Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Friday, 11 March 2011

Galeri Foto Bawah Laut Teluk Maumere (2)


Galeri foto dihalaman ini adalah bagian kedua dari kumpulan foto-foto bawah laut Teluk Maumere. Sekedar diketahui, Teluk Maumere pernah menjadi ikon wisata laut di kawasan Indonesia sebelum diterpa gempa Flores dan tsunami tahun 1992 yang menghancurkan sebagian besar potensi terumbu karang. Pemkab Sikka bersama program Coremap II Sikka terus berupaya dengan mengintensifkan beberapa program pemulihan yang berdampak positif setelah tsunami. Hasilnya, pesona keindahan terumbu karang bersama biota lautnya berangsur kembali pada citra semula. Pemulihan pamor bawah laut di kawasan Teluk Maumere hingga kini terus berjalan. Untuk mengabadikan potensi bawah laut tersebut, Coremap II Sikka menggelar "Kontes Foto Bawah Laut Teluk Maumere" yang diikuti 15 fotografer profesional bawah laut dari seluruh Indonesia. Anda bisa menikmati keindahan Bawah Laut Teluk Maumere lewat foto-foto hasil jepretan mereka dibawah ini:


Galeri I









Galeri II







Galeri Foto Bawah Laut Teluk Maumere (1), bisa dilihat disini

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 8 March 2011

Maumere, Mutiara Yang Terabaikan…

Oleh: Wawan Nike

Keindahan pasir putih alam asli Pantai Tanjung dan Pantai Doreng tak digarap maksimal
Globalisasi yang saat ini menjadi icon atau pun motto, serta jargon dari pemerintah baik di pusat maupun di daerah justru amburadul, dengan adanya polarisasi otonomi daerah sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 yang ada, tidak membawa dampak serta pengaruh positif bagi pembangunan di Indonesia. Globalisasi merusak tatanan kearifan lokal bangsa ini semakin jelas terlihat, Indonesia yang membagi zona wilayahnya antara barat dan timur semakin menunjukkan arogansi, sehingga adanya perbedaan justru memperlebar jurang perpecahan.
Kabupaten Sikka yang terletak di Bagian Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur, adalah gambaran dari tidak becusnya pemangku kebijakan dalam mengimplementasikan ide-idenya, dimana rakyat dikebiri atas hak hidupnya, jaminan sebagai warga Negara yang dinaungi dan dijamin kemerdekaanya dalam undang undang dasar 1945 jelas tidak terbukti.

Sementara itu, keberadan Pemerintah Daerah Kabupaten sebagai pemegang kedaulatan secara otonom tidak menunjukan konsep jelas tentang pembangunan kota ini, dengan pelbagai potensi yang ada, sementara sejak kali pertama saya datang Potensi Kabupaten Sikka yang saya kunjungi adalah empat desa yang berada di wilayah kecamatan Mapitara, satunya adalah Desa Hebing, masyarakatnya yang masih natural justru memiliki daya tarik tersendiri di tunjang dengan alamnya yang masih elok, serta tidak tercemar polusi, ini justru daya pikat tersendiri apabila Dinas Pariwisata setempat mampu membaca potensi untuk dikembangkan demi pembangunan Sikka.

Sesuai catatan Maumere merupakan kota pelabuhan utama di Kabupaten Sikka yang berada di antara wilayah Flores Tengah dengan Kabupaten Larantuka yang berada di Timur. Nama Sikka berasal dari nama sebuah desa yang berada di pantai Selatan Flores yang dulu pernah dikuasai penguasa Portugis dan keturunan pada abad ke-17 dan abad ke-20. Maumere telah menjadi pusat kegiatan kaum misionaris asal Portugis dalam menyebarkan agama Kristen sejak mereka tiba di wilayah ini sekitar 400 tahun yang lalu. Pada bulan Desember 1992, Maumere diguncang gempa hebat yang menghancurkan sebagian kota ini disusul gelombang pasang setinggi 20 meter yang menewaskan ribuan orang.

Maumere secara geografis terletak hanya 30 km dari pusat gempa dan saat ini Maumere sudah dibangun kembali dari kehancuran total akibat gempa bumi. Bagi wisatawan yang berminat dengan kain tenun ikat maka Maumere merupakan salah satu pusat produksi tenun ikat. Wisatawan yang datang ke Maumere umumnya hanya untuk transit dan beristirahat sejenak sebelum melalui melanjutkan perjalanan menuju ke beberapa tempat yang menarik yang terdapat di sekitar Maumere.

