Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Monday, 11 April 2011

Hari Peresmian Perkawinan (Lerong Kawit)

Indahnya Pesta Adat di Kabupaten Sikka
Artikel ini merupakan sambungan dari artikel-artikel sebelumnya yang mengulas tentang tahapan perkawinan dalam adat Sikka-Krowe. Etnis Sikka – Krowe merupakan etnis terbesar dari 6 etnis yang mendiami wilayah Kabupaten Sikka. Dalam struktur budaya orang Sikka sendiri, perkawinan dipandang sebagai sesuatu yang mutlak bagi kehidupan yang memiliki sifat tak terceraikan. Tercermin dalam ungkapan adat Lemer Watu Miu Ruang, Wawak Papang Miu Ruang, Naha Mate Ko Belung, Naha Bleut Ko Loar. Artinya Susah senang sama-sama, mati dulu baru dilepas, tapi bukan mati saja melainkan hancur. Sebelum melangkah pada jenjang perkawinan, akan melewati beberapa proses adat dari permulaan sampai pemberian belis. Proses ini akan sampai pada puncak acara yakni hari peresmian perkawinan. Puncak dari kemeriahaan hari perkawinan tercermin saat malakoni sebuah ritual perkawinan yang disebut dalam bahasa Sikka Tama Ola Uneng atau artinya Masuk Kamar Pengantin. Disinilah berbagai kemeriahan hadir, ketika dua insan merona bahagia menuju pintu kamar, tetapi diluar pintu para keluarga, sahabat dan undangan berpesta hingga pagi buta..

Sebelum melangkah ke Hari Peresmian Perkawinan telah dibahas tentang Tahapan Persiapan Perkawinan, sebuah tahapan yang penting dalam proses menyunting sang calon mempelai wanita. Dimulai dari Pano Ahu sampai Tung Urut Linong. Sudah baca? Kalau belum, silakan membacanya disini ya..

Setelah tahapan persiapan diatas, dilanjutkan dengan Persiapan Pembelisan, Penghantaran Belis dan Persiapan Perkawinan. Tahapan yang indah dengan mempertemukan dua delegasi dari keluarga masing-masing. Disini belis dibicarakan. Jika ada kesepakatan, akan berjenjang ke proses berikutnya. Sudah baca? Kalau belum, silakan membacanya disini ya.. :)

Oke, langsung saja. Pasti kalian telah membacanya tahapan-tahapan sebelumnya kan? Karena artikel ini akan sangat berkaitan dengan kedua artikel sebelumnya. Istilahnya satu kesatuan. Jika tak membacanya secara keseluruhan sepertinya kurang lengkap, ada yang kurang.

Lanjuuttt..


Hari Peresmian Perkawinan (Lerong Kawit)
Pernikahan adat (lerong kawit) biasa terjadi di rumah keluarga perempuan.
Bahan-bahan yang digunakan untuk meresmikan perkawinan adat adalah:

nasi (ara), Hati daging babi (wawi wateng) dan tuak (moke). Biasanya yang meresmikan upacara ialah paman pengantin perempuan (tiu) atau tua adat.

Pada hari peresmian perkawinan pengantin didandani dengan pakaian adat. Pakaian perempuan disebut kimang yang terdiri dari rok dan baju adat. Perhiasannya antara lain kalar gelang, kalung leher, anting yang terbuat dari emas, "ala gadeja" (perhiasan penutup wajah) yang terdiri dari kain dan benang¬benang yang dihiasi dengan emas.

Rambut disanggul ke atas, diikat dengan gelang emas, dan pada rambut terdapat tiga tusuk konde emas (soking telu). Tiga tusuk konde ini melambangkan tiga tahap perkawinan: persiapan, penentuan belis dan upacara perkawinan itu sendiri. Sedangkan pakaian laki-laki terdiri dari lipalensu, destar, baju dan selempang. Perhiasannya adalah lodang bahar (kalung emas) dan mone (gelang gading besar).

Kemudian pihak keluarga perempuan keluar dari rumah menuju ke tenda. Biasanya pengantin perempuan yang berjalan menuju ke tenda dituntun oleh seorang anak kecil (laki-laki/perempuan) dengan rantai kecil yang terbuat dari emas. Sementara itu pengantin laki¬ laki menunggu di tempat peresmian nikah.

Kedua pengantin berdiri di depan pemimpin upacara dan upacara peresmian dimulai. Ata pu'an (pemimpin upacara) akan mengambil sedikit nasi, hati babi dan satu luli moke lalu diberikan kepada pengantin sambil berkata:

Gea sai, wawi api ara prangang, dena dadi wai nora la'i, minu sai, tua jajing, dena dadi lihang nora lalang

[Makanlah daging dan nasi janji, minumlah moke sumpah ini agar kalian, menjadi satu ikatan keluarga].

Ketika kata-kata peresmian itu diucapkan pengantin tidak mengatakan apapun. Saat itu juga secara adat keduanya resmi menjadi suami-isteri. Upacara peresmian perkawinan itu dimeriahkan dengan gong waning dan tari-tarian hegong. Setelah peresmian perkawinan acara selanjutnya adalah pemberian nasehat-nasehat dari pihak keluarga.

