Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 2 August 2008

Kerajinan Tenun Ikat Khas Kabupaten Sikka..


Tenun ikat Sikka diproduksi di hampir seluruh desa dan kecamatan yang ada, belum ada data akurat tentang hal itu, mengingat pembuatan tenun ikat kadang hanya kegiatan sambilan para ibu-ibu. Namun desa-desa yang terkenal tenun ikatnya adalah:
Heopuat, Hewokloang, Watublapi, Bola, Nele,Koting,Nita dan Sikka.
Diperkirakan ada 1000 pengrajin tenun ikat, baik untuk utan(g), lipa maupun prenggi



* Kerajinan yang hingga sekarang terus hidup di Sikka adalah kerajinan tenun, selain karena fungsinya sebagai pakaian sehari-hari, kain tenun juga bagian dari adat budaya masyarakat Sikka, seperti mas kawin (belis) dan upacara-upacara adat orang Sikka.

* Kain tenun biasa dipakai untuk sarung perempuan (utang), sarung pria (lipa) dan ikat kepala (lensu). Psan moral edukatif tentang kain tenun dalam adat budaya Sikka adalah Du’a utan(g)ling labu welin(g) “kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai, berharga”.

* Warna kain tenun didominasi oleh warna coklat tua dan hitam, namun ada juga varian warna biru atau merah. Pewarna kain tenun menggunakan pewarna alami dari akar mengkudu (bur/buke) dan tarung (tarum hitam) yang diberi ramuan koja gelo.

* Kain ditenun diikat dengan susunan/design hurang(g)-heren(g) ditambah motif simbol-simbol huran(g)-kelan(g) seperti: dala mawarani: bintang kejora, agi pelikano: burung suci pelikan,jarang atabiang: pasangan manusia berkuda, koraseng doberadu: manusia bagai pasangan ayam, naga lalang: ular naga,ruha: rusa, patola: suluran kembang-pengaruh India, dsb.

* Motif kain tenun juga mempunyai arti simbolik seperti utang moko: untuk upacara
perladangan, utang breke: upacara tolak bala, utang jarang atabi’ang: upacara kematian,utang merak: pakaian pengantin perempuan, utang mitang: motif untuk orang tua, utang wenda: motif hidup bahagia, utang rempe sikka: hidup rukun, utang mawarani: bintang kejora,utang sesa we’or: buat pengantin perlambang burung murai berpasangan.

* Kerajinan lainnya yang cukup signifikan adalah kerajinan keramik dan ukir gading. Kerajinan keramik secara turun temurun di produksi di Kecamatan Bola, sedang kerajinan gading dilakukan secara terbatas mengingat bahan baku gading gajah yang langka.





Anda bisa juga mengetahui tentang tenun ikat khas Kabupaten Sikka bahkan bisa memesannya lewat nomor ponsel yang disertakan pada blog www.alfonsadeflores.blogspot.com atau klik saja pada link Tenun Ikat di blog inimaumere.
Selengkapnya...

Wednesday, 23 July 2008

Budaya dan Ragam Tradisi di Kabupaten Sikka

Kabupaten Sikka menyimpan begitu banyak ragam budaya,tradisi,bahasa dan peninggalan-peninggalan masa lampau yang mempunyai nilai peradaban yang tak ternilai.Memang banyak masyarakat dinegara kita yang belum mengetahui karena memang informasi seperti ini bisa dibilang jarang ditemui.
Sedikit informasi tentang keragaman budaya,bahasa yang khas dan unik dari kabupaten Sikka bisa dibaca disini...

- Kepercayaan purba --.> Tuhan, Dewa Matahari-Bulan
- Mo’ang Allessu
* Don Alessu Ximenes da Silva, peletak Agama Katolik di Kerajaan Sikka-Krowe


Bahasa dan Etnik

* Sikka Krowe – Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Sikka, Kelompok etnis yang
mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Sikka yang terdiri dari sub etnis Sikka Lela,Nita Koting, Nelle-Baluele, Habi-lli-Wetakara, Bola-Wolunwalu,Dorang-Halehebing.

* Sikka Muhan – Bahasa digunakan adalah Bahasa Muhan, Kelompok etnis Tana Ai yang
mendiami wilayah sekitar Kringa dan Werang. Penganut sistem kekerabatan matrilinear.
* Muhan mendiami bagian timur Kabupaten Sikka, sekitar perbatasan dengan Kab. Flores
Timur atau sering disebut Muhang Jawa.* Lio – Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Lio, Mayarakat etnis Lio mendiami bagaian
barat Kab. Sikka dan terdiri dari beberapa sub etnis seperti Mblengu, Mego, Nualolo, dan Bu.
* Palue – Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Palue,Kelompok etnis yang mendiami pulau Palue antara lain sub-etnis Nge: Lajangawawi, Lajakarapau, Suria, Kimalaja, Cinde, Pima dan Uwi Muri.
* Tidung – Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Bajo, Kelompok etnis Kidong Bajo berasal dari Sulawesi selatan yang mendiami pulau-pulau sekitar Teluk Maumere dan sepanjang Pantai Utara (Magepanda, Alok, Kewapante, Waigete, Talibura)

