Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 26 September 2009

Gubernur Lepas Pawai Kontingen Pordafta




Gubernur Nusa Tenggara Timur Drs. Frans Lebu Raya, Sabtu (26/09/2009) pagi melepas kontingen peserta Pekan Olahraga Daratan Flores Lembata (Pordafta) untuk melakukan pawai keliling Kota Maumere. Pelepasan pawai kontingen peserta Pordafta berlangsung di Lapangan Umum Kota Baru Jl A. Yani Maumere.

Lebu Raya dalam arahannya sebelum melepas para kontingen Pordafta untuk melakukan pawai, mengatakan laga olahraga yang akan berlangsung selama sepekan di Maumere Kabupaten Sikka merupakan moment akbar yang sangan bermanfaat dalam membina atlet olahraga yang ada di daratan Flores dan Lembata untuk dapat meraih prestasi di ajang olahraga lainnya.


Selain bermanfaat untuk kebugaran, Pordafta juga merupakan sarana untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama atlet di Flores dan Lembata.
“ Saya berharap agar sesama atlet dari sembilan kabupaten yang akan berlaga di Maumere dapat ikut serta menjaga keamanan, ketertiban serta tetap menjaga sportivitas “ tandas Lebu Raya.

Dengan demikian kehadiran para kontingen dari berbagai kabupaten yang ada di Flores – Lembata hendaknya disambut baik dan ramah masyarakat di Kabupaten Sikka, sebagai ajang untuk lebih memperkenalkan Kabupaten Sikka keluar.

Pelepasan kontingen untuk melakukan pawai ditandai dengan pengangkatan bendera start oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur. Hadir pada kegiatan tersebut Jajaran SKPD Propinsi NTT, Jajaran SKPD dari Kabupaten Peserta Pordafta, Ketua Kontingen dan Undangan lainnya.

Pawai dimeriahkan Marcing Band dari SMP Yapenthom II dan SMA Sint Gabriel, serta perwakilan dari paguyupan masing – masing kabupaten peserta Pordafta mengenakan pakaian adat daerah dari masing – masing kontingen.

Pawai kontingen peserta Pordafta 2009 ini dimulai dari Lapangan Umum Kota Baru Jl. A. Yani, Jl. Dua Toru, Jalan Bawah, Jl Gajah Mada dan berakhir di Halaman Gelora Samador. ( djo )









www.inimaumere.com



Selengkapnya...

PORDAFTA MEDIA UNTUK MEMBANGUN FLORES LEMBATA



Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang dalam sambutannya di Acara Malam Keakraban antara Jajaran Pemerintah Kabupaten Sikka dengan para kontingen peserta Pordafta 2009, Jum ad (25/09/2009) malam di Rumah Jabatan Bupati Sikka Jl El Tari Maumere, mengingatkan bahwa Pordafta merupakan media untuk mempererat tali persaudaraan, untuk itu Mitang mengajak para peserta pordafta supaya bergandengan tangan membangun Nusa Nipa, Flores dan Lembata.

Melalui Pekan Olah Raga Daratan Flores dan Lembata, diharapkan dapat makin mempererat tali persaudaraan. Sebab dengan mempererat tali persaudaraan pelaksanaan pembangunan di Flores dan Lembata dapat terlaksana dengan baik.

Selain itu, melalui Pordafta diharapkan dapat melahirkan atlet – atlet muda berbakat yang mampu mengangkat nama Flores dan Lembata baik diajang olahraga tingkat propinsi, nasional maupun internasional.

Dikatakan Bupati Sikka, masih banyak kekayaan alam dan sumber daya manusia yang belum kita olah secara baik, untuk itu melalui Pordafta diharapkan dapat makin meningkatkan rasa memiliki dan mempertahankan sumber daya yang ada di Flores dan Lembata dapat terlaksana dengan baik.

Sementara itu, Ketua Sementara DPRD Kabupaten Sikka, Rafael Raga,SP, menegaskan bahwa pelaksanaan Pordafta bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, mengukir prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional serta diharapkan dapat mengangkat harkat, martabat dan kehormatan bangsa..

