Wednesday, 18 July 2012
Warga Selalu Ditipu Kontraktor
Warga transmigrasi di lokasi Odang, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, merasa nyaman tinggal di rumah yang sudah dibangun sekalipun beberapa rumah sedang diperbaiki kontraktor.
Persoalan menjadi kontroversi karena dipicu masalah utang-piutang dengan warga yang belum diselesaikan oleh kontraktor/pemborong. Warga kecewa karena selalu ditipu kontraktor.
Untuk itu, pihak Dinas Nakertrans Propinsi NTT harus mendesak pemborong agar secepatnya menyelesaikan utang-piutang dan diberi batas waktu paling lambat tanggal 1 Agustus 2012. Apabila dalam batas waktu tersebut belum juga diselesaikan, maka pihak Nakertrans Propinsi NTT diharapkan memfasilitasi proses hukum dengan melapor kontraktor kepada pihak berwajib.
Demikian kesimpulan hasil dialog tim Komisi C DPRD Sikka bersama mitra kerja dengan warga saat meninjau UPT Lewomada di Odang Desa Ojang, Jumat (13/7/2012).
Petikan dialog dan kesimpulan hasil dialog serta hasil pengamatan saat peninjauan lapangan itu kopiannya diterima Pos Kupang dari Kasi Penyediaan Sarana dan Prasarana Transmigrasi Dinas Nakertrans NTT, Fransiskus Gabi Tola, di Kupang, Senin (16/7/2012)
Tim Komisi C yang meninjau ke lokasi masing-masing Darius Evensius (Wakil Ketua Komisi C), Suaib, Yohanis Artikus Sem, Petrus Gande Ware, Siflan Angi (anggota Komisi C), Gregorius Rehi, S.H (Kadis Sosnakertrans Sikka), Drs. David Darong (Kabid Pembinaan Transmigrasi dan Pemberdayaan Kawasan), Fransiskus Gabi Tola (Kasi Penyediaan Sarana dan Prasarana Transmigrasi Dinas Nakertrans NTT), Poa Gaspar (Kasi Bina Penyediaan Areal dan Pembangunan Sarana Transmigrasi) dan Paulus Sani (Kepala UPT Lewomada).
Daud, salah seorang warga transmigrasi mengatakan, tidak ada masalah dengan bangunan rumah.
"Kami merasa bersyukur dapat rumah dan lahan serta fasilitas umum lainnya. Hanya kami kecewa karena selalu ditipu kontraktor soal upah dan biaya material kami yang belum dibayar," kata Daud seraya meminta anggota Dewan memfasilitasi dengan kontraktor agar segera membayar upah dan material mereka.
Keluhan soal belum dibayarnya upah dan material juga disampaikan warga lainnya, Emanuel dan Beni (sopir).
"Upah sopir proyek selama satu tahun tujuh bulan belum dibayar sampai saat ini. Tolong Bapak DPRD bantu fasilitasi kontraktor supaya bayar upah kami," kata Beni.
Warga translok lainnya, Yoseph Tupong mengakui, ada sambungan kayu pada rangka atap yang tidak sesuai dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat.
Menanggapi keluhan ini, ketua tim, Darius Evensius mengatakan, kondisi tersebut harus menjadi pelajaran agar dalam pelaksanaan pekerjaan diawasi juga oleh warga setempat agar tidak terlanjur.
Karena untuk membongkar dan memperbaiki kembali butuh biaya yang lebih besar. (kas)
Akibat Miskomunikasi
ANGGOTA Komisi C DPRD Sikka, Siflan Angi mengatakan, dalam perjalanan menuju lokasi transmigrasi ia sempat mewawancarai warga transmigrasi di beberapa rumah tentang kondisi mereka. Jawaban yang diperoleh, demikian Siflan, mereka nyaman tinggal di rumah yang ada.
Apalagi dekat dengan kebun.
"Polemik ini sebenarnya terjadi karena miskomunikasi antara warga transmigrasi, dinas nakertrans dan pemborong, dan ada yang memanfaatkan situasi ini. Masalah ini menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kita selanjutnya. Dan, perlu diingat bahwa untuk mendapatkan program ini tidaklah gampang, butuh perjuangan dan pengorbanan," kata Siflan.
Anggota Komisi C lainnya, Suaib mengatakan, kedatangan mereka ke lokasi untuk melihat dari dekat apa sebenarnya yang terjadi dan dialami oleh warga transmigrasi di lokasi. Ini penting agar apa yang dibicarakan sesuai dengan yang dilihat dan ditemukan, bukan berbicara hanya karena mendengar.
"Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan program ini karena masyarakat di sini dibantu membangunkan rumah dan fasilitas umum lainnya. Sebab tidak semua desa dan kecamatan bahkan kabupaten mendapatkan program ini," katanya.
Dikatakannya, pembangunan bisa berjalan secara baik manakala ada sinergitas antara pemerintah, rekanan/pemborong dan masyarakat. Karena itu bila ada masalah itu menjadi masalah bersama dan perlu dicarikan jalan keluar secara bersama pula.
Sementara anggota Komisi C lainnya, Yanto meminta Dinas Nakertrans NTT segera menyampaikan kepada kontraktor agar hutang piutang warga segera dibayar. Sebab, salah satu masalah yang terjadi karena upah tukang yang belum dibayar. (kas)pos-kupang.com)
Diposkan oleh Megu Nora Au di 11:39 0 comments
Label: Berita
Friday, 13 July 2012
Umpan Terobos Gemu Fa Mi Re untuk Pesta Rakyat Flores
oleh: Alexander Yopi
Gemu Fa Mi Re tampil bak kuda hitam. Bukan terutama digandrungi mulanya oleh nona dan nong itam manis dari wilayah nyiur melambai, Maumere, Sikka. Gemu Fa Mi Re seperti sebuah umpan terobos yang diselesaikan dengan baik oleh para penyerangnya di tengah gempuran Ja’i dan Ikimea dari Ngada, Gawi dari Lio, dan Chacha dari Manggarai.
Fenomena Tarian Daerah
Ja’i mengambil posisi dominan hampir di semua pesta rakyat di daratan Flores. Juga untuk Flores diaspora di mana pun berada. Ja’i menjadi jawaban dari substansi pesta rakyat orang Flores, yaitu bersapa sua dalam persaudaraan dan kebersamaan melalui tarian dan kegembiraan.
download mp3 gemu fa mi re
download mp3 gemu fa mi re
Sebelum Ja’i, pilihannya jatuh pada Rokatenda dan Gawi. Sesekali Tandak ala Larantuka menghiasi pesta rakyat Flores. Tetapi, dua tarian ini terasa monoton, tanpa ada eksplorasi gerakan yang lebih variatif. Faktor kebosanan menjenuhkan ragam tarian itu hingga pesta rakyat Flores beralih pada ragam tarian bebas dan imporan.
Chacha yang dihidupi masyarakat Manggarai bertahan dengan grafik yang konstan. Tidak ada kemajuan lebih, kecuali untuk memberikan pilihan lain ketika Gawi dan Rokatenda sudah mengistirahatkan para penari pada pesta rakyat.
Sampai ketika ragam Ja,i dipopulerkan sebagai alternatif tarian kebersamaan dalam sebuah pesta, kerinduan pesta rakyat Flores pun terpenuhi oleh sebuah tarian bersama yang dinamis, variatif, dan energik. Ja’i bukan lagi monopoli pesta adat orang Ngada, melainkan pesta rakyat orang Flores di mana pun berada.
Provokasi Ja,i melahirkan Ikimea. Kedua-duanya memang berasal dari Ngada. Tetapi, Ja’i cenderung mewakili tarian adat orang Bajawa, sedangkan Ikimea adalah tarian adat orang Soa. Kedua-dunya adalah saudara kandung dalam satu teritori kabupaten, yang berhasil dimetamorforsis menjadi tarian pesta rakyat. Ikimea juga sama dinamis, variatif, dan energik. Lalu silih berganti, Ja’i dan Ikimea mengisi ruang pesta rakyat orang Flores dengan tepuk kegembiraan, kebersamaan, dan persaudaraan.
Dengan dua tarian ini, pesta rakyat Flores pun bisa diprediksi. Dimulai dengan Gawi atau Rokatenda, lalu diletupkan oleh Ja’i dan Ikimea. Untuk sekedar ‘turun mesin,’ Chacha akan melantai diselingi dengan dansa, lalu Ja’i dan Ikimea kembali susul menyusul demi meletup-letupkan kebersamaan dan persaudaraan.
Dominasi Musik Populer
Maumere memang punya Rokatenda yang lahir dari kaki-kaki penari di Pulau Palue. Ini tarian muda-mudi yang kemudian diangkat menjadi tarian di pesta rakyat. Biasanya menjadi pembuka pada pesta-pesta rakyat di Flores.
