Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 11 December 2010

Maumere dan Perdagangan Perempuan

"Kami setiap hari mendengar pengaduan rakyat soal kekerasan yang terjadi. Dari waktu ke waktu, Maumere berubah roman, baik dari sarana maupun pra-sarana. Maumere menjadi tempat asal, transit dan tujuan trafficking," demikian Sr. Estokia dari TRUK F yang menyampaikan persepsinya tentang perdagangan manusia dalam seminar sehari dengan tema “Sisi Kelam para Migran dan Perantau dalam Bingkai Perlawanan dan cita-cita”.
Seminar tersebut diselenggarakan baru-baru ini oleh Tim Relawanan Kemanusian (Truk F) di Hotel Permatasari Maumere. Seminar yang dibuka oleh Blasius Pedor (Asisten I Setda Sikka) ini menghadirkan empat narasumber yakni; Sr. Eustochia SspS (Koordinator Truk F Divisi Perempuan), Sri Nurherawati, SH ( Komnas Perempuan), dr. Yovita Mitak (Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi NTT) dan Dr. John Prior, SVD (Teolog). Kegiatan ini juga dimoderatori oeh P. Dr. Otto Gusti, SVD.

Narasumber lain, Yovita Mitak, menggambarkan bahwa secara nasional, NTT termasuk sebagai daerah penyuplai TKI selain DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Menurutnya jumlah TKI/TKW dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Pemerintah Provinsi sedang berjuang meningkatkan kapasitas para TKI agar memiliki pengetahuan dan skill sehingga memiliki bargaining position di negara tujuan kerja.

Sedangkan Sri Nurherawati menegaskan bahwa penanganan korban perdagangan manusia dibutuhkan pelayanan terpadu dan sistem peradilan pidana terpadu yang mana terjadi koordinasi antar aparat penegak hukum. Lebih dari itu, telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007. Dalam produk hukum ini, kesepakatan korban diabaikan. Artinya bahwa apabila terindikasi adanya kesepakatan korban dan pelaku human trafficking dalam permasalahan itu diabaikan, tidak dilihat sebagai sesuatu yang meringankan hukuman. Dalam produk ini, juga adanya kepastian hukum.

John Prior, yang pernah menjadi dosen STFK Ledalero dan beberapa universitas di Australia dan Canada memberikan sebuah refleksi Teologis atas human trafficking. Mengawali presentasi itu, John menuturkan bahwa “Dimanakah Allah dalam semua ini? Bahwa kehidupan manusia bagai dalam perantauan dan pengembaraan. Dalam perantauan umat Ibrani terjadi pembentukan iman umat, dimana mereka berharap pada apa yagn ditunjukkan Allah dan bersandar pada Allah. Dalam konteks sekarang, umat mengalami migrasi. Disana terjadi pertemuan antar umat yang berbeda-beda? Apakah kondisi itu bisa terjadi saling menerima sebagai saudara?"

Ia menambahkan, dalam misi kerasulan hendaknya migrasi dilihat salah satu wacana yang mesti diwartakan gereja. Misi migrasi harus menjadi prioritasi di tengah memburuknya sistem kapitalis yang menjebak manusia dalam pertarungan kelompok dan lemah. Gereja harus mampu melihat dan berbenah diri untuk memperkuat posisi kaum marginal. Migrasi melepas orang dari sekat suku, agama, ras dan gender.

John mengajak peserta forum untuk melihat bahwa apakah benar negara ini tengah membawa suah kehidupan yang membahagiakan. Lucunya, di negara yang kaya raya sumber daya alam, diberi kepada pihak asing sedangkan rakyatnya dibiarkan miskin, melarat dan rakyatnya pergi mencari kerja di negara lain. Potensi alamnya dibiarkan diisap oleh asing. Tak heran bila maraknya investasi di sini, ujarnya.

Kegiatan ini berujung pada permintaan pengakuan gugus tugas yang hingga hari ini belum mendapat respons serius dari pemkab Sikka. Sehingga diharapkan pemkab melihat human trafficking sebagai permasalahan yang perlu mendapat keseriusan pemerintah apalagi Sikka ini menjadi tempat asal, transit dan daerah tujuan TKI. Dan ini perlu juga dipertegas dalam sebuah produk hukum (perda).(HN).

WWW.INIMAUMERE.COM
Selengkapnya...

Tuesday, 7 December 2010

Lesehan Santai, Lesehan di Eltari..

