Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 25 October 2008

Welcome To Wailiti Beach Hotel & Restaurant Maumere

Harga Kamar Terjangkau, Fasilitas Bahari Tersedia





Wailiti Beach Hotel & Restaurant adalah sebuah hotel & resort di tepi Pantai Wailiti yang menawarkan suasana tenang dan sejuk. Hotel dengan lingkungan asri di sekitarnya berlatar belakang pantai berpasir hitam kecoklatan serta berbalut panorama alam laut Flores yang eksotik. Di Hotel Wailiti bisa disaksikan sunrise & sunsetnya beserta keindahan alam bawah laut dengan wisata baharinya yang menakjubkan. Ini menjadi salah satu daya tarik utama untuk berlibur di Wailiti Beach Hotel & Restauran.

Wailiti Beach Hotel & Restaurant didisain dengan konsep hotel berwawasan lingkungan yang bersih dan hijau (clean & green). Dengan konsep berwawasan lingkungan tersebut maka tak heran Wailiti Beach Hotel & Restaurant pernah mendapatkan penghargaan dari Bupati Kabupaten Sikka sebagai satu-satunya hotel yang memperhatikan kebersihan dan kehijauhan lingkungan sekitarnya.



Letak Wailiti Beach Hotel & Restaurant berada di pantai utara Flores, dengan jarak tempuh selama kurang lebih 15 menit berkendaraan dari Bandara Frans Seda Maumere atau 10 menit dari Pelabuhan Sadang Bui Maumere.

Hotel dan restaurant ini juga melengkapi dirinya dengan fasilitas dan layanan prima. Hotel Wailiti berada di lokasi tepi Pantai Wailiti dengan lingkungan yang nyaman, segar serta jauh dari hingar bingar kendaraan. Hotel ini juga memiliki restoran yang menyajikan variasi menu makanan beragam antara masakan Eropa, Indonesia juga masakan China serta berbagai rasa minuman yang ditawarkan seperti Wine, Wiskey, Liquor, Vodka, Rum ,Cocktails serta minuman ringan lainnya.

Di pantai Wailiti Anda juga dapat melakukan aktivitas olah raga air dengan memanfaatkan fasiltas hotel seperti snorkling dan skin diving untuk melihat keindahan panorama alam bawah lautnya. Untuk melihat pesona alam bawah laut tersebut Anda hanya memerlukan jarak sekitar 30-50 meter dari Pantai Wailiti yang terkenal sebagai pantai yang bersih dengan air laut yang jernih dan tenang. Dari titik tersebut Anda bisa melakukan aktifitas diving untuk menyaksikan Coral atau Soft Coral yang cantik-cantik dan berbagai spesies ikan yang menarik.

Anda juga bisa menggunakan berbagai peralatan wisata bahari yang disediakan seperti jetsky, speedboat, snorkling dan banana boat dengan harga yang bervariasi dan sesuai dengan isi kantong Anda. Dan tentu saja fasilitas laut (Dive Center) yang siap melayani Anda.

Selain restoran dan paket wisata baharinya, Wailiti Beach Hotel & Restaurant juga memiliki fasilitas pendukung lainnya seperti kolam renang (swimming pool) yang luas dengan dikelilingi pepohonan rimbun dengan pemandangan pantai dan laut Flores, ruang pertemuan (meeting room) dan berbagai fasilitas lain yang terdapat dalam lingkungan hotel.

KAMAR HOTEL

Untuk ruangan kamar dengan tipe :

Superior Bungalow dengan tempat tidur Double Beds menawarkan
Fasilitas:
Shower (Hot&Cold), AC, TV, Aiphone serta Mini Bar
Harga: Rp.350.000

Superior Bungalow dengan tempat tidur Double Beds & Twin Beds
Fasilitas:
Shower (Hot&Cold), AC, TV, Aiphone
Harga : Rp.300.000

Superior Couple dengan tempat tidur Double Beds & Twin Beds
Fasilitas:
Shower(Hot&Cold), AC, TV, Aiphone
Harga: Rp.300.00

