan yang disebut badan yang diletakkan di belakang kain lainnya. Pembagian desain songket dari Manggarai dan Ngada ini juga membentuk bagian badan dan kepala, dengan motif yang berbeda di kedua bagian tersebut. Saat dikenakan, bagian kepala biasanya diletakkan di bagian depan dan bagian badan diletakkan di belakang. 

Di Flores, kain tenun biasanya dikenakan hingga setinggi dada. Dalam perkembangannya, mereka menggunakan kebaya yang pemakaiannya dimasukkan dalam sarung. Cara memakai kain sarung seperti ini hampir sama dengan cara wanita Bugis dan Makasar di Sulawesi Selatan, atau Kaili dan Donggala di Sulawesi Tengah.

Pada mulanya kain adat Flores untuk wanita berbentuk sarung setinggi dada dan dilipat di bagian depan. Di bagian pinggang pemakai dikenakan ikat pinggang dari perak. Mereka tidak menggunakan kebaya atau blus. Namun kini ada variasi lain dari cara pemakaian kain sarung, di mana lipatan kain sarung diikat di salah satu bahu sehingga agak terangkat ke atas pada salah satu sisinya. 

 Cara pemakaian kain di Flores ada bermacam-macam. Lain daerah atau suku, bisa berbeda pula cara pemakaiannya. Perempuan suku Sikka di Maumere, Kabupaten Sikka, menggunakan kain sarung sebatas pinggang yang disebut utan, yang dipadukan dengan baju kebaya yang disebut labu, yang modelnya mirip kebaya Maluku. Utan dengan ragam hias yang diberi warna gelap atau hitam disebut utan welak.

 Paduan kain dan labu ini masih dirasa kurang bila tidak menggunakan selendang yang disebut dong. Penampilan kaum perempuan ini masih dilengkapi tusuk konde dari emas atau perak yang tinggi berbentuk bunga.(ultimoparadiso)
Selengkapnya...

Friday, 20 January 2012

Terpanjang, Temuan Fosil Gading Gajah Purba Flores

PULAU Flores yang biasa disebut juga Nusa Nipa mengandung potensi yang sangat menakjubkan di bidang geologi dan arkeologi. Peneliti Indonesia dan peneliti asing melakukan penelitian ilmiah secara berkala setelah membaca hasil temuan fosil gajah purba di lokasi Ola Bula (Ngada) pada tahun 1956, oleh seorang pastor Belanda, Theodor Verhoeven. Verhoeven adalah seorang guru bahasa Latin di Seminari Mataloko, dan memiliki minat dalam ilmu prasejarah. Dia menghabiskan hampir seluruh waktu luangnya untuk mengeksplorasi situs prasejarah di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Dia sangat peduli pada artefak (alat batu) dan fosil. Selama tahun-tahun berikutnya Verhoeven juga menemukan sisa-sisa gajah purba dan hewan lainnya di Matamenge dan Boa Lesa. Pada lokasi Matamenge dan Boa Lesa Verhoeven juga menemukan alat-alat batu primitif yang terkait dengan fosil gajah purba, namun, tidak seperti di Jawa, tidak ada fosil manusia yang ditemukan di Flores untuk dapat mengungkapkan identitas dari pembuat alat batu tersebut.

Temuan yang Spektakuler
Survei dan ekskavasi dilakukan secara berkala oleh Pusat Survei Geologi Bandung dan Centre for Archaeology Science, School of Earth and Environmental Sciences University of Wollongong, Australia. Pada tahun 2010 hingga 2014 penelitian bertemakan In Search Of The First Hominins. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan misteri seputar temuan manusia endemik Homo floresiensis yang hidup sekitar 100.000 hingga 16.000 tahun lalu di daerah gua Liang Bua, Manggarai dan secara khusus melacak keberadaan moyangnya yang diperkirakan berasal dari manusia pembuat alat batu di Cekungan Soa yang hidup sekitar 1.000.000 hingga 700.000 tahun yang lalu.

Situs Matamenge tahun 2011 dibuka sebanyak 19 trench dan penggalian dibantu oleh 130 tenaga lokal dari Desa Mengeruda dan Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada. Dari hasil penggalian ditemukan hampir 3000 spesimen fosil dan yang terbanyak adalah fosil gajah purba (Stegodon florensis).

Ditemukan juga alat batu (artefak) berupa batu inti (core) dan serpih (flake) yang terbuat dari batu vulkanik seperti andesit dan basalt, tapi juga terbuat dari bahan batu yg berkualitas lebih bagus, seperti chert (batu api) dan jasper.

Temuan yang spektakuler yakni fosil gading Stegodon florensis yang panjangnya 230 cm (sekitar 20 cm hilang, jadi gading asli panjangnya 250 cm) dan merupakan ukuran gading terpanjang hingga saat ini. Proses penggalian dilakukan sangat hati-hati agar fosil gading gajah purba ini tidak rusak atau retak.

Setelah fosil ini menyembul ke permukaan tanah maka dibiarkan agar cepat kering kemudian dilakukan proses gypsum ke seluruh bagian fosil sebelum proses pengangkatan.

Pertama di Indonesia
"Stegodon" berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti "gigi berbentuk atap." Stegodon adalah sejenis mamalia yang kini punah dan diklasifikasikan sebagai anggota dari Ordo Proboscidea, atau hewan yang mempunyai belalai. Stegodontidae merupakan cabang dari garis keturunan yang mengarah ke gajah modern. Stegodon tertua hidup sekitar 4 juta tahun yang lalu di Asia. Fosil Stegodon tertua telah ditemukan di Thailand, Jepang, Cina dan India.

Fosil Stegodon yang termuda ditemukan sampai saat ini berasal dari Liang Bua, Manggarai (Flores).

Fosil Stegodon pertama dari Indonesia ditemukan di Jawa, sejumlah besar fosil Stegodon yang digali pada 1890-1892 di Situs Trinil, Jawa Tengah, oleh Dokter Eugene Dubois, yang terkenal karena penemuan Pithecanthropus erectus (sekarang diklasifikasikan sebagai Homo erectus). Usia fosil dari Trinil adalah 900.000 tahun. Stegodon dari Trinil diberi nama ilmiah Stegodon trigonocephalus, yang berarti Stegodon dengan kepala berbentuk segitiga.

Stegodon florensis tinggi badan antara 1.5 - 2 m, gadingnya lebih bengkok dan jumlah lempeng giginya lebih banyak. Berdasarkan bukti paleomagnetic dan "fission track" dating lapisan abu-abu, usia Stegodon florensis dan asosiasi artefak batu yang terkait berumur di antara 700.000 dan 600.000 tahun.
(Oleh Jublina Tode Solo, Arkeolog, Bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi NTT/poskupang)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 16 November 2011

Nusa Nipa

”Copa de Flores” begitu bangsa Portugis menyebut pulau di ujung timur Indonesia ini saat kurang lebih pada lima abad yang lalu untuk pertama kalinya mereka menginjakkan kaki dan terpana oleh kecantikan pulau yang saat ini masuk dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bangsa Portugis memang tidak salah. Nama yang berarti “Tanjung Bunga” ini memang benar-benar mewakili keindahan dan kekayaan alam Flores yang begitu luar biasa hingga saat ini. Pulau Flores dalam sejarah masyarakat lokal juga dikenal dengan nama ”Nusa Nipa”, Pulau Ular (Nipa). Ini untuk menggambarkan kegagahan pulau ini bagai seekor ular yang meliuk memanjang dari ujung Barat bersebelahan dengan Pulau Pantar hingga ke ujung Timur, bersebelahan dengan Pulau Alor.

