Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Sunday, 11 July 2010

Romo Poly, Selamat Bertugas di Paroki St Yoseph..

Apresiasi istimewa dari umatnya untuk Sang Romo
Maumere, 10 July 2010. Romo Poly nampak bahagia. Mengenakan kaos merah, langkah tegasnya perlahan-lahan bergerak. Ratusan umat lain mendampinginya. Menembus keramaian lalulintas sore, menembus pekatnya debu jalan Kota Maumere. Ada ibu-ibu dan para gadis yang menari-nari hegong. Ada pukulan berirama musik gong waning (musik etnik sikka) dari anak-anak kecil yang duduk berdesakan diatas oto. Ada tatapan ingin tahu dari pengendara disepanjang jalan. Ada pula senyum dan lambaian tangan dari umat ditepi jalan. Dan ratusan umat yang mengiringinya berbauran antara laki-laki, perempuan, tua dan muda dan juga anak-anak kecil. Mereka berasal dari umat Paroki Spirito Sancto Misir, Keuskupan Maumere. Dengan berjalan kaki dalam warna yang gembira, umatnya mengiringi Sang Romo Poly, Pastor Paroki mereka yang mendapat tugas baru di Katedral Keuskupan Maumere.

Romo Polycarpos Sola, Pr kelahiran Kota Bajawa ini pastilah sangat dekat dengan umatnya. Lihatlah, umat yang mengantarnya sampai pendopo Paroki Katedral, membuktikan rasa kecintaan mendalam pada gembalanya. Air mata yang jatuh dari umatnya dan tatapan haru gembalanya menjadi saksi betapa hubungan ini begitu dekat.

Atraksi Tarian Hegong tak hanya dipangung jalanan, bahkan sampai di pendopo Paroki St Yoseph. Romo Jhon Ewo Toa,Pr yang menerima rombongan pengiring ini terkesima. Dan semua yang hadir disitu, Bagaimanapun Sang Romo Poly telah mendapat apresiasi istimewa dari umatnya. Perjalanan mengantar Romo Poly sejauh 4 KM dari kawasan Misir sampai halaman Paroki St Yoseph sudah selesai. Bekas gembala umat Paroki Spirirto Sancto Misir didekati. Satu persatu mereka menciumi tangan sang gembala. Lalu berlalu untuk pulang kembali ketempat tinggal mereka di Misir. Ketika malam mulai datang, titik keringat yang melekat di kulit legam bekas umatnya sudah seperti permata bagi gembalanya.

“Kami tidak tahu harus berterima kasih seperti apa, tapi mungkin hanya inilah yang bisa kami lakukan,” ungkap Mama Emy sambil menghapus air matanya. "Selamat bertugas Romo," tambah Mama Emy.
“Romo Poly sudah kami anggap seperti saudara sendiri, dia terlalu baik bagi kami,” ujar umat yang lain.

Romo Poly lengkapnya Rm. Policarpus Sola,Pr adalah romo kelahiran Bajawa. Lelaki kelahiran 1973 ini sudah delapan tahun melayani umatnya sebagai imam KATOLIK. Ia lulus dari Seminari Kisol, Manggarai dan ditahbiskan menjadi pastor di kampung halamannya sendiri Mangulewa, Ngada 8 tahun lalu. Di Gereja Paroki Misir, Romo Poly telah mengabdi selama 3 tahun.

Romo yang murah senyum ini, pernah pula menulis untuk inimaumere.com tentang sejarah Patung Fatima di Kecamatan Lela,Kabupaten Sikka.

Kepada inimaumere.com, Romo Poly mengakui hubungannya dengan umatnya begitu dekat. Program-program gereja semua begitu didukung dengan antusias oleh umat.

“Waktu tugas Pertama kali, Paroki Spirito Sancto Misir adalah paroki baru, saat itu saya mulai bertugas tahun 2007. Hubungan kami di paroki begitu dekat. Bahkan kalo sakit mereka merasa begitu kehilangan sekali, begitu pula kalau ada umat yang mempunyai masalah. Kami sudah seperti saudara sendiri. Jadi saya sangat mengerti dengan apresiasi yang mereka berikan tadi. Selain itu umat Paroki Miisir juga sangat mendukung program-program yang dilakukan gereja. Kerja sama kami begitu baik, dan ini membuat saya sulit melupakan kenangan kami” ujar Romo Poly.

Romo Poly akan bertugas di Paroki Katedral St Yoseph Maumere sebagai Pastor Paroki St Yoseph. Ia menggantikan Rm. Jhon Ewo, Pr yang mendapat jabatan baru sebagai Direktur Puspar Keuskupan Maumere.

VIDEO Cuplikan perarakan Sang Romo


Selamat bertugas Romo Poly..!

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Saturday, 10 July 2010

Mahasiswa Asal Maumere di Jakarta Bentuk PMMJ

Mahasiswa asal Kabupaten Sikka yang sedang menimba ilmu di Kota Jakarta baru-baru ini membentuk sebuah wadah pemersatu. Perhimpunan ini dibentuk 10 April 2010 lalu dan diberi nama Perhimpunan Mahasiswa Maumere Jakarta atau di singkat PMMJ. 