Sementara itu Maumere yang memiliki potensi sedemikan besar mulai dari gunung, esotika alam lautnya, serta village heritage semestinya dapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Sikka, bila saja pemerintah Kabupaten Sikka tidak bingung dalam menggarap potensi penyerapan PAD tentunya mereka akan mengembangkan potensi wisata, kedatangan turis manca yang sempat berbincang dengan saya tentang Sikka, ternyata tak hanya tertarik pada potensi alamnya namun mereka juga tertarik dengan angkutan tradisional yang melayani rute dari Maumere – Palue.

Pada jarak 13 km di Timur Maumere terdapat Waiara yang merupakan titik pangkal untuk menuju ke taman laut Maumere yang dulu pernah menjadi salah satu lokasi penyelaman yang paling indah di Indonesia sebelum hancur akibat gempa bumi tahun 1992, namun sesuai dengan pernyataan Simon Subandi, saat berbincang dengan Suara Flores, ini masih menjadi kontradiksi dalam pembahasan RAPBD pada 2011.

Namun demikian lokasi terumbu karang di sekitar Pulau Pemana di Pulau Besar di dekat Waiara masih dalam kondisi yang rusak akibat banyaknya pengeboman sehingga tak lagi menarik minat penyelam.

Di Barat Laut Waiterang terdapat Gunung Egon (1.703 m) yang merupakan gunung vulkanis yang mengeluarkan asap. Gunung ini dapat didaki dari Blidit dalam waktu kurang dari tiga jam. Blidit terletak 6 km dari Waiterang dengan menumpang angkutan umum. Namun hanya satu Pos pemantau aktifitas gunung ini masih menggunakan listrik milik warga, selain beberapa battery yang memang digunakan sebagai pembangkit alat pendeteksi gempa, padahal bahaya sudah di depan mata.

Sekitar 19 km dari Maumere, di jalan raya yang menuju ke Ende, terdapat museum yang memiliki koleksi benda-benda bersejarah asal Flores dan juga koleksi kain tenunan ikat langka, sayangnya dari pernyataan Viktor Nekur, warga setempat menyatakan bahwa “ banyaknya gading museum yang saat ini hilang, atau berganti dengan replika, seperti kejadian di Museum Solo,”katanya.

Sekitar 45 menit perjalanan dengan menumpang angkutan umum dari Maumere (27 km) terdapat sentra produksi tenun ikat lainnya yaitu di Sikka. Kota ini dulunya, pada abad ke-17, merupakan pusat pemukiman orang Portugis di Flores. Sebuah gereja tua yang dibangun pada tahun 1899 terdapat di Sikka.

Sekitar 4 km dari Sikka terdapat Lela yang merupakan tempat di mana banyak ditemui bangunan tua peninggalan kolonial dan juga sentra kerajinan tenun ikat. Lela memiliki kawasan pantai dengan pasirnya berwarna hitam.

Pada jarak 10 km di Timur Maumere wisatawan akan tiba di Geliting yang mana pada setiap hari Jum’at digelar pasar tradisional yang dikunjungi ribuan orang yang datang dari berbagai desa di wilayah ini. Di pasar ini banyak dijual aneka kain tenun ikat.

Sekitar 10 km di Timur Laut Wodong terdapat Nangahale yang merupakan desa yang cukup menarik karena masyarakat di sini pembuat kapal tradisional. Jalan yang menuju ke Nangahale akan melalui Patiahu, 33 km dari Maumere, yang merupakan kawasan pantai yang indah dengan pasirnya yang putih. Sayangnya dari pemerintah sendiri tidak memiliki banyak anggaran untuk memoles kecantikan Maumere yang berada di pulau Flores ini.

Bila saja konsep marhaenisme dijalankan pemerintah sebagai soko guru kemandirian, untuk menunjang perekonomian dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah tentunya tidak justru menunggu banyak masyarakat yang sakit untuk menunjang pembangunan, payah.

Bila saja semua komponen pemangku jabatan yang ada mau untuk terbuka dan mengakui kekurangannya atas sumber daya manusia yang dimiliki, mungkin saja saran dan kritik juga masukan demi kemajuan Sikka bisa tergarap dengan apik (Wawan Nike/ Suara Flores).

