Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Tuesday, 13 May 2014

Berkelana Sampai Ende

Bermesraan dengan Air Terjun Tonggopapa!
Maumere punya air terjun kembar setinggi seratus meter di Murusobe, tapi Ende juga tak kalah menarik. Air terjun paling keren yang pernah kami lihat! Nah, kali ini saya dan rekan Ferli Irwanto ditantang menjelajah pedalaman Ende dan memperkenalkan salah satu pesona alam yang begitu cantik. Seperti foto diatas, pesona ini dalam bentuk air terjun dengan curah air berlimpah yang tak putus. Yuk kita kesana pemirsa!

Sungguh! Tantangan ini datang ketika salah satu teman menelpon dari Ende. Ia menantang kami menuju pedalaman di Kabupaten Ende. Katanya dengan antusias, di tempat kelahirannya itu bermukim ar terjun yang sangat cantik! Kota Ende, ibukota Kabupaten Ende berjarak kurang lebih 135 Km dari Kota Maumere, Kabupaten Sikka, tempat kami menghirup napas.

Dengan berbekal lisan penjelasan dari rekan tersebut, maka kami berkemas dan bergegas menuju Kota Pancasila, Ende!

Rekan Ferly Irwanto, petualang yang bermukim di Waioti Maumere sudah memperkirakan kami akan tiba di Ende sekitar pukul 18.00 Wita. Perjalanan sangat santai dari Maumere ke Kota Ende dimulai sejak pukul 14.00 Wita, hari Sabtu, 8 Mei 2014.

Suasana sejuk dan asri ketika memasuki wilayah Kabupaten Ende. Maklum saja karena melewati pegunungan dingin. Dari Maumere kita akan melintasi wilayah Nita, Paga di Kabupaten Sikka dan Wolowaru, Moni, Detusoko sebelum memasuki Kota Ende, Dipegunungan Ende kita selalu menemui kabut tipis. Ada juga pasar tradisional khusus menjual sayuran dan buah hasil olahan para petani Nduaria.

Sekedar info, di wilayah Kabupaten Ende saat ini badan jalan negara trans Maumere- Ende sedang dalam pengerjaan dan pengerukan akibat longsoran dari tebing. Terutama di Kilometer 17 dari Kora Ende. Jalur ini sangat sempit sehingga butuh kewaspadaan.

Tiba di Ende saat matahari bersembunyi. Masakan Padang di Jalan Kelimutu jadi tempat persinggahan. Malam itu dua porsi nasi ayam yang rasanya tak segar plus satu kepala ikan menghabiskan kantong Rp 100 ribu. Catatan saja, masih banyak rumah makan dan warung lain di Kota Ende yang bervariasi dari menunya sampai rasanya yang enak dengan harga yang pasti lebih terjangkau. Kita hanya perlu berkeliling kota Ende. Dijamin perut kita siap dilayani :)

Setelah puas, kami memilih sebuah hotel untuk merebahkan diri. Perjalanan masih panjang. Butuh perjuangan ekstra. Butuh tenaga baru yang leibh fresh.

Matahari segar mencubit kulit. Kami membuka tirai disambut Gunung Meja yang menjulang indah. Selamat pagi Kota Ende. Kami datang untuk mereguk indahmu.

Kami berkemas. Seanjutnya deru mobil membelah pagi. Kesibukan nyata terlihat di kota yang pernah menjadi tempat buangan Bung Karno ini. Dengan bekal empat nasi bungkus berlauk ayam dan satu dos air mineral kami berangkat. Ini penting demi kesehatan tubuh yang akan terkuras tenaganya sebentar lagi.

Ferli Irwanto, dengan santainya membawa diriku dan angin pagi keluar dari Kota Ende. Kami bertemu kesibukan di sepanjang bibir pantai menuju arah barat. Kami akan segera ke Nanga Ba, Kecamatan Ende. Di tempat inilah tiik utama menuju air terjun.

