Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Tuesday, 1 February 2011

Ritual Pemulihan Alam di Pulau Palue

Oleh: Samuel Oktora

Musim kemarau panjang, hasil pertanian dan laut kurang menggembirakan, serta wabah penyakit melanda menjadi tanda serius bagi tetua adat untuk segera melakukan ”pendinginan” atau pemulihan alam. Ritual Pua Karapau merupakan salah satu jawabannya.
Pua Karapau (muat kerbau) merupakan salah satu ritual adat yang telah dilakukan turun-temurun oleh warga Dusun Cawelo dan Tudu, Desa Rokirole di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pulau Palue sendiri sekitar empat jam dengan motor laut dari Maumere (Kabupaten Sikka) atau satu jam dari Ropa (pesisir utara Kabupaten Ende).
Warga dua dusun itu yang berada di luar Palue pun berdatangan sebelum rangkaian Pua Karapau mulai dilakukan hingga puncaknya, yakni berupa pemotongan kerbau sebagai persembahan kepada Rawula Watu Tana (Tuhan penguasa alam semesta) dan para leluhur.


Termasuk Lakimosa (tetua adat) Cawelo, Cosmas Himalaya, yang tinggal di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, jauh-jauh hari sudah tiba di Palue, pulau kecil dalam kepungan Laut Flores itu.

”Dalam tradisi di Cawelo, Pua Karapau digelar dua kali dalam lima tahun, sedangkan di wilayah adat yang lain ada yang cuma satu kali,” kata Cosmas.

Pua Karapau saat itu memang agak unik karena semestinya hanya memuat dua kerbau. Namun, berhubung seekor kerbau yang dipersiapkan sejak mati, maka perlu dipersiapkan gantinya tahun ini sehingga yang dipersiapkan menjadi tiga ekor.

Pasalnya, untuk Pua Karapau tahap pertama akan dipersiapkan dua kerbau, seekor di antaranya untuk dipotong dalam ritual tersebut, sedangkan seekor lainnya dipersiapkan untuk dipersembahkan pada masa Pati Karapau (potong kerbau) pada tahun ke-5.

Sementara pada Pua Karapau tahap kedua juga dimuat lagi dua kerbau, seekor dipotong saat itu, sedangkan seekor lainnya untuk Pati Karapau. Dengan demikian, saat Pati Karapau tahun 2011 akan dipotong dua kerbau yang dipersembahkan bagi Rawula.

”Persembahan kerbau pada waktu Pua Karapau dimaksudkan sebagai pemberitahuan bahwa masyarakat Cawelo telah mempersiapkan persembahan (dua kerbau) untuk Rawula dan para leluhur, yang akan diberikan pada saat Pati Karapau,” kata Cosmas.

Dari delapan desa di Pulau Palue, tradisi Pua Karapau dan Pati Karapau dilakukan turun-temurun oleh komunitas adat di empat desa, yaitu Nitunglea, Rokirole, Tuanggeo, dan Ladolaka.

Namun, tata cara ritual antara satu wilayah adat dan wilayah yang lain berbeda-beda. Sebagai contoh di Rokirole yang berpenduduk 1.500 jiwa—yang meliputi tiga dusun—memiliki dua wilayah kelakimosaan, yaitu wilayah adat Cawelo dan Tudu, serta wilayah Lakimosa Koa. Di Cawelo, Pua Karapau dalam lima tahun dilakukan dua kali, sedangkan di Koa dilaksanakan sekali saja.


Serba lima
Satu hal yang menarik dalam Pua Karapau sejumlah ritual yang dilakukan serba lima. Begitu pula Pati Karapau digelar setiap lima tahun sekali. Bagi komunitas pendukung ritual itu, angka lima menyimbolkan keberuntungan.

Sebelum Pua Karapau dilaksanakan, masyarakat Cawelo harus menjalani masa pantang, yaitu tidak melakukan pekerjaan di kebun, melaut, atau pekerjaan lain, selama lima hari. Selama hampir sepekan itu sejumlah warga menyeberang ke Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende di daratan Pulau Flores, untuk membeli tiga kerbau sebagai hewan kurban.

