Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Thursday, 23 June 2011

DPRD Sikka 'Diduduki' Sementara

Bupati tak penuhi panggilan dewan

Menjelang rapat paripurna pansus bansos DPRD Sikka, Rabu (22/6/2011) Maumere kembali digoyang aksi demonstrasi. Suitbertus Amandus bersama massanya yang tergabung dalami Forum Solidaritas Keluarga Besar Surya Putra 2000 Rabu (22/6/2011) sekitar pukul 11.00 Wita menduduki halaman DPRD Sikka dan berorasi selama hampir 6 jam. Selain berorasi, Suitbertus Amandus, Direktur UD Surya Putra 2000 bersama perwakilan forumnya dalam pertemuan dengan anggota DPRD Sikka menyampaikan tuntutan kepada Pemda Sikka atas utang Rp 4,4 miliar yang belum dilunasi. Aksi di halaman DPRD Sikka juga diikuti massa dari elemen mahasiswa Sikka seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Partai Rakyat Demokratik (PRD), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi ( LMND) dan PMKRI yang datang kemudian. Para mahasiswa dan Forum SP2000 bergantian berorasi menuntut dibongkarnya penyewelengan dana bansos 2009 senilai Rp 10,7 miliar oleh KPK dan utang yang belum terlunasi

Dalam tuntutan yang dibacakan, elemen mahasiswa menyatakan sikap tegas antara lain mendesak DPRD Sikka untuk merekomendasikan hasil temuan Pansus Bansos Rp 10,7 miliar tahun 2009 ke KPK. Elemen mahasiswa pun mendesak DPRD Sikka agar dilakukan voting secara terbuka apabila DPRD Sikka menempuh jalur voting. Tujuannya agar masyarakat mengetahui dengan jelas wakil rakyat yang berpihak pada rakyat dan tidak. Mereka juga menyatakan mosi tidak percaya terhadap kinerja kerja Kejaksaan Negeri Maumere terkait kasus-kasus korupsi di Maumere.

Selain itu secara gamblang, mahasiswa yang tergabung dalam GMNI Sikka, PRD, LMND tersebut mengultimatum pihak Kejari Maumere untuk melimpahkan kasus bansos ke KPK. Mereka memberikan batas waktu hingga tanggal 30 Juni 2011. Jika tidak, GMNI Sikka bersama elemen masyarakat akan menyegel dan menduduki Kantor Kejari Maumere sampai kasus bansos dilimpahkan ke KPK.

Tuntutan tersebut dibacakan oleh salah satu oratornya dari atas pick up dengan semangat berapi-api yang disambut sorakan semua elemen. Aksi para mahasiswa tersebut dimulai sekitar pukul 10 Wita dari depan Hotel Permatasari di Wai Oti. Aksi dengan berjalan kaki menuju DPRD Sikka mendapat sambutan dari masyarakat. Terang saja, kasus bansos yang memakan duit sebesar Rp 10,7 miliar tersebut telah jadi bahan sindiran masyarakat.

Sedangkan Forum Solidaritas Keluarga Besar Surya Putra 2000 (SP 2000) langsung berorasi mendesak pelunasan utang oleh Pemkab Sikka setiba dihalaman tersebut. Dibawah penjagaan petugas dari Polres Sikka dan Sat Pol PP Sikka, orasi berjalan lancar hingga perwakilan mereka diterima di Ruang Kulababong. Massa menuntut agar Pemda Sikka segera melunasi utang Rp 4,4 miliar ke SP 2000.


Suasana panas terjadi saat kulababong tersebut. Hal ini karena pihak Forum SP2000 lewat Marianus Moa, Robby Keupung dan Heny Doing, serta anggota forum lainnya meminta agar Bupati Sikka Sosimus Mitang dihadirkan untuk mengklarifikasi utang Pemerintah Kabupaten Sikka sebesar Rp 4,4 miliar terhadap Amandus pemilik UD Surya Putra. Setelah melalui diskusi akhirnya DPRD Sikka secara resmi memanggil bupati. Namun saat itu bupati masih berisitirahat. Kejadian tersebut sekitar pukul 15.00.


Amandus dan pihaknya lantas meminta agar DPRD Sikka memanggil kembali bupati. Terjadi diskusi yang cukup menarik dan “panas” yang akhirnya membuahkan pemanggilan ulang. Dua pimpinan DPRD Sikka dan 6 pimpinan fraksi akhirnya nongol di rumah jabatan bupati. Namun sayang mereka harus pulang dengan tangan hampa. Sosimus menurut para pegawai yang bekerja di rumah jabatan sedang keluar.

Amandus kecewa karena DPRD Sikka tidak bisa menghadirkan Bupati Sosimus untuk dimintai keterangan tentang utang yang harus dibayar kepada SP 2000.

