Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Tuesday, 14 June 2011

Teluk Maumere, Ikon Pariwisata Flores

MATAHARI makin tinggi dan kemilau sinarnya kian menyengat. Namun, Flavianus Dominggo bersama istri dan anaknya tetap bergembira menikmati indahnya atmosfer laut di Teluk Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Flavianus, warga Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Sikka, menunggui anaknya yang belum selesai menyantap nasi bungkus sambil bercengkerama dengan istrinya.
Sinar Matahari tak sampai menyiksa kulit ketiganya karena mereka duduk di bawah pohon rindang sambil menikmati suara deburan ombak dan panorama pantai yang tenang memukau dilatarbelakangi pemandangan gugus pulau yang hijau menjulang.
”Tempat ini memang nyaman untuk rekreasi dan sejak tahun 1990-an, seiring dengan gencarnya promosi, masyarakat Maumere makin mengenal tempat ini sebagai tempat wisata,” kata Flavianus yang kemudian pamit melanjutkan perjalanan ke desanya, sekitar 15 kilometer (km) ke arah timur.

Tempat di mana Flavianus melepas penat memang menyimpan sejarah panjang, yakni Pantai Wairterang dengan pemanis hutan bakaunya di Desa Wairterang, Kecamatan Waigete. Letaknya sekitar 31 km sebelah timur Kota Maumere.

Untuk mencapai lokasi itu tak terlalu sulit. Anda bisa menyewa mobil dari Maumere. Tarif sewa mobil (plus sopir) rata-rata Rp 50.000 per jam atau bisa juga dengan angkutan kota atau ojek.

Tak jauh dari Pantai Wairterang juga terdapat dua air terjun yang tak kalah unik, Wairhoret dan Tunaohok, serta mata air yang jernih. Itu sebabnya tak heran jika Pantai Wairterang menjadi salah satu obyek wisata bahari favorit di Sikka.

Akan tetapi, tempat wisata ini terkesan tiarap, redup kharismanya, terutama sekitar tahun 2003, setelah penghancuran Cottage Praja milik Pemerintah Kabupaten Sikka oleh warga. Di tempat itu dulu juga terdapat restoran.

Perkembangan pariwisata di Sikka khususnya Teluk Maumere, termasuk di dalamnya Pantai Wairterang, memang terkesan lambat meski promosi gencar telah dilakukan di era 1980-an oleh almarhum Frans Seda, tokoh tiga zaman, antara lain dengan membuka Hotel Sao Wisata dan biro perjalanan.

Cottage Praja, yang dibangun sekitar tahun 1995, kini tinggal puing-puing. Lokasi itu menjadi tak terawat, semak belukarnya makin tinggi.

”Masyarakat dulu mengamuk karena cottage itu terkesan menjadi semacam tempat mesum,” kata Kepala Dusun Wodong, Desa Wairterang, Makarius Rindu.

Warga umumnya menghendaki di Pantai Wairterang kembali difungsikan sebagai pasar tradisional atau pasar mingguan yang sejak dulu berlangsung setiap hari Kamis. Pasar itu muncul diperkirakan di masa kemerdekaan.

Masyarakat yang datang ke pasar tersebut untuk bertransaksi jual beli atau barter adalah para nelayan dari pulau-pulau sekitar yang menjual hasil laut serta warga dari daerah pegunungan, termasuk dari Kecamatan Talibura, desa-desa lain di Waigete, dan kawasan Geliting. Masyarakat dari gunung biasanya menjual hasil perkebunan, seperti kelapa, pisang, jagung, dan ubi kayu.
Pesanggrahan Belanda
Sejarah penting lainnya, menurut Yustina Karo (65), warga Dusun Wodong, di sekitar pasar Wairterang dulu berdiri pesanggrahan Belanda. Petugas pos masa itu yang hendak mengantar surat dari Maumere ke Larantuka biasa beristirahat di pesanggrahan tersebut.

Tak jauh dari bibir Pantai Wairterang, sekitar 31 meter, terdapat bangkai kapal Jepang, semacam kapal pengontrol dengan panjang 61 meter dan lebar 13 meter. Kapal itu tenggelam karena dibom dan diperkirakan terjadi di masa Perang Dunia II. Posisi badan kapal diperkirakan menghadap ke timur.