Salah satu alasan dibentuknya PMMJ berasal dari adanya rasa keprihatinan para mahasiswa karena selama ini tidak ada satu wadah yang menghimpun keberadaan mereka. 

Setelah PMMJ dibentuk, para mahasiswa kemudian melakukan beberapa kegiatan untuk pensosialisasian. Salah satunya dengan melakukan Deklarasi PMMJ yang dilanjutkan dengan Talk Show. 

Talk Show yang bertemakan “Membangkitkan Kembali Generasi Handal Tanah Maumere Yang Lama Tenggelam” menghadirkan beberapa narasumber, seperti Kris Siner Keytimu, Frans Meak, Hery Soba, Romo Yohanes Kristo Tara,OFM dan Enjels Solapung dengan moderator Arnoldus Yanzen Da Gomez. Deklarasi PMMJ bertempat di Kampus Unika Atmajaya Jakarta, Senin ( 5/07/2010).

Pendeklarasian diawali dengan proses arakan penyambutan para pengurus PMMJ periode 2010-2011. Seremoni pembukaan ini erat dengan budaya Sikka, dimana mereka disambut dengan Huler Wair dan Tarian Hegong (tarian tradisional Kabupaten Sikka). 

 “PMMJ merasa perlu menggali potensi dan kebudayaan lokal Kabupaten Sikka agar kita sebagai generasi muda bisa menunjukan jati diri sebagai orang Maumere dengan terus melestarikan kebudayaan lokal yang ada,” ujar Ketua terpilih PMMJ, Yanci Da Rato. 

Pengukuhan Ketua PMMJ Yanci Da Rato dilakukan oleh sesepuh Maumere di Jakarta sekaligus Ketua Dewan Penasehat PMMJ, Kris Siner Key Timu. 

Acara pengukuhan juga diisi dengan Penandatanganan Berita Acara Deklarasi oleh Kris Siner Key Timu ( Ketua Dewan Penasehat PMMJ ), Romo Yohanes Kristo Tara,OFM ( Moderator PMMJ ),Yanci Da Rato, Ketua PMMJ. 

Sebelumnya dilakukan pelantikan Pengurus PMMJ Periode 2010-2011 oleh Ketuanya, Yanci da Rato. Para nara sumber yang hadir dalam TalkShow banyak memberikan masukan dan harapan terhadap PMMJ. Seperti Heri Soba wartawan yang berbicara mewakili generasi muda Maumere berharap agar jangan sampai Perhimpunan Mahasiswa Maumere Jakarta ( PMMJ ) ini hanya bertahan tiga sampai empat tahun saja. 

“Pengelaman saya saat berorganisasi banyak sekali melihat organisasi lokal yang dibentuk tapi tidak bertahan lama, saya berharap agar PMMJ bisa eksis selamanya,” ujar lulusan IPB Bogor ini. 

 Romo Yohanes Kristo Tara,OFM berharap PMMJ dapat menjadi pelopor dalam menggerakan seluruh organisasi lokal NTT yang ada di Jakarta agar bisa duduk dan bekerja bersama untuk perubahan NTT kedepan khususnya di Flores. 

 Dilain kesempatan, Kris Siner Key Timu menegaskan dan berharap kepada semua mahasiswa agar jangan pernah mengidolakan seseorang tokoh. 
Menurutnya pengidolaan ini akan membuat terjadinya sebuah kultus individu. 

“Kita telah belajar dari masa lalu, ini sangat tak baik,” ujarnya. 

 Pembentukan PMMJ ini disambut positip banyak pihak, terutama kalangan mahasiswa asal Kabupaten Sikka di Jakarta. 

Seperti diketahui, mahasiswa asal Kabupaten Sikka menyebar di hampir seluruh kampus-kampus di Jakarta. Sayangnya, sampai dengan PMMJ dibentuk belum pernah ada organisasi yang menaungi keberadaan mereka. 

Hadirnya PMMJ diharap mampu merangkul semua kalangan mahasiswa Sikka di Jakarta dan bekerja bersama-sama dalam bingkai kekeluargaan dan budaya orang Maumere. R

angkaian acara ini ditutup dengan ramah tamah antar keluarga besar Maumere dan diakhiri dengan Soka Toja.

huler wair da tarian hegong di awal acara www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 9 July 2010

Kita Masih Punya Komodo, Vote It..!

Langkah-Langkah memberikan Vote di New7wonders.com

Pulau Komodo masuk dalam persaingan di kategori New Seven Wonders of NaturE, kita semua su tau. Tapi sayang, posisinya riskan karena belum berada pada zona 7 besar. Untuk membantu Pulau Komodo terpilih sebagai salah satu keajaiban dunia diperlukan dukungan serius dari semua pihak. Karena hasil akhir memang ditentukan dari voting yang diadakan di internet dan telpon. Aduh e, jangan sampe ooo Candi Borobudur tak ada gantinya lagi. Karena kita tak ingin. Tak mau. Orang Indonesia (terutama kita orang Flores - NTT) yang punya kebanggaan atas Komodo jadi penonton, tak masuk dalam keunikan dunia.
Eh, bagimana caranya kasih vote untuk komodo? Nah ini dia, caranya adalah :

01.Klik saja www.new7wonders.com

02.Klik vote now for the 7 wonders

03.Pilih 7 finalis dengan Komodo berada pada urutan 1 (harus!!) dan 6 finalis lainnya pilih dengan posisi rangking terbawah.
(Rangking terbawa bisa dilihat di latest rangking, link-nya dipojok kiri atas)

04.Klik submit to step 2,
Jika sukses Anda akan diminta untuk mendaftarkan diri Anda dengan mengisi form, isikan data pada nomor 1 s/d 11. (Yup, kita isikan data-data seperti diminta).

