Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Sunday, 15 August 2010

Plus Minus Aktivitas Pelabuhan Laut L.Say Maumere

Oleh: Stef Sumandi, S.Fil

Sebelum diresmikan dengan nama Pelabuhan L.Say, pelabuhan ini bernama Pelabuhan Laut Sadang Bui. Nama yang diberikan tersebut berasal dari Bahasa Sikka yang berarti sandar atau menunggu atau menanti. Nama ini bila ditilik dari maknanya sedikit mendekati ungkapan berikut, jong lau sadang bui nora tali, gera nawang nora tahi.
Bano naha tahi blino gawi naha lalang woer. Dari human social being, ungkapan ini menunjukkan kesetiaan pelayanan pengusaha pelayaran bagi masyarakat Kabupaten Sikka lewat kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Sadang Bui Maumere.
Sekaligus pada saat yang sama tersirat makna ajakan untuk bepergian mencari hidup dengan aman dan damai. Sangatlah tidak mungkin bila sebuah kapal yang hendak berlabuh tanpa pelabuhan, juga tidak mungkin jika seseorang hendak bepergian melalui laut kalau tidak menggunakan kapal sebagai sarana penyeberangan. Kini Sadang Bui tinggalah sebuah nama kenangan.

Terkait Pelabuhan Laurent Say Maumere, perlu ada catatan yang mesti dibanggakan tetapi ada juga yang harus dibenahi. Dari keunggulan, Pelabuhan Laut Laurent Say Maumere, secara investigatif dapat ditarik kesan bahwa Pelabuhan Laurent Say Maumere tengah menjadi pelabuhan yang sangat ramai di daratan Flores dan Lembata. Keramaian ini dapat disaksikan pada saat kedatangan dan keberangkatan kapal dari dan ke Maumere.


Ada berbagai kapal penyeberangan dengan jenis dan tipe serta angkutan masing-masing, menyinggahi Pelabuhan Laurent Say Maumere dengan bangga. Pelabuhan L.Say juga kini tengah menjadi pelabuhan peti kemas yang kebanyakan didatangkan dari Pulau Jawa.

Ada berbagai etnis manusia yang datang dan pergi dari berbagai arah melalui pelabuhan laut Maumere. Ada para tamu domestik maupun mancanegara yang ingin menikmati keindahan wilayah yang pernah dijajah oleh Belanda dan Portugal ini melalui pintu L. Say Maumere.

Ada yang sekedar datang refresing, tetapi juga ada yang ingin melihat peluang investasi di Nian Tanah Sikka. Selain itu, dari Pelabuhan L. Say Maumere, para tamu dapat menikmati keindahan laut di pagi hari maupun sore hari.

Di depannya tertahta kedahsyatan yang tak ternilai lewat bentangan laut Teluk Maumere yang dipagari oleh berbagai pulau kecil milik wilayah Kabupaten Sikka.

Seirama keindahan permukaan laut teluk Maumere, di dalam rahimnya mengandung berbagai keindahan taman laut yang tak sebanding dengan perairan lain di wilayah indonesia. Karena ada berbagai biota laut yang tidak ditemukan di wilayah lain di Indoneseia.

Terpancang pula berbagai restoran yang sepanjang latar belakang areal Pelabuhan L.Say dengan sajian lezat masakan berselerah tinggi namun harganya mudah dijangkau. Sejenak mengarah ke luar dari Pelabuhan L.Say Maumere, Kabupaten Sikka menyajikan berbagai keunikan wisata antara lain pusat siara religi di Kampung Sikka, kampung Kerajaan Sikka dengan keunikan ritual religi warisan Portugis, Logu Senhor yang dilaksanakan setiap tahun pada Jumad Agung, juga wisata religi ke Bukit Nilo dimana terdapat Patung Bunda Maria setinggi 16 meter.

Mengarah keselatan disajiakan keindahan pantai memeluk Watu Cruz Bola peninggalan Misionaris Dominikan, kubur Batu Nua Ria, Paga Beach, Doreng Beach, Pantai Koka yang penuh keindahan namun tak perna diperhatikan penataannya.

Ritual Pire Tanah di wilayah Kecamatan Mapitara dan Tarian Bebing di Hokor. Ada pesta Gareng Lamen di wilayah Tana Ai, juga kesegaran Pantai Wair Terang di wilayah Tana Ai.
Ada Museum Blikon Blewut di Nita.
Seirama sapuan mata, disajikan potensi pendakian menujuh puncak Gunung Egon dengan sajian kesejukan hutan tropis di sekitarnya sambil menikmati sajian wisata air panas di lereng Gunung Egon yang siap memberi kehangatan bagi para pengunjung.

Jika ingin berhenti dan melepas dahaga sejenak, Maumere kini telah menyajikan berbagai hotel dan restoran yang siap memanjakan para pengunjung. Pelabuhan L.Say Maumere juga dikenal sebagai pelabuhan yang dijaga ketat oleh aparat keamanan sehingga menambah kenyamanan di Pelabuhan L.Say Maumere.

Seiring peluang keindahan dan keamanan yang kita miliki, tidak terpungkiri lagi berbagai kejadian luar biasa yang menjadi tantangan yang perlu kita benahi bersama.

Dari pintu masuk Pelabuhan L.Say Maumere terungkap berbagai pungutan yang dilakoni oleh beberapa orang yang berseragam lengkap. Tapi pemungutan uang tersebut tanpa memberikan karcis masuk kepada pengguna jasa pelabuhan.

Pertanyaannya, uang-uang itu dikemanakan? Apakah ini bukan bagian dari korupsi? Apakah ini cara kita melayani tamu?

Sesampai di dalam, pengawasan keamanan dijaga ketat oleh TNI dan POLRI. Namun sayangnya, para penegak hukum ini sering bertindak di luar jalur hukum.

Pernah terjadi seorang wartawan Televisi atas nama Roby Moy di cekik oleh pihak keamanan ketika hendak meliput berita TKI ilegal yang hendak diberangkatkan dari Maumere.