Lama tak menyapa pagi di Ende, sekian waktu yang bergulir diantara remah-remah kenangan. Namun yang pasti keramahan tetap menjadi ratu disini. Saya begitu juga Ferly merasa menikmati suasana kepolosan orang-orang kampung di pelosok. Modal utama pariwisata kita yang tanpa dibuat-buat. Tak bermuka dua.

Kami mesti melewati jalan raya berlobang dengan bebatuan berserakan di badan jalan disertai tanjakan dengan rabat yang compang-camping. Mobil terus merengsek menembus ketinggian. Orang-orang kampung menatap tanda tanya. Kami melihat mereka memberi senyum termanis. Senyum yang kami tangkap sebaga sebuah sapaan selamat datang paling ramah di muka bumi.

Selama melintas dusun dan kampung, sesekali oto mesti melewati kali yang berair deras. Dan diantara derunya, kemesraan nyanyian burung hutan serta lambaian nyiur dan hutan perkebunan mendekap kami erat.Selamat datang, bisiknya mesra.

Singkat cerita, sampailah kami di Dusun Woloora, Tonggopapa di wilayah Kecamatan Ende, Kabupaten Ende. Tepat didepan Polindes kami turun. Sebelah timur dari Woloora berbatasan dengan kampung Worhosambi,Sogoroga, sebelah barat berbatasan dengan kampung Worombera dan sebagainya.

Dua anak muda memperkenalkan diri sebagai Alam dan Sil. Dari mulutnya mereka berinisiatip membawa kami menuju air terjun. Melewati samping Polindes, treking pertama dimulai. Inilah salah satu perjalanan penuh sensasional. Capek? Yups! Sangat malah...

Perlu diketahui bersama, perjalanan menuju air terjun ini cukup menyita waktu dan tenaga. Pasalnya, jalur treking cukup ekstrim karena licin serta terjal. Selalu hati-hati kalau tidak mau terguling percuma. Jadi hal utama adalah membawa perlengkapan treking yang memadai seperti sepatu yang kuat mendekap tanah baik licin maupun terjal. Bawa juga tongkat penahan tubuh. Penting bagi sebagaian orang untuk menjaga keseimbanagn di medan licin dan menurun tajam, saran saja :)

Sebelum mencapai air terjun, kita akan melewati perkebunan warga seperti singkong, jagung, kacang ijo, kelapa dan lain-lain. Selesai itu, kaki kita segera dihadiahi medan ekstrim dengan kemiringan yang cukup terjal.Saya dan Ferly, dengan berat badan lumayan, jarang olah raga menerima ini sebagai sebuah tantangan yang perlu untuk ditaklukan. Masa sudah sampai depan pintu lantas balik badan dan pulang? Bayangkan!! Kami dengan gagah bak pahlawan kesiangan heheehe lantas menyingsingkan lengan siap beradu fisik. Dan hasilnya, anak kampung bernama Alam dan Sil mesti bersabar menunggu kami. Pasalnya perjalanan sering ngadat akibat mesin mengalami gangguan hehehe....

Akhirnya, setelah bersusah-susah dahulu kamipun bersenang-senang kemudian! Air terjun yag ingin kami jumpai tersebut dengan gagah dan ramah memberi ucapan selamat datang. Lewat gemuruhnya yang terdengar menggetarkan jantung, ia seolah memanggil kami untuk segera memeluknya. Tak perlu berlama-lama. Sepersekian detik, tubuhnya yang besar dan putih itu telah merangkul penuh kerinduan. Inilah aset bergarga tanah Ende yang menjanikan. Tak hanya Kelimutu yang terkenal di seantero dunia, Ende juga punya keindahan lain. Dan Flores bukan hanya Komodo dan Kelimut, masih ada yang lain bro, masih ada!!

Bila di Maumere punya air terjun kembar Murusobe, Ende punya Tonggopapa. Dua-duanya menjadi aset berharga wisata Flores! Sayangnya, keduanya masih menyimpan kegalauan amat sangat. Meski sama-sama cantik, otoritas wisata dikedua kabupaten bertetetangga ini belum memberi sentuhan berarti. Keduanya bak anak tiri yang selalu tidak diperhatikan. Yang paling penting bagi kedua air terjun ini adalah memperbaiki sarana jalan dan akses masuk ke lokasinya. Setidaknya secara ekonomi ada keuntungan besar bagi daerah dan masyarakat setempat!

