Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Wednesday, 24 March 2010

Sentuhan Musik Sora pada Jingel www.inimaumere.com

Lahir Dari Sebuah Persahabatan Mengenalkan Sikka....
Wawancara langsung www.inimaumere.com dengan Lucky Reyner, Oshy Lelo dan Nyong Franco..

Akhirnya rampung sudah proses penggarapan briliant jingel www.inimaumere.com. Proses penggarapan yang mengusung musik SORA SIKKA ini memakan waktu 3 hari dan sepenuhnya ditangani langsung oleh Nyong Franco dan Oshy Lelo. Jingle inimaumere.com ini merupakan dedikasi dan penghargaan dari hubungan persahabatan dan kerja antara Lucky Reyner (Radio Sonia FM Maumere), Oshy Lelo (Choin Record Maumere) dan Nyong Franco (Sanggar Bentara Zaman (Benza)) Maumere dengan www.inimaumere.com. Buah karya anak Maumere ini bisa didengarkan di jeda komersial Radio Sonia FM Maumere dan di halaman web www.inimaumere.com. Jingle SORA SIKKA berdurasi 2:09 menit dan bisa didownload dengan bebas disini.


Ide pembuatan jingel www.inimaumere.com bermula dari ide kreatif Lucky Reyner. Si Gimbal yang selalu tampil Rock n Roll kemudian menghubungi Oshy Lelo dan Nyong Franco. Oshy Lelo meyambut baik gagasan tersebut. Lelaki pemilik Choin Event Organizer ini kemudian menyediakan STUDIO CHOIN RECORD untuk proses penggarapan dan rekaman musik. Proses pembuatan jingel diserahkan sepenuhnya pada arranger sekaligus musisi yang cukup berpengelaman, Nyong Franco.

Pentolan One Feel Band dan Music Director Sanggar Benza Maumere ini kemudian menterjemahkan www.inimaumere.com dalam sebuah alunan nada-nada musik beretnik Sora Sikka dengan balutan string. Sedangkan proses mixing dan mastering dibagian akhir penggarapan jingel ditangani langsung oleh Oshy Lelo. Perpaduan yang serasi dari tiga pentolan yang memiliki ide-ide kreatif akhirnya menelurkan musik etnik berkelas dengan harmonisasi nada-nada istimewa Sora Sikka. Yap, jingel ini sungguh luar biasa, karena lahir dari sebuah persahabatan dengan cara sederhana mengenalkan SIKKA.

Proses Penggarapan

Sebagai arranger pada proses penggarapan jingel inimaumere.com, Nyong Franco sengaja memasukan unsur musik tradisional bernama SORA. Sora adalah musik tradisonal Kabupaten Sikka- Flores dan biasanya dimainkan dengan menggunakan gendang kecil yang terbuat dari kulit rusa. Shell (tabung gendang) instrumen ini menggunakan batang pinang. Saat ini beberapa kampung di Kabupaten Sikka seperti Nita, Koting, Nele dan Palue masih memelihara dan memainkan jenis musik Sora ini. Bahkan di Koting ada sebuah grup sora yang masih eksis bernama Grup Wutik.

Pada proses ini, Nyong Franco juga menggunakan instrumen gendang biasa dan bukan alat musik Sora asli. Sedangkan vokal ini jingel ini diisi oleh Nyong Franco, Teresa Archer, Popy dan Alfred Gare.

Wawancara

Berikut petikan wawancara antara www.inimaumere.com dengan tiga pencetus dan perancang lahirnya jingel inimaumere.com. Mereka adalah PhotobucketLucky Reyner,PhotobucketOshy Lelo serta PhotobucketNyong Franco. Lucky sebagai otak lahirnya jingel inimaumere.com dan pemberi dukungan lahirnya jingel inimaumere.com, Nyong Franco sebagai arranger sekaligus pencipta musik pada jingel inimaumere.com dan Oshy Lelo adalah rekan yang menyediakan secara cuma-cuma Studio Choin Record untuk penggarapan jingel inimaumere.com sekaligus sosok penting yang menangani mixing dan mastering pada pembuatan jingel inimaumere.com

**************************************************************************************
Inimaumere.com : Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih dengan terciptanya jingel inimaumere.com. Garapan musiknya sangat bagus derong...

PhotobucketNyong Franco : hahaha..sama-sama derong..


Inimaumere.com (IM) : Dalam proses penggarapan jingel inimaumere.com mengapa tidak menggunakan instrumen musik Sora yang asli?

PhotobucketNyong Franco (NF): Betul sekali. Ini merupakan sebuah proses kesengajaan yang kami kehendaki.

IM : Artinya bahwa disini kalian menggunakan instrumen pengganti? Bisa dijelaskan?

PhotobucketNF : Betul, proses penggarapannya kami menggunakan sebuah instrumen gendang pengganti yang lebih besar. Tujuannya agar tercipta sebuah karakter sound yang berbeda namun tetap dalam irama sora

IM : Maksudnya?

PhotobucketNF : Dengan menggunakan gendang yang lebih besar, karakter sound yang dihasilkan bisa menjadi lebih lebar, ini sesuai dengan karakter musik yang diinginkan dalam proses penggarapan jingle inimaumere.com

IM : Tapi bagaimana dengan irama SORA yang dikehendaki? Apakah akan tercipta irama yang berbeda dengan Sora asli mengingat terjadinya pergeseran penggunaan instrumen musiknya?

PhotobucketNF : Sama sekali tidak. Irama SORA yang dihasilkan tetap sama sesuai dengan harapan kami. Kami hanya menginginkan pergeseran karakter sound ke bunyi yang lebih lebar, alasannya jika menggunakan gendang sora yang kecil karakter sound terkesan sempit. Ini maksud kami menggunakan gendang pengganti dengan diameter yang lebih besar agar bisa combine dengan latar string, tapi Irama Sora yang dihasilkan tetap irama yang asli.

IM : Bisa dijelaskan latar belakang pemilihan musik pada jingel inimaumere.com?

PhotobucketNF : Begini, pemilihan syair dan lagu pada awal proses penggarapan memang disesuaikan dengan profil dan latar belakang dari web www.inimaumere.com. Dari situlah kami menggarap jingel ini dengan mengedepankan ciri khas seni budaya Sikka dengan ramuan unsur-unsur musik global yang bertujuan agar musik ini bisa didengar dan diterima oleh seluruh pendengar.

IM : Sebagai arranger, bisa dijelaskan warna musik yang dipilih dalam proses pembuatan jingel inimaumere.com?