Pulau Flores, merujuk pada masyarakatnya, dihuni oleh berbagai kelompok etnis. Masingmasing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh. Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya.


etnis di Flores terdiri dari:
Etnis Manggarai – Riung (yang meliputi kelompok bahasa dan budaya Manggarai, Pae,
Mbai, Rajong, dan Mbaen);
Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa dan budaya Rangga, Maung, Ngadha,
Nage, Keo, Palue, Ende, dan Lio);
Etnis Mukang (meliputi bahasa dan budaya Sikka, Krowe, Mukang, dan Muhang);
Etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa dan budaya Lamaholot Barat, Lamaholot
Timur, dan Lamaholot Tengah);
Etnis Kedang (meliputi kelompok bahasa dan budaya di wilayah Pulau Lembata bagian
selatan).

Namun begitu, kelima kelompok etnis tersebut pada dasarnya memiliki sejarah genealogis
dan budaya yang sama.

Saat ini, Pulau Flores – yang merupakan rangkaian dalam Kepulauan Sunda Kecil yang
bergunungapi dengan Pulau Alor dan Pantar dan musim penghujan yang lebih pendek
dibanding dengan kemarau – terbagi menjadi delapan kabupaten, yaitu: Manggarai,
Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur (Flotim).

Berbicara tentang Sikka, saat ini, selain merujuk pada nama kabupaten (dengan Maumere
sebagai ibukota kabupaten), Sikka juga dipakai untuk memberi nama sebuah wilayah desa,
yaitu Desa Sikka (± 30 km dari Maumere) yang terletak juga di Kabupaten Sikka. Desa ini
dikenal juga sebagai desa wisata dikarenakan sejarahnya dahulu. Desa Sikka juga dikenal
menjadi titik awal kedatangan bangsa Portugis di Flores. Ini dapat dilihat dari gereja tua peninggalan Portugis di sana, juga beberapa pranata sosial dan adat yang timbul karena pengaruh kuat dari singgungan budaya bangsa Portugis yang kemudian tinggal, berinteraksi, dan bahkan membentuk keluarga dengan masyarakat lokal.

Kabupaten Sikka, sebagaimana wilayah lain di Flores, mempunyai masyarakat yang majemuk yang terbagi dalam suku-suku tertentu dengan kekayaan adat dan budaya yang khas dan berbeda satu sama lain. Salah satunya adalah kekayaan budaya pembuatan dan pemakaian tenun ikatnya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Setiap masyarakat adat atau suku, mempunyai kekhasan dalam bentuk (kekayaan) motif, warna, dan proses karyanya.


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Wednesday, 30 March 2011

Ketika Orang Flores Nanggap Wayang

Wayang sangat popular di Jawa, yang selalu memberikan filosofi tentang nilai-nilai kehidupan, baik di masa lalu, masa kini maupun masa mendatang. Sesuai dengan perkembangan dan seiring perjalanan waktu, wayang kini sudah mengejawantah menjadi universal yang bisa dipahami mayarakat luas. Tidak sebatas mayarakat Jawa saja, tapi juga masyartakat Indonesia di luar Pulau Jawa dan bahkan di mancanegara.
Salah satu diantaranya adalah Antonius Kopong Liat Ratumakin, pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur yang coba memahami filosofi orang Jawa melalui wayang dalam bukunya yang berjudul “Orang Flores Menanggap Wayang”. Ditengah kenyataan topik kebudayaan yang semakin terpinggirkan, hadirnya buku wayang tersebut memuat pandangan awam terhadap wayang tentu sangat standar sesuai kemampuannya. Salah satu fokusnya membahas wayang sebagai media.

“Ya kita umpamakan wayang sebagai panggung kecil yang redup berhadapan dengan dunia televisi yang megah dan luas. Wayang kalah suara. Wayang tetap eksis mengisi relung jiwa manusia Indonesia,” ungkap Antonius Ratumakin saat peluncuran bukunya di Musium Nasional.

Menurut Antonius, wayang tidak saja popular dan digemari masyarakat di pulau Jawa saja tapi juga di daerah-daerah lainnya di Indonesia termasuk di Flores.
“Wayang sebenarnya tidak saja digemari masyarakat Jawa tetapi juga di daerah lainnya di Indonesia. Itu bisa saja karena orang Jawa tersebar di daerah lain selain Jawa. Tetapi juga orang lain yang bukan Jawa suka dengan wayang,” kata Antonius

Meski dulu wayang digemari oleh masyarakat, ternyata kini kalah bersaing dengan media hiburan lain, terutama media televisi yang jauh lebih lengkap, modern, luas dan tentunya lebih hebat dari wayang. “Wayang sekarang ini diibaratkan sebagai panggung kecil yang redup kalah berhadapan dengan media televisi yang megah, luas, dan tentunya lebih popular,” kata Antonius

Padahal pada jaman dahulu wayang sangat berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa pada abad 14. Dan, juga wayang sangat efektif digunakan oleh para penguasa pada jaman orde baru sebagai alat mendekati hati rakyat . Dengan buku ini penulis berharap wayang dapat kembali eksis bukan saja sebagai media hiburan tetapi sebagi media yang dapat menyebarkan informasi kepada masyarakat, yang kini telah dikuasai oleh media televisi. Untuk mencapai itu, semua harus mencintai wayang sebagai warisan budaya Indonesia dan wayang harus menasional yang menularkan ke-Indonesiaan yang memiliki sifat Pancasilais, gotong royong, dan kebersamaan .

“Kedepan kita berharap bisa mendengar Jenderal Nonton Wayang, wayang masuk istana, wayang masuk sekolah, wayang masuk gereja atau wayang sudah TV, Sehinggga wayang kedepan wayang bisa menjadi bukan saja sebagai hiburan tetapi wayang sebagai media informasi dan media pemersatu,” kata Antonius Ratumakin.
Media pemersatu bangsa
Di dalam buku ini berceritakan tentang pandangan awam terhadap wayang yang sangat standar, salah satu fokusnya membahas wayang sebagai media yang telah ditinggalkan. Wayang sebagai panggung kecil yang redup kalah berhadapan berhadapan dengan media televisi yang megah dan luas dan tentunya lebih popular.

Padahal pada jaman dahulu wayang sangatlah berperan penting dalam penyebaran agama islam di Jawa pada abad 14, dan juga wayang sangatlah efektif digunakan oleh para penguasa pada jaman orde baru sebagai alat mendekati hati rakyat .

Antonius berharap wayang dapat kembali eksis berkiprah bukan saja sebagai media hiburan tetapi sebagi media yang dapat menyebarkan informasi kepada masyarakat, yang kini telah dikuasai oleh media televisi. “Apabila wayang sudah bisa masuk istana, wayang bisa masuk sekolah, wayang bisa masuk gereja atau wayang sudah TV secara berkala, maka wayang kedepan wayang bisa menjadi bukan saja sebagai hiburan tetapi wayang sebagai media informasi dan media pemersatu,” ungkap
Antonius

Antonius memaparkan sebelum menulis buku ini, dia coba menelusuri, ternyata wayang memiliki sejarah panjang sejak awal kerajaan Nusantara hingga hari ini. Wayang tetap eksis dan mengandung nilai kehidupan yang adiluhung. Tapi pada saat bersamaan muncul pertanyaan besar, kalau memang demikian, mengapa kepemimpinan Jawa serba samar, tertutup dan mistis ? Mengapa kultur masyarakatnya begitu menjaga harmoni hingga rebah pada situasi yang menentukan sekalipun ? Dimanakah nilai wayang itu ?

Jawaban pertanyaan itu tenyata tidak lagi relevan. Dunia sudah jauh berubah. Tidak hanya wayang yang akan punah, kebangsaan kita juga terancam. Negara sedang sakit moral dan materi. Kita memerlukan wayang dalam konteks yang berbeda, kedepan.

