Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Wednesday, 14 May 2008

Cungkil matahari

"Mari kawan kita menari
menari sampai pagi
sampai cungkil matahari"

DEMIKIAN sekeping syair lagu JE Papache, musisi lokal Nian Tana Sikka, yang kadung kondang di kajang-kajang pesta. Meski berbentuk ajakan, syair di atas lebih merupakan potret atas realitas budaya manusia Kabupaten Sikka yang gemar benar berpesta. Tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin, sama gemarnya. Masyarakat akrab akan istilah mupet/muka pesta (hadir tanpa diundang), soka dalang (ikut menari tanpa diundang), dan rompes / rombongan pesta (kelompok pelacak info pesta).

Acara yang dipestakan pun beraneka. Dalam tradisi setempat, jika seorang bayi dilahirkan ada syukuran lodong me; ketika ia remaja, pesta legen ala untuk remaja putri atau pesta gareng lamen bagi remaja pria; tatkala ia menikah pestanya bahkan menjadi serial (poto wua ta'a, tung benu, lantas kawin adat); dan bila meninggal diacarakan dalam pesta kematian, gewong ata maten.


Dalam tradisi agrarisnya, dikenal pula pesta syukur panen atau pesta inaugurasi suku (misalnya granmahe, patikarapau, ga'i, dan togo). Ketika Agama Katolik masuk, terkenallah pesta permandian, pesta sambut baru, pesta nikah, dan (jangan lupa) pesta pentahbisan. Ketika budaya popular merangsek masuk ke sukma manusia Sikka, makin aneh jenis pestanya: pesta ulang tahun, pesta wisuda sarjana, pesta penerimaan seseorang, pesta perpisahan, valentine day, dan bahkan pesta piala (untung bae selama ini Persami keok terus-terus).


Dan, namanya pesta, selain perlu beras dan sayur-mayur serta aneka bumbu, harus bunuh babi, atau sapi bila mungkin, sekurang-kurangnya ayam lima ekor; kurang dari itu bukan pesta. Tidak boleh tanpa moke (arak), minimal untuk piong-tewok, beri makan leluhur. Lalu undang opreter yang koleksi lagu dangdutnya komplet, dan dirikan tenda besar (bila perlu tutup jalan raya publik). Dan, sewalah para fotografer atau tukang shooting untuk mengabadikan momentum historicum itu.


Tapi mengapa harus pesta? Bagi sementara orang, pesta diyakini sebagai semacam forum solidaritas, arena silaturahmi, kesempatan bertemu dan berkumpul bersama kerabat dan sahabat. Atas argumen inilah pesta tidak saja diselenggarakan oleh ata manum-balik, kaum berduit, the have; tetapi diikuti secara latah oleh mereka yang tak punya cukup uang. Alasannya, 'Biar hutang, asal panggil keluarga ikut mengayubagiakan anak saya di hari istimewahnya.' Akibatnya segera tampak.


Nafsu berpesta masyarakat adalah tambang uang pedagang. Pedagang kaset bertambah aset, penjual baju makin maju, penyewa property pesta tambah makmur, salon kecantikan kian berbinar, fotografer kelimpahan order, pedagang sembako untung besar.

Di sisi lain, usai pesta, setelah semua kerabat dan sahabat pergi, tinggallah sampah beronggok-onggok dan beronggok-onggok utang.


Rekreasi yang tidak rekreatif


"Itulah salah satu sebab mengapa kita terus-menerus miskin dan miskin turun-menurun..." Begitulah kerap dan lazim dijelaskan Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus, dan Wabup Drs. Yoseph Ansar Rera di depan rakyatnya, dalam upaya membentuk mental masyarakat menuju kondisi moret epan. Selama hampir lima tahun usia jabatannya, dari desa ke desa, keduanya bagai tak bosan mendengungkan ihwal yang satu dan sama ini, dengan aneka ilustrasi.


"Moret susar atau moret epan, hidup miskin atau hidup sejahtera, keduanya berbuah dari mentalitas dan praktek hidup kita," demikian paparan Wabup Yos Ansar di hadapan warga Desa Maluriwu dan tujuh desa lain dalam kunjungan ke Kecamatan PaluE. "Jika kita berpikir moret epan, seyogyanya kita bertindak bijak untuk mencapainya. Dan, tindakan bijak itu antara lain adalah mengurangi atau menghentikan sama sekali kesukaan kita menyelenggarakan pesta."


"Dan pesta, sama seperti judi dan merokok, lebih banyak membawa dampak buruk daripada rasa senang," demikian penjelasan Bupati Alex di depan ratusan peserta RAT Kopdit Mitan Gita, Senin (12/3/2008). "Makanan kita habis, hewan kita habis, dan habis juga uang yang kita kumpulkan selama setahun.... Lalu untuk apa? Untuk kesenangan satu malam? Atau agar orang puji kita hebat?" tanya Pak Alex retoris.


Lebih jauh, sang bupati yang sarjana manajemen pemasaran itu menguraikan hakekat pesta. Pesta itu kegiatan rekreatif. Rekreasi artinya bersenang-senang untuk kembali segar sehingga dapat berkreasi, untuk kembali menciptakan sesuatu. Ketika pesta sampai pagi, sampai cungkil matahari, ia bukan rekreatif, melainkan destruktif, menghancurkan. "Hancur sekolah anak karena uang sudah dipakai berpesta; hancur ekonomi rumah tangga karena harta dilelang di pegadaian; hancur rencana-rencana produktif lain karena tak ada dana tersisa; dan... hancur harga diri bila didatangi terus oleh para penagih utang...," papar Pak Alex disambut gemuruh tertawa hadirin.


"Dalam kondisi hancur begitu, beranikah kita mengukur berapa jarak ke moret epan? Maka tidak bisa tidak, eksistensi pesta-pesta mesti kita tamatkan. Harus kita batasi."


Regulasi pesta


Membatasi pesta tidak saja ditempuh secara oral dalam kula-babong dan kula-kame. Di akhir tahun tahun 2007, Pemkab dan DPRD Sikka memberlakukan Perda Nomor 10 /2007 tentang Izin Keramaian.

Dalam Perda tersebut, ditentukan antara lain bahwa setiap keramaian (termasuk pesta) harus mendapat izin dari kepolisian setempat, dan harus selesai selambat-lambatnya jam dua dinihari.

Meski disambut protes, di beberapa tempat terutama dalam Kota Maumere, jarang dijumpai pesta hingga cungkil matahari. Sementara di desa-desa, masih banyak pesta diadakan hingga pagi, tentunya dibayangi rasa cemas tuan pesta. Tuan pesta kerap berdalih, "Aduuuuh, anak-anak sudah mabuk, saya suruh berhenti, mereka ngamuk..."


Agaknya, tantangan klasik terulang di sini, aparat keamanan perlu Vitamin T: TEGAS.

Namun, sesungguhnya kepedulian untuk mengeliminir pesta jauh lebih dahulu diterapkan Gereja. Saat Maumere masih berupa Kevikepan, belum jadi Keuskupan, Vikep Maumere Romo Fransiskus Fao, Pr membuat kebijakan dengan memerintahkan semua pastor paroki untuk menyelenggarakan penerimaan sakramen komunio pertama pada hari yang sama.

Telunjuk protes pun diarahkan ke hidung para pastor. "Bagaimana mungkin saya sebagai paman, pu lame, harus menghadiri pestanya putera sulung saudari kandung saya, sementara puteri bungsu saya juga terima komunio pertama di hari yang sama?"


Namun Romo bicara habis perkara. Meski umat menggerutu, jadilah begitu.

Akan tetapi, usai pesta tidak sedikit orang tua yang bersyukur bahwa dana yang dikeluarkan hanya sedikit, banyak stok pangan yang tersisa. Satu-satunya yang tidak senang hanya para penjual jasa, tukang shooting dan tukang rias, tak bisa menerima 100 order dalam satu hari.

Dari dua pengalaman itu, jelaslah bahwa sesungguhnya masyarakat diselamatkan oleh regulasi tentang pesta, baik yang ditetapkan pemerintah maupun yang dikhotbahkan oleh para pemimpin umat. Dan mereka senang setelah menyadarinya.


Namun jalan ke moret epan masih panjang, mendaki, berliku. Karena kendalanya tidak tunggal. Namun, setidaknya boleh disyukuri bahwa perlahan-lahan kita berjalan ke arah yang benar. Bila harus jujur, kita patut mengatakan bahwa pekerjaan merombak mental dan pola pikir masyarakat tidak gampang. Dan, itu yang antara lain dikerjakan Alexander Longginus & Yoseph Ansar Rera sepanjang lima tahun abdinya.


Moret epan tak segampang membalikkan telapak tangan. Moret epan tidak turun dari langit. Ia tidak serta-merta tercipta seusai bupati berpidato. Ia mesti diperjuangkan. Dengan tetap bekerja giat dan hemat mengelola pendapatan, bukan memboroskannya. Mari kita berhenti mencungkil matahari.(spirit)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Download Lagu Asli Maumere...(1)

Halo semua warga maumere dimana saja berada,kini saatnya kita download lagu-lagu tanah Maumere dulu.Bagi yang mau silakan klik saja di judul lagunya dan silakan menikmati lagunya,untuk sementara kita berikan enam lagu dulu.Jika ada yang mau lagu lain ditampilkan silakan saja disampaikan biar kita tampilkan lagunya(kalau ada).
oYa,kalo pas didownload cuma muncul indeks text/html bukan file mp3,dibuka saja terus di klik lagi di judul lagunya,langsung jalan..
Ini beberapa lagu yang kami berikan,nantikan berikutnya lagi..



nongami.MP3




koroka'un-fortes.mp3





bako koli-Fortes.mp3





bunga-Fortes.mp3





Ami ata nukak.mp3





ian tena.mp3


Selengkapnya...