Kembali ke laptop! Air terjun Tonggopapa telah menjadi ikon Desa Tonggopapa, Kecamatan Ende. Ia berada di tengah hutan dan mengaliri air hingga ke sungai Nangaba. Air terjun ini sungguh eksotik. Lebar dan tingginya mempesona. Debit air yang tercurah sangat deras. Meski musim kemarau air terjun ini tetap tercurah dengan limpahan yang penuh.

Ketika berada didekatnya, kami merasakan sensasi yang menggemaskan. Setidaknya kami berada di tengah lokasi ini sekitar empat jam! Bayangkan bro! Saking lembut dan eksotiknya kamipun lupa untuk kembali dan pulang. Luar biasa.

Selain tercurah dengan gagah dan eksotismenya sangat terasa, air terjun ini juga memiliki kolam air yang jernih dan segar. Kolam ini dikelilingi batu cadas menyerupai tembok. Alamiah bro! Dan ini menjadi tempat pemandian yang luar biasa. Siapapun yang kesini tak akan pernah bisa melupakan sensasinya. Dia sangat mempesona!

Sayangnya, disekitar lokasi ini ditemukan sampah-sampah plastik. Kemungkinan berasal dari para wisatawan yang pernah kesini.

Untuk menjaga keindahannya, saya dan Ferly berinisiatip membersihkan sampah tersebut. Dan kepada Alam dan Sil, putra Tonggopapa sekaligus pemandu lokal, kami berikan masukan agar selalu membersihkan tempat ini dari sampah bawaan para turis dan mengingatkan para wisatawan yang datang untuk tidak membuang sampah sembarangan, semua demi kelestarian alam sehingga kecantikannya terus mempesona.

Setelah berleha-leha selama hampir empat jam, kaki-kaki kami mulai beranjak. Treking balik ke Polindes bukanlah perkara mudah. Kemiringannhya yang cukup ekstrim ditambah pijakan yang lumayan licin membuat kami kesusahan untuk berjalan. Perlu fisik tubuh yang prima. Beberapa kali kami mesti beristirahat di tengah perjalanan untuk mengatur napas dan fisik. Ini merupakan tantangan kesekian menjelajah tanah Flores bersama rekan petualang Ferly Irwanto.

Kami sampai di Polindes ketika matahari meninggi. Segar meski lelah. Lambaian tangan dan senyuman manis sebagai tanda perpisahan mewarnai desa yang cerah itu. Kami akan kembali lagi sobat! Kami akan selalu merindukanmu, Tonggopapa, Ende Sare!(ossrebong)

@thanks buat sobat petualang Ferly Irwanto, anak Wai Oti!













Selengkapnya...

Saturday, 3 May 2014

Menjamah NUSA KUTU

Adventure Magepanda!
Alkisah, dahulu kala ada sebuah perkampungan di sekitar Pantai Tanjung tepatnya di pesisir pantura  Laut Flores. Ditengah kehidupan masyarakat yang senantiasa rukun, terjadilah sebuah petaka. Tiba-tiba saja warganya mengalami kebutaan total. Kebutaan yang membuat panik warga setempat terjadi akibat melanggar pantang yang telah diwariskan nenek moyang, yakni melarang berbicara dengan binatang. Kejadian berawal ketika dua perempuan buta usai mengumpulkan kayu bakar memanggil anjing seolah berbicara dengan manusia. Akibatnya semua warga di kampung tersebut mengalami kebutaan. Selanjutnya, hujan terus menerus turun berhari-hari. Air laut kemudian naik dan akhirnya menutupi kampung tersebut. Wilayah tersebut sekarang dikenal dengan nama Teluk Kolisia.
****
Laju mobil membawa kami menembus jalur Pantura Flores, tepatnya ke pesisir bagian barat dari Kota Maumere. Wilayah tujuan ini berada dalam lingkup Kecamatan Magepanda. Sekali lagi, pesisir ini menampakan panorama lepas pantai yang indah. Bukit tandus seolah tembok China yang berdiri kokoh sepanjang pantura.