Adat upacara

• 2 ritual siklus tahunan, yakni:
- Musim tanam (Wulang Leleng) dan
- Musim panen (Wulang Dereng)

• 3 siklus daur hidup (Hu’erHoreng Ata Bi’ang), yakni:
- Kelahiran (Wua DetAE Doda), terdiri dari 8 ritual, mulai dari pemberian nama hingga
penyunatan

- Pernikahan (Lema Lepo ‘Rawit Woga), termasuk ritual yang paling rumit terdiri dari 11 ritual, mulai dari ritual meminang hingga ritual mengantar istri ke pihak keluarga
suami. Adat mas kawin (belis) menurut para ahli dan sejarahwan berasal dari perintah
Ratu Dona Inez dan Ratu Dona Maria Du’a Lise Ximenes da Silva pada awal abad ke 17, guna mengangkat harkat kaum wanita di Kerajaan Sikka.

- Kematian (Huer Hereng Ata Mateng Potat), terdiri dari 7 ritual, mulai dari ritual
pembawaan kain, lilin hingga ritual minggu pertama dan ketujuh.

Seni tradisi:

• Seni tari terdiri dari:
- Tari Upacara Ritual, berkaitan dengan kelahiran, tanam padi, hingga giring perahu.
- Tari Perang, berkaitan dengan ritual sebelum perang hingga tari kemenangan perang.
- Tari Pergaulan, seperti pesta panen, perkawinan hingga tarian yang diwarisi dari
kebudayaan Portugis seperti Tari Bobu yang merupakan drama tari kehidupan Yesus.

• Musik tradisional di Sikka sangat diwarnai oleh musik perkusi pukul yang disebut gong waning, namun alat musik lainnya juga cukup komplit, mulai dari alat perkusi pukul dari metal dan bambu, perkusi kulit (gendang), musik tiup, alat musik petik hingga gesek.

• Tradisi Tenun ikat, dimana tenun ikat tidak hanya menghasilkan tekstil semata, namun setiap motif tenun ikat selalu punya makna simbolis, bahkan pada jaman kerajaan juga menjadi penanda status adat dan sosial.

Benda Pusaka Budaya

Budaya Sikka sangat kaya dengan barang-barang pusaka budaya, baik yang asli dari
kerajaan Sikka sebelum Portugis datang maupun sesudah Portugis datang. Benda pusaka
budaya antara lain: benda peninggalan pra-sejarah (tempayan dongson, replika perahu perak Dobo), benda-benda peninggalan kebesaran kerajaan disebut Regalia, patung keagamaan(patung Bayi Yesus, Watu Cruz)

www.inimaumere.blogspot.com
Selengkapnya...

Sunday, 20 July 2008

Dialog Kosmologis Melindungi Hutan: Pada Letusan Gunung Egon..(2)

Sambungan dari bagian pertama..
Ditulis Oleh : Alexander Yopi Sutanto,Tinggal di Jakarta Selatan..

Perempuan Egon: ibu-ibu bumi

Dua Kesik melanjutkan tenunannya. Sementara Nong Frans bergegas hendak ke pasar.
“Moret lalang masa tei poin susar megu meruk”. (Jalan hidup di masa sekarang hanyalah susah sedih meremuk). Kata Dua Kesik.

“Ama Pu loar nain ita, ganu me heak belung loar”. (Sepertinya Tuhan meninggalkan kita, seperti anak yang ditinggalkan setelah dilahirkan) Lanjutnya pula.

“Au gata Kitab Suci rakang. Te tutur hoor aun ganu lau tahi witi wuak” (Kau terlalu baca Kitab Suci. Kata-katamu itu bombastis. Lepas ditelan laut) Nong Frans membalas.

“Au ele persaya ko? Uma woer itan benu bait. Loning poi niang tawa tana itan peho matan potat rumu ramang.” (Kenapa kau tidak percaya? Yang tumbuh di kebun kita hanya kepahitan. Karena si empunya tanah membalikkan muka dan menghilang di tengah kegelapan) Lanjut Dua Kesik.


“Tutur dor aun ganu ata plender. Gata kela poin di ele newan. Ma perang beli me aun. Au pano lalan epan. Ge tena naruk dadi mior melur” (Kata-katamu seperti orang pintar saja. Padahal baca tulis saja kau tidak bisa. Sana, masak buat anakmu. Saya jalan dulu. Semoga Sukses. Sehingga kesulitan kita dapat diatasi) Sahut Nong Frans.
***
Kehidupan kaum perempuan di Waigete, di bawah kaki gunung Egon, 23 kilometer dari Kota Maumere, tidak jauh dari alam. Dari sawah dan kebun mereka. Sudah ada pembagian yang jelas antara suami dan isteri. Selain rumah, di seputar dapur dan anak, isteri dan anak perempuan ikut membantu di kebun atau sawah. Mulai dari mempersiapkan lahan, menanam, menyirami, memupuki, sampai memetik hasil. Bahkan pada saat-saat tertentu, perempuan menjadi lebih intens dan dekat dengan alam, tanah, dan tumbuh-tumbuhannya. Ketika pria-pria mereka memindahkan hewan ternak mereka, seperti sapi, kambing, kerbau, mencari tempat makan di padang berikut, mereka ditemukan tiarap dengan tanah. Pada saat pria-pria mereka itu melaut, mereka pulalah yang menggantikan peran menjadi petani, dengan sejumlah beban di rumahnya. Untuk asap dapur pun, perempuan-perempuanlah yang mencari kayu bakar di hutan, mengambil air di sumur-sumur dan pipa-pipa umum, menjinjing bakul ayaman berisi umbi-umbian, sayuran, buah-buahan untuk dimakan. Mereka pulalah yang menumbuk padi, mewarisi sejumlah potensi pangan lokal. Perempuanlah para petani itu!