Ketawa Gila Sara Maumere....(3)

Tidak menyesal?

Ini sebuah cerita masa lalu ketika bioskop terkenal di Maumere bernama Golden Theater yang berada di tengah kota menjadi tempat hiburan teramai saat itu.Semua orang Maumere waktu itu kalo lagi kasmaran pasti ajak dia pu pacar pigi nonton felem.Nah moat jery yang waktu itu lagi senang-senangnya karena sedang jatuh hati deng du’a mery tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengajak belahan jiwanya pigi nonton filem.Apalagi felem yang diputar waktu itu diperani Rano Karno bintang pujaan mo’at jery jadi dia jelas stel rapi abis,wangi sana-sini,jenggot cukur,pokoknya dia harus bisa tampil rapi depan Du’a Mery.

Singkat cerita,moat jery dan du’a mery sudah berada dalam bioskop yang penuh sesak,su duduk manis sambil dorang makan kacang rebus,cubit sana cubit sini,biasalah orang pacaran hehehe..
Sedang asik-asiknya nonton felem tiba-tiba te moat Mus masuk tapi dia pake helem besar di dia pu kepala dan langsung duduk depan mo’at jery deng dia pu pacar..Mo’at Jery deng du’a mery heran karena ini orang kok aneh nonton felem pake helem.Jelas saja mo’at jery deng dia pu pacar terganggu nonton felemnya.Mo’at jery jengkel golo apalagi du’a mery juga sudah mulai mengomel karena helem mo’at mus menghalangi dia pu mata.

Karena merasa nonton felemnya terganggu moat jery langsung tegur moat mus.
Moat jery tegur ramah : mo’at,au bisa buka au pu helem ko?.Ami tidak bisa nonton felem nih.
Tapi moat mus cuek saja,mungkin dia tidak dengar.

Mat jery jengkel teriak:WOEEEE moat au buka au pu helem jabak ko..
Moat mus yang kaget langsung toleh kebelakang.
Moat Mus : miu(kalian)tidak menyesal ko?
Mo’at jery dan du’a mery yang lagi panas langsung sambar: tidaaaaaaakkkkkkk……!!
Moat mus : janji tidak menyesal dan tidak teriak-teriak lagi?
Moat jery dan du’a mery balas dengan semangat :Janjiiiiiiiii!! Kau buka sudahhh ko..
Moa’mus : baek saya buka..

Pas mo’at mus buka Du’a mery langsung ajak mo’at jery walong(pulang) soalnya pas moat mus buka rambut mo’at mus yang 3 kali lipat rambutnya ahmad albar langsung tutup mereka dua pu muka.

Mo’at mus sambil tarik rokok kretek: itu, sa su bilang tapi mereka stel jago,rasa sudah..

Du’a mery yang su jengkel langsung sambung sebelum pulang:urus tuh au pu kutu di kepala…

Mo’at mus balas sambil ketawa: walong sai(pulang sudah),pacaran eh lapangan umum poi ..
Hahahahaha


Raja pesta
Sapayang tak kenal moat Seput yang raja dansa di kota maumere?Kalo tidak kenal mungkin dia kurang gaul hehehe..Moat seput dijuluki si kaki lentur karena kehebatan dia berdansa.Pasangan tetap dia dipesta pasti tanta mia..

Suatu hari pas ada pesta,moat seput semangat sekali selain karena ada tanta mia juga semua orang di pesta pasti tunggu dia beraksi.
Pas acara bebas moat seput beraksi,dansa sana sini tak kenal lelah dengan siapa saja.
Pas berdansa sama tanta mia yang su tau mau-maunya dia moat seput tambah semangat.Tanta mia juga tak kalah hebatnya,setiap gerakan moat seput selalu diladeni tanta mia.Saking semangatnya mereka berdua berdansa mereka tidak sadar kalo su berada di luar tenda dekat jalan raya.

Kaget karena berada diluar tenda moat seput langsung nyeletuk” eh wina ba’a he’i (aduh sudah diluar nih).Tanta mia yang kaget cuma senyum-senyum meang karena orang2 ditenda tertawa-tawa sambil tepuk tangan melihat semangat mereka dua. Ah dasar raja dansa kerasukan moke hehehe


Anak = bapak

Mo’at pela selama ini jengekel ngeri golo deng nong olus.Tidak jengkel ganupae ko(gimana) kalo setiap hari dia pu jambu air selalu di curi sama olus yang masih duduk di bangku SD itu.

Meski moat pela su taruh mantra kain hitam atau botol kecil isi air mantra di pohon buat kasih takut olus tapi tetap saja buah jambu air kesayangannya selalu ilang di curi olus.Karena su terlalu jengkel moat pela susun rencana untuk tangkap langsung olus.Benar saja pas moat pela lagi mau susun rencana dia lihat olus su berada di atas pohon jambu air.Melihat musuh besarnya ,moat pela langsung teriak:woe olus kau mau turun tidak.

Olus yang kaget diatas pohon karena tertangkap basah langsung sambung: tidakkkk mau te…
Moat pela yang jengkel sambung:kalo kau tidak mau turun saya lapor kau pu bapa
Olus sambil sibuk petik jambu : lapoorr tooo…
Moat pela tetap kasih takut olus : benar hee saya lapor kau pu bapa sekarang
Olus kasih keluar dia pu lidah sambil gingo moat pela dibawa : pigi lapor sudah,saya pu bapa juga ada diatas pohon..
Moat pela yang kaget cari-cari bapaknya olus yang ada diatas pohon.Moat Us yang diatas pohon malu-malu kasih keluar dia pu muka dibalik dedaunan pohon sambil bilang: soryy pela saya cuma antar saya pu anak..
Pela yang jengkel langsung marah-marah genit:Us,au su besar juga bikin malu saja..cepat turun sudah Us,kalo tidak saya lapor kau pu bapa..

Hahahaha



Sok Kenal
Dami adalah sosok pemuda yang sok kenal,siapa saja dimana saja pasti dia selalu pasang aksi kalo dia tuh orangnya memang ramah deng siapa saja.
Suatu hari dia berangkat kuliah di jogja tinggal di rumah kontrakan kakanya yang juga diisi anak satu kontrakan teman-teman dari Kalimantan deng madura.
Pagi itu dami lagi asik maen Zuma di komputer.Supri dan warjo teman satu kontrakan pamit sama dami mau pigi ke laundry mau ambil pakaian yang di titip cuci kemarin.
Supri : mas dami kami berangkat dulu ya..
Dami sambil asik main Zuma : mau kemana mas?
Warjo : mau ke laundry nih
Dami : oke hati-hati ya..
Pas supri dan warjo mau gas motor berangkat tiba-tiba dami keluar dari dalam rumah sambil teriak : mas warjo ,mas supri tunggu..
Warjo dan supri : ada apa mas?
Dami pasang senyum : salam ya mas buat londry,bilang dami salam kenal..
Warjo dan supri : ???? ini anak kerasukan apa ya (dalam hati saja )..iya nanti kami salam deh..
Hahaha rupanya si dami kurang tahu siapa itu laundry (kiriman moat Didi,jogja)


Manggaaaa

Ini juga cerita di rantau tentang anak maumere yang baru kul disana.
Moat Dus baru pertama kali datang di bandung,biasa mau kuliah.Dia tinggal di kost-kostan yang semua orang sibuk deng aktifitasnya masing2.
Siatu hari karena suntuk dan pingin makan buah-buahan,dus pigi pasar yang berada dekat dengan kostnya.Sampai disana dia beli mangga satu kresek(tas plastik)hitam penuh.Sambil bersiul-siul pulang ke kostnya dia melewati perkampungan yang padat.Di sebuah gang yang sempit duduklah ibu-ibu sambil ngobrol cari kutu di gang yang dilewati dus.
Dus : permisi bu…
Ibu yang melihat keramahan dus langsung balas deng bahasa deng bahasa sundanya: manggaaaaa
Dus kaget gete golo,nimu heran kok ibu2 tau dia bawa mangga?masa sih mereka bisa hebat begitu.
Karena penasaran besok dus beli lagi mangga satu kilo lewat gang kemarin lagi
Dus : : permisi bu….
Ibu-ibu : Manggaaaaaaaa…
Wah,dus tambah heran,tidak mungkin ibu-ibu hebat begini,kok mereka bisa tau saya bawa mangga.Dus penasaran hebat golo.
Saking penasaran besoknya dus pigi pasar lagi mau uji ibu-ibu tadi,tapi kali ini dia tidak beli mangga tapi rambutan..Dus pingin tau kehebatan ibu-ibu sunda kali ini.
Dus lewat di gang kemarin lagi,ibu –ibu juga heran ini anak kok tiap hari lewat sini..
Dus : permisi bu..
Ibu-ibu serempak : Manggaaaaa…
Dus langsung tertawa senang kasih keluar dia pu rambutan pamer didepan ibu-ibu sambil bilang : weeee salah,ini rambutan weeeee
Jelas saja ibu-ibu kaget dan heran melihat tingkah dus yang aneh tersebut..
Duh dus dena meang poi hahaha(kiriman didi di jogja)


Kirim surat

Agus adalah seorang murid Smp di kota maumere yang agak nakal.Suatu hari dia tidak masuk sekolah jadi pas besoknya dia masuk kembali ibu guru yang jengkel karena agus sering bolos langsung tegur dia.
Ibu Guru : Agus,kenapa kau kemarin tir masuk sekolah?
Agus sambil cuek-cuek balas : sakit bu
Ibu Guru Tanya lagi : kenapa kau tidak kirim surat saja agus?
Agus santai saja jawab : weee percuma bu,sa pu surat tdak pernah di balas bu
Ibu Guru : Kurang ajar kau agus,sini maju kedepan,berlutut di situ ya..
Hahah dasar agus..

