Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 5 November 2011

DPRD Sikka Jangan Buang Energi ke Jakarta

Ketua Badan Anggaran DPR RI, Melchias Markus Mekeng Bapa meminta DPRD Kabupaten Sikka, NTT, agar jangan buang energi ke Jakarta guna menyikapi kasus dana Bansos.
Hal ini dikatakannya saat berdialog dengan masyarakat di Koting, Kabupaten Sikka, Jumat (4/11/2011) siang.
"Bagaimana Kabupaten Sikka akan maju, jika ribut terus dengan kasus bansos. Bagi saya, jika sudah diputusakan kasus ini ditangani oleh aparat penegak hukum, maka biarkan proses hukum berjalan.
Menurut Mekeng KPK tidak bisa ditekan atau didesak untuk menangani kasus-kasus yag terjadi di daerah. Mau datang 100 atau 500 orang, KPK tidak peduli.
"Tidak ada manfaat Dewan ke Jakarta lagi. Tidak usah, buang-buang uang saja. Satu Dewan ke Jakarta Rp 13 juta kalikan dengan puluan dewan sudah berapa ratus juta yang harus dikeluarkan. Kirimkan saja surat resmi ke KPK untuk mempertanyakan hal itu,"ujarnya.



Mekeng mengatakan pada UU KPK jelas menyebutkan, jika suatu aksus sudah masuk tahap penyidikan maka tidak boleh diambil over oleh KPK.

"Jangan menghabiskan energi, uang dan waktu untuk hal yang sudah ditangani. Biarkan proses hukum berjalan, kejaksaan pasti akan menunjukkan kinerja yang baik karena mereka juga mau meningkatka citranya,"kata Mekeng.

" Mungkin ada segelintir orang yang punya kepetingan, rakyat 'dibakar'. Tiap hari ribut, tidak akan menyelesaikan persoalan. Masih ada 2 tahun untuk kepemimpinan daerah ini, kalau sudah saatnya diganti, pasti diganti,"tambahnya.(Pos-kupang)
Selengkapnya...

Monday, 31 October 2011

Tiga Hari dalam Penyembuhan

Samador Lautan Manusia

Ratusan orang bersuka cita ketika apa yang mereka inginkan yakni kesembuhan dari penderitaan sakit secara fisik terkabulkan atas nama Yesus. Dan ribuan orang yang memenuhi Stadion Gelora Samador tak henti-hentinya bergembira serta memuji Tuhan. Dalam pergulatan bersama deritanya, Samador, stadion kebanggan warga Maumere selama tiga hari (27-29/10/2011) menjadi saksi berhimpitnya berbagai manusia pada KKR Mujizat Penyembuhan bersama Pendeta Yosafat,MBA. Mereka yang mengidap sakit tertentu tak lagi menghiraukan pengobatan secara medis. Umat lebih percaya pada penyembuhan dengan cara iman dan keyakinan pada Tuhan yang diadakan secara gratis. Tak pelak, manusia dari berbagai penjuru Kabupaten Sikka berdatangan. Bukan hanya itu, ratusan orang dari kabupaten Ende, Flores Timur, Ngada dan lainnya tak lagi menghiraukan perjalanan jauh. Mereka memasuki Maumere secara rombongan dengan berbagai jenis kendaraan. Mereka menyulap Samador jadi lautan manusia, bak konser besar band legendaris tiga hari berturut-turut.


Selama tiga hari itu pula, wajah kota berubah. Lalulintas sedikit lebih ramai. Polres Sikka dari satuan lalu lintas terpaksa lebih sibuk dari hari biasanya. Mereka mengendalikan jalur dan lintasan kendaraan terutama di sekitar Samador. Situasi di halaman parkir depan dan belakang Samador tak mampu menampung berbagai jenis kendaraan hingga meluber jauh keluar jalan. Sepanjang malam hingga dini hari ratusan orang masih terlihat lalu lalang disekitar Samador. Kios-kios dibuka hingga larut, beberapa warrung makan dibiarkan membuka pintunya hingga dinihari.

Maumere tak tidur. Didalam stadion yang pernah dijadikan tempat Bapa Paus Jhon Paul II memimpin misa pada lawatannya ke Maumere di tahun 1989 tersebut, ribuan orang tak lagi menghiraukan dinginnya udara malam. Tragisnya, baru kali ini, kami menyaksikan sendiri, begitu banyaknya orang sakit yang lalu lalang, menangis, tertidur diatas rerumputan, dan lain sebagainya. Ya ampun, ternyata banyak orang sakit di kabupaten ini.