Standard dengan tempat tidur Double Beds & Twin Beds
Fasilitas:
Shower, AC
Harga : Rp.250.000


Superior Bungalow:







Superior Bungalow







Superior Couple










Standard:











Restaurant:









Swimming Pool:
Dengan air yang bersih,segar,jernih









Meeting Room:
Dengan berbagai fasilitas pendukung









Foto-foto:
Pondok Santai;rasakan udara yang segar,nyaman dengan suasana tenang

























Kontak ; Wailti Beach Hotel & Restaurant :

Email : wailitihotel@yahoo.co.id

Telp : (0382) 23416

Bagi Anda yang ingin berlibur ke Maumere dan ingin menikmati kenyamanan dan kesegaran alam maka Wailiti Beach Hotel & Restaurant bisa menjadi pilihan yang tepat. Wailiti Beach Hotel & Restaurant dikelola secara profesional oleh pengusaha muda asal Kota Maumere, Ir. Andry Asaleo.

Dari lokasi hotel ke pusat kota dengan berkendaraan cuma membutuhkan waktu 10-15 menit. Dan juga dari lokasi hotel sekitar 200 m terdapat Diskotik Bintang, dan bersebelahan dengan Hotel Wailiti terdapat Stevani Pub & Resto.

Jadi pastikan selalu, jika berencana ke Maumere (ibukota Kabupaten Sikka) Wailiti Beach Hotel & Restaurant dapat menjadi pilihan yang tepat bagi Anda.


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tuesday, 21 October 2008

Kerajaan Nita

Tanah Sikka Sarat Dengan Sejarah;Ini adalah sebuah sejarah tentang sebuah kerajaan yang pernah ada di tanah Sikka yang ditulis berdasarkan referensi dari sejarahwan Sikka; Bpk.Oscar M. Parera
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Nita mempunyai leluhur sama dengan Sikka,yaitu pada tiga Bapak Pengasal Tanah Ata Teri Niang Era Tana atau Ata Bekor yakni Mo'ang Ria, Mo'ang Ragha, dan Mo'ang Guneng. Moang Ragha yang berdiam di Iling Newa, akhirnyabersama isterinya Du'a Guer dan seorang puteranya Mo'ang Desa pindah ke Romanduru. Mo'ang Desa mempunyai keturunan yakni Mo'ang Sisa Mitang dan Mo'ang Hila Bura. Mo'ang Rile Bura menetap diRomanduru/Eha menurunkan suku Wewe Niur. Sedangkan Mo'ang Desa akhirnya berpindah dan menguasai wilayah bagian tengah utara Nuhang Ular Tana 'Loran. Pusat wilayah di Uma Ili Wair Woga Gete.
Putera Mo'ang Sisa Mitang,dua saudara yang disebut Mo'ang Lolo-Jong yang menurunkan suku/puak Orin Bao Nata Ulu.
Ketika Portugis mendiami Kerajaan Sikka di Bola, Sikka dan Paga di Uma Ili Wair Woga Gete dan sekitarnya diperintah oleh seorang Ina Gete Ama Gahar yakni Mo'ang Juang Ngaris. Raja Mo'ang Juang Ngaris kemudian menurunkan Raja Maudong. Dan ketika Raja Maudong wafat, puteranya Emanuel menggantikannya sebagai Raja Nita.


Ketika kolonial Belanda mengangkat Mo'ang Jatti Ximenes da Silva sehagai Raja Kerajaan Sikka (1871-1898) di Alok-Sikka (Maumere), ditempatkannya pejabat posthouder secara berturut-turut hingga 13 orang:

- GA. van Siek 1879-1880
- De Suter 1880-1881
- J.C. Nyendorf 1881-1882
- C.C. Smissaert 1882-1884
- B.L. Kailola (Ambon) 1884-1885
- Nordhorn 1885-1886
-Y.H. Scenk 1886
-R. Franse 1886-1887
-M. Teffer 1887-1889
- E.R. Th. Sutherland 1889-1892
- R.C. Baumgarte 1692-1896
- K.L. Barberaux 1896-1898
- B.L. Kailola (kedua kali) 1898-1907


Kolonial Belanda mengadakan politik devide et impera atas Kerajaan Sikka.0leh karena itu, Belanda mengangkat seorang keturunan Raja Emanuel, Mo'ang Fransiskus Digung da Silva menjadi Raja Kerajaan Nita pertama pada tanggal 12 September 1885. Beliau memerintah lengkap dengan Ngawung Ratu/Ngawung Gung-Regalia Kerajaarn yang amat mahal.