Hal senada juga terjadi pada beberapa waktu lalu, ketika beberapa warga dan penulis ingin menonton seorang anggota TNI yang sedang memeriksa seorang anak muda yang kedapatan membawa moke dari jarak dekat, oknum TNI itu lalu dengan sikap dan nada yang bringas mengusir para penonton, katanya, “Kamu buat apa di sini? Pergi dari sini! Jangan lihat!”.

Seketika itu juga para penonton mundur tanpa kata. Sesaat kemudian, ada seorang wartawan yang sedang berada di situ memperkenalkan diri sambil bertanya tentang kejadian tersebut, langsung membuat sang tentara itu kecut lalu membiarkan korban pergi setelah menyerahkan dua botol moke kepada seorang tentara lain.

Pertanyaannya, mengapa warga diusir ketika hendak menyaksikan pemeriksaan itu? Bukankah dengan menyaksikan hal tersebut, dapat membawa efek jerah kepada warga lain untuk tidak lagi membawa moke ketika memasuki Pelabuhan Laut L.Say Maumere? Lalu setelah di sita, moke itu nanti dikemanakan?

Pada sisi lain, pemeriksaan barang bawaan itu hanya dilakukan pada masyarakat kecil pejalan kaki yang hendak masuk ke dalam ruang tunggu pelabuhan Pelabuhan L.Say. Sedangkan para pemilik mobil dengan barang angkutan tidak diperiksa, malahan dibiarkan masuk begitu saja.
Pertanyaannya, apakah ada aturan yang memuat tentang pemeriksaan hanya dilakukan kepada masyarakat pejalan kaki? Dimanakah keadilan?

Bagaimana dengan nasib para porter pelabuhan yang mencari nafka dari mengangkat barang bawaan penumpang kalau mobil didijinkan masuk langsung ke dalam?

Kemudian pada kisah lain, selayaknya tamu pasti dijemput. Tetapi yang terjadi di Pelabuhan Laut L.Say Maumere adalah perebutan penumpang. Hal yang tidak ramah ini dilakukan oleh para penjasa angkutan dalam kota maupun luar kota.

Akibatnya, polisi harus ekstra keras mengamankan para tamu. Lebih sadis lagi, para tamu pengguna jasa transportasi darat diminta dengan harga yang sangat tinggi. Tarif angkutan dalam kota saja Rp 25.000/orang di luar barang bawaan. Hal ini perna dialami oleh penulis sendiri dari Pelabuhan Laut L.Say Maumere, menuju kompleks Lembaga Pemasyarakatan Maumer Pelabuhan Laut L.Say.

Selain itu, ada pula bebagai aktivitas tawar menawar harga angkutan di Pelabuhan Laut L.Say Maumere. Pertanyaanya, berapakah tarif yang sebenarnya dari pelabuhan laut Maumere?

Sekedar pinjam kata, tidak bermaksud menggurui, penulis menawarkan beberapa solusi, untuk tidak terjadi pungutan liar di depan pintu masuk pelabuhan sadang bui Maumere, diharapkan sebaiknya ditempatkan para petugas yang profesional dan tahu akan aturan dimaksud juga mesti diberikan gaji yang cukup.

Jangan sampai pungutan itu dilakukan karena SDM-nya kurang prof dan gaji yang dibayar tidak cukup. Selanjutnya di bagian dalam, para petugas keamanan sebelum diterjunkan ke pelabuhan harus dibekali pula penegetahuan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Yah, paling kurang tahu sedikit tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Bisa juga orang bertindak demikian karena kurang paham soal HAM. Sedangkan bagi para penawar jasa angkutan, perlu dibekali dengan berbagai aturan tentang pelayanan di Pelabuhan Laut L.Say Maumere. Sosialisasi seperti ini harus dijalankan secara kontinyu agar bisa membawa kesadaran.

Sementara pada pintu keluar dan pintu masuk Pelabuhan Laut L.Say Maumere, diharapkan agar dipajang daftar tarif angkutan darat dari dan ke Pelabuhan Laut L.Say Maumere, agar para penumpang tidak tertipu.

Diduga kuat, kejadian pemberlakuan tarif liar tersebut karena tidak ada aturan yang pasti soal tarif atau kurang adanya pengawasan yang ketat dari pihak berwajib.

Kepada masyarakat yang mengalami korban kekerasan, pemungutan liar dan atau dikenakan tarif liar sebaiknya menghubungi pihak kepolisian supaya ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku.

Di tengah geliat yang terjadi di Pelabuhan Laut L.Say, Pemda Kabupaten Sikka telah membaptis ulang nama Pelabuhan Sadang Bui Maumere menjadi Pelabuhan Laurensius Say mantan Bupati Sikka dua periode (1967-1977) pada tanggal 09-08-2010 lalu.

Terlepas dari pertimbangan apa soal pergantian nama tersebut. Hanya seberkas tanya tanpa suara, apakah kejadian luar biasa di atas menjadi persembahan istimewa bagi seorang Laurensius Say? Mari kita berdiskusi!

Penulis adalah aktivis pendidikan, peminat masalah sosial; tinggal dan bekerja di Maumere

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tuesday, 10 August 2010

Kado Demonstrasi untuk Freddy Numberi

Ratusan massa dari dua aliansi berbeda melakukan aksi unjuk rasa damai saat Freddy Numberi, Menteri Perhubungan RI melintasi jalan raya tempat aksi berlangsung. Freddy Numberi hadir dalam rangka meresmikan nama baru untuk pelabuhan laut dan udara di Maumere, Senin (09-08-2010). Dua aliansi tersebut adalah Aliansi Masyarakat Sikka (ALMASI) dan Solidaritas Indonesia untuk Wilayah Perbatasan Flores, Sumba, Timor, Alor (SIPADAN-FLOBAMORA) Maumere. Aksi demonstrasi dimulai sejak pagi dengan mengambil lokasi di pertigaan Bandara Frans Seda, depan Hotel Permata Sari. (lihat juga video demonstrasi)

Kedua aksi ini tidak terkait dengan peresmian kedua pelabuhan tersebut. Meski sebelumnya santer terdengar akan terjadi demo menolak pemberian nama Frans Seda sebagai nama bandar udara menggantikan nama Wai Oti.