Buka dari Malam hingga Subuh
Familiar dan penuh keakraban. Itulah gambaran kecil “Lesehan Kopie Arema” yang berdiri seadanya di Jalan Eltari Maumere. Konko model Maumere atau istilahnya Kulababong yang santai dan rileks menjadi gaya menarik. Warung Lesehan ini dimiliki bersama oleh 5 sekawan yakni Ule, Rull, Passe, Nolie dan Dodie. Kelimanya alumni perguruan tinggi di Kota Malang yang beberapa diantaranya masih mencari kerja. Sehingga nama Arema terselip, sebagai indentitas dari mana asal mereka menimba ilmu. Yang menarik, lesehan gaya ‘kulabaong’ ini saat dibuka hingga sekarang semakin ramai dikunjungi. Hal ini membuat mereka semakin berpikir inovatif, seperti menggelar music akustic pingir jalan dan segudang terobosan-terobosan lain.


Lesehan Kopie Arema, menurut mereka bukan sekedar menawarkan sajian kopie saja tapi juga sajian lain seperti jagung bakar, aneka mi dan berbagai jajanan khas Maumere. Kopi yang dijual disini pun beragam, dari kopi sasetan, itam sampai kopi racikan sendiri. Ada juga teh, dari dingin hingga panas, misalnya es lemon tea, milo panas, josua, soda gembira dan lain-lain. Sajian lain berupa minuman dan makanan lain dari yang hangat, panas sampai dingin dengan berbagai rasa sedang dipersiapkan.

Tak salah kalau anak-anak muda Maumere yang senang berselancar di malam hari, beberapa hari belakangan ini memilih lesehan ini sebagai tempat berbagi rasa. Belum lagi jika sudah ditambah dengan sajian musik akustik.

Lesehan ini berada di Jalan Eltari yang notabene menjadi kawasan favorit akhir-akhir ini. Om Frando da Lopez, salah seorang warga Eltari dimana didepan rumahnya lesehan ini berdiri, mendukung usaha anak-anak muda ini dengan memberikan halaman rumahnya sebagai bagian dari lesehan tersebut. Hal ini sangat menggembirakan Lima Sekawan. Mereka sangat berterima kasih bagi kebaikan Frando da Lopez.

Disisi lain, Jalan Eltari dengan lampu jalan yang memancarkan sinar terang dengan deretan bunga-bungan taman nan asri ternyata menjadi daya pikat. Gambaran Jalan Eltari yang sesepi tahun-tahun sebelumnya kini seperti mulai pudar. Beberapa bulan ini, Jalan Eltari yang nyaman dengan taman-taman bunganya kadang digunakan menjadi medan trek liar sepeda motor oleh sebagian remaja. Kebisingan mesin motor tersebut nyatanya mengganggu warga dikawasan tersebut dan tentu saja lalulintas kendaraan. Lesehan hadir di Eltari menawarkan kepada para remaja tersebut untuk meninggalkan kebiasaan negatip dan memilih untuk nongkrong bersama jajanan dan pilihan minuman ringan, kata Ulle.

Lesehan Kopie Arema, menurut Lima Sekawan tersebut, dibuka dari jam 7 malam hingga dinihari atau sampai tamu tak ada. Sehingga yang senang begadang menggunakannya sebagai tempat spesial saat konko bersama rekan dan sahabat mereka. Bagi yang lain, memilih tempat ini hanya untuk menghilangkan waktu. Seperti yang diceritakan oleh Bayu dan Andrie, dua sahabat yang asik berinternet di lesehan tersebut.

“Akhirnya bisa menikmati kopie dengan sesantai mungkin bersama teman-teman. Ini baru pertamanya di Maumere dan bisa memuaskan kami,” ujar Andrie.

Bayu menambahkan, “Biasanya kalo malam hari sumpek, hanya bisa pelototin layar kaca atau internetan, kalau sekarang sudah bisa ngopie diluar sampai dinihari sambil internetan, udaranya juga sejuk” ujarnya. Bayu menggunakan laptop dengan modem wairless.

Nyala-nyala lampu dari botol-botol kecil berderet disisi lesehan. Gelas dan sasetan kopie dan lainnya siap menunggu pesanan. Nolie yang biasa bertindak sebagai juru masak cekatan bekerja. Yang lain asik bercengkerama.

“Tiap hari te begini sudah abang, pesanan dan pelanggan makin meningkat jadi sibuk terus,” ujar Nolie, alumni Institut Teknologi Nasional Malang kepada inimaumere.com.

Nolie memang semangat bekerja karena setelah dibuka 5 hari lalu, keadaan semakin ramai dan diluar perkiraan mereka.

Om Frando da Lopez, disela aktifitas lesehan, mengatakan mendukung usaha anak-anak muda ini. Menurutnya ini merupakan terobosan usaha yang bagus. "Saya telah memberitahu kepada para tetangga, Ibu Lurah Kota Uneng, Polsek Alok tentang lesehan ini agar mereka pun tahu kalau keramian disini karena ada aktifitas lesehan," ujranya.

