Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 19 April 2008

Selamat Datang Mo'ang Bispuh....

Ya, selamat datang Bapa Uskup MGR. GERULFUS KHERUBIM PAREIRA SVD. Selamat datang kembali ketanah kelahiran, tanah Sikka. Sungguh, inilah moment penting bagi umat Keuskupan Maumere yang lama merindukan kehadiran sosok sang gembala. Dan putra Lela akhirnya ditunjuk menjadi Gembala ditanah kelahirannya sendiri.
Kegembiraan umat Keuskupan Maumere atas peristiwa pemekaran keuskupan dari wilayah Keuskupan Agung Ende dan penunjukkan Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr sebagai uskup pertama tidak berlangsung lama. Tanggal 14 April 2007 Takhta Suci mengumumkan pengangkatan Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr sebagai Uskup Agung Ende. Semenjak itu, gereja lokal Keuskupan Maumere secara kanonik berada dalam situasi “tahkta lowong”.

Kerinduan yang hangat kehadiran seorang gembala akhirnya terjawab. Takhta Suci mengumumkan penunjukkan Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD, uskup Keuskupan Weetebula menjadi Uskup Maumere pada tanggal 19 Januari 2008. Umat Keuskupan Maumere menghayati momentum berahmat ini dengan kegembiraan dan sukacita.


Sejak Siang suasana Kota Maumere seperti diliputi rasa bahagia yang luar biasa. Umat keuskupan berbondong-bondong memenuhi trotoar sepanjang jalan dari bandara hingga kawasan Gereja Katedral St.Yosep. 
Anak-anak sekolah melambai-lambaikan bendera kuning putih memeriahkan penyambutan di setiap kawasan yang dilalui. Sungguh, setelah menikmati pesta demokrasi yang berjalan kondusif kini umat keuskupan kedatangan tamu istimewa asli berdarah Maumere. Umat merasakan keistimewaan momen yang  ditunggu-tunggu. Mengingat inilah pertama kali seorang Uskup Kelahiran Maumere dipercaya oleh gereja Katolik untuk mengembala umatnya di keuskupan Maumere.

Bapa Uskup tiba di Bandara Wai oti sekitar pukul 15.00 Wita tanggal 18 April 2008. Upacara penyambutan yang disiapkan oleh panita berjalan dengan baik. Bapa uskup yang berwajah tampan ini selalu tersenyum pada umatnya yang menyambutnya.

Bapa Uskup tiba bersama rombongan keluarga besar umat Keuskupan Weetebula yang menghantarnya. Di Bandara Wai Oti beliau dijemput rombongan para Pastor ( KURIA KEUSKUPAN ), pantia dan sejumlah umat katolik. Ketuan Panitia penjemputan Sabinus Nabu mengucapkan Selamat Datang kepada Bapak Uskup dan Rombongan disusul pengalungan selendang oleh pasangan muda mudi yang berpakaian adat Sikka.

RIWAYAT HIDUP MGR. GERULFUS KHERUBIM PAREIRA

Tempat/Tgl. Lahir : Lela, 26 September 1941 Putra kelima dari 12 bersaudara
Dari Pasangan:
Ayah : Aloysius Yulius Pareira (alm. 1963) Pekerjaan terakhir Penilik Sekolah Dasar Wilayah II Flotim
Ibu : Elisabeth Da Iku Pareira (Alm.1999)

Pendidikan :
1947 s/d 1950 : Masuk ALS (Algemene Lagere School) di Maumere kemudian di Ndao
1951 s/d 1953 : SR Lela s/d Kls. V gl
1953 s/d 1954 : Meneruskan di SR. Larantuka s/d Kls. VI
1954 s/d 1957 : SMP Seminari San Dominggo di Hokeng ( 3
1957 s/d 1961 : SMA Seminari St. Yohanes Berchmans Mataloko.
1961 s/d 1963 : Novisiat di STFK St. Paulus Ledalero
20-8-1963 : Kaul Pertama pada STFK Ledalero
1963 s/d 1965 : Studi Filsafat pada STFK Ledalero
1965 s/d 1967 : T.O.P di Seminari Pius XII Kisol
1967 s/d 1970 : Studi Theologi pada STFK Ledalero
8-12-1970 : Kaul Kekal di Ledalero
22-8-1971 : Ditahbiskan menjadi Imam di Lela oleh
Y.M. Mgr. Donatus Djagom, Uskup Agung Ende.
1973 s/d 1974 : Melanjutkan Studi pada Universitas Kepausan Salesian
1974 s/d 1976 : Universitas Kepausan Antoniano di Roma Jurusan Psikologi Pendidikan
dan Paedagogik.

Pengalaman Bekerja :

1972 s/d 1973 : Mengajar di SMP Seminari Pius XII Kisol
1977 s/d 1981 : Mengajar di SMA Seminari Pius XII Kisol
1981 s/d 1986 : Dosen APK (Akademi Pendidikan Katekis) Ruteng

Jabatan
1972 s/d 1973 : Pembantu Prefek SMP Seminari Pius XII, Kisol
1977 s/d 1978 : Prefek pada Seminari Menengah Kisol
1978 s/d 1981 : Rektor dan Direktur Seminari Menengah Kisol
1978 s/d 1982 : Wakil Provinsial SVD Ruteng
1981 s/d 1982 : Direktur Akademi Pendidikan Kateketik Ruteng
1982 s/d 1986 : Provinsial SVD Ruteng
25 Januari 1986 : Diangkat oleh Sri Paus Yohanes Paulus II Sebagai USKUP WEETBULA
25 April 1986 : Tahbisan USKUP di Weetebula
19 Januari 2008 : Diangkat oleh Sri Paus Benedictus XVI menjadi USKUP MAUMERE

Jabatan di KWI (Konperensi Wali Gereja Indonesia)
a. Anggota Dewan Moneter KWI, 1988 – Sekarang,
b. Bendahara KWI/Ketua Dewan Moneter KWI, 1994-2000
c. Bendahara KWI/Ketua Dewan Moneter KWI, 2006 - ......

