Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 13 November 2010

Bunga-Bunga Mimpi Warga Aibura

Kadang untuk mendapatkan hak sebagai warga negara yang menikmati pembangunan terasa susah. Seperti masyarakat di Desa Aibura, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka yang bertahun-tahun hidup ditengah kondisi ruas jalan yang rusak parah. Ruas badan jalan disini secara keseluruhan seperti yang kami lihat memang tak layak untuk dilintasi. Lubang jalan dan batu-batu berserakan menghiasi badan jalan. Kondisi ini makin parah saat musim hujan. Tak ada usaha untuk perbaikan jalan dari pemerintah. Karena itu masyarakat Aibura hanya bisa pasrah. Menurut mereka jalan mulus hanyalah mimpi penduduk Aibura. Aneh memang. Pemerataan pembangunan jalan sama sekali tak menyentuh desa penghasil komoditi perkebunan ini. “Sudah berkali-kali kami meminta lewat dewan yang setiap tahun berkunjung kesini, tapi tak ada realisisasinya hingga sekarang untuk perbaikan,” ujar Hendrikus, warga Biket, Aibura.

Seingat Hendrikus, pembangunan jalan aspal di Desa Aibura ini dimulai sejak tahun 1999. Namun setelah itu tak ada peningkatan seperti perbaikan badan jalan yang mulai rusak. Dari tahun ke tahun kondisi semakin buruk. Dan akhirnya rusak parah seperti terlihat sekarang.

Kondisi topografi Desa Aibura seperti pula desa tetangganya Kloangrotat berbukit dengan pemandangan indah ke laut lepas. Kedua daerah berhawa dingin ini terkenal sebagai daerah penghasil komoditi terdepan perkebunan seperti cengkeh, kemiri, cokelat, vanilli, kelapa, dan lain-lain. Tapi masyarakat Kloangrotat lebih beruntung karena akses menuju ketempatnya lebih baik. Aspal jalan di lintasannya mulus. Sedang warga Aibura tak menikmati itu. Jalan yang rusak dan tak layak dilintasi sejauh kira-kira 7 Km dari pertigaan Lakakokat menuju Kubit, Mudung hingga Pouhura, dibiarkan begitu saja.

“Setiap ada pembanguan jalan, daerah Pogon, Kloangrotat saja yang kebagian kuenya dan kami hanya jadi penonton,” ujra Hendrik.

Masyarakat Aibura, jelas Hendrik, sangat berharap, bahwa Pemda Sikka juga memperhatikan daerah mereka. “Tak banyak, kami hanya meminta agar ruas jalan ini segera diperbaiki, dipermulus. Transportasi disini adalah jantung bagi kami. Daerah disini penghasil komoditi perkebunan jadi aneh kalau jantung transportasi seperti jalan sama sekali tak diperhatikan oleh pemerintah,”

Desa Aibura terletak dalam wilayah kecamatan Waigete. Lebih dari 2000 penduduk mendiami desa ini. Desa Aibura bertetangga dengan Kloangrotat dimana 15 warga kedua desa ini menjadi korban dalam petaka tenggelamnya KM Tersanjung sebulan lalu.

Masyarakat Kloangrotat dan Pogon jelas lebih beruntung. Warga di desa ini sudah menikmati jalan mulus. Listrik pun sudah menjamah kehidupan mereka, berbeda dengan Aibura yang masih gelap gulita tanpa listrik.

Jalan mulus menuju Kloangrotat akan melintasi rumah keluarga Bupati Sikka Sosimus Mitan yang berada di Desa Kebot. Jalan mulus menuju Kloangrotat akan berakhir di Pouhura. Setelah itu memasuki wilayah Desa Aibura dengan kondisi jalan yang tak layak untuk dilintasi.