Beberapa anggota dewan memberi apresiasi positip terhadap keluarga besar SP 2000 tersebut. Anggota dewan, Siflan Angie, Darius Evensius, Ambros Dan dan Piet Jelalu menyatakan utang tersebut wajib dibayar Pemda.

Akhirnya setelah lewat rapat yang cukup alot, sekitar pukul 17.00 Wita Amandus dan seluruh anggota forum meninggalkan halaman DPRD Sikka diikuti rombongan elemen mahasiswa. Sempat terjadi “amukan” dari Amandus ketika hendak meninggalkan DPRD. Suasana yang panas akhirnya bisa diredam. DPRD Sikka lewat Wakil Ketuanya Alex Longginus akan menghadirkan Bupati Sikka, Kamis (23/6/2011).

Dalam tuntutannya, secara tegas Forum SP 2000 menuntut Pemerintah Kabupaten Sikka (Pemkab Sikka) untuk melunasi sisa pinjaman sebesar Rp 4.417.961.860. Sebelumnya Pemkab Sikka dalam kasus bansos 2009 melakukan peminjaman uang sebesar Rp 7,4 miliar. Pemkab Sikka telah melunasi uang sebesar Rp 3 miliar. Sisanya belum dilunasi. Bupati Sikka berkelit bahwa utang tersebut bukan tanggungjawab Pemda Sikka tapi staf Bagian Kesra Setda Sikka. Sisa inilah yang minta dikembalikan oleh Amandus. Pengembalian utang tersebut, oleh Forum SP 2000 diberi batas waktu hingga tanggal 6 Juli 2011. Jika sampai batas waktu utang belum dilunasi, Forum SP 2000 akan melakukan langkah selanjutnya.

Forum SP 2000 juga meminta agar Rapat Paripurna DPRD Sikka merekomendasikan kasus dana bansos 2009 untuk disidik oleh KPK. Tuntutan lain adalah jika terjadi voting, Forum SP 2000 meminta agar voting dilakukan secara terbuka untuk mengetahu siapa anggota DPRD Sikka yang tak pro rakyat.

Selain kedua aksi diatas, para mahasiswa dari Persatuan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) Sikka melakukan aksi demontrasi dan teatrikal di di halaman DPRD Sikka. Aksi ini cukup menarik karena menyindir perilaku para pejabat yang suka korupsi. Mereka masih menuntut agar KPK mengambil alih kasus bansos 2009, agar terhindar dari tebang pilih. Aksi-aksi dari elemen mahasiswa dan Forum SP 2000 berlangsung tanpa henti disela-sela pertemuan Amandus dan anggota dewan. Aksi yang dilakukan berjalan aman dan kondusif.






www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tuesday, 21 June 2011

Perawan Murusobe di Tanah Lio

Air Terjun Tanawawo Janjikan Peluang Wisata

Perjalanan menuju lokasi air terjun kembar dengan tinggi hampir 100 meter sungguh menarik. Menyusuri sungai dan terkurung disebuah tebing bisa jadi pengelaman tak terlupakan. Jangan takut dengan gigitan lintah, apalagi takut basah. Akan tersulam jadi kisah menarik apalagi saat meloncati batu-batu hingga mencapai air terjun, seperti atlet senam hehehe.. Lantas membenamkan kaki ke beningnya aliran air sungai hingga kulit tersentuh dinginnya. Episode ini sayang bila dilewatkan. Bagi yang tidak suka ketinggian, terpaksa memberanikan diri menyeberangi batu besar, pun tebing menghadang. Tentu, jerih payah harus terbayar lunas. Sepuas-puasnya bersukaria membasahi tubuh dibawah pancurannya. Dengan debit air yang cukup besar di musim penghujan, tubuh terasa segar bahkan dinginnya seolah mencubit kulit.
Sahabat Dwi Setijo Widodo lantas bercerita. Foto-foto hasil jepretan air terjunnya diambil saat rombongannya membongkar perut Flores. Menjelajahi hutan Nusa Bunga dan melihat indahnya jagat Cabo da Flores dari dekat. Salah satu perawan yang disentuh yakni Air Terjun Kembar Murusobe di Tanawawo, Kabupaten Sikka. Mencapainya memerlukan tenaga ekstra, katanya. Tapi sayang keindahannya hanya dinikmati warga kampung.

“Ketika ke Poma saat musim hujan, jadi begitu susah untuk mencapai lokasi dengan kendaraan. Maklum jalan tanahnya berlumpur. Roda kendaraan terbenam dalam, bahkan “nagat” tak mau beranjak. Jadi jika ingin kesana diperlukan penentuan waktu yang pas. Bisa dengan rombongan agar saling menjaga. Karena untuk sampai ke air terjun tersebut, perjalanan membutuhkan waktu yang cukup lama karena kondisi jalur. Stamina juga diperlukan,” jelas Dwi yang telah lama menetap di Maumere.