Motto :
Imamat : Tuhanlah kekuatanku, madahku dan keselamatanku (MZM. 118, 14)
Uskup : Ut omnes unum sint = Supaya semua orang bersatu (Yoa. 17, 21)


Lihat Foto-foto yang diambil....Dari bandara sampai kawasan katedral




























































































RANCANGAN ACARA PERAYAAN MISA PONTIFIKAL USKUP MAUMERE
Sumber : Keuskupan

Tanggal 24 april 2008
I. SALVE AGUNG
Hari / Tgl : Kamis / 24 April 2008
Jam : 17.00 WITA
Tempat : Gereja Kathedral St. Yoseph Maumere

II. Santap Malam Bersama
III. Penutup ( Istirahat )


RANCANGAN ACARA untuk tanggal 25 april 2008

I. MISA PONTIFIKAL
Hari / Tgl : Jumad / 25 April 2008
Jam : 08.00 WITA
Tempat : Gereja Kathedral St. Yoseph Maumere

II. Bapak Uskup bersama Konselebran bersiap – siap untuk berarak ke gereja
@ Persiapan tarian perarakan depan Wisma Keuskupan menuju ke Kathedral
@ Setelah Misa Pontifikal : Bapak Uskup dan Para Imam berarak menuju ke Wisma Keuskupan selanjutnya Bapak Uskup dan Para Imam diundang menuju ke tenda resepsi.
@ undangan setelah selesai Misa Pontifikal langsung menuju ke tenda resepsi

III. Susunan Acara Resepsi Pontifikal
1. Pembukaan Oleh MC
2. Sambutan – Sambutan
3. Doa Santap Siang
4. Santap Siang ( Diselingi Atraksi-Atraksi )
5. Salaman
6. Rokatenda, Hegong Bebas & Ja’i Bersama
7. Sayonara



RANCANGAN ACARA RESEPSI


1.Jam 11.00 Wita; Bapak Uskup, Para Imam, Biarawan/wait dijemput dari Wisma Keuskupan dengan Tarian & Musik Gong Waning menuju ke gerbang tenda resepsi.

2.Jam 11.00 s/d 11.10 wita; dipandu oleh Protokol; undangan dimohon berdiri memberikan applous diiringi dengan musik dan lagu oleh koor. ( lagu daerah Sikka ) @ acara 10 menit.
3.Jam 11.10 s/d 11.13; Pembukaan oleh MC; @ Prolog 3 menit


4.Sambutan – sambutan :
-Jam 11.13 s/d 11.23 wita; Ketua Panitia @ sambutan 10 menit
-Jam 11.23 s/d 11.33 wita; Bupati Sikka @ sambutan 10 menit
-Jam 11.33 s/d 11.40 wita; Atraksi
-Jam 11.40 s/d12.10 wita; Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr ( Bpk. Uskup Agung Ende )
-Jam 12.10 s/d selesai; Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD ( Uskup Maumere )

5.Jam 13.00; Santap Siang ( Doa )


6. Atraksi – atraksi
a. Solo / Duet lagu rohani iringan musik elekton; Cons Lamak & Centus Botha
b. Sanggar Blutuk Lunung Ha ( 1 tarian )
c. Remaja Mesjid ( 1 lagu Kasidah )
d. Vocal grup Redion Voice Ordo Karmel Maumere
e. Parisada Hindu Dharma ( 1 tarian Bali )
f. Vocal Grup GMIT Kalvari
g. Sanggar BENZA ( 1 tarian )/Musik Kampung Watublapi ( Paroki Watublapi )
h. Grup Musik Akustik ALL STFK Ledalero
i. SIKKA AKUSTIK
j. All Musik ( Centus Botha & Cons Lamak / Jhon Edwin Papache dkk )

7. Salaman
8. Hegong/Ja’i/Rokatenda bersama Bapak Uskup
9. Happy Ending & Sayonara


Ada yang mau ikut acara MISA PONTIFIKAL di Maumere??



Selengkapnya...

Kota Maumere,Sekelumit Masa Lalu..

Sebuah Kota yang merupakan kebanggaan generasi masa lalu,masa kini dan masa datang.Dicuplik dari dari buku karangan Bapak E.P. da Gomez-Oscar P.Mandalangi yang berjudul 'DON THOMAS PELETAK DASAR SIKKA MEMBANGUN'


Alok Wolokoli atau Alok Sikka

Kata sahibul hikayat, bahwa WURING, BEBENG dan WAIDOKO, tiga kampung mungil yang terletak kurang lebih tiga kilometer ke jurusan barat kota Maumere sekarang, sudah terkenal sejak lama. Letak pelabuhannya yang strategis dengan teluknya yang permai dan lautnya yang cukup dalam dan bening bersih ketika itu, menjadi kolam yang aman buat para pelaut dan nelayan membuang sauh perahu atau sampannya.
Di kampung itu, bermukim para pemasak garam, orang-orang keturunan THOMAS DIDIMUS DA GAMA alias THOMAS DEDE AMANG, putra Morenho AGUSTINHO DA GAMA, seorang rasul awam keturunan Portugis yang berkarya sebagai penyiar agama Katolik.
Menurut perkiraan para sejarahwan lokal, seperti Oscar Pareira Mandalangi, bahwa THOMAS DEDE AMANG menetap di tempat ini sekitar tahun 1700. Sebelumnya ia berdiam di kampung Sikka, ibunegeri Kerajaan Sikka.

Arah ke timur WURING-WAIDOKO, terdapat kampung HEET WOLOKOLI(Heet Wolokoli sebenarnya ada di Nelle. Mereka turun ke Maumere untuk berburu di dataran Maumere yang sangat luas itu. Akhirnya sebahagian bidang tanah sekitar bukit Iligetang menjadi milik keluarga Sadipun, turunan lurus dan Sadok Lodang. Thomas Dede Amang juga memiliki sebahagian dataran itu karena ulah pertumpahan darah yang terjadi gara-gara Sadok Lodang, sehingga dibuatlah pemisahan bidang bagi Keluarga Thomas Dede Amang yang sebenarnya bemama asli Thomas Didimus da Gama.)dengan pelabuhannya ALOK WOLOKOLI, artinya pelabuhan penduduk Wolokoli. MOANG SADOK LODANG, pembesar kampung Heet Wolokoli, memberikan kepada Thomas Dede Amang, sebuah lokasi yang indah dan tampan di pinggir teluk pelabuhan tersebut. Para pemasak garam tersebut, ada yang berpindah tinggal dan meneruskarr usahanya ke Alok Wolokoli itu, karena lalu lintas angkutan laut yang ramai. Dengan demikian produksi garamnya selalu mendapat pasaran yang lumayan dan tetap.