Ketika beliau wafat pada tanggal 5 Nopember 18M, Belanda mengangkat penggantinya yakni putranya Don Philipus da Silva (Don Silipi alias Nong Kesik atau Ratu Makasar) menjadi raja ke-2. Sampai disebut Ratu Makasar karena beliau menjalani pengobatan ke Makasar sampai dua kali dan wafat lalu dimakamkan di Makasar pada tahun 1909. Pengganti berikutnya. Belanda mengangkat putera mahkota Don Yuan da Silva (1909- 1926) sebagai raja ke-3.

Pada tahun 1920 Raja Sikka Yosep Nong Moak dipensiunkan Belanda karena tua, maka Kerajaan Sikka berada dalam kekuasaan Mo'ang Thomas da Silva, putera Raja Yosep Mbako II. Raja Mo'ang Thomas da Silva dibenumkan menjadi Raja Sikka dengan sebuah Besluit Gouvemur Gen¬eral di Betawi No. 50 Mei 1923. Ia dilantik di Maumere tanggal 21 Novem¬ber 1923.

Kemudian Kolonial Belanda memberikan pensiun kepada Raja Nita, Don Yuan da Silva pada tahun 1926 secara sepihak, tanpa bermusyawarah.Lalu wilayah Kerajaan Nita digabungkan (bersama Kerajaan Kangae) ke dalam wilayah Kerajaan Sikka dibawah Raja Don Thomas Ximenes da Silva. Pada tanggal 14 Nopember 1925, Assisten Resident Kupang bersama Assisten Resident Flores dan Controleur Maumere, H.H. Mennes, telah mengumuxnkan menyatunya ketiga kerajaan (Sikka,Nita,Kangae) menjadi satu struktur baru yang disebut Landschap. Dengan demikian, wilayah Kerajaan Nita lalujadi wilayah ke-Kapitan-an (Kapitanschaap sebanyak 12 buah) dengan kapitan pertama Don Pendriku da Silva berikut Don Philipus Muds Meak da Silva sebagai kapitan kedua yang meninggal pada tanggal 21 Oktober 1987.

Ngawung Ratu atau Ngawung Gung -harta Regalia Nita- adalah barang-barang bemilai sejarah yang tinggi. Harta-harta itu seperti: Bala Ngeng perlengkapan perhiasan pria (Peket pendo gete satu utas, Pendo Bahar gete tiga utas, Rondo bahar kesik dua utas, Tudi bahar satu buah, Mone Bahar satu pasang, (2 buah), Mone Bala satu pasang (2 bush), Lodang Tua Wulir 2 utas, Lodang Tua Wonang seutas, Lodang Bao Wuang Gate 2 utas, Lodang Bao Wuang Kesik satu utas, Kila lemo-lemo bahar tiga bentuk, Loeng Peran Gai Ratu satu buah, Kroa Songko Loang Bahar satu buah, Lodang Gaer Nenang dua utas, Ledang Kaleng dua utas; Perlengkapan perhiasan pria dan wanita (Bahar Gebe satu keping, Bahar Wulang Nitang dua keping,Kila Matang dua butir);Perlengkapan perhiasan wanita (Labu Bujing satu helai, Kimang satu helai, Ala Gadeja' satu buah, Soking Bahar tiga buah, Kaleng Bahar satu buah, Taroe Bahar Bertingkat dua buah, Bahar Riti (tiga pasang) 6 buah, Bahar Habi satu buah, Lodang Opa satu utas;Perlengkapan lainnya (Rutung Laka Niung satu buah,hiasan/ mainan 2 buah, Tuir Paser Luk Kesik 3 buah.)