*Pemerhati Sosial, tinggal di Maumere

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 4 March 2011

Berantas Prostitusi di Rumah Penduduk

Lurah Kota Baru Amankan Aset Daerah
Kelurahan Kota Baru yang terletak persis di jantung kota Maumere kini gencar memberantas praktek prostitusi liar di rumah-rumah penduduk. Hal itu seiring dengan pengamanan aset-aset daerah di lingkup Kelurahan Kota Baru.
Demikian disampaikan Lurah Kota Baru, Yosefina Ilvani Kuki Jumat (25/2) di Maumere. Kuki menjelaskan, pengamanan aset khususnya di wilayah Kelurahan Kota Baru telah dilakukannya dengan terlebih dahulu memberikan sosialisasi kepada penduduk. Sejumlah aset yang diamankan diantaranya di wilayah taman kota dimana para pedagang dan kaki lima dengan sengaja tanpa izin menjajakan dagangannya di tempat tersebut.
Sebelumnya dilakukan sosialisasi, jelas Kuki, tempat itu sering diklaim sebagai hak milik oleh oknum tertentu. Namun, setelah dilakukan sosialisasi hal itu tidak terjadi lagi dan menjadi areal taman kota.

"Sejumlah aset daerah yang kami amankan khususnya di wilayah Kelurahan Kota Baru sudah dijalankan dengan baik. Kini tidak ada lagi para pedagang liar yang berusaha di tempat tersebut," jelas Kuki.

Kuki menambahkan, aset daerah lainnya yang kini harus diamankan adalah wilayah bantaran kali mati yang saat ini oleh sejumah penduduk dijadikan sebagai tempat tinggal. Bahkan ada rumah penduduk juga dijadikan sebagai tempat prostitusi liar dimana para Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan bebas beroperasi di tempat tersebut.

Kuki selaku lurah sudah memberi peringatkan baik secara terlulis maupun secara lisan. Bahkan ada yang diberikan peringatan berulang kali namun masih tetap melakukan aktifitas tersebut. Karena itu ia berjanji dalam waktu dekat akan mengambil langkah untuk segera mengeluarkan warga tersebut dari lokasi tersebut.

"Kami sudah mengarahkan dan meminta agar yang bersangkutan yang sering menampung para PSK itu segera membongkar rumahnya karena rumah yang dibangun itu terletak di atas aset daerah. Teguran lisan maupun tertulis sudah dilakukan, hanya saja kami nilai masih bandel. Hal itu terbukti dengan belum terealisasi apa yang dibuat dalam surat pernyataannya," tegas Kuki.

Kuki menambahkan, sejumah aset daerah yang oleh penduduk dijadikan sebagai tempat tinggal akan segera dibersihkan dalam waktu dekat. Sedangkan rumah-rumah penduduk yang dijadikan sebagai tempat beroperasinya para PSK selain dibongkar juga tidak diizinkan untuk berpraktek di wilayah Kelurahan Kota Baru. Menurut Kuki, sangat tidak etis di tengah kota masih ada rumah penduduk yang dijadikan sebagai tempat esek-esek.

Berdasarkan hasil pantauannya, tempat esek-esek yang terletak di bantaran kali mati itu, menjadi sangat ramai ketika menjelang tengah malam dimana para PSK adalah wanita dari kampung yang melayani kaum pria hidung belang dari berbagai kalangan.

"Di bantaran kali mati itu ada rumah penduduk yang dijadikan sebagai tempat prostitusi. Banyak lelaki hidung belang yang menjadi pelanggan para PSK. Para PSK itu bukan berasal dari luar Flores tetapi orang kampung yang berkeliaran di tengah kota dan tidak jelas di mana tempat tinggalnya," jelas Kuki. (kr5/ Timorexpress)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Perjalanan Dinas Fiktif?


Dugaan Korupsi DPRD Sikka
Seperti gayung bersambut. Setelah Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Wilayah NTT, Meridian Dewanta Dado, S.H melaporkan dugaan korupsi perjalanan dinas pimpinan DPRD Sikka, Badan Kehormatan (BK) dan Sekretaris DPRD Sikka menemui Mahkamah Agung, Kepala Kejaksaan Negeri (Kjari) Maumere, memerintahkan bagian intel mengumpulkan data (puldata) dan pengusutan. Kepala Kejaksaan Negeri Maumere Sanadji, S.H, menyampaikan hal itu melalui Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejari Maumere, Ahmad Jubair, S.H dikantornya. Ahmad menjelaskan laporan TPDI NTT tentang dugaan korupsi perjalanan dinas fiktif di DPRD Sikka sudah disikapi jaksa. Tim dipimpin Kasi Intel untuk mendalami laporan TPDI.