Pada malam pengantin, tepatnya pada tengah malam, dibuat upacara tama ola uneng plaha oha sorong loni, artinya membentang tikar dan menaruh bantal atau menyiapkan kamar pengantin.

Sang Mempelai Pria, bahagia saat diarak tengah malam menuju rumah mempelai perempuan. Tama Ola Uneng akan segera di mulai hehehe..

Setelah kamar pengantin disiapkan, a'a gete membawa suami-isteri ini ke dalam kamar pengantin. A'a gete (tanta dari pengantin wanita) akan memberi petunjuk-petunjuk praktis tentang kehidupan berkeluarga. Keesokkan harinya (setelah malam pengantin), pagi-pagi buta saat ayam berkokok a'a gete akan membangunkan keluarga baru.

Kepada mereka a'a gete jaga ola wang menaburi dengan beras kuning (pare beret) sambil berkata:

Bua buri ganu wetang,ga'e teto ganu atong [beranaklah seperti jewawut, berkembanglah seperti bayam).


Selama empat hari empat malam setelah malam pengantin, kedua pengantin tidak boleh keluar rumah. Selama itu juga keduanya tidak boleh terkena air dingin.

Alasannya bahwa nanti perkawinan menjadi dingin. Pada hari keempat akan dibuat acara hui popo (mandi cuci).
Setelah empat malam (gumang hutu) kedua pengantin boleh mandi dan pakaian-pakaian dicuci. Hui popo ini biasanya dilakukan di sungai yang airnya mengalir (wair bang). Pengantin mandi agak ke hulu. Sedangkan keluarga lain yang ikut mandi agak ke hilir.

Maksudnya agar pakaian-pakaian yang dicuci para pengantin dijaga agar tidak hanyut oleh air. Jika hanyut hal ini akan membawa dampak yang buruk bahwa keluarga baru itu bakal tidak memperoleh keturunan. Kalau pun mendapat anak, anak itu akan berusia pendek/cepat meninggal.

Setelah pulang mandi keluarga laki-laki membawa makanan ke rumah pihak perempuan untuk makan-makan bersama. Waktu itu sisa belis diselesaikan. Termasuk balasannya kepada pihak keluarga lelaki. Kalau pun belis belum bisa dilunasi belis itu masih bisa dilunasi pada waktu-waktu mendatang.

Penundaaan belis ini mempunyai makna khusus yang biasa diungkapan demikian: ribang nopok koli tokar (harfiah: batu asa sampai aus, pohon lontar setinggi-setingginya). Maksudnya, hubungan kekeluargaan tidak akan putus sampai selama-lamanya.

Berkaitan dengan belis orang Sikka mengenal juga istilah Hama telo (injak telur). Artinya belis diberi habis sesuai permintaan pihak perempuan.

Umumnya hama telo terjadi pada perempuan dengan belis yang sangat mahal. Konsekuensinya, jika terjadi hama telo maka perempuan memutuskan hubungannya sama sekali dengan keluarganya sendiri. Ia tidak akan kembali lagi ke rumah keluarga sekalipun orang tuanya meninggal.

Setelah peresmian perkawinan ada beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki. Kewajiban tersebut dinamakan ngoro remang, yakni pemberian kuda, gading dan uang kepada pihak perempuan menurut kesanggupan.

Pemberian ini bukan kewajiban yang harus dilakukan karena berada di luar belis. Tujuannya hanya sebagai penghapus jerih lelah orang-orang yang terlibat pada acara pernikahan tersebut. Semua pemberian ini biasa dibagikan kepada orang-orang yang mengurus acara pesta.

Berikutnya ada acara pembersihan rumah penginapan laki-laki (jika pihak laki-laki berasal dari kampung lain).
Acara ini dinamakan ha pu halar hok blodong/roni halar, hok blodong (pemberian pihak laki-laki kepada tuan rumah tempat mereka menumpang selama urusan pernikahan).

Upacara Inisiasi di Kab. Sikka, Alex Sila, S.Fil dan Agustinus Joram, S.Fil.
Dinas Pariwisata Kab.Sikka dan Puslitbang STFK Ledalero, 2008

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

28 Warga Terancam Longsor

Curah hujan tinggi selama hampir enam bulan belakang menimbulkan tanah longsor sepanjang 100 meter. Kondisi ini mengancam keselamatan warga Desa Nitakloang dan Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Bahkan tanah longsor bisa terjadi setiap waktu terlebih ketika hujan lebat. Di lokasi sekitar 10 Km arah barat Kota Maumere longsoran ini cukup mengerikan.Kedalaman longsoran mencapai 2o meter dan lebar sekitar belasan meter. Longsoran itu menjangkau lokasi sekitar 100 meter dibibir ir kiri dan kanan jurang.Warga tak berani mendekati lokasi longsoran itu karena sewaktu-waktu tanah akan runtuh ke kalimati yang sangat terjal.Mereka telah membangun pagar yang rapat sepanjang empat meter dari pinngir jurang, mengingatkan mereka tak ke lokasi seberangnya.