Pada satu waktu di awal musim hujan, sekelompok perempuan termasuk di antara Dua Kesik akan memikul cangkul ke ladang. Mereka disebut group “Sako Seng”. Seperti arisan bergilir untuk mencangkul kebun. Kalau hari ini giliran Dua Kesik, solidaritas “Sako Seng” itu beramai-ramai selama tiga sampai lima jam mencangkul petak tanah dan membuat bedeng pada kebun Dua Kesik. Begitu pun sebaliknya, tiba giliran teman lain, Dua Kesik pun harus rela membiarkan waktu dan cangkulnya berada di atas ladang milik teman kelompoknya. Termasuk dalam hal panen, mereka memberlakukan gotong royong unik ini.

Jelang masa panen, ketika bulir-bulir padi mulai menguning, perempuan-perempuan itu pula yang menarik boneka (orang-orangan) untuk mengusir burung-burung Tuhan. Sementara laki-laki mereka mencari nafkah lain, untuk mencukupi kebutuhan harian. Sambil menunggu, menarik tali-tali pada boneka-boneka itu, mereka menyulam, mengayam. Mereka bernyanyi. Mengajarkan kebijaksanaan perempuan pada anak-anak perempuan mereka.

Kalau tidak bersekolah, satu-satunya sumber dari kecerdasan yang mereka miliki adalah belajar dari alam. Dari ruang hidup. Dan kebijaksanaan mereka selalu seperti padi. Lebih berisi lebih meruduk. Mereka juga mengajarkan cinta, mewariskan cinta melalui dialog dengan alam.

Apa yang salah dari Egon?

“Raik Egon raning rang, ita gai plari epae?” (Kalau gunung Egon meletus, kita mau lari ke mana) Tanya Dua Kesik.

“Hai ata beta ganu tia? Lopa blau, noran Moan Egon. Siru wisu nimun newan tena Egon bile blatan” (Siapa bilang begitu. Jangan takut, ada penjaga gunung. Dia tahu betul apa yang harus dilakukan supaya Gunung Egon tetap diam) Kata Nong Frans.

“Gita sai Egon reta ia. Rusa tama natar. Ular-ular bekor nain. Wero-wero plari sawe. Raik tia, masa nimun gai raning rang” (Coba perhatikan, rusa masuk kampung, ular-ular pada bermunculan, kera-kera lari meninggalkan habitatnya. Itu pertanda, Egon akan mengamuk) Jelas Dua Kesik.

“Egon gahu gahar, tahi marak matar, hala apa walong ita ei? (Gunung Egon lagi memanas, laut seperti ikut bergolak, salah apa kita? Seolah-olah retoris, Nong Frans berkata.
***

Konon, Gunung Egon itu ada penunggunya. Juru kuncinya. Ia dilukiskan sebagai orang tua yang berambut dan berjenggot panjang. Kalau berjalan, kakinya tidak menyentuh tanah. Alias melayang di udara. Itu menandakan “ilmu” pertapaannya sangat tinggi. Setiap hari, hidupnya hanya diabdikan untuk Egon. Berada tidak jauh-jauh dari Egon.

Kalau ia keluar dari pertapaannya, itu berarti ada sesuatu yang penting, sangat penting dan mendesak, berkaitan dengan siklus musiman Egon. Dipercaya, pada masa tertentu, sosok penunggu gunung itu harus memberikan sesajian dan tumbal untuk menjinakkan murka Egon. Keluarnya sang pertapa penunggu gunung itu berkaitan erat dengan tumbal. Saat itu, keadaan kampung akan menjadi lebih hening. Anak-anak tidak boleh keliaran sembarangan. Apalagi anak perempuan yang masih perawan.

Pengetahuan kuno masyarakat mengajarkan bahwa, ketika binatang-binatang hutan pada berkeluaran secara serempak, seperti rusa masuk kampung, kera-kera bermigrasi, dan ular-ular bermunculan dari sarang sembunyiannya, saat itu bumi lagi bergolak. Panas. Membuat tidak betah binatang-binatang itu. Saat itu pula, sinyal meletusnya gunung Egon dibaca dan diterima oleh penduduk setempat. Rata-rata mereka sudah tahu sebelum sinyal kerak bumi itu diterima mesin seismograf.

Peringatan dini itu akan berjalan, jika dan hanya jika, keseimbangan alam itu terjaga dengan baik. Artinya, indera penciuman manusia sangat bergantung pada insting di dunia binatang. Pada hewan-hewan di hutan. Mengandaikan hutan masih merupakan tempat huni yang nyaman buat hewan-hewan bebas itu. Mengandaikan hutan dibiarkan pada bentuk aslinya, tidak terlalu banyak campur tangan manusia, rekayasa ekosistem dan hutan, eksploitasi dan pengerukkan massal.