Om Frando dan anak-anak muda yang asik nyante di lesehan eltari

Menurutnya, dengan adanya lesehan ini, trek-terkan liar semakin berkurang dan anak-anak muda punya pilihan untuk nongkrong di lesehan tersebut daripada minum moke. "Ini adalah usaha yang sifatnya insidentil atau hanya sekedar meramaikan suasana malam Kota Maumere, bentuk usaha ini juga bukanlah usaha permanen," jelas Om Frando yang dihalaman rumahnya juga menjual makanan -makanan khas Maumere, mie dan jajanan lain.

Ulle juga membenarkan hal tersebut. Menurutnya, mereka berlima akan terus berkonsultasi dengan Om Frando tentang langkah-langkah yang perlu dicapai untuk menjaga agar lesehan ini tak mengganggu kenyamanan masyarakat. "Kami juga berencana untuk memberitahu kelurahan karena telah memanfaatkan badan trotoar untuk usaha," jelas alumni Institut Teknologi Nasional (ITN Malang) ini.

“ Semoga terlaksana dan bermanfaat,” ujar Ulle.

Mengenai tempat ini bisa digunakan sebagai sarana mabuk-mabukan oleh sebagian oknum, Ulle mengatakan bahwa niatan dan tujuan mereka mendirikan lesehan kopie ini salah satunya adalah menghindarkan para remaja dan anak muda dari alkohol.
“Sudah saatnya beralih keminuman tanpa alkohol, dan kami menyediakannya sampai dinihari, mau duduk cerita sambil ngopi sampai berjam-jam kami tak melarang, silakan,” jelasnya. "Kami akan menegur keras jika ada yang menggunakan tempat ini untuk mabuk-mabukan," jelasnya lagi.

Menurutnya, anak-anak muda Maumere sangat menyukai dan mendukung pengembangan lesehan tersebut. Karena menurut mereka, sarana untuk konko di kota ini hampir tak ada. Nongkrong tanpa moke, itu alasan mereka.

Melihat Jalan Eltari yang nampak sepi di kala malam namun selaksa anggun dan penuh wibawa, rasanya tak ada salahnya anak-anak muda nian tanah yang mencari hidup diberi kesempatan. Mereka berdiri sendiri dengan modal seadanya juga invovasi usaha yang diterima masyarakat. Kesempatan usaha ini memang baru pertama kali ada di kota ini. Bersaing dengan warung-warung ‘luar’ yang menjamur di Kota Maumere. Dengan ide-ide segar mereka siap mewarnai Maumere.



www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Saturday, 4 December 2010

Gren Mahe, Keunikan Sebuah Budaya

WARGA Kampung Boganatar, Desa Kringa, Kecamatan Talibura, memiliki budaya unik yang biasa digelar dalam sebuah pesta budaya. Budaya tersebut bernama Gren Mahe.
Gren Mahe, merupakan pesta adat menyambut kemenangan terhadap berbagai tantangan. Ritual adat ini sebenarnya sudah ditinggalkan sejak 22 tahun silam, tanpa satu alasan yang pasti. Dan, selama jangka waktu terlupakannya ritual tersebut, masyarakat di wilayah ini tertimpa berbagai tantangan dalam interaksi sosialnya. Antara lain terserangnya berbagai sumber penyakit, kekeringan, menurunnya produktivitas pertanian dan lainnya.
Seharusnya ritus adat ini dilakukan setiap lima tahun sekali. Dan, dirayakan dalam sepekan sejak pembangunan Woga dan pembersihan Namang sebagai lokasi upacara.
Pada dua hari perayaan ini, selain dihadiri seluruh warga Kampung Boganatar juga warga dari desa tentangga di ufuk Timur Kabupaten Sikka yakni Desa Hikong dan Timutawa.

Bapak Yosef Moses, salah seorang tokoh dan pemangku adat setempat menuturkan bahwa terakhir pesta budaya ini dilaksanakan pada tahun 1985 atau 22 tahun silam. Ia sendiri tidak merinci apa alasannya.

Moat Moses mengatakan, makna pelaksanaan ritus ini adalah untuk meminta berkat dari Ibu Bumi atau Ina Nian Tana dan Bapa Langit atau Ama Lero Wulan Reta agar bumi, Kampung Boganatar dan masyarakat di wilayah ini senantiasa diberi kedamaian, sukses dalam berbagai bidang pembangunan dan kehidupan berbudaya, dikaruniai persaudaraan dan jauh dari konflik.