Air terjun kembar Murusobe, penduduk Tanawawo menyebutnya demikian. Muru artinya air terjun dalam bahasa Lio, bahasa penduduk setempat. Karena ada dua curah air yang jatuh dan sama persis menjulang berdampingan. Tingginya kira-kira 100 meter. Bayangkan! Dengan debit air yang cukup besar, nilai eksotisnya bisa dijual. Sampai dengan saat ini, air terjun tersebut belum banyak diketahui bahkan oleh masyarakat Sikka sendiri.

Kondisi lokasi air terjun ini berada di daerah pegunungan sejuk. Di sebuah daerah beretnis Lio, salah satu dari enam etnis besar yang ada di Kabupaten Sikka.

Bagi yang suka alam, perjalanan ke air terjun itu dari Desa Loke merupakan perjalanan yang menyenangkan. Bagi yang belum tahu pohon kemiri, kopi, atau kehidupan alam pedesaan di Flores akan sangat memberi pengalaman yang banyak. Sepanjang perjalanan bola mata selalu dimanjakan dengan berbagai pemandangan hijau yang menyegarkan mata dan jiwa. Itulah salah satu keunggulan berkelana kepedalaman Flores.

Air terjun kembar terletak di pedalaman Desa Poma, Kecamatan Tanawawo Kabupaten Sikka. Untuk mencapainya bisa menggunakan kendaraan. Berangkat dari Kota Maumere menuju Kecamatan Tanawawo berjarak kurang lebih 35 Km. Perjalanan dari Maumere akan melewati desa-desa lainnya seperti Nita, Key, Hepang, Ribang, Nangablo dan beberapa perkampungan dengan kondisi aspal mulus. Jalur ini termasuk jalur ramai disiang hari. Maklum saja karena jalur ke Tanawawo merupakan lintasan menuju Kabupaten Ende dimana Danau Kelimutu berada. Berdekatan dengan dengan Tanawawo ada pula Paga Beach dan Pantai Koka. Keduanya memiliki pemandangan pantai selatan Flores yang indah dengan pasir putihnya

Nah, selepas jembatan panjang Kaliwajo, Dwi menyarankan agar kita mengambil arah belok kanan sebagai gerbang masuk ke Tanawawo. Setelah itu ambil jalur lurus terus ke arah Desa Wolofeo. Menurut pengelamannya, untuk menuju ke Loke desa yang berdekatan dengan lokasi air terjun, Anda disarankan ambil jalur sebelum Pasar Tanawawo. Sampai ke Loke kurang lebih 12 km.

Lagi-lagi, infrastruktur jalan masih menjadi kendala seperti desa-desa di Flores umumnya, begitu pula hendak mencapai Poma. Maka eksotiknya Flores dibiarkan saja begitu, mungkin ini yang menarik? Saya berguman.

“Terakhir kami ke sana, jalan masih tanah. Saat hujan, akses ini menjadi sulit dilewati. Hanya sepeda motor atau four wheel drive dan sejenisnya yang sanggup melintasi hingga desa terdekat, yaitu Poma. Kami pernah terjebak berjam-jam di jalan yang telah menjadi tanah liat dan perlu bantuan beberapa penduduk untuk mengeluarkan mobil Avanza kami dari lokasi ini,” kisah Dwi, pria asal Jawa yang bekerja di Swisscontact Wisata Flores Bagian Timur.

Lantas ia menambahkan, “Kalo dulu, beberapa kali ke situ naik mobil, cuma sampai di desa Loke kudu parkir di sana. Perjalanan dilanjut dengan jalan kaki sampai Desa Poma. Ya, kira-kira satu jam untuk yang kuat trekking. Dua jam kalo sambil leha-leha dulu, hehe...”

Ternyata bisa saja nilai ini yang ditawarkan. Sambil jalan-jalan cuci mata dengan pemandangan desa yang bagus, udara yang bersih, gerombolan warga kampung yang baik hati, mama-mama yang selalu memberi senyum tulus dan sekumpulan cerita mengasikan tentang kampung-kampung di Flores umumnya.

“Nah, dari Poma, lanjut jalan kaki melintas desa, kebun dan menyusuri sungai hingga ke air terjunnya. Kira-kira 45 menitan jalan kaki,” tutur Dwi membuyar lamunan. Bayangan tak henti ingin bermimpi pada Loke, "gadis' dusun yang memiliki eksotisme Flores alamiah. Ditempat itu, tergambar kecantikan perawan.