Di situ menjadi tempat pertemuan orang-orang pedagang ash Sikka Krowe dengan pedagang Bugis, Makassar, Maluku dan Kompani Belanda. Di pinggirannya ada pula gubuk yang dibangun orang Makassar. Lama-kelamaan lokasi ini berkembang menjadi pasar barter. Selain itu tidak luput dari kemungkinan huru-hara akibat gencarnya transaksi penyelundupan candu, obat bius dan obat bedil.

Melihat perkembangan itu maka Raja Sikka DON COSMO SEMAO DA SILVA mengutus MOANG JUANG KORUNG DA CUNHA untuk menjaga dan mengatur pelabuhan Alok Wolokoli ini demi kepentingan Kerajaan Sikka. Moang Juang Korung da Cunha sebagai Syahbandar dengan sebutan "Comandanti", bertugas memetik bea pelabuhan. 

Beliau memilih tempat diam di sebelah kali Alok Wolokoli dan kemudian mendirikan KAMPUNG KABOR dan sebuah "benteng" di pantai terletak di teluk yang mencekung indah. Di depannya terhampar gugusan pulau yang timbul tenggelam di pelataran samudera biru yang luas membentang. 

Tanpa berkontak dengan penduduk asli di daratan, mereka serentak menyebut pelabuhan Alok Sikka yang dikaguminya itu dengan sebutan yang biasa digunakan pelaut Ende: MAUMERE, pelabuhan besar (bahasa Ende, ma'u = pelabuhan; mere = besar). 

Tim ekspedisi kelautan ini serta-merta mencatat nama MAUMERE untuk pelabuhan ini (ingat, nama-nama pelabuhan lain seperti Maunori, Mautenda, Maurole, Maumbawa, Mauponggo, Mauloo, Maubara di Timor dan lain-lain). Alhasil, nama MAUMERE menjadi istilah resmi dalam administrasi pemerintahan Kolonial Belanda di Batavia, dan terbawa terus sampai sekarang.

Kapan Nama "MAUMERE" Mulai Populer

Nama MAUMERE dibaptiskan oleh orang-orang Ende. Begitulah menurut versi ceritera yang diungkap di atas. Siapa pemberi nama itu, tak pernah diketahui. Dan kapan nama MAUMERE ini dimasyarakatkan dan mulai populer, juga tak ada data yang bisa menggubris bukti sejarah. Adalah Moang M. MANDALANGI PAREIRA dan EDMUNDUS PAREIRA, dua bersaudara sekandung asal kampung Sikka, pensiunan guru SD yang berminat besar dalam menghimpun dan menulis hikayat lama, menceriterakan dalam brosur stensilan "WAKE PU'ANG" tentang berbagai kemungkinan atau pendapat mengenai kapan orang mulai menyebut Alok Sikka sebagai MAUMERE.

Dalam sejarah Gereja Katolik di Flores, tersebutlah Pastor C. LEQOQ D' ARMANVILLE, SJ, tiba di pelabuhan Maumere pada tanggal 22 Mei 1881. Pastor yang kelak menjadi pastor paroki Sikka itu mencatatdalam buku hariannya: "Maumere terletak di pesisir utara pulau Flores, di teluk Geliting. Sebuah desa dengan empat dusun, yaitu Wolokoli, Kota, Kabu Kabor?) dan Wutek (Wuring?). Nama lain bagi Maumere ialah Sikka Kesik atau Sikka Lotik atau Alok Sikka, dan ada yang menyebut ALOK WOLOKOLI".

Itu berarti nama Maumere sudah dikenal sebelum tahun 1881. Malah Pastor J.P.N. SANDERS, Pr, pastor wilayah Larantuka pada tanggal 3 Juli 1861, menulis surat kepada Uskupnya di Batavia, antara lain: "Pada tanggal 20 Juni 1861 yang lalu saya telah melakukan perjalanan misi saya ke Sikka dan daerah terpencil lainnya.... Sesudah pelayaran tujuh hari, saya tiba di Geliting.... Oleh karena tak ada kerja di situ, saya naik perahu lagi dan pergi ke Maumere". Dalam laporannya yang cukup panjang itu, Pastor Sanders berulang kali menulis MAUMERE.

Sebegitu jauh tak ada data lain lagi untuk me¬yakinkan kita, sejak kapan nama Maumere itu dimasyarakatkan dan diabadikan. Dengan surat Pastor Sanders itu dapatlah disimpulkan bahwa nama Mau-mere sudah dipergunakan oleh masyarakat setempat jauh sebelum tahun 1861. Kapan persisnya, tak pernah bisa diungkit. Sementara itu sampai tahun enam puluhan dalam abad 20 ini sebutan ALOK masih terdengar dalam percakapan sehari-hari.

Ironisnya, jika benar bahwa nama Maumere yang kesohor, yang sangat dibanggakan dan dihormati ini berasal dan sebutan orang-orang Ende yang menjadi kelasi kapal. Oleh karena itu, adakah generasi sekarang mau membuat sejarah untuk merobah nama Maumere ini, misalnya menjadi kota ALOK MARIA, atau nama lain yang rasanya lebih cocok dan tepat dengan bahasa, budaya dan sejarah Sikka? Ini tergantung pada kemauan dan keberanian kita jua.

Menjadi Ibukota Pemerintahan

Sejak awal terbentuknya Kerajaan Sikka, yaitu kira-kira pada tahun 1607, pusat pemerintahan ber¬markas di kampung Sikka, di istana " LEPO GETE" (Kini di atas reruntuhan istana LEPO GETE itu, Pemerintah Kabupaten Sikka membangun kembali Rumah Adat itu pada tahun 2000 dengan biaya Rp 100 juta, untuk melestarikan sejarah, budaya dan sekaligus menjadi obyek wisata).

Terkecuali Raja SIKU KORUN DA CUNHA (sekitar tahun 1800) dan Raja PRISPIN DA CUNHA (1850) yang inenetap di Maumere.