Sebelum berangkat ke Ropa, rombongan adat masing-masing harus lima kali mengelilingi tubu ca (tugu besar) dan tubu lo’o (tugu kecil) di tengah kampung. Selanjutnya perahu yang juga bermuatan gendang dan gong harus berputar lima kali di sekitar pelabuhan sebelum bertolak ke Ropa.

Selama perjalanan juga dilantunkan lima lagu adat. Begitu pula ketika rombongan hampir tiba di Ropa, perahu harus berputar lima kali sebelum lego jangkar. Setelah kerbau dinaikkan ke dalam perahu di pantai Ropa, perahu kembali berputar lima kali sebelum bertolak pulang ke Pulau Palue.

Cosmas menjelaskan, dalam ritual Pua Karapau akan terbangun relasi yang baik, terutama dengan Rawula, lalu persahabatan dengan alam, serta hubungan yang harmonis dengan sesama. Ritual itu menuntut yang berkonflik menjadi rukun kembali karena di dalamnya ada proses perdamaian dan pemulihan.

Kerbau yang dipotong sebagai persembahan dalam ritual tersebut, ujar Lakimosa Cawelo yang lain, Bernadus Ratu, juga berperan sebagai korban penebusan sebagai ganti kesalahan yang dibuat manusia atau warga setempat.

Karena itu, tak heran, begitu kerbau yang telah dipotong tersungkur karena kehabisan darah, warga berebut menyentuhkan kakinya ke badan kerbau yang berlumuran darah. Tentu dengan harapan segala penyakit yang diderita juga tertumpah atau ditanggung ke darah kerbau tersebut.

Karena berfungsi sebagai korban penebusan kesalahan, daging kerbau tidak dikonsumsi oleh semua lakimosa dan keluarganya, serta warga Cawelo dan Tudu.

Sebaliknya warga dusun atau desa lain diperbolehkan mengambil dan mengonsumsi daging kerbau itu. Namun, pengambilan daging kerbau kurban itu harus dilakukan secara diam-diam seolah mencuri atau tanpa diketahui masyarakat Cawelo.

Warga juga berkeyakinan posisi kepala kerbau setelah jatuh dan tewas mempunyai makna sendiri. Arah kepala hewan kurban itu diyakini menunjukkan kawasan yang akan memberikan hasil panen berlimpah pada musim mendatang.

Pada ritual kali ini, kepala kerbau sebenarnya menghadap ke gunung di bagian selatan, posisi yang tidak mendatangkan rezeki karena menghadap kawasan berbatu atau bukan lahan pertanian. Karena masih bernapas, kepala kerbau itu oleh sejumlah tetua cepat-cepat digeser dan diarahkan ke utara menghadap areal kebun dan perairan pantai tempat para nelayan memburu ikan.

”Lewat ritual ini diharapkan hasil dari kebun maupun laut berlimpah. Kalau demikian, masyarakat berkecukupan dan dijauhkan dari penyakit. Juga mereka yang bekerja di luar pulau akan mendapatkan perlindungan,” kata Lakimosa Cawelo, Neno Toni, seusai pemotongan kerbau.

Ketahanan pangan baik
Tradisi tua itu menunjukkan betapa masyarakat Cawelo masih berpegang kuat pada akar budaya mereka. Ritual Pua Karapau dan Pati Karapau juga menunjukkan masyarakat Cawelo adalah masyarakat yang religius. Tradisi itu juga berdampak positif pada pertanian mereka.

Masyarakat Palue tidak menanam padi untuk kebutuhan pangan. Mereka hanya menanam jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan, dan pisang. Penunjang ekonomi mereka yang lain adalah dari tanaman perdagangan, seperti kelapa, vanili, jambu mete, dan kakao, serta hasil melaut.

Mereka tidak pernah mengalami krisis pangan alias kelaparan. Ketahanan pangan warga Palue secara umum baik, sebagaimana warga Cawelo, karena ditunjang dengan adat istiadat setempat.

Setelah masa Pua Karapau berakhir dalam lima tahun, yang ditutup dengan Pati Karapau, masyarakat adat Cawelo akan memasuki phije, yakni masa haram atau pantang selama lebih kurang lima tahun. Selama masa itu mereka dilarang melakukan aktivitas yang merusak alam, juga melukai tanah. Sebagai contoh, memetik daun, apalagi menebang pohon, merupakan larangan keras. Begitu pula penggalian, pengerukan, dan pembuatan jalan maupun fondasi rumah juga dilarang. Penguburan orang mati pun tak bisa dilakukan dalam masa phije. Orang mati pada masa itu terpaksa tidak dikubur dalam tanah, melainkan dibaringkan saja di pemakaman.

