Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Tuesday, 21 December 2010

WTM Bangun Sekolah Siaga di Mapitara dan Doreng

Wahana Tani Mandiri (WTM) melakukan kegiatan Pendidikan Tanggap Darurat bagi para 10 Guru se-kecamatan Mapitara dan Doreng. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Carolus Winfridus Keupung (Direktur WTM), Herry Naif (Walhi NTT), Benny Daga (Tagana Sikka) dan Staf Dinkes Kabupaten Sikka yang berlangsung dari hari Kamis sampai Sabtu (16-18 Desember). Kegiatan ini sebagai tindak lanjut Program Building Resieliance atas kerja sama WTM, YPPS dengan Oxfam. Mengambil lokasi di Pusat Pendidikan dan Pengelolan Lingkungan Hidup Jiro-Jaro Tana Li, Desa Gera, Kecamatan Lekebai, Kabupaten Sikka, kegiatan ini dibuka oleh Direktur WTM. Dalam sambutannya, Winfridus memberikan apreseasi kepada para guru yang hadir dalam kegiatan tersebut. Bahwa setelah setahun dilakukan kegiatan Disaster Manajemen terutama dalam Pengurangan Resiko Bencana yang berbasis sekolah dan Komunitas.


Menyambung pernyataan Win Keupung, Ketua Panitia Kegiatan (Kristoforus Greogorius) mengemukakan bahwa diharapkan dengan pendidikan ini, kemudian di tingkat sekolah memotivasi dirinya menjadi sekolah siaga bencana. Tentunya, indikator akan penilaian Sekolah Siaga Bencana ada banyak hal tetapi yang paling penting adalah bagaiman dengan kegiatan kemudian berdampak pada sekolah berperspektif bencana dalam segala ruang dan kesempatan bila memungkinkan.

Diawali pendidikan ini, Fasilitator Herry (Walhi NTT) bersama peserta mereview pemahaman mereka tentang kebencanaan. Kembali dilihat tentang Apa itu Bencana, Kerentanan, Ancaman dan Kapasitas.
Bahwa dalam penanganan kegiatan kebencanaan perlu diubah paradigma Tanggap Darurat menjadi Pengurangan Resiko Bencana (PRB).

Mereka melihat kembali profil sekolah tentang identifikasi tanaman apa saja yang dihadapi di sekolah dan kampung masing-masing. Pembicaraan ini kemudian merucut pada penemuan Sekolah Siaga Bencana. Indikator Sekolah Siaga Bencana dilihat dari apakah persepsi kebencanaan menjadi meanstreming semua komunitas. Misalnya; Simulasi kebencaan yang dilakukan sekali sebulan, ada Tim Siaga Bencana Sekolah, dan dibuat sistem dan mekanisme penanganan benncana.

Kegiatan itu kemudian difasilitasi oleh Marselinus Gawi (Pimpinan Puskesmas Lekebai), Kabupaten Sikka. Peserta diajarkan mengenai bagaimana menghadapi korban bencana yang luka, patah tulang, pingsan. Pertolongan pertama pada Kebencanaan harus dilihat sebagai langka tanggap darurat yang dimiliki oleh pihak sekolah.

Sedangkan Benny Daga Tim Siga Bencana (Tagana) Kabupaten Sikka mempraktekan caranya bagaimana menghadapi korban dalam keadaan darurat. Sebelum menolong orang lain, perlu menolong (menyelamatkan) diri sendiri. Di sini dibutuhkan sikap kerelawanan, teknik dan mental yang kuat untuk membantu orang lain yang mengalami penderitaan akibat bencana, demikian Benny yang pernah mengikuti pendidikan kebencanaan di Jakarta.

Setelah itu peserta memperdalam pengetahuan ini dilakukan Simulasi Bencana, dimana ada yang mengalami sebagai korban, tim evakuasi dan pelapor kepada pihak berwewenang. Kegiatan ini kemudian dievaluasi oleh para peserta dan tim fasilitator, ditemukan bahwa dalam kegiatan tanggap darurat dibutuhkan data, kecekatan dan sikap siaga bencana yang koordinatif para pihak.

Mengakhiri kegiatan ini, Markus Miskin (Kepala SDK Gere) mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas perlu dilakukan sebagai langka untuk mempersiapkan komunitas sekolah dan warga. Sebagai pimpinan sekolah mengatakan bahwa kegiatan Siaga Bencana Sekolah dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab kami di kawasan bencana. Sedangka peserta lainnya Eusabia mengatakan bahwa kendatipun sebagai staf di sekolah akan berusaha meyakinkan pimpinan sekolah untuk melihat ini sebagai langka-langka konkret untuk mewujudkan kesiapsiagaan sekolah.

Beberapa rekomendasi yang hedak dicapai adalah sekolah-sekolah yang ada di Kecamatan Mapitara dan Doreng harus didorong menjadi Sekolah Siaga Bencana. Dengan ini, budaya siap siaga, kurangi resiko bencana selalu diemban dalam komunitas sekolah di Kecamatan Mapitara dan Doreng yang menjadi kawasan rentang Gunung Api Egon.

Acara penutupan kegiatan ini dipandu oleh Herry Naif, Ibu Hermina dan Pak Markus yang mewakili peserta. Ketiganya memberikan apreseasi kepada WTM yang terus berkorban bersama rakyat dan segala komponen yang ada di Doreng dan Mapitara untuk melihat beberapa ancaman yang ada di sana.