Kapal itu sampai saat ini menjadi rumah yang nyaman bagi ribuan jenis ikan sekaligus menjadi obyek wisata bawah laut yang sayang dilewatkan begitu saja oleh penyelam.

Dengan berbagai keunikan di Pantai Wairterang juga mengingat begitu besarnya potensi Teluk Maumere, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka telah memfokuskan, daerah perairan di kawasan timur Sikka itu sebagai obyek wisata unggulan kabupaten.

”Diharapkan Teluk Maumere menjadi ikon pariwisata Sikka, juga menjadi ikon lain untuk pariwisata di Flores yang sudah sangat dikenal selama ini, seperti Manggarai Barat dengan Taman Nasional Komodo, Ngada dengan Taman Laut 17 Pulau Riung, Danau Kelimutu di Ende, ziarah rohani Semana Santa di Larantuka, dan perburuan paus di Lamalera (Lembata),” kata Lukas Laga Lew,o Kepala Seksi Pengembangan Sarana dan Prasarana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka.

Teluk Maumere dipromosikan dengan nama Taman Laut Gugus Pulau Teluk Maumere mengingat di kawasan seluas lebih kurang 59.450 hektar, yang meliputi Kecamatan Waigete, Kewapante, dan Maumere, itu juga dikelilingi belasan pulau besar dan kecil.

Menurut Lukas, Pemkab Sikka rencananya akan membangun kembali kawasan Cottage Praja yang telah hancur, antara lain dengan tempat penginapan, restoran, pusat cendera mata, gudang penyimpanan peralatan selam wisatawan, menyiapkan kapal patroli, juga kapal bagi wisatawan untuk berkeliling (glass bottom boat) menikmati keindahan atmosfer dan taman laut teluk tersebut. Pantai Wairterang dipilih sebagai pintu utama Teluk Maumere.

”Proyeksinya, Teluk Maumere akan dikembangkan mirip dengan Taman Laut Nasional Bunaken di Sulewesi Utara. Tahun 2012 mulai beroperasi dengan alokasi anggaran dari APBD. Besar alokasi dana akan ditentukan saat pembahasan APBD 2012,” kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka Maria Vianey Daga.

Teluk Maumere tergolong taman laut yang memiliki keindahan luar biasa di Indonesia. Sedikitnya 1.200 spesies ikan hidup di perairan itu. Semoga pembangunan mendatang benar-benar mampu mengangkat daerah ini menjadi obyek wisata yang diincar wisatawan (Samuel Oktora/Kompas Travel)
www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Transmigran Sikka Terlantar

Dua puluh lima kepala keluarga (KK) atau sekitar ratusan jiwa warga Kabupaten Sikka dikirim Pemerintah Kabuaten (Pemkab) Sikka mengikut program transmigran. Selama enam bulan di sana, mereka hidup telantar di Kampung Baru, Desa Lengkong Nyadong, Kecamatan Ela Hilir, Kabupaten Malawi, Kalimantan Barat.
Pada Sabtu (11/6/2011) siang, sebanyak 15 KK atau 60 jiwa tiba kembali di Maumere, Sikka meninggal lokasi transmigrasi di Melawi.
Fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, kapela bahkan lebih fatal lahan pertanian seluas dua hektar yang dijanjikan pada saat sosialisasi tidak tersedia.
Penduduk asli Lengkong Nydong tak mau menyerahkan lahannya kepada transmigran, karena tidak ada pembicaraan sebelumnya pemerintah dengan pemilik lahan.

Para transmigran yang tak tentu nasibnya di sana, dipimpin kaum pria/ kepala keluarga bersama istri dan anak-anak nekat menggelar aksi damai tiga minggu dan bermalam di Kantor Bupati Malawi. Namun tuntutan lahan pertanian, fasilitas kesehatan dan sekolah tidak ada jawaban.

Mereka memutuskan kembali ke Sikka. Kedatangan 60 jiwa menumpang KM Dharma Kencana difasilitasi relawan Romo Gaby, dan Romo Agus serta staf Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Malawi. Kedua rohaniwan Katolik itu menemukan para transmigran ketika melakukan aksi damai di halaman Kantor Bupati Malawi.