Dua unit rumah warga paling riskan berdiri dipinggir jurang. Rumah itu milik Jupin, warga Desa Nitakloang dan satu rumah milik Dominikus Minggu, warga Desa Nita.

Bberepa rumpun bambu dipinngir jurang, pohon kelapa dan kakao sudah tumbang kedalam jurang dan sebagiannya akan tumbuh jika sewaktu-waktu longsor.

Tanah longsor ini bukan hanya mengancam rumah penduduk sekitar lokasi, juga dalam jangka panjang bisa memutuskan ruas ajalan kabupaten dari Nita ke Riit. Pemukiman warga disebelah utara jalan akan diteror tanah longsor jika tak segera ditangani pemerintah daerah.

Kepala Badan Penagggulang Bencana Daerah (BPBD) Sikka, Heriando Ziku, ST, telah memantau tanah longsor pekan lalu. Dia mengaku kondisinya mengerikan dan mengancan pemukiman warga. Luas tanah longsor telah diukur sepanjang 100 meter, kedalaman 19 meter dan lebar 16 meter. "Ngeri, kita tak bisa berdiri dipinggir, tanah bisa runtuh. Lokasinya sangat terjal," ujar Hery di Maumere, Jumat (8/4/2011).

Penanganan segera dalam masa tanggap darurat, ujar Hery, dengan penguatan tebing dan dasar kali pada kelompok ancaman yakni rumah penduduk sekitar 100 meter, lebar 16 meter dan kedalaman 19 meter mengancam sembilan kepala keluarga dan 28 jiwa warga, selain komoditi kelapa dan bambu.

Penanganan jangka pendek ini untuk mengurangi resiko. Kenapa mesti dilakukan tanggap darurat? "Pemicu meningkatnya debit air akibat curah hujan masih tinggi. Bila tidak dilakukan penanganan segera, longsor inimengancam ruas jalan kabupaten Nita-Riit," tandas Hery.

Badan Penanggulang Bencana Daerah, katanya, sudah melakukan evaluasi melibatkan dinas terkait dan rapat persiapan penanggulangan selanjutnya di masa tanggap darurat.

Tanah longsor ini, ujar Hery, juga telah dilaporkan tertulis kepada Bupati Sikka Sosimus Mitang, sekaligus permohonan dukungan dana penanganan kontruksi tebing dan dasar kali. Anggaran yang dibutuhkan sebesar RP. 960.234.000.

"Saya masih tunggu persetujuan bupati, masyarakat kita minta bersabar," kata Hery.(Flores Star, Senin 4 April/'11)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 8 April 2011

Peternak Ayam di SikkaTerancam Bangkrut

Peternak ayam di Kabupaten Sikka (ayam potong/ayam pedaging) terancam gulung tikar. Mereka mengeluh tidak bisa berusaha karena intervensi pihak tertentu yang ingin menghancurkan usaha mereka. Keluhan para peternak ayam tersebut disampaikan Simon Subandi, anggota DPRD Kabupaten Sikka, Selasa (5/04/2011) di Maumere. Simon menyampaikan ini setelah Senin, 4 April 2011 pagi 12 peternak ayam menemui anggota DPRD membeberkan usaha mereka yang terancam bangkrut. Peternak ayam yang terhimpun dalam Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (PPUI) Cabang Sikka mengungkapkan beberapa bulan terakhir ini usaha mereka tidak berkembang baik. Hal ini karena ada pihak tertentu yang menginvestasikan ternak ayam skala besar sehingga harga ayam dipasaran turun drastis.

Perusahaan ini menyediakan bibit, pakan dan obat-obatan. Peternak hanya menyediakan kandang menampung bibit ayam. Namun ketika ayam dijual, pemasarannya diatur oleh perusahaan tersebut dengan menjual dibawah standar harga yang berlaku selama ini.

“Pedagang ayam kita menjual Rp 23 ribu/kg, tetapi mereka menjual Rp 12 ribu/kg. Karena ditawarkan dibawah harga pasar peternak ayam kesulitan memasarkan ayam. Pedagang ayam didatangi dan ditawarkan dengan harga murah, bahkan bisa kredit,” kata Simon.

Kedatangan pengusaha ayam ini ingin memonopoli penjualan ayam di Sikka. Peternak meminta Dewan dan pemerintah daerah menyikapinya. Para peternak menduga ada oknum yang melindungi pihak-pihak tertentu menguasai harga ayam dan mematikan peternakan ayam setempat.

“Kalau tidak ada tindakan nyata dari pemerintah dan dewan, peternakan ayam di Sikka akan gulung tikar. Kesepakatan harga jual dipasar, dilanggar pihak tertentu,” tegas Simon.

DPRD Sikka merencanakan memanggil Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Sikka menjelaskan masalah yang dikeluhkan peternak ayam.

“Kami tidak mau rakyat Sikka dibuat susah, mau berusaha di Sikka Dewan dukung, tapi jangan mematikan usaha peternak disini yang ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Siapapun yang ingin berusaha di Maumere marilah dengan bersama-sama masyarakat Sikka sehingga masyarakat bisa terbantu,” kata Simon.