Tentu saja harapan warga Aibura untuk mendapat dan menikmati pembangunan khususnya hak untuk menikmati enaknya berkendaraan diatas badan jalan nan mulus bisa terlaksana. Sehingga bukan lagi sekedar bunga-bunga mimpi penghias tidur semata. Rakyat di Aibura sama seperti warga Indonesia lainnya berhak untuk diperhatikan oleh pemerintah daerahnya. Bukankah desa ini adalah daerah penghasil komoditi perkebunan? Lagian slogan “Membangun Mulai Dari Desa” masih terngiang-ngiang di telinga warga Aibura. (Oss)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Orang Flores Bernyanyi Tanpa Berharap Pamrih dan Pujian

Bakat Musik dalam Jiwa Orang Flores
Orang Flores umumnya mewarisi bakat musik yang sangat kental. Dimana-mana orang menyanyi, menari dan bergembira. Dalam keadaan sulitpun mereka tetap bersenandung. Meski masyarakat diwilayah ini akrab dengan kekurangan pangan, kelaparan (melarat), memang ada benarnya. Tapi jika Anda datang ke Flores Anda akan dengan mudah menemukan suasana yang segar. Nyanyian orang-orang Flores sudah indentik dengan keseharian warga setempat.
Bukankah Flores itu pulau miskin? Tempatnya orang susah? Mungkin ini benar adanya. Tapi sejak dulu warga setempat tidak merasa miskin. Meski kemisikinan itu meliliti hidup warga sehari-hari, tapi warga tidak merasa miskin. Malah dalam kondisi demikian, mereka juga tetap bersenandung merdu.

Musik, menyanyi dan menari bersama selalu seiring sejalan. Tiga aspek itu seolah membebaskan rakyat dari belenggu tekanan hidup nan berat. Nyanyian itu ibarat pelipur lara.

Yang menyanyi tak hanya anak-anak atau remaja dan anak-anak sekolah. Kakek-kakek 60-an tahun yang duduk ditangkai pohon lontar untuk mengambil nira (dijadikan tuak) juga selalu bersenandung, menyanyi dengan mudah.

Para nelayan menyanyi. Anak-anak menyanyi, ibu-ibu bersenandung sambil memutar alat pembuat benang atau menggarap tenun ikat. Itu semau dilakukan secara alamiah, spontan, tak mengharap pamrih atau pujian dari siapapun.

Karena itu tak salah kalau sejumlah penulis bahkan peneliti menuliskan kesan-kesannya bahwa Pulau Flores dari ujung barat hingga ujung timur, tak hanya pulau bunga tapi juga ‘pulau musik’.
Musikalitas orang Flores itu terasa sekali di Gereja Katolik di seluruh Flores bahkan Indonesia. Begitu banyak lagu-lagu liturgi inkulturasi dibawakan umat Katolik Indonesia adalah buah dari musik Flores.

Pelatih-pelatih koor, solis, penggubah lagu-lagu gereja sebagian besar berasal dari Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan Pusat Musik Liturgi (PML) Jogja pun paling banyak menggelar lokakarya komposisi musik liturgi di Flores.

Adak Jap Kunst (1942), peneliti musik yang paling banyak melakukan riset tentang musik di Indonesia sebelum kemerdekaan.
Dia menulis:

“Sebenarnya menurut saya penduduk Flores lebih berbakat musik daripada suku-suku di Indonesia terkenal lainnya seperti Sumatera, Jawa dan Celebes. Saya pernah mendengar suara-suara yang cukup bagus menyanyikan nyanyian yang pas. Itu berbeda dengan yang ada di Flores. Banyak laki-laki bersuara sangat merdu, sambil menyanyikan lagu-lagu sederhana di tepi sungai, masih terngiang ditelinga saya, melodi yang juga sangat menyenangkan orang Eropa.”

“........ dan dimana orang Flores yang mendayung dengan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solis dan bagian pengulangan yang dinyanyikan dalam paduan suara? Diantara para solis tedapat suara-suara yang dengan latihan yang lebih baik dapat menjadi suara tenor, sopran dan bass yang baik.” (kunst, 1942, hlm 11). (*/kro/dari berbagai sumber/ Flores Star)

Selengkapnya...

Friday, 5 November 2010

Gunung Egon Alami 125 Kali Gempa

Situasi Aman Hingga Saat ini
Semakin banyak saja, gunung api yang aktif. Di perbatasan Kecamatan Mapitara dan Waigete, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) Gunung Api Egon, meningkat sejak dua hari terakhir.
Dikemukakan petugas pemantau Gunung Egon Hendra S Supratman, pada Jumat (05/11) gunung tersebut mengalami 125 kali gempa, tiga kali di antaranya gempa tektonik jauh dan 122 kali gempa hembusan.
Selain itu terjadi pula delapan kali gempa swarm dan satu kali getaran banjir. "Aktivitas Egon memang meningkat tetapi belum ada sinar api," kata dia.
Dari pemantauan visual, Hendra mengatakan Gunung Egon juga mengeluarkan asap putih tipis berjarak 10 hingga 25 meter dari bibir kawah. "Itu asap solfatara yang biasa keluar dari gunung api dan tidak berbahaya," tambahnya.