Tetapi Rokatenda sudah sangat lama dan tidak mendapat varian baru yang bisa membuat tarian ini kembali bertengger di puncak pesta rakyat Flores. Lantas, Rokatenda digiring pada pilihan terakhir, sebelum mungkin dilupakan sama sekali kecuali untuk orang Maumere, Sikka.
Ketika daerah-daerah lain ditumpahi lagu-lagu bernuansa kedaerahan, menyatu padu dalam kebersamaan pesta rakyat Orang Flores, lagu musikalitas daerah Maumere, Sikka tenggelam oleh aliran musik populer berbau pop, rock, rap, ska, metal, dan reggae. Musisi dan pemusik Sikka benar-benar melahap reggae seperti musik daerahnya. Demikian juga pop, rock, rap, ska, dan metal berkembang sama cepatnya.
Membersit juga kerinduan, kapan musikalitas kedaerahan orang Maumere, Sikka bisa mempengaruhi ragam tarian pesta rakyat di Flores seperti masa keemasan Rokatenda?
Banyak proyek percobaan yang sudah dilakukan musisi asal Maumere, Sikka. Karena telinga orang Maumere, Sikka sudah terbiasa dengan musik populer, musisi asal Maumere, Sikka menyusupkan syair dan lagu berbahasa daerah ke dalam genre musik populer tersebut. Begitu pun dengan lagu-lagu rakyat Maumere, Sikka. Diaransemen ulang sesuai genre musik populer, seperti pop rock, reggae. Selebihnya, lagu berbahasa daerah Maumere, Sikka didominasi oleh genre musik dangdut melayu, musik gambus, dan slow rock.
Dengan citarasa seperti ini, tidak ada ragam tarian bersama yang lahir dari dan untuk pesta rakyat di Maumere, Sikka. Pesta rakyat itu lebih banyak diisi dengan lagu daerah dengan sentuhan musik populer, lalu dangdut melayu dan gambus. Ragam tarian yang diperagakan kebanyakan berekspresi bebas. Tidak ada pola khusus, ragam khusus, apalagi yang dihasilkan dari aliterasi gerakan tarian adat menjadi tarian pesta rakyat.
Apakah gong waning dan hegong, soka bobu, toja bobu, gareng lameng, misalnya tidak mampu memberikan inspirasi bagi musisi dan pencipta kreasi tarian modern di Maumere, Sikka untuk menelurkan ragam tarian pesta rakyat? Sementara itu, gong waning sendiri mampu mengiringi berbagai jenis irama seperti Todu, Badu Blabat, Glebak, dan Leke. Mengapa tidak lahir irama musik rakyat dari varian gong waning ini?
Gemu Fa Mi Re
Saya suka lagu ini sejak pertama berkenalan. Pertama, karena musik gong waning dan ketukan khas musikalitas orang Maumere, Sikka. Kedua, NF Mof dan Alfred Gare mengangkat syair dari warisan penulis anonim berdasarkan pelajaran membaca not (solmisasi) guru agama untuk murid-murid SD hingga SMA, juga mudika pada era 1970-an.
Di Ohe, Maumere pada era 1970-an itu, setiap siang atau saat pulang sekolah, murid-murid sekolah menyanyikan syair dari notasi angka tersebut.
Demikian pun muda-mudi yang pulang latihan koor. Tidak lupa membungkus langkahnya dengan syair tersebut.
Begini syair asli dari penggalan lagu Gemu Fa Mi Re itu dilafalkan: LA LELE LUK SI LA SOL/MI FA MI FA SOL, LELE TIDING FA FA, LELE KLEPIN MI MI/ MI DO MI DO PEMUK FA MI RE
.
Tidak jelas memang, apakah syair itu adalah penggalan refrein atau justru keseluruhan lagu itu. Karena yang dinyanyikan saat itu dan kebanyakan diingat hingga kini adalah penggalan syair tersebut.
Tetapi itu tidaklah amat penting. Karena Ketiga, saya menjadi kagum karena gong waning dan Gemu Fa Mi Re ini justru digandrungi oleh hampir seluruh daratan Flores pada pesta rakyat orang Flores. Ketika gong waning itu dibunyikan sebagai intro dari lagu tersebut, kursi-kursi mulai ditinggalkan dan pesta rakyat Flores itu pun riuh rendah.