PhotobucketNyong Franco (NF) : Untuk proses penggarapan musiknya kami memilih corak musik SORA asli Sikka dengan lagu OAMBELE sebagai backing utama sedangkan String dipilih sebagai blocking pada harmonisasi acordnya.

IM : Apa sih sebenarnya Syair OAMBELE?

PhotobucketNF : OAMBELE adalah lagu asli rakyat Kabupaten Sikka dan merupakan warisan nenek moyang. Lagu tradisional ini sering dinyanyikan saat upacara-upacara adat tertentu, seperti pada upacara panggil hujan dan lain-lain.

IM : Pada jingel inimaumere.com ada sebuah alunan syair yang berucap ITA DI NORANG, bisa dijelaskan?

PhotobucketNF : ITA DI NORANG berbahasa Sikka artinya KAMI ADA dalam bahasa Indonesia. Ini menggambarkan keinginan dari pendiri websitenya Orang Maumere www.inimaumere.com yang hendak mewujudkan eksitensi kehadiran Kabupaten Sikka pada dunia.

IM : Sedangkan Syair WE ARE FLORES?

PhotobucketNF : Artinya KITA ADALAH ORANG FLORES. Sebagai orang Flores pantaslah kita bangga dihadapan dunia, dan jangan malu menyebut diri kita ini adalah orang Flores. Kita tetap optimis bahwa lewat kerja sama ini terutama lewat diangkatnya Nian Tana kedunia maya akan lebih banyak lagi orang yang semakin tahu tentang daerah kita.


Berikut petikan wawancara dengan Oshy Lelo

Choin Record adalah divisi Music & Recording dari Choin Entertainment . Oshy Lelo disini adalah sebagai Pemilik dan Chief Engineer. Dalam penggarapan jingel www.inimaumere.com Oshy menangani mixing dan mastering jingel.

Inimaumere.com : Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih dengan terciptanya jingel yang kalian bertiga hasilkan...

PhotobucketOshy Lelo : sama-sama bos..

IM : Apa peran Anda dalam pembuatan jingle ini?

PhotobucketOshy Lelo : Selain menyediakan fasilitas studio untuk proses penggarapan jingel inimaumere.com, tugas saya adalah menghasilkan sound yang baik dan berkualitas, dalam hal ini saya selalu berdiskusi dengan Musisi (Nyong Franco), ini adalah bagian yang sangat penting.

IM : Bisa diceritakan sedikit tentang Musik Sora yang Anda ketahui?

PhotobucketOshy Lelo : Saya sendiri sudah cukup akrab dengan irama Sora karena sudah biasa mendengarkan musik ini sewaktu masa kecil saya di kampong (di Kampung Key, 15 Km dari Maumere,red). Karakter sound asli sora sendiri sangat khas, terutama karena shell (tabung gendang) yang keras yang terbuat dari batang pinang.

IM : Selain itu?

PhotobucketOshy Lelo : Karena tugas saya merekam dan manampilkan sound yang baik, saya berbicara sedikit teknis. Kami melakukan beberapa kali take untuk track gendang sora dengan berbagai macam teknik miking. Tujuannya agar terdengar seperti dimainkan oleh banyak orang dan banyak perkusi....eiittts sebenarnya ini rahasia dibalik rekaman tetapi khusus inimaumere.com kami memberikan bocoran hehehe....
Begitupun pada saat mixing & editing, terutama pada track gendang (8 track), kami melakukan editing yang cukup signifikan sehingga hasilnya seperti yang terdengar seperti sekarang.

IM : Bagaimana dengan Sound, apakah sesuai dengan yang diinginkan?

PhotobucketOshy Lelo: Dengan karakter gendang yang lebih lebar akan terdengar lebih megah dalam balutan bayang-bayang String, kurang lebih seperti itulah sound yang kami inginkan.

IM : Apa ada kendala dalam kerjasama dengan Nyong Franco sebagai musisi/ arranger?

PhotobucketOshy Lelo: Hamper tidak ada kendala, semuanya bisa dikomunikasikan dengan baik. Sekali lagi karena selain sahabat, saya sudah sering bekerja sama dengan musisi/arranger Nyong Franco baik di studio maupun di live musik sehingga proses penggarapannya lebih mulus.

IM : Benarkah ada ide untuk menggarap jingel ini ke dalam format klip video?

PhotobucketOshy Lelo : Memang ada ide untuk menggarap klip dari jingle ini.
Konsepnya tetap menampilkan kekhasan budaya Sikka-Flores dan kreativitas anak mudanya.
Belum ada jadwal khusus untuk proses produksinya, sudah ada beberapa diskusi kecil. Saya sendiri sambil mulai merancang storyboardnya disela –sela kesibukan saya. Mudah mudahan dapat terealisasi dalam waktu dekat.


Berikut Petikan wawancara dengan Lucky Reyner.

Inimaumere.com : Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih dengan terciptanya jingel inimaumere.com. Kalian bertiga sungguh luar biasa....

PhotobucketLucky Reyner (LR) : sama-sama men...

IM : bisa dijelaskan latar belakang ide pembuatan jingle inimaumere.com?

PhotobucketLR : Begini men, sebenarnya saya begitu tertarik dengan semboyan Ita Di Noran dan visi misi rekan-rekan inimaumere yang saya rasa tidak jauh berbeda dengan Radio Sonia FM. Selain itu www.inimaumere merupakan media mitranya Sonia FM yang sangat rajin mempromosikan radio Sonia FM di blognya dengan salah satunya membangun streaming radio, dengan dibangunnya streaming tersebut maka Radio Sonia FM Maumere menjadi satu-satunya radio di NTT yang bisa didengarkan diseluruh dunia lewat akses internet. Suatu hal yang sangat inovatif dan luar biasa bagi Sonia FM. Ide membuat jingel tersebut juga muncul karena ada keinginan agar blog inimaumere.com dipromosikan di Sonia FM. Salah satu cara ya dengan menciptakan spot iklan yg bagus dan menarik.

IM : Oya, mengapa Anda menggandeng Oshy dan Nyong?

PhotobucketLR : Perlu diakui bahwa kedua orang ini memiliki kapasitas dibidang bermusik yang tak perlu diragukan lagi. Dan kebetulan Oshy dan Nyong adalah sahabat kental saya, lagi pula mereka berdua dekat dengan www.inimaumere.com, tentu saja kekuatan inilah yang menjadi daya tarik pembuatan jingel inimaumere.com. Sudah sejak lama saya bekerja sama dengan mereka. Saya tak perlu lagi meragukan kapasitas mereka dalam bermusik yang salah satunya mengangkat tema-tema budaya Sikka.

IM : Bagaimana perasan Anda ketika pertama kali mendengar jingle inimaumere.com yang telah jadi?