Akan ada Sangh Samudra atau Sri Lautani, tokoh baru yang mewakili karakter manusia Indonesia dalam percaturan global. Seperti lautan, dia luas, biru dan dalam. Bisa tenang, bisa bergelora. Lautan mengandung kekayaan dan keindahan. Ada bunga karang didalamnya, indah dan kuat, mewakili karakter wanita Indonesia.

Wayang saatnya bertransformasi secara baru yang memerlukan strategi kebudayaan, ditanamkan secara sistematis kepada masyarakat dan generasi baru, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah diseluruh Indonesia.

“Setelah orang Flores, mudah-mudahan orang Irian, Ambon, Aceh, Padang, Batak, Makassar, Manado, Timor, Kalimantan ikut menanggapi, sambung-menyambung menjadi satu. Tentu saja kita boleh kritis, mengapa wayang, mengapa tidak seni yang lebih netral, mengapa Jawa sentris,” ungkap Antonius

Dikatakan sesungguhnya wayang paling teruji, bereputasi nasional dan diakui dunia. Wayang sesungguhnya tengah berbicara dan mencari wajah manusia Indonesia secara utuh , jati diri dan karakternya. Aapa dan siapa manusia Indonesia yang sesungguhnya.(sigit suhardi)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 24 March 2011

Sensasi Bis Kayu di Flores

“KAMU tahu letak neraka? Ada di kampungmu. Neraka adalah menumpang ‘bis kayu’ di Pulau Flores,” kata seorang misionaris asal Spanyol kepadaku di salah satu tempat yang elok di Timor Timur (kini Negara Timor Leste) medio Juli 1997. Kata-kata itu sungguh menggaruk gengsiku yang kala itu masih segunung. Wajah saya berubah merah. Malu…!
Awalnya saya sempat menganggap pernyataan itu sekadar guyonan di meja makan karena dia tahu asalku dari sana. Ternyata pastor berpostur tinggi besar dan brewokan itu bersungguh-sungguh dengan pernyataannya. Dia merasa sesak napas saat menumpang bis kayu di Flores.
“Kamu bayangkan, di dalam bis kayu saya duduk bersama babi, kambing, ayam, jagung, beras, kelapa, sayur, kayu bakar,” kata sang misionaris yang melakukan perjalanan ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur tahun 1995.

Ah, sebelum sidang pembaca kompasiana bingung tentang bis kayu, baiklah sekilas saya terangkan dulu benda yang satu ini. Sejatinya bis kayu adalah truk. (Di NTT biasa disapa Oto Truk). Truk yang dimodifikasi. Ada tempat duduk terbuat dari papan dan beratap. Demi melindungi penumpang, barang dan hewan dari hujan dan angin, bis kayu dilengkapi terpal penutup kedua sisi.

Khusus di wilayah barat Pulau Flores yaitu Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur, bis kayu dikenal dengan nama Oto Kol. Oto Kol alias Bis Kayu itu sama saja. Cuma beda sapaan. Secara umum masyarakat Nusa Tenggara Timur mengenal bis kayu.

Di NTT ada sejumlah pulau besar antara lain Flores, Sumba, Timor, Alor dan Lembata. Survei membuktikan, populasi bis kayu alias oto kol terbanyak di Flores. Lain lagi di Alor, mereka lebih intim dengan panser. (Mungkin lain waktu baru saya kisahkan sendiri tentang panser yang menjadi idola orang Alor. Hehehe…..)

Dari sisi jumlah, keberadaan bis kayu sekarang tak sebanyak kondisi tahun 1997, tetapi alat transportasi tersebut belum punah. Dia masih menjadi andalan marhaen karena kegesitan dan ketangguhan menerobos jalan desa dan gunung. Menembus lembah dan ngarai. Masuk sampai ke udik. Mudah Anda temukan di pasar mingguan seantero Flores. Pesonanya belum pudar meski orang NTT sekarang makin doyan dengan Avansa…

***
BAGI mereka yang mengalami pengalaman perdana menumpang bis kayu seperti misionaris Spanyol itu, kendaraan itu sungguh neraka dunia. Perasaan risih dan kesal tentu berkecamuk hebat karena manusia duduk berdesak-desakaan dengan hewan dan barang. Ada sayur, ada ayam, babi, kambing, anjing, pisang, kelapa, kakao, cengkeh, biji kopi, kemiri, jambu mete, beras, kayu bakar, ikan asin, jeriken minyak tanah, solar dan lainnya.

Makin lengkap kesengseraanmu kalau jalan yang dilewati bis kayu atau oto kol itu berlubang-lubang. Di Flores dan NTT umumnya sekitar 70 persen jalan pedesaan kondisinya rusak. So pasti Anda akan terjaga sepanjang jalan. Badan terasa sakit, pinggang seolah mau patah dan (maaf) pantat rasanya tebal karena duduk di atas papan kayu. Itu bagi orang baru.

Bagi mereka yang sudah biasa, dia akan tidur sepanjang perjalanan. Malas tahu dengan keadaan sesak-berdesak. Mereka menikmati goyangan bis kayu. Ada surga di sana. Apalagi mata mudah terpejam menumpang “kendaraan rakyat ” itu karena belaian angin sepanjang jalan. Itulah keunggulan bis kayu, dia tak butuh AC buatan manusia! Sungguh hemat energi.

Lantaran tempat duduk empuk di bis kayu cuma untuk dua orang di samping sopir, maka tempat itu selalu menjadi rebutan. Untuk mendapatkan tempat itu, calon penumpang harus mem-booking jauh-jauh hari kepada sopir yang sampai hari ini masih kaum lelaki. Sapaan kesayangan bagi mereka adalah “Om Sopir”. Kalau terlambat pesan, Anda mesti siap untuk duduk di atas papan. Bayangkan sendiri kalau jarak tempuh 70 hingga 80 km.

Seorang dokter PTT asal luar NTT pernah mengisahkan pengalamannya yang berkesan tentang bis kayu. “Awalnya saya risih, tapi lama-lama saya bisa menikmati duduk di kursi bis kayu,” kata dokter yang tugas di Manggarai dan sekarang studi lanjut di Filipina.

Menurut dia, duduk di bis kayu malah bagus untuk kesehatan. Bis kayu adalah terapi bagi orang yang kerap mengalami nyeri punggung. Dokter itu sudah merasakan khasiatnya. Jadi, kalau Anda termasuk orang dengan penyakit nyeri punggung, sebaiknya datang ke Flores dan menikmati sensansi bis kayu. Hehehe…

Untuk menghibur para penumpangnya, sopir bis kayu akan memutar musik dari tape rocorder yang dilengkapi dengan pengeras suara. Lagu kesayangan Om Sopir di Flores adalah dangdut dan lagu-lagu daerah yang sedang populer. Juga lagu daerah Ambon, Manado dan Batak. Musik dan lagu sungguh tergantung selera Om sopir.

Sebagai kendaraan rakyat, bis kayu amat fleksibel. Dia tidak cuma mengangkut manusia dan barang melewati rute yang sudah dipatok. Jika ada kedukaan, bis kayu siap mengantar keluarga berduka melayat jenazah hingga membawanya ke pekuburan. Jika masyarakat hendak melakukan aksi demontrasi, bis kayu juga siap mengantar pergi dan pulang. Tinggal negosiasi harga. Kalau cocok, oke!

Menjelang pilkada atau pemilu seperti hari-hari ini, bis kayu laris manis. Dan para sopir pasang tarif lebih tinggi dari biasanya. Bis kayu siap mengantar massa menuju arena kampanye, tergantung permintaan partai atau caleg. Sopir bis kayu biasanya hafal jadwal kampanye karena itulah salah satu sumber pemasukan bagi mereka dan pemilik bis kayu.