Yang mengasyikkan adalah ragam tarian seperti nona-nona Maumere, Sikka lagi menari hegong, berputar ke kiri dan ke kanan. Betapa kuatnya pengaruh dari musikalitas Gemu Fa Mi Re tersebut hingga pesta rakyat Flores pun dibius dengan lenggak-lenggok putar ke kiri e…nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri, dan ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri manis e.. sekarang ke kanan e…nona manis putarlah ke kanan, ke kanan, ke kanan, ke kanan, dan ke kanan, ke kanan, ke kanan manis e… Mencatut ragam tari video klip lagu tersebut. Seperti Hegong.
Hegemoni Ja’i dan Ikimea pun sejenak terhenti. Kejadian ini mirip turnamen Seminari St Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko Cup, dalam rangka pesta intan 75 tahun pada 2005 lalu.
Persami Maumere sudah lama tidak punya nama di kancah turnamen sepak bola di Flores. Terjadi demikian, karena kesebelasan Pati Ahu, di Waigete, Maumere berhenti memproduksi pemain berkelas sejak ditinggal Bruder Otmar. Tetapi, ketika turnamen sepak bola mulai menjamur di kota beling ini, klub-klub sepak bola pun bermunculan. Lalu, pemain-pemain bertalenta, dengan postur pohon moke yang ramping bertumbuh di lapangan hijau.
Sangat mengejutkan, ketika Pelangi FC, Klub asal Maumere menohok penonton karena berhasil masuk final. Mereka berhadapan dengan Gladiator FC, Klub Kota Bajawa, yang favorit juara kala itu.
Jika dibandingkan secara fisik, Pelangi FC kalah kelas. Sudah pasti adu fisik mereka kalah. Daud dan Goliat. Dari sisi historisitas dan skill, Pelangi FC pun berada di bawah rata-rata. Benar-benar underdog di hadapan Gladiator FC.
Kejutan kembali terjadi. Klub asal Maumere itu pun menggondol piala karena berhasil menekuk Gladiator FC (2-1). Mereka tampil taktis dan efektif. Dua peluang gol berhasil dikonversi Edmon Ngata dan Cantona menjadi kemenangan.
Benar bahwa Gemu Fa Mi Re itu sebuah umpan terobos dari permainan efektif dan efisien. NF Mof dan Alfred Gare cerdas mengatur ritme permainan, dengan kombinasi musik populer dan tradisional, antara syair populer dan syair kedaerahan.
Inilah kekuatan Gemu Fa Mi Re, yaitu terletak pada kombinasi keinginan pasar dan alternatif musik untuk pesta rakyat Flores. Bahwa gong waning dan hegong telah dikonversi dari tarian adat menjadi tarian rakyat. Persis yang terjadi pada Ja’i dan Ikimea.
Namun, tetaplah Maumere, Sikka masih terbilang underdog untuk musikalitas yang mengusung pesta rakyat Flores. Gemu Fa Mi Re adalah fenomena.
Jika dan hanya jika, spirit dan kesuksesan yang sudah ditularkan Gemu Fa Mi Re bisa memacu karya-karya musikalitas pesta rakyat ala Maumere, Sikka, fenomena itu akan menjadi fakta.
Setelah Rokatenda adalah gong waning, atau yang lain.
Selamat berkarya musisi dan kreator tarian ala Maumere, Sikka. Kami menanti umpan terobosan berikut.(Alexander Yopi)
Download Gemu Fa Mi Re Mp3
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 14:22 0 comments
WURING
Pernah ke Wuring? Wuring berada dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Alok Barat, Kota Maumere. Untuk mencapai desa nelayan yang berjarak sekitar 3 Km ini tak perlu risau. Aspal mulus membawa kita menikmati perjalanan hingga perkampungannya. Kampung Wuring merupakan daerah rawan tsunami. Masih melekat dalam bayangan tahun 1992, gempa yang disertai gelombang tsunami menghantam kawasan pesisir ini. Pemerintah kemudian merelokasi warganya kedataran yang lebih tinggi di Nangahure. Namun sebagai keturunan pelaut, warga Wuring kemudian kembali kepemukiman dan tetap menetap didaerah ini seperti sediakala.
Masyarakat Wuring merupakan keturunan etnis Tidung Bajao, salah satu etnis dari enam etnis di Kabupaten Sikka, Flores.
Keturunan mereka berasal dari Sulawesi Selatan. Beratus tahun etnis ini telah menetap di sebagian wilayah pesisir utara Kabupaten Sikka.