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tuesday, 13 May 2008

Sampah, masalah klasik di Maumere

Suasana pagi yang segar, cerah dan bebas polusi merupakan dambaan setiap manusia. Namun hal ini tidak berlaku bagi tim kerja dari Kantor Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sikka.Betapa tidak, untuk bisa menghirup udara pagi yang bebas polusi hanyalah harapan, setiap pagi mereka harus bergulat dengan bau sampah yang ada di Kota Maumere.
Tim kerja ini mulai melaksanakan tugasnya sejak pukul 04.00 wita dan baru tuntas sekitar pukul 10.00 wita. Selanjutnya limbah rumah tangga dan sampah buangan ini, diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Wai Ri'i, 16 kilometer arah barat utara Kota Maumere.


Seperti yang disaksikan , umumnya satu tim "penyapu" sampah ini terdiri dari tiga hingga tujuh orang. Salah satu tim kerjanya terdiri dari Monte, Damas Cen, Frans, Tonce dan Antonius Yulianus.Lima tenaga Dinas Kebersihan ini, mempunyai peran yang berbeda. Dan, umumnya terdapat dua peran, yakni "penyapuh ranjau sampah" (baca : pembersih) dan pengangkutan. Monte, Frans, Damas Cen dan Tonce berperan sebagai pembersih. Selain membersihkan dan mengangkut sampah yang ada di badan jalan, selokan dan got, mereka juga mengangkut sampah dari bak-bak sampah yang telah disiapkan. Sementara Antonius Yulianus bertugas sebagai pengendara (sopir).Antonius Yulianus menjelaskan, kegiatan pengangkutan sampah ini dilakukan setiap hari kerja. "Kami juga dibagi dalam tiga kelompok yang akan menangani zona bagian masing-masing," kata Antonius.

Tiga zona tersebut, yaitu Bagian Timur meliputi jalan Adisucipto, Bandara Udara Wai Oti, Jalan Jendral Ahmad Yani.
Zona bagian tengah meliputi Pasar Lama Maumere, pasar tingkat, kompleks pertokoan, Kelurahan Kota Uneng, Kelurahan Kampung Kabor, dan terminal atas.Sedangkan bagian barat meliputi sepanjang Jalan El Tari, Perumnas, Kelurahan Madawat , Terminal Madawat, RSUD TC.Hillers Maumere. Antonius dan rekan-rekannya menangani sepanjang ruas jalan.Tim ini mulai melaksanakan tugasnya di Jalan A Yani, depan Toko Gunung Kawi, Toko Nita, Pelabuhan Sadang Bui Maumere, Jalan Tongkol, Jalan Anggrek dan pertigaan Jalan El Tari.

Untuk selanjutnya sampah ini dibuang ke TPA.Sampah-sampah tersebut terdiri dari sak semen, kardus, karung plastic, kaleng-kaleng bekas, dedauan dan ranting pohon, bangkai yang telah membusuk serta berbagai jenis sampah rumah tangga. Sayangnya mereka tidak dilengkapi dengan kelengkapan kerja yang memadai seperti masker, sarung tangan, sepatu dan topi.Tiga orang di antaranya, Damas Cen, Frans dan Tonce mengenakan baju kaos berwarna kuning bertuliskan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota di belakangnya, sedangkan Antonius Yulianus dan Monte mengenakan baju kaos oblong.

Dengan berpakaian seadanya seperti ini, tentunya akan memudahkan mereka terserang penyakit. Antara lain penyakit kulit, ISPA dan penyakit lainnya karena sampah merupakan sumber penyakit.Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Kabupaten Sikka melalui Kepala Tata Usaha, Gatot Muriyanto, saat ditemui , menjelaskan, setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pasti ada sampah, setiap hari manusia menghasilkan 2,5 kg sampah. Artinya, tiap hari ada sampah. Sumber sampah biasanya berasal dari rumah tangga, tempat-tempat yang ramai dikunjungi serta pasar.

Di tanya soal tempat-tempat yang menjadi prioritas penanganan, Gatot mengatakan, ada beberapa tempat yang menjadi prioritas, antara lain di rumah-rumah yang padat penduduknya, pasar, rumah sakit serta jalan-jalan protokol. Tetapi sebetulnya semuanya ini harus merupakan tanggung jawab.Pihaknya mengharapkan dukungan dari masyarakat, antara lain kesadaran akan bahaya sampah. Untuk itu sudah sepantasnya masyarakat bisa menertibkan sampah dengan mengemasnya dalam karung dan membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan.

Hal ini perlu dilakukan, guna mencegah bahaya banjir dan mengurangi resiko tempat sampah sebagai sumber dan sarang penyakit.Dikatakan Gatot, di sisi lain mereka mengalami kendala, pertama, ada sebagian masyarakat yang tidak menyerahkan lahannya menjadi tempat pembuangan sampah sehingga sampah belum bisa terkonsetrasi pada suatu tempat, makanya masih ada sampah-sampah bersilewar di sepanjang jalan dan trotor.Kedua, dengan bermodalkan 66 tenaga kontarak, 9 buah kendaraan roda empat dan 2 buah kendaraan roda tiga kaisar belum cukup untuk penanganan sampah secara maksimal.Dia berharap ada penambahan jumlah tenaga kontrak, biaya operasional dan pengadaan kembali beberapa kendaraan operasinal sehingga penanganan sampah bisa segera diatasi.(spirit)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Sunday, 11 May 2008

Dalam Kenangan,Drs. Ben Mang Reng Say

Sosok Politisi Profesional Yang Ulet dan Jujur

Drs. Ben Mang Reng Say adalah menantu Raja Don Thomas. Sarjana Ilmu Sosial Politik Jurusan Pemerintahan Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini mengemban peran penting pada awal berdirinya Yayasan Pendidikan Thomas (YAPENTHOM). Ketika Gerakan KANILIMA bangkit dan menuntut pembenahan kepengurusan YAPENTHOM, Ben yang terkenal cerdas itu mendapat kepercayaan penuh untuk memberikan pembelaan intelektualnya dengan menyusun rumusan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yapenthom. Beliau menikah dengan puteri Raja Don Thomas, Dona Maria Yosefa Nana da Silva pada tanggal 26 Juli 1955 di Maumere. Berikut, Sdr. E.P. da Gomez menulis tentang Hidup, Karya dan Pandangannya, sebagai bagian yang utuh dari karya dan kehidupan Don Thomas.

Adalah salah satu kebanggaan Kabupaten Sikka bahwa dari kandungan bumi yang kering kersang ini lahir "trio" politisi yang berkaliber nasional, yaitu Drs. Frans Seda, Drs. Ben Mang Reng Say dan V.B. da Costa, S.H. Selama kurun waktu sekitar lima puluh tahun, tiga tokoh ini berkiprah di pentas politik nasional melalui wadah Partai Katolik (1950-1973), Partai Demokrasi Indonesia (1973-1996) dan PDI Perjuangan (1996-kini). Berangkat dari semangat yang dimotivasi oleh aspirasi dan inspirasi Katolik, tiga serangkai ini tampil dengan kemampuan prima sebagai politisi nasional, sambil membangun hubungan yang harmonis dengan tokoh politik dari kalangan partai-partai Islam dan kaum nasionalis. Mereka piawai, diterima oleh pihak lain karena kejujuran, ketulusan dan keberanian menunjukkan sikap politik yang tegas dalam prinsip, tapi luwes dalam cara.

Ketika Orde Baru menguasai jagad politik Indonesia di bawah komando Soeharto, Militer dan Golkar, mereka tidak bergeming sedikit pun untuk hanyut dibawa arus politik yang menjanjikan peluang jabatan dan kekayaan demi kepentingan pribadinya. Mereka bukanlah tipe politisi oportunistik yang bagai kutu loncat mencari popularitas pribadi untuk mencapai prestasi dan sukses dengan berhamba kepada kursi dan uang. Tetapi Seda - Sentis - Say tetap kokoh bertahan dalam wadah Partai Katolik, kemudian PDI sebagai "kendaraan" politiknya, meskipun dengan keteguhan sikap itu mereka dilecehkan oleh orang¬orang Flores/NTT pada setiap kampanye pemilu orde barn (1971-1997). Mereka bagaikan "nabi" yang tidak dihormati di negeri sendiri. "Kejujuran, kecerdasan, ke¬beranian moral dan keteguhan sikap politik, menyebabkan mereka menjadi garam di pentas politik nasional", tulis rubrik BENTARA, tajuk rencana HU FLORES POS (20/08/03).

Pengalaman akan ketokohan dan keteguhan sikap politik mereka, sungguh membanggakan, dan patut diteladani oleh generasi kini yang terjun ke gelanggang politik praktis. "Sejarah ketokohan mereka belum tertandingi, dan rasanya sukar untuk terulang oleh generasi kini dart yang akan datang", kata J. Blasius Bapa, seorang tokoh masyarakat Sikka di Jakarta yang sangat dekat secara pribadi dan terlibat dengan sepak terjang politik dan "trio" kebanggaan ini.