Masyarakat pantura didiami empat etnis yakni etnis Sikka, Lio, Palue dan Tidung. Ketiga etnis hidup berbaur secara rukun. Keramahan penduduk yang hidup sederhana dipesisir senantiasa menjadi cerita menarik ditengah adventure para petualang.

Hingga sungai Kolisia yang membelah jantung jalan, Ferly Adi Irwanto, sahabat yang memicu andrenalin dengan oto offroadnya membanting setir ke kanan. Kami memasuki jalan tanah yang tak rata ditengah suara aliran sungai yang terdengar bak simponi orkestra. Beberapa orang kampung menyapa ramah. Jalur ini merupakan akses menuju Waer Nokerua yang melegenda.

Nampak beberapa kerbau dan sapi melepas penat disungai. Burung-burung menghirup cerahnya udara. Suasana yang mahal dan telah luntur diperkotaan ini kami nikmati sepuasnya. Kami merasa beruntung.

Dengan cekatan, cengkereman ban oto menembus dan terus menelusuri tubuh sungai yang meliuk erotis. Beberapa pemandangan yang dirasa sensasional kami dokumentasikan. Indah, Ya, inilah treking berikutnya menuju Pulau Nusa Kutu!

Dalam peta admisnistrasi Kabupaten Sikka, pulau ini tidak ada. Namun bagi masyarakat setempat mereka tetap menyebutnya pulau kecil yang menawan. Saking kecilnya, pulau yang akan kami datangi ini pun disebut pulau kutu, Nusa Kutu!

Setelah meliuk mengikuti aliran sungainya, kami bertemu ladang penduduk, persawahan. Mobil akhirnya berhenti. Alhasil kami terpaku sejenak. Didepan kami nampak persawahan yang sangat luas. Daerah Magepanda memang terkenal sebagai salah satu lumbung padi Kabupaten Sikka.

Sambil mencari tahu siapa tahu bertemu warga kampung. Entah dari mana, tiba-tiba sosok orang tua
bersama dua orang anaknya muncul dari rimbunan hutan yang berjejer disepanjang aliran sungai. Ia memperkenalkan dirinya Mo'at Sogun. Lelaki ini menunjuk kami sebuah akses jalan. Kami akhirnya mengekor beliau. Hingga akhirnya bertemu sepotong jalur yang bisa ditembus yang bisa menghindari persawahan warga. Saya pun turun dan mebiarkan Ferly memperkosanya. Dan, si putih pun lolos. Trek berikutnya, melindas perkebunan warga. Ha??!!

Lantas bersama Mo'at Sogun dan kedua anaknya kami dibawa kerumah salah satu warga. Rumah renta tersebut sepertinya dihuni oleh keluarga kecil yang ramah. Dipekarangan beliau yang akhirnya kami kenal bernama Mo'at Bena, ada sejumlah sayuran. Dan ironisnya kami mesti melewatinya. Tentu saja karena tak ada akses lain ke pantai selain melewati pekarangan ini.

Mo'at Bena dan istrinya dengan senyum ramah mempersilakan kami melewati halaman rumahnya. Ya tentu saja kami mesti melewati sayuran itu. Tak mengapa karena kebun sayuran sudah dipanen.

Dan pekarangan rumahnya yang ditumbuhi sayuran yang telah tua dilindas. Dengan senang hati, Ferly kemudian melewati pagar keluar yang telah dibuka paksa oleh pemilknya!

Bukan itu saja, bersama dua anak lelaki, mereka menuntun kami perlahan menuju bibir pantai yang tinggal beberapa ratus meter. AMAZING!

Asik Benar! Dan akhirnya kami tiba dengan selamat di pantai yang memiliki pemandangan menakjubkan. Lantas dimanakah Sang Pulau? Tidak Nampak.

Ferly Memarkirkan mobil. Lantas kami mencoba melewati tebing cadas tepat dipinggir pantai. Dengan cara perlahan namun pasti, kami melihat bahwa air pasang tidak memungkinkan kami untuk menembus daerah pesisir yang terjal.