Dengan dibiarkan seperti itu, bingkai cerita kuno pada sebentuk tokoh tua si penunggu gunung punya kebenarannya sendiri. Mendedikasikan hidup seluruhnya pada gunung, ia menjadi orang yang paling cerdas, dengan pengetahuan jelimek tentang keadaan gunung. Denyut gunung dan alam sekitar adalah denyut jantungnya pula. Ketidakseimbangan pada ekosistem dan disharmonisasi hutan adalah gangguan pada kesehatannya pula. Dengan begitu ia pun tahu cara untuk menyembuhkannya. Karena, ketika keadaan kritis itu terjadi, ia mampu berdialog dengan hutan, gunung, dan alam tentang hal yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana harus mengatasinya.

Seorang Dua Kesik, perempuan di kaki gunung Egon itu pun merasakan hal sama. Ia memiliki kecerdasan alam. Karena senantiasa dekat dengan bumi. Bersentuhan mesrah dengan bumi. Ia mampu merasakan derita alam, tumbuhan, buah-buahan, dan tanam-tanaman. Ketika kebun ladang mereka hanya menyisakan hasil yang kerdil. Ia pun mulai menjadi resah, merasa bumi mulai menolak keberadaan umat manusia. Kepekaannya melebihi kecerdasan kaum cerdik pandai. Melebihi bilangan patriarkat yang menjadi dominan untuk kelas intelektual masyarakat kampung.

Tetapi pertanyaan Nong Frans menjadi penting. Pada sesuatu yang sebenarnya tidak mau diungkapkan secara terang oleh Dua Kesik. Ia tahu diri. Kultur tidak pernah memberi tempat yang luas untuk refleksi seorang perempuan. Karena itu, Dua Kesik sepertinya sedang menggiring Nong Frans untuk mengungkapkan inti dari permenungan kosmologisnya. Yaitu: apa yang salah dari alam dan diri kita?........................bersambung

-----------------------------------------------------------------------------------------------
alexanderyopisusanto
Dilahirkan di Flores, 23 Oktober 1981. Pendidikan dasar diselesaikan di SDK 051 Waigete. Pendidikan menengah pertama dan atas dihabiskan di Seminari Sint. John. Berkhmans Todabelu Mataloko, Ngada, Flores. Bidang spesialisasi: TI, Writing n Publishing, Advokasi Tanah, Advokasi dan Pemantau Hak Anak. Sekarang tinggal di Jakarta Selatan.
Selengkapnya...

Sekilas Latar Belakang Sejarah Kabupaten Sikka

Asal Usul Orang Sikka

*Para antropolog dan arkeolog mengatakan orang Sikka penghuni negeri Lorang Flores berasal dari Lembah Dong Son di Hulu Sungai Mekong dan Hoang Ho, China.

*Para penulis sejarah lokal seperti Oscar Mandalangi Parera,DD Kondi dan A Boer berpendapat bahwa orang Sikka berasal dari penghuni asli dan pendatang dari seberang lautan. Para penghuni asli ini disebut Ata Teri Nian E’ra Natar atau Ata TawaTana atau Bapak Pengasal. Menurut Pater Sareng Bao, SVD, manusia menghuni bumi Sikkasejak bumi diciptakan.


* Menurut penduduk asli dan pendatang dari Benggala (kini Bangladesh), yakni Mo’ang Ra’e Raja dengan istrinya Du’a Guru Merang yang melahirkan Raja – raja Kangae. Nama Kabupaten Sikka agaknya berasal dari nama Ibu pelahir para pahlawan negeri ini. Nama ini pun menunjuk pada Dewi Sikh, nama seorang Dewi Padi Ilalang dari ndia.

*Selain Bangladesh, lelulur orang Sikka-pun diyakini berasal dari Malaka, kini Semenanjung Malaysia. Kata hikayat, leluhur itu seorang pelaut, lantaran kapalnya rusak dan terdampar di Paga Mbengu, lalu mengawini perempuan setempat. Leluhur itu disapa Laka dari kata Malaka dan keturunannya kini tinggal di wilayah bagian barat Kabupaten Sikka, yakni Paga, Mauloo, Wolowiro di Kecamatan Paga.

Kepurbaan Manusia Sikka
*Prasejarah menunjukkan kawasan Sikka telah ada sejak jaman batu–megalithikum, dimana banyak artefak arkeologis menunjukkan jejak-jejak prasejarah tersebut.

*Zaman pra-sejarah dan roh kepurbakalaan Sikka bisa ditelusuri dalam sastra lisan, dalam mitos dan legenda, sekaligus dapat diraba melalui artefak dan fosil-fosil peninggalan zaman purbakala.Misalnya batu dengan tapak tangan manusia raksasa di Ewa. Kecamatan Waigete, juga ada tapak kaki kiri manusia raksasa yang panjang,tapak kakinya lebih tinggi dari ukuran tinggi manusia normal, dengan lebar tapak kaki bisa mencapai tiga orang manusia berbadan gemuk.