Karena perjalanan memerlukan waktu yang cukup lama, Dwi menyarankan agar menyiapkan bekal sebelum berkelana.
“Aku biasanya bawa nasi bungkus untuk makan siang di jalan. Juga aku biasanya bawa kopi, teh, dan rokok saat bertandang di Desa Poma. Karena biasanya penduduk ngajakin ngobrol dan mampir ke rumah mereka. Jadi, aku siap-siap ngasih mereka oleh-olehku itu supaya bisa dinikmati sama-sama. Menarik kan? “ Wah Dwi! Ini jadinya terbayang kan? Jadi ingin hinggap di sana. Jadi tergoda membungkus semua kesannya. Sesuatu yang ingin dicari dan dimiliki. Hmmm....

Dengan tinggi menjulang hampir 100 meter, Air Terjun Murusobe menjadi sekian dari obyek wisata Sikka yang patut dijelajahi. Meski belum memiliki sarana jalan yang mendukung, perjalanan panjang untuk mencapai obyek tersebut bisa saja menjadi tantangan para petualang backpacker. Bahkan kisah di pedalaman akan tersulap jadi pengelaman tak terlupakan.


Jalur dari Maumere hingga jembatan Kaliwajo jika berjalan terus kita akan sampai dibeberapa pedesaan lainnya. Di Lekeba’i dan Paga ada sambal khas setempat yang disebut Wogi, bisa dibawah pulang sebagai oleh-ole. Juga berdekatan dengannya, selain Pantai Koka dan Paga adapula ritual penguburan jenazah dalam batu di Desa Nuabari. Juga, kain tenun ikat tradisional desa setempat. Semuanya menjanjikan eksotisme pedesaan Flores yang kental dengan tradisi budaya lokal. Tantangan utama hanyalah medan dan infrastruktrur jalan yang kurang memadai. Lantas, obyek-obyek wisata pun belum di kelola secara baik.

Tapi satu yang menjanjikan adalah keasrian alamnya masih sangat alamiah. Dicampur kehidupan penduduk tradisional dengan sejumlah ritual budaya setempat. Jangan sungkan-sungkan bertegur sapa dengan siapapun disini. Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan. Sebab seperti pula pedesaan lain di Flores, masyarakat setempat masih menjunjung tinggi sesuatu yang bernama kemanusiaan. Itulah yang sering kami alami jika melintasi pedesaan. So, jangan ragu untuk ke Maumere, jangan ragu memilih liburan Ke Flores.

Dwi lantas bercerita banyak tentang pengelamannya menelusuri jejak wisata yang masih terbilang perawan. “Kami pernah mencoba mengunjungi Murusobe dengan akses dari Feyondari. Menarik dan memberi pemandangan yang berbeda. Hanya saja Feyondari aksesnya lebih sulit dan harus siap lebih lama berjalan kaki. Menyenangkan bila dilakukan bersama banyak teman,” katanya
Murusobe merupakan lokasi dimana air terjun kembar berada di Desa Poma.

Selain itu, Murusobe bisa juga dirangkaikan dengan trekking ke Tiwu Sora, Kecamatan Kota Baru, di Kabupaten Ende, berbatasan dengan Kabupaten Sikka. Setelah trekking dan bermalam di desa Deturia, Tiwu Sora, perjalanan dilanjutkan selama empat jam melintasi perbatasan Ende-Sikka dengan berbagai pemandangan menakjubkan di ketinggian bukit, kedalaman hutan, dan luasnya padang savana hingga sampai ke Desa Poma dimana Murusobe berada. Ingin mencoba juga? Siapkan dua hari untuk perjalanan ini, tantang Dwi.

Ya pasti, Murusobe bukan hanya eksotik namun menjanjikan pula perjalanan wisata yang seru dan menantang!

Beberapa hal yang perlu diperhatikan ke Air Terjun Murusobe:
-Siapkan perlengkapan wisata terlebih dahulu
-Lebih asik bepergian dengan beberapa teman..
-Siapkan bekal perjalanan sebelum berangkat..
-Petakan lokasi dengan cermat..
-Jangan ragu bertanya di warga setempat jika ada kendala
-Disarankan pas jika waktu berangkat bukan musim hujan
-Periksa kendaraan agar siap dalam segala kondisi medan
-Bila diperlukan ajak salah satu warga sekitar jadi pemandau dadakan..
(Oss)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Kajari Maumere Siap Usut Dugaan Korupsi Bansos Sampai Tuntas

TPDI Desak Kejari Maumere
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) Sanadji, S.H menegaskan, pihak kejaksaan akan mengerahkan semua jaksa di Kejari Maumere guna mengusut kasus dugaan korupsi dana bansos tahun 2009 senilai Rp 10,7 M.
Jaksa tidak ada kepentingan dalam kasus dana bansos. Jaksa sebagai aparat penegak hukum entah ada dan tidak lapor wajib mengusut kasus korupsi di Sikka yang menjadi buah bibir masyarakat.
"Kami akan usut sampai tuntas kasus ini. Saya sudah kerahkan semua jaksa untuk kepung kasus dana bansos. Kami tidak ada kepentingan dan kami akan tegakkan aturan. Siapa yang terlibat jika ada indikasi kita akan proses," kata Sanadji, saat bertemu Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) yang dipimpin Petrus Selestinus, S.H di kantor Kajari Maumere, Senin (20/6/2011).