Kepala Dinas Sosial dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sikka, Gregorius Rehi kepada wartawan di Pelabuhan Lorens Say Maumere Sabtu (11/6/2011) siang menyatakan, kepulangan transmigran atas kemauan sendiri.

Dia mengatakan, pra transmigran menandatangani surat pernyataan kembali ke Maumere. Surat itu diterimanya dari Pemkab Malawi diberikan Departemen Transmigrasi RI.

“Mereka pulang atas kemauan sendiri. Fasilitas di lokasi semuanya tersedia,” kata Rehi. Namun, penjelasan Rehi dibantah para transmigran. “Kami sudah enam bulan menderita di sana. Bapak tidak pernah merasakan. Kami seperti dibuang saja,” tandas kaum ibu.

Geradus Badar, dan Robertus Lotu, mengatakan, 10 KK yang masih bertahan di lokasi transmigran nasibnya buruk. Mereka malu pulang kampung karena belum memiliki apa-apa yang bisa dibawa pulang, sedangkan harta benda yang semula dimilikinya telah dijual.

“Mereka kuli di kebun-kebun kepala sawit. Sehari dibayar Rp 42.000, makanan dibawah dari rumah. Kami mau kerja kebun, status lahan tidak jelas,” keluh Geradus dibenarkan Robertus.

Meski program transmigrasi tahun 2010 menuai soal, Disnakertrans Sikka telah mendaftar 166 KK dari jatah 86 KK yang akan dikirim pada tahun 2011 ini. Pengiriman transmigran asal Sikka dilakukan sejak 2001 sampai kini mencapai 4.525 KK atau 19.171 jiwa. Mereka menempati lokasi transmigran di Propinsi Kaimantan Barat, Kalimantan Timur, Maluku dan Sulawesi Barat (Harian Flores Star/ius/kk).

Foto: Flores Star
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 11 June 2011

Cinde Minta Bebas

Sidang Tenggelamnya Karya Pinang
Kontroversial terjadi dalam sidang pembelaan tenggelamnya Kapal Motor (KM) Karya Pinang di Pengadilan Negeri Maumere Kamis (9/6/2011). Ketika nahkoda tembak KM Karya Pinang , Frans Cinde minta majelis hakim memebebaskannya dari tuntutan 12 tahun penjara, puluhan anggota keluarga minta majelis hakim menghukum Frans Cinde seberat-beratnya. Keluarga korban datang ke Pengadilan Negeri Maumere di Jalan Jenderal Ahmad Yani menumpang satu truk dan dua angkutan kota ini khusus menyaksikan persidangan Cinde. Meski suasana tegang dengan keluarga yang berteriak dari luar ruangan, sidang berjalan tertib dikawal puluhan anggota Polres Sikka dan Brimobda Maumere. Menurut keluarga, ulah anggota DPRD Sikka, Cinde telah mengakibatkan mereka kehilangan sanak keluarga selama-lamanya. Mereka berteriak minta keadilan hukum ditegakkan dan jangan sekali-kali menjatuhkan hukuman ringan.
Bila hukuman ringan, keluarga mendesak majelis hakim melepas Cinde dan mereka memberi hukuman kepadanya.

Permintaan membebaskan Cinde dari hukuman dan dakwaan disampaikan kuasa hukumnya Viktor Nekur,S.H, menanggapi tuntutan 12 tahun penjara. Perbuatan Cinde menurut JPU melanggar pasal 338 dan pasal 351 ayat 1 KHUP.

Menurut Viktor, Cinde tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan pidana seperti tuntutan JPU, sehingga terdakwa harus dibebaskan dari tuntutan hukuman dan tahanan.

Dia berkeyakinan, setiap proses peradilan harus berdasarkan ketentuan hukum. Tenggelamnya KM Karya Pinang diluar batas kemampuan Cinde, sehingga tidak mampu menolong semua korban.
Dari fakta persidangan dan keterangan saksi yang telah diperiksa, kata Viktor, Cinde tidak terbukti melakukan perbuatan seperti didakwakan dan dituntut JPU.

Dia minta majelis hakim menjatuhkan putusan tidak terbukti melakukan tindak pidana, membebaskan terdakwa dari dakwaan dan melepaskannya dari tahanan. Mengembalikan harkat dan martabat Cinde dan membebankan biaya perkara kepada terdakwa.