DPRD akan membela kepentingan masyarakat Sikka dan jangan hanya menguntungkan pihak tertentu saja. “ Pemerintah dalam mengambil kebijaksanaan dan keputusan harus pro rakyat, jangan membuat rakyat susah,” kata Simon.(Harian Flores Star)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Wednesday, 30 March 2011

Wairterang, Riwayatmu Kini...

Wairterang. Nama yang akrab bagi sebagian warga Maumere. Tidak salah, karena daerah ini dengan pemandangan pantai dan naturalnya alam sejak tahun 1970-an telah menjadi salah satu tempat menarik yang paling dikunjungi dihari minggu maupun libur. Air segar yang berada di pinggiran jalan, mengalir deras tanpa putus dari pegunungan. Hutan lebat nan hijau masih kita dapati. Dan monyet serta kera berseliweran dijalan tak takut untuk mendekati para pengunjung. Semua bisa dinikmati secara gratis. Kini Wairterang cuma tinggal cerita. Kawanan kera telah pergi, mungkin telah punah. Air segar nan dingin tak lagi mengalir. Pantainya penuh sampah. Dan pasti Wairterang tak lagi menjadi tempat liburan menyenangkan warga Maumere. Namun potensi kawasan ini tak begitu saja hilang bagai debu. Sebuah kapal karam peninggalan jaman kemerdekaan ditemukan di perairan Wairterang. Mengejutkan memang. Bukti sejarah diperairan ini seakan mencolek kenangan pada daerah ini. Memungut daun-daun pantai, membangun istana pasir, membuka lepah dan membiarkan makanan diatas kain dan tikar terkena buih-buih samudera...hmmm..

Disekitar derah ini, berdiri beberapa resort. Maklum, Wairterang merupakan salah satu titik keberangkatan menuju destinasi penyelaman Teluk Maumere yang memiliki pemandangan bawah laut menakjubkan.

Perairan Wairterang berada di Desa Wairterang Kecamatan Waigete Kabupaten Sikka. Lokasi ini berada pada jalur transportasi jurusan Maumere – Larantuka. Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi darat, baik roda dua maupun roda empat, dengan jarak tempuh kurang lebih 30-40 menit perjalanan dari Maumere. Letaknya kurang lebih 30 km dari Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka.

Secara geografis Desa Wairterang berada pada jalur posisi utara Pulau Flores. Mendekati Desa Wairterang disebelah kiri dan kanan terdapat hutan dan semak belukar. Disebelah selatan jalan raya terpampang perbukitan menghijau. Disepanjang lokasi pinggir pantai teluk ini tumbuh beberapa jenis pohon seperti kesambi, asam, bunut, lamtoro, nila daln lainnya. Sedangkan bagian timur terdapat batu-batu besar. Batu-batu ini merupakan hasil dari letusan Gunung berapi Egon.

Salah satu Resort Dive yang ada dilokasi ini adalah Ankermi Resort. Disamping itu juga terdapat resort-resort lainnya disepanjang perjalanan menuju lokasi kapal karam. Sebut saja misalnya Wodong Beach. Dulu juga didekat lokasi Pantai Wairterang terdapat resort milik orang Perancis. Kini resort tersebut telah lenyap entah kenapa.

Jauh sebelum itu, sejak tahun 1970-an Pantai Wairterang yang berpasir hitam adalah salah satu lokasi menarik yang selalu dipadati pengunjung setiap hari minggu maupn libur untuk menyempatkan diri mandi-mandi dilaut yang tenang tidak beriak. Apalagi dibagian selatan, diseberang jalan raya terdapat bak penampung yang mengalirkan air segar dari pegunungan. Belakangan ini Wairterang menjadi sepi dan jarang dikunjungi orang.(Oss/Eny/Suara Sikka)

Foto : Wairterang (Laurensius Reginaldus)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Ketika Orang Flores Nanggap Wayang

Wayang sangat popular di Jawa, yang selalu memberikan filosofi tentang nilai-nilai kehidupan, baik di masa lalu, masa kini maupun masa mendatang. Sesuai dengan perkembangan dan seiring perjalanan waktu, wayang kini sudah mengejawantah menjadi universal yang bisa dipahami mayarakat luas. Tidak sebatas mayarakat Jawa saja, tapi juga masyartakat Indonesia di luar Pulau Jawa dan bahkan di mancanegara.
Salah satu diantaranya adalah Antonius Kopong Liat Ratumakin, pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur yang coba memahami filosofi orang Jawa melalui wayang dalam bukunya yang berjudul “Orang Flores Menanggap Wayang”. Ditengah kenyataan topik kebudayaan yang semakin terpinggirkan, hadirnya buku wayang tersebut memuat pandangan awam terhadap wayang tentu sangat standar sesuai kemampuannya. Salah satu fokusnya membahas wayang sebagai media.

“Ya kita umpamakan wayang sebagai panggung kecil yang redup berhadapan dengan dunia televisi yang megah dan luas. Wayang kalah suara. Wayang tetap eksis mengisi relung jiwa manusia Indonesia,” ungkap Antonius Ratumakin saat peluncuran bukunya di Musium Nasional.