Sejalan dengan itu Rafael Raga mengajak seluruh warga masyarakat Kabupaten Sikka, khususnya warga Kota Maumere supaya menjadi penonton dan supporter yang santun serta fair kepada semua tim dan kontingen yang berlaga.

Dilain pihak Bupati Ende, Drs. Yohanis Don Bosco Wangge,M.Si. saat tampil sebagai perwakilan dari para kontingen yang akan mengikuti Pordafta 2009, dalam sambutan pada Malam Keakraban mengatakan bahwa prestasi apapun baik kalah atau menang dalam laga Pordafta ini merupakan hal yang biasa, dan akan menjadi pengalaman yang menarik untuk dipelajari guna memperoleh prestasi yang lebih baik.

Walau demikian, para kontingen yang mengikuti Pordafta tentunya akan berjuang untuk mempersembahkan prestasi terbaik baik daerahnya.

“ Mewakili kontingen peserta Pordafta 2009 ini, tentunya kami akan berlaga secara sportivitas dengan tidak melupakan tujuan utama penyelenggaraan Pordafta, yang salah satunya adalah untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan melalui olahraga” jelas Don Bosco Wangge.

Malam keakraban para peserta Pordafta dimeriahkan sejumlah sanggar musik tradisional antara lain Sanggar Bunga Nukak dan Sanggar Bungga Kelang serta diramaikan paduan suara Efrata. ( djo )








www.inimaumere.com


Selengkapnya...

GELORA SAMADOR KEMBALI UKIR SEJARAH

Dari PORDAF III 1961 sampai PORDAFTA III 2009

Gelora Samador yang terletak di Pusat Kota Maumere, secara fisik belum menjadi sebuah arena yang teramat menarik. Namun di arena ini telah berlangsung banyak peristiwa bersejarah. Penulis E.P. da Gomez dalam bukunya Mengangkat Citra Sebuah Nama (2009; hal.2-12), menuturkan sejarah berdirinya gelanggang olahraga yang menjadi medan perhelatan para duta olahraga dari Pulau Flores dan Lembata tanggal 26 September sampai dengan 2 Oktober 2009.

Sebelumnya Pekan Olahraga Daratan Flores Lembata ini, tenar dengan nama Pekan Olahraga Daratan Flores (PORDAF), namun Pulau Lembata yang kini kabupaten sendiri pemekaran dari Kabupaten Flores Timur, maka PORDAF diubah menjadi PORDAFTA.

Pada bulan April 1961, Gelora Samador dipakai untuk pertama kalinya sebagai lokasi ajang kegiatan Pekan Olahraga Daerah Flores (PORDAF) III. Tak hanya PORDAF III, PORDAF IV juga dilangsungkan di Gelora Samador. Dan kini Gelora digunakan sebagai ajang PORDAFTA III, PORDAFTA I di Larantuka Kab. Flores Timur (2001), PORDAFTA II di Ruteng, Kab. Manggarai (2005).

Berikut, inimaumere.com menyajikan sari sejarah Gelanggan Olahraga di Kota Debu itu. Nama lengkap stadion oleharaga yang terletak di jangtung kota Maumere ini adalah Gelanggang Olahraga “Paulus Samador da Cunha” atau Gelora Samador. Pilihan nama ini berdasarkan Perda Tingkat II Sikka Nomor 6 Tahun 1984 tanggal 9 November 1984, yang dikukuhkan dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTT dr. Ben Mboi Nomor 96 Tahun 1985 tanggal 7 Agustus 1985.

Mulanya nama stadion ini adalah “Madawat” yang diresmikan pada tanggal 20 April 1961, sehari menjelang penyelenggaraan Pekan Olahraga Daerah Flores (PODAF) III di Maumere. “Madawat” dalam bahasa Sikka artinya ”pintu gerbang”. Nama ini diberikan oleh almarhum Bapak Alexius BoEr Parera, tokoh masyarakat dan tokoh adat serta mantan Kapitan atau Kepala Gemente Wolokoli, sekarang wilayah kecamatan Bola.