Agenda tunggal sidang penyampaian nota pembelaan dipimpin Ketua Majles Hakim, Hiras Sitanggang, S.H, beranggotakan Murtada Mberu, S.H, dan Indra Dima, S.H. Tim JPU A.A. Raka, S.H dan Hersen, S.H, minta waktu seminggu menyampaikan jawaban atas pembelaan terdakwa. Majelis Hakim sepakat sidang dilanjutkan Kamis (16/6/2011), minggu depan. (Flores Star/ris/kk)

Selengkapnya...

Friday, 10 June 2011

Tjark Corneile Hillers Tak Pernah Berharap

RSUD Hillers Dalam Sorotan
Sungguh sayang. Rumah Sakit Umum Daerah TC Hillers Maumere yang memiliki bangunan luas dengan sejumlah tenaga medis handalnya masih saja berkutat dibawah standar pelayanan. Padahal nama besar seorang Tjark Corneile Hillers disandangnya. Dokter Hillers, sapaan akrabnya, kesohor ditengah masyarakat kecil dan orang besar yang pernah mendapat perawatan medisnya. Almahrum dokter asal Belanda itu pun tak pernah meminta namanya diabadikan. Ia juga tak pernah berharap, kelak nama Rumah Sakit TC Hillers tercoreng dan menjadi buah bibir negatip di tengah masyarakat. Lalu kita boleh bertanya, pantaskah jika nama besar seorang dokter Hillers disandang Rumah Sakit ini? Dengan sejumlah pelayanannya yang masih jauh dari memuaskan, kita berhak bertanya.
Tentu saja. Jika kita tengok di berbagai halaman curhat surat kabar lokal seperti Pos Kupang dan Flores Star dan lain-lain. Setiap waktu ada saja keluhan dari pembacanya. Mereka mengklaim buruknya sistem pelayanan yang diterima dari RSUD TC Hillers.

Kejadian baru dan masih heboh ditengah pergunjingan warga Maumere adalah kematian seorang bayi dalam kandungan. Yang lebih tragis lagi, kematian tersebut gara-gara keegoan sang bidan RSUD TC Hillers. Jika saja kita menjadi bagian dari keluarga ibu yang melahirkan, apa yang bisa kita lakukan?

***
Ditengah semangat meningkatkan pelayayan terhadap para pasiennya, nama Rumah Sakit Umum Daerah T.C Hillers Maumere tercoreng oleh perbuatan salah seorang perawatnya. Adalah Siti Y Komaryah yang melantunkan kisah aib tersebut. Sang bidan melakukan kesalahan fatal hingga seorang bayi mati dalam kandungan ibunya. Sang calon bayi tidak mendapat pertolongan semestinya akibat ibunya yang dalam proses melahirkan dia kedunia di obok-obok oleh sang bidan.

Siti Komaryah, sang bidan tersebut, dengan tega menyumpal mulut Natalie Nonce (30) hingga dua kali dengan isolasi flakban hanya gara-gara sang ibu berteriak kesakitan dalm proses melahirkan. Sang bidan tak mengiginkan teriakan Ibu Natalia mengganggu kenyamanan pasien lain.

Kejadian hari Senin (30/5/2011) menjadi headline disejumlah media lokal surat kabar Flores dan NTT. Seperti diberitakan Flores Pos (Senin, 6/6/2011), akibat perbuatannya, Nyonya Natalia kesulitan bernapas saat berjuang melahirkan bayinya. Bayi itu akhirnya mati karena ibunya tidak bisa memberikan pertolongan maksimal.

Bidan Siti Y Komariah akhirnya dipindahkan dari ruang bersalin Anggrek ke ruang perawatan RSUD TC Hillers Maumere. Dia sendiri seperti diberitakan Harian Flores Star, Rabu (8/6/2011) telah meminta maaf kepada keluarga korban. “Dari hati yang dalam saya minta maaf.” Kalimat itu diulanginya hingga tiga kali ketika berhadapan dengan Ibu Natalia Nonce dalam pertemuan kekeluargaan yang difasilitasi relawan Suster Aloisia Dal Bo, di rumah Natalia di Dusun Wutik, Desa Koting D, Kecamatan Koting, Selasa (7/6/2011). “Saya bersalah, saya minta maaf,” pinta Siti berulang kali.