Ketika Raja Sikka DON ANDREAS JATI XIMENES DA SILVA memegang kekuasaan (1871-1898), beliau secara resmi menerima kedatangan Misionaris pertama asal Belanda, P.C. OMZIGHT SJ, pada tahun 1873 di Maumere. Demikian pula dalam masa pemerintahannya itu, Pemerintah Belanda untuk pertama kalinya membenum seorang "Posthouder" pada tanggal 24 Agustus 1879 di Maumere. Posthouder G.A.VAN SIEK itulah yang menyarankan agar Raja Sikka sebaiknya selalu berada di Maumere. Sebab ketika itu Maumere sudah ramai sekali sebagai tempat pertemuan para pedagang dad berbagai jurusan. Termasuk para pedagang Cina yang mulai membuka toko-toko dengan menjual serba macam barang dagangan. Kehadiran raja sangat diperlukan untuk mengelola penyelenggaraan pemerintahan, mengatur ketertiban umum, mendistribusikan tanah, pengamanan daerah pelabuh¬an dan lain sebagainya.

Saran yang baik itu sangat menarik perhatian sang Raja Sikka. Secara bertahap mulai diarahkan rencana dan perhatian untuk memindahkan ibukota Kerajaan Sikka ke Maumere. Akan tetapi barn pada tanggal 26 Pebruari 1894 dipancangkanlah tiang pertama bangunan istana Raja Sikka itu di Maumere. Danpada tanggal 8 Maret 1894 diselenggarakan suatu pesta rakyat yang marak meriah dengan acara main dadu dan sabung ayam selama seminggu sebagai tanda peresmian pembangunan istana itu (di atas puing istana Raja Jati itu sekarang berdiri bangunan rumah dua bersaudara sekandung keturunan Raja Sikka, MIKHAEL DA SILVA dan RAFAEL DA SILVA). Namun demikian, Raja Sikka masih tetap saja berdiam di kampung Sikka. Beliau datang ke Maumere hanya sesewaktu apabila perlu atau diminta Posthouder.

DON JOSEPHUS NONG MEAK DA SILVA dinobatkan menjadi Raja Sikka ke-14 pada tahun 1903. Pada mulanya beliau menetap di kampung Sikka, dan barn pada tahun 1918 (tanggal dan bulan tidak tercatat), beliau mengambil keputusan untuk memindah¬kan ibukota pemerintahan Kerajaan Sikka ke Maumere (versi lain menyebutkan kepindahan itu terjadi tahun 1917, menurut tulisan P.S. DA CUNHA dalam surat khabar Mingguan "BENTARA" Ende edisi tanggal 15 Juni 1954).

Raja NONG MEAK membangun istananya, yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai "Oring Sirat", di lokasi yang sekarang sudah berdiri bangunan Losmen Lareska, sedangkan bangunan kantor pemerintahan Kerajaan Sikka (Landschaap Sikka) terletak di Kompleks Lapangan Tugu (sementara ini sudah menjadi lokasi sakral Patung "KRISTUS RATU ITANG").

Sampai dengan tahun 1944, Raja Sikka DON THOMAS terus melanjutkan pembangunan Kota Mau-mere, antara lain pasar, toko, jalan-jalan, rumah para pegawai, perkampungan penduduk, termasuk memba¬ngun istana kediaman Raja Sikka.

Raja Sikka DON THOMAS inilah yang patut ditokohkan sebagai putra daerah peletak dasar dan pemikir mula, awal modernisasi pembangunan kota Maumere. Konsepnya ini mulai dikembangkan semenjak beliau memangku jabatan Raja Sikka pada tahun 1920 hingga ajal menjemputnya pada tanggal 18 Mei 1954 di Ende. Lebih-lebih pada tahun-tahun awal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Gagasannya yang cemerlang dan karya dengan kerja keras yang tidak kenal lelah, kini dilanjutkan oleh para penerima tongkat estafet kepemimpinannya dalam tampuk pemerintahan para Bupati Kepala Daerah Otonom Tingkat II Sikka sejak tahun 1960.


Luluh Lantak Dihantam Born Sekutu

Kehadiran Jepang menguasai Pulau Flores, telah mengundang incaran Sekutu. Maka Kota Maumere yang dijadikan sebagai basis pertahanan Angkatan Perang Kerajaan Jepang, menjadi mangsa dan sasaran pemboman. Rentetan peristiwa tragis yang menimpa Kota Maumere itu, menurut catatan D.D. Pareira Kondi, adalah sebagai berikut:

1.Tanggal 23 Januari 1944 Sekutu menjatuhkan born pertama kali, dan merusakkan Toko Batu, Toko Liong, Toko Makasar; tercatat dua orang meninggal dan bayak yang terkena cedera ringan;

2.Tanggal 14 Juli 1944, diperkirakan dua puluhan pesawat udara terbang melintasi kota Maumere dan menjatuhkan bom lagi. Banyak rumah penduduk dan kantor pemerintah menjadi rusak total. Jumlah orang yang mati tidak tercatat;

3.Tanggal 17 Juli 1944 sebuah kapal Jepang yang sedang berlabuh di perairan dekat Pulau Besar, terbakar;

4.Tanggal 27 Juli 1944 Istana Raja Sikka dibumi hanguskan oleh bom Sekutu (sehari sebelumnya, tanggal 26 Juli 1944, putra sulung DON THOMAS, yaitu DON J.D.X. DA SILVA menikah dengan Nona Rosalia Kaunang di Hadakewa);

5.Tanggal 28 Juli 1944 giliran Bandar Udara Waioti terkena bom laknat itu;

6.Tanggal 31 Juli 1944 bagian lain dari Kota Maumere hancur lebur dihantam bom Sekutu. Banyak penduduk mengungsi ke pedalaman.


Sebelum pemboman itu terjadi, penduduk kota Maumere telah mengungsi keluar menuju ke kampung¬kampung untuk rnenyelamatkan diri. Sementara itu DON THOMAS memindahkan ibu kota pemerintahan ke Dihit (sekarang desa Korowuwu, Kecamatan Lela). Setelah Jepang menyerah, masyarakat kembali memasuki kota Maumere, menyaksikan Tentara Sekutu (NICA) yang lalu lalang. Penduduk mulai membenahi kembali rumah diamnya dan membangun kehidupan masa depannya.