Untuk lebih jelasnya berikut isian nomer 1 s/d 11:

1. Pilih username sesuka Anda.

2. Isikan password

3. Isikan kembali password pada nomer 2

4. Isikan email

5. Isikan Nama Depan Anda

6. Isikan Nama Belakang Anda

7. Pilih jenis kelamin

8. Isikan tanggal lahir

9. Pilih Negara Anda

10. Berikan ‘tick’ pada Terms & Conditions

11. Ketikan 2 kata dan dipisahkan dengan spasi yang muncul pada CAPTCHA. Klik continue to step 3

05.Masuk ke e-mailmu, akan dikirim mail dari panitia 7 wonders

06.Klik linknya, agar vote kamu terhitung.

Yap, votemu sudah terhitung.. :-)


Selamat Mendukung Komodo!


www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Tuesday, 6 July 2010

Tenun Alami Nusa Bunga

Merawat dan Mengabadikan Tenun Alami Nusa Tenggara Timur


Catatan Ahmad Yunus

TIGA perempuan tengah menumbuk akar dan kulit pohon dengan sebilah gelondong kayu. Suara tumbukan terdengar ritmis dan berirama. Keringat peluh terlihat mengucur pada wajah ketiga perempuan itu. Mereka menghaluskan akar dan kulit dari berbagai tumbuhan itu hingga menjadi serbuk.
Ini bahan ramuan utama untuk pewarnaan alami benang. Ada 17 jenis tumbuhan yang bisa menghasilkan warna alami. Nangka. Kapuk Randu. Mangga. Mengkudu. Kemiri. Kacang-kacangan. Hingga tumbuhan lokal seperti Waher, Tener, Dadap, Nila dan Pohon Susu. Tumbuhan ini tumbuh subur di daratan Flores hingga ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Mengkudu bisa menghasilkan warna merah dasar. Pohon Nila menghasilkan warna biru. Tumbuhan berbiji belah bisa menghasilkan warna coklat. Pengetahuan membuat ramuan ini mereka dapatkan secara turun temurun dari nenek moyangnya.

“Dua hari rendam dengan air sampai dapat endapan warnanya,” kata Daniel David.

Ia menunjuk pada sebuah gubuk kecil di belakang rumahnya. Ada beberapa ember terlihat penuh dengan air rendaman. Proses perendaman makan waktu dua hingga lima hari untuk mendapatkan warna yang berkualitas.

“Harus telaten. Tidak bisa buru-buru. Ini namanya proses alam,” katanya.

Pewarnaan alami punya beberapa manfaat. Pertama, tidak membawa efek buruk bagi kesehatan bagi si pengrajin tenun. Kedua, ramah lingkungan karena tidak terbuat dari bahan kimia pabrikan. Bahan-bahan ini mereka dapatkan dari tumbuhan di sekitar rumah maupun hutan yang ada di Flores ini.

Namun, kini mereka juga menanam diperkebunannya. Tanaman Menkudu, misalnya. Akarnya bisa digunakan untuk bahan pewarnaan. Namun, tumbuhan ini bisa dipanen setelah berumur lima tahun.

Beberapa contoh benang hasil pewarnaan menggantung di bilik dinding rumahnya. Ada yang berwarna biru tua, muda, merah, putih dan coklat. Suara tumbukan masih terdengar nyaring. Sesekali terdengar gelak tawa dari perempuan itu. Di pojok ruang keluarga terlihat satu perempuan tengah menjahit tenun dengan tangan. Sambil menemani satu bocah kecil yang tengah menonton televisi.

David membawa beberapa contoh kain tenun dari kamarnya. Kain tenun terasa tebal. Bau akar masih terasa nempel pada lembaran kain tenun itu. Warna alami terlihat redup dan tidak mengkilap. Setiap motif kain tenun punya makna dan cerita. Juga fungsinya, baik untuk kalangan orang tua, ketua adat maupun anak muda. Untuk kebutuhan ritual adat, perkawinan hingga sehari-hari.

“Ada pengaruh animisme, dinamisme, katolik, portugis, hingga india,” katanya.

Menurutnya, setiap klan atau suku di Nusa Tenggara Timur punya karakter motif sendiri. Mulai dari Labuanbajo di Manggarai, Ende, Sumba Timur, Atambua di Timor, hingga kepulauan Alor. Namun ada beberapa daerah ditemukan dengan karakter motif yang hampir serupa. Ia memperkirakan ratusan motif tenun tradisional yang berada di Nusa Tenggara Timur. Satu daerah saja bisa punya 40 macam motif. Misalnya di daerah Iwanggete dan Palue.