PhotobucketLR : Luar biasa, orang Maumere bilang gagah ngeriiiii diiiii…. Nuansa Sikka terasa begitu sangat kental dan membuat saya bangga sebagai orang Maumere. Semua jempol buat Nyong dan Choin deh. Kamu dua pemain inti sudah hehehehe.

IM : Apakah sebelumnya sudah mendengar tentang jingle inimaumere.com yang masih dalam proses?

PhotobucketLR : Sudah donk……..Dan ketika pertama kali mendengar saya akui unsur mistisnya terasa banget bahkan membuat merinding, bulu kuduk berdiri tapi bulu kuduk doang jangan tambah-tambah eee hahahaeeee

IM : Dengar-dengar ada ide untuk memvisualisasikan jingel ini kedalam bentuk clip video?

PhotobucketLR : Hehehe mau tau aza lu…..ma geraaaaa (emang gue pikirin, red) ! uda deh saya kasih dikit bocorannya ya. Memang ide untuk memvisualkan jingle tersebut sudah saya lemparkan ke Oshy dan Nyonk tapi masih dalam proses diskusi jadi tunggu aza ya kejutan selanjutnya.

IM : Oya, bisa dijelaskan mengapa ada ide pembuatan video ini.

PhotobucketLR : Gini men… jingle tersebut sangat bagus sekali garapannya, sangat disayangkan kalo tidak dibikin visualnya biar komplet promo di webnya inimaumere.com. Maksudnya sambil mendengar jingle promo visual juga berjalan. Yang pasti visualnya juga akan menampilkan nuansa yang cukup kental tentang Maumere dalam bungkusan kreativitas inimaumere.com. Wuah makin bocor nih. Baa sai odi ele seru!(cukup sudah, nanti tak seru lagi, red..)

IM : Wah terima kasih sekali neh.., Oya, adakah harapan-harapan kedepan dengan terlibatnya www.inimaumere.com, Lucky Rener DARI Sonia FM, Oshy Lelo dari Coin Record serta Nyong Franco, musisi, Arranger , sekaligus Music Director Sanggar Benza?

PhotobucketLR : Semoga dengan kreativitas dan semangat yang ada dari Sonia FM, Choin Record, Nyong Franko juga inimaumere.com juga semua yang bersimpati bisa mengangkat dan mengenalkan Maumere ke muka dunia. Ayo maju terus derong “ ITA DI NORAN”
Bau sai oss amang lopa ane kageng sai a’u ga’i tena iklan iwa walong hehehe(cukup sudah oss jangan ganggu lagi, saya mau kerja iklan yg lain dulu, red).




Terima Kasih Buat Lucky Reyner, Oshy Lelo dan Nyong Franco atas terciptanya jingel inimaumere.com. Vokal diisi oleh Nyong Franco,Teresa Archer, Popy dan Alfred Gare, Thanks all..

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 22 March 2010

Logu Senhor Menjelang Hari Raya Paskah..

Tradisi Khatolik di Kampung Sikka.....
Di Kampung Sikka Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka ada sebuah tradisi unik peninggalan Portugis. Tradisi ini adalah sebuah tradisi memperingati kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus yang biasa dilakukan menjelang hari raya paskah. Kisah ini mirip dengan Prosesi yang melegenda di Kota Reinha Larantuka, Flores Timur. Namun di Kampung Sikka yang berjarak 28 Km dari Kota Maumere Prosesi ini disebut Logu Senhor atau Menunduk di bawah Salib Tuhan. Prosesi ini melibatkan warga Kampung Sikka dan warga Kecamatan Lela umumnya serta para peziarah yang datang dari berbagai daerah di Kabupaten Sikka maupun diluar Flores..
Seminggu sebelum prosesi ini berlangsung, masyarakat di Kampung Sikka telah melakukan persiapan-persiapan penting agar prosesi tersebut bisa berlangsung dengan sukses. Bagiamana Tradisi ini berlangsung?

Tradisi prosesi ini berlangsung hari Jum'ad Agung dan dalam bahasa Portugis disebut dengan nama Sesta Feria. Saat prosesi ini, di setiap Irmida-irmida (perhentian) biasa dinyanyikan sebuah lagu penuh ratapan berjudul Ovos Omnes. Lagu ini penuh dengan penghayatan, kadang terdengar seperti sebuah ratapan yang mengharukan sehingga membawa kita kedalam suasana yang khusuk. Sesudah Ovos Omnes baru di langsungkan Logu Senhor.

Salib Tuhan (Senhor) didalam sejarah masuknya khatolik di Sikka abad 16 berawal dari perjalanan mencari Tanah Moret (Tanah Hidup) oleh Don Alessu ke Malaka. Dari Malaka itulah Don Alessu dihadiahi sebuah kenangan indah berahmat yakni sebuah salib yang dikenal dengan nama Senhor yang artinya Tuhan. Selain itu sebuah patung kecil yang disebut Meninho (Kanak-Kanak Yesus-Sang Raja) untuk dibawah pulang ke Sikka (Sumber ; NLS Mendiang Opa Edmundus Parera-2006). Nah untuk sejarah kedatangan Meninho dan Salib Senhor bisa dibaca di sini.

Prosesi dimulai dengan Ibadah Jumad Agung yang berlangsung di Gereja Sikka, sebuah gereja peninggalan Portugis. Setelah Misa selesai prosesi pun siap diadakan. Lagu Benedikto E Lovado Seja dan doa Oretio Portugis serta berkat umat dengan Salib Senhor merupakan bagian pertama dimulainya prosesi Logu Senhor.

Untuk mengikuti Logu Senhor atau menunduk dibawah Salib Tuhan diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebagai peserta. Peserta Logu Senhor harus memiliki devosi dalam ujud atau atensi tertentu atau permohonan-permohonan. Misalnya kita memohon kesembuhan dari sakit atau penyakit kronis, mohon mendapatkan keturunan, mohon keluar dari permasalahan hidup dan permohonan lainnya.

Peserta harus membungkuk masuk dibawah usungan Salib Senhor dalam sikap hormat sambil membawakan lilin bernyala. Inilah yang dinamakan Logu Senhor atau menunduk dibawah Salib Tuhan. Peserta Logu Senhor secara khidmat harus memasrahkan diri pada Senhor Yesus dengan berjanji dalam batasan waktu tertentu, entah setahun, dua tahun, tiga tahun atau lebih akan datang dan setia mengikuti prosesi Logu Senhor.

Tradisi agama ini telah berlangsung dari jaman dulu hingga sekarang. Setiap tahun selalu ramai dikunjungi peziarah meski belum banyak yang mengetahuinya.