Maumere Setelah Dibom Sekutu

Kebrutalan perang membuat Kota Maumere mengalami nasib sial. Bangunan-bangunan luluh lantak, tinggal puing. Wajahnya nampak bopeng. Patung Kristus berwarna putih yang dikagumi Tasuku Sato, hancur berantakan. Kenyataan pahit dari insiden nahas itu telah mendorong Raja Sikka DON THOMAS berbuat sesuatu. Beliau merencanakan pembangunan suatu kota bare untuk menjadi ibu kota Swaparaja Sikka yang lebih representatif, dengan memperhitung¬kan kemungkinan perluasan di masa depan oleh perkembangan pemerintahan dalam berbagai dimensi dengan segala aspek dan dampaknya.

Dengan kegiatan penelitian dan perencanaan oleh seorang ahli tata kota dari Departemen PekerjaanUmum, dibantu oleh J. DENGAH dari DPU Ende, dan dukungan ketrampilan serta pengalaman Bruder FRANS BAKKER SVD, gagasan DON THOMAS ini mulai dilaksanakan pada tahun 1947-1948. "Proyek" ini rampung menurut kebutuhan zaman itu, pada awal tahun lima puluhan. Dananya diperoleh antara lain dari Particuliere Opbow Dienst (POD) Kupang.

Sekarang kita lihat "KOTA BARU MAUMERE" sebagai kawasan elite Kabipaten Sikka. Di situ berdiri Kantor-Kantor Pemerintah, Gedung DPRD Rumah Pejabat dan Perumahan para Pegawai. Selebihnya lokasi Markas Kepolisian, Lembaga Pemasyarakatan, Pasar, Rumahsakit, Persekolahan, Biara, Kompleks Pedagangan dan Pelabuhan Laut, pusat pemukiman penduduk, dengan jalur jalan, dalam wujudnya kini kita saksikan dan nikmati, adalah bagman dan rencana penataan yang dirancang sejak masa pemerintahan DON THOMAS. 

Dalam pada itu, DON THOMAS harus dicatat pula sebagai pemikir dan pemrakarsa pembangunan Bandar Udara Waioti, yang mulai dikerjakan pada tahun 1943-1944 dalam masa pendudukan Jepang. Melihat itu semua, tepatlah jika dikatakan bahwa Raja Sikka DON THOMAS inilah fundator dan pemikir mula, awal modernisasi pembangunan kota Maumere.

Ditetapkannya Maumere sebagai ibu kota pemerintahan adalah suatu karya besar dengan makna yang sangat berharga dari para pendahulu kita. Kenyataan sekarang menunjukkan bahwa posisi Maumere termasuk dalam jalur dalam" ("jalur luar" terletak di garis lurus selatan Pulau Flores, Laut Sawu), dan telah dikembangkan sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perekonomian, perindustrian, pertahanan dan keamanan, kepariwisataan, kegiatan sosial dan keaga¬maan. Prospek masa depannya cerah, karena letaknya yang tampan dan strategis, serta memiliki banyak peluang yang sangat potensial.

Gagasan dan karya DON THOMAS membangun Kota Maumere, kini terus diperbaharui, digalakkan dan ditingkatkan oleh para penerima tongkat estafet kepe¬mimpinarmya. Tentu saja oleh kemajuan zaman, apalagi dengan dana, sarana dan fasilitas yang lebih baik dan teknologi yang semakin canggih, tingkat pekerjaan pembangunan sekarang akan jauh lebih bermutu.


www.inimaumere.com



Selengkapnya...

Thursday, 17 April 2008

Toko Batu Terbakar,Pemadam Kebakaran tak ada.....

Ketika semua terkosentrasi pada perhitungan suara Pilkada Kabupaten Sikka 2008,tiba-tiba warga dikejutkan oleh adanya berita yang tak kalah menarik yakni terbakarnya sebuah tokoh tua di kawasan pertokoan bagian bawah pusat Kota Maumere. Toko itu adalah Toko Batu yang berhadapan langsung dengan Toko Kuda Mas.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul setengah sembilan malam. Mendengar kabar tersebut, para pencari berita yang sedang berkumpul di Studio Radio Suara Sikka untuk meliput perhitungan suara Pilkada Sikka sontak terkejut dan langsung menuju lokasi terjadinya kebakaran tersebut. Api melahap habis bagian samping toko tersebut. Warga menyemuti lokasi kejadian.

Dengan peralatan yang terbilang sangat tak layak untuk memadamkan kobaran api yang membara, masyarakat bahu membahu berusaha keras menghentikan nyala api yang terus menjalar. Sekitar setengah jam kemudian, sebuah mobil tangki memasuki lokasi yang disusul truk tangki yang lain. Dimanakah truk pemadam kebakaran wahai pemerintah yang terhormat? Kejadian terbakarnya Toko Manggis beberapa bulan yang lalu tak membuat mata pemerintah terbuka untuk menyediakan paling tidak sebuah truk pemadam kebakaran lengkap dengan personilnya.

Ya, paling tidak penguasa baru Kabupaten Sikka yang sebentar lagi akan terpilih cepat tanggap akan terjadinya hal yang paling prinsipil dalam menangani sebuah bencana kebakaran ini.

Pelajaran berharga ini bisa menjadi sebuah pengelaman yang semoga tidak akan pernah terulang lagi dalam sejarah pemerintahan yang baru.

Setelah berusaha setengah mati akhirnya api yang menjalar dapat dihentikan dengan sukses. Salut atas kerjasama masyarakat...

Sekali lagi dimanakah truk pemadam kebakaran??

foto menggunakan kamera ponsel.. :)


posting by: oss,boim,dpar



Selengkapnya...

Gunung Egon Semburkan Hujan Debu..