Menurut Antonius, wayang tidak saja popular dan digemari masyarakat di pulau Jawa saja tapi juga di daerah-daerah lainnya di Indonesia termasuk di Flores.
“Wayang sebenarnya tidak saja digemari masyarakat Jawa tetapi juga di daerah lainnya di Indonesia. Itu bisa saja karena orang Jawa tersebar di daerah lain selain Jawa. Tetapi juga orang lain yang bukan Jawa suka dengan wayang,” kata Antonius

Meski dulu wayang digemari oleh masyarakat, ternyata kini kalah bersaing dengan media hiburan lain, terutama media televisi yang jauh lebih lengkap, modern, luas dan tentunya lebih hebat dari wayang. “Wayang sekarang ini diibaratkan sebagai panggung kecil yang redup kalah berhadapan dengan media televisi yang megah, luas, dan tentunya lebih popular,” kata Antonius

Padahal pada jaman dahulu wayang sangat berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa pada abad 14. Dan, juga wayang sangat efektif digunakan oleh para penguasa pada jaman orde baru sebagai alat mendekati hati rakyat . Dengan buku ini penulis berharap wayang dapat kembali eksis bukan saja sebagai media hiburan tetapi sebagi media yang dapat menyebarkan informasi kepada masyarakat, yang kini telah dikuasai oleh media televisi. Untuk mencapai itu, semua harus mencintai wayang sebagai warisan budaya Indonesia dan wayang harus menasional yang menularkan ke-Indonesiaan yang memiliki sifat Pancasilais, gotong royong, dan kebersamaan .

“Kedepan kita berharap bisa mendengar Jenderal Nonton Wayang, wayang masuk istana, wayang masuk sekolah, wayang masuk gereja atau wayang sudah TV, Sehinggga wayang kedepan wayang bisa menjadi bukan saja sebagai hiburan tetapi wayang sebagai media informasi dan media pemersatu,” kata Antonius Ratumakin.
Media pemersatu bangsa
Di dalam buku ini berceritakan tentang pandangan awam terhadap wayang yang sangat standar, salah satu fokusnya membahas wayang sebagai media yang telah ditinggalkan. Wayang sebagai panggung kecil yang redup kalah berhadapan berhadapan dengan media televisi yang megah dan luas dan tentunya lebih popular.

Padahal pada jaman dahulu wayang sangatlah berperan penting dalam penyebaran agama islam di Jawa pada abad 14, dan juga wayang sangatlah efektif digunakan oleh para penguasa pada jaman orde baru sebagai alat mendekati hati rakyat .

Antonius berharap wayang dapat kembali eksis berkiprah bukan saja sebagai media hiburan tetapi sebagi media yang dapat menyebarkan informasi kepada masyarakat, yang kini telah dikuasai oleh media televisi. “Apabila wayang sudah bisa masuk istana, wayang bisa masuk sekolah, wayang bisa masuk gereja atau wayang sudah TV secara berkala, maka wayang kedepan wayang bisa menjadi bukan saja sebagai hiburan tetapi wayang sebagai media informasi dan media pemersatu,” ungkap
Antonius

Antonius memaparkan sebelum menulis buku ini, dia coba menelusuri, ternyata wayang memiliki sejarah panjang sejak awal kerajaan Nusantara hingga hari ini. Wayang tetap eksis dan mengandung nilai kehidupan yang adiluhung. Tapi pada saat bersamaan muncul pertanyaan besar, kalau memang demikian, mengapa kepemimpinan Jawa serba samar, tertutup dan mistis ? Mengapa kultur masyarakatnya begitu menjaga harmoni hingga rebah pada situasi yang menentukan sekalipun ? Dimanakah nilai wayang itu ?

Jawaban pertanyaan itu tenyata tidak lagi relevan. Dunia sudah jauh berubah. Tidak hanya wayang yang akan punah, kebangsaan kita juga terancam. Negara sedang sakit moral dan materi. Kita memerlukan wayang dalam konteks yang berbeda, kedepan.

Akan ada Sangh Samudra atau Sri Lautani, tokoh baru yang mewakili karakter manusia Indonesia dalam percaturan global. Seperti lautan, dia luas, biru dan dalam. Bisa tenang, bisa bergelora. Lautan mengandung kekayaan dan keindahan. Ada bunga karang didalamnya, indah dan kuat, mewakili karakter wanita Indonesia.

Wayang saatnya bertransformasi secara baru yang memerlukan strategi kebudayaan, ditanamkan secara sistematis kepada masyarakat dan generasi baru, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah diseluruh Indonesia.