Pada masa phije, yang diperbolehkan adalah aktivitas untuk menunjang atau memberikan kehidupan seperti bertani. Jika masa pantang itu dilanggar, warga akan dikenai sanksi adat. Yang lebih fatal, sebuah pelanggaran diyakini dapat mengakibatkan korban jiwa atau kesialan. Itu sebabnya pada masa itu warga menjadi fokus pada kegiatan pertanian. Bahkan, kelestarian lingkungan juga terjaga dengan baik.

Namun, pengaruh adat itu juga berdampak kurang baik pada aspek pembangunan, salah satunya pembuatan jalan kabupaten pada bulan Oktober lalu menjadi terhambat. Hal itu terjadi untuk pembuatan jalan sepanjang 1 kilometer lebih, yang menghubungkan Dusun Cawelo dengan Koa.

Pembangunan tidak bisa berjalan karena di Dusun Koa telah dilakukan Pati Karapau pada bulan Januari sehingga saat ini telah memasuki masa phije lebih kurang hingga tahun 2014.

Camat Palue pun kemudian mengusulkan kepada Bupati Sikka Sosimus Mitang agar proyek jalan rabat beton Cawelo-Koa dialihkan dahulu ke daerah lain dalam wilayah Palue.

Dari pengalaman kasus ini memang sudah tidak zamannya lagi penetapan dan pengalokasian anggaran pembangunan desa dilakukan dari atas (top down), melainkan harus dari aspirasi arus bawah (bottom up).

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sikka sebelum menetapkan alokasi anggaran pembangunan desa perlu berkomunikasi terlebih dahulu dengan lembaga adat sehingga program pembangunan desa tidak terbengkalai.(Samuel Oktora)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Ditemukan Fosil Bangau Raksasa di Flores

Menurut Zoological Journal of the Linnean Society, fosil bangau putih raksasa ditemukan di Pulau Flores. Dikutip dari Kompas.com, peneliti mengatakan, penemuan fosil bangau ini penting untuk mempelajari evolusi manusia purba yang juga ditemukan di pulau ini, Homo floresiensis.
Bangau putih yang diberi nama Leptoptilos robustus itu memiliki tinggi 1,8 meter dan berat hingga 16 kilogram, membuatnya paling tinggi dan paling berat di antara spesies bangau lainnya.
Paleontolog Hanneke Meijer dari National Museum of Natural History di Leiden, Belanda, menemukan fosil ini bersama koleganya, Dr Rokus Due dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Jakarta. Mereka menemukan empat tulang kaki di Gua Liang Bua, Pulau Flores. Tulang-tulang ini diyakini merupakan bagian dari seekor bangau yang hidup antara 20.000 dan 50.000 tahun lalu.

"Saya menyadari tulang-tulang bangau raksasa ini pertama kali di Jakarta, saat mereka disandingkan dengan tulang-tulang yang lebih kecil lainnya. Menemukan burung besar adalah hal biasa di pulau itu. Tapi saya tidak menyangka menemukan bangau putih raksasa," kata Dr Meijer.

Tidak ada tulang sayap yang ditemukan. Para peneliti menyangka bangau ini jarang atau bahkan tidak pernah terbang. Ukuran dan berat tulang kaki serta ketebalan dinding tulang menunjukkan bangau ini sangat berat sehingga menghabiskan sebagian besar hidupnya di darat.

Spesies Pulau Flores
Penemuan spesies raksasa bukan hal baru di Pulau Flores. Para peneliti telah menemukan makhluk-makhluk kerdil, seperti gajah kerdil Stedgodon florensis insularis dan komodo Varanus komodoensis. Di pulau ini pula para ilmuwan menemukan fosil manusia kerdil, Homo floresiensis, yang hanya memiliki tinggi satu meter.