Kami kembali. Dan disitu, Mo'at Sogun bersama Mo'at Bena memberikan alternatip. Kami mengekor
mereka. Anak-anak lain pun antusias mendampingi. Treking yang cukup menantang karena kami diminta untuk menembus bukit. Tentu saja dengan embel-embel mendaki. Gila Benar!

Wow! Bukit berbatu dan ditumbuhi rerumputan menghadang pandangana kami. Pendakian yang berbahaya. Tanpa peralatan pendakian, kami mencoba menembus sang bukit yang katanya memiliki pemandangan spektakuler. Namun sayang, terjalnya lereng bukit dan angin yang cukup kencang menghalangi treking ini. Kami mengurungkan niat karena tak mau ambil resiko.!

Secara perlahan kami kembali. Sambil melepas lelah dibawah beberapa pohon asam nan rindang, kami mengumpulkan energi untuk mencoba melewati pesisir dibawah tebing-tebing terjal. Dengan catatan menunggu air surut. Ada perasaan menyesal ketika sadar kami tak membawa bekal seperti ikan dan pisang buat bakar-bakar.

Agak lama, tiba-tiba Mo'at Nelis berteriak, Ayo air sudah surut. Beramai-ramai bak kelompok Pramuka kami lantas bergegas. Deburan ombak yang kian melemah menandakan air telah turun. Dipesisir ini sangat sepi, hanya kelompok kami yang terlihat.

Lantas dengan hari-hati karena melewati berbagai hadangan karang dan bebatuan hingga akhirnya sang pulau yang kami cita-citakan untuk menjamahnya terlihat juga. Beruntungnya kami, karena menjadi saksi kesekian kecantikan yang dianugerahi Tuhan bagi Nian Sikka.

Nusa Kutu. Seperti yang diceritakan diatas, bahwa dalam peta administrasi Kabupaten Sikka Pulau Nusa Kutu tidak termasuk dalam daftar 17 buah pulau di kabupaten ini.

Uniknya pulau ini, jika air surut ia akan menampakan bebatuan kecil yang tersusun rapi bak jembatan. Batu-batu tersebut sebagai jalan penghubung antara daratan dan sang pulau. Ketika air pasang maka jembatan bebatuan ini akan hilang dan tinggalah sang pulau berdiam sendiri.

Perjalanan yang tak sia-sia ini akhirnya tercapai juga. Kami memuaskan diri dengan mendokumentasikan semuanya yang ada dipuau ini. Apalagi katanya Sunset bisa disaksikan dengan indah dari Nusa Kutu. Dari si mungil ini pula, pandangan kita akan bertemu berbagai panorama cantik yang tersaji di daratan Flores. Mulai dari pegunungan savana sampai deretan pesisir yang terkenal dikalangan wisatawan domestik dengan sebutan Tanjung Satu.

Bahkan pesisir kajuwulu dan pantainya bisa disaksikan. Dari tempat eksotis Nusa Kutu ini pula Teluk Kolisia menjadi bagian yang menghadirkan berbagai kesejukan. Siapa sangka, dahulunya merupakan hamparan perkampungan yang ramai sebelum bencana datang akibat pantangan yang dilanggar.

Menjelang senja, sebelum mentari pamit dari hadapan bumi, kami bergegas meninggalkan Nusa Kutu. Pulau mungl ini yang memiliki pasir karang putih dan beberapa tanaman bakau serta makam yang entah milik siapa.

Mobil putih akhirnya melaju menembus pesisir. Jalan ulang akhirnya kami lewati kembali. Moat Sogun, Bena dan Nelis serta anak-anak melambai tangan sambil berteriak agar kami kembali lagi.

Kami tiba di Maumere usai hujan membasahi kota ini. Selamat Malam Kota Maumere. Sepenggal kisah treking ini semoga menjadi perjalanan wisata alternatip yang dilirik pemerintah untuk dikelolah!