Peningkatan aktivitas itu membuat tiga petugas di Pos Pengamatan Gunung Egon di Kecamatan Waigete terus memantau aktivitas gunung selama 24 jam.

Hendra menegaskan peningkatkan aktivitas gempa permukaan dan asap tipis tersebut bukan menandakan aktivitas gunung Egon mulai meningkat dan berbahaya. Saat ini, status Egon yang meletus terakhir pada 2008 itu masih waspada. "Belum ada peningkatan status," jelasnya.

Meski gempa 125 kali, di Maumere tak ada kepanikan karena memang getarannya sangat kecil yang sama sekali tak terasa.(zel/yk)

Baca juga : Status Waspada Untuk Gunung Egon

Gunung Egon tertutup awan, terlihat dari Pelabuhan L.Say di Maumere.
foto by Sandra da Silva, Jum'ad 05/11/2010 jam 17.00 wita

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Status Waspada untuk Gunung Egon

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Timur Bria Yohanes mengatakan ancaman bahaya dari gunung berapi di wilayah ini sebaiknya jangan diremehkan atau disepelekan meski aktivitas erupsi sudah menurun atau dalam status waspada (level II).
"Apapun aktivitas dan status dari gunung berapi seperti Egon di Maumere, Lewotobi di Flores Timur dan Rokatenda di Palue Kabupaten Sikka tidak boleh disepelekan oleh masyarakat, karena sangat berbahaya bagi nyawa dan lingkungan sekitar," katanya di Kupang, Jumat (5/10).
Kadistamben Bria menyatakan hal ini menanggapi aktivitas kegempaan tiga dari 17 gunung merapi di Nusa Tenggara Timur, terutama gunung berapi Egon yang hingga saat ini dalam status waspada setelah pada April 2010.

Laporan rutin bulanan dari pihak pos pengamatan gunung api Egon, Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebutkan secara visual angin bertiup dari arah barat laut/tenggara kecepatan melemah hingga sedang dan terjadi hujan disekitar, serta hembusan asap kawah putih dengan ketinggian berkisar antara 10-25 meter dari puncak.

Sementara secara seismik, katanya, vulkanik A berdasarkan hasil pengamatan, vulkanis B 16 kejadian, hembusan lahar atau lainnya sebanyak 300 kejadian, tektonik lokal tiga kejadian, tektonik jauh 77 kejadian, swarm 719 kejadian dan Amaks Tremor antara 05-S.

"Gempa-gempa lainnya mengalami peningkatan/penurunan yang begitu signifikan. Dan dengan kondisi aktivitas seperti itu, maka status kegiatan gunung egon masih tetap "waspada".

Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur terus mengepulkan asap dan memancarkan sinar api dari kawahnya sebagai tanda bahwa aktivitas gunung merapi itu terus meningkat dengan intensitas kegempaan tinggi.

Pada Rabu (3/11), katanya, kawah gunung Egon tertutup kabut sehingga cukup mengkhawatirkan penduduk sekitar.

"Mereka yang bermukim di lereng gunung api aktif itu diminta untuk tidak mendekati kawah," tambahnya.

Ia mengatakan dalam sehari intensitas kegempaan Gunung Egon meningkat antara 5-10 kali dalam sehari.

"Dalam kondisi aktif normal intensitas gempa di gunung dengan tinggi sekitar 1.703 di atas permukaan laut itu hanya berkisar antara 1-4 kali, tetapi sekarang intensitas kegempaannya terus meningkat, sehingga harus diwaspadai," katanya.(ant/yan)

Baca juga : Gunung Egon Alami 125 Kali Gempa

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Sunday, 31 October 2010

Keluarga Minta Keadilan..