"Ancaman wabah penyakit dan gagal panen juga merupakan ujud pesta budaya ini. Warga, melalui para kepala suku dan Ata Moan Weta Naruk (= pembawa doa dan syair adat) Moan Dego, akan menyampaikan doa-doa tersebut kepada leluhur dan wujud tertinggi atau Amapu," katanya.

Selain itu, ritus budaya ini juga dimaksudkan untuk meminta hujan dan siklus musim yang teratur, memohon kesuburan tanah, serta keselamatan serta membangun tekad warga untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Puncak acara Gren Mahe hari pertama tanggal 12 November adalah ritus Tudi-Laba. Pada prinsipnya melui ritus ini para kepala suku yakni suku Wulo, Ketang Kaliraga dan Lewar Lau Wolo memohon restu para leluhur dan sang Pencipta agar seluruh acara gren mahe berlangsung sukses.

Mereka juga memanjatkan doa kepada leluhur dan Tuhan agar para petugasnya diberi kebijakan dalam setiap kesempatan rembuk dan dialog serta pemanjatan doa kepada leluhur dan Yang Maha Tinggi dalam tiga termin doa, yakni pujian, syukur dan permohonan. Acara Tudi-Laba berlangsung di rumah kepala suku di Kampung Boganatar yang berjarak lebih kurang dua kilometer dari lokasi gren mahe di bukit Natar Nuhu.

Rangkaian acara berikutnya adalah perarakan hewan korban dari Kampung Boganatar menuju bukit Natar Nuhu, lokasi gren mahe. Hewan korban utama yakni Widin Tanah bersama hewan korban lainnya diarak kaum pria dalam tari-tarian dan pekik kemenangan. Dengan dandanan lesu rajan dan sarung/sa'en mereka didoakan untuk selalu tampil perkasa baik dalam mengarak hewan korban, maupun selama ritus berlangsung dan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Di tengah pawai dan arak-arakan itu sesekali terdengar seruan kemenangan Ha' Iaaa.. Seruan tersebut mencerminkan ciri maskulinitas dari perayaan ini sebagai perayaan kemenangan. Nuansa kemenangan itu dimaknai sebagai kemenangan atas berbagai hal yang dapat mencederai kehidupan masyarakat.

Tiba di lokasi gren mahe, para pengiring disambut hentakan musik gong-waning. Rangkaian acara berikutnya adalah pemindahan Keris Tawa Tana ke dalam Woga di lokasi gren mahe. Rangkaian acara hari pertama berakhir dengan acara malam jaga yang diisi dengan tari-tarian hingga pagi.

Pada hari kedua, rangkaian pesta budaya ini diawali dengan acara Witi Watu Wara Mahang. Watu Wara Mahang jenis batu ceper atau batu piring yang diambil dan diarak dari arah matahari terbit oleh tiga kepala suku dilanjutkan dengan penanaman Watu Marang pada Mahe oleh seorang tokoh adat yang diangkat oleh para kepala suku dan diberi jabatan "Moan Marang" atau panglima adat.

Jeda acara selama lebih kurang satu jam dari pukul 12.00 - 13.00 wita diisi dengan tari-tarian oleh seluruh hadirin.

Pesta rakyat dan ritus Gren Mahe dilanjutkan dengan pemotongan 15 ekor hewan korban, di antaranya Widin Tanah yang didandani tipa, sejenis selendang yang telah berusia puluhan tahun.

Acara ini menjadi moment paling menegangkan. Rakyat bersorak-sorai memberi semangat kepada hadirin yang mendapat mandat dari para kepala suku untuk melakukan pemotongan hewan korban. Putra Tana Ai yang mendapat mandat untuk memotong satu ekor hewan korban melakukan ritual. Masyarakat bertempik sorak memberi dukungan kepada anak tana, memotongan seekor kambing dengan sempurna disambut tarian dan kahe (sorak-sorai) para hadirin.

Daging hewan korban selanjutnya dibagikan kepada para hadirin disertai emping yang disebut Pelang atau Pare Pelang menandai perjamuan persaudaraan sekaligus mengakhiri pesta budaya ini. (SE)
*

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 2 December 2010

Alfonsa Horeng, Konsisten Kenalkan Tenun Ikat Sikka dan Flores ke Dunia

Ingin Bangun Sekolah Tekstil dan Museum
Di saat wanita seusianya sibuk terbawa arus modernisasi, Alfonsa Ragha ­Horeng, gadis asal Nita, Kabupaten Sikka, justru memilih jalur berbeda. Dengan kegigihannya, wanita kelahiran 1 Agustus 1974 ini konsisten melestarikan kain tenun ikat asal Flores, kampung halamannya. Ratusan wanita perajin tenun ikat, sukses di bawah binaannya. Hasil jerih payahnya pun kini sudah tersiar hingga ke mancanegara. Berikut petikan wawancara Yetta Anggelina dari Tabloid Nova dengan Alfonsa Horeng.