Sesudah misa di Gereja tadi selesai selanjutnya dilakukan perarakan menuju Irmida atau stasi pertama dalam prosesi jalan salib. Dalam perarakan yang mengelilingi Kampung Sikka tersebut dibagian depan adalah para ajuda pembawa lilin dan salib,diikuti barisan umat, peserta Logu Senhor, usungan Senhor, barisan imam dan seterusnya. Di Irmida pertama juga dilangsungkan adegan pertama ketika Yesus dihadapkan ke Pilatus, Barabas dibebaskan, Yesus diserahkan pada algojo-algojo. Adegan-adegan ini diperankan oleh anak-anak muda Kampung Sikka yang tergabung dalam Mudika Paroki Sikka.

Disetiap irmida atau perhentian biasanya dilantunkan puisi atau kleteng latarjuga lagu yang meratapi Yesus berjudul Ovos Omnus. Lagu ini dinyanyikan oleh perempuan berbaju hitam dan berkerudung hitam sambil perlahan-lahan membuka selubung yang menutupi gambar Yesus.

Disetiap Irmida atau stasi (4 stasi) prosesi tadi diulang tapi dengan lagu yang berbeda baik berbahasa Sikka maupun Portugis, lagu ratapan (Ovos) juga berganti disetiap Irmida. Misalnya di Irmida satu dinyanyikan lagu ratapan Ovos Omnes, Irmida 2 E Miue di irmida 3 dengan lagu Bahasa Sikka Kasih Ora dan di irmida 4 dengan lagu Portu O senhor Yesus, adegan-adegan pun dilanjutkan dan Logu Senhor tetap dilakukan.

Prosesi Sesta Feria dan Logu Senhor yang mengitari Kampung Sikka tersebut biasanya berakhir di halaman samping Pastoran Sikka. Ditempat ini biasa dilangsungkan adegan terakhir, penyaliban terhadap Yesus hingga Yesus wafat dan akhir dari pada prosesi Logu Senhor.

Prosesi dilanjutkan menuju ke dalam Gereja Sikka. Dimana saat itu dilantunkan doa penyerahan kepada Senhor, berkat umat dengan Salib Senhor dengan diiringi lagu berbahasa Portugis Lovado Sedja. Acara prosesi dan Logu Senhor berakhir ketika Salib Senhor di usung menuju tempatnya kembali yakni di kapela yang berada persis di samping gereja.

Sebelumnya prosesi juga melewati patung Meninho yang sengaja diletakan di teras rumah Bapak Hugo da Silva, dua barang peninggalan masa lampau dan menjadi saksi sejarah masuknya agama Khatolik ke Sikka terlihat didepan mata. Prosesi juga melewati Lepo Gete, rumah raja peninggalan masa lampau.

Disepanjang jalan mengitari Kampung Sikka, nyala-nyala lilin yang ditaruh di sepanjang bilahan bambur pinggir jalan menambah kekhusukan doa dan permohonan.
Tradisi ini juga melibatkan anak-anak Sekolah Dasar yang disepanjang perhentian memerankan kisah dan drama sengsara Yesus. Disetiap rumah-rumah yang dilewati umat juga menerima dengan membakar lilin dan memajang gambar-gambar kudus. Rasa kidmat memang terasa, bagaimana disebuah daerah bernama Kampung Sikka ini masih ada sebuah tradisi iman warisan Portugis dengan iman khatolik yang begitu kental.





www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Friday, 19 March 2010

Ule Nale Di Kampung Sikka..


Di Kampung Sikka, Kabupaten Sikka, Flores, NTT, ada sebuah tradisi yang telah lama dijalani oleh masyarakat setempat yakni Ule Nale atau menangkap cacing laut. Tradisi ini begitu melekat erat dengan perayaan Paskah. Tradisi menangkap cacing laut ini begitu meriah karena melibatkan banyak orang. Baik dari Kampung Sikka maupun masyarakat yang datang dari kampung-kampung tetangga. Bahkan ada pula dari Maumere turut berpartisipasi
Ada pantangan yang mesti dijaga saat berda di lokasi. Jika pantangan tersebut dilanggar maka cacing-cacing unik ini tak akan keluar dari laut maupun pori-pori karang.
Yok menuju ke lokasi pencarian cacing,,.,..segera.............
Ribuan orang tumplek ke tengah lokasi perburuan. Bahkan nyala obor yang terang akan menjadi pemandangan spektakuler dari kejauhan.
 Jika kita menggunakan kamera yang bagus, ratusan nyala obor di pantai selatan tempat lokasi berburu akan menjadi bidikan yang mempesona.

Tradisi menangkap cacing laut di Kampung Sikka ini juga tak lepas dari tradisi masyarakat setempat seperti tradisi mencari jodoh dan lain-lain dan tak lepas dari pantangan... Mengapa yang membawa jeruk nipis, wanita hamil, datang bulan dilarang berada dipesisir pantai?
Menurut masyarakat setempat, si cacing laut tak akan muncul kalau salah satu dari ketiga larangan tersebut dilanggar. Jika cacing laut yang sedang melimpah ruah tersebut tiba-tiba menghilang maka patutlah dicurigai bahwa ada pelanggaran atas 3 larangan tersebut diatas, demikian cerita yang kami himpun.

Bagi masyarakat setempat, nale adalah sebuah tradisi peninggalan nenek moyang yang mesti diteruskan. Tradisi menangkap cacing laut ini cuma berlangsung sekali dalam setahun dimana berdekatan dengan perayaan pesta Paskah.

Kata salah satu warga Kampung Sikka, Ule Nale akan diadakan tepat menjelang Paskah, Katanya lagi, sang cacing laut akan muncul di minggu ke-3 menjelang hari raya Paskah. Tidak berubah dari jadwal tersebut. Entah hari raya Paskah jatuh tanggal berapa, bulan berapa nantinya tetap saja si cacing laut ini akan dengan segera muncul kepermukaan di minggu ke-3 menjelang Paskah. Tentu saja keunikan sang cacing tersebut telah berlangsung dari jaman tempo doeloe.

Dulu tradisi ini begitu mengental dengan tradisi sir-siran antar anak muda. Biasanya pada saat panen cacing laut berlangsung, anak-anak muda yang sedang kasmaran ikut-ikutan merayakan tradisi mereka sebagai ajang untuk mencari jodoh.