Mengunjungi desa ini, kesan pertama cukup menggoda ketika kita bercengkerama diantara ikan-ikan laut yang bertebaran di lokasi pasar harian. Berbagai macam jenis ikan bisa kita jumpai.
Salah satu pemandangan unik di kampung ini adalah menyaksikan puluhan rumah khas suku bajao yang berdiri mengangkang pesisir laut Flores. Seolah-olah terlihat seperti rumah terapung. Barisan rumah ini berdiri kokoh dengan tiang-tiang penyangga menancap kuat di dasar pantai yang landai. Dibawah kolong rumah nampak sampah menumpuk, dengan baunya khas tidak seorang pun yang peduli. Kehidupan orang-orang di sekitarnya berjalan sebagaimana adanya. Tak ada perasaan takut dengan ancaman tsunami dgn kondisi pemukiman yang sebagian berada di laut.
Didaerah ini, terdapat satu pelabuhan kapal yang berada didalam teluk yang menjorok kedalam. Aktivitas pelabuhan ini cukup sibuk sebagai pelabuhan bongkar muat barang. Kapal-kapal motor berbadan kayu mayoritas menghuni pelabuhan, dengan aktivitas mengangkut hasil bumi dan bahan bangunan dari Maumere ke Makassar, Buton ataupun sebaliknya.
Selain itu, didaerah pesisir ini pemandangan cukup indah.
Pada umumnya suku bajo diwuring kebanyakan berprofesi sebagai Nelayan. Walaupun ada sebagian kecil suku bajo tersebut menjadi pedagang. Aktivitas melaut biasa dilakukan pada malam hari, dimulai pada jam 3 sore hingga pagi hari.
Selain ikan-ikan segar, Wuring juga terkenal sebagai daerah produksi ikan asin (ikan kering) dari jenis kerapuh hingga teri. Sejumlah warga Maumere, selalu menyempatkan waktu dihari libur untuk berbelanja ikan di daerah pinggiran ini. Sebagian melanjutkan perjalanan ke arah barat, menikmati pemandangan indah Kajuwulu dan Tanjung di pantura Flores. Tentu tak lupa menikmati gurihnya ikan bakar dan secangkir moke di pesisir nan elok.
foto utma: kembarabahari
foto halaman: dari berbagai sumber
foto utma: kembarabahari
foto halaman: dari berbagai sumber
www.inimaumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 13:45 0 comments
Label: Jalan-Jalan
Kebiasaan Pesta Miskinkan Orang NTT
Mental dan perilaku serta kebiasaan pesta di NTT antara lain menyebabkan daerah itu tetap miskin dan terbelakang. Pesta itu berlangsung sepanjang malam dan siang hari dengan menghabiskan dana rata-rata Rp 50 juta per pesta. Direktur Yayasan Peduli Sesama NTT Isidorus Kopong Udak di Kupang, Senin (9/7/2012), mengatakan, meski biaya pesta dipinjam dari berbagai sumber, tetapi penyelenggara pesta tidak pernah merasa malu atau takut menyelenggarakan pesta.
"Ada macam-macam pesta, mulai dari ulang tahun, syukuran rumah, cukur rambut, sambut baru (komuni pertama), wisuda, kumpul keluarga, tahbisan pastor, pesta panen, pesta bangun rumah, syukuran rumah baru, dan seterusnya," kata Udak.
Setiap penyelenggaraan pesta menghadirkan antara 50-2.000 orang undangan. Masing masing tamu undangan dijamu dengan biaya Rp 40.000-Rp 70.000, tergantung status sosial penyelenggara pesta.
Menurut Udak, NTT masuk kategori provinsi termiskin di Indonesia, tetapi tidak ada upaya pemda setempat menekan kegiatan pesta. Pemda sendiri juga terlibat di dalam perilaku pesta itu.
"Para pejabat yang anaknya sambut baru (komuni pertama), wisuda, dan lainnya menyelenggarakan pesta yang jauh lebih semarak dari warga biasa. Gengsi sosial sangat tinggi terkait penyelenggaraan pesta ini," kata Udak.
Ia mengatakan, sebaiknya ada perda untuk membatasi pesta, termasuk waktu penyelenggaraan, anggaran, jumlah tamu undangan, dan minuman keras pesta. Banyak anak sekolah terlibat di dalam kegiatan pesta itu sehingga melupakan belajar. Mereka berdansa dan menari sepanjang malam sambil mabuk-mabukan, hingga lupa belajar.