Sedangkan Win, Direktur WTM juga mengharapkan bahwa dalam upaya menciptakan pendidikan berbasis PRB mestinya diutamakan di kawasan yang dinilai memiliki ancaman besar.

"Menjadi seorang pelatih dalam bidang bencana bukan sekedar memberikan pendidikan. Lebih dari itu hendaknya kita tidak bermental project (project oriented) melainkan membudayakan kesiapsiagaan kebencanaan. Prinsipnya kita yang berada di kawasan genting, dituntut kesiapsiagaan," ujar Winfridus.

Kecamatan Egon dan Mapitara dilihat sebagai kawasan yang genting karena harus berhadapan dengan Gunung Api Egon dan ancaman lain.

"Kita mau jadikan sekolah-sekolah di sana sebagai model sekolah bencana," ungkap Winfridus, Direktur Eksekutif Daerah WALHI NTT. (HF)

WWW.INIMAUMERE.COM

Selengkapnya...

Monday, 20 December 2010

Flores, Legend Of The Saint..

Taman Laut Flores
Legend of the Saint. Dari manakah asal “surga bawah laut” yang indah tiada duanya itu, di sebuah pulau beriklim kering dengan musim penghujan yang sangat pendek pula? Sebagian orang Flores masih menyimpan jawabannya. Konon beberapa ratus tahun yang lalu beberapa pemuda berdiri di Teluk Maumere pada suatu pagi, ketika matahari belum terbit. Mereka berdiri dan memandang ke kejauhan. Tiba-tiba tampak di laut lepas sebuah kapal layar yang besar. Sangat jarang kapal sebesar itu berlayar si situ. Para pemuda itu merasa was-was, jangan-jangan kapal perompak. Mereka terus mengamati kapal itu, yang tiba-tiba memutar halauannya, mendekat, dan berhenti di hadapan mereka. Sebuah sekoci kecil diturunkan. Seorang laki-laki putih berjubah dan beberapa orang lainnya turun ke sekoci, berkayuh dan mendarat.

Salah seorang, lelaki putih berjubah itu, turun ke pantai. Dengan mata penuh kasih disapanya para pemuda yang tampak waspada itu. Dia menanyakan sebuah tempat yang asing di telinga mereka. Dia pun menceritakan bahwa dia datang dari jauh, jauh sekali datangnya, melalui lautan dan samudra raya. Akan tetapi kapal besar itu harus segera berangkat. Tergesa-gesa naiklah ia ke dalam sekoci yang membawanya ke dalam kapal besar itu.

Kapal itupun menarik jangkaran menurunkan sauhnya. Para pemuda itu melambaikan tangan, dan orang berjubah itu pun membalasnya dengan lambaian penuh kasih. Tiba-tiba orang berjubah itu berjalan ke arah haluan kapal, berdiri diam seperti memanjatkan doa kepada yang ilahi. Dibuatnya tanda salib di udara dengan sebuah tongkat.

Tongkat itu kemudian dibuangnya ke laut lepas di Pulau Flores itu. Maka perairan di pulau itu berubah menjadi sebuah taman laut yang sangat indah tiada duanya, penuh dengan koloni fauna dan flora laut. Orang berjubah itu lalu menjadi buah bibir di kawasan itu. Ketika itu sedang tersiar berita tentang seorang yang tersohor dari Timur, bernama Fransiskus Xaverius.

Sejak itu mereka percaya, orang yang melemparkan tongkat ke perairan Flores itu adalah Santo Fransiskus Xaverius. Santo yang kudus itulah yang telah memberikan sebuah souvenir bagi Pulau Flores: sebuah taman laut terindah di dunia.

************

Wilayah perairan di beberapa kawasan di Pulau Flores terkenal kaya akan objek wisata laut kelas dunia. Kawasan yang sangat ideal dan menyenangkan untuk kegiatan wisata selam (diving), baik untuk scuba diving maupun snorkeling itu terutama terdapat di Kabupaten Sikka, Nagakeo, dan Manggarai. Di Kabupaten Sikka terdapat cluster teluk Maumere dan Pulau Palue dengan perkampungan nelayan tradisional dan gunung berapinya.

Di Kabupaten Nagakeo, pesona alam kepulauan Riung dengan 13 pulau yang menarik dengan keunikan masing-masing. Jop Ave, mantan Menparpostel Kabinet Pembangunan VI menyebut pesona Riung sebagai “Mutiara dari Timur”.

Di Kabupaten Manggarai terdapat Taman Nasional Komodo yang sangat unik, yang oleh Marzuki Usman, mantan Menparpostel Kabinet Pembangunan V, diberi julukan “Negeri Seribu Naga”.

Keindahan panorama perairan Flores itu bahkan disebut Jop Ave sebagai “surga bawah laut yang belum tersentuh”. Dengan nuansa perairan teluk yang membiru,

bertaburkan gugusan karang dengan aneka koloni terumbu karang serta kawasan ikan hias, memberikan nuansa sekaligus warna khas taman laut Flores yang menawarkan pesona alam tiada duanya dipandang dari permukaan air yang bening. Di beberapa kawasan tertentu, seperti di bagian barat Teluk Riung, dapat dijumpai pemandangan kebun koral yang eksotis pada kedalaman air laut sepuluh meter.