Prakarsa pembangunan stadion ini adalah Paulus Samador da Cunha saat menjabat sebagai Bupati Sikka yang pertama. ( 1 Maret 1960 sampai 6 September 1967).. Atas prakarsa beliau itu maka Drs. Daniel Woda Pale, Bupati Sikka yang ketiga (19 September 1977 – 21 Mei 1988), nama Madawat kemudian diubah menjadi Gelora Samador sesuai usul Anggota DPRD Sikka periode 1982-1987. Gagasan P..S. da Cunha untuk pembangunan Gelanggang monumental ini juga mendapat dukungan biaya bersama para Bupati Kepala Daerah Tingkat II sedaratan Flores . Dengan pola arisan itu, disepakati para Bupati bahwa setelah rampung pembangunan Gelora Samador, akan dibangun stadion yang sama di masing-masing ibu kota kabupaten se daratan Flores yakni di Larantuka, Ende, Bajawa dan Ruteng. Namun gagasan yang tercetus pada tahun 1960 itu tidak dapat direalisir karena terbatasnya kemampuan keuangan daerah, selain karena fanatisme masing-masing daerah yang susah dijinakkan.

Kondisi sulit itu tidak menyurutkan tekad P.S. Samador untuk membangun pintu gerbang utama, stadion Madawat, meski secara politik Sikka saat itu juga tidak cukup kondusif. Dari sisi anggaran, tidak peluang untuk menghimpun dana dalam jumlah yang memadai. Dengan kekuatan kas daerah kabupaten Sikka sebesar kurang lebih Rp.200.000,00 pada tahun 1960-1961, stadion berpilar lima, lambang lima kabupaten di pulau Flores ini, mulai dibangun.

Antara tahun 1973-1974, Bupati Sikka yang kedua, L. Say (6 September 1967-19 September 1977) menggerakkan partisipasi sejumlah pengusaha untuk pembangunan pagar tembok dan dikoordinir oleh David Lameng, Komandan Resort Kepolisian (Danres) Sikka.

Selesai pembangunan pagar tembok stadion ini, sampai menjelang tahun 1988, bangunan milik pemda Sikka ini nampak tidak terawat. Hampir 30 tahun stadion ini dibiarkan telantar. Kondisi ini bisa dipahami karena pemda Sikka tidak mematok pagu dana khusus untuk perawatan dan pemeliharaan fisik arena ini dan belum ada badan pengelola yang bertanggungjawab terhadap aset daerah tersebut.

Rekaman sejarah yang dibuat oleh Almh. Piet Pedo, seperti ditulis kembali oleh E.P. da Gomez dalam buku ini mengatakan bahwa bangunan stadion ini berdiri diatas bidang tanah seluas 57.600 meter persegi. Ditambah areal parkir di luar pagar tembok maka persil ini mencakup areal seluas kurang lebih 6 ha. Catatan sejarah Piet Pedo, PNS pada Depdikbud Sikka juga menyebutkan bahwa arena ini adalah tanah erfpacht milik Vicariat Apostolik Ende. Atas perkenanan Vicaris Apostolic Ende Mgr. A.H. Tijssen, SVD, bidang tanah tersebut diserahkan kepada Bupati Sikka P.S. da Cunha. Pada awal tahun 1961 bangunan tembok stadion Madawat ini usai dikerjakan dan pada tanggal 20 April 1961 diresmikan oleh Gubernur NTT, dr. Ben Mboi.

Sejarah kehadiran stadion Madawat telah menjadi catatan historis paling monumental dalam menguakkan citra Kabupaten Sikka di mata masyrakat Nusa Tenggara, Nasional dan di mata dunia. Betapa tidak, inilah rekaman rangkaian peristiwa akbar yang telah berlangsung di Gelora Samador ini.


v 21 April 1961 : Pekan Olahraga Daerah Flores (PORDAF) III.

v Tahun 1969 : Pekan Olahraga Antar Daerah Kepolisian (PORDAK) se- NTT. Pekan Olahraga ini menyertakan demontrasi terjun payung yang atraktif bagi masyarakat.