"Pesta ini masalah sosial yang mesti segera ditangani pemerintah, tokoh agama, dan aparat keamanan," kata Udak.(pos-kupang.com)
Diposkan oleh Megu Nora Au di 12:19 0 comments
Label: BuDaYa..
Sunday, 8 July 2012
Genchar Juarai Kompetisi Shuffle Dance Maumere
Penonton Padati Lapangan Kota Baru
Genchar (Generasi Kabor) Shuffle Dance keluar sebagai kampiun pada kompetisi tarian shuffle atau Shuffle Dance Competition yang digelar di Lapangan Kota Baru Maumere, Sabtu 7 Juli 20012 tadi malam. Tarian yang aktif pada gerakan kaki dan tumit ini dipersembahkan Nuu Mild dan diikuti 7 grup shuffle di wilayah Kota Maumere. Audy dari Neibers Event Organizer selaku penyelenggara mengatakan kompetisi shuffle diadakan untuk menyalurkan seni tari shuffle dikalangan muda Maumere. "Tarian Shuffle sendiri telah membooming jadi kita ingin mepersembahkannya sebagai ajang kreasi mengapresiasi dan menyalurkan bakat diri para anak muda di Maumere dan Ende," katanya. Juara kedua kompetisi ini diraih Kabor Shuffle Dance dan juara ketiga disabet kelompok shuffle Blend Dancer. Dengan demikian dua grup shuffle dari Kampung Kabor, Kelurahan Kabor, Kota Maumere yakni Genchar dan Kabor Shuffle kuasai kompetisi yang memperebutkan total hadiah Rp 3,75 juta dan sejumlah piala tetap.
Lapangan Kota Baru sejenak berubah. Dari kesunyian saban hari tersulap menjadi pesta ceria para anak muda yang ingin mengapresiasikan diri di ajang yang baru pertama kali diadakan di Flores. Selain Kota Maumere, Nuu Mild dan penyelenggara iven Neibers EO pada 16 Juli 2012 akan menggelar acara serupa di Lapangan Perse Kota Ende.
Sejak pukul 18.00 Wita, arena kompetisi perlahan dipadati pengunjung. Panggung yang berdiri gagah di sisi timur mulai dikelilingi para pendukung masing-masing grup. Lucky Reyner selaku pembawa acara membuka kompetisi dengan menggojlok pengunjung bersama hadiah-hadiah menarik yang dipersembahkan Nuu Mild.
Meski udara sedikit dingin, namun lapangan tandus ditengah kota ini terus dipadati penonton hingga akhir acara. Kompetisi dibuka grup shuufle Incredible Dancers sebagai peserta pertama. Yang diikuti Kabor Shuffle Dance, The Four Boy, Blennd Dancer, Gracile Dancer, Genchar Shuffle Dance dan Belbor Dancer.
Stanley, salah satu juri kompetisi kepada inimaumere.com mengatakan penilaian dititikberatkan pada kekompakan, ekspresi, kostum, power, penguasaan panggung, pola lantai dengan nilai maksimal per kriteria adalah 100.
Dan puncaknya adalah perebutan juara I di Battle Shuffle Final yang diikuti duo grup terbaik yang telah melewati sejumlah penilaian. Dan Genchar Shuffle Dance serta Kabor Shuffle Dance asal Kampung Kabor berhak berkompetisi dipartai terakhir alias final.
Dan hasilnya, juri kompetisi yakni Stanley (Kupang) dan Imelda (Maumere) memberi penilaian akhir, grup shuffle Genchar Shuffle Dance keluar sebagai pemenang dengan menyabet nilai 190. Genchar berhak atas hadiah uang sebesar Rp 1,5 juta sedang juara kedua Kabor Shuffle Dance meraih nilai 175 dan menggondol hadiah uang Rp 1.250 juta. Blend Dancer harus puas dengan nilai 145 dan berhak membawa pulang hadiah Rp 1 juta sebagai pemenang ketiga. Masing-masing pemenang juga mendapat piala tetap.
Untuk memuaskan para pengunjung yang telah menyempatkan waktu menyaksikan pegelaran ini, Transnusa Airlines selaku pendukung acara mempersembahkan hadiah menarik berupa voucher tiket gratis bagi penonton yang mampu menjawab kuis. Tiket gratis dengan rute Maumere - Kupang tak ayal menjadi salah satu persembahan kuis terbaik yang menarik minat penonton disela acara.