Diatas panggung yang cukup lebar, sang pendeta, yang diberikan karunia oleh Tuhan tak berhenti melakukan pelayanannya. Menyembuhkan orang buta, menjalankan orang yang tak bisa berjalan, mendengarkan orang yang tak bisa mendengar, dan berbagai penyakit lainnya. Ada juga pengurapan. Kejadian penyembuhan ini bahkan berlangsung hingga dini hari, hampir selama tiga hari tersebut.

Menurut informasi, KKR Penyembuhan di Kota Maumere adalah pelayanan terakhir dari rangkaian pelayanan penyembuhan di berbagai kota di Indonesia. Di NTT, Maumere menjadi salah satu dari tiga kota dalam lawatannya. Dua kota lainnya adalah Atambua dan So’e di Timor Barat. Terpilihnya Kota Maumere merupakan kehendak Tuhan melalui pergumulan oleh sang pendeta. Sebelumnya Larantuka merupakan kota berikutnya setelah So’e dan Atambua, namun Tuhan memiliki kehendak lain. Maka Maumere menjadi tuan rumah, tak tanggung-tanggung, kota ini menjadi kota terakhir sekaligus terlama dalam KKR, yakni tiga hari.

Tentang mujizat penyembuhan ini, banyak pendapat pro dan kontra di masyarakat terutama kaum katolik yang merupakan agama mayoritas di Sikka. Ada yang menilai, KKR ini hanyalah taktik untuk meraih simpati kaum katolik hingga membelokan keimanan mereka. Ada pula yang mengatakan tak mempercayai penyembuhan ini karena hanyalah aksi penipuan sesaat. Dan masih banyak kontra pendapat lainnya.

Namun yang kita lihat adalah Samador terus dibanjiri ribuan umat selama tiga hari. Bahkan mereka bertahan tanpa atap, berlindung dibalik debu lapangan, disirram cahaya bulan dan bertahan dari rasa kantuk. Sedih sekali dan sangat miris melihat kenyataan didepan mata, warga miskin dan sakit di Sikka ternyata begitu banyak. Dimanakah peran pemerintah dalam mensejaterahkan rakyatnya terutama dalm bidang kesehatan? Dan ketika sesuatu yang bernama gratis diberikan, maka semua datang dan berkumpul. Coba saja berpikir, bahwa pemerintah memberikan pengobatan gratis secara reguler bagi kebanyakan masyarakat miskin di berbagai desa. Coba saja berpikir bahwa pemerintah punya niat baik memberikan pengobatan dan gizi usia dini bagi para warganya terutama di desa-desa terpencil. Sungguh sayang, kenyataan mengabarkan yang berbeda.


Mujizat penyembuhan telah berakhir dan menyisahkan berbagai pernak pernik cerita. Misalnya bahwa benar ada yang langsung disembuhkan di Samador namun ada pula yang perlu terapi doa di rumah setelah diurapi oleh sang pendeta sesuai iman sang penderita pada Jesus. Juga kedatangan umat dari pelosok desa sudah diketahui oleh paroki setempat seperti pengakuan beberapa umat.
Ada lagi cerita tentang anak-anak kecil yang harus tertidur memeluk dinginnya malam, berhimpitan dengan tubuh orang tuanya. Mereka membaringkan tubuh tanpa menghiraukan keadaan sekeliling. Dan Samador menjadi saksi bukan hanya umat katolik dan kristen yang ikut dalam penyembuhan namun saudara-saudara dari umat muslim pun tak segan ambil bagian, itulah kenyataan yang terjadi.

KKR Penyembuhan yang diberikan secara gratis ini terlihat sebagai anugerah bagi sebagian umat. Semua yang diberikan, dari penyembuhan, panggung, tata lighting, musisi, penari latar dan pendukung lainnya adalah gratis bagi umat. Semua kembali tergantung ada diri sendiri ketika memutuskan untuk mengikutinya.

Dan sekarang, Samador tak lagi ramai, jalanan tak lagi padat. Dan kini Maumere tenggelam dalam nyanyian malam, dalam irama yang normal dan kembali pada aktivitas seperti biasanya. Terpujilah nama JESUS, Maria dan Yosep..