Para mahasiswa yang tergabung dalam SIPADAN FLOBAMORA yang membawa misi mendesak pemerintah menyelesaikan kasus pencemaran Laut Tomor, dalam aksinya menyesalkan pernyataan Menteri Perhubungan RI Numberi, bahwa pencemaran minyak mentah di Laut Timor yang bersumber dari ladang Montara terlalu cepat diungkapkan ke publik. Padahal, menurut Sipadan Flobamora, sejak Tim Nasional Penanggulangan Kedaan Darurat Tumpahan Minyak Laut Timor (TN-PKDTMLT) dibentuk 3 bulan lalu di Jakarta yang dipimpin oleh Menhub Numberi, tim tersebut belum pernah melakukan aktifitas apapun di laut Timor terkait masalah pencemaran.

“Bagaimana mungkin mau mengungkap tercemar atau tidaknya Laut Timor akibat ledakan minyak Montara di blok Atlas Barat pada 21 Agustus 2009? Padahal hampir semua media-media besar di dunia menulis soal pencemaran itu, kenapa Indonesia tetap diam saja? Ada apa ini?” ungkap koordinator aksi, Nelson Pareira.

Atas dasar itulah, Sipadan-Flobamora melakukan aksi damai dan mendesak Pemerintah Indonesia melalui Menteri Perhubungan RI dan Ketua TN-PKDTMLT agar segera menyelesaikan masalah pencemaran Laut Timor.

Sedangkan aksi lainnya dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Sikka (ALMASI) Tolak Proyek Pengembangan Dermaga Rakyat Wuring. Aksi ALMASI dimulai dari Kampung Wuring, kampung nelayan tradisional menuju pertigaan Bandara Frans Seda. Diatas kendaraan berbak terbuka, orator Hery berapi-api menyatakan sikap mereka atas nama para nelayan dan rakyat Wuring yang menolak tegas proyek pengembangan dermaga diwilayah Utara Wuring.


Hery menunjukkan beberapa fakta dan alasan kenapa rakyat Wuring menolak pembangunan dermaga di wilayah Utara. Alasannya, lokasi proyek pengembangan Pelabuhan Wuring tersebut tepat berada di pintu masuk dan keluarnya perahu/kapal nelayan saat melaut dan jika proyek ini diteruskan menurut ALMASI akan menutup secara total wilayah laut yang selama ini berfungsi sebagai ‘kolam labuh alam’ bagi perlindungan perahu motor nelayan ketika datangnya musim badai/barat.

Almasi juga membeberkan bahwa proyek ini diduga tidak melalui proses dan mekanisme yang benar sesuai aturan negara seperti sosialisi proyek AMDAL, prinsip transparasi dan lain-lain. Kolam labuh alam juga digunakan oleh masyarakat lainnya yang melintasi wilayah tersebut saat badai.
ALMASI juga menuntut agar proyek pengembangan dermaga tersebut dihentikan sementara sampai dibuka ruang dialog yang demokratis dan adil.

Jika proyek ini diteruskan maka dalam 3 sampai 5 tahun kedepan seluruh kawasan hunian warga Wuring yang berjumlah 200 KK atau 800 jiwa akan tergusur atas nama negara untuk pengembangan lapangan parkir dan bongkar dari kapal dagang, tegas ALMASI dalam pernyataan sikapnya.

Usai peresmian Bandara Frans Seda, sekitar pukul 11.wita, rombongan Menteri, Gubernur, Bupati Sikka, Uskup dan sejumlah tokoh dan pejabat teras Pemda Sikka berlanjut meresmikan nama Pelabuhan Laut Sadang Bui menjadi Pelabuhan Laut L.Say (mantan Bupati Sikka dua periode 1967-1977). Saat melintasi para demonstran, tiba-tiba sebuah mobil kijang mencoba menerobos masuk kebadan jalan dan menghalangi iring-iringan pejabat. Upaya penghadangan berhasil diatasi polisi. Rombongan terus melaju dan aksi terus berlangsung.

"Kami tidak menolak pembangunan dermaga tersebut di Wuring tapi menolak pembangunannya diwilayah Utara yang kami diami. Untuk itu kami berharap ada dialog terbuka yang bisa menerima aspirasi kami agar dermaga tersebut di bangun di Selatan bukan di Utara Wuring yang kami diami,” ujar Bahar warga Wuirng yang ikut ambil bagian dalam aksi tersebut.

Menurut Bahar, proyek dermaga tersebut akan berhimpitan dengan rumah warga karena disitu adalah tempat berlabuh dan hidup 250 nelayan tradisional Wuring.

“Kolam labuh para nelayan di Utara sudah berpuluh-puluh tahun menghidupi kami “ lanjut Bahar kepada inimaumere.com.

Pendemo dari ALMASI dan SIPADAN FLOBAMORA

Aksi ALMASI terus berlanjut di Pelabuhan Laut L. Say. ALMASI tetap menuntut agar ada kesepakatan tentang pembangunan proyek pengembangan dermaga dengan rakyat atau penghentian sementara pembangunan. Meski aksi berlangsung, peresmian nama Pelabuhan Laut L.Say tetap berlangsung dalam suasana yang kondusif dan meriah. Freddy Numberi dan rombongan akhirnya meninggalkan Pelabuhan L.Say setelah melakukan penandatangan prasasti.

Meski sudah usai tapi ALMASI terus bereaksi. Kembali aksi dilakukan di Bandara Frans Seda sekitar pukul 12.00 Wita. Aksi menuntut bertemu Menhub Numberi. Beberapa perwakilan aksi kemudian diterima dan berdialog dengan staf menteri karena Fredy Numbery sedang dijamu makan siang di rujab Bupati Sikka. Sekitar pukul 13.00 Wita, Menhub mendatangi Bandara Frans Seda untuk kembali ke Jakarta.