Kurang lebih pukul 10 malam hari selasa, Gunung Egon sebuah gunung di Kabupaten Sikka yang masuk dalam pengawasan BMG NTT mengeluarkan debu yang sempat menyelimuti kawasan sekitarnya. Gemuruh bunyi letusan kecil Gunung Egon sempat membuat panik warga Kabupaten Sikka dan warga Kota Maumere pada umumnya.
Menurut penuturan warga yang kami jumpai, Gunung Egon sempat mengeluarkan bunyi gemuruh sekitar kurang lebih lima menit.
Gunung Egon adalah sebuah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki tinggi 1.703 meter dari permukaan laut. Egon kembali aktif pada 2006 setelah vakum selama 75 tahun. Egon tercatat meletus dahsyat pada 1925.
Namun kali ini menjelang hari dimana rakyat Sikka berpesta untuk memberikan suara bagi calon pemimpinnya, Gunung Egon pun sempat 'menegur sapa' masyarakat Kabupaten Sikka lewat semburan debunya.

Bupati Sikka Alexander Longginus pun sempat mengunjungi kawasan dan melihat warga. Pukul 3 dini hari Pak Alex berangkat untuk melihat dan memantau kawasan sekitar Gunung Egon dimana masyarakatnya mengalami sedikit goncangan akibat trauma 2005 lalu.

Dikota Maumere pun terjadi kepanikan namun tidak menjalar menjadi kepanikan yang luarbiasa. Pak Alex sendiri tiba di Maumere sekitar pukul 9 pagi tanggal 16 april.

Jadi meski sempat mengeluarkan debu namun warga Kabupaten Sikka tetap beraktifitas seperti biasanya.Ini terlihat saat hari pencoblosan Pilkada dimana semuanya tetap berjalan aman dan tentram. Sekali lagi warga Kabupaten Sikka tetap menjalankan kehidupannya seperti biasanya. Isu diluar yang mengatakan bahwa terjadi kepanikan luarbiasa di dalam kota dan kawasan sekitar gunung Egon sama sekali tidak terbukti.

SEJARAH GUNUNG EGON

Ada dua orang kakak beradik yang bernama Radja dan Kolung. Radja adalah seorang anak wanita semata wayang yang kawin dengan Sina (Menteri). Upacara adat yang dilakukan dibagi dalam dua bagian :

1. untuk Kolung (anak laki-laki), agar dapat menjaga tempat upacara (mahe = menhir)mere serta kampung.
2. untuk Radja yang dilakukan di gunung dengan bahar (emas) sehingga walaupun Radja adalah seorang anak wanita tapi diberi kuasa hingga turunan nona ini yang bernama Migo.

Dalam setiap upacara untuk gunung egon selalu didahului dengan du’a mapi giek moan tanah gahar. Jika ada longsor mereka hanya melihat pada mas adat (yang berupa kaca). Segala aktifitas gunung egon dapat dilihat dalam emas adat tersebut. Apa bila sudah memberikan tanda-tanda, maka harus dibuat upacara. Sebelum Bapak Migo mati, ada pesan harus membuat upacara ke arah matahari timur laut karena di bagian tersebut terdapat retakan pada dinding kawah gunung egon. Pesan ini tidak diindahkan oleh keponakannya, sehingga karena kelalaiannya, peristiwa hari Kamis, 29 Januari 2004 terjadi. Upacara yang dimaksud adalah memberikan sesajen di gunung berupa emas, babi, beras, telur dengan maksud untuk minta perlindungan dari arwah penjaga gunung untuk memohon keselamatan dari bencana gunung meletus, banjir.

Sesajen berupa : mas, babi, beras merah, tuak, bibit untuk tanam.
Untuk upacara di gunung dibagi sesuai dengan wilayah desa. Setiap desa (4 desa) mempunyai 1 mahe sebagai tempat upacara.

Mitos yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat bila Gunung Egon akan meletus apabila sudah muncul ular berkepala tujuh dari gunung dan menampakkan wujudnya kepada penjaga gunung. Bila penjaga gunung melihat hal tersebut, maka beliau akan menyebarluaskan informasi itu kepada masyarakat untuk bersiap-siap karena Gunung Egon akan meletus.


pace foto G.Egon 1920

Posting By; OSS,BOIM,DPAR


Selengkapnya...

Wednesday, 16 April 2008

Mau Wallpaper Maumere?Ini dia...


Mhhh...Yang kangen akan Nian tanah,ada nih wallpaper tentang Maumere yang unik-unik,Wallpaper ini dibuat oleh Mo'at Mendez...Simak gambar-gambar keren hasil karya anak Sikka yang tinggal di Jerman.Anak Maumere dimana-mana selalu tampil kreatif hehehe..

Kata Nong Mendez:Halaman ini disediakan khusus buat anda pecinta Maumere. Buat kangen-kangenan, gambar-gambar ini bisa di download. Gratis..tis...tis!!!!! Ukuran sebenarnya dari gambar-gambar ini adalah 1000x750 pxl. Tinggal klik saja gambar pilihan anda. Pokoknya,bisalah buat pajangan di dekstop komputer. Yang punya ide lain, kontak saja Mo'at Mendez di: valentino_mendez@hotmail.com menunggu anda.

Ok,Yang mau gambarnya klik disini..
Ok,
sambil menikmati gambarnya,hari ini kami sedang berusaha meliput keadaan di setiap TPS di Kota Maumere,siapa yang memenangkan Pilkada ini?Tunggu liputannya..

Selengkapnya...

Monday, 14 April 2008

Propinsi kepulauan perlu didukung ..

Gagasan agar NTT dilihat dalam perspektif propinsi kepulauan perlu didukung. Didukung bukan karena ide pembentukan Propinsi Flores tidak perlu, tetapi karena skema anggaran bagi NTT sebagai propinsi kepulauan akan jauh lebih besar.
Dukungan agar NTT perlu dikategorikan sebagai propinsi kepulauan dilontarkan oleh Dr. Leo Kleden, SVD, dalam diskusi panel di Kampus STFK Ledalero, Maumere, Sabtu (12/4/2008). Diskusi panel dengan tajuk "Memotret Pembangunan di NTT, kemarin, hari ini dan esok" digelar Ikatan Alumni STFK Ledalero di Kupang bersama STFK Ledalero menghadirkan tiga panelis, masing-masing Drs. Frans Lebu Raya, Dr. Leo Kleden, SVD, Dr. Konrad Kebung, SVD, dengan moderator Dr. Paul Budi Kleden, SVD.
Dukungan Dr. Leo Kleden terhadap ide NTT sebagai propinsi kepulauan dikemukakan setelah mendengar pemaparan Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Menurut Lebu Raya, jika tidak NTT tidak ditempatkan sebagai propinsi kepulauan, maka skema anggaran dari pusat untuk NTT dihitung berdasarkan luas wilayah daratan saja. "Tetapi jika NTT merupakan propinsi kepulauan, maka dana untuk NTT jauh lebih besar, tidak bisa sama dengan propinsi lain yang wilayah daratannya lebih besar," kata Lebu Raya.
Leo Kleden sepakat dengan Lebu Raya. Menurutnya, semangat otonomi pada dasarnya adalah memberikan lebih banyak keuntungan kepada kabupaten, bukan propinsi. "Karena itu, saya setuju kalau kita bentuk propinsi kepulauan daripada Propinsi Flores," tegas Leo Kleden.