TPDI Desak Kejari Tuntaskan Dugaan Korupsi Bansos Sikka
Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) memberikan ultimatim kepada jaksa Kejari Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkap dan menangkap para pelaku dugaan korupsi dana bantuan sosial di Bagian Setda Sikka pada tahun 2009 senilai Rp 10,7 M.

Ultimatum tersebut diberikan karena kasus bansos telah menjadi buah bibir masyarakat Sikka agar para pelaku perlu diproses hukum sehingga tidak membuat polemik di masyarakat.

Selain kasus bansos, jaksa juga perlu mengusut kasus-kasus korupsi yang lama. Jika tidak maka kasus tersebut perlu dilimpahkan ke KPK untuk diusut.

"Momentum ini perlu dipakai Kejari Maumere guna memperbaikki citra dimasyarakat sehingga kami dari TPDI memberikan ultimatum kepada jaksa guna mengungkap dan menangkap pelaku kasus bansos. Jika tidak diungkap maka akan menambahkan buruk citra kejaksaan di mata masyarakat," kata Ketua TPDI, Petrus Selestinus, S.H di Kota Maumere dalam keterangan pers kepada wartawan, Minggu (19/6/2011) siang.(aris ninu/Pos Kupang)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 17 June 2011

GMNI Sikka Galang Tanda Tangan Dukung KPK

Nyatakan Mosi Tidak Percaya bagi Kejari Maumere

Setelah menggelar mimbar bebas terkait dana bansos (bantuan sosial), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Cabang Sikka kembali kejalan. Aksi simpatik pengumpulan tanda tangan dari masyarakat Sikka di gelar. Aksi masih terkait dugaan penyelewengan dana bansos yang merugikan daerah senilai Rp 10,7 miliar sesuai temuan BPK Perwakilan NTT. Aksi GMNI berlangsung tiga hari berturut-turut. Dimulai dari Selasa (14-6/2011) hingga Kamis (16/6/2011). Pengumpulan tanda tangan dimaksud sebagai dukungan masyarakat Kabupaten Sikka terhadap Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) RI agar mengambil alih kasus bansos. Desakan KPK mengambil alih dugaan korupsi tersebut menurut GMNI Sikka terkait lambannya Kejari Maumere menangani perkara-perkara korupsi yang terjadi di Kabupaten Sikka. Dalam selebaran yang ditandatangani Ketua DPC GMNI Sikka, Benediktus Lukas Raja dan Sekretarisnya, Ignatius Candra Say, GMNI Sikka memaparkan beberapa kasus yang masih tersendat di ruang Kejari. Terkait masalah tersebut, GMNI Sikka menyatakan mosi tidak percaya kepada Kejari Maumere dan mendukung KPK untuk segera mengambil alih kasus bansos.

Terhadap Panitia Khusus (Pansus) Bansos yang dibentuk DPRD Sikka yang telah selesai melaksanakan pemeriksaan kepada pihak-pihak yang mengetahui aliran dana bansos, GMNI Sikka menyatakan mendukung Pansus Bansos dan semua anggota DPRD Sikka untuk merekomendasikan semua hasil penyelidikan kepada KPK RI.

Aksi selama tiga hari dilakukan diberbagai titik di Kota Maumere seperti di gerbang Kampus Universitas Nusa Nipa Maumere, Terminal penumpang Madawat dan Lokaria, pertokoan Mekarjaya, Taman Kota dan beberapa tempat lainnya.

Aksi kumpul tanda tangan diwarnai berbagai orasi dari sejumlah orator GMNI. Mereka tetap kencang menyatakan sikap tegas agar kasus bansos yang menodai perasaan rakyat Kabupaten Sikka dibongkar seluas-luasnya. Siapapun yang terlibat agar dihukum seberat-beratnya. Demi tegaknya supremasi hukum, GMNI Sikka mendesak KPK turun ke Sikka agar kasus bansos senilai Rp 10,7 miliar dapat dibongkar tanpa tebang pilih.