Justru itu, berita meninggalnya Ben Mang Reng Say tanggal 16 Agustus 2003 di Jakarta, tentu mengejutkan banyak orang, khususnya masyarakat Katolik di Flores/ NIT, jajaran PDI Perjuangan dan siapa saja yang pernah mengenal dan bergaul dengan beliau. Dikalangan keluarga dan teman-teman dekat, kepergian tokoh nasional dan pejuang demokrasi ini sudah dipasrahkan sejak beliau terserang sakit mendadak pada Agustus 1998, apalagi lima bulan terakhir penyakit yang menggerogotinya tak bisa diobati lagi oleh kemampuan teknologi kedokteran dan bantuan medis yang paling canggih pun. Banyak orang merasa kehilangan seorang politisi profesional yang demokrat, moderat, ulet, jujur dan tidak serakah dalam hidup dan karyanya. Ketika dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata Jakarta tanggal 18 Agustus 203, tampak hadir rekan-rekan seperjuangannya seperti Han Tjan Silalahi, M.B. Samosir, Abdul Majid, Sutarjo Surjoguritno, serta banyak kaum kerabat dan handai tolan.

Saya merasa beruntung, karena sejak berusia 10 tahun sudah mengenal dari dekat pemuda Ben Mang Reng Say yang ganteng dan cakap itu. Ketika masuk usia belasan tahun di Bola, tahun limapuluhan, kami anak kampung Bola-Rota sering melantunkan lagu dengan lirik yang mengagumi pemuda kelahiran 15 Juni 1928 di kampung Umauta, Kabupaten Sikka ini. "Mo'ang Reng gahar gete sadu radung, du bisa ngasiang lema dang ta'ur walu" (= Mang Reng yang tinggi semampai dengan kewibawaan seorang pemimpin yang mengayomi, karena memiliki kecakapan yang terpuji). Ketika itu Oom Ben - demikian saya biasa menyapanya dengan hormat dan akrab - baru berusia dua¬puluhan tahun.

KIPRAH POLITIK DI PENTAS NASIONAL

Teryata dalam perjalanan sejarah politik Indo¬nesia, pemuda yang berasal dari kampung yang tidak dikenal itu, naik daun menjadi seorang tokoh yang bernama besar dalam taraf dan tingkat perjuangan nasional kenegaraan dan golongan katolik. Suami dari Dona Maria Yosefa Nana Da Silva, pitru raja Don Thomas ini ( menikah di Maumere, 26-6-1955), pernah menduduki jabatan-jabatan strategis dalam penyelengaraan/pemerintahan, antara lain tahun 1956-1959 anggota konstituante dari unsur Partai Katolik, 1964-1973 anggota DPRGR RI,kemudian 1966-1971 wakil ketua DPRGR RI dari Partai Katolik, 1971-1973 ketua umum Partai Katolik, dan dalam jabatan ini pada tanggal 10 Januari 1973 tampil serbagai salah satu dari 10 orang deklarator berdirinya Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan fusi dari PNI,PARKINDO,Partai Katolik,IPKI dan MURBA, 1973-1975 anggota DPA RI, 1973-1976 ketua DPP PDI, 1975-1976 Duta Besar Luar Biasa RI dan berkuasa penuh untuk pemerintah Republik Portugal, 1976-1980 Duta Besar Luar Biasa dan berkuasa penuh untuk Republik Mexico, 1983-1993 Presiden Direktur PT Petrusea Indonesia, Tbk (bergerak dibidang pertambangan khususnya minyak bumi,1986-1996 anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI, 1988-1993 wakil ketua DPA RI,1991-1992 anggota Komisi Penyelidik Nasional (KPN) dalam peristiwa 12 November 1991 Santa Cruz di Dili Timor-Timur dan 1996-2003 anggota Deperpu PDI Perjuangan.

Adik kandung mantan bupati L.Say ini, pernah menerima anugerah tanda kehormatan bintang Mahaputra Adipradana II 19 Mei 1973 dari presiden RI dan tanda kehormatan “Aguila Azteca Primera Banda” di mexico city 5 September 1980 dari pemerintah republic Mexico. Ayah 2 putra dan 3 putri ini (Stany,Tommy,Deti,Babby,Esto) pernah mendapat kehormatan menjadi utusan khusus Presiden RI dalam rangka hari kemerdekaan Republik Peru 25 juli 1980 dan hari kemerdekaan Republik Kenya 8 Desember 1988 dengan membawa surat Presiden RI kepada Presiden dari kedua Negara itu.

Mengikuti perjalanan hidup, karya dan perjuangannya itu Frans Seda mantan ketua umum DPP Partai Katolik 1961-1971 mengatakan “Figur pak Ben adalah contoh sebuah pengabdian total untuk bangsa Indonesia dan gereja Katolik.Ben menunjukan bahwa semua jabatan yang diperolehnya adalah karena kualitas pribadinya dan kualitas perjuangannya. Dengan kualitas yang dimilikinya itu, ia sebenarnya mampu untuk duduk dalam posisi yang lebih baik.Saya pernah menyampaiakan kepadanya tapi ia menolaknya”, kata politisi kondang asal Lekebai itu tanpa bias menahan air mata ketika berbicara mengantar kepergian saudara seperjuangan itu (Flores Pos, 21/08/05).


BERTEKAD UNTUK MENCAPAI LEBIH

Reputasi dan prestasi Ben Mang Reng Say dalam perjuanagan dibidang politik dan kemasyarakatan yang dicapai selama hidupnya tidak terjadi serta merta bagai orang main sulap atau simsalabim saja.

Setelah menamatkan SR 3 tahun di Bola (1934-1937) BAPAK SULUNGNYA Mo’an Petrus Pitang yang menjabat Kpaitan (kepala Haminte Doreng) mengirim Mang Reng masuk pendidikan Shackel School lima tahun di Ndao-Ende (1937-1942),tamat dari sekolah bergengsi dif lore pada zaman itu,ia bekerja sebagai Polisi di Maumere )1943-1946),bajawa(1946-1948) dan Makasar 1948-1950.Rupanya ini tidak cocok baginya sehingga ia minta berhenti karena lebih berminat melanjutkan studinya, mungkin demi menggapai ambisi politik yang sudah mulai tumbuh dari kesadaran akan kemampuan dan bakat yang dimilikinya.

Beliau masuk pendidikan MULO A (1949-1951) di Makasar, kemudian di kota yang sama masuk Sekolah Menengah Pegawai Pemerintahan Tingkat Atas (1951). Ia bernasib mujur, bisa melanjutkan studi ke Yogyakarta pada Universitas Gajah Mada (UGM) Ju¬rusan Hukum, Sosial dan Politik sebagai Mahasiswa Ikatan Dinas dari Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Di UGM itulah, pada tanggal 7 Oktober 1954 beliau lulus Sarjana Muda Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Pemerintahan, dan pada tanggal 23 November 1956 berhasil menyandang gelar Drs (Sarjana) dalam Ilmu Sosial Politik Jurusan Pemerintahan. Mungkin saja Ben Mang Reng Say adalah putra Flores pertama yang mencapai gelar kesarjanaannya dari universitas yang tertua di Indonesia itu.

Ketika aktif bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 1954-1964 di Departemen Dalam Negeri (Depdagri), beliau mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat pada American University dan George Washington University di Washington DC (September 1960 s/d September 1961) dengan memperoleh Certificate Local Government Administration.

PEGAWAI NEGERI DAN POLITISI PROFESIONAL

Ben Mang Reng Say yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris itu memulai kariernya sebagai PNS pada Kantor Gubernur Nusa Tenggara di Singaraja (1954-1955) dan kemudian sebagai PNS dengan tugas belajar di Yogyakarta (1955-1956) dalam kapasitas kepangkatan Ahli Praja pada Kantor Penyelenggara Pendidikan Mahasiswa Kementerian Dalam Negeri. Ketika terpilih dan bekerja sebagai Anggota Konsti¬tuante (1956-1959), ia tetap merangkap tugas aktif sebagai PNS pada Depdagri di Jakarta dengan memikul beban tugas penting menyangkut berbagai urusan penyelenggaraan Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah ( PUOD).

Setelah dilantik menjadi Anggota DPR-GR RI (31 Desember 1964), maka terhitung Pebruari 1965 ia dinonaktifkan dari jabatan Pegawai Tinggi Depdagri. Beliau mengakhiri karya bhaktinya sebagai PNS dengan hormat pada tanggal 25 Mei 1981 dengan pangkat Pembina Tingkat I (Golongan IV-b) dengan hak pensiun. Di sini jelas, bahwa ketika ia berkiprah sebagai politisi yang militan melalui wadah partai politik (Partai Katolik dan PDI) pada masa kekuasaan rezim Orde Baru, hak-hak kepegawaiannya tidak pernah diganggu gugat oleh pola golkarisasi PNS seperti yang dipraktekkan di NTT, yang merenggut hak-hak politik warganegara dengan perilaku politik yang tidak demokratis.