Usai dialog, perwakilan warga Wuring meninggalkan ruangan. Aksi mereka didengar. Intinya isinya seperti ini : Proyek pengembangan dermaga Wuring di bagian pemukiman utara perlu ada moratorium (penundaan sementara) dan proyek tersebut haruslah disepakati bersama dengan rakyat.



Video Anda :
Aksi-aksi unjuk rasa :

Aksi Sipadan Flobamora
Demo ALMASI
Sebuah mobil coba menerobos ke tengah jalan, saat aksi

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Freddy Numberi Resmikan Bandara Frans Seda dan Pelabuhan Laut L. Say

Menteri Perhubungan Freddy Numberi meresmikan pergantian nama Bandar Udara Waioti di Maumere, Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur menjadi Bandara Frans Seda, Senin (9/8). Menhub juga meresmikan pergantian nama Pelabuhan Laut Sadang Bui menjadi Pelabuhan Lorens Say. Simbol peresmian ditandai dengan penandatanganan dua prasasti masing-masing satu untuk bandara dan satu untuk pelabuhan laut.
Menurut Freddy, penghargaan diberikan kepada dua tokoh Sikka sebagai hal wajar. Ini sebagai pembelajaran kepada generasi muda untuk menghargai para tokoh atau pejuang yang berbakti bagi daerah dan bangsa.

Frans Seda adalah ekonom dan politisi nasional. Semasa hidupnya pernah memangku jabatan penting seperti Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan. Sementara Lorens Say adalah mantan Bupati Sikka dua periode (1967-1977).

Sementara pergantian nama bandara Waioti berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan nomor: KP.301 Tahun 2010 tertanggal 11 Juni 2010. Sedangkan pergantian nama Pelabuhan Sadang Bui menjadi Pelabuhan Lorens Say berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan nomor: KP.302 Tahun 2010.


Hadir dalam peresmian itu antara lain Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, Ibu Nessa Seda, Bupati Sikka, Uskup Maumere, Keluarga Besar Frans Seda dan L.Say, dan sejumlah pejabat, para mantan Bupati Sikka, tokoh masyarakat dan masyarakat umum lainnya. Peresmian kedua pelabuhan terbesar di Flores ini di meriahkan dengan aksi drumband dan tari-tarian lokal khas Kabupaten Sikka.

Perjalanan Bapak Frans Seda bisa klik di Frans Seda; Politisi, Pendiri Unika Atma Jaya dan Kompas, Ekonom dan Kolumnis dan Bapak Laurent Say bisa klik Dalam Kenangan,Bapak L.Say . Simak juga asal mula nama Bandara Wai Oti di Bandara Wai Oti ; DonThomas, L. Say dan Frans Seda .
(Ant)



Video :


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 8 August 2010

Maumere Manise Hari Ini..

Jalan-jalan sore, putar-putar kota rasanya ada yang berbeda. Bukan seperti kota kemarin yang nampak biasa saja, tapi kali ini sepertinya mau menyambut sebuah perayaan. Merah putih berhias dimana-mana. Ada di pagar rumah, ada dipagar kantor, ada di tiang bendera, ada dibaju, ada dibeberapa kendaraan dan ada dilain-lain. Itu lagi, pedagang bendera yang menjajakan atribut merah putih sambil duduk santai dari pagi hingga petang dipinggir trotoar. Mereka ada di mana-mana. Sementara anak-anak Paskibraka dari berbagai sekolah SLTA punya kesibukan sendiri di Lapangan Kota Baru, mereka berlatih untuk mengibarkan bendera merah putih tepat 17 agustus nanti. Paskibraka ini di tempa dengan telaten, hasilnya pun sudah terlihat. Semua bersiap menjelang HUT Ri ke-65. Putar sedikit ke Jalan Eltari yang asri. Taman yang ada di dua jalur berlawanan itu berhiaskan bunga-bunga yang enak dipandang. Aspalnya pun baru ditingkatkan. Jadi jangan heran, Eltari jadi tempat konko terkini, entah sore apa malam hari. Nyaman, asal jangan cubit sana sini bunga-bunga yang indah itu...

Usai lomba gerak jalan murid SD & Paskibraka yg sedang berlatih,foto sabtu(07agustus)

Kalau lagi apes kita dikasih debu jalanan saat berseliweran di jalan Noing Meak terutama dari SPBU Misir hingga depan Gelora Samador. Debu jalan ini berasal dari pasir yang dibuang menutupi aspal dengan maksud untuk perawatan jalan negara yang dikerjakan dari sebulan lalu, tapi sekarang pasir yang menghasilkan debu jalan tersebut sudah berkurang. Kendaraan yang berseliweran telah menyingkirkannya.

Lanjut gan..

Tapi kalau jelang sore seperti awal agustus ini, jangan kaget pula jika tiba-tiba muncul rombongan baris berbaris dari arah-arah mana saja. Makanya berhati-hati kita berkendaraan. Salah-salah kita bisa tubruk (nabrak) tuh anak-anak, belum lagi ojek yang berani nyempret sana-sini. Barisan ini juga dalam rangka untuk menyemarakkan HUT Kemerdekaan. Mereka bukan hanya anak sekolah tapi juga para staf Pemda Sikka alias PNS. Mereka sedang berlatih agar nanti bisa jadi yang terbaik, meski keringat bercucuran malu-malu dari pori-pori kulit. Lumayan, olah raga sedikit.

Wah jadi asiklah sore-sore begini, tak monoton, karena tak seperti biasanya terdengar bunyi pluit dimana-mana. Kalau sudah begini, satu yang ada dalam pikiran kita bahwa sekarang ini kita dalam masa penyambutan HUT Kemerdekaan RI. Lalu kita mulai berpikir, sebentar lagi ada pawai karnaval, ada lomba ini, lomba itu, pentas ini pentas itu, malam hiburan ini, malam hiburan itu, padahal banyak yang bilang kita tuh belum merdeka. Sutrahlah, terserah kata orang....yang penting hepi.