Di semua tempat, warga masyarakat sangat antusias memberikan dukungan dengan membubuhkan tanda tangan pada sehelai kain putih. Dicky sapaan akrab Ketua DPC GMNI Sikka, mengatakan kain yang telah dibubuhkan tanda tangan akan dibawa pada rapat paripurna pansus bansos DPRD Sikka. “Jelas, aspirasi akyat Sikka menghendaki kasus bansos ditangani KPK, harus menjadi rekomendasi DPRD Sikka dalam penyelesaian kasus bansos,” jelas Dicky.


Perkara Korupsi di Kejari Maumere (sumber GMNI Sikka); Kasus pengadaan Mobil Pemadam Kebakaran, kasus pembangunan gedung veem, kasus Alkes, kasus dugaan korupsi perjalanan fiktif bupati dan wakil bupati, kasus dugaan korupsi proyek Puskesmas Palu’e, kasus dugaan korupsi PD Mawarani, kasus dugaan korupsi perjalanan dinas ke Mahkama Agung RI, kasus dugaan korupsi dana bimtek, kasus dugaan korupsi Puskesmas Mapitara.


***

Selain GMNI Sikka, hari Jumat (17/6/2011), Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sikka menggelar aksi damai di Kejaksaan RI Maumere. Aksi yang dilakukan PMKRI menuntut agar KPK mengambil alih kasus bansos Rp 10,7 miliar.

Foto: Vicky da Gomez
www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tuesday, 14 June 2011

Bis Kayu, Potret sebuah Pilihan

Potret Hari ini: Abaikan Keselamatan Diri

Potret umum di Flores
Mama tua tiga orang bersama dua balitanya seakan-akan sudah terbiasa naik bis kayu (sebutan truk yang dimodifikasi sebagai kendaraan penumpang). Begitu lincah untuk orang tua seumuran mereka. Nah, foto  hasil jepretan yang diambil ditengah Kota Maumere ini (Jalan Raja Centis) menceritakan suasana saat mama-mama memanjati bis kayu. Mereka tak peduli akan keselamatan diri. Bahkan dengan percaya diri mereka menyeberangi jalan disaat lalu lintas padat. Mereka lantas memanjat dan duduk manis beralaskan bangku yang terbuat dari bahan kayu. Saat memanjat bis kayu tersebut, mereka bahkan tidak takut bahaya mengancam. Kalau jatuh ataupun tersambar kendaraan. Keramaian pertokoan, lalu lintas dan dalam suasana  terburu-buru, sang sopir terus berteriak. Jadilah keselamatan mereka abaikan. Tak ada yang mengingatkan kejadian luar biasa ini. Sejujurnya mereka menaruh nyawa atas atas keputusan mereka. Tapi inilah potret wajah rakyat miskin di Kabupaten Sikka, Flores, NTT.


Kabupaten yang kini ramai diperbincangkan diberbagai media bahkan bisik-bisik tetangga, tentang dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) senilai Rp 10, 7 miliar sesuai temuan BPK Perwakilan NTT menyisakan kegetiran. Andaikata uang tersebut didedikasikan untuk perbaikan sarana angkutan darat ke berbagai pelosok terpencil di Kabupaten Sikka.

Bisa Kayu adalah salah satu sarana transportasi masyarakat desa di Sikka dan Flores umumnya. Dengan membayar sesuai harga, penumpang bisa menikmati pemandangan alam tanpa kaca mobil yang menghalangi dan dibelai angin sepoi-sepoi. Didalam bis kayu, penumpang akan duduk berdesakan dengan barang-barang belanjaan atau hasil bumi, juga hewan-hewan yang akan dijual di kota seperti babi, kambing, anjing, ayam dan lain lain. Rakyat kecil pasrah menerima..

Namun demikian sarana bisa kayu masih menjadi pilihan warga desa. Truk yang dimodifikasi ini bisa leluasa menembus medan pedesaaan. Dengan keadaan topoggrafi Flores yang berbukit-bukit serta kondisi jalan yang sebagian besar masih dibawah standar, menumpang truk kayu adalah pilihan yang tak mungkin di tolak. Inilah potret wajah di Flores..

Foto: Juni 2011

Mau tahu kisah Bis Kayu yang berkelana di sepanjang pedalaman Flores?
Silakan Klik disini.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Teluk Maumere, Ikon Pariwisata Flores

MATAHARI makin tinggi dan kemilau sinarnya kian menyengat. Namun, Flavianus Dominggo bersama istri dan anaknya tetap bergembira menikmati indahnya atmosfer laut di Teluk Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Flavianus, warga Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Sikka, menunggui anaknya yang belum selesai menyantap nasi bungkus sambil bercengkerama dengan istrinya.
Sinar Matahari tak sampai menyiksa kulit ketiganya karena mereka duduk di bawah pohon rindang sambil menikmati suara deburan ombak dan panorama pantai yang tenang memukau dilatarbelakangi pemandangan gugus pulau yang hijau menjulang.
”Tempat ini memang nyaman untuk rekreasi dan sejak tahun 1990-an, seiring dengan gencarnya promosi, masyarakat Maumere makin mengenal tempat ini sebagai tempat wisata,” kata Flavianus yang kemudian pamit melanjutkan perjalanan ke desanya, sekitar 15 kilometer (km) ke arah timur.