Sejak kapan Anda mulai aktif mendalami kain tenun ikat?

Di kampung saya, menenun sudah menjadi kegiatan sehari-hari dan dilakukan turun-temurun. Ibu, tante, nenek, tetangga, bahkan semua wanita di Flores dan NTT sudah terbiasa menenun sejak kecil.

Saya mulai bisa menenun sejak SMP. Tapi, itupun hanya mengerjakan per bagian saja. Soalnya, untuk anak dan remaja, memang hanya diperbolehkan mengerjakan bagian-bagian tertentu saja.

Mengerjakan tenun ikat tidak sekaligus seperti kain lainnya. Mengerjakannya harus bagian per bagian. Tapi, saya baru benar-benar terjun aktif melestarikan tenun ikat sejak Oktober 2003.

Bagaimana ceritanya?

Setelah tamat kuliah dari Universitas Widya Mandala Surabaya pada 1998, saya sempat bekerja di Surabaya. Tapi, saya merasa terikat dan jadi tergantung sekali kepada kantor orang.

Saya seperti bekerja untuk membesarkan kantor orang, sementara di kampung, saya punya tanah sendiri, dengan sumber daya alam dan manusia yang luar biasa.

Saya ingin sekali bekerja di lahan sendiri. Dengan begitu, saya bisa menyediakan waktu dan diri saya untuk membantu orang lain. Disamping itu, saya juga senang.

Kalau di perusahaan, saya yang “kecil”. Tapi di sini, saya jadi orang “besar” di tengah orang-orang “kecil”. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke kampung.

Lantas, apa yang kemudian Anda lakukan?

Saya berinisiatif mengumpulkan ibu-ibu di kampung saya untuk mulai menenun. Kebetulan ada tanah dan lahan kosong. Saya minta ibu-ibu memanfaatkan bambu, alang-alang dan kelapa untuk membuat rumah tenun. Daripada hanya mencari kutu dan menganggur, saya memotivasi mereka.

Jujur, awalnya ini hanya proyek iseng. Tapi, mereka ternyata serius bekerja. Padahal, mengerjakan tenun itu, kan, berat. Prosesnya panjang, rumit, dan butuh ketelitian tinggi. Melihat keseriusan mereka, saya tergerak untuk ikut serius. Akhrinya saya giat mencari informasi ke pemerintah dan dinas-dinas terkait, sampai akhirnya mereka memberi bantuan sehingga saya jadi lebih fokus.

(Alfonsa memrakarsai berdirinya Sentra Industri Lokal Lepo Lorun (STILL) sejak Oktober 2003).

Siapa saja yang menjadi anggota binaan Anda?

Sekarang, kelompok binaan saya sudah tersebar di 12 desa di seluruh Pulau Flores dan Pulau Palue. Setiap kelompok rata-rata beranggotakan 21 orang. Jadi total sekitar 252 orang anggota. Sampai tahun 2009 lalu, kami sudah berhasil memproduksi sekitar 900 helai kain tenun ikat Flores. Tidak cukup banyak, karena memang prosesnya rumit sekali.

Prosesnya saja harus melalui 18 tahapan. Mulai dari kapas dipintal jadi benang, lalu jadi kain, sebelum jadi kain diikat dulu, diberi warna, diurai satu per satu, di-frame, sampai beberapa macam frame tenun.

Rata-rata untuk satu lembar kain, yang asli dari bahan pintal dan pewarna alam kurang lebih dikerjakan selama 9 bulan. Itu yang standar. Harganya pun jauh lebih tinggi. Minimal Rp2,5 juta sampai tidak terbatas. Yang harganya Rp 25 juta pun ada.

Anda, kan, lulusan Teknologi Pertanian. Lalu, bagaimana cara mengembangkan kemampuan anggota binaan Anda?

Saya hobi sekali mencampur-campurkan warna. Saya juga sempat memperdalam pengetahuan dengan mengikuti pelatihan tekstil di Yogyakarta. Saya belajar memadukan warna dengan menggunakan pewarna praktis.

Nah, ilmu itulah yang saya bagikan ke ibu-ibu kelompok. Setelah dibuat dan diramu, ternyata hasilnya, milik kami lebih unggul.

Bagaimana dengan motif?