Flores tidak sedikit. Sebagian keindahannya telah bercerita pada dunia dan sebagian masih terjaga dalam surga yang indah. Elok seperti perawan cantik, indah seperti lukisan.(cintabahari)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 14 December 2010

Go Sikka Go...!

Sikka Siap Pertahankan Gelar Juara
Tim Pencak Silat Kabupaten Sikka yang merupakan Juara Cabang IPSI NTT di Korem Cup I dan II menargetkan 5 emas pada Korem Cup III yang akan berlangsung di Waingapu, Sumba Timur 16 – 19 Desember 2010. Informasi dari pengurus Perisai Diri, Iwan, mengatakan lima atlet yang dibawa menuju Waingapu adalah Randy, Thomas Aquino, dan Emanuel Nong Frit yang akan bertanding di Kelas A, B dan C. Pada Kelas Seni Tunggal Putra akan bertarung Deril Djata (Juara Nasional) dan pada Putri diwakili Rinil (Juara II Nasional). Ke-5 atlet ini akan didampingi pelatih mereka Gidion Geradus dan Nelson Leqy.
Menurut Iwan, persiapan Tim Pencak Silat Sikka sudah maksimal dan para atlet tersebut sudah digembleng khusus untuk mempertahkan gelar tersebut. "Beberapa diantaranya merupakan punggawa Sikka yang meraup 18 Emas pada Pordafta 2009 lalu," jelasnya.


Seperti kita ketahui, selain menyabet 18 emas di Pordafta 2009, dua tahun berturut-turut Tim Pencak Silat (Perisai Diri) Kabupaten Sikka berhasil menjadi yang terbaik dari terbaik di daratan Flobamora dalam Kejuaraan Daerah IPSI NTT KOREM CUP 2008 dan 2009.

Tahun 2008 di Korem Cup I, Sikka yang bertindak sebagai tuan rumah tampil sebagai kampiun dengan menyabet 6 emas dan diteruskan dengan mempertahankan gelar tersebut di Korem Cup 2009 yang berlangsung saat itu di Rote Ndao dengan membawa pulang 5 emas. Jika di Waingapu Sikka kampiun, maka 3 kali berturut-turut Sikka menjadi yang terbaik untuk Kejuaraan Daerah Cabang IPSI se-NTT, Korem Cup.

Prestasi Sikka di cabang Pencak Silat lewat Perguruan Silat Perisai Diri memang tak perlu diragukan lagi. Selain prestasi diatas, Sikka pun turut menyumbangkan atlet-atletnya mewakili Propinsi NTT diberbagai ajang IPSI. Prestasi ini tak lepas dari Perguruan Silat Perisai Diri Sikka. Perisai Diri berdiri tahun 1987 dan hingga saat ini memiliki anggota mendekati 800 atlit silat. Memiliki 3 orang pelatih berstandart nasional dan 1 orang wasit bersetifikat nasional.

Untuk saat ini Perguruan Silat Perisai Diri menyumbangkan atlitnya Agatha Trisnawati di Kejuaraan Dunia yang sedang berlangsung saat ini di Jakarta. Agatha Trisnawati merupakan atlit andalan NTT denagn seabrek prestasi seperti Juara Sikka, Juara NTT dan Juara Mahasiswa Nasional untuk cabang Silat Seni Senam Tunggal.

Silat Sikka pun telah menorehkan nama mereka sebagai yang terbaik ke-3 (Juara III) pada Kejuaraan Dunia dan telah mencetak banyak juara nasional dan membuat nama Sikka disegani di arena Silat NTT maupun Nasional.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Ritual Langka Suku Goban

Poron yang serupa parang dengan panjang 75 - 100 cm mulai beraksi. Senjata tajam yang, konon, juga diisi doa-doa itu mampu memenggal kepala hewan kurban sekali tebas. Itulah inti kegiatan upacara wihi lii unur di Tana Ai, Flores. Bukan sekadar memotong hewan, makan besar, joget, atau begadang, upacara itu justru suatu bentuk bakti sebuah generasi pada generasi sebelumnya.

Masyarakat Tana Ai, Flores, Nusa Tenggara Timur, memiliki tradisi unik. Mereka percaya, roh orang meninggal tetap berada di antara keluarga. Ia tetap makan, menjalankan kegiatan seperti ketika hidup, bahkan juga bekerja di kebun untuk mencukupi kebutuhannya. Namun, tentu saja, dengan cara berbeda.

Bentuk penghormatan paling nyata tampak ketika hendak bersantap. Usai berdoa, setiap orang akan membuat piong, sebungkal kecil makanan dan lauk dari piring masing-masing yang ditaruh di pinggir piring. Piong ditujukan bagi keluarga dekat yang telah meninggal sebagai ungkapan memberi makan.

Ikatan itu tetap erat, sampai diadakan upacara ritual wihi lii unur - mengantar leluhur menuju kedamaian abadi di surga. Karena bentuk bakti anak-cucu pada leluhur, meskipun menelan dana berjutaan rupiah, upacara itu tetap berlangsung.

Pantang mengeluh capek
Keluarga besar Goban misalnya, sepanjang upacara itu memotong tak kurang dari 100 babi dan kambing. Memang banyak, karena setiap leluhur "diantar" dengan dua kambing atau babi, sementara kali itu ada 42 leluhur yang akan diupacarai. "Kami tak boleh sebut berapa dana habis, pire (tabu). Gambarannya seperti kalau untuk membuat rumah ukuran 8 x 12 m," kata Pak Blasius.