Kebetulan saat melewati Eltari, bertemu dengan para karyawan dari Bidang Pertamanan Pemda Sikka. Nah, mereka inilah yang menjadi ujung tombak pertamanan kota. Istilahnya yang merawat dan menjaga agar taman-taman kota tetap terlihat hidup, terlihat asri. Biasanya Jalan Eltari yang nyaman, Taman Patung Kristus Raja, Taman Pensip, Taman Kota dan beberapa tempat lainnya menjadi target operasi mereka setiap hari.

Dengan armada dua truk tanki, saban sore menjelang malam telaten menyiram taman bunga. Selain menyiram, pasukan ini pun merawat taman dan rerumputan, dan lampu taman. Liat saja, sepanjang Jalan Eltari setiap hari dirawat dengan baik, maklum Eltari kini lebih enak dilalui, ada taman yang bagus dengan rerumputan yang halus dan terawat, bunga-bunga yang sedap dipandang, aspal jalan yang mulus serta lampu taman yang berderet memanjang sepanjang taman jalan dan kalo malam hari kilau sinarnya berseri indah. Eltari begitu asri. Tapi mulai juga ada segelintir oknum masyarakat yang menggunakan taman tersebut untuk pacaran.

Emanuel Bunga, Kasubid Bidang Pertamanan Sikka mengatakan sudah menjadi target mereka setiap hari dan waktu untuk menjaga dan merawat taman-taman kota dan lampu taman. Menjelang 17 Agustus ini, kata Vicky panggilan akrab Emanuel Bunga, ada tugas tambahan yakni menyiram di Lapangan Umum Kota Baru. Maklum disana ada anak-anak sekolah yang sedang berlatih untuk pengibaran merah putih 17 agustus nanti. Paskibraka ini setiap sore berlatih telaten, hingga menarik beberapa kelompok kecil masyarakat menyaksikan kebolehan mereka. Maklum Lapangan Umum berada di tempat yang strategis dan terbuka.

Aktifats menyiram di Eltari dan Emanuel Bunga

Bicara tentang Lapangan Umum alias Lapangan Kota Baru mulai awal agustus ini lapangan yang berada di Jalan Ahmad Yani telah tampil beda. Kok bisa? Begini, biasanya kan lapangan ini selalu gelap gulita sehingga menjadi tempat kencan murah meriah. Tapi kini telah disinari dengan dua lampu listrik yang cukup terang. Terang saja, para pelanggan tetap kencan ria dan gratis yang biasanya mangkal disudut-sudut lapangan kotir (hilang) entah kemana.

Terlihat sangat beda, biasanya lapangannya gelap dan menyeramkan kini terang dengan cahaya yang bisa mengalahkan sinar lembut rembulan. Semoga setelah agustusan, lampu-lampu ini tetap disitu, tetap menyala sehingga terlihat nyaman dari kesan menyeramkan.

Belum lagi turap yaang memanjang dari Kampung Garam hingga mendekati Wai Oti. Dan terus dalam tahap pembangunan dan pengerjaan. Wajah Maumere pun semakin enak dilihat. Asalkan bunga dan taman-taman lain dalam kota pun dirawat. Biarkan bunga-bunga yang indah berkembang hingga memmbuat wajah kota ini semakin ceria, jangan dicubit dan dirusak, lampu-lampu jalan juga jangan dilempari hingga pecah. Ojek-ojek pun diberi paguyuban sehingga bisa di atur. Ngeri lah kalo ojek sudah mulai mengejar target, bisa-bisa kita disrempet tanpa basa-basi. Meski tak semua tukang ojek begitu.

Nah yang terkini adalah lampu traffight ligh yang mati dibeberapa tempat. Seperti di Eltari, Patung Kristus Raja, SMPN 1 Tampil. Entah kenapa. Matinya lampu stopan ini kadang berbahaya kalau kita tak hati-hati. Sampai dengan saat ini lampu-lampu stopan tersebut belum berfungsi sebagaimana mestinya.

Ceritanya tentang Maumere Hari Ini sebenarnya masih banyak. Tapi sampai disini saja dulu. Kalau panjang lebar nanti kebablasan putar sana putar sini tak karuan. Nanti orang bilang tukang cerita benar ini anak hahae... Ganupae? Gimana?

Begitulah Maumere. sekarang Bandara Wai Oti akan berganti nama menjadi Bandara Frans Seda untuk mengenang jasa-jasa mantan Menteri Perhubungan RI tersebut, putra asli Maumere. Dan Pelabuhan Laut Sadang Bui yang berganti nama menjadi Pelabuhan L.Say, untuk mengenang jasa-jasa mantan Bupati Sikka dua periode (1967-1977).

Maumere hari ini seperti kemarin-kemarin, belum banyak perubahan yang berdampak besar bagi rakyat dan upaya pengembangan sebuah kota yang bakal menjadi kotamadya. Maumere hari ini masih menunjukan dirinya sendiri sebagai kota yang berpotensi dan penuh dinamika meski terlihat tak terurus, sampah dimana-mana. Maumere hari ini, ya hari ini. Sejarah selalu mencatatnya.

Anak-anak SD sedang berlatih musik etnik Sikka dan Pelabuhan Laurent Say

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Friday, 6 August 2010

One Man One Vote for Komodo National Park

Pilih Taman Nasional Komodo sebagai 7 Keajaiban Alam Dunia di Mal Ciputra Jakarta

Mal Ciputra Jakarta dalam menyambut kemerdekan RI ke-65 ini mengadakan event bertajuk, One Man One Vote for Komodo National Park. Event yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia ini menyediakan sarana untuk para pengunjung dan masyarakat Indonesia dalam menggunakan hak pilihnya secara online, mendukung Taman Nasional Komodo menjadi bagian dari ”New Seven Wonders of Nature” dan menunjukkan keajaiban Pulau Komodo kepada seluruh dunia. One Man One Vote for Komodo National Park dimeriahkan dengan kehadiran Marcella Zalianty, Flores Eksotism featuring Ivan Nestormen dan Bandanaira Band featuring Lea Simanjuntak.