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Mantan Bupati Sikka Bebas Dari Tuduhan Korupsi

Bupati Sikka, NTT, periode 2003-2008, Drs. Aleksander Longginus telah menerima akta pemberitahuan putusan (relaks) Mahkamah Agung RI yang menyatakannya bebas dari tuduhan dugaan korupsi Rp 276.500.000. Pemberian dana purna bakti DPRD Sikka periode 2004-2009 yang bersumber dari pos kegiatan lainnya pada APBD 2004 merupakan kebijakan (discretionary power) masih dalam koridor hukum, sesuai asas umum pemerintahan dan dalam kewenangan bupati.
Aleks Longginus, dikonfirmasi Sabtu siang (29/10/2011) di Maumere, menjelaskan kasus dana purna bakti itu satu paket dengan dugaan penyimpangan alokasi dana untuk Universitas Nusa Nipa (Unipa), dana penunjang kegiatan DPRD Sikka dan hibah
30 unit sepeda motor kepada DPRD Sikka. Kasus tersebut diduganya dimanipulasi oleh kejaksaan.

Putusan bebas itu tertuang dalam surat MA Nomor: 270/K/Pid.sus/2010 tanggal 26 Januari 2011 melalui musyawarah MA, hari Rabu 26 Januari 2011 dipimpin Hakim Ketua, Imron Anwari, S.H,SpM.MH, hakim anggota H.Suwardi, S.H, M.H, Prof Rehngena Purba, S.H, MS, dan panitera pengganti Enny Indriyastuti, S.H, M,Hum.

Putusan itu menegaskan perbuatan terdakwa tidak menyalahi ketentuan Pasal 3 (4) UU Nomor: 1 Tahun2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Pasal 10 (3) PP Nomor: 105 Tahun 2000 jo Kepmendagri Nomor: 29 Tahun 2000.

Terdakwa dalam memutuskan kebijakan itu terlebih dahulu mendapat persetujuan dari
Sekretaris Daerah dan Kepala Bagian Keuangan. Perbuatan ini tidak bertentangan atau melampaui kewenangannya.

“Saya terima surat relaks diantar dari PN Maumere sejak Selasa (11/10/2011).

Itu perkara satu paket. Saya anggap perkara ini juga manipulasi. Masa dalam satu kasus,saya jadi tersangka untuk beberapa kasus. Dari mana pendasarannya,”tanya
Aleks.(TRIBUNNEWS.COM/egy moa)

foto: Alex Longginus by Dion Bata


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 29 October 2011

KOMODO, MEGA PREDATOR MENUJU PUNCAK KEAJAIBAN

Komodo Kita Keajabian Dunia
Orang banyak menyebutnya kerabat dinosourus dari Timor. Dulu bahkan ada yang mengira sebagai naga raksasa yang menyeramkan. Bukan sekedar dongeng atau mitos, inilah bukti kebenarannya. Komodo, satu-satunya warisan dan saksi purbakala yang masih bertahan hingga kini hanya dapat dijumpai di Taman Nasional Komodo, yang terletak di sebuah selat antara Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Komodo menyandang nama latin Varanus komodoensis merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2 hingga 3 meter. Penduduk setempat menyebutnya dengan nama Ora, dikenal juga dengan sebutan naga komodo (komodo dragon) dan biawak komodo (komodo monitor). Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina. Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kilogram. Lebih dari itu, fauna yang dapat melihat sampai 300 meter ini bahkan sering mempunyai bobot tubuh lebih besar bila dipelihara di penangkaran.

Tercatat spesimen liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3,13 meter dan berat 166 kilogram. Panjang cakar mencapai 10 cm. Perenang yang baik dan bisa menyelam dalam air sampai kedalaman 5 meter. Satwa yang tidak punya kemampuan untuk mendengar ini mempunyai inteligensi yang bagus, terlihat pada saat berburu atau mencari mangsa, dan itu bukan berasal dari hidung melainkan dari lidahnya yang selalu menjulur keluar untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli. Bahkan lebih dahsyat lagi, sang predator puncak ini dianugrahi bisa dan air liur yang mematikan. Bila ada mangsa seperti rusa, kerbau atau babi hutan yang terkena gigitan komodo, maka pada umumnya korban naas ini hanya akan bertahan hidup selama satu minggu dan langsung binasa. Pada kondisi tertentu, Komodo dapat berperilaku kanibal dengan memangsa komodo lainnya.