v Tahun 1974 : Turnamen Sepak Bola El Tari Cup IV

v Tahun 1979 : Pekan Olahraga Daerah Flores (PORDAF) IV

v Tahun 1984 & 2002 : El Tari Memorial Cup

v Tgl. 24-30 Juli 1988 : Perayaan Nasional Tahun Maria

v Tgl. 11-12 Okt.1989 : Perayaan Ekaristi Agung Misa Pontifical Kunjungan Sri Paus Yohanes Paulus II.

v Tgl. 7 April 2005 : Perayaan Misa Requiem bagi Sri Paus Yohanes Paulus II yang meninggal pada tanggal 2 pril 2005 di Roma, Italia.

v Juli 1996 : Misa Pontifical Uskup Agung Ende, Mgr. Abdon Longinus da Cunha, Pr

v Tgl. 23 april 2006 : Perayaan Pentahbisan Uskup Perdana Keuskupan Maumere, Mgr. Vincent Sensi, Pr.

v Tgl.26 Sept-2O Okt. 2009 : Pekan Olahraga Daerah Flores dan Lembata ke III.

v Sepanjang tahun, Gelora Samador selain menjadi salah pusat kegiatan olahraga masyarakat, juga menjadi tempat berlangsungnya kegiatan festival budaya, hiburan rakyat, lokasi pameran pembangunan dan pasar malam, tempat peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI; bahkan dijadikan arena kampanye politik lima tahunan.

Berikut sekilas gambaran tentang fisik bangunan Gelora Samador sejak awal pendiriannya tahun 1961. Bangunan awal pintu gerbang stadion ini berpilar lima melambangkan kehadiran dan persatuan lima kabupaten di pulau Flores. Stadion ini dilengkapi dengan ruangan kantor dan tribun masing-masing di sisi utara dan selatan serta lapangan sepak bola, voley, basket dan beberapa cabang olahraga lainnya.

Menjelang Perayaan Nasional Tahun Maria 1988, sebuah panggung permanen berukuran 50 x 30 meter persegi dibangun melengkapi fisik stadion ini. Kini, pada perayaan Pekan Olahraga Daerah Flores dan Lembata 2009, Gelora Samador menjadi sentra pertanding sepak bola, voley, basket dan atletik. (EL/djo)


Foto : BUPATI SIKKA I(1960-1962) PAULUS SAMADOR da_CUNHA

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 24 September 2009

Kontingen Peserta PORDAFTA Mulai Berdatangan

Upacara Pembukaan Pekan Olah Raga se-Daratan Flores-Lembata (PORDAFTA) III Tanggal 26 September 2009 direncanakan secara resmi akan dibuka oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Stadion Gelora Samador da Cunha Maumere. Sampai dengan berita ini dinaikan beberapa tim peserta mulai berdatangan di Kota Maumere di awali dengan kedatangan kontingen dari Kabupaten Nagakeo dan Kabupaten Lembata. Kedua kontingen ini tiba di Maumere tanggal 24 September 2009 sekitar pukul 17.00 dengan penyambutan dari tuan rumah yang meriah. Malamnya beberapa tim peserta lainnya juga dijadwalkan akan tiba.

Kabupaten Sikka sebagai tuan rumah adalah kabupaten yang paling banyak menyertakan peserta untuk PORDAFTA kali ini. Sikka menyertakan 371 Atlit dan Official/Pelatih
diikuti Kabupaten Ende dengan 266 Atlit dan Official/Pelatih. Kabupaten Lembata dengan 257 Atlit dan Official/Pelatih, Kabupaten Manggarai 234 Atlit dan Official/Pelatih, Kabupaten Flores Timur dengan 204 Atlit dan Official/Pelatih, Kabupaten Nagakeo dan Kabupaten Manggrai Barat mengirimkan 131 Atlit dan Official/Pelatih, Kabupaten Manggrai Timur menyertakan 90 Atlit dan Official/Pelatih, dan Kabupaten Ngada adalah kabupaten yang paling sedikit mengirimkan pesertanya yakni 40 Atlit dan Official/Pelatih.