*Fosil-fosil ini ditemukan disebuah batu cadas yang keras. Masyarakat menyebutnya dengan La’e Ripu terdapat di Rejo, Desa Wolorego, Kecamatan Paga. Ada juga sejumlah gua yang diyakini dahulunya ditempati manusiamanusia purba asli Sikka. Seperti Gua Pati Ahu di Talibura, Liang (gua) Keytimu, Kubur batu Buabari di Paga.


*Artefak emas berbentuk kampak atau Bahartaka dan ukiran Tuhan Berwajah Tiga, Bahar Ama Pu Waen Telu di Desa Hale, Kecamatan Bola.

*Artefak perunggu berbentuk perahu Jong Dobo, ditemukan di Kecamatan Kewapante.

*Masih banyak peninggalan lain yang saat ini masih tersimpan di Museum Bikon Blewut, STF Ledalero.


Sejarah Pemerintah Sikka

* Sikka tumbuh kembang dalam 4 era, yakni pra-kolonial, era kolonial Portugis, Hindia-Belanda
dan era paska kemerdekaan. Sejarah menunjukkan kronik Sikka dalam silang budaya yang
sangat kental. Mulai dari silang budaya dengan India, Portugis hingga budaya modern saat ini.

* Tonggak sejarah Sikka dilakukan oleh Raja Don Alexius Alessu Ximenes da Silva pada awaltahun 1600 an sebagai peletak Agama Katholik di Sikka, Ratu Dona Agnesia dan Ratu Dona Maria (1613-1620) sebagai peletak emansipasi wanita, dan Raja Don Thomas Ximenes da Silva sebagai peletak Sikka Modern.

* Adat-istiadat dalam bidang pemerintahan telah lebur dalam tata cara pemerintahan republik pada pertengahan tahun 1950’an dengan dihilangkannya jabatan Raja Sikka setelah Raja Sikka Don Thomas Ximenes da Silva XIII adalah raja terakhir yang secara adat maupun administratif diakui.

* Tahun 1958 terbit ketetapan pemerintah Republik Indonesia mengenai (swapraja) Kabupaten
Sikka.

* Tahun 2002 Kabupaten Sikka sesuai UU no 24/99 dan 34/2003 otomatis sebagai daerah
otonom.

Anda juga bisa membaca sejarah kabupatern Sikka di Kategori Sejarah di Blog ini..

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 18 July 2008

Menikmati Pesta Pernikahan Ala Orang Maumere..

Brakkk..tiga undangan menghadiri pesta pernikahan sahabat-sahabat kami mampir di meja redaksi..Ceeiiileee meja redaksi hehehe..Ya ampun dalam satu minggu dalam selang waktu satu hari kami harus menghadiri pesta pernikahan ala orang Maumere. Ya, kami pasti datanglah, sudah diundang kok tidak datang, tidak hormatlah sama yang punya hajatan. Apalagi yang punya hajatan ini sahabat-sahabat terbaik kami, juga sudah diwanti-wanti sama yang berbahagia agar kami harus datang. Ya sudah, kami bertiga pun mulai bersiap diri untuk sebuah pesta pernikahan ala orang kota Maumere tercinta. Ini untuk yang pertama kali kami bertiga berangkat bersama-sama (pulang sendiri-sendiri) dan untuk yang pertama kali kami menghadiri pesta-pesta seperti ini (tidak percaya? sudah tooo hehehe). Satu pesta diadakan di Alan Hall (gedung Alan), Waidoko (wilayah kecamatan Alok Barat) sedang satunya pesta pernikahannya diadakan dirumah saja.


Malam mulai merambat naik. Bersama tiga sepeda motor yang selalu setia menemani hari-hari, berangkatlah kami bertiga menuju Gedung Alan (biasanya orang-orang menyebutnya demikian). Letak gedung tersebut berada di pinggir jalan dengan halaman yang begitu luas dan ditumbuhi bunga-bunga beraneka warna, sangat asri. Gedung ini juga mempunyai ruangan yang cukup luas dan sengaja disewakan bagi masyarakat untuk melangsungkan berbagai kegiatan. Halaman parkir bagi yang membawa kendaraan juga disediakan dengan area yang cukup untuk menampung semua kendaraan undangan.

Wah, pestanya orang Maumere bisa dibilang tergolong mewah untuk ukuran orang NTT. Undangan yang datang juga tak mau kalah dengan sang empunya hajatan dengan penampilan pakaian pesta yang sedang trend saat ini. Kami bertiga? Heheheh, penampilannya jauh dari kemilau pakaian undangan yang lain. Datang pun telat saat para undangan lagi bersalaman dengan pengantin yang sedang berbahagia. Karena terlambat tentu saja kami tidak mendapatkan tempat. Tempat duduk para undangan tidak seperti pesta-pesta jaman dulu yang kursinya disusun menghadap kedepan. Tapi di Gedung Alan para undangan disediakan meja bundar dengan kursi yang disusun sedemikian rupa mengelilingi meja dan bisa menampung beberapa undangan permeja. Biasanya setelah para undangan telah hadir acara selanjutnya adalah salaman dengan kedua mempelai. Selesai bersalaman undangan diarahkan langsung menuju meja perjamuan untuk bersantap bersama diiringi lagu-lagu romantis yang dibawakan secara live. Selain itu juga tentu ada sepata dua kata dari keluarga mempelai.