Sang bayi sudah dimakamkan dalam teras rumah keluarga. Kejadian memilukan tersebut, menjadi buah bibir warga Sikka. Apalagi media lokal gencar mewartakan berita tersebut.
Sedangkan Direktur Rumah Sakit Umum TC Hillers Maumere, Imaculata Veronika Djelulut mengungkapkan rasa sangat kecewa atas tindakan ceroboh yang dilakukan bidan Siti Komaryah. Pihaknya meminta maaf atas kelalaian bidan yang mengakibatkan adanya korban tersebut.

***

Sungguh pilu. Namun ada satu harapan dari lubuk hati kita terdalam, bahwa kita masih berharap pada rumah sakit ini untuk merubah dan meningkatkan kualitas pelayanan, dalam segala lini. Bukankah usia rumah sakit ini bukan usia bau kencur lagi? Segeralah lakukan pembenahan, itu saja permintaannya.

Ah melihat gedung putih megah berdiri, timbul lagi satu tanya, jika saja dokter Hillers masih hidup, bagaimanakah dia akan berkomentar dengan kekurangan ini?

Foto: facebook

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 6 June 2011

Keindahan Tenun Ikat Nusa Bunga

Flores, sepotong pulau dalam gugusan pulau-pulau indah di Nusa Tenggara Timur, satu dari rangkaian nama Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Lembata). Flores terdiri dari delapan kabupaten yang masing-masing memiliki kebudayaan yang khas dan berbeda. Flores berasal dari bahasa Portugis yang berarti 'bunga'.
Flores dihuni berbagai kelompok etnis dimana masing-masing menempati wilayah tertentu lengkap dengan aturan-aturan adat, kemasyarakatan dan budaya yang berbeda dan mengikat utuh masyarakatnya. Salah satu kelompok etnis yang mendiami Flores adalah Sikka.
Sikka di Flores selain sebagai nama etnis juga nama kabupaten dengan Maumere sebagai ibukota. Salah satu yang terkenal dari kekayaan budaya pembuatan tenun ikat yang dipakai dalam setiap upacara adat maupun kehidupan sehari-hari.


Salah satu komunitas yang aktif terus melestarikan dan mengembangkan tenun ikat sekaligus budaya dan kesenian adat Sikka adalah Sanggar Bliran Sina bertempat di desa Watublapi 20 kilometer dari Maumere.

Berdiri 1998 di oleh alm. Romanus Rewo, ayahnda dari Daniel David yang kini meneruskan perjuangan sang ayah. Komunitas ini terus menggali dan memberikan kesadaran melestarikan adapt dan budaya Sikka. Untuk pengembangan tenun ikat selalu konsisten dan terus menerus menggali penggunaan motif-motif tradisional, selain kreasi baru dan penggunaan bahan pewarna alami untuk seluruh proses pewarnaan. Untuk lebih memberdayakan anggotanya yang 56 orang itu, salah satu upaya komunitas ini adalah membentuk koperasi (2006) dan memperkenalkan ke berbagai forum nasional maupun internasional. Baik upaya mandiri maupun undangan dari berbagai pihak. Selain itu mereka mendapat bantuan manajemen dari Swisscontact Wisata.

Para perempuan penenun di Watublapi perlahan-lahan beralih dan memilih mengerjakan tenun ikat dengan warna organik yang bahan-bahannya berasal dari tumbuhan local sama seperti yang dilakukan oleh leluhur mereka.

Komitmen tersebut dijalankan bersama dimotivasi oleh beberapa hal, yakni pelestarian warisan budaya bangsa (tenun ikat tradisional dapat dijumpai dari Sabang sampai Merauke), berwawasan lingkungan (mengurangi limbah dari bahan pewarna kimia dan melakukan penanaman kembali tanaman pewarna organic), kesehatan ibu dan anak (pewarna organic aman untuk kesehatan), kesetaraan gender (membantu kaum ibu memiliki penghasilan sendiri) dan mengangkat ekonomi kerakyatan (menambah pendapatan perkapita keluarga).

"Mata pencaharian masyarakat setempat adalah bertani, selama pengamatan selama 3 tahun terjadi peningkatan income setelah mereka juga membuat tenun ikat dalam kelompok kami,"jelas Danial David.