***

SELAIN bis kayu alias oto kol yang meletupkan canda tentang neraka, kata ”neraka” kembali mengganggu saya saat menjemput seorang sahabat yang tiba dari Aimere, Kabupaten Ngada menggunakan jasa Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Umakalada di Pelabuhan Bolok-Kupang bulan Oktober tahu lalu. “Saya menemukan neraka di geladak Umakalada,” kata sahabat itu sambil geleng-geleng kepala begitu menginjakkan kaki di Dermaga Bolok.

Dia hendak pulang ke salah satu kota di Pulau Jawa setelah berlibur di kampung asal istrinya. Tidak mendapat tiket pesawat ke Kupang, menumpang kapal feri jadi pilihan agar bisa kembali sesuai jadwal cuti.

“Kecuali toilet, hampir seluruh bagian Umakalada penuh manusia dan barang. Sebagian penumpang duduk di tangga kapal karena tidak ada lagi tempat kosong. Saya cemas selama perjalanan. Tidak nyaman. Sulit tidur. Tapi saya heran, banyak juga penumpang yang bisa tidur nyenyak. Mungkin sudah biasa bagi mereka,” katanya sambil tertawa.

Memang tidak mengherankan saya. Bis kayu dan kapal feri adalah bagian dari keseharian mayoritas penduduk NTT. Tidur di geladak berdekatan dengan kambing, babi, ayam, kuda, sayur, beras, sepeda motor, truk dan mobil adalah hal biasa. Kapal feri yang nyaman masih sebuah cita-cita.

Kapal di NTT memakai prinsip ALS. Asal Lintas Saja dulu. Kenyamanan bukan prioritas utama. NTT juga tempat relokasi kapal bekas yang sudah bosan dan karatan melayari rute Surabaya-Madura, Ketapang-Gilimanuk atau Bakahuni- Merak.

Sudah berulang kali dirilis bahwa feri milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) seperti KMP Ile Mandiri, Kambaniru, Ile Ape, Cucut, Balibo, Rokatenda, Mutis dan Uma Kalada usianya sudah tua. Rentan terhadap kecelakaan dan tak mampu memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat. NTT pernah membeli kapal sendiri, namun nasibnya tidak jelas sampai sekarang karena salah urus. Lebih lama berlabuh ketimbang berlayar. Mirip kapal-kapalan.

Markus, kawan akrab beta yang anggota Dewan baru-baru ini berkata jujur. Sejak mendapat sapaan Wakil Rakyat yang Terhormat lima tahun silam, dia kikuk dan malu menumpang kapal feri. “Gengsi ko. Biar dana cekak, saya usahakan pakai pesawat. Pinjam pun tak apa,” katanya.

Saya kira banyak orang seperti Markus. Setelah bertitel “pejabat negara” atau pekerja NGO dengan funding internasional, nyaring berteriak pro rakyat dari ruang kerja ber-AC, jok mobil empuk dan jendela pesawat. Kenyataan di luar sana sekadar dibayang-bayangkan saja. Ah, rakyat! (Dion DB Putra/Kompasiana)*

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 20 December 2010

Flores, Legend Of The Saint..

Taman Laut Flores
Legend of the Saint. Dari manakah asal “surga bawah laut” yang indah tiada duanya itu, di sebuah pulau beriklim kering dengan musim penghujan yang sangat pendek pula? Sebagian orang Flores masih menyimpan jawabannya. Konon beberapa ratus tahun yang lalu beberapa pemuda berdiri di Teluk Maumere pada suatu pagi, ketika matahari belum terbit. Mereka berdiri dan memandang ke kejauhan. Tiba-tiba tampak di laut lepas sebuah kapal layar yang besar. Sangat jarang kapal sebesar itu berlayar si situ. Para pemuda itu merasa was-was, jangan-jangan kapal perompak. Mereka terus mengamati kapal itu, yang tiba-tiba memutar halauannya, mendekat, dan berhenti di hadapan mereka. Sebuah sekoci kecil diturunkan. Seorang laki-laki putih berjubah dan beberapa orang lainnya turun ke sekoci, berkayuh dan mendarat.

Salah seorang, lelaki putih berjubah itu, turun ke pantai. Dengan mata penuh kasih disapanya para pemuda yang tampak waspada itu. Dia menanyakan sebuah tempat yang asing di telinga mereka. Dia pun menceritakan bahwa dia datang dari jauh, jauh sekali datangnya, melalui lautan dan samudra raya. Akan tetapi kapal besar itu harus segera berangkat. Tergesa-gesa naiklah ia ke dalam sekoci yang membawanya ke dalam kapal besar itu.

Kapal itupun menarik jangkaran menurunkan sauhnya. Para pemuda itu melambaikan tangan, dan orang berjubah itu pun membalasnya dengan lambaian penuh kasih. Tiba-tiba orang berjubah itu berjalan ke arah haluan kapal, berdiri diam seperti memanjatkan doa kepada yang ilahi. Dibuatnya tanda salib di udara dengan sebuah tongkat.

Tongkat itu kemudian dibuangnya ke laut lepas di Pulau Flores itu. Maka perairan di pulau itu berubah menjadi sebuah taman laut yang sangat indah tiada duanya, penuh dengan koloni fauna dan flora laut. Orang berjubah itu lalu menjadi buah bibir di kawasan itu. Ketika itu sedang tersiar berita tentang seorang yang tersohor dari Timur, bernama Fransiskus Xaverius.

Sejak itu mereka percaya, orang yang melemparkan tongkat ke perairan Flores itu adalah Santo Fransiskus Xaverius. Santo yang kudus itulah yang telah memberikan sebuah souvenir bagi Pulau Flores: sebuah taman laut terindah di dunia.

************

Wilayah perairan di beberapa kawasan di Pulau Flores terkenal kaya akan objek wisata laut kelas dunia. Kawasan yang sangat ideal dan menyenangkan untuk kegiatan wisata selam (diving), baik untuk scuba diving maupun snorkeling itu terutama terdapat di Kabupaten Sikka, Nagakeo, dan Manggarai. Di Kabupaten Sikka terdapat cluster teluk Maumere dan Pulau Palue dengan perkampungan nelayan tradisional dan gunung berapinya.

Di Kabupaten Nagakeo, pesona alam kepulauan Riung dengan 13 pulau yang menarik dengan keunikan masing-masing. Jop Ave, mantan Menparpostel Kabinet Pembangunan VI menyebut pesona Riung sebagai “Mutiara dari Timur”.

Di Kabupaten Manggarai terdapat Taman Nasional Komodo yang sangat unik, yang oleh Marzuki Usman, mantan Menparpostel Kabinet Pembangunan V, diberi julukan “Negeri Seribu Naga”.

Keindahan panorama perairan Flores itu bahkan disebut Jop Ave sebagai “surga bawah laut yang belum tersentuh”. Dengan nuansa perairan teluk yang membiru,

bertaburkan gugusan karang dengan aneka koloni terumbu karang serta kawasan ikan hias, memberikan nuansa sekaligus warna khas taman laut Flores yang menawarkan pesona alam tiada duanya dipandang dari permukaan air yang bening. Di beberapa kawasan tertentu, seperti di bagian barat Teluk Riung, dapat dijumpai pemandangan kebun koral yang eksotis pada kedalaman air laut sepuluh meter.

Flores tidak sedikit. Sebagian keindahannya telah bercerita pada dunia dan sebagian masih terjaga dalam surga yang indah. Elok seperti perawan cantik, indah seperti lukisan.(cintabahari)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 13 November 2010

Orang Flores Bernyanyi Tanpa Berharap Pamrih dan Pujian

Bakat Musik dalam Jiwa Orang Flores
Orang Flores umumnya mewarisi bakat musik yang sangat kental. Dimana-mana orang menyanyi, menari dan bergembira. Dalam keadaan sulitpun mereka tetap bersenandung. Meski masyarakat diwilayah ini akrab dengan kekurangan pangan, kelaparan (melarat), memang ada benarnya. Tapi jika Anda datang ke Flores Anda akan dengan mudah menemukan suasana yang segar. Nyanyian orang-orang Flores sudah indentik dengan keseharian warga setempat.
Bukankah Flores itu pulau miskin? Tempatnya orang susah? Mungkin ini benar adanya. Tapi sejak dulu warga setempat tidak merasa miskin. Meski kemisikinan itu meliliti hidup warga sehari-hari, tapi warga tidak merasa miskin. Malah dalam kondisi demikian, mereka juga tetap bersenandung merdu.