Motif-motif ini biasanya muncul dengan menampilkan simbol tertentu. Misalnya legenda naga yang bisa ditemukan di Bajawa, Ende dan Sikka. Naga menjadi simbol kesuburan. Sementara di Alor muncul motif gajah. Simbol ini diperkirakan pengaruh dari India. Ketika masa perdagangan rempah-rempah pada abad ke 16 hingga 18 silam berlangsung di kepulauan Nusantara ini. Selain itu ada motif bunga hingga binatang macam tokek, ikan, gurita dan kura-kura.

“Tak banyak yang tahu mengenai cerita dan legenda dari kain tenun tradisional. Saya riset untuk mempelajari penyebaran dan makna dibalik setiap motif itu,” katanya sambil membakar rokok kreteknya.

Kecintaan David terhadap kain tenun berawal dari 10 tahun yang lalu. Orang tuanya pernah mengingatkan agar ia mencintai budayanya sendiri. Ia melihat banyak perempuan dikampungnya, Watublapi yang menjadi pengrajin tenun.

Kampung Watublapi sekitar 10 kilometer arah timur dari Maumere, Kabupaten Sikka. Banyak pengrajin tenun sudah menggunakan bahan kimia untuk proses pewarnaan. Mereka meninggalkan keterampilan dan pengetahuannya tentang penggunaan bahan-bahan alami.

“Mereka bilang ini sudah modern. Kalau alami itu masa nenek moyang,” katanya.

David mengajak agar pengrajin tenun dikampungya tetap mempertahankan tadisi alami. Namun tak mudah karena pengrajin ini sudah terbiasa menggunakan bahan pewarna kimia. Alasannya karena lebih praktis dan gampang.

Menurutnya, penggunaan kimia justru tidak menguntungkan bagi si pengrajin. Ia khawatir kimia punya dampak buruk terhadap kesehatan warga dan lingkungan. Pengrajin justru menambah beban sendiri dengan mengeluarkan uang tambahan untuk membeli bahan warna kimia ini. Satu botol pewarna kimia dipasaran sekitar 70 ribu rupiah. Belum lagi untuk membeli bantal benang sekitar 50 ribu rupiah.

“Satu tenun butuh waktu pengerjaan sekitar dua bulan. Kalau dijual pun tidak untung. Ongkos tenaga kerja tidak dihitung,” katanya. Rata-rata harga untuk tenun dalam bentuk selendang sekitar 50 ribu rupiah. Dan untuk sarung antara 200 ribu hingga 300 ribu rupiah.

Ia menunjukkan bahwa tenun yang menggunakan bahan alami justru punya nilai tambah yang lebih. Rata-rata harga satu lembar tenun selendang sebesar 100 hingga 250 ribu rupiah. Dan untuk sarung maupun lembaran yang lebih besar bisa mencapai satu hingga dua juta rupiah.

Kain tenun alami banyak diburu oleh kolektor dan pecinta kain tradisional dari luar daerah Flores. Diantaranya dari Bali dan Jakarta. Pesanan juga banyak untuk kebutuhan penjualan ke negara luar seperti Amerika, Jerman, Singapura dan Jepang. Kain tenun tradisional alami ini kerapkali untuk mengisi kebutuhan galeri dan museum-museum. Penjualan kain tradisional yang masuk kategori antik bisa mencapai 25 juta hingga 80 juta rupiah.

Ia melihat peluang bisnis penjualan tenun bisa menguntungkan. Namun perlu tenaga dan waktu untuk terus mempromosikan keberadaan tenun alami tradisional ini. Mulai dari riset, sejarah, karakteristik motif, pengemasan hingga untuk kebutuhan pendidikan budaya tradisi.

Sampai sekarang ia melihat tak ada upaya yang serius dari pemerintah lokal untuk melestarikan budaya ini. Seringkali pendekatan pemerintah dalam bentuk proyek hingga promosi pameran.

“Mereka jarang bawa pengrajinnya untuk mengikuti pameran,” katanya.

Pemerintah tidak melakukan pendekatan yang lebih merakyat untuk mendorong pemberdayaan. Sehingga keberadaan produk budaya ini bisa memberikan manfaat pada perekonomian warga. Selain untuk melestarikan kekayaan budaya dan pariwisata di Nusa Tenggara Timur.

Setiap daerah punya motif sendiri. Namun sayang, pemerintah daerah tidak mengemas ini dengan ciamik. Kain-kain tradisional ini dijual secara eceran di lapak-lapak dan pasar. Tidak ada satu kawasan khusus yang menjual benda-benda seni. Sehingga bisa terlihat lebih rapi.

“Pasar lokal masih sulit berkembang. Orang awam sulit untuk membedakan mana tenun yang berkualitas mana yang tidak. Kalau yang ada dipasaran, itu semua menggunakan kimia. Cirinya lebih mengkilap,” katanya.