Menikmati pesta di NTT khususnya di Kabupaten Sikka ini pasti tidak lepas dari namanya acara bebas yakni acara bergembira bersama mempelai.
Tarian-tarian lokal seperti Polines, Rokatenda, Gawi, Ja'i, Poco-poco serta tarian moderen dansa-dansi merupakan acara yang ditunggu-tunggu para undangan (memang begitu sudah jalan ceritanya hehehehe). Namun kadang pesta-pesta yang dilangsungkan di gedung seperti ini tidak sebegitu meriah (untuk acara bebasnya).
Kenapa? Menurut beberapa undangan yang biasa mengikuti acara bebas yang dilangsungkan di menghadiri pesta yang diselenggarakan di gedung, biasanya saat cara bebas baru dimulai setengahnya eh para undangan lain sudah mulai pamitan pulang.

Benar saja, seperti yang kami saksikan undangan lain mulai bergegas pulang saat dansa-dansi baru setengah jalan apalagi satu pesta nikah lagi yang dilangsungkan di rumah mempelai sudah masuk dalam daftar para undangan. Jadi setelah pesta di gedung ini undangan lain langsung cabut menuju pesta berikutnya (ini maumere!!!).
Ya, betul saja mendekati jam 11 malam gedung Alan mulai di tinggali para undangan. Namun biasanya pesta dilanjutkan lagi lebih meriah di rumah mempelai perempuan, menunggu acara selanjutnya yang dalam adat pernikahan di Kabupaten Sikka disebut tama ola uneng (pengantin masuk kamar). Setelah pamitan dengan yang berbahagia kami pun angkat kaki. Kemana? Tentu saja ke pesta berikutnya..hehehehe..mau ikutan? Ayo.....

Bersama sahabat-sahabat kami Bastian Mandalangi, Roy Manches, Oriie, Tommy dan seorang nona(Oa) dari Kota Larantuka yang khusus hadir untuk sahabatnya yang berbahagia kami berangkat menuju pesta selanjutnya yang berada di kawasan Centrum, Kota Maumere. Nah, ini dia baru namanya pesta yang Maumere banget. Dengan kajang (tenda) yang cukup luas mengangkangi jalan raya dentuman irama musik lagu-lagu daerah seperti Bake Sai atau Mae Wado menyambut kedatangan kami. Didalam tenda malah lebih seru lagi. Semua orang bergembira. Semua menikmati pesta tersebut. Semua menari-nari tiada bosan, baik tua, muda, laki atau perempuan semuanya bergembira. Pengantin perempuan yang sedang berada ditengah lantai dansa langsung menyambut kami dengan ramah sambil mempersilakan kami mengambil tempat duduk. Bang Vicky Dori yang juga kakak dari mempelai perempuan terlihat begitu gembira. Ya, dipesta seperti ini semua orang harus bergembira, tidak boleh tidak (hussss jangan maksa ko hehehe). Terlihat juga Abang Kons Lamak, Kang Ded, Junedy Juje, Hendra da Gomez beserta istri Onya Labina, Harly Pega, Abang Maxi da Lopez, Abang Bob Miger, Abang Ponco Dori yang lagi asik berkulababong dan lain-lain. Ya, kalau di Maumere pesta seperti ini pasti meriah.

Pesta malam itu juga diisi dengan penampilan Abang Kons yang melatunkan lagu-lagu cha-cha diirngi permaian keyboard dari Orrie. Semua bercha-cha. Kami juga menikmati pesta ini. Ada pula suguhan moke (minuman tradisional berakohol) dari tuan rumah untuk menghangatkan badan dari udara yang terasa dingin hehehe..memang kalau di Kabupaten Sikka namanya moke tidak lepas dari adat atau budaya.

Mendekati pukul 12 malam pengantin laki-laki yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba di rumah mempelai perempuan yang kami hadiri. Keluarga besar dari mempelai laki-laki turut menghantar. Suara musik gong waning (musik tradisional Kabupaten Sikka) yang ditabuh terdengar meriah menyambut mempelai laki-laki. Semua benar-benar bergembira menyambut sang mempelai. Terlihat pula mempelai perempuan yang tidak dapat meyembunyikan rasa bahagianya yang tersirat dari raut mukanya. Setelah melewati sedikit acara adat kedua mempelai meninggalkan kami yang terus saja berpesta. Acara ini dalam adat perkawinan di Kabupaten Sikka dinamakan tama ola uneng (pengantin masuk kamar).

Setelah itu acara diteruskan sampai menjelang pagi. Semua terus bergembira. Dan kami benar-benar menikmati pesta pernikahan ini. Ya, akhirnya kami pun meninggalkan pesta tersebut.

Meskipun dari sudut pandang para ekonom, bahwa adanya pesta-pesta itu (juga melalui proses adat setempat untuk menjadi pasangan sah) dianggap sebagai pemborosan dana, waktu dan tenaga, karena biayanya sangat besar dan makan waktu berhari-hari, namun dalam kebiasaan yang tak pernah menjemukan inilah, ditemukan nilai-nilai kegotong-royongan, musyawarah dan kekeluargaan yang akrab, yang tak dapat dibeli dengan uang, sekaligus mengungkapkan karakteristik budaya masyarakat setempat.

Ba'u sai...epang gawan....