"Pemerintah pernah larang juga upacara ini, alasannya pemborosan. Tapi demi ketenangan arwah orang tua, kami harus tetap lakukan," tambahnya. Memang, sejak tahun 1969, pemerintah kecamatan mengharuskan warga menyerahkan kambing jantan bertaduk panjang sebagai denda kalau menyelenggarakan upacara ini. Namun, larangan itu tak menyurutkan niat untuk menyelenggarakannya. Meski risikonya, kabarnya, ada ang-gota masyarakat suku lain yang terpaksa menginap di hotel prodeo seusai pesta, ka-rena dianggap melanggar peraturan.

Yang pasti, penyelenggaraan upacara itu perlu persiapan, baik dana, fisik, dan mental. Persiapan fisik amat penting, karena penyelenggara pesta pantang mengeluh capek. Padahal, selama lebih dari sepekan si penyelenggara harus begadang, sementara di siang hari masih harus mempersiapkan keperluan pesta yang amat menuntut kekuatan otot. Bayangkan!

Akhirnya, ketika emosi dan kepenatan menyatu mencapai puncak, banyak di antara mereka yang memilih minum moke, tuak dari penyulingan nila lontar, sampai mabuk. Sesaat penat akan lenyap.

Terjepit tebing dan jurang
Sungguh beruntung saya berkesempatan mengikuti ritual yang bagi Suku Goban menjadi upacara pertama setelah absen selama lebih dari 30 tahun! Bagi mereka, penundaan itu merupakan kesempatan untuk menabung dan menunggu hari yang tepat. Wihi lii unur kali itu berlangsung tepat saat bulan purnama.

Upacara bertempat di tanah kebun dan rumah pesta. Tanah kebun terletak di daerah miring di Tanah Hikong, Desa Runut, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Flores, sedangkan rumah pestanya terpencil, di tengah ladang penduduk, di cerukan gunung. Di keempat penjuru angin, gunung rapat memagari, meski di utara ada sedikit celah yang menampilkan Laut Flores di kejauhan. Permukiman terdekat ada di barat daya, sekitar 45 menit berjalan cepat.

Saya bergabung dengan rombongan yang terdiri atas anggota keluarga Suku Goban yang tinggal di Likong Gete. Dalam rombongan ikut serta seekor kambing untuk oleh-oleh bagi tuan rumah, sekarung beras, dan beberapa botol moke kelas satu. Kami berjalan kaki sejauh 16 km dari Desa Nanghale, desa di pinggir jalan yang menghubungkan Maumere dan Larantuka.

Tampak hamparan kebun-kebun penduduk, dan aliran Wair Hek (wair adalah bahasa lokal untuk sungai). Selanjutnya, ini yang berat, mendaki jalan setapak dengan kemiringan lebih dari 70 derajat. Yang lebih menyiksa, jalan setapak itu benar-benar selebar telapak kaki. Untungnya, di kanan ada tebing dengan sedikit rumput dan perdu yang bisa untuk pegangan, tetapi di sebelah kiri menganga jurang terjal yang di bawahnya mengalir sungai berbatu.

Kondisi berat itu menguras tenaga. Di awal keberangkatan saya masih bisa memanggul sendiri beban, berupa seperangkat baju dan dua kamera. Namun, menjelang separo perjalanan, saya benar-benar kewalahan. Pemandangan cantik di sepanjang perjalanan tak mengusik saya untuk mengabadikannya. Grogi dan kelelahan membuat seluruh sendi rasanya mau copot.

Sekitar 6,5 jam kemudian kami pun tiba di Tanah Hikong. Sebenarnya pesta masih dua hari lagi, tetapi rumah pesta sudah sesak tamu. Mereka menempati pondok-pondok tamu sederhana yang sengaja dibangun untuk penginapan. Para tamu biasanya sanak saudara Suku Goban yang tinggal berpencar di beberapa tempat yang juga berjauhan. Sebagai kerabat dekat, mereka membawa wai raa sebagai bentuk dukungan. Wai raa berupa babi, kambing, beras, serta moke.

Para tamu disambut dengan moke. Biasanya moke dalam seremonial adat adalah hasil sulingan pertama hingga yang ketiga. Tak heran bila kadar alkoholnya tinggi dengan rasa semriwing yang cepat bereaksi. Wadah minumnya pun unik, batok kelapa yang diukir halus. Semua tamu bergiliran menghirup dari wadah yang sama sampai tuntas beberapa botol yang disediakan sang tuan rumah. Cara menyuguhkannya pun sangat santun. Bak bartender profesional, tuan rumah menggilir dan mengisi wadah sampai para tamu minta berhenti.

Adegan saling pukul
Puncak upacara ditandai dengan menyembelih babi, kambing, dan ayam di ladang baru yang akan ditanami. Tapi sebelum itu ada rangkaian upacara yang panjang dan rumit, yang bisa berakibat kekeliruan. Andai demikian, si penyelenggara harus membayar denda berupa babi. Memang, sepanjang ritual ada saja denda yang mesti dibayar.