Laporan Kajari Maumere telah dipelajari Kajari dan telah disikapi dengan proses pengusutan dan pengambilan data lapangan. Tim jaksa mengecek kebenaran perjalanan dinas tersebut dengan melihat fakta yang dilaporkan. “Apa yang akan kami gali dilapangan telah kami konsepkan dan tinggal kami perdalam di lapangan, “ tegas Ahmad.
Anggota DPRD Sikka, Siflan Angie, menegaskan, perjalanan dinas itu tidak dianggarkan dalam APBD II. “Tidak ada anggaran ke MA konsultasikan kasus Alex Longginus. Yang ada anggaran perjalanan penguatan kapasitas anggota Dewan seperti Bimtek, “ tegas Siflan.

Sebelum keberangkatan ke Jakarta, kata Siflan, sudah ada informasi bahwa Alex bebas murni. Namun mereka ngotot ke Jakarta. Apa yang mau dipertanggungjawabkan kepada Dewan. Penjelasan yang diperoleh dari Pengadilan Negeri (PN) Maumere, sama saja menyatakan Alex masih berstatus terdakwa kasus purnabakti. Mereka buang-buang waktu dan uang ke Jakarta. Keputusan status Alex sudah dirilis di website MA dua minggu sebelum ke Jakarta.

“Yang saya sampaikan bukan mencari popularitas. Saya mau tanya urgensinya apa dan hasilnya apa dari perjalanan dinas tersebut. Mau bertemu petinggi MA, ternyata staf panitera menjelaskan status Longginus masih terdakwa,” tegas Siflan.

Ketua Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Sikka, Cornelis Soge, menyayangkan perjalanan dinas yang sama sekali tak memberi manfaat kepada rakyat. Biaya yang digunakan tak besar. Tapi penggunaan uang rakyat sepeserpun harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

Diberitakan sebelumnya, Ketua dan Wakil Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga dan Felik Wodon, ketua, wakil ketua dan anggota BK, L. BOY, Paolos Nong Susar, dan Petrus Ruamat Pelang serta Sekretaris DPRD, Vincent Hulir diadukan TPDI ke Kejari Maumere, Senin (28/02/2011) pagi. Mereka diduga melakukan perjalanan dinas fiktif ke MA mengkonsultasikan status Alex dalam kasasi kasus korupsi dana purnabakti yang dilakukan Alex semasa menjabat Bupati Sikka. Perjalanan dina fiktif menelan biaya Rp. 90 juta disinyialir tidak dianggarkan dalam APBD.(ris/aly – Flores Star)
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 28 February 2011

Galeri Foto Bawah Laut Teluk Maumere (1)

Perairan Teluk Maumere dikenal sebagai salah satu destinasi penyelaman terbaik di Indonesia sejak pertengahan tahun 1980an hingga awal tahun 1990. Keanekaragaman terumbu karang, serta spesies ikan dan biota laut nan beraneka tercatat dimiliki perairan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sikka, Flores. Namun gempa Flores dan Tsunami dahsyat yang terjadi pada akhir tahun 1992, kemudian menghancurkan sebagian besar kawasan penyelaman. Peristiwa alam tersebut juga kemudian diikuti oleh degradasi lingkungan akibat overfishing dengan alat yang tidak ramah lingkungan.
Kini dengan seiring perbaikan lingkungan dan kesadaran masyarakat yg semakin meningkat akan kelestarian lingkungan lautnya, Pemerintah Kabupaten Sikka beserta Program COREMAP II Sikka, melakukan sebuah usaha untuk mengembalikan pamor bawah laut teluk Maumere.

Para penyelam sekaligus fotografer bawah air professional dari seluruh Indonesia diundang, yang diharapkan bisa menjadi promosi bagi kehidupan bawah laut Maumere yang kini mulai kembali menunjukan potensinya yang pernah hilang.

Dengan menggelar “Kontes Foto Bawah Air Teluk Maumere” yang dilakukan pada bulan November 2010 lalu, berbagai foto dari hasil jepretan 15 fotografer profesional bawah laut bisa disaksikan dibawah ini.

inimaumere.com beruntung mendapatkan foto-foto dalam "Kontes Foto bawah Laut Teluk Maumere" tersebut dan mempublikasikannya...
Dengan keindahan yang ditampilkan dari berbagai karya foto tersebut, kawasan penyelaman Teluk Maumere tak salah lagi menjadi salah satu tujuan wisata bawah air...

Hele Hala ba'a... :-)


Foto-Foto Bawah Air Teluk Maumere - Coremap II Sikka - BAGIAN PERTAMA


Foto : Johan Setiawan




Foto : Kartika Dewi









Foto: Harry Susanto








Foto : Audrey Jiwajennie





Foto: Puri Lestri




Foto: Ricky Rusli



Foto : Adrianto Mulia



Foto : Heru Suryoko








segera foto-foto bawah air teluk maumere bagian 2

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---