Fenomena perubahan ukuran ini dikenal sebagai faktor pulau dan dipicu beberapa predator yang ada di pulau tersebut. Akibatnya, hewan-hewan yang menjadi mangsa makin kecil, sedangkan hewan predator semakin besar. "Mamalia yang besar seperti gajah dan primata menunjukkan penurunan ukuran. Sementara itu, mamalia kecil seperti hewan pengerat dan burung ukurannya membesar," urai Dr Meijer.

Adapun Homo floresiensis ditemukan pada tahun 2004. Sampai saat ini, para peneliti masih memperdebatkan status Homo floresiensis. Ilmuwan masih mempertanyakan apakah manusia kerdil yang hidup 12.000 hingga 8.000 tahun yang lalu itu termasuk Homo erectus atau Homo sapiens.

"Status Homo floresiensis menjadi bahan perdebatan semenjak ditemukan. Menurut saya, bangau putih raksasa ini penting untuk memahamai evolusi Homo floresiensis. Ada spekulasi kalau bangau putih raksasa ini memakan Homo floresiensis. Meski tidak ada bukti, kemungkinannya tidak bisa dikesampingkan," cetus Dr Meijer.

Hingga kini belum jelas mengapa bangau raksasa, gajah kate, dan manusia purba itu punah. "Tapi, kami memiliki beberapa petunjuk. Semua tulang bangau putih raksasa seperti juga gajah kate dan manusia kerdil ditemukan di bawah lapisan tebal debu vulkanik. Kemungkinan ada erupsi gunung api. Kedua, bangau putih raksasa dan makhluk sezamannya punah sebelum manusia modern muncul di gua itu," pungkas Dr Meijer.(RAF)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 28 January 2011

Mengintip Gunung Rokatenda..

Di Kabupaten Sikka, Flores, terdapat dua buah gunung berapi yang masih aktif, yakni Gunung Egon yang berada didaratan Flores serta Gunung Rokatenda yang berdiam di Pulau Palu’e. Keduanya sampai dengan saat ini masih dalam pengawasan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan status Waspada. Didaratan pulau nan gersang Palu’e, Rokatenda berdiam dalam kesunyian mendalam namun mampu menghentak tidur kala dirinya mulai menggeliat. Letusan terhebat terjadi pada 4 Agustus - 25 September 1928, yang sebagian besar terjadi karena tsunami menyusul gempa vulkanik. Penduduk Palu'e saat itu sebanyak 266 jiwa.
Letusan terakhir terjadi pada tanggal 23 Maret 1985 dengan embusan abu mencapai 2 km dan lontaran material lebih kurang 300 meter di atas puncak. Lokasi letusan berada di lereng tubuh kubah lava tahun 1981, sebelah barat laut dengan ukuran lubang letusan 30 x 40 meter. Tidak ada korban jiwa dalam letusan tersebut

Pada tanggal 16 Januari 2005, Rokatenda kembali menunjukkan aktivitasnya sehingga status siaga ditetapkan.

Gunung yang bertipe strato ini merupakan lokasi tertinggi di Pulau Palu'e dengan ketinggian 875 meter. Rokatenda sendiri secara geografis terletak di koordinat 121° 42' bujur timur and 8° 19' lintang selatan.

D puncaknya sendiri, terdapat dua buah kawah dan tiga buah kubah lava. Tidak di dapatkan informasi nama kawahnya. Ketiga kubah lava tersebut masing-masing terbentuk pada tahun 1928; 1964 dan 1981. Letak kubah lavanya membentuk pola garis lurus berarah Utara Selatan.

Untuk mencapai Gunung Rokatenda bisa melewati Kampung Awa yang terletak di Pulau Palue dan dapat dicapai dari Maumere dengan menggunakan perahu motor selama ± 6 jam perjalanan.
Selain itu, Gunung Api Rokatenda juga dapat dicapai dari Pos Pengamatan gunungapi Gunung Rokatenda, yang berada di kampung Roka dengan menggunakan perahu kayu bermotor, yang ditempuh selama ± 2 jam perjalanan ke Kampung Awa. Sedang kampung Roka dapat dicapai dengan mobil dari Ende atau Maumere.

Jika ingin melakukan pendakian kepuncaknya dapat ditempuh dari 2 jalan/jalur yaitu dari sebelah Barat (Kampung Ona) dan dari sebelah Utara (Kampung Awa). Lama perjalanan menuju puncaknya ± 4 jam.