Tempat di mana Flavianus melepas penat memang menyimpan sejarah panjang, yakni Pantai Wairterang dengan pemanis hutan bakaunya di Desa Wairterang, Kecamatan Waigete. Letaknya sekitar 31 km sebelah timur Kota Maumere.

Untuk mencapai lokasi itu tak terlalu sulit. Anda bisa menyewa mobil dari Maumere. Tarif sewa mobil (plus sopir) rata-rata Rp 50.000 per jam atau bisa juga dengan angkutan kota atau ojek.

Tak jauh dari Pantai Wairterang juga terdapat dua air terjun yang tak kalah unik, Wairhoret dan Tunaohok, serta mata air yang jernih. Itu sebabnya tak heran jika Pantai Wairterang menjadi salah satu obyek wisata bahari favorit di Sikka.

Akan tetapi, tempat wisata ini terkesan tiarap, redup kharismanya, terutama sekitar tahun 2003, setelah penghancuran Cottage Praja milik Pemerintah Kabupaten Sikka oleh warga. Di tempat itu dulu juga terdapat restoran.

Perkembangan pariwisata di Sikka khususnya Teluk Maumere, termasuk di dalamnya Pantai Wairterang, memang terkesan lambat meski promosi gencar telah dilakukan di era 1980-an oleh almarhum Frans Seda, tokoh tiga zaman, antara lain dengan membuka Hotel Sao Wisata dan biro perjalanan.

Cottage Praja, yang dibangun sekitar tahun 1995, kini tinggal puing-puing. Lokasi itu menjadi tak terawat, semak belukarnya makin tinggi.

”Masyarakat dulu mengamuk karena cottage itu terkesan menjadi semacam tempat mesum,” kata Kepala Dusun Wodong, Desa Wairterang, Makarius Rindu.

Warga umumnya menghendaki di Pantai Wairterang kembali difungsikan sebagai pasar tradisional atau pasar mingguan yang sejak dulu berlangsung setiap hari Kamis. Pasar itu muncul diperkirakan di masa kemerdekaan.

Masyarakat yang datang ke pasar tersebut untuk bertransaksi jual beli atau barter adalah para nelayan dari pulau-pulau sekitar yang menjual hasil laut serta warga dari daerah pegunungan, termasuk dari Kecamatan Talibura, desa-desa lain di Waigete, dan kawasan Geliting. Masyarakat dari gunung biasanya menjual hasil perkebunan, seperti kelapa, pisang, jagung, dan ubi kayu.
Pesanggrahan Belanda
Sejarah penting lainnya, menurut Yustina Karo (65), warga Dusun Wodong, di sekitar pasar Wairterang dulu berdiri pesanggrahan Belanda. Petugas pos masa itu yang hendak mengantar surat dari Maumere ke Larantuka biasa beristirahat di pesanggrahan tersebut.

Tak jauh dari bibir Pantai Wairterang, sekitar 31 meter, terdapat bangkai kapal Jepang, semacam kapal pengontrol dengan panjang 61 meter dan lebar 13 meter. Kapal itu tenggelam karena dibom dan diperkirakan terjadi di masa Perang Dunia II. Posisi badan kapal diperkirakan menghadap ke timur.

Kapal itu sampai saat ini menjadi rumah yang nyaman bagi ribuan jenis ikan sekaligus menjadi obyek wisata bawah laut yang sayang dilewatkan begitu saja oleh penyelam.

Dengan berbagai keunikan di Pantai Wairterang juga mengingat begitu besarnya potensi Teluk Maumere, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka telah memfokuskan, daerah perairan di kawasan timur Sikka itu sebagai obyek wisata unggulan kabupaten.

”Diharapkan Teluk Maumere menjadi ikon pariwisata Sikka, juga menjadi ikon lain untuk pariwisata di Flores yang sudah sangat dikenal selama ini, seperti Manggarai Barat dengan Taman Nasional Komodo, Ngada dengan Taman Laut 17 Pulau Riung, Danau Kelimutu di Ende, ziarah rohani Semana Santa di Larantuka, dan perburuan paus di Lamalera (Lembata),” kata Lukas Laga Lew,o Kepala Seksi Pengembangan Sarana dan Prasarana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka.

Teluk Maumere dipromosikan dengan nama Taman Laut Gugus Pulau Teluk Maumere mengingat di kawasan seluas lebih kurang 59.450 hektar, yang meliputi Kecamatan Waigete, Kewapante, dan Maumere, itu juga dikelilingi belasan pulau besar dan kecil.