Pulau Komodo merupakan sebuah pulau terletak di kepulauan Nusa Tenggara Timur dan dikenal sebagai habitat asli hewan komodo yang merupakan kawasan Taman Nasional Komodo dan dikelola oleh Pemerintah Indonesia dan juga diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1986. Pada tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi salah satu dari 28 finalis ”New Seven Wonders of Nature” (7 Keajaiban Alam yang Baru) dan ini merupakan satu-satunya wakil Indonesia.

”One Man One Vote for Komodo National Park kami pilih sebagai tema event Kemerdekaan RI dengan tujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme masyarakat Indonesia, dan bangga terhadap kekayaan alam negeri kita sendiri yang saat ini mendapat kesempatan menjadi salah satu finalis dari 7 Keajaiban Alam yang Baru. Dengan memberikan suara terhadap voting yang diadakan, kita telah menjadi bagian dari satu bangsa yang besar dengan berjuang bersama-sama mengunggulkan negeri kita sendiri di mata dunia”, ujar Silvia, Marketing Manager Mal Ciputra Jakarta.

Tetarian NTT (ft kiri) dan pameran foto komodo (ft kanan)

Pada tanggal 21 Juli 2009, Taman Nasional Komodo telah lulus dan dinyatakan masuk menjadi salah satu dari 28 finalis yang berhak untuk melanjutkan ke tahap final setelah menyisihkan kurang lebih 440 nominasi dari 220 negara.

”Bangsa Indonesia dapat bangga karena Taman Nasional Komodo yang memiliki keindahan alam yang luar biasa ini dapat lolos menjadi salah satu finalis untuk 7 Keajaiban Alam yang Baru. Dengan ini kami sebagai Bangsa Indonesia turut berpartisipasi untuk mendukung terpilihnya Taman Nasional Komodo, dengan menyediakan sarana vote online yang tersedia di situs www.new7wonders.com kepada para pengunjung Mal Ciputra Jakarta dengan adanya event ’One Man One Vote for Komodo National Park’ dari tanggal 4 - 8 Agustus 2010; agar para pengunjung dengan gampang memilih Taman Nasional Komodo sebagai bagian dari 7 Keajaiban Alam yang Baru yang hasil pilihnya akan diumumkan pada tanggal 31 Desember 2011 yang akan datang,” tambahnya.

Taman Nasional Komodo telah ditetapkan sebagai warisan dunia pada tahun 1991 karena nilai keindahannya yang tidak tergantikan. Pulau Komodo merupakan pulau indah yang eksotis penuh misteri. Dengan adanya reptil raksasa penghuni pulau, didukung oleh dataran tectonic masive yang berada di bagian bawah bertemu dengan birunya air Laut Flores dan tidak ketinggalan pula pemandangan pegunungan-pegunungan nan elok, tidak heran mengapa Pulau Komodo dijadikan finalis dari 7 Keajaiban Alam yang Baru.

Untuk mendukung event ’One Man One Vote for Komodo National Park’ ini, selain menyediakan sarana vote online, dekorasi Mal Ciputra Jakarta akan dipenuhi oleh suasana kepulauan Komodo, seperti Pameran foto Pulau Komodo, Pentas seni & Kebudayaan Pulau Komodo, dan masih banyak lagi. Marilah kita memilih Taman Nasional Komodo, agar bisa menjadi bagian dari 7 Keajaiban Alam yang Baru, sehingga seluruh dunia bisa mengetahui dan melihat betapa indahnya pulau yang terdapat di Nusa Tenggara Timur ini.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 5 August 2010

Watublapi: Menenun Hidup dari Warisan Budaya

Oleh Filomena Reiss

"Oh, helelarak! Oh, helelarak!" Selamat datang, selamat datang! Ketika para tamu berjalan menuju kampung Watublapi, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, mereka disambut dengan nyanyian dan tarian oleh para perempuan yang mengenakan pakaian tradisional warna-warni yang menawan, menerima para tamu ke kampung mereka.

Kata-kata penyambutan ini berarti persahabatan, kesetiaan dan hormat pada adat istiadat. Para pengunjung direciki air suci oleh tetua kampung dan sebuah selendang dikenakan pada seorang tamu yang lagi beruntung. Pertunjukan baru saja mulai.
Watublapi berasal dari kata watu (batu) dan blapi (duduk), yang berarti “duduk bersama”. Kampung ini ada di sebuah pegunungan, sekitar 45 menit perjalanan arah timur dari Kota Maumere.

Perjalanan mengagumkan. Meski gunung api aktif tersebar di beberapa bagian Pulau Flores ini, tanahnya sangat subur dan ditutupi dengan segala macam pohon-pohon dan komoditas: kelapa, cengkeh, jambu mete, kakao dan kopi. Ketika para pengunjung mendekati Watublapi, segera tampak bagi mata mereka kain-kain sarung warna-warni yang dijemur pada tali jemuran.

Semua laki-laki dan perempuan yang tergabung dalam upacara penyambutan tadi adalah anggota-anggota Sanggar Bliran Sina, yang didirikan 25 tahun lalu oleh Romanus Rewo, seorang penduduk asli Watublapi (kelahiran Watublapi).

Romanus telah berjalan dari hotel ke hotel untuk coba menjual kain tenun ikat yang dibuat sendiri oleh keluarganya, tetapi dia berpikir mesti ada satu cara yang lebih baik untuk menjual kain-kain itu, maka dia memutuskan untuk membentuk organisasi ini. Tujuan lain dari Sanggar Bliran Sina adalah untuk menghidupkan dan memelihara teknik-teknik celupan-celupan asli, yang menggunakan bahan alamiah.