Musik, menyanyi dan menari bersama selalu seiring sejalan. Tiga aspek itu seolah membebaskan rakyat dari belenggu tekanan hidup nan berat. Nyanyian itu ibarat pelipur lara.

Yang menyanyi tak hanya anak-anak atau remaja dan anak-anak sekolah. Kakek-kakek 60-an tahun yang duduk ditangkai pohon lontar untuk mengambil nira (dijadikan tuak) juga selalu bersenandung, menyanyi dengan mudah.

Para nelayan menyanyi. Anak-anak menyanyi, ibu-ibu bersenandung sambil memutar alat pembuat benang atau menggarap tenun ikat. Itu semau dilakukan secara alamiah, spontan, tak mengharap pamrih atau pujian dari siapapun.

Karena itu tak salah kalau sejumlah penulis bahkan peneliti menuliskan kesan-kesannya bahwa Pulau Flores dari ujung barat hingga ujung timur, tak hanya pulau bunga tapi juga ‘pulau musik’.
Musikalitas orang Flores itu terasa sekali di Gereja Katolik di seluruh Flores bahkan Indonesia. Begitu banyak lagu-lagu liturgi inkulturasi dibawakan umat Katolik Indonesia adalah buah dari musik Flores.

Pelatih-pelatih koor, solis, penggubah lagu-lagu gereja sebagian besar berasal dari Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan Pusat Musik Liturgi (PML) Jogja pun paling banyak menggelar lokakarya komposisi musik liturgi di Flores.

Adak Jap Kunst (1942), peneliti musik yang paling banyak melakukan riset tentang musik di Indonesia sebelum kemerdekaan.
Dia menulis:

“Sebenarnya menurut saya penduduk Flores lebih berbakat musik daripada suku-suku di Indonesia terkenal lainnya seperti Sumatera, Jawa dan Celebes. Saya pernah mendengar suara-suara yang cukup bagus menyanyikan nyanyian yang pas. Itu berbeda dengan yang ada di Flores. Banyak laki-laki bersuara sangat merdu, sambil menyanyikan lagu-lagu sederhana di tepi sungai, masih terngiang ditelinga saya, melodi yang juga sangat menyenangkan orang Eropa.”

“........ dan dimana orang Flores yang mendayung dengan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solis dan bagian pengulangan yang dinyanyikan dalam paduan suara? Diantara para solis tedapat suara-suara yang dengan latihan yang lebih baik dapat menjadi suara tenor, sopran dan bass yang baik.” (kunst, 1942, hlm 11). (*/kro/dari berbagai sumber/ Flores Star)

Selengkapnya...

Tuesday, 6 July 2010

Tenun Alami Nusa Bunga

Merawat dan Mengabadikan Tenun Alami Nusa Tenggara Timur


Catatan Ahmad Yunus

TIGA perempuan tengah menumbuk akar dan kulit pohon dengan sebilah gelondong kayu. Suara tumbukan terdengar ritmis dan berirama. Keringat peluh terlihat mengucur pada wajah ketiga perempuan itu. Mereka menghaluskan akar dan kulit dari berbagai tumbuhan itu hingga menjadi serbuk.
Ini bahan ramuan utama untuk pewarnaan alami benang. Ada 17 jenis tumbuhan yang bisa menghasilkan warna alami. Nangka. Kapuk Randu. Mangga. Mengkudu. Kemiri. Kacang-kacangan. Hingga tumbuhan lokal seperti Waher, Tener, Dadap, Nila dan Pohon Susu. Tumbuhan ini tumbuh subur di daratan Flores hingga ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Mengkudu bisa menghasilkan warna merah dasar. Pohon Nila menghasilkan warna biru. Tumbuhan berbiji belah bisa menghasilkan warna coklat. Pengetahuan membuat ramuan ini mereka dapatkan secara turun temurun dari nenek moyangnya.

“Dua hari rendam dengan air sampai dapat endapan warnanya,” kata Daniel David.

Ia menunjuk pada sebuah gubuk kecil di belakang rumahnya. Ada beberapa ember terlihat penuh dengan air rendaman. Proses perendaman makan waktu dua hingga lima hari untuk mendapatkan warna yang berkualitas.

“Harus telaten. Tidak bisa buru-buru. Ini namanya proses alam,” katanya.

Pewarnaan alami punya beberapa manfaat. Pertama, tidak membawa efek buruk bagi kesehatan bagi si pengrajin tenun. Kedua, ramah lingkungan karena tidak terbuat dari bahan kimia pabrikan. Bahan-bahan ini mereka dapatkan dari tumbuhan di sekitar rumah maupun hutan yang ada di Flores ini.

Namun, kini mereka juga menanam diperkebunannya. Tanaman Menkudu, misalnya. Akarnya bisa digunakan untuk bahan pewarnaan. Namun, tumbuhan ini bisa dipanen setelah berumur lima tahun.

Beberapa contoh benang hasil pewarnaan menggantung di bilik dinding rumahnya. Ada yang berwarna biru tua, muda, merah, putih dan coklat. Suara tumbukan masih terdengar nyaring. Sesekali terdengar gelak tawa dari perempuan itu. Di pojok ruang keluarga terlihat satu perempuan tengah menjahit tenun dengan tangan. Sambil menemani satu bocah kecil yang tengah menonton televisi.

David membawa beberapa contoh kain tenun dari kamarnya. Kain tenun terasa tebal. Bau akar masih terasa nempel pada lembaran kain tenun itu. Warna alami terlihat redup dan tidak mengkilap. Setiap motif kain tenun punya makna dan cerita. Juga fungsinya, baik untuk kalangan orang tua, ketua adat maupun anak muda. Untuk kebutuhan ritual adat, perkawinan hingga sehari-hari.

“Ada pengaruh animisme, dinamisme, katolik, portugis, hingga india,” katanya.

Menurutnya, setiap klan atau suku di Nusa Tenggara Timur punya karakter motif sendiri. Mulai dari Labuanbajo di Manggarai, Ende, Sumba Timur, Atambua di Timor, hingga kepulauan Alor. Namun ada beberapa daerah ditemukan dengan karakter motif yang hampir serupa. Ia memperkirakan ratusan motif tenun tradisional yang berada di Nusa Tenggara Timur. Satu daerah saja bisa punya 40 macam motif. Misalnya di daerah Iwanggete dan Palue.

Motif-motif ini biasanya muncul dengan menampilkan simbol tertentu. Misalnya legenda naga yang bisa ditemukan di Bajawa, Ende dan Sikka. Naga menjadi simbol kesuburan. Sementara di Alor muncul motif gajah. Simbol ini diperkirakan pengaruh dari India. Ketika masa perdagangan rempah-rempah pada abad ke 16 hingga 18 silam berlangsung di kepulauan Nusantara ini. Selain itu ada motif bunga hingga binatang macam tokek, ikan, gurita dan kura-kura.

“Tak banyak yang tahu mengenai cerita dan legenda dari kain tenun tradisional. Saya riset untuk mempelajari penyebaran dan makna dibalik setiap motif itu,” katanya sambil membakar rokok kreteknya.

Kecintaan David terhadap kain tenun berawal dari 10 tahun yang lalu. Orang tuanya pernah mengingatkan agar ia mencintai budayanya sendiri. Ia melihat banyak perempuan dikampungnya, Watublapi yang menjadi pengrajin tenun.