“Setelah orang Flores, mudah-mudahan orang Irian, Ambon, Aceh, Padang, Batak, Makassar, Manado, Timor, Kalimantan ikut menanggapi, sambung-menyambung menjadi satu. Tentu saja kita boleh kritis, mengapa wayang, mengapa tidak seni yang lebih netral, mengapa Jawa sentris,” ungkap Antonius

Dikatakan sesungguhnya wayang paling teruji, bereputasi nasional dan diakui dunia. Wayang sesungguhnya tengah berbicara dan mencari wajah manusia Indonesia secara utuh , jati diri dan karakternya. Aapa dan siapa manusia Indonesia yang sesungguhnya.(sigit suhardi)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 24 March 2011

Tari, Musik dan Tenun dalam Budaya Ata Maumere

Flores adalah 1001 budaya. Budaya yang beragam dan menjadi warna khas hampir disetiap suku di seluruh kabupaten. Flores juga berarti bunga dari arti kata Floles ("Pulau Bunga") pemberian bangsa Portugis. Memiliki keunikan nan khas selain keanekaragaman bahasa daerah pun keanekaragaman kesenian (musik dan tarian) yang mempunyai nuansa dan makna tersendiri sesuai konteks budaya adat setempat. Wilayah Kabupaten Sikka mempunyai banyak ragam tari dan musik tradisional yang dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan yang berkaitan dengan manusia dan kemanusiaan antara lain cultural built-in filter dalam sanubari kita, untuk acara-acara hiburan dalam berbagai macam hajad termasuk sekarang sedang trendy untuk keperluan pariwisata.
Secara singkat bentuk seni pertunjukan (seni tari dan musik) dapat dilibatkan berdasarkan jenis dan fungsinya masing-masing. Yuuk intip :

Seni Tari

1. Lodong Me : berbentuk tari tradisional yang biasa ditarikan pada upacara bayi turun ke balai-balai rumah dan perkenalan bayi pada bumi pertiwi.

2. Gareng Lameng : Tarian penyunatan sebagai gambaran bahwa si anak laki-laki telah memasuki masa remaja.

3. Lado Gahar : Tarian upacara mengetan padi

4. Togo Pou : Tarian menarik perahu dalam upacara Patikarapu

5. Tarian Bebing : Tarian penyambutan untuk pahlawan yang pulang daari medan perang.

6. Hegong : Tarian penyambutan pahlawan yang lebih mengutamakan improvisasi individu.

7. Ai-Nggaia : Tarian kemenangan perang, lokasi daerah Lio

8. Togo Codu : Tarian kemenangan perang, lokasi pulau Palue

9. Togo Gong Gete dengan jenis-jenisnya : togo ekon, togo liwun, togo degu deang, togo gong, tarian tandak.

10. Hele Larak : Tarian mencangkul kebun

11. Oam Mbele : Tarian menumbuk padi

12. Sora : Tarian kegembiraan dalam pesta-pesta adat.

13. Ong Eng : Tarian kegembiraan nada-nada diatonis tanpa kata-kata

14. Missa : Tarian pergaulan masyarakat Palue

15. Bobu : Sendratari peninggalan Portugis. Bercerita tentang 12 orang pemuda yang berusaha mempersunting seorang Putri yang bernama Prinseja, pilihan putri prinseja jatuh pada pemuda maskador seorang pedagang.

16. Rokatenda : Tarian pergaulan muda/I yang dominan ditarikan pada setiap kesempatan pesta.

Seni Musik

1. Musik Gong Waning : Seperangkat ansambel musik terdiri 5-6 buah gong, 2 buah gendang atau waning, dan sebuah bambu tunggal berukuran 1,5 meter bambu ini biasanya dipecahkan untuk mendapatkan keseragaman bunyi antara gong dan waning. Ansambel gong waning biasanya dihadirkan pada semua acara-acara hiburan profan dan non profan.

2. Suling/Klekor : Dalam bahasa Sikka disebut klekor terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu : klekor ha wuang atau suling tunggal dan Klekor Riwung atau berupa satu orkes musik suling dengan pembagian suara tenor, alto,sopran dan bas.

3. Hego/Eko : Semacam snar mulut bambu, yang dibunyikan melalui rongga mulut.

4. Letor : Alat musik xylaphon dari kayu (pohon denu) sebanyak 6 (enam) bilah. Sebelum alat
musik gong masuk ke wilayah Sikka, orang Sikka menggunakan musik letor dalam setiap kesempatan upacara. Nada-nada letor sama dengan nada-nada pada alat musik gong.

5. Gendang Sora : Gendang yang bentuk dalam ukurannya lebih kecil dari alat musik waning. Gedang sora biasanya dihadirkan bersama klekor riwung dan mengiringi pantun-pantun.

6. Hitek/Werit : Alat musik yang terbuat dari sebatang bambu dengan ukuran kurang lebih 30 cm, cara memainkannya dipetik hampir sama pada alat musik sasando.

Seni Kerajinan Tradisional

a. Seni Tenun Tradisional
Seni Tenun Tradisional dikerjakan oleh ibu-ibu sebagai industri rumah tangga dengan menggunakan peralatan-peralayan tradisional yang terbuat dari bahan lokal. Peralatan-peralatan tersebut seperti “ Daong, Tuang, Ai Lorung, Jata, Ngeung, Pati, Ojang, Pine”.

Untuk membuat tenunan berwarna warni mereka menggunakan ramuan-ramuan tradisional yang terbuat dari tumbuhan lokal seperti “Bur, Tarung, dan Biji Asam”. Ramuan tersebut juga membuat tenunan menjadi kuat dan indah. Kain tradisional/sarung khusus untuk wanita disebut”Utang”, sedangkan untuk pria disebut “Lipa”.