Di Watublapi ia bersama warga kemudian membentuk kelompok Bliran Sina. Artinya, sangat sejuk atau teduh. Kelompok ini mempromosikan budaya, musik dan tenun tradisional Sikka. Termasuk penggunaan bahan alami untuk proses pewarnaan tenun. Kelompok ini juga membentuk usaha keuangan mikro berupa simpan pinjam.

Usaha ini ternyata membawa berkah bagi kampungnya. Apalagi saat itu warga tengah terpuruk akibat gagal panen kokoa. Usaha tenun alami lambat laun bisa mendongkrak kehidupan di Watublapi. Kampung ini lambat laun dapat kunjungan dari wisatawan luar.

Warga juga tidak keberatan menyelenggarakan acara budaya seperti pertunjukkan musik dan tarian tradisional. Saat ini kelompok Bliran Sina sudah memiliki kerjasama dengan travel dan agen-agen wisata yang berbasis di Bali.

“Penjualan langsung dalam satu hari bisa sampai 250 juta,” katanya.

Pengrajin dan pembeli bisa membeli langsung dan berdialog. Masyarakat senang dengan sistem pasar seperti ini. Karena lebih terbuka dan manusiawi. Setiap bulannya pengiriman tenun alami tradisional ke Bali dan Jakarta sekitar 20 hingga 40 lembar. Dengan proses seleksi agar kualitasnya tetap terjaga.

Pengembangan dari tenun ini belum berkembang. Masyarakat lokal belum mampu untuk merancang dalam bentuk lain seperti tas, sepatu, gorden, taplak meja makan hingga gaun. Modifikasi juga masih sulit karena kain tenun terlalu tebal. Alternatif lain pernah coba dengan menggunakan benang sutera. Hasilnya halus. Harga tinggi. Namun bahan dan pengerjaan masih terlampau sulit.

“Kita sering bicara masalah paten. Namun belum bisa. Banyak kain tenun di rumah adat yang sudah banyak hilang. Tidak jelas kemana rimbanya,” katanya sedih.

Sudah lima tahun sudah ia keliling kampung di kepulauan Nusa Bunga ini. Ia terus mencari dan mendalami makna dari setiap motif kain tenun ini. Ia percaya bahwa produk budaya ini bisa memberikan dampak pada perekonomian warga. Kain tenun juga sudah melekat dengan kehidupan warga. Mulai dari aktifitas berkebun hingga ke pasar.

“Kelak saya ingin punya museum tenun tradisional. Mulai dari contoh kain hingga peralatan tenun yang tua. Supaya orang bisa belajar dan melestarikan tenun-tenun itu,” katanya.

Pertengahan tahun ini ia menargetkan agar proyek duplikasi 40 motif Sikka bisa kelar. Termasuk sebuah galeri seni yang bisa menjadi episentrum penjualan kain tenun alami tradisional itu.(Ahmad Yunus /The AHMAD Institute).

info ttg tenun ikat, klik saja : www.alfonsadeflores.com

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Sunday, 4 July 2010

Di Maumere, Fans Jerman Rayakan Kemenangan

Puluhan pendukung Jerman di Maumere tumplek memenuhi jalan raya merayakan kemenangan 4 : 0 Jerman atas tim kuat Argentina. Perayaaan ini sebagai ungkapan kegembiraan pendukungnya setelah 90 menit Jerman memberi pelajaran terhadap Argentina. Selain berteriak-teriak kegirangan dalam pekatnya malam, puluhan fans Jerman juga menggeber sepeda motor. Perayaan kemenangan ini menjadi tontonan masyarakat sekitar, tak kecuali fans Argentina yang hanya tersenyum kecut di kejauhan. Seperti didaerah Wairotang, Kota Maumere, puluhan fans Jerman juga memukul-mukul tiang listrik dan bernyanyi. Sambil menggeber gas sepeda motor, mereka juga menyebut-nyebut Maradona sebagai pelatih bermulut besar. “Hidup Jerman....bravo Jerman...” teriak mereka berulkang-ulang. Selain itu, di jalan raya protokol beberapa kelompok kecil sepeda motor nampak merayakan kemenangan dengan pawai keliling kota.(lihat video perayaan)

Pertandingan antara Jerman versus Argentina benar-benar menarik perhatian masyarakat bola Kota Maumere. Kota menjadi sepi, hening saat pertandingan berlangsung. Dibeberapa tempat yang digelar nonbar alias nonton bareng semua masyarakat berkumpul sambil menikmati suguhan bola dilayar raksasa. Halaman Stadion Gelora Samador menjadi salah satu titk berlangsungnya nonbar. Bahkan saking banyaknya yang menonton, jalan raya didepan Gelora Samador menjadi macet. Begitu pula di halaman parkir Swalayan Roxxi.