Regenerasi Komodo
Sebagai hewan dalam kelas reptil, komodo berkembang biak dengan bertelur. Musim kawin berlangsung antara bulan Juli hingga Agustus. Komodo jantan akan bertempur memperebutkan betina. Satu bulan setelah musim kawin sang betina akan mencari lubang di tanah untuk bertelur. Sekali bertelur umumnya komodo mengeluarkan 15-30 butir telur dengan masa inkubasi antara 8-9 bulan. Anak-anak komodo yang menetas akan berlindung di atas pohon untuk menghindari predator dan kalibalisme dari komodo dewasa.

Fakta mengejutkan pun terkuak. Menambah daftar keajaiban satwa pelintas zaman ini. Penelitian di London membuktikan komodo dapat beregenerasi dengan cara partenogenesis, yakni pembuahan yang terjadi tanpa adanya perkawinan. Namun disinyalir proses dari partenogenesis ini akan selalu menghasilkan seekor komodo jantan. Dan ini mungkin merupakan salah satu cara guna melindungi komodo dari ancaman kepunahan.

Evolusi dan Sejarah Komodo
Sekitar 40 juta tahun silam di Asia, muncul spesies komodo yang dimulai dengan marga veranus, yang kemudian bermigrasi ke Australia. Selanjutnya 15 juta tahun yang lalu para biawak raksasa ini kemungkinan bergerak menuju wilayah yang dikenal sebagai Indonesia sekarang, karena pertemuan lempeng benua Australia dan Asia Tenggara. Komodo diyakini berevolusi dari nenek moyang Australia sekitar 4 juta tahun yang lampau, dan meluas penyebarannya sampai sejauh Timor.

Ketika tahun 1910 armada kapal Belanda menemukan makhluk misterius yang diduga "Naga" mendiami wilayah Kepulauan Sunda Lesser. Selanjutnya oleh Letnan Steyn Van Hensbroek, seorang penjabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Flores temuan ini ditindaklanjuti. Pada tahun 1912, Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor mempublikasikan komodo kepada dunia lewat papernya. Dalam pemberitaannya, Ouwens memberi saran nama kadal raksasa " Varanus komodoensis" untuk komodo, sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo). Dipercaya sebagai hewan unik dan langka, pada tahun 1915 pemerintah Belanda akhirnya menetapkan Pulau Komodo sebagai wilayah konservasi.

Habitat, Konservasi, dan Ekowisata
Hidup di padang savana yang gersang nan tandus, komodo membentuk negerinya sendiri di Taman Nasional Komodo, dan tersebar di Pulau Komodo (1700 ekor), Pulau Rinca (1300 ekor), Pulau Gili Montang (100 ekor), serta Gili Dasami (100 ekor). Hewan titisan era jurasic yang menyukai tempat panas ini akan menjaga panas tubuhnya di malam hari dengan membuat sarang dalam lubang sedalam 1-3 meter.

Dengan populasi yang kian menyusut, menyeret komodo masuk dalam daftar IUCN (International Union for Conservation of the Nature). Perubahan iklim akibat ulah tangan usil manusia seperti pembabatan serta pembakaran hutan liar, limbah bahan pertambangan, dapat mengancam keberlangsungan hidup mega reptil ini. Ditambah lagi kecerobohan manusia dalam berburu rusa secara berlebihan, dapat membahayakan keseimbangan ekosistem di kawasan pulau komodo. Oleh karena itu pemerintah pada tahun 1980 menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai wilayah konservasi. Selanjutnya sebagai pengakuan dunia atas kekayaan alam ini, kawasan seluas 1.817 kilometer persegi ini dikukuhkan sebagai Cagar Manusia dan Biosfir pada tahun 1986 serta Situs Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada tahun 1991.