Sebelum puncak upacara, ada beberapa upacara persiapan. Misalnya, wai umara (memercikkan air ke ladang tempat upacara), lii watu tanah (membersihkan beras untuk menjamu tamu), wai ae Loen (menentukan hari H dan nama nenek moyang yang akan diantar), wuu pelan woen (membuat pelang atau emping beras yang dibagikan dengan daging untuk tamu), dan pati pleba - memotong hewan untuk nenek moyang yang tak pernah diambil welutnya (potongan kuku dan rambut dari jasad).

Sehari sebelum hari H, pukul 14.30, aroma magis ritual adat mulai terasa. Diawali dengan perarakan kopor, semacam keranda yang di dalamnya diikatkan seekor babi dalam posisi tidur. Kopor ditutup dengan sehelai kain batik baru, lalu dihiasi daun kelapa muda. Babi itu simbol orang yang sudah meninggal. Masing-masing diberi nama sesuai dengan nama orang yang akan diantar rohnya.

Diiringi nyanyian adat yang mirip ratapan, kopor diarak menuju rumah pesta. Sesampai di halaman rumah, tiba-tiba terjadi saling pukul dengan menggunakan kayu dan tinju. Bunyi berdebam memantul dari setiap punggung yang terhantam. Untunglah, saling pukul hanya berlangsung sepuluh menit. "Namanya leben grengan. Untuk menunjukkan keakraban antar-saudara," tutur Pak Joseph.

Konon, aslinya leben grengan menggunakan senjata tajam, misalnya parang. Anehnya, luka yang timbul cukup ditutup dengan sembarang daun, dijamin seketika sembuh. Asalkan, tidak ada perempuan. Lalu mengapa saat itu hanya menggunakan kayu dan tinju tangan? Ternyata, karena ada saya yang akan memotret.

Leben grengan usai. Tiba-tiba terdengar ratap tangis laki-laki dan perempuan memenuhi udara Tanah Hikong. Seorang perempuan muda memanggil-manggil nama almarhumah nenek dan ibunya. Bahkan bapak-bapak pun tampak meraung memanggil orang tuanya. Mereka tidak sembarangan memanggil nama, karena untuk setiap nama yang dipanggil, anak-cucunya harus menyiapkan dua hewan sembelihan.

Bayangkan, jika yang menangis itu lebih dari 50 orang. Gaung suara mereka yang dipantulkan dinding tebing sebelah-menyebelah, benar-benar membangkitkan pilu, menegakkan bulu roma. Apalagi dikumandangkan syair yang membuat suasana makin terasa memilukan. Mereka percaya, inilah perpisahan yang sebenarnya.

Entah disengaja atau tidak, hewan sembelihan di seputar rumah pun berpartisipasi. Berawal dari lenguhan sedih babi dalam kopor, kemudian diikuti oleh yang lain saling bersahutan. Kambing mengembik pilu di belakang rumah, anjing melolong-lolong bak melihat hantu, sedangkan babi mengeluarkan suara beratnya. Tangisan hewan itu makin melengkapi kesedihan keluarga besar Goban. Percaya atau tidak, ada tetesan air mengalir di pelupuk hewan-hewan itu.

Joget diiringi lagu Minang
Biang luka, itu julukan perempuan yang dituakan dalam suku. Perannya amat dominan, karena di setiap bagian upacara ia yang mengawali. Misalnya soal konsumsi, biang luka akan melakukan upacara khusus, likon daha. Upacara itu semacam permohonan pada arwah leluhur untuk memberkati bahan makanan agar semua tamu dapat dijamu dengan baik.

Tugas berikutnya, memberkati 42 welut arwah yang akan diantar besok pagi. Beberapa hari sebelum upacara welut yang disimpan oleh masing-masing keluarga, dikumpulkan dalam sobe, keranjang bertutup dari anyaman daun lontar, oleh moat, sesepuh dari Suku Goban. Kedatangan sobe, yang dipercaya juga beserta arwah, ke rumah adat disambut dengan nyanyian puja-puji berisi kisah heroik leluhur. Berbeda dengan penyambutan kopor, sambut arwah yang disebut blupur itu bernuansa gembira.

Moke telah beredar menutup jamuan malam. Belum tuntas acara bersantap, ketika seorang bapak tua mulai berjoget. Dengan gerak dinamis dan lincah dia seakan menghipnotis semua orang untuk turut terjun ke arena. Herannya, lagu yang mengiringi justru lagu Minang. Semalam suntuk mereka menyanyikan lagu itu.

Prosesi inti ritus diawali esok subuh. Mulai dengan menyuguhkan sarapan untuk babi dalam kopor. Menunya, bubur nasi dan telur rebus dihidangkan dalam pote, piring adat dari labu yang dikeringkan. Selanjutnya, semua hewan diarak menuju ladang tempat upacara.

Menurut Pak Joseph, baku hantam akan berlangsung lagi ketika penyembelihan hewan, jika algojo tak mampu memutus kepala hewan dalam sekali tebas.

Benar! Usai biang luka menanam welut dan tuntas membaca mantra dan doa, baku hantam siap dimulai.

Secara berurutan dipanggil nama para leluhur yang diupacarai, diikuti dengan datangnya gotongan dua hewan kurban. Sekali tebas, seiring dengan putusnya leher kurban terputus pula ikatan antara leluhur dengan anak-cucu di dunia. Aliran darah korban menandakan sang leluhur melayang menuju tempat kedamaian abadi.