Dua belas cabang olah raga akan dilombakan dalam PORDAFTA kali ini. Ke-12 cabang itu adalah Atletik, Tinju, Kempo, Karate, Taekwondo, Sepak Takraw, Pencak Silat, Bola Voli, Sepak Bola, Bulu Tangkis, Tenis Meja dan Tenis Lantai.

Sampai dengan saat ini beberapa lokasi yang akan dijadikan arena untuk menunjukan sportifitas dan kedigdayaan dalam bidang olah raga telah siap digunakan. Arena yang akan mempertandingkan cabang-cabang olah raga tersebut bertebaran dibeberapa wilayah dalam Kota Maumere yakni ; Cabang Olah Raga Tinju berlokasi di Koramil Kota, Atletik di Gelora Samador, Kempo di Aula Karmel - Wairklau, Sepak Takraw di Lapangan Katedral Maumere, Pencak Silat di Aula SMK Yohanes XXIII Maumere, Karate di Alan Wedding Hall - Waidoko, Bola Voli di Gelora Samador, Sepak Bola di Gelora Samador, Bulu Tangkis Gedung Surya Mekar - Misir, Tenis Meja di Aula BPM Kab. Sikka, Tenis Lantai di Lapangan PU, Lapangan POLRES Sikka, Lapangan KODIM 1603 Sikka, Taekwondo di Aula Theresia Avilla Maumere.



Foto-foto penjemputan Kontingen Kabupaten NAGAKEO, 24 September 2009 sekitar pukul 17.00. Lokasi Kantor Kelurahan Nangalimang.








www.inimaumere.com



Selengkapnya...

Sunday, 20 September 2009

Universitas Nusa Nipa Maumere Gelar Orientasi Mahasiswa Baru..



Universitas Nusa Nipa Maumere yang merupakan kampus milik Pemerintah Kabupaten Sikka, Rabu (09/09/2009) lalu menggelar Orientasi Mahasiswa Baru ( OSMARU ). Kegiatan OSMARU dilakukan di Halaman Utama Kampus tersebut yang terletak di Jalan Kesehatan No.3 Maumere. Kegiatan ini berlangsung seru dan melelahkan dalam suasana kekeluargaan yang kental.

Ketua Umum OSMARU Tahun Akademik 2009 Universitas Nusa Nipa (UNIPA), Drs. Yoachim Duu, dalam laporannya pada kegiatan pembukaan mengatakan masa orientasi mahasiswa baru (OSMARU) hendaknya dilihat sebagai sebuah kesempatan emas yang harus dimanfaatkan secara efektif dan efisien, singkat namun padat, melelahkan namun kaya makna. OSMARU juga merupakan sebuah kegiatan yang menjengkelkan namun susah untuk ditolak. Karena OSMARU lebih beriorientasi pada apa yang menjadi input, proses dan output selama para mahasiswa/i baru berada di Kampus Unipa.

Dijelaskan Yoachim, pelaksanaan OSMARU ini berdasarkan pada SK No.1082/00.A.NN/R/2009 tentang pelaksanaan OSMARU. Dimana kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru sudah mengalami perubahan paradigma dengan focus pada studi atau kegiatan yang lebih bernuansa akademik. Hal ini dilakukan sesuai dengan motto UNIPA, non scolae sed vitae discimus.

Rektor Universitas Nusa Nipa Maumere, P. DR. Wilhelm Djulei Conterius,SVD.. Dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan OSMARU 2009 UNIPA, mengatakan OSMARU merupakan sebuah tradisi yang baik dari dunia kampus bagi mahasiswa baru sebelum memasuki dan mengambil bagian dalam perkuliahan.

“Berkenaan dengan ini, maka mahasiswa baru hendaknya menyadari bahwa kegiatan ini merupakan suatu persiapan dan peneguhan bagi mahasiswa baru sebelum memasuki masa perkuliahan yang sesungguhnya “ jelas Wilhelm Djulei.

Sebagai mahasiswa angkatan ke 5 di Universitas Nusa Nipa, para peserta OSMARU dituntut hal yang sama yaitu menanamkan kemauan, itikad dan kehendak baik untuk terlibat dan mengambil bagian secara sungguh demi menyukseskan pendidikan di Kampus UNIPA.