Nonton bareng juga terjadi disejumlah tempat lain. Para pecandu bola dalam beberapa kelompok nampak memenuhi halaman rumah tetangga. Bangku-bangku disediakan ala kadarnya, makanan ringan dan lokal khas Maumere di hidangkan, tak lupa ada minuman mokenya. Dibawah rindangan pepohonan, atau beratap langit beberapa malam ini sejak babak perempat final Piala Dunia konkow ala orang Maumere menjadi drama mendebarkan. Karena kemudian ada kekecewaan dan ada kegembiraan. Tapi dengan begini, akhirnya semua bisa berkumpul, bisa bersama-sama lagi.
“Nonton bareng Piala Dunia akhirnya menjadi tempat reuni keluarga, teman dan sejumlah rekan yang selama ini sibuk dengan urusan masing-masing,” ujar Ricky Pareira, warga Jalan Elang yang menyediakan halaman rumahnya untuk nonbar selama beberapa hari ini.

Sedangkan Dedi, seorang pegawai negeri yang selama piala dunia ini setia meluangkan waktunya sebagai teknisi bongkar pasang peralatan nonbar merasa puas dengan hadirnya piala dunia, “Hilang sudah kejenuhan, selama piala dunia kita dihibur berbagai macam atraksi menarik para penari lapangan hijau, bukan lagi tentang poltik yang bikin kepala pusing,” ujarnya.

Kekalahan Argentina semalam juga terbersit diwajah para pendukung beratnya. Hendra da Gomez dan Ari Kolak adalah salah satu fans fanatik yang mewakili sekian banyak fans Argentina di Maumere. Mereka lebih memilih diam tak berkomentar saat wasit meniup peluit panjang tanda berakhir. Dilayar televisi Messi terlihat kecewa dan diluar rumah sana, jalanan penuh dengan para pendukung Jerman. Selama 30 menit mereka merayakan kemenangan yang dihiasi kepulan asap dari knalpot sepeda motor.

Selamat buat Jerman dan terima kasih buat Argentina yang telah meberikan tontonan yang menarik...!



www.iniamumere.com

Selengkapnya...

Friday, 2 July 2010

PERJALANAN, Sensasi Bermobil ke Flores

Mengapa tidak mencoba berkendaraan terus ke timur? Berlibur dengan mobil ke Denpasar, Bali, sudah bukan sebuah kejutan. Seiring dengan tampilnya mobil-mobil anyar dengan kemampuan mesin hebat, perjalanan hanya ke Denpasar bukan lagi sebuah sensasi besar. Semakin ke timur dari Bali, sampai ke ujung timur Pulau Flores, jelas sebuah cerita tersendiri.

Berkendaraan dari Denpasar untuk tiba di Labuhan Bajo, Flores Barat, hanya memerlukan waktu satu setengah hari. Jarak yang ditempuh kendaraan hanya sekitar 738 kilometer. ”Jarak yang tertera di odometer ini juga setelah kami sempat salah jalan sejauh 70 kilometer selepas Sumbawa Besar,” ujar Medci Djogo, yang ditemui di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, awal April 2010.

Medci dan keluarganya menggunakan mobil Pregio keluaran KIA dari Jakarta untuk menghadiri perayaan Paskah ala Portugis di Larantuka. Mobil bermesin diesel dengan silinder mesin 2.700 cc ini membawa enam penumpang dari Jakarta. Tiga penumpang lain bergabung di Denpasar.

lagu-lagu flobamora di halaman ini

Jarak 738 kilometer dari Denpasar hingga Labuhan Bajo memerlukan waktu tempuh satu setengah hari karena mobil harus tiga kali menumpang feri, yakni feri antara Pulau Bali dan Pulau Lombok, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, serta Pulau Sumbawa dan Pulau Flores.

”Perjalanan dari Denpasar ke Flores harus memperhitungkan feri antara Sumbawa dan Flores yang hanya beroperasi satu kali sehari setiap pagi sekitar pukul 09.00 Wita,” ujar Steven, warga Jimbaran, Denpasar, yang ditemui di Labuhan Bajo. Agar bisa tiba pada pagi hari berikutnya di Sape, pelabuhan penyeberangan di Sumbawa, perjalanan dari Denpasar harus dimulai pada pagi hari.

Perjalanan hari Sabtu, 27 Maret lalu, dimulai pukul 10.00 Wita. Start pagi hari ini dilakukan mengingat waktu tempuh feri pada setiap penyeberangan. Feri beroperasi setiap setengah jam di Pelabuhan Padang Bai, di sisi timur Pulau Bali. Diperlukan waktu sekitar empat jam untuk sampai di pelabuhan feri Lembar, Pulau Lombok.

”Biaya penyeberangan per mobil Rp 555.000, sudah termasuk semua penumpang,” ujar Medci. Perjalanan dari Lembar hingga pelabuhan penyeberangan feri di Khayangan di ujung timur Pulau Lombok memerlukan waktu satu setengah jam. ”Perjalanan siang hari jadi harus ekstrahati-hati dengan kendaraan roda dua,” ujarnya. Pulau Lombok tidak terlalu panjang sekitar 80 kilometer.

Feri di Khayangan beroperasi reguler setiap satu jam. Muatan, termasuk mobil, yang semakin sepi membuat sejumlah feri hari itu tidak beroperasi. Dengan membayar tiket feri Rp 392.000, perjalanan feri siang itu sangat nyaman. Pulau-pulau kecil tak berpenghuni seperti muncul dari laut. Perjalanan sepanjang sekitar satu setengah jam pun terasa lebih cepat.