Sang lelaki akan memercikan air ke sang cewek yang ditaksirnya, begitu sang cewek membalas percikan dengan percikan lagi artinya bahwa sang cewek tersebut telah membalas cinta si pemuda. Ada lagi tradisi mennyiram air keseseorang, entah kecewek atau ke cowok. Seseorang yang boleh menyiram air haruslah terhitung ipar atau ada hubungan saudara lewat pernikahan. Sang cowok atau cewek yang tersiram tak boleh membalas saat itu tapi boleh membalasnya satu tahun kemudian dalam ‘acara’ yang sama (cape deh..hehehe).

Tradisi menyiram air entah ke cewek atau ke cowok tersebut bersamaan dengan tradisi nale tersebut, ya terjadi disaat sedang sibuk-sibuknya berburu cacing, tapi trardisi ini kini perlahan-lahan mulai ditinggalkan, entah kenapa.

Mencari cacing nale tidaklah mudah. Butuh ketelitian, kejelian, kesabaran dan pandai menangkap. Cacing unik ini akan terlihat muncul dari pori-pori atau lubang batu karang. Kadang terlihat ia terhanyut dibawah air.

Untuk menangkap cacing biar terlihat mudah misalnya kita membentuk satu kelompok yang didalamnya terdiri dari 3-4 orang dengan menyisir secara bersamaan. Cacing laut yang memiliki aneka warna ini akan muncul kepermukaan dengan diiringi beberapa tanda atau gejala.

“Bau amis yang tajam,sambaran petir atau kilat diudara adalah tanda-tanda kedatangan sang cacing,”ujar beberapa warga di lokasi.

Cacing laut yang diburu ini termasuk sangat unik. Tak seperti cacing lain yang memiliki body yang kenyal cacing laut yang diburu ini memiliki tubuh yang sangat rapuh. Kok bisa?Ya begitulah, tubuh sang cacing laut ini memang sangat rapuh?Jadi saat megangnya juga harus hati-hati agar sang cacing tersebut tak jadi cairan. Solusinya? Bagi yang tak berpengelaman silakan menggunakan sepotong lidi. Dengan menggunakan lidi tadi cukuplah untuk menolong kita-kita yang kurang pengelaman.

Lalu setelah ditangkap, apa selanjutnya yang dilakukan? Jangan takut, cacing ini bisa dimakan dan rasanya sangat gurih dan lezat. Kami telah mencicipinya dan merasakan kenikmatan sendiri. Sungguh...


Kampung Sikka terletak diwilayah selatan Kabupaten Sikka atau berjarak sekitar 24 KM dari Kota Maumere. Kampung ini sangat kental dengan jejak kedatangan Bangsa Portugis kewilayah Kabupaten Sikka dan Flores. Di Kampung Sikka juga berdiri sebuag Gereja kuno peninggalan Portugis dan sebuah Istana Raja Sikka masa lampau yang lebih dikenal sebagai Lepo Gete.

Di Lepo Gete yang kini tidak dirawat sebagai aset wisata, Raja Sikka memerintah Kerajaan Sikka secara turun temurun sebelum akhirnya berpindah ke Kota Maumere di pemerintahan Raja Thomas.

Di Kampung Sikka juga ada sebuah tradisi prosesi menjelang hari raya Paskah. Prosesi ini sungguh unik karena bersinggungan dengan tradisi katolik Portugis. Tradisi yang mirip PROSESI Paskah di Larantuka (Flores Timur) di sebuat Logu Senhor atau menunduk dibawah Salib Tuhan.

Lengkapnya tentang perburuan Cacing Laut tersebut bisa dibaca dengan mengklik disini...








www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Wednesday, 17 March 2010

Toko Buku Gramedia Akhirnya Hadir Di Kota Maumere



Harapan masyarakat pecinta buku untuk mendapatkan buku-buku bacaan seperti fiksi, non fiksi, ilmiah maupun edukasi dan akademis di Kota Maumere kini telah terwujud. Gramedia akhirnya memperluas jaringannya ke Kota Maumere. Dengan hadirnya Toko Buku Gramedia, kini Maumere pantas berbangga diri karena menjadi kota kedua di NTT setelah Kupang yang didatangi Gramedia. Dan hari ini tepatnya Selasa (16/03/2010) Toko Buku Gramedia akhirnya beroperasi. Store Manager Gramedia Maumere, Gembong Wicaksono menjelaskan kepada inimaumere.com bahwa Grand Opening Gramedia Maumere tertunda karena menunggu keputusan dari Gramedia Pusat. “Tapi demi konsumen Gramedia Kota Maumere yang telah lama menunggu, hari ini kami beroperasi,”jelasnya. Sedangkan Wakil Bupati Sikka Wera Damianus yang kebetulan ditemui sedang berbelanja di Gramedia mengharapkan akhir pekan ini atau pekan depan Grand Opening Gramedia Maumere segera di luncurkan. Dijadwalkan Gubernur Frans Lebu Raya yang akan meresmikan pembukaan Toko Buku Gramedia Maumere.

Dengan hadirnya Toko Buku Gramedia di Maumere, keinginan warga konsumen buku di Kota Maumere dan Flores umumnya untuk mendapatkan buku-buku berkualitas dari Gramedia kini semakin mudah. Wicaksono juga menjelaskan bahwa Toko Buku Gramedia Maumere untuk sementara menyediakan 12.000 judul buku dan mempekerjakan 50-an pegawai laki-laki dan perempuan. “Semua karyawan Gramedia Maumere diambil dari putera dan puteri daerah Sikka,”jelasnya.

Toko Buku Gramedia Maumere yang terletak di Jalan Kesehatan Kota Maumere memiliki luas 2000 meter persegi dan untuk sementara masih menggunakan lantai satu. Direncanakan dalam beberapa waktu lantai dua Toko Buku Gramedia Maumere sudah bisa beroperasi, demikian Wicaksono.

Animo masyarakat saat dibukanya Toko Buku Gramedia Maumere cukup tinggi. Ratusan pegunjung memadati dan silih berganti mendatangi Toko Buku Gramedia sejak pagi. Toko Buku Gramedia Maumere merupakan satu-satunya yang berada di Pulau Flores dan menjadi kebanggaan masyarakat pecinta buku di Flores. Para pengunjung Toko Buku Gramedia Maumere yang rata-rata adalah anak muda mengungkapkan rasa gembiranya saat ditanya tentang kehadiran Toko Buku Gramedia di Kota Maaumere. “Senang sekali, pokoknya i love u pull gramedia karena sudah masuk di Maumere,”Ungkap Adelia, pelajar SMU di Kota Maumere yang datang bersama temannya.
Begitu pula ungkap Gunawan seorang Mahasiswa “Meski masih ada beberapa kekurangan, kami sangat senang karena Gramedia sudah hadir disini.”
Hal senada juga diungkapan oleh beberapa pengunjung yang hadir ditengah-tengah kegembiraan beroperasinya Toko Buku Gramedia.