Romo Arnold : Saya hanya bisa menangis
Sampai dengan hari ini, upaya pencarian 9 korban tenggelamanya KM Tersanjung belum menemukan hasil maksimal. Upaya pencarian terus dilakukan meski telah memasuki hari ke-9. Dilain pihak, musibah ini sesungguhnya menjadi catatan penting bagi dunia transportasi laut, yakni kelayakan operasional kapal dan kewajiban kapal memenuhi standart angkutan. Sedangkan cerita tentang tenggelamnya KM Tersanjung, masih menjadi topik utama dengan bumbu penyedap lainnya seperti, nahkoda tembak dalam kapal tersebut. Diantara cerita-cerita tersebut, satu musibah lain juga terjadi di Pantai Mapitara, Kabupaten Sikka. Yakni tenggelamnya sebuah kapal bermuatan kayu bernama KM Taueri Gading. Kapal yang sedang melintas dari Pulau Buton menuju Pulau Sabu, NTT tiba-tiba dihantam gelombang. Ke-7 penumpang terlempar, 4 selamat dan 3 hilang hingga kini. Kini ke-4 korban selamat masih berada di Maumere. Ketika bertemu di Posko Bencana KM Tersanjung di Badan Penanggulangan Bencana, ke-4 nya terlihat lusuh. Mereka tak mau pulang sebelum kabar pencarian dihentikan. Untuk sementara mereka ditampung di Gedung Transito.

Kejadian itu terjadi dua hari sebelum musibah KM Tersanjung, yakni hari Rabu (20/10/2010). Ke-4 awak yang selamat tersebut terapung-apung dari Rabu hingga mencapai daratan, Sabtu (23/10/2010) saat semua kosentrasi sedang tertuju pada persitiwa KM Tersanjung.

Sedangkan dari Polres Sikka diberitakan utusan keluarga korban tenggelamnya KM Tersanjung mendatangi Polres Sikka. Kedatangan utusan keluarga korban ini masih terkait dengan musibah tersebut. Keluarga korban ingin mengetahui proses hukum terhadap FC, seorang anggota DPRD Sikka yang menahkodai KM Tersanjung. Mereka mendesak Polres Sikka menangkap dan menahan FC secepatnya. Kapolres Sikka, Drs. Ghiri Prawijaya mengatakan bahwa proses kearah itu sedang dilalkukan dan oknum yang membawa kapal berinisial FC akan dirpsoses. Polres Sikka juga sudah mengirim surat ijin pemeriksaan kepada Gbubernur NTT agar ada ijin pemeriksaan segera diterbitkan.

Romo Arnold Ladjar, Pastor Paroki Kolangrotat dalam perjalanan kami ke Pantai Ndondo menceritakan keperihanhatinya atas peristiwa na’as tersebut.
“Mengapa saya tak bisa menolong mereka yang tenggelam? Mengapa saya membiarkan didepan mata, saya menyaksikan mereka hilang tertelan ombak,” ujarnya perih. Romo Arnold saat ini lebih banyak diam. Dia bersama Romo Sil Ola, selamat dari peristiwa tersebut.

Romo Arnold menceritakan, usai jenazah diterima semua anggota keluarganya, ia mendatangi dan melayat ke Desa Pogon, Kloangrotat dan Desa Aibura. Di dua desa bertetangga ini ia dari satu rumah duka ke rumah duka lainnya duduk berdoa di makam mereka masing-masing. “Saya tak bisa menahan tangis ini, sungguh tak bisa,” katanya.

***
Harian Flores Star memberitakan, Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mendesak Kapolres Sikka segera menempuh upaya paksa menangkap dan menahan Frans Cinde. Upaya paksa ini harus ditempuh karena dikhawatirkan Frans Cinde akan melarikan diri dari tanggungjawab pidana maupun perdata terhadap keluarga korban. Penahan Cinde juga menghindari amukan dari keluarga korban terhadap pelaku. Desakan itu disampaikan Koordinator TPDI Jakarta Petrus Selestinus, SH. Petrus mengakui menerima telepon dari keluarga korban di Kloangrotat dan Aibura yang berharap proses hukum segera dilakukan. Pengacara senior itu menilai Polres Sikka kurang profesional dalam penanganan hukum dan kurang memahami dampak psikologis keluarga korban.

Romo Arnold dengan KM Tersanjung di Pantai Ndondowww.inimaumere.com

Selengkapnya...