Pelabuhan feri Poto Tanos di ujung barat Pulau Sumbawa menjadi awal perjalanan sejauh sekitar 400 kilometer melintasi Sumbawa. Waktu pukul 18.00 Wita membuat pemandangan Pulau Sumbawa yang penuh teluk berair tenang tanpa gelombang praktis dilupakan.

Jurang dan tanjakan menghadang, terutama selepas Sumbawa Besar menuju Dompu, Bima, dan Sape. Pemandangan dengan laut di bawah jurang tidak terlihat. ”Jalan jelek sejauh puluhan kilometer selepas Sumbawa Besar. Mobil tidak bisa dipacu di atas 40 kilometer per jam,” ujar Medci. Terlihat ada upaya perbaikan dan pelebaran jalan.

Karena jalan jelek, ditambah sempat nyasar selepas Sumbawa Besar, mobil tiba di Sape lebih lambat dari jadwal feri. Beruntung, feri milik PT Dharma Lautan Utama yang sudah dikontak bersedia menunggu empat-lima menit. Perjalanan dengan feri selama delapan jam menuju Labuhan Bajo pun dimulai. Pemilik mobil kecil harus membayar tiket feri Rp 1,4 juta per mobil.

Sensasi perjalanan

Menyeberangi Selat Sape selama delapan jam sebenarnya tidak membosankan. Ada sejumlah pulau eksotik di sana. Pulau Sangiang dengan gunung api Sangiang setinggi 1.950 meter terlihat anggun. Juga Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan belasan pulau kecil membentang. Feri berlayar di antara pulau-pulau yang berserakan. Lumba-lumba mengantar di depan feri.

Feri juga diisi belasan wisatawan mancanegara yang hendak melihat komodo, naga raksasa di Pulau Komodo. Mereka biasanya menyewa perahu motor mewah yang banyak bersiap di Labuhan Bajo, Manggarai Barat, untuk membawa mereka ke Pulau Komodo.

Tujuan perjalanan adalah Larantuka. Pekan Paskah atau Semana Santa yang penuh ritual peninggalan bangsa Portugis yang tahun ini genap 500 tahun menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi, perjalanan ke Larantuka sejauh 500 kilometer menjanjikan banyak cerita.

Pulau dengan sekitar 10 gunung api ini membuat perjalanan tak pernah sepi dari tanjakan ekstrem, jurang dalam, dan tikungan tajam. Kondisi ini sudah ditemui di Roe, hanya 20 kilometer dari Labuhan Bajo. Mesin mobil meraung karena hanya bisa menggunakan persneling satu dan dua sepanjang 5 kilometer.

Syaril, pengemudi mobil ekspedisi asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengakui beratnya medan perjalanan di Flores. ”Tanjakan-tanjakan jalan di Flores sungguh berat, terutama antara Labuhan Bajo dan Ruteng,” ujar Syaril yang ditemui di atas feri saat balik dari Labuhan Bajo ke Sape.

Syaril baru saja membawa muatan keperluan pembangkit listrik tenaga uap di utara Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Medan jalan di Jawa dan Sumatera pernah dijalaninya. ”Tetapi, di Flores sungguh menantang. Mobil dan sopir harus semuanya sehat,” ujarnya. Namun, justru tanjakan, tikungan, dan jurang menjadi sensasi tersendiri. Mobil tak hanya mengandalkan rem semata. Pengereman dengan mesin (engine brake) mutlak. Mobil harus sehat, pengemudinya juga harus awas. Dan di sinilah sensasi mengemudi di medan jalan seperti di Flores.

Jurang, gunung, dan tikungan tajam menjadi pemandangan tersendiri. Tanjakan dan tikungan sejauh 31 kilometer dari Aimere ke Bajawa di Kabupaten Ngada menjadi kisah tersendiri. Di sisi kanan Gunung Inerie yang tinggi menjulang menjadi pemandangan menakjubkan lainnya. Juga Gunung Ebulebo di Kabupaten Nagekeo, dengan asap tipis dari puncaknya.

Nilai berharga dari semua ini adalah melihat Gunung Kelimutu dengan danau tiga warnanya yang kini menyajikan warna hijau tua, hijau muda, dan hijau gelap. Tak lagi merah tua, hijau, dan hitam seperti sebelumnya. Hanya perlu menyimpang 12 kilometer dari jalan raya Ende dan Maumere, mendaki menuju ketinggian 1.650 meter.

Selepas Moni, desa dengan tempat penginapan bagi para wisatawan, jalan berliku dengan sawah diputarnya, sebelum mencapai kawasan hutan pinus. Kali kecil tak berjembatan menjadi sensasi tersendiri. Mobil tak bisa sampai ke puncak melihat danau. Perlu jalan sejauh 3 kilometer pergi-pulang. Berada di puncak pada pagi hari sangat dianjurkan karena minim kabut.

Sebelum sampai ke Larantuka, bisa juga melihat gereja tua buatan Portugis di Sikka-Maumere. Juga bisa mampir ke Nilo, melihat patung Bunda Maria ukuran raksasa, sebelum masuk kota Maumere. Sensasi Semana Santa di Larantuka menjadi cerita religius lainnya.