Jika dikemas akan menjadi salah satu aset wisata yang cukup berpotensi karena berada dalam jalur pariwisata yang sama-sama belum dikelolah. Yakni, Waernokerua, Tanjung, Kajuwulu dan Bukit Kolisia. Semoga! (Ossrebong)







SAMPE JUMPA DI ADVENTURE BERIKUTNYA!
Selengkapnya...

Tuesday, 29 April 2014

Wajah Baru Hiasi DPRD Sikka 2014-2019

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sikka, Kamis (24/4) telah menyelesaikan rekapitulasi penghitungan perolehan suara pada Pemilu Legislatif Tahun 2014. Dari hasil rekapitulasi itu, sebanyak 35 kursi DPRD Sikka didominasi oleh 24 wajah baru. Wajah-wajah baru itu terdiri Yani Making dan Agatho Hasulie (Partai Nasdem), Karmianto Eri dan Syarifudin (PKB), Baharuddin (PKS), Donatus David, Ambrosius Alfonsus, Stef Sumandi (PDIP), Hengki Rebu, Mayastati, dan Yohanes Yudas (Partai Golkar), Adelbertus Kasar, Son Botu, Dus Djogo, dan Fabianus Toa (Partai Gerindra), Ferdi Mboik, Octo Odipus (Partai Demokrat), Charles Luasa dan Philips Fransiskus (PAN), Aludin (PPP), Florensia Klowe dan Paskalia Laban (Partai Hanura), serta Faustinus Vasco dan Laurentius Meak (PKPI).

Sedangkan delapan incumbent yang masih bertahan yakni Siflan Angi (Partai Nasdem), Darius Evensius (PDIP), Rafael Raga dan Gorgonius Nago Bapa (Partai Golkar), Stefanus Say (Partai Gerindra), Markus Melo (PAN), Marsel Sawa (Partai) Hanura, serta Alfridus Aeng (PKPI). Sementara tiga lainnya yang pernah menjadi anggota DPRD Sikka yakni Henny Doing dan Pangkrasius Tonce (Partai Demokrat) dan Sunardin (Partai Hanura). *flobamora.net
Selengkapnya...

Monday, 28 April 2014

Paus Yohanes Paulus II dan Paus Yohanes Jadi Santo

Dua pemimpin gereja Katolik yang sosoknya dinilai paling berpengaruh pada abad 20, yakni Paus Yohannes Paulus II dan Paus Yohannes XXIII, dianugerahi orang suci sebagai santo pada hari ini, Minggu, 27 April 2014. Perayaan pemberian nama santo kepada dua pemimpin umat Katolik itu dilakukan di Gereja Santo Petrus, Vatican. Untuk pertama kali, dua paus bersamaan diberi nama santo. Meramaikan pemberian gelar orang suci, foto-foto Paus Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus II memenuhi Kota Roma. Bahkan ribuan orang sudah menginap di sekitar halaman Gereja Santo Petrus dengan memasang tenda-tenda.

Layar raksasa diletakkan di satu jalan agar umat dapat menyaksikan jalannya perayaan. Lebih dari satu juta umat Katolik akan mengikuti perayaan yang dipimpin oleh Paus Fransiskus. Sedikitnya seratus tamu, termasuk pemimpin kerajaan dan pemerintahan, diundang untuk menghadiri acara ini.
Paus Yohanes Paulus II merupakan pemimpin karismatik yang konservatif. Semasa tugasnya sebagai paus selama 27 tahun, ia mengunjungi 127 negara. Ia membuat berbagai gebrakan dalam menjembatani perbedaan dan perdamaian dengan mengunjungi sinagoge, serta memaafkan seorang ekstremis yang mencoba membunuhnya.

Ia lahir dengan nama Karol Josef Wojtilay dan berasal dari Polandia. Orang tuanya hidup sederhana. Ayahnya seorang mantan prajurit. Sedangkan ibunya meninggal saat Karol berusia 8 tahun. Karol hidup menderita pada masa pemerintahan fasis Nazi dan komunis menguasai Polandia.