Kepada para calon mahasiswa UNIPA, juga diharapkan untuk mengambil bagian dalam semua kegiatan belajar mengajar di UNIPA dengan sabar, tekun dan disiplin yang tinggi. Dengan sadar dan tanggung jawab serta bijaksana teristimewa didalam program studi dan dalam bidang ilmu yang akan kamu geluti dan tekuni demi mencapai cita – cita.

Sebagaimana disampaikan Sekertaris Seksi Humas Panitia OSMARU 2009 Universitas Nusa Nipa Maumere, Aleksandro P.Poto, kegiatan OSMARU Tahun Akademik 2009 / 2010 ini diikuti 479 mahasiswa/i baru dan 12 mahasiswa/i lama yang tahun lalu belum mengikuti OSMARU.

Kegiatan OSMARU UNIPA berlangsung selama tiga hari sejak Rabu (09/09/2009) hingga Jumad (11/09/2009). Dengan beberapa kegiatan antara lain Seminar, Pengenalan Kampus, Fakultas dan sistem pendidikan yang ada di UNIPA. Selanjutnya dilakukan kegiatan bhakti sosial dengan mengambil lokasi di lingkungan Kampus Universitas Nusa Nipa, Pasar Kota Baru dan Pusat Perbelanjaan serta pertokoan di Maumere.

Pembukaan OSMARU ditandai dengan pengenaan atribut berupa topi yang terbuat dari koran dan pengenaan papan nama dari gardus, yang secara simbolis dikenakan Rektor UNIPA P. DR. Wilhelm Djulei Conterius,SVD. kepada dua perwakilan mahasiswa baru peserta OSMARU.

Hadir pada kesempatan tersebut, Pengurus Yayasan Pendidikan Tinggi UNIPA, Pembantu Rektor, Kepala Biro, Para Dekan, Ketua Program Studi, Para Dosen, Pegawai dan Karyawan/ti serta segenap civitas Universitas Nusa Nipa Maumere. (djo)


FOTO-FOTO KEGIATAN OSMARU














www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Friday, 18 September 2009

Kapolri Memastikan Noordin M Top Tewas..

AKHIR PEBURUAN PANJANG GEMBONG TERORIS ASAL MALAYSIA

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memasuki ruang konferensi pers di Mabes Polri dengan wajah sumringah. “Allah memberikan yang terbaik di bulan Ramadhan ini. Ini adalah sesuatu yang membanggakan untuk anak-anak saya di lapangan,” katanya.

Kapolri kemudian menjelaskan kronologis penangkapan Noordin. Kepolisian menangkap seseorang bernama Bejo di Solo dan menginterogasinya. Kemudian Bejo memberikan keterangan tentang sebuah rumah di Solo. Rumah inilah yang kemudian dikepung oleh Densus 88.

“Tembak menembak kemudian terjadi hingga subuh, tidak ada wartawan yang diperbolehkan mendekat. Mereka kemudian berhasil dilumpuhkan, alhamdulillah Bagus Budi Pranoto alias Urwah pelaku pengeboman Kedubes Australia dilumpuhkan,” katanya. Menurut Kapolri, Urwah adalah ahli membuat bom.

Kedua, polisi berhasil melumpuhkan Susilo. Susilo adalah orang yang menyewa rumah di Solo. Ketiga adalah Aryo Sudarso alias Aji yang juga DPO yang selama ini sudah disebarkan kepolisian.

Kemudian ada satu orang selamat adalah istri Susilo bernama Munaroh. Saat ini Munaroh di RS Polri Kramat Jati. “Jenazah terakhir, ada 14 titik kesamaan yang bisa dipertanggungjawabkan secara yurudis formal. Identik dengan DPO yang selama 9 tahun dicari. Dia adalah Noordin M. Top,” katanya.

Menurut Kapolri, tes DNA telah berhasil dilakukan, namun hasilnya baru bisa didapat setelah 30 hari. Namun dari pemeriksaan sidik jari, sudah bisa dipastikan salah satu jenazah adalah Noordin.