BEBERAPA CATATAN LEPAS

KONSTITUANTE

Pemilu 1956 mengantarkan 10 orang dari Partai Katolik menjadi Anggota Konstituante, antara IJ Kasimo, Ben Mang Reng Say, VB da Costa, PS da Cunha, A. Andelo Raya Rangga, dlsb. Ben Mang Reng Say ditunjuk sebagai Sekretaris Fraksi Partai Katolik mendampingi I.J. Kasimo sebagai Ketua. Peran Ben Mang Reng Say dan VB da Costa dalam lembaga pembuat Undang-Undang Dasar itu sangat besar dan luar biasa, sebagaimana ditulis oleh Adnan Buyung Nasution dalam bukunya "Aspirasi Pemerintahan Konstitusional, Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959" (PT Pustaka Utama Grafiti, 1995). Dapat dibaca di buku setebal 620 halaman itu, bagaimana dua tokoh politik yang berusia masih muda, Ben Mang Reng Say dan VB. Da Costa, berbicara tentang Dasar Negara, Demokrasi dan Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) dari sudut pandang teori-teori dan praktek kenegaraan, paham nasionalisme, sekularisme, dengan bernafaskan aspirasi dan inspirasi Katolik.

Sebagai pelaku sejarah Konstituante, Ben Mang Reng Say bersama rekannya JCT Simorangkir (PAR¬KINDO) menulis buku "Konstitusi dan Konstituante Indonesia, jilid I & II" (1958 dan 1975) yang memuat keputusan-keputusan Konstituante dan hasil studi Maarif mengenai perdebatan tentang falsafah negara dalam persidangan Konstituante yang berlangsung sekitar dua tahun lebih di Bandung. Menurut Adnan Buyung Nasution, itulah satu-satunya dokumen monografi autentik mengenai sejarah Konstituante dengan segala substansi permasalahannya.

DPR-GR dan MPRS 1968

Setelah Frans Seda dibebas tugaskan dari ke¬anggotaan DPR-GR karena diangkat menjadi Menteri Perkebunan, maka pada tanggal 31 Desember 1964, Ben Mang Reng Say ditunjuk sebagai penggantinya. Dampak dan peristiwa G-30-S/PKI menuntut perubahan komposisi dan personalia Pimpinan DPR-GR, dan kondisi itu membuka peluang bagi Ben Mang Reng Say mendapat kepercayaan DPP Partai Katolik untuk menempati posisi Wakil Ketua DPR-GR RI (1966-1971). Peran penting yang dibawakannya dalam jabatan itu adalah ketika menjadi Ketua Komisi B Sidang Umum MPRS 1968 yang mengantarkan Pejabat Presiden Soeharto menjadi Presiden RI menggantikan Soekarno. Proses suksesi yang sarat dengan benturan dan kontroversi kepentingan ini menaikkan pamor dan kepiawaian Ben Mang Reng Say sebagai seorang kampiun politik yang membawa nama besar Partai Katolik.

3-S

Pada awal 1970, suhu politik menjelang Pemilu 1971 mulai memanas dan bergejolak. Dalam kalangan Partai Katolik di tingkat pusat terjadi benturan kepentingan yang menajam antar faksi/kubu. Pengaruh Frans Seda, VB da Costa dan Ben Mang Reng Say begitu kuat dan dominan dalam pengambilan kebijakan dan keputusan politik. Iklim politik itulah memunculkan sekelompok orang memicu semangat Ganyang Tiga S (G-3-S), ganyang Seda-Sentis-Say, trio putra Sikka/Flores yang menjadi dedengkot Partai Katolik. Tapi, kenyataan membuktikan, dari kepiawaian 3-S itu mengelola semangat perjuangan politik (Katolik), mereka ditetapkan menjadi calon utama Partai Katolik Pemilu 1971 untuk daerah pemilihan NTT, masing¬masing : Frans Seda (Timor Tengah Utara), Ben Mang Reng Say (Ende) dan VB da Costa (Sikka). Posisi 3-S yang menonjol itu membuat ketidak senangan yang memuncak dad sementara politisi non Sikka. Sembari menjalarnya upaya golkarisasi di NTT, dihidupkan semangat anti partai politik untuk menghancurkan Partai Katolik, dan dampaknya dapat menyingkirkan tokoh 3-S itu dad gelanggang percaturan politik nasional.

Ketika Partai Katolik di Indonesia, khususnya NTT, berhasil dikalahkan dalam Pemilu 1971 yang sarat dengan kecurangan, adalah seorang tokoh Golkar asal Flores dengan bangga mengatakan: "3-S sudah hancur". Namun, kenyataan politik selama lebih dari 30 tahun terakhir membuktikan bahwa pernyataan itu hanyut lenyap dibawa arus sejarah, waktu dan hati nurani. Tokoh 3-S ternyata tetap eksis, teguh, kokoh, kuat, bertahan di tengah hujan angin dan panas dinginnya perpolitikan Indonesia.

PEMILU 1971

Pada Pemilu 1971, Ben Mang Reng Say turun memimpin kampanye Partai Katolik di Flores, sedangkan VB da Costa dan Bung Kanis masuk ke kantong-kantong Golkar di Timor dan Sumba. Flores, dimana bendera kontas Partai Katolik berkibar dengan jaya sejak tahun limapuluhan, kini diancam keberadaannya dan kelangsungan hidupnya oleh gerakan golkarisasi yang sangat sistematis karena rekayasa dan intervensi rezim Orde Baru yang dilaksanakan dengan ketaatan dan kesetiaan buta tuli oleh aparatur birokrasi dan minter. Ben Mang Reng Say dan para pendukung Partai Katolik menghadapi kondisi "konyol" itu dengan tabah dan penuh semangat demokrasi.

Kecuali Kabupaten Sikka, di empat kabupaten lain di Flores (Manggarai, Ngada, Ende dan Flores Timur), Ben dihadang dengan keras dan kasar, bahkan dicemooh dan dilecehkan oleh rekan-rekan seperjuangan yang sebelumnya adalah fungsionaris Partai Katolik di NTT. Bahkan di salah satu kampung di Adonara, beliau nyaris terkena lemparan batu. Akibat kekerasan yang terjadi di seantero republik ini, maka partai-partai khususnya Partai Katolik, dikalahkan, bukan oleh kemauan rakyat, tapi oleh campur tangan penguasa yang dengan sengaja, tahu dan mau melanggar norma-norma demokrasi, demi langgengnya kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto.

Apa mau dikata, Ben Mang Reng Say terdepak keluar dan keagungan Gedung Senayan Jakarta, dan dengan kerendahan hati menyadari dan menerima kenyataan yang terjadi, kembali menjadi rakyat biasa. Itulah resiko dan pengorbanan dari perjuangan yang bermoral oleh setiap pelaku politik yang punya integritas pribadi yang kokoh. Tapi, kualitas pribadi dan kemampuannya, tetap menarik perhatian pemerintah untuk memanfaatkannya bagi kepentingan bangsa dan negara.

PARTAI KATOLIK DAN YAYASAN KASIMO

Saat yang paling menyedihkan dalam karier politik Ben Mang Reng Say adalah pernyataan pembubaran Partai Katolik dari bumi Indonesia, setelah deklarasi berdirinya PDI pada 10 Januari 1973, di mana Partai Katolik berfusi ke dalamnya. Beliau adalah Ketua Umum Partai Katolik terakhir (1971-1973) setelah 50 tahun partai ini hadir dan berperan di republik ini. Diceriterakan, pada Pebruari 1973, dengan air mata kesedihan, ia dan kawan-kawannya dalam jajaran pimpinan pusat Partai Katolik, merangkul bendera kontas Partai Katolik, dan dengan suara tersendat-sendat sambil menangis, pria tinggi tegap ini menyatakan bahwa Partai Katolik dilebur ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Tamatlah sudah riwayat Partai Katolik, dan agaknya tidak bisa bangkit mengulangi kembali sejarah dengan segala sukses dan kegagalannya.
Setelah Partai Katolik berfusi ke PDI, maka pada Juli 1973 didirikanlah Yayasan Kasimo sebagai lembaga/wadah penerus inspirasi dan aspirasi Katolik di bidang politik. Pengelolaan lembaga ini diserahkan pada awalnya kepada Ben Mang Reng Say dan F.S. Wiguyosoemarsono.

PDI dan PDI PERJUANGAN

Berbeda dengan fusi Partai Persatuan Pemba¬ngunan (PPP) yang berlangsung mulus tanpa gejolak yang berarti, fusi PDI mengalami proses yang sulit berbelit-belit dan bertele-tele. Perbedaan latar belakang, sejarah dan ideologi partai, nyaris menjadi batu sandungan, bahkan saling baku hantam antar elit politik yang menganut paham demokrasi ini. PNI misalnya, dikenal sebagai partai rakyat yang berideologi marhaen yang didominasi kaum "abangan" dan pendukung Bung Karno yang fanatik. Sedangkan Partai Katolik dan PARKINDO adalah partai berdasarkan ideologi agama (Kristen) dan nasionalis.

Adalah Abdoel Madjid, bekas Sekretaris Jenderal PNI yang terlibat dalam proses fusi bersama Ben Mang Reng Say, menuturkan bahwa sempat terjadi tarik ulur kepentingan antarpartai akibat "kawin paksa" yang dikehendaki oleh rezim Orde Baru itu. Komposisi DPP PDI misalnya, menjadi salah satu masalah besar. PNI yang merupakan partai terbesar dalam fusi ini menuntut, agar penyusunan DPP PDI dilakukan secara proporsional. Maksudnya, personal DPP PDI diharapkan paling banyak datang dari unsur PNI. Tapi, Ben Mang Reng Say, politisi kawakan dari kampung Umauta itu, menolak dengan keras dan berani. "Ben termasuk orang yang kokoh ngadalin PNI", tutur Abdoel Madjid mengenang.