Harta Ngawung Ratu itu dipercayakan penyimpanan dan pemeliharaan kepada Ibu Janda Dona Gertrudis Dua Goleng da Silva dan Don Hubertus Emanuel Nang Baba da Silva.
Harta Regalia Nita sekaligus melukiskan kebanggaan-kebesaran para pemimpin/raja Nita seperti: Mo'ang Raga atau Raga ‘Wori Balik’; Mo'ang Desa yang oleh orang Wewe Niur Romanduru/Eha dijuluki Desa Gaur,Moang Sisa dan Moang Hila (Moang Sisa disebut Sisa Mitang Niang Nita dan Moang Hila disebut Hila Bura Romandaru,Moang Lolo-Jong(ini adalah panduan dua nama bersaudara),Raja Juang Ngaris,Raja Maudong,Raja Manue,Raja Fransiskus Digung Noko,Raja Don Slipi yang juga menyandang nama Nong Kesik dan Ratu Makasar karena wafat dan dimakarnkan di Makasar); dan Raja Don Juang.
Sejarah Kerajaan Nita mencatat, Raja Dong Juang adalah raja fungsional terakhir dari Kerajaan Nita (yang dipensiunkan Belanda tahun 1926) turunan Orin Bao Nata Ulun yang dijuluki nama Nata Ubun Parak Bura, Woga Wai Liri Ratu yang kemudian menyandang gelar Portugis, da Silva (da Silva Nita).

Selanjutnya, Kerajaan Nita diserahkan menjadi bagian integral Kerajaan Sikka. Cara penyerahan aneh, malah dengan pemaksaan.Mo'ang Dagang Marang yaitu Don Dominikus Dagang da Silva di Waidoko menceritakan:
"Pada suatuhari pasar yaitu Regang Alok(hari Selasa), Don Yuan diperintahkan menghadap ke kantor Gezaghebber di Maumere dan dipaksa menandatangani Surat Keputusan Residen di Kupang, bahwa Kerajaan Nita sudah dibubarkan untuk diserahkan kepada Raja Sikka. Dalam keadaan terjepit itu Don Yuan sempat menyuruh seorang pengiringnya mencari kepala-kepala kampung Kerajaan Nita untuk mendampingi. Lalu ditarik kepala Kampung Magepanda yaitu Kepala Woda serta kepala kampung Natarweru yaitu Kepala Kupok yang kebetulan datang ke pasar di saat itu. Dalam keadaan dipaksakan, dengan sangat mendongkol, Don Yuan menandatangani Surat Keputusan Residen di Kupang tentang pembubaran dan penyerahan kerajaan kepada Sikka".

Sejak saat itu Raja Sikka dianggap biang keladi peristiwa malang itu, tidak serta kawan, sekalipun pelaku sebenarnya adalah Belanda. Mulailah sentimen-sentimen politik dan perasaan tidak puas terhadap Kerajaan Sikka. Denganperistiwaitu, Kerajaan Nita kehilangan kedudukan sebagai kerajaan dinasti asal-usul dan beralih status menjadi Haminte dalam Kerajaan Sikka dengan Kapitan Besar Don Pedriku da Silva. Wilayah Napung Pitu Wolon Walu tetap utuh sampai masa pemerintahanDon Philipus Muda Meak da Silva dan Don Fransiskus Nong Sina da Silva. Juga sejak memperoleh status kecamatan dengan dua camat pertama yaitu kedua tokoh tersebut.