Kampung Watublapi sekitar 10 kilometer arah timur dari Maumere, Kabupaten Sikka. Banyak pengrajin tenun sudah menggunakan bahan kimia untuk proses pewarnaan. Mereka meninggalkan keterampilan dan pengetahuannya tentang penggunaan bahan-bahan alami.

“Mereka bilang ini sudah modern. Kalau alami itu masa nenek moyang,” katanya.

David mengajak agar pengrajin tenun dikampungya tetap mempertahankan tadisi alami. Namun tak mudah karena pengrajin ini sudah terbiasa menggunakan bahan pewarna kimia. Alasannya karena lebih praktis dan gampang.

Menurutnya, penggunaan kimia justru tidak menguntungkan bagi si pengrajin. Ia khawatir kimia punya dampak buruk terhadap kesehatan warga dan lingkungan. Pengrajin justru menambah beban sendiri dengan mengeluarkan uang tambahan untuk membeli bahan warna kimia ini. Satu botol pewarna kimia dipasaran sekitar 70 ribu rupiah. Belum lagi untuk membeli bantal benang sekitar 50 ribu rupiah.

“Satu tenun butuh waktu pengerjaan sekitar dua bulan. Kalau dijual pun tidak untung. Ongkos tenaga kerja tidak dihitung,” katanya. Rata-rata harga untuk tenun dalam bentuk selendang sekitar 50 ribu rupiah. Dan untuk sarung antara 200 ribu hingga 300 ribu rupiah.

Ia menunjukkan bahwa tenun yang menggunakan bahan alami justru punya nilai tambah yang lebih. Rata-rata harga satu lembar tenun selendang sebesar 100 hingga 250 ribu rupiah. Dan untuk sarung maupun lembaran yang lebih besar bisa mencapai satu hingga dua juta rupiah.

Kain tenun alami banyak diburu oleh kolektor dan pecinta kain tradisional dari luar daerah Flores. Diantaranya dari Bali dan Jakarta. Pesanan juga banyak untuk kebutuhan penjualan ke negara luar seperti Amerika, Jerman, Singapura dan Jepang. Kain tenun tradisional alami ini kerapkali untuk mengisi kebutuhan galeri dan museum-museum. Penjualan kain tradisional yang masuk kategori antik bisa mencapai 25 juta hingga 80 juta rupiah.

Ia melihat peluang bisnis penjualan tenun bisa menguntungkan. Namun perlu tenaga dan waktu untuk terus mempromosikan keberadaan tenun alami tradisional ini. Mulai dari riset, sejarah, karakteristik motif, pengemasan hingga untuk kebutuhan pendidikan budaya tradisi.

Sampai sekarang ia melihat tak ada upaya yang serius dari pemerintah lokal untuk melestarikan budaya ini. Seringkali pendekatan pemerintah dalam bentuk proyek hingga promosi pameran.

“Mereka jarang bawa pengrajinnya untuk mengikuti pameran,” katanya.

Pemerintah tidak melakukan pendekatan yang lebih merakyat untuk mendorong pemberdayaan. Sehingga keberadaan produk budaya ini bisa memberikan manfaat pada perekonomian warga. Selain untuk melestarikan kekayaan budaya dan pariwisata di Nusa Tenggara Timur.

Setiap daerah punya motif sendiri. Namun sayang, pemerintah daerah tidak mengemas ini dengan ciamik. Kain-kain tradisional ini dijual secara eceran di lapak-lapak dan pasar. Tidak ada satu kawasan khusus yang menjual benda-benda seni. Sehingga bisa terlihat lebih rapi.

“Pasar lokal masih sulit berkembang. Orang awam sulit untuk membedakan mana tenun yang berkualitas mana yang tidak. Kalau yang ada dipasaran, itu semua menggunakan kimia. Cirinya lebih mengkilap,” katanya.

Di Watublapi ia bersama warga kemudian membentuk kelompok Bliran Sina. Artinya, sangat sejuk atau teduh. Kelompok ini mempromosikan budaya, musik dan tenun tradisional Sikka. Termasuk penggunaan bahan alami untuk proses pewarnaan tenun. Kelompok ini juga membentuk usaha keuangan mikro berupa simpan pinjam.

Usaha ini ternyata membawa berkah bagi kampungnya. Apalagi saat itu warga tengah terpuruk akibat gagal panen kokoa. Usaha tenun alami lambat laun bisa mendongkrak kehidupan di Watublapi. Kampung ini lambat laun dapat kunjungan dari wisatawan luar.

Warga juga tidak keberatan menyelenggarakan acara budaya seperti pertunjukkan musik dan tarian tradisional. Saat ini kelompok Bliran Sina sudah memiliki kerjasama dengan travel dan agen-agen wisata yang berbasis di Bali.

“Penjualan langsung dalam satu hari bisa sampai 250 juta,” katanya.

Pengrajin dan pembeli bisa membeli langsung dan berdialog. Masyarakat senang dengan sistem pasar seperti ini. Karena lebih terbuka dan manusiawi. Setiap bulannya pengiriman tenun alami tradisional ke Bali dan Jakarta sekitar 20 hingga 40 lembar. Dengan proses seleksi agar kualitasnya tetap terjaga.

Pengembangan dari tenun ini belum berkembang. Masyarakat lokal belum mampu untuk merancang dalam bentuk lain seperti tas, sepatu, gorden, taplak meja makan hingga gaun. Modifikasi juga masih sulit karena kain tenun terlalu tebal. Alternatif lain pernah coba dengan menggunakan benang sutera. Hasilnya halus. Harga tinggi. Namun bahan dan pengerjaan masih terlampau sulit.

“Kita sering bicara masalah paten. Namun belum bisa. Banyak kain tenun di rumah adat yang sudah banyak hilang. Tidak jelas kemana rimbanya,” katanya sedih.

Sudah lima tahun sudah ia keliling kampung di kepulauan Nusa Bunga ini. Ia terus mencari dan mendalami makna dari setiap motif kain tenun ini. Ia percaya bahwa produk budaya ini bisa memberikan dampak pada perekonomian warga. Kain tenun juga sudah melekat dengan kehidupan warga. Mulai dari aktifitas berkebun hingga ke pasar.

“Kelak saya ingin punya museum tenun tradisional. Mulai dari contoh kain hingga peralatan tenun yang tua. Supaya orang bisa belajar dan melestarikan tenun-tenun itu,” katanya.

Pertengahan tahun ini ia menargetkan agar proyek duplikasi 40 motif Sikka bisa kelar. Termasuk sebuah galeri seni yang bisa menjadi episentrum penjualan kain tenun alami tradisional itu.(Ahmad Yunus /The AHMAD Institute).

info ttg tenun ikat, klik saja : www.alfonsadeflores.com

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Sunday, 11 April 2010

Anggrek Flores Diumumkan Sebagai Sepesies Baru

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengumumkan sebuah spesies baru anggrek, yaitu bunga asal Pulau Flores, NTT, yang diberi nama Dendrobium floresianum.
Peneliti anggrek LIPI Destario Metusala, di Kebon Raya Puwodadi, Jawa Timur, Senin, mengatakan, publikasi nama spesies baru anggrek itu sudah disiarkan The Orchid Review, Inggris, sebuah jurnal tentang anggrek yang dibaca secara luas di kalangan internasional.
Menurut Destario Metusala, penamaan anggrek itu merupakan hasil penelitian dirinya bersama peneliti Singapura O`Byrne selama tiga tahun, yaitu sejak mereka menemukan bunga itu pada 2006.



Bunga yang ditemukan tanpa sengaja itu, menurut dia, memiliki kerabat paling dekat dengan Dobrienianum asal Philipina.

Waktu selama tiga tahun itu, kata Destario, diperlukan untuk melakukan berbagai langkah ilmiah, termasuk proses identifikasi agar dipastikan bahwa anggrek itu memang berbeda dari kerabatnya dalam genus yang sama.