Adapun Paus Yohanes XXIII lahir dengan nama Angelo Giuseppe Roncalli. Lahir sebagai anak ke-13 dari keluarga sederhana di Italia, ia hidup di sebuah desa yang penduduknya bekerja sebagai petani. Paus yang lahir pada 1883 dikenal sebagai pemimpin yang penuh senyum, rendah hati, dan penganjur reformasi gereja. Ia digambarkan sebagai sosok yang mirip dengan Paus Fransiskus yang sekarang memimpin umat Katolik.

"Kami mencintai kedua paus. Sosok keduanya meninggalkan jejak luar biasa bagi gereja Katolik," kata Antonio Rossi, 31 tahun, seorang guru di Naples, Italia, yang menghadiri perayaan itu.(TEMPO.CO)
Selengkapnya...

Thursday, 20 March 2014

Ronald asal Sikka Wakili Indonesia ke Pertemuan G20 di Jerman

Paulus Ronald Bogar Nono,alumni SMAK Katolik Frateran Maumere alias SMATER Maumere mewakili anggota Parlemen Muda Indonesia mengikuti pertemuan G20 Young Parliamentarians Debate yang berlangsung 7-11 Mei 2014 mendatang di Garmisch Partenkirchen, Jerman. Pertemuan ini akan menjadi event internasional terbesar yang diselenggarakan bagi para pemimpin muda pada tahun 2014 yang mengundang lebih dari 1.200 pemimpin muda, mahasiswa dan akademisi, perwakilan dari dunia usaha dan parlemen pemerintah negara-negara G 20.

Acara ini akan menghasilkan sebuah komunike pemuda internasional yang akan menjadi input dalam pemetaan kebijakan negara-negara G 20.

Ronad, pemuda asal Kabupaten Sikka yang tinggal di Lokaria, Maumere,menjelaskan, dirinya terpilih menjadi wakil pemuda Indonesia di Jerman usai menghasilkan deklarasi rekomendasi kebijakan, setiap anggota Perlemen Muda Indonesia masih mengemban tugas untuk melakukan sosialisasi dan advokasi baik di tingkat nasional maupun tingkat provinsi dengan asistensi dari IFL.

Sosialisasi dan advokasi diharapkan dapat berdampak pada perubahan yang sistemik atas permasalahan yang sebelumnya telah ditemukan melalui konsultasi regional.

"Saya dan 33 rekan lainnya dituntut untuk mengkreasikan kampanye sosial, gerakan sosial dan juga aktif diundang dalam berbagai kesempatan sebagai representasi suara pemuda Indonesia.Lebih dari itu, agenda terdekat saya adalah didaulat sebagai perwakilan pemuda Indonesia dalam G20 Young Parliamentarians Debate (7-11 Mei 2014 , Garmisch Partenkirchen , Jerman).

Acara ini akan menjadi event internasional terbesar yang diselenggarakan bagi para pemimpin muda pada tahun 2014, mengundang lebih dari 1200 pemimpin muda , mahasiswa dan akademisi , perwakilan dari dunia usaha dan parlemen pemerintah negara-negara G20. Acara ini akan menghasilkan sebuah komunike pemuda internasional yang akan menjadi input dalam pemetaan kebijakan negara-negara G20," papar Ronald.

Ia menjelaskan, Parlemen Muda Indonesia pertama kali digagas oleh IFL (Indonesian Future Leader) pada tahun 2012 dan merupakan acara 2 tahunan. Parlemen Muda Indonesia dapat dikatakan sebagai sebuah platform mediasi antara pemuda Indonesia dengan sistem politik di negara ini.*
(kutipan Pos Kupang)

foto: Penyerahan-hasil Deklarasi Parlemen Muda Indonesia 2014 oleh Paulus Ronald Bogar Nono, Anggota Parlemen Muda asal NTT Kepada Menpora RI Roy Suryo di Jakarta (pos kupang)
Selengkapnya...

Sunday, 16 March 2014

Deklarasi Pemilu Damai

Ratusan simpatisan partai, caleg, pendukung dan lainnya dari 12 Parpol Pemilu sore tadi ikut serta menyemarakan Deklarasi Pemilu Damai di halaman Kantor KPUD Sikka. Usai dibuka Wabup Nong Susar, masing2 ketua umum dari 12 Parpol membacakan 7 butir kesepakatan mewujudkan Pemilu aman dan damai, sekaligus penandatanganan Deklarasi Pemilu Damai di bumi Kabupaten Sikka. Ratusan massa dari 12 Parpol kemudian menyemarakan pawai karnaval mengelilingi Kota Maumere.