Indah Lestari Beding & Michael Beding,dalam buku Pelang Sikka
Berdasarkan Referensi dari Sejawaran Sikka; Bapak Oscar M. Parera

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 16 October 2008

Panorama Alam Pantai Waiara Maumere

Maumere adalah kota pelabuhan,terletak di pantai utara pulau Flores, dan merupakan tempat pemberhentian ke Kabupaten Ende atau Larantuka. Terhubung juga melalui fasilitas airport yang memadai menuju Kupang, Denpasar dan Ujung Pandang. Teluk Maumere adalah salah satu teluk yg layak diperhitungkan sebagai "hot diving spot" bagi diver-diver yang hoby scuba diving.Dan diteluk Maumere sangat terkenal dengan wisata baharinya dan alam bawah laut yang menyajikan pemandangan spektakuler dengan terumbu karang yang indah-indah dan berbagai spesies ikan yang langkah.Foto-foto diambil dari pantai Waiara,17 Km arah timur kota Maumere.





















www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 15 October 2008

Misa Peringatan Penampakan Bunda Maria Di Portugal

Senin 13 Oktober 2008, umat khatolik di lingkungan Keuskupan Maumere mendatangi tempat ziarah Wisung Fatima di Desa Lela (22Km) Kabupaten Sikka. Ditempat ini ribuan umat dengan khusyuk mengikuti ziarah dan misa untuk memperingati penampakan Bunda Maria kepada tiga bocah cilik di lembah Cova da Iria Fatima, Portugal. Penampakan Bunda Maria kepada tiga bocah cilik bernama Lucia, Fransesco dan Yashinta pada tanggal 13 Mei sampai 13 oktober 1917 terjadi selama 6 kali penampakan berturut-turut. Pada penampakan tersebut tersirat pesan yang amat penting bagi dunia, Bunda Maria berkata ; “Lakukan apa saja yang kukatakan kepadamu dan akan tercapailah perdamaian. Berdoalah Rosario setiap hari agar tidak jatuh kedalam pencobaan dan dosa,sambutlah Komuni Kudus setiap hari dan buatlah silih dan tapa demi pertobatan dunia.”


Misa sore itu dipimpin langsung Uskup Mgr. Khaerubim Parera.Svd, Uskup Keuskupan Maumere. Misa diikuti pula Bupati Sikka Sosimus Mitang dan Wakil Bupati Sikka Wera Damianus serta sejumlah pejabat Pemda Sikka yang berada ditengah-tengan ribuan umat.

Beberapa peziarah dari Kota Jakarta dan Surabaya serta beberapa kota lain di Jawa juga nampak dengan khidmat mengikuti upacara sabda tersebut.

Misa yang mengambil tema ‘Per Mariam Ad Yesum’ yang dalam injil Yohanes 19;26-27 dilukiskan dengan singkat,”Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya disampingNya, berkatalah Ia kepada IbuNya;’Ibu, inilah anakmu’. Kemudian kataNya kepada murid-muridNya;’Inilah Ibumu’, merupakan wujud iman Khatolik akan Yesus Kristus dan kepengantaraan Maria sebagai ibu umat beriman. Misa tersebut berlangsung beraakhir hingga 18.00 Witeng.
Di akhir misa tersebut Bupati Drs.Sosimus Mitan dan Wakil Bupati dr.Wera Damianus membacakan doa penyerahan kepada Bunda Maria.

***
Sejak siang umat dari berbagai wilayah Keuskupan Maumere mulai berdatangan ke tempat ziarah yang sangat terkenal di Kabupaten Sikka tersebut. Tercatat dalam tulisan Bapak Edmundus Parera (sejarawan Sikka,alm) ,P.Bartholdus Fries,SVD mendirikan sebagai gua Lourdes persis di depan gereja Lela.

Di tempat itulah umat datang bersujud dan memohonkan kepengantaraan bunda. Doa rosario telah menjadi doa umat kebanyakan dalam berbagai kesempatan dan berbagai ujud. Doa rosario telah menjadi doa yang ampuh ditengah umat, terlihat dalam setiap ibadah umat dan dalam merayakan ekaristi sekalipun umat berdoa rosario dengan untaian butir-butir kontas berjumlah 59 biji ditangannya.

Selesai misa, umat masih menyesaki Wisung Fatima Lela dan dengan khusyuk terus berdoa dan menyalakan lilin.













www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tentang Wisung Fatima Dan Desa Lela ..