Gunungapi Rokatenda disebut sebagai gunungapi bertipe strato karena merupaka letusan gunungapi yang bersifat efusif dan eksplosif yang menghasilkan perlapisan dari lava dan endapan piroklastik. Rokatenda bersama 22 gunung api aktif lainnya, berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Geologi Nasional Kementerian ESDM berada dalam status waspada.

Gunungapi Rokatenda terletak di Pulau Palue, sebuah pulau yang secara geografis berada di wilayah Kabupaten Ende namun secara history dan administratif masuk kedalam wilayah pemerintahan Kabupaten Sikka.

Pulau Palue sendiri luasnya ± 39,5 km2 dengan hasil utama pertanian antara lain : jagung; kacang tanah; kacang hijau dan pisang. Pulau ini sarat akan budaya dan adat istiadat yang masih kental dan terus dipelihara oleh generasinya hingga sekarang. Rokatenda juga merupakan nama tarian legendaris muda-mudi yang sangat terkenal di tahun-tahun lampau. Penduduk asli pulau ini kebanyakan merupakan warga perantau dan dari pulau inilah, Wera Damianus, Wakil Bupati Kabupaten Sikka sekarang ini (2008-2013) berasal.

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Di Meja Makan Fitnah Itu Berakhir...

Dua dari tiga wartawan korban pemfitnahan: Slamet Kurniawan (Wartawan Sun Tv) dan Wentho Agustinus Eliando (Wartawan Flores File) oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bernadus Nita, sabtu pekan lalu sepakat menyelenggarakan masalah yang ada melalui jalan damai. Pada kesempatan ini, Kadis DKP menyampaikan permohonan maaf. Usai sepakat damai, dua wartawan korban yang didampingi Kuasa Hukum Merdian Dado dan beberapa wartawan yang bertugas dijamu makan siang oleh Kadis DKP.
Sementara satu korban pemfitnahan wartawan Suara Flores Aoysius Yanlali alias Yanes tidak hadir saat mediasi damai dengan alasan ia tetap komitmen membawa kasus itu ke jalur hukum. Yanes tetap mendesak agar penyidik tidak menghentikan pengusutan kasus ini sebelum ada kepastian hukum di sidang pengadilan.

Merdian Dewanta Dado selaku Kuasa Hukum wartawan korban pemfitnahan yang dikonfirmasi terkait kesepakatan damai dan penarikan laporan di polisi, selasa (25/1) menjelaskan upaya damai dilakukan setelah melalui proses pertemuan beberapa kali antara kadis DKP dengan wartawan yang kesemuannya dilakukan atas inisiatif DKP.

Dalam pertemuan itu, Kuasa Hukum serta Wentho Eliando, cs langsung mendengarkan pengakuan telah berbuat salah dari Kadis DKP serta permohonan maafnya.

“Selanjutnya Wentho cs dengan jiwa besar tanpa pamrih apa pun memaafkan kadis DKP tersebut. Intinya itikad baik dan niat tulus dari kedua belah pihak untuk saling mengakui dan menerima kekurangan masing-masing telah menjadi poin penting untuk menuntaskan kasus dugaan penghinaan oleh Kadis DKP terhadap Wentho cs,” kata Merdian.

Patokan kami bawasannya perdamaian adalah langkah mujarab untuk melanggengkan tali silaturahmi para pihak. Kemudian pada tanggal 22 Januari terlaksanalah proses perdamaian yang berlangsung di Kantor Dinas DKP dengan dihadiri oleh Kadis DKP beserta seluruh staf bersama kuasa hukum serta Wentho cs dan rekan wartawan lainnya. Bahkan Kadis DKP kembali mengakui kekhilafannya serta mohon maaf berulang-ulang kali dalam pertemuan damai tersebut.

“Jadi kami selaku Kuasa Hukum harus mengikuti apa yang klien kami inginkan, faktanya Wentho cs, sudah dengan jiwa besar memaafkan memaafkan kadis DKP, begitupun Kadis DKP sudah mengakui kesalahannya secara terbuka. Dengan demikian kasus menjadi selesai dan tuntas tidak ada proses hukum apa pun baik pidana maupun perdata.”
Rata Penuh Proses Hukum Jalan Terus
Satu korban pemfitnahan Aloysius Yanlali alias Yanes (Wartawan Mingguan Suara Flores) yang dikonfirmasi terkait kesepakatan damai tanpa kehadirannya selasa (25/1) menegaskan tidak benar kalau ada pihak lain yang mengklaim kasus itu telah dicabut dan telah berdamai.