Dua orang anggota hansip yang mengawal upacara sempat kewalahan. Bahkan mereka ikut kena gebuk saat melerai baku hantam. Kejadiannya dimulai saat kepala babi putih kurban baru bisa dipenggal dengan tiga kali tebas. Kabarnya, algojo yang kurang sukses ini, selain kena gebuk juga punya beban mental pada leluhurnya. Selain itu, dipercaya, algojo yang "gagal" punya sesuatu yang kurang baik dengan leluhurnya semasa hidup.
Benar-benar hari yang melelahkan.

Pukul 24.00 semua daging hewan korban selesai dibagi. Masing-masing tamu mendapat bagian. Khusus untuk pepi aru - bagian pipi babi - Suku Goban pantang memakannya. Konon, jika ngotot memakan, sama saja dengan memakan daging orang tua sendiri. Oleh karena itu, pepi aru dijatah untuk tamu di luar suku.

Banyak yang memilih pulang malam itu juga. Diterangi suluh daun kelapa, beberapa rombongan besar beriringan meninggalkan Tanah Hikong. Dalam dinginnya embun dini hari mereka berjalan kaki berkilo-kilometer sambil membawa beban berupa beras dan daging di punggung dan pundak. Kelelahan berbaur dengan kesukaan telah berjumpa dengan sanak keluarga. Tak mengapa, bukankah belum tentu peristiwa itu terjadi sepuluh tahun lagi?(AP).

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 11 December 2010

Banana Boat, Wisata Air di Pantai Wailiti

"Kurang Asyik dan Seru kalau Tak Kecebur..."
Mhhh..asik, seru dan menggoda. Seperti itulah yang terlihat di Pantai Wailiti, Hotel Wailiti & Resto yang berjarak 4 Km dari Kota Maumere. Dipantai tersebut, anak-anak dan remaja menikmati dengan penuh antusias permainan yang cukup memacu adrenalin. Gelombang ombak yang sengaja dibentuk dari kecepatan putaran speedboat menciptakan sensasi luarbiasa. Lantas jika gelombang besar tercipta, Banana Boat terhantam dan tubuh-tubuh mereka tercebur kedalam laut. Meski begitu, mereka tetap senang, tak masalah. Banana Boat membawa mereka kembali, berputar-putar riang diantara ikan-ikan yang berenang ketakutan. Lalu tak berapa lama, digantikan dengan kelompok yang lain. Dan terdengar lagi suara-suara riang diantara bunyi mesin speedboat yang berlari kencang menarik Banana Boat. Sepertinya, semua terhanyut dalam suasana racing beach di sepanjang Pantai Wailiti.

Yoss Rebong, pemuda asal Lembata yang telah lama bekerja di Hotel Wailiti menjadi guide dari wisata lautnya. Selain Banana Boat, ada pula Diving, Snorkeling, Jet ski, Speed Boat dan lain-lain. Wisata air Banana Boat, ditawarkan dengan harga Rp. 150.000 untuk 20 menit. Agar lebih murah Anda bisa berurunan dengan teman-teman yang lain.

Banana Boat menjadi wisata air yang paling disukai pengunjung Pantai Wailiti. Menggunakan perahu karet tunggal, Anda akan ditarik oleh speed boat berkeliling pantai dalam waktu 20 menit. Kapasitas muatan banana boat ini adalah maximal 5 orang. Anda bisa minta diceburin ke air selama boat berjalan, atau kalau tidak mau basah, ya minta yg normal-normal saja. Kurang asyik dan seru kalau tidak diceburin hehehe..Begitulah kesan-kesan dari hampir semua yang sudah pernah mencoba permainan air yang satu ini.

Wisata air Banana Boat yang berada di Pantai Wailiti, Hotel Wailiti & Resto Maumere ini biasa disewakan dari pagi hari sampai sore hari, tergantung situasi pasang surut air laut. Aktivitas ini adalah wisata yang akan memacu keberanian anda dalam menaiki boat yang besar ini. Tapi tak usah kuatir, olahraga ini aman karena menggunakan pengaman berupa jaket pelampung.

Mau coba?

Yoss dan anak-anak muda yang menikmati sensasi Banana boat

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Maumere dan Perdagangan Perempuan

"Kami setiap hari mendengar pengaduan rakyat soal kekerasan yang terjadi. Dari waktu ke waktu, Maumere berubah roman, baik dari sarana maupun pra-sarana. Maumere menjadi tempat asal, transit dan tujuan trafficking," demikian Sr. Estokia dari TRUK F yang menyampaikan persepsinya tentang perdagangan manusia dalam seminar sehari dengan tema “Sisi Kelam para Migran dan Perantau dalam Bingkai Perlawanan dan cita-cita”.
Seminar tersebut diselenggarakan baru-baru ini oleh Tim Relawanan Kemanusian (Truk F) di Hotel Permatasari Maumere. Seminar yang dibuka oleh Blasius Pedor (Asisten I Setda Sikka) ini menghadirkan empat narasumber yakni; Sr. Eustochia SspS (Koordinator Truk F Divisi Perempuan), Sri Nurherawati, SH ( Komnas Perempuan), dr. Yovita Mitak (Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi NTT) dan Dr. John Prior, SVD (Teolog). Kegiatan ini juga dimoderatori oeh P. Dr. Otto Gusti, SVD.