Taman Nasional Komodo yang lebih populer dengan sebutan Pulau Komodo menyimpan berjuta pesona panorama alam dan keunikan tersendiri. Kawasan di Kabupaten Manggarai Barat ini selain terdapat hutan savana, juga terdapat hutan tropis musim yang di dominasi pohon lontar (Borassus flabellifer), hutan bakau serta terumbu karang. Bukan hanya itu, perairan di Pulau Komodo dengan luas 1.214 kilo meter merupakan salah satu kawasan laut terkaya di dunia. Keindahan pemandangan bawah laut yang eksotik,ribuan spesies ikan hias, gunung laut, bunga karang, terumbu karang dan teluk semi tertutup menambah panjang barisan andalan potensi wisata di tanah komodo ini. Keindahan bahari ini begitu sempurna mengingat perairan ini merupakan migrasi 5 jenis paus, 10 lumba-lumba dan duyung.

Satwa warisan purba berikut hamparan keindahan alam yang luar biasa di belahan timur bumi pertiwi memang merupakan suatu keajaiban sesungguhnya. Hingga saat ini, komodo masih berkompetisi meraih gelar bergengsi di ajang Internasional untuk masuk dalam 7 Keajaiban Dunia Baru (dari berbagai sumber).

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 27 October 2011

Lima Belas Aktivis Bermalam di Gedung Dewan

Empat Orang Dilarikan Ke RS Hillers
Lima belas aktivis dari Laskar Pemuda Pelopor Perubahan Kabupaten Sikka menggelar aksi mogok makan di teras gedung DPRD Sikka, Kamis (27/10/2011). Aksi ini dimulai sejak pagi hari dan sampai malam ini bersama dukungan Alin Rakang (Aliansi Rakyat Kabupaten Sikka Menggugat), mogok makan masih berlangsung dalam kawalan pihak Polres Sikka. Dari aksi yang dilakukan ini, 4 orang aktivis sekitar pukul 18.00 wita dilarikan ke RS. TC Hillers akibat kondisi lemas. Namun mereka tetap memutuskan menginap di teras gedung dewan hingga besok pagi, Jumat (28/10). Para pelaku aksi mogok makan ini mendapat pantauan dari tim medis RS Hillers. Para aktivis bersama Alin Rakang menuntut SODA (Sosimus Mitang –Wera Damianus), bupati dan wakil bupati Sikka segera mundur atau meletakkan jabatannya serta KPK segera mengambil alih kasus bansos 2009. Alin Rakang dan aktivis mahasiswa (GMNI Sikka, LMND Sikka, PRD, Senat ABA) menilai kedua pimpinan pemerintahan Kabupaten Sikka tersebut gagal dalam mengemban amanat rakyat dan mengkhianati janji-janji kampanye saat pilkada.

Aksi ini merupakan kelanjutan dari demonstrasi hari Senin (24/10/2011) di Kantor Bupati. Saat aksi tersebut, para pengunjuk rasa menyegel kantor bupati, beberapa aktivis juga melakukan mogok makan namun akhirnya dibubarkan oleh sekelompok orang. Terkait hal tersebut, koordinator aksi Jhon Bala mengatakan, Alin Rakang menyesalkan kejadian hari senin lalu dimana sekelompok orang berupaya melakukan pembubaran, padahal menurutnya aksi mereka mendapat ijin resmi dari pihak kepolisian setempat Bala menduga ada kesan terjadinya upaya pembiaran yang kemungkinan bisa terjadi bentrok jika Alin Rakang dan mahasiswa terprovokasi. Menurutnya sangat aneh, jika polisi membiarkan sekelompok oarng tersebut berada ditengah demonstrasi mereka dan berupaya menggagalkan aksi damai yang mengantongi ijin resmi.

Pada aksi Senin (24/10) lalu, Alin Rakang mendesak agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera mengambil alih penanganan kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial Kabupaten Sikka tahun 2009 senilai Rp 19,7 miliar. Mereka menyatakan kecewa, karena Kejaksaan Tinggi NTT terkesan meloloskan Bupati Sikka Sosimus Mitang, yang dinilai paling bertanggung jawab dalam kasus itu.

Seperti diketahui, Kejati NTT yang menangani kasus ini hanya menetapkan mantan Bendahara Pengeluaran Pembantu Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sikka, Yosef Otu dan mantan Kabag Kesra Sikka Servasius Kabu sebagai tersangka.

Akhir-akhir ini situasi di masyarakat memang memanas terkait penanganan kasus bansos, karena di satu sisi muncul kelompok yang probupati, yang menghendaki kasus ini ditangani oleh Kejati NTT. Di sisi lain, ada kelompok yang menuntut kasus ini ditangani oleh KPK, seperti dari kelompok Alin Rakang dan aktivis mahasiswa.