Menyusul kematian Romanus tahun 1990, putranya yang energik Daniel David mengambil oper Sanggar yang sekarang terdiri dari 55 anggota aktif bukan hanya penenun, tetapi juga para penari dan penyanyi/pemusik.

Pertunjukan orang-orang kampung ini menyajikan tarian-tarian dan nyanyi-nyanyian yang bermakna secara kultural. Nyanyian yang menggugah hati dan tarian yang meriah sekali terus menular dan para pengunjung akan segera menepuk-nepuk tangan mereka mengikuti irama musik.

Tarian pembukaan, Roa Mu'u, mendemonstrasikan ikatan dua keluarga di dalam adat perkawinan tradisional. Keluarga pengantin perempuan menyiapkan kain sarung adat sementara keluarga mempelai pria harus membawa satu gading.

Sarung itu harus mengandung satu motif asli yang dinamakan werak atau wiriwanan, yang melambangkan kesuburan. Motif-motif gading gajah ini ada sebelum kedatangan agama Kristen di Flores, ketika perdagangan barang-barang ke Indonesia bagian timur pada puncak perdagangan rempat-rempah dan menjadi semacam simbol kesuburan wanita.

Roa Mu'u adalah upacara memotong sebuah batang pisang yang berarti mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin pengantin baru jumpai selama kehidupan perkawinan mereka. Pohon pisang dikenal bisa bertumbuh kembali meski dipotong berkali-kali.

Tarian Togo dan nyanyian menggambarkan mengirik pada waktu panen, menggunakan kaki mereka untuk memisahkan bulir dari jerami. Doa-doa dan puisi-puisi tradisional dinyanyikan untuk dewi padi. Menurut kepercayaan setempat, padi berasal dari darah seorang gadis bernama Ina Nalu Pare. Menyanyikan nyanyian yang dipersembahkan kepada dewi padi menjamin bahwa jiwanya akan tetap dekat dengan padi-padi itu, menjamin panen yang baik dan terlindung dari kekuatan-kekuatan jahat.

Termasuk dalam program budaya ini adalah suatu demonstrasi cara memproduksi kain dengan tangan mulai dari membersihkan kapas, memintal, mengikat, mewarnai dengan pohon-pohon celupan dan mengikat dan menenun kain disebut tenunan.

Ada dua bentuk benang yang digunakan untuk menenun kain ini. Benang yang dibuat penenenun yang diolah dari kapas dari kebun mereka. Benang komersial yang dibeli di pasar, yang siap untuk dicelup. Benang ini diproduksi di Jawa dan dijual hampir di seluruh pasar di Flores.

“Mengikat” merujuk pada mengikat motif dan pola pada benang yang telah disiapkan, untuk mencegah celupan-celupan merembes ke bagian ikat yang menciptakan motif. Benang ini diikat dengan secarik daun yang berasal dari pohon gebang atau daun kelapa muda.

Proses pencelupan sangat membosankan, terutama dalam menyiapkan bahan alamiah dari tumbuh-tumbuhan. Mencelupkan benang memakan waktu tiga sampai empat hari, bahkan dimasukkan dan dicelupkan beberapa kali sampai warna yang diingini oleh penenun tercapai.

Pohon nila (indigo plants) bertumbuh di dataran rendah di Flores dan bernilai karena menghasilkan air celupan warna biru kehitam-hitaman.

Untuk warna cokelat kehitam-hitaman, akar mengkudu (morinda) digali, tapi hanya kulit akarnya yang digunakan. Ini dipukul-pukul dan dicampur dengan bubuk kulit pohon loba. Jika warna merah yang dihasilkan tidak memuaskan, maka tiga buah atau lebih kulit akar dimasak dan kain dicelupkan sekali lagi dalam celupan itu.

Kunyit (turmeric) dicampur dengan kulit pohon mangga untuk menghasilkan celupan warna kuning.

Baru-baru ini diperkenalkan warna hijau yang diproduksi dari pohon daun mangga. Tapi karena daun-daun ini sangat kuat dan sukar untuk dihancurkan, maka warna ini sukar memproduksinya.

Daun pepaya dan singkong juga bisa digunakan untuk membuat celupan warna hijau, dan lebih disukai oleh beberapa penenun. Para penenun sangat banyak akal dan selalu mencari bermacam-macam tumbuh-tumbuhan, bereksperimen dengan warna dominan dari tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan warna celupan.

Membutuhkan tiga sampai empat minggu untuk menghasilkan sebuah selendang kecil dari benang-benang komersial yang menggunakan celupan alamiah, dan tiga bulan jika benang dikerjakan sendiri.

Laki-laki juga memainkan peran penting dalam proses pembuatan kain, terutama mengambil bahan-bahan celupan. Menggali akar mengkudu sangat berat, sementara berkarung-karung nila dipetik dari dataran rendah untuk menghasilkan celupan warna biru. Bahan tumbuh-tumbuhan lainnya ditemukan di hutan dan pria biasanya diberi tugas ini.

Mereka juga menolong mencampurkan bahan material ini dan memasak bahan-bahan celupan ini juga merupakan bagian dari tugas pria – terutama ketika perempuan, sering istri-istri mereka, sibuk menenun.

Program budaya yang memasukkan sebuah visi tenaga kerja padat karya menghasilkan kain-kain. Ini adalah harapan penenun– mungkin dengan rasa cemas – bahwa satu dari tenunan mereka akan dibeli, atau setidaknya dihargai oleh para pengunjung.

Sejak Sanggar Sina Bliran didirikan, ekonomi setempat sudah diperbaiki secara mengagumkan. Seorang penenun berkomentar bahwa sejak bergabung dengan Sangggar, dia dapat mengirim anaknya ke sekolah dan dia selalu memiliki persediaan beras di dapur.

Kerja sama telah mendorong para pekerja keras dari Watublapi untuk mendapatkan kembali warisan mereka melalui menenun sambil mendirikan sebuah gerbang ekonomi yang menjual produk tenunan mereka.