Sarung tradisional Sikka ini memiliki banyak motif. Motif-motif tersebut dirancang dengan bagus dan menggunakan simbol-simbol seperti Manusia, Binatang, Tumbuhan dan Bintang dan punya makna tersendiri.

Motof-motif tersebut adalah :

* Rempe Sikka
* Jarang Atabiang
* Dala Mawarani
* Oko Kirek
* Naga Lalang
* Korasong Manu Walu
* Korasong Doberabu
* Agi Pelikano

b. Penyulingan Moke
Merupakan proses penyulingan minuman alkohol tradisional, yang disebut moke atau tuak. Tempat penyulingan moke disebut Kuwu. Penyulingan tersebut menggunakan peralatan tradisional yang dibuat dari bahan lokal seperti bambu dan periuk tanah.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sensasi Bis Kayu di Flores

“KAMU tahu letak neraka? Ada di kampungmu. Neraka adalah menumpang ‘bis kayu’ di Pulau Flores,” kata seorang misionaris asal Spanyol kepadaku di salah satu tempat yang elok di Timor Timur (kini Negara Timor Leste) medio Juli 1997. Kata-kata itu sungguh menggaruk gengsiku yang kala itu masih segunung. Wajah saya berubah merah. Malu…!
Awalnya saya sempat menganggap pernyataan itu sekadar guyonan di meja makan karena dia tahu asalku dari sana. Ternyata pastor berpostur tinggi besar dan brewokan itu bersungguh-sungguh dengan pernyataannya. Dia merasa sesak napas saat menumpang bis kayu di Flores.
“Kamu bayangkan, di dalam bis kayu saya duduk bersama babi, kambing, ayam, jagung, beras, kelapa, sayur, kayu bakar,” kata sang misionaris yang melakukan perjalanan ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur tahun 1995.

Ah, sebelum sidang pembaca kompasiana bingung tentang bis kayu, baiklah sekilas saya terangkan dulu benda yang satu ini. Sejatinya bis kayu adalah truk. (Di NTT biasa disapa Oto Truk). Truk yang dimodifikasi. Ada tempat duduk terbuat dari papan dan beratap. Demi melindungi penumpang, barang dan hewan dari hujan dan angin, bis kayu dilengkapi terpal penutup kedua sisi.

Khusus di wilayah barat Pulau Flores yaitu Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur, bis kayu dikenal dengan nama Oto Kol. Oto Kol alias Bis Kayu itu sama saja. Cuma beda sapaan. Secara umum masyarakat Nusa Tenggara Timur mengenal bis kayu.

Di NTT ada sejumlah pulau besar antara lain Flores, Sumba, Timor, Alor dan Lembata. Survei membuktikan, populasi bis kayu alias oto kol terbanyak di Flores. Lain lagi di Alor, mereka lebih intim dengan panser. (Mungkin lain waktu baru saya kisahkan sendiri tentang panser yang menjadi idola orang Alor. Hehehe…..)

Dari sisi jumlah, keberadaan bis kayu sekarang tak sebanyak kondisi tahun 1997, tetapi alat transportasi tersebut belum punah. Dia masih menjadi andalan marhaen karena kegesitan dan ketangguhan menerobos jalan desa dan gunung. Menembus lembah dan ngarai. Masuk sampai ke udik. Mudah Anda temukan di pasar mingguan seantero Flores. Pesonanya belum pudar meski orang NTT sekarang makin doyan dengan Avansa…

***
BAGI mereka yang mengalami pengalaman perdana menumpang bis kayu seperti misionaris Spanyol itu, kendaraan itu sungguh neraka dunia. Perasaan risih dan kesal tentu berkecamuk hebat karena manusia duduk berdesak-desakaan dengan hewan dan barang. Ada sayur, ada ayam, babi, kambing, anjing, pisang, kelapa, kakao, cengkeh, biji kopi, kemiri, jambu mete, beras, kayu bakar, ikan asin, jeriken minyak tanah, solar dan lainnya.

Makin lengkap kesengseraanmu kalau jalan yang dilewati bis kayu atau oto kol itu berlubang-lubang. Di Flores dan NTT umumnya sekitar 70 persen jalan pedesaan kondisinya rusak. So pasti Anda akan terjaga sepanjang jalan. Badan terasa sakit, pinggang seolah mau patah dan (maaf) pantat rasanya tebal karena duduk di atas papan kayu. Itu bagi orang baru.

Bagi mereka yang sudah biasa, dia akan tidur sepanjang perjalanan. Malas tahu dengan keadaan sesak-berdesak. Mereka menikmati goyangan bis kayu. Ada surga di sana. Apalagi mata mudah terpejam menumpang “kendaraan rakyat ” itu karena belaian angin sepanjang jalan. Itulah keunggulan bis kayu, dia tak butuh AC buatan manusia! Sungguh hemat energi.

Lantaran tempat duduk empuk di bis kayu cuma untuk dua orang di samping sopir, maka tempat itu selalu menjadi rebutan. Untuk mendapatkan tempat itu, calon penumpang harus mem-booking jauh-jauh hari kepada sopir yang sampai hari ini masih kaum lelaki. Sapaan kesayangan bagi mereka adalah “Om Sopir”. Kalau terlambat pesan, Anda mesti siap untuk duduk di atas papan. Bayangkan sendiri kalau jarak tempuh 70 hingga 80 km.