Ada beberapa tahap dari acara perkawinan secara adat Sikka/Krowe:

(1)Kela narang, pendaftaran nama calon pengantin di kantor Paroki yang dihantar oleh orang tua masing-masing bersama dengan keluarga

(2)A Wija/A Pleba, keluarga ata lai(keluarga mempelai laki-laki) melakukan kegiatan mengumpulkan mas kawin secara bersama-sama dengan keluarga

(3) Dipihak ata du'a (mempelai perempuan) terjadi pengumpulan bahan-bahan pesta untuk membuat sejenis kue tradisional yaitu bolo pagar dan mendirikan tenda pesta.

(4) Sebelum ke gereja keluarga berkumpul di rumah mempelai wanita. Keluarga penerima wanita atau ata lai bertugas menjaga kamar pengatin.

(5)Tung /tama ola uneng, acara masuk kamar pengantin jam 21.00-22.00 malam diiringi kedua ipar masing-masing. Pengantin pria/wanita di hantar ke kamar oleh A'a gete dengan nasehat kalau sudah ada di kamar bicara perlahan-lahan

(6)Weha bunga sekitar jam 05.00 pagi para pengawal kamar pengantin, a'a gete dari Keluarga ata la'i menaburkan bunga pada kamar pengantin sebagai lambang harum semerbak bagi kedua pengantin.



Yang tersisa dari pesta pernikahan itu..












www.inimaumere.com/oss,boim,dpar
Selengkapnya...

Tuesday, 15 July 2008

Tarian Dalam Adat Upacara di Kabupaten Sikka..

Kelahiran, perkawinan dan kematian, adalah tiga peristiwa penting dalam hidup manusia. Para leluhur telah menandai lintasan hidup yang patut dikenang itu dalam berbagai bentuk seremoni atau upacara adat yang menggugah. Upacara-upacara itu telah merupakan satu rangkaian dan untaian tradisi yang membudaya dan melekat turun temurun dalam kebiasaan hidup masyarakat Sikka. Demikian pula berbagai upacara adat yang bersifat musiman, berhubung dengan alam dan pertanian, seperti membuka kebun, memohon hujan, menanam, memetik hasil, syukuran atas panen, menolak bala, dan lain-lain, juga merupakan bagian yang sudah tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat setempat.

Seluruh rangkaian upacara adat tersebut, didukung dengan penyelenggaraan pesta yang dimeriahkan dengan penampilan seni tari, seni musik, seni suara dan seni sastra, juga merupakan pola upacara dan keramaian yang sudah mencapai bentuknya yang baku.
Meskipun dari sudut pandang para ekonom, bahwa adanya upacara dan pesta adat itu dianggap sebagai pemborosan dana, waktu dan tenaga, karena biayanya sangat besar dan makan waktu berhari-hari, namun dalam kebiasaan yang tak pernah menjemukan inilah, ditemukan nilai-nilai kegotong-royongan, musyawarah dan kekeluargaan yang akrab, yang tak dapat dibeli dengan uang, sekaligus mengungkapkan karakteristik budaya masyarakat setempat.
Makanya, bukan saja satu karunia bakat dan ketangkasan, tapi lebih merupakan satu kekayaan seni budaya yang mengundang perhatian, karena dampaknya sangat besar bagi dunia wisata. Kabupaten Sikka mencatat 28 jenis tari tradisional, terdiri dari tarian perang/kepahlawanan, tarian pesta/pergaulan, tarian yang berhubungan dengan alam dan karya tani, dan jenis tarian ketika mendirikan rumah,membuat perahu, menyembelih hewan kurban, dan lain sebagainya.

Tari klasik seni drama "Soka Bobu", adalah tarian ceritera perkawinan ala Portugis yang dibanggakan di kampung Sikka. Diiringi nyanyian koor dalam bahasa Portugis, dengan tambur, suling dan giring giring, sendratari itu telah banyak menarik perhatian wisatawan.
Sementara itu "Toja Bobu" di kampung Paga yang dikenal sebagai "BoboUta", juga tarian kepahlawanan peninggalan Portugis yang perlu dibenah dan dipentaskan lagi dalam hubungannya dengan melesatnya arus wisatawan sekarang ini.

Oleh kemajuan perkembangan zaman, kini muncul tarian kontemporer, sepertigali-gali, rokatenda, joget, tari sirili pinang, tari nyiur, dan lain-lain. ROKATENDA, tarian pergaulan muda mudi yang diangkat dari gaya tari "togo"( tandak) PaluE, pulau gunung api Rokatenda itu, diiringi musik klasik, suling atau gong gendang, kini selalu menjadi acara tetap mengisi kemeriahan pesta-pesta dan acara-acara dalam resepsi resmi. Malah seorang Dubes Denmark untuk Indonesia bersama istrinya begitu tertarik dengan gerak gaya dan suasana yang tumbuh dari situasi tari ini, sampai sendiri berhura-hura menari dan menyanyi berjam-jam, sambil meneguk tuak Wairbleler.