Sebelumnya, Kapolri datang ke Istana Negara untuk melaporkan hasil penggrebekan di Solo kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut reporter tvOne Paramitha Soemantri di Istana Negara, wartawan sempat mencegat Kapolri di istana untuk memastikan identitas korban yang tewas. “Ketika ditanya apakan Noordin sudah tewas, awalnya Kapolri ingin menyampaikannya di Mabes POLRI saja. Namun akhirnya dia menjawab ‘iya’ hingga tiga kali,” kata Paramita.

Sumber :TV One

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 14 September 2009

BAHASA DAERAH DI SIKKA TERANCAM PUNAH

Lebih dari dua ratusan bahasa daerah yang ada di Wilayah Indonesia terancam hilang / punah, dan salah satu bahasa yang terncam hilang itu adalah bahasa daerah yang ada di wilayah Kabupaten Sikka. Baik itu bahasa dari etnis Lio, Sikka Krowe, PaluE, Bugis dan Muhang.
Demikian pendapat ini disampaikan Budayawan Sikka, Oscar P Mandalangi, dalam sebuah kegiatan di Maumere belum lama ini.
Terancam hilangnya bahasa daerah yang ada di Kabupaten Sikka lebih disebabkan karena ketidak pedulian kita sebagai orang Sikka untuk menggunakan bahasa daerah, baik di rumah dan lingkungan maupun di sekolah, padahal dengan menggunakan bahasa daerah sehari – hari kita sudah mebudayakan dan memelihara bahasa daerah yang kita miliki.

Hilangnnya bahasa daerah juga akibat masuknya bahasa lain yang membaur penggunaannya dengan bahasa daerah, selain itu lahir gaya bahasa baru alias bahasa gaul dikalangan muda Sikka. Gaya bahasa gaul ini tentunya dihadirkan oleh media, baik internet, HP, Koran dan media lainnya yang secara langsung menyentuh masyarakat muda Maumere.

Menurut Oscar, Selain bahasa daerah di Kabupaten Sikka, katanya, bahasa daerah daerah lain di NTT juga terancam punah. Untuk itu, katanya, DPRD NTT telah mengajukan usulan kepada pemerintah supaya bahasa daerah di NTT, termasuk bahasa Sikka supaya dipergunakan di sekolah sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok).

"Sejauh ini pemerintah cenderung berupaya mempelajari Bahasa Indonesia secara baik, dengan melupakan bahasa daerah. Padahal bahasa daerah merupakan sebuah budaya dan menjadi bahasa ibu. Sehingga untuk melestarikan bahasa daerah, DPRD NTT telah mengajukan usulan kepada Pemerintah Propinsi NTT agar dijadikan mulok pada jenjang pendidikan sekolah dasar dari kelas satu hingga kelas tiga," tutur Oscar.

Selain mempelajari bahasa daerah dalam muatan lokal, lanjutnya, karya seni daerah di NTT seperti tenun, anyaman, arca serta karya seni budaya lainnya yang ada di NTT dan Sikka khususnya supaya juga patut dilestarikan.

Lantas siapa saja yang berperan untuk mempertahankan bahasa daerah yang ada di Kabupaten Sikka…? Pemerintah ? Sekolah ? Orang tua atau Kita ?

Kita, kita orang Nian Tana inilah yang menjadi kunci untuk bisa menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang kita. Kita adalag generasi yang penerus, pewaris Kabupaten Sikka dengan segala isi yang ada didalamnya, termasuk budaya bahasa.

Tanpa bermaksud menganaktirikan Bahasa Indonesia, bahasa daerah harus menjadi bagian terpenting yang harus kita jaga. Dan Bahasa Indonesia, adalah bahasa pemersatu yang dilahirkan karena perbedaan budaya bahasa. Namun bukan berarti kita harus menghilangkan bahasa daerah kita dan lebih menjaga dan memelihara Bahasa Indonesia.

Sebab, suatu saat nanti kita ketika bahasa daerah dan budaya kita hilang maka kita tentu tidak akan bisa menunjukan identitas atau ciri khas budaya kita yang asli. Yang ada hanya sebuah budaya baru yang lahir karena percampuran antara bahasa daerah dan bahasa lainnya.