WISUNG FATIMA LELA
Dalam Dekapan Hati Tak Bernoda Bunda Maria dari Fatima

P.Herman Bolscher SVD,Pastor Lela 1939-1963 dalam tulisannya mencatat,”Dalam tahun 1942 diwaktu perang dunia II,dengan resmi Paus Pius XII menyerahkan dunia kepada Hati Maria.Sesudah perang dimana-mana keuskupan-keuskupan,pun negara-negara,paroki-paroki,keluarga-keluarga,orang pribadi ikut membuat penyerahan itu.Termasuk Paroki Lela dan Sikka pada tahun 1947 tanggal 5 oktober.Tahun 1984 Paus Yohanes Paulus II memperbaharui penyerahan dunia dari tahun 1942,tanda bahwa masih aktuil sekali bagi dunia.”
Gema pesan Maria kepada 3 cilik pada penampakan di Fatima,Portugal tahun 1917,tiga puluh tahun kemudian terdengar di lembah Lela,pantai selatan Sikka.Tahun 1947 peristiwa penampakan Maria tersebut teristimewa pesannya dijelaskan kepada umat paroki Lela dan Sikka dalam rangka melaksanakan himbauan Paus Pius XII.

Tanggal 5 oktober 1947,dalam suatu acara liturgi yang meriah di alam terbuka,umat paroki Lela dan Sikka menyerahkan diri kepada Maria dibawah pimpinan Pater H.Boscher,SVD,Pastor paroki Lela waktu itu.Dalam upacara itu umat mempersembahkan 2000 karangan bunga kepada Maria.Upacara penyerahan itu begitu mengesankan dan seluruh umat tergugah oleh pesan Maria dan membangun tekad untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.Untuk membantu pelaksanaan devosi kepada Bunda Maria,mereka meminta sebuah patung Maria Fatima.Pater Vas Es,SVD,mau berusaha untuk memenuhi keinginan umat itu.Setelah menunggu cukup lama,akhirnya tanggal 20 april 1949 patung Maria tiba di pelabuhan Alok (pelabuhan Sadang Bui,sekarang),dibawa oleh kapal Theresia.Umat menyambut patung itu dengan gembira.Karena belum ada tempat khsusus untuk mentakhtakan patuing tersebut maka untuk sementara patung tersebut ditempatkan sementara di pendopo pastoran.Tiap malam umat datang berdoa secara bergilir.

Tanggal 10 juni 1949 tempat khusus untuk mentakhtakan Maria Fatima mulai dibangun.Maria mendapat tempat dikaki bukit,pingir barat kampung Lela.
Demi kepentingan ini, puluhan pohon kelapa dikorbankan dan enam keluarga yang bertempat tinggal di situ, rela berpindah ke tempat lain.
Yang bekerja pertama unluk meratakan tanah tempat tersebut adalah M. Kapitan Kr. Titi da Silva clan dcwan guru. Peletakan hatupertama dikikukan oleh rata S dska M. Rain Don Thomas X. da Silva. Berkat kerja sama yang sangat baik antara semua pihak,dalam iangka waktu yang relatif singkat, dua bulan,tempat khusus untuk Maria itu selesai dibangun walaupun dalam bentuk yang scderhana. Pada tanggal 16 Agustus 1949, setelah upacara penerimaan KriSma untuk 1161 orang,tempat tersebut dan Patung Maria Fatima diberkati oleh Mgr. H Leven, SVD.

Tempat yang ditahbiskan kepada Bunda Maria itu dibaptis dengan nama ‘Fatima’.Fatima ini kemudian ditetapkan sebagai tempat ziarah umum untuk umat khatolik sekerajaan Sikka.Sesudah tempat ziarah dan patungnya diberkati,pastor-pastor,raja,dewan umat sekerajaan Sikka membuat pertemuan untuk mempersiapkan upacara penyerahan umat Khatolik Sikka kepada Bunda Maria.Untuk keberhasilan upacara besar itu,dikumpukan dana dari semua paroki/hamente.Setiap paroki mengutus wakil-wakilnya untuk menghadiri upacara itu.Umat Katolik Lela menyiapkan tempat penginapan bagi para utusan paroki dan para undangan.Upacara penyerahan terjadi tanggal 26 oktober 1949.Utusan paroki dan para undangan sudah berada di Lela tanggal 25 Oktober dan malamnya Pastor Pembantu Paroki Lela.P.J Diaz Viera menjelaskan pesan Maria pada penampakan di Fatima,Portugis kepada umat dan para undangan. Sesudahnya umat dihibur dengan drama "Suaka". Setelah nonton drama, umat dari 15 paroki berdoa di Fatima secara bergilir hingga pagi.