12.000 judul buku di Toko Buku Gramedia tersebar dalam beberapa kategori mulai dari Komik, Referensi, Bahasa, Anak dan Remaja, Komputer, Hoby, Ketrampilan, Masakan, Kedokteran, Manajemen, Hukum, Sospol, Sejarah, Kristen dan Khatolik, Fengshui, Psikologi, Filsafat, Sastra, Novel, Ilmu Pasti,/Alam dan lain-lain.

Kehadiran Gramedia di Kota Maumere dan Flores ini tak lepas dari peran Frans Seda, salah seorang putera terbaik Sikka yang baru-baru ini telah berpulang ke pangkuan TYME. Salah seorang pendiri Kompas dan Gramedia yang juga adalah Komisaris pada PT.Gramedia Indonesia. Beliaulah yang menjadi tokoh sentral hadirnya Toko Buku Gramedia di Kota Maumere ini sekaligus di tanah leluhurnya.


Wabup Sikka (kiri) & G.Wicaksono(kemeja putih)







www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Friday, 12 March 2010

Telkomsel Kartu As Peduli Lingkungan

Bersih-Bersih Pasar Geliting Bareng Telkomsel Kartus As Gratis 1000 SMS


Sebagai wujud kepedulian Telkomsel terhadap masyarakat dan lingkungan di Flores khususnya Kabupaten Sikka, Telkomsel melalui produk Kartu As menyelenggarakan kegiatan bhakti sosial membersihkan Pasar Geliting. Kegiatan ini berlangsung Jum'ad pagi (12/03/2010) diawali dengan acara Fun Drive Kartu As yang diikuti oleh 500 orang peserta yang terdiri dari element masyarakat Maumere, Komunitas Motor CB, Matic dan King, Komunitas Ojek serta Komunitas Outlet Telkomsel yang tersebar di wilayah Kota Maumere dan sekitarnya. Sebelumnya para peserta fun drive berkumpul di Gelora Samador untuk selanjutnya berangkat bersama-sama menuju ke Pasar Geliting. Mengenakan kaos merah bertulis Gratis 1000 SMS 24 Jam ke Semua Operator, ratusan sepeda motor melaju perlahan-lahan meninggalkan Kota Maumere melewati rute Jl. Nong Meak, Jl. Sugi Pranoto, Jl. Cakalang, Jl. Bandeng, Jl. Yos Sudarso, Jl Achmad Yani. Kegiatan Telkomsel Peduli Lingkungan ini diselenggarakan oleh Neibers Event Organizer pimpinan Audy.

Sales & Outlet Operation Sub Branch Maumere, I Wayan Eka Wiryawan yang ditemui disela-sela kegiatan ini mengharapkan agar masyarakat lebih paham pentingnya safety riding saat mengendarai kendaraan di jalan raya demi keselematan diri sendiri dan orang lain. Selain itu melalui kegiatan bhakti sosial membersihkan pasar, mudah-mudahan masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan dan membiasakan diri hidup sehat.
“Jadi melalui kegiatan ini ada dua manfaat yang bisa diperoleh sekaligus yaitu membiasakan berhati-hati saat mengendarai kendaraan dan menjaga kebersihan lingkungan,”Ujar Wayan Eka.

Di sela-sela kegiatan juga dilakukan sosialisasi dan edukasi program Promo Kartu As yang terbaru yaitu Kartu As Gratis 1000 SMS ke Semua Operator.
Menurut Wayan Eka, promo ini merupakan salah satu bentuk apresiasi Telkomsel kepada masyarakat dan pelanggan yang telah setia menggunakan produk Telkomsel.
’Tentunya 1.000 SMS gratis yang didapatkan setiap hari ini sangat bermanfaat dalam memberikan penghematan anggaran komunikasi yang sangat signifikan bagi pelanggan Kartu As,” ujarnya.
Untuk semakin mendekatkan diri kepada pelanggan, Telkomsel menyediakan pusat layanan informasi untuk melayani berbagai kebutuhan informasi mengenai produk dan layanan Telkomsel pada saat event berlangsung.



Kartu As Gratis 1.000 SMS ke Semua Operator


Dalam upaya memberikan yang terbaik untuk seluruh pelanggan Kartu As, Telkomsel meluncurkan Promo GRATIS 1000 SMS TIAP HARI ke SEMUA OPERATOR dan Promo GRATIS 5 MB Data. Diharapkan dengan peluncuran program ini, para pelanggan Kartu As bisa menerima semakin banyak tawaran menarik yang tentunya didukung oleh jaringan terluas dan kulitas terbaik. Caranya mudah, pelanggan lama tinggal hubungi *100# untuk melakukan perpindahan skema tarif.

Seluruh pelanggan Kartu As baik pelanggan baru maupun lama dapat menikmati promo ini dengan mekanisme sebagai berikut, pelanggan langsung mendapat gratis 1.000 SMS ke semua operator di hari yang sama setelah mengirim SMS berbayar senilai minimum Rp 1.000 ke seluruh operator di Indonesia yang dihitung mulai pukul 00.00-24.00 setiap harinya. SMS berbayar yang dihitung adalah SMS ke seluruh operator lokal di Indonesia. SMS content dan SMS internasional tidak masuk dalam kategori perhitungan SMS berbayar. Periode promo berlaku sampai dengan 30 April 2010.Demikian dikatakan I Wayan Eka Wiryawan,Supervisor Sales & Outlet Operation Sub Branch Maumere

Ditambahkannya, tarif yang berlaku bagi pelanggan yang mengikuti promo Kartu As 1.000 SMS ini adalah tarif nelpon Rp 15/ detik dan tarif SMS Rp 115/ SMS. Tarif ini berlaku ke seluruh operator flat 24 jam.

Lebih lanjut Wayan mengatakan, pelanggan yang ingin keluar dari skema tarif promo ini dan kembali ke skema tarif reguler Kartu As dapat menghubungi *100# di mana perpindahan dapat dilakukan sekali dalam sehari. Setiap keluar dari skema tarif promo ini, pelanggan dikenakan biaya Rp.1000, ujarnya lagi.

Penjelasan mengenai Promo GRATIS 5 MB data ini adalah sebagai berikut:
• Pelanggan langsung mendapat GRATIS 5 MB dan dapat digunakan di seluruh Indonesia setelah melakukan pembelian paket data 5 MB seharga Rp.5000,- yang dapat dibeli dengan menghubungi *363#.