Kompetisi juga mengusung sejumlah hiburan menarik yang membuat penonton tak beranjak. Misalnya duo raper dari grup hip-hop B-Unit yang jauh-jauh datang dari Kota Bandung, raper asal Kota Bajawa EBC dan grup hip hop asal Kota Maumere, Xelont n Crew. Tak ketinggalan beberapa band yang ikut serta meramaikan kompetisi.
DJ Axelia - PA Calista dan sejumlah band bikin panas Maumere
Tampilnya para musisi semakin membuat acara kian menarik
Dan yang paling heboh, ketika arena kompetisi disulap menjadi area dance floor dengan penampilan DJ Axelia dan PA Calista dari Kupang. Duet keduanya menjadi bagian akhir pegelaran kompetisi yang berlangsung hingga pukul 00.30 wita. Dalam suasana aman dan tertib hingga akhir acara, kompetisi ditutup dengan foto-foto bareng para pemenang, panitia dan sponsor acara.(oss)
searah jarum jam - Juara 3 Blend Dancer bersama Audy (kiri), Juara ke-2 Kabor Shuffle, Juara 1 Genchar, Nuu Mild, Trans Nusa & Neibers EO...
www.iniamumere.com
www.iniamumere.com
Diposkan oleh Megu Nora Au di 09:48 0 comments
Mirip UN, Tes CPNS Digelar Oktober
Deputi SDM Bidang Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN&RB), Ramli Naibaho mengatakan bahwa seleksi CPNS reguler akan digelar paling lambat bulan Oktober tahun ini.
Pelaksanaan seleksi CPNS ini, kata Ramli, akan melibatkan konsorsium perguruan tinggi negeri (PTN) dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. "Mulai tahun ini seleksi CPNS reguler tingkat kesulitannya lebih tinggi. Tes dilakukan berjenjang dan soalnya dibuat oleh konsorsium perguruan tinggi negeri. Jadi daerah tidak lagi menggandeng universitas setempat karena materinya sudah disiapkan pusat," tegas Ramli Naibaho yang dihubungi, Kamis (28/6).
Bahan tes CPNS ini, lanjutnya, disesuaikan dengan kemampuan daerah masing-masing. Sehingga akan ada kategori masing-masing kabupaten/kota, dan provinsi. Misalnya untuk Surabaya tingkat kesulitannya A, sedangkan Gorontalo C, dan Papua D.
"Jadi modelnya mirip tes Ujian Nasional dan UMPTN. Karena itu hasil UMPTN dan UN ini salah satunya akan dijadikan dasar untuk penetapan kategorinya. Nantinya yang akan menentukan adalah Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)," terang Ramli.
Setelah ditetapkan kategorinya, master soal yang dibuat konsorsium PTN akan diserahkan ke pejabat pembina kepegawaian (PPK) dengan pengawasan internal maupun ICW (Indonesian Coruption Watch).
"Pusat tidak akan menangani penggadaan soal, itu jadi kewenangan daerah untuk menggandakannya," ucapnya.
Untuk mengurangi kecurangan, saat penyerahan master soal, PPK wajib menandatangani surat perjanjian. Yang salah satu pointnya menyebutkan bila soal bocor (jual beli soal atau jawaban) maka PPK yang harus bertanggung jawab dan akan dipolisikan.
"Selain itu, PPK ini akan diawasi ketat oleh pengawas internal dan ICW. Apalagi seluruh pelaksanaan seleksi CPNS mulai penggadaan sampai saat tes akan diawasi ICW yang menggandeng LSM-LSM terdaftar," tandasnya. (esy/jpnn/vit)
Diposkan oleh Megu Nora Au di 09:40 0 comments
Keragaman Corak Tenun Ikat Flores
Tenun ikat Flores dibuat dengan bahan dasar benang dari kapas yang dipilin oleh penenunnya sendiri. Benangnya kasar dan dicelup warna biru indigo. Kain dihiasi dengan ragam hias bentuk geometris aneka warna yang cerah dan menyolok. Kain tenun dari daerah Manggarai banyak menggunakan warna kuning keemasan, merah, dan hijau.