Tari kreasi baru dalam bentuk sendra tari yang dipetik dari ceritera rakyat setempat, seperti tari "Du'a Nalu Pare" (dramatari mitologi), tari "Kapalelu" (dramatari dongeng) dan tari "Gareng Lameng", sempat mencengangkan turis bule dan domestik. Ketiga tarian "moderen" ini adalah gubahan yang kreatif dari HERMAN YOSEF, seorang seniman tamatan ASRI Yogyakarta.

"GARENG LAMENG", jenis tari yang pernah dipentaskan ke Kupang dan ibukota Jakarta itu adalah gubahan yang kreatif dari kemampuan prima seniman HERMAN YOSEF setelah memperoleh inspirasi dari upacara adat penyunatan anak di kawasan budaya Tana Ai, Kecamatan Talibura.


'Menantang Badai di Bumi Tsunami'-Bapak EP da Gomez
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 14 July 2008

Sikka United Gemilang,Pssi Sikka Siap Hadapi Piala Eltari..

Sikka United FC secara gemilang menjuarai Turnamen Sepakbola Antar Klub PSSI Sikka 2008 setelah menaklukan Persewa Waioti FC 5:4 lewat adu tendangan pinalti setelah bermain imbang 1:1 di waktu normal dan perpanjangan waktu yang berlangsung di Gelora Samador hari minggu sore 13 juli 2008.Disaksikan oleh 3000-an pasang mata pada babak pertama lewat Elchon,Sikka United yang sebagian besar diisi oleh pemain muda dari SMPK dan SMUK Frater berhasil mencetak gol terlebih dahulu.Kedua tim menyuguhkan permainan cantik,menawan dan saling menyerang.


Namun diakhir babak kedua Sikka United yang dilatih oleh Freny Mari ditekan habis oleh Persewa yang akhirnya membuahkan hasil dengan gol yang dicetak oleh Deny.Pada babak perpanjangan waktu,Persewa yang dilatih oleh Anis Wangge tetap menyerang dan mengurung pertahanan Sikka United namun penyelsaian akhir yang buruk membuat serangan gencar yang dilakukan Persewa tidak membuahkan gol.

Hasil seri tersebut membuat kedua tim harus menyelesaikan pertandingan untuk menentukan sang juara lewat adu tendangan pinalti.
Dalam adu tendangan pinalti tersebut akhirnya Sikka United berhasil menang sekaligus menjuarai turnamen ini dengan menggondol uang pembinaan sebesar Rp 5juta plus satu piala tetap dan satu piala bergilir PSSI Sikka.Sedangkan Persewa Waioti sebagai juara kedua membawa pulang satu piala tetap dan uang pembinaan sebesar Rp 3juta.Kejuaraan ini di sponsori oleh Pemda Sikka dan didukung oleh BRI,Gudang Garam,Toko Go,Toko Mustika.

Kejuaraan Antar Klub PSSI Sikka telah berlangsung dari tanggal 7 juni sampai 13 juli dan diikuti oleh 27 klub sekabupaten Sikka dengan melangsungkan 41 pertandingan.Kejuaraan ini menurut Bpk Idris Boli selaku sekretaris Pssi Sikka dimaksud sebagai ajang pembinaan bagi klub dan sebagai wadah seleksi untuk persiapan tim Persami menuju Piala Eltari yang akan dimainkan di Bajawa,Ngada.Seleksi bagi para pemain yang dipanggil akan dimulai tanggal 15 juli 2008.
Dalam kejuaraan antar klub Pssi Sikka tahun ini digunakan pula sistim pembatasan umur untuk para pemain yang diturunkan.Batas umur 19(1988) dibolehkan turun bermain 6 orang sedangkan kelahiran 1985,1986,1987 diturunkan 3 pemain dan senior tanpa batas umur 2 pemain.

Pssi Sikka juga akan merubah sistim turnamen seperti ini dan menggantinya dengan sistim Divisi.Untuk sementara menggunakan divisi 1 dan divisi 2.Klub-klub yang akan ikut dalam divisi satu adalah 8 tim yang lolos perempat final dalam turnamen Pssi Sikka ini serta runner-up dari masing-masing grup.Sedangkan yang bermain didivisi dua adalah tim-tim yang tidak lolos(urutan 3 masing-masing grup) ditambah klub-klub baru yang mendaftar.

Wakil Bupati Kabupaten Sikka Bpk. Wera Damianus yang hadir dan menyaksikan partai final ini bersama ketua Pssi Sikka Bpk.Pedro Rodriquez menutup secara resmi kejuaraan antar klub Pssi Sikka.Dalam sambutannya antara lain wakbup mengharapkan agar kedepannya banyak lagi pihak-pihak pendukung(sponsor)untuk terlibat dalam turnamen-turnamen sepakbola di tanah Sikka sehingga sepak bola di kabupaten ini tetap bergairah dan bisa menelorkan prestasi membanggakan.


Data dan Fakta:
  • Top Score :Hendrik Diaz (PSN Nangahure,9 gol)
  • Pemain Terbaik : Elson Rojan (Sikka United)
  • Juara 4 : Putra Samudra (Beru)
  • Juara 3 : PSN Nangahure
  • Pelatih Persami : Eddy MBW
  • Wasit partai final : Linus Mitan (Wasit nasional)
  • Asisten wasit I : Thomas Aquino
  • Asisten wasit II : Fransisco Jari
  • Pengawas Pertandingan : Yance Padeng
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---