• Promo ini berlaku selama 1 hari pada tanggal pembelian.
• Pelanggan yang mengikuti promo GRATIS 5 MB data tetap dapat menikmati promo Kartu As lainnya, termasuk promo GRATIS 1000 SMS KE SEMUA OPERATOR dan Kartu As Serba Rp 1000,-.


Bagi-bagi kantong sampah


Bersih-Bersih..


Anton, MC-nya

Gratis 1000 sms

Karaoke Bersama

Gratisssssssss


Kuis Libatkan Masyarakat



Wayan Eka





www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Tuesday, 9 March 2010

Gong Waning Sikka, Sejarah, Ritual, Pertunjukan dan Dampak Musikalnya

Perubahan Fungsi Musik Gong Waning Terhadap Aspek Musikalnya
oleh : Yohanes Carlos

Sebagian besar seni musik yang hidup dan berkembang di Indonesia merupakan seni tradisi rakyat, dimana penggunaannya selalu berhubungan dengan penyelenggaraan upacara adat atau ritual. Musik Gong Waning misalnya, seni musik ini merupakan seni musik rakyat yang berasal dari Kabupaten Sikka, Flores, dimana penggunaannya selalu berhubungan dengan upacara adat atau ritual.


Instrument ini terdiri dari; 2 buah waning ( semacam kendang Jawa namun, hanya memiliki satu membran ), 5 buah gong (semacam kempul Jawa ) dan satu buah saur ( sepotong bambu yang berukuran ± 1 meter ). Awalnya instrument ini hanya digunakan oleh masyarakat setempat dalam pelaksanaan upacara adat atau ritual seperti, upacara pernikahan, upacara berkebun, dan pembangunan rumah namun, dalam perkembangannya fungsi atau peran musik Gong Waning pun mulai bergeser. Penggunaannya tidak lagi untuk upacara adat semata tapi, sudah mulai memasuki dunia seni pertujukan yang sifatnya untuk hiburan. Dengan adanya perubahan atau pergeseran fungsi musik Gong Waning ini maka, terjadi juga perubahan dalam sisi musikalnya..

Sejarah Gong Waning

Donlod MP3,salah satu ragam GONG WANING.mp3

Musik Gong Waning boleh dikatakan relatif baru untuk ukuran sebuah musik tradisi. Kehadirannya di tengah masyarakat Sikka baru sekitar tahun 1920-an, kemunculannya ini merupakan dampak dari masuknya para pedagang dari Cina, Jawa, dan Bugis, yang pada saat itu membawa alat musik Gong untuk dibarter dengan barang-barang kerajinan dan hasil bumi masyarakat setempat.

Sebelum masuknya instrument Gong ke wilayah Sikka, masyarakat setempat sudah mengenal terlebih dahulu alat musik Lettor. Alat musik ini terbuat dari kayu, yang berbentuk bilahan-bilahan yang disusun yang disusun berjejer (seperti gambang Jawa, namun hanya berjumlah 7 bilah kayu).
Selanjutnya, pada saat instrument Gong masuk ke wilayah Sikka maka, oleh masyarakat setempat instrument Lettor diganti dengan instrument Gong. Alasannya karena, suara yang dihasilkan dari instrument Gong mirip dengan suara yang dihasilkan oleh instrument Lettor, dan instrument Gong dianggap lebih tahan lama atau lebih awet dibanding instrument Lettor. Sejak saat itu, peran instrument Lettor pun mulai diambil alih atau diganti dengan instrument Gong hingga saat ini.

“Gong Waning” untuk Ritual

Dalam budaya masyarakat Sikka, setiap upacara adat yang mereka lakukan merupakan sebuah bentuk doa, harapan, maupun ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas segala yang mereka terima. Oleh karena itu, upacara yang mereka lakukan selalu dilengkapi dengan musik dan tari-tarian, yang merupakan simbol atau wujud ungkapan syukur kepada Tuhan.

Dalam pelaksanaan upacara adat, kehadiran atau peran musik Gong Waning yaitu sebagai pengiring tarian karena, di wilayah Sikka musik Gong Waning tidak pernah berdiri sendiri atau disajikan sendiri tanpa unsur tari-tarian. Ini jelas berbeda dengan musik Gamelan Jawa atau Gamelan Bali yang mampu atau bisa disajikan sendiri tanpa harus mengiringi sebuah tarian. Dengan latar belakang budaya seperti ini, maka penyajian musik Gong Waning dan tari-tarian merupakan suatu kemasan yang tidak dapat dipisahkan.

Sebagai musik pengiring tarian, para pemusik bebas menentukan jenis irama yang akan mereka mainkan, kapan akan berganti irama, tanpa harus mengikuti atau memperhatikan para penari. Hal ini disebabkan karena, sajian musik Gong Waning dan tari-tarian tersebut merupakan seni rakyat, dimana tidak ada batasan-batasan atau aturan-aturan yang sifatnya mengikat untuk menentukan pilihan irama yang akan dimainkan maupun kapan saat pergantian iramanya. Dengan demikian, meskipun musik Gong Waning berperan sebagai pengiring tarian namun, para penari yang cendrung mengikuti alunan musiknya bukan sebaliknya.

“Gong Waning” untuk Pertunjukan

Sama halnya dengan perannya dalam upacara adat atau ritual, dalam seni pertunjukan Gong Waning pun berfungsi sebagai pengiring tarian. Namun, untuk seni pertunjukan tidak ada kebebasan lagi bagi para pemusik untuk memainkan Gong Waning. Disini, para pemusik lebih diarahkan atau diatur untuk mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh para penari. Para penabuh dituntut bisa mengikuti gerakan para penari, kapan harus berganti irama, kapan harus menabuh dengan suara lirih atau keras, semuanya harus mengikuti gerakan yang sudah digarap oleh koreografernya.

Adanya pengaturan pola gerakan dengan pola tabuhan karena, kemasan ini tujuannya bukan untuk ritual tetapi, untuk seni pertunjukan yang sifatnya untuk hiburan. Artinya, yang dinilai adalah aspek keindahan nya, dimana adanya keserasian musik dan gerakan, cara para pemusik maupun penari dalam berkespresi, serta dari sisi kostumnya.

Dampak Musikalnya

Salah-satu aspek yang terkena dampak dari pergeseran fungsi atau peran Gong Waning adalah aspek musikalnya. Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa untuk upacara ritual para penabuh bebas untuk menentukan jenis irama yang mereka inginkan, namun untuk pertunjukan semuanya mengikuti pola gerakan para penari. Adanya perubahan musikal dalam musik Gong Waning sesungguhnya hanya salah-satu instrument yang berperan penting yaitu ; Waning Inang. Instrument ini lah yang berfungsi untuk memberikan kode peralihan, melakukan penambahan pola-pola tertentu sehingga sesuai dengan gerak tari. Khusus untuk instrument gong, teknik tabuhannya tetap sama atau tetap pada aturan yang sudah ada. Jika ada instrument lain yang ikut membuat pola-pola baru agar sesuai dengan gerak tari, itu adalah instrument Saur.