Seorang dokter PTT asal luar NTT pernah mengisahkan pengalamannya yang berkesan tentang bis kayu. “Awalnya saya risih, tapi lama-lama saya bisa menikmati duduk di kursi bis kayu,” kata dokter yang tugas di Manggarai dan sekarang studi lanjut di Filipina.

Menurut dia, duduk di bis kayu malah bagus untuk kesehatan. Bis kayu adalah terapi bagi orang yang kerap mengalami nyeri punggung. Dokter itu sudah merasakan khasiatnya. Jadi, kalau Anda termasuk orang dengan penyakit nyeri punggung, sebaiknya datang ke Flores dan menikmati sensansi bis kayu. Hehehe…

Untuk menghibur para penumpangnya, sopir bis kayu akan memutar musik dari tape rocorder yang dilengkapi dengan pengeras suara. Lagu kesayangan Om Sopir di Flores adalah dangdut dan lagu-lagu daerah yang sedang populer. Juga lagu daerah Ambon, Manado dan Batak. Musik dan lagu sungguh tergantung selera Om sopir.

Sebagai kendaraan rakyat, bis kayu amat fleksibel. Dia tidak cuma mengangkut manusia dan barang melewati rute yang sudah dipatok. Jika ada kedukaan, bis kayu siap mengantar keluarga berduka melayat jenazah hingga membawanya ke pekuburan. Jika masyarakat hendak melakukan aksi demontrasi, bis kayu juga siap mengantar pergi dan pulang. Tinggal negosiasi harga. Kalau cocok, oke!

Menjelang pilkada atau pemilu seperti hari-hari ini, bis kayu laris manis. Dan para sopir pasang tarif lebih tinggi dari biasanya. Bis kayu siap mengantar massa menuju arena kampanye, tergantung permintaan partai atau caleg. Sopir bis kayu biasanya hafal jadwal kampanye karena itulah salah satu sumber pemasukan bagi mereka dan pemilik bis kayu.

***

SELAIN bis kayu alias oto kol yang meletupkan canda tentang neraka, kata ”neraka” kembali mengganggu saya saat menjemput seorang sahabat yang tiba dari Aimere, Kabupaten Ngada menggunakan jasa Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Umakalada di Pelabuhan Bolok-Kupang bulan Oktober tahu lalu. “Saya menemukan neraka di geladak Umakalada,” kata sahabat itu sambil geleng-geleng kepala begitu menginjakkan kaki di Dermaga Bolok.

Dia hendak pulang ke salah satu kota di Pulau Jawa setelah berlibur di kampung asal istrinya. Tidak mendapat tiket pesawat ke Kupang, menumpang kapal feri jadi pilihan agar bisa kembali sesuai jadwal cuti.

“Kecuali toilet, hampir seluruh bagian Umakalada penuh manusia dan barang. Sebagian penumpang duduk di tangga kapal karena tidak ada lagi tempat kosong. Saya cemas selama perjalanan. Tidak nyaman. Sulit tidur. Tapi saya heran, banyak juga penumpang yang bisa tidur nyenyak. Mungkin sudah biasa bagi mereka,” katanya sambil tertawa.

Memang tidak mengherankan saya. Bis kayu dan kapal feri adalah bagian dari keseharian mayoritas penduduk NTT. Tidur di geladak berdekatan dengan kambing, babi, ayam, kuda, sayur, beras, sepeda motor, truk dan mobil adalah hal biasa. Kapal feri yang nyaman masih sebuah cita-cita.

Kapal di NTT memakai prinsip ALS. Asal Lintas Saja dulu. Kenyamanan bukan prioritas utama. NTT juga tempat relokasi kapal bekas yang sudah bosan dan karatan melayari rute Surabaya-Madura, Ketapang-Gilimanuk atau Bakahuni- Merak.

Sudah berulang kali dirilis bahwa feri milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) seperti KMP Ile Mandiri, Kambaniru, Ile Ape, Cucut, Balibo, Rokatenda, Mutis dan Uma Kalada usianya sudah tua. Rentan terhadap kecelakaan dan tak mampu memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat. NTT pernah membeli kapal sendiri, namun nasibnya tidak jelas sampai sekarang karena salah urus. Lebih lama berlabuh ketimbang berlayar. Mirip kapal-kapalan.

Markus, kawan akrab beta yang anggota Dewan baru-baru ini berkata jujur. Sejak mendapat sapaan Wakil Rakyat yang Terhormat lima tahun silam, dia kikuk dan malu menumpang kapal feri. “Gengsi ko. Biar dana cekak, saya usahakan pakai pesawat. Pinjam pun tak apa,” katanya.

Saya kira banyak orang seperti Markus. Setelah bertitel “pejabat negara” atau pekerja NGO dengan funding internasional, nyaring berteriak pro rakyat dari ruang kerja ber-AC, jok mobil empuk dan jendela pesawat. Kenyataan di luar sana sekadar dibayang-bayangkan saja. Ah, rakyat! (Dion DB Putra/Kompasiana)*

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---