Upacara penyerahan umat sekerajaan Sikka tanggal 26 Oktober 1949 berlangsung sangal meriah. Umat yang hadir pada saat itu 12.000 orang. Umat Katolik keralaan Sikka diwakili oleh P. Deken,P. Hoiveld, dan Raja Sikka M.Ratu Don Thomas X. da Silva mengucapkan kata-kata penyerahan kepada Maria.Pada 1950,patung Maria diarak keliling kerajaan Sikka.Umat menyambutnya dengan sangat gembira dan meriah.Pada kesempatan itu setiap paroki membuat penyerahan kepada Bunda Maria.Tahun yang sama ini muai dibina dan dihidupkan doa rosario/kontas gabungan.

Semangat untuk berdoa rosario umat katolik Sikka sangat tinggi.Devosi kepada Bunda Maria berkembang subur.Fatima Lela mulai dibanjiri para peziarah.Tempat-tempat ziarah itu mulai dilengkapi dengan pembangunan lain yang menunjang kehidupan iman umat.Pertama pembangunan jalan kontas 15 misteri.Untuk itu dikumpulkan dana dari setiap tokoh Katolik dan setiap hamente/paroki sekerajaan Sikka.Tanggal 22 agustus ‘jalan kontas’ diberkati oleh Mgr.Anton Thijssen,SVD.Setelah itu dibangun juga bukit Kalvari.Diatasnya dipancang sebuah salib dan disamping salib berdiri Patung Sang Bunda dan Patung Rasul Yohanes.Bukit Kalvari diberkati oleh P.Deken Hoeijmakers,SVD,pada tanggal 13 mei 1957 tepat hari ulang tahun ke 40 penampakan Maria di Fatima.Tahun 1958 dibangun stasi-stasi Jalan Salib.


Desa Lela

Wisung Fatima berada di desa Lela dalam wilayah Kecamatan Lela,Kabupaten Sikka yang berjarak 24 Km ke arah pantai selatan dari kota Maumere,ibukota Kabupaten Sikka.Sebut nama desa Lela orang akan senantiasa cenderung dengan Sikka-Lela.Demikian 2 nama yang dapat di catat sebagai hulu 1001 kisah tentang Kabupaten Sikka.Di kecamatan Lela inilah terdapat kampung kuno Sikka dan Lela,dua nama yang begitu erat dan sarat dengan sejarah Kerajaan Sikka.
Desa Lela dan sekitarnya terletak dalam wilayah dengan geogfrafi perbukitan.Karenanya,jalanan aspal sepanjang 24 Km dari kota Maumere begitu meliuk-berkelok setidaknya mulai dari desa Nita.Jalanan yang selalu ramai setiap hari terutama karena adanya Rumah Sakit St.Elisabeth Lela asuhan Biara Suster-Suster SSpS yang bersejarah.

Tidak hanya RS St.Elisabeth saja tapi juga dalam wilayah kecamatan Lela tepatnya di desa Sikka ada gereja tua peningalan bangsa Portugis yang dikenal dengan simbol kekristenan Khatolik Sikka tempo doeloe dan telah ditetapkan sebagai salah satu obyek wisata oleh pemerintah setempat.Lela-Sikka masih sangat kuat dan kompak secara adat,artinya berbagai upaya senantiasa diusahakan pertama dan terutama melalui proses adat,seperti kasus perselingkuhan atau pembunuhan,dll harus pertama dan terutama diupayakan penyelesaian secara adat.

Dilarang untuk mengambil artikel dan foto-foto untuk di korankan tanpa pemberitahuan kepada kami.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---