Menurut Lukas, Pemkab Sikka rencananya akan membangun kembali kawasan Cottage Praja yang telah hancur, antara lain dengan tempat penginapan, restoran, pusat cendera mata, gudang penyimpanan peralatan selam wisatawan, menyiapkan kapal patroli, juga kapal bagi wisatawan untuk berkeliling (glass bottom boat) menikmati keindahan atmosfer dan taman laut teluk tersebut. Pantai Wairterang dipilih sebagai pintu utama Teluk Maumere.

”Proyeksinya, Teluk Maumere akan dikembangkan mirip dengan Taman Laut Nasional Bunaken di Sulewesi Utara. Tahun 2012 mulai beroperasi dengan alokasi anggaran dari APBD. Besar alokasi dana akan ditentukan saat pembahasan APBD 2012,” kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka Maria Vianey Daga.

Teluk Maumere tergolong taman laut yang memiliki keindahan luar biasa di Indonesia. Sedikitnya 1.200 spesies ikan hidup di perairan itu. Semoga pembangunan mendatang benar-benar mampu mengangkat daerah ini menjadi obyek wisata yang diincar wisatawan (Samuel Oktora/Kompas Travel)
www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Transmigran Sikka Terlantar

Dua puluh lima kepala keluarga (KK) atau sekitar ratusan jiwa warga Kabupaten Sikka dikirim Pemerintah Kabuaten (Pemkab) Sikka mengikut program transmigran. Selama enam bulan di sana, mereka hidup telantar di Kampung Baru, Desa Lengkong Nyadong, Kecamatan Ela Hilir, Kabupaten Malawi, Kalimantan Barat.
Pada Sabtu (11/6/2011) siang, sebanyak 15 KK atau 60 jiwa tiba kembali di Maumere, Sikka meninggal lokasi transmigrasi di Melawi.
Fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, kapela bahkan lebih fatal lahan pertanian seluas dua hektar yang dijanjikan pada saat sosialisasi tidak tersedia.
Penduduk asli Lengkong Nydong tak mau menyerahkan lahannya kepada transmigran, karena tidak ada pembicaraan sebelumnya pemerintah dengan pemilik lahan.

Para transmigran yang tak tentu nasibnya di sana, dipimpin kaum pria/ kepala keluarga bersama istri dan anak-anak nekat menggelar aksi damai tiga minggu dan bermalam di Kantor Bupati Malawi. Namun tuntutan lahan pertanian, fasilitas kesehatan dan sekolah tidak ada jawaban.

Mereka memutuskan kembali ke Sikka. Kedatangan 60 jiwa menumpang KM Dharma Kencana difasilitasi relawan Romo Gaby, dan Romo Agus serta staf Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Malawi. Kedua rohaniwan Katolik itu menemukan para transmigran ketika melakukan aksi damai di halaman Kantor Bupati Malawi.

Kepala Dinas Sosial dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sikka, Gregorius Rehi kepada wartawan di Pelabuhan Lorens Say Maumere Sabtu (11/6/2011) siang menyatakan, kepulangan transmigran atas kemauan sendiri.

Dia mengatakan, pra transmigran menandatangani surat pernyataan kembali ke Maumere. Surat itu diterimanya dari Pemkab Malawi diberikan Departemen Transmigrasi RI.

“Mereka pulang atas kemauan sendiri. Fasilitas di lokasi semuanya tersedia,” kata Rehi. Namun, penjelasan Rehi dibantah para transmigran. “Kami sudah enam bulan menderita di sana. Bapak tidak pernah merasakan. Kami seperti dibuang saja,” tandas kaum ibu.

Geradus Badar, dan Robertus Lotu, mengatakan, 10 KK yang masih bertahan di lokasi transmigran nasibnya buruk. Mereka malu pulang kampung karena belum memiliki apa-apa yang bisa dibawa pulang, sedangkan harta benda yang semula dimilikinya telah dijual.

“Mereka kuli di kebun-kebun kepala sawit. Sehari dibayar Rp 42.000, makanan dibawah dari rumah. Kami mau kerja kebun, status lahan tidak jelas,” keluh Geradus dibenarkan Robertus.

Meski program transmigrasi tahun 2010 menuai soal, Disnakertrans Sikka telah mendaftar 166 KK dari jatah 86 KK yang akan dikirim pada tahun 2011 ini. Pengiriman transmigran asal Sikka dilakukan sejak 2001 sampai kini mencapai 4.525 KK atau 19.171 jiwa. Mereka menempati lokasi transmigran di Propinsi Kaimantan Barat, Kalimantan Timur, Maluku dan Sulawesi Barat (Harian Flores Star/ius/kk).

Foto: Flores Star
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---