Situasi kian memanas ketika muncul aksi tandingan sekitar 1.000 orang yang tergabung dalam Aliansi Pendukung Pembangunan Sikka (APPS) turun ke jalan membela Bupati Sikka, Sosimus Mitang, Rabu (26/10).

Menurut rencana, Jumat (28/10) Alin Rakang dan dan elemen mahasiswa akan bertatap muka dengan anggota dewan DPRD Sikka.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Wednesday, 26 October 2011

Mbolaso, Palue

SAMPAI menjelang akhir Juni tahun ini, saya selalu beranggapan bahwa hanya ada satu bahasa dari bahasa-bahasa lokal masyarakat Flores dan sekitarnya yang mengenal kata terima kasih, yakni bahasa Sikka yang menggunakan kata epan(g) gawan(g).
Ternyata masih ada satu masyarakat yang juga memiliki kata khusus untuk mengungkapkan rasa terima kasih, yakni bahasa masyarakat pulau Palue. Kata untuk itu adalah mbolaso. Tentu saja, ketiadaan kata terima kasih dalam bahasa-bahasa lain tidak berarti bahwa masyarakat tersebut tidak tahu berterima kasih. Mereka mengungkapkan rasa syukur mereka tidak dalam kata tetapi dalam sikap tubuh atau dalam bentuk pemberian balik.
Orang Palue menyatakan terima kasihnya baik dalam sikap maupun dalam kata mbolaso. Mereka berterima kasih untuk berbagai macam hal, juga untuk kesediaan orang bertamu di rumah mereka. Kedermawanan menerima tamu tampaknya merupakan sebuah keutamaan warga pulau Palue.

Sebagaimana dikatakan seorang warga pada kesempatan perpisahan dengan sekelompok mahasiswa/i Universitas Indonesia (UI) yang ber-K2N di Kampung Rokirole, orang Palue memang mudah menerima tamu, tetapi mereka merasa sangat berat melepaskan tamu. Menerima tamu merupakan sebuah penghargaan, dan melepaskan tamu sering disertai rasa sedih.

Boleh jadi, pulau yang didiami para pelaut tangguh ini memang tidak selalu merupakan tempat yang sering mendapat kunjungan para pejabat. Palue sering dikonotasikan dengan kekeringan dan ketandusan, tanpa sumber air minum. Orang mencemaskan akan minum apa dan bisa mandi berapa kali. Perjalanan ke sana berbahaya. Dan bayangan tentang ini diperkuat dengan tenggelamnya kapal motor Karya Pinang pada Oktober 2010. Orang semakin enggan bepergian ke Palue. Tidak terkecuali para pejabat dan petugas negara yang pekerjaannya adalah membangun masyarakat Indonesia.

Namun, sebenarnya Palue tidak seperti yang ditakuti dalam bayangan. Sudah sejak zaman dulu orang Palue memiliki kecerdasan untuk mendapat air, entah dari batang pisang dan pohon ara, maupun dengan menampung air hujan serta menggali beberapa sumur di wilayah pantai.

Air memang sesuatu yang sangat berharga, tetapi orang tidak perlu mati kekeringan di pulau ini. Pelayaran ke Palue, sebagaimana pelayaran ke pulau-pulau kecil lainnya, memang selalu mengandung risiko. Memang kapal-kapal motor yang melayari rute Maumere-Palue perlu terus dibenahi dan dilengkapi dengan peralatan keselamatan, namun perjalanan ke dan dari Palue bukanlah pelayaran menyongsong maut.

Karena berbagai gambaran yang keliru, Palue, meski tidak perlu disebut tertinggal, namun agaknya gampang dilupakan dan mudah diabaikan. Hal ini tampak dalam beberapa hal. Pertama, soal nama pada peta. Ternyata, paling kurang terdapat tiga nama pada tiga peta berbeda. Ketika berlayar bersama rombongan mahasiswa/i UI ke Palue, pada peta pelaut yang ditunjukkan kepada saya di ruang kapten kapal TNI AL Teluk Mandar, nama yang tertera adalah Pulau Raja (Palue).