Salah satu butir kesepatakan yang ditandatangani berbunyi "Tidak melakukan praktik jual beli suara, manipulasi suara dan penyuapan kepada pemilih dan penyelenggara Pemilihan Umum dalam bentuk apapun.
Deklarasi Kampanye Pemilu Damai dimulai sekitar pukul 15.00 Wita dan berakhir 17.30 wita.Dihadiri Vivano Bogar sebagai Ketua KPUD Sikka, Ketua Panwaslu Sikka Alfonsus Sero, Dandim 1603 Letkol Satya, Kapolres Sikka AKBP Budi Hermawan dan undangan lainnya.
Dengan demikian, Kegiatan ini juga dijadikan ajang sosialisasi bagi KPU sebagai penanda bahwa kampanye rapat umum atau kampanye terbuka sudah mulai diselengarakan esok harinya (16 Maret 2014), dan akan berlangsung selama 21 hari menuju pemilihan umum legislatif DPR, DPD, DPRD 9 April 2014. Sudah Siapkah Anda?
Selengkapnya...

Friday, 14 March 2014

Tenun Ikat Sikka Segera di Patenkan

Angin pantai segar menerpa takala mendengr bahwa Kain Tenun Ikat Sikka yang merupakan warisan budaya bangsa akan mendapat Hak Cipta Perlindungan Kekayaan Intelektual dari pemerintah. Kita patut bersyukur karena kekayaan daerah ini tidak lagi dipermainkan di pasaran luar dengan mencontek nilai sakral di dalamnya dan dijual murah meriah dengan produksi pabrikan.

Dalam rangka penerapan perlindungan hak atas kekayaan intelektual untuk Tenun Ikat Sikka tersebut, Jumat (14 Maret 2014) pagi di Sea World Club Waiara, Yayasan Sahabat Cipta dari Swiss dan Kementeriaan Hukum dan HAM, Ditjen HAKI serta Kementeriaan Perindustriaan dan Perdagangan dari Ditjen HAKI didampingi Wakil Bupati Sikka Nong Susar dan Kadis Derpindag Sikka melihat langsung proses dari awal hingga terjadinya selembar kain tenun sekaligus melakuakn kegiatan sosialisasi penerapan hak cipta kekayaan intelektual Tenun Ikat Sikka.

 "Kenapa kami berkeinginan untuk melindungi? Karena sudah banyak yang memproduksinya dengan mesin, alat tenun mesin, sangat murah. Dan hasilnya dijual dengan Rp 35. ribu. Padahal di Sikka dibuat dengan berbulan-bulan. Oleh karena itu kami sangat berharap ajakan ini disambut baik oleh perajin dari Sikka tentunya dalam rangka melindungi hasil kekayaan khas budaya Sikka ini," demikian dikatakan Dr. Tri Reni, Tim Ahli Indikasi Geografi Kementeriaan Perindustrian. 

Perlindungan tidak hanya dengan hak paten, merek atau dengan hak cipta, pada saat ini sedang dikembangkan adalah Indikasi Geogrfis, yang menyatakan asal suatu daerah yang bisa sangat tergantung dengan faktor manusia atau faktor alamnya dan Kain Tenun Ikat Sikka menjadi yang pertama mendapat pengakuan Indikasi Geografis, tandasnya kemudian.

Hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut yakni Direktur Eksekutif Sahabat Cipta Ibu Waty Suhadi, Koordintor Proyek Kekayaan Intelektual Indonesia - Swiss Mr. Daniel, Swiss Secretariat fot Economics Affairs (SECO) Ibu Dewi Tio, Kementeriaan Hukum dan HAM, Ditjen HAKI, Saky Septiono, Tim Ahli Indikasi Geografi Kementeriaan Perindustrian Ibu Tri Reni Profisiat!
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---