Narasumber lain, Yovita Mitak, menggambarkan bahwa secara nasional, NTT termasuk sebagai daerah penyuplai TKI selain DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Menurutnya jumlah TKI/TKW dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Pemerintah Provinsi sedang berjuang meningkatkan kapasitas para TKI agar memiliki pengetahuan dan skill sehingga memiliki bargaining position di negara tujuan kerja.

Sedangkan Sri Nurherawati menegaskan bahwa penanganan korban perdagangan manusia dibutuhkan pelayanan terpadu dan sistem peradilan pidana terpadu yang mana terjadi koordinasi antar aparat penegak hukum. Lebih dari itu, telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007. Dalam produk hukum ini, kesepakatan korban diabaikan. Artinya bahwa apabila terindikasi adanya kesepakatan korban dan pelaku human trafficking dalam permasalahan itu diabaikan, tidak dilihat sebagai sesuatu yang meringankan hukuman. Dalam produk ini, juga adanya kepastian hukum.

John Prior, yang pernah menjadi dosen STFK Ledalero dan beberapa universitas di Australia dan Canada memberikan sebuah refleksi Teologis atas human trafficking. Mengawali presentasi itu, John menuturkan bahwa “Dimanakah Allah dalam semua ini? Bahwa kehidupan manusia bagai dalam perantauan dan pengembaraan. Dalam perantauan umat Ibrani terjadi pembentukan iman umat, dimana mereka berharap pada apa yagn ditunjukkan Allah dan bersandar pada Allah. Dalam konteks sekarang, umat mengalami migrasi. Disana terjadi pertemuan antar umat yang berbeda-beda? Apakah kondisi itu bisa terjadi saling menerima sebagai saudara?"

Ia menambahkan, dalam misi kerasulan hendaknya migrasi dilihat salah satu wacana yang mesti diwartakan gereja. Misi migrasi harus menjadi prioritasi di tengah memburuknya sistem kapitalis yang menjebak manusia dalam pertarungan kelompok dan lemah. Gereja harus mampu melihat dan berbenah diri untuk memperkuat posisi kaum marginal. Migrasi melepas orang dari sekat suku, agama, ras dan gender.

John mengajak peserta forum untuk melihat bahwa apakah benar negara ini tengah membawa suah kehidupan yang membahagiakan. Lucunya, di negara yang kaya raya sumber daya alam, diberi kepada pihak asing sedangkan rakyatnya dibiarkan miskin, melarat dan rakyatnya pergi mencari kerja di negara lain. Potensi alamnya dibiarkan diisap oleh asing. Tak heran bila maraknya investasi di sini, ujarnya.

Kegiatan ini berujung pada permintaan pengakuan gugus tugas yang hingga hari ini belum mendapat respons serius dari pemkab Sikka. Sehingga diharapkan pemkab melihat human trafficking sebagai permasalahan yang perlu mendapat keseriusan pemerintah apalagi Sikka ini menjadi tempat asal, transit dan daerah tujuan TKI. Dan ini perlu juga dipertegas dalam sebuah produk hukum (perda).(HN).

WWW.INIMAUMERE.COM
Selengkapnya...

Tuesday, 7 December 2010

Lesehan Santai, Lesehan di Eltari..

Buka dari Malam hingga Subuh
Familiar dan penuh keakraban. Itulah gambaran kecil “Lesehan Kopie Arema” yang berdiri seadanya di Jalan Eltari Maumere. Konko model Maumere atau istilahnya Kulababong yang santai dan rileks menjadi gaya menarik. Warung Lesehan ini dimiliki bersama oleh 5 sekawan yakni Ule, Rull, Passe, Nolie dan Dodie. Kelimanya alumni perguruan tinggi di Kota Malang yang beberapa diantaranya masih mencari kerja. Sehingga nama Arema terselip, sebagai indentitas dari mana asal mereka menimba ilmu. Yang menarik, lesehan gaya ‘kulabaong’ ini saat dibuka hingga sekarang semakin ramai dikunjungi. Hal ini membuat mereka semakin berpikir inovatif, seperti menggelar music akustic pingir jalan dan segudang terobosan-terobosan lain.


Lesehan Kopie Arema, menurut mereka bukan sekedar menawarkan sajian kopie saja tapi juga sajian lain seperti jagung bakar, aneka mi dan berbagai jajanan khas Maumere. Kopi yang dijual disini pun beragam, dari kopi sasetan, itam sampai kopi racikan sendiri. Ada juga teh, dari dingin hingga panas, misalnya es lemon tea, milo panas, josua, soda gembira dan lain-lain. Sajian lain berupa minuman dan makanan lain dari yang hangat, panas sampai dingin dengan berbagai rasa sedang dipersiapkan.

Tak salah kalau anak-anak muda Maumere yang senang berselancar di malam hari, beberapa hari belakangan ini memilih lesehan ini sebagai tempat berbagi rasa. Belum lagi jika sudah ditambah dengan sajian musik akustik.

Lesehan ini berada di Jalan Eltari yang notabene menjadi kawasan favorit akhir-akhir ini. Om Frando da Lopez, salah seorang warga Eltari dimana didepan rumahnya lesehan ini berdiri, mendukung usaha anak-anak muda ini dengan memberikan halaman rumahnya sebagai bagian dari lesehan tersebut. Hal ini sangat menggembirakan Lima Sekawan. Mereka sangat berterima kasih bagi kebaikan Frando da Lopez.