Apabila perjalanan berlangsung dari Jakarta hingga Larantuka, odometer memperlihatkan jarak 5.513 kilometer pergi dan pulang. Biaya bahan bakar solar sebanyak Rp 2 juta, sekitar 450 liter. Biaya penyeberangan pergi-pulang sekitar Rp 5 juta, termasuk feri Jawa-Bali. Untuk perjalanan sembilan penumpang termasuk cukup murah. Apalagi bisa mampir ke Kelimutu dan mengalami sensasi jurang, tanjakan terjal, dan tikungan tajam. Silakan mencoba sensasi jalan ke Flores.(kompas)

foto awal: Pantai Koka Maumere (Bandit sang perantau)



www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 1 July 2010

Romanus Woga, Ketua Baru Inkopdit

Rapat Anggota Tahunan (RAT) Nasional Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) yang digelar di Jakarta baru-baru ini antara lain memilih ketua umum yang baru untuk periode tahun 2010-2012 Romanus Woga menggantikan pejabat sebelumnya Fransiskus Xaverius Siman.
Pria yang lahir di Hewokloang, Sikka, Nusa Tenggara Timur, 16 Juli 1946 ini dipilih secara aklamasi oleh peserta RAT yang terdiri atas perwakilan Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) dan Koperasi Kredit (Kopdit) dari seluruh Indonesia.

Salah satu program yang akan diupayakan dalam masa kepemimpinannya adalah mengembangkan jaringan informasi dan teknologi sesuai dengan perkembangan waktu. Salah satunya dengan mengadakan ATM (Automatic Teller Machine) Koperasi Kredit.

Selain itu, Romanus yang berasal dari Puskopdit Swadaya Utama juga akan mengembangkan pusat pendidikan dan pelatihan bagi seluruh anggota koperasi kredit. “Pendidikan, pelatihan, bimbingan, dan konsultasi harus merata untuk setiap jenjang sehingga gerakan koperasi kredit akan maju secara berimbang,” kata Romanus.

Di Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) dia menjabat sebagai Ketua Pengurus. Di Primer Kopdit Tuke Ler dia menjabat sebagai penasehat. Ketua Inkopdit terdahulu, Fransiskus Xaverius Siman, menjelaskan bahwa setiap tahun jumlah anggota perorangan koperasi kredit di Indonesia mengalami peningkatan. Saat ini ada sebanyak 1,3 juta orang. Tapi, jumlah itu memang masih jauh dari yang ditargetkan. “Jumlah itu baru sekitar 0,5 persen dari jumlah penduduk kita. Idealnya lima persen,” ujar dia.

Di Korea Selatan, dua per tiga dari jumlah penduduknya berkoperasi. Di Muangthai sekitar 10 persen, dan di Filipina lima persen. Kami berupaya keras untuk meningkatkan jumlah anggota, karena koperasi kredit bisa memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap gerakan perekonomian kerakyatan. Kami masih harus bekerja keras memberikan motivasi kepada masyarakat, menyapa masyarakat supaya mereka mau berkoperasi.

Masalah terbesar di Indonesia adalah rentan kendali. Wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau tidak mudah dijangkau. “Untuk masuk ke pelosok-pelosok tentu membutuhkan biaya yang tinggi”kata Siman.

Dengan adanya koperasi kredit, masyarakat disiapkan untuk menjadi lebih mandiri. Siman berharap pemerintah terus mendampingi gerakan koperasi secara umum. Juga, menyalurkan berbagai program bantuan usaha melalui koperasi, jangan membuat program yang sifatnya sesaat. “Sebentar-sebentar ada KUR (Kredit Usaha Ringan). Itu sifatnya tidak mandiri.

Selama pemerintah tidak menyiapkan masyarakat untuk mandiri, kondisi situasi ekonomi kerakyatan tidak akan berkembang. Alangkah lebih baik kalau bantuan itu disalurkan melalui induk nya, supaya ada sinergisitas di dalam membangun masyarakat. Kita ingin selamatkan uang negara, jangan sampai hilang begitu saja. Kalau lewat induk, akan ada tanggung jawab dan kita mendidik masyarakat supaya tidak ada ketergantungan,” lanjut Siman. Koperasi kredit Indonesia sudah ada sejak 40 tahun dan mengalami pasang surut.

Untuk terus mendapatkan kepercayaan masyarakat, Inkopdit kini berupaya keras untuk membangun sebuah sistem koperasi kredit Indonesia. Khususnya untuk meningkatkan tata kelola pada setiap level organisasi (Kopdit, Puskoptdit, dan Inkopdit).

“Secara filosofis koperasi kredit di mana pun sama, yaitu membantu diri sendiri dan membantu sesama. Sekarang sistem kebijakan-kebijakan harus menyatu. Dasarnya adalah Undang Undang Koperasi yg sudah ada, sehingga pola kebijakan atau standar operasional manajemen, standar operasional prosedur itu sama untuk seluruh indonesia,” ujar Abbad Elias, General Manager Inkopdit menambahkan.(CA)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---