Suatu perjalanan ke kampung adalah satu pengalaman yang luar biasa apalagi kalau melihat sebuah warisan budaya bukan hanya mau dipertahankan, tetapi juga lebih jauh mengubah kehidupan para penghuni kampung ke arah yang lebih baik.

Naskah ini diterjemahkan Frans Obon dari Watublapi: Weaving life from Cultural Heritage karya Filomena Reiss, The Jakarta Post.com


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 1 August 2010

Dibentuk, Bravo Yamaha V-IXION Club Maumere

Dihadiri V-ixion Club dari Kota Ende



Dealer resmi sepeda motor Yamaha Yes Maumere menggelar pertemuan antar komunitas pecinta sepeda motor YAMAHA V-IXION Maumere dan Ende, Sabtu (31/07/2010) sekaligus mewadahi berdirinya Bravo Yamaha V-IXION Club Maumere. Pertemuan antar para penggila sepeda motor YAMAHA V-IXION ini dimaksud sebagai ajang silaturahmi antar sesama anggota club, sekaligus momentum pendeklarasian berdirinya Bravo Yamaha V-IXION Club Maumere. Untuk sementara jumlah anggota Bravo Yamaha V-IXION Club Maumere yang terdaftar berjumlah 28 orang. Dipredikisi jumlah anggota club motor ini akan terus bertambah. Sedangkan Dealer Sepeda Motor Yamaha Yes Maumere mendukung sepenuhnya komunitas ini. Demikian dikatakan Omank dari Yamaha Yes Maumere.

Berkumpulnya dua komunitas dari dua kota berbeda ini juga menjadi ajang kampanye terbuka berlalulintas aman dan nyaman dijalan raya. Selain kampanye positip tersebut, kedatangan Yamaha V-ixion Club Of Ende di Maumere juga untuk bersilaturahmi dan menghadiri pembentukan komunitas Yamaha V-IXION Maumere.

Untuk sementara Bravo Yamaha V-ixion Club Maumere belum membentuk kepengurusannya. Mewakili Bravo Yamaha V-ixion Club Maumere, secara simbolis Franky membacakan pendeklarasian berdirinya Bravo Yamaha V-ixion Club Maumere di halaman Dealer Yamaha Yes Maumere. Secara khusus, Franky mengucapkan terima kasih kepada Yamaha Yes Maumere yang telah berupaya mewadahi berdirinya komunitas pecinta motor Yamaha V-IXION.

“Ini merupakah wadah yang dinanti-nantikan oleh semua pecinta motor Yamaha V-IXION di Maumere dan Kabupaten Sikka umumnya, “ ujar Franky kepada inimaumere.com.

Petrus Kanisius Dula, mewakili Yamaha V-ixion Club Of Ende juga mengharapkan agar agar bisa terbentuk komunitas Yamaha V-ixion diberbagai daerah di Flores. Yamaha V-ixion Club Of Ende merupakan komunitas pertama yang berdiri di Flores.

“Dari Maumere kami akan bersama-sama bergerak dan melebarkan komunitas ini diberbagai kota di Flores sekaligus berkenalan dengan sesama pecinta Yamaha V-Ixion. Diharapkan setiap kota di Flores secepatnya telah terbentuk komunitas Yamaha V-ixion club. Jika terbentuk, komunitas daratan Flores akan mengadakan Jambore Yamaha V-IXION Club sedaratan Flores, sekaligus sebagai anjangsana antar kelompok komunitas “ ujar Dul, panggilan akrab Petrus Kanisius Dula.

Berbeda dengan Komunitas Bravo Yamaha V-ixion Club Maumere yang baru terbentuk, Yamaha V-ixion Club Of Ende sejak tanggal 22 juli lalu telah mengadakan serangkaian kegiatan positip yang bersentuhan dengan masyarakat dan lingkungan seperti tour wisata dan bakti sosial serta menggunjungi panti-panti sosial dan penghijauan di Pantai Bitha Ende. Berbagai kegiatan positip dari anak-anak Ende ini memacu para anggota Bravo Yamaha V-ixion Club Maumere untuk melakukan hal yang sama, demikian dikatakan Franky. “Ini adalah salah satu tujuan kami membentuk komunitas motor V-ixion,” tambahnya.

Keakraban antar dua komunitas ini sangat terlihat disela-sela pendeklarasian. Kedatangan Yamaha V-ixion Club Of Ende yang didukung oleh Yamaha Yes Ende ini diterima oleh semua anggota Bravo Yamaha V-ixion Club Maumere dan Yamaha Yes Maumere di Desa Hepang, 16 Km dari Maumere sekitar pukul 15.20 Wita. Dari Hepang, kemudian dua komunitas ini bergerak ke Kota Maumere. Perarakan kemudian melewati berbagai jalan utama di dalam kota. Kemudian berakhir dihalaman Dealer Yamaha Yes Maumere yang beralamat di jalan Nong Meak Maumere. Kedatangan mereka diterima oleh Manajer Yamaha Yes Maumere, Osmond Pareira berserta sejumlah staf Yamaha Yes.

Untuk sementara anggota Yamaha V-ixion Club Of Ende berjumlah 30 orang. Di Maumere, anak-anak Yamaha V-ixion Club Of Ende menginap di Hotel Sao Wisata. Saat di Maumere diagendakan beberapa kegiatan bersama komunitas Bravo Yamaha V-ixion Club Maumere.

Dengan berdirinya Bravo Yamaha V-IXION Club Maumere diharapkan anggota-anggota komunitas ini dapat untuk berkumpul dan berbagai pengelaman selama menggunakan sepeda motor Yamaha V-ixion, demikian harapan beberapa anggotanya. Sekretariat Bravo Yamaha V-ixion Club Maumere beralamat di Jalan Gajamada No 54 Kota Maumere. Bagi yang ingin bergabung di buka kesempatan seluas-luasnya.




Karyawati Yamaha Yes Maumere dengan Motor YAMAHA V-IXION

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---