Thursday, 28 October 2010

Pencarian Tak Membuahkan Hasil

Foto KM Tersanjung

Pencarian 8 korban tenggelamnya KM Tersanjung hari ini, Rabu (27/10/2010) tak membuahkan hasil. Tim SAR dan nelayan Palue yang melakukan upaya penyisiran yang dimulai dari pagi hingga malam lagi-lagi pulang dengan tangan hampa. Di Pantai Ndondo, keluarga korban dan sejumlah masyarakat setempat, Sekda Kabupaten Ende Yoseph Ansar Rera, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Sikka Hery Siku, Kepala Dinas Sosial Sikka Gregorius Rehi, Camat Waigete, Camat Palue, Camat Alok Timur dan sejumlah unsur masyrakat lain menanti dengan sabar. Sebelum melakuakan pencarian, keluarga korban, khususnya dari Aibura melakukan ritual adat ditepi pantai dan melaksanakan penaburan bunga. Romo Yan, sebelumnya memimpin upacara ekaristi sebelum melakukan pencarian.

Namun hingga Tim SAR kembali, tak ada korban yang ditemukan. Keluarga pasrah. Tapi pencarian akan dilakukan lagi hari kamis besok.

Ditepi Pantai Ndondo yang indah, terlihat sebuah kapal yang kemudian diketahui bernama KM Tersanjung. Kapal inilah yang membawa penumpang berjumlah 66 orang, hingga akhirnya tenggelam dalam perjalanan dari Palu’e ke Maumere.

KM Tersanjung bobotnya 3 GT, daya angkutan 24 orang,demikian keterangan dari Moses Muhu, Kepala Adpel Lorens Say Maumere seperti dikutip koran Pos Kupang.

Ketika pertama kali melihat bangkai kapal tersebut, yang ada dalam pikiran adalah membayangkan penumpang berdesak-desakan dikapal kecil tersebut. Tak masuk akal jika KM Tersanjung erbadan kecil ini bisa mengangkut 66 orang. Membayangkan demikian hati kita hanya bisa trenyuh dan menerima kejadian ini sebagai takdir dari Sang Kuasa. Tentu saja selanjutnya kita berharap, pemerintah lebih memperhatian kelayakan kapal angkutan dan memperketat ijin operasinya.

Kapal Motor Tersanjung di Pantai Ndondo Ende


Tenda Posko & Pantai Ndondo, Ende


www.inimaumere.com

Selengkapnya...

"Sopir Tembak" di KM Tersanjung

Ribut-ribut di masyarakat soal siapa yang mengemudi KM Tersanjung ternyata bukan isapan jempol. "Waktu saya naik ke kapal, Pak Frans Cinde sudah duduk di kursi kemudi. Saya tidak bisa buat apa-apa, karena dia sudah duduk di situ. Saya perasaan minta dia pindah dari kursi nakhoda, dia pejabat. Orang terhormat, anggota DPRD Sikka, dia yang bawa kapal," kata Adeodatus Rangga (25). Adeodatus, yang disapa Ora, menuturkan, sejak Senin malam (25/10/2010), dia menginap di tahanan Polres Sikka untuk mengamankan diri setelah tiba dari Pulau Palue. Da memilih tidur di ruang tahanan daripada berada di luar bisa menjadi sasaran kemarahan keluarga korban.Kalau di darat kita mengenal istilah sopir tembak (bukan sopir permanen pada mobil itu), maka di laut juga dikenal nakhoda "tembak". Nakhoda tembak inilah yang diperkirakan sebagai penyebab tenggelamnya Kapal Motor (KM) Karya Pinang, Jumat siang (22/10/2010) pukul 13.00 Wita.

Kapal itu berangkat dari Palue menuju Pelabuhan Lorens Say Maumere. Kapal itu tidak dikemudikan oleh nakhodanya sendiri, Adeodatus Rangga alias Ora, melainkan oleh Frans Cinde, anggota DPRD Sikka, yang sebenarnya termasuk salah satu dari 66 penumpang kapal itu.


Adeodatus, yang disapa Ora, menuturkan, sejak Senin malam (25/10/2010), dia menginap di tahanan Polres Sikka untuk mengamankan diri setelah tiba dari Pulau Palue. Da memilih tidur di ruang tahanan daripada berada di luar bisa menjadi sasaran kemarahan keluarga korban.