Kemudian saya mendapat penjelasan, bahwa nama ini digunakan pemerintah kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Pada pulau itu, hanya dituliskan dua nama tempat, yaitu Labuhan Boko dan Mage. Kedua nama tempat ini ternyata tidak lazim malah tidak dikenal oleh beberapa orang muda Palue dan orang-orang yang berkarya di pulau ini. Peta ini menggunakan nama tempat yang tidak populer di kalangan warga.

Nama lain untuk pulau ini ditemukan pada peta seluruh Indonesia yang cukup baru yang memaparkan 33 propinsi Indonesia. Pada peta yang digantung pada kantor desa Ladolaka, di Palue, nama yang digunakan adalah Paloe. Varian ketiga adalah Palue, yang dapat dibaca pada peta khusus Propinsi NTT. Inilah nama yang digunakan warga secara populer.


Boleh jadi, nasib yang sama dialami juga oleh pulau-pulau kecil lainnya di wilayah ini. Mestinya menjadi tugas pemerintah kabupaten atau propinsi agar secara resmi pulau ini ditulis pada peta dengan nama baku yang digunakan oleh warga setempat.
Kedua, proyek yang mudah diterlantarkan.

Di pantai Uwa yang merupakan pelabuhan utama dan pintu masuk Palue, terdapat sebuah proyek yang belum selesai. Anehnya, tidak ada papan nama proyek tersebut. Warga tidak pernah dapat mengetahui secara terbuka data-data penting terkait proyek tersebut. Namun, berdasarkan informasi lepas yang dihimpun warga, proyek tersebut adalah pembangunan tambatan perahu yang ditangani seorang kontraktor dari Maumere dan sudah harus selesai. Kontraktor tersebut menangani beberapa proyek pembangunan lain di Palue.

Anehnya, demikian keterangan warga, pada kesempatan kunjungan anggota DPRD Sikka beberapa waktu lalu, saat ditanya warga mengenai proyek yang terkesan tidak selesai tersebut, seorang anggota DPRD menjawab dengan mengatakan bahwa kekurangan pada proyek yang satu ini tidak perlu dibesar-besarkan karena proyek lain yang ditangani kontraktor bersangkutan telah dilaksanakan dengan baik.

Argumentasi ini menunjukkan bahwa si wakil rakyat merendahkan dan menganggap remeh warga yang dikiranya mudah dibodohi. Mestinya, instansi yang bertanggungjawab atas pelaksanaan proyek tersebut bertindak agar uang negara tidak disia-siakan di pulau yang dikira berada di luar jangkauan perhatian umum, dan agar warga tidak dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian.

Ketiga, bantuan bencana yang tak kunjung tiba. Pada hari Kamis, 26 Mei 2011 yang lalu terjadi gempa bumi yang meninggalkan bekas kerusakan di Palue. Berdasarkan catatan yang dibuat dan dilaporkan Camat Palue, lebih dari 50 rumah mengalami kerusakan berat, yang rusak ringan sebanyak sekitar 150 rumah.

Lebih dari 60 bak penampung air hujan warga mengalami kerusakan berat. Selain itu, masih ada sejumlah kerugian lain seperti kerusakan fasilitas umum. Beberapa hari setelah gempa pemerintah kecamatan telah menyampaikan laporan kepada pemerintah kabupaten Sikka mengenai kerusakan tersebut. Namun, sampai sekarang belum ada bantuan yang diberikan kepada warga Palue.

Warga yang hidup dalam kerukunan kampung tentu memiliki kepedulian saling membantu dalam situasi darurat. Orang Palue hidup dalam solidaritas yang kuat satu dengan yang lain. Namun, tangan mereka sangat terbatas. Bantuan yang dapat berikan kepada sesamanya yang menderita pun tentu saja serba terbatas. Sebab itu, penyaluran dana bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumah atau membangun kembali bak penampung air hujan dirasakan sebagai sebuah kebutuhan mendesak. Bak penampung air hujan sangat vital bagi orang-orang yang hidup di Pulau tanpa mata air ini.

Upacara Pati Karapau di Palue
Foto by: Hiller Ratu


Tetapi, Palue memang terlampau mudah dilupakan, apalagi di tengah hiruk pikuk permasalahan dana bantuan sosial yang sedang menjadi berita utama di kabupaten Sikka. Sangat boleh jadi, dana bantuan sosial telah habis terkuras untuk segala sesuatu yang tidak sosial, sehingga warga Palue yang tertimpa bencana ditinggal sendirian.