Saya ingin mengarahkan mereka untuk kembali ke alam, dari bahan dasar sampai pewarnaan. Selama ini, kan, tahunya beli bahan dan benang di toko. Membuatnya juga tidak benar-benar menggunakan formula yang tepat untuk kain tenun.

Bukannya memodifikasi dengan model baru, tapi kami menggali ke dalam tanah. Ibaratnya, semakin digali, kan, umbi semakin berisi. Saya putuskan untuk kembali ke motif zaman kuno. Cari informasi ke museum, ke orang-orang tua zaman dulu, ke nenek untuk mencari motif kuno dan asli sebagai master produk.

Untuk apa menciptakan modifikasi, kalau yang tua tidak kalah banyak dan tak kalah cantiknya. Di Flores, ciri khas tiap desa memang bisa dilihat dari kainnya. Beda desa, beda pula motif kainnya. Orang dari kampung seberang, mungkin bisa tidak kenal, tapi dari kainnya, kami bisa tahu dia dari desa mana. Itulah indahnya.

Tidak takut, motif “kuno” tidak bisa bersaing dengan motif yang lebih modern?

Kami harus melawan dan berperang menghadapi arus modernisasi. Saat ini kami sedang dalam tahap merintis kembali dan hasilnya belum maksimal. Kami harus terus menggali lebih dalam, agar tidak terpengaruh modernisasi. Itu lebih sulit daripada sekadar ikut arus.

Modernisasi, tanpa harus diikuti sudah otomatis memengaruhi. Tapi, ketika harus menggali ke nilai-nilai terdahulu, butuh waktu lama. Semoga kami bisa. Semua butuh kesabaran tinggi. Kami hanya ingin budaya tetap terjaga.

Bagaimana, kok , Anda dan tenun Flores sampai bisa berjaya di mancanegara?

Sejak awal, kami sudah mencari jalan untuk menembus pasar luar negeri. Semuanya berawal dari pameran. Pameran pertama kami di tahun 2004, di kawasan Kemayoran, Jakarta. Dari sana, mulai banyak yang melirik. Saya pun aktif mencari informasi dari internet.

Suatu kali di tahun 2008, saya dikunjungi Ibu Mutia Hatta, lalu ditawari beasiswa AuSAID dari pemerintah Australia dalam program Australian Leadership Award, bidang studi Gender, Good Governance and Leadership di Adelaide. Saya terima dan berangkat ke sana. Di sana, kesempatan untuk memperkenalkan produk kain Flores makin luas.

Saya harus jeli mencari pasar. Saya pun rajin mengadakan presentasi di sekolah-sekolah dan kampus, mengajar di National Gallery, di Heritage Culture Group, di Art School, sampai di kumpulan ibu-ibu. Semua untuk memperkenalkan tenun ikat Flores ke dunia. Sejak itu pula saya rutin mengikuti pameran di Swiss, Belanda, Jerman, dan banyak negara lain.
Pernah menemui kendala?

Saya suka kewalahan mengurus kelompok-kelompok yang makin bertumbuh. Tapi, apa daya, saya belum mampu menggaji orang untuk membantu saya. Kami juga belum memiliki Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), yang seharusnya berfungsi mempercepat proses pengerjaan.

Soal hak paten juga jadi masalah. Makanya, sekarang saya dan teman-teman lain sedang memperjuangkan hak paten secara folklore , untuk tenun NTT, di bawah perlindungan pemerintah. Semoga tahun depan sudah bisa, agar tak kalah dari batik.

Hasil karya kelompok Anda bisa diperoleh di mana?

Di Jakarta, produk kami sudah ada di rancangan banyak desainer ternama seperti Stephanus Hamy, Oscar Lawalata, Ghea, dan Samuel Wattimena. Kini, kami malah kewalahan meladeni antusiasme ibu-ibu di Flores untuk bergabung dengan STILL.

Syukur, kini kami sudah mulai menambah inventaris seperti mesin jahit yang tadinya hanya ada 8, kini sudah ada 33. Semua dari hasil penjualan kain tenun.

Saat ini kami malah sudah mulai memperluas usaha ke bidang souvenir . Jadi, tak hanya terpaku pada kain saja.

Anda sibuk mengurusi kelompok, ikut berbagai pameran dan presentasi di luar negeri. Bagaimana dengan rencana pribadi? Menikah, misalnya?

Menikah, sih , belum terpikir. Kalau dapat jodoh yang baik, ya oke. Tapi, kalau dapat jodoh yang bisa mengacaukan aktivitas, susah juga, ya? Ha ha ha. Jodoh, kan, persoalan yang tak bisa dibeli. Itu urusan hati. Biar jadi urusan Tuhan saja, biar Dia yang menentukan.