Informasi yang diperoleh www.inimaumere.com, menyebutkan dari data UNESCO, badan PBB yang mengurusi budaya, dari 6.900 bahasa di dunia, 2.500 diantaranya berada dalam bahaya kepunahan. Tahun 2001 ada 900 bahasa yang terancam hilang. Tahun 2008, ada 199 bahasa di dunia yang dikuasai kurang dari selusin orang, antara lain bahasa Karaim yang hanya digunakan oleh 6 orang di Ukraina, dan bahasa Wichita hanya digunakan 10 orang di negara bagian AS, Oklahoma . Di Indonesia, bahasa Lengilu hanya digunakan oleh 4 orang. India berada di peringkat atas jumlah total bahasa yang terancam punah (196 bahasa), disusul Amerika Serikat 192 dan Indonesia di peringkat ketiga (147 bahasa).

Dr. Gufran Ali Ibrahim, pakar sosiolinguistik dari Universitas Khairun Ternate, dalam Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta tahun 2008 rata-rata jumlah penutur bahasa-bahasa di dunia hanya berkisar 6.000 orang atau lebih, hanya separuhnya memiliki penutur 6.000 orang atau lebih; dan hanya separuhnya lagi memiliki penutur kurang dari 6.000 orang. Kecenderungan punahnya bahasa terjadi di negara-negara berkembang dan miskin. Sebagian besar dari bahasa yang terancam punah itu merupakan bahasa etnis minoritas terisolasi atau minoritas yang berada dalam wilayah yang memiliki begitu beragam bahasa dan budaya.

Menurut Gufran, ada dua penyebab utama kepunahan bahasa daerah, termasuk didalamnya sastra lisan. Pertama, para orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak mereka dan tidak lagi menggunakannya di rumah. Kedua, pilihan sebagian masyarakat tidak memakai bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa Indonesia di satu sisi sebagai perekat bangsa, namun disisi lain sebagai salah satu sumber penghancur bahasa daerah.

Faktor berikutnya yang memusnahkan bahasa ibu (dan sastra lisan) adalah "pembangunan". Faktor ini yang menjadi konsen Prof. Chairil. "Praktik pembangunan tidak berkelanjutan yang selama ini menjadi ancaman serius bagi kelangsungan sastra lisan dan kearifan lokal di sejumlah wilayah di Indonesia . Sastra lisan semakin tergerus karena habitat kebudayaannya banyak yang rusak. Cerita-cerita tentang binatang atau kearifan di hutan misalnya, menjadi tidak relevan bagi anak cucu dan sulit dipahami mereka karena hutan banyak yang rusak ditebangi," kata Chairil.

Menurutnya, saat habitat kebudayaan itu rusak maka akibat yang paling serius adalah hilangnya identitas budaya. Bukti dari semakin tergerus sastra lisan, salah satunya adalah semakin sedikitnya penutur sastra lisan atau pedande di Sambas.

Hal memprihatinkan lainnya menurut Prof. Chairil adalah sangat minimnya dokumentasi tradisi/sastra lisan. Lalu apa yang harus kita lakukan agar tradisi lisan ini tidak hilang; agar bahasa ibu tidak punah? Pertama, mulailah ajarkan kata-kata penting dalam bahasa daerah dari ibu atau ayah atau keduanya kepada anak kita. Kedua, ajaklah anak-anak ikut kegiatan budaya, ritual dan sejenisnya. Ketiga, ajaklah anak-anak dalam kegiatan paguyuban yang memakai bahasa ibu. Keempat, ajaklah ke kampung. Kelima, carilah kaset, CD, buku berbahasa daerah.

Ada keuntungan ganda jika anak diajak ikut kegiatan-kegiatan diatas. Pertama, mereka belajar tentang esensi dari kegiatan tersebut dan kedua tentu belajar bahasa. Menarik juga kalau ada gerakan Cinta Bahasa Ibu. Dengan gerakan cinta bahasa ibu ini mungkin akan memperlambat kepunahan bahasa-bahasa ibu [ djo ]

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---