Dalam pameran ini kali mengusung rombongan 18 anggota dari Sikka dan 300 lebar tenun ikat dan sekaligus perangkatnya, seperti alat pintal kapas menjadi benang dan alat tenun. (Amelia)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Dana Bantuan Sosial

DARI namanya dana ini dipergunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Namun kenyataannya peruntukan dana ini lebih sering dibelokkan untuk kepentingan lain.
Konon, begitu kepala daerah (bupati/walikota/gubernur) berkunjung ke suatu wilayah, ada pejabat tertentu yang siap selalu dengan uang tunai sekian (ratus) juta. Begitu di lokasi kunjungan sang kepala daerah menyatakan membantu warga/badan dengan sejumlah uang, maka petugas yang memegang uang itu pun langsung menghitung dan memberikan uang kepada yang dibantu sesuai jumlah yang disebut kepala daerah.
Sumber dana yang dipakai? Kalau dana bansos masih mencukupi, diambillah dari dana itu. Jika tidak, uang diambil dari dana sisa tender proyek-proyek.
Seyogianya, dana bansos dialokasikan dalam APBD untuk mengakomodir permintaan bantuan dana dari masyarakat yang dinilai penting untuk dibantu.

Contohnya, ada mahasiswa dari keluarga kurang mampu meminta bantuan dana untuk menyelesaikan studi (menyusun skripsi, melakukan penelitian dan lain-lain). Atau ada lembaga keagamaan yang meminta bantuan dana untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti membangun rumah ibadah atau kegiatan lainnya.

Namun kenyataan sering berbeda. Dana bansos dihabiskan tidak sesuai peruntukannya.
Kasus dana bansos yang mencuat di Kabupaten Sikka, cukup jelas menceriterakan kepada publik tentang penyimpangan penggunaan dana bansos. Mulai dari proses pencairan, pertanggungjawaban sampai peruntukannya, nyaris bermasalah semua. Terungkap juga bahwa ada rekayasa kelompok masyarakat penerima bantuan yang bersumber dari dana bansos. Nyatanya tidak ada, alias kelompok fiktif.

Persoalan ini mencuat setelah “diobrak-abrik” oleh Inspektorat Daerah dan BPKP NTT. Negara mengalami kerugian Rp 10 miliar lebih akibat penyimpangan ini.
Kini, DPRD setempat kembali “mengobok-obok” persoalan itu, “mengulitinya” satu persatu dan publik dibuat tercengang melihat betapa aparat pemerintah “bermain-main” dengan uang rakyat.

Dari sisi transparansi, langkah DPRD Sikka patut dijempoli. Kasus itu dibuat “telanjang” agar ada efek jera, ada efek pembelajaran. Setidaknya pejabat lain yang tidak terlibat, daerah lain yang mengelola dana bansos, bisa lebih bertanggung jawab menggunakan dana itu sesuai peruntukannya.

Spektrum yang menyembul dari rangkaian sidang panitia khusus (pansus) DPRD Sikka yang menyelidiki dana bansos tersebut --tak bisa dihindari-- tidak sebatas penegakan aturan. Warna politiknya begitu terang dan dominan. Terjadi “tembak-menembak” secara politis di tengah pengusutan kasus ini sehingga dikhawatirkan pansus akan sanggup membawa kasus ini tetap di jalurnya. Pansus tentu bukan sidang pengadilan. Juga bukan ruang interogasi penyidik. Siapa pun yang dipanggil untuk dimintai penjelasannya dalam sidang pansus harus tetap berjalan dengan kepala tegak, bukan menunduk lantaran malu karena dipermalukan dalam ruang sidang.


Di sinilah tantangan bagi pansus untuk menjaga agar rangkaian sidang pansus tetap menjadi forum bermartabat dan terhormat.
Lebih dari itu, panitia khusus harus mampu membuktikan ‘kekhususannya’ melalui hasil dari rangkaian panjang sidang-sidang, yang tidak hanya memakan waktu, tetapi juga menyita perhatian, menguras energi dan juga dana. Karena itu harus ada yang spesial yang dihadiahkan kepada masyarakat dari rangkaian kerja keras pansus menyelidiki kasus ini.