Wirausaha
Tampil dengan materi 'peranan gereja Katolik dalam membangun sumber daya manusia,' Leo Kleden mengupas apa yang sudah dilakukan gereja di NTT. Dia menyebut sektor pendidikan sebagai salah satu sektor yang paling nyata dari jasa gereja.
Meski berhasil membangun pendidikan di daerah ini, menurut Leo Kleden, salah satu kegagalan gereja adalah tidak menciptakan etos kewirausahawan bagi warga di daerah ini. Karena itu, kata Leo Kleden, jika NTT ingin maju dan berkembang di masa depan, maka etos kewirausahawan harus dikembangkan dan diberi perhatian khusus, terutama oleh pemerintah.
Dari sisi ini warga NTT kalah bersaing dengan warga Bugis- Makassar, Batak dan Bali. Karena itu, dia meminta pemerintah membangun jaringan di antara warga. "Saya minta pemerintah juga mendukung ini dengan membentuk jaringan. Orang Batak, Bugis Makassar, Bali sangat kuat jaringannya, sehingga sukar ditembusi pihak lain. Kita sebetulnya juga bisa maju jika pemerintah menolong membentuk jaringan," kata Leo Kleden.
Selain meminta perhatian mengembangkan etos kewirausahawan, Leo Kleden juga mengemukakan beberapa hal lain yang semestinya diperhatikan gereja. Bidang politik, katanya, perlu dipikirkan secara serius. "Politik itu kerap disebut kotor. Tetapi dari yang kotor itu justru yang mengambil keputusan dan kebijakan untuk begitu banyak orang. Karena itu saya pikir, gereja juga perlu masuk ke politik. Di politik bukan turut jadi kotor, tetapi mau membersihkan," kata Leo Kleden.(poskup)


Selengkapnya...

Thursday, 10 April 2008

SEBENTUK CERMIN DALAM SEJARAH “SIKKA”


Ditulis oleh anak Maumere Alexander Yopi Susanto,tinggal di Jakarta Selatan.
Epang gawan Mo'at..

Wue wari punya artikel tentang kabupaten sikka?(politik,budaya atau apa
saja) kirim ke email:
cherovita@yahoo.co.id

Nama Kabupaten Sikka bukan tanpa debat kusir. Suhu perpolitikan itu sudah bisa memanas hanya dengan menyebut “Sikka”. Sejarah Kabupaten Sikka itu tidak pernah diam dengan dialektika politik. Apalagi di tengah hiruk pikuk Pilkada sekarang. Kabupaten Sikka seolah melempeng untuk dibentuk kembali. Menanti kelahiran baru dalam tungku pembakaran sejarah dan politik menjadinya.


Ruas Perpolitikan Dari Sebuah Nama

Ata Sikka atau Sika, lebih pas marga Sikka sesungguhnya merupakan peleburan dari beberapa suku. Muhang, Krowin, Krowe, Palue, Mego-Nualolo, dan Bu-Mbengu. Tahun 1925, akibat politik konsentrasi kolonialisme Belanda, suku-suku tersebut, yang berada di bawah kekuasaan tiga kerajaan besar: Sikka, Kangae, dan Nita, “dipaksa” menyatu menjadi “Sikka”.

Mencuatnya nama Sikka sebagai identitas tunggal itu seolah-olah mencaplok kekuasaan dua kerajaan lainnya. Justru karena inilah, nama Sikka menjadi sangat kontroversial. Penuh perdebatan. Karena toh, Sikka sendiri hanya merupakan wilayah kecil dari “oderafdeling Maumere”. Sama sekali tidak mampu mewakili nama dan kekuasaan dari dua kerajaan lain. Sejarah lebih berpihak pada Raja Don Alessu, raja Sikka waktu itu, oleh kedekatannya terhadap pemerintah Belanda. Sementara dua kekuasaan lain yang sama sekali non-koperatif, memilih untuk melawan, ketimbang bekerja sama. Karena itu, Belanda lebih mudah memilih “Sikka” sebagai sebuah nama, ketimbang mengakui nama-nama lain untuk wilayah itu.

Sikka dibesarkan oleh waktu, dan bukan atas catatan sejarah yang rasional dan seimbang. Artinya, aroma persaingan, pertarungan, perebutan kekuasaan, termasuk dalam hal memprasastikan sebuah nama, begitu lekat dengan gerak menjadi Sikka. Kritik atas “Sikka” menjadi sangat dekat dengan aroma persaingan itu, kalau nama itu sengaja dibenturkan dengan nama “Maumere” yang sudah lebih populer dan merangkul. Tetapi berbagai argumentasi di balik perjuangan menggantikan nama Sikka menjadi Maumere itu tetap saja kandas. Sikka yang menjadi sasaran kritik karena sarat sentimen kewilayahan dan fanatisme kesukuan tersebut tetap tidak bisa menjadi Maumere yang lebih populer dan merangkul.

Kalau perdebatan tentang nama ini cuma sampai di sini, provokasi kebangkitan massa dan sektarian kesukuan akan semakin menguat. Perlulah pembacaan yang lebih positif, sesuai dengan karakter dan gerak menjadi orang Sikka itu sendiri. Bahwa antara Sikka dan Maumere, ada ruang, pilihan, konsistensi kemenjadian orang Sikka yang selalu bertarung di iklim percaturan perpolitikan. Sikka tidak pernah lahir dari kesetujuan massal. Dari kesepakatan semua suku atau kerajaraan. Nama itu muncul dari penaklukkan politis, yang justru menjadi pusar orang Sikka. Karena itu, hanya waktu yang bisa menjawab. Dalam gerak perpolitikan itu, konsensus rakyat dan para pemimpin di Kabupaten Sikka bisa memilih dengan kesadarannya untuk tetap menggunakan nama Sikka. Atau malah menggantikannya dengan Maumere.