Ben Mang Reng Say adalah pelaku dan saksi sejarah berdirinya PDI. Dengan hati yang getir, is hams merasakan dan menyaksikan gonjang ganjing partai ini selama 25 tahun (1973-1998) akibat reka¬yasa pemerintah Orde Baru yang menerapkan konsep politik deideologisasi, depolitisasi dan deparpolisasi. Ia harus menahan emosi ketika melihat kekalahan telak PDI dart pemilu ke pemilu, karena intimidasi, teror mental dan fisik yang berkepanjangan, demi apa yang dinamakan Demokrasi Pancasila dan kesinambungan pembangunan.

Ben Mang Reng Say menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana perkelahian pada Kongres IV PDI di Medan (Juli 1993) dan Kongres Luar Biasa (KLB) Surabaya, Desember 1993, antar faksi/kubu dalam PDI, akibat campur tangan yang berlebihan dari penguasa orde baru. Ia bergembira karena MUNAS PDI pada akhir Desember 1993 mengukuhkan Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum DPP PDI. Tapi, kegembiraan itu tidak dapat berlangsung lama, karena rezim Soeharto merekayasa lagi berlangsungnya Konggres Medan Juni 1996. Kongres yang kontroversial itu mendepak Megawati dan memilih Surjadi memimpin partai banteng ini atas petunjuk Soeharto. Ben setia berdiri di belakang putri Bung Karno itu dan menanda tangani surat kepada Presiden Soeharto membela kepemimpinan Megawati, dan mendesak pemerintah agar menghormati aturan partai dengan tidak mengintervensi proses pemilihan Ketua Umum DPP PDI.

Peristiwa 27 Juli 1996 merupakan tonggak sejarah barn dalam perpolitikan Indonesia. Setelah tumbangnya kepemimpinan Soeharto (21 Mei 1998), Kongres V PDI di Denpasar (Oktober 1998) membangun kembali kekuatan dan pamor partai banteng ini ke depan. Menjelang akhir hidupnya, Ben Mang Reng Say bisa menyaksikan kemenangan PDI Perjuangan pada Pemilu 1999, dan bagaimana Megawati, orang yang dulu dibelanya menjadi Wakil Presiden (1999-2001), kemudian Presiden RI (2001- kini). Tuhan juga memberi kesempatan kepada Ben melihat PDI Perjuangan yang penuh kisruh dan kemelut sebelum ia menarik nafas yang terakhir pada sore hari 16 Agustus 2003 dalam usia 75 tahun. Ben Mang Reng Say adalah sejarah PDI dan PDI Perjuangan itu sendiri. Ia tutup usia di tengah konflik internal PDI Perjuangan belum juga mau reda. Malah semakin menjadi-jadi menjelang Pemilu 2004 ini. Namun Ben Mang Reng Say pergi pada usia pendek dengan sederet catatan gemilang dan nama yang bersih - sebuah rapor yang menjadi dambaan setiap politisi.

PEMILU 1977

Ketika berlangsung Pemilu 1977, Ben Mang Reng Say berada di Mexico sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI. Dalam jabatannya itu, ia juga bertanggung jawab atas suksesnya Pemilu 1977 bagi kemenangan Golkar dan para pemilih berkewarga¬negaraan Indonesia di republik topi sombrero itu. Memang aneh, tapi nyata. Seorang pendiri PDI yang fanatik, harus memenangkan Golkar. Kepada saya di¬ceriterakannya, bahwa ia datang ke Jakarta membawa laporan hasil pemilu itu kepada PPI dan LPU. Di depan Presiden Soeharto beliau mengatakan antara lain: "Saya telah menyukseskan Pemilu di Mexico dengan kemenangan Golkar. Apabila dalam penghitungan suara terdapat dukungan untuk PDI, maka itulah suara dari saya dan keluarga", katanya sambil tertawa terkekehkekeh. Memang lucu.

DPA

Ben Mang Reng Say mendapat kesempatan dua kali menduduki kursi keanggotaan Dewan Pertim¬bangan Agung (DPA), yaitu tahun 1973-1976 sebagai Anggota dan 1988-1993 sebagai Wakil Ketua yang membawahi bidang politik. Di lembaga penasehat Pre¬siden ini, nama Ben nyaris talc terdengar. Pernah ia bersama beberapa Anggota DPA lainnya mengusulkan kepada pemerintah, membentuk undang-undang anti¬monopoli. Tapi usul itu tidak berdengung. "Keluarga Cendana menolak mentah-mentah", kata Sabam Sirait, kolega Ben di DPA dan PDI. Selanjutnya nama Ben tenggelam bersama senyapnya politik rezim Soeharto yang represif dan otoriter.

TIMOR TIMUR

Dalam catatan sejarah, Ben Mang Reng Say bersama Frans Seda juga berperan dalam Pertemuan Roma di bawah pimpinan Menlu Adam Malik dan Jenderal Ali Moertopo (1974) untuk meretas langkahlangkah perjuangan integrasi Timor Timur ke wilayah negara kesatuan RI secara damai. Kenyataan yang terjadi, timbul pergolakan dengan perang dan pertumpahan darah, hal mana di luar skenario Pertemuan Roma itu.

Ketika terjadi tragedi Santa Cruz di Timor Timur pada 12 November 1991, nama Ben Mang Reng Say kembali terangkat, saat ia menduduki posisi Wakil Ketua DPA.

Enam bulan mereka bekerja, dan berhasil membuat laporan yang lumayan "berani" kepada PBB. Mereka mengakui bahwa sekitar 200 orang tewas diterjang peluru tentara saat berdemonstrasi menuntut kemerdekaan wilayah bekas koloni Portugis itu. Kasus yang mencoreng wajah militer Indonesia ini berakhir dengan diadilinya sejumlah perwira militer dan sipil.



UNIKA ATMA JAYA dan TAHUN MARIA

Pada awal berdirinya Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, beliau tercatat sebagai Dosen Ilmu Politik dan pernah menjabat Rektor Universitas itu dalam kurun waktu yang singkat saja (1962) menanti dibenumnya figur yang punya kapasitas. Dalam iklim dan kondisi waktu itu, rupanya berlaku peribahasa "tak ada rotan, akar pun berguna".

Beliau juga punya peran besar dalam menyukseskan Perayaan Tahun Maria Juli 1988 di Maumere. Sebagai Ketua Panitia di Jakarta, beliau mengkoordinasi kegiatan dan partisipasi umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta untuk menyukseskan peristiwa iman yang akbar dan bersejarah dalam kehidupan umat Katolik di Flores, khususnya Kabupaten Sikka.

PENUTUP

Demikian itulah lintasan hidup, karya dan per¬juangan tokoh politik Ben Mang Reng Say yang saya kenang dari pengalaman pribadi, biodata yang ditulis oleh beliau sendiri, ceritera lisan para nara sumber lain dan berbagai naskah/tulisan artikel dan buku. Ben
Mang Reng Say adalah sosok politisi (Katolik) yang memiliki visi ke depan yang jelas. Suatu personifikasi dari adagium Katolik untuk menjadi ragi dan garam di tengah hiruk pikuk politik di Tanah Air.

"...kita merindukan kembali tokoh politik sekaliber Ben Mang Reng Say. Lintas zaman, lintas suku dan lintas budaya, untuk mewujudkan visi politik yang mengutamakan kepentingan umum", tulis HU FLORES POS dalam tajuknya (20/08/03), di saat integritas, ketokohan, kejujuran dan keberanian moral dalam memperjuangkan kepentingan umum semakin memudar di dada para politisi (Katolik) dewasa ini.
REQUIESCAT IN PACE! Selamat jalan Oom Ben, sampai jumpa lagi kelak....

Dicuplik dari dari buku karangan Bapak E.P. da Gomez-Oscar P.Mandalangi yang berjudul 'DON THOMAS PELETAK DASAR SIKKA MEMBANGUN'


Selengkapnya...

Tuesday, 29 April 2008

Don Thomas, Keturunan, Pendidikan dan Pengelaman Kerja

DON THOMAS lahir pada tanggal 13 Juli 1895 di kampung Sikka, ibunegeri Kerajaan Sikka. Beliau adalah putra ketiga dari pasangan almarhum Don Joseph Mbako II Ximenes da Silva, Raja Sikka yang ketigabelas (1898-1902) dengan permaisuri Dua Kanena Rosario da Gama. Bersama adik-adiknya Andreas (Kapitan Iwanggete), Edmundus (Bodu) dan Paulus Centis (Ratu Centis), mereka mengenyam kehidupan masa kecil yang runyam, menjadi yatim piatu, karena ayah ibunya telah meninggal dunia ketika DON THOMAS masih berusia 7 tahun. Seorang saudari tuanya, Fransiska Dua Use menikah dengan Kapitan Nita, Pedrico da Silva.

Di bawah asuhan dan bimbingan para Pastor Jesuit, DON THOMAS bersekolah dan menamatkan pendidikan di Standaardschool kelas lima di Lela pada tahun 1910. Guru-gurunya ialah D.D. Pareira Kondi dan H. Tengah Fernandez, dengan Kepala Sekolahnya Bruder Vester, SJ, dan Pastor Paroki Lela, P.H. Loy-mans, SJ. Dalam sekolah itu telah nampak tanda-tanda kecerdasannya yang cemerlang (pasti NEM tinggi menurut ukuran sekarang ini). Namun zaman itu tidak memberikan peluang untuk DON THOMAS boleh melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Akan tetapi kemudian ternyata bahwa beliau adalah seorang autodidak yang gemilang dan sukses.