Menurut dia, kini saatnya memperkenalkan kepada masyarakat di dalam negeri mengenai spesies baru asal Indonesia tersebut.

"Untuk perbanyakannya mudah dilakukan, karena walau ditemukan di daerah pegunungan, bunga ini beradaptasi pada daerah rendah asal kelembabannya cukup," katanya.

Masa berbunga anggrek itu pada April-Mei, September-Oktober, dan Januari.

Anggrek Dendrobium floresianum menyukai daerah dengan sirkulasi udara yang lancar, dengan kisaran cahaya 50-70%.

Disebutkan, layaknya Dendrobium lain, anggrek floresianum sangat rentan terhadap serangan hama yang menguningkan daun dan merontokannya (kpl/cax).

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Monday, 22 February 2010

Sejarah, Pemujaan dan Rasa Musikal Orang Flores

Oleh Yoseph Yapi Taum

Sejarah Flores
Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis "Cabo de Flores" yang berarti "Tanjung Bunga". Nama ini semula diberikan oleh S. M. Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubenur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores yang sudah hidup hampir empat abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan Flora yang dikandung oleh pulau ini. Karena itu, lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) mengungkapkan bahwa nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa (yang artinya Pulau Ular). Dari sudut Antropologi, istilah ini lebih bermanfaat karena mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakat Flores.

Pulau Flores, Alor dan Pantar merupakan lanjutan dari rangkaian Sunda System yang bergunung api. Flores memiliki musim penghujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang. Daerah Pulau Flores meliputi sembilan kabupaten, yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngadha, Nagakeo, Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata.

Agama-agama Asli di Flores

Kristianitas, khususnya Katolik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat kota Larantuka. Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37). Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik.

Meskipun kristianitas sudah dikenal sejak permulaan abad ke-16, kehidupan keagamaan di Pulau Flores memiliki pelbagai kekhasan. Bagaimanapun, hidup beragama di Flores –sebagaimana juga di berbagai daerah lainnya di Nusantara (lihat Muskens, 1978)-- sangat diwarnai oleh unsur-unsur kultural yaitu pola tradisi asli warisan nenek-moyang. Di samping itu, unsur-unsur historis, yakni tradisi-tradisi luar yang masuk melalui para misionaris turut berperan pula dalam kehidupan masyarakat. Kedua unsur ini diberi bentuk oleh sistem kebudayaan Flores sehingga Vatter (1984: 38) menilai di beberapa tempat di Flores ada semacam percampuran yang aneh antara Kristianitas dan kekafiran.

Untuk dapat mengenal secara singkat gambaran agama-agama di Flores, Tabel 1 mendeskripsikan 'wujud tertinggi' orang Flores. Tabel itu menunjukkan bahwa orang Flores memiliki kepercayaan tradisional pada Dewa Matahari-Bulan-Bumi. Kepercayaan yang bersifat astral dan kosmologis ini berasal dari pengalaman hidup mereka yang agraris, yang hidup dari kebaikan langit (hujan) dan bumi (tanaman) (Fernandez, 1990). Lahan pertanian yang cenderung tandus membuat orang Flores sungguh-sungguh berharap pada penyelenggaraan Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Wujud Tertinggi Orang Flores

Flores Timur, Wujud Tertinggi Lera Wulan Tanah Ekan (Matahari-Bulan-Bumi)

Lembata = Lera Wulan Tanah Ekan (Matahari-Bulan-Bumi)

Sikka = Ina Niang Tana Wawa// Ama Lero Wulang Reta (Bumi-Matahari-Bulan)

Ende/Lio = Wula Leja Tana Watu (Bulan-Matahari-Bumi)

Ngadha = Deva zeta-Nitu zale (Langit-Bumi)

Manggarai = Mori Kraeng, bergelar: Tana wa awang eta//Ine wa ema eta (Tanah di bawah, langit di atas)



Selain itu, hampir semua etnis masyarakat Flores memiliki tempat-tempat pemujaan tertentu, lengkap dengan altar pemujaannya yang melambangkan hubungan antara alam manusia dengan alam ilahi. Tabel 2 menunjukkan altar tempat upacara ritual orang Flores.

Tempat Pemujaan Orang Flores

Flores Timur - Nuba Nara (Menhir dan Dolmen)

Lembata - Nuba Nara (Menhir dan Dolmen)

Sikka - Watu Mahe (Menhir dan Dolmen)

Ende/Lio - Watu Boo (Dolmen)

Ngadha - Vatu Leva - Vatu Meze (Menhir dan Dolmen)

Manggarai - Compang – Lodok (Menhir)


Altar yang disebutkan dalam di atas merupakan tempat dilaksanakannya persembahan hewan korban dalam upacara ritual formal, misalnya: upacara panen, pembabatan hutan, pendirian rumah, perkawinan adat, dan sebagainya. Upacara ritual itu sendiri menduduki posisi penting sebagai sarana pembentukan kohesi sosial dan legitimasi status sosial. Ritus persembahan di altar tradisional itu mempengaruhi berbagai struktur dan proses sosial di Flores.

Catatan tentang Rasa Musikal Orang Flores

Sekalipun di Flores tidak banyak ditemukan alat-alat instrumen musik, rasa musikal orang Flores tergolong cukup istimewa. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan Max Weber, yang dikutip dari J. Kunst (1942) berikut ini.

“Of musical instruments I did not see much, although, as a matter of fact, the population of Flores seemed to me to be more musically talented than the kindred Indonesian tribes whose acquaintance I made in Sumatra, Java and Celebes, where I never heard any tolerable voices sing agreeable melodies. It was different in Flores. Many a sonorous male voice, rendering simple songs at the river bank, still sounds in my ears; melodies which might well please the European ear, too. And where is the Florinese who could paddle without singing his pantuns, complete with soli and refrain sung in chorus? Among these soloists there were some voices that might, with better training, have been turned out as good tenor, soprano and bass voices. But this hardly seems to me to apply to the treble voices of the genuine Malay people, including the Buginese and Macassarians. It would seem that we have here to do with a morphological distinction in the vocal means of expression, which may well amount to a support of my view concerning the kinship of the Florinese with tribes living further east” (p. 32).

Berikut ini terjemahan selengkapnya kutipan di atas.

“Tentang musik instrumen saya tidak banyak menemukan, tetapi adalah sebuah fakta bahwa penduduk Flores memiliki bakat musikal yang lebih dibandingkan suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang saya jumpai di Sumatra, Jawa dan Sulawesi. Saya tidak pernah mendengar suara nyanyian yang kompak dan serasi dengan melodinya. Ini berbeda di Flores. Banyak terdengar suara pria yang dalam, gema nyanyian di sepanjang sungai, tetap terngiang-ngiang di telingaku, melodinya menyenangkan telinga Eropa juga. Dan di manakah orang Flores yang berjalan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solo dan refrainnya dalam koor? Di antara penyanyi-penyanyi solo ini, terdapat beberapa suara yang, dengan latihan yang lebih baik, akan menjadi penyanyi tenor, sopran dan bass yang baik. Tetapi hal ini jelas hampir tidak terlihat pada suara penduduk Melayu asli, termasuk Bugis dan Makasar. Barangkali inilah pembedaan morfologis dalam ekspresi vokal, yang mendukung gagasanku tentang kekeluargaan di Flores dengan suku-suku yang hidup di timur jauh" (h. 32).