Pemerintahan Populis Sikka

Dalam lintas sejarah perpolitikannya, Sikka pernah mengenal KANILIMA. Deklarasi KANILIMA dipelopori oleh tokoh dan cendekia masyarakat dari tiga wilayah: KAngae, NIta, dan LIo-Maumere. Didukung oleh massa luar biasa dari ketiga distrik itu, KANILIMA berhasil tampil menjadi oposan. Mereka gigih mengkritik dan mendobrak politik dominasi pemerintahan Sikka masa itu, di bawah Raja Don Thomas Ximenes da Silva.

Kelihatan sekali, “perseteruan” Raja Don Thomas sebagai pihak pemegang roda pemerintahan dan KANILIMA sebagai oposan menjadikan iklim demokrasi ala Sikka lebih hidup, menarik, dan dialektis. Pada perseteruan itu, KANILIMA bersuara cukup keras, sebagai corong dan pengemban amanat penderitaan rakyat. Sasarannya, supaya roda pemerintahan Sikka itu berjalan lebih seimbang, adil, menghargai nilai kemajemukan, meninggalkan tindakan-tindakan kekerasan, penindasan, pemerasan, dan politik KKN. Tampilnya KANILIMA justru menghidupkan lagi dialektika politik orang Sikka, dari dominasi sentralistik menuju pemerintahan demokratis.

Kalau mau disejajarkan, deklarasi KANILIMA pada tahun 1948 itu sama persisnya dengan gerakan mahasiswa tahun 1998. Iklim demokrasi yang sentralistik, penuh dengan tindakan monopoli, KKN, kekerasan, dan penindasan itu berhasil ditumbangkan oleh gerakan mahasiswa. Indonesia mulai dengan pembabakan sejarah baru. Pada kelahiran era reformasi. Posisi KANILIMA sendiri tidak jauh berbeda dengan bentuk negara demokrasi milik negara-negara di Eropa yang hanya mengenal dua partai: pihak pemegang roda kepemerintahan dan pihak oposisi. Dan betapa membanggakan, gerakan reformasi seperti ini sudah bukan asing lagi untuk orang Sikka, sekurang-kurangnya sejak tahun 1948.

Pembejalaran atas catatan tinta emas deklarasi KANILIMA sebetulnya menjadi titik simpul dari pemaknaan pemerintahan populis, yang khas Sikka. Berikut ciri-ciri kepemimpinan yang berhak duduk di kursi panas kabupaten ini. Bahwa bentuk pemerintahan populis masyarakat Sikka itu selalu berada dalam dialektika tesis dan antithesis, antara pemerintah dan pihak oposisi. Dalam dialektika tersebut, yang dicapai adalah reformasi. Kelahiran baru. Yang ditandai dengan pembukaan ruang demokrasi yang luas, penghargaan pada nilai-nilai humanis, ekologis, dan kesejahteraan rakyat.

Karena itu, tipe kepemimpinan yang selaras dengan aras dialektika ini adalah memberikan keleluasaan bagi banyak orang untuk berpartisipasi. Menghargai perbedaan pendapat. Akomodatif terhadap kritik dan masukan. Mengutamakan kepentingan masyarakat. Sensitif terhadap suara arus bawah. Menghormati ruang hidup, adat istiadat, dan kemajemukan. Serta memiliki kepatutan publik, seperti tidak terlibat dalam kasus asusila, KKN, kekerasan, dan penindasan. Pemimpin Sikka mesti selalu berjiwa reformis.

Sebentuk Cermin Sejarah Sikka

Dalam catatan pemberontakan Teka Iku yang ditulis Bruder Petrus Laan SVD, tertulis kutipan: “Tahukah kamu juga, tanya Kailola kepada Nurak, apa sebab Teka berontak melawan Raja?” Atas nama Nurak berkata, “Teka mengatakan ia berkelahi untuk orang kecil, bahwa belasting baru dari Raja, 4 buah kelapa dari tiap pohon, dan itu dari tiap panen, adalah terlalu tinggi”.

Kegerahan seorang Teka, mengawali pemberontakan Teka Iku yang panjang dan luar biasa itu adalah sobekan dari bagian yang utuh sejarah Sikka yang selalu “tidak tinggal diam”. Spirit yang sudah lama tumbuh, terpatri, dan mendarah daging di tubuh masyarakat Sikka adalah berani mereformasi diri. Berani melakukan otokritik. Siap berubah menuju kelahiran baru. Senantiasa menjadi lebih bersih dan cerlang. Gagah berani seperti tombak dan panah pada tangan, tetapi lembut bersih dalam jiwa dan hati. Inilah sebentuk cermin sejarah Sikka.

Karena itu, betapa memalukan pemimpin Sikka sekarang kalau terjerumus terus menerus dalam semangat yang sentralistik, haus kekuasaan, KKN, dan feodal. Betapa direndahkannya marga yang mulia ini, kalau spirit reformis dan ladang demokrasi itu kerdil, bahkan mati. Di sini pulalah letak tanggung jawab dan kadar penghormatan atas sejarah Niang Tawa Sikka, Tanah Maumere.

Semoga kristalisasi sejarah panjang Sikka menjadi cermin otokritik untuk Pilkada Sikka kali ini. Semoga pula, masyarakat Sikka terbuka matanya untuk memilih pemimpinnya dengan benar. Kalau tidak, mari kita menjadi oposisi sejati.




Alexander Yopi Susanto,Dilahirkan di Flores, 23 Oktober 1981.
Pendidikan dasar diselesaikan di SDK 051 Waigete.
Pendidikan menengah pertama dan atas dihabiskan di Seminari Sint. John. Berkhmans Todabelu Mataloko, Ngada, Flores.
Bidang spesialisasi:
TI, Writing n Publishing, Advokasi Tanah, Advokasi dan Pemantau Hak Anak. Sekarang tinggal di Jakarta Selatan.


Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---