“Kesepakatan kami pada pertemuan solidaritas wartawan di Kantor WALHI NTT beberapa waktu lalu bahwa kasus pelecehan terhadap tiga wartawan di Sikka tetap mengikuti proses hukum yang telah dibuat laporan polisi hingga Bernadus Nita ditetapkan jadi tersangka. Kami berkomitmen bahwa proses hukum dijunjung tinggi jadi tidak benar kalau ada pihak-pihak lain yang mengatakan kasus tersebut dicabut dan telah berdamai,” kata Yanes.

Menurut Yanes jika itu benar maka kuat dugaan bahwa pihak-pihak tersebut mau mencari keuntungan dari masalah yang ada.
“Mengapa saya katakan demikian, karena sampai saat ini, setahu saya masalah tersebut sedang dalam proses hukum di pihak kepolisian. Apalagi saya melihat ada pertemuan sana-sini di rumah warga, di warung makan dengan pihak Bernadus Nita yang difasilitasi orang luar, dan tidak ada kesepakatan bertiga bertemu dengan keluarga tersangka. Pertanyaannya mengapa itu terjadi, ada apa di balik itu semua? Yang jelas saya punya komitmen bahwa ending dari masalah ini adalah penyadaran dan pemahaman terhadap publik. Kuasa hukum jangan bertindak seolah-olah dia yang punya masalah. Mengapa tiba-tiba dia cabut tanpa ada kesepakatan dari yang bermasalah?” kata Yanes heran.

Menanggapi pernyataan Yanes, Merdian Dewanto Dado menggarisbawahi bahwa upaya damai kasus itu dilakukan secara terbuka di rumah makan dengan dihadiri oleh seluruh rekan-rekan kecuali Yanes yang memang tidak hadir dengan alasan ada urusan keluarga.

“Itu pernyataan tidak benar serta bersifat fitnah dari Yanes terhadap kami semua. Sebab pertemuan dilakukan secara terbuka di rumah makan dengan dihadiri oleh rekan-rekan kecuali Yanes yang memang tidak hadir saat itu. Namun sebelum pertemuan Yanes sudah kita kontak dan penyelesaian kepada kita yang hadir,” kata Merdian.

Menanggapi pernyataan Yanes untuk tetap tetap menempuh kasus itu melalui jalur hukum, Merdian menjelaskan hal itu merupakan hak yang bersangkutan. “Namun yang berhak mencabut atau meneruskan laporan adalah Wentho Aliando karena orang inilah yang melaporkan secara resmi kasus ini.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya (FP, 4 dan 7 Januari 2011) wartawan San Tv Slamet Kurniawan, Wartawan Suara Flores Aloysius Yanlali dan wartawan Flores File Wentho Agustinus Eliando melaporkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bernadus Nita ke Polres Sikka, Rabu pekan lalu. Bernadus Nita dilaporkan terkait dugaan pelecehan terhadap tiga wartawan itu saat melakukan tugas jurnalistik di instansi tersebut yang menyebutkan wartawan sebagai pihak yang biasanya meminta uang dan dibayar.

Ketua Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) NTT Merdian Dewantara Dadao selaku kuasa hukum tiga wartawan mengajukan gugatan pidana dan perdata dengan tuntutan ganti rugi Rp.1, 650 milyar.(FloresPos).

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 25 January 2011

Hujan Angin, Pohon Tumbang

Hujan deras yang disertai angin yang terjadi Senin (24/01/11) menyebabkan beberapa pohon di Jalan Eltari di Kota Maumere tumbang. Selain beberapa pohon, sebuah papan reklame yang berdiri gagah di pintu masuk Jalan Eltari juga rubuh. Kejadian tumbangnya beberapa pohon dan rubuhnya papan reklame tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 Wita saat hujan dan angin kencang menerjang. Seperti disaksikan inimaumere.com, berdekatan dengan rumah dinas bupati yang berada di Jalan Eltari, beberapa warga terlihat sibuk menebang pohon yang tumbang menghalangi trotoar. Selain itu, didepan Kantor Bupati Sikka sebuah pohon juga tumbang persis didepan pagar besi. Beberapa pohon lainnya yang berada didalam lokasi tersebut juga rubuh tertiup angin.