Ora yang sudah dua tahun menakhodai kapal milik ayahnya Petrus Pio menuturkan semua kejadian mulai dari kapal lepas jangkar di Pelabuhan Palue sampai mengalami musibah. Ketika dia naik ke kapal itu, Frans Cinde yang dikenalnya sebagai anggota DPRD Sikka asal Palue sudah duduk di kursi kemudi yang semestinya ditempatinya.

Dia mengaku sangat beban bila menyuruh Frans pindah dari kursi kemudi itu. Mesinis Vinsensius Dhoka menghidupkan mesin kapal dan kemudian dikendalikan oleh Frans. Ora tetap berada di ruang kemudi mendampingi Frans mengikuti pelayaran ini.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya untukmemberi saran kepada Frans kalau kapal agak oleng diterpa gelombang atau kurang nyaman dalam pelayaran itu. Dia mengaku sangat segan bicara kepada Frans, yang dikenalnya telah menjadi pejabat di Maumere.

"Saya tidak minta (ambil alih kemudi), saya perasaan sekali dengan dia. Dia pejabat anggota DPRD Sikka. Saya pernah dengar, dulu dia pernah bawa kapal cari ikan. Dalam hati saya pikir dia pasti mengerti membawa kapal," tutur Ora.

Keluar dari Pelabuhan Palue, tutur Ora, cuaca cerah. Kapal yang dibeli ayahnya dari warga Nangahale, Kecamatan Talibura tahun 2003, itu melaju membelah ombak menuju pelabuhan Lorens Say di Kota Maumere. Para penumpang menikmati pelayaran.

Setibanya di depan perairan Ndondo, beberapa mil dari Tanjung Sada Watu Manuk, mendadak cuaca berubah dan gelombang tinggi. Dalam benak Ora, gelombang dan cuaca yang mendadak buruk itu sudah biasa. Pengalaman pada September lalu mengantar alat-alat kesehatan di Pulau Sukun, kapal diterpa gelombang besar dan angin, namun dia bisa mengendalikan kapal dan tiba dengan selamat di Pulau Sukun.

Semestinya Frans Cinde menyerahkan kemudi kapal kepadanya. Namun, Frans bergeming. Terpaan gelombang semakin keras menimpa kapal sehingga kapal oleng ke kanan dan langsung tenggelam bersama 66 penumpang. Semua penumpang tecebur ke laut yang sedang diamuk gelombang saat itu.

"Dia tidak mau serahkan kemudi supaya saya bawa kapal. Saya juga perasaan minta dia, takut dia tersinggung. Sampai kapal itu tenggelam, Frans Cinde tetap di kemudi. Saya sama sekali tidak dikasih bawa kapal ini," tuturnya. Tak terpikirkan dalam benaknya memaksanya mengambil alih kemudi kapal itu.

Kejadiannya dilukiskan menegangkan. Dia dan para penumpang terlempar keluar dari kapal dan tercebur ke laut. Mereka panik dan berjuang menyelamatkan diri masing-masing. Gelombang sangat keras di lokasi kejadian dan penumpang mulai tepencar satu sama lain.

Ora berjuang menyelamatkan seorang penumpang yang dikenalinya bernama In, sedangkan Vinsensius menolong Yanto, penumpang asal Bajawa. Dia berenang hampir empat jam menuju pantai. Ketika sebuah kapal ikan melintas dan menemukan dirinya dan penumpang lain menaikkan ke kapal. Mereka melanjutkan pencarian penumpang lain, sedangkan Ora dan penumpang lain diitipkan diangkut kembali ke Palue.

Setibanya di Palue, Ora memberitahukan musibah yang menimpa kapal dan penumpang kepada orangtua dan keluarga lainnya. Hanya beberapa waktu ada di rumahnya, Ora menuju ke Pospol Palue untuk berlindung di sana.

"Saya takut keluarga penumpang yang dari Palue marah dan menyerang saya. Saya pilih pergi ke kantor polisi saja," kata Ora.
Ora mengaku bertanggung jawab atas musibah itu. Apakah dia juga minta Frans Cinde ikut memikul beban hukum yang akan ditimpakan kepadanya, Ora menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum di Polres Sikka. (ius/ris/poskupang).

foto: KM Tersanjung/inimaumere.com

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---