Mestinya, ketika sebuah kabupaten tidak sanggup membantu warga yang tertimpa bencana karena kesulitan keuangan, pemerintah pada tingkat di atas harus turun tangan. Tentu saja, apabila pemerintah kabupaten melaporkan bencana tersebut kepada pihak yang di atasnya. Kalau hingga kini warga tetap tinggal dalam penantian akan bantuan, apakah ini berarti mereka menjadi korban macetnya komunikasi pemerintah kabupaten dengan pihak-pihak yang di atasnya?

Orang Palue punya kata untuk terima kasih. Mbolaso, tidak hanya kata, itu juga sikap. Mereka pasti menunjukkan sikap dan menyampaikan mbolaso kepada pemerintah yang memiliki kepedulian terhadap mereka dan tidak terlampau mudah melupakan mereka. *(PosKupang)

Oleh: Paul Kleden, SVD
Dosen STFK Ledalero
foto utama: Paul Budi Kleden, SVD (Pos Kupang)


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

DPRD Sikka Kaji Tuntutan Alin Rakang

Dado: Tuntutan Alin Rakang Turunkan Pimpinan Sikka Adalah Upaya Illegal

DPRD Sikka akan mengkaji tuntutan Alin Rakang yang ingin menurunkan Soda (Bupati dan Wabup Sikka) karena dinilai tidak melaksanakan tugas pemerintahan dengan baik.
DPRD Sikka akan menyikapi tuntutan tersebut secara ketentuan dan peraturan yang berlaku. Namun aspirasi aliansi akan ditampung oleh DPRD Sikka.
Demikian Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga, yang dihubungi Pos Kupang, Selasa (25/10/2011) pagi.
Rafael dimintai tanggapan terkait permintaan Alin Rakang yang ingin menurunkan Bupati dan Wabup Sikka dalam demo di Kota Maumere, Senin (25/10/2011) pagi.

***
Kuasa hukum Bupati Sikka, Meridian Dewanta Dado, S.H dari TPDI NTT, mengatakan, tuntutan Alin Rakang menurunkan bupati dan wakil bupati Sikka adalah upaya ilegal

Meridian dikonfirmasi Pos-Kupang.Com, terkait aksi demo Ali Rakang, Senin (24/10/2011), terkait kasus Bansos Sikka. Meridian mengatakan, upaya itu hanya dilakukan segelintir pihak yang berdemo seolah-olah mengatasnamakan rakyat Sikka.

Kenapa ilegal? Menurut Dado, karena upaya itu tanpa dasar hukum dan bisa menciptakan suasana yang tidak kondusif di Kabupaten Sikka.

"Masyarakat Sikka secara keseluruhan tentu bertanya-tanya, atas dasar apakah Bupati dan Wakil Bupati Sikka harus diturunkan atau digulingkan. Aturan hukum manakah yang menjadi sandaran segelintir pihak untuk menumbangkan pemimpin pilihan rakyat Sikka itu," kata Meridian.

Menurutnya, kalau merujuk pada PP No 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengangkatan, Pengesahan dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala diberhentikan karena tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan.

Atau, tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah, tidak lagi memenuhi syarat Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah, dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah, tidak melaksanakan kewajiban Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah dan/atau melanggar larangan bagi Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah,.

Faktanya, Bupati dan Wakil Bupati Sikka, papar Dado, telah bekerja dengan baik untuk rakyat Sikka dan tidak melanggar sumpah jabatan serta tidak pernah melalaikan hak dan kewajibannya jadi tidak ada alasan hukum sama sekali untuk menumbangkan kepemimpinan mereka.

"Kalau dihubungkan dengan kasus dana bansos maka Bupati dan Wakil Bupati Sikka telah mendapat apresiasi masyarakat Sikka karena telah membuat suatu terobosan hukum dengan melaporkan kasus itu di Kejaksaan, sehingga apa yang diserukan para pendemo justru mengundang keheranan dan kejenuhan publik yang setiap hari dipertontonkan oleh aksi aksi yang tanpa isi dan muatan yang berbobot," tegas Dado.

Dia menjelaskan, masyarakat Sikka sudah paham sepak terjang mereka (pendemo) serta motivasi segelintir pihak tersebut dalam rangka menggulingkan rezim Soda dan meminta KPK menangani kasus dana bansos di Sikka.(Pos-Kupang.com)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---