Pohon yang tumbang dan robohnya papan reklame di Jalan Eltari tidak menimbukan kemacatan karena tak melintang dibadan jalan. Nampak beberapa warga yang dengan antusias menebang pohon tersebut. Sedangkan papan reklame masih dibiarkan.

Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur sebagian besar Kabupaten Sikka menjelang sore ini juga menyebabkan genangan air yang terjadi di sejumlah jalan. Sampah-sampah bertebaran dan menghiasi badan jalan. Nampaknya hal ini telah menjadi sebuah masalah yang biasa bagi warga kota.

Kabupaten Sikka sebelumnya dalam minggu-minggu terakhir ini dilanda angin kencang dan gelombang tinggi. Sebagian besar daerah dipesisir pantai utara Kabupaten Sikka disapuh gelombang. Sebagian warga mengungsi. Terjangan gelombang dan angin kencang ini menyebabkan bencana yang terjadi di desa Wailamung, Lewomada, Nangahale, Waioti dan Paga juga gelombang laut di Pantai Utara (Pantura) Sikka yang menghantam Pulau Sukun, Desa Samparong, Kecamatan Alok sehingga merusak 24 rumah warga.



www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Komodo Hanya Meraih 60,62 Persen Pemilih Internasional

Binatang biawak raksasa Komodo (varanus comodoensis), penghuni Taman Nasional Komodo (TNK), hanya mampu meraih 60,62 persen pemilih internasional selama empat pekan terakhir atau berada diperingkat ke-26 dari 28 finalis.
"Untuk pemilih internasional, selama empat minggu terakhir, Komodo hanya mendapat dukungan 60,62 persen atau peringkat ke-26 dari 28 finalis," kata Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Nusa Tenggara Timur, Ubaldus Gogi di Kupang, Minggu (23/1), terkait dukungan pemilih internasional.
Finalis New7Wonders yang meraih pemilih terbanyak internasional adalah Kalimanjoro meraih suara internasional 99,96 persen, Mud Volcanoes 99,82 persen, Galapagos 99,76 persen, Cliffs of Moher 99,65 persen, Miford Sound 99,62 persen.

Berikut, Black Forest 99,59 persen, Vesuvius 99,50 persen, El Yuque 99,45 persen, Maldives 99,40 persen, Great Barrier Reef 99,16 persen, Uluru 99,15 persen, Dead Sea 99,06 persen. Selanjutnya Jelita Groto 98,54 persen table Mountain 97,20 persen, Bay of Funday 97,14 persen, Masurian Lake District 95,82 persen, Grand Canyon 95,51 persen, Angel Falls 95,27 persen, Amazon 93,38 persen dan Yushan 92,92 persen.

Sementara hanya tiga finalis yang meraih suara pada kisaran 80-an persen masing-masing Puerto Princesa Underground River meraih 86,42 persen, Halong Bay 86,38 persen dan Iguazu Falls 86,30 persen. Sedangkan tiga finalis terkahir lainnya adalah Komodo hanya meraih suara di luar negara asalnya Indonesia sebesar 60,62 persen dan finalis Jeju Islands hanya meraih 57,74 persen dan finalis Sundersbands sebagai juru kunci (28) mengoleksi suara internasional hanya 50,54 persen.

Menurut Ubaldus Gogi peringkat peroleh suara nasional dan internasional selalu berubah-ubah, sehingga hasil yang diperoleh saat ini masih berpeluang untuk bertambah atau bahkan menurun, tergantung pada kriteria dan berapa banyak pemilih yang melakukan pemilihan hingga November 2011. Artinya, masih terbuka peluang bagi pemilih di seluruh dunia terutama dari Indonesia untuk memberikan dukungan kepada Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Dia juga berharap, semua pihak di Indonesia terus melakukan kampanye agar masyarakat Indonesia dapat memberikan suara untuk mendongkrak popularitas binatang langkah Komodo. "Panitia penyelenggara menargetkan ada satu miliar voter untuk ajang ini. Jadi kita harus mendapatkan minimal 200 juta voter untuk komodo," kata Ulbadus Gogi.(ant)
Selengkapnya...