Perubahan atau perkembangan musikalitasnya, sejauh ini penulis baru dapat mengindentifikasi menjadi tiga bagian yaitu ;

* Pertama, jika dalam seni ritual perubahan dari satu irama ke irama yang lain tanpa mengunakan kode peralihan maka, dalam pertunjukan digunakan kode peralihan. Ini dilakukan agar para penari tidak melakukan kesalahan saat menari.

* Kedua, untuk menyesuaikan pola gerakan-gerakan dalam tarian yang sudah digarap para pemusik biasanya keluar dari aturan atau pakem yang sudah ada, dan menambahkan pola tabuhan baru, sehingga sesuai dengan gerakan penari.

* Ketiga, para pemusik mulai memperhatikan keras-lirihnya tabuhan, sesuai dengan gerakan yang dilakukan para penari. Ini agak berbeda jika musik Gong Waning dalam upacara ritual, mereka tidak terlalu memperhatikan keras-lirihnya suara musik tersebut.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada dasarnya perubahan atau pergeseran fungsi Gong Waning disebabkan oleh terjadinya perubahan pola hidup masyarakat setempat. Jika dahulunya mereka sering melakukan upacara adat atau ritual maka dengan adanya perkembangan jaman, mereka mulai meninggalkan upacara – upacara adat yang sering mereka lakukan. Hal ini menyebabkan penggunaan instrument Gong Waning pun semakin menurun. Oleh sebab itu, untuk tetap menjaga keberadaan atau eksistensi musik Gong Waning maka, penggunaan instrument tersebut mulai dialihkan ke dunia seni pertunjukan.

Setelah terjadi pergeseran fungsi Gong Waning, musikalitasnya pun mulai mengalami perubahan atau perkembangan. Adanya perubahan atau perkembangan tersebut merupakan salah – satu dampak penyesuaian terhadap pola gerak tari yang telah digarap, dan tuntutan penikmat (yohanes carlos).

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Dulmatin, Jejak Peneror Yang Menakutkan...

Tersangka teroris Dul Matin tewas diterjang peluru pasukan Detasemen Khusus 88/Antiteror Mabes Polri dalam penggerebekan di rumah toko Multiplus Jalam Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, sekitar pukul 12.00 WIB (Selasa 09/03/2010. Namun banyak yang membantah kabar kematiannya. Untuk itu Polri sedang melakukan Proses identifikasi Tes DNA untuk membuktikan fakta tersebut.

Siapakah DULMATIN? dibawah ini adalah jejak sang teroris yang merupakan orang penting dalam jaringannya di Asia Tenggara.
Jejak Dulmatin alias Joko Pitono alias Joko Supriyanto sudah terendus sejak 6 Oktober 2002. Bersama Dr. Azahari dan Ali Imran dia datang ke Bali. Pada 12 Oktober 2002, dua bom dahsyat meledak di Paddy's Cafe dan Sari Club. Dalam Bom Bali I Dulmatin bertugas membantu merakit bom, memantau kondisi lapangan, menggambar denah lokasi, serta mencocokkan waktu dan tempat.

Lahir di Desa Petarukan, Pemalang Jawa Tengah, pada 1970, Dulmatin kemudian pergi ke Malaysia pada 1992. Dia kembali ke Pemalang pada 24 November 1995 untuk menikahi Istiadah. Saat itu Dulmatin menggunakan nama Ammar Usman.

Dulmatin sempat mengajar di pesantren Luqmanul Hakiem, Johor, Malaysia. Dulmatin memiliki keahlian merakit firing device, dan rangkaian elektroni yang memicu kerja detonator bom. Dia kemudian pindah ke Filipina dan tinggal bersama dengan Umar Patek di Pawas, di luar Cotabato tempat para anggota Darul Islam dilatih.

Saat bom meledak di Hotel JW Marriot 2003, polisi sempat menemukan jejak Dulmatin bersama Azahari dan Noordin M. Top di Bengkulu. Dia berganti nama menjadi Feri Kurnaiawan dan sering keluyuran di kios fotokopi sekitar Universitas Bengkulu. Pada Januari 2005, pesawat tempur dan helikopter militer Filipina menggempur kawasan Maguindanao, wilayah selatan yang disebut-sebut sebagai tempat persembunyian "teroris", Dulmatin diyakini tewas dalam serangan ini.

Namun pihak Filipina mengatakan Dulmatin dan Umar Patek tidak termasuk korban penyerangan militer Filipina terhadap kamp Abu Sayyaf di Butilan Marsh, Datu Piang, Provinsi Maguindanao, Filipina Selatan. Pada 31 Maret 2005 Dulmatin dikabarkan telah masuk Indonesia tepatnya di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat.

Nama Dulmatin kembali muncul 2005 saat Bom Bali II meletus. Pemerintah Amerika bahkan siap menebus informasi yang bisa menuntunnya mencokok Dulmatin dengan harga US$ 10 juta (sekitar Rp 100,5 miliar). "(Pemerintah) Amerika sangat ingin mengadili orang-orang ini atas kejahatan mereka," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Sean McCormick. Selain Dulmatin, Washington menghargai Umar Patek senilai US$ 1 juta. Keduanya termasuk dalam daftar tersangka bom Bali I, 12 Oktober 2002.

Keberadaan Dulmatin terus diburu. Pemerintah Filipina pada Juli 2005 mengumumkan telah menyerang persembunyian gerilyawan di sebuah desa yang ditengarai sebagai tempat persembunyian Dulmatin. Istri Dulmatin Istiadah ditangkap di Filipina karena masalah keimigrasian. Pada Januari 2007, Dulmatin dilaporkan terluka dalam baku tembak dengan militer Filipina di selatan Pulau Jolo.

Pejabat militer senior Filipina pada awal 2010 mengatakan Dulmatin ternyata selamat dari bentrokan di Filipina Selatan pada 2008.”Saya percaya informasi dari sumber-sumber bahwa Dulmatin masih di Sulu,” kata Komandan Marinir­
Filipina Mayor Jenderal Juancho Sabban kala itu. Sulu merupakan rangkaian dari pulau-pulau yang ada di Filipina Selatan, sarang kelompok militan Islam (tempointeraktif).
www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---