Ketika berusia 15 tahun, DON THOMAS dibenum menjadi guru pada sekolah almamatemya di Lela, dan kemudian di Koting. Ketika guru-guru berkelayakan mengajar sudah tiba dari Manado (Minahasa), maka beliau dibebaskan dari jabatan guru, sehingga terpaksa terjun bekerja keras sebagai tukang kayu dan tukang besi pada bengkel Missie di Lela. Profesi ini ternyata kurang diminatinya. Pemuda Thomas lalu pergi bergabung dengan para pemuda sekampung Sikka, berdayung sampan dan perahu ke arah pantai selatan wilayah Tana Ai (Kecamatan Talibura) - Pruda dan Mudeherung - untuk menangkap ikan dan berdagang atau tengkulak berbagai hasil bumi. Pekerjaan ini juga tidak banyak membawa hasil. Beliau kembali ke kampung Sikka dan menganggur saja. Tanpa sepengetahuan Raja Nong Meak, ia mengambil beberapa batang gading di Istana Lepo Gete. Pemuda Thomas lalu berani mengadu nasib, berdagang gading itu ke Bajawa. Raja Nong Meak naik pitam, dan meminta bantuan Posthouder Bajawa untuk menangkap DON THOMAS. Kasus inilah antara lain merupakan pangkal "perebutan kekuasaan" antara DON THOMAS dengan Raja Nong Meak.

Oleh saran D.D. Pareira Kondi, pemuda Thomas bersurat kepada Residen Kupang mengenai silsilah keturunan dinasti Raja Sikka, di mana beliau secara tegas menuntut haknya untuk menjadi Raja Sikka. Residen Kupang memberitahukan perihal adanya surat tersebut kepada Raja Nong Meak, bahwa ada seorang dari keluarga DA SILVA LEPO GETE telah menggugat takhta Kerajaan Sikka berdasarkan hak warisan turun temurun.

Dengan adanya kasus gading dan surat tersebut, Raja Nong Meak terkesima dan penasaran. Maka pada tahun 1912 DON THOMAS diangkat menjadi jurutulis (magang) di Kantor Gezaghebber di Maumere, dengantugas antara lain sebagai penjaga rumah bui (penjara). Pada tahun 1918 beliau diangkat menjadi Mantri Belasting (Urusan Pajak, sekarang Dinas Pendapatan Kabupaten).

Dalam menjalankan pekerjaannya, DON THOMAS terkenal jujur, rajin dan bekerja keras. Ia bersemangat tinggi untuk memberantas perjudian dan kebiasaan masyarakat bersabung ayam. Gayanya menarik, pergaulannya luwes dan keterampilannya meyakinkan, sehingga para pejabat Pemerintahan Kolonial Belanda sangat berkenan dan memberikan perhatian ekstra.


Merebut Kembali Takhta Kerajaan Sikka

Oleh karena DU'A LISE, putri dan anak pertama Raja Mbako II tidak dapat diangkat menjadi Raja, dan DOMINIKUS, putra kedua meninggal dunia, maka DON THOMAS sebagai putra ketiga, berhak menyandang gelar Putra Mahkota dan memegang tongkat kekuasaan Kerajaan Sikka.

Akan tetapi, ketika ayahandanya meninggal dunia pada tanggal 28 Nopember 1902, DON THOMAS barn berusia lebih dad 7 tahun. Maka tongkat kekuasaan Kerajaan Sikka diserahkan kepada MO'ANG DIDING, saudara sepupu Raja Mbako II. Di luar dugaan, Moang Diding mendadak meninggal dunia pada tanggal 12 Desember 1902, karena terserang penyakit kolera. Putranya ALESU hendak diangkat sebagai penggantinya, namun Posthouder B.L. Kailola sangat berkeberatan, karena usianya barn 16 tahun. Apalagi ALESU sendiri tidak bersedia menjadi raja, karena takut cepat mati, seperti yang dialami Raja Mbako II (memerintah cuma empat tahun) dan ayahnya Moang Diding (hanya 14 hari menjadi raja).

Melalui proses permusyawaratan "DEWAN MO'ANG `LITING PULUH" alias Sepuluh Anggota De-wan Kerajaan, dimufakati keputusan untuk menjadi Raja Sikka adalah YOSEPH NONG MEAK, (putra Mo'ang Sima Anakoda Saleh dan Du'a Kasing da Silva), keponakan Raja Andreas Jati Ximenes da Silva (1871-1898). Menurut garis keturunan atau silsilah Keluarga DA SILVA LEPO GETE, posisi Nong Meak adalah garis keturunan pihak perempuan sehingga tidak berhak untuk memangku jabatan Raja Sikka. Memang, Nong Meak bergelar DA SILVA, karena ayahandanya Mo'ang Sima dalam hukum adat perkawinan berstatus "me deri lepo - Ata da Silva Lepo Gete" (kawin masuk). Dengan demikian, keputusan mengangkat Nong Meak menjadi raja Sikka adalah satu kesepakatan yang tidak menyimpang. Sebagai Regent (Wakil Raja) yang sementara menantikan ahli waris tahkta Kerajaan Sikka yang masih berusia amat sangat muda (Don Thomas), pada tanggal 26 Pebruari 1903 Nong Meak akhirnya dilantik sebagai Raja Sikka. Dengan penobatan dirinya itu, beliau berhak menggunakan Regalia (alat-alat kebesaran Raja-Raja), termasuk hak mengenakan Mahkota Raja (Sangko Bahar) dan Tongkat Kerajaan (Gai Bahar).

YOSEPH NONG MEAK DA SILVA yang ber¬pengalaman sebagai guru, dinobatkan menjadi Raja Sikka yang ke empatbelas pada tanggal 24 Pebruari 1903. Sembari memimpin pemerintahan dengan berbagai upaya pembangunan untuk memajukan kesejahteraan rakyat, beliau juga menyiapkan putranya DON P.P. DINDUS DA SILVA untuk kelak menjadi Raja Sikka. Demi ambisi itu maka sang putranya ini dikirim bersekolah ke Kweekschool di Muntilan, Jawa Tengah. Namun akhirnya kembali sebelum menyelesaikan masa pendidikannya.

Sementara itu DON THOMAS yang berwatak keras dan ambisius, yakin akan haknya atas takhta Kerajaan Sikka. Beliau terus berupaya menerobos wadas ketahanan dalam proses suksesi yang dirancang dan dibangun oleh Raja Nong Meak. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, dengan dukungan moril (rekest) dad D.D. Kondi Pareira, serta Keluarga DA SILVA LEPO GETE sendiri, DON THOMAS bersurat kepada Residen Kupang. Lalu pada tahun 1920, beliau sendiri berangkat ke Batavia (Jakarta) dengan bantuan keuangan (Rp. 300.-??) dari mertuanya, MO'ANG SUBU SADIPUN. Dengan perantaraan P.J. ENGBERS dan P.P. MULLER, dua Pastor Jesuit yang pernah bekerja di Lela, DON THOMAS sempat bertemu dan berbicara dengan Gubernur Jendral Hindia Belanda untuk menghadang posisi Don P.P. Dindus da Silva, putra Raja Nong Meak dalam memperebutkan takhta Kerajaan Sikka itu.

Berdasarkan laporan Controleur A. Oranye, Posthouder Maumere (1920-1922), bahwa DON THOMAS patut menjadi Raja Sikka karena kemampuan dan kewibawaannya, maka alhasilnya, pada tahun 1921 DON THOMAS diserahi tugas sebagai WAKIL RAJA SIKKA dengan Surat Keputusan Residen Timor pada tanggal 6 September 1921, setelah Raja Nong Meak dipensiunkan pada tahun 1920. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Raja Sikka itu, nampak mencuat bakat DON THOMAS sebagai pemimpin.

Pada tanggal 21 Nopember 1923, DON THOMAS dilantik oleh Controleur Oranye menjadi Raja Sikka yang ke-15, berdasarkan Keputusan/Besluit Guvernur Genderal Nomor 50 tanggal 1 Mei 1923. Pada saat yang sama secara sepihak Raja KangaE Mo'ang Nai Juje dipensiunkan Belanda. Upacara penobatan dan pelantikan dilangsungkan secara meriah dan gegap gempita di Kota Maumere. Perayaan ini dihadiri oleh para Pejabat Pemerintahan Kolonial Belanda, Mgr. Arnoldus Vestraelen dan para Pastor, Raja Nai Juje dari KangaE, Raja Don Juan dari Nita, Raja Pensiunan Nong Meak, para Kapitan, pemuka adat, tokoh masyarakat, para guru dan murid serta rakyat.

Dengan demikian berakhirlah sudah sebuah persaingan ketat yang terselubung dalam memperebutkan takhta Kerajaan Sikka. Tongkat kepemimpinan kembali dipegang oleh dinasti yang berhak turun te murun, yaitu Keluarga DA SILVA LEPO GETE, di bawah keperkasaan Raja DON JOSEPHUS THOMAS XIMENES DA SILVA.

Dicuplik dari dari buku karangan Bapak E.P. da Gomez-Oscar P.Mandalangi yang berjudul 'DON THOMAS PELETAK DASAR SIKKA MEMBANGUN'





Selengkapnya...

Menyimak Kemenangan SODA: Sikka Memilih Pemimpinnya Sendiri

Ditulis oleh anak Maumere, Alexander Yopi Susanto,tinggal di Jakarta Selatan.
Epang gawan Mo'at.