Wednesday, 19 January 2011

Ethnic Runaway Trans TV di Tanarawa, Segera..

Salah satu adegan di Ethnic Runaway - Tanarawa - Sikka
Intan Ayu, artis berparas manis, blasteran Padang – Jawa dan Ki Daus, pemeran satpam dalam Suami-suami Takut Istri, dalam kegelapan malam puncak Waiblama berjalan perlahan, melewati sungai kecil lalu mendaki bukit terjal dengan penerangan dari beberapa kru. Diatasnya, para tetua adat dan warganya menyambut kedatangan mereka. Sebuah nyanyian berbahasa lokal terdengar memecah kesunyian malam nan gelap. Obor ditangan dan koor lagu adat, menyatu bersama desau suara pepohonan. Kami menyaksikan penerimaan adat yang terasa manis.
Percikan air, sapaan adat dan pengalungan selendang tenun ikat menandai awal perjumpaan dua artis tenar itu. Dari kejauhan kejauhan kami menyaksikan pengambilan gambar tersebut hingga mereka diterima dan duduk bersama didalam rumah adat. Disana ada tawa, ada senyum nan tulus menyatu dengan keluguan warga setempat. Kenangan tak terlupakan bahwa disitu kedua artis pernah bersama mereka selama beberapa hari. Makan dan minum dan berkehidupan bersama.

***
Kami memasuki Dusun Lewak, Waiblama sekitar pukul 12 siang. Tiga kendaraan yang melaju kencang dari Maumere, membawa para kru Trans Tv yang hendak melakukan pengambilan gambar di Tanarawa. Sebelumnya admin inimaumere.com (Oss n Boim) telah melakukan survey lokasi di beberapa daerah di Tana Ai, tapi di Tanarawa yang akhirnya terpilih. Saat survey itu kami telah bertemu dengan Kepala Suku Ipir, Moat Pius Ipir yang antusias menerima kami, tentu saja.

Bersama Lucky Reyner dari Radio Sonia FM, dua mobil kami pandu membawa 5 orang kru Trans beserta perlengkapan lapangan. Yang kami tahu bahwa pengambilan gambar ini sebagai bagian dari episode acara Ethnic Runaway, salah satu acara out door yang bercerita tentang kehidupan berbagai etnis pedalaman di berbagai daerah di Nusantara. Setelah menjemput mereka di Bandara Frans Seda, tanpa mencari penginapan kami segera menuju lokasi. Disana segala dimantapkan, sambil menunggu kedatangan artis, bintang dari Ethnic Runaway ini.

Rumah beratap jerami, berlantai tanah, berdinding halar (bambu) sebagai bagian dari bangunan rumah adat suku Mau, salah satu suku dari 15 suku yang dikepalai Pius Ipir berada sebuah ketinggian. Untuk mencapai kesana, kami harus melintasi sebuah sungai dan berjalan menapaki jalan setapak yang diteruskan mendaki ketinggian. Tak terlalu sulit sebenarnya.

Kru Trans TV, melewati sungai menuju rumah adat & Intan n Ki Daus dalam satu adegan

Hari pertama tersebut, para kru melakukan persiapan dan menggali segala macam informasi. Semua yang telah dipersiapkan diberitahukan kepada kepala suku agar keesokan harinya bisa berjalan lancar. Sore hari, kami turun dari puncak Waiblama menuju penginapan di Wairterang.

Selama 3 hari, kru Ethnic Runaway Trans TV melakukan pengambilan adegan. Yakni dari tanggal 13, 14 hingga 15 Januari 2011. Tak ada kendala berarti. Para pelakon mampu melakoni adegan dengan baik meski sebenarnya cukup nervous. Semua terbantukan dengan kerja tim dan suasana segar dari Ki Daus yang selalu berceloteh riang. Meski hujan kadang mengganggu namun pengambilan adegan berjalan dengan baik.

Menurut rencana, awal-awal februari ini Ethnic Runaway di Tanarawa akan ditayangkan. Detil tanggalnya akan kami beritahukan segera.(Oss)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---