Disisi lain, Jalan Eltari dengan lampu jalan yang memancarkan sinar terang dengan deretan bunga-bungan taman nan asri ternyata menjadi daya pikat. Gambaran Jalan Eltari yang sesepi tahun-tahun sebelumnya kini seperti mulai pudar. Beberapa bulan ini, Jalan Eltari yang nyaman dengan taman-taman bunganya kadang digunakan menjadi medan trek liar sepeda motor oleh sebagian remaja. Kebisingan mesin motor tersebut nyatanya mengganggu warga dikawasan tersebut dan tentu saja lalulintas kendaraan. Lesehan hadir di Eltari menawarkan kepada para remaja tersebut untuk meninggalkan kebiasaan negatip dan memilih untuk nongkrong bersama jajanan dan pilihan minuman ringan, kata Ulle.

Lesehan Kopie Arema, menurut Lima Sekawan tersebut, dibuka dari jam 7 malam hingga dinihari atau sampai tamu tak ada. Sehingga yang senang begadang menggunakannya sebagai tempat spesial saat konko bersama rekan dan sahabat mereka. Bagi yang lain, memilih tempat ini hanya untuk menghilangkan waktu. Seperti yang diceritakan oleh Bayu dan Andrie, dua sahabat yang asik berinternet di lesehan tersebut.

“Akhirnya bisa menikmati kopie dengan sesantai mungkin bersama teman-teman. Ini baru pertamanya di Maumere dan bisa memuaskan kami,” ujar Andrie.

Bayu menambahkan, “Biasanya kalo malam hari sumpek, hanya bisa pelototin layar kaca atau internetan, kalau sekarang sudah bisa ngopie diluar sampai dinihari sambil internetan, udaranya juga sejuk” ujarnya. Bayu menggunakan laptop dengan modem wairless.

Nyala-nyala lampu dari botol-botol kecil berderet disisi lesehan. Gelas dan sasetan kopie dan lainnya siap menunggu pesanan. Nolie yang biasa bertindak sebagai juru masak cekatan bekerja. Yang lain asik bercengkerama.

“Tiap hari te begini sudah abang, pesanan dan pelanggan makin meningkat jadi sibuk terus,” ujar Nolie, alumni Institut Teknologi Nasional Malang kepada inimaumere.com.

Nolie memang semangat bekerja karena setelah dibuka 5 hari lalu, keadaan semakin ramai dan diluar perkiraan mereka.

Om Frando da Lopez, disela aktifitas lesehan, mengatakan mendukung usaha anak-anak muda ini. Menurutnya ini merupakan terobosan usaha yang bagus. "Saya telah memberitahu kepada para tetangga, Ibu Lurah Kota Uneng, Polsek Alok tentang lesehan ini agar mereka pun tahu kalau keramian disini karena ada aktifitas lesehan," ujranya.

Om Frando dan anak-anak muda yang asik nyante di lesehan eltari

Menurutnya, dengan adanya lesehan ini, trek-terkan liar semakin berkurang dan anak-anak muda punya pilihan untuk nongkrong di lesehan tersebut daripada minum moke. "Ini adalah usaha yang sifatnya insidentil atau hanya sekedar meramaikan suasana malam Kota Maumere, bentuk usaha ini juga bukanlah usaha permanen," jelas Om Frando yang dihalaman rumahnya juga menjual makanan -makanan khas Maumere, mie dan jajanan lain.

Ulle juga membenarkan hal tersebut. Menurutnya, mereka berlima akan terus berkonsultasi dengan Om Frando tentang langkah-langkah yang perlu dicapai untuk menjaga agar lesehan ini tak mengganggu kenyamanan masyarakat. "Kami juga berencana untuk memberitahu kelurahan karena telah memanfaatkan badan trotoar untuk usaha," jelas alumni Institut Teknologi Nasional (ITN Malang) ini.

“ Semoga terlaksana dan bermanfaat,” ujar Ulle.

Mengenai tempat ini bisa digunakan sebagai sarana mabuk-mabukan oleh sebagian oknum, Ulle mengatakan bahwa niatan dan tujuan mereka mendirikan lesehan kopie ini salah satunya adalah menghindarkan para remaja dan anak muda dari alkohol.
“Sudah saatnya beralih keminuman tanpa alkohol, dan kami menyediakannya sampai dinihari, mau duduk cerita sambil ngopi sampai berjam-jam kami tak melarang, silakan,” jelasnya. "Kami akan menegur keras jika ada yang menggunakan tempat ini untuk mabuk-mabukan," jelasnya lagi.

Menurutnya, anak-anak muda Maumere sangat menyukai dan mendukung pengembangan lesehan tersebut. Karena menurut mereka, sarana untuk konko di kota ini hampir tak ada. Nongkrong tanpa moke, itu alasan mereka.

Melihat Jalan Eltari yang nampak sepi di kala malam namun selaksa anggun dan penuh wibawa, rasanya tak ada salahnya anak-anak muda nian tanah yang mencari hidup diberi kesempatan. Mereka berdiri sendiri dengan modal seadanya juga invovasi usaha yang diterima masyarakat. Kesempatan usaha ini memang baru pertama kali ada di kota ini. Bersaing dengan warung-warung ‘luar’ yang menjamur di Kota Maumere. Dengan ide-ide segar mereka siap mewarnai Maumere.



www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---