SODA ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sikka. Hasil perhitungan suara menunjukkan persentase kemenangan paket ini. Paket yang diusung partai gurem. Yang belum punya tradisi kuat di kancah perpolitikan Sikka. SODA bahkan meninggalkan calon-calon lain yang tampil lebih populer. Sekurang-kurangnya, menurut versi LSI. Meninggalkan mereka yang langganan calon bupati. Juga yang punya historisitas kepemimpinan di Niang Tana Sikka. Apa yang terjadi?

Menjungkirkan prediksi

eorang Sosimus Mitang pernah terlempar dari jajaran birokrasi Sikka. Sesudah itu, ia bersarang di rumahnya. Tidak banyak yang dilakukannya selama masa peristirahatan itu. Selain menikmati hari-harinya di rumah bersama keluarga. Mengunjungi kampung halamannya. Menyambangi teman-teman yang pernah seprofesi, sejajaran di dinas pemerintahan kabupaten Sikka. Kemudian, bergelut dengan masyarakat seharian di lingkungan, RT/RW, Kecamatan. Tanpa selintas pikir untuk menapaki lagi kursi panas nomor satu di Sikka, setelah gagal pada Pilkada sebelumnya.

Sementara Wera Damianus adalah Asistan pada jajaran birokrat yang dinahkodai incumbent. Seorang praktisi birokrat yang muncul dari Palue, di gugus terluar pulau-pulau Sikka. Sekejab terlintas, pada seorang Wera Damianus, nasib pulau-pulau dari gugus terluar itu “seolah-olah” ada di pundaknya. Pada mereka yang nampaknya “tidak betah” tinggal di Sikka. Selalu bepergian dengan perahu-perahu motor kecil dan mengejar nasibnya di lautan lepas tak berpemilik. Jauh dari Sikka. Jauh pula dari tetek bengek urusan politik dan pemerintahan.

Keduanya tidak masuk dalam bilangan historisitas tokoh kepemimpinan di Sikka. Mereka benar-benar lahir di atas “halar” (tempat tidur dari bilah bambu). Dari kelapa, kakao, cengkeh, jambu mente, jagung, dan minum dari air batang pisang atau sulingan uap panas bumi. Pada musim lapar, mereka mengalami masa-masa makan “ubi hutan”, “ohu”, “hura”, dengan ketergantungannya yang tinggi pada kondisi curah hujan dan peruntungan di masa paceklik. Keduanya tidak bisa menyembunyikan wajah “kekampungannya”, sebelum atau sesudah menjadi pemimpin nomor satu di Sikka.

Koalisi Bersama Membangun Sikka juga bukan berasal dari partai-partai mapan dan berakar di Kabupaten Sikka. Sekurang-kurangnya, partai-partai ini baru saja mencuri startnya pada Pemilu kemarin. Lantas SODA tidak menjadi populer dengan koalisi itu. Jauh dari perhitungan menang. Beda sekali dengan Golkar dan PDIP yang sudah lebih tua, dengan klaim basis pada wilayah demi wilayah di Kabupaten Sikka. Tetapi toh, besar kecilnya partai tidak lantas mempengaruhi arus pemberian suara massa.

Kenyataan ini menjadi fenomenal, SODA dengan koalisi partai gurem itu menunjukkan realitas perpolitikan yang sejatinya hanya tunduk pada satu tuannya, yaitu rakyat. Tergantung pada pilihan rakyat. Runtutnya, kalau dilihat dari kemenangan demi kemenangan dari 12 kecamatan di Sikka. SODA unggul merata pada semua TPS di kecamatan-kecamatan Timur luar dan Barat luar. Ditambah dengan simpatisan yang diberikan oleh kebebasan memilih pada beberapa orang di basis pemilih calon lain dan keberpihakan masyarakat pulau di gugusan terluar, SODA melejit sendirian. Meninggalkan calon lain. Partai mapan. Tradisi kepemimpinan. Dan prediksi kepopularan.

Simpul suara

Sejenak kemenangan SODA bisa dirayakan. Seperti baru saja bernapas lega setelah mendaki sebuah ketinggian. Tetapi pada gilirannnya, SODA mesti menuruni lagi ketinggian itu. Untuk lebih tertatih-tatih mendaki ke sebuah bukit yang lain. Karena, di balik suara-suara dukungan tersebut, terbersit harapan besar bahwa pasangan ini mampu mengantar banyak jiwa keluar dari kemelut kehidupan. Di antara kemiskinan, kemerosotan moral dan pendidikan. Pada ambang pesimis kaum tani, nelayan, pedagang. Masalah korupsi, busung lapar, krisis air bersih, dan abrasi pesisir pantai. Dan luka lama sentimen kewilayahan, perang dingin antarsuku, kerajaan, sejarah, swasta dan pemerintah, gereja dan birokrat.

Kalau mau dilihat pada gambaran kemenangan SODA di TPS-TPS, kebanyakan rakyat Sikka memilih SODA karena unggul dalam netralitas keberpihakannya, punya komitmen kuat dengan wajah “kekampungan” pada pembangunan visi pedesaan, dan tentunya punya integritas dalam menjamin kekayaan masyarakat. Lebih tajam, SODA menang karena dalam dirinya terbuka jumpa ruang yang begitu luas antara ketokohan seorang pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya. SODA juga simbol kebangkitan masyarakat terlupakan. Yang selama ini berada di luar jangkauan, “sadar atau tidak sadar” tersisih, terbuang, tercerai tanpa sentuhan pembangunan. Bahkan untuk kaum yang minus malum sekalipun, SODA merupakan harapan di tengah ketidakpercayaan massal.

Pada setumpuk masalah, rakyat menemukan SODA. Merasa SODA berada dan berjalan bersama-sama mereka. SODA punya telinga, hati, dan mata untuk rakyatnya. Letak itu pula, rakyat bersatu mengayam sebuah kursi untuk SODA. Mereka lantas mendudukan SODA. Persis di sebuah ketinggian. Apakah penemuan mereka ini lantas hilang lagi di tengah prosesnya? Melupakan lagi? Dengan susah payah harus mendongkakkan kepala, mencari, dan sulit ditemukan?

Basis kemenangan SODA ada pada komunikasi horisontal. Pada kesetaraan dirinya dengan nasib rakyatnya. Sama seperti masa lalu membesarkannya. Karena itu, betapa menyakitkan kalau pada proses selanjutnya, SODA malah mengubah identitas dirinya menjadi sangat vertikal, top down, seperti seorang bapa berjanggut panjang, berwajah garang, pedang di tangan, dan siap menghukum. Yang paling penting dari simpul suara itu adalah, kerelaan untuk turun dari kursi kenyamanannya, dan berinkarnasi bersama rakyatnya. Karena di situlah justru kualitas kepemimpinan SODA. Berhasil memberikan tempat yang luas untuk unek-unek rakyatnya. Lepas dari kepentingan, kekuasaan, dan kekayaan.

Melepaskan jebakan

Paus Yohanes XXIII ialah pemimpin publik dari sebuah dusun kecil yang miskin. Hati kemiskinannya itu tetap ia pelihara. Sampai pada kursi kepausannya. Melalui hati itu pula ia banyak menghasilkan karya-karya ajaib. Yang mustahil tetapi bisa dilakukan. Mampu melihat perdamaian di tengah kekacauan, visi kesejahteraan di tengah kemiskinan, tajam melihat kepentingan dari keberpihakan, dan konsisten pada pengabdian tanpa mengambil keuntungan. Ia akhirnya berhasil tampil sebagai pemimpin yang dipercayai banyak orang. Menyentuh banyak hati. Tanpa harus menolong secara material.

Pada sebuah sisi, SODA memiliki potensi untuk menjadi pemimpin seperti ini. Berangkat dari sebuah kampung, di sebuah ketertinggalan dan kemiskinan. Untuk sampai pada banyak hati itu, SODA hanya perlu menanggalkan tujuan dirinya. Di kelompok kepentingannya. Pemimpin rakyat tidak memiliki ambisi pribadi. Tidak pula menginginkan sesuatu dari kepemimpinannya. Ia hanya perlu pulang pada kemiskinannya, tanpa berusaha menghapus sejarah dirinya itu. Pada nasib sejumlah orang yang tidak beruntung. Pada perpecahan untuk perdamaian, kesalahan untuk pemaafan, demi membangun damai, dukungan, jaringan, dan perjuangan bersama. Kalau ini diingkari, sebuah kubur sudah digali sejak dari pertama kedudukannya.

Penulis adalah :
Alexander Yopi Susanto,Dilahirkan di Flores, 23 Oktober 1981. Pendidikan dasar diselesaikan di SDK 051 Waigete. Pendidikan menengah pertama dan atas dihabiskan di Seminari Sint. John. Berkhmans Todabelu Mataloko, Ngada, Flores.

Bidang spesialisasi:
TI, Writing n Publishing, Advokasi Tanah, Advokasi dan Pemantau Hak Anak. Sekarang tinggal di Jakarta Selatan.


tulisan ini merupakan hak cipta penulis. Barang siapa yang ingin memperbanyak atau meng-copy tulisan-tulisan ini diharapkan mencantumkan nama penulis aslinya. Dilarang keras menjiplak tulisan tanpa mencantumkan referensi!

Wue wari punya artikel tentang niang tanah?kirim ke cherovita@yahoo.co.id
Akan kami postingkan..
www.inimaumere.blogspot.com



Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---