Apa rencana besar Anda selanjutnya?

Tetap berusaha memperkenalkan kain tenun ikat Flores ke seluruh dunia. Suatu saat saya juga ingin bikin buku, membangun sekolah tekstil, hingga museum. Semua masih dalam proses. Semoga nanti cepat tercapai.(Yetta Angelina)


Alfonsa Horeng di saat berkeliling Eropa dan foto bersama Ibu-Ibu STILL, Nita


Selengkapnya tentang Alfonsa Horeng dan STILL (Sentra Industri Lokal Lepo Lorun) bisa baca di www.alfonsadeflores.com atau Klik disini

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tuesday, 30 November 2010

Mengenal Kain Patola

Di Tana Ai, Sikka, digunakan dalam Upacara Ritual
Kain Patola adalah jenis tenunan ikat ganda terbaik dari Gujarat di India Utara. Kain Patola adalah tenunan ikat terbaik lungsin dan pakan ( lodon dan geran) sudah diikat /dobel ikat.
Kain Patola adalah kain kebesaran, kain upacara, kain pentas tari adat (tarian mohon hujan di Tanah Ai (sebuah desa di wilayah Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT) = neni uran dara na’a tibang tana wulan tion liwan belan,tena nuruk guru : tanam padi nang roja panen padi).
Di Maluku kain Patola dipakai dalam upacara sebelum berperang, karena diyakini kain tersebut memiliki kekuatan sakti yang dapat memberikan kemenangan dalam peperangan. Menurut sejarah, tenunan ikat Patola dimulai tahun 700 M. Berita mengenai Patola diketahui sejak 1200 M tetapi belum jelas kain Patola itu jenis tenunan sutra/non sutra.

Suatu berita tahun 1500 M oleh Duarte Barbarosa menjelaskan bahwa kain Patola yang dijual di Asia Tenggara dan di Indonesia dinilai tinggi oleh orang Indonesia.

Ada berita lain,kain Patola adalah salah satu bahan ekspor dan dagang utama di Asia tenggara abad 16 dan 17.
Diberitakan pula bahwa paderi-paderi Portugis menyebarkan kain Patola di kepulauan Solor (Flores Timur), Banda, Kepulauan Maluku, dan Makasar mendahului pedagang Belanda.

Karena nilai spiritual yang suci itu maka kain Patola dijadikan pakaian kaum Brahmana dan Jaina,byaituh kaum paderi yang meimpin upacara ritual. Nilai spiritual tersimpul juga dari penenun juga yang berasal dari kasta Hindu.

Patola juga dianggap mengandung pertanda. Karena motip-motip yang tertenun dalam kain Patola dianggap membawa kebahagiaan/keberuntungan dan dapat mencegah malapetaka.

Kain Patola disimpan sebagai pusaka yang sakti/keramat,dipakai dalam upacara ritual pernikahan atau upacara kematian sebagai pembungkus jenasah.

Di India Patola dipakai wanita hamil 7 bulan dalam suatu upacara ritual,dengan maksud bayi yang dikandung kelak mendapatkan kebahagiaan waktu dilahirkan ibunya.

Kaum ningrat mengenakan Patola sebagai pakain bukan karena nilai real melainkan karena nilai spiritual yakni nilai(religius-magic) yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan.

Nilai spiritual kain Patola tersimpul dari upacara adat di Bali dengan pengaruh agama Hindu dimana berpadu unsur adat dan budaya.

Carikan dan benang kain Patola juga dianggap angker sehingga dibakar menjadi abu dan dicampur dalam obat-obatn karena dianggap menginduksi kekuatan sakti yang menyembuhkan penyakit gila atau lumpuh.

Orang NTT(Nusa Tenggara Timur) yang mendiami pulau Alor, Adonara, Solor, Lembata, Flores Timur dan Tana Ai menggunakan kain Patola sebagai imbalan mas kain dan penutup jenazah.

Kain Patola di Tana Ai, Kabupaten Sikka disebut juga Kotipa, Tipa, Tola, Tipa Tola.

Hingga sat ini kain Patola masih dipakai di Tana Ai dalam upacara ritual semisal Gareng Lameng (inisiasi), Goen Mahe; upacara ritual memohoni kehadiran Tuhan dan leluhur di tugu leluhur atau mahe, Goen Lema yakni upacara syukuran panen diladang dan nona wini, Nean upacara menanamkan padi diladang.