Sudah banyak kali terjadi, mulai dari pusat sampai ke daerah, pansus dewan berlangsung begitu semarak. Prosesnya begitu “gegap gempita”. Menyita perhatian publik laksana sinetron di televisi. Tapi apa ending-nya? Lebih banyak berupa kemasan bahasa-bahasa politis yang non-excecutable.

Kalau toh pada akhirnya kasus penyimpangan seperti yang sedang diselidiki oleh Pansus DPRD Sikka itu akan direkomendasikan untuk diproses hukum, dan tentu saja masih berproses begitu lama dengan ending yang juga belum tentu memuaskan rasa keadilan masyarakat, mengapa harus membuang waktu, energi dan dana untuk berlama-lama? Apalagi hanya demi memuaskan hasrat saling memojokkan, menyudutkan satu sama lain?

Kita berharap Pansus segera menyelesaikan tugasnya. Jika benar ada masalah maka harus ada yang bertanggung jawab. * (Pos kupang)
Selengkapnya...

Sunday, 29 May 2011

Sistem Peringatan Dini Tsunami Beroperasi

Untuk mengantisipasi bencana tsunami di daerah pesisir pantai, di Kabupaten Sikka telah berdiri menara Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System). Menara tersebut terletak di halaman Keuskupan Maumere, bersebelahan dengan Gereja Katedral St Yosep di Jalan Mgr.Soegiyopranoto. Uji coba pertama kali dilakukan Kamis (26/5/2011) pukul 10.00 Wita. Saat uji coba, sirene dengan bunyi yang cukup besar menarik perhatian sejumlah warga. Namun kemudian maklum karena dalam ujicoba disertai kalimat,”ini hanya test”. Hal ini sejalan dengan Pengumuman Bupati Sikka Drs.Sosimus Mitang. Dalam pengumuman tersebut diberitahukan bahwa setiap tanggal 26 dalam bulan yang sama, Tsunami Early Warning System akan dibunyikan selama lebih kurang satu menit tepat pukul 10.00 Wita yang diawali dengan kata-kata “Ini Hanya Test”. Juga dikatakan, apabila benar-benar terjadi bencana gempa yang berpotensi tsunami, alat tersebut akan dibunyikan selama lebih kurang 30 menit tanpa diselingi kata-kata “Ini Hanya Test”. Karena cuma ujicoba, masyarakat diharap jangan panik dan tetap berada di tempat masing-masing.

Sejalan dengan peringatan dini tersebut, jika benar-benar terjadi tsunami, masyarakat diminta untuk segera menjauhi wilayah sepanjang pesisir pantai dan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi untuk mencegah terjadinya korban jiwa.

Sistem Peringatan Dini Tsunami juga akan dibunyikan setiap tanggal 12 Desember setiap tahun, selama lebih kurang satu menit. Tetap diawali dengan kata-kata “Ini Hanya Test”. Peristiwa setiap tanggal 12 Desember ini sebagai bentuk peringatan warga Flores umumnya dan Kabupaten Sikka khususnya terhadap kejadian bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tanggal 12 Desember 1992 di Maumere. Saat itu menelan korban lebih dari 2000 orang tewas. Gempa tsunami 1992, bisa dilihat disini.

Umumnya sebagian warga belum mengetahui tentang akan diadakan ujicoba sistem peringatan dini tsunami tersebut. Namun setelah uji coba, semua maklum. Meski baru satu menara peringatan dini tsunami yang dibangun, masyarakat tetap berharap bisa tanggap dan cepat mengantisipasi keadaan jika terjadi tsunami.

Secara umum, Peringatan Dini Tsunami merupakan sistem yang mendeteksi tsunami, kemudian memberikan peringatan secara real-time kepada masyarakat. Umumnya, gelombang tsunami terbentuk pada kurun waktu tertentu setelah terjadi gempa di dasar laut. Cepat lambatnya tergantung jenis dan kekuatan gempa, dan berpotensi tsunami atau tidak. Biasanya, potensi tsunami terjadi pada gempa berkekuatan lebih dari 6.5 Skala Richter (SR), berpusat di tengah laut dangkal (0 - 30 km), dan pola sesarnya naik atau turun. Jika berpotensi tsunami, maka proses evakuasi penduduk bisa segera dilakukan.(Oss)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---