Orang Flores, seperti terungkap dalam kutipan di atas, memiliki bakat musikal yang sangat tinggi, khususnya dalam nyanyian koor. Sebagian (kecil) lagu-lagu Flores sudah diakomodasikan dalam liturgi dan sudah termuat dalam buku Madah Bhakti. Tetapi buku ini kurang disenangi di Flores karena kurang variatif dan terasa seperti menekan kreativitas.
Masih ada satu hal yang penting menjadi catatan. Jika orang Flores, menurut Max Weber, mempunyai bakat musikal yang sangat tinggi, pertanyaannya adalah, mengapa tidak ada orang Flores yang kemudian menonjol sebagai penyanyi nasional? Adakah kendala budaya yang menghambat pencapaian ini?

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Sunday, 31 January 2010

Cabo da Flores

Flores. Berasal dari nama pemberian bangsa Portugis yang berarti Bunga. Berada di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan 8 daerah pemerintahan setingkat kabupaten. Kabupaten Sikka yang beribukota Maumere adalah salah satu dari 8 kabupaten tersebut.
Hampir seluruh dasar laut pulau itu dipenuhi terumbu karang warna-warni, beserta aneka ragam satwa laut yang juga kaya warna. Bersih dan bening, di beberapa area yang dangkal semburat hijau tosca menyembul di sela-sela kemilau biru samudera, berhias taburan batu granit dan karang berwarna perak disiram ombak yang membuih di bentangan pasir putih. Indah bak permata… Cantik tiada tara…!

Ketakjuban akan pesona alam itulah yang mengilhami para pelaut Portugis menyebut pulau yang baru disinggahi, sekitar awal abad ke-15 silam, sebagai Cabo da Flores. Ketika itu, para pelaut Portugis yang berlayar dari Macao (Malaka) singgah di Tanjung Bungan, ujung timur Pulau Flores sekarang. Tanjung Bungan dalam bahasa setempat berarti Tanjung Indah, untuk melukiskan keindahan fauna dan taman laut di tanjung itu.

Karena terpesona oleh keindahannya, pelaut de Elcano (catatan lain menyebut SM Cabot) menerjemahkan kata bunga(n) menjadi flores, maka dinamakan Cabo da Flores atau Tanjung Bunga(n). Sejak saat itu, nama pulau yang terletak di sebelah utara lautan Hindia dan Pasifik itu dikenal dengan nama Flores, yang terdengar janggal bagi telinga orang Melayu. Nama itu kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer.

Menurut antropolog Pater Piet Petu SVD dalam bukunya Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores Warisan Purba (1969), jauh sebelum kedatangan para pelaut Portugis, pulau ini sudah memiliki nama pribumi sendiri. Orang Manggarai menyebut Nuca Nepa Lale (Pulau Ular/Naga yang Indah). Orang Ngada dan Ende menamai Nusa Nipa, dan orang Sikka menyebut Nuhan Nagasawaria. Bagi orang Larantuka menamai Nuha Ula Bungan (Pulau Ular/Naga yang Suci). Semua sebutan itu melukiskan pulau ini sebagai Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular atau Pulau Naga. Alasan penyebutan Nusa Nipa karena di pulau ini banyak dijumpai ular. Bila mengamati peta pulau ini, segera tampak gambaran seekor ular/naga yang sedang tidur, dengan kepala di ujung timur (Tanjung Bunga/Larantuka) dan badan/ekor yang melilit di ujung barat
(Manggarai).

Nenek moyang pulau ini mempunyai keyakinan, jika seseorang bertemu ular atau didatangi ular, maka ia akan memperoleh rezeki. Bahkan, ular dianggap sebagai dewa atau titisan arwah leluhur oleh marga tertentu. Oleh karena itu, sampai sekarang masih dipegang kepercayaan jika ular memasuki rumah atau berhenti di ladang, maka oleh tuan rumah atau pemilik ladang tak akan diusir, dilukai, atau dibunuh. Sebaliknya, ular itu akan dibentangkan sarung serta dihidangkan makanan berupa telur dan beras mentah. Konon hingga kini, sesewaktu masih dijumpai ular/naga sebesar dan sepanjang batang pohon kelapa yang melintasi jalan di suatu areal pegunungan atau hutan yang lebat.

Menurut para tetua adat setempat, nama pribumi Nusa Nipa tersebut memberi daya magis tersendiri bagi masyarakatnya dengan karakter pemberani, gagah, perkasa, cerdas, gesit dan lincah ketika menjelajahi wilayah pegunungan yang terjal dengan sungai yang berkelok-kelok mengitari deretan perbukitan atau mengarungi hamparan lautan luas dengan pusaran gelombang yang menantang sekaligus menyimpan taman laut yang menawan.

Itulah sebabnya pernah muncul wacana di kalangan pemerhati kebudayaan lokal untuk mengembalikan nama pulau itu ke nama pribuminya, Nusa Nipa. Alasannya, nama Flores yang sudah hidup hampir lima abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan flora yang dikandung oleh pulau ini. Selain itu, nama Flores dirasa lebih berkesan halus, lembut, indah, tapi kurang ”berenergi”. Kesan indahnya nama Flores, menurut para pemerhati kebudayaan lokal tersebut, secara sosial-psikologis telah memberi gambaran masyarakat yang cenderung lembut dan indah tapi kurang berkarakter pemberani, gagah, perkasa, cerdas, gesit dan lincah seperti gambaran sosok para leluhur Nusa Nipa dahulu, sebagaimana dilukiskan dalam berbagai legenda rakyat setempat. Dari sudut antropologi, nama Nusa Nipa mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakatnya.

Sebelum bernama Flores, Nusa Nipa sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Posisinya cukup strategis karena menjadi jalur lintasan perdagangan kayu cendana dari Pulau Timor ke Cina dan ke India. Hal ini membuat Kerajaan Gowa, Kerajaan Ternate, Bangsa Portugis, Belanda dan Jepang berebut untuk menguasai pulau ini. Namun, tak satu pun di antara mereka benar-benar berhasil menaklukkan para raja atau kapitan yang menguasai suatu wilayah setempat.

Para pendatang tersebut berusaha menanamkan pengaruhnya di wilayah pesisir, tetapi hanya sedikit yang dapat menyentuh daerah pedalaman karena terhalang oleh deretan pegunungan terjal dengan sungai yang berkelok-kelok di dasarnya. Kini daerah pedalaman Flores sudah lebih mudah dicapai dengan adanya jalan yang naik-turun membelah gunung dan berkelok-kelok mengitari perbukitan dengan tebing yang menjulang tinggi di satu sisi dan di sisi lainnya terbentang jurang dengan kedalaman puluhan meter. Sungguh sebuah perjalanan yang fantastik bagi mereka yang gemar berpetualang.

Lukisan Alam
Flores berada dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan luas wilayah 14.300 kilometer persegi.

Beberapa ikon pariwisata di Flores antara lain: Varanus Komodoensis di Kabupaten Manggarai Barat (termasuk Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo dan Pulau Rinca), taman laut 17 pulau di Riung dan perkampungan tradisional Bena di Kabupaten Ngada, danau tiga warna Kelimutu (Taman Nasional Kelimutu) di Kabupaten Ende, taman laut Waiara Maumere di Kabupaten Sikka, tradisi religi Portugis “Semana Santa” di Larantuka Kabupaten Flores Timur, dan tradisi penangkapan ikan paus di Lamalera Kabupaten Lembata. Selain itu terdapat berbagai situs, artefak, tradisi maupun panorama alam yang dapat dinimati di berbagai daerah Flores.

Misalnya, panorama alam perbukitan yang hijau dan teduh pada musim hujan akan segera berganti dengan sabana yang menguning kecoklatan pada suatu siklus kemarau yang panjang. Namun, kehangatan dan keramahan masyarakat dari etnik campuran Melayu, Melanesia, dan Portugis serta decak kagum akan keindahan alamnya seakan silih berganti mengiringi perjalanan menjelajahi pulau sepanjang 375 km ini. Sebuah lukisan alam dan kebudayaan yang menakjubkan, dari timur hingga ke barat atau sebaliknya!(pgobang)

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs: Pulau Flores | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---