Pembuatan desain kain tenun ikat di Flores dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi. Pekerjaan ini dapat berlangsung selama berminggu-¬minggu, bahkan kadang-kadang sampai berbulan-bulan. Seringkali pencelupan dikerjakan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung, meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. Ketika kerajaan-kerajaan kecil di Flores masih ada, sejumlah orang bekerja khusus sebagai pembuat kain-kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana.
Jika dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial (golongan bangsawan atau rakyat jelata), maka masa sekarang tidak lagi. Sekarang kain-kain tenun dibuat untuk dijual ke pasaran lalu dijual lagi kepada mereka yang membutuhkannya. Pesanan dengan kualitas khusus masih dilayani dengan harga khusus pula.
Beberapa daerah yang menghasilkan kain-kain tenun adalah Manggarai, Ngada, Nage Keo, Ende, hingga sekitar Lio, Sikka, dan Lembata di bagian timur Flores.
Di daerah Manggarai ada teknik lain pembuatan ikat, yaitu menggunakan lidi-lidi pengungkit dalam proses penenunan untuk menghasilkan pakan tenun songket tambahan.
Di daerah Ngada, Flores Tengah, juga terdapat kain tenun songket warna kuning emas sebagai pengganti songket benang emas. Kain-kain tenun songket Flores di atas latar tenunan benang kapas ini mempunyai banyak persamaan dengan kain-kain songket dari Sumbawa.
Menurut sejarah wilayah sebelah barat Flores dulu merupakan daerah kekuasaan kerajaan Bima-Sumbawa yang memiliki kain-kain tenun songket benang emas dan perak untuk kalangan raja-raja Bima.
Hal ini membawa pengaruh yang cukup kuat di daerah sebelah barat Flores, sehingga mereka pun mempunyai tradisi membuat kain tenun songket walaupun tidak menggunakan benang emas dan benang perak.
Selain kain songket, masyarakat Ngada juga membuat kain tenun ikat. Tenun ikat yang mereka buat menggunakan warna-warna gelap, antara lain dengan kombinasi warna biru dan cokelat, dengan garis-garis sederhana.
Sedangkan suku Nage Keo menghasilkan tenunan yang menampilkan motif bintik-bintik kecil dari teknik ikat pembentuk motif floral. Jalur ikat ini dikombinasikan dengan jalur-jalur kecil lain berwarna putih, merah, dan biru polos.
Seperti halnya kain sarung, pada kain songket juga ada pembagian desain kain antara lain adalah yang disebut bagian kepala yang diletakkan di bagian tengah dan yang disebut badan yang diletakkan di belakang kain lainnya. Pembagian desain songket dari Manggarai dan Ngada ini juga membentuk bagian badan dan kepala, dengan motif yang berbeda di kedua bagian tersebut. Saat dikenakan, bagian kepala biasanya diletakkan di bagian depan dan bagian badan diletakkan di belakang.
Di Flores, kain tenun biasanya dikenakan hingga setinggi dada.
Dalam perkembangannya, mereka menggunakan kebaya yang pemakaiannya dimasukkan dalam sarung. Cara memakai kain sarung seperti ini hampir sama dengan cara wanita Bugis dan Makasar di Sulawesi Selatan, atau Kaili dan Donggala di Sulawesi Tengah.
Pada mulanya kain adat Flores untuk wanita berbentuk sarung setinggi dada dan dilipat di bagian depan. Di bagian pinggang pemakai dikenakan ikat pinggang dari perak. Mereka tidak menggunakan kebaya atau blus. Namun kini ada variasi lain dari cara pemakaian kain sarung, di mana lipatan kain sarung diikat di salah satu bahu sehingga agak terangkat ke atas pada salah satu sisinya.
Cara pemakaian kain di Flores ada bermacam-macam. Lain daerah atau suku, bisa berbeda pula cara pemakaiannya. Perempuan suku Sikka di Maumere, Kabupaten Sikka, menggunakan kain sarung sebatas pinggang yang disebut utan, yang dipadukan dengan baju kebaya yang disebut labu, yang modelnya mirip kebaya Maluku. Utan dengan ragam hias yang diberi warna gelap atau hitam disebut utan welak.
Paduan kain dan labu ini masih dirasa kurang bila tidak menggunakan selendang yang disebut dong. Penampilan kaum perempuan ini masih dilengkapi tusuk konde dari emas atau perak yang tinggi berbentuk bunga.(ultimoparadiso)
Diposkan oleh Megu Nora Au di 06:44 0 comments
Label: Pulau Flores






























