![]() | ![]() |
Di pentas itu Senin (26-07-2010) itu, mata-mata malam melihat sesuatu yang ekstrim. Rambut mohawk ala suku Indian (rambut paku), sepatu boots, rantai dan spike (gelang berduri), body piercing (tindik), jaket kulit, celana jeans ketat, baju yang lusuh, atau t-shirt hitam, terasa ganjil, curiga dan menyeramkan. Aneh saja. Ketika lantai itu dipenuhi mereka yang bersentuh fisik, mengiringi musik ekstrim yang liar menjelajahi udara.
Menurut Eman, dedengkot punker’s Sikka yang menjadi salah satu pendiri FORKAM atau Forum Komunikasi Kaum Termarjinal, tujuan diadakan pentas musik ini dimaksud untuk menjalin kebersamaan diantara para pecinta musik punk’s di Kota Maumere.
“Anak-anak Punk’s Sikka bukanlah anak-anak rusuh. Kami hanyalah barisan seniman, yang merdeka berkarya atas dasar idealis untuk kemajuan bersama,” ujar Eman, personil Bamboe Roencing dan Soemana Pithoe Band ini.
![]() | ![]() |
Masing-masing band malam itu membawakan empat lagu. Tapi tetap semua band diberi ruang untuk berkoloborasi. Bebas dan lepas. Tanpa ikatan ini itu. Tanpa MC yang berdiri dipanggung. Tanpa tetek bengek yang bikin mual dan membosankan acara. Lirik lagu-lagu punk yang dibawakan mereka kebanyakan menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.
Para penonton yang merasa aneh dengan musik dan dandanan punkers dipersilahkan santai menikmati sajian musik dan gaya mereka. Meski musik yang dibawakan memekakkan telinga tapi semakin malam, jumlah penonton semakin banyak. Mereka tetap menikmati keadaan mereka. Musik dan nyanyian. Dandanan dan cuek. Meski sound tak begitu bagus.
Pemusik punks senior yang telah berpengelaman di panggung-panggung pentas Maumere tetap turun panggung. Sekencang teriakan mereka, sekencang itu pula musik yang dibawakan. Tanpa malu-malu dan tanpa segan menunjukan eksitensi aliran ini.
Puluhan anak punk Maumere ini boleh dibilang ada dan nyata. Dan mencenggangkan ketika melihat begitu banyak anak punk Sikka berusia belasan. Lebih dari yang dibayangkan. Satu yang pasti, mereka pandai bernyanyi, menghibur dan bermain musik dengan baik. Mereka bukan pembuat onar tapi selalu membawa bendera kedamaian.
Seperti pula punker’s cilik bernama Cepot. Masih dua belas tahun. Masih sangat muda. Tapi semangat punk’s telah merasuk dalam jiwanya. Saban hari nongkrong habiskan waktu disudut Kota Maumere. Ada duit dari ngamen. Bisa beli jajan, bisa bergaya seperti punker’s dewasa. Temannya banyak, rambutnya didandan punks setiap waktu. Ia memilih hidup nge-punk. Pilihan aneh bagi anak seusia dia. Dia ikut bernyanyi. Ikut berlari kesana kemari. Ikut menikmati musik punk yang disuguhkan rekan-rekannya. Ia tak sekolah, katanya uang tak ada. Entah apa yang ada dibenak Cepot, sekedar senang dan gembira mengikuti trend ataukah frustasi akan nasib?Ah Cepot, bisakahh kau letih berlari?Komunitas anak Punk Sikka merupakan bagian dari kehidupan dunia underground. Mereka tidak hanya sekedar sekelompok anak muda dengan busana yang ekstrim, hidup di jalanan dan musik yang keras, tetapi yang mendasar adalah mereka mempunyai ideologi politik dan sosial. Kehadiran mereka adalah perlawanan terhadap kondisi politik, sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat.
”Punk not dead”. Punk tidak mati, kata mereka. Punk akan selalu hidup selama penindasan belum berakhir. Selama ada kesenjangan dalam masyarakat, ketidakadilan, pengekangan kreativitas, perampasan hak-hak, punk akan tetap ada. Inilah prinsip yang akan selalu dipegang teguh oleh para punker sejati.
| | ![]() |





















