Lengkap tentang Tenun Ikta Sikka dan Flores bisa baca di www.alfonsadeflores.com atau Klik disini

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Thursday, 25 November 2010

Pelamar CPNSD Terus Padati BKD Sikka

Belasan pohon jati nan rimbun di sisi sebelah kanan kantor Bupati Sikka menjadi pelepas lelah dan penat para pendaftar CPNSD (Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah) untuk Pelamar Umum Tahun Anggaran 2010. Matahari siang itu memang panas. Terik menyentuh kulit. Beberapa petugas dari Pol PP Sikka nampak sibuk mengatur lalulintas kendaraan dalam lingkup Kantor Bupati Sikka tersebut. Papan pengumuman pendaftaran CPNSD dijubeli pelamar. Didepan loket Tenaga Kesehatan, Guru dan Teknis yang telah dibagi menjadi tiga bagian dipenuhi calon pendaftar. Para petugas dari BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Sikka tak kalah sibuk melayani para pelamar. Hal ini telah menjadi pemandangan biasa sejak dibukanya pendaftaran CPNSD Selasa, 23 November 2010 lalu.

Keringat dan terik matahari di Jalan Eltari 2 Maumere serasa gosong membakar kulit tapi nampaknya bukanlah aral rintangan berarti.

Itu pula yang dirasakan Lely dan Natalia, dua sahabat karib yang datang dari luar Kota Maumere. Untuk Lely ini adalah kali kedua mengikuti tes CPNSD. Sedangkan sahabatnya Natalia baru pertama kali mendaftar. Sejuknya angin yang berhembus dari dedaunan jati mengajak keduanya sejenak berisitirahat setelah capek kesana kemari mengurus ini dan itu berkaitan dengan lamaran mereka. Lely mengambil lamaran pada jabatan Penata Laporan Keuangan untuk Kualifikasi Pendidikan S.1 Akuntansi dan Natalia melamar pada jabatan pada Pranata Humas pada kualifikasi pendidikan S.1 Ilmu Komunikasi. Ketika ditemui di halaman kantor BKD keduanya mengaku sangat berharap untuk lulus, meski diakui para pelamar yang ikut serta begitu banyak.

23 hingga 29 November 2010 menjadi penentu para palamar CPNSD. Selain di Kabupaten Sikka, kabupaten tetangga lainnya seperti Nagakeo, Lembata, Kupang, Ende juga membuka lamaran untuk calon pengadi masyarakat ini.

Khusus untuk Kabupaten Sikka, Pemerintah Kabupaten Sikka mengalokasikan formasi sebanyak 220 orang yang terdiri dari Tenaga Guru sebanyak 99 orang, Tenaga Kesehatan sebanyak 66 orang dan Tenaga Teknis sebanyak 55 orang. Seperti tahun kemarin, tenaga kesehatan dan guru masih menjadi prioritas pemerintah kabupaten. Untuk tahun 2010 ini, pelaksanaan ujian CPNSD akan dilaksanakan tanggal 13 Desember 2010 dan kelulusan peserta akan diumumkan tanggal 23 Desember 2010.

Hingga saat ini, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih menjadi tumpuan utama sebagian orang di Indonesia. Bahkan untuk menjadi PNS semua cara dilakukan, dari sogok menyogok hingga suap menyuap. Tak ayal korban penipuan akibat perbuatan para oknum “mak comblang” PNS selalu menjadi penghias berita disetiap ajang CPNSD.

Hingga kini dan sampai kapanpun PNS masih menjadi incaran. Ini bukan berita.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Busana Tradisional Sikka

Oleh : Biranul Anas
Masyarakat Sikka atau suku Sikka, mendiami daerah kabupaten Sikka di Pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur, bahkan di, Indonesia, kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruh-pengaruh asing seperti Bugis, Cina, Portugis, Belanda, Arab dan India. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan, yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya.

Dimasa lalu orang Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat, kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan, jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya.

Busana Adat Pria

Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang, biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada, bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap, bergaris biru melintang. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih, kuning atau merah. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru, ragi werung.

Destar, tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga.

Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian.

Busana Adat Wanita

Seperti halnya pada kaum pria, busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Bagian-bagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun, berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. Labu (baju) wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. Diatas labu dikenakan dong, sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada.

Kain sarung wanita, utan lewak, dihiasi dengan ragam-ragam flora, fauna dalam lajur-lajur bergaris. Utan lewak, arti harfiahnya adalah kain tiga lembar, berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah, coklat, putih, biru dan kuning secara melintang. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis.

Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang tinggi. Paduan warna juga menunjuk pada usia. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua, sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Demikian pula hal dengan warna dong, apabila gelap mencerminkan duka, sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria, pesta dan sebagainya.

Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka.

Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari suku-suku lainnya di Nusa Tenggara Timur.

Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam, delapan dan seterusnya. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---